6 HUBUNGAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL DENGAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

60 

Teks penuh

(1)

DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

6.1 Pendahuluan

Alasan utama sebagian spesies ikan berada di suatu perairan disebabkan 3 hal pokok, yaitu: (1) memilih lingkungan hidupnya yang sesuai dengan kondisi tubuhnya; (2) mencari sumber makanan; (3) mencari tempat yang cocok untuk pemijahan dan perkembangbiakan (Nomura dan Yamazaki 1977; Laevastu dan Hayes 1981; Laevastu 1993). Variasi alami biomassa populasi ikan dewasa pelagis dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan, interaksi antar spesies dan ketergantungan kepadatan (Parrish dan Mallicoate 1995). Dengan demikian perubahan ketersediaan ikan pada suatu perairan dapat dianggap sebagai respons ikan terhadap perubahan kondisi lingkungan laut (Bakun 1996; Hartoko 1999; Wudianto 2001; Sundermeyer et al. 2005; Amri et al. 2006; Brander 2007). Selain itu perubahan jumlah produksi ikan juga merupakan indikator ketersediaan ikan dalam skala waktu dan ruang yang berhubungan dengan perubahan kondisi oseanografi (Bakun 1996; Sundermeyer et al. 2005; Hendriardi et al. 2005; Hanesson 2007; Martin et al. 2008).

Ikan pelagis kecil dominan berada di kawasan pantai dengan populasi terbesar berada di area upwelling. Ikan pelagis kecil adalah kelompok ikan yang berenang cepat dan terdistribusi di perairan yang sesuai dengan keadaan fisiknya (Fréon et al. 2005; Widodo et al. 1994).   Kawasan pantai sebagai habitat ikan

pelagis kecil adalah wilayah epipelagik atau kawasan fotik, yaitu kawasan pelagik yang mendapat cahaya.

Keberadaan ikan pelagis kecil tidak berada dalam suatu kawasan yang sempit, tetapi tersebar secara luas sebagai respons terhadap perubahan kondisi lingkungan. Respons ikan tidak terjadi secara mendadak atau segera setelah terjadi perubahan lingkungan, namun dapat saja terjadi dengan selang waktu yang berbeda akibat dinamika ekologi dan biologi (Bakun 1984; Rochet dan Trenkel 2003; Fréon et al. 2005). Dengan demikian melakukan evaluasi atau identifikasi perubahan produksi ikan hubungannya dengan kondisi lingkungan laut perlu

(2)

dilakukan pada skala waktu yang panjang dan mencakup kawasan secara luas. Selain itu juga perlu dievaluasi berdasarkan perbedaan phase waktu, baik bulanan, kuartalan ataupun tahunan agar dapat diketahui respon ikan terhadap perbedaan skala waktu dan ruang. Variabel utama yang mempengaruhi kelimpahan ikan pada suatu kawasan laut adalah: makanan, predasi, suhu, salinitas, dan konsentrasi oksigen terlarut. Variabel utama ini merupakan pendekatan yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pengaruh faktor lingkungan terhadap kegiatan perikanan (Fréon et al. 2005; Peltonen et al. 2007).

Identifikasi parameter lingkungan laut perlu dilakukan terutama parameter utama yang berpengaruh terhadap distribusi ikan. Suhu perairan merupakan salah satu parameter utama yang berpengaruh terhadap aktivitas ikan, karena suhu merupakan salah satu faktor penting yang mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme di laut (Nybakken 1982). Selain itu ketersediaan makanan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi distribusi ikan di laut (Laevastu dan Hayes 1981) yang mana kebiasaan makan ikan pelagis kecil adalah plankton dan ini dapat dideterminasi melalui kandungan klorofil dalam suatu perairan (Martin

et al. 2008; Bellido et al. 2008).

Perubahan secara temporal dan spatial, kadang luput untuk dipertimbangkan padahal pola-pola dinamika atau perubahan hanya dapat diketahui dari rangkaian pengamatan dengan cakupan yang luas dengan jangka waktu yang relatif lama (Sundermeyer et al. 2005).   Pengamatan kondisi biofisik perairan dalam suatu

wilayah yang luas dan skala waktu yang runtun dengan memanfaatkan data hasil 

penginderaan jarak jauh juga perlu dianalisis untuk dapat mendefinisikan perubahan yang terjadi dari serangkaian data. Untuk mendefinisikan serangkaian data dapat dilakukan dengan menggunakan parameter statistik. Parameter statistik dibutuhkan untuk dapat mendeskripsikan ciri-ciri dari sekumpulan data yang diamati sehingga dapat didefinisikan untuk berbagai kebutuhan analisis (Walpole 1997; Mattjik 2002). Ukuran pemusatan data (mean, median, modus) dan ukuran penyebaran data (range dan standar deviasi) adalah statistik dasar yang dapat digunakan untuk mendefinisikan sekumpulan data yang beragam (Mattjik 2002).

Perairan sebelah barat Sulawesi Selatan adalah perairan laut yang dilalui oleh massa air utama dari Samudera Pasifik menuju ke Samudera Hindia dan di

(3)

perairan ini arus kontinyu sepanjang tahun mengalir dari arah utara ke selatan di lapisan kedalaman >150 m (Hasanuddin 1998; Gordon et al. 1999; Gordon 2005). Namun pada lapisan permukaan Selat Makassar di pengaruhi oleh musim munson khususnya di bagian selatan Sulawesi, dimana pada munson barat massa air yang berasal dari Laut Jawa yang bersalinitas rendah masuk ke perairan bagian selatan Selat Makassar demikian juga ketika terjadi munson timur, lapisan permukaan Selat Makassar bagian selatan dipengaruhi massa air dari Laut Banda yang bersalinitas tinggi (Masumoto dan Yamagata 1993; Gordon et al. 2003).

Evaluasi terhadap hubungan kondisi oseanografi dengan kelimpahan ikan penting untuk dilakukan pada suatu kawasan, karena setiap kawasan perairan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga kondisi biofisik juga berbeda. Selain pendekatan kawasan juga perlu dengan pendekatan skala waktu. Penggunaan skala waktu penting dipertimbangkan, karena perairan di Indonesia secara tetap dipengaruhi angin munson yang berbeda arah secara tetap dalam setahun. Perairan pantai barat Sulawesi Selatan memiliki karakteristik perairan yang berbeda dari utara ke selatan, sehingga dibutuhkan evaluasi terhadap perubahan kondisi oseanografi dengan skala waktu yang berbeda hubungannya dengan kelimpahan ikan. Di sisi lain, hasil pemantauan lingkungan laut dengan satelit sudah banyak tersedia dan dapat diakses dengan mudah, di antaranya melalui internet. Ketersediaan data tersebut seyogianya dimanfaatkan untuk penelitian yang menunjang pengelolaan perikanan tangkap.

