UNIVERSITAS INDONESIA
IMPLEMENTASI MANAGEMENT LETTER TERKAIT
PENERAPAN PSAK 50/55 (REVISI 2006) ATAS KREDIT
YANG DIBERIKAN DAN PERHITUNGAN CADANGAN
KERUGIAN PENURUNAN NILAI (CKPN) KREDIT
PADA PT BANK XYZ
LAPORAN MAGANG
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
AYU FARADHISA 1006810946
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM STUDI (S1) EKSTENSI
KEKHUSUSAN AKUNTANSI DEPOK
iv
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan magang ini tepat pada waktunya. Penyusunan laporan magang ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik dari masa perkuliahan sampai pada akhir penyusunan laporan magang ini sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan laporan magang ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua dan adik-adik penulis, terima kasih yang tak terhingga atas kasih sayang, segala doa dan dukungan yang telah kalian berikan.
2. Ibu Sri Nurhayati S.E., M.M., S.A.S selaku Ketua Program Ekstensi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
3. Ibu Vita Silvira S.E., MBA. selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas bimbingan, kritik, masukan dan waktu yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang ini.
4. Dosen dan staf pengajar PEFEUI yang telah memberikan pengetahuan berharga kepada penulis.
5. Mas Dudi, Mba Galuh, dan Mba Ana atas bantuan dan bimbingannya dalam pembuatan laporan magang ini. Serta tak lupa senior dan junior lainnya di KAP RSM AAJ Associates, terima kasih atas bantuan dan bimbingannya selama penulis melaksanakan magang.
6. Aisa, Anita, Mayang, Marlene, Tidot, dan Wila teman berbagi suka, duka, kebersamaan dan keceriaan selama dua setengah tahun ini.
7. Ilham Fauzi atas segala doa, dukungan, dan kebersamaan selama ini. 8. Teman-teman angkatan 2010 PEFEUI baik Depok maupun Salemba untuk
semangat dan kebersamaannya.
Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak tersebut di atas. Penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam laporan magang ini, karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar dapat menjadi contoh yang
v
baik untuk kemudian hari. Semoga laporan magang ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.
Jakarta, Januari 2013
vii ABSTRAK
Nama : Ayu Faradhisa Program Studi : Akuntansi
Judul : Implementasi Management Letter terkait Penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006) atas Kredit yang Diberikan dan Perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Kredit pada PT Bank XYZ
Laporan magang ini membahas mengenai implementasi Management Letter tahun 2011 terhadap laporan keuangan tahun 2012 terkait penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006) atas Kredit yang Diberikan dan perhitungan CKPN Kredit pada PT Bank XYZ. Dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006). Hal ini disebabkan oleh banyaknya kendala yang dihadapi oleh industri perbankan. Akan tetapi, per 1 Januari 2012, Bank harus sudah menerapkannya. Berdasarkan PSAK 50/55 (Revisi 2006), CKPN Kredit dievaluasi menggunakan dua penilaian, yaitu penilaian individu dan penilaian kolektif. Dari hasil, dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2012 PT Bank XYZ baru menerapkan evaluasi terhadap perhitungan CKPN menggunakan penilaian kolektif.
Kata Kunci:
Management Letter, PSAK 50/55 (Revisi 2006), Cadangan Kerugian Penurunan
viii Name : Ayu Faradhisa
Study Program: Accounting
Title : The Implementation of Management Letter Related to PSAK 50/55 (Revised 2006) for Loans and The Calculation of Allowance for Impairment Losses Credit in PT Bank XYZ
This internship report discusses about the implementation of Management Letter in 2011 to the financial statements in 2012 related to PSAK 50/55 (Revised 2006) for loans and the calculation of allowance for impairment losses credit in PT Bank XYZ. It takes quite a long time in the implementation of PSAK 50/55 (Revised 2006). This is due to the many constraints faced by the banking industry. However, as of January 1, 2012, all of banking industry had to have them. Based on PSAK 50/55 (Revised 2006), the allowance for impairment losses credit evaluated using two assessment, that is individual assessment and collective assessment. From the results, it can be concluded that in 2012 PT Bank XYZ recently implemented evaluation of the calculations allowance for impairment losses credit using collective assessment.
Key words:
Management Letter, PSAK 50/55 (Revised 2006), Allowance for Impairment Losses Credit.
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR RUMUS ... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Pelaksanaan Program Magang... 1
1.2 Tujuan Pelaksanaan Program Magang ... 1
1.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Program Magang ... 2
1.4 Penulisan Laporan Magang... 2
1.4.1 Latar Belakang Penulisan Laporan Magang ... 2
1.4.2 Tujuan Penulisan Laporan Magang ... 3
1.4.3 Ruang Lingkup Penulisan Laporan Magang ... 3
1.4.4 Sistematika Penulisan Laporan Magang... 4
BAB 2. LANDASAN TEORI ... 6
2.1 Pengertian Management Letter ... 6
2.2 Pengertian Bank ... 6
2.3 Kredit berdasarkan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) (Revisi 2008) ... 6
2.3.1 Pengertian Kredit... 6
2.3.2 Penerusan Kredit ... 7
2.3.3 Jenis-Jenis Kredit ... 8
2.3.3.1 Kredit Modal Kerja ... 8
2.3.3.2 Kredit Investasi ... 9
2.3.3.3 Kredit Konsumsi ... 9
2.3.4 Kebijakan Kredit sesuai dengan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan PAPI (Revisi 2008) ... 10
2.3.4.1 Kebijakan Umum Kredit ... 10
2.3.4.2 Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian Kredit ... 12
2.4 Penurunan Nilai dan CKPN Kredit berdasarkan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan PAPI (Revisi 2008) ... 17
2.4.1 Pengertian Penurunan Nilai ... 17
2.4.2 Pengertian CKPN Kredit ... 17
2.4.3 Kebijakan Penurunan Nilai dan CKPN Kredit sesuai dengan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan PAPI (Revisi 2008) ... 18
2.4.3.1 Identifikasi Bukti Objektif ... 20
2.4.3.2 Kriteria Evaluasi Penurunan Nilai ... 20
x
3.1 Gambaran Umum KAP Aryanto Amir Jusuf Mawar dan Saptoto ... 30
3.1.1 Profil Kantor Akuntan Publik ... 30
3.1.2 Visi dan Misi Kantor Akuntan Publik ... 30
3.1.3 Produk dan Jasa Kantor Akuntan Publik ... 31
3.2 Gambaran Umum PT Bank XYZ ... 32
3.2.1 Sejarah Singkat PT Bank XYZ ... 32
3.2.2 Visi dan Misi PT Bank XYZ ... 33
3.2.3 Produk-produk yang Ditawarkan PT Bank XYZ ... 33
3.2.4 Kredit (Pinjaman) pada PT Bank XYZ ... 33
BAB 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 35
4.1 Management Letter PT Bank XYZ Periode Tahun 2011 ... 35
4.2 Penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006) oleh PT Bank XYZ ... 36
4.2.1 Kategori Aset Keuangan.. ... 37
4.2.2 Pengukuran ... 38
4.2.3 Penurunan Nilai Kredit ... 40
4.2.3.1 Perhitungan Penurunan Nilai Kredit pada PT Bank XYZ ... 41
4.3 Analisis Permasalahan terkait dengan Penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006) pada PT Bank XYZ ... 46
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 54
5.1 Kesimpulan ... 54
5.2 Saran ... 55
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Persentase Minimum Penyisihan ... 36
Tabel 4.2 Suku Bunga Dasar Kredit PT Bank XYZ ... 38
Tabel 4.3 Tingkat Materialitas untuk Pendapatan ... 39
Tabel 4.4 Tingkat Materialitas untuk Biaya ... 40
Tabel 4.5 Rating Delinquency Past Due ... 41
Tabel 4.6 Evaluasi Penurunan Nilai Secara Kolektif berdasarkan Segmen dan Produk ... 46
Tabel 4.7 Penetapan Probability Default ... 49
Tabel 4.8 Perhitungan CKPN Kredit per September 2012 ... 50
xii
Gambar 4.1. Skema Pengambilan Keputusan Perhitungan Penurunan Nilai
Kredit.. ... 42 Gambar 4.2. Decision Tree Proses Penilaian Individu... ... 43
xiii
DAFTAR RUMUS
Rumus 3.1 Perhitungan Suku Bunga Efektif... 19 Rumus 4.1 Perhitungan CKPN Kredit secara Kolektif ... 45 Rumus 4.2 Perhitungan LGD dengan Metode Collateral Shortfall ... 45
1 Universitas Indonesia
1.1 Latar Belakang Pelaksanaan Program Magang
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) merupakan Fakultas Ekonomi tertua yang ada di Indonesia. Berdiri sejak tahun 1950, menjadikan FEUI unggul dan terdepan dalam hal pengalaman dan perkembangan ilmu ekonomi dan bisnis. FEUI memiliki tiga Departemen pendukung di bawahnya, yaitu Departemen Akuntansi, Departemen Manajemen, dan Departemen Ilmu Ekonomi. Selain itu, FEUI juga memiliki program-program pendidikan terbaik yang terakreditasi yang berada di bawah tiap Departemen tersebut, seperti Program S1 Reguler, Program Ekstensi, Program Vokasi, Program Pascasarjana, dan Program Magister.
