SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI JAKARTA
Nama : Marco Yoel Kumendong, Novia Abigail, Tony Wiyaret F.
Kelompok : 1
Mata Kuliah : Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Dosen Pengampu : Prof.Dr.Jan S. Aritonang dan Dr. Yusak Soleiman
TRADISI KEKUASAAN: NEGARA DAN AGAMA
EKSPANSI, PERJUMPAAN PERTAMA DAN KETEGANGAN
I. Ekspansi Islam ke Berbagai Negara: Perjumpaan Pertama
Dalam masa-masa awal Muhammad memperkenalkan Islam, tentu ia mengalami berbagai penolakan dan menghasilkan pengikut yang sedikit. Melihat kejadian tersebut, lalu Muhammad beserta para pengikutnya
berpindah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M (Goddard 2000, 40). Namun setelah itu, dapat dikatakan Islam mengalami kebangkitan.
Ditengah jumlah pengikut Islam yang minoritas, namun mereka membuktikan bahwa mereka dapat berkuasa. Setelah Muhammad
meninggal perluasan wilayah sangatlah pesat. Menurut mereka, melakukan perluasan wilayah bukan untuk memaksa orang lain menjadi Islam namun mereka ingin menyebarkan manfaat dari Islam itu sendiri, yaitu kehidupan yang teratur dan terciptanya tata tertib (Goddard 2000, 41). Muhammad meninggal pada 8 Juni 632 M dan seluruh Jazirah Arab telah ditaklukan di bawah kekuasaan Islam (Goddard 2000, 42).
Setelah Muhammad meninggal, Abu Bakar Shiddiq menggantikan Muhammad. Kemudia ia memulai ekspansinya ke luar wilayah Arab. Ia memerintahkan Khalid bin Walid untuk ke Iraq dan menguasai wilayah al-Hilah yang pada saat itu dikuasai oleh Imperium Persia pada 634 M
ke Syam. Namun pasukan Romawi yang menguasai saat itu, melakukan perwalanan yang cukup hebat. Oleh sebab itulah Khalid bin Walid
diperintahkan oleh Abu Bakar untuk membantu di Syam (Goddard 2000, 44). Lalu setelah Syam dapat ditaklukan, mereka bersama pergi ke
Palestina untuk membantu. Pada masa inilah Islam mulai mengembangkan perluasan wilayahnya dengan baik dan merebut daerah-daerah sekitarnya. Setelah itu Abu Bakar meninggal dan ekspansi dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya yaitu Umar bin Khattab (Goddard 2000, 44). Pada masa inilah ekspansi Islam makin luas dan kota Damaskus dapat direbut dari kekuasaan Bizantium.
Di Irak Umar bin Khattab memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menjadi gubernur. Pada 640 M, Babilonia juga berhasil ditaklukan, hingga akhirnya pada 641 M, Mesir jatuh ke tangan Islam (Goddard 2000, 44). Ekspansi pertama ini dapat dikatakan berhasil, karena Islam mampu menguasai Arab, Irak, Persia, Palestina, Suriah, dan Mesir. Namun pada pemerintahan Ali, ekspansi berhenti karena kondisi pemerintahan yang tidak stabil. Lalu ekspansi ini dilanjutkan kembali pada masa Bani Umayyah.
Jika melihat riwayat ini, pertanyaannya mengapa wilayah Kristen pada saat itu mudah sekali ditaklukan? Apakah karena Kristen adalah minoritas disana? Tentu tidak, menurut jumlah, umat Kristen dapat dikatakan lebih banyak dibandingkan umat muslim pada saat itu. Kekristenan di daerah Timur terpecah karena hasil Konsili Kalsedon (Goddard 2000, 46). Seperti di Siria, umat Kristen banyak yang terpecah akibat dari hasil Konsili
tersebut, oleh karena itu karena ada perpecahan di dalam diri Kristen, akhirnya umat Kristen dapat terpecah belah dengan mudah. Selain itu Islam mampu menguasai wilayah lain juga dengan jalur diplomasi (Goddard 2000, 46). Sebenarnya Islam tidak pernah memaksa umat Kristen untuk
muslim (Goddard 2000, 47). Hal ini dikarenakan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh muslim. Selain itu, ada juga kewajiban untuk membayar pajak kepada pemerintah. Pajak ini dapat dikatakan tinggi. Agar mereka tidak membayar Jizyah (pajak) yang tinggi ini, mereka lebih baik menjadi muslim agar tidak perlu membayar mahal (Goddard 2000, 45).
