FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN KONSUMSI DAGING SAPI RENDAH LEMAK

82 

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN

KONSUMSI DAGING SAPI RENDAH LEMAK

(Studi kasus di Supermarket Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta)

Oleh:

Rizkiana Amalia Pahar

A 14102702

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(2)

RIZKIANA AMALIA PAHAR, 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Keputusan Konsumsi Daging Sapi Rendah Lemak (Studi Kasus di Supermarket

Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta. Dibawah Bimbingan DEDI BUDIMAN HAKIM.

Sektor Peternakan merupakan salah satu bidang pertanian yang mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan pembangunan nasional. Salah satu tujuan pengembangan pembangunan nasional di sektor peternakan adalah usaha pemenuhan gizi masyarakat yang berasal dari protein hewani yaitu salah satu diantaranya dapat diperoleh dari daging.

Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi daging menyebabkan meningkatnya konsumsi daging nasional. Hal ini diketahui dari meningkatnya konsumsi produk daging nasional. Pada tahun 2005 konsumsi daging mencapai 1.578,872 ton dan tahun 2006 konsumsi tersebut meningkat 260,070 sehingga konsumsi bertambah menjadi 1.601,60 ton. (Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2006). Seiring dengan meningkatnya konsumsi daging nasional tersebut menyebabkan produksi daging nasional pun turut mengalami peningkatan.

Meningkatnya produksi daging khususnya daging sapi sejak tahun 2002,menunjukkan bahwa daging sapi ini merupakan daging yang paling disukai oleh masyarakat Indonesia. Salah satu daerah yang paling banyak mengkonsumsi daging sapi adalah Propinsi DKI Jakarta. Hal ini dikarenakan DKI Jakarta memiliki jumlah penduduk lebih dari sepuluh juta jiwa (Retnowati,2005). Selain itu pula, Propinsi DKI Jakarta merupakan salah satu kota besar yang masyarakatnya cenderung lebih cepat menyerap arus globalisasi yang mempengaruhi gaya hidup (life style) mereka, seperti pola konsumsi pangan. Masyarakat khususnya di daerah perkotaan, dengan mobilitas sehari-hari yang cukup tinggi lebih memilih untuk mengkonsumsi pangan yang tidak hanya berorientasi pada makanan yang cepat saji saja. Melainkan saat ini mereka juga memperhatikan kesehatan tubuh agar tetap dapat beraktivitas dengan baik. Salah satu cara mereka menjaga kesehatannya yaitu dengan mengkonsumsi daging sapi khususnya daging sapi yang kandungan lemaknya rendah. Berdasarkan uraian tersebut maka penting sekali bagi pemasar untuk memahami karakteristik perilaku konsumen mengenai daging sapi rendah lemak dan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi daging sapi rendah lemak.

Penelitian ini merupakan survey terhadap konsumen yang membeli daging sapi rendah lemak. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Jakarta, khususnya di Supermarket Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta. Pemilihan tempat tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa Supermarket-supermarket tersebut memiliki tingkat keramaian yang cukup tinggi, mempunyai fasilitas lengkap dan merupakan supermarket yang cukup besar di kota Jakarta yang menyediakan daging sapi lokal maupun impor, khususnya daging sapi rendah lemak. Pemilihan kota Jakarta sebagai tempat penelitian, dipilih juga karena Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sepuluh juta jiwa dan salah satu daerah yang masyarakatnya cenderung lebih cepat menyerap arus globalisasi yang mempengaruhi gaya hidup (life style) mereka. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2006.Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan

(3)

wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari majalah, buku, internet dan studi literatur yang terkait dengan topik penelitian. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi logit. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis identitas umum responden dan karakteristik responden. Analisis regresi logit digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian daging sapi rendah lemak.

Secara umum responden yang banyak mengkonsumsi daging sapi rendah lemak adalah sebanyak 44 orang (62,9 persen) yang terdiri dari wanita sebanyak 38 orang (86,4 persen) dan pria sebanyak 6 orang (13,6 persen). Umur responden yang paling banyak dijumpai adalah umur 31-40 tahun (41,0 persen) dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 5-7 orang (63,6 persen). Adapun tingkat pendapatan keluarga adalah lebih besar sama dengan Rp 3.000.000 sebanyak 42 orang (95,5 persen) dengan pekerjaan bukan pegawai negeri sebanyak 41 orang (93,2 persen) dengan latar pendidikan rata-rata S1 sebanyak 22 orang (50 persen). Tempat pembelian yang nyaman bagi konsumen adalah di supermarket sebanyak 32 orang (72,7 persen). Adapun jenis daging sapi rendah lemak yang paling banyak dibeli adalah has dalam (tenderloin) sebanyak 21 orang (47,7 persen) dengan rata-rata pembelian sebanyak 1-2 kg/bulan (52,3 persen atau sebanyak 23 orang). Alasan konsumen mengkonsumsi daging sapi rendah lemak adalah untuk kesehatan mereka sendiri sebanyak 21 orang (47,7 persen). Daging sapi rendah lemak yang mereka konsumsi adalah daging sapi rendah lemak impor dengan pertimbangan cita rasanya yang enak sebanyak 11 orang (40,7 persen).

Adapun faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian daging sapi rendah lemak adalah variabel umur responden, variabel pekerjaan yaitu bukan pegawai negeri serta tingkat pendidikan responden. Sedangkan faktor-faktor yang tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian daging sapi rendah lemak adalah variabel jenis kelamin, jumlah anggota keluarga dan tingkat pendapatan. Nilai Odds Ratio digunakan untuk melihat seberapa besar kecenderungan seseorang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak yang dipengaruhi oleh variable bebas tertentu.

Nilai Log likelihood digunakan untuk menduga keseluruhan model atau untuk melihat spesifikasi dan kesesuaian model pada regresi logistik. Nilai Log

likelihood adalah -39,024, nilai uji G adalah 14,311 dengan nilai p = 0,026. hal ini

berarti terdapat sekurang-kurangnya satu variable yang berpengaruh terhadap keputusan konsumsi daging sapi rendah lemak.

Karakteristik konsumen dibutuhkan untuk mengetahui ukuran pasar sasaran dan media yang harus digunakan agar jangkauannya efisien. Berdasarkan variable yang berpengaruh, strategi yang diterapkan bagi pihak pemasar adalah dengan memperhatikan penampilan fisik daging sapi rendah lemak lokal dan adanya harga yang lebih kompetitif sehingga sesuai dengan keinginan konsumen.

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa : Rizkiana Amalia Pahar Nomor Pokok : A 14102702

Judul : Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumsi Daging Sapi Rendah Lemak (Studi Kasus Di Supermarket Giant Poins Square Dan Giant Pondok Gede Jakarta)

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir . Dedi Budiman Hakim, M.Ec NIP. 131 846 871

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr.Ir. Didy Sopandie, MAgr. NIP. 131 124 019

(5)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI DAGING SAPI RENDAH LEMAK (Studi Kasus di Supermarket Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta) BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Juni 2008

Rizkiana Amalia Pahar A14102702

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Surabaya pada tanggal 11 September 1980 sebagai anak pertama dari pasangan Bapak H.Syamsul B Pahar, MSi dan Hj. Nurlaila Karim. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

Penulis mengikuti pendidikan dasar di Yayasan Pendidikan Islam II Jayapura pada tahun 1987. Kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 6 Makassar yang diselesaikan pada tahun 1996. Pada tahun 1999, penulis menyelesaikan pendidikan menengah atas dari SMA Negeri 2 Makassar dan diterima sebagai mahasiswa Diploma III (D3) melalui jalur USMI pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan selesai pada tahun 2002. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan Strata 1 (S1) pada Program Studi Ekstensi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT penulis panjatkan, berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumsi Daging Sapi Rendah Lemak (Studi Kasus di Supermarket Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta)”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Skripsi ini di susun berdasarkan hasil penelitian terhadap konsumen yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik individu yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumsi daging sapi rendah lemak.

Terimakasih penulis ucapkan bagi semua pihak atas dukungan yang telah diberikan hingga skrispsi ini selesai ditulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Akhir kata semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Juni 2008

Rizkiana Amalia Pahar A14102702

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan, berkat rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian skripsi ini adalah hasil dari kesungguhan, kerja keras, kesabaran, pengorbanan, doa, bimbingan dan nasehat berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar – besarnya kepada :

1. Orang Tua, kedua adikku dan keluargaku tercinta atas perhatian dan doa-doa serta dorongan moril dan materil yang penulis butuhkan dalam penulisan skripsi ini.

2. Dr.Ir.Dedi Budiman Hakim M.Ec selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi. 3. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen penguji terima kasih atas masukan untuk

perbaikan skripsi.

