• Tidak ada hasil yang ditemukan

349390335 Makalah Pemerataan Dan Kemiskinan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "349390335 Makalah Pemerataan Dan Kemiskinan"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

(

PEMERATAAN DAN KEMISKINAN

)

OLEH :

MUHAMMAD ILHAM AKBAR

A21113541

MAHMUDDIN

A21114025

VIRDAYANTI

A31115021

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2017

(2)

Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Perilaku Biaya. Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Makassar, 20 februari 2017

BAB I PENDAHULUAN

(3)

Bagi masyarakat awam, pertumbuhan ekonomi tidak terlalu penting. Ini karena bagi mereka yang terpenting apakah kehidupan sudah beranjak, misalnya, tidak miskinlagi alias lebih makmur dibandingkan dengan masa sebelumnya.Tidak pernah menjadi risau ketika pertumbuhan ekonomi yang dicapai itu salah sasaran alias hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Ini karena adanya distribusi yang tidak merata. Atau bahkan ada anggapan bahwa ketimpangan perolehan kekayaan yang bermuara pada kemiskinan hanya dinilai sebagai kondisi sementara. Yang penting,indikator makro di atas kertas selalu menunjukkan performa bagus.Tetapi pemberantasan kemiskinan sebenarnya justru merupakan kondisi pentingatau syarat yang harus diadakan guna menunjang pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana pun, bertambahnya penduduk miskin mendorong taraf hidup yang rendah, sehinggaakan menurunkan produktivitas mereka yang pada gilirannya ekonomi nasionalmenurun dan akhirnya mendorong melambatnya pertumbuhan ekonomi.Padahal, kalau strategi ditekankan pada pemerataan pendapatan dan pengurangan angka kemiskinan, maka taraf hidup masyarakat secara keseluruhan akanmeningkat, sehingga mendorong permintaan barang primer dan sekunder yang dapatdihasilkan oleh perekonomian nasional.Ini pada gilirannya menunjang makin melajunya pertumbuhan ekonomi melaluikenaikan permintaan barang lokal dari hasil produksi industri lokal, selanjutnyamendorong penciptaan lapangan kerja dan investasi. Bandingkan jika kenaikan pendapatan hanya terjadi pada si kaya dan yang miskin tetap miskin atau justru bertambah miskin, maka golongan kaya akan mengonsumsi barang tersier yangumumnya merupakan barang impor.Jika kesenjangan pendapatan terus berlangsung, maka akan tercipta disinsentif material dan psikologis yang pada gilirannya menghambat kemajuan ekonomi. Padahal,sudah pasti pemerintah bersusah payah melakukan serangkaian strategi gunamenyajikan kemakmuran masyarakat.

Karena itu, strategi pembangunan yang terlalu mengagungkan pertumbuhanekonomi dan kurang penekanan pemerataan pendapatan dan pengurangan angkakemiskinan perlu dipikir ulang. Ini karena pemerataan pendapatan adalah suatu alatyang efektif untuk pemberantasan kemiskinan yang merupakan tujuan utama dari pembangunan ekonomi.

(4)

Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu : 1) Maksud dari pemerataan ?

2) Kebijaksanaan pemerataan pendapatan ? 3) Bagaiamana teknik pemerataan pendapatan ? 4) Bagaiamana konsep dari kemiskinan ?

5) cara perhitungan kemiskinan ? 6) apa-apa saja kriteria kemiskinan ?

7) bagaimana perkembangan kemiskinan di indonesia ?

8) apa saja yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kemiskinan ? 1.3Tujuan Penyusunan

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui maksud dari pemerataan dan kemiskinan yang terjadi di dalam suatu daerah maupun negara. Hal ini menyangkut bagaimana kebijaksaan dalam pemerataan pendapatan , teknik yang digunakan dalam meratakan pendapatan , konsep serta perhitungan kemiskinan.

(5)

PEMERATAAN DAN KEMISKINAN 2.1PEMERATAAN

Distribusi pendapatan dapat berupa pemerataan maupun ketimpangan, yang menggambarkan tingkat pembagian pendapatan yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi. Distribusi dari suatu proses produksi terjadi setelah diperoleh pendapatan dari kegiatan usaha. Pengukuran masalah pemerataan telah sejak lama menjadi perdebatan di kalangan ilmuan. Namun, pendekatan pengukuran yang sering digunakan untuk mengukur ketidakmerataan dari distibusi pendapatan adalah Gini coefficient yang di bantu dengan menggunakan Lorenzt curve. Sedangkan untuk mengukur tingkat kemiskinan digunakan metode headcount measure dan property gap. Ukuran yang dipakai dalam menentukan ketidakmerataan baik di tingkat wilayah maupun rumah tangga adalah gini coefficient dan tingkat kemiskinan. Gini coefficient merpakan alat ukur atau indikator yang menerangkan distribusi pendapatan aktual, pengeluaran-pengeluaran konsumsi atau variabel-variabel lain yang terkait dengan distribusi di mana setiap orang menerima bagian secara sama atau identik (Bappenas,2002). Menurut Cobwell (1977) yang dikutip oleh Mitchell (1991) menyatakan bahwa pengukuran ketidakmerataan dapat menggunakan gini coeficient. Selain itu, tingkat ketimpangan dapat diukur juga melalui personal income dengan menggunakan Kurva Lorenz, yaitu kurva yang menggambarkan hubungan kuantitatif antara persentase populasi penerima pendapatan dengan persentase total pendapatan yang benar-benar diperoleh selama jangka waktu tertentu, biasanya saru tahun.

Gambar 4.1 Kurva Lorenz

(6)

penduduk (Todaro, 1981). Garis kurva lorenz akan berada di atas garis horizontal, bila kurva tersebut menjauh dari kurva diagonal maka tingkat ketimapangan akan semakin tinggi. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan makin tidak merata jika nilai koefisien Gininya makin mendekati satu.

Distribusi pendaptan nasional akan menentukan bagaimana pendaptan nasional yang tinggi mampu menciptakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan dalam masyarakat, seperti mengurangi kemsikinan, pengangguran dan kesulitan-kesulitan lain dalam masyarakat. Distribusi pendapatan nasional yang tidak merata, tidak akan menciptakan kemakmuran bagi masyarakat secara umum. Sistem distribusi yang tidak merata hanya akan menciptakan kemakmuran bagi golongan tetentu saja. Perbedaan pendapatan timbul karena adanya perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dan faktor produksi. Pihak yang memiliki faktor produksi lebih banyak akan memperoleh pendaptan yang lebih banyak juga.

Tabel Patokan Nilai Koefisien Gini

Nilai koefisien Distibusi Pendapatan

<0,4 Tingkat Ketimpangan rendah

0,4-0,5 Tingkat ketimpangan sedang

>0,5 Tingkat ketimpagan tinggi

(7)

menggunakan sistem tarif progresif, oleh pemerintah digunakan untuk membiayai roda pemerintahan, subsidi dn proyek pembangunan.

Indikator ketimpangan Distribusi Pendapatan Menurut Bank Dunia

2.2 KEBIJAKSANAAN PEMERATAAN PENDAPATAN BAGIAN

DARI PENGELOLOAN KEUANGAN NEGARA

Pemerataan pendapatan (redistribusi pendapatan/distribution of income) merupakan usaha yang dilakukan oleh pemerintah agar pendapatan masyarakat terbagi sementara mungkin diantara warga masyarakat. Pengertian merata disini tidak berarti bahwa semua warga masyarakat dibuat pendapatannya sama, tetapi kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk mmemperoleh pendapatan. Tujuannnya adalah agar tidak terjadi ketimpangan pendapatan dalam masyarakat sehingga dapat menimbulkan keresahaan dan kecemburuan sosial yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas nasional. Ukuran pokok distribusi pendaptan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

1. The size distribution of income (The personal distribution of income)

Pengukuran atas dasar ini biasanya dilakukan oleh ahli ekonomi. Cara mengukurnya adalah masing-masing individu dicatat penghasilan pertahunnya dari sejumlah individu yang diteliti secara sampling. Penghasilan dinyatakan dalam satuan uang. Kemuddian dikelompok berdasar dari penghasilan terendah sampai tertinggi. Dari hasil pengelompokkan tersebutakan diketahui kelompok golongan berpenghasilan rendah memperoleh berapa persen dari eluruh penghasilan nasional dan kelompok golongan paling kaya memperoleh berapa persen, selanjutnya dapat diketahui ada ketimpangan atau tidak.

(8)

Ukuran ini menjelaskan tentang bagian pendapatan yang diterima oleh setiap faktor produksi (berapa yang diterima oleh buru (upah), pengusaha (keuntungan), pemilik tanah (sewa), pemilik modal (bunga/jasa) sesuai dengan funsi masing-masing faktor produksi).

2.3 TEKNIK PEMERATAAN PENDAPATAN

Ada beberapa teknik yang digunakan untuk redistribusi pendapatan, antra lain :

Transfer Uang Tunai (NIT, Demogrant, WRS) :

Transfer uang tunai merupakan pemberian subsidi berupa uang tunai kepada orang yang termasuk berpenghasilan rendah. Modal transfer tunai dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1. Model pajak pendapatan nagatif (Negatif Income Tax), maksudnya dalah bahwa pemerintah memberikan subsidi kepada penduduk yang dianggap tidak mampu. Persyaratannya adalah bahwa keluarga yang diberi subsidi merupakan keluarga yang penghasilannya di bawah pas-pasan dan nilai yang disubsidi adalah selisih antara penhasilan pas-pasan dan penghasilan riil dari keluarga itu Modal NIT menguntungkan jika penghasilan keluarga yang bersangkutan itu rendah. Semakin besar keluraganya semakin menguntungkan. Oleh karenanya pemerintah membatasinya miasalnya maksimum 5 jiwa dalam satu keluarga. Dengan menggunakan angka persentase subsidi bagi tiap jiwa. Maka mudah untu menetapkan besarnay subsidi. Formula untuk pemberian subsidi pada program NIT adalah T = r (YB – Yi)

T : besar transfer

r : tingkat pajak marginal, dinyatakan dengan persen (%) YB : pendaptan pas-pasan (ditetapkan pemerintah)

Yi : Pendapatan Keluarga

(9)

3. Model subsidi upah (Wage Rate Subsidies), yaitu subsidi yang dibeikan kepada buruh yang bekerja harian dan penghasilannya di bawah upah pas-pasan. Semakin banyak upah buruh (sepanjang masih di bawah upah pas-pasan, semakin sedikit subsidinya). Namun subsidi maksimum juga ditetapkan dan upah minimum juga harus di tetapkan oleh pemerintah.

Transfer Uang dan Barang

Dalam realisasinya, transfer uang tunai sebagaimana yang telah di jelaskan, dapat juga diberikan sebagian dalam bentuk barang. Hal ini dimaksudakan untuk meminimalisir penyimpangan masksud pemberian subsidi sesungguhnya.

Program Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja merupakan hal yang sangat didambakan bagi orang yang belum bekerja. Pemerintah harus menyediakan lapangan kerja dengan tingkat upah tertentu. Tetapi dalam kenyataannya program penciptaan tenaga kerja pada sector pemerintah maupun swasta di Negara berkembang bahkan di Negara maju sekalipun mengalami kesulitan. Di beberapa Negara maju, mereka yang menganggur mendapat tunjangan atau subsidi.

Gini Ratio Inonesia, Menurut Provinsi Tahun 2011-2016

Provinsi 2011 2012 2013Gini Rasio2014 2015 2016

ACEH 0.33 0.32 0.34 0.32 0.33 0.33 SUMATERA UTARA 0.35 0.33 0.35 0.32 0.34 0.32 SUMATERA BARAT 0.35 0.36 0.36 0.33 0.34 0.33 RIAU 0.36 0.40 0.37 0.35 0.36 0.35 JAMBI 0.34 0.34 0.35 0.33 0.36 0.35 SUMATERA SELATAN 0.34 0.40 0.38 0.40 0.36 0.35 BENGKULU 0.36 0.35 0.39 0.36 0.38 0.36 LAMPUNG 0.37 0.36 0.36 0.35 0.38 0.36 KEP. BANGKA

(10)

JAWA BARAT 0.41 0.41 0.41 0.41 0.41 0.41 JAWA TENGAH 0.38 0.38 0.39 0.38 0.38 0.37 DI YOGYAKARTA 0.40 0.43 0.44 0.42 0.43 0.42 JAWA TIMUR 0.37 0.36 0.36 0.37 0.42 0.40 BANTEN 0.40 0.39 0.40 0.40 0.40 0.39 BALI 0.41 0.43 0.40 0.42 0.38 0.37 NUSA TENGGARA

BARAT 0.36 0.35 0.36 0.38 0.37 0.36 NUSA TENGGARA

TIMUR 0.36 0.36 0.35 0.36 0.34 0.34 KALIMANTAN BARAT 0.40 0.38 0.40 0.39 0.33 0.34 KALIMANTAN

TENGAH 0.34 0.33 0.35 0.35 0.33 0.33 KALIMANTAN

SELATAN 0.37 0.38 0.36 0.36 0.35 0.33 KALIMANTAN TIMUR 0.38 0.36 0.37 0.35 0.32 0.32 KALIMANTAN UTARA - - - - 0.29 0.30 SULAWESI UTARA 0.39 0.43 0.42 0.42 0.37 0.39 SULAWESI TENGAH 0.38 0.40 0.41 0.37 0.37 0.36 SULAWESI SELATAN 0.41 0.41 0.43 0.42 0.42 0.43 SULAWESI

TENGGARA 0.41 0.40 0.43 0.41 0.40 0.40 GORONTALO 0.46 0.44 0.44 0.41 0.42 0.42 SULAWESI BARAT 0.34 0.31 0.35 0.35 0.36 0.36 MALUKU 0.41 0.38 0.37 0.35 0.34 0.35 MALUKU UTARA 0.33 0.34 0.32 0.32 0.28 0.29 PAPUA BARAT 0.40 0.43 0.43 0.44 0.44 0.37 PAPUA 0.42 0.44 0.44 0.41 0.42 0.39 INDONESIA 0.41 0.41 0.41 0.41 0.41 0.40

2.4 KEMISKINAN SUATU KONSEP TEORITIS

(11)

Menurut Bradley R. fthiller, kemiskinan adalah ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pealayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial. Dan oleh Email Salim, dikatakan bahwa, kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Didalam memembahas kemiskinan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, maka Ajit Ghose dan Keith Griffin, mengatakan bahwa kemiskinan di negara-negara ini berarti kelaparan, kekurangan gizi, ditambah pakaian dan perumahan yang kurang memadai, tingkat pendidikan yang rendah, tidak ada atau sedikit sekali kesempatan untuk memperoleh layanan kesehatan dasar dan lain-lain. John Friedmann, kemiskinan didefinisikan sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial meliputi : modal yang produktif atau assets, sumber-sumber keuangan, organisasi sosial dan politik yang dipakai untuk kepentingan bersama partai politik, sindikat koperasi, network atau jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barng dan lain-lain, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna untuk memajukan kehidup

an. Dari pengertian dari para ahli maka dapat diketahui bahwa kemiskinan itu tidak hanya terikat dengan aspek-aspek material saja tetapi juga berkaitan dengan aspek-aspek nonmaterial. Seperti yang dikatakan oleh Howard Wriggins et.al bahwa menurut Al-Kitab dikatakan bahwa tak seseorangpun hidup karena hanya roti saja, maka dengan demikian kemiskinan absolute juga mempunyai dimensi nonmaterial disampng aspek material ini. Atau seperti yang disimpulkan oleh Wolf Scott, sebagai berikut :

1. Kemiskinan pada umumnya didefinisikan sebagai kekurangan pendapatan dalam bentuk ditambah dengan keuntungan-keuntungan nonmaterial yang diterima oleh seseorang. Secera luas kemsikinan diberi pengertian meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, kondisi kesehatan yang buruk, kekurangan transportasi yang dibutuhkan masyarakat.

2. Kadang-kadang kemiskinan didefinisikan dari segi kurang atau tidak memiliki aset-aset seperti tanah, rumah, peralatan uang, emas, kredit dan lain-lain.

(12)

Definisi kemiskinann sebagai relatif sedikit atau tidak adanya nilai-nilai utama yang berhasil diakumalasikan oleh si aktor secara sah sehingga kebutuhannya kan nilai-nilai tersebut tidak terpenuhi secara layak atau memadai. Dengan singkat dpat dikatakan bahwa kemiskinan adlah adanya gap atau jurang antara nilai-nilai utama yang diakumulasikan dengan pemenuhan akan nilai tersebut secara layak. Dari definisi ini, ada beberapa hal yang akan dijelaskan lebih lanjut.

1. Nilai-nilai (values): dimaksud dengan nilai adalah sesuatu yang dihargai tinggi oleh individu dan masyrakat. Penghargaan atau tepatnya perioritas penghargaan akan nilai-nilai berbeda-beda, ada yang lebih dihargai dan ada yang kurang dihargai pada satu waktu tertentu dan masyarakat tertentu pula. Nilai-nilai yang lebih dihargai oleh masyarakat disebut nilai-nilai utama, dan nilai-nilai utma yang kurang dihargai oleh masyrakat disebut nilai-nilai sekunder. Ada beberapa macam nilaiyang ada dalam masyarakat, yakni : power, enlightenment, wealth, well-beright (or health), skill, offecion, rectitude (involve rightenosness and justice), deference (or respect), security dan librerty. Nilai-nilai utama ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia, yakni sandang, pangan, papan, keshatan, pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.

2. Kedua, kemiskinan itu multidimensional: karena banyak sekali nilai-nilai yang dibuthkan atau kebutuhan manusia itu bermacam-macam, maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek. Menurut John Friedman, bila dilihat dari segi public policy maka terdapat dua aspek kemiskinan, yaitu :

a. Aspek primer terdiiri dari : aset-aset organisasi sosial dan politik, dan pengetahuan dan keterampilan.

b. Aspek sekunder, terdiri dari : jaringan sosial, sumber-sumber keuangan dan informasi.

(13)

berpartisipasi, dan lain-lain. Oleh Bank Dunia di ajukan beberapa aspek kemiskinan yaitu, Income atau pendaptan yang rendah, kekurangan gizi, keadaan kesehatan yang buruk, dan pendidikan yang rendah. Selanjutnya, oleh Lukas Hendratta dikatakan bahwa suatu penelitian dalam masyarakat akan menunjukkan ruwet dan kompleksnya hubungan di berbagai antara manifestasi kemiskinan yakni, keadaan kesehatan yang buruk, kekurangan gizi, pengangguran, buta huruf dan produktivitas yang rendah. Dari pembahasan di atas maka terdapat 10 macam nilai sehingga demikian terdapat 10 dimensi atau aspek kemiskinan, yakni miskin dalm kekuasaan, harta benda atau harta kekayaan, kesehatan pendidikan dan pengetahuan, keterampilan atau keahlian, cinta kasih atau afeksi, keadilan, penghargaan atau penghormatan, keamanan dan kebebasan.

Ketiga, aspek-aspek kemsikinan saling bergubungan : Aspek-aspek kemiskinansaling berhubungan satu sama lainnya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hal ini berarti bahwa kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek kemiskinan dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran pada aspek-aspek kemiskinan yang lainnya. Hubungan di antara aspek-aspek kemiskinan ini, oleh Lukas Hendratta disebut dengan istilah the poverty spiral (spiral kemiskinan), sebagaimana terlihat dalam gambar berikut ini. Sifat saling berhubungan di antara aspek-aspek kemiskinan adalah bahwa satu aspek atau faktor dapat mempengaruhi semua aspek atau faktor lainnya baik dalam arti pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif. Secara diagramatik, proses saling mempengarhi ini dapat digambarkan sebagai kekuatan pergerakan yang menjalar pada sebuah spiral. Pembangunan dapat dilihat sebagai pergerakanyang semakin meluas (upward movement) dari semua unsur-unsur yang ada. Untuk mencapai hal ini, maka setiap unsur atau aspek harus bergerak dengan suatu kecepatan tertentu. Jika ada satu atau beberapa unsur yang tidak dapat mengikuti pergerakan upward ini maka kana mengakibatkan berkurangnya seluruh pergerakan tersebut. Tanpa adanya kecepatan pergerakan yang memadai hanya akan menimbulkan suatu pergerakan sirkular pada satu aspek tertent saja. Berkurangnya pergerakan yang lebih lanjut akan menyebabkan pergerakan sirkular tersebut berhenti sepenuhnya, sehingga terjadilah pergerakan spiral yang semakin sempit (downward movement).

(14)

Untuk itu, maka brbagai wujud atau aspek kemiskinan harus di tangani secara serentak untuk menggerakkan pergerakan spiral yang semakin meluas melalui suatu mekanisme synergistic. Sebaliknya, untuk melalui suatu proses synergistic negatif, di mana semakin berkurangnyapergerakan pada satu atau beberapa aspek dapat menyebabkan pergerakan spiral yang semakin menyempit, dan mempengaruhi pergerakan aspek-aspek lainnya. Implikasinya pada suatu program pembangunan adalah bahwa kita tidak dapat memperoleh suat perbaikan yang berarti dan abadi tanpa adanya suatu perbaikan yang dilakukan secara serentak pada sektor-sektor atau aspek-aspek kemiskinan lainnya.

Keempat, aktor kemiskinan : Diamaksud dengan aktor kemiskinann adalah orang-orang yang hanya sedikit atau tidak mampu mengakumulasikan nilai-nilai utama sehingga kebutuhannya akan nilai-nilai tersebut tidak terpenuhi secara layak. Jadi disini jelaslah bahwa yang miskin itu hanyalah manusia, orang, atau individu, baik secra kelompok atau kolektif maupun secara individual. Kita sering mendengar perkataan kemiskinan pedesaan, kemiskinan perkotaan, negara miskin, ini bukanlah berarti bahwa desa, kota atau negara yang mengalami kemsikinan, melainkan orang-orang atau penduduk di wilayah tersebut, sebagian besarnya menderita kemiskinan.

(15)

minimal seperti ditujukan oleh garis kemiskinan yang mengungkapkan taraf minimal untuk bisa hidup dengan cukup dan wajar. Mereka yang sampai pada patokan itu dipandang sebagai orang miskin. Aktor krmiskinan atau mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki beberapa ciri. Menurut Emil Salim orang miskin memiliki ciri-ciri yaitu :

1. Mereka umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti tanah yang cukup, modal ataupun keterampilan. Faktor produksi yang dimiliki sedikit seklai sehingga kemampan memperoleh pendapatan menjadi snagat terbatas.

2. Mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh produksi aset produksi dengan kekuatan sendiri, pendaptan tidak cukup untuk memperoleh tanah garapan ataupun modal usaha. Sedangkan syarat tidak terpunuhi untuk memperoleh kredit perbankan, seperti adanya jaminan kredit dan lain-lain sehingga mereka yang perlu kredit terpaksa berpaling kepada lintah lirat yang biasanya meminta syarat pelunasan yang berat dan memungut biaya bunga yang tinggi.

3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar. Waktu mereka tersisa habis untuk mencari nafkah sehingga tidak tersisa lagi untuk belajar. Juga anak-anak mereka tidak bisa menyelesaikan sekolah, karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilanatau menjaga adik-adik di rumah, sehingga secara turun-temurun terjerat dalam keterbelakangan di bawah garis kemiskinan.

4. Kebanyakan mereka tinggal di pedesaan. Banyak di antara mereka tidak memiliki tanah, kalaupun ada maka kevil sekali. Umumnya mereka menjadi buruh tani atau pekerja kasar diluar pertanian. Karena pertanian bekerja musiman maka kesinambungan kerja kurang terjamin. Banyak diantara mereka lalu menjadi pekerja bebas, (self employed) berusaha apa saja. Dalam keadaan penawaran tenaga yang besar, maka tingkat upah menjadi rendah sehingga mengurung mereka di bawah garis kemiskinan. Didorong oleh kesulitan hidup desa maka banyak diantara mereka mencoba berusaha di kota (urbanisasi).

(16)

Apabila di negara maju pertumbuhan industri menyertai urbanisasi dan pertumbuhan kota sebagai penarik bagi masyrakat desa untuk bekerja di kota, maka proses urbanisasi di negara berkembang tidak disertai proses penyerapan tenaga dalam perkembangan industri. Bahkan sebaliknya, perkembangan teknologi di kota-kota negara berkembangan justru menampik penyerapan lebih banyak tenaga kerja, sehingga penduduk miskin yang pindah ke kota terdampar dalam kantong-kantong kemelaratan (slumps). Di samping pandangan bahwa yang miskin hanyalah orang atau manusia maka ada juga yang berpendapat bahwa aktor kemiskinan itu dapat berupa negara, desa atau kota itu sendiri, bukan penduduknya. Jadi, negara, kota atau desa tersebut dikatakan miskin kareana kekurangan atau tidak mengandung bahan-bahan mineral atau kekakyaan alam lainnya. Hal ini dikenal dengan istilah naturaally poor atau miskin secara alamiah. Jadi, bisa terjadi bahwa, suatu negara tertentu bila dilihat dari segi kekayaan alamnya maka akan termasuk dalam negara miskin, tetapi bila dilihat dari segi tingkat penghidupan penduduknya maka termasuk dalam negara kaya. Misalnya, Jepang dilihat dari segi kekayaan alaminya, maka ia termasuk dalam kategori negara miskin, tetapi bila dilihat dari pendaptan perkapita penduduknya maka ia termasuk dalam negara kaya. Juga Indonesia , bila dilihat dari segi alam maka termasuk dalam negara kaya, tetapi bila dilihat dari pendapatan perkapita pendduk maka termasuk dalam negara miskin.

(17)

kemiskinan dari segi pendapatan perkapita; jumlah pendapatan perkapita yang layak untuk memenuhi kebutuhan pokok, juga berbeda-beda anatara negara yang satu dengan negra lainnya, bahkan anatara daerah perkotaan, atau negara pedesaan dalam suatu negara saja pun berbeda.

7. Gap anatara nilai utama yang diakumulasikan dengan pemenuhan kebutuhan akan nilai tersebut : Besar kecilnya gap ini akan menunjukkan besar kecilnya ataua parah tidaknya keadaan kemiskinan. Semakin besar gap ini menunjukkan bahwa keadaan semakin parah, dan semakin kecil gap ini menunjukkan keadaan kemiskinan semakin berkurang atau semakin membaik. Dan dimana terdapat keseimbangan anatara jumlah nilai yang diakumulasikan dengan pemenuhan kebutuhan ukuran nilai secara layak, maka terciptalah kondisi marginal. Dan bilamana terjadi keadaaan yang sebaliknya, yakni jumlah yang diakumulasikan lebih besar daripada jumalh yang dibutuhkan secra layak, maka keadaan ini menunjukkan sudah bebas dari belenggu kemiskinan.

2.5 KONSEP KEMISKINAN MENURUT BADAN PUSAT

STATISTIK

(18)

kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buhan, minyak dan lemak, dan lain-lain). Ke 52 jenis komoditi ini merupakan komoditi-komoditi yang paling banyak di konsumsi oleh orang miskin. Jumlah pengeluaran untuk 52 komoditi ini sekitar 70 persen dari total pengeluaran orang miskin. Garis kemikinan non-makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

2.6 TEKNIK PEHITUNGAN GARIS KEMISKINAN DAN

UKURAN KEMISKINAN MENURUT BADAN PUSAT STATISTIK (BPS)

(19)

dikategorikan sebagai penduduk miskin. Sedangkan ukuran kemiskinan menurut BPS terdiri dari 3 bagian antara lain

1. Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan (GK).

2. Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

3. Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P2) adalah ukuran yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakain tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

2.7 KEMISKINAN VERSI BKKBN

(20)

Kriteria keluarga miskin yang dipakai BKKBN pada awalnya memang bukan untuk mendata keluarga miskin, tetapi tetapi tuga soperasional kantor /lembaga itu yakni program keluarga berencana dan program keluarga sejahtra. Tetapi dalam perkembangannya, data tersebut dipakai sebagai pedoman dalam berbagai macam program peningkatan kesejahtraan keluarga yaitu program Takesra/Kukesra, dan sejak krismon 1997, program JPS OPK beras dan program JPS lainnya. Dengan demikian besar kemungkinan terjadi kelebihan taksiran.

Taksiran keluerga miskin yang “pesimistis” di daerah diduga ada kaitannya dengan usulan DAU dan DAK pada pemerintah pusat. Dengan kata lain, data penduduk miskin tersebut ditetapkan tinggi supaya dana yang masuk ke daerah juga besar. Menurut pejabat di dinas sosial, memang pertimbangan yang di pakai tidak jauh berbeda dengan kondisi ketika diadakan pendataan desa miskin dalam program IDT. Pada awanya sedikit sekali yang mau menegkui daerah/desanya adalah miskin. Namun sumber di BKKBN tidak sependapat jika angka kemiskinan yang diterbitkan dikaitkan dengan gulirandana dari pusat. Menurutnya, yang penting bukanlah mempertentangkan data/kriteria kemiskinan, tetapi bagaimana manfaat data itu bagi program-program yang akan dilaksanakan. Menurutnya semakin banyak kriteria akan semakin banyak pula informasi yang didapat, dan karena itu semakin memperkaya wawasan. Namun daikuinya, bahwa saat ini ada kesan bahwa data yang dikeluarkan BKKBN untuk melaksanakan program dari pusat, dan data dari dinas-dians di pemda untuk melaksankan program-program pemerintah daerah.

(21)

desa tertinggal pada tahun 1993-1995 bersifat “makro” dan tidak sampai pada nama individu dalam suat daerah tertentu yang dapat dikatagorikan sebagai penduduk miskin.

2.8 PENDUDUK DAN KEMISKINAN

(22)

mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Pertumbuhan penduduk daerah miskin di DIY seperti Gunung Kidul dan Kulonprogo dewasa ini sudah rendah sekli dan bahkan minus.

2.9 KRITERIA KEMISKINAN BANK DUNIA

Publikasi Bank Dunia Indonesia Constructing a New Strategy for Proverty Reduction, Oktober 2001 berisi pembahasan komprehensif tentang agenda penanggulangan kemiskinan (poverty reduction) di Indonesia. Salah satu tema yang dikemukakan adalah perlunya memperluasa definisi, fakta-fakta dan tujuan dari program anti kemiskinan. Selain pujian bahwa sampai dengan krisis 1997-98 Indonesia mampu mencapai hasil spektakuler dalalm mengurangi jumlah penduduk miskin, Bank Dunia juga memberikan kiritik bahwa pendekatan yang diterapkan Indonesia dalam penanggulangan kemiskinan terlalu menitik beratkan pada target-target angka. Garis kemiskinan (poverty line) misalnya, ditekankan pada pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam arti sangat sempit. Target angka dikombinasikan dengan pendekatan pembangunan yang bersifat atas-bawah (top-down approach) telah mengesampingkan banyak dimensi kemiskinan yang meskipun sulit diukur, tetap sangat penting. Dengan hanya melihat mereka yang secara statistik masuk masuk dalam kategori di bawah garis kemiskinan, pendekatan ini menyempitkan ruang lingkup kemiskinan dan menjauhkan dari realitas penduduk miskin yang lebih dinamis.

(23)

tehadap prasarana, apakah akses kelompok paling miskin terhadap sumber daya air maupun sanitasi dapat ditingkatkan lima tahun mendatang, dan yang tidak kalah pentingnya apakah partisapasi kalangan penduduk miskin dalam keputusan-keputusan politik setempat mempengaruhi kehidupan mereka dapat ditingkatkan melalui program-program tertentu. Selama kurun waktu 1975-1995 Indonseia dipuij-puji telah berhasil dalam mengurangi kemiskinan terutama diukur melalui penurunan jumlah penduduk miskin dari 64,3% pada tahun 1975 menjadi hanya 11,4% pada tahun 1995. Pada tahun yang sama unmur harapan hidup mengalami peningkatan 47,9 pertahun menjadi 63,7 per tahun, angka kematian bayi perseribu kelahiran bisa ditekan dari 118 menjadi 51, tingkat partisipasi sekolah dasar meningkat dari 75,6 menjadi 95, dan tingkat partispasi sekolah menengah juga meningkat dari 13 menjadi 55%. Pendekatan yang dipakai oleh pemerintah selama ini lebih mementingkan target-target angka untuk mencapai tujuan penanggulangan kemiskinan. Tanpa tujuan yang pasti dan siepakati bersama oleh berbagai pelaku (stakeholder), maka pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan hanya sekedar memenuhi target-target yang bersifat sektoral belaka.

2.10 KRITRIA MISKIN PADA ERA OTONOMI DAERAH

(24)

yang berbeda-beda. Dengan demikian, garis kemiskinan Sajogyo misalnya mungkin saja tidak relevan diterapkan di daerah yang makanan pokok penduduknya bukan beras, atau kriteria menganai luas dan kondisi lantai rumah yang dipakai BKKBN tentu tidak akan relevan diterapkan di daerah yang rumah penduduknya kebanykan berbentuk rumah panggung atau perumahan nelayan yyang terapung di pantai. Dengan kata lain keanekaragaman budaya masyarakat perlu dipertimbangkakn dalam menyusun data kemiskinan suatu daerah.

(25)

Salah satu tujuan diberlakukannya otonomi daerah adalah untuk meningkatkan partisipasi rakyat dalam pengambilan keptusan tentang hal-hal yang menyangkut diri mereka. Kewenangan yang lebih besar diberikan kepada pemerintah provinsi, kabupaten maupun desa, agar lembaga-lembaga ini lebih kreatif menyusun berbagai program pembangunan daerah sesuai potensi daerahnya masing-masing. Asumsi yang mendasrinya adalah bahwa pemerintah di daerah lebih mengetahui potensi dan spirasi yang dimiliki daerahnya. Dengan kedekatan ini diharapkan produk kebijaksanaan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi rakyat setempat. Seiring dengan jiwa dan semangat otonomi daerah, dan kenyataan bahwa daerah lebih mengetahui potensi daerahnya masing-masing, diperlukan reorientasi peran baik pemerintah pusat, daerah, maupun desa dalam program-program penaggulangan kemiskinan. Program penaggulangan kemiskinan pada era otonomi harus lebih mengandalkan kreativitas dan prakarsa daerah dan masyarakat di daerah. Pemerintah pusat yang sebelumnya sangat dominan, harus berubah menjadi sekedar pemberi fasilitas, pandangan dan pendampingan-pendampingan bagi program-program penanggulangan kemiskinan.

2.11 PERKEMBANGAN TINGKAT KEMISKINAN DI

INDONESIA, 1996-2010

Perkembangann jumalah dan persentase penduduk miskin pada perode 1996-2010 tampak berfluktuasi dari tahun ketahun terlihat adanya kecenderungan menurun pada periode 2000-2005. Pada periode 1996-1999 jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta karena krisis ekonomi, yaitu dari 34,01 juta (17,47 persen) pada tahun 1996 menjadi 47,97 juta (23,43 persen) pada tahun 1999. Pada periode 1999-2002 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 9,57 juta, yaitu 47,97 juta (23,43 persen) pada tahun 1999 menjadi 38,40 juta (18,20%) pada tahun 2002. Penuruan jumlah penduduk miskin juga terjadi pada periode 2002-2005 sebesar 3,3 juta, yaitu dari 38,40 juta (18,20%) pada tahun 2002 menjadi 35,10 juta ( 15,97%) pada tahun 2005 akan tetapi pada periode 2005-2006 terjadi pertambahan jumlah penduduk miskin sebesar 4,20 juta, yaitu dari 35,10 juta pada tahun 2005 menjadi 39,30 juta pada tahun 2006. Akibatnya persentase jumlah penduduk miskin juga meningkat dari 15,97% menjadi 17,75%.

(26)

Tahun

Jumlah Penduduk Miskin

(Juta Orang) Persentase Penduduk Miskin

Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa

1996 7,2 15,3 22,5 9,7 12,3 11,3

1996 9,42 24,59 34,01 13,39 19,78 17,47

1998 17,6 31,9 49,5 21,92 25,72 24,2

1999 15,64 32,33 47,97 19,41 26,03 23,43

2000 12,31 26,43 38,74 14,6 22,38 19,14

2001 8,6 29,27 37,87 9,79 24,84 18,41

2002 13,32 25,08 38,39 14,46 21,1 18,2

2003 12,26 25,08 37,34 13,57 20,23 17,42

2004 11,37 24,78 36,15 12,13 20,11 16,66

2005 12,4 22,7 35,1 11,68 19,98 15,97

2006 14,49 24,81 39,3 13,47 21,81 17,75

2007 13,56 23,61 37,17 12,52 20,37 16,58

2008 12,77 22,19 34,96 11,65 18,93 15,42

2009 11,91 20,62 32,53 10,72 17,35 14,15

2010 11,1 19,93 31,02 9,87 16,56 13,33

(27)

2.11.1 Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2008-Maret 2010

Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2009 sebesar 32,53 juta orang (14,15 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2008 yang berjumlah 34,96juta (15,42 persen) berarti jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 2,43 juta. Jumlah penduduk miskin di daerah pedesaan turun lebih tajam daripada daerah perkotaan. Selama periode Maret 2008-Maret 2009, penduduk miskin di daerah pedesaan berkurang 1,57 juta orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 0,86 juta orang. Presentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan pedesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2008, sebagian besar (63,47 persen) penduduk miskin berada di daerah pedesaan, sementara pada bulan Maret 2009 presentase ini hamper sama yaitu 63,39 persen. Penurunan jumlah dan presentase penduduk miskin selama periode Maret 2008-Maret 2009 tampaknya berkaitan dengan faktor-faktor berikut :

1. Selama periode Maret 2008-Maret 2009 inflasi umum relative stabil yaitu sebesar 7,92 persen.

2. Rata-rata harga beras nasional selama periode Maret 2008-Maret 2009 tumbuh sebesar 7,80 persen, lebih rendah dari laju inflasi umum

3. Rata-rata upah riil harian buruh tani naik 13,22 persen dan rata-rata upah riil harian buruh bangunan naik sebesar 10,61 persen selama periode Maret 2008-Maret 2009

4. Selama Subround I (Januari-April) 2009 terjadi panen raya. Produksi padi Subround I 2009 mencapai 29,49 juta ton CKG, naik sekitar 4,87 persen dari produksi padi Subround I 2008 yang sebesar 28,12 juta ton CKG

5. Pada umumnya penduduk miskin bekerja di subsektor pertanian tanaman pangan dan perikanan. NTP di kedua subsektor tersebut selama periode April 2008-Maret 2009 mengalami kenaikan yaitu sebesar 0,88 persen untuk subsektor tanaman pangan dan 5,27 persen untuk subsektor perikanan

6. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga triwulan I tahun 2009 meningkat sebesar 5,84 persen terhadap triwulan I tahun 2008

(28)

Maret 2008-2010

(29)

di pedesaan), telur (3,61 persen di perkotaan, 2,68 persen di pedesaan), mie instan (3,21 persen di perkotaan, 2,70 persen di pedesaan), tempe (2,47 persen di perkotaan, 2,09 persen di pedesaan), dan tahu (2,24 persen di perkotaan, 1,60 persen di pedesaan). Untuk komoditi Non-Makanan, biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap garis kemiskinan yaitu 7,58 persen di perkotaan dan 5,73 persen di pedesaan. Biaya non-makanan lainnya yang memberi sumbangan cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah pengeluaran untuk listrik (3,08 persen di perkotaan, 1,81 persen di pedesaan), angkutan (2,85 persen di perkotaan, 1,34 persen di pedesaan), dan minyak tanah (1,73 persen di perkotaan, 0,70 persen di perdesaan)

Tabel Garis Kemiskinan, Desa, Kota dan Desa Menurut Provinsi

Propinsi Garis Kemiskinan (Rp)

Kota Desa Kota+Desa

Aceh 246 375 206 742 218 143

Sumatera Utara 205 379 154 827 178 132 Sumatera Barat 213 942 163 301 180 669

Riau 233 732 194 019 214 034

Jambi 214 769 132 091 172 349 Sumatera Selatan 205 145 161 205 178 209 Bengkulu 210 082 149n468 170 802 Lampung 187 923 145 634 157 052 Kepulauan

Bangka Belitung 236 854 234 028 235 379 Kepulauan Riau 278 742 213 985 248 241 DKI Jakarta 266 874 - 266 874 Jawa Barat 180 821 144 204 165 734 Jawa Tengah 168 186 140 803 154 111 DI Yogyakarta 200 855 156 349 184 965 Jawa Timur 166 546 140 322 153 145 Banten 188 392 140 885 169 485

Bali 179 141 147 963 165 954

(30)

Barat

Nusa Tenggara

Timur 185 975 113 310 126 389 Kalimantan Barat 166 230 133 403 142 529 Kalimantan

Tengah 179 418 153 430 162 266 Kalimantan

selatan

185 289 144 647 161 514

Kalimantan Timur 239 560 188 787 220 368 Sulawesi Utara 165 842 149 440 156 550 Sulawesi Tengah 181 555 146 286 154 006 Sulawesi Selatan 149 439 115 788 126 623 Sulawesi

Tenggara 142 103 121 197 130 625 Gorontalo 146 458 134 410 138 181 Sulawesi Barat 144 842 130 428 135 242 Maluku 205 046 170 547 179 552 Maluku Utara 192 287 153 526 165 039 Papua Barat 209 518 204 958 205 998 Papua 242 556 190 513 202 379 Indonesia 187 942 146 837 166 697

2.11.3 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

(31)

pengeluaran penduduk miskin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Nilai indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) di daerah pedesaan jauh lebih tinggi daripada perkotaan. Pada bulan Maret 2009, nilai indeks kedalaman kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1,91 sementara di daerah pedesaaan mencapai 3,05. Nilai indeks keparahan kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0,52 sementara di daerah pedesaan mencapa 0,82. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di pedesaan lebih parah dari daerah perkotaan.

Tabel Indeks Kedalam Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Inonesia

Menurut Daerah 2008 – Maret 2010

Tahun Kota Desa K+D Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)

Mar-08 2.07 3.42 2.77

Mar-09 1.91 3.05 2.50

Mar-10 1.57 2.80 2.21

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P2)

Mar-08 0.56 0.95 0.76

Mar-09 0.52 0.82 0.68

Mar-10 0.40 0.75 0.58

2.12 PERBANDINGAN ANGKA KEMISKINAN BPS DAN BANK

DUNIA

(32)

yang sama tersebut dapat dibeli seharga US$ 1 di Amerika. Angka konversi ini dihitung berdasarkan harga dan kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survey yang biasanya dilakukan setiap 5 tahun sekali. Perbandingan jumlah dan persentase penduduk miskin berdasarkan perhitungan BPS dan Bank Dunia tahun 1996-2009

Tabel Garis Kemiskinan dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia 2006

Tahun GK/Hari GK/Bulan %PM

BPS IDR. 5.066,57 IDR. 151.997 17.8 USD. 1.55

PPP

USD. 1 PPP IDR.

3.240,60 IDR 97.218 7.4 Bank

Dunia USD. 2 PPP IDR.

6.481,30

IDR.

194,439 49.0

Chen dan Ravallion (2001) membuat suatu penyesuaian harga kemiskinan dunia dengan menggunakan garis kemiskinan US$ 1 PPP perorang perhari. Berdasarkan penghitungan yang mereka lakukan, pada tahun 1993 garis kemiskinan US$ 1 PPP perorang perhari adalah ekuivalen dengan Rp.20.811 perorang perbulan. Garis Kemiskinan PPP disesuaikan dari waktu ke waktu dengan angka inflasi yang menggunakan indeks harga konsumen. Pada tahun 2006 garis kemiskina US$ 1 PPP ekuivalen dengan Rp.97.218 perorang perbulan dan garis kemiskinan US$ PPP ekuivalen dengan Rp. 194.439 perorang perbulan. Perbandingan garis kemiskinan dan persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 2006 menurut BPS dan Bank Dunia.

(33)

dikeluarkan Bank dunia. Untuk China dan India, data resmi kemiskinannya lebih rendah dari data kemiskinan Bank dunia untuk kriteria US$ 1 PPP. BPS melakukan penghitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan kebutuhan dasar minimal yang harus dipenuhi seseorang, baik untuk makanan, maupun non makanan, dan itu dilakukan secara konsisten sejak tahun 1984 hingga kini. Bank dunia melakukan perhitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan pengeluaran perkapita setara dengan US$ 1 dan US$ 2 PPP (Purchasing Power Parity), dengan tujuan untuk memperoleh keterbandingan tingkat kemiskinan antar negara. Nilai pengeluaran US$ 1 perkapita perhari berada dibawah garis kemiskinan yang dihitung BPS, sebaliknya nilai pengeluaran US$ 2 perkapita perhari berada diatas garis kemiskinan BPS, artinya lebih besar dari kebutuhan dasar minimal. Untuk melihat apakah jumlah penduduk miskin cenderung meningkat atau menurun, harus menggunakan seri data dari sumber yang sama (konsisten). Tidak akan ada maknanya bila satu tahun tertentu menggunakan data BPS, tetapi tahun lainnya menggunakan data dari Bank Dunia, atau sebaliknya.

2.13 BAGAIMANA MENANGGULANGI KEMISKINAN

Suatu Alternatif (Studi Kasus Provinsi )NTT

2.13.1 Sejarah Program Penanggulangan Kemiskinan

(34)

pembangunan daerah yang berlandaskan pada filosofi ‘membangun dari apa yang ada dan dimiliki oleh rakyat’ yang saat ini di acu oleh gubernur Piet A. Tallo, secara implisit maupun eksplisit sarat dengan nuansa penanggulangan kemiskinan. Hal ini jelas menggambarkan kuatnya kepedulian pemerintah provinsi Nusa Tenggar Timur terhadap issu kemiskinan. Bila diliat lebih dalam sejarah program-program penanggulangan kemiskinan di provinsi ini, terlihat ada pergeseran yang silih berganti. Pada periode awal(1958-1978), terlihat inisiatif lokal cukup menonjol. Ditahun tahun berikutnya, program-program yang merupakan inisiatif lokal ini cukup tergeser dengan program-program yang berasal dari pemerintah pusat. Baru kemudian mulai tahun 2001, pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur merumuskan kembali program-program pembangunannya sesua dengan kebutuhan mereka sendiri.

2.13.2 Strategi Pemberdayaan Penduduk Miskin

Berdasarkan pengalaman, baik ditingkat provinsi hingga desa, ada beberapa hal tentang konsep penanggulangan kemiskinan yang dianggap dengan konteks-konteks sosial,budaya, ekonomi, dan lingkungan fisik. Konsep ini dikatakan sebagai konsep teoritis karena hanya merupakan refleksi semua pihak terhadap pengalaman empirik mereka masing-masing dan belum teruji secara empiric. Secara garis besar strategi tersebut adalah :

1. Memfokuskan upaya penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan pangan dan pendidikan serta dalam mengakses pelayanan kesehatan. Upaya meningkatkan keberdayaan ini dilakukan dengan memperkokoh usaha pertanian ladang, peternakan, dan observasi alam yang merupakan penyangga ketahanan pangan mereka.

(35)

3. Upaya peningkatan keberdayaan keluarga miskin ini dikaitkan dengan upaya pemberdayaan komunitasnya (masyarakat desa/kelurahan) agar mampu membantu warganya mengatasi masalah kemiskinan yang ada di lingkungannya. Untuk tujuan ini, filsafah yang diacu oleh setiap program pembangunan di provinsi adalah “membangun dari apa yang ada dan dimiliki oleh rakyat”, suatu filosofi yang secara implisit mengakui pentingnya memperhatikan konteks lokal.

4. Melakukan reposisi peran pihak pihak “luar desa” (pemerintah, LSM, kalangan dunia usaha, kalangan perguruan tinggi, dan lain lain), dari semula sebagai agen pemberdayaan menjadi fasilitator pemberdayaan.

Upaya pemberdayaan keluarga miskin yang berbasis komunitas ini dilakukan dengan cara pemberian kewenangan luas kepada masyarakat desa/kelurahan dalam mengelola upaya penanggulangan kemiskinan yang ada di wilayahnya. Kewenangan tersebut meliputi:

1. Kewenangan untuk menentukan sendiri aktivitas penanggulangan kemiskinan yang akan dilaksanakan di desa/kelurahannya. Ini berarti peran perancangan kegiatan harus dipegang sepenuhnya oleh masyarakat desa/kelurahan. Pihak luar desa dapat memberi kontribusinya dengan mengacu pada desain besar (grand design) yang dibuat oleh masyarakat desa/kelurahan itu sendiri. Dengan pendekatan semacam ini maka: i). Semua aktivitas penanggulangan kemiskinan di desa/kelurahan sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat desa/kelurahan dan sesuai dengan konteks setempat – kontektual ; ii). Semua aktivitas penanggulangan kemiskinan sepenuhnya mengacu pada pemanfaatan secara optimal sumberdaya setempat dan pemanfaatan secara bijak sumber daya dari luar iii). Tidak ada lagi pohak luar desa yang membawa masing-masing bendera program penanggulangan kemiskinannya, yang sering kali tumpang-tindih satu dengan lainnya dan acapkali tidak sesuai dengan konteks setempat.

(36)

teknis tertentu, informasi-informasi terhadap peluang-peluang pasar yang ada di luar desa, teknologi yang tersedia, dan lain-lainnya).

3. Masyarakat desa/kelurahan diberi pula peluang untuk menumbuhkan sendiri prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas terhadap setiap aktivitas penanggulangan kemiskinan yang mereka lakukan. Ini berarti bahwa orientasi pertanggungjawaban fokusnya harus ditujukan kepada keluarga miskin dan masyarakat desa/kelurahan (komunitasnya) dan tidak lagi semata-mata ditujukan ke pihak-pihak di aras atas desa.

Dengan ketiga kewenangan tersebut, maka masyarakat desa memiliki peluang belajar langsung sehingga proses pembelajaran yang dinamis dan partisipatif. Dasar pemikirannya adalah:

1. Kondisi sosial, budaya dan ekonomi bukan merupakan kondisi yang statis tetapi merupakan kondisi yang dinamis di mana perubahan salah satunya dapat menimbulkan perubahan yang lain. Dengan demikian, setiap aktivitas penanggulangan kemiskinan diduga sedikit banyak akan merubah kondisi setempat. Masyarakat desa/kelurahan yang berdaya adalah masyarakat yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungannya dan mampu memanfaatkan konfisi lingkungan yang baru tersebut untuk meningkatkan kesejahteraannya.

2. Keberdayaan merupakan hasil dari proses belajar yang paritisipatif dan kontinu (penekana pada proses bukan pada hasil). Pertama, tidak ada keberdayaan yang diperoleh tanpa melibakan secara aktif orang yang diberdayakan. Kedua suatu masyarakat yang berdaya menghadapi kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi tidak berdaya kembali bila tidak siap menghadapi perubahan lingkungannya. Oleh sebab itu, keberdayaan harus pula dipahami sebagai bentuk keberdayaan menghadapi perubahan lingkungan dan keberdayaan memanfaatkan lingkungan yang baru tersebut untuk kesejahteraan hidupnya (dalam kaitannya dengan sutainable livelihood)

(37)

lingkungan luar desa. Oleh sebab itu, perubahan lingkungan luar desa dapat mempengaruhi pula kehidupan keluarga miskin. Dengan kata lain, perubahan paradigma yang menekankan pada peran luas masyarakat desa/kelurahan harus pula diikuti dengan perubahan paradigma berpikir dan bertindak semua pihak di atas desa yang terkait (stakeholders). Fakta empiris yang dijumpai di Nusa Tenggara Timur adalah telah tumbuhnya political will dari para pembuat kebijakan pemerintah di atas provinsi hingga kabupaten/kota untuk merubah paradigm yang bersifat sentralistik ke arah desentralistik, termasuk yang memberi peluang bagi masyarakat desa/kelurahan untuk berperan lebih besar dalam pembangunan desa/kelurahannya masing. Political will ini secara legal formal terlihat (eksplisit) dalam setiap dokumen perencanan mereka. Hanya saja, fakta empiric menunjukkan bahwa masih terjadi pelencengan kebijakan ( slippery policy ) sehingga acapkali terjadi gap antara konsep yang baik dengan implementasi di lapangan yang buruk. Hal diatas terlihat dari pelaksanaan Program UDKP Model, Program pemberdayaan Ekonomi Rakyat, dan Program Pemberdayaan Masyarakat.

Oleh sebab itu, pihak luar desa, terutama pemerintah harus di beri kesempatan untuk belajar melaksanakan peran barunya sebagai fasilitator (hasil reposisi peran). Peluang belajar tersebut harus pula menjangkau semua aras, mulai dari para pembuat kebijakan di aras provinsi/kota/kabupaten hingga ke aparat pemerintah di aras kecamatan. Ini berarti sosialisasi terhadap peran baru pemerintah harus mencapai semua aras. Hal yang tidak kalah penting, dalam upaya pemberdayaan penduduk miskin yang berbasis komunitas adalah memberi penghargaan yang lebih besar pada lingkungan alam dan kearifan-kearifan lokal yang terbukti adaptif dengan lingkungan alamnya. Ini diberi stressing khusus karena pada dasarnya, masyarakat NTT telah memiliki pola nafkah tradisional yang terbukti secara turun menurun adaptif terhadap konteks ekologi yang tergolog semi-arid(lahan kering. Secara tradisional ketahanan pangan mereka bersandar pada 3 penyanggah yaitu : i). Penyanggah pertama adalah usaha tani lading (jagung, ketela pohon dan kacang-kacangan), ii).Penyanggah kedua adalah ternak besar (sapi, kerbau dan kuda) dan iii).Penyanggah ketiga adalah tanaman pangan yang tersedia di hutan.

(38)

penyanggah tersebut tetap kokoh. Hanya saja input-input baru dari luar acapkali justru melemahkan aturan-aturan adat yang telah ada sebelumnya sehingga mengarah pada pengikisan ketiga penyanggah tersebut. Fakta empiric juga menunjukkan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, beberapa input baru dari luar ternyata berindikasi justru merusak ketahanan pangan mereka. Pentingnya etiga penyangga tersebut sebenarnya telah disadari oleh Pemerintah Daerah, terutama di jaman Gubernur Ben Mboy. Bahkan Gubernur Ben Mboy, memperkenalkan industri kerajinan rakyat sebagai penyanggah ke empat. Dengan harapan, bila terjadi paceklik, penduduk NTT masih bisa bersandar pada hasil kerajinannya yang dapat digunakan untuk membeli kebutuhan pangannya. Hanya sayang, kesadaran-kesadaran seperti di atas selanjutnya menjadi agak terlupakan karena masuknya program-program pembangunan yang didesain dari pusat, yang cenderung tidak peka terhadap konteks lokal semacam itu. Saat ini ada indikasi kesadaran di atas tumbuh kembali di kalangan pemerintah daerah. Ini terlihat dari falsafah yang dianut dalam berbagai dokumen perencanaan. Dalam dokumen-dokumen perencanaan tersebut dianut falsafah:Mulai membangun dari apa yang ada dan yang dimiliki oleh rakyat melalui pendekatan yang bertumpu pada nilai-nilai moral keagamaan (religius), sosio-kultural dan ekosistem. Hanya sayangnya implementasikan acapkali tidak sesua dengan semangat di atas. Hal ini mungkin karena aparat pemerintah masih memerlukan waktu untuk belajar menjalankan peran barunya sebagai fasilitator (bukan sebagai agen pembangunan)

2.13.3 Pengembangan Keuangan Mikro dan Penanggulangan Kemiskinan

(39)

telah mempraktikkan pengembangan keuangan mikro secara langsung; kelompok yang melihat kemungkinan LKM sebagai salah satu alternatif dalam membantu masyarakat miskin menyelesaikan masalahnya; dan kelompok ‘campuran’ yang memiliki beragam motivasi. Ketiga maksud yang mendasari pengembangan Gema PKM dan tiga bentuk motivasi anggota Gema PKM yang menyertainya merupakan cerminan atas pandangan mengenai keuangan mikro.

Umumnya harus terdapat proses ‘penjelasan’ bahwa lembaga-lembaga terkenal itu adalah lembaga keuangan mikro, atau menjadikan lembaga-lembaga itu sebagai contoh untuk menjelaskan suatu lembaga keuangan mikro. Keberadaan keuangan mikro tidak dapat dipisahkan dari usaha-usaha penanggulangan kemiskinan. Bahkan perhatian dan usaha untuk mengembangkan keuangan mikro terutama didasarkan pada motivasi unyuk mempercepat usaha penanggulangan kemiskinan. Bahkan perhatian dan usaha untuk mengembangkan keuangan mikro pula lah yang mendasari berbagai lembaga internasional bergerak langsung dalam kegiatan keuangan mikro maupun dalam pengembangan lembaga keuangan tersebut. Keuangan mikro dapat menjadi faktor kritikal dalam usaha penanggulangan kemiskinan yang efektif. Peningkatan akses dan pengadaan sarana penyimpanan, pembiayaan dan asuransi yang efisien dapat membangun keberdayaan kelompok miskin dan peluang mereka untuk keluar dari kemiskinan melalui: i). Tingkat konsumsi yang lebih pasti dan tidak berfluktuasi, ii). Mengelola resiko dengan lebih baik, iii). Secara bertahap memiliki kesempatan membangun asset, iv). Mengembangkan kegiatan usaha mikronya, v). Menguatkan kapasitas perolehan pendapatannya, vi). Dapat merasakan tingkat hidup yang lebih baik. Secara khusus keuangan mikro juga dapat menjadi jalan yang efektif dalam membantu dan memberdayakan perempuan, yang menjadi bagian terbesar dari masyarakat miskin sekaligus juga memiliki potensi dan peran besar untuk meningkatkan ekonomi keluarga jika mendapat kesempatan.

(40)

Kedua aspek tersebut terkait erat satu dengan lainnya, walaupun pemberian fokus perhatian pada salah satunya sering menjadi strategi yang memang harus dilakukan. Strategi pengembangan keuangan mikro untuk kedua kepentingan diatas tampaknya sudah cukup jelas dan telah menjadi kesepakatan yang teruji dalam beberapa pembahasan

Strategi tersebut adalah:

1. Pengakuan dan Perlindungan. Hal ini diwujudkan melalui pengembangan kerangka regulasi (regulatory framework) bagi keuangan mikro. Keuangan mikro harus diakui, diapresiasi, dan dilindungi, serta dikeluarkan dari situasi sebagai lembaga yang dibutuhkan tetapi illegal. Dalam konteks inilah LKM perlu menjadi bagian dari sistem keuangan nasional, yang didukung tidak hanya oleh suatu undang-undang keuangan mikro tetapi juga berbagai perangkat hukum dan peraturan lainnya. Catatan khusus bagi Indonesia yang telah memiliki keuangan mikro yang sangat beragam dan telah berperan sejak lama adalah bahwa

regulatory framework tersebut harus memberikan apresiasi terhadap apa yang telah berkembang selama ini. Adanya perundang-undangan dan peraturan menyangkut keuangan mikro harus dicegah agar tidak menjungkirbalikkan semua yang ada dan menghilangkan kreatifitas masyarakat dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Oleh sebab itu pendekatan voluntary legal framework tampaknya merupakan pendekatan yang sesuai.

2. Penguatan dan peningkatan kapasitas praktik dan pengelolaan. Hal ini terkait dengan penguatan dan penngkatan kapasitas lembaga keuangan mikro melalui penyebaran informasi mengenai best practices yang digali baik dari pengalaman keuangan mikro di Indonesia sendiri maupun dari pengalaman di negara lain. Penguatan dan peningkatan kapasitas ini juga tidak dapat dilepaskan dari pengembangan berbagai aspek usaha mikro lainnya (teknologi, manajemen, pemasaran dan lain lain), dan juga perlu memperhatikan keragaman yang sudah berkembang hingga saat ini.’

(41)
(42)

DAFTAR PUSTAKA

R. Latu, Julius, Perekonomian Indonesia Dan Dinamika Global

(43)

Gambar

Tabel Indeks Kedalam Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan(P2) di Inonesia
Tabel Garis Kemiskinan dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia2006

Referensi

Dokumen terkait

Doronglah kami dengan kekuatan kasih serta pembaruan yang telah Engkau kerjakan di dalam kami,untuk menyatakan iman, pengharapan dan kasih bagi dunia yang sedang

Materi layanan BK tentang Dampak Handphone, menyadarkan saya akan pentinya membatasi diri dalam menggunakan Handphone4.

Penulis masih baru dalam bisnis ini dan belum bepengalaman, penulis pun harus mengundang banyak konsumen dan melakukan berbagai promosi pasar, agar usaha online

Dari hasil penelitian mengenai pengaruh gender sebagai variabel eksternal terhadap penerimaan Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) melalui pendekatan Technology

Dinamika penerimaan diri pada subjek dengan umur yang paling tua dapat narpidana wanita bergantung pada faktor yang menerima keadaan subjek dengan cepat, bahkan menjadi

Spam, komplain spam, respon, network incident, Hak atas Kekayaan Intelektual, fraud, spoofing/phising, dan malware merupakan kategori yang dipilih untuk

menggunakan teknik vakum evaporasi (VE). Hasil penelitian ini ditemukan kerusakan pada permukaan film tipis karena adanya proses doping, sehingga mempengaruhi

Kompleks kobalt(II) piridin-2,6- dikarboksilat, terdapat ikatan hidrogen, interaksi π-π dan heterosiklik aromatis [4] , yang memungkinkan kompleks ini berinteraksi dengan