II. Sistem Pemerintahan Islam: Dampak Bagi Kristen dan Dhimmi Pasca penaklukkan bangsa Arab ke wilayah pemerintahan Byzantium dan Persia, yang kemudian direbut sebagai wilayah negara Arab tersebut memberikan dampak yang cukup besar khususnya di dalam tata
pemerintahan dan masyarakat Kristen pada masa itu. Beberapa aliran Kekristenan Timur merasakan dampak ketika bangsa Arab telah menduduki wilayah dan melaksanakan tata aturan pemerintahan dan masyarakatnya.
Pada masa pemerintahan Byzantium di Mesir, Kekristenan terbagi ke dalam beberapa kelompok-kelompok lokal, seperti kelompok Koptik, Melkit, dan lain-lain dan masing-masing kelompok tersebut saling menguasai. Namun sejak invasi Arab ke Mesir, terjadi perubahan perilaku ketika pemimpin Arab melaksanakan peraturannya di Mesir. Patriakh Benyamin, yang selama sepuluh tahun berada di dalam pengasingan kembali ke
Aleksandria dan dihormati oleh Amr bin Ash (Atiya 1980, 82). Pada masa ini Koptik mulai pada masa kebangkitan di dalam sudut keagaaman, sastra dan seni karena mereka di mata orang penguasa Arab dianggap sama semua dengan kelompok lain, seperti Melkit. Sementara jika dilihat di masa pemerintahan Byzantium, kelompok Koptik ditindas oleh Melkit yang
terhadap Koptik telah memberikan dampak perkembangan yang sangat pesat di dalam kesenian. Tukang pembuat perhiasan dari Koptik diberikan keluasaan untuk mengembangkan usahanya dan salah satu bentuk
kemajuan Koptik di bidang kesenian (Atiya 1960, 90).
Paling terpenting kekristenan di dalam pemerintahan Islam atau Arab ini adalah sistem pemungutan pajak terhadap orang-orang lokal. Kharaj atau Jizya yang berarti pajak penghasilan diwajibkan oleh seluruh orang Kristen dewasa yang digunakan untuk membiayai militer Islam dan
dilaksanakan secara menyeluruh di Mesir. Akibat pajak ini terjadi banyak sekali pemberontakan-pemberontakan di Mesir seperti kebangkitan
Bashmurik. Namun sistem ini sangat efektif sekali. Di dalam masa
pemerintahan Amr bin Ash, mereka dapat mengumpulkan dua belas juta dinar (Atiya 1960, 83).
Akan tetapi seiring banyaknya orang Kristen yang berpindah ke Islam, maka semakin kurangnya pendapatan melalui pajak. Hal ini dikarenakan orang-orang Kristen berusaha menghindari pajak yang terlampau tinggi dengan cara berpindah agama menjadi Islam sehingga tidak perlu
dibebankan pajak lagi (Atiya 1960, 83-84).
Bergeser ke arah Suriah, hal yang terjadi di Mesir juga hampir sama terjadi di Suriah. Di Suriah sendiri terdapat beberapa kelompok
Kekristenan seperti Jakobit, Nestorian, Melkit dan lain-lain. Di sini pun Jakobit juga mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini dikarenakan pemerintah Kekhalifaan saat itu menganggap seluruh kelompok Kristen di Suriah sama, berbeda dengan pemerintahan Byzantium yang merendahkan posisi dari Jakobit di bawah Nestorian (Atiya 1960, 194). Jika di masa
atau pajak perseorangan dengan satu dinar emas berarti satu kepala tentara militer Islam (Atiya 1960, 193).
Perkembangan-perkembangan kualitas Jakobit saat itu adalah mulai banyaknya karya-karya seni dan ilmiah yang ditulis dalam bahasa Syria dan Arab. Beberapa tulisan-tulisan flsafat Syria dibuat pada masa ini, seperti Kenneshre yang merupakan pionir dari pengetahuan Hellenistik-Syria (Atiya 1960, 195-196). Tulisan-tulisan Teologi pun juga banyak pada masa itu, seperti Homilia cathredales yang dibuat oleh Keuskupan Antiokhia (Atiya 1960, 196). Namun beberapa tahun kemudian kaum Jakobit mulai merasakan masa kemunduran. Hal itu ditandai dengan mulai dibatasinya gerak masyarakat Jakobit dan mulai kesulitan di dalam seluruh aktivitasnya. Orang-orang Kristen di dalam pemerintahan juga sudah mulai berkurang bahkan sampai tidak ada sama sekali. Alasan orang Kristen tidak
merasakan kebebasan lagi adalah mulai banyaknya orang pintar di
kalangan Arab dan tidak perlu lagi membutuhkan orang Kristen lokal yang sejak dari awal terdidik dan juga mulai menyusutnya orang-orang Arab di dalam pemerintahan (Atiya 1960, 199-200).
