• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN IOM DALAM MENGATASI IMIGRAN GELAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN IOM DALAM MENGATASI IMIGRAN GELAP"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS ANALISA KEKUATAN POLITIK

“PERAN IOM DALAM MENGATASI IMIGRAN GELAP YANG MENJADIKAN INDONESIA SEBAGAI NEGARA TRANSIT”

DOSEN PENGAMPU: MUHAMAD FARIS AL-FADHAT

ANGGOTA :

1. Manap 20110510008

2. Reza Husain Widya U 20110510199

3. Rifqi Wahyu Anshari 20110510136

4. Bagas Nalendro Ikhsan 20110510154

5. A Malika Mulki 20110510

6. Irsalina Ilan nuuri 20110510233

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IOM adalah sebuah Organisasi antar pemerintah. Didirikan dengan nama Intergovernmental Committee for European Migration (ICEM) pada tahun 1951. Pada mulanya, IOM ditujukan untuk membantu menempatkan kembali para pengungsi akibat Perang Dunia II. IOM tumbuh sangat pesat dan saat ini terdiri dari 127 negara anggota. Tujuh belas negara lainnya memegang status negara pengamat, sebagaimana juga banyak organisasi internasional maupun LSM. Anggaran program IOM untuk tahun 2008 melebihi AS$ 1 milyar, yang mendanai lebih dari 2.030 program aktif dan lebih dari 6.690 anggota staf yang bekerja di lebih dari 430 kantor di lebih dari seratus negara.1

IOM berupaya untuk menjamin penanganan migrasi secara tertib dan manusiawi, untuk memajukan kerjasama internasional mengenai permasalahan yang terkait dengan migrasi, untuk membantu pencarian solusi praktis terhadap permasalahan migrasi dan untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada migran yang memerlukannya, baik yang merupakan pengungsi, pengungsi internal, maupun penduduk lainnya yang terpaksa meninggalkan masyarakat mereka. Konstitusi IOM mengakui secara tegas keterkaitan antara migrasi dan pembangunan ekonomi, sosial dan budaya, disamping hak manusia untuk bebas bergerak. IOM bergerak di empat bidang umum penanganan migrasi: migrasi dan pembangunan, fasilitasi migrasi, penanganan migrasi, dan penanggulangan migrasi secara paksa. IOM bekerjasama secara erat dengan para mitra pemerintah, antar- pemerintah dan non-pemerintah. Menurut prof. Tulus Warsito, “IOM merupakan sebuah organisasi yang berdiri karena adanya kepentingan bersama karena organisasi tidak boleh terdiri hanya satu orang saja. IOM merupakan organisasi internasional yang bergerak di bidang ke-imigrasian, melihat Indonesia sebagai negara yang strategis, banyak sekali kasus-kasus mengenai imigran illegal dari negara lain. Maka berdirilah organisasi migrasi internasional ini untuk membantu mengurangi tingginya tingkat perpindahan imigran illegal di Indonesia.” 2

1 Informasi Singkat Mengenai Organisasi Internasional untuk Migrasi/ Juli 2009/.Pdf/Informasi. di akses pada tanggal 29 oktober 2013 pada

pukul 12.00 wib

(3)

Operasi IOM di Indonesia bermula saat penanganan migran Vietnam di Tanjung Pinang, Riau pada 1979. Serangkaian bantuan berlanjut dengan penyediaan perawatan, pemeliharaan dan bantuan pemulangan sukarela bagi para pengungsi Timor-Timur. Hubungan IOM dengan pemerintah Indonesia dimulai pada 1999 ketika Indonesia resmi menjadi negara pengamat dalam dewan IOM. Sebuah Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani pada tahun 2000 mengakui Hubungan yang sangat bermanfaat antara Pemerintah dan IOM dalam meningkatkan penanganan migrasi. Hingga tahun 2013, status keanggotaan Indonesia masih tercatat sebagai negara pengamat IOM.

