• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi"

Copied!
429
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

SÊRAT BUK JAMPI-JAMPI JAWI

(Suatu Tinjauan Filologis)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Mencapai Gelar Sarjana Jurusan Sastra Daerah

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh

ILAFI BRAHWETAGRANI C0107027

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Ilafi Brahwetagrani NIM : C0107027

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul Sêrat Buk Jampi-Jampi

Jawi (Suatu Tinjauan Filologis) adalah betul–betul karya sendiri, bukan plagiat,

dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal–hal yang bukan karya saya, dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.

Surakarta, Desember 2011 Yang membuat pernyataan,

(5)

commit to user

v

MOTTO

Tak ada karya yang jatuh dari langit

(A.Teeuw).

Sudah jangan menangis, orang jelek akan semakin jelek kalau menangis

(Kim Joo Won).

Biarlah pahit dan pedih memberi warna pada laju sebuah proses, tapi nanti akan

manis saat kita telah sampai tujuan

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada:

1. Mamahku Harini dan abahku Miftah Alim Harphanto terimakasih untuk

curahan cinta, doa, serta kesabaran kalian.

2. Kakakku Tantra Alimi serta adik-adikku Jendra Dafastosa dan Harendra

Halimi untuk semangat dan doanya.

3. Keluarga besar Brahim dan keluarga besar Shodiq Ridwan, terimakasih

untuk semua.

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

Syukur Hadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, taufiq, hidayah,

serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi (Suatu Tinjauan Filologis)”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

melengkapi gelar sarjana sastra Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni

Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat dorongan, bimbingan

serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni

Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta staf yang telah

memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Drs. Supardjo, M.Hum. selaku Ketua Jurusan Sastra Daerah yang telah

memberikan kesempatan, kemudahan serta semangat kepada penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini.

3. Drs. Wakit Abdullah, M.Hum. selaku Pembimbing Akademik atas segala

nasihat serta teguran kepada penulis sejak awal hingga akhir kuliah.

4. Drs. Sisyono Eko Widodo, M.Hum. selaku Pembimbing I yang selalu penuh

kesabaran, memberikan semangat, kemudahan, dan bimbingan kepada

(8)

commit to user

viii

5. Drs. W. Hendro Saputro, M.Si. selaku Pembimbing II yang telah banyak

mamberikan bimbingan, nasihat dan arahan kepada penulis sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar .

6. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Sastra Daerah yang telah memberikan bekal

ilmu dan pengalaman kepada penulis.

7. Seluruh kepala dan staf Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa dan

Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan

Sasana Pustaka Keraton Surakarta yang telah menyediakan berbagai

referensi, dan Museum Radyapustaka Surakarta khususnya untuk Pak

Engkong, terimakasih untuk pinjaman bukunya.

8. Adik-adikku Shllipta, Ayu Kristina Yulia Marta, Airy Mindia Swastuti, dan

Anggraini Putri Permata Dewi terimakasih untuk doa, semangat, serta

bantuannya baik materi maupun non materi.

9. Teman-teman seperjuangan, Roro, Dhagan, Ika, Astri, Dian, Puput, dan

anak-anak Filologi 2007 Ebhe, Nophix, Tina, TP, Sulung, dan Panca, serta

mahasiswa Sastra Daerah angkatan 2007.

10. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses pembuatan skripsi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan. Mohon saran dan kritik yang membangun demi perbaikan

kepenulisan di masa yang akan datang. Besar harapan penulis, karya sederhana ini

bermanfaat bagi semua pembaca.

(9)

commit to user

ix

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERSETUJUAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GRAFIK ... xii

DAFTAR DIAGRAM ... xiii

DAFTAR SINGKATAN DAN TANDA ... xiv

ABSTRAK ... xv

SARI PATHI ... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Batasan Masalah ... 18

C. Rumusan Masalah ... 18

D. Tujuan Penelitian ... 19

E. Manfaat Penelitian ... 19

F. Tinjauan Pustaka ... 20

G. Sistematika Penulisan ... 21

BAB II KAJIAN TEORITIS... 22

A. Pengertian Filologi ... 22

B. Objek Filologi ... 23

C. Langkah Kerja Penelitian Filologi ... 24

D. Pengertian Jamu, Jampi, dan Êmpon-Êmpon... 27

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

(10)

commit to user

x

B. Sumber Data dan Data ... 30

C. Teknik Pengumpulan Data ... 31

D. Teknik Analisis Data ... 31

BAB IV KAJIAN FILOLOGIS DAN ISI ... 33

A. Kajian Filologis ... 33

1. Deskripsi Naskah ... 33

2. Kritik Teks ... 38

3. Transliterasi ... 47

4. Suntingan Teks dan Aparat Kritik ... 47

5. Terjemahan ... 222

B. Kajian Isi ... 383

1. Jenis Êmpon-Êmpon ... 383

2. Êmpon-Êmpon pada Naskah SBJJJ ... 389

BAB V PENUTUP ... 407

A. Simpulan ... 407

B. Saran ... 408

DAFTAR PUSTAKA ... 409

A. Pustaka Sumber ... 409

B. Pustaka Acuan ... 409

LAMPIRAN ... 412

1. Lampiran 1. Glosari Istilah ... 413

2. Lampiran 2. Cover Naskah SBJJJ ... 435

3. Lampiran 3. Kolofon Naskah ... 436

4. Lampiran 4-5. Naskah SBJJJ halaman 342-343 ... 437

5. Lampiran 6-7. Naskah SBJJJ halaman 506-507 ... 439

(11)

commit to user

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbandingan naskah SBJJJ dan KBJJ ... 11

Tabel 2. Lakuna Huruf ... 39

Tabel 3. Lakuna Suku Kata ... 40

Tabel 4. Adisi Huruf ... 40

Tabel 5. Adisi Suku Kata ... 40

Tabel 6. Adisi Kata ... 41

Tabel 7. Adisi Kalimat ... 41

Tabel 8. Hiperkorek ... 41

Tabel 9. Substitusi ... 42

Tabel 10. Transposisi ... 43

Tabel 11. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata sadhêgan, sèdhêgan, sèdhêkan, dan sadhêkan ... 43

Tabel 12. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata sagêd dan sagêt ... 43

Tabel 13. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata kèmandèn dan kamandèn .... 44

Tabel 14. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata sêninjong dan saninjong ... 45

Tabel 15. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata ênêp dan ênêb, Penggunaannya pada Bentuk Kata mênêp dan mênêb ... 45

Tabel 16. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata makatên dan mangkatên ... 45

Tabel 17. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata utêk dan utêg ... 45

Tabel 18. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata adat dan adad ... 46

Tabel 19. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata sawêg dan sawêk ... 46

Tabel 20. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata ambêkan dan ambêgan ... 46

Tabel 21. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata jog dan jok ... 46

Tabel 22. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata endrak dan enjrak ... 46

(12)

commit to user

xii

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. CoverSBJJJ ... 6

Grafik 2. Penemuan Judul ... 6

Grafik 3. Gaya Penulisan Resep Jamu SBJJJ ... 8

Grafik 4. Kolofon naskah SBJJJ ... 9

Grafik 5. CoverKBJJ ... 9

Grafik 6. Gaya penulisan resep KBJJ ... 10

Grafik 7. Proses penyalinan KBJJ yang tidak Dilanjutkan ... 11

Grafik 8. Lakuna Huruf ... 13

Grafik 9. Lakuna Suku Kata ... 13

Grafik 10. Adisi Huruf ... 14

Grafik 11. Adisi Suku Kata ... 14

Grafik 12. Adisi Kata ... 14

Grafik 13. Adisi kalimat ... 14

Grafik 14. Hiperkorek ... 14

Grafik 15. Substitusi ... 15

Grafik 16. Transposisi ... 15

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR DIAGRAM

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR SINGKATAN DAN TANDA

AD : Anno Domini

AJ : Anno Javano

b : baris

BAB : buang air besar cm : senti meter

dkk : dan kawan-kawan dsb : dan sebagainya

e : dibaca seperti dalam bahasa Indonesia kata „sate‟ è : dibaca seperti dalam bahasa Indonesia kata „sukses‟ ê : dibaca seperti dalam bahasa Indonesia kata „telur‟ Hlm. : halaman

KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBJJ : Kawruh Bab Jampi Jawi

SBJJJ : Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi

KDBRJJ II : Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi-Jampi jilid II

No. : nomor R/T : resep/tabel

… : menandai bahwa terdapat tuturan sebelumnya atau sesudahnya. „…‟ : menandai bahwa kata atau kelompok kata yang ada di dalamnya

makna atau glos.