4. Eva Yolinda, SP, MM selaku dosen evaluator pada saat seminar dan dosen Komisi Pendidikan yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan skripsi.

5. Ibu Rita Nurmalita M.Si selaku dosen evaluator pada saat kolokium yang telah memberikan banyak masukan untuk perbaikan skripsi.

6. Sari Nalurita selaku pembahas seminar, terima kasih atas masukan untuk perbaikan skripsi.

7. Semua pihak yang ada di Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta.

8. Teman- temanku Edy, Meta, Rahmi, Junita, Ani, Wulan, Yanti, Leny terimakasih atas kebersamaannya selama ini.

9. Sahabat-sahabatku Endang, Wita, Azka, Penny, Ika, Wati, Ade, Imam, Ucok, Nipar atas dorongan dan semangatnya dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman sebimbingan Iin dan Mardian terima kasih atas kebersamaannya.

11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulisan ini.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL... iv

DAFTAR GAMBAR... vi

DAFTAR LAMPIRAN... vii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah... 4

1.3. Tujuan Penelitian... 6

1.4. Kegunaan Penelitian ... 6

1.5. Ruang Lingkup Penelitian... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1. Karakteristik Daging dan Daging sapi ... 8

2.2. Penelitian Mengenai Perilaku Konsumen ... 9

2.3. Penelitian Terdahulu Tentang Model Logit... 13

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN... 17

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 17

3.1.1. Definisi Konsumen... 17

3.1.2. Perilaku Konsumen... 17

3.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Keputusan Konsumen... 22

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional... 26

BAB IV. METODE PENELITIAN... 29

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29

4.2. Jenis dan Sumber Data ... 29

4.3. Metode Pengambilan Sampel ... 30

4.4. Metode Analisis Data... 30

4.4.1. Analisis Deskriptif ... 31

4.4.2. Analisis Model Logit... 31

4.5. Definisi Operasional ... 35

BAB V. GAMBARAN UMUM KARAKTERISTIK RESPONDEN... 36

5.1. Karakteristik Umum Responden ... 36

5.1.1. Jenis Kelamin ... 36

5.1.2. Umur ... 37

5.1.3. Jumlah Anggota Keluarga ... 37

5.1.4. Pekerjaan ... 38

5.1.5. Pendidikan ... 38

5.1.6. Pendapatan ... 39 5.2. Karakteristik Responden yang Mengkonsumsi

(10)

Daging Sapi Rendah Lemak... 40

5.2.1. Jenis kelamin ... 40

5.2.2. Umur Responden... 41

5.2.3. Tingkat Pekerjaan Responden ... 41

5.2.4. Tingkat Pendapatan Responden ... 42

5.2.5. Tingkat Pendidikan Responden... 43

5.2.6. Jenis Daging Sapi Rendah Lemak ... 44

5.2.7. Jumlah Pembelian Daging Sapi Rendah Lemak dan Jumlah Anggota Keluarga ... 44

5.2.8. Tempat Pembelian... 45

5.2.9. Alasan Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak... 46

5.2.10. Ciri-Ciri Daging Sapi Rendah Lemak yang Dipertimbangkan Dalam Pembelian ... 47

BAB VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MENGKONSUMSI DAGING SAPI RENDAH LEMAK ... 49

6.1. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Konsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 49

6.1.1. Nilai Odds Ratio... 50

6.1.2. Nilai Log Likelihood... 53

6.2. Implikasi Terhadap Pemasaran Daging Sapi Rendah Lemak ... 53

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

7.1. Kesimpulan... 56

7.2. Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 58

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Komposisi Beberapa Zat Gizi Daging Sapi, Ayam

Dan Kerbau Per 100 Gram ... 1

Tabel 2. Perkembangan Produksi Daging Di Indonesia ... 3

Tabel 3. Sebaran Menurut Jenis Kelamin Responden ... 36

Tabel 4. Sebaran Menurut Umur Responden ... 37

Tabel 5. Sebaran Menurut Jumlah Anggota Keluarga ... 38

Tabel 6. Sebaran Menurut Jenis Pekerjaan Responden... 38

Tabel 7. Sebaran Menurut Tingkat Pendidikan Responden ... 39

Tabel 8. Sebaran Menurut Tingkat Pendapatan Responden ... 40

Tabel 9. Sebaran Responden Menurut Jenis Kelamin yang Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 41

Tabel 10. Sebaran Responden Menurut Umur yang Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 41

Tabel 11. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pekerjaan yang Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 42

Tabel 12. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pendapatan yang Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 43

Tabel 13. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pendidikan yang Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 43

Tabel 14. Sebaran Responden Menurut Jenis Daging Sapi Rendah Lemak ... 44

(12)

Tabel 16. Jumlah Anggota Keluarga Responden yang Mengkonsumsi

Daging Sapi Rendah Lemak ... 45 Tabel 17. Tempat Pembelian Daging Sapi Rendah Lemak ... 45 Tabel 18. Cara Responden Memutuskan Pembelian Daging Sapi

Rendah Lemak ... 46 Tabel 19. Alasan Mengkonsumsi Daging Sapi Rendah Lemak ... 47 Tabel 20. Ciri-Ciri Daging Sapi Rendah Lemak yang Dipertimbangkan

Responden Dalam Keputusan Pembelian ... 48 Tabel 21. Hasil Pendugaan Analisis Regresi Logistik ... 50

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Model Perilaku Pengambilan Keputusan Konsumen

Dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya ... 18 Gambar 2. Komponen Dasar Proses Evaluasi Alternatif... 20 Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional... 28

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Pengolahan Regresi Logistik Menggunakan Minitab ... 60 Lampiran 2. Tabulasi Data Responden yang Mengkonsumsi Daging

Sapi Rendah Lemak... 61 Lampiran 3. Kuesioner Penelitian ... 63

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sektor Peternakan merupakan salah satu bidang pertanian yang mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan pembangunan nasional. Salah satu tujuan pengembangan pembangunan nasional di sektor peternakan adalah usaha pemenuhan gizi masyarakat yang berasal dari protein hewani, salah satu diantaranya dapat diperoleh dari daging.

Daging merupakan bahan pangan yang disukai oleh masyarakat, karena daging mengandung gizi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti kandungan protein yang tinggi, air, mineral, vitamin dan terdapat kandungan asam amino esensial yang lengkap dan seimbang (Soeparno,1992). Asam-asam amino tersebut bermanfaat untuk pertumbuhan otak manusia. Adapun komposisi beberapa zat gizi dalam daging (khususnya sapi, ayam dan kerbau) per 100 gram bahan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 1. Komposisi Beberapa Zat Gizi Daging Sapi, Ayam Dan Kerbau Per 100 Gram Bahan

Daging Zat Gizi

Sapi Ayam Kerbau

Air (gram) 66,0 - 84,0 Protein (gram) 18,8 18,2 18,7 Energi (K) 207,0 302,0 84,0 Lemak (gram) 14,0 25,0 0,5 Kalsium (mg) 11,0 14,0 7,0 Besi (mg) 2,8 1,5 2,0 Vitamin A (SI) 30,0 810,0 0,0 1

(16)

Berdasarkan Tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa tiap zat gizi yang terkandung dalam daging, baik itu untuk daging sapi, ayam dan kerbau berbeda-beda. Pada 100 gram daging sapi dan kerbau kandungan zat gizi yang terbesar adalah energi sebesar 207,0 Kal untuk daging sapi dan 84,0 Kal untuk daging kerbau, sedangkan pada daging ayam kandungan zat gizi yang terbesar adalah vitamin A sebesar 810,0 SI. Komposisi zat gizi ketiga daging tersebut secara keseluruhan menunjukkan bahwa sebenarnya daging kerbau (jika dilihat dari zat gizi lemaknya) adalah daging yang paling baik di konsumsi karena memiliki kandungan lemak yang paling rendah diantara daging sapi dan daging ayam yaitu 0,5 Gram. Namun demikian, daging kerbau untuk di beberapa daerah tertentu seperti DKI Jakarta ketersediaannya sangat terbatas sehingga sangat jarang konsumen mengkonsumsi daging kerbau tersebut. Sedangkan untuk daging ayam dan daging sapi meskipun kandungan lemaknya cukup tinggi, namun konsumen sangat menyukainya karena ketersediaan dari daging ayam dan daging sapi tersebut ada, rasanya yang lezat dan konsumen mudah memperolehnya.

Keunggulan lain dari daging adalah bahwa protein daging lebih mudah dicerna daripada yang berasal dari protein nabati2. Selain bermanfaat bagi tubuh, daging juga dapat memberikan kepuasan dan kenikmatan bagi yang memakannya karena memiliki aroma dan rasanya yang enak.

Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi daging menyebabkan meningkatnya konsumsi daging nasional. Hal ini diketahui dari meningkatnya konsumsi produk daging nasional. Pada tahun 2005 konsumsi daging mencapai 1.578,872 ton dan tahun 2006 konsumsi tersebut meningkat 260,070 ton sehingga konsumsi bertambah menjadi 1.601,60 ton.

2

http://www.depkes.go.id./index=article&task/Mengapa Kita Perlu Makan Daging ? 31 Oktober 2005.

(17)

(Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2006). Seiring dengan meningkatnya konsumsi daging nasional tersebut menyebabkan produksi daging nasional pun turut mengalami peningkatan.

Tabel 2. Perkembangan Produksi Daging Di Indonesia (2002-2006) Tahun (000 Ton) Jenis 2002 2003 2004 2005 2006*) Sapi 330,3 369,7 447,6 358,7 389,3 Kerbau 42,3 40,6 40,2 38,1 39,5 Kambing 58,2 63,9 57,1 50,6 53,3 Domba 68,7 80,6 66,1 47,3 51,9 Babi 164,5 177,1 194,7 173,7 179,4 Kuda 1,1 1,6 1,6 1,0 1,7 Ayam Buras 288,3 298,5 296,4 301,4 322,8

Ayam Ras Petelur 42,8 48,1 48,4 45,2 54,3

Ayam Ras 751,9 771,1 846,1 779,1 955,8

Itik 21,8 21,2 22,2 21,4 22,3

Total 1.769,8 1.872,6 2.020,4 1.817,0 2.070,2

*) : Angka Sementara

Sumber : Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2005.

Berdasarkan Tabel 2 di atas, produksi daging sapi pada tahun 2002 sebesar 330,3 ton dan tahun 2003 sebesar 369,7 ton. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan sebesar 39,4 persen. Sedangkan pada tahun 2004 juga mengalami peningkatan sebesar 77,9 persen. Namun demikian, produksi daging sapi pernah juga mengalami penurunan yaitu dari tahun 2004-2005. Penurunan jumlah produksi daging sapi tersebut diduga karena adanya serangan penyakit

anthrax.

Untuk mencukupi kebutuhan daging sapi, konsumen umumnya membeli daging sapi di supermarket, pasar tradisional dan pedagang daging keliling. Dalam membeli daging sapi, konsumen menginginkan daging sapi yang aman, sehat, utuh dan halal. Dilihat dari segi higiene dan kualitas, daging sapi di

(18)

supermarket lebih terjamin kualitasnya dan dapat memenuhi kriteria diatas karena adanya standarisasi yang dilakukan oleh pihak supermarket pada daging sapi yang akan dijual (Ridvana,2002).

Kualitas daging sapi dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging sapi adalah genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan dan bahan aditif (hormon, antibiotik dan mineral). Sedangkan faktor setelah pemotongan yang mempengaruhi kualitas daging sapi adalah metode pelayuan, metode pemasakan, tingkat keasaman (pH) daging, bahan tambahan (termasuk enzim pengempuk daging), lemak intramuskular (marbling), metode penyimpanan dan pengawetan, macam otot daging serta lokasi otot3.

Pada saat memilih daging sapi, umumnya konsumen melakukan seleksi terhadap keadaan fisik daging sapi tersebut. Hal yang diperhatikan antara lain warna, bau, lemak, kekenyalan dan tekstur daging (Soeparno, 1992). Namun saat ini konsumen cenderung lebih mengutamakan membeli daging sapi yang kandungan lemaknya rendah dengan alasan untuk kepentingan kesehatan4. Oleh karena perubahan perilaku konsumen seperti tuntutan konsumen yang semakin tinggi, pendidikan yang tinggi, pengetahuan konsumen yang semakin bertambah dan adanya keputusan untuk membeli, maka studi perilaku konsumen terhadap daging sapi rendah lemak perlu dilakukan.

1.2. Perumusan Masalah

Meningkatnya produksi daging khususnya daging sapi sejak tahun 2002, menunjukkan bahwa daging sapi ini merupakan daging yang paling disukai oleh masyarakat Indonesia (Tabel 2). Salah satu daerah yang paling banyak mengkonsumsi daging sapi adalah Propinsi DKI Jakarta. Hal ini dikarenakan DKI

3

http:// www.depkes.go.id./index=article&task/ Mengapa Kita Perlu Makan Daging ? 31 Oktober 2005.

4

(19)

Jakarta memiliki jumlah penduduk lebih dari sepuluh juta jiwa (Retnowati,2005). Selain itu, Propinsi DKI Jakarta merupakan salah satu kota besar yang masyarakatnya cenderung lebih cepat menyerap arus globalisasi yang mempengaruhi gaya hidup (life style) mereka, seperti pola konsumsi pangan. Masyarakat khususnya di daerah perkotaan, dengan mobilitas sehari-hari yang cukup tinggi lebih memilih untuk mengkonsumsi pangan yang tidak hanya berorientasi pada makanan yang cepat saji saja, melainkan juga makanan sehat sehingga mereka tetap dapat beraktivitas dengan baik. Salah satu cara mereka menjaga kesehatannya yaitu dengan mengkonsumsi daging sapi khususnya daging sapi yang kandungan lemaknya rendah.

Konsumen umumnya membeli daging sapi yang kandungan lemaknya rendah karena alasan kesehatan, seperti menghindari kolesterol dan kegemukan. Selama beberapa tahun terakhir, daging sapi selalu dianggap bahan makanan yang harus dihindari karena mengandung lemak yang tinggi. Hanya makanan berserat dan sea food yang diyakini tidak mengandung lemak yang tinggi. Namun saat ini, Departemen Pertanian Amerika Serikat melaporkan adanya perubahan dalam teknis beternak dan memotong dalam industri daging sehingga daging potong yang ada memiliki kandungan lemak yang jauh lebih rendah dibandingkan 25 tahun yang lalu5.

Umumnya konsumen yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak ini adalah konsumen menengah ke atas mengingat harga komoditas daging sapi rendah lemak ini mahal. Adanya informasi mengenai hal tersebut menyebabkan persepsi konsumen terhadap suatu produk, khususnya daging sapi menjadi berubah. Saat ini orang tidak perlu terlalu khawatir untuk mengkonsumsi daging sapi, karena ada beberapa bagian daging sapi yang mengandung lemak rendah.

5

http://www.Majalah Kesehatan.com./index=option task/ Tips Sehat Makan Daging. 27 September 2005.

(20)

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana karakteristik individu yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak?

2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan mengkonsumsi daging sapi rendah lemak ?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan karakteristik individu yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak.

2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen mengkonsumsi daging sapi rendah lemak.

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian mengenai perilaku konsumen terhadap daging sapi rendah lemak ini, berguna untuk mendeskripsikan karakteristik individu yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak dan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan sehingga konsumen menyukai daging sapi rendah lemak.

Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif masukan yang dapat menambah wawasan dan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan proses pembelian.

Bagi penulis sendiri diharapkan penelitian ini berguna sebagai sarana melatih diri dalam mengamati gejala yang terjadi di masyarakat, dan kemudian menghubungkannya dengan teori-teori yang penulis dapatkan selama kuliah. Diharapkan juga bagi mahasiswa lain, penelitian ini dapat memberikan informasi

(21)

mengenai perilaku konsumen terhadap daging sapi rendah lemak yang dapat digunakan sebagai studi perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan hanya pada komoditas daging sapi rendah lemak yang dipasarkan di supermarket yang menjual daging sapi rendah lemak yaitu supermarket Giant. Pemilihan komoditas daging sapi rendah lemak adalah konsumen yang masih ingin terus mengkonsumsi daging sapi tanpa harus ketakutan mengalami penyakit kolesterol atau kegemukan.

Selain itu, penelitian ini akan difokuskan pada karakteristik individu yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak seperti jenis kelamin, umur, jumlah anggota keluarga, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan yang didalamnya terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan mengkonsumsi daging sapi rendah lemak tersebut.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Daging dan Daging Sapi

Daging adalah salah satu jenis protein hewani yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Selain penganekaragaman sumber pangan, daging dapat menimbulkan kepuasan atau kenikmatan bagi yang memakannya karena kandungan gizinya lengkap, sehingga keseimbangan gizi dapat terpenuhi. Daging yang dapat di makan dapat berasal dari ternak yang berbeda dan dari berbagai jenis hewan liar atau aneka ternak dan ikan (Soeparno,1992).

Komponen utama daging terdiri dari jaringan otot, jaringan ikat (kollagen,

retikulin dan elastin) serta pembuluh darah dan syaraf. Istilah daging dibedakan

dengan karkas. Daging adalah bagian yang sudah tidak mengandung tulang, sedangkan karkas berupa daging yang belum dipisahkan dari tulang sehingga daging dapat lebih mengikat air, bersifat lebih empuk, dan memiliki flavour yang lebih kuat6.