Sejak tahun 1999, Indonesia dijadikan tempat transit terutama untuk pergerakan orang-orang Timur Tengah yang menuju ke Australia. 85% yang masuk Australia secara ilegal, masuk memakai perahu setelah transit di Indonesia atau Malaysia. Pada umumnya orang-orang asylum seeker masuk Indonesia secara sah kemudian mencari perjalanan ke salah satu dari Ashmore Reef atau Pulau Christmas.

Wilayah di Indonesia yang dijadikan pintu penghubung oleh para imigran gelap menuju wilayah Australia adalah Jawa Barat. Pantai Jawa Barat bagian selatan dianggap strategis dan terdepan untuk penyelundupan imigran gelap, menuju daratan Australia lewat Pulau Christmas. Daerah pantai ini terbentang sejak dari Pelabuhan ratu, Pantai Loji atau Ujung Genteng, Sancang, Cibalong-Garut, Cipatujah-Tasikmalaya dan sekitar Pangandaran-Ciamis.

Sejatinya bukan hanya Jawa Barat. Indonesia sudah sejak lama menjadi negeri pilihan untuk transit menuju negeri idaman, Australia atau Selandia Baru. Tak sekedar transit, banyak oknum WNI yang ternyata turut memfasilitasi imigrasi gelap tersebut atau biasa disebut dengan penyelundup manusia (human smuggler).

Jawa Barat memang salah satu rute terbaik para manusia perahu untuk menuju Pulau Christmas, pulau terluar Australia yang berpenduduk kurang lebih dari 1500 jiwa dan berjarak lebih dekat dengan Indonesia (pantai selatan Jawa Barat). Rute lainnya adalah pantai selatan Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB hingga NTT.

1.2. Rumusan Masalah

(4)

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Imigran Gelap Serta Dampaknya

Migrasi bukanlah fenomena yang baru. Selama berabad-abad, manusia telah melakukan perjalanan untuk berpindah mencari kehidupan yang lebih baik di tempat yang lain. Dalam beberapa dekade terakhir ini, proses globalisasi telah meningkatkan faktor yang mendorong para imigran untuk mencari peruntungan di luar negeri. Hal ini kemudian menyebabkan meningkatnya jumlah aktivitas migrasi dari negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Eropa Timur ke Eropa Barat, Australia dan Amerika Utara (http://www.interpol.int/). Berangkat dari fenomena inilah kemudian muncul praktik penyimpangan, yaitu melakukan aksi untuk memindahkan manusia ke negara-negara tujuan secara ilegal karena batasan dan ketidakmampuan dari para imigran dalam memenuhi syarat sebagai imigran resmi.3

Ilegal migration diartikan sebagai suatu usaha untuk memasuki suatu wilayah tanpa izin. Imigran gelap dapat pula berarti bahwa menetap di suatu wilayah melebihi batas waktu berlakunya izin tinggal yang sah atau melanggar atau tidak memenuhi persyaratan untuk masuk ke suatu wilayah secara sah (Gordon H. Hanson). Terdapat tiga bentuk dasar dari imigran gelap yakni sebagai berikut;

 Melintasi perbatasan secara ilegal (tidak resmi).

 Melintasi perbatasan dengan cara, yang secara sepintas adalah resmi (dengan cara yang resmi), tetapi sesungguhnya menggunakan dokumen yang dipalsukan atau menggunakan dokumen resmi milik seseorang yang bukan haknya, atau dengan menggunakan dokumen remsi dengan tujuan yang ilegal.

 Tetap tinggal setelah habis masa berlakunya status resmi sebagai imigran resmi (Friedrich Heckmann).