* : edisi teks berdasarkan pertimbangan linguistik

# : pembenaran berdasarkan interpretasi peneliti

// : halaman yang tidak tercantumkan, tetapi masih dalam kesatuan urutan resep dan tidak merubah makna tekstual

(15)

commit to user

xv

ABSTRAK

Ilafi Brahwetagrani. C010727. 2011. Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi (Suatu Tinjauan Filologis). Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Latar belakang penelitian ini adalah (1) banyaknya varian penulisan yang ditemukan pada SêratBuk Jampi-Jampi Jawi sehingga harus dilakukan penelitian filologis. (2) Terdapat penggunaan êmpon-êmpon pada Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi.

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimanakah suntingan teks Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi yang bersih dari kesalahan dan yang mendekati asli? (2) Jenis tanaman obat tradisional apa sajakah yang termasuk

êmpon-êmpon pada SêratBuk Jampi-Jampi Jawi?

Tujuan penelitian ini adalah (1) menyajikan suntingan teks Sêrat Buk

Jampi-Jampi Jawi yang bersih dari kesalahan dan yang mendekati asli. (2)

Mendeskripsikan jenis tanaman obat tradisional khususnya jenis êmpon-êmpon

pada SêratBuk Jampi-Jampi Jawi.

Bentuk penelitian ini adalah penelitian filologis yang bersifat deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library research). Sumber data penelitian ini adalah Perpustakaan Sasana Pustaka Keraton Surakarta yang menyimpan naskah Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi. Data berupa naskah Sêrat

Buk Jampi-Jampi Jawi yang di dalamnya terkandung teks Sêrat Buk Jampi-Jampi

Jawi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka

dan teknik fotografi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis data secara filologis dan analisis isi. Analisis data secara filologis menggunakan metode edisi standar. Adapun analisis isi dilakukan dengan mendeskripsikan tanaman obat tradisional pada SêratBuk Jampi-Jampi Jawi dengan jenis êmpon-êmpon.

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan beberapa hal: (1) Sêrat

Buk Jampi-Jampi Jawi koleksi Perpustakaan Sasana Pustaka Keraton Surakarta

bernomor katalog KS 617 550 Ra adalah naskah tunggal. Setelah melalui cara kerja filologis maka suntingan teks Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi dalam penelitian ini merupakan teks yang bersih dari kesalahan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (2) Terdapat 33 jenis êmpon-êmpon yang ditemukan dalam naskah

Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi yaitu: (a) Bêngle, (b) Dringo, (c) Jahe, (d) Jahe

merah, (e) Kapulaga lokal, (f) Kencur, (g) Kunci kuning, (h) Kunci pêpêt, (i) Kunci putih, (j) Kunyit jantan, (k) Kunyit putih, (l) Kunyit/temu kuning, (m) Lempuyang, (n) Lempuyang merah, (o) Lempuyang pahit, (p) Lempuyang wangi, (q) Lengkuas merah, (r) Lengkuas, (s) Pacing, (t) Sunthi, (u) Temu, (v) Temu

badhur, (w) Temu bayi, (x) Temu giring, (y) Temu guroh/têmu poh, (z) Temu

hitam, (aa) Temu kunci, (bb) Temu lawak, (cc) Temu pure, (dd)Temu putih, (ee) Temu tis/pathi, (ff) Temu uwos, dan (gg) Temu wuku. Selain itu terdapat pula satu resep jamu SêratBuk Jampi-Jampi Jawi yang di dadalamnya terdapat penggunaan

êmpon-êmpon, tetapi tidak dijelaskan secara spesifik apa saja jenis êmpon-êmpon

(16)

commit to user

xvi

SARI PATHI

Ilafi Brahwetagrani. C0107027. 2011. Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi (Suatu Tinjauan Filologis). Skripsi: Jurusan Sastra Dhaerah Fakultas Sastra lan Seni Rupa Pawiyatan Luhur Sebelas Maret Surakarta Hadiningrat.

Alêsan panalitèn punika (1) kathahipun varian kapanggih ing Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi pramila kêdah dipuntêliti kanthi filologis. (2) Wontênipun panganggean êmpon-êmpon ing Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi.

Prêkawis ingkang dipunrêmbag wontên panalitèn punika (1) kados pundi

suntingan teks Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi? (2) Jinis tanêman jamu tradisional

punapa kemawon ingkang kalêbêt êmpon-êmpon wontên ing Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi?

Ancasing panalitèn punika (1) angaturakên suntingan teks Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi ingkang rêsik saking kalêpatan saha ingkang cakêt kaliyan babonipun. (2) Angandharakên jinising tanêman jamu tradisional ingkang kalêbêt êmpon-êmpon wontên ing Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi.

Wujud panalitènipun inggih punika panalitèn filologis ingkang sipatipun

deskriptif kualitatif. Jinis panalitènipun inggih punika panalitèn pustaka (library

research). Sumbêr dhatanipun Perpustakaan Sana Pustaka ingkang ngrimat Sêrat

Buk Jampi-Jampi Jawi. Dhatanipun awujud naskah Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi ingkang lêbêtipun wontên teks Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi. Teknik pangêmpalan dhata ingkang dipun-ginakakên wontên panalitèn punika teknik studi pustaka lan

teknik fotografi. Teknik analisis dhata kanthi filologis lan analisis isi. Metode

edisistandar kaginakakên kangge analisis data kanthi filologis. Analisis isi kanthi

angandharakên jinising tanêman jamu tradisional ingkang kalêbêt êmpon-êmpon wontên ing Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi.

Dudutan wontên panalitèn punika: (1) Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi kagunganipun Perpustakaan Sasana Pustaka Keraton Surakarta kanthi angka katalog KS 617 550 Ra kasêbut naskah tunggal. Sasampunipun dipuntêliti kanthi

filologis, suntingan teks Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi wontên ing panalitènpunika

(17)

commit to user

xvii

ABSTRACT

Ilafi Brahwetagrani. C010727. 2011. Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi (Suatu Tinjauan Filologis). Thesis: Regional Literature Department of Literature and Fine Arts Faculty of the University Eleven March Surakarta.

The reason in this study are (1) There are many variants on manuscript of

Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi that have to study by philological research. (2) There

are many êmpon-êmpon use in manuscript of Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi. Problems discussed in this study are (1) how Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi‟s

text edits are clean of errors and near-native? (2) What type of traditional medicinal plants are included êmpon-êmpon on the manuscript of Sêrat Buk

Jampi-Jampi Jawi?

The purpose of this study were (1) presenting a clean Sêrat Buk

Jampi-Jampi Jawi‟s text edits from errors and near-native. (2) Describe the types of

traditional medicinal plants including êmpon-êmpon on the manuscript of Sêrat

Buk Jampi-Jampi Jawi.

Form of philological research is research that is descriptive qualitative. This type of research is the kind of research library (library research). Source of research data is Sasana Pustaka library, Surakarta Palace which saves the manuscript of Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi. Data is manuscript of Sêrat Buk

Jampi-Jampi Jawi which has text of Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi.Collecting data

in this study using literature techniques and photographic techniques. Techniques of data analysis in this research that a philological analysis of data and content analysis. Philological analysis of data using standard edition. The content analysis conducted by describing traditional medicinal plants including êmpon-êmpon on the manuscript of Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi.

Based on the results of data analysis we can conclude several things: (1)

Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi, collection of Sasana Pustaka Library with catalog

numbered Kraton Surakarta KS 617 550 Ra is a single script. After going through the workings of philology, Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi in this study is a clean text of the error and can be justified scientifically. (2) There are 33 types traditional medicinal plants including êmpon-êmpon on the manuscript of Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi: (a) Bêngle, (b) Dringo, (c) Jahe/jae, (d) Jahe merah/jae

abrit, (e) Kapulaga lokal/kapulaga, (f) Kencur, (g) Kunci kuning, (h) Kunci pêpêt,

(i) Kunci putih/kunci pêthak, (j) Kunyit jantan/kunir jalêr, (k) Kunyit putih/kunir

pêthak, (l) Kunyit/temu kuning/kunir, (m) Lempuyang, (n) Lempuyang

merah/lêmpuyang brit, (o) Lempuyang pahit/lêmpuyang êmprit/lêmpuyang prit, (p) Lempuyang wangi, (q) Lengkuas merah/laos abrit, (r) Lengkuas/laos, (s)

Pacing, (t) Sunthi, (u) Temu, (v) Temu badhur, (w) Temu bayi/têmu

blènyèh/glènyèh, (x) Temu giring, (y) Temu guroh/têmu poh, (z) Temu

hitam/têmu cêmêng, (aa) Temu kunci/kunci, (bb) Temu lawak, (cc) Temu pure, (dd)Temu putih/têmu pêthak, (ee) Temu tis/pathi, (ff) Temu uwos, dan (gg) Temu

(18)

commit to user 1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Peninggalan sejarah suatu bangsa dapat memberikan kejelasan tentang

sejarah dan budaya. Peninggalan sejarah dan budaya terdiri dari berbagai macam,

yaitu peninggalan yang berupa bangunan ataupun reruntuhan, dan kesaksian

tertulis. Peninggalan yang berupa kesaksian tertulis lebih banyak memberikan

informasi untuk kepentingan sejarah dan kebudayaan. Salah satu kesaksian tertulis

adalah naskah, sehingga naskah lama penting untuk dipelajari. Melalui naskah

dapat dimengerti cara berpikir bangsa yang menyusunnya. Berarti isi suatu naskah

bisa meliputi aspek kehidupan budaya suatu bangsa, mencakup bidang-bidang

seperti agama, sejarah, filsafat, mistik, ekonomi, sastra, astronomi, ajaran moral,

bangunan, obat-obatan, politik, sosial, budaya, serta hal-hal lain yang menyangkut

keperluan hidup bangsa secara menyeluruh. Dengan demikian peranan naskah

sangat penting pada masa itu karena naskah masih diacu dalam kehidupan mereka

(Haryati Soebadio, 1991:1).

Naskah dalam pengertian filologis adalah tulisan tangan yang menyimpan

berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa

lampau (Siti Baroroh Baried, 1983:54). Pengertian leksikal adalah 1. Karangan

yang masih ditulis dengan tangan; 2. Karangan seseorang yang belum diterbitkan;

3. Bahan-bahan berita yang siap untuk diset; 4. Rancangan (KBBI, 2005:776).

Haryati Soebadio (1991:3) juga menambahkan bahwa dokumen tertulis atau

(19)

commit to user

naskah lama tidak bisa lepas dengan bahasa yang digunakan pada masa itu.

Bahasa hanya dapat diartikan dalam konteks dan latar belakang kebudayaan serta

pikiran pihak yang membuatnya karena setiap bahasa selalu berkembang sesuai

jamannya. Dengan demikian, bisa menguasai suatu bahasa belum cukup untuk

menangkap maksud yang terkandung dalam teks suatu naskah. Untuk

mempelajari naskah diperlukan pengetahuan tentang kode bahasa, kode sastra,

dan kode budaya masyarakat yang melahirkan naskah tersebut.

Pada jaman dahulu belum dikenal mesin ketik atau bahkan mesin fotokopi,

maka untuk memiliki suatu naskah, orang harus menyalinnya dengan cara menulis

tangan. Hal itu dalam istilah filologi disebut dengan istilah tradisi penyalinan

naskah, sehingga suatu teks bisa saja terdapat dalam dua naskah atau lebih.

Naskah-naskah inilah yang umumnya banyak terdapat perbedaan. Adapun

perbedaan tersebut sering disebut dengan istilah variasi teks. Munculnya variasi

tersebut akibat dari penyalinan naskah. Frekuensi tinggi penyalinan menunjukkan

bahwa naskah itu sangat digemari, sedangkan sebaliknya merupakan petunjuk

kurang populernya suatu naskah (Siti Baroroh Baried, 1983: 95).

Perlu adanya penelitian dan penyuntingan mengenai naskah yang

sebaik-baiknya agar dapat digunakan sebagai dasar penelitian lebih lanjut atau

untuk penelitian bidang lain yang berhubungan dengan naskah, yaitu

menggunakan teknik telaah atau cara yang tepat berupa penelitian filologi.

Tanpa penelitian filologi, penyuntingan naskah sukar dipertanggungjawabkan

secara ilmiah (Edwar Djamaris, 2002: 1). Tugas filolog adalah membuat teks

terbaca dan dimengerti yaitu dengan cara menyajikan dan menafsirkan

(20)

commit to user

adalah untuk menentukan variasi teks yang asli, yang orisinal (2003: 8). Ilmu ini

lebih dikenal dengan filologi tradisional. Sedangkan menurut Haryati Soebadio

tujuan utama penelitian filologi adalah untuk memahami dan menjelaskan isi

naskah sesuai atau sedekat mungkin dengan makna yang dimaksud dalam

penulisan aslinya (1991:9).

Menurut Nancy K. Florida (1996:47-49), naskah diklasifikasikan atas

beberapa jenis, yaitu: (1) sejarah, di dalamnya termasuk kronologis, dinasti, dan

silsilah; (2) adat istiadat keraton, perayaan, serta arsip Keraton Surakarta dan

Yogyakarta; (3) arsitektur dan keris; (4) hukum; (5) sejarah pustaka raja dalam

bentuk prosa dan macapat; (6) roman sejarah dalam bentuk dongeng panji; (7)

ramalan; (8) kesusastraan yang bersifat mendidik, termasuk di dalamnya etika dan

pendidikan Islam; (9) wayang; (10) cerita wayang; (11) dongeng sastra klasik

yang berisi kakawin dan terjemahan Jawa modern; (12) syair puisi; (13) roman

Islam berisi cerita menak; (14) ajaran Islam yang berisi suluk; (15) sejarah Islam;

(16) musik dan tari; (17) linguistik dan kesusastraan; (18) mistik kejawen; (19)

pengetahuan adat istiadat Jawa, yang di dalamnya terdiri dari penanggalan,

perhitungan waktu, hipologi, dan obat-obatan; (20) lain-lain.

Berdasarkan pengklasifikasian dari Nancy K. Florida naskah yang diangkat

menjadi bahan kajian ini adalah naskah jenis pengetahuan adat istiadat Jawa

(klasifikasi nomor 19) yaitu naskah obat-obatan. Selanjutnya dilakukan

inventarisasi naskah dengan membaca beberapa katalog, yaitu:

1. Deskriptive Catalogus of the Javanese manuscripts and Printed Book in

the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta ( Girardet – Sutanto,

(21)

commit to user

2. Javanese Language Manuscrips of Surakarta Central Java A Preliminary

Descriptive Catalogus Level I and II ( Nancy K. Florida, 1996 )

3. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Sonobudoyo

Yogyakarta (T.E. Behrend, 1990)

4. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-A dan B Fakultas Sastra

Universitas Indonesia (T. E. Behrend dan Titik Pujiastuti,1997)

5. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Perpustakaan Nasional

Republik Indonesia (T.E. Behrend, 1998 )

6. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 2 Keraton Yogyakarta

(Jennifer Lindsay, R. M. Soetanto, dan Alan Feinstein, 1994)

7. Daftar Naskah Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta (Nancy

K. Florida, 1981)

Naskah obat-obatan di dalam katolog di atas yaitu Kagungan Dalem Buku

Racikan Jampi-Jampi Jawi Jilid II, Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi, Kawruh Bab

Jampi Jawi, Bab Lêlara Bèri-Bèri, Bab Lêlara Kolerah, Primbon Jampi Jawi Jilid

1, 2, 4, Kagungan Dalêm Sêrat Racikan Borèh saha Parêm Yasan Dalêm Ingkang

Sinuhun Kaping IX, Resep Jampi-Jampi Jawi, Usada Keling, Tenung Saptawara.

Banyaknya judul naskah obat-obatan dipilihlah naskah yang berjudul Sêrat Buk

Jampi-Jampi Jawi (selanjutnya disingkat SBJJJ) sebagai objek penelitian ini.

SBJJJ dipilih sebagai objek penelitian dilatarbelakangi oleh beberapa hal,

yaitu:

Pertama, dari segi filologis teks SBJJJ ini ditemukan banyak sekali varian

penulisan, terdapat ketidakkonsistenan penulisan kata oleh penulis. Selain itu

(22)

commit to user

urutan resep tanpa mengubah makna tekstual. Ada pula penulisan resep dengan

nomor resep yang sama, tetapi dengan judul resep yang berbeda dan bahan

ramuan yang berbeda. Hal ini yang mendorong peneliti untuk mengkaji naskah

ini secara filologis untuk menghasilkan sebuah teks yang diperkirakan paling

mendekati aslinya dan menyediakan terbitan naskah yang bersih dari kesalahan

dan mudah dipahami oleh pembaca.

Kedua, akhir-akhir ini, tampak adanya gaya hidup sehat pada masyarakat untuk

menggunakan produk yang berasal dari alam. Telah banyak jamu yang telah

diteliti secara ilmiah untuk mengetahui kandungan aktif di dalamnya, salah

satunya êmpon-êmpon sehingga peneliti tertarik untuk meneliti SBJJJ yang

di dalamnya terdapat tanaman obat yang termasuk kelompok êmpon-êmpon.