6.2 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah: 1) menentukan pola distribusi dan kelimpahan ikan melalui menganalisis suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil hubungannya dengan produksi, produktivitas, dan densitas ikan di perairan pantai barat Sulawesi Selatan berdasarkan perbedaan skala waktu; 2) Menentukan parameter statistik yang sesuai berdasarkan korelasiyang signifikan antara SPL dan klorofil dengan produksi, produktivitas, densitas dengan memperhatikan skala waktu.

6.3 Metodologi

Analisis dalam kajian ini dilakukan menggunakan data dalam bentuk kuartalan. Untuk data perikanan menggunakan produksi ikan, produktivitas dan densitas. Produksi ikan adalah jumlah produksi dari 8 jenis alat tangkap,

(4)

sedangkan produktivitas ikan adalah produksi ikan dari setiap upaya penangkapan dan densitas ikan adalah produksi ikan dalam luasan lokasi penangkapan ikan. Data upaya penangkapan yang digunakan adalah data yang telah distandardisasi ulang sebagaimana yang telah analisis pada Bab 5.

Terdapat perbedaan struktur waktu antara data suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil dengan data produksi ikan, dimana data SPL dan klorofil dalam bulanan dan data produksi ikan dalam kuartalan. Sehingga perlu dilakukan perhitungan untuk menyesuaikan dengan data produksi ikan. Perhitungan dari data bulanan menjadi kuartalan dilakukan dengan menggunakan parameter statistik, yaitu ukuran pemusatan data dan penyebaran data. Ukuran pemusatan data menggunakan mean, median, modus, minimum, dan maksimum, sedangkan ukuran penyebaran data menggunakan range dan standar deviasi.

Dalam perhitungan data SPL dan klorofil menjadi kuartalan dilakukan dengan 2 kategori skala waktu kuartalan, yaitu kategori kalender dan kategori musim. Kategori kalender adalah waktu kuartal sesuai kalender, dimana kuartal 1 diawali bulan Januari. Kategori musim, pada kuartal 1 diawali bulan Desember, dimana kategori musim berdasarkan perubahan angin munson yang secara tetap terjadi di Indonesia. Perubahan munson tersebut adalah: musim barat pada bulan Desember-Februari; musim timur pada bulan Juni-Agustus. Bulan Maret-Mei adalah peralihan musim barat ke musim timur dan September-November adalah peralihan dari musim timur ke musim barat (Birowo 1982; Nontji 1987).

6.3.1 Sumber data (1) Produksi ikan

Data produksi ikan bersumber dari statistik perikanan tangkap Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Selatan untuk kurun waktu 5 tahun (2002-2006). Data yang digunakan adalah kuartalan dan jenis data produksi sebagaimana telah diuraikan pada Bab 3.

(2) SPL dan klorofil

Data SPL dan klorofil diperoleh dari Ocean Color Time-Series Online

Visualization hasil citra satelit MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) Aqua untuk data klorofil, sedangkan data SPL hasil citra

(5)

Space Administration). Data citra satelit yang digunakan adalah data bulanan

yang telah dianalisis berdasarkan GES-DISC Interactive Online Visualization and

Analysis Infrastructure (GIOVANNI) untuk kurun waktu 5 tahun (2002-2006).

Data di download dari http://reason.gsfc.nasa.gov/giovanni dalam bentuk image dan ascii sesuai posisi geografi setiap zona di perairan pantai barat Sulawesi Selatan.

Sifat-sifat air di permukaan secara menegak hampir tidak berubah sampai pada kedalaman di mana terjadi transisi ke massa air yang dingin di bawahnya. Lapisan ini bersifat homogen karena secara intensif terdai proses percampuran. Kedalaman lapisan tercampur pada setiap perairan berbeda. Lapisan tercampur (mixed layer depth) di perairan Indonesia rata-rata berada pada kedalaman 40 m (Birowo 1982). Kedalaman lapisan tercampur di perairan Indonesia memungkinkan untuk menggunakan data citra satelit untuk mengidentifikasi distribusi dan kelimpahan ikan, walaupun sensor satelit hanya mendeteksi lapisan yang tipis di bagian permukaan (Komunikasi pribadi dengan Bidawi Hasyim 2010).

6.3.2 Analisis data

(1) Produksi ikan kuartal

Produksi ikan kuartalan 6 jenis ikan di setiap zona dihitung ulang guna untuk kebutuhan analisis dalam kajian ini. Perhitungan ulang dilakukan untuk menentukan produksi, produktivitas, dan densitas kuartal, dengan tahapan sebagai berikut:

1) Menghitung total produksi setiap kuartal di masing-masing zona, sebagai berikut:

K

nb 1

K

b ………(21)

dimana,

Kz = total produksi setiap kuartal di masing-masing zona z = zona dalam penelitian ini

b = jumlah kabupaten di masing-masing zona

Kb = total produksi setiap kuartal dari setiap kabupaten di masing-masing

(6)

2) Menjumlahkan total produksi setiap kuartal di masing-masing zona, sebagai berikut:

TP

∑ K

……….……….. (22) dimana, TPz = total produksi kuartal di masing-masing zona

Selanjutnya menghitung produksi kuartal dari setiap jenis ikan dan dilakukan pada masing-masing zona, sebagai berikut:

3) Menghitung produksi kuartal setiap jenis ikan, sebagai berikut:

TI

I

………. (23) dimana,

TIz = total produksi kuartal setiap jenis ikan di masing-masing zona

Ik = total produksi setiap jenis ikan dari 8 unit penangkapan (persamaan 2).

Tahapan perhitungan produktivitas ikan kuartalan di masing-masing zona adalah sebagai berikut:

4) Data upaya penangkapan ikan yang digunakan adalah data upaya penangkapan ikan tahunan yang telah distandardisasi (SU).

