Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 11 No. 2, Agustus 2016
79
PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP
SKOR GEJALA TOTAL
PENDERITA RINITIS ALERGI PERSISTEN
(The Effect of Cigarette Smoke on Total Symptom Score of Persistent Allergic
Rhinitis Patients)
Roy David Sarumpaet1, Mohammad Juffrie2, Suprihati3, Indwiani Astuti4
1Prodi S-3 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta2Departemen Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 3Departemen THT Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, 4Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ABSTRAK
Pengaruh asap rokok pada penderita Rinitis Alergi Persisten (RAP) yang prevalensinya semakin meningkat di Indonesia belum mendapat perhatian untuk diteliti, meskipun jumlah penduduk yang merokok semakin bertambah. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan asap rokok “side-stream” (SS) dengan Skor Gejala Total (SGT) dari penderita Rinitis Alergi Persisten (RAP). Metode : Penelitian dilakukan dengan desain kasus kontrol, dimana 63 penderita RAP sedang-berat dibagi menjadi kelompok perlakuan (32) dan kontrol (31) secara acak. 32 penderita RAP dipaparkan dengan asap rokok (SS) dari 5 batang rokok selama 2 jam dalam suatu ruangan. Seluruh responden kemudian ditanyakan 5 (lima) gejala utama yang dirasakan. Hasil penelitian : SGT total kelompok perlakuan dengan kontrol tidak berbeda bermakna. Kesimpulan : Asap rokok ‘side-stream” (SS) yang dipaparkan pada
penderita RAP tidak menyebabkan perubahan Skor Gejala Total (SGT). Kata Kunci : asap rokok, rhinitis alergi persisten (RAP), skor gejala total (SGT)
ABSTRACT
The effect of cigarette smoke on Persistent Allergic Rhinitis (PAR) patients that has an increasingly prevalence in Indonesia has not received attention for examination despite the number of smoking people are increasing. The aim of this study is to analyze the relationship between cigarette smoke to the change in total symptom score of allergic rhinitis in patients with PAR. Method : Case-contol design , in which 63 patients with moderate-severe PAR are divided into treatment group ( 32 ) and control ( 31 ) randomly . PAR 32 patients were exposed to the "side stream" ( SS ) of the cigarette smoke from 5 cigarettes for 2 hours in a room. All respondents were asked about 5 major symptoms. Result: Total Symptom Score between treatment group was not significantly different from control . Conclusion : This study suggests that cigarette smoke does not cause changes in quality of life when exposed to patients with PAR.
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 11 No. 2, Agustus 2016
80 A. PENDAHULUAN
Rinitis Alergi (RA) merupakan
reaksi hipersensitivitas tipe I Gell &
Comb
yang
diperantarai
oleh
Imunoglobulin-E
(IgE)
dengan
mukosa hidung sebagai organ sasaran
utama. Kondisi ini ditandai dengan
gejala seperti serangan bersin terutama
pagi hari, discaj hidung encer, hidung
tersumbat serta perasaan hidung gatal
(Alebuff 1992; Cauwenberge
et al.,
2000).
Kelompok kerja
Allergic Rhinitis
and Its Impact on Asthma
(ARIA-WHO 2001) melakukan klasifikasi
Rinitis Alergi menjadi Rinitis Alergi
Intermiten (RAI) dan Rinitis Alergi
Persisten (RAP) . RAP terutama
dijumpai di negera-negara tropis, hal
ini disebabkan keadaan iklim yang
lembab
serta
hangatnya
udara
sepanjang tahun sehingga merupakan
keadaan
yang
kondusif
bagi
perkembangan/pertumbuhan
tungau
debu rumah dan jamur, dua penyebab
aero-alergen terbanyak (Bousquet,
2000;Wang et al., 2005).
Rinitis alergi merupakan penyakit
alergi yang paling banyak dan
mempengaruhi sekitar 400-600 juta
penduduk di seluruh dunia. Dalam
dekade
belakangan
ini
terjadi
peningkatan
jumlah
prevalensi
penderita RA di seluruh dunia
(Pawankar et al., 2011; Cauwenberge
et al., 2000). Di Indonesia belum ada
angka yang pasti secara nasional, tetapi
berdasarkan laporan hasil survei di
Semarang
dengan
menggunakan
kuesioner ISAAC fase 3 pada anak usia
sekolah 13-14 tahun prevalensi RA
sebesar 18,6% (Suprihati, 2005).
