• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEMANDIRIAN KELUARGA DALAM PERAWATAN DIRI (SELF CARE) MELALUI OPTIMALISASI PERAN PERAWAT UNTUK MENCAPAI INDONESIA CINTA SEHAT 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN KEMANDIRIAN KELUARGA DALAM PERAWATAN DIRI (SELF CARE) MELALUI OPTIMALISASI PERAN PERAWAT UNTUK MENCAPAI INDONESIA CINTA SEHAT 2014"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

2

PENINGKATAN KEMANDIRIAN KELUARGA DALAM

PERAWATAN

DIRI

(SELF

CARE)

MELALUI

OPTIMALISASI

PERAN

PERAWAT

UNTUK

MENCAPAI INDONESIA CINTA SEHAT 2014

Oleh

Endang Sri Purwanti Ningsih, M.Kep.

Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

ABSTRAK

Berbagai Permasalahan Kesehatan di Indonesia menuntut perlunya penekanan pada kemampuan keluarga dalam kemandirian kesehatan khususnya pada upaya promotif dan preventif. Program Peningkatan kemandirian Keluarga dapat dilakukan melalui optimalisasi peran perat komunitas dengan menerapkan pendekatan teori self care Orem dalam melakukan asuhan keperawatan Keluarga

A. PENDAHULUAN

Sehat merupakan dambaan setiap orang. Dengan sehat orang dapat melakukan segala aktifitas untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Bahkan secara makro, negara yang kuat didukung karena rakyat yang sehat. Mengingat urgensi sehat inilah pemerintah mempunyai komitmen melalui UU No 30 TH 2009 tentang kesehatan. Undang-undang ini mengamanatkan kesehatan adalah Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (pasal1, ayat1). Cita-cita ideal inilah yang menjadi dambaan setiap orang, keluarga, masyarakat dan negara.

Namun kenyataan di lapangan seiring maju dan pesatnya pembangunan di beberapa sektor secara umum berdampak pada pola kehidupan manusia itu sendiri baik yang positif maupun yang negatif. Dampak positif berdampak

(3)

3

secara hakiki pada peningkatan kesejahteraan manusia dan salah satu dampak negatif berpengaruh pada gaya hidup yang tidak seimbang denganperilaku hidup sehat. Hal ini berdampak baik cecara langsung maupun tidak pada kesehatan. Berbagai muncul dikarenakan gaya hidup yang tidak seimbang diantaranya hipertensi, jantung, gagal ginjal, diabetes militus, dan lain-lain.

Salah satu rencana strategi Kementrian kesehatan dalam mencapai cita-cita Untuk menjadikan masyrakat Sehat secara mandiri dan berkeadilan yaitu melalui peningkatan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global.

Pada dasarnya pembangunan kesehatan harus disertai partisipasi dari masyarakatnya sendiri karena masalah kesehatan bukan hanya masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah dan pekerja kesehatan semata. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan yang disertai dukungan dari instansi pemerintah dan mitra swasta akan membuat program pembangunan kesehatan berjalan baik. Pentingnya upaya peningkatan kemandirian masyarakat khususnya dalam upaya preventif dan promotif di bidang kesehatan tentunya menjadi langkah yang strategis dalam menangani persoalan kesehatan di Indonesia.

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat tentunya harus lebih dapat memainkan peranannya dalam mengelola kesehatan anggota keluarganya. Friedman et al (2003) mengatakan bahwa kelurga merupakan aspek penting dalam keperawatan. Pemberdayaan keluarga dapat dipandang sebagai suatu proses dalam memamdiirikan keluarga dalam mengontrol status kesehatan keluarganya. Defenisi lain tentang pemberdayaan adalah kemampuan orang lain melalui proses transfer termasuk di dalamnya transfer kekuatan/power, otoritas, pilihan dan perijinan sehingga mampu menentukan pilihan dan perijinan sehingga mampu menentukan pilihan dan membuat keputusan dalam mengontrol hidupnya.

Salah satu pendekatan teori yang digunakan dalam peningkatan kemandirian keluarga adalah teori self care oleh dorothea Orem

(4)

4 B. TUJUAN

Program pemberdayaan keluarga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan keluarga secara mandiri dalam mengelola kesehatan anggota keluarga terutaama dalam hal preventif dan kuratif.

C. LANDASAN TEORI

1. PROBLEMATIKA KESEHATAN DI INDONESIA

Berdasarkan hasil Riskesdas 2017 didapatkan masih terdapat beberapa masalah kesehatan dianataranya masih terbatasnya akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil khususnya ke RS pemerintah. Angka Kematian Ibu (AKI) sudah mengalami penurunan tetapi belum mencapai target MDG’s. Prevalensi TB paru yang belum terdapat perubahan dari tahun 2007 sampai 2013 dan terjadinya peningkatan prevalensi Hepatitis pada semua umur dari 0,6 % menjadi 1,2 % pada 2013. Masalah yang juga perlu diatasi adalah terjadinya peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti DM dan Hipertensi yang berkontribusi terhadap kesakitan dan kematian teritama pada wilayah perkotaan.

Berbagai permasalahan di atas mungkin akan terhambat pemecahannya jika kecenderungan pembiayan kesehatan masih berorientasi terhadap upaya kuratif dibandingkan dengan upaya promotif dan preventif. Salah satu upaya dalam mencapai visi Indonesia Sehat secara Mandiri dan berkeadilan dapat dilakukan dengan program peningkatan pemberdayaan keluarga dalam pengelolaan kesehatan. Meskipun saat ini sudah dikembangkan oleh pemerintah untuk meningkatkan jangkauan pelayanan melalui dokter keluarga tetapi menurut pengamatan penulis disamping jumlahnya yang masih terbatas juga masih menitikberatkan pada pelayanan kuratif.

2. KONSEP DAN PEMBERDAYAAN KELUARGA a. Defenisi

(5)

5

Pemberdayaan (empowerment) adalah upaya membangun kemampuan (daya) dengan memotivasi, membangkitkan kesadaran, dan berupaya mengembangkan potensi yang dimiliki.(Rodewll, 1999). Pemberdayaan keluarga diartikan dalam kemampuan menggali potensi yang dimiliki keluarga, mendorong, memotivasi, dan memberikan dukungan serta memfasilitasi upaya kesehatan jiwa agar keluarga dapat mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada di keluarganya.

Defenisi lain tentang pemberdayaan adalah kemampuan orang lain melalui proses transfer termasuk di dalamnya transfer kekuatan/power, otoritas, pilihan dan perijinan sehingga mampu menentukan pilihan dan perijinan sehingga mampu menentukan pilihan dan membuat keputusan dalam mengontrol hidupnya 1

Kebutuhan pemberdayaan keluarga dimulai sejak awal teridentifikasinya masalah kesehatan yang dialami keluarga sampai tercapai kemandirian dalam merawat dan mengelola.

b. Tujuan

Pemberdayaan keluarga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mandiri keluarga dalam:

1. Mengidentifikasi permasalah kesehatan pada anggota keluarga.

2. Mengambil keputusan yang tepat dalam menetapkan cara mengatasi masalah kesehatan pada anggota keluarga, 3. Memberikan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit 4. Memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat, lintas sector dan jaringan dukungan keluarga yang tersedia di masyarakat.

c. Proses Pemberdayaan Keluarga

Proses pemberdayaan keluarga meliputi: 1. Pengkajian kebutuhan pemberdayaan

(6)

6

Pengkajian keluarga dalam rangka pemberdayaan melalui Survey Mawas Diri (SMD) meliputi:

a) Identifikasi keluarga yang membutuhkan pemberdayaan

b) Identifikasi kemampuan keluarga dalam pemeliharaan gangguan jiwa anggota keluarga

c) Identifikasi kemampuan keluarga dalam bidang ekonomi

d) Identifikasi kemampuan keluarga dalam bidang psikososial

e) Identifikasi kemampuan keluarga dalam bidang spiritual f) Identifikasi sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan keluarga yaitu pelayanan kesehatan terdekat, sektor lain non kesehatan (pemerintah daerah, dinas-dinas) dan jaringan dukungan keluarga.

a. Analisa kebutuhan pemberdayaan keluarga

Analisis kebutuhan pemberdayaan keluarga dilaksanakan melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Masalah terkait dengan pemberdayaan dirumuskan setelah melakukan pengkajian. Masalah-masalah terkait dengan pemberdayaan keluarga meliputi:

1) Kebutuhan pemberdayaan dalam melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan keluarga

2) Kebutuhan pemberdayaan dalam bidang ekonomi 3) Kebutuhan pemberdayaan dalam bidang

psikososial

4) Kebutuhan pemberdayaan dalam bidang spiritual

(7)

7

Intervensi pemberdayaan keluarga dilakukan sesuai dengan kebutuhan..Berikut ini upaya pemberdayaan yang bisa dilakukan sesuai kebutuhan

3. Upaya pemberdayaan keluarga

Evaluasi keberhasilan pemberdayaan keluarga diukur dengan sejauh mana keluarga mampu mandiri dalam melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan keluarga, psikososial, ekonomi, dan spiritual.