5) Data upaya penangkapan ikan tahunan dihitung menjadi data kuartal dengan pendekatan proporsi kegiatan penangkapan ikan, yaitu tinggi pada kuartal 3 dan rendah pada kuartal 4. Hal ini berkaitan dengan pola munson di perairan pantai barat Sulawesi Selatan. Dengan demikian penentuan proporsi untuk setiap kuartal untuk data tahunan upaya penangkapan ikan, sebagai berikut: kuartal 1: 20%; kuartal 2: 30%; kuartal 3: 35%; kuartal 4: 15%. Berdasarkan proporsi maka upaya penangkapan kuartal di tiap zona, dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut:

UP

, ,

……….………..……… (24) dimana,

UPK,z = upaya penangkapan setiap kuartal di setiap zona

SUk,d = upaya penangkapan ikan yang telah distandardisasi (analisis Bab

5)

PPK = proporsi upaya penangkapan setiap kuartal

(7)

SV

,

,

………(25)

dimana,

SVK,z = Produktivitas kuartal setiap jenis ikan di setiap zona

Densitas kuartal dari 6 jenis ikan adalah perbandingan produksi ikan setiap kuartal dengan luas kawasan setiap zona. Perhitungan luas kawasan setiap zona dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut:

7) Luas kawasan (Az) disesuaikan dengan posisi geografi lokasi penangkapan

ikan dari 8 unit penangkapan ikan dan dihitung dengan menjumlahkan kotak yang berukuran 0,10 x 0.10 (1 sel dalam citra satelit) yang terdapat dalam luasan posisi geografi yang telah ditentukan sebagai berikut:

- zona A: 5,60LS – 4,80LS dan 119,10BT – 119,40BT, berjumlah 26

kotak setara dengan 936 mil lautpersegi

- zona B: 4,70LS – 3,60LS dan 119,40BT – 119,60BT, berjumlah 24

kotak setara dengan 864 mil laut persegi

- zona C: 3,50LS – 2,10LS dan 118,90BT – 119,10BT, berjumlah 17

kotak setara dengan 612 mil laut persegi

8) Densitas dari 6 jenis ikan diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut:

DI

,

……….……. (26)

dimana,

DIK,z = Densitas kuartal setiap jenis ikan di masing-masing zona

(2) SPL dan klorofil

Data bulanan SPL dan konsentrasi klorofil dianalisis dengan tahapan sebagai berikut:

1) Data citra satelit SPL dan klorofil dalam bentuk ascii yang digunakan untuk analisis pada posisi geografi sebagai berikut:

- zona A : 5,60LS – 4,80LS dan 119,10BT – 119,40BT - zona B : 4,70LS – 3,60LS dan 119,40BT – 119,60BT - zona C : 3,50LS – 2,10LS dan 118,90BT – 119,10BT

(8)

2) Data bulanan dan SPL dan klorofil pada setiap zona dideskripsikan dengan menggunakan grafik. Guna mengetahui perbedaan perubahan bulanan SPL dan klorofil pada setiap zona menggunakan koefisien keragaman, dengan persamaan sebagai berikut (Walpole 1982):

100%

……… (27)

dimana, V= koefisien keragaman yang dinyatakan sebagai persen;

s= simpangan baku; dan x= nilai rata-rata.

3) Nilai SPL dan klorofil bulanan dari setiap posisi lintang dan bujur dihitung menjadi data kuartal menggunakan parameter statistik. Perhitungan data SPL dan klorofil bulanan menjadi kuartalan dilakukan dengan 2 kategori, yaitu kategori kalender dan musim (Tabel 16). Data tahun 2002 hanya tersedia mulai bulan Juli hingga Desember. Perhitungan parameter statistik mean, median, standar deviasi, range, minimum, dan maksimum menggunakan compare means analytical pada SPSS ver.15. Parameter statistik modus dihitung menggunakan Analysis tools histogram pada microsoft excel 2007. Sebelum dilakukan perhitungan data SPL dan klorofil, terlebih dahulu diurutkan sesuai kategori kalender dan musim. Tabel 16 Kategori waktu yang digunakan dalam perhitungan data SPL dan klorofil dari bulanan menjadi kuartalan.

Kategori kalender Kuartal Kategori musim

Januari Februari Maret 1 Desember Januari Februari April Mei Juni 2 Maret April Mei Juli Agustus September 3 Juni Juli Agustus Oktober November Desember 4 September Oktober November

(9)

(3) Tipologi hubungan SPL dan klorofil dengan produksi ikan

Pola distribusi ikan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan tipologi hubungan SPL dan klorofil dengan produksi, produktivitas dan densitas ikan berdasarkan skala waktu kategori kalender dan musim. Kombinasi nilai “tinggi” dan “rendah” dari SPL dan klorofil, akan menghasilkan 4 kuadran sebagai basis untuk membuat tipe-tipe distribusi ikan.

Oleh karena itu dalam penelitian ini dihasilkan 15 tipe pola distribusi ikan (Gambar 52). Masing-masing tipe tersebut adalah sebagai berikut:

Tipe 1: Ikan ada di perairan dengan klorofil tinggi pada SPL rendah. Tipe 2: Ikan ada di perairan dengan klorofil tinggi pada SPL tinggi. Tipe 3: Ikan ada di perairan dengan SPL tinggi pada klorofil rendah. Tipe 4: Ikan ada di perairan dengan SPL rendah pada klorofil rendah. Tipe 5: Ikan ada di perairan dengan klorofil tinggi dan SPL tinggi Tipe 6: Ikan ada di perairan dengan klorofil tinggi dan SPL rendah. Tipe 7: Ikan ada di perairan dengan klorofil rendah sampai tinggi pada

SPL rendah.

Tipe 8: Ikan ada di perairan dengan klorofil rendah sampai tinggi pada SPL tinggi.

Tipe 9: Ikan ada di perairan dengan SPL rendah sampai tinggi pada klorofil tinggi.

Tipe 10: Ikan ada di perairan dengan SPL rendah sampai tinggi pada klorofil rendah.

(10)

Keterangan: =suhu permukaan laut (0C); = klorofil (mg/m3); = produksi, Prduktivitas, dan densitas ikan.

Gambar 52 Tipologi hubungan suhu permukaan laut dan klorofil dengan produksi, produktivitas, dan densitas ikan.

Pada tipe 11 terdiri dari 5 pola yang menunjukkan tidak adanya pengaruh dari SPL dan klorofil terhadap distribusi ikan. Kegunaan tipe 11 ini relatif rendah. Lingkaran-lingkaran pada Gambar 52 adalah posisi relatif ikan dalam konfigurasi kombinasi SPL dan klorofil. Sebagai contoh pada tipe 2, ikan ada di perairan yang memiliki suhu relatif tinggi. Pada tipe 9, ikan ada pada perairan suhu relatif tinggi dan rendah, hanya pada perairan yang memiliki konsentrasi klorofil tinggi. Garis-grais pemisah kuadran adalah nilai tengah dari biplot. Penentuan biplot dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak S-PLUS 2000.