Nestorian pun merasakan hal yang sama dengan beberapa kelompok Kristen lainnya. Sejak dari awal Nestorian mengalami penindasan di dalam pemerintahan Byzantium dan Persia. Kemudian dengan kehadiran orang Islam yang kemudian memerintah, Nestorian juga merasakan kebebasan dan keadilan. Pemimpin Arab memberikan keadilan kepada semua ras dan budaya di dalam masyarakat Kristen pada saat itu (Atiya 1960, 268).
Melihat dari ketiga kelompok Kristen ini, memperlihatkan kebebasan dan keadilan yang diberikan oleh pemerintah Islam kepada kelompok
Kristen pada masa awal-awal pasca penaklukkan terhadap bangsa-bangsa lain. Keberadaan Islam di dalam kalangan Kristen telah memberikan kebebasan walaupun masih dalam cakupan sangatlah terbatas di masa awal.
B. Dhimmi: Bebas namun Terbatas
Keberadaan orang Kristen di dalam pemerintahan Islam menjadi sangat unik sekali. Selain karena jumlahnya yang sangat mayoritas di dalam satu negara Islam jika dibandingkan dengan jumlah orang Islam,
keberadaan orang Kristen yang lebih terdidik membuat mereka mendapatkan kebebasan dan toleransi yang baik. Namun seiring
berjalannya waktu, kaum non-Muslim atau disebut sebagai dhimmi atau yang dilindungi menjadi permasalahan secara relasi dan berkurangnya kebebasan dan keadilan untuk kaum dhimmi tersebut,
Sedari awal kaum dhimmi diberikan wajib pajak terhadap pemerintah yang digunakan sebagai biaya pengembangan militernya, salah satunya adalah Jizya atau pajak perorangan, atau juga ada namanya Kharaj atau pajak tanah. Pajak ini diwajibkan kepada semua orang non-Muslim. Setiap orang Kristen yang mempunyai tanah harus membayar kharaj. Sebenarnya kharaj ini merupakan sistem perpajakan yang dibuat oleh pemerintah Persia dan Yunani, yang kemudian diadopsi oleh pemerintah Islam sebagai pajak yang disakralkan (Ye’or 2002, 70). Karena tingginya dan kewajiban pajak yang terlampau tinggi, maka orang-orang Kristen saat itu memutuskan untuk berpindah agama menjadi Islam agar tidak dikenakan wajib pajak lagi (Ye’or 2002, 73).
pemerintah Islam hanya memberikan kebebasan bagi kalangan atas Islam atau orang Islam yang dapat melebarkan tanahnya (Ye’or 2002, 70).
Sementara mengenai peribadahan, banyak sekali batasan-batasan yang diberikan oleh pemerintah Islam terhadap orang Kristen. Gereja-gereja atau tempat persekutuan Kristen yang baru dilarang dibangun namun restorasi tempat penyembahan pra-Islam diperbolehkan menurut kondisi dan kepentingan saat itu (Ye’or 2002, 83). Orang-orang Kristen juga dilarang untuk melaksanakan ibadah dengan suara yang keras,
membunyikan lonceng dan memasang salib di tempat peribadahaannya (Ye’or 2002, 87). Orang-orang Kristen yang dulunya diperbolehkan menduduki pemerintahan juga akhirnya dilarang masuk dalam jabatan tertinggi dalam pemerintahan (Ye’or 2002, 90).
Selain dibatasi, pemerintah Islam juga menggencarkan proses
Islamisasi terhadap orang Muslim. Menyita seluruh properti milik non-muslim, dijadikan sebagai budak, dan berbagai cara lainnya untuk
membatasi orang Kristen di dalam pemerintah Islam yang memberikan ketegangan yang cukup tinggi di dalma masyarakat Kristen dan Muslim.
III. Perjumpaan Kristen-Islam: Tradisi dan Ilmu Pengetahuan Salah satu hal yang dapat dikatakan sebagai pendukung perluasan Islam adalah sistem irigasi. Hal itu dikarenakan Islam hadir di daerah-daerah yang memiliki curah hujan yang cukup rendah. Mereka
mengembangkan sistem perairan yang cukup memadai sehingga, melalui itu bahan makanan tersedia. Bahkan, populasi umat Islam juga semakin bertambah (Marthin dkk, 194).
buku-buku Yunani. Usaha itu dilakukan untuk menghadirkan buku-buku dalam bahasa Arab (Watt 1991, 52).