Program Ekstensi Akuntansi merupakan program pendidikan yang berada di bawah Departemen Akuntansi FEUI. Sebagai salah satu fakultas ternama di Indonesia, FEUI dituntut untuk mencetak lulusan yang dapat mengikuti perkembangan akuntansi yang semakin berkembang dalam praktik lapangan yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, Program Ekstensi Akuntansi FEUI memberikan pilihan kepada para mahasiswanya untuk menjadikan magang sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi selain skripsi.
1.2 Tujuan Pelaksanaan Program Magang
Program magang yang diadakan oleh Program Ekstensi Akuntansi FEUI ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi sebagai pengganti pelaksanaan skripsi. Bagi para mahasiswa yang tidak mengambil skripsi atau mata kuliah pengganti skripsi/magang, maka wajib melaksanakan program magang.
Program magang ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas diri bagi para mahasiswa, baik secara mental maupun teknikal. Dengan melaksanakan program magang, secara teknikal mahasiswa diharapkan dapat menyalurkan kemampuan yang dimilikinya selama duduk di bangku perkuliahan ke dalam dunia kerja yang sebenarnya. Program magang juga diharapkan dapat
2
Universitas Indonesia
dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk mulai melakukan persiapan dan beradaptasi dengan dunia kerja nyata, sehingga pada saat bekerja di masa mendatang para mahasiswa tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Selain itu, dengan pelaksanaan program magang penulis juga memperoleh pengalaman kerja sekaligus memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat guna meningkatkan kualitas hidup di masa yang akan datang.
1.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Program Magang
Penulis memiliki kesempatan untuk melaksanakan program magang di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP), yaitu KAP Aryanto Amir Jusuf Mawar dan Saptoto yang merupakan member firm dari RSM International yang beralamat di Plaza ABDA Lt. 10 & 11 Jl. Jend. Sudirman Kav. 59 Jakarta Pusat, selama 4 (empat) bulan, terhitung 6 Agustus 2012 hingga 30 November 2012. Selama melaksanakan magang, penulis berkesempatan untuk ditempatkan sebagai junior
auditor.
Tugas penulis selama pelaksanaan magang adalah membantu senior melakukan prosedur audit dalam melaksanakan kerja lapangan (fieldwork), seperti mempersiapkan Kertas Kerja (Working Paper), mempersiapkan Blank Report untuk pelaksanaan audit interim dan general audit akhir tahun 2012 dan melakukan pendokumentasian terhadap data-data yang terkait dengan pelaksanaan
audit fieldwork.
1.4 Penulisan Laporan Magang
1.4.1 Latar Belakang Penulisan Laporan Magang
Banyak sekali hal yang penulis peroleh selama melaksanakan program magang. Hal yang paling menarik perhatian penulis adalah berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan selama proses pelaksanaan audit. Salah satunya adalah surat rekomendasi yang auditor berikan kepada manajemen perusahaan (klien) mengenai segala temuan yang diperoleh selama pelaksanaan pekerjaan lapangan (fieldwork) atau dikenal sebagai Management Letter. Dengan surat rekomendasi tersebut, manajemen perusahaan diharapkan dapat mengetahui secara rinci apa saja permasalahan dalam laporan keuangan perusahaan yang sebaiknya perlu
Universitas Indonesia
dibenahi, sehingga ke depannya laporan keuangan perusahaan menjadi lebih baik lagi.
Menurut penulis, Management Letter merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses pelaksanaan audit. Menarik untuk dibahas mengenai bagaimana implementasi dari surat rekomendasi tersebut terhadap laporan keuangan perusahaan pada periode audit selanjutnya. Apakah perusahaan telah melaksanakan segala rekomendasi yang diberikan oleh auditor, terutama mengenai kebijakan akuntansi, pengendalian internal, dan ketersediaan data dengan prioritas pelaksanaan yang perlu segera diterapkan. Dan, bagaimana proses pelaksanaan yang dilakukan oleh perusahaan klien dalam menjalankan apa yang tertulis di dalam surat rekomendasi tersebut.
1.4.2 Tujuan Penulisan Laporan Magang
Laporan magang merupakan tugas akhir yang harus dibuat dan dimiliki oleh peserta magang sebagai syarat wajib untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan sidang laporan magang pada bagian akhir pelaksanaan magang dan penyusunan laporan magang. Para peserta magang diwajibkan menyusun laporan magang yang berisi mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh penulis selama melaksanakan magang.
Penulisan laporan magang bertujuan untuk mengolah kemampuan para peserta magang untuk dapat menganalisis aktivitas yang terjadi di lingkungan pekerjaan selama pelaksanaan magang dan kemudian dibandingkan dengan teori yang sudah terlebih dahulu dipelajari oleh mahasiswa pada waktu kuliah.
1.4.3 Ruang Lingkup Penulisan Laporan Magang
Dalam laporan magang ini, penulis akan membatasi ruang lingkup penulisan hanya pada poin-poin mengenai kebijakan akuntansi dan ketersediaan data dengan prioritas pelaksanaan yang perlu segera diterapkan yang terkait dengan penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006) atas Kredit yang Diberikan oleh PT Bank XYZ dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atas Kredit yang Diberikan, sebagaimana tercantum di dalam Management Letter tahun 2011 untuk
4
Universitas Indonesia
PT Bank XYZ dan bagaimana implementasinya terhadap laporan keuangan PT Bank XYZ pada tahun 2012.