Berdasarkan keadaan fisik, daging dapat dikelompokkan menjadi : (1) daging segar yang dilayukan atau tanpa pelayuan, (2) daging segar yang dilayukan kemudian didinginkan (daging dingin), (3) daging segar yang dilayukan, didinginkan kemudian dibekukan (daging beku), (4) daging masak, (5) daging asap dan (6) daging olahan.

Penggolongan daging sapi menurut kelas yang ditetapkan Departemen Perdagangan Indonesia berdasarkan standar perdagangan (SP)-144-1982, daging sapi dapat digolongkan menjadi : Golongan (kelas) I, meliputi daging bagian : has dalam (sirloin), has luar (tenderloin), lamusir (cube roll) dan paha

6

http://www.depkes.go.id./index=article&task/ Mengapa Kita Perlu Makan Daging ? 31 Oktober 2005.

(23)

belakang yang terdiri dari : pangkal (inside), penutup (top side) dan pendasar, gandik (silver side). Golongan (kelas) II, meliputi daging bagian : paha depan yang terdiri dari : sengkel (shank), daging paha depan (chuck) dan daging iga (rib

meat) serta punuk (blade). Golongan (kelas) III, meliputi daging lainnya yang tidak termasuk golongan I dan II, antara lain : samcan (flank), sandung lamur (brisket) dan daging bagian-bagian lainnya (Palupi dalam Dano, 2004).

2.2. Penelitian Mengenai Perilaku Konsumen

Penelitian tentang perilaku konsumen daging sapi yang rendah lemak belum banyak dilakukan. Namun, penelitian tentang perilaku konsumen komoditas daging, khususnya daging sapi telah banyak dilakukan. Penelitian yang berhubungan dengan perilaku konsumen daging sapi diantaranya telah dilakukan oleh Frans (2001) yang berjudul Preferensi Konsumen Terhadap Kualitas Fisik Daging Sapi Segar. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menguji reabilitas kuesioner yang dipakai dalam penelitian utama. Penelitian utama dilakukan dengan cara menyebar kuesioner kepada 50 responden yang membeli daging sapi segar di supermarket dan pasar tradisional dan untuk pengujian kualitas daging dilakukan di Laboratorium Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Besar, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis multiatribut angka ideal.

Hasil uji reabilitas didapat nilai r sebesar 0,825 dengan selang kepercayaan 95% pada n =30 adalah 0,349. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa konsumen daging sapi di supermarket dan pasar tradisional menyukai daging sapi berwarna cerah, agak basah, kenyal, sangat sedikit lemaknya, permukaan mengkilat dan bertekstur halus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

(24)

keputusan pembelian daging sapi oleh konsumen dipengaruhi oleh penghasilan, pendidikan, harga dan komposisi keluarga. Konsumen daging sapi segar di supermarket dan pasar tradisional sebagian besar adalah wanita, yang rata-rata penghasilan keluarganya diatas satu juta rupiah, serta tingkat pendidikan yang paling banyak adalah perguruan tinggi dengan pekerjaan umumnya adalah ibu rumah tangga dan karyawan swasta dengan jumlah tanggungan keluarga sekitar 3 – 5 orang. Hasil analisis multiatribut angka ideal, daging sapi yang dijual di supermarket adalah daging sapi yang kualitasnya paling mendekati kualitas daging sapi segar seperti yang diharapkan konsumen.

Penelitian Ridvana (2002) mengenai Preferensi Konsumen Supermarket Terhadap Kualitas Daging Sapi Berdasarkan Aspek Warna Daging. Penelitian ini bertujuan untuk menerangkan jenis warna daging sapi yang diinginkan oleh konsumen supermarket dan menguji sejauh mana warna daging yang dihasilkan oleh peternak lokal sesuai dengan warna daging yang diinginkan konsumen supermarket. Adapun lokasi penelitian yang dilakukan adalah di Supermarket Hero Padjajaran dan Supermarket Matahari Kedung Badak Bogor serta untuk peternak lokal dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Bogor.

Penelitian ini menggunakan kuesioner dan sampel warna daging berdasarkan australian meat (Austmeat) colour chips ada 7 sampel warna daging dimulai dari nomor 1 dengan warna merah pucat sampai sampel nomor 7 dengan warna merah yang sangat gelap. Semakin besar nomor menunjukkan intensitas warna yang semakin meningkat.

Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang berguna untuk mengetahui karakteristik responden dalam hal pekerjaan, pendidikan dan penghasilan serta preferensi konsumen terhadap kualitas daging. selain itu digunakan uji statistika non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis yang digunakan untuk menguji ada tidaknya beda nyata antara warna daging yang disukai

(25)

konsumen di supermarket Hero Padjajaran dan Matahari Kedung Badak dengan warna daging di RPH Bogor.

Hasil penelitian Ridvana tersebut menunjukkan bahwa dalam memilih daging sapi ternyata konsumen supermarket menyukai daging sapi dengan warna merah agak terang (no.4) sampai merah gelap (no.6). Diantara warna daging tersebut, warna merah gelap (no.6) paling disukai oleh konsumen Supermarket Hero Padjajaran dengan persentase 33,3 % dan di Supermarket Matahari Kedung Badak konsumen paling banyak menyukai warna merah agak gelap (no.5) dengan persentase sebesar 40,0 %. Warna merah sangat terang sekali (no.1), warna merah sangat terang (no.2) dan warna merah terang (no.3) ternyata tidak disukai oleh konsumen pada kedua supermarket tersebut. Hal ini di duga karena konsumen menganggap daging dengan warna tersebut sudah tidak segar lagi dan warnanya kurang menarik.

Untuk RPH Bogor, hampir seluruh daging sapi yang diamati memiliki warna merah sangat gelap (no.7) yaitu sebanyak 95,0 % sedangkan sisanya sebanyak 5,0 % memiliki warna merah gelap (no.6). salah satu hal yang menyebabkan hampir seluruh daging sapi di RPH Bogor berwarna merah sangat gelap (no.7) adalah umur hewan sudah tua saat di potong dan sudah tidak produktif lagi.

Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p < 0,005) antara warna daging yang diinginkan konsumen di kedua supermarket dan warna daging di RPH Bogor. Pada Supermarket Hero Padjajaran dan Matahari Kedung Badak ternyata tidak ada perbedaan yang nyata (p > 0,005) terhadap warna daging yang diinginkan konsumen supermarket.

Penelitian yang dilakukan oleh Zulfiqri (2003) mengenai Preferensi Konsumen Supermerket Di Bogor Terhadap Kualitas Daging Sapi Ditinjau dari Aspek Lemak Intramuskuler (Marbling) bertujuan untuk mengetahui preferensi

(26)

konsumen supermarket terhadap kualitas daging sapi ditinjau dari aspek lemak intramaskuler dan mengetahui jenis lemak intramaskuler pada daging sapi yang dihasilkan oleh peternak lokal. Alat analisis yang digunakan adalah hanya secara deskiptif yaitu dengan membuat suatu gambaran tentang karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan serta preferensi konsumen terhadap kualitas daging.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen yang membeli daging sapi di supermarket Bogor dalam hal ini adalah di Matahari dan Hero umumnya adalah wanita sebesar 68,3 % dan pria sebesar 31,7 %. Hal ini memang beralasan karena wanita lebih sering dan senang berbelanja. Sebagian besar dari konsumen yang berbelanja di supermarket Matahari memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik. Dilihat dari pendidikan formal yang ditempuh, sebagian besar berpendidikan akademi atau sarjana. Konsumen di Supermarket Matahari yang mendapat pendidikan sampai tingkat akademi atau sarjana mencapai 63,3 % dan yang mendapat pendidikan SLTA sebanyak 36,7 %. Sedangkan di Supermarket Hero, konsumen yang mencapai pendidikan sampai tingkat sarjana berjumlah 56,7 % dan yang berpendidikan SLTA sebanyak 43,3 %. Konsumen dengan tingkat pendidikan SD dan SLTP tidak ditemukan pada kedua supermarket tersebut. Dari hasil tersebut terlihat bahwa konsumen yang berbelanja daging sapi segar di supermarket sebagian besar berpendidikan tinggi.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pekerjaan konsumen pada kedua Supermarket Matahari maupun Hero sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan pegawai swasta. Di Supermarket Matahari, ibu rumah tangga merupakan pekerjaan konsumen yang terbanyak yaitu 43,4 %, sedangkan di Supermarket Hero pekerjaan konsumen yang terbanyak adalah pegawai swasta sebanyak 30,0 %. Keadaan ini menggambarkan bahwa ibu rumah tangga yang

(27)

bertugas untuk berbelanja dan menyiapkan makanan bagi keluarga serta memiliki waktu luang lebih banyak dibandingkan jenis pekerjaan lain seperti pegawai swasta.

