KOMUNIKASI INTERNASIONAL Oleh Abul Nizam Al-ZanZami/ 201310360311111
Dosen Pembimbing : Nurudin Tema : Krisis Komunikasi Internasional Judul : Islamphobia Sebagai Agenda Setting Media
Seiring dengan perkembangan globalisasi pada bidang IPTEK saat ini, maka dapat dikatakan bahwasanya dunia saat ini semakin kompleks dan juga semakin sempit, kenapa? pertanyaan mendasar ketika kita berbicara kemudahan dalam era globalisasi yang saat ini. Teknologi globalisasi menjadi hal utama yang menjadi keistimewaan dalam berkomunikasi dan menyerap informasi internet, Handphone (HP), Televisi (TV), Facebook (FB), Twitter, Media Online dan lain sebagainya merupakan bagian dari kemajuan IPTEK di era globalisasi yang semakin kompleks saat ini.
Perkembangan bidang IPTEK di era globalisasi saat ini telah membuat hampir seluruh penjuru ruang dan waktu seakan terpukau dengan kecanggihan yang di tampilkan, jarak yang dulunya menjadi masalah utama bagi dua individu atau lebih untuk berkomunkasi sudah tidak lagi menjadi masalah seperti cinta yang bersemi di ujung patah hati.
Sadar atau tidak sadar kemajuan IPTEK saat ini telah merubah tatanan sosial kehidupan masyarakat dunia menjadi sebuah anomali yang dipertanyakan, mulai dari munculnya istilah yang mendeskriminatifkan suatu individu hingga suatu kelompok tertentu yang berakibat pada tatanan kehidupan yang anti sosial. Perkembangan IPTEK juga sebagai kendaraan negara-negara kuat untuk memuluskan jalannya untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Menjadi alat kampanye dengan isu yang sangat propaganda dan sebagainya.
Dapat dikatakan bahwasanya perkembangan IPTEK merupakan produk dari pada kapitalisme global, kenapa? jika dulu kita dihadapkan pada pedebatan mau dibawa kemana masa depan manusia? komuniskah, sosialiskah, fasiskah, kapitaliskah, atau lainnya. Tapi hari ini tidak adalah perdebatan itu. Khususnya di antara kaum muda. Bahkan kita diam-diam menerima kapitalisme global sambil terobsesi ada bencana global yang menghancurkan bumi agar semuanya bisa dimulai dari awal lagi. Entah itu tabrakan asteroid, terjangkit virus, semua musibah yang kita dapat dari cerita-cerita kitab agama tentang wujud kiamat. Intinya kita sama-sama mengiyakan bahwa kiamat sudah dekat. Namun timbul suatu paradoks, jauh lebih mudah bagi manusia zaman sekarang untuk membayangkan akhir dari semua kehidupan di bumi daripada membayangkan perubahan radikal di dalam sistem kapitalisme yang merasuki di segala lini.
Perubahan tatanan kehidupan dalam masyarakat hari ini bukanlah sebuah hal yang seharusnya menjadi suatu permasalahan yang harus diselesaikan namun hampir semua elemen masyarakat dunia secara langsung menutup pintu kehidupan sosial dan membuka kehidupan anti-sosial secara bersamaan.
IPTEK tidak terlepas dari pada media komunikasi sebagai sarana utama untuk menyebarkan informasi. Dalam beberapa dekade terakhir dunia internasional seakan telah ditutupi oleh kabut gelap media massa, pemberitaan mengenai identitas suatu kelompok yang berakibat pada timbulnya konflik
dalam tatanan internasional maupun tatanan nasional suatu negara merupakan agenda setting dari pada media massa yang mana dalam tulisan ini lebih ilmiah jika disebut krisis komunikasi internasional.
Munculnya ketakutan terhadap masyarakat muslim (Islamphobia) dalam tatanan kehidupan masyarakat internasional merupakan salah satu contoh daripada krisis komunikasi internasional saat ini. Peran media untuk memunculkan ketakutan ini kemudian muncul menjadi sebuah konflik yang menjadi grand issu internasional saat ini. Tidak berlebihan jika kita katakan media adalah penyebab utama timbulnya konflik identitas dalam tatanan dunia internasional maupun nasional suatu bangsa.