Selama melaksanakan program magang, penulis berperan sebagai Junior Auditor. Setiap aktivitas audit yang dilakukan penulis sangat terbatas pada tugas dari Senior Auditor dan kemudian diperiksa oleh Senior Auditor. Data yang penulis peroleh hanya terbatas pada tugas-tugas yang dilaksanakan selama magang. Khususnya akun Kredit yang Diberikan, penulis hanya melakukan loan
review dan recalculation atas bunga yang harus dibayarkan oleh debitur,
sedangkan yang bertanggung jawab terhadap recalculation atas CKPN dan
Working Paper (WP) atas Kredit yang Diberikan adalah Senior Auditor. Selama
melaksanakan magang, penulis banyak berkonsultasi dengan Senior Auditor sebagai referensi untuk penulisan laporan magang ini.
1.4.4 Sistematika Penulisan Laporan Magang
Dalam penyusunannya, penulis membuat laporan magang ini menjadi lima Bab dan ditambah dengan lampiran-lampiran yang ada untuk melengkapi laporan. Adapun rincian masing-masing Bab dalam laporan magang penulis adalah sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang pelaksanaan program magang yang menekankan pada alasan dilaksanakannya program magang dan tujuan pelaksanaan program magang, tempat serta waktu pelaksanaan magang, latar belakang penulisan laporan magang dan tujuan penulisan laporan magang, ruang lingkup penulisan laporan magang, dan sistematika penulisan laporan magang.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Bab ini membahas secara singkat teori-teori yang mendukung dan menjadi landasan dari aktivitas dan analisis pelaksanaan magang yang akan dibahas di bab selanjutnya. Teori ini terdiri dari teori mengenai akuntansi dan auditing secara umum, seperti Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang sesuai dengan topik yang penulis ambil yaitu PSAK 50/55 (Revisi 2006) terkait dengan Kredit, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (Revisi 2008), serta pedoman
Universitas Indonesia
lainnya yang terkait dengan poin-poin yang dibahas di dalam Management Letter PT Bank XYZ.
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini, penulis membahas tentang gambaran umum perusahaan tempat penulis melaksanakan program magang yang menjadi sumber data dalam penulisan laporan magang (karya akhir) ini. Bab ini memaparkan mengenai gambaran umum KAP tempat program magang dilaksanakan dan PT Bank XYZ sebagai tempat pelaksanaan audit. Lebih rincinya lagi akan dijelaskan sejarah KAP dan perusahaan klien yang penulis tangani, seperti riwayat KAP dan perusahaan klien mulai dari didirikan hingga sekarang masih tetap berdiri. Di bab ini juga membahas layanan jasa dimana penulis melaksanakan magang.
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini, penulis melaporkan kegiatan yang dilakukan selama magang dan membahas mengenai Implementasi Management Letter terkait dengan Penerapan PSAK 50/55 (Revisi 2006) atas Kredit yang Diberikan dan Perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Kredit pada PT Bank XYZ.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan kesimpulan dari keseluruhan bab yang ada di dalam laporan magang ini dan saran yang penulis berikan berdasarkan pada pengetahuan penulis dan pengalaman yang didapat selama melaksanakan program magang yang mungkin berguna bagi semua pihak bersangkutan dengan program magang ini.
6 Universitas Indonesia
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Management Letter
Management Letter (Surat Manajemen) merupakan surat yang dibuat
Kantor Akuntan Publik (KAP) ditujukan untuk menginformasikan pihak klien mengenai rekomendasi KAP guna meningkatkan bisnis klien (Arens et al.,2010).
Management Letter sering dikenal sebagai surat rekomendasi yang isinya
memberitahukan kelemahan dari pengendalian internal perusahaan (baik yang material maupun tidak material) yang ditemukan selama pelaksanaan pekerjaan lapangan, disertai dengan saran-saran perbaikan dari KAP.
Management Letter merupakan suatu opsi dan ditujukan untuk membantu
klien dalam mengoperasikan bisnisnya lebih efektif.
2.2 Pengertian Bank
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998, “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.”
2.3 Kredit berdasarkan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) (Revisi 2008)
2.3.1 Pengertian Kredit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan Pasal 1 angka 11, “Kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”
Universitas Indonesia
Kredit berdasarkan pengertiannya antara lain memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
a) Persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam;
b) Aktivitas peminjaman uang atau tagihan sebesar plafon yang disepakati; c) Jangka waktu tertentu;
d) Pendapatan berupa bunga atau imbalan atau pembagian keuntungan; e) Risiko; dan
f) Jaminan dan atau agunan (jika ada)
Sementara itu, di dalam PAPI (Revisi 2008) dijelaskan juga mengenai kredit sindikasi, yaitu kredit secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih atau perusahaan pembiayaan lainnya dengan pembagian dana, risiko, dan pendapatan (bunga dan provisi/komisi) sesuai porsi kepesertaan masing-masing anggota sindikasi. Kredit sindikasi disebut juga kredit dalam rangka pembiayaan bersama.
2.3.2 Penerusan Kredit
Berdasarkan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) (Revisi 2008), penerusan kredit adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pihak lain, dan bank dapat menanggung atau tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan. Penerusan kredit dibedakan menjadi :
1. Kredit Channeling adalah kredit yang seluruh dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan diberikan untuk sektor usaha/debitur tertentu yang ditetapkan oleh pihak penyedia dana. Bank hanya bertindak sebagai pengelola administrasi kredit (channeling agent), serta tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan tersebut, dan untuk tugas tersebut, bank menerima imbalan jasa berupa fee atau bagian dari bunga. Dalam kredit chanelling, bank dapat:
a) Hanya bertindak sebagai administrator terhadap kredit yang diberikan
oleh pihak ketiga, tidak terdapat aliran dana masuk atau keluar melalui bank, sehingga bank tidak mencatat aset maupun kewajiban keuangan.
b) Bertindak sebagai administrator dan menerima aliran dana masuk
8
Universitas Indonesia
mengurangi kewajiban keuangannya (risiko kredit ditanggung oleh pihak ketiga).
2. Kredit Executing adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan sebagian lagi berasal dari bank. Dalam hal ini bank bertindak sebagai pengelola atas seluruh kredit tersebut. Sumber dana dan risiko kredit yang ditanggung bank, ditetapkan berdasarkan perjanjian. Dalam kredit executing, selain bertindak
sebagai administrator, bank menerima aliran dana masuk (mencatat
kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit bank menanggung
sebagian atau seluruh risiko kredit, untuk itu bank mencatat sebagai aset
keuangan (executing) sebesar risiko kredit yang ditanggung.
3. Kredit Two Step Loans (TSL) adalah kredit oleh bank yang seluruh
dananya berasal dari pinjaman luar negeri yang diterima pemerintah untuk membiayai pengembangan sektor usaha tertentu sesuai perjanjian kredit antara pemerintah dan pemberi dana (lender). Bank tetap menanggung risiko atas kegagalan pemberian kredit tersebut atau sesuai perjanjian.