Konsumen di Supermarket Matahari yang berpenghasilan satu juta rupiah ke atas berjumlah 73,4 % dan konsumen Supermarket Hero berjumlah 43,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai penghasilan lebih tinggi memiliki kecenderungan untuk memilih tempat berbelanja yang lebih nyaman dan pelayanan yang memuaskan. Selain itu prestise atau keberadaan mereka sebagai seorang yang berasal dari kalangan menengah atas, dimana mereka menyadari bahwa Supermarket Matahari dan Hero merupakan supermarket yang cukup baik dan harga juga cukup mahal.

Preferensi konsumen dalam hal memilih kualitas daging sebanyak 33,3 % konsumen di Supermarket Matahari dan 40 % konsumen Supermarket Hero melakukan penilaian terhadap warna daging pada saat membeli daging. Di Supermarket Matahari lemak dalam otot menempati urutan kedua sebagai hal yang paling diperhatikan konsumen dengan persentase sebanyak 23,3 %, sedangkan di Supermarket Hero keempukan menjadi pilihan kedua dengan persentase 23,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa marbling merupakan salah satu sifat daging yang penting yang menjadi pertimbangan konsumen sebelum membeli daging.

2.3. Penelitian Terdahulu Tentang Model Logit

Penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih (1999) yaitu mengenai perilaku konsumen jeruk besar konsumen rumah tangga dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen rumah tangga dalam memilih jenis jeruk yang akan dikonsumsinya. Variabel tak bebasnya adalah Y=1, jika konsumen memilih

(28)

mengkonsumsi jeruk besar dan Y=0, jika konsumen memilih mengkonsumsi jeruk jenis lainnya.

Penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan regresi logistik dan diperoleh nilai statistik G= 41.135 yang signifikan pada α = 0.0001. hal ini menunjukkan paling sedikit terdapat satu variabel yang berpengaruh nyata. Variabel-variabel yang berpengaruh nyata adalah pendapatan, jumlah anggota keluarga, harga jeruk Bali, harga jeruk lainnya dan musim.

Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga maka semakin besar peluang keluarga tersebut memilih jeruk Bali untuk dikonsumsi. Untuk variabel harga, peluang memilih jeruk Bali akan menurun bila harga jeruk Bali meningkat, jika harga jeruk lainnya meningkat maka peluang konsumen membeli jeruk Bali akan meningkat. Variabel lainnya yang berpengaruh nyata terhadap keputusan untuk mengkonsumsi jeruk Bali adalah musim. Masyarakat yang memilih untuk mengkonsumsi jeruk Bali pada musimnya akan lebih tinggi dibandingkan pada saat bukan musimnya.

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Widya (2003) mengenai perilaku konsumsi sampo dan tanggapan konsumen terhadap iklan sampo melalui televisi. Adapun variabel tak bebas pada penelitian ini adalah Y=1, jika responden membeli dan Y=0, jika responden tidak membeli. Hasil penelitiannya menunjukkan nilai statistik G sebesar 27.098 yang siginifikan pada α = 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan model tersebut cukup baik, artinya paling sedikit terdapat satu variabel yang berpengaruh nyata. Variabel-variabel bebas yang berpengaruh nyata adalah harga, manfaat yang diharapkan dan daya tarik dari iklan sampo tersebut.

(29)

Penelitian Dano (2004) menunjukkan bahwa pola konsumsi daging sapi konsumen rumah tangga di pasar supermarket lebih baik dibandingkan dengan konsumen rumah tangga di pasar tradisional. Hal ini karena ditunjang oleh pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.

Frekuensi konsumen rumah tangga ke pasar tradisional rata-rata satu bulan dua kali dengan rata-rata pembelian antara satu sampai dengan dua kilogram. Bagian daging yang sering dibeli konsumen adalah gadik yang bermanfaat untuk diolah menjadi rendang.

Atribut daging sapi yang dinilai baik atau disukai oleh konsumen di pasar tradisional diantaranya : harga, bagian daging (kualitas), warna, kekenyalan, perlemakan, kilap daging, tekstur, kebasahan daging, ketersediaan, pelayanan dan asal daging. Sedangkan atribut penyakit, tempat potong, potongan daging dan ketersediaan daging, konsumen bersikap netral artinya atribut tersebut tidak mempengaruhi minat konsumen untuk mengkonsumsi daging sapi. Untuk meningkatkan konsumsi daging sapi dan menjaga kepercayaan konsumen maka perlu dilakukan perbaikan terhadap atribut daging sapi yang telah ada. Terutama dari segi harga yang masih dinilai mahal oleh konsumen serta mempertahankan atribut yang disukai konsumen.

Hasil survei terhadap 30 responden di pasar supermarket dan 30 responden di pasar tradisional didapatkan atribut daging sapi ideal dilihat dari kualitas fisik daging sapi. Menurut konsumen pasar supermarket, mereka menyukai daging sapi warna merah cerah (56,67 %), kenyal (63,33 %), sedikit lemak (73,33 %), permukaan daging mengkilap (56,67 %), tekstur halus (76,67 %) dan daging masih agak basah (46,67 %). Sedangkan konsumen pasar tradisional menyukai daging sapi warna merah cerah (73,33 %), daging tidak terlalu kenyal (50 %), sedikit lemak (60 %), permukaan daging tidak terlalu mengkilap (50 %), tekstur halus (60 %) dan daging masih agak basah (60 %).

(30)

Penelitian yang dilakukan oleh Rhamdani (2004) mengenai Willingness to

Pay (WTP) Masyarakat Terhadap Perbaikan Ekosistem Hutan Mangrove Muara

Angke (HMMA) Jakarta Utara Melalui Pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) dengan Analisis Regresi Logit bahwa karakteristik pengunjung HMMA Jakarta Utara adalah didominasi oleh laki-laki (71 %) dengan kelompok usia 15-22 tahun (31 %). Untuk tingkat pendidikan pengunjung HMMA sebagian besar merupakan lulusan SLTA/sederajat (52 %), dengan jenis pekerjaan mayoritas sebagai karyawan (30 %) dan buruh (22 %). Tingkat pendapatan dari pengunjung HMMA, lebih banyak pada selang nilai Rp. 500.000,00 - Rp. 1.000.000,00. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keinginan pengunjung untuk ikut/tidaknya berpartisispasi dalam perbaikan kualitas HMMA adalah kegiatan pemanfaatan HMMA untuk berwisata, biaya yang dikeluarkan untuk sekali kunjungan, kemudahan mencapai lokasi, tingkat kenyamanan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya nilai WTP pengunjung untuk kawasan HMMA adalah pengetahuan mengenai manfaat mangrove, tingkat umur, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Besarnya nilai WTP dari pengunjung HMMA berdasarkan rataan hitungnya adalah sebesar Rp. 4.127,907.

Adapun persamaan hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan adalah alat analisis yang digunakan yaitu analisis model logit. Sedangkan perbedaan hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan adalah dari salah satu aspek atribut daging sapi dalam hal ini adalah daging sapi yang rendah lemak dan lokasi yang dipilih adalah supermarket yang menjual daging sapi rendah lemak tersebut.

(31)

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Definisi Konsumen

Menurut Sumarwan (2002), istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen yaitu konsumen individu dan konsumen organisasi. Konsumen individu membeli barang dan jasa untuk digunakan sendiri atau untuk kebutuhan anggota keluarga. Misalnya membeli pakaian, sepatu, furniture, TV, rumah, mobil dan lain sebagainya. Sedangkan konsumen organisasi meliputi organisasi bisnis, yayasan, lembaga sosial, kantor pemerintah dan lembaga lainnya (sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit). Semua jenis organisasi ini harus membeli produk peralatan dan jasa-jasa lainnya untuk menjalankan seluruh kegiatan organisasinya. Konsumen individu dan konsumen organisasi adalah sama pentingnya, karena kedua konsumen ini memberikan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi.

3.1.2. Perilaku Konsumen

Saat ini perilaku konsumen telah menjadi suatu disiplin ilmu yang sangat penting untuk dipelajari. Ada beberapa alasan mengapa perilaku konsumen dipelajari. Pertama adalah untuk kepentingan pemasaran, kedua adalah untuk kepentingan pendidikan dan perlindungan konsumen serta ketiga adalah untuk perumusan kebijakan masyarakat dan undang-undang perlindungan konsumen.