Philip Martin dan Mark Miller menyatakan bahwa smuggling merupakan suatu istilah yang biasanya diperuntukkan bagi individu atau kelompok , demi keuntungan, memindahkan orang-orang secara tidak remsi (melanggar ketentuan Undang-Undang) untuk melewati

3

(5)

perbatasan suatu negara. Sedangkan PBB dalam sebuah Konvensi tentang Kejahatan Transnasional Terorganisasi memberikan definisi dari smuggling of migrants sebagai sebuah usaha pengadaan secara sengaja untuk sebuah keuntungan bagi masuknya seseorang secara ilegal ke dalam suatu negara dan/atau tempat tinggal yang ilegal dalam suatu negara, dimana orang tersebut bukan merupakan warga negara atau penduduk tetap dari negara yang dimasuki (Philip, op cit).4

Indonesia merupakan salah satu negara yang harus berhadapan dengan permasalahan orang asing pencari suaka dan pengungsi yang masuk dan tinggal di wilayah Indonesia. Meski bukan negara tujuan, dengan konsekuensi letak geografis, negara Indonesia merupakan tempat persinggahan terakhir dari gelombang pencari suaka dan pengungsi untuk ke negara tujuan, yaitu Australia. Kehadiran imigran ilegal tersebut akan memunculkan masalah demografi (Kependudukan); dan berkaitan dengan konflik ekonomi sosial serta berbanding lurus dengan tingkat kriminalitas.5 Selain itu merupakan sebuah implikasi lemahnya sistem

keamanan NKRI sehingga melahirkan permasalahan tersendiri dan sangat signifikan di Indonesia yaitu timbulnya dampak di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan nasional, dan kerawanan keimigrasian, karena tak sedikit kasus yang juga mengindikasikan adanya penyelundupan manusia.

Seperti beberapa contoh berikut terkait permasalahan baru yang harus ditanggung Indonesia bila tidak menanggapi serius isu imigran gelap. ketika para imigran ilegal berinteraksi dan bersosialisasi dengan warga yang tinggal sekitar Rudenim (Rumah Detensi Imigrasi) , Imigran ilegal dapat menyebarkan pengaruh negatif: minuman keras, pelecehan seksual, perselingkuhan, seks bebas hingga permasalahan hutang-piutang di warung serta tindakan asusila lainnya melawan moral dan etika bangsa Indonesia.

2.2. Indonesia Sebagai Negara Transit Imigran Gelap

Indonesia sebagai negara yang terletak di antara dua benua terkena imbas dan kemalangan dalam menghadapi para imigran gelap. Hal ini disebabkan negara seperti Australia dan Malaysia memiliki Undang-Undang yang tegas dalam menangani imigran gelap sementara Indonesia tidak memilikinya.

4 http://marada08128.blogspot.com/2013/02/penegakan-hukum-terhadap-imigran-gelap.html di akses pada tanggal 14 desember 2013 pada

pukul 01.28 WIB

(6)

Posisi lemah hukum (low of law ) yang dimiliki oleh Indonesia dalam menanggulangi masalah imigran gelap ini yang kemudian menyebabkan Indonesia menjadi negara transit bagi para imigran yang berasal dari Timur Tengah menuju Australia. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pihak-pihak yang berkewajiban, seperti institusi kepolisian. Langkah-langkah yang dilakukan oleh polisi selama ini adalah dengan melakukan penangkapan terhadap para imigran gelap dan para penyelundup, tetapi seperti yang telah diketahui bahwa proses penyidikan tidak menggunakan Undang-Undang khusus, tetapi Undang-Undang kemigrasian. sehingga hasil yang didapatkan tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Kerjasama Pemerintah RI dan Polri dalam menangani kasus imigran gelap dengan IOM dan UNHCR juga tidak maksimal, karena pada waktu tertentu UNHCR tidak dapat selalu memberikan solusi.

Salah satu usaha yang dilakukan oleh Pemerintah, dengan membangun banyak rumah hunian (detensi) bagi para imigran juga bukan merupakan solusi yang tepat. Usaha ini sama saja dengan membuka kesempatan bagi para imigran untuk lebih banyak datang ke Indonesia karena terjamin tempat tinggalnya. Selain itu, membangun detensi juga akan banyak menghabiskan biaya.