2.3.3 Jenis-jenis Kredit
Menurut PAPI (Revisi 2008), kredit menurut penggunaannya terbagi atas : 2.3.3.1 Kredit Modal Kerja
Kredit Modal Kerja adalah fasilitas kredit modal kerja yang diberikan kepada (calon) debitur baik dalam untuk memenuhi kebutuhan modal kerja jangka pendek dengan jangka waktu maksimal 1 tahun dan dapat diperpanjang. Jenis-jenis produk untuk kredit modal kerja adalah :
1. Fasilitas Pinjaman Rekening Koran (PRK)
Fasilitas kredit dengan memberikan sejumlah plafon tertentu pada rekening debitur, dimana debitur setiap saat dapat melakukan penarikan sampai dengan batas maksimum sebesar plafond pinjaman.
2. Fasilitas Pinjaman Tetap (PT)
Universitas Indonesia
3. Fasilitas Pinjaman Tetap on Demand – Revolving (PT-OD)
Fasilitas kredit yang dapat ditarik (dicairkan) sekaligus atau bertahap sesuai kebutuhan dan permintaan debitur. Fasilitas kredit bersifat
revolving.
4. Fasilitas Pinjaman Tetap on Demand – Non Revolving (PTX-OD)
Fasilitas kredit yang dapat ditarik (dicairkan) sekaligus atau bertahap sesuai kebutuhan dan permintaan debitur. Fasilitas kredit bersifat non
revolving.
2.3.3.2 Kredit Investasi
Kredit Investasi adalah kredit jangka menengah/panjang yang diberikan kepada (calon) debitur untuk membiayai barang-barang modal dalam rangka rehabilitasi, modernisasi, perluasan (ekspansi) ataupun pendirian proyek baru, misalnya untuk pembelian tanah dan bangunan untuk pabrik, pembelian mesin-mesin, dan lain-lain. Jenis-jenis produk untuk kredit investasi adalah :
1. Fasilitas Pinjaman Tetap Angsuran (PTA)
Fasilitas kredit yang dapat ditarik (dicairkan) sekaligus. Pembayaran atau pelunasan kredit dengan cara angsuran pokok dan angsuran bunga yang jumlah dan masa angsuran (tenor) sesuai dengan jadwal angsuran.
2. Fasilitas Pinjaman Tetap Angsuran on Demand (PTA-OD)
Fasilitas kredit yang dapat ditarik (dicairkan) bertahap sesuai kebutuhan dan permintaan debitur. Pembayaran atau pelunasan kredit dengan cara angsuran pokok dan angsuran bunga yang jumlah dan masa angsuran (tenor) sesuai dengan jadwal angsuran, setelah masa grace period berakhir.
2.3.3.3 Kredit Konsumsi
Kredit Konsumsi adalah kredit dengan tujuan penggunaan membiayai kebutuhan yang bersifat konsumtif seperti untuk membiayai pembelian rumah tinggal atau ruko/rukan atau apartemen, renovasi rumah tinggal, membiayai pembelian kendaraan, dan lain-lain.
10
Universitas Indonesia
Jenis-jenis produk untuk kredit konsumsi adalah : 1. Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Fasilitas kredit untuk pembiayaan pembelian rumah atau ruko/rukan atau apartment yang pencairannya (penarikan) dilakukan secara sekaligus. Pembayaran atau pelunasan kredit ini dengan cara angsuran pokok dan bunga yang jumlah dan masa angsurannya sesuai dengan jadwal angsuran. 2. Kredit Kepemilikan Mobil (KPM)
Fasilitas kredit untuk pembiayaan pembelian mobil yang pencairannya (penarikan) dilakukan secara sekaligus. Pembayaran atau pelunasan kredit ini dengan cara angsuran pokok dan bunga yang jumlah dan masa angsurannya sesuai dengan jadwal angsuran.
Jenis kredit juga dibagi berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti objektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai terdiri dari :
1. Kredit yang mengalami penurunan nilai, yaitu jika terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan); dan
2. Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai.
Selain jenis kredit menurut penggunaannya dan menurut evaluasi, di dalam PAPI (Revisi 2008) juga dijelaskan mengenai penggolongan kredit menurut kualitas, yaitu terdiri dari kredit dengan kualitas lancar (L), dalam perhatian khusus (DPK), kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet (M). Prinsip ini dilakukan untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian bank (prudential regulation).
2.3.4 Kebijakan Kredit sesuai dengan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan PAPI (Revisi 2008)
2.3.4.1 Kebijakan Umum Kredit
Berdasarkan PSAK 50/55 (Revisi 2006) paragraf 45, untuk tujuan pengukuran nilai, aset keuangan setelah pengakuan awal dapat dibukukan dalam 4 kategori aset keuangan, yaitu:
Universitas Indonesia
A. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi
a) Aset Keuangan yang dimiliki untuk tujuan dijual atau dibeli kembali
dalam waktu dekat (diperdagangkan).
b) Bagian dari portofolio yang dimiliki untuk tujuan ambil untung dalam
jangka pendek (diperdagangkan).
c) Derivatif, kecuali yang merupakan kontrak jaminan keuangan yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif (diperdagangkan).
d) Aset keuangan yang pada saat pengukuran awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.
B. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo
a) Aset Keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah
ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan.
b) Entitas mempunyai instensi positif.
c) Kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo
C. Tersedia untuk Dijual
a) Seluruh aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia
dijual atau yang tidak diklasifikasikan dalam kategori lain.
b) Aset keuangan yang pada saat pengukuran awal ditetapkan sebagai
tersedia untuk dijual.
D. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang
Kredit yang diberikan yang tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif.
Sementara itu, definisi dari pinjaman yang diberikan dan piutang dijelaskan dalam PSAK 50/55 (Revisi 2006) paragraf 8 yang berbunyi:
“Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan nonderivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif, kecuali:
(a) pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat, yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan, dan pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat
12
Universitas Indonesia
pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi;
(b) pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual; atau
(c) pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang, dan diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.
Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang.”
Dengan demikian, akun Kredit pada bank dapat dikategorikan sebagai Pinjaman yang diberikan dan/atau akun Piutang yang biasa disebut sebagai Kredit yang Diberikan (KYD).
2.3.4.2 Pengakuan, Pengukuran dan Penyajian Kredit a. Pengakuan Kredit
Menurut PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 14, dijelaskan bahwa:
“Entitas mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan pada laporan posisi keuangan, jika dan hanya jika, entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut.”
b. Pengukuran Kredit
Pada PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 43, dijelaskan bahwa:
“Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas keuangan, entitas mengukur pada nilai wajarnya. Dalam hal aset keuangan atau liabilitas keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau liabilitas keuangan tersebut.”
Selanjutnya dijelaskan pula di dalam PSAK 55 (Revisi 2006) bahwa nilai wajar yang dimaksud dapat diperoleh melalui harga kuotasi di pasar aktif. Pernyataan yang mendukung hal ini adalah pada PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 49 yang berbunyi:
Universitas Indonesia
“Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif, entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. Tujuan penggunaan teknik penilaian adalah untuk menetapkan berapa sesungguhnya harga transaksi pada tanggal pengukuran dalam suatu pertukaran yang wajar yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan bisnis yang normal...”