Output biplot pada setiap jenis ikan dibuat menjadi tipologi umum sebagai hasil untuk mengetahui pola distribusi ikan. Tipologi umum ditentukan dari minimal 3 tipe yang sama dari 6 jenis ikan pada setiap parameter statistik. Pola distribusi ikan berdasarkan tipologi di setiap zona ditentukan dari minimal 3 tipe yang sama pada 7 parameter statistik.

Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3 Tipe 4

Tipe 6 Tipe 7 Tipe 8 Tipe 9

Tipe 11

Tipe 5

(11)

(4) Korelasi parsial

Pola kelimpahan ikan disetiap zona ditentukan dengan mengetahui indikator yang terbaik sebagai prediktor, baik SPL maupun klorofil terhadap produksi, produktivitas, dan densitas ikan. Indikator terbaik ditentukan dengan analisis korelasi parsial. Korelasi parsial adalah bentuk hubungan antara X1, X2 …Xp

terhadap Y, dimana korelasi dijelaskan antara Y dan X1 ketika X2 …Xn tetap

diperhatikan tetapi dibuat tetap, dengan persamaan sebagai berikut (Walpole, 1997):

. !

………..………..… (28)

Analisis korelasi parsial digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara suhu permukaan laut (X1) dan klorofil (X2) dengan produksi ikan, dimana

kedua faktor oseanografi tersebut mempengaruhi distribusi ikan pada suatu wilayah perairan. Dengan demikian seberapa erat hubungan SPL dan klorofil dengan produksi ikan diketahui dengan salah satu faktor dibuat tetap. Analisis parsial korelasi dihitung menggunakan perangkat lunak SPSS ver.15.

6.4 Hasil

6.4.1 Perubahan kuartalan produksi ikan

Perubahan kuartalan produksi ikan di zona A menunjukkan tertinggi pada kuartal 2 dan terendah pada kuartal 4 (Gambar 53). Produksi kembung, tembang dan layang dominan pada setiap kuartal, sedangkan produksi teri cenderung tetap setiap kuartal dalam kurun waktu tahun 2002-2006. Produksi ikan kuartalan di zona B menunjukkan layang dan tembang dominan dalam kurun waktu tahun 2002-2006 (Gambar 54). Produksi ikan layang di zona B tinggi pada kuartal 3, sedangkan untuk jenis ikan kembung, teri, lemuru, tembang, dan selar cenderung tetap pada setiap kuartal. Pada zona C, produksi kuartalan layang dan selar dominan pada setiap kuartal (Gambar 55). Produksi jenis selar di zona C cenderung tetap pada setiap kuartal, untuk jenis layang tinggi pada kuartal 2.

Produktivitas dari 6 jenis ikan di zona A menunjukkan tinggi pada kuartal 4 dan terendah kuartal 3. Produktivitas jenis teri dan kembung lebih besar dibandingkan jenis lainnya (Gambar 56). Produktivitas ikan di zona B, dominan

(12)

jenis teri dan layang, dimana kedua jenis ikan tersebut tinggi pada kuartal 4 dan rendah pada kuartal 2 (Gambar 57). Perubahan kuartalan produktivitas ikan kuartalan di zona C menunjukkan jenis layang lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya, dimana produktivitas tinggi pada kuartal 4 dan rendah pada kuartal 3 (Gambar 58).

Densitas ikan di zona A menunjukkan tinggi pada kuartal 2 dan rendah pada kuartal 4, dimana kembung, tembang, dan layang dominan pada setiap kuartal (Gambar 59). Densitas ikan kuartalan di zona B menunjukan jenis layang dan tembang dominan pada setiap kuartal (Gambar 60). Densitas layang tinggi pada kuartal 3 dan rendah pada kuartal 1, sedangkan jenis tembang cenderung stabil pada setiap kuartal. Pada zona C, densitas layang lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya, dimana perubahan setiap kuartal cenderung sama. Jenis ikan lainnya juga menunjukkan kecenderungan yang sama pada setiap kuartal (Gambar 61).

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 53 Fluktuasi kuartalan produksi 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona A. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 1000 2000 3000 P ro d u k si ( to n ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 1000 2000 3000 P ro d u k si ( to n ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(13)

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 54 Fluktuasi kuartalan produksi 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona B.

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 55 Fluktuasi kuartalan produksi 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2004 di zona C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0 500 1000 1500 2000 P ro d u k si (t on ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0 500 1000 1500 2000 P ro d u k si (t o n ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0 250 500 750 P rod u k si ( ton ) 2002 2003 2004 Tahun 0 250 500 750 P rod u k si ( ton ) 2002 2003 2004 Tahun

(14)

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 56 Fluktuasi kuartalan produktivitas 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona A.

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 57 Fluktuasi kuartalan produktivitas 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona B. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 P rod u k ti vi tas ( ton /u n it ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 P rod u k ti vi tas ( ton /u n it ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.0 4.0 8.0 12.0 P rod u k ti vi tas ( ton /u n it ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.0 4.0 8.0 12.0 P rod u k ti vi tas ( to n /u n it ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(15)

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 58 Fluktuasi kuartalan produktivitas 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2004 di zona C.

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 59 Fluktuasi kuartalan densitas 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona A. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.0 5.0 10.0 15.0 P rod u k ti vi tas ( ton /u n it ) 2002 2003 2004 Tahun 0.0 5.0 10.0 15.0 P ro d u k ti vi tas ( to n /u n it ) 2002 2003 2004 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 1.0 2.0 3.0 D en si tas ( to n /m il l a u t p er se g i) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 1.0 2.0 3.0 D en si ta s (t o n /m il l au t p er se g i) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(16)

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 60 Fluktuasi kuartalan densitas 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona B.

Keterangan: = kembung; = teri; = lemuru; = tembang; = layang = selar

Gambar 61 Fluktuasi kuartalan densitas 6 jenis ikan untuk kurun waktu tahun 2002-2004 di zona C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.0 1.0 2.0 D en si tas ( ton /m il l au t p er se gi ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.0 1.0 2.0 D en si tas ( ton /m il l au t p er se gi ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.0 0.5 1.0 D en si tas ( ton /m il l a u t p er se g i) 2002 2003 2004 Tahun 0.0 0.5 1.0 D en si tas ( ton /m il l au t p er se gi ) 2002 2003 2004 Tahun

(17)

6.4.2 Kondisi oseanografi

(1) Fluktuasi kuartalan suhu permukaan laut (SPL)

Fluktuasi SPL di zona A lebih besar dibandingkan zona B dan C; zona C lebih stabil berdasarkan koefisien keragaman. Di setiap zona, SPL bulan Agustus selalu lebih dingin dibandingkan bulan-bulan lainnya. Pada bulan Agustus, SPL di zona C lebih hangat dibandingkan dengan di zona A dan B. Pada bulan Desember dan Januari SPL di zona B lebih hangat dibandingkan dengan di zona A dan C. (Gambar 62).

