Mengamati Pendekatan Teori Hubungan Internasional Indonesia (Leonard C. Sebastian dan Irman G. Lanti)
Fathurrahman1
NIM. 1402045164
Abstract
This paper describes the sources of International Relations Theory in Indonesia into four main points: (1) the diversity of customs and cultures that gave birth to the political culture; (2) the strong influence of Islam in Indonesia; (3) the political behavior of Indonesia’s leaders as a source of theory; (4) the improvement towards the curriculum of the study of international relations in Indonesia. As also describes the potentials of what is owned by Indonesia in the birth of the theory of international relations that can be detached from the west concepts.
Keywords: International Relations Theory, Indonesian Approaches.
Pendahuluan
Perkembangan Studi Hubungan Internasional (SHI) mengalami perubahan secara teoritis yang memberikan alternatif lain di bidang metode, teori, maupun perspektif yang lebih inovatif. Hal ini tidak hanya berdampak pada penguatan bentuk SHI itu sendiri, melainkan juga memberikan dampak secara praktikal tentang bagaimana cara masyarakat untuk bertindak dan berpikir. SHI merupakan bidang studi yang masih terbilang baru dan merupakan hasil penyatuan dari ilmu-ilmu sosial lainnya yang terbentuk sekitar tahun 1920-an d1920-an 1930-1920-an. Namun, bagaim1920-ana kita menguraik1920-an sejarah SHI tersebut (termasuk kawasan Asia yang menjadi pembahasan didalamnya) akan memberikan pengaruh terhadap prospek SHI itu sendiri dan pemahaman kita tentang evolusi kehidupan manusia menjadi penentu sebagai arah kita saat ini. Dengan memahami penemuan baru dalam tradisi masyarakat sekarang, dapat memberikan kejelasan dan pengaruh terhadap prospek yang dapat memberikan peningkatan terhadap kemajuan SHI dalam lingkup kontributornya, sehingga adanya penjabaran atau pelebaran dalam SHI akan menjadi lebih diperlukan. Dalam hal ini, Indonesia dapat memberikan studi eksplorasi yang berguna dalam mengamati pendekatan teori hubungan internasional Non-Barat yang bisa menjadi lebih inovatif dan emansipatoris.
Indonesia merupakan sebuah negara-bangsa yang bersifat kepulauan (terdiri dari pulau-pulau yang merupakan bagian dari Hindia Belanda). Budaya politik Indonesia didominasi oleh budaya politik Jawa, dan bangsa dimaknai sebagai sebuah multi-etnis, dengan masing-masing kelompok etnis memiliki kekhasan sendiri dan geografisnya dalam domain masyarakat nasional. Hal ini berbeda dengan situasi di Malaysia, misalnya, sebagian besar kelompok etnis mendapatkan status yang sama sebagai penduduk asli bangsa. Oleh karena itu, proses pembangunan bangsa Indonesia melibatkan pembentukan beberapa daerah dan kelompok etnis yang menjadi identitas bersama. Seperti identitas nasional yang dapat dikatakan sebagai sebuah proyek dari dua orang pemimpin yang otoriter pada masanya, yaitu Sukarno dan Suharto yang menerapkan model sentralisasi berdasarkan pemilihan dan
pemaksaan (jika diperlukan) dalam membangun sebuah ‘masyarakat yang memiliki citra’ berbasis Pancasila sebagai norma dalam struktur negara kesatuan.
Sejak runtuhnya rezim Suharto pada 1998, identitas nasional Indonesia mengalami perubahan yang dibentuk oleh adanya kekuatan pada masa reformasi, demokratisasi, dan desentralisasi. Hal ini menjadi sangat bermasalah terhadap pergeseran identitas politik pada masa pasca-Suharto yang telah membangkitkan kembali sentimen primordial di Indonesia pada masa ini, sehingga diperlukan sebuah pendekatan struktur domestik untuk memberikan lingkup yang lebih luas dalam menganalisis preferensi atau identitas para aktor yang kita pelajari. Pendekatan ini tidak berpendapat bahwa masa lalu dapat dijadikan basis untuk saat ini, melainkan adanya tradisi dalam hubungan internasional yang khas dapat menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan ide-ide alternatif terhadap tatanan internasional. Adanya identitas yang beragam dengan pemerintahan politik negara Indonesia yang berbeda-beda, dapat membentuk pola pikir yang berguna untuk menyelidiki makna dari identitas tersebut, serta berspekulasi bagaimana pandangan mereka terhadap dunia dalam berkontribusi bagi pendekatan teori hubungan internasional Indonesia.
