• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH TENTANG NINE STAR PHARMATICS DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH TENTANG NINE STAR PHARMATICS DAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

TENTANG NINE STAR PHARMATICS DAN RUANG LINGKUP FARMASI DALAM

BIDANG PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN

Disusun oleh: Sri yuliati (201310410311150)

FARMASI

(2)

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT karena atas petunjuk dan hidayah-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan Makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Tanpa pertolongan Dia mungkin

penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik, Makalah ini disusun atas dasar tugas

dari Panitia ospek UMM.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ruang lingkup farmasi

dalam bidang industri, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.

Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri

penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama

pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Ruang Lingkup Farmasi Dalam Bidang pengawasan obat dan makanan” yang menjelaskan bagaimana Ruang lingkup farmasi.

Kami menyadari sepenuhnya dalam penyusunannya makalah ini masih jauh dari kata

sempurna, itu semua tidak luput dari kodrat kami sebagai manusia biasa yang tidak luput dari

suatu kesalahan dan kekeliruan. Sehingga kritikan dan masukan yang bersifat membangun dari

pembaca merupakan sesuatu yang berharga demi perbaikan kedepannya. Semoga makalah ini

bermanfaat bagi kita semua. Amin!

Malang, 30 agustus 2013

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar belakang

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan

setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang – Undang No. 23 tahun 1992). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan

guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap

penduduk agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Sesuai dengan Visi

Departemen Kesehatan yaitu masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, dan untuk

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat maka diselenggarakan upaya

kesehatan dengan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit

(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang

dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan dan diselenggarakan

bersama antara pemerintah dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya

kesehatan harus dilakukan secara integral oleh seluruh komponen, baik pemerintah, tenaga

kesehatan maupun masyarakat. Oleh karena itu masyarakat harus berperan aktif dalam

mengupayakan kesehatannya sendiri.

Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi.

Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhankeluhan dan penyakit ringan yang

banyak dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag,

kecacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain. Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil

masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Pada pelaksanaannya

swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error)

karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Dalam hal ini

Apoteker dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga

masyarakat dapat terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat

(drug misuse). Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat

(4)

1.2Rumusan masalah

Bagaimanakah peran farmasi atau apoteker dalam bidang pengawasan obat dan makanan

1.3Tujuan

Sebagai pedoman bagi masyarakat yang ingin melakukan swamedikasi dan sebagai

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Pengertian obat

Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau

paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau

keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,

peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang

digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit

pada manusia atau hewan.

Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup,

maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang

dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud

pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa

penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi,

Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)

Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk

mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka

penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan

kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).

Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan

gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh. Obat merupakan senyawa kimia selain

makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup, yang pemanfaatannya bisa untuk

mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.

2.2Penggolongan Obat

Obat dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :

1. Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep

dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan

garis tepi berwarna hitam.

(6)

2. Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih

dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan.

Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan

garis tepi berwarna hitam.

Contoh : CTM

3. Obat Keras dan Psikotropika

Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter.

Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan

garis tepi berwarna hitam.

Contoh : Asam Mefenamat

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik,

yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang

menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Contoh : Diazepam, Phenobarbital

4. Obat Narkotika

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik

sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan

kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan

menimbulkan ketergantungan.

Contoh : Morfin, Petidin

Sebelum menggunakan obat, termasuk obat bebas dan bebas terbatas harus diketahui sifat dan

cara pemakaiannya agar penggunaannya tepat dan aman. Informasi tersebut dapat diperbolehkan

(7)

2.3Tanda peringatan

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat

persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) centimeter, lebar 2 (dua)

centimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut :

2.4Kontaminasi bahan berbahaya dalam makanan

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, makanan akan selalu dicari dan

diusahakan dengan berbagai cara. Sayangnya, tidak semua cara yang digunakan tersebut

berdampak positif bagi kesehatan tubuh. Seringkali pihak produsen lebih mementingkan

aspek ekonomi semata, dengan cara meningkatkan volume penjualan produk tanpa

memperhatikan sisi kualitas produk maupun higienitas proses pengolahannya.

Dari hasil pemantauan, pelanggaran terhadap UU Pangan No 7 th 1997 yang memuat

jaminan atas keamanan produk yang dipasarkan kepada masyarakat, lebih banyak dilakukan

oleh produsen kelas kecil-menengah. Hal ini mengingat belum adanya nama jual (brand

image) sehinga seakan-akan mereka bebas menambah-kurangkan ingredient dengan BTM

(Bahan Tambahan Makanan) tanpa ukuran tertentu, asalkan tujuan untuk menghasilkan

produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi (lebih menarik, enak dan awet) tercapai. Apabila

(8)

ketiadaan informasi yang benar menjadi kambing hitam, sepertinya perlu diragukan

mengingat akses informasi saat ini yang seakan sudah tak berbatas. Kecuali bagi masyarakat

terpencil atau pedalaman yang kurang sekali dalam menerima sosialiasi, misalnya tentang

cara produksi obat dan makanan yang baik (CPOB).

Bagi perusahaan besar, tentu tidak otomatis menjadi berlenggang tangan, mengingat

peluang terjadinya pencemaran makanan juga dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh

siapa saja. Mulai dari sumber bahan baku, proses penyaluran, pengolahan, sampai distribusi

kembali kepada masyarakat. Masih segar dalam memori, tentang kasus kesengajaan

penambahan melamin oleh oknum penyalur bahan baku susu segar di Cina, hal ini juga bisa

terjadi di Indonesia.

