• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN R

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN R"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

i

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN REMISI KEPADA PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI (KORUPTOR)

PENULISAN HUKUM

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada

Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Oleh :

NAMA : DANIEL TULUS M. SIHOTANG NIM : B2A 008 324

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN REMISI KEPADA PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI (KORUPTOR)

Penulisan Hukum

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan program Sarjana (S1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Diponegoro Semarang Oleh :

DANIEL TULUS M. SIHOTANG B2A 008 324

Penulisan Hukum Dengan Judul di Atas Telah Disahkan Dan Disetujui Untuk Diperbanyak Kemudian Diujikan

Pembimbing I Pembimbing II

(3)

iii

HALAMAN PENGUJIAN

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN REMISI KEPADA PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI (KORUPTOR)

Dipersiapkan dan Disusun Oleh :

DANIEL TULUS M. SIHOTANG B2A 008 324

telah diujikan di Depan Dewan Penguji Pada Hari Kamis, 5 April 2012

Semarang, 5 April 2012 Dewan Penguji

Ketua Sekretaris

(Prof. Dr. Yos Johan Utama,S.H.,M.Hum) (Dr. R.B.Sularto,S.H.,M.Hum)

Pembimbing I Pembimbing II

(Prof.Dr.Nyoman Serikat PJ,S.H.,MH) (Dr. R.B.Sularto,S.H.,M.Hum)

Penguji

(4)

iv MOTTO

! !!

! """"

# $ #

## $$ ##

# $ #

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

! ! !

"

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN REMISI KEPADA PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI (KORUPTOR)”.

Skripsi ini dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan guna menyelesaikan Program Sarjana (Stara-1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Penulis menyadari dalam menyelesaikan skripsi ini banyak memperoleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan rasa hormat penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, antara lain kepada :

1. Bapak Prof. Sudharto P. Hadi, M.ES, Ph.D selaku Rektor Universitas Diponegoro Semarang;

2. Bapak Prof. Dr. Yos Johan Utama,S.H.,M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang;

3. Bapak Dr. Pujiyono, S.H.,M.Hum. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro;

(7)

vii

5. Bapak Dr. R.B.Sularto,S.H.,M.Hum selaku Dosen Pembimbing II yang senantiasa memberikan bimbingan, arahan, semangat dan kepercayaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya; 6. Bapak Dr. Pujiyono, S.H.,M.Hum selaku Dosen Penguji yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk menguji penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang;

7. Bapak Budiharto, S.H.,M.S selaku Dosen Wali yang telah memberikan nasehat, bimbingan dan arahan selama penulis menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang;

8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang dan segenap Civitas Akademik Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang yang telah banyak membantu selama masa studi penulis;

9. Kedua orangtua penulis Bapak Mangadar Sihotang,SmHK,M.Ba (+). dan Ibu Betsaida Situmorang yang sangat penulis sayangi, terima kasih untuk doa dan kasih sayangnya serta adik-adik penulis, Boby Aditya Sihotang dan Delila Teresia Marisi Sihotang yang selalu memberikan semangat buat penulis;

10. Kekasih penulis yang terkasih Febrina Elisa yang senantiasa memberi doa, motivasi dan saran demi kelancaran skripsi ini.

(8)

viii

Keluarga Besar NHKBP Kertanegara Semarang. Terimakasih untuk kebersamaan, jalinan persaudaraan dan sukacita yang telah kita jalani selama ini.

12. Saudara-saudaraku yang terkasih Pengurus NHKBP Kertanegara Semarang Periode 2010 - 2012. Terimakasih untuk kebersamaan, jalinan persaudaraan dan sukacita yang telah kita jalani selama ini.

13. Teman-teman terdekatku, Samuel Hutasoit, S.H., Holong J. Manullang, S.E, Freedom Siahaan, S.H., Manggiring Silalahi, David Ginting, Mesayus Bangun, Dechry Simatupang, Bernard Silitonga, Efrain M. Lisapaly, Rocky Panjaitan, Sihar Simanjuntak, Hot Asih, yang senantiasa membantu

14. Teman-teman angkatan 2008 Fakultas Hukum Undip;

15. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan yang tentu saja tidak disengaja, maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan baik saran maupun kritik dari semua pihak guna kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Semarang, April 2012 Hormat Penulis

(9)

ix ABSTRAK

Tindak pidana korupsi dikenal sebagai suatu kejahatan luar biasa atau extraordinary crime oleh sebab itu diperlukan cara-cara yang luar biasa untuk memberantasnya sekaligus mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mewujudkan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Upaya-upaya luar biasa tersebut diterjemahkan dalam proses peradilan kepada para koruptor mulai dari tingkat penyidikan sampai tahap pelaksanaan pidana yang mana muara akhir dari seluruh tahapan proses tersebut ada pada tahap pelaksanaan pidana di Lembaga Pemasyarakatan dalam hal koruptor tersebut dijatuhi pidana kemerdekaan badan.

Tujuan penulisan hukum ini adalah mengetahui peraturan perundang – undangan yang mengatur tentang pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi pada saat ini serta bagaimana formulasi pemberian remisi di masa yang akan datang.

Penulisan hukum ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif atau sering disebut sebagai penelitian doktrinal (studi kepustakaan) di mana yang menjadi sumber data adalah data sekunder yang terdiri dari kumpulan hukum primer dan sekunder.

Sejatinya remisi hadir sebagai suatu cermin dari sistem pemidanaan dalam hal ini hukum penitensier di Indonesia yang menganut Sistem Pemasyarakatan. Pemberian remisi kepada koruptor didasarkan pada Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan beserta aturan pelaksanaannya yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 juntco Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Masyarakat. Para koruptor yang telah divonis bersalah juga berhak memperoleh remisi, akan tetapi saat ini begitu banyak koruptor yang telah divonis bersalah oleh pengadilan dengan pidana perampasan kemerdekaan badan selama sekian tahun namun dapat dengan sangat cepatnya “menyelesaikan” masa pidana tersebut di Lembaga Pemasyarakatan. Patut diduga hal tersebut disebabkan oleh pemberian remisi yang tidak sesuai dengan persyaratan yang sebenarnya. Kementerian Hukum dan HAM pun merespon hal tersebut dengan mengeluarkan suatu kebijakan moratorium pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor).

Sejalan dengan sistem dan filosofi pemidanaan yang dianut di Indonesia pemberian remisi adalah sarana pembinaan dengan tujuan preventif, rehabilitatif dan reintegrasi social yang haruslah menjadi fokus utama dalam penerapan pemberian remisi kepada koruptor, sehingga dalam pelaksanaannya pemberian remisi kepada koruptor tidak bertentangan dengan undang – undang maupun tujuan serta filosofi pemidanaan itu sendiri.

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENGUJI ... iii

MOTTO... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan ... 1

B. Permasalahan ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Kegunaan Penelitian ... 9

E. Sistematika Penulisan... 10

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Kebijakan Penegakan Hukum Pidana ... 15

A.1. Pengertian Kebijakan Kriminal... 15

A.2. Pengertian Kebijakan Hukum Pidana ... 17

B. Kebijakan Sistem Pemidanaan ... 21

B.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Pemidanaan ... 21

(11)

xi BAB III : METODE PENELITIAN

A. Metode Pendekatan... 50

B. Spesifikasi Penelitian... 50

C. Metode Pengumpulan Data... 51

D. Metode Analisis Data ... 54

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberian Remisi Kepada Pelaku Tindak Pidana Korupsi (Koruptor) Pada Saat Ini... 55

A.1. Tinjauan Yuridis Pemberian Remisi kepada Pelaku Tindak Pidana (Narapidana) ... 55

A.2. Tinjauan Yuridis Pemberian Remisi kepada Pelaku Tindak Pidana Korupsi ... 70

A.3. Tinjauan Yuridis Terhadap Kebijakan Moratorium Remisi kepada Pelaku Tindak Pidana Korupsi ... 82

B. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberian Remisi Kepada Pelaku Tindak Pidana Korupsi (Koruptor) Masa Yang Akan Datang ... 90

1. Kanada ... 94

2. Malaysia ... 98

(12)

xii BAB V : PENUTUP

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu negara yang berdasar atas hukum bukan berdasarkan kepada kekuasaan semata. Hal tersebut dipertegas di dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia yang menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini berarti seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara harus didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku. Dengan demikian segala sesuatunya harus taat ketentuan hukum sebagai upaya yang menyeluruh untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum yang demokratis, menjunjung tinggi hak asasi manusia, menjamin tegaknya supremasi hukum dengan tidak ada pengecualian atas siapapun di mata hukum. Di samping itu amademen Undang – Undang Dasar Tahun 1945 yang selanjutnya disebut sebagai UUD 1945 secara tegas memberikan perlindungan mengenai hak asasi manusia.

Oleh sebab itu semua warga negara berkesempatan memperoleh perlakuan yang sama dihadapan hukum untuk menjadi manusia seutuhnya tanpa terkecuali orang yang berstatus sebagai narapidana.

(14)

2

tegaknya hukum sering diidentikkan dengan tegaknya undang-undang. Namun dalam arti yang lebih luas penegakan hukum itu adalah upaya menjamin tegaknya hukum tidak hanya dalam institusi formal tetapi juga menjamin tegaknya nilai-nilai keadilan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Hukum menetapkan apa yang harus dilakukan dan atau apa yang boleh dilakukan serta yang dilarang. Sasaran hukum yang hendak dituju bukan saja orang yang nyata-nyata berbuat melawan hukum, melainkan juga perbuatan hukum yang mungkin akan terjadi, dan kepada alat perlengkapan negara untuk bertindak menurut hukum. Sistem bekerjanya hukum yang demikian itu merupakan salah satu bentuk penegakan hukum.1

Untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut, perlu memperhatikan pembangunan di bidang hukum, yang salah satunya yaitu hukum pidana. Hukum pidana dari suatu bangsa merupakan indikasi yang sangat penting untuk mengetahui tingkat peradaban bangsa itu, karena didalamnya tersirat bagaimana pandangan bangsa tersebut tentang etik (tata susila), kemasyarakatan dan moral2. Tetapi hendaklah juga pembangunan di bidang hukum itu sendiri mendasarkan pada rasa keadilan.

Penegakan dan perlindungan hukum yang berintikan keadilan dapat diartikan bahwa hukum akan memperlakukan setiap orang secara adil dan beradab yang merupakan cerminan dari sila kedua Pancasila. Perlakuan

1

Hartanti, Evi, Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal.1 2

(15)

3

hukum yang adil dan beradab juga dapat dilihat pada pelaksanaan pidana penjara yang memperlakukan narapidana sesuai dengan tujuan pidana yaitu pemasyarakatan.

Lembaga Pemasyarakatan adalah suatu instansi akhir dalam proses peradilan pidana sebagai wadah bagi pelaku tindak pidana yang sudah mendapat keputusan dari hakim yang memiliki kekuatan hukum yang tetap untuk menjalani pemidanaan, yang mana di samping itu juga diberikan pembinaan dan bimbingan agar menjadi orang baik. Pembinaan narapidana selalu diarahkan pada resosialisasi (dimasyarakatkan kembali) dengan sistem pemasyarakatan berdasar pada Pancasila dan UUD 1945.

Dalam sistem pemasyarakatan sendiri, tujuan pemidanaan adalah pembinaan dan bimbingan, dengan tahap – tahap admisi/orientasi, pembinaan dan asimilasi. Untuk menumbuhkan motivasi dan kesadaran diri narapidana terhadap program pembinaan maka pemerintah melaksanakan program pemberian remisi. Narapidana yang benar – benar melaksanakan kewajibannya dengan baik maka ia berhak mendapat remisi sepanjang persyaratan lain terpenuhi. Ketentuan mengenai pemberian remisi ini disesuaikan dengan hak dan kewajiban setiap narapidana sebagai pemeluk agama yang merupakan sendi utama masyarakat.

(16)

4

luar biasa untuk memberantasnya sekaligus mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mewujudkan upaya pemberantasan dan pencegahan tindak pidana korupsi seperti pembentukan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah melalui Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Kehadiran Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) melaluiUndang – Undang No. 30 Tahun 2002, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi melalui Undang – Undang No. 46 Tahun 2009 dan lain sebagainya.

Upaya-upaya luar biasa tersebut diterjemahkan dalam proses peradilan kepada para koruptor mulai dari tingkat penyidikan sampai tahap pelaksanaan pidana. Tahapan demikian berlaku baik di Kepolisian dan Kejaksaan atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada akhirnya , muara dari seluruh tahapan proses tersebut ada pada tahap pelaksanaan pidana di Lembaga Pemasyarakatan dalam hal koruptor tersebut dijatuhi pidana kemerdekaan badan.

(17)

5

satu hal yang menyebabkannya adalah pemberian remisi kepada koruptor tersebut. Pemberian remisi yang ”bertubi-tubi” kepada para koruptor tentu berperan besar pada berkurangnya masa pelaksanaan hukuman (pidana) di Lembaga Pemasyarakatan.

(18)

6

harus diupayakan agar ia menyesali perbuatannya (efek penjeraan) sehingga ia layak atau dapat kembali diterima dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun pada prakteknya “hujan” remisi yang bertubi-tubi kepada koruptor agaknya melemahkan ciri tindak pidana korupsi itu sebagai kejahatan luar biasa. Melalui tahap formulasi dalam hal ini Undang-Undang Tipikor memberikan ciri khas bahwa korupsi itu adalah kejahatan luar biasa. Dalam tahap aplikasi oleh aparat penegak hukum (yudikatif atau pro yustisia) juga menunjukkan kekhasan korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Namun tahap eksekusi atau pelaksanaan pidana agaknya menciderai kekhasan korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Hal ini dikarenakan dapat dengan mudahnya para koruptor memperoleh remisi.

Memang telah ada ketentuan khusus dalam pemberian remisi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan maupun dalam Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2006. Ada ketentuan khusus yang menyatakan bahwa pemberian remisi kepada koruptor berbeda dengan kejahatan pada umumnya. Berikut dinyatakan dalam Pasal 34 ayat 3, “Bagi Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme, narkotika dan psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap

keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, dan

kejahatan transnasional terorganisasi lainnya, diberikan Remisi apabila

(19)

7

menjalani 1/3 (satu per tiga) masa pidana”. Bahkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin mengambil tindakan dengan mengeluarkan suatu kebijakan penghentian sementara pemberian remisi kepada koruptor, yang mana dalam kebijakan ini menyimpang dari aturan Pasal 34 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006. Akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM tersebut dianggap menyalahi aturan konstitusi yang ada.. Walaupun telah diatur berbeda dalam hal pemberian remisi kepada koruptor dalam kenyataan masih saja dengan mudah dapat dilihat remisi menjadi alat untuk kompromi dengan masa pidana yang seharusnya dijalani.

Remisi sebagaimana diuraikan di atas memang adalah hak narapidana dan hadir sebagai upaya pembinaan narapidana itu sendiri atau dengan kata lain mewujudkan reintegrasi sosial narapidana. Namun dengan kenyataannya sekarang menjadi menarik untuk dikaji terkait pemberian remisi kepada koruptor apakah pantas untuk diberikan atau setidak-tidaknya bagaimana ketentuan yang seharusnya mengaturnya. Tentu saja muaranya agar remisi tidak menciderai ciri korupsi sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) tetapi murni sebagai sarana pembinaan narapidana.

(20)

8

Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juntco Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta Undang – Undang No. 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan,Keputusan Presiden No. 174 Tahun 1999 tentang Remisi serta Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan melalui suatu penelitian yang berjudul “ Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberian Remisi Kepada Pelaku Tindak Pidana Korupsi (Koruptor)”

B. PERMASALAHAN

Dalam penelitian ini permasalahan dan pembahasan akan dibatasi pada kebijakan formulasi terhadap pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor).

Adapun permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana kebijakan hukum pidana dalam pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) pada saat ini ? 2. Bagaimana kebijakan hukum pidana dalam pemberian remisi

(21)

9

C. TUJUAN PENELITIAN

Perumusan tujuan penelitian merupakan pencerminan arah dan penjabaran strategi terhadap masalah yang muncul dalam penelitian. Dengan adanya tujuan penelitian maka suatu penelitian akan lebih terarah dan lebih bermanfaat. Adapun tujuan yang hendak dicapai dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kebijakan hukum pidana dalam pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi maupun perundang – perundang-undangan yang mengatur mengenai remisi pada saat ini.

2. Untuk mengembangkan hukum pidana dalam pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi ataupun perundang – perundang-undangan yang berhubungan dengan remisi pada masa yang akan datang.

D. KEGUNAAN PENELITIAN

(22)

10

1. Kegunaan Teoritis

Mengembangkan wawasan dan pengetahuan ilmu hukum mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi maupun perundang – undangan yang berhubungan dengan remisi pada saat ini dan yang akan datang.

2. Kegunaan Praktis

a. Memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti serta memberikan dasar-dasar atau landasan untuk penelitian lebih lanjut.

b. Memberikan informasi dan sumbangan pemikiran kepada para mahasiswa dan akademisi lainnya mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi maupun perundang – undangan yang berhubungan dengan remisi.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

(23)

11

tentang uraian secara umum, teori-teori yang diperlukan dalam menganalisa permasalahan dan pembahasan hasil penelitian serta kesimpulan dan saran. Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari lima sub bab yang terdiri dari Latar belakang penelitian (Sub Bab A), Perumusan Masalah (Sub Bab B), Tujuan Penelitian (Sub Bab C), Kegunaan Penelitian (Sub Bab D), serta Sistematika Penulisan Skripsi (Sub Bab E).

Dalam Sub Bab A diuraikan sedikit tentang latar belakang hadirnya gagasan mengenai pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana khususnya pelaku tindak pidana korupsi (koruptor). Selain itu penulis juga menguraikan tentang formulasi pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana khususnya pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi maupun perundang – undangan yang berkaitan dengan pemberian remisi.

(24)

12

pada saat ini dan kebijakan hukum pidana dalam pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana khususnya pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dalam perundang-undangan tindak pidana korupsi maupun perundangan yang berhubungan dengan pemberian remisi pada masa yang akan datang.

Dalam Sub Bab C dijelaskan mengenai tujuan dari penelitian dan penulisan - penulisan hukum ini.

Dalam Sub Bab D dijelaskan tentang kegunaan yang diharapkan oleh penulis dari penelitian dan penulisan hukum ini. Kegunaan-kegunaan ini dikelompokkan menjadi kegunaan teoritis dan kegunaan praktis.

Dalam Sub Bab E diuraikan mengenai sistematika penulisan skripsi, di mana dalam bagian ini dapat melihat isi skripsi sehingga akan mendapatkan gambaran secara garis besar mengenai hal apa saja yang di bahas dalam tiap-tiap bab.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(25)

13

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan mengenai metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini secara jelas dan terperinci. Metode-metode tersebut terdiri atas Metode Pendekatan (Sub Bab A), Spesifikasi Penelitian (Sub Bab B), Teknik Pengumpulan Data (Sub Bab C), Metode Analisis Data (Sub Bab D).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(26)

14

BAB V PENUTUP

(27)

15 “politiek” (Belanda). Bertolak dari istilah ini, maka kebijakan kriminal dapat pula disebut sebagai politik kriminal.

Sudarto mengemukakan tiga arti mengenai kebijakan kriminal, yaitu:3

a. Dalam arti sempit, ialah keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana; b. Dalam arti luas, ialah keseluruhan fungsi dan aparatur penegak

hukum, termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan dan polisi; serta

c. Dalam arti paling luas (yang beliau ambil dari Jorgen Jepsen), ialah keseluruhan kebijakan, yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan – badan resmi, yang bertujuan untuk menegakkan norma – norma sentral dari masyarakat.

Dalam rumusan yang lebih singkat, Sudarto menyatakan bahwa kebijakan atau politik kriminal merupakan “suatu usaha yang rasional dari masyarakat dalam menanggulangi kejahatan”.4 Defenisi ini diambil dari defenisi Marc Ancel yang merumuskan sebagai “the rational organization

3

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm. 3.

4

(28)

16

of the control crime by society”.5 Bertolak dari pengertian yang dikemukakan Marc Ancel ini, G. Peter Hoefnagels mengemukakan bahwa “Criminal policy is the rational organization of the social reaction to

crime”.6

Pada dasarnya kebijakan atau politik kriminal adalah bagian dari kebijakan atau politik sosial. Kebijakan sosial ini bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare) dan melindungi masyarakat (social defence). Maka dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kebijakan kriminal adalah bagian integral dari kebijakan sosial yang bertujuan untuk melindungi masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat, bahwa upaya penanggulangan kejahatan perlu ditempuh dengan pendekatan kebijakan, dalam arti7:

a. Ada keterpaduan (integralitas) antara politik kriminal dan politik sosial;

b. Ada keterpaduan (integralitas) antara upaya penanggulangan kejahatan dengan “penal” dan “non penal”.