Identitas adalah ciri yang diakui seseorang untuk mendefininisikan dirinya dan yang, ketika dimilikinya juga oleh orang lain, mendifmisikan kelompok. Setiap individu memiliki banyak identitas. Seseorang dapat menjadi warga negara Amerika Serikat, Asia-Amerika, seorang muslim, mahasiswa, wanita, warga, seorang Demokrat, dan investor pada waktu yang sama (Masbach dan Kristen, 2012:862). Dengan identitas sesorang atau kelompok dapat juga melindungi diri dan juga membantu mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka, seperti contoh seorang pria sarjana ilmu politik menggunakan identitas akademiknya untuk memikat hati orangtua pacarnya untuk menikahi anak perempuannya. Atau ketika seseorang sedang dalam keadaan terancam menggunakan identitas untuk melidungi dirinya dari kejahatan pembunuhan, penculikan dan sebagainya.
Lagi peran media menjadi fondasi utama dalam penyebaran berita. Identitas suatu kelompok tidak akan menyebar hingga dikonsumsi para komunikan informasi tanpa media massa. Settingan dari pada media massa sebagai sarana penyebaran informasi saat ini sudah jauh dari nilai positif yang kemudian membuat identitas sauatu kelompok didiskriminatifkan pada stigma terorisme terhadap Islam dan munculnya islamophobia di dunia saat ini.
Dalam teori kultivasi, televisi menjadi media atau alat utama dimana para pemirsa televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya. Dengan kata lain untuk mengetahui dunia nyata macam apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh pemirsa televisi. Atau bagaimana media televisi mempengaruhi persepsi pemirsa atas dunia nyata. Asumsi mendasar dalam teori ini adalah terpaan media yang terus menerus akan memberikan gambaran dan pengaruh pada persepsi pemirsanya. Artinya, selama pemirsa kontak dengan televisi, mereka akan belajar tentang dunia (dampak pada persepsi), belajar bersikap dan nilai-nilai orang (Ido, 2007:8-9).
Televisi adalah sebuah pengalaman yang kita terima begitu saja. Kendati demikian, televisi juga merupakan sesuatu yang membentuk cara berpikir kita tentang dunia (Burton, 2011 :1). Gerbner dan koleganya berpendapat bahwa televisi menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media pun kemudian memelihara dan menyebarkan sikap dan nilai itu antar anggota masyarakat yang kemudian mengikatnya bersama-sama pula. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininya. Sehingga para pecandu berat televisi itu akan mempunyai kecenderungan sikap yang sama satu sama lain (Nurudin, 2003 :159).
Lebih jelas, Ido (2007:3) dalam jurnalnya “Cultivation Theory: Sebuah Perspektif Teoritik dalam Analisis Televisi” menulis bahwa “dampak media televisi melalui program acara berita kriminal, jenis film action, shooting dan pembunuhan mampu memengaruhi agresivitas khalayak, serta persepsi negatif
khalayak terhadap dunia atas kumulatif efek melalui tayangan televisi. Dampak kekerasan media ini oleh George Gerbner kemudian disebutnya sebagai "mean world syndrome", dalam teori Cultivation Analysis (1970 -1980). Bagi para pecandu berat (heavy viwers) televisi, dunia ini cenderung dipercaya sebagai tempat yang buruk dari pada mereka yang tidak termasuk pecandu berat (light viewers).
Peran media sebagai pembentuk opini public merupakan realitas konstruksi social dari pembuat berita kepada komunikan. Media massa memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini public sebagai realitas kontruksi sosial merupakan agenda setting yang dimainkan oleh media agara berita atau infomasi yang disampaikan kepada komunikan dapat langsung dicerna dan mempengaruhi komunikan baik berupa menambah pengetahuan maupun mengubah perilaku dari komunikan.
Dalam teori kontruksi social media massa “sirkulasi informasi yang cepat dan luas sehingga konstruksi social berlangsung dengan sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu yang juga membuat opini public berkembang”. (Apriadi 2012:75). Sebagai alat utama dalam penyebaran informasi media mempunyai peran penting dalam membentuk opini public, munculnya stereotaip terorisme terhadap masyarakat muslim dunia saat ini agenda setting dari media yang terkonstruk dalam diri komunikan.