Pada umumnya mean SPL kategori kalender lebih hangat pada kuartal 2 dan 4 dan . Mean SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2, 3, dan 4. Mean SPL di zona B lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 4. Mean SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 2 dan 3, namun lebih dingin pada kuartal 1 (Gambar 63). Nilai mean SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori musim, mean SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Mean SPL di zona B lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 2. Mean SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 3, dan lebih dingin pada kuartal 2 (Gambar 63). Nilai mean SPL kategori musim terdapat pada Lampiran 20.

Pada kategori kalender kuartal 2 dan 4, median SPL di setiap zona lebih hangat pada kuartal 2 dan 4 dibandingkan kuartal 1 dan 3. Median SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2 dan 3. Median SPL di zona B lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 4. Median SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 3, sedangkan pada kuartal 1 dan 4 lebih dingin dibandingkan zona A dan B (Gambar 64). Nilai median SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori musim, median SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Median SPL di zona B menunjukkan lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 3. Median SPL di zona C cenderung lebih dingin dibandingkasn zona A dan B pada kuartal 1 dan 2, namun lebih hangat pada kuartal 3 (Gambar 64). Nilai median SPL kategori musim terdapat pada Lampiran 20.

(18)

Pada umumnya modus SPL kategori kalender cenderung lebih hangat pada kuartal 2 dan 4 di setiap zona. Pada kategori kalender, modus SPL di zona A cenderung lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 1, 2 dan 3. Modus SPL di zona B cenderung lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1, 2, dan 3. Modus SPL di zona C cenderung lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 3 (Gambar 65). Nilai modus SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 16.

Pada umumnya modus SPL kategori musim lebih hangat pada kuartal 2 pada setiap zona. Pada kategori musim, modus SPL di zona A cenderung lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Modus SPL di zona B cenderung lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1, 2, dan 4. Modus SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 3, namun cenderung lebih dingin pada kuartal 1 dan 2 (Gambar 65). Nilai modus SPL kategori musim terdapat pada Lampiran 17.

Pada kategori kalender, standar deviasi SPL di zona A cenderung lebih besar dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Standar deviasi SPL di zona B lebih besar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1. Standar deviasi SPL di zona C cenderung lebih kecil dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 66). Nilai standar deviasi SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 16.

Pada kategori musim, standar deviasi SPL di zona A cenderung lebih besar dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Standar deviasi SPL di zona B cenderung lebih besar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 2. Standar deviasi SPL di zona C cenderung lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 66). Nilai standar deviasi SPL kategori musim terdapat pada Lampiran 17.

Pada kategori kalender, range SPL di zona A lebih sempit dibandingkan zona B pada setiap kuartal. Range SPL di zona B cenderung lebih lebar dibandingkan zona A dan C pada setiap kuartal. Range SPL di zona C cenderung lebih sempit dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal. (Gambar 67). Nilai range SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 16.

(19)

Pada kategori musim, range SPL di zona A cenderung lebih sempit dibandingkan zona B pada setiap kuartal. Range SPL di zona B lebih lebar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 2. Range SPL di zona C cenderung lebih sempit dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 67). Nilai range SPL kategori musim terdapat di Lampiran 17.

Pada kategori kalender, minimum SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2, 3, dan 4. Minimum SPL di zona B lebih dingin di dibandingkan zona C pada kuartal 2 dan 3. Minimum SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 2 dan 3 (Gambar 68). Nilai minimum SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 16.

Pada kategori musim, minimum SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Minimum SPL di zona B cenderung lebih dingin dibandingkan zona C dan lebih hangat dibandingkan zona A pada setiap kuartal. Minimum SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 3 dan 4 (Gambar 68). Nilai minimum SPL kategori musim terdapat pada Lampiran 17.

Pada kategori kalender, maksimum SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2 dan 3. Maksimum SPL di zona B lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1, 2 dan 4. Maksimum SPL di zona C lebih dingin dibandingkan zona A dan B pada kuartal 3 dan 4 (Gambar 69). Nilai maksimum SPL kategori kalender terdapat pada Lampiran 16.

Pada kategori musim, maksimum SPL di zona A lebih dingin dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2 dan 3. Maksimum SPL di zona B lebih hangat dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1, 3 dan 4. Maksimum SPL di zona C lebih hangat dibandingkan zona A dan B pada kuartal 2 dan lebih dingin pada kuartal 1 dan 4 (Gambar 69). Nilai maksimum SPL kategori musim terdapat pada Lampiran 17.

(20)

Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 62 Perubahan bulanan SPL untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona A, B, dan C. Koefisien keragaman (cv) SPL di zona A =3,2; di zona B= 2,5 di zona C= 1,5.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 63 Fluktuasi mean SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ea n SP L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ea n SP L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ea n S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ea n S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 24 24.525 25.526 26.527 27.528 28.529 29.530 123456789101112123456789101112123456789101112123456789101112123456789101112 2002 2003 2004 2005 2006 Rata-ra ta SPL ( 0C) Bulan-Tahun

(21)

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 64 Fluktuasi median SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

 

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 65 Fluktuasi modus SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ed ia n S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ed ia n S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ed ia n S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 27.0 27.5 28.0 28.5 29.0 M ed ia n S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 27.0 28.0 29.0 M o d u s S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 27.0 28.0 29.0 M o d u s S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 27.0 28.0 29.0 M o d u s S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 27.0 28.0 29.0 M o d u s S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(22)

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 66 Fluktuasi standar deviasi SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 67 Fluktuasi range SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A,B,dan C.

Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.4 0.6 0.8 S ta n d a r d ev ia si S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.4 0.6 0.8 S ta n d a r d ev ia si S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.4 0.6 0.8 S ta n d a r d e v ia si S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.4 0.6 0.8 S ta n d a r d ev ia si S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 1.0 2.0 3.0 4.0 R a n g e S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 1.0 2.0 3.0 4.0 R a n g e S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 2.0 3.0 4.0 R a n g e S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 2.0 3.0 4.0 R a n g e S PL ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(23)

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 68 Fluktuasi minimum SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 69 Fluktuasi maksimum SPL (0C) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 25.0 26.0 27.0 28.0 M in im u m S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 25.0 26.0 27.0 28.0 M in im u m S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 25.0 26.0 27.0 28.0 M in im u m SP L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 25.0 26.0 27.0 28.0 M in im u m S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 28.0 29.0 30.0 M a k si m u m S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 28.0 29.0 30.0 M a k si m u m S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 28.0 29.0 30.0 M a k si m u m S P L ( o C ) Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 28.0 29.0 30.0 M a k si m u m S P L ( o C ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(24)

(2) Fluktuasi kuartalan klorofil

Fluktuasi konsentrasi klorofil di zona A lebih rendah dibandingkan zona B dan C dalam kurun waktu tahun 2002-2006. Pada bulan September-November, konsentrasi klorofil cenderung rendah di zona B dan C, sedangkan di zona A cenderung tinggi (Gambar 70).

Pada kategori kalender, mean klorofil di zona A cenderung tinggi dibandingkan zona B dan C pada setiap kuartal. Mean klorofil di zona B cenderung lebih rendah dibandingkan zona A dan lebih tinggi dibandingkan zona C pada kuartal 2,3, dan 4. Mean klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 71). Nilai mean klorofil kategori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, mean klorofil di zona A cenderung lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2,3, dan 4. Mean klorofil di zona B lebih tinggi dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1. Mean klorofil di zona C cenderung lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 71). Nilai mean klorofil terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori kalender, median klorofil di zona A cenderung lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Median klorofil di zona B cenderung lebih tinggi dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 2. Median klorofil di zona C cenderung lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 72). Nilai median klorofil kategori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, median klorofil di zona A lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada setiap kuartal. Median klorofil di zona B lebih rendah dibandingkan zona A dan C pada kuartal 2 dan 3. Median klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada kuartal 1 dan 4 (Gambar 72). Nilai median klorofil kategori musim terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori kalender, modus klorofil di zona A cenderung lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2, 3 dan 4. Modus klorofil di zona B lebih tinggi dibandingkan zona C dan lebih rendah dibandingkan zona A pada kuartal 2, 3, dan 4. Modus klorofil di zona C cenderung lebih rendah

(25)

dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 73). Nilai modus klorofil katergori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, modus klorofil di zona A lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Modus klorofil di zona B lebih rendah dibandingkan zona A dan lebih tinggi dibandingkan zona C pada kuartal 3 dan 4. Modus klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 73). Nilai fluktuasi modus klorofil kategori musim terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori kalender, standar deviasi klorofil di zona A cenderung lebih besar dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2 dan 3. Standar deviasi klorofil di zona B lebih besar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 4. Standar deviasi di zona C lebih kecil dibandingkan zona A dan B pada kuartal 1, 2, dan 4 (Gambar 74). Nilai standar deviasi klorofil kategori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, standar deviasi klorofil di zona A cenderung lebih besar dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Standar deviasi klorofil di zona B lebih besar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 2. Standar deviasi klorofil di zona C cenderung lebih kecil dibandingkan zona A dan B pada kuartal 1 (Gambar 74). Nilai standar deviasi klorofil kategori musim terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori kalender, range klorofil di zona A lebih lebar dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2. Range klorofil di zona B lebih lebar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 4. Range klorofil di zona C cenderung lebih sempit dibandingkan zona A dan B pada kuartal 1, 2, dan 4 (Gambar 75). Nilai range klorofil kategori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, range klorofil di zona A cenderung lebih lebar dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Range klorofil di zona B lebih lebar dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1. Range klorofil di zona C cenderung lebih sempit dibandingkan zona A dan B pada kuartal 1 dan 2 (Gambar 75). Nilai range klorofil kategori musim terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori kalender, minimum klorofil di zona A lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada setiap kuartal. Minimum klorofil di zona B

(26)

cenderung lebih rendah dibandingkan zona A dan lebih tinggi dibandingkan zona C pada setiap kuartal. Minimum klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 76). Nilai minimum klorofil pada kategori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, minimum klorofil di zona A lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada setiap kuartal. Minimum klorofil di zona B lebih tinggi dibandingkan zona C dan lebih rendah dibandingkan zona A pada setiap kuatal. Minimum klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada setiap kuartal (Gambar 76). Nilai minimum klorofil pada kategori musim terdapat pada Lampiran 19.

Pada kategori kalender, maksimum klorofil di zona A lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada kuartal 2. Maksimum klorofil di zona B cenderung lebih tinggi dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1 dan 4. Maksimum klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada kuatal 1, 2, dan 4 (Gambar 77). Nilai maksimum klorofil kategori kalender terdapat pada Lampiran 18.

Pada kategori musim, maksimum klorofil di zona A lebih tinggi dibandingkan zona B dan C pada kuartal 3 dan 4. Maksimum klorofil di zona B lebih tinggi dibandingkan zona A dan C pada kuartal 1. Maksimum klorofil di zona C lebih rendah dibandingkan zona A dan B pada kuartal 1 dan 2 (Gambar 77). Nilai klorofil kategori musim terdapat pada Lampiran 19.

(27)

Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 70 Fluktuasi bulanan klorofil (mg/m3) untuk kurun waktu tahun 2002-2006 di zona A, B, dan C. Koefisien keragaman (cv) klorofil di zona A=0,14; di zona B=0,16; dan di zona C=0,16.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 71 Fluktuasi mean klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.4 0.6 0.8 M ea n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.4 0.6 0.8 M ea n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.4 0.6 0.8 M ea n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.4 0.6 0.8 M ea n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 123456 78910111212 345678910111212345 67891011121 2345678910111212345 6789101112 2002 2003 2004 2005 2006 Rata ‐rata  klorofil  (mg/m 3) Bulan-Tahun

(28)

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 72 Fluktuasi median klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 73 Fluktuasi modus klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 M ed ia n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 M ed ia n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.4 0.6 M o d u s k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.4 0.6 M o d u s k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.4 0.6 M o d u s k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.4 0.6 M o d u s k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.2 0.4 0.6 M ed ia n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.2 0.4 0.6 M e d ia n k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(29)

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 74 Fluktuasi standar deviasi klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 75 Fluktuasi range klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.1 0.2 0.3 0.4 S ta n d a r d ev ia si k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.1 0.2 0.3 0.4 S ta n d a r d ev ia si k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.5 1.0 1.5 R a n g e k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.5 1.0 1.5 R a n g e k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.1 0.2 0.3 0.4 S ta n d a r d ev ia si k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.1 0.2 0.3 0.4 S ta n d a r d ev ia si k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.50 1.00 1.50 R a n g e k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.50 1.00 1.50 R a n g e k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(30)

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 76 Fluktuasi minimum klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C.