Perilaku konsumen juga didefinisikan oleh Engel, Blackwell dan Miniard (1994) sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan

(32)

yang mendahului dan mengikuti tindakan ini. Proses keputusan pembelian konsumen dipengaruhi dan dibentuk oleh banyak faktor. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1994) bervariasinya proses keputusan konsumen ditentukan oleh faktor pengaruh lingkungan, perbedaan individu, serta proses psikologis. Model perilaku konsumen secara lengkap dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. Model Perilaku Pengambilan Keputusan Konsumen dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Sumber : Engel, Blackwell dan Miniard (1994)

STRATEGI PEMASARAN Produk Harga Tempat Promosi PENGARUH LINGKUNGAN Budaya Kelas Sosial Pengaruh Pribadi Keluarga Situasi PROSES KEPUTUSAN Pengenalan Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif Pembelian Hasil PERBEDAAN INDIVIDU Sumberdaya Konsumen Motivasi & Keterlibatan Pengetahuan Sikap Demografi PROSES PSIKOLOGIS Pemrosesan Informasi Pembelajaran Perubahan Sikap

(33)

Proses pembelian suatu produk oleh konsumen dimulai ketika suatu

kebutuhan mulai dirasakan dan dikenali. Timbulnya kebutuhan tersebut dapat

dipicu oleh rangsangan internal yaitu kebutuhan dasar seorang seperti rasa lapar, haus dan lain-lain, atau berasal dari rangsangan eksternal seperti pengaruh atau promosi dan berbagai sumber. Rangsangan eksternal adalah kebutuhan yang ditimbulkan oleh dorongan eksternal.

Tahapan selanjutnya setelah konsumen mengenali suatu kebutuhan maka konsumen akan mencari informasi yang lebih banyak mengenai produk yang akan di beli. Terdapat dua tingkatan dalam pencarian produk, pertama tingkat pencarian yang lebih ringan disebut perhatian yang menguat. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih peka terhadap informasi tentang produk yang akan di beli. Pada tingkat selanjutnya adalah konsumen lebih aktif dalam mencari informasi, seperti mencari informasi dari bahan bacaan, informasi dari teman atau mengunjungi toko untuk mengetahui dan mempelajari produk. Menurut Kotler (2003), sumber-sumber informasi konsumen dapat diperoleh dari empat kelompok yaitu sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga); sumber komersial (iklan, tenaga penjual, pedagang perantara); sumber umum (media massa, organisasi); dan sumber pengalaman (penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk). Konsumen akan memusatkan perhatiannya terhadap ciri atau atribut produk. Faktor lain yang mempengaruhi tahap pencarian adalah situasi, ciri-ciri produk, lingkungan eceran dan konsumen itu sendiri (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995). Karakteristik konsumen meliputi pengetahuan, keterlibatan, kepercayaan, sikap serta karakteristik demografi akan ikut mempengaruhi tahap pencarian informasi.

Tahap selanjutnya adalah konsumen melakukan evaluasi alternatif pilihan. Evaluasi alternatif adalah proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pada tahap ini,

(34)

terdapat empat komponen dengan proses evaluasi alternatif, yaitu : (1) Menentukan kriteria evaluasi yang akan digunakan untuk menilai alternatif-alternatif, (2) Memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan, (3) Menilai kinerja dari alternatif yang dipertimbangkan dan (4) Memilih dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat suatu pilihan akhir. Keempat komponen dasar tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Komponen Dasar Proses Evaluasi Alternatif

Sumber : Engel, Blackwell dan Miniard (1995)

Setelah menentukan kriteria evaluasi, konsumen memutuskan alternatif mana yang akan dipilih. Penentuan alternatif terkadang tergantung pada kemampuan konsumen untuk mengingat informasi-informasi yang bertahan dalam ingatannya. Menurut (Engel, Blackwell dan Miniard, 1995), prosedur yang harus dilakukan untuk membuat pilihan akhir disebut kaidah keputusan.

Kaidah keputusan menggambarkan strategi yang digunakan konsumen untuk mengadakan seleksi alternatif- alternatif pilihan.

Pembelian merupakan tahap besar terakhir dalam proses keputusan

pembelian. Konsumen harus mengambil tiga keputusan yaitu kapan membeli, Menentukan Kriteria Evaluasi

Menilai Kinerja Alternatif

Menerapkan Kaidah Keputusan

(35)

dimana membeli dan kapan harus membayar. Pembelian merupakan fungsi dari dua determinan, yaitu niat dan pengaruh lingkungan atau perbedaan individu. Situasi merupakan variabel yang paling menonjol pada fungsi ke dua. Niat pembelian konsumen dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu kategori (1) produk dan merek. Kategori ini biasanya disebut sebagai pembelian terencana penuh dimana pembelian yang terjadi merupakan hasil dari keterlibatan tinggi dan pemecahan masalah yang diperluas. Kategori (2) kelas produk, kategori ini biasanya disebut sebagai pembelian yang terencana jika pilihan merek dibuat di tempat pembelian. Selain pembelian, pengaruh lingkungan dan atau perbedaan individu juga mempengaruhi keputusan pembelian.

Setelah pembelian terjadi, konsumen akan mengevaluasi hasil

pembelian yang dilakukannya. Hasil evaluasi pasca pembelian dapat berupa

kepuasan atau ketidakpuasan. Jika konsumen merasa puas, maka keyakinan dan sikap yang terbentuk akan berpengaruh positif pada pembelian selanjutnya. Kepuasan berfungsi mengukuhkan loyalitas pembeli, sementara ketidakpuasan dapat menyebabkan keluhan komunikasi lisan yang negatif dan upaya untuk menuntut ganti rugi melalui sarana hukum. Pada akhirnya konsumen akan mempunyai keinginan untuk mencoba mengkonsumsi produk baru serta memuaskan kebutuhan dan keinginannya.

Setelah melalui tahap-tahap tersebut, maka dengan berbagai pertimbangan konsumen harus menentukan pilihan apakah yang ia beli merupakan suatu produk atau tidak. Selanjutnya konsumen akan memberikan penilaian kepuasan terhadap produk yang dikonsumsi.

(36)

3.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Keputusan Konsumen

Proses keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dijelaskan dalam teori perilaku konsumen oleh Engel, Blackwell dan Miniard, (1994). Akibatnya keputusan konsumen yang dimiliki oleh satu konsumen berbeda dengan konsumen lainnya dan juga bervariasi.

Menurut Engel, Blackwell dan Miniard, (1994) menggolongkan determinan yang mendasari variasi dalam tiga kategori yaitu (1) pengaruh lingkungan, (2) perbedaan individu dan (3) proses psikologis konsumen tersebut.

1. Pengaruh Lingkungan

Budaya. Produk dan jasa mempunyai peranan yang sangat penting

dalam mempengaruhi budaya, karena produk mampu membawa pesan makna budaya itu sendiri. Makna budaya adalah nilai-nilai, norma-norma dan kepercayaan yang dikomunikasikan secara simbolik. Budaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam tiga faktor, yaitu (i) budaya mempengaruhi struktur konsumsi, (ii) budaya mempengaruhi bagaimana individu mengambil keputusan dan (iii) budaya adalah variabel utama dalam penciptaan dan komunikasi makna dari sebuah produk.

Kelas Sosial. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard, (1994) adalah

pembagian individu di dalam masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang berbagi nilai, minat dan perilaku sama. Kelas sosial tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi juga ditentukan pekerjaan, prestasi, pribadi, interaksi, pemilikan, orientasi, nilai dan lain-lain.

Pengaruh Pribadi. Faktor ini memiliki peranan penting dalam

pengambilan keputusan konsumen khususnya jika ada keterlibatan yang tinggi dan resiko yang dirasakan dari suatu produk atau produk pilihan.

(37)

Keluarga. Keluarga menjadi daya tarik para pemasar karena keluarga

memiliki pengaruh yang besar kepada konsumen. Anggota keluarga saling mempengaruhi dalam keputusan pembelian dan konsumsi suatu produk. Masing-masing anggota keluarga memiliki peranan penting mencakup pemberi pengaruh, pengambilan keputusan, pembeli dan pemakai.

Situasi. Pengaruh situasi ini dapat timbul dari lingkungan fisik (lokasi, tata

ruang, suara, warna), lingkungan sosial (orang lain), waktu atau momen, tugas (tujuan dan sasaran pembelian) serta keadaan antasedan (suasana hati dan kondisi sementara konsumen).

2. Perbedaan Individu

Sumberdaya Konsumen. Konsumen membawa tiga sumberdaya ke dalam setiap situasi pengambilan keputusan, yaitu sumberdaya ekonomi (pendapatan dan kekayaan), sumberdaya temporal (waktu) dan sumberdaya kognitif (kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi).

Motivasi dan Keterlibatan. Kebutuhan adalah variabel utama dalam

motivasi. Bila kebutuhan dipenuhi akan menimbulkan adanya motivasi yaitu dorongan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang diarahkan pada tujuan memperoleh kepuasan. Keterlibatan mengacu pada tingkat relevansi yang disadari dalam tindakan pembelian dan konsumsi.

Pengetahuan. Manfaat pengetahuan konsumen dibagi menjadi tiga

kategori, yaitu pengetahuan produk (mencakup kesadaran produk, atribut produk dan kepercayaan merek), pengetahuan pembelian (dimana membeli dan kapan membeli) dan pengetahuan pemakaian (dari pengetahuan konsumen dan iklan).

Sikap. Sikap yang penting dari konsumen adalah dapat memberikan manfaat dalam pengambilan keputusan pemasaran, antara lain membantu

(38)

mengidentifikasi pangsa pasar, mengevaluasi program pemasaran sebelum dilaksanakan di dalam pasar dan meramalkan perilaku di masa mendatang.

Kepribadian, Gaya Hidup dan Demografi. Kepribadian biasanya

dijelaskan dengan ciri-ciri bawaan seperti kepercayaan diri, dominasi, perbedaan, kondisi sosial dan kemampuan beradaptasi. Gaya hidup adalah pola dimana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang yang diekpresikan dalam aktifitas, minat dan opini seseorang. Faktor demografi seperti usia pembeli, tingkat pendidikan juga akan mempengaruhi perilaku seseorang.

3. Proses Psikologis

Kotler (2003), menyebutkan bahwa pembelian yang dilakukan dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan pendirian. Proses psikologis memiliki tiga tahapan yaitu pemrosesan informasi, proses pembelajaran serta perubahan sikap dan perilaku konsumen.

Berdasarkan uraian tersebut mengenai pemikiran teoritis maka faktor-faktor tersebut di atas akan dilewati konsumen dalam setiap proses pengambilan keputusan pembelian yang kemudian akan berpengaruh terhadap konsumsi seseorang. Pada penelitian ini variabel yang akan diteliti pada setiap responden adalah jenis kelamin, umur, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, pendidikan dan pendapatan responden.

1. Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin diduga mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan pembelian. Jenis kelamin pria dan wanita akan berbeda dalam hal kebiasaan. Misalkan wanita umumnya lebih senang berbelanja dibandingkan pria. Selain itu wanita lebih banyak berperan dalam memutuskan keputusan pembelian dalam suatu rumah tangga.

(39)

2. Umur Responden

Pengaruh pribadi seperti umur diduga berpengaruh terhadap konsumsi seseorang. Perbedaan umur juga akan mengakibatkan perbedaan selera terhadap suatu produk.

3. Jumlah Anggota Keluarga

Jumlah Anggota Keluarga diduga sangat mempengaruhi keputusan pembelian. Besar kecilnya jumlah anggota keluarga mempengaruhi anggaran rumah tangga dan selera setiap anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga diharapkan akan berpengaruh lebih besar terhadap jumlah pembelian.

4. Pekerjaan dan Pendidikan

Pekerjaan dan pendidikan adalah dua karakteristik konsumen yang saling berhubungan. Pendidikan akan menentukan jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh seorang konsumen, seperti profesi dokter, pengacara, akuntan yang memerlukan syarat pendidikan formal agar bisa bekerja sebagai profesi tersebut. Pekerjaan dan pendidikan berpengaruh dalam konsumsi seseorang, karena mempengaruhi nilai-nilai yang dianut, cara berpikir dan cara pandang. Konsumen yang memiliki pendidikan yang lebih baik akan sangat responsif terhadap informasi dan selektif dalam pemilihan produk.

5. Pendapatan

Pendapatan merupakan penghasilan yang diterima seseorang. Jumlah pendapatan yang diterima diduga akan mempengaruhi besarnya daya beli dari seseorang. Semakin besar pendapatan konsumen akan meningkatkan jumlah pembelian suatu produk.

(40)

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Menurut Engel et al (1995) gaya hidup didefinisikan sebagai pola di mana

orang hidup dan menggunakan uang dan waktunya. Daerah perkotaan khususnya DKI Jakarta merupakan daerah yang masyarakatnya cenderung lebih cepat menyerap arus globalisasi sehingga dapat mempengaruhi gaya hidup mereka, seperti pola konsumsi pangan. Misalnya dengan mengkonsumsi pangan yang tidak hanya berorientasi pada makanan cepat saji saja, melainkan mereka juga cenderung mengkonsumsi makanan yang tidak banyak mengandung lemak. Hal ini dilakukan karena masyarakat perkotaan semakin sadar akan pentingnya kesehatan. Salah satu jenis pangan yang mempunyai kadar lemak rendah yaitu daging sapi rendah lemak seperti daging has dalam dan has luar. Sebelum melakukan proses pembelian, konsumen melakukan pengenalan kebutuhan akan daging sapi, khususnya daging sapi yang rendah lemak sehingga kita dapat mengetahui bagaimana pola konsumsi daging sapi rendah lemak.

Dalam penelitian ini konsumen yang di pilih adalah konsumen yang sedang berbelanja daging sapi di supermarket. Adapun variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah jenis kelamin, umur responden, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, pendidikan dan pendapatan responden.

Variabel jenis kelamin dan umur diduga dapat mempengaruhi keputusan mengkonsumsi daging sapi rendah lemak. Hal ini terkait dengan tingkat kebutuhan akan pentingnya kesehatan dan selera pada tingkat umur dan jenis kelamin yang berbeda. Jumlah anggota keluarga diduga juga mempengaruhi pembelian karena peran keluarga sebagai kelompok acuan sangat menonjol dalam mempengaruhi kebiasaan makan anggota keluarga lainnya.

Pekerjaan dan pendidikan diduga mempengaruhi keputusan mengkonsumsi daging sapi rendah lemak. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan berpeluang membeli dan mengkonsumsi daging sapi rendah lemak karena

(41)

memiliki pengetahuan tentang produk tersebut. Untuk pendapatan konsumen yang lebih tinggi di duga akan berpeluang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak karena daging sapi rendah lemak mempunyai harga yang mahal.

Variabel tersebut akan dianalisis secara kuallitatif yaitu dengan menggunakan analisis Tabulasi dan deskriptif serta secara kuantitatif yaitu dengan menggunakan analisis regresi logistik. Kemudian akan diperoleh rekomendasi tentang penyediaan daging sapi rendah lemak untuk perusahaan. Adapun tahapan-tahapan kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 3.

(42)

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional Variabel yang Diteliti

Jenis Kelamin Umur Responden Jumlah Anggota Keluarga Pekerjaan Pendidikan Pendapatan Konsumen Daging Sapi Rendah lemak

Pola Konsumsi Daging Sapi Rendah Lemak

• Gaya Hidup Masyarakat Perkotaan

• Meningkatnya Kesadaran

Masyarakat Perkotaan Akan Pentingnya Kesehatan

Analisis Kualitatif Analisis Kuantitatif

Analisis Model Logit Analisis Tabulasi

Rekomendasi Penyediaan Daging Sapi Rendah Lemak

(43)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan survey terhadap konsumen yang membeli daging sapi rendah lemak. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Jakarta, khususnya di Supermarket Giant Poins Square dan Giant Pondok Gede Jakarta. Pemilihan tempat tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa Supermarket-supermarket tersebut memiliki tingkat keramaian yang cukup tinggi, mempunyai fasilitas lengkap dan merupakan supermarket yang cukup besar di kota Jakarta yang menyediakan daging sapi lokal maupun impor, khususnya daging sapi rendah lemak. Pemilihan kota Jakarta sebagai tempat penelitian, karena Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sepuluh juta jiwa dan salah satu daerah yang masyarakatnya cenderung lebih cepat menyerap arus globalisasi yang mempengaruhi gaya hidup (life style) mereka. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2006.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan melalui wawancara dan penyebaran kuisioner secara langsung kepada responden di daerah penelitian. Kuisioner yang diberikan kepada responden berisikan pertanyaan tertutup dan terbuka. Pertanyaan tertutup berupa pertanyaan yang alternatif jawabannya telah disediakan, sehingga responden hanya memilih salah satu alternatif jawaban yang menurutnya paling sesuai. Pertanyaan terbuka

(44)

adalah pertanyaan yang memberikan kebebasan kepada responden untuk menjawab.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber seperti majalah, buku, internet, instansi pemerintah yang terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian dan dari studi literatur yang terkait dengan topik penelitian.