1) Evaluasi dalam melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan: keluarga mampu melaksanakan tugas pemeliharaan keluarga.

2) Keberdayaan keluarga dalam bidang psikologis: mampu mengatasi masalah dengan cara yang konstruktif. 3) Keberdayaan ekonomi: mampu produktif dan mandiri

dalam peningkatan status ekonomi keluarga.

4) Keberdayaan dalam bidang spiritual: merasakan kesejahteraan dalam kehidupan spiritual.

4. Evaluasi Hasil Pemberdayaan Keluarga

3. PENDEKATAN SELF CARE OREM TEORI DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA

Orem (Susan & Katherine 2011) mengembangkan teori Self Care Deficit meliputi 3 teori yang berkaitan yaitu : 1). Self Care, 2). Self care defisit dan 3) nursing system. Ketiga teori tersebut dihubungkan oleh enam konsep sentral yaitu; self care, self care agency, kebutuhan self care therapeutik, self care defisit, nursing agency, dan nursing sistem, serta satu konsep perifer yaitu basic conditioning factor (faktor kondisi dasar).

Self care adalah tindakan yang matang dan mematangkan orang lain yang mempunyai kekuatan untuk dikembangkan, atau

(8)

8

secara tepat, nyata dan valid untuk mempertahankan fungsi dan berkembang dengan stabil dalam perubahan lingkungan self care digunakan untuk mengontrol atau meregulator factor internal dan eksternal yang mempengaruhi aktivitas seseorang untuk berfungsi dan mengembangkan proses yang berkontribusi terhadap

kesejahteraannya.

Sel care deficit merupakan hubungan antara self care agency dan therapeutic self care demand dari individu – individu yang kemampuan self carenya terbatas atau tidak dapat memenuhi semua komponen therapeutic self care demand.

Self care deficit dapat berbentuk komplek atau parsial . Self care defisit komplek berarti tidak ada kapasitas untuk menemukan satu atau beberapa self care defisit partial adalah keterbatasan kapasitas untuk menemukan satu atau beberapa self care requisite melalui therapeutic self care demand.

Orem mengidentifikasi lima metode yang dapat digunakan dalam membantu self care:

 Tindakan untuk atau dilakukan untuk orang lain.  Memberikan petunjuk dan pengarahan.

 Memberikan dukungan fisik dan psychologis.

 Memberikan dan memelihara lingkungan yang mendukung pengembangan personal.

 Pendidikan.

Orem (1991) mengidentifikasikan lima area aktifitas keperawatan yaitu:

 Membina hubungan dengan Keluarga dan memelihara hubungan perawat keluarga dengan individu, keluarga, kelompok sampai pasien dapat melegitimasi perencanaan keperawatan.

 Menentukan jika dan bagaimana pasien dapat dibantu melalui keperawatan.

 Bertanggungjawab terhadap permintaan pasien, keinginan dan kebutuhan untuk kontak dan dibantu perawat.

(9)

9

 Menjelaskan, memberikan dan melindungi keluarga secara langsung dalam bentuk keperawatan.

 Mengkoordinasikan dan mengintegrasi keperawatan dengan kehidupan sehari-hari keluarga, atau perawatan kesehatan lain jika dibutuhkan serta pelayanan sosial dan edukasional yang dibutuhkan atau yang akan diterima. Bantuan yang diberikan : nursing agency dengan menggunakan nursing system.

Teory Nursing System

Nursing system didesain oleh perawat didasarkan pada kebutuhan self care dan kemampuan pasien melakukan self care. Jika ada self care defisit, self care agency dan kebutuhan self care therapeutik maka keperawatan akan diberikan. Nursing agency adalah suatu properti atau atribut yang lengkap diberikan untuk orang-orang yang telah didik dan dilatih sebagai perawat yang dapat melakukan, mengetahui dan membantu orang lain untuk menemukan kebutuhan self care terapeutik mereka, melalui pelatihan dan pengembangan self care agency.