(kategori kalender) (kategori musim) Keterangan: = zona A; = zona B; = zona C

Gambar 77 Fluktuasi maksimum klorofil (mg/m3) pada setiap kuartal di zona A, B, dan C. Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.1 0.2 0.3 0.4 M in im u m k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.1 0.2 0.3 0.4 M in im u m k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.5 1.0 1.5 2.0 M a k si m u m k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.5 1.0 1.5 2.0 M a ks im um kl o ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.1 0.2 0.3 0.4 M in im u m k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.1 0.2 0.3 0.4 M in im u m kl o ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4 0.5 1.0 1.5 2.0 M a k si m u m k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun 0.5 1.0 1.5 2.0 M a k si m u m k lo ro fi l (m g /m 3 ) 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

(31)

6.4.3 Pola distribusi ikan

Pola distribusi ikan ditentukan dengan memperhatikan SPL dan klorofil ditentukan berdasarkan tipe yang sama dari tipologi tiap jenis ikan. Pada zona A, B dan C, tipologi umum kategori kalender pada produksi ikan dominan tipe 10 dan 11 pada semua parameter statistik (Gambar 78, 79, 80, dan Tabel 17). Pada parameter statistik mean dan median kategori kalender, tipologi dengan produksi ikan adalah tipe 10 di setiap zona. Pada kategori musim, tipologi umum pada mean dan standar deviasi dengan produksi ikan adalah tipe 11 pada setiap zona (Gambar 81, 82, 83, dan Tabel 18).

Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produktivitas ikan, pada parameter statistik mean adalah tipe 3 di setiap zona. Pada parameter statistik maksimum, tipe 8 di setiap zona (Gambar 84, 85, 86, dan Tabel 19). Pada kategori musim, tipologi umum dengan produktivitas di zona A adalah tipe 10 pada parameter statistik mean, median dan modus. Pada zona B, tipologi umum kategori musim dengan produktivitas didominasi tipe 11. Pada zona C, tipologi umum kategori musim dengan produktivitas adalah tipe 10 pada parameter statistik modus, minimum, dan maksimum (Gambar 87, 88, 89, dan Tabel 20).

Pada kategori kalender, tipologi umum SPL dan klorofil dengan densitas ikan pada semua parameter statistik cenderung tipe 11 di setiap zona (Gambar 92, 93, 94, dan Tabel 20). Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan densitas ikan cenderung tipe 11 pada semua parameter statistik, kecuali modus dan minimum di setiap zona (Gambar 95, 96, 97, dan Tabel 21).

Hasil tipologi umum tersebut diatas merupakan output dari S-PLUS 2000 sebagaimana terdapat pada Lampiran 20, 21, 22, 23, 24, dan 25. Hasil tipologi tersebut diatas menunjukkan pola distribusi ikan di zona A dan C adalah tipe 10, skala waktu kuartal musim, dengan data produktivitas ikan. Pola distribusi ikan di zona B adalah tipe 3, skala waktu kuartal kalender, dan data produktivitas ikan.

(32)

Gambar 78 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produksi ikan di zona A.

Gambar 79 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produksi ikan di zona B.

(33)

Gambar 80 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produksi ikan di zona C.

Tabel 17 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produksi ikan.

Parameter statistik

Tipe hubungan SPL dan klorofil dengan produksi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mean A B C Median A B C Modus A B C Standar deviasi A B C Range A B C Minimum A B C Maksimum A B C

(34)

Gambar 81 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produksi ikan di zona A.

Gambar 82 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produksi ikan di zona B.

(35)

Gambar 83 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produksi ikan di zona C.

Tabel 18 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produksi ikan.

Parameter statistik

Tipe hubungan SPL dan klorofil dengan produksi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mean A B C Median A B C Modus A B C Standar deviasi A B C Range A B C Minimum A B C Maksimum A B C

(36)

Gambar 84 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produktivitas ikan di zona A.

Gambar 85 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produktivitas ikan di zona B.

(37)

Gambar 86 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produktivitas ikan di zona C.

Tabel 19 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan produktivitas.

Parameter statistik

Tipe hubungan SPL dan klorofil dengan produktivitas

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mean A B C Median A B C Modus A B C Standar deviasi A B C Range A B C Minimum A B C Maksimum A B C Keterangan: huruf A, B, dan C adalah zona dalam penelitian ini.

(38)

Gambar 87 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produktivitas ikan di zona A.

Gambar 88 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produktivitas ikan di zona B.

(39)

Gambar 89 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produktivitas ikan di zona C.

Tabel 20 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan produktivitas ikan.

Parameter statistik

Tipe hubungan SPL dan klorofil dengan produktivitas

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mean A B C Median A B C Modus A B C Standar deviasi A B C Range A B C Minimum A B C Maksimum A B C

(40)

Gambar 90 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan densitas ikan di zona A.

Gambar 91 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan densitas ikan di zona B.

(41)

Gambar 92 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan densitas ikan di zona C.

Tabel 21 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori kalender dengan densitas ikan.

Parameter statistik

Tipe hubungan SPL dan klorofil dengan densitas

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mean A B C Median A B C Modus A B C Standar deviasi A B C Range B C A Minimum B C A Maksimum A B C Keterangan: huruf A, B, dan C adalah zona dalam penelitian ini.

(42)

Gambar 93 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan densitas ikan di zona A.

Gambar 94 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan densitas ikan di zona B.

(43)

Gambar 95 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan densitas ikan di zona C.

Tabel 22 Tipologi umum SPL dan klorofil kategori musim dengan densitas ikan.

Parameter statistik

Tipe hubungan SPL dan klorofil dengan densitas

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mean A B C Median A B C Modus A B C Standar deviasi A B C Range A B C Minimum A B C Maksimum A B C

(44)

6.4.4 Pola kelimpahan ikan

Pola kelimpahan ikan ditentukan berdasarkan korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produksi, produktivitas, dan densitas ikan. Pada skala waktu kuartal kategori kalender, hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produksi di zona A, menunjukkan signifikan dengan klorofil parameter statistik standar deviasi pada kembung. Analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produktivitas menunjukkan signifikan dengan SPL parameter statistik mean, median, modus, minimum, dan maksimum pada 5 jenis ikan, kecuali lemuru yang hanya signifikan dengan modus SPL. Selain itu signifikan produktivitas dengan klorofil parameter statistik range pada kembung. Analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan densitas menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan (Tabel 23). Nilai korelasi SPL dan klorofil dengan produksi terdapat pada Lampiran 26, produktivitas pada Lampiran 27, dan densitas pada Lampiran 28.