Selain itu SBJJJ juga belum pernah diteliti secara filologis, meskipun

sudah terdapat alih aksaranya yang dialih aksarakan oleh Sri Sulistyawati pada

bulan Juni 1985 pada proyek Ford Foundation.

Menurut Pigeaud, naskah mengenai obat-obatan pada umumnya

mengandung petunjuk mengenai ramuan obat-obatan tradisional yang berdasarkan

tumbuh-tumbuhan (jamu), tetapi terdapat juga naskah mengenai obat-obatan yang

memberi petunjuk mengenai cara pengobatan lewat jalan mistik, meditasi, yoga,

dan sebagainya (dalam Haryati Soebadio, 1991:12). Naskah SBJJJ berisi tentang

berbagai macam ramuan jamu untuk beberapa keluhan penyakit bagi manusia dan

hewan, beberapa makanan dan tindakan yang merupakan pantangan untuk suatu

penyakit, serta beberapa ramuan lainnya (untuk menjerat hewan dan menghindari

(23)

commit to user

Naskah SBJJJ merupakan naskah yang mengalami proses penyalinan.

Naskah salinan dari SBJJJ adalah Kawruh Bab Jampi Jawi (selanjutnya disingkat

KBJJ). Kedua naskah itu merupakan koleksi Perpustakaan Sasana Pustaka

Keraton Surakarta. Berikut adalah perbandingan SBJJJ dengan KBJJ:

SBJJJ

1. Penemuan judul SBJJJ berdasarkan pada lembar awal halaman sebelum

masuk ke dalam isi naskah karena tidak tercantum judul pada halaman

depan naskah (cover).

Grafik 1. CoverSBJJJ

Grafik 2. Penemuan Judul

Kantor Sana Pustaka nampèni Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi sangking Pangagênging Parentah Karaton kadhawuhan ngrimati sarta mingit.

Bêsar Jimakir, angka 1858.

Riya Sastra Atmaja.

Kantor Sana Pustaka menerima buku Sêrat Buk Jampi-Jampi Jawi dari petinggi pemerintah keraton untuk berkewajiban merawat serta menjaganya.

Bulan Bêsar, tahun Jimakir 1858.

Riya Sastra Atmaja.

2. SBJJJ berbentuk prosa berjumlah 334 halaman dengan 782 resep jamu

(24)

commit to user

untuk beberapa keluhan penyakit bagi manusia dan hewan, beberapa

makanan dan tindakan yang merupakan pantangan untuk suatu penyakit,

serta beberapa ramuan lainnya (untuk menjerat hewan dan menghindari

sengatan lebah). Terdapat halaman yang tidak tercantumkan pada teks

SBJJJ, tetapi masih dalam kesatuan urutan resep yaitu halaman 382, 386,

388, 455, dan 461. Hal tersebut tidak membuat makna tekstualnya

berubah. Hal ini disinyalir penulis kurang teliti dalam memberi

penomoran.

…toya jê-/385/ram 3, bung glonggong satunggal kagodhog, lajêng dipununjukakên.

Angka 1042 Jampi tiyang mutah rah.

Oyot pisang kluthuk, oyot kara pêthak sami nyatêkêm, brambang, lajêng dipundhêplok, kaunjukakên sabên enjing.

Angka 1043 Panunggilanipun jampi tiyang mutah rah.

Godhong waru nèm, godhong bayêm siti, godhong lathi sami 3 punggêl, kapipis kang lêmbat, kaunjukna wanci enjing.

Angka 1044 Jampi tiyang sakit cika, inggih punika wawratan botên kèndêl-kèndêl.

Arèng jati sadariji, karkêlak bok manawi punika têmêndhil marmot 3, agêl satungal dariji, sapu duk ugi sadariji, kropak kaliyan tutup saji 10 dariji, yatra slaka sakêthip, gobog satunggal, mungsi, kêtumbar sami 5 saga, trawas 3 lêmbar, jintên cêmêng 5 saga, jintên pêthak 4 saga, mêsoyi panjangipun sadariji, rasuk angin 3 saga, kêdhawung 3 kabakar, botor 7, bêton nangka blonyong satunggal, jae, kunci, lêmpuyang sami 3 iris, klêmbak 5 saga, pucuk 3 saga, dipun-godhog kaliyan toya ½ siwur, lajêng kaunjuk kados ngunjuk wedang.

/…/ /387/ Angka 1045 Jampi tiyang sakit dipuntêdha sambang…

…air jeruk 3, rebung glonggong satu direbus, lalu diminumkan. Nomor 1042 Jamu orang muntah darah.

Akar pisang kluthuk, akar kara putih masing-masing satu genggam, bawang merah, lalu di-dhêplok, diminumkan setiap pagi.

Nomor 1043 (jamu) yang lain (untuk) orang muntah darah.

Daun waru muda, daun bayam tanah, daun lathi masing-masing 3 tangkai,

di-pipis sampai lumat, diminum waktu pagi.

Nomor 1044 Jamu orang sakit cika, inggih punika BAB tidak berhenti-berhenti.

Arang jati satu jari, karkêlak mungkin (disebut) kotoran marmut 3, agêl satu jari, sapu ijuk juga satu jari, kropak dengan tutup saji 10 jari, uang slaka satu

kêthip, gobog satu, mungsi, ketumbar masing-masing 5 saga, trawas 3 lembar, jintan hitam 5 saga, jintan putih4 saga, mêsoyi panjangnya satu jari,

rasuk angin 3 saga, kêdhawung 3 dibakar, botor/kecipir 7, biji nangka

(25)

commit to user

pucuk 3 saga, direbus dengan air ½ siwur, lalu diminum seperti minum

wedang.

Nomor 1045 Jamu orang sakit sambang…

Terdapat pula penulisan nomor resep ganda, yaitu resep ke-1352 ditulis

dua kali, tetapi dengan resep yang berbeda. Resep ke-1380 juga ditulis dua

kali, tetapi dengan resep yang berbeda. Untuk membedakannya, penulisan

resep pada transliterasi menjadi 1352a, 1352b serta 1380a, 1380b.

Angka 1352a Yèn sagawon nêdha racun.

Godhong jampanah kapipis ingkang lêmbat toyanipun kaombèkakên. Angka 1352b Jampi tiyang nêdha racun.

Godhong salamaki wawrat 3 dhuwit dipunbubuk, dipunwor kaliyan pêrêsan lêmbu. Katêdha ing wanci enjing, 3 kenjing mantun.

Nomor 1352a Jika anjing keracunan.

Daun jampanah di-pipis sampai lumat, airnya diminumkan. Nomor 1352b Jamu orang keracunan.

Daun salamaki 3 dhuwit dibuat serbuk, dicampur dengan perasan sapi. dimakan pada waktu pagi, selama 3 pagi sembuh.

3. Tidak terdapat keterangan nama pengarang.

4. Jenis huruf SBJJJ adalah ngêtumbar (bulat-bulat) miring.

5. Gaya penulisan resep ditulis dengan bentuk paragraf, tiap resep diawali dengan kata angka…’nomor…’ diikuti judul resep, setelah itu di bawahnya tertulis ramuan jamu apa saja yang dipakai.

Grafik 3. Gaya Penulisan Resep Jamu SBJJJ

Angka 955, Jampi kêmuning, kangge tiyang èstri nèm supados anyaèkakên badan. Godhong kêmuning satêkêm, têmu tuwin kunci sami 3 iji, jintên pêthak 5 saga, mêsoyi

panjangipun sadriji…

Nomor 955 Jamu kemuning: untuk wanita muda agar dapat menyehatkan badan.

(26)

commit to user

6. SBJJJ ditulis pada Besar Jimakir 1858 (AJ), terdapat pada halaman

pertama sebelum masuk esensi ke naskah,atau sekitar Desember 1927

(AD)

Grafik 4. Kolofon Naskah SBJJJ

Bêsar Jimakirangka 1858. Bulan Bêsar tahun Jimakir 1858

7. Penulisan halaman ditulis bolak-balik.

8. Keadaan naskah agak rapuh, mengingat usia naskah yang cukup tua serta

bahan kertas yang tua yaitu kertas ber-watermark qonqueror.

KBJJ

1. Penemuan judul KBJJ tercantum pada cover depan naskah. Grafik 5. CoverKBJJ

Kawruh Bab Jampi Jawi

2. KBJJ hanya terdapat 15 halaman dengan 52 resep jamu (52 paragraf),

dengan urutan resep jamu sama yang terdapat pada SBJJJ, selebihnya

berupa lembaran halaman kosong.

3. Tidak terdapat keterangan nama pengarang.

4. Jenis huruf KBJJ adalah ngêtumbar (bulat-bulat) miring.

5. Gaya penulisan resep ditulis dalam bentuk paragraf, tidak ada kata

(27)

commit to user

ditulis dengan angka Jawa di tepi resep diikuti judul resep, setelah itu

di bawahnya tertulis ramuan jamu apa saja yang dipakai.

Grafik 6. Gaya Penulisan Resep KBJJ

4. Jampi gêndhis ganthi kangge tiyang nèm.

Kajêng garu ramês 7 saga, klêmbak sasaga, sari kuning sasaga, jêbug 3 iris, pala jalêr satunggal, kajêng kasturi, kajêng garu sami wawrat 7 saga, godhong kêmuning satêkêm, kajêng sêcang 7

saga…

4. Jamu gêndhisganthi untuk remaja.

Kayu garu ramês 7 saga, klêmbak 1 saga, jêbug 3 iris, pala jantan 1, kayu kasturi, kayu garu masing-masing 7 saga, daun kemuning segenggam, kayu secang 7 saga…

6. Tidak dicantumkan waktu penyalinannya.

7. Penulisan halaman ditulis bolak-balik.

8. Keadaan naskah masih lumayan baik karena bahan kertas yang digunakan

cukup baru, yaitu kertas folio bergaris.

Proses penyalinan KBJJ tidak dilanjutkan lagi, berhenti pada halaman 15.

Terdapat penulisan resep dengan gaya penulisan seperti SBJJJ yaitu

penggunaan kata angka… ‘nomor…’ untuk mengawali tiap resep. Terlihat

juga seakan-akan penyalinan belum selesai dikerjakan jika melihat sisa dari

halaman kosong yang ada. Teks ini ditulis bolak-balik, sehingga pada halaman

ini seperti masih ada tulisan lagi di balik halaman ini, tetapi itu hanyalah tinta

penulisan halaman sebelumnya yang menempel pada halaman ini seolah-olah

masih terdapat lagi halaman di belakangnya.

(28)

commit to user

Grafik 7. Proses Penyalinan KBJJ yang tidak Dilanjutkan

angka 1007, tapêlipun. Nomor 1007, tapêl-nya.

Berikut digambarkan perbandingan dalam naskah SBJJJ dan KBJJ dalam

bentuk tabel.

Tabel 1. Perbandingan Naskah SBJJJ dan KBJJ

No. Perbandingan SBJJJ KBJJ

1. Keterangan judul

Pada lembar awal halaman sebelum masuk ke dalam isi

naskah.

Tercantum pada

cover depan naskah. 2. Bentuk Gancaran/Prosa. Gancaran /Prosa.

3. Jumlah

halaman/paragraf 334 /780 15/52

4. Keterangan penulis Tidak ada. Tidak ada.

5. Huruf Ngêtumbar

(bulat-bulat) miring.

Ngêtumbar (bulat-bulat) miring.

6. Gaya penulisan resep Diawali dengan kata

angka…‘nomor…’

Tidak ada kata untuk menyebutkan urutan resep, nomor resep ditulis dengan angka

Jawa di tepi resep. 7. penulisan/penyalinan Keterangan waktu Ada. Tidak ada. 8. Penulisan halaman Ditulis bolak-balik. Ditulis bolak-balik. 9. Keadaan naskah Agak rapuh. Masih lumayan baik.

Berdasarkan tabel tersebut naskah KBJJ merupakan fragmen, sehingga

kedua naskah ini tidak bisa dibandingkan menggunakan metode penyuntingan

(29)

commit to user

naskah yang tidak lengkap dan tidak utuh digugurkan dan tidak perlu lagi

dilibatkan dalam penelitian selanjutnya untuk menentukan naskah yang asli atau

berwibawa (2002:13). Naskah KBJJ dieliminir dan dijadikan sebagai data

sekunder.

SBJJJ ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwana X merupakan naskah

lanjutan dari Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi Jawi Jilid II (selanjutnya

disingkat KDBRJJ II) yang telah diteliti secara filologis oleh Eko Widiyanto

(2002). Hal ini ditandai dengan adanya tulisan tamat ‘tamat’ pada halaman 617

SBJJJ yang menandakan akhir dari semua catatan resep SBJJJ. Setelah ditandai

dengan kata tamat‘tamat’ yang menandakan berakhirnya penulisan semua catatan

resep, terdapat pula tabel yang berisikan 782 judul resep yang ada dalam SBJJJ

(mulai nomor 955 s/d 1734). Tidak hanya tabel yang berisi judul resep yang ada

pada SBJJJ saja, tetapi juga 454 judul resep KDBRJJ II (mulai nomor 501 s/d

954) dan 500 resep lagi sebelum KDBRJJ II (mulai nomor 1 s/d 500 ). Hal ini

mengindikasikan bahwa resep-resep yang tertulis ini merupakan sebuah rangkaian

kumpulan resep jamu yang dibuat pada masa Paku Buwana X yang dijadikan

dalam 3 buku, dengan rincian:

Buku pertama: berisi 500 judul resep mulai resep nomor 1 s/d 500. Setelah

melalui tahap pelacakan, buku pertama ini tidak ditemukan di berbagai tempat

koleksi penyimpanan naskah.

Buku kedua: berjudul KDBRJJ II berisi 454 judul resep mulai nomor 501 s/d

954, yang telah diteliti secara filologis oleh Eko Widiyanto (2002). Buku ini

(30)

commit to user

Buku ketiga: berjudul SBJJJ berisi dari 782 judul resep mulai resep nomor 955

s/d 1734, yang saat ini dalam tahap penelitian penulis. Buku ini juga tersimpan di

Perpustakaan Kasunanan Surakarta.

Berdasarkan indikasi tersebut, dapat diketahui kedudukan SBJJJ berada pada

buku urutan ketiga.

Terdapat dua alasan yang melatarbelakangi SBJJJ dijadikan objek

penelitian. Dari segi filologis dan dari segi isi. Pertama, berdasarkan segi filologis,

agar naskah tersebut dapat terbaca dan terpahami oleh pembaca. Selain itu

terdapat beberapa varian pada naskah tersebut.

Varian yang ditemukan yaitu:

a. Lakuna: bagian yang terlampaui/kelewatan, baik huruf, suku kata, kata,

kelompok kata ataupun kalimat.

Lakuna Huruf.

Grafik 8. Lakuna Huruf

Halaman 514, resep ke-1416, baris 17. Tertulis jampi abu tanpa jalaran. Seharusnya tertulis jampi abuh tanpa jalaran (jamu bengkak tanpa sebab).

Lakuna Suku Kata

Grafik 9. Lakuna Suku Kata

Halaman 351, resep ke-972, baris 11. tertulis angka 972 Manawi sampun santun din ngangge... Seharusnya tertulis angka 972 Manawi sampun santun dintên ngangge…(nomor 972 Jika sudah berganti hari memakai...).

b. Adisi : penambahan baik huruf, suku kata, kata, kelompok kata ataupun

(31)

commit to user Adisi Huruf

Grafik 10. Adisi Huruf

Halaman 443, resep ke-1169, baris 2. Tertulis kauwur-uwurna kuku kang tatuh Seharusnya tertulis kauwur-uwurna kuku kang tatu( ditaburkan kuku yang luka…).

Adisi Suku Kata

Grafik 11. Adisi Suku Kata

Halaman 353, resep ke-975, baris 15. tertulis …cêndhana jênggi, tuwinwin widara… seharusnya tertulis ... … cêndhana jênggi, tuwin widara...(cendana jênggi, dan bidara…).

AdisiKata

Grafik 12. Adisi Kata

Halaman 362, resep ke-999, baris 18. tertulis …7 saga. Sadaya dipun garingakên. Lajêng kadhêplok

dadosdadossatunggal. Yèn badhe jampi mêndhêta saja… seharusnya tertulis …7 saga. Sadaya dipun

garingakên. Lajêng kadhêplok dadossatunggal. Yèn badhe jampi mêndhêta saja…(…7 saga. Semua dikeringkan lalu di-dhêplok jadi satu. Jika akan memakai jamu ambillah sa…).

Adisi Kalimat

Grafik 13. Adisi Kalimat

Halaman 494, resep ke-1346, baris 3. Tertulis …upa. Dipunkumbah lajêng kapipis kang lêmbat lajêng kapipis kang lêmbat nuntên dipuntapêlakên ing suku ingkang tatu wau. Sadintên sa… Seharusnya

tertulis…upa. Dipunkumbah lajêng kapipis kang lêmbat nuntên dipuntapêlakên ing suku ingkang tatu wau. Sadintên sa… (…butir nasi. Dicuci lalu di-pipis sampai lumat kemudian di-tapêl-kan pada kaki

yang luka tadi. Sehari se…)

c. Hiperkorek: perubahan ejaan karena pergeseran lafal.

Grafik 14. Hiperkorek

(32)

commit to user

d. Substitusi: pergantian huruf, kata, atau kalimat pada kalimat.

Grafik 15. Substitusi

Halaman 449, resep ke-1183, baris 3. Tertulis Jampi suku kang karaos bêgêl tuwin li… Seharusnya tertulis Jampi suku kang karaos pêgêl tuwin li…(Jamu kaki pegal dan li…).

e. Transposisi: perpindahan letak huruf, kata, atau kalimat pada teks.

Grafik 16. Transposisi

Halaman 528, resep ke-1466, baris 1. Tertulis … dados toya dêmila kaunjuk sa... Seharusnya tertulis … dados toya dêlima kaunjuk sa...(… menjadi air delima sa…).

f. Ketidakkonsistenan penulis.

Grafik 17. Ketidakkonsistenan Penulisan Kata sagêd dengan sagêt.

Halaman 432, resep ke-1139, baris 16 Halaman 355, resep ke-981, baris 21

Sagêdipun lairing ja…(bisa lair ja-) Yèn tiyang botên sagêt tilêm(Jika orang tidak bisa tidur).

Contoh-contoh di atas adalah sedikit dari beberapa varian yang terdapat

pada SBJJJ. Hal ini yang mendorong peneliti untuk mengkaji naskah ini secara

filologis untuk menghasilkan sebuah teks yang diperkirakan paling mendekati

aslinya dan menyediakan terbitan naskah yang bersih dari kesalahan dan mudah

dipahami oleh pembaca.

Kedua, berdasarkan segi isi. Dalam hal ini hanya akan dideskripsikan jenis

tanaman obat tradisional yang termasuk êmpon-êmpon pada naskah SBJJJ.

Êmpon-êmpon dipilih karena kepopulerannya di kalangan masyarakat. Sebagian

(33)

commit to user

sering dimanfaatkan untuk bumbu dapur. Selain itu, êmpon-êmpon juga mudah

didapat karena banyak ditemui di sejumlah pasar tradisional serta cara dan media

penanamannya yang cukup mudah.

Naskah ini berisi tentang berbagai macam resep jamu untuk beberapa

keluhan penyakit bagi manusia dan hewan, beberapa makanan dan tindakan yang

merupakan pantangan untuk suatu penyakit, serta beberapa ramuan lainnya

(untuk menjerat hewan dan menghindari sengatan lebah). Dapat diketahui bahwa

jaman dulu masyarakat pada masa itu sudah mengenal ilmu kedokteran, dalam hal

ini kedokteran tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pengobatan

tradisional pada umumnya lebih aman daripada obat-obatan modern karena obat

tradisional tidak begitu keras (Werner, 2010:3).

Dikenal pula beberapa metode tradisional yang sampai sekarang masih

digunakan oleh masyarakat, seperti:

Meriang dengan kerikan

Kepala pusing dengan memakai pilis

Diare dengan meminum rebusan daun jambu biji

Tidak ada selera makan dengan meminum rebusan bratawali, temu lawak

Cara-cara atau metode pengobatan yang digunakan sangat bervariasi sesuai

dengan kondisi sosial budaya setempat yang tentunya sesuai dan diterima oleh

masyarakat pada masa itu (Sudarsono, Harini, Marsono, 2003:1).

Akhir-akhir ini, tampak adanya gaya hidup sehat pada masyarakat untuk

menggunakan produk yang berasal dari alam. Selain harganya lebih murah,

ketersedian bahannya pun cukup banyak di sekitar kita. Kini telah banyak

(34)

commit to user

aktif di dalamnya. Dalam hal ini obat tradisional yang berjenis êmpon-êmpon,

misalnya saja temu lawak (Curcuma xanthorthiza) yang digunakan sebagai jamu

untuk menambah nafsu makan pada anak-anak ternyata dari pengkajian biologik,

farmakologik diketahui bahwa unsur-unsur di dalamnya dapat mempengaruhi

kerja empedu yang kurang baik dapat pula berefek sebagai anti radang atau anti

oksidan (Sudarsono, Harini, Marsono ,2003:5). Dapat dikatakan bahwa telah ada

bukti pemanfaatan dan khasiat obat tradisional yang telah teruji sehingga dapat

dilakukan upaya pengembangannya lebih lanjut. Sudarsono, Harini, Marsono juga

menambahkan bahwa obat-obatan tradisional pada perkembangannya saat ini juga

dapat dituliskan dalam resep dokter atau disebut fitofarmaka (2003:2).

Saat ini sudah banyak produsen-produsen jamu yang sudah menggunakan

teknik dan mesin yang modern. Misalnya saja PT. Mustika Ratu Tbk. Perusahaan

ini didirikan tahun 1970 oleh Ibu BRA. Mooryati Soedibyo. Beliau adalah cucu

dari Sri Susuhunan Paku Buwana X Keraton Surakarta. Tahun 1973, hobi minum

jamu Mooryati Soedibyo yang dilakukan sejak masih belia, akhirnya

dikembangkannya sebagai usaha. Ramuan jamu resep Keraton Surakarta yang

semula diberikan kepada teman-temannya, akhirnya berubah menjadi bisnis.

Produknya mulai diekspor ke kurang lebih 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda,

Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia dan Brunei. Produknya juga

berkembang menjadi 800 buah produk, mulai dari balita, umum, super, dan

premium. Produk-produk jamu Mustika Ratu dibuat dari bahan-bahan alami,

seperti kunir kunyit’ yang digunakan untuk ramuan lulur, bengkoang yang

digunakan sebagai bahan kosmetik, dan masih banyak lagi. Hampir seluruh

(35)

commit to user

diwariskan turun menurun. Kini produk-produk ini dibuat dengan menggunakan

teknik dan mesin modern yang memenuhi standar ketat kualitas dan keamanan

(http://fman230.wordpress.com/assignments/task-1-2/).

Menurut uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa SBJJJ perlu untuk

diteliti baik dikaji secara filologi maupun dikaji secara isi. Kajian filologis

digunakan untuk membahas permasalahan yang ada dalam naskah, sedangkan

kajian isi digunakan untuk mendeskripsikan jenis tanaman obat tradisional yang

termasuk êmpon-êmpon pada naskah SBJJJ.

B.

Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini menitikberatkan pada dua kajian utama,

yakni kajian filologis dan kajian isi. Kajian filologis digunakan untuk membahas

permasalahan yang ada dalam SBJJJ, yaitu varian-varian yang ditemukan

sehingga diperoleh suntingan teks yang bersih dari kesalahan. Kajian isi berguna

untuk mengungkapkan isi yang terkandung dalam SBJJJ. Kajian isi dalam

penelitian ini hanya akan berusaha untuk mendeskripsikan jenis tanaman obat

tradisional yang termasuk êmpon-êmpon pada naskah SBJJJ.

C.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah suntingan teks SBJJJ yang bersih dari kesalahan dan yang

mendekati asli?

2. Jenis tanaman obat tradisional apa sajakah yang termasuk êmpon-êmpon pada

(36)

commit to user

D.

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Menyajikan suntingan teks SBJJJ yang bersih dari kesalahan dan yang

mendekati asli.

2. Mendeskripsikan jenis tanaman obat tradisional khususnya jenis

êmpon-êmpon pada naskah SBJJJ.

E.

Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

1. Menyajikan dan menambah perbendaharaan penelitian naskah secara

filologis.

2. Membantu penelitian selanjutnya jika SBJJJ diteliti lebih lanjut melalui

berbagai disiplin ilmu.

ManfaatPraktis

1. Menyelamatkan naskah SBJJJ dari kerusakan dan kepunahan.

2. Menyajikan terjemahan SBJJJ ke dalam bahasa Indonesia supaya teks ini

dapat dibaca dan dimengerti oleh khalayak umum. Hal ini mengingat

kandungan isi teksnya sangat bermanfaat dalam hal pengobatan dan

penyembuhan.

3. Memberikan pengetahuan tentang deskripsi jenis tanaman obat tradisional

(37)

commit to user

F.

Tinjauan Pustaka

Berikut adalah beberapa penelitian terkait dengan jamu yaitu:

Skripsi Eko Widiyanto (2002) dengan judul Kagungan Dalem Buku

Racikan Jampi Jilid II (Kajian Filologis) berisi 454 judul resep jampi ‘jamu’

mulai nomor 501 s/d 954.

Transliterasi naskah Kawruh bab Jampi-Jampi Jawi oleh Sri Sulistyawati

pada Juni 1985, tetapi transliterasi ini tidak dilanjutkan dengan penelitian secara

filologis.

Atlas Tumbuhan Indonesia Jilid I karangan dr. Setiawan Dalimartha, berisi

tentang nama tanaman obat dilengkapi dengan nama Latin, uraian tanaman, sifat

dan khasiat, kandungan kimia, bagian yang digunakan, indikasi, cara pemakaian,

efek farmakologis dan hasil penelitian, contoh pemakaian, dan sedikit catatan

mengenai tanaman tersebut.

Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat Indonesia (Etnofitomedika) Jilid I

karangan Harini M. Sangat, Evrizal A. M. Zuhud, Ellyn K. Damayanti, berisi

tentang istilah nama penyakit serta nama tanaman obat menurut daerah-daerah di

Indonesia. Dilengkapi pula dengan nama Latin tanaman obat dan disebutkan

(38)

commit to user

G.

Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, batasan masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan

sistematika penulisan.

BAB II Kajian Teoritis

Bab ini menguraikan pengertian filologi, objek penelitian filologi, cara

kerja penelitan filologi, dan teori-teori yang berhubungan dengan isi teks, yaitu

teori tentang jamu, jampi, dan êmpon-êmpon.

BAB III Metode Penelitian

Bab ini menguraikan bentuk dan jenis penelitian, sumber data dan data,

teknik pengumpulan data serta teknik analisis data.

BAB IV Pembahasan

Pembahasan diawali dengan pembahasan kajian filologi yang meliputi

deskripsi naskah, transliterasi naskah, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik,

serta terjemahan. Kemudian dilanjutkan kajian isi untuk mendeskripsikan jenis

tanaman obat tradisional yang termasuk êmpon-êmpon pada naskah SBJJJ.

BAB V Penutup

Berisi simpulan dan saran, pada bagian akhir dicantumkan daftar pustaka,

lampiran daftar glosari istilah dalam naskah SBJJJ dan lampiran gambar naskah

(39)

commit to user 22

BAB II

KAJIAN TEORI

A.

Pengertian Filologi

Filologi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani philologia yang

berupa gabungan kata philos yang berarti “senang” dan logos yang berarti

“pembicaraan” atau “ilmu”. Jadi, filologi berarti „senang berbicara‟, yang

kemudian berkembang menjadi „senang belajar‟, „senang kepada ilmu‟, „senang

kepada tulisan-tulisan‟, dan kemudian „senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai

tinggi‟, seperti karya sastra (Siti Baroroh Baried dkk., 1983:1).

Siti Baroroh Baried dkk. juga mengatakan bahwa sebagai istilah, filologi

muncul pada saat para ahli dihadapkan pada upaya mengungkapkan kandungan

suatu naskah yang merupakan produk masa lampau, yaitu beratus-ratus tahun

sebelum penelitiannya lahir (1983:11). Dalam sejarah perkembangannya, istilah

filologi mengalami perubahan dan perkembangan. Pengertian dan penerapannya

di Indonesia pada awal mulanya dipengaruhi oleh para ahli terdahulu yang sedikit

banyak dilatarbelakangi oleh pengetahuan dan pemahaman tentang filologi yang

berlaku dan yang diperlukan untuk karya-karya Abad Pertengahan yang menjadi

sasaran dan objek kerja para peneliti filologi terdahulu. Akhirnya, filologi

merupakan salah satu disiplin ilmu yang berupaya mengungkapkan kandungan

(40)

commit to user

B.

Objek Filologi

Objek filologi menurut Edwar Djamaris (2002:3) adalah “naskah dan teks”.

Naskah adalah tempat untuk menulis teks. Naskah berwujud konkret. Adapun

pengertian teks itu sendiri adalah kandungan/muatan naskah yang bersifat abstrak.

Hal senada dikemukakan pula oleh Siti Baroroh Baried dkk (1983:3) bahwa

filologi mempunyai objek naskah dan teks. Dijelaskan juga oleh Siti Baroroh

Baried dkk (1983:54) bahwa objek penelitian filologi adalah naskah tulisan tangan

yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya

masa lampau. Semua bahan tulisan tangan itu disebut handschrift dan manuscript

(handschrift dengan singkatan hs untuk tunggal, hss untuk jamak, manuscripts

dengan singkatan ms untuk tunggal, mss untuk jamak). Adapun yang dimaksud

dengan teks adalah kandungan atau muatan naskah, sesuatu yang abstrak yang

hanya dapat dibayangkan saja (Siti Baroroh Baried dkk., 1983:57). Dengan kata

lain, teks terdiri dari isi, yaitu ide-ide atau amanat yang hendak disampaikan

pengarang kepada pembacanya.

Berdasarkan kedua pendapat pakar filologi itu dapat disimpulkan tentang

pengertian naskah dan teks. Naskah adalah semua peninggalan nenek moyang

yang berupa benda konkret dengan menggunakan daun lontar, kulit kayu, bambu,

rotan, atau dluwang yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran, perasaan

sebagai hasil budaya masa lampau. Adapun teks adalah rangkaian kata-kata

berupa kalimat yang merupakan ide-ide yang ingin disampaikan kepada pembaca

dan berupa benda abstrak. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, yang menjadi

objek penelitian filologi adalah naskah tulisan Jawa carik dengan judul SBJJJ

(41)

commit to user

C.

Langkah Kerja Penelitian Filologi

Langkah kerja penelitian filologi, menurut Masyarakat Pernaskahan

Nusantara (MANASSA), terdiri atas: penentuan sasaran penelitian, inventariasi

versi naskah, observasi pendahuluan, penentuan naskah dasar, transliterasi naskah,

dan penerjemahan teks (dalam Tantra Alimi, 2009:16). Sedangkan menurut Edwar

Djamaris (2002:9) langkah kerja penelitian filologi adalah sebagai berikut:

inventarisasi naskah, deskripsi naskah, perbandingan naskah, dasar-dasar

penentuan naskah yang akan ditransliterasi, singkatan naskah, dan

transliterasi/transkripsi naskah.

Dalam penelitian secara filologis naskah SBJJJ ini digunakan tahapan atau

langkah kerja penelitian filologi menurut MANASSA yang dikombinasikan

dengan langkah kerja yang dikemukakan oleh Edwar Djamaris. Adapun

tahap-tahap penelitian filologi secara khusus adalah sebagai berikut:

1. Penentuan Sasaran Penelitian

Langkah pertama adalah menentukan sasaran karena banyak ragam yang

perlu dipilih, baik tulisan, bahan, bentuk, maupun isinya. Ada naskah yang

bertuliskan huruf Arab, Jawa, Bali, dan Batak. Ada pula naskah yang ditulis

pada kertas, daun lontar, kulit kayu, atau rotan. Ada naskah yang berbentuk

puisi dan ada pula yang berbentuk prosa. Ada naskah yang berisi cerita nabi,

bertema adat istiadat, arsitektur, sejarah, atau agama.

Berdasarkan hal tersebut, ditentukan sasaran yang ingin diteliti adalah

sebagai berikut: naskah yang bertuliskan huruf Jawa carik, ditulis pada kertas

(42)

commit to user

tradisional Jawa. Keseluruhan rangkaian bentuk di atas terangkum di dalam

SBJJJ.

2. Inventarisasi Naskah

Jika kita telah menjatuhkan kepada suatu naskah yang menjadi sasaran

penelitian, maka langkah selanjutnya adalah inventarisasi naskah. Menurut

Achdiyati Ikram, inventarisasi naskah adalah mengumpulkan semua naskah

sejenis dan mendatanya berdasarkan katalog dari tempat penyimpanan naskah

(1997:2).

3. Observasi Pendahuluan dan Deskripsi Naskah

Observasi pendahuluan ini dilakukan dengan mengecek data secara

langsung ke tempat koleksi naskah sesuai dengan informasi yang diungkapkan

oleh katalog. Setelah mendapat data yang dimaksud yakni SBJJJ, dilakukanlah

deskripsi naskah dan ringkasan isi naskah.