Indonesia dan Studi Hubungan Internasional (SHI)
Persepsi Indonesia yang strategis mendorong pembentukan dan penyatuan kawasan dalam domain geopolitiknya yang renggang. Dalam hal ini, Indonesia menjadi rentan terhadap adanya ancaman dari luar dan mengancam kedaulatan negara Indonesia, khususnya terhadap kekuatan politik pusat di Jawa. Terdapat konsep keamanan yang dirancang oleh militer Indonesia dengan melibatkan semua daerah yang disebut sebagai national resilience (ketahanan nasional). Konsep keamanan ini bersifat menyeluruh dan lingkup ketahanan nasional yang dimaksud meliputi aspek ideologi, politik, ekonomi, masyarakat, budaya, dan militer. Keamanan dan kemakmuran menjadi saling terjalin dan tidak dapat dipisahkan. Menurut pernyataan Suharto pada 1970:
Ketahanan Nasional meliputi ketahanan ideologi berdasarkan pada identitas bangsa itu sendiri yang mendapat dukungan penuh dari seluruh bangsa, Ketahanan Ekonomi mampu memenuhi kebutuhan dasar bangsa itu sendiri, Ketahanan Sosial yang menjamin rasa solidaritas dan harmoni diantara masyarakat, dan Ketahanan Militer yang kuat untuk menghadapi agresi dari luar. Tanpa adanya Ketahanan Nasional ini, kita akan menjadi bangsa yang penakut.
(Anwar dalam Alagappa 1998: 477)2 Secara signifikan, ‘Keamanan Nasional’ Indonesia dipahami dalam konteks Jawa. Dalam hal ini, budaya politik Jawa yang paling dominan dan diprioritaskan. Sebab, adanya ancaman yang terjadi di pusat menjadi lebih penting daripada apa yang terjadi di luar itu. Seperti apa yang dikatakan oleh Moertono sebagai berikut:
Sebuah hubungan geopolitik yang kompleks, berkaitan dengan batas-batas dan hubungan dengan negara asing. Doktrin yang mendorong tindakan ekspansi, menyebabkan perlawanan yang diperlukan untuk berjuang mempertahankan eksistensi wilayahnya, menyatakan diri, dan mendominasi dunia, serta faktor yang dinamis tersebut dapat mengganggu keseimbangan hubungan antar negara. Agresif sebuah negara dapat menjadi pemicu hancurnya persahabatan yang telah dijalin oleh negara yang bertetangga. Tetapi, jika terdapat banyak musuh yang harus ditaklukan, maka akan menciptakan sekutu-sekutu yang saling bekerjasama, dan pada akhirnya menciptakan
sebuah permusuhan yang baru. Sehingga lingkaran penyelarasan dan keterasingan ini akan terus melebar hingga perdamaian secara universal dapat dicapai dengan adanya pembentukan negara-dunia yang memiliki seorang penguasa tunggal yang tertinggi (charavartin).
(Moertono 1968 dikutip dalam Anderson 1990: 44)3
Dalam pandangan budaya politik Jawa, jumlah kekuasaan secara menyeluruh harus konstan, sebab beberapa peningkatan kekuasaan di wilayah tertentu dapat mengakibatkan penyusutan di wilayah lain. Produk dari budaya politik Jawa ini menghasilkan pembagian dalam ranah internasional menjadi dua tipe negara yang berbeda, yaitu Jawa dan Seberang (kata yang berarti luar negeri namun dalam konteks wilayah lokal Indonesia merujuk pada kelompok non-Jawa) (Anderson 1990: 42)4. Pada analisis akhirnya, penggunaan kekuatan merupakan cara terakhir sejak terjadinya penghancuran dari adanya kekuatan lawan yang tidak menghasilkan penyebaran kekuasaan para penguasa, melainkan menghasilkan penyebaran kekuatan saingan dari lawan, yang pada gilirannya dapat diserap oleh lawan atau rival lainnya (Anderson 1990: 44)5. Jawa mengakui bahwa ‘perang yang dilakukan demi kebenaran’ tetap tidak dapat dibenarkan, sebab hal ini berarti pengakuan terhadap lemahnya kedaulatan negara semakin terlihat. Sebaliknya, cara terbaik yang dilakukan dengan melalui tekanan secara diplomatik dan cara lainnya yang lebih halus (beradab) sebagai bentuk dari superioritas atau beberapa bentuk kedaulatan suatu negara.(Anderson 1990: 44)6.
‘Sentripetalitas pemikiran Jawa’ bersama-sama dengan perspektif ‘graduated sovereignty’ (Anderson 1990: 43)7 memiliki 2 hasil yang strategis. Pertama, adanya kebutuhan untuk mengontrol populasi daripada wilayah (Anderson 1990: 4)8. Kedua, menjadi penting bahwa kekuasaan dan pengaruh pusat diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan sosial. Keamanan terhadap kesejahteraan ini sering diidentifikasi dalam bidang produksi pertanian dan pembangunan ekonomi yang menjadi elemen penting bagi Keamanan Nasional. Persepsi masyarakat internasional Indonesia telah dibentuk oleh sejarah dan pembentukan internal dalam tradisi masyarakatnya yang beragam. Berdasarkan perbedaan tradisi ini, ide kenegaraan Jawa secara historis menjadi paling maju, koheren, dan paling berpengaruh terhadap orientasi tradisionalnya.
Budaya politik Jawa yang berkembang, sangat kental dengan tradisi Jawa itu sendiri, yang mana belum ada sekat atau perbedaan secara jelas antara realitas dan dunia supranatural. Bahkan, pemimpin-pemimpin Indonesia sejak masa Sukarno hingga masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih menganut berbagai kepercayaan leluhur yang masih belum bisa terlepas dalam perilaku politik mereka. Bahkan, hal ini juga termasuk dalam bidang militer yang dipengaruhi oleh adanya doktrin militer Mangunegaran yang disebut Serat Tripama yang pertama kali dilaksanakan oleh penerus Raden Mas Said, Mangkunegaran IV. Bahkan, B.J. Habibie pun sebagai presiden ketiga Indonesia yang walau pun tidak berdarah Jawa tetapi dia memiliki kepercayaan Islam ortodoks dan tidak menolak adanya ajaran-ajaran mistisme. Hal ini semakin menguatkan bahwa budaya politik Indonesia masih belum bisa terlepas secara utuh terhadap adanya budaya dan kepercayaan dari warisan para leluhur.
3 Op.cit. hlm. 150
4 Ibid.
5 Op.cit. hlm. 151
6 Ibid.
7 Ibid.
Sumber-Sumber Asli Teori Hubungan Internasional Indonesia
Disamping kurangnya usaha dari para penstudi HI di Indonesia untuk mengembangkan Teori Hubungan Internasional Indonesia, sebenarnya terdapat beberapa sumber asli Teori HI Indonesia yang dapat dianalisis oleh para peneliti. Ada 2 potensi sumber utama penelitian yang dapat dianalisis yaitu perilaku politik para pemimpin dan eksplorasi mendalam terhadap pemikiran politik yang sebagian besar dipengaruhi oleh sifat budaya politik dari berbagai kelompok etnis yang mendiami wilayah Nusantara.
Indonesia terdiri dari ratusan kelompok etnis yang saling berhubungan, yang mampu memberikan eksplorasi terhadap tradisi-tradisi adat yang ada untuk memberikan informasi terkait latar belakang yang berguna dalam pengembangan Teori HI yang lebih signifikan. Belum adanya para penteori dan institusi yang mengkaji sumber-sumber asli tersebut, maka usaha eksplorasi kita dapat berasal dari pemahaman mendasar terkait budaya politik yang mewakili dua kelompok utama dalam kelompok-kelompok etnis, yaitu Jawa dan Tradisi Seberang.
Ditarik dari sejarah pada masa Kerajaan Besar Kuno Jawa dan Seberang yang tersebar di Nusantara, maka terdapat beberapa kerajaan yang paling menonjol, yaitu Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Kesultanan Aceh, dan Mataram. Mereka yang tinggal di daerah Seberang cenderung melihat kembali pada sejarah Kerajaan Sriwijaya sebagai masa keemasan dan Jawa lebih memfokuskan diri pada peradaban tentang budaya sopan santun yang tinggi diwarisi dari Kerajaan Majapahit dan Mataram. Walaupun memang sejarah Melayu telah menyoroti kejayaan Majapahit pada abad keempat belas, namun yang harus dicatat bahwa kekuatan Majapahit tidak hanya berdasarkan atas keberhasilan militer dan politik, tetapi juga kepada pencapaian unggul adanya agama dan budaya.
Ada empat poin utama yang menjadi fokus terkait sumber-sumber asli Teori Hubungan Internasional Indonesia, yaitu:
1. Adanya keragaman adat dan budaya yang melahirkan budaya politik
Adanya berbagai keragaman adat istiadat dan budaya yang berkembang di Indonesia dari masa ke masa, menyebabkan lahirnya budaya politik yang juga berpengaruh terhadap perkembangan Teori Hubungan Internasional Indonesia. Budaya politik yang paling dominan dalam perkembangannya ialah Budaya Politik Jawa dan Budaya Politik Seberang.
Budaya Politik Jawa
Budaya Politik Jawa merupakan budaya politik yang telah lebih banyak dieksplorasi oleh para penstudi ilmu sosial dibandingkan Budaya Politik Seberang. Hal ini disebabkan karena adanya fakta bahwa orang Jawa merupakan kelompok etnis terbesar di Indonesia dan mereka adalah salah satu warisan peradaban kuno di dunia (Geertz 1960: 78)9, mengingat sejarah panjang mereka dimulai dari pembangunan budaya yang kompleks, rumit, dan kaya dalam kehidupan secara rohani. Kemajuan peradaban Jawa ini ditandai dengan adanya lahan pertanian yang subur di Jawa Tengah sekitar Yogyakarta dan Surakarta. Secara historis, hal tersebut telah menunjukkan adanya masyarakat pertanian. Perkembangan budaya juga berpengaruh terhadap masyarakat Jawa yaitu Hindu dan Budha yang telah menjadi kepercayaan mayoritas orang Jawa sebelum masuknya Islam di abad kelima belas. Sistem kasta Hindu membuat adanya sistem diferensiasi dan stratifikasi sosial yang tertanam dalam kehidupan masyarakat Jawa (Koentjaraningrat 1975: 58-60)10. Hal ini menimbulkan konsep kepemimpinan Jawa yang menjunjung sistem hirarki, sehingga terlihat jelas adanya stratifikasi sosial yang terbentuk yaitu gusti (tuan) dan kawula (pelayan) (Lubis di Crouch
9 Op.cit. hlm. 153.
dan Hill 1992:297; Uhlin 1997:52)11. Ide kekuasaan budaya Jawa terlihat sedikit aneh dan bertentangan dengan persepsi kekuasaan di Barat. Anderson berpendapat bahwa bagi orang Jawa, pemegang kekuasaan harus mampu menunjukkan kekuasaanya melalui kepemilikan benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan supranatural (Anderson 1990: 27)12. Dalam hal pencapaian kekuasaan, orang Jawa percaya bahwa kekuasaan yang baik ialah kekuasaan yang diterima dari warisan atau kebaikan ilahi (wahyu). Dalam konsepsi Jawa, kekuasaan sangat erat kaitannya dengan ‘konsentrasi’ dan ‘kesatuan’. Sebaliknya, adanya perpindahan kekuasaan dapat berarti perusak dalam kekuasaan, dan karena itu harus dihindari oleh semua pemegang kekuasaan, sebab adanya perpindahan kekuasaan dalam negara dianggap sebagai tanda kelemahan. Pemimpin Jawa akan selalu menyatukan berbagai segmen yang berbeda-beda dalam kehidupan masyarakat Jawa di bawah kekuasaanya. Pencapaian harmoni merupakan kata kunci untuk dapat memahami kehidupan sosial orang Jawa termasuk tata negara (Anderson 1990: 28 – 33)13. Orang Jawa juga memiliki kemampuan untuk menyerap ide-ide baru yang cocok dengan cara hidup mereka, menggabungkan budaya yang ada dengan budaya baru, dan oleh karena itu orang Jawa sangat dikenal dengan prinsip tolerannya terhadap gagasan orang lain. Namun, sejauh ide-ide baru ini tidak bertentangan dengan asumsi utama dalam kehidupan sosial mereka. Aspek lain yang sangat penting dalam konsep Jawa ini adalah adanya ide tentang pamrih yang menjelaskan bagaimana seorang penguasa jatuh dari kekuasannya. Seorang penguasa dapat dikatakan pamrih jika ia menolak atau ragu-ragu untuk melaksanakan tugas kenegaraannya akibat adanya rasa simpati atau empati kepada teman atau pun keluarganya. Pamrih juga dapat diartikan sebagai tindakan tertentu bagi penguasa dalam mendukung pribadinya (biasanya melibatkan keuntungan material) atau dalam mendukung rekan dekatnya atau pun anggota keluarga, dengan kata lain disebut sebagai praktek korupsi dan nepotisme (Anderson 1990: 51 – 3). Pamrih adalah tanda bahwa kekuatan penguasa telah melemah dan mendekati terjadinya perpindahan kekuasaan14.
Budaya Politik Seberang
Berbeda dengan budaya politik Jawa yang lebih terpusat, budaya politik Seberang lebih mengarah pada kelompok-kelompok etnis yang mendiami beberapa pulau dan tersebar di seluruh wilayah nusantara. Ada pun dalam budaya politik Jawa, memberikan penciptaan secara tunggal dalam sistem peradabannya (baik dari segi adat istiadat maupun budaya), hal ini memberikan kemudahan bagi para peneliti untuk menentukan keberadaan adanya budaya politik Jawa. Pada akhirnya, menjadi sulit untuk mengidentifikasi secara akurat tentang keberadaan dari budaya politik Seberang ini, mengingat adanya keberagaman adat dan budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakatnya.
Namun, ada beberapa kesamaan secara umum yang dimiliki oleh kelompok-kelompok etnis non-Jawa. Kelompok-kelompok ini meliputi Aceh, Batak, Dayak, Minangkabau, Bugis, Makassar, dan orang-orang dari Kepulauan Maluku. Orang-orang yang tinggal di kota-kota pesisir dibagian utara Jawa (Pesisir Jawa) dapat juga diklasifikasikan ke dalam kelompok ini, serta orang-orang Banten (bagian barat Jawa). Menurut Koentjaraningrat, ada dua kategori utama secara sosio-geografis dalam masyarakat Seberang, yaitu:
Pertama, adalah mayoritas kelompok etnis yang hidup di kawasan pesisir seperti Minangkabau, Aceh, Bugis, Makassar, Maluku, dan Pesisir Jawa. Kedua, adalah mayoritas kelompok etnis yang tinggal di daerah pedalaman terpencil. Contohnya adalah orang Batak,
11 Ibid.
12 Ibid.
13 Op.cit. hlm.154
Toraja, Minahasa, dan Dayak. Kedua kategori kelompok ini saling berbagi fiture umum menganai sejauh mana perkembangan dan pengaruh agama budaya seperti Hindu dan Budha.
Dibandingkan dengan pengaruh Hindu-Budha di Jawa, kehadiran kedua agama ini tidak menjadi lazim dalam kehidupan masyarakat Seberang. Akibatnya, stratifikasi sosial tidak menjadi aturan utama bagi masyarakatnya. Mayoritas dari kelompok etnis yang mendiami wilayah Seberang ini, terutama bagi masyarakat pesisir, para penguasanya tidak begitu diselimuti oleh aura mistik dan aura kerahasiaan, umumnya lebih terbuka. Proses pengambilan keputusan di masyarakat Seberang juga umumnya lebih jelas dan melibatkan masyarakat kalangan bawah. Para penguasa dan masyarakat kalangan bawah seringkali berkonsultasi secara publik dalam forum musyawarah.
Masyarakat pesisir secara tradisional terlibat dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran yang menyebabkan mereka cenderung memiliki kualitas budaya yang terbuka, langsung, dan individualistis. Hal ini disebabkan karena jumlah waktu yang mereka habiskan di kampung halamannya relatif kecil, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menyusun kebiasaan sosial yang rumit dan membangun sebuah tradisi.
Budaya Seberang yang berbasis maritim, umumnya mempromosikan rasa individualistis yang lebih besar dibanding dengan budaya Jawa yang berbasis pertanian. Hal ini menyebabkan budaya Seberang cenderung lebih eksklusif dan kaku. Letak pembeda antara Jawa dan Seberang terlihat jelas dalam menyatukan perbedaan pendapat. Jika masyarakat Jawa mencoba untuk menyatukan perbedaan dengan mencari jalan tengah atau solusi sinkretis, sedangkan masyarakat Seberang lebih menghargai adanya perbedaan tersebut dengan tetap menjaga posisi dari masing-masing individu dalam menyampaikan gagasan mereka.
2. Adanya Pengaruh Islam secara Kuat di Indonesia
Perbedaan antara budaya politik Jawa dengan budaya politik Seberang lebih jelas terlihat dalam reaksinya terhadap masuknya pengaruh Islam di Indonesia. Islam masuk ke nusantara pada abad ketiga belas yang dibawa oleh para pedagang dari India Selatan dan Persia yang pertama kali tiba di Aceh (bagian ujung utara Sumatera), dimana Kesultanan Islam pertama di Asia Tenggara dibentuk yang dikenal sebagai Samudera Pasai. Kemudian menyebar ke Malaka, yang mana kekuatan kesultanan mendominasi dan akhirnya memisahkan Sumatera dengan Semenanjung Melayu. Dari Malaka, Islam menyebar ke kota-kota pesisir Sumatera yang berada di bawah lingkup pengaruh Malaka. Kemudian, Islam selanjutnya dibawa ke bagian utara kota-kota pesisir Jawa dimana kesultanan baru dibentuk, yaitu Kesultanan Demak. Pada abad kelima belas, Kesultanan Demak semakin menguat dan menantang kekuatan Kerajaan Jawa, yaitu Majapahit yang pada akhirnya Majapahit jatuh. Sebagai gantinya, sebuah kesultanan Jawa yang baru pun dibentuk yang disebut Kerajaaan Mataram.
Sebelum kedatangan pedagang Eropa di Indonesia, Islam telah menjadi agama yang dominan dalam kehidupan masyarakatnya. Namun, ada perbedaan secara signifikan dalam Islam pada prakteknya di Indonesia. Penyebaran Islam di Jawa dilakukan melalui kota-kota di pesisir utara Jawa agar terislamisasi secara menyeluruh melalui perdagangan dengan pedagang Sumatera dan Malaka, upaya untuk memperkenalkan Islam ke pedalaman Jawa dilakukan terutama oleh para wali. Penyebaran Islam dengan Pendekatan budaya yang dilakukan oleh para wali melalui simbol, cerita rakyat, legenda, dan ritual budaya Hindu tua, seperti wayang dan gamelan (Anderson 1972:68)15. Strategi ini dipandang sukses dan dalam waktu yang relatif singkat, Islamisasi di Jawa pun menjadi menyeluruh. Oleh karena itu, di daerah pedalaman Jawa, praktek Islam berpadu dengan budaya Hindu yang ada. Dalam banyak kasus, praktek Hindu lebih dominan daripada ritual Islam. Dari waktu ke waktu,
masyarakat Jawa terlibat dalam upacara Hindu yang dipoles dalam beberapa kata Arab yang dikatakan berasal dari Al-Qur’an. Namun, kebanyakan orang Jawa akan mengklaim bahwa mereka adalah muslim, walau pun banyak dari mereka yang jarang menjalankan ritual Islam sebagaimana didefinisikan dalam ‘Lima Rukun Islam’.
Islam di Jawa dikembangkan melalui sistem pendidikan yang kompleks, dikenal sebagai Pesantren dan pengikutnya disebut Santri. Secara historis, selama puncak kejayaan Kerajaan Hindu Jawa, kekuatan agama dan intelektual tidak dimiliki oleh kelas penguasa yang berada di kraton (istana). Sebaliknya, kekuasaan tersebut dimiliki oleh seorang kyai (guru) yang hidup di wilayah pesisir pedalaman timur Jawa. Ada hal yang berbeda antara gaya hidup keraton di kalangan para penguasa dengan gaya hidup di kalangan para kyai. Para kyai mengajar dan memimpin dengan gaya hidup yang sederhana dalam pondok (pesantren). Namun ada sedikit kesamaan dalam pandangan kyai terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan yang dilakukan oleh kraton Jawa, hanya saja yang berbeda dengan kraton Jawa ialah hubungan antara kyai dan santri yang bersifat informal. Kebanyakan kyai bergaya santai dan kasual ketika berhubungan dengan para santrinya. Meskipun demikian, interaksi ini tetap diatur melalui aturan yang ketat bahwa kyai harus dihormati dan para santri yang mengikuti ajarannya harus melindungi dan membela kehormatan dan martabat kyai dari kritikan luar. Oleh karena itu, kehadiran Islam di Indonesia tidak merubah budaya politik yang ada terhadap hubungan kekuasaan lembaga di Jawa.
Islam mengambil bentuk yang paling murni di daerah Seberang. Karena kurang kuatnya Kerajaan Hindu ketika masuk, sehingga Islam dapat diterima masyarakatnya tanpa adanya perlawanan yang berarti. Banyak penguasa lokal di Sumatera, Sulawesi, dan Maluku yang merasa bahwa Islam adalah agama yang dibawa oleh para pedagang, sehingga masyarakatnya dengan cepat memeluk Islam untuk memfasilitasi bisnis mereka. Mereka juga tidak memiliki keberatan terhadap budaya yang ditawarkan oleh Islam. Islam tampaknya sesuai dengan gaya hidup egaliter dan struktur sosial yang sederhana. Selanjutnya Islam dipandang sebagai alternatif yang kemudian dianut oleh orang Jawa yang sebelumnya percaya terhadap ajaran Hindu.
Ketika Islam reformis masuk ke wilayah nusantara pada awal abad kedua puluh melalui Malaya, masyarakat Seberang adalah yang pertama untuk menerima ajaran Islam reformis tersebut. Islam reformis kemudian menjadi sebuah gerakan baru yang disebarkan oleh seorang yang berasal dari Mesir bernama Muhammad Abduh yang bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dari adanya praktek-praktek mistik lokal. Muslim reformis menyerukan kembali Al-Qur’an dan Hadits (Sunnah Rasul) sebagai satu-satunya pedoman ajaran Islam. Ajaran tersebut juga mengajarkan Islam rasionalisme dan memperbaruinya dengan kebutuhan pada zaman sekarang melalui konsep ‘ijtihad’. Dari waktu ke waktu, semakin banyak masyarakat Seberang yang langsung menerima ajaran ini dengan sepenuh hati karena sesuai dengan ciri-ciri budaya mereka. Oleh karena itu, perkembangan jenis-jenis Islam menjadi maju dalam kehidupan masyarakat Seberang, berbeda dengan kehidupan masyarakat Jawa.
3. Perilaku Politik Para Pemimpin Indonesia sebagai Sumber Teori HI
Indonesia yang pergi ke lembaga pendidikan di Timur Tengah seperti Al-Azhar di Kairo atau Universitas Islam Madinah di Arab Saudi. Ketiga dan yang paling penting ialah, adanya kelompok-kelompok Islam di Indonesia ikut campur tangan dalam kegiatan kenegaraan (isu Islam vs Negara Sekuler), sehingga menimbulkan persaingan politik terbuka melawan kontrol otoriter dan kekuasaan terpusat melawan otonomi daerah. Fakta ini menunjukkan dua hal, bahwa kelompok muslim di Indonesia secara khusus tidak menyamakan pemikirannya terhadap gagasan Islam secara global dan hubungan internasional tidak menempati posisi pertama dalam daftar prioritas kelompok Islam.
Berdasarkan hal ini, budaya politik Jawa tampaknya telah didominasi oleh kepemimpinan Indonesia yang modern, bukan Islam. Sehingga tidak diragukan lagi, studi tentang budaya politik Jawa jauh lebih dieksplorasi daripada budaya politik Seberang. Hal ini disebabkan dengan 3 alasan, yaitu:
Pertama, masyarakat Jawa merupakan kelompok etnis terbesar yang memenuhi 45 persen dari seluruh jumlah penduduk di Indonesia. Kedua, Jawa memiliki sejarah peradaban yang panjang yang diperkuat dengan adanya sejumlah kerajaan yang besar dan berpengaruh, hal ini memungkinkan untuk mengembangkan budaya politik mereka. Ketiga, mayoritas pemimpin Indonesia berasal dari kelompok etnis Jawa sejak kemerdekaan hingga sekarang, kecuali satu presiden yaitu B.J. Habibie yang berdarah Bugis.
Selama periode Sukarno hingga periode Suharto, kebijakan luar negeri Indonesia merupakan cerminan dari adanya budaya politik Jawa ini, yang disebut ‘ASEAN way’, yang menekankan dasar-dasar kesepakatan secara bersama dan memelihara hubungan yang baik antar negara-negara ASEAN. Hal ini dapat diterima sebagai bentuk nyata dari adanya konsepsi Jawa untuk mencapai dan mempertahankan harmoni sebagai salah satu tujuan utama dari kehidupan sosial. Orang-orang Jawa lebih memilih untuk menghindari perselisihan dan cenderung memecahkan masalah melalui diskusi tertutup. Mereka juga menghindari penggunaan kekuatan sebagai sarana untuk memaksa orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Sebaliknya, mereka akan berusaha untuk menggunakan kekuatan ‘karisma pribadi’ untuk mempengaruhi orang lain. Kekuatan ini mungkin dipandang halus dan tidak berdasar oleh orang-orang Barat, tetapi bagi para pemimpin Jawa, kekuatan ini terletak di jantung kepemimpinan. Seperti disebutkan di atas, masyarakat Jawa percaya bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin karena wahyu (nikmat ilahi). Dalam banyak hal selama masa Orde Baru, Suharto mampu menggunakan pengaruh kekuatan ini secara efektif. Indonesia mampu mengamankan banyak kepentingannya selama Orde Baru tanpa harus menggunakan senjata.