Langkah pertama dalam disain nursing system untuk unit multiperson pelayanan harus ditentukan apakah: peran anggota, eksistensi, hubungan perubahan, elemen-elemen dan system self care yang adekuat, dan komunikasi antara system individu dan aspek lain dalam kehidupan sehari-hari dan integrasi struktur dan fungsi dalam unit.

4. PEMBAHASAN (OPTIMALISASI PERAN PERAWAT DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA)

Meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut perawat memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif. Perawat kontemporer menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan

(10)

10

etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik (Potter dan Perry, 1997).

Fenomena yang terlihat saat ini adalah para perawat khususnya yang berada di Puskemas belum optimal melaksanakan asuhan keperawatan keluarga, mereka lebih banyak mengerjakan tugas administrative dibandingkan dengan tugas utamanya. Penelitian yang dilakukan oleh Agrina ( 2013 ) terdapat pengaruh yang signifikan asuhan keperawatan keluarga terhadap peningkatan kemandirian keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Beberapa stategi dapat dilakukan dalam optimalisasi peran perawat :

a. Peningkatan jumlah perawat komunitas yang rasionya sesuai dengan jumlah keluarga di Indonesia

b. Peningkatan kualitas SDM perawat melalui pendidikan formal maupun informal

c. Tugas Asuhan Keperawatan Keluarga menjadi tolak ukur kinerja perawat komunitas yang berkontribusi juga terhadap pembiayaan jasa keperawatan

d. Peningkatan Jejaring Kerja antar multidisplin ilmu

5. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

e. Masih kompleksnya permasalahan kesehatan di Indonesia hingga saat ini menuntut lebih maksimalnya upaya program dalam pelayanan preventif dan kuratif yang salah satunya dengan peningkatan pemberdayaan keluarga

f. Perlunya optimalisasi peran perawat komunitas/puskesmas dalam menjalankan keperawatan keluarga untuk meningkatkan kemandirian keluarga dalam mengelola kesehatannya.

g. Salah satu pendekatan yang digunakan oleh perawat komunitas adalah penerapan teori Self Care oleh Dorothea Orem.

(11)

11 DAFTAR PUSTAKA

Agrina (2007). Efektifitas Asuhan Keperawatan Keluarga Terhadap Tingkat Kemandirian Keluarga diakses dari http://www.google.co.id pada tanggal 4 Agustus 2014

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemetrian kesehatan 2013. Riskesdas 2013

Friedman, M.M., Bowden,V.R.,and Jones,E.G., 2003. Family Nursing, research Theory; Practice. 5 th Edition. Pretince Hall, New Jersey.

Kemeterian kesehatan 2010. Rencana Strategis Kemeterian kesehatan 2010-2014

Potter, P. A., dan Perry, A. G. (2005). Fundamentals of Nursing: Concept, Process, and Practice, 4/E. (Terj. Yasmin Asih, et al). Jakarta: EGC

Rodwell CM. An Analysis of the concept of empowerment . J.Adv.Nurs. 1999;5 (1):33-50

Susan GT and Katherine R.2011. Self-Care Science, Nursing Theory, and Evidence-Based Practice.Springer Publiser Company. New York

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang pernah dilakukan oleh penulis tentang keadaan remaja di Desa Midang setelah mengikuti program karang taruna, dengan

48 oleh pimpinan yang mengakibatkan komitmen organisasional karyawan akan meningkat. Pada variabel Budaya organisasi dengan pernyataan “Saya diberi reward apabila

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) guru dan siswa menggunakan tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam pembelajaran di kelas X SMK N

Alternatif terbaik berdasarkan hasil dari analisis kinerja jalan dan analisis hirarki proses, yaitu pada Alternatif 3 karena memiliki kinerja jalan yang cukup

model pembelajran CIRC merupakan model pembelajaran yang lebih cocok dan tepat diaplikasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia khusus pada materi membaca, menemukan

Untuk tipe kegagalan withdrawal , sambungan dengan kayu Pterospermum javanicum memberikan kekuatan sambungan yang lebih tinggi seperti dapat dilihat pada Gambar 2(b) karena kayu

Dari hasi perhitungan pada Bab IV dapat disimpulkan bahwa semakin besar asumsi tegangan rata-rata dan eksentrisitas, maka gaya prategang efektif sernakin bertambah

Hasil analisis data yang didapat dari pengolahan data, tidak sesuai dengan hipotesis yang telah diajukan oleh peneliti yaitu tidak terdapat hubungan yang