RA
merupakan
suatu
reaksi
hipersensitivitas yang diawali oleh fase
sensitisasi, dilanjutkan dengan reaksi
alergi fase cepat (RAFC) , kemudian
berlanjut menjadi reaksi alergi fase
lambat (RAFL) (Abbas, 2007). Fase
sensitisasi
diawali
dengan
menempelnya alergen pada mukosa
hidung (Madiadipoera
et al.,2002;
Volcheck ,2009). Alergen ditangkap
oleh
antigen presenting cell
(APC)
kemudian diproses menjadi molekul
kompleks histokompatabilitas mayor
(MHC) kelas II di permukaan sel APC.
Kompleks MHC kelas II di permukaan
sel APC dipresentasikan kepada
CD4+helper T-cells dan pada orang
yang secara genetik predisposisi alergi
(atopi) dan terdapat sitokin IL-4, maka
CD4+T-cell berdiferensiasi menjadi
limfosit
Th2.
(Volcheck,2009;
Abbas,2007; Janeway, 2008).
Sel -Th2 berbeda dari sel Th1, Th2
melepaskan sitokin-sitokin seperti
IL-3, IL-4, IL-5, IL-9, IL-10, IL-13
(Volcheck,2009;
Eisner
,
2000).
Secara spesifik IL-4 dan IL-13
menstimulasi produksi IgE sedang
IL-5
mengaktifasi
eosinofil.
(Volcheck,2009; Eisner, 2000). IgE
adalah
merupakan
imunoglobulin
utama yang menyebabkan respons
alergi , dan akan berikatan dengan
mastosit
(FcεRI)
mem
bentuk
kompleks IgE-mastosit. Bila dijumpai
kompleks IgE-mastosit maka individu
telah tersensitisasi dan siap untuk
reaksi hipersensitivitas tipe I Gell &
Coomb (Madiadipoera
et al., 2002;
Volcheck, 2009).
81 sampai 1-2 jam dengan puncak antara
15-20 menit (Madiadipoera et al., 2002;Volcheck, 2009; Pawankar et al., 2011).
Pada
RAFL,
yang
dapat
berlangsung sampai 24 jam berikutnya,
terjadi
akumulasi
berbagai
sel
inflamasi ke dalam mukosa hidung,
seperti makrofag, limfosit, eosinofil,
mastosit dan basofil. Histamin pada
RAFL
terutama
dihasilkan
oleh
basofil. Selain itu ada penglepasan
sitokin pro-inflamasi seperti 3,
IL-4, IL-5, IL-13 dan GM-CSF oleh Th2
(Abbas, 2007;Volcheck, 2009).
Histamin berikatan dengan endotel
menyebabkan kontraksi sel sehingga
permeabilitas vaskuler meningkat dan
bocornya plasma ke jaringan. Selain itu
sel endotel juga terstimulasi oleh
histamin untuk mensintesis relaksan
otot polos vaskuler, sehingga timbul
vasodilatasi.
Akibatnya
terjadi
sumbatan
pada
hidung.
Selain
sumbatan pada mukosa hidung juga
dapat dijumpai warna pucat/lividae
pada konka inferior (Abbas, 2007).
Histamin dapat merangsang
ujung-ujung saraf sensori dari nervus V
(trigeminus) sehingga timbul rasa
gatal pada hidung dan bersin. Kelenjar
mukus juga akan distimulasi histamin
sehingga terjadi sekresi mukus (rinore)
(Pawankar et al., 2011).
Berdasarkan
berat-ringannya
gejala RA maka menurut ARIA
(Allergic Rhinitis and its impact on
Asthma-guideline) rhinitis alergi dapat
dibagi menjadi derajat ringan dan
derajat sedang-berat. Derajat ringan
bila tidak mengganggu aktifitas,
sedangkan derajat sedang-berat sudah
mengganggu aktifitas. (Bousquet et al.,
2001; Mullol et al., 2005).
Untuk mengukur beratnya gejala
RA dapat dilakukan dengan cara
obyektif seperti nasal inspiratory peak
flow (NIPF) atau dapat dengan
memakai skor gejala yang dialami oleh
penderita. Dalam skor gejala total yang
dinilai adalah 5 gejala pokok yaitu
bersin, rinore (ingus meleleh), mata
gatal
–berair dan merah, rasa gatal di
hidung dan langit-langit, serta hidung
tersumbat, dengan rentang nilai 0-3.
Nilai skor 0 = tidak ada gejala; 1 =
ringan/gejala
ada
tetapi
tidak
mengganggu/dapat diabaikan; 2 =
sedang/gejala kadang mengganggu
tetapi tidak mengganggu tidur, aktifitas
sehari-hari/olahraga,
dan/atau
kerja/sekolah;
3=
berat/gejala
mengganggu sama atau lebih dari 1
gejala yang ada pada 2 (Kirtsreesakul
et al., 2010).
Rinitis Alergi pada dasarnya
merupakan penyakit yang dipengaruhi
oleh genetik dan lingkungan. Secara
genetik dapat dilihat pada kembar
monozigot dijumpai keterkaitan
45-60%, sementara pada kembar dizigot
menurun menjadi 25%. (Davila et al.,
2009). Pengaruh lingkungan dapat
berupa suhu/iklim, kelembaban udara,
alergen serta polusi udara. Salah satu
faktor penyebab polusi udara adalah
asap rokok (Koppelmann, 2007).
Berdasarkan laporan, Indonesia
merupakan negara dengan peningkatan
konsumsi rokok paling cepat di dunia
dalam dekade 1990, dan pada awal
tahun 2000 menempati tempat kelima
di
dunia.
Terjadi
peningkatan
prevalensi perokok dari 26,9% (tahun
1995) menjadi 31,5% (2001). (Achadi
et al., 2004; de Beyer et al., 2000).
Perokok menghirup 25% asap dari
setiap batang rokok, namun selebihnya
yaitu 75% dilepaskan ke lingkungan
(Castelazzi 2000; Mang
et al., 2008).
Lingkungan
asap
rokok
(Environmental tobacco smoke) adalah
82
sampingan/SS (cigarette sidestream
smoke) , yaitu asap yang keluar dari
ujung rokok (85%) dan asap rokok
utama/MS (mainstreamsmoke) yaitu
asap yang pertama dihisap perokok
aktif dan kemudian dihembuskan ke
udara lingkungan (15%) (Witschi
et
al., 1997). Pada penelitian Biagini
et
al. paparan 15 menit asap rokok dapat
menyebabkan iritasi dan peningkatan
gejala rhinitis (Biagini et al., 2006).
Asap rokok merupakan campuran
kompleks dari komponen gas dan
partikel mengandung sekitar 5000
bahan kimia. Bahan kimia tersebut ada
yang dapat menjadi bahan iritan, racun
saluran nafas yang poten seperti
sulfur-dioksida, ammonia, formaldehida, dan
akrolein (Lambert ,2005; Rando
,1997; Eisner,2000; Quyang
et al.,
2000). Menurut Nazaroff dan Singer ,
seperti dikutip oleh Jia
et al, ada 6
bahan toksik yang menjadi perhatian
utama sebagai faktor resiko kesehatan
yaitu
akrolein,
asetaldehida,
akrilonitril, benzene, 1,3-butadin dan
formaldehida. Diantara bahan tersebut
yang lebih toksik (sekitar 10-1000 kali)
adalah akrolein, dan dalam cairan
saluran nafas perokok dapat mencapai
80µg (Jia et al., 2007).
Akrolein dijumpai dalam setiap batang rokok dalam jumlah yang berbeda. Menurut laporan pada Food Drug Administration/FDA jumlah akrolein yang paling rendah 10µg sedangkan ter tinggi sebesar 140µg pada Mainstream. Sedangkan pada Side-stream 100-1700 µg (Rando et al., 1997).
Akrolein yang terdapat dalam asap rokok menghambat kerja dari NF-κB sehingga terjadi penurunan sitokin IL-12 yang akibatnya Th1 menjadi menurun. Bila IFN-γ menurun maka efek inhibisi pada sel Th2 juga menurun, akibatnya Th2 akan mendominasi dan menghasilkan sitokin yang berperan dalam respon imun dan terjadi peningkatan IgE (Janeway, 2008).
Penelitian oleh Sanchez, pada individu penderita alergi didapatkan peningkatan produksi IgE, penanda utama dari penyakit alergi, dimana setelah 4 hari terpapar terjadi peningkatan 16,6 kali lipat. Disamping itu kadar histamin hidung juga meningkat 3,3 kali lipat (Diaz-Sanchez et al., 2006).
Penelitian mengenai pengaruh asap rokok pada penderita Rinitis Alergi Persisten (RAP) di Indonesia belum pernah dilaporkan. Menjadi masalah yang perlu diketahui adalah pengaruh asap rokok SS terhadap skor gejala total, apakah terjadi peningkatan SGT atau penurunan. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh asap rokok SS terhadap gejala perderita RAP.
Berdasarkan penelitian terdahulu dan tulisan ilmiah yang ada maka dapat dibuat suatu hipotesis bahwa : Skor Gejala Total pada penderita RAP yang terpapar asap rokok lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terpapar asap rokok.
B.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan Kasus-Kontrol. Subjek penelitian adalah penderita RAP yang datang berobat ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Riau. Kelompok perlakuan adalah individu yang terdiagnosis RAP dari hasil pemeriksaan SPT dengan hasil +++(positif 3) dengan gejala klinis memenuhi kriteria sedang-berat. Pemilihan kontrol dilakukan dengan sistem persesuaian (matching) berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur.
Sampel : Pada penelitian ini pengambilan sampel penelitian menggunakan PASS. = 29
83
mempengaruhi
reaksi
alergi
mendapatkan
terapi
simptomatik
penyakti alergi (5-7 hari), mengalami
infeksi virus atau bakteri dan terpapar
sinar radiasi ionisasi dan ultraviolet
Tes Alergi dilakukan dengan menggunakan bahan alergen “Alyostal Allergen” produksi STALLERGENES, serta jarum skin prick “Stallerpoint” yang single use. Skor Gejala Total (SGT): Pengukuran dari gejala klinis subjek penelitian, berdasarkan wawancara pada saat pemeriksaan, pengukuran menggunakan skala dari Kirtsreesakul V, et al, (2010).Cara Pemaparan asap rokok Alat pembakar rokok yang digunakan memakai metode alat pembakar rokok Borgwaldt smoking machine buatan Jerman. Alat pembakar rokok ini didesain menangkap mainstream smoke sedangkan sidestream smoke dilepaskan. Asap rokok dari mesin pembakar rokok memiliki kecepatan 55 detik per satu hisapan dengan jeda 5 detik, sehingga dalam 2 jam terbakar 5 batang rokok untuk dipaparkan kepada subyek penelitian dengan jarak 70 – 100 cm. Pemaparan dilakukan dalam ruangan dengan spesifikasi ukuran panjang 3 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m (18 m3) dengan suhu 26 – 300C dan kelembaban 65 – 93% serta pertukaran udara dengan menggunakan ventilasi 8 kali/jam.
ETIKA PENELITIAN
Usulan
penelitian
ini
telah
dipresentasikan di Komite Etika
Penelitian Kedokteran dan Kesehatan,
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Gadjah Mada, dan telah mendapatkan
persetujuan tanggal 19 Maret 2013
dengan nomor Ref : KE/FK/259/ECm.
C.
HASIL DAN BAHASAN
Gambaran Umum
Selama 2 (dua) bulan penelitian
didapatkan 96 kasus Rinitis Alergi
yang datang di Poliklinik THT-KL
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
Penderita alergi tersebut terdiri dari RA
persisten ringan (27 kasus = 28,1%)
dan RA persisten sedang-berat (69
kasus = 71,9%). Kasus Rinitis Alergi
Persisten (RAP) sedang-berat yang
memenuhi kriteria inklusi dan bersedia
mengikuti penelitian sebanyak 66
orang (95,6%) dengan rentang usia 15
sampai 25 tahun (lihat tabel 2).
Pada tes alergi dijumpai 65 orang
yang menunjukan hasil +++ atau lebih,
17 laki-laki dan 48 perempuan. Tidak
ada satupun kasus yang menjadi
perokok aktif. Dari 65 orang tersebut
kemudian diundi secara acak sehingga
didapat untuk kontrol 33 orang (9
laki-laki, 24 perempuan) dan 32 perlakuan
(8 laki-laki, 24 perempuan). Tetapi dari
masing-masing kelompok 1 orang
dikeluarkan sehingga didapat 32
perlakuan, 31 kontrol.