Kerjasama yang dilakukan Indonesia dengan Australia pada kenyataannya hanya memberikan keuntungan sepihak untuk Australia. Australia meminta Indonesia untuk menangkap para imigran gelap dan penyelundup manusia, tetapi Indonesia tidak dapat pula meneruskan para imigran gelap ke negeri kangguru tersebut sehingga Indonesia harus menanggung sendiri bebannya dalam mengurusi para imigran. Padahal, Indonesia memliki kesulitan dalam pengalokasian dana untuk mengurus para imigran.6

Oleh sebab itu, pemerintah harus memperketat keamanan sektor laut karena sebagain besar imigran gelap malalui jalur laut dan jumlahnya sangat besar, Chief on Mission IOM, Denis Nihil mengatakan, berdasarkan data mereka Indonesia merupakan negara transit utama untuk perlintasan imigran ilegal. Jumlah kasus imigran illegal di Indonesia hingga 31 Agustus 2013 mencapai 11.132 kasus. Kasus ini terdiri atas 8.872 pencari suaka dan 2.260 pengungsi.7

2.2. Peran IOM Dalam Mengatasi Imigran Gelap Di Indonesia

6 http://marada08128.blogspot.com/2013/02/penegakan-hukum-terhadap-imigran-gelap.html di akses pada tanggal 14 desember 2013 pada

pukul 01.28 WIB

7

(7)

International Organization of Migration (IOM) dan United Nation High Commisioner of Refugees (UNHCR) sangat dibutuhkan dalam menangani masalah pencari suaka maupun pengungsi. Untuk itu dibutuhkan suatu peran dalam menangani permasalahan imigran illegal tersebut. Dalam teori peran, perilaku individu harus dipahami dan dimaknai dalam konteks sosial. Peran (role) adalah perilaku yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang yang

menduduki posisi baik posisi berpengaruh dalam organisasi maupun dalam sikap negara.8

Setiap orang yang menduduki posisi itu diharapkan berperilaku sesuai dengan sifat posisi itu. Menurut pendapat K.J. Holsti, konsep peran yang berhubungan dengan organisasi internasional, bahwa peranan merefleksikan kecenderungan pokok serta sikap terhadap lingkungan eksternal, terhadap variabel sistem, geografi dan ekonomi.9 Dalam pembahasan

ini, yang menjadi focus adalah peran organisasi migrasi internasional yaitu peran dari IOM terhadap imigran illegal yang masuk ke Indonesia.

Konsep peran yang menjadi sebuah pertanyaan mengenai peran IOM dalam mengatasi masuknya imigran gelap ke Indonesia, Hasil wawancara tim kami dengan Prof. Tulus Warsito mengatakan “Ketika ada cita-cita yang mirip, entah antar organisasi atau antar Lembaga negara, pasti akan bekerja sama. IOM sendiri memiliki relasi kerjasama dengan Bakornas, Bappernas, BNP2TKI, Polri, Ditjen Imigrasi, Departemen Kesehatan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Hukum dan HAM, ASEAN Secretariat,World Bank dan yang lainnya.”10

Indonesia meminta IOM membantu memberikan dana untuk kebutuhan migran irregular itu. Sumber pendanaan menurut Prof. Tulus Warsito mengatakan “ sumber dana IOM itu sendiri “Dari internal yaitu anggota sendiri, dan eksternal dari sumber lain seperti dari pemerintah negara-negara maju, palang merah, Java Reconstruction Fund, LSM, dan juga World Bank.” Melihat Indonesia belum menjadi pihak Konvensi PBB mengenai Status Pengungsi 1951 dan Protokolnya 1967, (Konvensi Pengungsi) selain itu Indonesia juga meminta bantuan UNHCR untuk melanjutkan atau menempatkan mereka di negara ketiga Sisanya bisa dipulangkan ke negara asalnya dengan bantuan IOM. Akan tetapi pemulangan terpaksa melawan Undang undang Dasar IOM, jadi ada migran yang tetap di Karantina yang tidak mau dan tidak bisa dipulangkan. Kelompok ini, bersama dengan orang diakui pengungsi

8 Mas’oed, Mohtar, Study Hubungan Internasional : Tingkat Analisa Dan Teorisasi, 1984, Hal. 45 9 Holsti, K.J, Politik Internasional Suatu Kerangka Analisa, Bina Cipta, Bandung, 1987.Hal 159

(8)

oleh UNHCR tetapi yang belum mendapat resettlement, menjadi beban untuk negara Indonesia.11

Keberadaan IOM sangat membantu pemerintah Indonesia dalam menangani permasalahan yang terkait dengan migrasi yang merupakan salah satu misi inti dari International Organization for Migration (IOM). Bekerjasama dengan pemerintah nasional dan pemerintah daerah setempat, disamping dengan masyarakat internasional, dan sebuah jaringan luas organisasi swadaya, IOM Indonesia membantu Pemerintah Indonesia mengembangkan dan melaksanakan kebijakan, perundang-undangan dan mekanisme administratif migrasi dengan memberikan bantuan teknis dan pelatihan kepada para pejabat migrasi dan membantu para migrasi yang membutuhkannya.

IOM Indonesia melaksanakan sebuah program kontra-trafiking nasional melalui kerjasama secara erat dengan badan pemerintah dan LSM lokal untuk memerangi bentuk perbudakan modern ini melalui pendekatan yang komprehensif yang mencakup pencegahan trafiking, termasuk pendidikan dan pemberdayaan masyarakat; perlindungan korban, termasuk pemulangan, pemulihan dan reintegrasi; penuntutan para pelaku trafiking, termasuk pelatihan pejabat penegak hukum; dan melalui riset. Komitmen IOM untuk meningkatkan kualitas layanan yang diberikan oleh badan-badan pemerintahan juga tercermin dalam program enam tahun nya untuk mendukung upaya pemerintah mereformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri). IOM memfasilitasi pelatihan di bidang HAM dan perpolisian masyarakat (Polmas), dan membantu mendirikan forum dimana para anggota Polri dan masyarakat secara bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penegakan hukum. IOM Indonesia terus menangani kebutuhan para penduduk yang rentan dan berpindah di seluruh nusantara; program dan proyek yang sedang dikembangkan akan terus menyediakan layanan tersebut dalam tahun-tahun mendatang. 12

11 (Roberts, Anita – Asylum Seekers dari Timur Tengah di Indonesia – dari Perspektif Republik Indonesia.pdf)

12

(9)

BAB III

KESIMPULAN & SARAN

3.1. Kesimpulan

Imigran gelap adalah sebuah masalah yang sangat serius dan merupakan ancaman bagi negara Indonesia. Semakin meningkatnya keberadaan orang asing secara ilegal di Indonesia memberikan kerugian bagi Indonesia, baik secara financial dan material. Imigran gelap memang harus di tangani secepatnya dan para imigran gelap harus diberi sanksi ataupun hukuman. Namun, di sisi lain, kita juga harus menolong dan memperhatikan kondisi mereka yang memang memprihatinkan. Mereka masuk ke Indonesia dengan berbagai cara. Para imigran gelap yang datang ke Indonesia hanya singgah untuk transit sebelum bertolak lagi menuju Australia. Untuk menghadapi masalah imigran gelap yang semakin banyak di Indonesia ini, pemerintah harus lebih memperketat sistem pengamanan Negara. Khususnya di sektor laut, karena kebanyakan dari imigran gelap yang masuk melalui jalur ini.

Persoalan imigran gelap pada saat ini melibatkan baik instansi domestik maupun instansi internasional. Dengan demikian seharusnya ada upaya nasional dan regional untuk mengkajikan efek efek aliran ini atas negara masing masing. Australia sebagai negara tujuan aliran migran irregular ini harus ambil langkah langkah yang sesuai dengan tindakan tindakan RI. Bekerjasama dalam jiwa Regional Cooperative Model benar benar dibutuhkan untuk semua yang terlibat, khususnya asylum seekers dan pengungsi sendiri.

3.2 Saran

(10)

menindak secara tegas para imigran gelap sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi para pelakunya seperti yang diterapkan oleh Australia dan Malaysia.

Peran ASEAN sebagai rezim internasional di asia tenggara seharusnya membuat dan mengatur regulasi mengenai imigran gelap sehingga ada ketegasan dibidang security community yang dimiliki oleh ASEAN agar tidak merugikan bagi Negara yang menjadi tempat transit ataupun Negara tujuan imigran gelap.

DAFTAR PUSTAKA Buku:

Holsti, K.J, Politik Internasional Suatu Kerangka Analisa, Bina Cipta, Bandung, 1987.Hal 159

Mas’oed, Mohtar, Study Hubungan Internasional : Tingkat Analisa Dan Teorisasi, 1984, Hal. 45

Prof. Drs.Budi Winarno, MA.Phd.”isu-isu Global Kontemprorer”. Bab.xiv. kejahatan perdagangan manusia, Hal 314.

Jurnal:

Roberts, Anita – Asylum Seekers dari Timur Tengah di Indonesia – dari Perspektif Republik Indonesia.pdf

Informasi Singkat Mengenai Organisasi Internasional untuk Migrasi/ Juli 2009/.Pdf/Informasi. di akses pada tanggal 29 oktober 2013 pada pukul 12.00 wib

Wawancara:

Wawancara Tim di bulan November 2013 dengan Prof. Tulus Warsito “Kerjasama IOM dengan Pemerintah Indonesia”.

Surat Kabar Online:

Permasalahan pencari suaka dan pengungsi. Dipetik November 20, 2013, dari: bagansiapiapi.imigrasi.go.id:

(http://bagansiapiapi.imigrasi.go.id/index.php/berita/309-permasalahan-pencari-suaka-dan-pengungsi)

Arifin, Ridwan. (2013, Juli 15). Bom waktu imigran gelap di Indonesia. Dipetik November 20, 2013, dari kompasiana.com:

(http://hukum.kompasiana.com/2013/07/15/bom-waktu-imigran-gelap-di-indonesia-577017.html)

(11)

Dipetik November 20, 2013, dari republika.co:

(http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/13/11/06/ mvuci6-10593-kasus-imigran-ilegal-masuk-perairan-indonesia)

international organization for migration. di akses pada tanggal 14 desember 2013 pada pukul 01.28 WIB: http://www.gugustugastrafficking.org/index.php?

option=com_content&view=article&id=160:international-organization-for-migration&catid=66:badan-pbb&Itemid=95

Umum (Internet):

penegakan hukum terhadap imigran gelap yang keluar-masuk nkri. di akses pada tanggal 14 desember 2013 pada pukul 01.28 WIB:

http://marada08128.blogspot.com/2013/02/penegakan-hukum-terhadap-imigran-gelap.html

permasalahan imigran gelap dan people smuggling dan usaha-usaha serta rekomendasi kebijakan dalam menanggulanginya, Di akses pada tanggal 14 januari 2014 pukul 01.24 Wib: http://manshurzikri.wordpress.com/2011/01/05/permasalahan-imigran- gelap-dan-people-smuggling-dan-usaha-usaha-serta-rekomendasi-kebijakan-dalam-menanggulanginya/.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul Pengaruh Pemberian Phaleria

Gambaran radiologis aspergilosis paru invasif 30% berupa kavitas berdinding tebal, terutama di lobus bawah, 20% berupa infiltrate difus atau nodular di salah satu atau

Dari sisi pembiayaan perbankan, perkembangan sektor industri terlihat dari perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit bank umum ke sektor industri.(Gradik 1.20)

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan oleh peneliti berkaitan tentang pengelolaan program Penguatan Pendidikan Karakter mengenai

Unilever Indonesia, Tbk Dalam Pelaksanaaan Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Wujud Pelestarian Lingkungan (Studi Kasus Tentang Trash and Fashion dalam CSR di PT..

HASIL UJIAN TULIS CALON ANGGOTA PANITIA PEMUNGUTAN SUARA (PPS).. PEMILIHAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI PIDIE JAYA

Sehubungan dengan tugas dan fungsi Badan Baitul Maal dalam pengelolaan zakat, maka Pemerintah Aceh pada awalnya telah menetapkan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

mengisi, mengirim dan meng- update data pokok pendidikan (Formulir BOS-01A, BOS-01B, BOS-01C, BOS-01D, dan BOS-01E) dengan menggunakan media internet, karena selama