4.3. Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel untuk konsumen pada penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Teknik pengambilan sampel ini dipilih berdasarkan kesediaan tempat dan kemudahan untuk mendapatkannya. Artinya, sampel diambil atau dipilih karena sampel tersebut kebetulan ada pada tempat dan waktu pengambilan sampel. Sampel diambil berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu yakni responden baik wanita maupun pria dewasa yang sedang membeli dan mengkonsumsi daging sapi khususnya daging sapi rendah lemak. Jumlah keseluruhan sampel yang diambil sebanyak 70 responden yang akan dibagi dalam dua lokasi penelitian yaitu 35 responden Giant Poins Square dan 35 Giant Pondok Gede Jakarta. Menurut Gay dalam Umar, (2003) menyatakan bahwa ukuran minimum sampel yang dapat digunakan sebagai desain penelitian minimal 30 responden.

4.4. Metode Analisis Data

Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif disajikan dalam uraian atau secara deskriptif dan dalam bentuk tabulasi, sedangkan data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk regresi logit yang dilakukan dengan menggunakan program Minitab.

(45)

4.4.1. Analisis Deskriptif

Faktor-faktor yang tidak dianalisa secara statistik akan dianalisa secara deskriptif. Analisis ini digunakan untuk menganalisis identitas umum responden dan karakteristik responden yang mengkonsumsi daging sapi rendah lemak. Analisis ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel sederhana dan dikelompokkan berdasarkan jawaban yang sama. Hasil yang diperoleh kemudian dipersentasikan berdasarkan jumlah responden.

4.4.2. Analisis Model Logit

Model logit digunakan untuk melihat peluang perubahan konsumsi karena adanya karakteristik konsumen tertentu dalam memutuskan untuk mengkonsumsi daging sapi rendah lemak. Regresi logistik merupakan persamaan matematik yang menggambarkan hubungan antar variabel tak bebas dengan simbol Y dan variabel bebas dengan simbol X. Baik X dan Y bisa kualitatif nilainya, jika X lebih dari satu. Pada model regresi logistik peubah responnya berskala biner/dikotomi yakni memiliki nilai diskontinu 1 atau 0 atau yang dinamakan variabel boneka (dummy variable). Y=1, jika konsumen mengkonsumsi daging sapi rendah lemak dan Y=0, jika konsumen tidak mengkonsumsi daging sapi rendah lemak. Peubah penjelasnya berupa peubah kontinu maupun kategorik yang terdiri dari jenis kelamin, umur responden, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, pendidikan dan pendapatan responden..

Secara matematis model logit dapat ditulis sebagai berikut (Nachrowi dan Usman,2002). Pi = (Yi=1⎢Xi) = yi e− + 1 1 dimana : Yi= b1+b1DK...b6X3

(46)

Model Regresi Logistiknya :

Dimana :

Y = 1 = konsumsi daging sapi rendah lemak 0 = tidak konsumsi daging sapi rendah lemak e-yi = Fungsi log dari koefisien regresi

α = Intercept

b1-6 = Koefisien variabel penjelas Dk = Variabel dummy jenis kelamin

D1 = jika wanita D0 = jika pria

Pekerjaan = Variabel dummy pekerjaan

D1 = jika bukan pegawai negeri D0 = jika pegawai negeri

Pendapatan (income) = Variabel dummy pendapatan (income) D1 = ≥ Rp 3.000.000

D0 = < Rp 3.000.000 X1 = Umur responden (tahun)

X2 = Jumlah anggota keluarga (orang) X3 = Tingkat pendidikan responden (tahun)

Nilai Odds Ratio

Nilai odds ratio ini digunakan untuk melihat hubungan antara peubah

bebas dengan peubah responnya yang diperoleh dari perhitungan eksponensial dari koefisien estimasi (bi) atau exp (bi). Odds ratio menunjukkan perhitungan perbandingan peluang Y=1 (bila lebih banyak konsumsi daging sapi rendah lemak) dengan Y=0 (bila lebih banyak konsumsi daging sapi non rendah lemak) dengan di pengaruhi oleh variabel bebas tertentu.

(47)

Rasio odds digunakan untuk memudahkan interpretasi koefisien. Rasio

odds adalah ukuran yang memperkirakan berapa besar kecenderungan

peubah-peubah penjelas (X) terhadap peubah-peubah respon (Y). jika suatu peubah-peubah penjelas memiliki tanda koefisien positif, maka kecenderungan Y=1 lebih besar terjadi pada peubah bebas X=1 daripada X=0. Interpretasi dari odds ratio ini adalah bahwa untuk X=1 memiliki kecenderungan Y=1 sebesar ψ kali dibandingkan dengan X=0 (Hosmer dan Lemeshow, 1989).

Uji Rasio Likelihood

Pendugaan parameter model logit dilakukan dengan menggunakan metode kemungkinan maksimum. Uji ini digunakan untuk melihat spesifikasi dan kesesuaian model pada regresi logistik.

1. Pengujian parameter secara keseluruhan

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel penjelas secara simultan atau keseluruhan terhadap peubah responnya, dengan menggunakan statistik uji G.

Hipotesa : Ho : b1=b2=….b6 =0

H1 : minimal ada satu bj ≠ 0 ; j=1,2,….6

Statistik uji yang digunakan adalah : G hitung = -2 ln ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ ahbebas denganpeub likelihood s peubahbeba tan likelihood Odd ratio (ψ)= ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ π − π ) X ( 1 ) X ( atau ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ −P(Xi) 1 ) Xi ( P

(48)

Kaidah pengujian ; jika Ho benar, statistik G akan mengikuti sebaran X2 dengan derajat bebas = p-1 dengan cara membandingkan G hitung dengan

Chi-square pada tabel.

2. Pengujian secara individu

Pengujian ini dilakukan secara parsial (individu) terhadap peubah bebas untuk mengetahui pengaruhnya terhadap peubah respon yang dilakukan dengan uji Wald

Hipotesa : Ho : bj=0

H1 : bj≠0 ; j=1,2,....6 Statistik yang digunakan adalah:

Statistik ini berdasarkan Khi Kuadrat dengan derajat bebas 1 atau secara simbolik ditulis Wj~X21.

Ho ditolak jika Wj~X2α, 1 ; α : tingkat signifikasi.

Bila Ho ditolak artinya parameter tersebut signifikan secara statistik pada tingkat signifikasi α ( Nachrowi dan Usman,2002).

W = ) bj ( SE bj

(49)

4.5. Definisi Operasional

Konsep operasional dalam penelitian ini adalah :

1. Daging adalah semua organ hewan yang pantas digunakan sebagai bahan makanan termasuk seluruh hasil olahan oleh pabrik yang dibuat dari organ hewan.

2. Daging sapi segar adalah organ hewan sapi yang dapat memberikan kepuasan seperti yang diharapkan konsumen di tinjau dari atribut yang ada pada daging sapi segar tersebut.

3. Daging sapi rendah lemak adalah bagian dari sapi yang mempunyai kadar lemak sebesar 40 % yaitu daging has dalam (sirloin) dan has luar (tenderloin).

4. Responden penelitian ini adalah orang yang berada pada lokasi penelitian yang membeli daging sapi dan bersedia untuk mengisi kuesioner.

5. Konsumen daging sapi rendah lemak diasumsikan orang yang membeli dan mengkonsumsi daging sapi rendah lemak.

6. Jumlah anggota keluarga adalah banyaknya jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah termasuk responden itu sendiri.

7. Tingkat pendapatan adalah jumlah nominal yang diperoleh oleh konsumen yang dinyatakan dalam Rupiah per bulan.

8. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan yang pernah diikuti oleh konsumen.

9. Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh konsumen dengan tujuan untuk menambah penghasilan keluarga.

(50)

BAB V

GAMBARAN UMUM

KARAKTERISTIK RESPONDEN

5.1. Karakteristik Umum Responden

Responden yang dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 70 orang yang sedang membeli daging sapi dengan cara mewawancarai responden tersebut. Responden tersebut adalah konsumen yang sedang membeli daging sapi rendah lemak yaitu sebanyak 44 orang dan konsumen yang tidak membeli daging sapi rendah lemak sebanyak 26 orang. Karakteristik umum responden dalam penelitian ini dilihat berdasarkan jenis kelamin, umur, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Penentuan karakteristik responden ini didasarkan pada pengaruhnya terhadap proses keputusan pembelian daging sapi rendah lemak.

5.1.1. Jenis Kelamin

Berdasarkan ciri demografinya, sebagian besar responden yang ditemui adalah wanita yaitu sebanyak 58 orang (82,9 persen) dan pria sebanyak 12 orang (17,1 persen). Hal ini disebabkan karena pada saat pengambilan sampel yang paling banyak ditemui berbelanja daging sapi rendah lemak adalah wanita. Selain itu, yang berperan dalam pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk dalam sebuah rumah tangga adalah wanita. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Pada Tabel 3.

Tabel 3. Sebaran Menurut Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Jumlah Responden (Orang) Persentase ( % )

Wanita 58 82,9

Pria 12 17,1

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :