BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pasar modal bukan merupakan hal yang asing bagi kita. Setiap orang dapat melakukan transaksi di dalam pasar modal. Tidak dapat dipungkiri bahwa pasar modal memiliki peran yang cukup besar bagi perekonomian suatu negara karena mempunyai dwi fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan1. Di sisi lain pasar modal juga
merupakan salah satu instrumen ekonomi utama yang dapat digunakan oleh berbagai lembaga baik domestik maupun internasional. Hal ini disebabkan keberadaan pasar modal dapat membuka kesempatan berusaha baru, baik bagi emiten maupun lembaga penunjang pasar modal lainnya.
Pasar modal dapat dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (yaitu investor) dan pihak yang memerlukan dana (yaitu issuer, pihak yang menerbitkan efek atau emiten). Dengan adanya pasar modal, maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbal hasil (return), sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbal hasil bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Agar kegiatan pasar modal dapat berjalan dengan baik, diperlukan lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatannya. Untuk itulah kemudian dibentuk Self-Regulatory Organization (SRO) atau Organisasi Regulator Mandiri. SRO terdiri dari 3 lembaga yang masing-masing mempunyai fungsi dan wewenang yang berbeda. Ketiganya bekerjasama untuk dapat mencapai kegiatan pasar modal yang teratur dan
efisien. Namun masih banyak yang belum mengetahui eksistensi dan fungsi dari ketiga lembaga SRO tersebut.
Oleh karena itu, kelompok kami memutuskan untuk mengangkat “FUNGSI
SELF-REGULATORY ORGANIZATION DALAM TRANSAKSI PASAR
MODAL” sebagai judul dari makalah kami.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
a. Bagaimana eksistensi SRO dalam transaksi di pasar modal?
b. Bagaimana fungsi SRO dalam transaksi di pasar modal?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA TERHADAP SELF REGULATORY
ORGANIZATION
A. PASAR MODAL
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memberikan pengertian Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Kemudian pengertian lain tentang pasar modal yang dikatakan oleh Marzuki Usman adalah, “Pasar modal adalah wadah untuk mencari dana bagi perusahaan dan wadah invetsasi bagi pemodal yang menyangkut kepentingan banyak pihak. Karena itu untuk terciptanya iklim investasi yang baik, dan berlakunya pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan yang baik harus ada instansi yang mengatur”.2
Pasar modal memainkan peranan penting bagi perkembangan ekonomi suatu negara, karena sebagaimana dikemukakan oleh Munir Fuady suatu pasar modal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut3:
1. Sarana untuk menghimpun dana-dana masyarakat untuk disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan yang produktif;
2. Sumber pembiayaan yang mudah, murah dan cepat bagi dunia usaha dan pembangunan nasional;
3. Mendorong terciptanya kesempatan berusaha dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja;
4. Mempertinggi efisiensi alokasi sumber produksi;
2 Marzuki Usman, ABC Pasar Modal, Jakarta : Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia / Institut Bankir Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, 1994, hal 10
5. Memperkokoh beroperasinya mekanisme financial market dalam menata sistem moneter, karena pasar modal dapat menjadi sarana “open market operation” sewaktu-waktu diperlukan oleh Bank Sentral;
6. Menekan tingginya tingkat bunga menuju suatu “rate” yang reasonable;
7. Sebagai alternatif investasi bagi para pemodal.
B.
SELF REGULATORY ORGANIZATION
Self-regulatory Organization (SRO) atau Organisasi Regulator Mandiri adalah institusi yang diberi kewenangan oleh undang-undang untuk mengatur anggotanya melalui peraturan yang dibuatnya sendiri.4 SRO mencakup tiga lembaga, yaitu : Bursa
Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian. Masing-masing lembaga tersebut menerbitkan peraturan sesuai dengan fungsi dan wewenang lembaga tersebut, misalnya Bursa Efek membuat aturan teknis dan tata cara dalam perdagangan saham.
Organisasi Regulator Mandiri berkewajiban memberikan pelaporan kepada Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) berupa data dan informasi yang disajikan dalam bentuk sistem pelaporan elektronik atau sering disebut "SRO's e-Reporting System".5 Laporan yang disampaikan merupakan daily and monthly activity report SRO kepada Bapepam. Tujuan utama dari e-Reporting adalah untuk mewujudkan tingkat layanan terhadap masyarakat umum dan investor yang berkualitas, peningkatan transparansi dan penyebaran informasi, peningkatan efisiensi kerja, dan peningkatan akuntabilitas industri pasar modal secara keseluruhan.
Adapun organisasi yang berwenang membuat peraturan sendiri untuk kegiatan usahanya antara lain :
1. Bursa Efek
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, ditentukan bahwa Bursa Efek merupakan pihak yang menyelenggarakan dan
menyediakan sistem dan/atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka. Pengertian ini mencakup pula sistem dan sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek, meskipun sistem dan sarana tersebut tidak mencakup sistem dan sarana untuk memperdagangkan efek.
Bursa efek didirikan dengan tujuan menyelenggarakan perdagangan Efek yang teratur, wajar, dan efisien. Perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien adalah suatu perdagangan yang diselenggarakan berdasarkan suatu aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten.6 Perdagangan efek yang efisien tercermin dalam
penyelesaian transaksi yang cepat dengan biaya yang relatif murah. Untuk mencapai tujuan yang telah dikemukakan di atas, bursa efek wajib menyediakan sarana pendukung dan mengawasi kegiatan Anggota Bursa Efek.
Dengan tersedianya sistem atau sarana yang baik, tentu para Anggota Bursa Efek yang sekaligus pemegang saham bursa efek yang bersangkutan dapat melakukan penawaran jual beli secara teratur, wajar, dan efisien. Disamping itu juga dapat memungkinkan bursa efek melakukan pengawasan terhadap anggotanya dengan lebih efektif. Bursa efek merupakan lembaga yang diberi kewenangan untuk mengatur pelaksanaan kegiatannya. Dalam menjalankan fungsinya sebagai SRO, Bursa Efek membuat aturan teknis dan tata cara dalam perdagangan saham.7 Oleh karena itu,
ketentuan yang dikeluarkan oleh bursa efek mempunyai kekuatan mengikat yang wajib ditaati oleh Anggota Bursa Efek, emiten yang efeknya tercatat di bursa efek tersebut, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Kustodian, atau Pihak Lain yang mempunyai hubungan kerja secara kontraktual dengan bursa efek.8
Menurut Darmadji dan Fakhrudin terdapat 2 macam tugas dari Bursa Efek, antara lain9 :
a) Tugas bursa efek sebagai fasilitator :
Menyediakan sarana perdagangan efek;
Mengupayakan likuiditas instrumen, yaitu mengalirnya dana secara cepat pada efek-efek yang dijual;
6 Abdul Rasyid Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan : Teori dan Contoh Kasus, Jakarta: Kencana, 2005, hlm. 221.
7 Hendy M. Fakhruddin, Istilah Pasar Modal A-Z, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2008, hlm. 185. 8 Ibid, hlm. 222.
Menyebarluaskan informasi bursa ke seluruh lapisan masyarakat;
Memasyarakatkan pasar modal, untuk menarik calon investor dan perusahaan yang go public;
Menciptakan instrumen dan jasa baru.
b) Tugas bursa efek sebagai Self Regulatory Organization/Organisasi Regulator Mandiri :
Membuat peraturan yang berkaitan dengan kegiatan bursa;
Mencegah praktek transaksi yang dilarang melalui pelaksanaan fungsi pengawasan;
Ketentuan bursa efek mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi pelaku pasar modal;
2. Lembaga Kliring dan Penjaminan
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 1 butir 9, “Lembaga Kliring dan Penjaminan adalah pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian Transaksi Bursa.” Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP) berbentuk perseroan terbatas, yaitu PT. Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI). Menurut ketentuan Pasal 15 dan 16 Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1995 ditentukan bahwa : Lembaga Kliring dan Penjaminan harus memperoleh izin dari Bapepam dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp 15.000.000.000,00.
PT. Kliring & Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) memiliki tugas pokok untuk menjamin kepastian dipenuhinya hak & kewajiban anggota yang timbul dari transaksi bursa, memberikan pelayanan jasa yang sebaik-baiknya kepada anggota kliring, yang menyangkut transaksi bursa, dan penjaminan penyelesaian kepada anggota bursa yang sebaik-baiknya.
PT. Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) merupakan Self Regulatory Organization (SRO) yang turut berperan menentukan arah perkembangan pasar modal Indonesia. Sebagai Central Counterparty (CCP), KPEI menyediakan layanan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa. Kehadiran KPEI sebagai CCP diperlukan untuk lebih meningkatkan efisiensi dan kepastian dalam penyelesaian transaksi di Bursa Efek Indonesia.
efek, pinjam-meminjam efek, atau kontrak lain mengenai atau harga efek. Pinjam meminjam efek dapat terjadi dalam hal anggota bursa efek tidak memiliki efek yang mencukupi untuk menyelesaikan kewajibannya yang timbul akibat jual beli efek yang dilakukannya di bursa efek. Kontrak lain mengenai harga efek mencakup antara lain opsi terhadap indeks harga saham.
Kliring transaksi bursa adalah proses penentuan hak dan kewajiban yang timbul dari transaksi bursa. Sedangkan penjaminan penyelesaian transaksi bursa adalah pemberian kepastian dipenuhinya hak dan kewajiban bagi anggota bursa efek yang timbul dari transaksi bursa.
Di era Scriptless, peran lembaga ini makin besar, dimana semua efek di sentralisasi dalam bentuk elektronik dengan sistem C-Best, penyelesaian dilakukan dengan pemindah-bukuan (book-entry Settlement) efek atau dana dalam rangka memenuhi hak dan kewajiban yang timbul .
Pola kliring dan penjaminan pada dasarnya dibagi jadi 4 macam:
Kliring untuk transaksi bursa dengan warkat
Kliring untuk transaksi bursa tanpa warkat
Penjaminan transaksi bursa dengan warkat
Penjaminan transaksi bursa tanpa warkat
3. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 1 butir 10, “Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan Kustodian sentral bagi Bank Kustodian, Perusahaan Efek dan Pihak Lain.” Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian juga berfungsi sebagai penyedia fasilitas dalam kegiatan pasar modal.10
Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian ini berbentuk perseroan terbatas, yaitu PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang untuk menjalankan kegiatan usahanya harus mempunyai izin dari Bapepam dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp 15.000.000.000,00.
PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merupakan LPP di pasar modal Indonesia, yang didirikan di Jakarta, pada tanggal 23 Desember 1997 dan memperoleh izin operasional pada tanggal 11 November 1998. KSEI mulai menjalankan kegiatan operasional pada tanggal 9 Januari 1998, yaitu kegiatan
penyelesaian transaksi efek dengan warkat dengan mengambil alih fungsi sejenis dari PT Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI) yang sebelumnya merupakan Lembaga Kliring Penyimpanan dan Penyelesaian
BAB III
ANALISIS TERHADAP PERMASAHAN
Kasus gagal bayar dalam transaksi saham PT Dharma Samudera Fishing Industry (DSFI) dan PT Primarindo Asia Infrastruktur (BIMA) di Bursa Efek Jakarta (BEJ), beberapa waktu lalu, nyaris membangkrutkan PT Kliring Pejaminan Efek Indonesia (KPEI). Hal ini dikarenakan total nilai transaksi yang gagal bayar mencapai Rp 151 milyar, sedangkan KPEI hanya memiliki dana penjaminan sebesar Rp 185 milyar.
KPEI sendiri telah menguras dana penjaminannya sebesar Rp 32 milyar untuk menalangi transaksi gagal bayar itu. Sisanya belum dibayar karena transaksi dibekukan akibat adanya indikasi tidak beres. Hal tersebut memang merupakan tujuan dari eksistensi KPEI, yakni menjamin dapat terbayarnya transaksi yang terjadi di bursa. Akan tetapi, menjadi persoalan besar apabila gagal bayar itu terjadi akibat praktik terlarang seperti transaksi semu, serta transaksi lainnya yang dapat menguras kas penjaminan tersebut.
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan lembaga yang punya aturan sendiri (Self Regulatory Organization/SRO) sendiri, sedikitnya telah menemukan 20 Anggota Bursa yang terindikasi terlibat transaksi perdagangan semu yang berbuntut gagal bayar tersebut. Sebanyak 17 Anggota Bursa pada transaksi saham DSFI dan 3 Anggota Bursa pada transaksi saham BIMA.
Dua broker, yaitu PT. Jasabanda Garta dan PT. Ficor Securities Indonesia, terindikasi kuat terlibat dalam transaksi semu saham DSFI. Sementara broker yang diduga kuat terlibat dalam perdagangan saham BIMA adalah PT. Usaha Bersama Securities (UBS).
Pada intinya transaksi semu atau "goreng-menggoreng" saham akan merusak pasar, karena perdagangan berlangsung secara terlarang. Mereka yang menguasai modal, menguasai pasar, dapat dengan mudah mempermainkan investor yang baru belajar, apalagi hanya sekadar ikut-ikutan bermain saham. Karena itulah pengawasan Bapepam dan SRO menjadi sangat penting. Aturan harus ditegakkan dengan benar, dan menghukum pihak-pihak yang terlibat perdagangan semu. Jika tidak, maka pasar modal akan menjadi kacau.
***
SEBENARNYA, sekalipun menurut aturan pasar modal pembayaran transaksi harus dilakukan dengan waktu empat hari setelahnya atau T plus 4 (mulai akhir pekan lalu telah diubah transaksi T plus 3), praktik pembayaran T plus 0 menurut Direktur PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) Eddy Sugito merupakan hal wajar, dalam transaksi biasa. Artinya, jika semuanya berlangsung wajar, tidak akan terjadi gagal bayar. Demikian juga halnya transaksi semu, sekalipun merupakan pelanggaran serius terhadap Undang-undang Pasar Modal, semestinya juga tidak perlu sampai mengakibatkan gagal bayar.
Permasalahannya adalah dalam transaksi saham DSFI, kedua hal itu bergabung dan melibatkan banyak broker sehingga menjadi rumit. Polanya kurang lebih pertama-tama, pelaku transaksi semu, sebutlah si A, melakukan transaksi jual dan meminta pembayaran pada hari T plus 0 ke broker jual. Ini berarti, broker jual harus memberikan semacam talangan pembayaran. Sebab, menurut ketentuan, dia baru akan menerima uang pembelian dari broker belinya pada T plus 4. Pada saat penyelesaian transaksi, broker beli menyerahkan dananya ke KPEI, dan selanjutnya KPEI menyerahkannya kepada broker jual. Dalam hal terjadi gagal bayar, KPEI bertugas menalangi terlebih dahulu dengan uang penjaminan yang dimilikinya.
dana "menganggur" dari pembayaran transaksi jualnya yang menggunakan sistem T plus 0 pada hari T plus 0, T plus 1, T plus 2, dan T plus 3.
Persoalan terjadi ketika lembaga yang mengatur dirinya sendiri (Self Regulatory Organization/SRO) dalam hal ini Bursa Efek Jakarta (BEJ) mengumumkan imbauan untuk tidak melakukan pembayaran transaksi model T plus 0. Imbauan dilakukan karena SRO merasakan adanya sesuatu yang tidak beres dan mencurigai telah terjadinya praktik perdagangan semu. "Dari pola-pola transaksi, ada satu atau dua broker yang bertugas untuk membeli, dan ada sekian banyak broker yang bertugas untuk menjual. Kita lihat polanya kok cukup aneh," kata Direktur KPEI Eddy Sugito.
Karena adanya imbauan tersebut, pada tanggal 22 Agustus 2002 semua broker beli tidak mau melakukan transaksi dengan sistem T plus 0. Akibatnya, si A tidak mendapatkan dana yang rencananya digunakan untuk membayar transaksi beli pada empat hari sebelumnya yang menggunakan sistem T plus 4 tersebut. Sementara itu, dana "menganggur" dari transaksi jual dengan sistem T plus 0 pada hari T plus 0, T plus 1, T plus 2, dan T plus 3 yang pertama tersebut rupanya sudah dibawa keluar dari pasar modal dan digunakan untuk kepentingan lain. Kemudian terjadilah gagal bayar.
Persoalan semakin rumit, karena broker jual telah menalangi pembayaran terlebih dahulu pada transaksi selama tiga hari sebelumnya. Sementara, sebagian broker beli sudah membayar ke KPEI. Ketika kemudian settlement dibekukan karena ada indikasi transaksi semu dan ada upaya menjebol dana jaminan KPEI, maka terjadilah semacam kesulitan likuiditas.
Dua broker pada transaksi saham DSFI, yaitu PT Jasabanda Garta dan PT Ficor Securities Indonesia, dan broker pada perdagangan saham BIMA, PT Usaha Bersama Securities (UBS), pun kelabakan.
Jasabanda yang memiliki kewajiban Rp 85 milyar, hingga pekan lalu baru bisa membayar Rp 68 milyar ke KPEI, sementara Ficor bahkan sama sekali belum memenuhi kewajibannya sebesar Rp 25 milyar. Kedua broker ini meminta tambahan waktu untuk melunasi kewajiban hingga akhir bulan September. Sementara itu, UBS yang punya kewajiban Rp 41 milyar, namun akhirnya hanya mampu menyetorkan Rp 9,7 milyar ke rekening KPEI.
dengan 19 Juli. Sementara, mekanisme T plus 0 diperkirakan sudah berlangsung tiga minggu terakhir, sebelum terjadi gagal bayar.
Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa broker-broker yang memiliki pengalaman dan pengetahuan pasar modal secara memadai mau mengambil risiko, dan memberikan talangan pembayaran dengan sistem T plus 0 dalam transaksi tersebut. Mustahil rasanya jika para broker tersebut beralasan sama sekali tidak tahu. Sebab mereka tahu benar karakteristik nasabah/investor serta sahamnya. Bahkan, kali ini beberapa broker besar pun sempat ikut terperosok. Atau jangan-jangan upaya penjebolan KPEI itu memang dilakukan broker itu sendiri.
Tampaknya, dalam situasi pasar sedang sepi seperti sekarang, lalu ada tawaran menarik, yaitu tawaran jual saham dari nasabah, dengan pembayaran di muka, diberi potongan harga senilai bunga 24 persen setahun. Kalau ada dana “menganggur”, mengapa tidak. Meskipun tidak begitu menggiurkan, tetapi lumayan, dua kali bunga deposito. Ditambah lagi dengan iming-iming bahwa transaksi pasti aman karena ada penjaminan dari KPEI.
Sebagaimana dikemukakan Ketua Bapepam Herwidayatmo, banyak broker justru bertingkah laku berkebalikan dari yang diharapkan. Salah satunya, tidak mencatatkan sub account (sub rekening) nasabahnya ke PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), tetapi hanya mencatatkan saham atas nama perseroan saja. Dengan demikian, akan lebih sulit bagi SRO dan Bapepam untuk melindungi nasabah. Bahkan, nasabah pun tidak akan mengerti bagaimana sebenarnya sahamnya ditransaksikan, karena kepemilikannya sengaja dicampurbaurkan dengan saham milik broker sendiri.11
B. ANALISIS
1) Eksistensi SRO dalam transaksi di pasar modal
PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merupakan LPP di pasar modal Indonesia, yang didirikan di Jakarta, pada tanggal 23 Desember 1997 dan
memperoleh izin operasional pada tanggal 11 November 1998. Dalam kelembagaan pasar modal Indonesia, KSEI merupakan salah satu Self Regulatory Organization (SRO), selain Bursa Efek dan LKP. KSEI, berdasarkan ketentuan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, menjalankan fungsinya sebagai LPP di pasar modal Indonesia dengan menyediakan jasa kustodian sentral dan penyelesaian transaksi efek yang teratur, wajar, dan efisien.
KSEI mulai menjalankan kegiatan operasional pada tanggal 9 Januari 1998, yaitu kegiatan penyelesaian transaksi efek dengan warkat dengan mengambil alih fungsi sejenis dari PT Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI) yang sebelumnya merupakan Lembaga Kliring Penyimpanan dan Penyelesaian (LKPP). Selanjutnya sejak 17 Juli 2000, KSEI bersama PT Bursa Efek Indonesia (d/h PT Bursa Efek Jakarta) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) mengimplementasikan perdagangan tanpa warkat (scriptless trading) dan operasional kustodian sentral di pasar modal Indonesia. Saham KSEI dimiliki oleh para pemakai jasanya, yaitu: SRO (PT. BEI dan PT. KPEI), Bank Kustodian, penyelesaian transaksi efek, distribusi hasil Corporate Action dan jasa-jasa terkait lainnya, seperti: Post Trade Processing (PTP) dan penyediaan laporan-laporan jasa kustodian sentral.
yang tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan, besarnya biaya atas pemakaian jasa LPP harus disesuaikan dengan kebutuhan dana penyelenggaraan dan pengembangan lembaga tersebut setelah mempertimbangkan kepentingan pemakai jasa.12
2) Fungsi SRO dalam transaksi di pasar modal
Seperti yang kita ketahui, SRO memiliki fungsi untuk menunjang terseleranggaranya proses transaksi yang berlangsung di pasar modal dengan membuat sendiri peraturan-peraturan yang berkaitan dengan fungsi dan wewenang lembaga tersebut. SRO juga berkewajiban menjaga kelancaran setiap tahap-tahap transaksi-transaksi yang terjadi dari Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyelesaian dan Penyimpanan hingga transaksi tersebut selesai dilakukan. Dengan adanya SRO ini, para calon pemilik saham diberikan kepastian terhadap terselesaikannya proses transaksi saham hingga saham tersebut kepemilikannya beralih menjadi milik pemegang saham tersebut.
Berdasarkan kasus yang dijabarkan di atas, kita dapat melihat bagaimana salah satu SRO, yakni PT. Kliring Penjamin Efek Indonesia menjalankan fungsinya dalam menjamin penyelesaian transaksi yang ada di pasar modal. KPEI menunjukkan perannya dalam mencegah terjadinya gagal bayar dalam transaksi di pasar modal. Dalam hal terjadi gagal bayar, KPEI bertugas menalangi terlebih dahulu dengan uang penjaminan yang dimilikinya.
KPEI melakukan fungsinya untuk mencegah terjadinya gagal bayar dengan mengeluarkan imbauan. Imbauan dilakukan karena SRO mencium adanya ketidakberesan dan curiga telah terjadi praktik perdagangan semu. Tindakan mengeluarkan imbauan tersebut menunjukkan KPEI menggunakan wewenangnya untuk mengeluarkan keputusan agar terciptanya kelancaran dalam proses perdagangan di pasar modal. Keberadaan KPEI dalam kasus ini menunjukkan fungsi KPEI dalam menjaga kelanjutan dari kegiatan bursa efek dalam rangka penyelesaian transaksi bursa karena hal tersebut sesuai dengan standar internasional yang menyatakan bahwa tidak boleh terjadi kegagalan dalam transaksi pasar modal.
3) Hubungan SRO dengan lembaga lain yang terdapat dalam pasar modal
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya tentunya SRO juga tidak dapat terlepas dengan lembaga lainnya. Hubungan yang baik antara SRO dengan lembaga lainnya dapat mempermudah pelaksanaan fungsi dan tujuan dibentuknya lembaga tersebut. Misalnya saja hubungan antara bank, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan pasar modal. Secara singkat, hubungan yang terjadi adalah seorang investor yang melakukan investasi di pasar modal akan menggunakan akun rekening bank yang digunakan khusus untuk kegiatan investasi di pasar modal. Bank yang digunakan ini merupakan bank kustodian yang penunjukannya ditentukan oleh KSEI. Hubungan kerjasama antara KSEI dan bank kustodian ini dilakukan karena KSEI tidak dapat menjalankan fungsi pemindahbukuan dana, terutama untuk transaksi yang terkait dengan penerimaan dan pembayaran dana kepada pemakai jasa.
Dari hal diatas dapat terlihat secara jelas bahwa terdapat peran yang saling meniadakan antara perbankan dan pasar modal dalam hal intermediasi atau penyaluran dana kepada pihak masyarakat. Kedua lembaga ini memiliki peranan yang sama yaitu sebagai pihak penyalur dana antara pihak yang kelebihan dana (surplus unit) dengan pihak yang kekurangan dana (deficit unit). Hal ini memunculkan pendapat bahwa terjadi persaingan antara lembaga perbankan dengan pasar modal dalam hal intermediasi. Kedua pihak ini sebenarnya saling berhubungan secara postif karena investor saat melakukan investasi di pasar modal tentu mereka menggunakan rekening bank untuk mempermudah melakukan transaksi di pasar modal misalnya penjualan dan pembelian saham sebesar lot tertentu. Di antara bank dan pasar modal ini terdapat peranan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai pihak yang melakukan penunjukan atas bank yang dapat menjadi bank kustodian. Bank kustodian ini berfungsi untuk mempermudah pemindahbukuan dana terutama untuk transaksi yang terkait dengan penerimaan dan pembayaran dana kepada pemakai jasa. Hal ini tidak bisa dilakukan secara langsung oleh KSEI karena KSEI merupakan lembaga non perbankan sehingga tidak dapat melakukan fungsi pemindahbukuan tersebut.
pemindahbukuan dana, terutama untuk transaksi yang terkait dengan penerimaan dan pembayaran dana kepada pemakai jasa.
Pemegang rekening efek, yang terdiri dari perusahaan efek dan bank kustodian menggunakan jasa KSEI salah satunya untuk mengadministrasikan portofolio investor yang menjadi nasabah mereka dengan membuka sub rekening efek di KSEI. Dengan dibukanya sub rekening efek, nasabah pemegang rekening dapat melihat langsung portofolio mereka yang tersimpan di KSEI. Seluruh dana yang tercatat dalam rekening efek milik pemegang rekening akan ditempatkan oleh KSEI pada bank pembayaran dalam rekening giro khusus. Bank menjadi salah satu media yang memfasilitasi nasabah untuk berinvestasi di pasar modal sedangkan KSEI berperan dalam mempermudah transaksi-transaksi di pasar modal dan juga menjadi media perantara antara bank dan investor. Selain itu dengan adanya kerjasama antara bank dan pasar modal dapat mempermudah investasi. Kemudahan akses investasi ini akan membuat iklim investasi menjadi semakin baik, jumlah investor akan bertambah baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini tentu saja dapat memajukan perekonomian di Indonesia di masa depan.
BAB IV
PENUTUP
1. Self-Regulatory Organization atau Organisasi Regulator Mandiri adalah institusi yang diberi kewenangan oleh undang-undang yang berfungsi untuk mengatur anggotanya melalui peraturan yang dibuatnya sendiri. SRO di Indonesia terdiri dari tiga lembaga, yaitu : Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian. Setiap Organisasi Regulator Mandiri ini diwajibkan memberikan pelaporan kepada Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) berupa data dan informasi yang disajikan dalam bentuk sistem pelaporan elektronik atau sering disebut "SRO's e-Reporting System". Melalui sistem pelaporan ini diharapkan dapat menciptakan peningkatan transparansi dan penyebaran informasi, peningkatan efisiensi kerja, serta peningkatan akuntabilitas industri pasar modal dengan cara meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keandalan pelaporan
2. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Self-Regulatory Organization atau Organisasi Regulator Mandiri berperan cukup penting dalam transaksi perdagangan di pasar modal untuk mengatur anggotanya melalui peraturan yang dibuatnya sendiri. SRO menjalankan fungsinya dengan cukup baik dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang efektif dalam menjaga kelancaran transaksi di Bursa Efek.
SRO juga berkewajiban menjaga kelancaran setiap tahap-tahap transaksi-transaksi yang terjadi dari Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyelesaian dan Penyimpanan hingga transaksi tersebut selesai dilakukan. Dengan adanya SRO ini, para calon pemilik saham diberikan kepastian terhadap terselesaikannya proses transaksi saham hingga saham tersebut kepemilikannya beralih menjadi milik pemegang saham tersebut.
memiliki fungsi masing-masing dan lembaga-lembaga tersebut saling melengkapi dalam menjalankan kegiatannya untuk mencapai transaksi bursa yang efektif dan aman.
B. SARAN
Kewenangan Self-regulatory Organization (SRO) diusahakan untuk dapat melengkapi aturan pemerintah, ataupun dapat pula mengisi kekosongan dari aturan dan pengawasan pemerintah yang ada. Kemampuan dari SRO ini untuk melaksanakan kewenangan penerapan hukum tidak selalu merupakan bentuk pengalihan kewenangan dari pemerintah. Sistem organisasi regulator mandiri harus mampu menciptakan sistem informasi yang terintegrasi dan komprehensif untuk dapat menciptakan kerjasama antar lembaga dalam SRO dalam rangka pengembangan pasar modal sehingga adanya peningkatan kualitas SRO dirasa penting untuk dilakukan untuk kemudahan transaksi dalam pasar modal.
Abdul Rasyid Saliman. Hukum Bisnis Untuk Perusahaan : Teori dan Contoh Kasus. Jakarta: Kencana, 2005.
Hendy M. Fakhruddin. Istilah Pasar Modal A-Z. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2008.
M. Paulus Situmorang, Pengantar Pasar Modal, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2008.
Marzuki Usman. ABC Pasar Modal. Jakarta : Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia/Institut Bankir Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. 1994.
Munir Fuady. Pasar Modal Modern: Tinjauan Hukum. Bandung: PT Citra AdityaBakti. 1996.
Tjiptono Darmadji dan Fakhrudin. Pasar Modal Di Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Salemba Empat. 2012.
Tjiptono Darmadji dan Hendy M.Fakhruddin. Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat. 2006.
WEBSITE
http://www.bapmi.org/in/glossary.php diunduh pada tanggal 26 Oktober 2014 pukul 16.36 WIB.
http://www.bapepam.go.id/old/data/sro.htm diunduh pada tanggal 27 Oktober 2014 pukul 14.06 WIB.