Dari pernyataan tersebut, dijelaskan pada PAPI (Revisi 2008) bahwa penentuan nilai wajar menggunakan hirarki berikut:
a. Kuotasi dipasar aktif;
b. Teknik penilaian yang meliputi:
1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar;
2) Harga dari transaksi pasar terkini dari aset lain yang sejenis; atau
3) Analisa arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku
bunga pasar (dapat menggunakan suku bunga yang ditawarkan bank) yang berlaku untuk kredit sejenis.
Untuk Kredit yang Diberikan, pengukurannya berdasarkan biaya perolehan diamortisasi dengan metode suku bunga. Berikut ini merupakan bunyi pernyataan tersebut yang tertuang di dalam PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 46: “Setelah pengakuan awal, entitas mengukur aset keuangan, termasuk derivatif yang diakui sebagai aset, pada nilai wajarnya, tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul pada penjualan atau pelepasan lainnya, kecuali untuk aset keuangan berikut ini:
(a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 07, yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif;...”
Selisih antara nilai tercatat kredit (yang merupakan biaya perolehan diamortisasi) dengan nilai kredit yang akan diterima pada saat jatuh tempo kredit diamortisasi selama periode berjalan menggunakan metode suku bunga efektif.
Berdasarkan PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 8, biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi
14
Universitas Indonesia
CF
CF
CF
(1+r)
1(1+r)
2+
(1+r)
tPV =
+
+ ...
kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya, dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.
Masih berdasarkan PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 8, metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan.
Berdasarkan PAPI (Revisi 2008), nilai wajar kredit pada saat pengakuan awal adalah sebesar pokok kredit yang dicairkan oleh debitur. Berdasarkan nilai wajar tersebut, dapat dihitung suku bunga efektif. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan, atau jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. Selanjutnya, suku bunga efektif dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:
(3.1) dimana :
PV = nilai wajar yang merupakan present value dari kredit yang diberikan, yaitu sebesar arus kas keluar (pokok ditambah/dikurangi biaya transaksi berupa pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dan/atau premium atau diskonto)
CF = arus kas bersih berdasarkan persyaratan kontraktual (seperti penerimaan pokok, bunga, denda, pelunasan dipercepat, call option, dan lainnya)
r = suku bunga efektif (effective interest rate) t = jangka waktu
Sementara itu, suku bunga efektif yang dihitung berdasarkan arus kas kontraktual pada dasarnya tidak dapat diubah sampai dengan seluruh kewajiban debitur dibayar lunas, termasuk ketika bank memberikan keringanan suku bunga melalui restrukturisasi kredit atau melakukan revisi estimasi pembayaran atau
Universitas Indonesia
penerimaan bunga dan pokok. Ketentuan penetapan suku bunga efektif adalah sebagai berikut:
a. Kredit dengan suku bunga tetap memiliki satu suku bunga efektif yang
dihitung pada awal pemberian kredit.
b. Kredit dengan suku bunga tetap dengan penyaluran secara bertahap atas
jumlah plafon kredit memiliki suku bunga efektif tersendiri untuk setiap tahapan penarikan kredit kecuali pada awal pemberian kredit, waktu penarikan dan jumlah pada setiap penarikan telah diketahui.
c. Apabila bank memberikan kredit dengan skema bunga meningkat atau
menurun (step up/down) yang sudah diketahui sejak awal (sudah diperjanjikan), maka hal tersebut sudah harus diperhitungkan pada saat perhitungan awal arus kas untuk menentukan suku bunga efektif.
d. Kredit dengan suku bunga mengambang, perhitungan suku bunga efektif
didasarkan pada arus kas dengan menggunakan suku bunga yang diestimasi pada awal pemberian kredit. Selanjutnya suku bunga efektif akan disesuaikan pada saat penyesuaian suku bunga berikutnya. Suku bunga efektif akan berubah setiap kali dilakukan perubahan estimasi arus kas masa datang yang dihasilkan dari perubahan tingkat suku bunga. Amortisasi pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dilanjutkan dengan menggunakan suku bunga efektif yang baru. Dalam menghitung suku bunga efektif, bank harus memperhatikan secara cermat biaya transaksi yang meliputi pendapatan dan beban selain bunga (yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit) yang harus diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Jenis-jenis pendapatan dan beban tersebut antara lain:
a. Fee yang terkait dengan jangka waktu kredit, antara lain fee (seperti
origination fee dan commitment fee) dan provisi kredit yang tertuang dalam perjanjian kredit, sepanjang fee/provisi tersebut secara langsung timbul pada saat pemberian/pembelian kredit (akuisisi aset). Jika fee/provisi kredit diterima sekaligus untuk kredit dengan penarikan secara bertahap maka fee/provisi tersebut dialokasikan secara proporsional sesuai jumlah penarikan kredit dalam setiap tahap;
16
Universitas Indonesia
b. Denda (penalty) yang dikenakan kepada debitur atas opsi pelunasan
sebelum jatuh tempo yang tertuang dalam perjanjian kredit, karena opsi tersebut menyebabkan bank tidak dapat menerima bunga secara penuh hingga jatuh tempo. Denda/penalty yang dikenakan terkait dengan biaya administrasi tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Opsi pelunasan sebelum jatuh tempo harus dievaluasi lebih lanjut apakah merupakan derivatif melekat yang memenuhi persyaratan untuk dipisahkan dari Kredit sebagai kontrak utamanya (host contract);
c. Biaya yang dikeluarkan bank dalam rangka pemberian/pembelian kredit
seperti:
1. Fee atau imbalan yang dibayarkan kepada developer, karyawan atau
pihak lain untuk setiap aplikasi kredit yang disetujui; dan
2. Biaya konsultan untuk notaris dan hukum, tinjauan lokasi debitur
(on-thespot), biaya appraisal, dan lain-lain.
Jenis-jenis pendapatan dan beban yang tidak dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang antara lain:
a. Seluruh pendapatan dan beban yang dapat diakui sekaligus, dan/atau;
b. Pendapatan dan beban lainnya yang tidak dapat diatribusikan secara
langsung dengan pemberian/pembelian kredit.
Berdasarkan PAPI (Revisi 2008), dijelaskan bahwa Bank dapat tidak melakukan amortisasi atas pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit dan mengakui sekaligus sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika besarnya pendapatan dan biaya transaksi tersebut tidak material.
Bank harus menetapkan tingkat materialitas dan mendokumentasikan dalam kebijakan akuntansi. Tingkat materialitas ditetapkan secara agregat dengan membandingkan total biaya transaksi dengan laba sebelum pajak. Total biaya transaksi sebesar 5% atau kurang dari rata-rata laba sebelum pajak selama 3 tahun terakhir dianggap tidak material. Tingkat materialitas secara individu ditetapkan oleh manajemen dengan berdasarkan pada estimasi angka agregat. Dalam hal bank mengalami kerugian, laba sebelum pajak menggunakan rata-rata 3 tahun
Universitas Indonesia
terakhir sebelum bank mengalami kerugian untuk menentukan tingkat materialitas secara agregat.
c. Penyajian Kredit
Berdasarkan PAPI (Revisi 2008), kredit disajikan di neraca sesuai dengan kategori, yaitu:
1. Kredit dengan kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba
Rugi dan Tersedia untuk Dijual, penyajiannya di neraca sebesar nilai wajar.