Proses penerjemahan itu pun terjadi pada para teolog Islam yang tertarik pada flsafat dan konsep keilmuan Yunani. Bahkan, Hisham ibn-al Hakam dan Dirar ibn-‘Amr mulai menggunakan ilmu flsafat itu untuk menentang penganut agama lainnya dan kelompok Muslim yang tidak mereka setujui. Konsep Yunani ini juga mampu membuat anak-anak Kristen konversi ke Muslim. Salah satu konsep Islam yang ditentang saat itu
Pada tahun 634-44, perluasan Islam dimulai. Pergerakan itu dinamai Islamic Colonialism. Namun, pada titik itu, orang-orang Islam hendak
menyatakan bahwa perluasan yang dilakukan Islam bukanlah kolonialisme. Islam menganggap bahwa gerakan mereka hanya berjalan pada asas
perluasan kebaikan dari agama Islam dan sistem politik kepada mereka yang di luar Islam (Watt 1991, 60).
Pada dasarnya, jumlah umat Islam tidak lebih banyak dari umat Kristen. Namun, karena kekuasaan dan para petinggi negara adalah orang Islam, maka orang Kristen merasa bahwa mereka adalah kaum minoritas. Sistem yang coba dikembangkan oleh Muslim sendiri berporos pada penaklukan untuk merampas. Beberapa tempat yang menjadi korban rampasan itu adalah Tunisia dan Basra, di Iraq selatan (Watt 1991, 61). Salah satu paradigma yang terus dipegang petinggi Islam pada saat itu adalah jika petinggi negara itu adalah Islam maka penganut Islam akan makin membanyak (Marthin 2004, 240). Tentunya, banyak di antara mereka yang hendak konversi karena ingin mempunyai jabatan yang baik ataupun alasan politik (Marthin 2004, 240).
Umat Islam sangatlah menjaga kaum minoritas. Mereka
Dalam hal ini, pihak Muslim (Watt 1991, 61). Pajak ini disebut dengan istilah jizya. Terkadang, pajak ini juga dilatar-belakangi oleh keinginan Muslim agar agama lain memeluk Muslim (Marthin 2004, 241).
Sebagai kaum minoritas, walaupun umat Kristen merasa bahwa
mereka berada pada kelas nomer 2. Mereka di luar para elit dan dari posisi pemerintahan. Bahkan, laki-laki Islam dapat menikahi perempuan Kristen, tetapi laki-laki Kristen tidak dapat menikahi perempuan Islam (Watt 1991, 61).
Pada tahun 781, terjadi pergolakan di Iraq. Pasalnya, umat Kristen dilarang untuk melaksanakan ibadah mereka oleh pihak Islam. Timotius, seorang pemimpin Nostorian pun langsung mempertanyakan hal itu kepada kalifah al-Mahdi (Abasiah). Dapat dikatakan pada bagian ini bahwa
percakapan yang dilakukan oleh Timotius cukuplah serius, pasalnya, itu adalah percakapan yang dilakukan antara para pemimpin (Watt 1991, 63). Menjawab pertanyaan itu, al-Madhi menyatakan bahwa salah satu
penyebabnya dimulai dari Yesus adalah Allah; Yesus mati di kayu salib; orang Kristen percaya kepada tiga Allah. Al-Mahdi menyatakan bahwa Allah tidak bisa menikahi seorang perempuan dan mempunyai seorang anak. Itu tidak mungkin, bahkan jika dikaji dari segi genetikal (Watt 1991, 63).
Pada dasarnya, al-Mahdi mengetahui bahwa Timotius menganut Nestorian: yang percaya mengenai keilahian Yesus. Al-Mahdi menanyakan, mengapa Yesus bisa menjadi Allah? Timotius menjawab dengan menyatakan bahwa pribadi Yesus yang bersatu dengan Allah bagaikan tubuh dan jiwa. Al-Mahdi menjawabnya, di Injil Yohanes 17: 20, dinyatakan bahwa “aku pergi ke Allahku dan Allahmu. Di situ, dititikberatkan bahwa Yesus sendiri berdoa kepada Allah (Thomas. 2003, 244)
Lebih lanjut, al-Mahdi menjelaskan mengenai kitab-kitab Injil yang dimengertinya. Al-Mahdi menyatakan bahwa janji yang dinyatakan oleh keempat kitab Injil mengenai kedatangan yang mendamaikan merujuk kepada Muhammad (Watt 1991, 64). Dari beberapa pernyataan itu, dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin Islam saja sudah mempunyai
pandangan terhadap Kristen yang demikian. Pemahaman yang dapat dikatakan sebagai tradisi yang dipertahankan hingga kini.