Deskripsi naskah adalah uraian singkat naskah secara terperinci. Deskripsi

naskah penting sekali untuk mengetahui keadaan naskah dan sejauh mana isi

naskah itu, serta sangat membantu kita di dalam memilih naskah yang paling

baik untuk ditransliterasikan dan digunakan untuk perbandingan. Emuch

Hermansoemantri (1986:2), menguraikan bahwa deskripsi naskah merupakan

sarana untuk memberikan informasi mengenai: judul naskah, nomor naskah,

tempat penyimpanan naskah, asal naskah, ukuran naskah dan teks, keadaan

naskah, jumlah baris tiap halaman, huruf, aksara, tulisan cara penulisan, bahan

naskah, bahasa naskah, bentuk teks, umur naskah, ikhtisar teks/ cerita, dan

catatan lain. Adapun ringkasan isi naskah digunakan untuk mengetahui garis

(43)

commit to user 4. Trasliterasi Naskah

Transliterasi merupakan salah satu tahap dalam penyuntingan teks.

Menurut Edwar Djamaris, transliterasi adalah penggantian atau pengalihan

huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, seorang filolog

hendaklah sedapat-dapatnya menyajikan bahan transliterasi

selengkap-lengkapnya dan sebaik-baiknya agar naskah itu mudah dibaca dan dipahami

(2002:19).

Upaya transliterasi tidak bisa lepas dari penggunaan kamus. Bausastra

Jawa-Indonesia Jilid I dan II karangan S. Prawiroatmodjo dan Kamus Basa

Jawa (Bausastra Jawa) karangan Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta

menjadi acuan pembetulan ejaan dalam transliterasi SBJJJ.

5. Kritik Teks

Kritik teks adalah pengkajian, pertimbangan, perbandingan, dan penentuan

teks yang asli atau teks yang autoritatif / teks yang paling unggul kualitasnya,

serta pembersihan teks dari segala macam kesalahan. Kesemua

pertanggungjawaban dan kesalahan atau kelainan (varian) dicatat pada aparat

kritik (Edwar Djamaris, 2002:37). S. O. Robson juga menambahkan bahwa

tujuan dari kritik teks adalah merekonstruksi keaslian sebuah teks agar bentuk

itu sedekat mungkin dengan bentuk yang pertama kali diciptakan oleh

penulisnya (1994:16).

6. Suntingan Teks dan Aparat Kritik.

Suntingan teks adalah menyajikan dalam bentuk aslinya atau mendekati

aslinya, yang bersih dari kesalahan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat

(44)

commit to user

dengan mudah oleh kalangan luas (Edwar Djamaris, 2002:30). Sedangkan

aparat kritik adalah perabot pembanding yang menyertai penyajian suatu

naskah (Siti Baroroh Baried, 1977:5). Bacaan yang diganti dengan menambah

atau mengurangi dicatat dalam aparat kritik. Dalam suntingan ini, aparat kritik

langsung diletakkan di bagian bawah bacaan yaitu berupa catatan kaki.

Metode penyuntingan SBJJJ adalah metode edisi standar, yaitu

menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan-kesalahan dan

pembetulan dicatat di tempat yang khusus (aparat kritik) agar selalu dapat

diperiksa dan dibandingkan dengan bacaan naskah sehingga masih

memungkinkan penafsiran lain oleh pembaca (Siti Baroroh Baried, 1983:109).

7. Terjemahan

Terjemahan adalah pemindahan makna dari bahasa sumber ke bahasa

sasaran. Pemindahan makna tersebut harus lengkap dan terperinci. Hal ini

dimaksudkan agar masyarakat luas dapat mudah dalam memahami kandungan

isi yang terkandung dalam naskah. Dalam tingkat terjemahan, antara seorang

peneliti yang satu dapat berbeda dengan peneliti yang lainnya dalam

memberikan terjemahan. Ada kalanya seorang peneliti mampu menemukan

arti yang lebih tepat dari sebuah kata yang belum diketahui artinya dengan

pasti (Edi Sedyawati, 1998:3).

D.

Pengertian Jamu,

Jampi

, dan

Êmpon-Êmpon

.

Jamu adalah obat yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, dsb

(KBBI,2005:46). Jampi adalah bahasa krama dari jamu. Istilah ini sering dipakai

pada jaman dahulu. Menurut Ketua Kelompok Kerja Pelayanan Komplementer

(45)

commit to user

dikategorikan dalam cara pengobatan herbal, yaitu pengobatan dengan

menggunakan bagian tanaman atau ekstraknya yang mengandung bahan

berkhasiat untuk tubuh, pencegahan, penyembuhan atau peningkatan kesehatan.

Berbeda dengan herbal terstandar dan fitofarmaka yang juga tergolong

pengobatan herbal, pada dasarnya jamu tidak melalui uji praklinik atau uji klinik

dan bahan bakunya tidak terstandardisasi

(http://kesehatan.kompas.com/read/2009/05/26/12190342/asal.muasal.istilah.jamu

.dari.jampi-jampi).

Istilah êmpon-êmpon berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata êmpu yang

berarti umbi (Bausastra Jawa-Indonesia Jilid I:120) sedangkan êmpon-êmpon

adalah bentuk jamak dari êmpu yang berarti umbi yang digunakan untuk

obat-obatan (Bausastra Jawa-Indonesia Jilid I:119). Menurut istilah biologi,

êmpon-êmpon termasuk dalam golongan rhizome (rimpang), yaitu batang yang terdapat di

bawah tanah yang menjalar menghasilkan kuncup yang akan menjadi batang ke

arah atas dan akar ke arah bawah (Kamus Istilah Biologi,1985:151). Menurut

Didik Gunawan, dkk (1989:9-52), êmpon-êmpon terdiri dari:

1. Bêngle (Zingibercassumunar)

2. Combrang (Nicolaia elatior)

3. Dringo (Acorus calamus)

4. Jahe/jae (Zingiber officinale)

5. Kapulaga lokal/kapulaga (Amomum cardamomum)

6. Kapulaga sabrang (Elettaria cardamomum)

7. Kencur (Kaemferia galanga)

(46)

commit to user 9. Kunyit/temu kuning/kunir (Curcuma domestica)

10.Lempuyang gajah (Zingiber zerumbet)

11.Lempuyang pahit/lêmpuyang êmprit/lêmpuyang prit (Zingiber americans)

12.Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum)

13.Lengkuas/laos (Alpiniagalangal)

14.Pacing (Costus speciosus)

15.Temu bayi/têmublènyèh/glènyèh (Curcuma soloensis)

16.Temu giring (Curcuma heyneana val& v. zijp)

17.Temu hitam/têmu cêmêng (Curcuma Aeruginosa Roxb)

18.Temu kunci/kunci (Kaemferia pandurata)

19.Temu lawak (Curcuma xanthoriza)

20.Temu mangga (Curcuma mangga)

21.Temu putih/têmu pêthak (Curcuma zedoaria)

22.Temu putri (Curcuma petiolata)

(47)

commit to user 30

BAB III

METODE PENELITIAN

A.

Bentuk dan Jenis Penelitian

Bentuk penelitian SBJJJ adalah penelitian filologi. Tujuan dari penelitian

filologi adalah mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan, yang

berarti memberikan pengertian yang sebaik-baiknya dan yang bisa

dipertanggungjawabkan, sehingga dapat diketahui naskah yang paling mendekati

aslinya (Haryati Soebadio dalam Edwar Djamaris, 2002:7). Penelitian ini bersifat

deskriptif kualitatif, artinya data yang ditemukan, dikumpulkan, diteliti,

digambarkan, ditulis, dilaporkan, dianalisis, ditelaah sesuai dengan apa yang telah

diperoleh / sesuai dengan bentuk data asli yang berupa kata-kata, gambar dan

bukan angka (Lexy J. Moleong, 2008:11). Jadi, dalam penelitian deskriptif

kualitatif, semua yang ada di dalam data termasuk sistem tanda dianggap penting,

karena saling terkait antara yang satu dengan yang lain.

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library research) yaitu

penelitian yang dilakukan di kamar kerja penelitian atau di ruang perpustakaan,

dimana peneliti memperoleh data dan informasi tentang objek telitinya lewat

buku-buku atau alat-alat audiovisual lainnya (Atar Semi, 1993:8).

B.

Sumber Data dan Data

Sumber data adalah segala sesuatu yang secara langsung mampu

menghasilkan atau memberikan data. Sumber data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah Perpustakaan Sasana Pustaka Keraton Surakarta yang

Gambar

Grafik 1. Cover SBJJJ
Grafik 3. Gaya Penulisan Resep Jamu SBJJJ
Grafik 4. Kolofon Naskah SBJJJ
Grafik 6. Gaya Penulisan Resep KBJJ
+7

Referensi

Dokumen terkait