2.5Sumber kontaminan

Tidak dapat dipastikan dengan mudah untuk menelusur terjadinya kontaminasi bahan

berbahaya dalam produk pangan, termasuk produk obat-obatan (obat tradisional dan

kosmetika). Dengan panjangnya proses produksi, mulai dari bahan baku hingga pengemasan

dan distribusi, tentunya sangat banyak kemungkinan terjadinya titik kritis tercampurnya

bahan berbahaya tersebut. Akan tetapi dua hal yang dapat dipastikan ialah apakah adanya

kontaminan tersebut disengaja ditambahkan atau sebaliknya tanpa disengaja. Namun

meskipun tanpa kesengajaan, tetap saja pelaku yang terlibat perlu ditindak sesuai hukum dan

prosedur yang berlaku.

Dari hasil pengamatan, sumber utama kontaminasi pada produk pangan hampir dapat

dipastikan berasal dari 3 (tiga) macam sumber, yaitu kimia, mikrobiologi, dan fisik.

Bahan-bahan kimia berbahaya yang sering ditambahkan oleh masyarakat tanpa mengenal ukuran,

diantaranya ialah formalin pada tahu dan mie basah, borak pada kerupuk dan bakso, pewarna

makanan yang dilarang (rhodamin B dan methanil yellow) pada terasi dan aneka macam

jajanan anak sekolah termasuk es limun (minuman ringan) serta pestisida dan pengawet

lainnya pada produk-produk olahan awetan, seperti ikan asin.

Adapun sumber kontaminan berupa mikrobia dan fisik (logam, kerikil, dsb) dapat

terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor kecerobohan dari pihak produsennya, yaitu tidak

diterapkannya prinsip sanitasi yang baik dalam proses produksi. Selain itu, faktor

(9)

terjadinya peristiwa keracunan (food borne disease). Dari berbagai kasus keracunan yang

ada, hampir sebagian besar menimpa anak-anak serta konsumsi masal (pesta, prasmanan dan

nasi bungkus).

Dengan melihat sumber terjadinya kontaminasi pada produk pangan, diharapkan

dapat menjadi landasan yang tepat bagi BPOM dalam bertindak, yaitu dalam memberantas

dan mencegah terjadinya kontaminasi yang disengaja dari bahan kimia berbahaya serta

meminimalisir terjadinya keracunan pangan yang tidak disengaja dari kontaminan mikrobia

dan fisik.

2.6Cara Pemilihan Obat

Untuk menetapkan jenis obat yang dibutuhkan perlu diperhatikan :

a. Gejala atau keluhan penyakit

b. Kondisi khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut usia, diabetes mellitus dan

lain-lain.

c. Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat tertentu.

d. Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan interaksi

obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat.

e. Pilihlah obat yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat dengan

obat yang sedang diminum.

f. Untuk pemilihan obat yang tepat dan informasi yang lengkap, tanyakan kepada

Apoteker.

2.7Cara Penggunaan Obat

a. Penggunaan obat tidak untuk pemakaian secara terus menerus.

b. Gunakan obat sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur.

c. Bila obat yang digunakan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, hentikan

penggunaan dan tanyakan kepada Apoteker dan dokter.

d. Hindarkan menggunakan obat orang lain walaupun gejala penyakit sama.

e. Untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap, tanyakan kepada

(10)

BAB III

PENUTUP

3.1Kesimpulan

Setelah penyusun menyelesaikan makalah yang berjudul “sejarah profesi farmasi” ini

maka penyusun dapat menyimpulkan bahwa profesi farmasi sangat dibutuhkan di era

globalisasi yang kemajuannya semakin pesat ini. Selain itu, informasi tentang obat juga

sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar obat tersebut tidak dipersalah gunakan.

3.2Saran

Dalam makalah yang telah kami susun masih banyak kekurangan, baik dari segi

bahasa, susunan maupun dari segi keterbatasan literatur. Oleh karena itu, pembaca di

harapkan untuk menambah dan melengkapi makalah ini supaya lebih mendalami

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

BAB I ... 3

PENDAHULUAN ... 3

1.1 Latar belakang ... 3

1.2 Rumusan masalah ... 4

1.3 Tujuan... 4

BAB II ... 5

PEMBAHASAN ... 5

2.1 Pengertian obat ... 5

2.2 Penggolongan Obat ... 5

2.3 Tanda peringatan ... 7

2.4 Kontaminasi bahan berbahaya dalam makanan ... 7

2.5 Sumber kontaminan... 8

2.6 Cara Pemilihan Obat ... 9

2.7 Cara Penggunaan Obat ... 9

BAB III ... 10

PENUTUP... 10

3.1 Kesimpulan... 10

Referensi

Dokumen terkait

selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga, yang telah memberikan ilmu, nasihat dan kebijakannya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.. selaku Ketua

Pelaksanaan kebijakan teknis di bidang Pengelolaan dokumen, pengolahan data.. dan

Kepada seluruh pihak, saudara, sahabat dan teman penulis lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas semua semangat, motivasi dan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 9 jenis sayuran yang menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Batang yaitu kentang, kubis, sawi, wortel,

a) Untuk nilai kontrak tertinggi lebih besar atau sama dengan HPS. b) Untuk nilai kontrak kurang dari HPS.. pada tingkat Kabupaten/Kota tersebut, dijadikan pembanding untuk

Strategi yang diperlukan dalam efektivitas guru agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang telah direncanakan maka dalam proses teknis diarahkan

Dimana sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan asset yang sangat berharga, perlu diperlakukan secara baik dan sebagai modal (non material / non finansial )

o) Tanggung jawab keberhasilan hanya dipikul oleh pimpinan Penerapan gaya ini dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa kecepatan serta ketegasan dalam pembuatan keputusan