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 11 No. 2, Agustus 2016
84 Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian
Variabel Perlakuan (%) Kontrol (%) p-value OR CI
Jenis kelamin
- Laki-laki 8(25,0) 7(22,6) 0,822# 1,143 0,358 – 3,651
- perempuan 24(75,0) 24(77,4)
Usia
- ≤ 18 tahun 3(9,4) 1(3,2) 0,317# 3,103 0,305 – 31,580
- > 18 tahun 29(90,6) 30(96,8)
Riwayat alergi keluarga
- Ada 23(71,9) 26(83,9) 0,252# 0,491 0,144 – 1,679
- Tidak Ada 9(28,1) 5(16,1)
Terpapar asap rokok
- Terpapar 9(28,1) 11(35,5) 0,530# 0,711 0,245 – 2,065
- Tidak Terpapar 23(71,9) 20(64,5)
Pemakaian karpet dalam ruang
keluarga
- Ada 24(75,0) 25(80,6) 0,590# 0,720 0,217 – 2,385
- Tidak Ada 8(25,0) 6(19,4)
Pemakaian karpet dalam kamar
tidur
- Ada 7(21,9) 12(38,7) 0,146# 0,443 0,147 – 1,341
- Tidak Ada 25(78,1) 19(61,3)
#Tes Chi-Kwadrat
Hasil tes chi-kwadrat pada karakteristik subyek penelitian yang meliputi jenis kelamin, riwayat alergi keluarga, terpapar asap rokok, dan sumber paparan alergi menunjukkan nilai p yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan antara perlakuan dan kontrol berdasarkan karakteristik subyek penelitian.
Tabel 2. Skor Gejala Total (SGT) Berdasarkan Kelompok Perlakuan dan Kontrol
Variabel Status Min Mak Mean Nilai p
SGT Perlakuan 9 19 14,37 0,455##
Kontrol 8 20 14,03
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 11 No. 2, Agustus 2016
85 Pada tabel diatas tampak bahwa dengan tes Mann-Whitney variabel skor gejala total diperoleh nilai p > 0,05. Karena nilai p yang diperoleh lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa baik pada skor gejala total tidak terdapat perbedaan kadar antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol.
Tabel 3. Skor Gejala Total Berdasarkan Jenis Kelamin, Paparan Alergi, Riwayat Alergi Keluarga Dan Paparan Asap Rokok
Variabel Mean Nilai p
Jenis kelamin Laki-laki 14,73 0,485##
Perempuan 14,04
Karpet didalam kamar tidur
Ada 13,89 0,624##
Tidak Ada 14,34
Jenis alas tidur Kapuk/Kapas 14,67 0,521###
Busa 15,40
Spring Bed 14,04
Frekuensi Pergantian Sprei
2 kali per minggu 15,89 0,118###
1 kali per minggu 13,54 1 kali per 2 minggu 14,59 1 kali per bulan 13,82 Riwayat Alergi
Keluarga
Ada 13,96 0,287##
Tidak Ada 15,07 Terpapar Asap
Rokok Setiap Hari
Ya 15,75 0,002##
Tidak 13,49
## Test Mann-Whitney; ### Test Kruskal-wallis
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 11 No. 2, Agustus 2016
86 D. PEMBAHASAN
Tujuan penelitian ini adalah
untuk membuktikan bahwa pemaparan
asap rokok pada penderita RAP
sedang-berat
akan
mengakibatkan
terjadi perubahan Skor Gejala Total.
Karakter subyek penelitian seperti
jenis kelamin, riwayat alergi keluarga,
paparan alergen serta adanya paparan
asap rokok setiap hari pada 2 kelompok
tidak berbeda bermakna (tabel 1),
sehingga antara kedua kelompok dapat
dianggap
homogen
dan
dapat
diperbandingkan.
Gejala yang dialami oleh penderita
RAP berkaitan dengan Ig-E yang ada
berikatan dipermukaan mastosit. Ig-E
akan
meningkat
pembentukannya
bilamana Th2 menjadi dominan,
dimana faktor yang menginhibisinya
seperti sitokin IFNγ
ditekan oleh
adanya pengaruh dari akrolein.
Akrolein ternyata bukan hanya
dihasilkan dari asap rokok saja.