Dari perluasan Islam dan pemahaman mereka terhadap Kristen yang demikian, Watt menyatakan bahwa perluasan (kolonialisme) yang dilakukan Islam tidak untuk mengerti Kristen dengan baik. Begitu juga dengan para pelajar Muslim. Bahkan, mereka seakan tidak tertarik pada konsep dan persepsi iman orang Kristen (Watt 1991, 72).
Kemudian, pada tahun 795, Ammar al-Basri berusaha untuk mendialogkan kedua hal itu. Pertama, Ammar menyatakan bahwa Yesus bisa menjadi ilahi karena Allah membagikan anugerah-Nya kepada manusia sebagai bentuk komunikasi-Nya dengan manusia. Kedua, Allah hendak merespons
keinginan manusia untuk melihat-Nya. Ketiga, Allah hendak
memperlihatkan keadilan-Nya dengan kehadiran-Nya di dunia. Keempat, Allah hendak menyatakan keunggulan manusia (Thomas 2003,248).
IV. Refleksi
Ekspansi bangsa-bangsa Islam ke negara-negara lain memberikan dampak yang sangat besar, baik kepada Islam maupun Kristen. Keberadaan negara-negara Islam yang sebenarnya cukup mengejutkan dunia karena mampu menaklukkan negara-negara besar dan juga negara Islam tidak pernah diperhitungkan sebelumnya telah memberikan “sentuhan-sentuhan” yang sangat berpengaruh di masa itu bahkan sampai pada masa kini.
Perjumpaan awal secara langsung antara Islam dan Kristen telah memberikan dampak yang positif, namun juga memberikan dampak yang negatif. Positinya adalah banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan yang saling bersinggungan dan membentuk sebuah ilmu baru atau melengkapi ilmu yang sudah ada. Kelak, seluruh ilmu-ilmu tersebut kemudian masih relevan digunakan pada masa sekarang. Selain itu juga beberapa bentuk pemikiran teologi juga mengalami persinggungan dan membentuk teologi yang baru dan beberapa masih dapat digunakan pada masa sekarang. Tetapi
perjumpaan awal Kristen dan Islam ini juga menimbulkan dampak negatif. Beberapa ketegangan-ketegangan yang terjadi di dalam hubungan Islam-Kristen sangat berpengarub bagi kedua agama ini dan kelak menimbulkan kekerasan-kekerasan dan bahkan masih terjadi sampai pada masa kini. Seluruh dampak bagi positif maupun mengiringi perjalanan Kristen dan Islam dalam satu negara.
Terlepas dari pertanyaan bagaimana negara Islam yang sangat kecil dan tidak diperhitungkan ini dapat menaklukkan beberapa bangsa besar yang jawabannya tidak pernah berhujung itu, bentuk perjumpaan ini menjadi salah satu contoh bahwa kedua agama (atau hudaya) tersebut mempunyai kisahnya dan dampaknya masing-masing, baik kepada Islam, Kristen ataupun hubungan keduanya. Jika ditilik pada masa kini, masih banyak ketegangan-ketegangan yang terjadi di beberapa negara atau
kelompok. Ketegangan tersebut dapat dimaklumi (atau menjadi berbahaya?) di dalam sebuah hubungan kedua agama dan budaya yang berbeda.
Penyikapan secara positif adalah jalan tengah untuk menghindari konfik dua kebudayaan secara masal, seperti memperlihatkan dampak-dampak hubungan tersebut secara positif.
Daftar Acuan:
Marthin, Richard. C. 2004. Encyclopedia of Islam. Macmillan Reference USA.
Thomas, David. 2003. Christian at the Heart of Islamic Rule. Brill: Leiden. Watt, W. Montgomery. 1991. Muslim-Christian Encounters: Persceptions
and Misperceptions. USA: Routledge Revival.
Ye’or, Bat. 2002. The Decline of Eastern Christianity under Islam: From Jihad to Dhimmitude. London: Associated University Press.
Anes: Apa pendapat orang Kristen pertama kali ketika orang Islam menjadi tuannya?
Ada istilah orang Arab islam, padahal bbelum tentu orang Islam Arab. Sejak kapan Arabisasi ?
Muhammad: Ada perbedaan antara konsep negara-islam dengan