Dalam memahami teroris para pemikir dan juga kita menggunakan suatu pengutatan pada kata teroris itu sendiri, kata terror, terorisme memnpunyai kekuatan besar dalam mendefenisikan arti dari makna tersebut. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyaraka. Kata "terror" juga bisa menimbulkan kengerian. Akan tetapi, hingga kini tidak ada defmisi "terorisme" yang bisa diterima secara universal. Pada dasarnya, istilah "terorisme" merupakan sebuah konsep yang memiliki konotasi yang sangat sensitive karena terorisme menyebabkan terjadinya pembunuhan dan penyengsaraan terhadap orang-orang yang tidak berdosa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005), kata "terorisme" mempunyai makna penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Pengertian atau definisi secara baku terorisme sampai saat ini masih belum ada dan terus berkembang. Menurut Mark Juergensmeyer, terorisme berasal dari bahasa latin, “Terrere yang berarti menimbulkan rasa gemetar dan rasa cemas”. Sedangkan dalam bahasa Inggris “to terrorize berarti menakuti-nakuti”. Terrorist berarti teroris, pelaku teroris. Terrorism berarti membuat ketakutan, membuat gentar. Terror berarti ketakutan atau kecemasan.
Istilah teroris oleh para ahlikontra terorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya "teroris" layak mendapatkan pembalasan yang kejam. Adapun pepatah yang kemudian muncul , "terorisnya seseorang adalah pejuang kebebasan bagi orang lain, " yang berarti bahwa terosisme ada didepan mata orang yang melihantnya. Terorisme baik yang didukung negara maupun independent saat ini sudah berkembang
menjadi bahaya global. Yang sebagian besar menggunakan motif agama. (Masbach & Kristen 2012:395-396)
Amerika Serikat sendiri yang pertama kali mendeklarasikan "perang melawan teroris" belum memberikan definisi yang gamblang dan jelas sehingga semua orang bisa memahami makna sesungguhnya tanpa dilanda keraguan, tidak merasa didiskriminasikan dan dimarjinalkan. Hal ini mengakibatkan kerancuan atas arti kata "terorisme" itu sendiri. Namun sebagian besar mengaitkan pemahaman "terorisme" ini adalah persoalan terhadap pelanggaran HAM. Seperti ditegaskan Wahid, dkk dalam bukunya yang berjudul "Kejahatan Terorisme, Perspektif Agama, HAM dan Hukum" menyatakan bahwa karena akibat terorisme, banyak kepentingan manusia yang dikorbankan, rakyat yang tidak bersalah dijadikan ongkos kebiadaban, dan kedamaian antar umat manusia jelas-jelas dipertaruhkan. (A. Wahid, et. al, 2004:21).
Dalam Terorism Act 2000 UK, terorisme mengandung arti sebagai penggunaan atau ancaman tindakan dengan ciri-ciri : (1) Aksi yang melibatkan kekerasan serius terhadap seseorang, kerugian berat terhadap harta benda, membahayakan kehidupan seseorang, bukan kehidupan orang yang melakukan tindakan, menciptakan risiko serius bagi kesehatan atau keselamatan publik tertentu bagi publik atau didesain secara serius untuk campur tangan atau menggannggu sistem elektronik; (2) Penggunaan atau ancaman didesain untuk mempengaruhi pemerintah atau untuk mengintimidasi publik atau bagian tertentu dari publik; (3) Penggunaan atau ancaman dibuat dengan tujuan politik, agama atau ideology, dan (4) Penggunaan atau ancaman yang masuk dalam subseksi yang melibatkan senjat api dan bahan peledak. (Wahid, et. al, 2004:21-22)
Namun yang kemudian berkembang saat ini sudah barang tentu bahwasanya terorisme merupakan streotaip bagi masyarakat muslim dunia, streotaip tersebut muncul dan langsung dipresepsikan masyarakat dunia bahwasanya terorisme itu adalah Islam, sehingga di hampir seluruh dunia saat ini munculnya streotaip seperti ini membuat masyarakat dunia menjadi takut akan keberadaan orang-orang muslim atau disebut Islamphobia baik di wilayah domestik suatu Negara maupun di kanca internasional.
Definisi kamus bagi kata “phobia” ialah “ketakutan atau kebencian yang keterlaluan: ketakutan tidak rasional atau amat kual dan benci terhadap sesuatu”. Secara mudahnya berdasarkan definisi ini, Islamophobia ialah ketakutan tidak rasional atau amat kuat atau benci terhadap Islam. Namun, Islamophobia lebih dari sekadar makna ini dan ia turut menggabungkan kebencian kaum, sikap tidak bertoleransi, prejudis, diskriminasi dan stereotaip. Penyakit Islamophobia alias ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslimin telah merajalela di belahan penjuru dunia. Dalam kaitan dengan sejarah hubungan “Islam-Barat”, banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat. Jika peristiwa itu diungkit atau dibangkitkan, mereka dengan mudah akan mengingatkan dan membangkitkan kebencian, bahkan kemarahan terhadap Islam.
Perasaan anti-Islam dengan mudah tersebar luas di kalangan masyarakat Barat. Secara fundamental, sumber konflik yang sangat mungkin untuk terjadi pada tatanan dunia baru adalah konflik yang berdasar atas konflik kebudayaan atau identitas, tidak lagi berupa konflik ideologi maupun ekonomi. Negara-bangsa (Nation state) akan tetap menjadi aktor yang berperan dalam percaturan politik dunia akan
tetapi konflik akan bergeser pada konflik yang terjadi antara negara dengan kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda kebudayaan atau identitas. Benturan peradaban (the clach of civilizations) akan menjadi dasar konflik baru pada tatanan dunia baru ini. (Masbach dan Kristen 2012:874).
Masa setelah peralihan Perang Dingin merupakan sebuah momentum baru bagi perkembangan diplomasi internasional. Sejak abad 21, diplomasi dan perhatian dunia tidak hanya berfokus kepada hard diplomacy seperti isu perang dan damai. Banyak negara-negara dunia yang mulai menyoroti isu-isu kemanusiaan seperti isu kesehatan, rasial, dan lingkungan. Selain isu kesehatan dan lingkungan, isu rasial juga mendapatkan porsi yang besar dalam hubungan internasional di era terror. Hal ini terkait dengan sentimentisme suatu kelompok, suku, ras, agama yang berbeda dengan yang lainnya sehingga terjadi diskriminasi antara kelompok superior dengan kelompok inferior. Masalah rasisme sebenarnya telah terjadi sejak zaman dahulu, seperti kasus holocaust jerman kepada bangsa Yahudi di PDII, kasus pembantaian etnis di Bosnia-Herzegovina dan Yugoslavia.
Dalam Age of Terror di awal abad 21, kasus rasisme mendapatkan banyak sorotan dikarenakan lahirnya kelompok islamphobia. (Benbassa, 2007) Dimana sekelompok masyarakat barat (AS dan Eropa) mendiskriminasi masyarakat Islam yang dituduh sebagai pelaku serangan ke gedung WTC. Banyaknya masyarakat muslim yang mendapatkan ejekan, hinaan, cemoohan sehingga mereka takut untuk beraktifitas setelah kasus teror di WTC tersebut. Dunia memusuhi Islam dan kasus rasisme terhadap masyarakat Islam berhembus dengan kencang di dunia barat. Karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat oleh seniman Amerika juga menunjukkan ketidaksukaan masyarakat Amerika terhadap Islam. Begitupula slogan Anti terror atau War on Terror yang disuarakan oleh Presiden Bush dan Kennedy kepada jaringan Islam seperti Al-Qaeda.
Runtuhnya gedung WTC (World Trade Center) di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 membawa banyak perubahan bagi dunia global dan hubungan internasional. Alasan dibalik serangan teror yang secara tiba-tiba meruntuhkan gedung tersebut membuat perhatian dunia mengarah kepada isu terorisme dan isu-isu lain yang terkait dengan keadaan dunia pasca serangan tersebut isu rasial merupakan salah satunya. Serangan WTC dimulai ketika jaringan teroris internasional Al-Qaeda yang beranggotakan kaum muslim fanatik membajak 4 pesawat jet Amerika dan menabrakkan diri ke 3 tempat berbeda di Amerika. Gedung Pentagon di Virginia lapangan di Shanksville dan gedung kembar WTC di Washington DC yang menjadi target utama serangan tersebut, Lebih dari 3000 orang Amerika tewas dalam insiden tersebut. (Masbach & Kristen 2012:274).
Pasca terjadinya tragedi 11 September 2001 di New York, gerakan antilslam semakin berkembang luas. Pasca peristiwa tragis ini, sejumlah pemerintahan Barat menjadikan umat Islam sebagai kambing hitam, dan menerapkan beragam peraturan yang membatasi kebebasan warga Muslim. Sampai-sampai ada banyak pemuda Muslim yang ditangkap dan dipenjarakan begitu saja tanpa bukti tuduhan yang jelas. Bahkan tak lama setelah meletusnya tragedi 11 September, Presiden AS, George W. Bush menyebut perang melawan teroris yang digelamya sebagai perang Salib. Sebagian lagi, baik secara terbuka maupun secara tersirat, menuding umat Islam sebagai kelompok yang haus akan kekerasan dan pelaku aksi-aksi teroris.
Pemerintah Amerika kemudian mengeluarkan sebuah reaksi keras untuk memerangi terorisme apapun bentuknya dan bagaimanapun kondisinya. Amerika sebagai negara hegemon mengajak seluruh dunia untuk mendukung mereka memerangi terorisme, dan apabila tidak mengikuti mereka maka negara tersebut dianggap musuh bersama. Operasi pembasmian terorisme pun dilakukan oleh Amerika dan mendapatkan dukungan diuiia. Hingga akhirnya pada bulan Mei tahun 2011 kemarin Osama Bin Laden yang dianggap sebagai ketua dan penanggungjawab insiden terorisme mancanegara berhasil ditembak mati di rumhanya di Abbottabad, Pakistan.
War on Terrorism menjadi sebuah titik balik perubahan diplomasi yang ada di dunia setelah perang dingin selesai. Isu-isu baru yang lebih mengarah terhadap kemanusiaan dan lingkungan menjadi isu utama yang menjadi pembahasan negara-negara dalam diplomasi yg mereka lakukan. Serangan teroris A-Qaeda ke Amerika pada tanggal 11 September 2001 juga menandakan perang baru di dunia yakni war on terro yang didipimpin oleh Amerika Serikat. Hingga saat ini, operasi pembasmian war on terror teras berjalan.
Stigma terorisme terhadap Islam dan munculnya islamphobia di dunia saat ini tidak terlepas dari peran-peran yang dimainkan media. Sebagian media Barat telah sukses menggambarkan Islam secara tidak proporsional, sehingga Islam dipahami sebagai agama yang jahat, anti kemanusiaan, agama kekerasan, agama teroris, agama poligami dan image-image negatif lainnya. Streotaip media pun ikut dalam memojokan islam hal ini terbukti bagaiamana kemudian setingan media pada umumnya yang bersifat positifistik bergeser menjadi negatif yakni langsung mengkonstruk para komunikan untuk menggeneralisasikan islam sebagai agama radikal, monoistik dan reaksional.
Persoalan yang berkaitan dengan unsur keagamaan (terutama dalam hal ini, Islam), merupakan persoalan yang sangat sensitif namun cenderung digeneralisir faktanya oleh media. Padahal, realitas terhadap umat Islam sendiri sangat luas dan kompleks sehingga tak seharusnya dengan mudah digeneralisir begitu saja oleh media yang pada akhirnya akan memojokkan umat Islam sendiri secara keseluruhan. Mengutip berita yang dikeluarkan koran terkemuka dan paling berpengaruh di AS The New York Times (TNYT), Thomas L. Friedman: “Secara personal, jika saya mempunya $100 juta untuk membangun sebuah masjid yang mempromosikan toleransi antar iman, saya tidak akan membangunnya di Manhattan. Saya akan membangunnya di Arab Saudi atau Pakistan. Disanalah tempat darimana 9/11 itu berasal, dan mereka adalah negara-negara yang mendukung versi Islam Sunni yang paling murni, sebuah versi yang menunjukkan toleransi yang sangat kecil tidak hanya terhadap agama lain tetapi juga aliran-aliran lain dalam Islam, khususnya Syiah, sufi, dan Islam Ahmadiyah. Anda bisa belajar Islam secara bebas di universitas mana saja di Amerika, tetapi Anda tidak mungkin membangun sekadar satu ruang gereja saja di Arab Saudi”.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwasanya Friedman dalam tulisannya di TNYT menggunakan tinjauan historis mengenai Islamphobia tidak cukup dituliskan dalam kolom pendeknya tersebut. Namun jelas ia lupa atau sengaja lupa bahwa Islam hasil konstruksinya itulah yang menyebabkan Islamphobia menyebar cepat dan luas. Yang juga dilupakan Friedman dan TNYT bahwa persepsi Islam sebagai perbedaan itulah yang ditangkap oleh Pamela Geller, salah satu proponen paling radikal dari kelompok neo-konservatif yang menolak proyek the Cordova House di Manhattan. Bagi Geller, yang juga diliput oleh TNYT, “terorisme oleh umat Islam muncul bukan dari pemutar balikkan atas Islam, melainkan berakar pada agama islam itu sendiri”. Dan karena itu, menurut keyakinan Geller, yang
menyebut dirinya sebagai seorang “racist-Islamphobic-anti-Muslim-bigot” pendirian masjid tersebut bukan hanya melecehkan rakyat Amerika tapi lebih dari itu merupakan perwujudan dari dominasi dan ekspansi Islam. “Masjid itu adalah simbol dari penaklukan”, ujar Islamphobic lainnya, Nick Chiarchiaro.
Dalam teori kultivasi dan teori kostruksi social sama-sama menjelaskan bahwasanya semakin banyak berita yang masuk ke masyarakat dan semakin sering masyarakat menonton informasi-informasi terorisme yang mengatasnamakan Islam, maka semakin cepat membentuk persepsi masyarakat tentang kenyataan terorisme. Dan secara langsung terkonstruk dalam pikiran setiap komunikan bahwasanya terosis merupakan bagi an dari Islam.
Penjejalan berita ini seolah membuat fakta bahwa Islam secara keseluruhan adalah "teroris". Hal ini membuat persepsi dan stigma di masyarakat tentang bagaimana reaksi masyarakat ketika memandang adanya gerakan Islam yang dianggap radikal atau pernah diberitakan (dengan buruk) sebelumnya. Masyarakat kebanyakan merasa takut melihat keadaan sekitarnya jika ada suatu gerakan Islam yang mereka anggap mencurigakan. Contohnya ketika ada seorang remaja yang hendak belajar Islam di suatu organisasi, orang tuanya akan melarang keras karena takut akibat pemberitaan media tentang cuci otak yang dilakukan oleh kelompok Nil KW9. Kecemasan ini muncul dalam pemikiran masyarakat tentang teroris yang Islam dan Islam yang teroris.
Anggid Awiyat dalam skripsinya “Propaganda Barat Terhadap Islam dalam Film” menjelaskan melalui “kekuatan media massa yang dikuasainya, Barat menjadikan Islam sebagai sasaran berbagai propaganda negatif. Sejumlah pejabat Barat secara terang-terangan mengumumkan bahwa mereka akan merencanakan untuk meng-Eropakan Islam atau akan menciptakan Islam yang berhaluan Eropa. Untuk mencapai tujuan ini, mereka berusaha menampilkan wajah Islam yang kasar dan kejam. Pemerintah Barat melancarkan berbagai politik dan propaganda yang terpadu untuk menampilkan wajah Islam yang salah seperti ini”. Propaganda anti-islam dilakukan secara sistematis dan massif dengan menggunakan bantuan media. Akibatnya terjadi ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan para pemeluknya (islamophobia).
Fenomena islamophobia ini dikemukakan oleh tesis F. Fukuyama dan S. Huntington (Khan, 2009). “benturan peradaban antara barat dan dominan Islam”. Terjadinya tragedi 11 September mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap persepsi tentang agama Islam dengan kecurigaan. Hal ini telah membuat presepsi kecurigaan, kejahatan, kebencian serta ketakutan terhadap islam (Diversity Training Series : Mendidik Chicago Penegakan Hukum Agama di Banyak kota, 2006). Beberapa persepsi mengenai islam datang dari non muslim, antara lain : (1) Agaam Islam menggambarkan budaya monolitik dan itu tanpa henti untuk menerima realitas yang muncul di masyarakat; (2) Agama Islam memiliki nilai-nilai yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan agama dan budaya lain; (3) Islam dianggap lebih rendah seperti yang dirasakan oleh barat. Hal ini dianggap memiliki sifat barbarisme, kuno, dan relatif tidak rasional; (4) Agama Islam mendukung berbagai aksi terorisme dan kekerasan umum di masyarakat, dan (5) Agama Islam adalah ideologi kekerasan dalam arena politik. (Dalai, 2013)
Bukan tidak mungkin persepsi mengenai islam datang dari peran media sebagi penyebar infomasi dan dapat mempengaruh komunikan baik perilaku maupun pikiran. Persoalan ini menjadi menarik dikaji ketika dampak pencitraan ini menjadi sangat luas dan memberi efek yang signifikan di masyarakat. Teori
kultivasi yang digagas Gebner cukup memberikan bukti bahwa media memberi banyak berita, sementara masyarakat menerima atau menonton, sehingga mempersepsi sesuai ciptaan fakta media. Islam difaktakan sebagai kelompok yang keras, militan, dan membahayakan, tanpa melihat dari golongan mana mereka berasal. Hal ini terutama masyarakat yang masuk kelompok pencandu berat (heavy viewer). Kendati demikian, bombardir media tentang kasus terorisme yang cenderung didramatisir, menyebabkan kelompok yang bukan pecandu berat (light viewer) berpotensi untuk menjadi pencandu berat.
Melalui fungsi agenda setting, media mampu mengubah peristiwa bisa menjadi luar biasa menjadi luar biasa penting bagi public, dan faktanya memang banyak kejadian penting didunia digerakan oleh media. Fungsi agenda setting media bergerak dalam tiga hal. Pertama, agenda media melalui penonjolan isu-isu tertentu melalui berita. Kedua agenda publik, yaitu opini atau sikap masyarakat terhadap suatu isu, dan ketiga, agenda kebijakan sebagai bentuk respon sikap pemerintah atas berkembangnya suatu isu. Ketakutan terhadap islam muncul dan berkembang denga stereotaip dari masyarakat dunia terhadap teroris adalah umat islam yang mana mempunyai ciri-ciri tertentu seperti berjenggot, berjilbab dan sebagainya sebagai dentitas dari teroris dan akhirnya membuat ketakutan terhadap umat Islam. Media massa seolah menciptakan realitas bahwa gerakan Islam yang radikal merupakan salah satu bentuk terorisme. Pola pikir masyarakat dikonstruksi oleh berita-berita tersebut. Terlepas dari berita itu benar atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA BUKU :
Wahid, Abdul, et. al. 2004, Kejahatan Terorisme, Perspektif Agama, HAM dan Hukum. Bandung: Refika Aditama.
Liliweri, Alo. 2011, Komunikasi: Serba Ada Serba Makan. Jakarta: Kencana
Tamburaka, Apriadi. 2012. Agenda Setting Media Massa. Jakarta : RajaGrafindo Persada
Burton, Graeme. 2011. Membincangkan Televisi : Sebuah Pengantar Kajian Televisi. Yogyakarta: Jalasutra.
Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Masbach, W Richard & Rafferty, L Kristen. 2012, Pengantar Politik Global. Bandung: Nusa Media
JURNAL :
Alshammari, Dalai. 2013, “Islamophobia” dalam jurnal internasional Humanities and Social Science Vol. 3 No. 15 Augustus.
Hadi, Ido Prijana Hadi. 2007. “Cultivation Theory: Sebuah Perspektif Teoritik dalam Analisis Televisi” dalam Jurnal Ilmiah Scriprura ISSN 1978-385X, Vol. 1 No. 1 Januari.
SKRIPSI :
Awiyat, Anggid. 2009. Propganda dan Kebebasan Pers (Studi Tentang Makna Simbol dan Pesan Film "Fitna" Menggunakan Analisis Semiologi Komunikasi). Surakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret.
INTERNET :
http://www.definisi-prngertian.com/2015/05/definisi-pengertian-terorisme-sejarah-global.html (diakses pada 11 oktober 2015)
http://www.siperubahan.com/read/1388/Membangun-Utopia-Politik-Jalan-Alternatif-Bagi-Indonesia (diakses pada 11 oktober 2015)
http://indoprogress.com/2014/01/islamophobia-dan-politik-imperialistik-as (diakses pada 11 oktober 2015)