2. Kredit dengan kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dan Pinjaman yang
Diberikan dan Piutang, disajikan di neraca sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar kredit yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Sementara itu, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai, selanjutnya disebut CKPN, (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas Kredit yang Diberikan.
2.4 Penurunan Nilai dan CKPN Kredit berdasarkan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan PAPI (Revisi 2008)
2.4.1 Pengertian Penurunan Nilai
Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti objektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.
2.4.2 Pengertian CKPN Kredit
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Kredit adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal.
18
Universitas Indonesia
2.4.3 Kebijakan Penurunan Nilai dan CKPN Kredit sesuai dengan PSAK 50/55 (Revisi 2006) dan PAPI (Revisi 2008)
Sesuai dengan PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 59 yang berbunyi:
“Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Jika terdapat bukti tersebut, maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi), paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan), atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok Tersedia untuk Dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut.”
Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa penurunan nilai kredit dapat terjadi jika terdapat bukti objektif yang mendukung penurunan nilai kredit itu sendiri.
Kredit yang diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi, jika dan hanya jika, terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa, yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas kredit sebagaimana dijelaskan pada PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 60.
Pada PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 60 juga dijelaskan mengenai bukti objektif yang merupakan peristiwa-peristiwa yang merugikan adalah sebagai berikut:
a. Kesulitan keuangan signifikan yang dialami pihak peminjam;
b. Pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga lebih dari 90 hari.
c. Pihak pemberi pinjaman, dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam, memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut;
d. Terdapat kemungkinan bahwa peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya;
Universitas Indonesia
e. Hilangnya pasar atas usaha pihak peminjam, antara lain: sudah tidak ada
demand atas produknya di pasar, produknya dilarang beredar atau kejadian
yang mengakibatkan pihak peminjam tidak mampu bertahan di pasar atau tutup usahanya.
f. Data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang
dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud, meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut, termasuk:
1. Memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok
tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal); atau
2. Kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan
wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam, turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan, turunnya harga minyak untuk pinjaman yang di berikan kepada produsen minyak, atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut).
Bank pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai secara individual atas kredit yang signifikan secara individual, dan untuk kredit yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif.
Jika Bank menentukan tidak terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai atas kredit yang dinilai secara individual, terlepas kredit tersebut signifikan atau tidak, maka Bank memasukkan kredit tersebut ke dalam kelompok yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif.
Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual, dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.
20
Universitas Indonesia 2.4.3.1 Identifikasi Bukti Objektif
Berdasarkan PAPI (Revisi 2008), harus dilakukan identifikasi terhadap bukti objektif yang mempengaruhi penurunan nilai kredit, yaitu:
a. Bank harus menetapkan peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria sebagai bukti objektif terjadinya penurunan nilai kredit berdasarkan pengalaman dan tren historis (experience credit judgement), informasi yang tersedia, disertai dengan analisis dasar perhitungan dan mendokumentasikan dalam kebijakan bank.
b. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa, kecuali peristiwa di masa datang yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian, terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. c. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan entitas dalam menentukan apakah terdapat bukti objektif bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi meliputi informasi mengenai likuiditas, solvabilitas, dan eksposur risiko usaha dan risiko keuangan pihak debitur atau pihak penerbit, tingkat atau tren terjadinya tunggakan (delinquencies) untuk aset keuangan serupa, tren dan kondisi ekonomi nasional dan lokal, dan nilai wajar agunan dan jaminan. Faktor-faktor ini dan faktor-faktor lainnya, baik secara individual maupun secara bersama, dapat menjadi bukti objektif yang cukup bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi dalam kredit atau kelompok kredit.
2.4.3.2Kriteria Evaluasi Penurunan Nilai
Sesuai dengan PSAK 55 (Revisi 2006), bank menentukan penurunan nilai secara individual atas kredit yang signifikan dan terdapat bukti objektif adanya penurunan nilai, sedangkan untuk kredit yang signifikan namun tidak terdapat bukti objektif adanya penurunan nilai dan kredit yang tidak signifikan dinilai secara kolektif berdasarkan segmen kredit.
a. Secara Individual
1) Bank wajib menentukan tingkat signifikansi kredit yang akan dievaluasi secara individual yang disertai dengan dokumentasi yang memadai yang harus dikaji ulang secara periodik;
Universitas Indonesia
2) Dalam hal tidak terdapat bukti objektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual, maka kredit tersebut harus dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif.
3) Dalam hal terdapat bukti objektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai, maka kredit tersebut tidak dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif.
4) Evaluasi secara individual didasarkan pada 2 konsep, yaitu:
a. Estimasi jumlah kerugian kredit, didasarkan pada seluruh informasi
yang tersedia dan experienced credit judgement, serta memperhatikan
berbagaifaktor seperti:
kekuatan finansial dan kemampuan debitur untuk membayar
kembalikewajiban (repayment capacity);
jenis dan jumlah agunan;
ketersediaan garansi; dan
prospek usaha debitur di masa datang
b. Estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount),
didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut.
b. Secara Kolektif
1) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif mencakup seluruh kredit yang:
a. Tidak dievaluasi secara individual; dan
b. Dievaluasi secara individual, namun tidak terdapat bukti objektif
terjadinya penurunan nilai.
2) Bank wajib mengelompokkan kredit yang akan dinilai secara kolektif
berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yang mengindikasikan kemampuan debitur untuk membayar seluruh kewajiban yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak. Sebagai contoh, kredit dapat dikelompokkan berdasarkan satu atau lebih karakteristik berikut ini:
22
Universitas Indonesia
a. Estimasi probabilitas terjadinya gagal bayar atau peringkat risiko kredit;
b. tipe (contohnya, pinjaman beragun aset atau pinjaman kartu kredit);
c. lokasi geografis;
d. tipe jaminan;
e. tipe pihak kedua (contoh, konsumen, bisnis, atau pemerintah);
f. status tunggakan; dan
g. jatuh tempo.
Model risiko kredit atau metode untuk mengestimasi arus kas masa datang
yang diperkirakan yang lebih kompleks (canggih) dapat
mengkombinasikan beberapa faktor, seperti evaluasi risiko kredit atau proses pemeringkatan yang memperhitungkan tipe aset, industri, lokasi geografis, tipe jaminan, status tunggakan, dan karakteristik yang relevan lainnya dari aset yang sedang dievaluasi dan data kerugian yang terkait.
3) Pengelompokkan kredit berdasarkan kesamaan karakteristik tersebut harus
disertai dengan dokumentasi yang memadai yang dikaji ulang secara periodik.
4) Terhadap kredit yang dikelompokkan tersebut, bank harus melakukan
evaluasi apakah terdapat bukti objektif terjadinya penurunan nilai. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a. Terdapat data yang dapat diobservasi yang mengindikasikan terjadinya
penurunan dalam estimasi arus kas masa datang yang dapat diukur dari kelompok kredit;
b. Penurunan yang dapat diukur tersebut telah terjadi sejak pengakuan
awal kredit; dan
c. Penurunan tersebut belum dapat diidentifikasi terkait dengan kredit
tertentu dalam kelompok kredit.
5) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif merupakan langkah antara sampai
penurunan nilai kredit secara individual dapat diidentifikasi. Segera setelah penurunan nilai suatu kredit secara individual dalam kelompok kredit tersebut diidentifikasi, maka kredit tersebut harus dikeluarkan dari kelompok kredit dan selanjutnya dinilai secara individual. Namun bank
Universitas Indonesia
dapat mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat yang dituangkan dalam kebijakan internal bank untuk menentukan apakah analisa individual perlu dilakukan.
2.4.3.3Teknik Evaluasi Penurunan Nilai
Bank dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai, baik secara individual maupun kolektif. Dalam memilih dan menggunakan teknik evaluasi penurunan nilai, bank perlu mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat serta ketersediaan informasi dan data historis.
Evaluasi terhadap penurunan nilai tidak hanya didasarkan pada suatu pendekatan atau metode yang bersifat standar (prescriptive rules/formulae) tetapi juga didasarkan pada experienced credit judgement oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengingat pengalaman kerugian historis maupun data yang dapat diobservasi bersifat terbatas atau mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini.
a. Secara Individual
Bank dapat menggunakan beberapa teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai dan mengukur kerugian penurunan nilai, yaitu:
1) Discounted Cash Flow
a. Kredit yang telah mengalami penurunan nilai dicatat berdasarkan jumlah
yang didiskonto (discounted value) dan bukan berdasarkan nilai buku, karena bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh jumlah kredit yang telah diberikan kepada debitur.
b. Jumlah yang didiskonto (discounted value) diperoleh dengan
mengestimasi arus kas masa datang (mencakup pembayaran pokok dan bunga) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit.
c. Untuk kredit bersuku bunga tetap, suku bunga kontraktual tidak berubah
selama jangka waktu kredit. Oleh karena itu, suku bunga efektif dapat diidentifikasi setelah memperhitungkan seluruh biaya (termasuk perolehan fee) yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit. Suku bunga efektif tersebut tidak berubah dan digunakan untuk mengevaluasi kerugian penurunan nilai kredit.
24
Universitas Indonesia
d. Untuk kredit bersuku bunga mengambang (variable interest rate), dimana
suku bunga kontraktual berubah dari waktu ke waktu bergantung pada suku bunga referensi, maka suku bunga efektif juga dapat berubah.
2) Fair Value Collateral
a. Kredit yang telah mengalami penurunan nilai juga dapat dicatat
berdasarkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable value).
b. Dalam menentukan jumlah kredit yang dapat diperoleh kembali, bank
dapat memperhitungkan arus kas masa datang dari pengambilalihan agunan, yaitu jika memenuhi salah satu kondisi berikut:
Kredit bersifat collateral dependent, yaitu jika pelunasan kredit hanya
bersumber dari agunan;
Sulit untuk menentukan jumlah dan saat penerimaan arus kas masa
datang yang berasal dari pokok kredit dan/atau bunga dengan andal; dan/atau
Pengambilalihan agunan kemungkinan besar terjadi dan didukung
dengan aspek legal pengikatan agunan.
c. Bukti terbaik dari nilai wajar agunan adalah berdasarkan kuotasi harga di
pasar aktif.
Jika tidak tersedia kuotasi harga agunan di pasar aktif, maka bank
dapat menggunakan harga dari transaksi terkini atas agunan serupa; dan
Jika tidak tersedia harga dari agunan yang serupa, maka bank dapat
menggunakan teknik penilaian yang andal.
d. Bank harus menggunakan informasi yang tersedia untuk mengestimasi
nilai wajar agunan seakurat mungkin, termasuk perkiraan waktu realisasi atau penjualan agunan tersebut.
e. Nilai agunan yang dapat diperhitungkan adalah nilai yang terendah antara
Universitas Indonesia
3) Observable Market Price
a. Dalam kondisi dimana jumlah dan periode arus kas masa datang tidak
dapat dipastikan dan kuotasi harga kredit di pasar aktif dapat diobservasi melalui informasi dan data pasar, maka harga pasar tersebut dapat digunakan sebagai nilai wajar kredit dengan memperhitungkan perkiraan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut.
b. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengukur kerugian penurunan nilai,
misalnya untuk kredit commercial real estate, dimana informasi dan data mengenai harga pasar properti tersebut tersedia setiap saat.
c. Jika pendekatan ini digunakan, bank harus memiliki informasi yang
lengkap mengenai jumlah, sumber informasi dan tanggal atas harga pasar tersebut.
b. Secara Kolektif
Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit dilakukan berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang dan tingkat kerugian historis (historical loss rate atau historical net charge-off rate) dari kelompok kredit.
Data mengenai kerugian historis merupakan titik awal dalam melakukan evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit. Berdasarkan data kerugian historis dari suatu kelompok kredit setelah memperhitungkan tingkat pengembalian (recovery rate), bank dapat mengestimasi arus kas masa datang dan tingkat kerugian kelompok kredit pada saat ini.
Bank dapat menentukan sendiri periode observasi data kerugian historis. Namun, dalam menetapkan periode tersebut, perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang stabil, disarankan menggunakan periode observasi yang lebih panjang, sementara dalam kondisi ekonomi yang berfluktuasi, disarankan menggunakan periode observasi yang lebih pendek. Periode observasi apapun yang digunakan, bank harus memiliki data kerugian historis selama minimal 3 tahun sehingga dapat menghasilkan estimasi kerugian yang lebih andal dan berarti.
26
Universitas Indonesia
Dalam menetapkan tingkat kerugian untuk kelompok kredit, bank perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. analisa penurunan nilai kelompok kredit;
b. umur kredit dalam kelompok kredit (aging of balances);
c. arus kas dari seluruh sisa umur kredit (tidak hanya tahun berikutnya);
d. kondisi terkini, baik internal maupun eksternal;
e. pengaruh nilai waktu dari uang (time value of money); dan
f. tidak menghasilkan suatu tingkat kerugian historis yang mengharuskan
pengakuan kerugian pada saat pengakuan awal kredit.
Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit secara kolektif juga mencakup kerugian yang telah terjadi namun belum dapat diidentifikasi secara tersendiri pada tanggal laporan (incurred but not yet identified). Untuk itu, bank juga perlu mempertimbangkan faktor emergence period, yaitu periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kredit sampai bukti objektif dapat diidentifikasi atas kredit secara individual. Emergence period tersebut harus ditetapkan berdasarkan data empiris. Umumnya emergence period tidak melampaui 12 bulan kecuali dalam kondisi tertentu di luar perkiraan.
Bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menetapkan tingkat kerugian kelompok kredit, yaitu:
a. Pendekatan Berbasis Formula (Formula Based)
1. Pendekatan ini menggunakan formula tertentu yang relatif sederhana
untuk menghitung tingkat kerugian historis, misalnya tingkat kematian (death rate) debitur.
2. Bank tidak dapat mengakui adanya kerugian akibat penurunan nilai
untuk kejadian yang diperkirakan akan terjadi di masa datang karena peristiwa kerugian (misalnya meninggalnya debitur) belum terjadi.
b. Metode Statistik (Statistical Model Analysis)
1. Penetapan tingkat kerugian historis dapat dilakukan dengan
menggunakan metode statistik berdasarkan internal loan grades masing-masing bank.
2. Perhitungan tingkat kerugian historis secara statistik menggunakan
Universitas Indonesia
Probability of Default, yaitu tingkat kemungkinan kegagalan
debitur memenuhi kewajiban, yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan, antara lain Migration Analysis, Roll Rates, Vintage Analysis, dan Default Rate.
a. Roll Rates Analysis
Roll Rates Analysis menggunakan internal loan grading system. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan (deliquency stage). Selanjutnya, tingkat Probability of Default (PD) dan Loss Given Default (LGD) dihitung berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi hapus buku, PD dan LGD adalah sebesar 100% atau tidak akan tertagih (default). Namun, apabila berdasarkan data historis dapat diestimasi secara andal, bahwa bank dapat menagih sebagian porsi kredit yang sudah dihapusbuku (write-off) dimaksud, maka persentase PD dan LGD untuk kredit tersebut harus dikurangi dengan persentase tingkat pengembalian (recovery rate). Selanjutnya, tingkat PD dan LGD pada kondisi hapus buku tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kerugian pada setiap periode tunggakan.
b. Migration Analysis
Migration Analysis menggunakan internal loan grading system (rating system) dan bukan berdasarkan pengalaman kerugian sebagaimana halnya pendekatan Historical Loss Rate. Pendekatan ini dilakukan dengan menganalisa tingkat migrasi outstanding kredit dari grade tertinggi ke grade terendah. Dalam kasus portofolio kartu kredit, umumnya loan grading ditentukan berdasarkan periode tunggakan (delinquency stage). Selanjutnya, tingkat migrasi dihitung berdasarkan persentase nilai kredit atau jumlah rekening yang berpindah dari satu periode tunggakan terendah ke periode tunggakan dimana kartu kredit dinilai tidak akan tertagih (default). Selanjutnya, tingkat migrasi
28
Universitas Indonesia
tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kerugian kelompok kartu kredit berdasarkan setiap periode tunggakan.
c. Vintage Analysis
Vintage Analysis biasanya digunakan pinjaman konsumen dan sering digunakan untuk mortgage-backed securities (MBS), metode ini dilakukan dengan melakukan inspeksi visual tanpa mengidentifikasi sebab dan akibat. Perhitungan diukur dengan menggunakan metode Dual-Tme Dynamic.
d. Default Rate
Default Rate biasanya digunakan untuk mengukur tingkat peminjam gagal bayar dan tingkat bunga yang akan diberikan pada saat peminjam gagal bayar. Perhitungan dilakukan dengan menentukan eksposur risiko dan resiko ekonomi untuk mengevaluasi kemampuan pembayaran peminjam secara keseluruhan dan tingkat yang lebih tinggi diterapkan untuk saldo tunggakan di samping beban bunga regular untuk utang
Loss Given Default, yaitu besarnya tingkat kerugian yang
diakibatkan kegagalan debitur memenuhi kewajiban, yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan, antara lain Expected Recoveries, Collateral Shortfall, dan Loss on Disposal.
a. Expected Recoveries, metode ini mengukur dampak risiko
volatilitas aset perusahaan melalui recovery rate, rasio ini diukur menggunakan formula Black-Scholes Model.
b. Collateral Shortfall, metode ini mengukur batas maksimum
pemberian kredit, kepatuhan pembayaran, dan mengukur shortfall yang terjadi tergolong ke dalam extraordinary circumstances.
c. Loss and Disposal, metode ini mengukur batas loss dan
disposal bank, loss diukur menggunakan expected loss dan disposal menggunakan net realizable value.
Universitas Indonesia
3. Metode ini dapat menggunakan data tingkat kerugian bank
(bank-specific data) seperti data mengenai internal loan grades, maupun data kerugian yang dialami industri perbankan.
Estimasi terhadap perubahan arus kas masa datang harus mencerminkan dan memiliki arah yang konsisten dengan perubahan data dan informasi terkait yang dapat diobservasi dari satu periode ke periode berikutnya, misalnya perubahan tingkat pengangguran, harga properti, harga komoditas, status pembayaran, atau faktor-faktor lainnya yang merupakan indikasi timbulnya kerugian dalam kelompok kredit serta besarannya.
2.4.3.4Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Kredit
Berdasarkan PAPI (Revisi 2008), dijelaskan bahwa dalam mengukur dan membentuk CKPN, bank harus memperhatikan hal-hal berikut :
1) CKPN dibentuk berdasarkan selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai
kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif;
2) Bank tidak diperbolehkan membentuk CKPN melebihi jumlah yang dapat
dikaitkan pada kredit individual atau kelompok kredit kolektif dan didukung dengan bukti objektif penurunan nilai;
3) CKPN dibentuk sesuai dengan mata uang denominasi kredit yang
diberikan.
Dalam kasus tertentu, bank mungkin tidak perlu membentuk CKPN, khususnya jika nilai wajar agunan yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas jauh melebihi baki debit dari kredit.
30 Universitas Indonesia
BAB 3
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
3.1 Gambaran Umum KAP Aryanto Amir Jusuf Mawar dan Saptoto 3.1.1 Profil Kantor Akuntan Publik
Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf Mawar dan Saptoto, selanjutnya disebut KAP AAJ, merupakan kantor akuntan publik yang didirikan di Jakarta pada tahun 1985 oleh Amir Abadi Jusuf. Pada awal pendiriannya KAP AAJ merupakan KAP Amir Abadi Jusuf yang kemudian berganti nama menjadi KAP Aryanto Amir Jusuf, dipertengahan perjalanan karirnya KAP Aryanto Amir Jusuf kembali mengganti namanya menjadi KAP Aryanto Amir Jusuf dan Mawar hingga Oktober 2009. Terhitung Oktober 2009 itulah KAP Aryanto Amir Jusuf dan Mawar berganti nama menjadi KAP Aryanto Amir Jusuf Mawar dan Saptoto. KAP AAJ berpusat di Plaza Abda lt. 10 dan 11 Jl. Jend. Sudirman Kav. 59 Jakarta Pusat. KAP AAJ juga memiliki sebuah kantor cabang yang berada di Surabaya. KAP AAJ memperoleh izin usaha sebagai kantor akuntan publik oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Nomor : Kep.302/KM.17/1999.
Sejak tahun 1992, KAP AAJ merupakan member firm dari RSM
International yang merupakan kantor akuntan publik terbesar ke-6 yang memiliki
reputasi baik di dunia. Oleh karena itu, KAP AAJ kemudian dikenal dengan nama
RSM AAJ Associates juga merupakan salah satu kantor akuntan publik lokal
terdepan di Indonesia. Dengan kurang lebih 500 sumber daya manusia yang profesional, RSM AAJ Associates telah banyak membantu berbagai perusahaan dan organisasi dengan memberikan jasa profesional berstandar internasional.
3.1.2 Visi dan Misi Kantor Akuntan Publik
RSM AAJ Associates memiliki visi dan misi terdepan guna mengedepankan
profesionalitas mereka. Adapun visi KAP AAJ adalah untuk menjadi mitra yang tepat bagi para stakeholder. Sedangkan misi dari KAP AAJ, yaitu :
1. Mendukung pencapaian klien guna meningkatkan keunggulan jasa profesional kelas dunia.