Begitu pun pada masa pemerintahan Sukarno, ia mengandalkan kekuatan karisma selama menjabat sebagai presiden. Dengan kekuatan ini, ia berhasil mendapatkan pengakuan dari dunia internasional dan berhasil mengubah bentuk negara federal (RIS / Republik Indonesia Serikat) untuk kembali menjadi bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sukarno juga sukses membawa Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Asia-Afrika yang pertama di Bandung pada 1955. Namun kekuatan ini pada akhirnya hancur akibat adanya ancaman krisis yang melanda Indonesia hingga pada akhirnya Sukarno harus melakukan ‘pamrih’ yang telah menjadi kebijakan secara resmi dan digunakan sebagai upaya terakhir dan harus didasarkan pada alasan yang kuat.
Poin terakhir ini menjadi sangat penting dalam hal memahami pendekatan Indonesia dalam konteks keamanan eksternal, bahwa sejarah pasca kemerdekaan Indonesia ini penuh dengan insiden yang merujuk pada ketidakstabilan internal yang memberikan peluang adanya intervensi eksternal, hal ini tentu dapat memperburuk situasi. Kurangnya kekuatan pertahanan yang kredibel untuk mencegah segala bentuk intervensi eksternal, menyebabkan adanya kebutuhan terhadap strategi non-material yang efektif, untuk memastikan bahwa integrasi nasional Indonesia tidak boleh terganggu dan harus menguntungkan lingkungan kemanan regional yang telah dipertahankan.
4. Perbaikan Terhadap Kurikulum Studi Hubungan Internasional di Indonesia
Departemen Hubungan Internasional di Indonesia yang pertama dimulai pada tahun 1950 di bawah naungan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta yang merupakan program studi Fakultas Ilmu Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik. Kemudian diikuti oleh beberapa Universitas lain dalam membangun Departemen Hubungan Internasional pada 1950-an hingga 1960-an. Tidak banyak yang mengetahui tentang agenda kurikulum, arah, atau pun penelitian dalam departemen ini di tahun-tahun awal, kecuali sebagian besar diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang mampu memenuhi administrasi dan posting pada pemerintahan baru, terutama dalam urusan luar negeri.
Saat ini ada 43 Universitas yang menawarkan program Sarjana Muda Hubungan Internasional di Indonesia. Tetapi hanya 25 Universitas yang mendapatkan akreditasi dari pemerintah. Hal ini mungkin terlihat banyak, namun sebenarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan 2.600 akademi, perguruan tinggi, dan universitas di seluruh negeri yang juga menawarkan program studi yang sama. Namun, hanya ada dua Universitas yang menawarkan program Master yaitu salah satunya ialah Universitas Indonesia. Hingga saat ini, masih belum dibuka untuk program gelar doktor bagi lulusan pasca-Sarjana HI.
Sebuah statistik menunjukkan bahwa terdapat 10.000 mahasiswa (52 persen laki-laki; 48 persen perempuan) yang saat ini terdaftar dalam program gelar Sarjana di lapangan, sementara hanya ada 77 orang yang sedang belajar pada program Master di UI. Para mahasiswa ini dibimbing oleh 514 dosen yang terdaftar. Mayoritas dosen tersebut pemegang gelar Master sebanyak 285 orang dan hanya 32 dari mereka yang memegang gelar doktor. Tingkat pendidikan yang relatif rendah dalam bidang studi HI ini diakibatkan oleh adanya 2 faktor.
Pertama, jumlah yang sangat kecil dari lembaga pendidikan negeri yang menawarkan gelar Sarjana Hubungan Internasional. Sebagian besar tenaga pendidik yang mencapai gelar Sarjana hanya memungkinkan bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan pasca-Sarjana, baik di luar negeri maupun dalam disiplim ilmu non-HI yang terkait dengan ilmu politik, pemerintahan atau administrasi publik.
Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) dan Departemen Luar Negeri (Deplu). Penelitian yang dilakukan disini lebih berorientasi pada kebijakan daripada akademisi karena tidak ada dana dalam negeri untuk pekerjaan yang bersifat akademis.
Belum banyak terdapat lembaga think tank di bidang HI secara spesifik di Indonesia, yang paling utama adalah the Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta dan Penerbit Jurnal Bahasa Inggris di Indonesia yaitu the Indonesia Quarterly. Namun, jurnal tersebut tidak hanya difokuskan pada isu-isu yang terkait dengan Hubungan Internasional, melainkan HI hanya sebagai salah satu bagian isu yang dikaji oleh CSIS selain ekonomi, politik, dan perubahan sosial. Adapun saat ini belum ada asosiasi profesional yang secara khusus mengkaji bidang hubungan internasional, yang paling mendekati ialah Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI). Komponen hubungan internasional di AIPI lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan politik dalam negeri. Ada pula pertemuan tahunan antar Kepala Departemen Hubungan Internasional, namun yang dibahas disini lebih kepada membandingkan kurikulum dan pengajaran lainnya yang terkait.
Selain itu, kurangnya masyarakat epistemik dan tidak ada pemberian insentif sama sekali terhadap sarjana HI yang melakukan studi teori (sehingga hanya menghasilkan segelintir jurnal yang terkait dengan bidang studi ilmu hubungan internasional), menyebabkan sarjana HI lebih banyak terlibat dalam kegiatan politik dalam lingkup pemerintahan. Namun hal ini juga bukan tanpa alasan, sebab krisis keuangan yang pernah melanda Indonesia pada 1997 menyebabkan kurangnya kontribusi para sarjana HI dalam kegiatan akademik (penelitian).
Setelah terjadinya peristiwa pada 11 September 2001 yang terjadi di Amerika Serikat, mayoritas masyarakat dunia membawa perhatiannya terhadap isu-isu keamanan dan Islam. Sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, secara alami beberapa perhatian ini telah berfokus pada Islam di Indonesia. Hal ini juga yang menjadi pendorong terhadap peningkatan jumlah pendanaan proyek tentang topik ini, sehingga pada gilirannya akan membuat tema ini menjadi tema penelitian utama di Indonesia yang menggabungkan aspek internasional dan domestik. Terkait dengan hal ini, isu pembalakan liar, perdagangan manusia, dan terorisme juga telah menjadi beberapa topik yang paling populer. Kurikulum berbagai lembaga pendidikan hubungan internasional menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Selama tahun 1970-an hingga tahun 1990-an banyak diskusi tentang teori HI yang semakin berkembang di kalangan akademisi.
Dengan kembalinya banyak dosen dari program pascasarjana di Universitas-Universitas Barat pada akhir 1990 dan awal 2000-an, kurikulum menjadi lebih diperbarui. Namun, sebagian besar literatur yang digunakan kebanyakan berasal dari buku-buku dan jurnal Barat. Upaya untuk mengeksplor sumber-sumber asli terhadap kemajuan teori hubungan internasional di Indonesia kurang menarik banyak perhatian, baik di luar mau pun di dalam institusi pendidikan.
Kesimpulan
Mengapa kemudian tidak ada Teori Hubungan Internasional Indonesia ketika terdapat banyak sumber potensi yang dapat dimanfaatkan?
sumber daya fisik seperti perpustakaan dan struktur insentif melalui pendanaan yang tepat dan penelitian yang memadai, sehingga lembaga pendidikan yang ada hanya menghasilkan sarjana hubungan internasional yang ahli mengenai urusan dalam negeri. Kemampuan bahasa Inggris juga menjadi faktor penghambat kurangnya sumbangan pemikiran dari para penstudi HI di Indonesia melalui jurnal internasional, sehingga banyak jurnal didominasi oleh sarjana Barat yang kemudian digunakan sebagai rujukan dalam mengambil kebijakan luar negeri suatu negara.
Namun demikian, banyaknya tantangan yang dihadapi Indonesia pada masa ‘pra-teori’ memberikan cambukan tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya para akademisi yang kemudian mencoba untuk mengumpulkan sumber-sumber maupun literatur tentang Studi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia. Mengamati pendekatan teori HI Indonesia tidak hanya sekedar untuk menyempurnakan sumber literatur yang sudah ada, melainkan menjadi sebuah kerangka kerja konseptual yang berbeda di Indonesia.
Ada 3 potensi besar dalam mewujudkan teori hubungan internasional Indonesia yang dapat terlepas dari konsep-konsep barat, yaitu:
Pertama, Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia sehingga memungkinkan ruang lingkup untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin diantara negara-negara Islam yang lain. Perkembangan dalam dunia Islam ini mungkin memiliki konsekuensi yang penting untuk menentukan arah baru dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Kedua, Indonesia memiliki peran-peran yang penting dalam beberapa organisasi atau gerakan-gerakan seperti Gerakan Non-Blok, ASEAN, Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan lain-lain. Persepsi masyarakat internasional di Indonesia telah dirumuskan dalam hal bahwa masyarakatnya lebih memilih menghindari persaingan antar negara-bangsa dengan menjalin kerjasama dan perdamaian melalui keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kegiatan organisasi internasional yang ada. Melalui keterlibatan Indonesia dalam organisasi internasional khususnya OKI, Indonesia mengharapkan pengakuan di antara negara-negara Islam sebagai negara muslim terbesar di dunia.
Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya alam serta sumber daya manusia yang melimpah, hanya perlu penanaman konsep berpikir secara maju bagi sumber daya manusia di Indonesia, agar Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara mandiri lainnya, khususnya dalam peningkatan lembaga pendidikan dan penelitian yang terkait dengan studi hubungan internasional.
Apa yang menyebabkan Teori HI Indonesia tidak berkembang ialah kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kondisi di dunia internasional dan masih terlalu fokus dalam mengurusi berbagai permasalahan internal. Bagi para think tank, kurangnya dukungan dana dalam proyek penelitian menjadi faktor penghambat dalam mengembangkan studi hubungan internasional di Indonesia. Kondisi ini semakin diperparah dengan tidak adanya dukungan bagi lembaga penelitian yang bekerja di bidang hubungan internasional. Kurangnya infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung proses belajar mengajar dan rendahnya tingkat pendidikan bagi dosen juga merupakan faktor penghambat lainnya.
Saran
Referensi