5

Ibid., hlm. 3 6

Ibid., hlm. 3 7

(29)

17

A.2. Pengertian Kebijakan Hukum Pidana

Kebijakan kriminal dapat terlaksana dengan baik jika ada keterpaduan antara kebijakan hukum pidana (penal policy) dan kebijakan non penal (non penal policy).

1. Kebijakan Penal (Penal Policy)

Pengertian kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. Sudarto menyatakan, “Politik Hukum” adalah :

1) Usaha untuk mewujudkan peraturan – peraturan yang baik, sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat.8

2) Kebijakan dari negara melalui badan – badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan – peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.9

Bertolak dari pengertian demikian, Sudarto selanjutnya menyatakan bahwa melaksanakan “politik hukum pidana” berarti mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna10. Dalam kesempatan lain beliau menyatakan bahwa melaksanakan “politik hukum pidana” berarti berusaha mewujudkan peraturan perundang-undangan

8

Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana (Bandung, Alumni, 1981), hlm. 159. 9

Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat (Bandung, Sinar Baru, 1983), hlm. 20. 10

(30)

18

pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa – masa yang akan datang. Dengan demikian, dilihat sebagai bagian dari politik hukum, maka politik hukum pidana mengandung arti, bagaimana mengusahakan atau membuat dan merumuskan suatu perundang-undangan pidana yang baik.

Pengertian kebijakan atau politik hukum pidana di atas terlihat pula dalam defenisi “penal policy” yang dikemukakan oleh Marc Ancel sebagai suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang, tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan.

Upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat “represif” (penindasan, pemberantasan, penumpasan) setelah kejahatan itu terjadi. Menurut A. Mulder11, “Strafrechtspolitiek” ialah garis kebijakan untuk menentukan :

1) Seberapa jauh ketentuan – ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah dan diperbaharui;

11

(31)

19

2) Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana;

3) Cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan.

Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa kebijakan hukum pidana meliputi sekaligus merupakan perwujudan dari tiga proses kebijakan yaitu tahap formulasi, tahap aplikasi dan tahap eksekusi.

a. Tahap Formulasi

Pada dasarnya tahap formulasi merupakan tahap yang paling strategis dan menentukan, dilihat dari keseluruhan proses kebijakan untuk mengoperasionalisasikan sanksi pidana. Kesalahan pada tahap formulasi atau legislasi akan berpengaruh besar ke tahap aplikasi dan eksekusi.

(32)

20

dalam hal pemidanaan apabila terjadi suatu pelanggaran hukum.12

Kebijakan formulasi merupakan tahapan paling strategis dari keseluruhan proses fungsionalisasi dan konkretisasi hukum pidana. Sehingga dengan demikian kebijakan formulasi merupakan langkah awal di dalam penanggulangan kejahatan, yang secara fungsional dapat dilihat sebagai bagian dari perencanaan dan mekanisme penanggulangan kejahatan. Yang dituangkan ke dalam perundang-undangan meliputi13 :

1) Perencanaan / kebijakan tentang perbuatan apa yang dilarang.

2) Perencanaan / kebijakan mengenai pertanggungjawaban pidana bagi pelakunya

3) Perencanaan / kebijakan mengenai formulasi sanksi dan pemidanaan atas perbuatan tersebut.

b. Tahap aplikasi

Tahap aplikasi adalah tahap penerapan ketentuan-ketentuan pidana yang telah dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan.

12

Muladi dan Barda Nawawi Arief, “Teori-Teori dan Kebijakan Pidana”, (Bandung: Alumni, 2005), hal. 92

13

(33)

21

c. Tahap eksekusi

Tahap eksekusi adalah tahap penerapan pelaksanaan pidana yang telah ditetapkan dalam tahap aplikasi.

2. Kebijakan non penal

Kebijakan non penal adalah kebijakan yang lebih bersifat tindakan pencegahan terjadinya kejahatan. Dengan demikian sasarannya adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan (faktor kriminogen).

Faktor-faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan kejahatan. Dilihat dari sudut politik kriminal secara makro dan global, maka upaya-upaya non penal menduduki posisi kunci dan strategis dari keseluruhan upaya politik kriminal.

B. Kebijakan Sistem Pemidanaan

B.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Pemidanaan

(34)

22

Pengertian sistem pemidanaan dapat dilihat dari dua sudut, yaitu: 1. Dalam arti luas

Sistem pemidanaan dilihat dari sudut fungsional, yaitu dari sudut bekerjanya atau prosesnya. Dalam arti luas ini, sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai14 :

a. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk fungsionalisasi atau operasionalisasi atau kongkretisasi pidana;

b. Keseluruhan sistem (perundang-undangan) yang mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasionalisasikan secara kongkret sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum) pidana.

Dengan demikian maka sistem pemidanaan identik dengan sistem penegakan hukum pidana yang terdiri dari sub-sistem Hukum Pidana Materil/ substantif, sub-sistem Hukum Pidana Formal dan sistem Hukum Pelaksanaan Pidana. Ketiga sub-sistem ini merupakan satu kesatuan sub-sistem pemidanaan, karena tidak mungkin hukum pidana dioperasionalisasikan atau ditegakkan secara kongkret hanya dengan salah satu sub-sistem.15

14

Barda Nawawi Arief, Perkembangan Sistem Pemidanaan di Indonesia, (Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2009), hlm. 2.

15

(35)

23

2. Dalam arti sempit

Sistem pemidanaan dilihat dari sudut normatif atau substantif, yaitu hanya dilihat dari norma-norma hukum pidana susbtantif. Dalam arti sempit ini, maka sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai16 :

a. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk pemidanaan;

b. Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk pemberian atau penjatuhan dan pelaksanaan pidana.

Keseluruhan peraturan perundang-undangan yang ada dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maupun di dalam undang-undang khusus di luar KUHP, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan sistem pemidanaan, yang terdiri dari aturan umum (general rules) dan aturan khusus (special rules).17

B.2. Teori dan Filosofi Pemidanaan

B.2.1. Teori Pemidanaan

Berbicara masalah pidana tentu tidak lepas dari pembicaraan mengenai pemidanaan. Sudarto mengatakan bahwa :

16

Ibid., hlm.3 17

(36)

24

“Perkataan pemidanaan sinonim dengan istilah ‘penghukuman’. Penghukuman sendiri berasal dari kata ‘hukum’, sehingga dapat diartikan sebagai menetapkan hukum atau memutuskan tentang hukumannya (berechten). Menetapkan hukum ini sangat luas artinya, tidak hanya dalam lapangan hukum pidana saja tetapi juga bidang hukum lainnya. Oleh karena istilah tersebut harus, yakni penghukuman dalam perkara pidananya disempitkan arti yang kerap kali sinonim dengan pemidanaan atau pemberian atau penjatuhan pidana oleh hakim.”18

Pendapat Sudarto tersebut, dapat diartikan bahwa pemidanaan dapat diartikan sebagai penetapan pidana dan tahap pemberian pidana. Tahap pemberian pidana dalam hal ini ada dua arti, yaitu dalam arti luas yang menyangkut pembentuk undang – undang yang menetapkan stelsel sanksi hukum pidana. Arti konkret, yang menyangkut berbagai badan yang mendukung dan melaksanakan stelsel sanksi hukum pidana tersebut.

Jerome Hall dalam M.Sholehuddin memberikan perincian mengenai pemidanaan, sebagai berikut :

1. Pemidanaan adalah kehilangan hal – hal yang diperlukan dalam hidup;

2. Ia memaksa dengan kekerasan;

3. Ia diberikan atas nama Negara “diotorisasikan”;

18

(37)

25

4. Pemidanaan mensyaratkan adanya peraturan – peraturan, pelanggarannya dan penentuannya yang diekspresikan di dalam putusan;

5. Ia diberikan kepada pelanggar yang telah melakukan kejahatan dan ini mensyaratkan adanya sekumpulan nilai – nilai yang dengan beracuan kepadanya, kejahatan dan pemidanaan itu signifikan dalam etika;

6. Tingkat atau jenis pemidanaan berhubungan dengan perbuatan kejahatan dan diperberat atau diringankan dengan melihat personalitas (kepribadian) si pelanggar, motif dan dorongannya.19

Dalam praktek yang berkembang pada saat ini jika dibandingkan dengan teori – teori pemidanaan serta tujuan yang ingin dicapai, maka akan dijumpai hal – hal yang tidak jelas dan mengalami kerancuan dalam implementasinya. Akibatnya adalah kepada hasil yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi landasannya. Adapun teori – teori pemidanaan tersebut adalah :

1. Retribution

Dipandang bahwa pemidanaan adalah akibat mutlak/ nyata yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada

19

(38)

26

pelaku tindak pidana. Ajaran klasik mengenai teori ini menggambarkan sebagai ajaran pembalasan melalui lex talionis.

Menurut Immanuel Kant yang dikutip Muladi 20: “…Pidana tidak pernah dilaksanakan semata – mata sebagai sarana untuk mempromosikan tujuan/kebaikan lain, baik bagi si pelaku itu sendiri maupun bagi masyarakat, tetapi dalam hal semua harus dikenakan hanya karena orang yang bersangkutan telah melakukan kejahatan. Bahkan walaupun seluruh anggota masyarakat sepakat untuk menghancurkan dirinya sendiri (membubarkan masyarakatnya) pembunuh terakhir yang masih berada dalam penjara harus dipidana mati sebelum resolusi/keputusan pembubaran masyarakat itu dilaksanakan. Hal ini harus dilakukan karena setiap orang seharusnya menerima ganjaran dan perbuatannya, dan perasaan balas dendam tidak boleh tetap ada pada anggota masyarakat, karena apabila tidak demikian mereka semua dapat dipandang sebagai orang pelanggaran yang ikut ambil bagian dalam pembunuhan itu merupakan pelanggaran terhadap keadilan umum.”

2. Deterrence

Deterrence merupakan suatu bentuk teori pemidanaan yang didominasi oleh pandangan konsekwensialis. Teori ini berpandangan bahwa ada tujuan lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar pembalasan.

20

(39)

27

Teori ini sering dikaitkan dengan pandangan utilitarian. Utilitarianis Bentham mengemukakan bahwa tujuan – tujuan dari pidana ialah :21

- Mencegah semua pelanggaran (to prevent all offences) - Mencegah pelanggaran yang paling jahat (to prevent

the worst offences)

- Menekan kejahatan (to keep down mischief)

- Menekan kerugian/ biaya sekecil – kecilnya (to act the least expense)

Muladi dan Barda Nawawi mengutip pandangan Bentham menyatakan bahwa pidana yang berat diterima karena pengaruh yang bersifat memperbaiki (reforming effect).22 Akan tetapi ia mengakui bahwa pidana yang berat harus diterima oleh rakyat sebelum diberlakukan atau diefektifkan.23 Alas an memasukkan pandangan Bentham ini adalah pada alas an yang dikemukakannya bahwa hukum pidana jangan digunakkan sebagai saran

21

Jeremy Bentham sebagaimana dikutip Muladi dan Barda Nawawi, Ibid, hlm. 31 22

Ibid, hlm. 31 23

(40)

28

pembalasan terhadap penjahat, tetapi hanya untuk tujuan mencegah terjadinya kejahatan.24

3. Rehabilitation

Teori ini merupakan bagian dari teori deterrence, akan tetapi rehabilitasi lebih memfokuskan diri untuk mereformasi atau memperbaiki pelaku. Pandangan rehabilitasi yang dilatarbelakangi pandangan positivis dalam kriminologi, maka penyebab kejahatan dikarenakan penyakit kejiwaan atau penyimpangan social baik dalam pandangan psikiatri atau psikologi. Dipihak lain kejahatan dalam teori ini dipandang sebagai penyakit social yang disintegrative dalam masyarakat.

4. Incapacitation

Teori incapacitation pada dasarnya merupakan suatu teori pemidanaan yang membatasi orang dari masyarakat selama waktu tertentu dengan tujuan perlindungan masyarakat pada umumnya. Ada terdapat kelemahan yang signifikan dalam teori ini, bahwa teori ini ditujukan kepada jenis pidana yang sifatnya berbahaya pada masyarakat

24

(41)

29

sedemikian besar seperti genosida, terorisme atau yang sifatnya meresahkan masyarakat.

5. Resocialization

Teori resosialisasi pada dasarnya kebalikan dari teori incapacitation. Teori resosialisasi melihat bahwa pemidanaan dengan cara desosialisasi, yaitu memisahkan pelaku dari kehidupan sosialmasyarakat dan membatasnya untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat, pada dasarnya dapat menghancurkan pelaku.

6. Restitusi, Kompensasi dan Reparasi

Teori restitusi, kompensasi dan repasrasi meletakkan posisi korban sebagai bagian penting dari suatu tujuan pemidanaan. Namun demikian apabila tidak ada individu yang dapat diidentifikasi sebagai korban, maka bentuk perbaikan ini dapat diarahkan kepada masyarakat. Terdapat tiga terminology yang sering digunakan dalam pengertian yang hamper sama yaitu, reparasi, restitusi, dan kompensasi.

7. Integratif

(42)

30

pembalasan, pencegahan dan penjeraan, Perlindungan masyarakat, dan Ganti kerugian. Yang mana elemen tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus berjalan secara beriringan.

B.2.2. Filosofi Pemidanaan

M. Sholehuddin menyebutkan tiga perspektif filsafat tentang pemidanaan, yaitu :

1. Perspektif Eksistensialisme

Dalam perspektif ini hukum dan pidana merupakan sarana untuk memelihara dan meningkatkan kebebasan individu dalam masyarakat. Hak untuk menjaga dan memelihara kebebasan itu diserahkan kepada negara untuk memidana. Oleh karena itu, Camus berpandangan bahwa pemidanaan bersifat rehabilitasi yaitu ddengan pendidikan kembali (re-edukasi). Pemidanaan berusaha melindungi dan menjaga guna mengurangi kebebasan pelaku kriminal.

2. Perspektif Sosialisme

(43)

31

menetapkan kepentingan negara dan ideologi sebagai dasar kewenangan untuk memidana. Pandangan ini menekankan aspek negara dibanding individu warganya.

3. Perspektif Pancasila.25

Negara Indonesia menganut paham ini. Falsafah Indonesia adalah Pancasila yang menuntut keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan individu, masyarakat, bangsa dan negara. Tanggung jawab pemidanaan tidak dapat dibedakan secara serta merta kepada pelaku kejahatan karena pada dasarnya kejahatan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari realitas kehidupan suatu amsyarakat. Menurut paham ini hukum pidana (termasuk pemidanaan) di Indonesia harus berorientasi kepada kepentingan individu (pelaku kejahatan) dan kepentingan masyarakat, termasuk korban kejahatan.

Kehidupan masyarakat Pancasila, kepentingan individu dan masyarakat menduduki posisi yang seimbang, keduanya saling melengkapi dan membatasi. Keselarasan antara kedua kepentingan tersebut menjamin terwujudnya keadilan, ketentraman dan keselarasan dalam masyarakat.

25

(44)

32

Asas keseimbangan ini mengandung arti bahwa pemidanaan harus mengakomodasi kepentingan masyarakat, pelaku dan korban. Pemidanaan tidak boleh hanya memfokuskan pada salah satu kepentingan.

Sue Titus Reid dalam M. Sholehuddin mengajukan empat filsafat pemidanaan yang digunakan untuk membenarkan atau menjustifikasi pemidanaan, yaitu rehabilitasi, inkapasitasi, pencegahan dan retribusi.. M. Sholehuddin menyatakan tampak dalam pernyataan Reid di atas menyatakan bahwa konsep rehabilitation, incapacitation, deterrence, dan retribution adalah empat filsafat pemidanaan. Padahal keempat konsep tersebut termasuk dalam kategori tujuan pemidanaan.26

Sehingga pada dasarnya latar belakang penjatuhan pidana ditujukan untuk mencegah terjadinya kejahatan, namun demikian pun muncul persoalan, bahwa pemidanaan terkadang bukan mengurangi kejahatan tetapi justru menambah dan membuat kejahatan semakin marak terjadi. Hal ini terlihat dari narapidana yang telah keluar dari lembaga pemasyarakatan

26

(45)

33

yang sangat sulit berintegrasi dengan baik dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa hakekatnya Indonesia yang menganut filosofi pancasila dalam hal pemidanaan, yang mana mempertimbangkan keseimbangan antara si pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) dengan masyarakat. Untuk itu masyarakat juga dituntut dapat mengetahui perihal apa yang dapat dikatagorikan sebagai tindak pidana korupsi dan pidana yang diancamkan terhadap pelaku tindak pidana korupsi (koruptor). Adapun pengertian tindak pidana korupsi dan ancaman pidana tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut :

1. Tindak Pidana Korupsi

a) Pengertian Tindak Pidana Korupsi

(46)

34

memberikan pandangan yang berbeda-beda akan pengertian dari tindak pidana itu.

Moeljatno menyatakan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan yang mana disertai sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang hukum dan diancam pidana, asal saja dalam hal itu diingat bahwa larangan ditujukan pada perbuatan yaitu kejadian atau keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan orang, sedang ancaman pidananya ditujukan pada orang yang menimbulkan kejahatan.

(47)

35

bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.

Arti korupsi secara harfiah lainnya yang dapat dikutip, yaitu:

a. Kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran 27

b. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebagainya.28

b) Menurut Transparency International

“corruption involves behavior on the part of official

in the public sector wether politicians or civil servant in

which the improperly and unlawfully enrich themselves, or

those close to them by the misuse of the public power

entrusted them”

Korupsi mencakup perilaku dari pejabat-pejabat di sektor publik, apakah politikus, pegawai negeri, di mana mereka secara tidak benar dan secara melanggar hukum memperkaya diri sendiri atau pihak lain yang dekat dengan

27

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, (Hasta, Bandung) 28

(48)

36

mereka dengan cara menyalahgunakan kewenangan publik yang dipercayakan pada mereka.

c) Menurut United Nation Convention Againts

Corruption (UNCAC) yang telah diratifikasi dengan

UU No. 7 Tahun 2006

1) Penyuapan, janji, tawaran, atau pemberian kepada pejabat publik/swasta/internasional, permintaan atau penerimaan oleh pejabat publik/swasta/internasional, secara langsung atau tidak langsung, manfaat yang tidak semestinya untuk pejabat itu sendiri atau orang atau badan lain yang ditujukan agar pejabat itu bertindak atau berhenti bertindak dalam pelaksanaan tugas-tugas resmi mereka untuk memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut;

2) Penggelapan, penyalahgunaan atau penyimpangan lain oleh pejabat publik/swasta/internasional;

3) Memperkaya diri sendiri dengan tidak sah.

(49)

37

a. Rumusan korupsi dari sisi pandang teori pasar Jacob van Klaveren mengatakan bahwa seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup menganggap kantor/instansinya sebagai perusahaan dagang, di mana pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin.

b. Rumusan yang menekankan titik berat jabatan pemerintahan

1. L. Bayley

Perkataan ‘korupsi’ dikaitkan dengan perbuatan penyuapan yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan sebagai akibat adanya pertimbangan dari mereka yang memegang jabatan bagi keuntungan pribadi.

2. M. Mc Mullan

(50)

38

tugasnya seharusnya tidak boleh berbuat demikian atau dapat berarti menjalankan kebijaksanaannya secara sah untuk alasan yang tidak benar dan dapat merugikan kepentingan umum.29

3. J.S Nye

Korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peran instansi pemerintah, karena kepentingan pribadi (keluarga, golongan, kawan, teman), demi mengejar status dan gengsi, atau melanggar peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi. Hal ini mencakup tindakan, seperti penyuapan (memberi hadiah dengan maksud hal-hal menyelewengkan seseorang dalam kedudukan pada jawatan dinasnya); nepotisme (kedudukan sanak saudaranya sendiri didahulukan, khususnya dalam pemberian jabatan atau memberikan perlindungan dengan alasan

29

(51)

39

hubungan asal usul dan bukannya berdasarkan pertimbangan prestasi; penyalahgunaan atau secara tidak sah menggunakan sumber

penghasilan negara untuk

kepentingan/keperluan pribadi).30

c. Rumusan korupsi dengan titik berat pada kepentingan umum

Carl J. Friesrich, mengatakan bahwa pola korupsi dapat dikatakan ada apabila seorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu seperti seorang pejabat yang bertanggung jawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak diperbolehkan oleh undang-undang, membujuk untuk mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan kepentingan umum.

d. Rumusan korupsi dari sisi pandang politik

Mubyarto mengutip pendapat, Theodore M. Smith dalam tulisannya “ Corruption Tradition and

30

(52)

40

Change” Indonesia (Cornell University No. 11 April 1971) mengatakan sebagai berikut :

“Secara keseluruhan korupsi di Indonesia muncul lebih sering sebagai masalah politik daripada masalah ekonomi. Ia menyentuh keabsahan (legitimasi) pemerintah di mata generasi muda, kaum elite terdidik dan pegawai pada umumnya. Korupsi mengurangi dukungan pada pemerintah dari kelompok elite di tingkat propinsi dan kabupaten”.

Rumusan-rumusan pengertian korupsi pada dasarnya dapat memberi warna pada korupsi dalam hukum positif. Oleh sebab itu, maka rumusan pengertian korupsi tidak ada yang sama pada setiap negara, tergantung pada tekanan atau titik beratnya yang diambil oleh pembentuk undang-undang.

(53)

41

politik serta penempatan keluarga, golongan ke dalam dinas di bawah kekuasaan jabatannya.

e. Rumusan korupsi dari sisi pandang sosiologi

Pengkajian makna korupsi secara sosiologis, jika memperhatikan uraian Syed Hussein Alatas, dalam bukunya “The Sosiology of Corruption” yang antara lain menyebutkan bahwa “terjadi korupsi adalah apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi”. Kadang-kadang juga berupa perbuatan menawarkan pemberian uang hadiah lain yang dapat menggoda pejabat. Termasuk dalam pengertian ini juga pemerasan yakni permintaan pemberian atau hadiah seperti itu dalam pelaksanaan tugas-tugas politik.31

Sudarto menjelaskan unsur-unsur tindak pidana korupsi yaitu :

a. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain atau suatu badan.

31

(54)

42

“Perbuatan memperkaya” artinya berbuat apa saja, misalnya mengambil, memindahbukukan, menandatangani kontrak dan sebagainya, sehingga si pembuat bertambah kaya.

b. Perbuatan itu bersifat melawan hukum “Melawan hukum” di sini diartikan secara formil dan materil. Unsur ini perlu dibuktikan karena tercantum secara tegas dalam rumusan delik. c. Perbuatan itu secara langsung atau

tidak langsung merugikan keuangan negara dan/atau perekonomian negara, atau perbuatan itu diketahui atau patut disangka oleh si pembuat bahwa merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.32

Berdasarkan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 31 Tahun1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan “setiap orang yang secara melawan

32

(55)

43

hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau

orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan

keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana

dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara

paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua

puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp

1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)” dapat dirumuskan unsur-unsur tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut:

a. Melawan hukum

b. Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan

c. Yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan perekonomian negara, atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

(56)

44

mati dapat dijatuhkan”. Pada ayat kedua ini ditambahkan keadaan tertentu yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi.

Dalam Pasal 3 disebutkan “setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain

atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan,

kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan

atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara

atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana

penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat

1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan

atau denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh

juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu

milyar rupiah)”. Berdasarkan rumusan pasal ini dapat dirumuskan unsur-unsur tindak pidana korupsi adalah :

a. Tujuannya menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;

(57)

45

c. Yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

2. Jenis Sanksi Pidana berdasarkan Undang-Undang No. 31

Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jenis penjatuhan sanksi pidana yang dapat dilakukan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah :

A. Pidana Pokok 1. Pidana mati

(58)

46

tersebut dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada saat negara dalam keadaan krisis ekonomi (moneter).

2. Pidana penjara

Pidana penjara adalah bentuk pidana berupa kehilangan kemerdekaan. Pidana penjara disebut pidana hilang kemerdekaan, bukan saja karena ia tidak dapat bebas bepergian tetapi para narapidana kehilangan hak-hak tertentu seperti hak-hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, hak memangku jabatan publik, hak untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan, hak untuk mendapat izin tertentu.

(59)

47

3. Pidana denda

Pidana denda adalah bentuk pidana berupa pembayaran sejumlah uang tertentu. Besarnya denda yang harus dibayarkan bervariasi berdasarkan delik-delik yang ada.

B. Pidana tambahan

Pidana tambahan terdiri atas :33

1. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atas barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut.

2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

3. Penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu tahun).

33

(60)

48

4. Pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana.

5. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 (satu bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

(61)

49

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian adalah usaha untuk mengamati gejala-gejala alam dan masyarakat berdasarkan disiplin metodologi ilmiah dengan tujuan menemukan prinsip-prinsip baru dibelakang gejala-gejala yang ada. Seseorang yang hendak mencari ilmu terhadap suatu fenomena tentunya membutuhkan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah meliputi suatu rangkaian proses membuat dari suatu urutan tahap-tahap beruntun yang garis besarnya terdiri dari tahap-tahap persiapan, pengumpulan data, penguraiannya, dan pelaporan hasil.

Menurut pendapat Soerjono Soekanto, penelitian hukum dimaksudkan sebagai kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode sistematis dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau lebih gejala-gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya. Kecuali itu, maka diadakan juga pemeriksaan yang mendalam terhadap faktor – faktor hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul antara hal – hal yang bersangkutan.34

Metode ilmiah adalah cara-cara berpikir dan berbuat yang dipersiapkan dengan baik untuk mengadakan penelitian dan untuk mencapai suatu penelitian.35 Untuk memahami lebih jauh mengenai metodologi, ada

34

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1984), hlm. 43.

35

(62)

50

baiknya memahami terlebih dahulu arti dari kata metodologi. Istilah metodologi terbentuk dari kata metode yang berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti jalan atau cara dan logos yang berarti ilmu, sehingga secara harafiah metodologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai cara kerja ilmiah, atau sering disebut dengan metode ilmiah.

Demikian halnya dengan penyusunan penulisan hukum ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut :

A. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan adalah metode yuridis normatif, yaitu dengan mengkaji atau menganalisis data sekunder. Bahan-bahan yang digunakan berupa perundang-undangan, rancangan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dan karya ilmiah. Pendekatan yuridis komparatif diperlukan dalam melihat norma-norma yang menyangkut pemberian remisi dalam perundang-undangan yang terdapat di beberapa negara. Hal ini berkaitan pula dengan usaha-usaha dalam menentukan kebijakan hukum pidana terhadap pemberian remisi terhadap pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) di masa mendatang.

B. Spesifikasi Penelitian

(63)

51

menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampil atau sebagaimana adanya. Deskriptif analitis adalah suatu penelitian yang berusaha menemukan gejala-gejala yang diperlukan dalam dokumen atau suatu buku dan menggunakan informasi-informasi yang berguna di bidang masing-masing. Dalam penelitian ini akan digambarkan mengenai keadaan objek yang akan diteliti yaitu pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor), khususnya mengenai kebijakan hukum pidana terhadap formulasi rumusan pemberian remisi kepada pelaku tindak pidana korupsi (koruptor) pada saat ini dan yang akan datang.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data sekunder. Data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan, yaitu mempelajari literatur karangan para ahli hukum dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan objek dan permasalahan yang diteliti. Data sekunder terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu :

(64)

52

a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

b. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

c. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

d. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

e. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Ratifikasi United Nations Convention against Corruption (UNCAC), 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa – Bangsa Anti Korupsi)

f. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 juntco Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Masyarakat

g. Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999 Tentang Remisi

h. Keputusan Menteri Hukum dan Perundang – undangan RI No. M.09.HN.02-01 Tahun 1999 tanggal 23 Desember 1999 Pelaksanaan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 174 Tahun 1999 Tentang Remisi.

(65)

53

Tentang Cara Pengajuan Remisi Bagi Narapidana yang Menjalani Pidana Penjara Seumur Hidup menjadi Pidana Penjara Sementara

j. Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI No. M.04.HN.02.01 Tahun 2000 Tanggal 5 Oktober 2000 Tambahan Remisi Narapidana dan Anak Pidana

k. Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI No. 01.HN.02.01 Tahun 2001 Tentang Remisi Khusus Bersyarat serta Remisi Tambahan

l. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI kepada Direktur Jenderal Pemasyarakatan dengan No. PAS – HM.01.02-42 Tanggal 31 Oktober 2011 Tentang Moratorium Pemberian Remisi dan Pembebasan Bersyarat Terhadap Narapidana Tindak Pidana Korupsi dan Terorisme

2. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjadi karya para sarjana baik yang telah dipublikasikan maupun belum yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer antara lain berupa :

a. Hasil karya para sarjana, tulisan atau pendapat para pakar hukum

b. Hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan permasalahan pada penelitian ini

(66)

54

D. Metode Analisis Data

(67)

55

BAB IV

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberian Remisi Kepada Pelaku

Tindak Pidana Korupsi (Koruptor) Saat Ini

A.1. Tinjauan Yuridis Pemberian Remisi kepada Pelaku Tindak Pidana

(Narapidana)

Salah satu bentuk pidana yang lazim dijatuhkan terhadap pelaku tindak pidana adalah pidana penjara. Pidana penjara dalam masyarakat dikenal sebagai reaksi masyarakat terhadap adanya tindak pidana yang dilakukan oleh seorang pelanggar hukum, pidana penjara disebut juga sebagai “pidana hilang kemerdekaan” di mana seorang dibuat tak berdaya dan diasingkan secara sosial dari lingkungannya.36

Sistem pemenjaraan yang menekankan pada unsur balas dendam dan penjeraan secara berangsur – angsur mulai ditinggalkan sebab dipandang tidak sesuai dengan konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial agar narapidana menyadari kesalahannya dan tidak lagi berkehendak melakukan tindak pidana serta menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan37.

36

Sudaryono dan Natangsa Surbakti, Buku Pengangan Kuliah Hukum Pidana, Surakarta. Fakultas Hukum Muhammadiyah Surakarta, 2005, hlm. 5

37

(68)

56

Dalam rangka mencapai tujuan pembinaan narapidana, sistem pemasyarakatan ini member pedoman yang disebut “sepuluh prinsip pemasyarakatan”, yaitu38:

- Orang tersesat harus diayomi dengan memberikan kepadanya kekal hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna dalam masyarakat. - Penjatuhan pidana bukan tindakan pembalasan dendam dari negara. - Rasa tobat tidaklah dapat dicapai dengan menyiksa, melainkan dengan

bimbingan.

- Negara tidak berhak membuat seseorang narapidana lebih buruk atau lebih jahat daripada sebelum ia masuk lembaga.

- Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, narapidana harus dikenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat.

- Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana tidak boleh bersifat mengisi waktu atau hanya diperuntukkan bagi kepentingan lembaga atau negara saja. Pekerjaan yang diberikan harus ditujukan untuk pembangunan negara.

- Bimbingan dan didikan harus berdasarkan asas pancasila

- Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia meskipun ia telah tersesat. Tidak boleh ditujukan kepada narapidana bahwa ia itu penjahat.

- Narapidana itu hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan.

- Sarana fisik lembaga dewasa ini merupakan salah satu hambatan pelaksanaan sistem pemasyarakatan.

38

(69)

57

Gagasan pemasyarakatan dicetuskan pertama kali oleh Dr. Sahardjo,S.H. pada tanggal 5 Juli 1963 dalam pidato penganugrahan gelar Doktor Honoris Causa di bidang ilmu hukum oleh Universitas Indonesia. Pidato tersebut berisi penjabaran tujuan pidana disamping menimbulkan rasa derita pada narapidana agar bertobat, tetapi juga untuk mendidik supaya narapidana dapat menjadi anggota masyarakat Indonesia yang berguna. Jadi tujuan pidana penjara adalah pemasyarakatan atau lazim disebut dengan treatment philosophy atau behandelings filosofie 39. Atas dasar gagasan Sahardjo ini, remisi hadir sebagai suatu cerminan dari Sistem Pelaksanaan Pidana di Indonesia yang menganut Sistem Pemasyarakatan.

Remisi sejatinya hadir sebagai motivasi sekaligus hadiah (reward) agar narapidana termasuk narapidana tindak pidana korupsi (koruptor) berupaya untuk berbuat baik dalam arti menyesali perbuatannya. Upaya pembinaan yang dimaksud adalah konsep dari sistem peradilan pidana yang dianut di negara Indonesia. Sistem peradilan pidana di Indonesia mengandung konsep pemidanaan dan pembinaan. Konsep pemidanaan dilaksanakan mulai dari tahapan proses penyidikan sampai putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Sedangkan

39

(70)

58

konsep pembinaan adalah kelanjutan dan pelaksanaan dari konsep pemidanaan itu sendiri dalam arti, seorang pelaku tindak pidana dalam menjalani masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan harus diupayakan agar ia menyesali perbuatannya (efek penjeraan) sehingga ia layak atau dapat kembali diterima dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemberian remisi selain untuk memberi motivasi kepada para narapidana agar selalu berkelakuan baik, ada beberapa tujuan yang hendak dicapai, antara lain40:

Pertama; secara psikologis pemberian potongan hukuman ini, banyak pengaruhnya dalam menekan tingkat frustasi. Dapat dikatakan pemberian remisi ini sebagai salah satu “katup pengaman” untuk menurunkan tingkat tekanan psikologis masa, sehingga hal ini diharapkan dapat mereduksi atau meminimalisasi ganguan keamanan dan ketertiban dalam Lembaga Pemasyarakatan/ Rumah Tahanan berupa pelarian, perkelahian dan kerusuhan lainnya.

Kedua; dengan dua kali pemberian remisi yang diberikan dalam waktu berbeda setiap tahunnya, (remisi umum dan remisi khusus) dapat dijadikan sebagai alat untuk mengingatkan narapidana agar selalu berkelakuan baik. Sebab jika tidak maka kesempatan mendapatkan potongan hukuman akan hilang (penilaian kelakuan

40

Referensi

Dokumen terkait

Jika f kontinu (kecuali pada suatu kurva) dan terbatas pada persegi panjang R, maka f terintegralkan pada

manage ment environ ment covering the internal organizational c limate, the scope of administrative performance, and the satisfaction of the academic services felt

[r]

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap persiapan antara lain: (1) mengurus surat ijin penelitian; (2) melaksanakan observasi awal untuk menentukan sekolah

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) Mendeskripsikan produk pengembangan bahan ajar berupa lembar kerja siswa matematika kelas VII semester 2 berbasis masalah

Namun, tulisan ini tidak melibatkan penyair, sosial, dan budayanya secara khusus, kajian ini hanya terfokus pada aspek tema, seperti tema cita-cita merdeka, keagamaan,

Setelah melakukan beberapa analisis dapat dilakukan perubahan pada alur model proses, seperti aktivitas pengajuan pengadaan dapat dilakukan sebagai permulaan

Dalam hal matakuliah yang sudah pernah diajarkan sebelumnya maka Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan untuk satu matakuliah semuanya dimasukkan saja dalam kolom 3 dan