Berdasarkan
laporan
Concise
International Chemical Assessment
Document
(CICAD
43)
yang
diterbitkan oleh WHO tahun 2002,
akrolein dapat dihasilkan dari sumber
alam, seperti proses fermentasi dan
kebakaran hutan, serta dari kegiatan
manusia seperti insenerator, tungku
perapian/pembakaran,
pembakaran
plastic polietilen, proses memasak
makanan. (CICAD 43)
CICAD dan US EPA menyatakan
bahwa sumber utama akrolein yang ada
di udara adalah emisi dari kendaraan
solar dan bensin. Berdasarkan laporan
HEI
(Health
Effects
Institute)
November 2007, yang mengutip
National Air Toxics Assessment
(NATA), kendaraan bermotor secara
nasional
menjadi
sumber
emisi
akrolein sebesar 13,7% dan di daerah
perkotaan sebesar 24,4%. (CICAD 43;
US EPA, 2009; HEI, 2007)
Di Indonesia, kendaraan bermotor
baik mobil maupun sepeda-motor
semakin hari semakin banyak, namun
belum ada penelitian tentang kadar
akrolein di udara. Sebagian besar
responden yang mengikuti penelitian
menggunakan sepedamotor setiap hari
untuk melakukan aktivitasnya (95%).
Menurut Swarin dan Lipari,1983
seperti
dikutip
HEI,
konsentrasi
akrolein dari asap kendaraan bermotor
adalah 0,47 mg/m
3. Berdasarkan
penelitian Seizinger dan Dimitriades,
1995 sebagaimana dikutip HEI, dari
mesin diesel dapat dihasilkan akrolein
dengan konsentrasi 0,05 sampai 0,3
ppm. (HEI, 2007)
Agency for Toxic Substances and
Disease Registry (ATSDR 2005),
seperti dikutip HEI 2007, menyatakan
bahwa konsentrasi akrolein per batang
rokok dalam MS (main stream) rokok
antara 3 sampai 220 ug/m
3dan dalam
SS (Side stream) rokok dari 100
sampai 1700 ug/m
3. (HEI, 2007)
Menurut penelitian Lambert C
et al,
2005, tidak ada hubungan atau korelasi
antara rokok yang dibedakan ringan
atau biasa dengan konsentrasi akrolein.
(Lambert C et al, 2005)
Berdasarkan penelitian Lihong Jia
et al 2007, paparan akrolein akut
mencapai
50
uM
menyebabkan
toksisitas pada sel, sehingga viabilitas
sel menurun. Dari penelitian tersebut
didapatkan
bila
paparan
yang
berlangsung kontinyu 8 sampai 32 hari
dengan dosis yang lebih rendah 10
sampai 100 kali lipat (0,1
– 10 uM)
dapat menyebabkan toksisitas yang
sama. (Lihong Jia et al, 2007) Paparan
asap
rokok
setiap
hari,
dalam
penelitian
ini,
ternyata
tidak
menyebabkan perbedaan sitokin yang
bermakna
antara
perlakuan
dan
kontrol.
87
Berdasarkan laporan dari California
Air Resources Board Emergency
Response Team December 2003, yang
meneliti asap yang ditimbulkan oleh
kebakaran
hutan
Wildland
di
California selatan pada bulan Oktober
2003, konsentrasi akrolein berkisar
antara 1 sampai 10 ppm (1 ppm = 2,29
mg/m
3) atau antara 2,29 mg/m
3sampai
22,9 mg/m
3di dekat api tetapi semakin
kecil
konsentrasinya
di
daerah
pemukiman yaitu 0,5 sampai 0,8 ppb.
(CICAD 43)
Pada
saat
penelitian
yang
dilakukan di RSUD Arifin Achmad
Pekanbaru (Agustus 2013 sampai
dengan
September
2013)
terjadi
kebakaran di hutan sekitar Pekanbaru.
Menurut Riau Pos 27 Agustus 2013, di
Riau
jumlah
titik
api/hotspot
berdasarkan pantauan satelit
NOAA-18 dijumpai 264 titik. Berdasarkan
laporan dari majalah GEMA BNPD vol
IV,
no.2
tahun
2013
jumlah
hotspot/titik
api
mengalami
peningkatan pada Agustus sampai
dengan Oktober 2013.
Kebakaran hutan yang terjadi di
Riau adalah kebakaran gambut (“Peat
Fire Smoke”). Berdasarkan penelitian
Itkonen & Jantunen 1983, seperti
dikutip Hinwood, AL 2005, kebakaran
hutan gambut menghasilkan beberapa
jenis gas seperti karbon monoksida,
karbon dioksida, nitrogen oksida,
sulfur dioksida, aldehida (akrolein),
dan
polisiklik
aromatik
hidrokarbon.(Hinwood AL, 2005)
Penelitian Einhorn IN, 1975 menyimpulkan konsentrasi akrolein dalam asap karena terbakarnya kayu adalah sebesar 50 ppm atau 115 mg/m3 (1mg = 1000ug). Dari asap yang dihasilkan 1 batang rokok hanya dihasilkan akrolein sebanyak 100-1700 ug/m3 (dalam SS), atau dengan perkataan lain akrolein dalam asap kebakaran hutan dapat mencapai 30 – 500 kali lipat. (Einhorn IN, 1975)Berdasarkan sumber akrolein selain asap rokok (SS) seperti proses
penggorengan di rumah, asap kendaraan bermotor serta yang terbanyak dari asap kebakaran hutan di Riau, maka jumlah konsentrasi akrolein yang cukup besar telah terpapar pada setiap kasus baik perlakuan dan kontrol sebelum penelitian dilakukan. Paparan akrolein yang besar ini tentunya mempengaruhi proses dalam sel (melalui NFκB), sehingga hal ini dapat dianggap sebagai bias yang tidak diperhitungkan sebelumnya oleh peneliti.Perubahan Skor Gejala Total (SGT)
Hipotesis yang menyatakan bahwa SGT dari penderita RAP yang dipaparkan asap rokok lebih tinggi dari yang tidak dipapar asap rokok secara statistik menurut uji Mann-Whitney tidak bermakna p = 0,455, meskipun rerata didapatkan SGT yang dipaparkan asap rokok lebih tinggi ( 14,34 > 14,03).
Faktor-faktor seperti jenis kelamin, paparan alergen dan riwayat atopi keluarga ternyata tidak memberikan perbedaan SGT yang bermakna, tetapi paparan asap rokok yang dialami sehari-hari ternyata memberikan pengaruh yang bermakna p = 0,002 yaitu 15,75 yang dipapar dan 13,49 yang tidak dipaparkan.
E. SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil analisis semua data hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Tidak terbukti adanya pengaruh akrolein dalam asap rokok terhadap SGT penderita RAP sedang-berat di Pekanbaru, kecuali pada subjek yang terpapar asap rokok setiap hari.
SARAN
1. Penderita RAP sedang-berat memerlukan adanya paparan alergen yang cukup sehingga dapat terjadi kondisi yang dapat dipacu peningkatan sitokinnya oleh paparan asap rokok yang mengandung akrolein dan pada akhirnya akan meningkatkan gejala atau SGT
88 konsentrasi akrolein yang
dikandungnya jauh lebih tinggi dari yang dikandung asap rokok
DAFTAR PUSTAKA
Abbas AK, Lichtman AH, Pillai A 2007. Cellular and Molecular Immunology. 6 th ed. Elsevier. Philadelphia.
Achadi A, Soerojo W, Barber S 2004. The relevance and prospects of advancing tobacco control in Indonesia. Health Pol 72, 333-49 Alebuff DJ1992. Allergic rhinitis. In:
Otolaryngology-Head and Neck Surgery Cumming CW Mosby – Year Book Boston; p 763-73.
Biagini. JM,LeMaster GK, Ryan PH et al 2006. Environmental risk factors of rhinitis in early infancy. Pediatr Allergy Immunol ;17:278-28
Bousquet and ARIA Workshop Group 2001. Diagnosis and assessment of severity. J. Allergy Clin Immunol ; 108: S 208-20
Cauwenberge P, Bachert C, Passalacqua G, Bousquet J, Canonica W, Durham Sl 2000. Position Paper; Concensus statement on the treatment of allergic rhinitis. Allergy ; 55:116-134.
Castellazzi AM 2000. Passive smoking and immune functions. In : Watson RR, Witton M, ed. Environmental Tobacco Smoke. 1st ed. Florida : CRC Press LLC;.p.289-99
Concise International Chemical Assessment Document (CICAD) 43, Acrolein, World Health Organization, Geneva, 2002
Davila I, Mullol J, Ferrer M, Bartra J, del Cuvillo A, Montoro J, Jaurergui I, Sastre J, Valero A 2009. Genetic aspects of Allergic Rhinitis. J Investig Allergol Clin Immunol ; 19 (1) 25-31 De Beyer J, Yurekli AA 2000. Curbing
the tobacco epidemic in Indonesia. Watching brief, east asia and the pacific region. May, 6: 1-9
Diaz-Sanchez D, Rumold R, Gong H 2006. Challenge with environmental tobacco smoke exacerbates allergic airway disease in human beings. J All Clin Immunol ;118:441-6
Einhorn IN, 1975. Physiological and toxicological aspects of smoke produced during the combustion of polymeric materials. Environ Health Perspec; 11:163-89
Eisner MD, Blanc PD 2000. Environmental tobacco smoke and adult asthma. In : Watson RR, Witton M, ed. Environmental Tobacco Smoke. 1st ed. Florida : CRC Press LLC;p.81-10
89 Hinwood AL, Rodriguez CM 2005.
Potential health impacts associated with peat smoke : a review. Journal of the Royal Society of Western Australia, 88 :133-8
Janeway CA 2008. Janeway’s Immuno Biology. 7 th ed. Garland Publishing. New York-USA
JiaLH, LiuZB, SunLJ, MillerSS, AmesBN, CotmanCW, LiuJK 2007. Acrolein, a Toxicant in Cigarette Smoke, Causes Oxidative Damage and Mitochondrial Dysfunction in RPE Cells : Protection by (R)-α-Lipoic acid. Invest Ophthalmol Vis Sci. 48(1) 339-48
Kirtsreesakul V, Somjareonwattana P, Ruttanaphol S 2010. Impact of IgE-mediated Hypersensitivity on Masal Mucociliary Clearance. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 136 (8) 801-6
Koppelman GH 2007. Gene-environment interaction in allergic disease : More questions, more answer. J All Clin Immunol ;120:1266-8
Lambert C, McCue J, Portas M, Quyang Y, Li JM, Rosano TG, Lazis A, Freed BM 2005. Acrolein in cigarette smoke inhibits T-cell responses. J Clin Immunol ; 116 :916-22
Lihong Jia, Zhongbo Liu, Lijuan Sun, Sheldon S. Miller, Bruce N. Ames, Carl W. Cotman, Jiakang Liu. Acrolein, a Toxicant in Cigarette Smoke, Causes Oxidative Damage and Mitochondrial Dysfunction in RPE Cells : Protection by (R) – α- Lipoic Acid. Invest Ophthalmol Vis Sci 48(1) : 339-348
Madiadipoera T, Surachman S, Sumarman I, Boesoerie TS 2002. Parameter Keberhasilan Pengobatan Rintis Alergi. Otolaryngologica Indonesia : XXXII(3); 33-40
Mang Y, Zheng X, Peake J, Joad JP, Pinkerton KE 2008. Perinatal environmental tobacco smoke exposure alters the immune response and airway innervations in infant primates. J All Clin Immunol ;122:640. Mullol J, Bachert C, Bousquet J 2005. Management of persistent allergic rhinitis: evidence-based treatment with levocetirizine. Therapeutics and Clinical Risk Management. ; 1 (4) 265-71
Pawankar R, Mori S, Ozu C, Kimura S 2011. Overview on the pathomechanisms of allergic rhinitis. Asia Pac Allergy ; 1: 157-67
Quyang Y, Virasch N, Hao P,Aubrey MT, Mukerjee N, Blerer BE, Freed BM 2000. Supression of human IL-1β, IL-2, IFN-γ, and TNF-α production by cigarette smoke extracts. J All Clin Immunol ;106:280-7
90 Suprihati 2005. The Prevelence of
Allergic rhinitis and its relation to some risk factors among 13-14 year old students in semarang, Indonesia Otolaryngologica Indonesiana : XXXV(2); 37-70
US Environmental Protection Agency (US EPA) 2003. Toxicological review of Acrolein. (CAS No. 107-02-8), EPA/635/R-03/003.
Volcheck GW 2009. Clinical Allergy Diagnosis and Management.
Rochester MN : Humana press; .p 1-39
Wang DY 2005. Risk factors of allergic rhinitis : genetic or environmental. Therapeutics and clinical risk management . 1(2) 115-23
91 Lampiran 1
Penilaian Skor Gejala Total (SGT)
1. Bersin 0 1 2 3
2. Ingus meleleh (rinore) 0 1 2 3 3. Rasa gatal pada hidung, langit- 0 1 2 3
Langit dan atau tenggorok
4. Mata gatal, berair dan merah 0 1 2 3 5. Hidung buntu / tersumbat 0 1 2 3
Keterangan
0 = tidak ada (gejala tidak ditemukan)
1 = ringan (gejala ada tetapi tidak mengganggu / dapat diabaikan)
2 = sedang (gejala kadang mengganggu tetapi tidak menggangu tidur, aktifitas sehari-hari, dan/ atau kerja/sekolah)
3 = berat (gejala menggangu sama atau lebih dari 1 gejala yang ada pada 2)
Lampiran 2