Pada skala waktu kuartal kategori musim, hasil analisis SPL dan klorofil dengan produksi di zona A, menunjukkan signifikan dengan SPL parameter statistik standar deviasi, range, dan maksimum. Pada standar deviasi signifikan dengan kembung, teri, layang, dan selar; parameter statistik range signifikan dengan kembung dan teri; parameter statistik maksimum signifikan dengan 5 jenis ikan, kecuali lemuru. Hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produktivitas signifikan dengan SPL dan klorofil parameter statistik modus pada kembung, teri, tembang, dan layang. Selain itu pada jenis lemuru dan tembang signifikan dengan klorofil parameter statistik standar deviasi. Hasil analisis korelasi parsial dengan densitas menunjukkan signifikan dengan SPL parameter statistik standar deviasi pada kembung, teri, layang, dan selar; dan parameter statistik range pada kembung (Tabel 24). Nilai korelasi SPL dan klorofil dengan produksi terdapat pada Lampiran 26, produktivitas pada Lampiran 27, dan densitas pada Lampiran 28.

Pada skala waktu kuartal kategori kalender di zona B, hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produksi menunjukkan signifikan dengan klorofil paramater statistik mean, median, standar deviasi, dan minimum pada kembung; parameter statistik modus, range, dan maksimum signifikan pada kembung dan

(45)

tembang. Hasil analisis SPL dan klorofil dengan produktivitas menunjukkan signifikan dengan SPL dan klorofil parameter statistik mean, minimum dan maksimum pada kembung. Signifikan dengan SPL parameter statistik standar deviasi pada tembang; parameter statistik range pada lemuru. Hasil analisis SPL dan klorofil dengan densitas menunjukkan signifikan dengan klorofil parameter statistik mean dan median pada kembung; parameter statistik modus pada kembung dan tembang; parameter statistik range pada kembung dan selar; parameter statistik minimum pada kembung; dan parameter statistik maksimum pada kembung dan selar (Tabel 25). Nilai korelasi SPL dan klorofil dengan produksi terdapat pada Lampiran 26, produktivitas pada Lampiran 27, dan densitas pada Lampiran 28.

Pada skala waktu kuartal kategori musim di zona B, hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produksi menunjukkan signifikan dengan SPL dan klorofil parameter statistik range pada selar. Signifikan dengan klorofil parameter statistik mean, median, standar deviasi, dan range pada kembung; parameter statistik maksimum signifikan pada kembung dan selar. Hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produktivitas, menunjukkan signifikan dengan SPL dan klorofil parameter statistik mean pada kembung. Signifikan dengan klorofil parameter statistik median pada kembung, tembang, dan selar; parameter statistik standar deviasi pada selar; parameter statistik range pada kembung; dan parameter maksimum pada kembung dan selar. Hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan densitas, menunjukkan signifikan dengan SPL dan klorofil parameter statistik range pada selar. Signifikan dengan klorofil parameter statistik mean, standar deviasi, range pada kembung; parameter statistik maksimum pada kembung dan selar (Tabel 26). Nilai korelasi SPL dan klorofil dengan produksi terdapat pada Lampiran 26, produktivitas pada Lampiran 27, dan densitas pada Lampiran 28.

Pada skala waktu kuartal kategori kalender di zona C, hasil analisis korelasi parsial SPL dan kloril dengan produksi, menunjukkan tidak signifikan. Hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produktivitas, menunjukkan signifikan dengan SPL dan klorofil parameter statistik standar deviasi pada tembang dan layang. Signifikan dengan SPL parameter standar deviasi pada

(46)

kembung; parameter statistik range pada tembang dan layang. Signifikan dengan klorofil parameter statistik standar deviasi pada selar. Hasil analisis korelasi parsian dengan densitas, menunjukkan tidak signifikan (Tabel 27). Nilai korelasi SPL dan klorofil dengan produksi terdapat pada Lampiran 26, produktivitas pada Lampiran 27, dan densitas pada Lampiran 28.

Pada skala waktu kuartal kategori musim di zona C, hasil analisis korelasi parsial SPL dan Klorofil dengan produksi, menunjukkan signifikan dengan klorofil parameter statistik standar deviasi pada teri; parameter statistik range dan maksimum pada kembung, teri, dan lemuru. Hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan produktivitas, menunjukkan tidak signifikan. Hasil analisis korelasi parsial SPL dan klorofil dengan densitas, menunjukkan signifikan dengan klorofil parameter statistik range pada teri dan lemuru; dan parameter statistik maksimum pada kembung, teri, dan lemuru (Tabel 28). Nilai korelasi SPL dan klorofil dengan produksi terdapat pada Lampiran 26, produktivitas pada Lampiran 27, dan densitas pada Lampiran 28.

Tabel 23 Signifikansi korelasi parsial parameter statistik SPL dan klorofil dengan produksi, produktivitas, dan densitas ikan pada kategori kalender di zona A.

Parameter statistik

kembung teri lemuru tembang layang selar

P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D mean median modus standar deviasi range minimum maksimum

Keterangan: P = produksi; Pv = produktivitas; D = densitas. = korelasi yang signifikan dengan SPL, = korelasi yang signifikan dengan klorofil.

(47)

Tabel 24 Signifikansi korelasi parsial parameter statistik SPL dan klorofil dengan produksi, produktivitas, dan densitas ikan pada kategori musim di zona A.

Parameter statistik

kembung teri lemuru tembang layang selar

P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D mean median modus standar deviasi range minimum maksimum

Keterangan: P = produksi; Pv = produktivitas; D = densitas. = korelasi yang signifikan dengan SPL, = korelasi yang signifikan dengan klorofil.

Tabel 25 Signifikansi korelasi parsial parameter statistik SPL dan klorofil dengan produksi, produktivitas, dan densitas ikan pada kategori kalender di zona B.

Parameter statistik

kembung teri lemuru tembang layang selar

P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D P Pv D mean median modus standar deviasi range minimum maksimum

Keterangan: P = produksi; Pv = produktivitas; D = densitas. = korelasi yang signifikan dengan SPL; =korelasi yang signifikan dengan klorofil.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :