Laporan Akhir 4- 1
BAB IV
ISU DAN PERMASALAHAN
PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN
A. Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Perbatasan
Kebijakan pembangunan pada masa lampau yang lebih diarahkan pada pusat-pusat pertumbuhan ekonomi menyebabkan pembangunan penduduk pada wilayah perbatasan yang pada umumnya memiliki karateristik kepadatan penduduk yang relatif jarang menjadi termarjinalkan. Beberapa wilayah Provinsi Kepulauan Riau misalnya seperti Kabupaten Natuna, Anambas merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara tentangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Kaboja. Selain berbatasan dengan wilayah negara lain, beberapa wilayah di Provinsi Kepulauan Riau juga berbatasan dengan Provinsi tetangga, seperti Jambi, Riau dan Kalimantan Barat.
Kondisi sosial ekonomi penduduk pada wilayah perbatasan baik secara langsung maupun tidak langsung akan dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi pada wilayah tetangganya. Paradigma pengelolaan kawasan perbatasan di masa lampau sebagai ”halaman belakang” membawa implikasi terhadap kondisi kawasan perbatasan saat ini yang tersolir dan tertinggal dari sisi sosial dan ekonomi. Bergulirnya otonomi daerah yang memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah untuk mengelola daerahnya telah membawa secercah harapan bagi daerah-daerah perbatasan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dengan wilayah tetangganya.
Laporan Akhir 4- 2
Kinerja pembangunan manusia pada wilayah perbatasan di Provinsi Kepulauan Riau dapat tercermin dari capaian indikator Indeks Pembangunan Manusia pada kabupaten yang terdapat pada wilayah perbatasan seperti Kabupaten Natuna, Kepulauan Anambas dan Lingga. Capaian indeks pembangunan manusia pada wilayah perbatasan pada umumnya masih dibawah capaian Provinsi Kepulauan Riau (75,07 poin). Capaian indeks pembangunan manusia tahun 2010 pada Kabupaten Natuna sebesar 70,56 poin, Kepulauan Anambas sebesar 68,60 poin, dan Kabupaten Lingga sebesar 71,35 poin.
Tabel 4.1 : Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Perbatasan di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010
Kabupaten/Kota Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Melek Huruf (%) Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) Pengeluaran Perkapita Disesuaikan IPM Natuna 68,31 96,47 7,17 616,41 70,56 Kepulauan Anambas 67,40 90,00 5,98 627,54 68,60 Lingga 70,16 91,64 7,23 626,64 71,35
Sumber : Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2011
Dilihat dari aspek kesehatan yang diukur dari angka harapan hidup menunjukkan bahwa angka harapan hidup penduduk Kabupaten Lingga relatif lebih baik (70,16 tahun) daripada penduduk wilayah perbatasan Provinsi Kepulauan Riau pada Kabupaten Natuna (68,31 tahun), dan Kabupaten Kepulauan Anambas (67,40 tahun). Namun demikian dilihat dari aspek pendidikan angka buta huruf di Kabupaten Lingga lebih tinggi (8,36 persen) daripada Kabupaten Natuna (3,53 persen). Sedangkan dilihat dari pengeluaran perkapita, Kabupaten Kepulauan Anambas relatif lebih baik.
Laporan Akhir 4- 3
1. Kondisi Umum
a. Kabupaten Natuna
Geografis
Secara geografis, Kabupaten Natuna terletak pada posisi 1016’
Lintang Utara sampai dengan 7019’ Lintang Utara dan 105000’ Bujur Timur
110000’ Bujur Timur. Kabupaten Natuna mempunyai luas 264.198,37 Km2.
dimana sebagian besar terdiri dari perairan yakni seluas 262.197,07 km2
dan sisanya daratan yang berbentuk kepulauan seluas 2.001,3 km2
Sebelah Utara : Vietnam dan Kamboja;
. Kabupaten Natuna secara administrasi berbatasan dengan :
Sebelah Selatan : Kepulauan Bintan;
Sebelah Timur : Malaysia Timur dan Kalimantan Barat; Sebelah Barat : Kabupaten Kepulauan Anambas.
Rentang kendali yang cukup jauh antar kecamatan menyulitkan upaya pemerataan pembangunan, pelayanan publik dan lambatnya proses pembangunan. Hal ini kemudian merupakan salah satu alasan pemekaran Kabupaten Natuna. Dengan pemekaran ini diharapkan pembangunan dapat dilakukan secara lebih fokus dan terarah sehingga pemerataan pembangunan dapat terwujud dan pada akhirnya mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan kondisi fisiknya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Ketinggian wilayah antar kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 sampai 959 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 2 sampai 5 meter. Pada umumnya struktur tanah terdiri dari podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bagan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus.
Laporan Akhir 4- 4
Penduduk dan Ketenagakerjaan
Penduduk Kabupaten Natuna tahun 2006 berjumlah 61.337 jiwa, terdiri dari 31.463 laki-laki dan 29.874 perempuan. Jumlah penduduk pada tahun 2010 meningkat menjadi 69.003 jiwa, terdiri dari 35.741 laki-laki dan 33.262 perempuan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2006-2010 per tahun sebesar 2,99%. Dilhat menurut kecamatan, jumlah penduduk terbanyak terjadi di Kecamatan Bunguran Timur, hal ini adalah wajar karena Ranai adalah ibukota kabupaten yang merupakan pusat pemerintahan, perekonomian, sarana dan prasarana yang tersedia lebih lengkap jika dibandingkan kecamatan lainnya di wilayah Natuna. Sementara Kecamatan Pulau Laut adalah wilayah dengan jumlah penduduk terendah.
Tabel 4.2 : Jumlah Penduduk Kabupaten Natuna Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Rasio
1. Midai 2.518 2.489 5.007 101,17 2. Bunguran Barat 5.642 5.251 10.893 107,45 3. Bunguran Utara 1.967 1.850 3.817 106,32 4. Pulau Laut 1.152 1.017 2.169 113,27 5. Pulau Tiga 2.577 2.249 4.826 114,58 6. Bunguran Timur 11.878 10.922 22.800 108,75 7. Bunguran Timur Laut 2.227 2.079 4.306 107,12 8. Bunguran Tengah 1.482 1.352 2.834 109,62 9. Bunguran Selatan 1.307 1.230 2.537 106,26 10. Serasan 2.275 2.231 4.506 101,97 11. Subi 1.303 1.274 2.577 102,28 12. Serasan Timur 1.413 1.318 2.731 107,21 Jumlah Total 35.741 33.262 69.003 107,45
Laporan Akhir 4- 5
Sarana dan prasarana infrastruktur yang relatif terbatas menjadikan penduduk di Kabupaten Natuna mempunyai keterbatasan dalam mengakses pendidikan. Kondisi ini, menyebabkan sebagian besar penduduk (59,13 persen) dengan pendidikan tertinggi yang ditamatkan yaitu sekolah dasar kebawah. Kesempatan untuk mengakses pendidikan menengah kebawah antara penduduk laki-laki dan perempuan relatif tidak menunjukkan perbedaan. Namun demikian, memasuki jenjang pendidikan Diploma IV/S1/S2/S3 menunjukkan bahwa penduduk laki-laki dengan pendidikan tertinggi yang ditamatkan lebih tinggi daripada penduduk perempuan. Kondisi ini diakibatkan untuk melanjutkan pendidikan tinggi harus melanjutkan ke daerah lainnya seperti Pekanbaru, Tanjungpinang, dan kota lainnya. Sementara paradigma keluarga dalam menyekolahkan anaknya masih berpandangan bahwa laki-laki lebih mendapat prioritas dibandingkan perempuan.
Tabel 4.3 : Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin, 2010
Keterangan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Tidak /Belum Pernah Sekolah 904 1.322 2.226 2. Tidak /Belum Tamat SD 4.525 4.427 8.952 3. Sekolah Dasar 10.176 10.012 20.188
4. SMTP (Umum) 4.585 4.068 8.653
5. SMTA (Umum dan Kejuruan) 5.472 4.016 9.488
6. Diploma I/II 410 490 900
7. Akademi/Diploma III 308 433 741
8. Diploma IV/S1/S2/S3 1.133 761 1.894
Jumlah Total 27.513 25.529 53.042
Laporan Akhir 4- 6
Penduduk merupakan faktor produksi yaitu sebagai tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat penduduk yang bersedia untuk bekerja, maka harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan perekonomian dalam menyediakan kesempatan kerja. Jika terjadi ketidakseimbangan antara penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja maka dapat menimbulkan permasalahan penggangguran. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki (86,40 persen) lebih tinggi dibandingkan TPAK perempuan (43,79 persen). Hal ini dikarenakan perempuan pada umumnya menyandang peran ganda, yaitu selain aktif dalam kegiatan perekonomian mereka juga senantiasa berperan di dalam mengasuh anak-anak mereka.
Tabel 4.4 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, Tahun 2010
Daerah Tempat
Tinggal Laki-laki Perempuan Jumlah
Perkotaan 86,28 47,11 67,35
Pedesaan 86,50 41,14 63,64
K+D 86,40 43,79 65,32
Sumber : BPS Kabupaten Natuna, Sakernas 2010
Dilihat menurut wilayah, TPAK di daerah perkotaan (67,35 persen) lebih tinggi dibandingkan di daerah pedesaan (63,64 persen). Berdasarkan jenis kelamin TPAK perempuan lebih tinggi di daerah perkotaan (47,11 persen) dibandingkan dengan TPAK perempuan pada wilayah pedesaan (41,14 persen). Hal yang sebaliknya terjadi pada laki-laki, di mana TPAK laki-laki di daerah perkotaan (86,28 persen) justru sedikit lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki di daerah pedesaan (86,5 persen).
Laporan Akhir 4- 7
Tenaga kerja merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penduduk digolongkan kedalam angkatan kerja dan bukan angkatan kerja didasarkan pada ada tidaknya keinginan penduduk tersebut untuk bekerja. Jumlah tenaga kerja di Kabupaten Natuna pada tahun 2010 sebanyak 46.503 orang dengan tenaga kerja laki-laki lebih banyak (24.148 orang) daripada perempuan yaitu 22.355 orang. Dari jumlah angkatan kerja sebanyak 31.369 orang dengan status bekerja sebanyak 27.575 orang dan 3.794 orang dengan status mencari kerja. Jumlah pencari kerja perempuan lebih tinggi (2.805 orang) dibandingkan dengan pencari kerja laki-laki yaitu 989 orang. Sebagai wilayah yang terbuka, penawaran tenaga kerja bukan hanya berasal dari penduduk Kabupaten Natuna tapi juga berasal dari daerah lain.
Tabel 4.5 : Jumlah Penduduk 15+ Yang Berkerja Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin.
Keterangan Laki-Laki Perempuan Total
Angkatan Kerja 20.460 10.909 31.369
1 Bekerja 19.471 8.104 27.575
2 Mencari Kerja 989 2.805 3.794
Bukan Angkatan Kerja 3.688 11.446 15.134
1 Sekolah 2.515 2.223 4.738
2 Mengurus Rumahtangga 1.167 9.223 10.390
3 Lainnya 6 - 6
Jumlah 24.148 22.355 46.503
Laporan Akhir 4- 8
Komposisi penyebaran jumlah pekerja di suatu wilayah menurut lapangan pekerjanya menunjukkan pada sisi mana kegiatan ekonomi wilayah tersebut tertumpu. Dari sebanyak 27.575 orang yang bekerja di Kabupaten Natuna sebagian besar (40,96 persen) menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Selain sektor pertanian, lapangan usaha yang banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor jasa (29,10 persen) dan sektor perdagangan (13,62 persen). Sebagai daerah otonom, Kabupaten Natuna terus berbenah melakukan pembangunan di berbagai bidang diantaranya pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur. Pembangunan perkantoran, perumahan, jalan dan jembatan serta infrastruktur lainya telah menyediakan kesempatan kerja dan pada tahun 2010 mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2.016 orang.
Tabel 4.6 : Penduduk Usia 15+ Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin, Tahun 2010
Keterangan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan
dan Perikanan 9.361 1.933 11.294
2. Pertambangan dan Penggalian 164 48 212
3. Industri Pengolahan 280 653 933
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 106 3 109 5. Bangunan/Konstruksi 1.966 50 2.016 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.739 2.017 3.756 7. Pengangkutan dan Komunikasi 748 36 784 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 74 24 98
9. Jasa-Jasa 4.793 3.219 8.012
10. Lainnya 240 121 361
Jumlah 19.471 8.104 27.575
Laporan Akhir 4- 9
Sarana dan prasarana Infrastruktur
Kabupaten Natuna dilayani oleh 3 (tiga) jenis transportasi, yaitu transportasi darat, udara dan laut. Prasarana jalan merupakan urat nadi kelancaran lalu lintas di darat. Lancarnya arus lalu lintas akan sangat menunjang perkembangan perekonomian suatu daerah. Di Kabupaten Natuna pada tahun 2010 tercatat panjang jalan 796,60 km, dengan kondisi yang baik sepanjang 231,237 km, sedang 440,818 km, dan rusak 149,545 km. Jika data panjang jalan dirinci menurut jenis permukaan, maka diperoleh 215,055 km diaspal, 234,961 km jalan beton, dan 346,584 jalan tanah.
Dalam membuka keterisolasian Kabupaten Natuna dengan daerah lain, sarana angkutan udara memiliki peranan yang sangat penting. Sampai akhir Tahun 2010 digunakan bandara milik Angkatan Udara yang dapat di singgahi oleh penerbangan komersial, yaitu Bandara Ranai di Ranai kecamatan Bunguran Timur. Armada penerbangan umum yang melayani rute Natuna-Batam (PP) adalah Wings air dengan jadwal penerbangan senin-kamis-sabtu dan Sriwijaya air (carter) dengan jadwal penerbangan selasa-jumat, rute Natuna-Pontianak (PP) adalah Trigana dengan jadwal penerbangan selasa-jumat, serta rute Natuna-Tanjung Pinang (PP) adalah sky aviation dengan jadwal penerbangan senin-jumat.
Wilayah Kabupaten Natuna yang sebagian besar (98,84 persen) berupa lautan menempatkan angkutan laut menjadi sarana utama untuk perhubungan penduduknya. Sarana perhubungan angkutan laut misalnya KM Bukit Raya (milik PELNI), KM. Gunung Bintan, dan KM. Trigas, yang berlabuh di dermaga selat lampa yang menghubungakan antar kabupaten dan pulau sedangkan kapal motor kecil (pompong) sebagai transportasi penghubung antar kecamatan di Kabupaten Natuna.
Laporan Akhir 4- 10
Perekonomian Daerah
Besarnya sumbangan sektor ekonomi terhadap Produk Domestik Regional Bruto menunjukkan besarnya peranan sektor tersebut terhadap perekonomian. Dilihat menurut sektor, sumbangan terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Natuna adalah sektor pertanian yaitu 68,79 persen dan peranannya cenderung turun, dimana pada tahun 2010 peranannya turun menjadi sebesar 60,70 persen. Penurunan peranan sektor pertanian disebabkan laju pertumbuhan sektor industri, perdagangan dan kontruksi tumbuh lebih cepat. Peranan sektor pertanian yang besar dan diikuti sektor perdagangan serta masih rendahnya (2,17 persen) peranan sektor industri pengolahan. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar produksi hasil pertanian penduduk di Kabupaten Natuna langsung dijual ke pasar. Akibatnya nilai tambah yang diperoleh masyarakat relatif rendah.
Tabel 4.7 : Distribusi Persentase PDRB atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha tahun 2006-2010 (%)
Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009* 2010** 1. Pertanian 68.79 66.03 63.62 62.04 60.70 2.Pertambangan & Penggalian 0.34 0.35 0.42 0.43 0.44 3. Industri Pengolahan 1.81 1.73 2.27 2.19 2.17 4. Listrik & Air Minum 0.08 0.08 0.10 0.10 0.10 5. Bangunan 2.89 3.08 4.44 5.16 5.76 6. Perdagangan, Htl & Rest. 13.90 15.21 15.20 16.13 16.90 7. Angkutan & Komunikasi 3.59 3.95 4.10 4.22 4.31 8. Keuangan, Persewaan & Jasa 2.85 3.05 2.88 2.89 2.90 9. Jasa – Jasa 5.76 6.51 6.98 6.85 6.73
PDRB 100 100 100 100 100
2008** Pemekaran Kab. Anmbas
Laporan Akhir 4- 11
Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Natuna mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada setiap tahunnya. Pada tahun 2007 laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,04 persen, meningkat di tahun 2008 menjadi 6,05 persen, meningkat pada tahun 2009 menjadi 6,38 persen dan kembali turun pada tahun 2010 menjadi 6,25 persen, kondisi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Natuna lebih baik dari capaian Nasional yang pada tahun 2009 sebesar 6,2%. Pada tahun 2010 sektor yang tumbuh cepat adalah sektor konstruksi (22,91 persen), perdagangan (15,45 persen) dan pengangkutan (12,40 persen).
Tabel 4.8 : Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Natuna Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006 – 2009
Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009* 2010**
1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan 6,07 5,11 5,12 4,90 4,70
2. Pertambangan dan Penggalian 2,61 12,05 9,72 9,79 9,23
3. Industri Pengolahan 4,34 4,98 5,26 5,30 9,01
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,69 3,52 3,68 3,55 9,99
5. Konstruksi 5,52 16,69 20,79 22,02 22,91
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 3,70 7,18 7,40 9,11 15,45
7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,46 9,08 9,19 9,77 12,40
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan 4,94 4,95 4,99 5,19 10,70
9. Jasa-jasa 6,03 8,54 5,23 5,43 8,28
Jumlah 5,62 6,04 6,05 6,38 6,25
* ) Angka Perbaikan **) Angka Sementara
Laporan Akhir 4- 12
b. Kabupaten Kepulauan Anambas
Geografis
Secara geografis Kabupaten Kepulauan Anambas terletak antara 2010’ – 3040’ LU dan antara 105015’ – 1060
Batas-batas wilayah kabupaten Kepulauan Anambas meliputi :
45’ BT. Secara teritorial, Kabupaten Kepulauan Anambas adalah merupakan salah satu Kabupaten yang berada pada posisi terdepan daripada wilayah Indonesia, dan khususnya Provinsi Kepulaun Riau.
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan Vietnam Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Bintan
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan Malaysia Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Natuna.
Kabupaten Kepulauaan Anambas terdiri dari 7 (tujuh) Kecamatan, yaitu : Tabel 4.9 : Jumlah Penduduk Kabupaten Anambas Dirinci Menurut
Kecamatan dan Jenis Kelamin, tahun 2012
No. Kecamatan Wilayah Luas (Km2) Penduduk (Jiwa) Total (Jiwa) Rata-rata /Km2 Laki-laki Perempuan 1 Siantan 45,35 6.886 6.372 13.259 292,37 2 Palmatak 129,94 6.481 5.967 12.448 95,8 3 Siantan Timur 88,92 2.086 1.959 4.045 45,5 4 Siantan Selatan 115,48 2.173 1.927 4.100 35,5 5 Jemaja Timur 154,24 1.259 1.124 2.383 15,45 6 Jemaja 78,26 3.441 3.215 6.656 85,05 7 Siantan Tengah 22,14 1.756 1.616 3.371 152,26 J u m l a h 634,27 24.082 22.180 46.262 73,00
Laporan Akhir 4- 13
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa luas Kabupaten Kepulauan Anambas adalah 634,27 Km2, dengan jumlah penduduk pada tahun 2011 berjumlah 46.262 jiwa meliputi 24.082 orang (52,05%) laki-laki dan 22.180 orang (47,94%) penduduk perempuan, dengan rata-rata tingkat kepadatan penduduk sebesar 73 jiwa per km2. Dari 7 kecamatan yang ada di kabupaten Kepulaun Anambas, terluas adalah kecamatan Jemaja Timur, namun dengan jumlah penduduk paling sedikit, yakni sebanyak 2.383 jiwa. Sementara kecamatan Siantan, dengan luas 45,35 km2 mempunyai penduduk terbesar, yakni sebanyak 13,259 jiwa, dengan rata-rata 292,37 jiwa per km2 nya.
Kependudukan
Pada tabel 2, dari jumlah penduduk wajib KTP sebanyak 31.378 orang, meliputi 16.478 orang laki-laki dan 14.900 orang perempuan, yang sudah melakukan perekaman e-KTP sebanyak 25.804 orang (82,23%), terdiri dari 13.507 orang laki-laki dan 12.297 orang perempuan. Tingginya jumlah penduduk yang telah melakukan perekaman e-KTP tidak terlepas dari usaha pemerintah kabupatenKepulauan Anambas c.q. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang telah berhasil mendapatkan bantuan 1 unit kapal (speed boat) dengan bobot 80 pk dari pemerintah pusat, yang dipergunakan untuk mengunjungi daerah-daerah (pulau) yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan.
Laporan Akhir 4- 14
Tabel 4.10 : Jumlah Penduduk Kabupaten Anambas Wajib KTP dan yang Sudah Memilki KTP Tahun Sampai Dengan Agustus 2012
No. Kecamatan Wajib KTP Jumlah KTP Tercetak Jumlah
Laki-laki Perem-puan Laki-laki Perem-puan
1 Siantan 4.840 4.365 9.205 4.052 3.614 7.666 2 Palmatak 4.329 3.905 8.234 3.546 3.215 6.761 3 Siantan Timur 1.384 1.260 2-644 1.035 955 1.990 4 Siantan Selatan 1.452 1.274 2.726 1.142 1.024 2.167 5 Jemaja Timur 858 760 1.618 738 669 1.407 6 Jemaja 2.427 2.229 4.656 2.012 1.897 3.909 7 Siantan Tengah 1.188 1.107 2.295 981 923 1.904 J u m l a h 16.478 14.900 31.378 13.507 12.297 25.804
Sumber : Disduk – Capil Kabupaten Kepulauan Anambas, Laporan Penduduk SIAK Online, Bulan Agustus 2012.
Berdasarkan tabel diatas, dari 31.378 orang penduduk yang tersebar di 7 daerah kecamatan yang telah berhasil melakukan perekman e-KTP paling banyak adalah kecamatan Siantan dan kecamatan Palmatak, yakni sebanyak 7.666 orang dan 6.761 orang.
Laporan Akhir 4- 15
c. Kabupaten Lingga
Geografis
Kabupaten Lingga merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten ini terbentuk pada tahun 2003, hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Riau. Secara geografis, Kabupaten Lingga terletak antara 0020” LU-0040” LS, dan antara 1040BT-1050 BT.
Adapun batas-batas Kabupaten Lingga adalah sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kota Batam dan Laut Cina Selatan. - Sebelah selatan dengan Laut Bangka dan Selat Berhala
- Sebelah barat dengan Laut Indragiri Hilir - Sebelah timur dengan Laut Cina Selatan.
Dilihat dari topografinya, sebagian besar wilayah di Kabupaten Lingga adalah berbukit-bukit, sehingga secara umum daerahnya memiliki tingkat kemiringan yang cukup tinggi. Dimana sekitar 76,92 persen adalah daerah dengan kemiringan lebih dari 15 persen. Jenis tanah di Kabupaten Lingga adalah podsolik merah kuning, litosol dan organosol. Lapisan tanahnya berstruktur remah dan gumpal. Jenis batuannya Pluton Asam yaitu sejenis granit, serta terdapat juga batuan endapan di seluruh pulau Lingga.
Temperatur udara bervariasi, rata-rata minimumnya 26,20C dan
rata-rata maksimumnya 28,20C, rata kecepatan anginnya 3,0 knot.
Rata-rata tekanan udara mencapai 998,7 mb. Dan Rata-rata-Rata-rata kelembaban udaranya adalah 81,0 persen. Pada tahun 2011, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 400,6 mm, dan curah hujan terendahnya adalah 23,4 mm terjadi di bulan Februari. Jumlah hari hujan dalam satu tahun mencapai 196 hari.
Laporan Akhir 4- 16
Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Berdasarkan data penduduk yang dipublikasikan BPS, jumlah penduduk Kabupaten Lingga pada tahun 2000 sebanyak 79.451 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 40.675 jiwa dan penduduk perempuan 38.776 jiwa. Pada tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Lingga meningkat menjadi sebanyak 86.244 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 44.234 jiwa dan perempuan sebanyak 42.010 jiwa. Berdasarkan jumlah penduduk Kabupaten Lingga tahun 2000 dan 2010 tersebut berarti rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahunnya relatif rendah yaitu 0,82 persen. Dilihat menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan penduduk antara laki-laki (0,84 persen) dan perempuan (0,80 persen) relatif sama dengan sex ratio 105. Setiap terdapat 100 orang penduduk perempuan terdapat 105 orang penduduk laki-laki. Tabel 4.11 : Jumlah Penduduk Kabupaten Lingga Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2010
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Singkep Barat 7.476 7.076 14.552 2. Singkep 13.473 13.174 26.647 3. Lingga 8.609 8.042 16.651 4. Lingga Utara 4.984 4.717 9.701 5. Senayang 9.692 9.001 18.693 Jumlah 2010 44.234 42.010 86.244 2000 40.675 38.776 79.451
Sumber : BPS, Lingga Dalam Angka 2011
Perkembangan penduduk Kabupaten Lingga menurut wilayah terkonsentrasi di Kecamatan Singkep yaitu 26.647 jiwa dan kecamatan dengan jumlah penduduk terendah adalah Kecamatan Lingga Utara sebanyak 9.701 jiwa.
Laporan Akhir 4- 17
Penduduk berumur 15 tahun ke atas di Kabupaten Lingga pada umumnya (59,22 persen) memilih keputusan untuk bekerja dan selebihnya (40,78 persen) mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan (5,77 persen), mengurus rumah tangga (32,21 persen) dan lainnya (2,80 persen). Penduduk usia 15 tahun keatas di Kabupaten Lingga yang memutuskan untuk bekerja dapat dikelompokkan kedalam mereka yang bekerja dan mencari pekerjaan. Penduduk 15 tahun keatas yang bekerja, sebagian besar (78,67 persen) merupakan penduduk laki-laki, sedangkan penduduk perempuan sebesar 29,31 persen. Rendahnya penduduk perempuan di Kabupaten Lingga yang memutuskan untuk bekerja dikarenakan sebagian besar (58,44 persen) penduduk perempuan yang berusia 15 tahun keatas di Kabupaten Lingga memutuskan untuk mengurus rumah tangga.
Tabel 4.12 : Persentase Distribusi Penduduk 15+ Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin.
Keterangan Laki-Laki Perempuan Jumlah
Angkatan Kerja 83,30 34,09 59,22
1 Bekerja 78,67 29,31 54,52
2 Mencari Kerja 4,63 4,78 4,70
Bukan Angkatan Kerja 16,70 65,91 40,78
1 Sekolah 5,78 5,76 5,77
2 Mengurus Rumahtangga 7,09 58,44 32,21
3 Lainnya 3,83 1,72 2,80
Total 100,00 100,00 100,00
Laporan Akhir 4- 18
Peranan lapangan usaha pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dalam membuka kesempatan kerja di Kabupaten Lingga memiliki peranan yang sangat penting. Sebagian besar (39,12 persen) penduduk Kabupaten Lingga bekerja pada sektor tersebut. Selain sektor pertanian, lapangan usaha yang banyak menyerap kesempatan kerja adalah jasa kemasyarakatan (24,58 persen). Penyerapan tenaga kerja pada lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran lebih besar (15,30 persen) daripada penyerapan tenaga kerja sektor industri yaitu 6,66 persen. Dahulu Kabupaten Lingga terkenal dengan penambangan timahnya namun kini tinggal kenangan, peranan saat ini dalam penyerapan tenaga kerja relatif kecil yaitu 3,41 persen.
Tabel 4.13 : Persentase Distribusi Penduduk Usia 15+ Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin, Tahun 2010
Keterangan Jumlah
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 39,12
2. Pertambangan dan Penggalian 3,41
3. Industri Pengolahan 6,66
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,15
5. Bangunan/Konstruksi 6,32
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 15,30
7. Pengangkutan dan Komunikasi 4,30
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 0,17
9. Jasa Kemasyarakatan 24,58
Total 100,00
Laporan Akhir 4- 19
Terkait dengan administrasi kependudukan di Kabupaten Lingga upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah Kabupaten Lingga telah menetapkan sebanyak 233 orang sebagai Mitra Kependudukan yang berada tersebar di seluruh desa. 2. Tugas Mitra Kependudukan adalah untuk membantu Kades dan
Lurah untuk mengurus adminduk-Capil masyarakat.
3. Untuk pembinaan mengkoordinasikan kegiatan Adminduk-Capil, pemerintah daerah memprogramkan pertemuan rutin sekali 3 bulan dengan RT, RW, Kades/Lurah di masing-masing Kecamatan dengan Aparat Disdukcapil Kabupaten. Masalah yang sering muncul pada pertemuan tersebut adalah terkait dengan perebedaan nama penduduk antara di data Adminduk dengan nama aslinya, misalnya nama panggilang menjadi nama di Adminduk padahal yang bersangkutan memiliki nama asli, seperti "Buyung" sebagai nama panggilan, namun di KTP juga ditulis "BUYUNG" pada hal nama aslinya misalnya Safruddin.
4. RT dan RW diberikan honor setiap bulannya oleh Pemkab.
5. Tahapan kegiatan Adminduk yang pernah dilaksanakan adalah: 2007 Pendataan Penduduk 2008 Pencocokan dan Penelitian (Coklit) 2011 Finalisasi Coklit dengan menunjukkan dokumen yang sah.
6. Kurangnya kesadaran masyarakat dan perangkat RT/RW untuk melaporkan penduduk yang meninggal,sehingga penduduk di Lingga, jumlah penduduk yang terus bertambah.
Laporan Akhir 4- 20
Perekonomian daerah
Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lingga selama periode tahun 2009-2011 mengalami pertumbuhan yang meningkat meskipun tidak terlalu besar, namun masih tergolong cukup tinggi. Pada tahun 2011, laju pertumbuhannya mencapai 6,64 persen.
Kontribusi sektor ekonomi menunjukkan besarnya peranan setiap sektor ekonomi dalam penciptaan nilai tambah. Pada tahun 2011, tiga kontributor terbesar di Kabupaten Lingga adalah sektor pertanian (34,60 %), sektor perdagangan, hotel dan restoran (23,64 %) dan sektor angkutan dan komunikasi (10,46%).
Jika dilihat dari tiga sektor produksi utamanya, kontribusi terbesar dalam penciptaan nilai tambah perekonomian Kabupaten Lingga pada tahun 2011, didominasi oleh sektor tersier (43,79 persen), diikuti oleh sektor primer (36,51 persen) dan sekunder (19,70 persen).
Laporan Akhir 4- 21
2. Isu dan Permasalahan Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Perbatasan
Isu dan permasalah pembangunan kependudukan pada wilayah perbatasan di Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut :
a. Terjadinya kesenjangan pembangunan dengan negara tetangga
Kehidupan penduduk di kawasan perbatasan yang miskin infrastruktur dan tidak memiliki aksesibilitas yang baik, pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi di negara atau provinsi tetangga. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat, pada umumnya berkiblat ke wilayah negara tetangga atau provinsi tetangga misalnya penduduk di Kabupaten Natuna dan Anambas orientasi ekonomi lebih dipengaruhi negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam dan Kamboja, dan dengan provinsi tetangga ke Kalimantan Barat. Orientasi ekonomi penduduk Kabupaten Lingga ke Provinsi Jambi. Hal ini disebabkan adanya infrastruktur yang lebih baik atau pengaruh sosial ekonomi yang lebih kuat dari wilayah tetangga.
b. Sarana dan prasarana masih minim.
Ketersediaan prasarana dan sarana, baik sarana dan prasarana wilayah maupun fasilitas sosial ekonomi masih jauh dari memadai. Jaringan jalan dan angkutan perhubungan darat maupun laut masih sangat terbatas, yang menyebabkan sulit berkembangnya kawasan perbatasan, karena tidak memiliki keterkaitan sosial maupun ekonomi dengan wilayah lain. Kondisi prasarana dan sarana komunikasi seperti pemancar atau transmisi radio dan televisi serta sarana telepon di kawasan perbatasan umumnya masih relatif minim. Terbatasnya sarana komunikasi dan informasi menyebabkan masyarakat perbatasan lebih mengetahui informasi tentang wilayah tetangga.
Laporan Akhir 4- 22
c. Tingginya angka kemiskinan dan jumlah keluarga pra-sejahtera.
Kemiskinan menjadi permasalahan yang terjadi di setiap kawasan perbatasan baik laut maupun darat. Hal ini dapat dilihat dari tingginya jumlah keluarga prasejahtera di kawasan perbatasan serta kesenjangan sosial ekonomi dengan masyarakat di wilayah perbatasan negara tetangga. Hal ini disebabkan oleh akumulasi berbagai faktor, seperti rendahnya mutu sumberdaya manusia, minimnya infrastruktur pendukung, rendahnya produktifitas masyarakat dan belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan perbatasan.
d. Terisolasinya kawasan perbatasan akibat rendahnya aksesibilitas menuju kawasan perbatasan.
Kawasan perbatasan masih mengalami kesulitan aksesibilitas baik darat, laut, maupun udara menuju pusat-pusat pertumbuhan. Sulitnya aksesibilitas memunculkan kecenderungan masyarakat untuk berinteraksi dengan masyarakat di wilayah tetangga. Minimnya asksebilitas dari dan keluar kawasan perbatasan wilayah merupakan salah satu faktor yang turut mendorong orientasi masyarakat yang cenderung berkiblat pada aktivitas sosial ekonominya wilayah tetangga.
Laporan Akhir 4- 23
Secara umum, sebagai daerah kepulauan yang berada diposisi terdepan dari wilayah Negara Republik Indonesia yang sekaligus juga merupakan wilayah perbatasan dengan Negara tetangga yaitu Malaysia, Singapura dan Vietnam. Sebagai daerah yang terletak di perbatasan, kabupaten Kepulauan Anambas dan kabupaten Natuna merupakan daerah yang “unik” karena kedua daerah ini secara geografis berada pada posisi terdepan dan terdiri dari pulau-pulau yang letaknya antara satu pulau dengan pulau lainnya saling berjauhan. Sehingga akses untuk mencapai suatu pulau dari pulau lainnya sangat tergantung pada ketersediaan sarana transportasi laut (kapal) yang kondisinya sangat dipengaruhi oleh alam/musim.
Dimana pada musim-musim tertentu, seperti pada saat musim utara maka daerah yang terlertak di wilayah bagian utara (yang menghadap ke laut Cina Selatan) akses keluar pulau sangat terbatas, dan sebaliknya jika “musim selatan” maka pulau yang berada di wilayah bagian selatan yang akan mengalami hambatan (karena adanya gelombang laut yang tinggi). Hal ini bermakna bahwa jika musim utara, maka masyarakat yang bermukim dipulau-pulau yang terletak di bagian utara akan mengalami kendala dalam melakukan aktivitasnya. Sedang jika musim selatan, maka masyarakat yang bermukim dipulau-pulau yang terletak di wilayah bagian selatan yang mengalami hambatan dalam melakukan aktivitasnya (karena gelombang laut sangat besar).
Laporan Akhir 4- 24
e. Rendahnya kualitas Sumberdaya Manusia
Sebagai dampak dari minimnya sarana dan prasarana dibidang pendidikan dan kesehatan, kualitas SDM masyarakat di sebagian besar kawasan perbatasan masih rendah. Masyarakat belum memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan sebagaimana mestinya akibat jauhnya jarak dari permukiman dengan fasilitas yang ada. Optimalisasi potensi sumber daya alam dan pengembangan ekonomi di kawasan perbatasan akan sulit dilakukan. Rendahnya tingkat pendidikan, keterampilan, serta kesehatan masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menghambat pengembangan ekonomi kawasan perbatasan untuk dapat bersaing dengan wilayah negara tetangga.
f. Pemanfaatan potensi Sumber Daya Alam belum optimal
Potensi sumberdaya alam yang berada kawasan perbatasan, baik di wilayah darat maupun laut cukup besar, namun sejauh ini upaya pengelolaannya belum dilakukan secara optimal. Potensi sumberdaya alam yang memungkinkan dikelola di sepanjang kawasan perbatasan, antara lain sumber daya kehutanan, pertambangan, perkebunan, pariwisata, dan perikanan. Selain itu, devisa negara yang dapat digali dari kawasan perbatasan dapat diperoleh dari kegiatan perdagangan antarnegara.
Laporan Akhir 4- 25
g. Terjadinya eksploitasi pemanfaatan Sumber Daya Alam yang tak terkendali dan berkelanjutan.
Di sebagian besar kawasan perbatasan, upaya pemanfaatan SDA dilakukan secara ilegal dan tak terkendali, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan hidup. Berbagai dampak lingkungan seperti polusi asap lintas batas (hedge pollution), banjir, longsor, tenggelamnya pulau kecil, dan sebagainya pada umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan illegal, seperti penebangan liar di kawasan hutan dan pengerukan pasir di pulau-pulau kecil yang tidak terkendali. Hal ini cukup sulit ditangani, karena keterbatasan pengawasan pemerintah di kawasan perbatasan dan belum ditegakkannya supremasi hukum secara adil dan tegas.
h. Perhatian pemerintah (pusat maupun daerah) juga “terkesan”masih sangat kurang dan bahkan seolah - olah terabaikan jika diliht dari kecilnya anggaran pembangunan yang dialokasikan bagi daerah-daerah terdepan yang letaknya relatif jauh dan susah dijangkau.
i. Terbatasnya akses penduduk pada pulau-pulau di Kabupaten Lingga yang berbatasan langsung dengan provinsi tentangga seperti Pulau Berhala dan Pulau Kajang.
Pulau Berhala secara administrasi masuk kedalam wilayah Kecamatan Singkep Kabupaten Lingga dengan jumlah penduduk sebanyak 668 jiwa (3 okt 2012). Infrastruktur pendidikan yang terdapat di pulau ini mulai dari SD, SMP, sampai dengan SMA.
Laporan Akhir 4- 26
Orientasi ekonomi penduduk Pulau Berhala lebih dominan ke provinsi Jambi. Aksesibilitas ke Pulau Berhala dapat ditempuh dengan kapal laut 3 kali seminggu (minggu, selasa, kamis) dengan waktu tempuh 2-3 jam (boat) dari pelabuhan Dabo Singkep-Berhala-Kampung Laut-Jambi. Sebelumnya dilayani oleh kapal barang KM Gunung Bintan dengan rute Kuala Tungkal (Jambi)-Belinyu (Babel)-Dabo Singkep-Senayang dengan jarak tempuh 10 jam. Pulau Pekajang, masuk wilayah kecamatan Lingga dengan jumlah penduduk 522 jiwa (3 okt 2012). Infrastruktur pendidikan yang terdapat di pulau ini mulai dari tingkat SD, SMP sampai dengan SMA. Orentasi ekonomi penduduknya lebih dominan ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Aksesibilitas Kepulau Pekajang tidak dapat ditempuh secara reguler karena tidak ada kapal penumpang reguler yang ada hanya kapal ikan dengan waktu tempuh lebih kurang 2 hari karena singgah-singgah di pulau-pulau yang lain. Jika ditempuh dengan speedboat sekitar 9 jam dari pelabuhan Daik. Permasalahan kedua pulau perbatasan tersebut : 1. Transportasi reguler tidak ada
2. Posisi jauh dari pusat pemerintahan dan merupakan pulau terluar dari Provinsi Kepri dan Kab. Lingga sehingga rawan pencaplokan olah provinsi tetangga (Jambi dan Kep. Babel).
3. Orientasi ekonomi dan sosial ke daerah terdekat, sehingga cukup besar potensi ekonomi yang bocor ke luar tanpa di awasi
4. Pembangunan infrastruktur yang terbatas dan upaya pengembangan potensi ekonomi yang tidak maksimal oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kabupaten Lingga sehingga menyebabkan kesenjangan yang semakin lebar di daerah perbatasan.
5. Ketergantungan pada kondisi cuaca untuk mengakses daerah terbatasan sangat tinggi.
Laporan Akhir 4- 27
j. Masih terdapat Komunitas Adat Terpencil (KAT) /suku terasing (suku laut).
Keberadaan suku laut pada umumnya terdapat di Kecamatan. Lingga (Desa Klumu, Desa Mentuda, Desa Penuba dan Desa Limbong). Bagi Komunitas Adat Terpencil yang telah direkam data kependudukannya pada umumnya yang telah menetap. Bagi KAT yang masih nomaden sulit dilakukan pendataan, dan pada umumnya mereka tidak memiliki identitas dan adminduk.
k. Semakin meningkatnya “migrasi keluar”
Permasalahan lain yang juga perlu mendapat perhatian pemerintah Indonesia terhadap daerah perbatasan adalah menyangkut bidang kependudukan, yakni semakin besarnya “migrasi keluar”, yang dilakukan oleh penduduk tempatan yang enggan untuk kembali dan menetap di daerah Kabupaen Anambas dan Kabupaten Natuna, terutama bagi mereka yang sudah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan sudah berhasil memperoleh pekerjan di perantauan (sebagai PNS di tingkat Provinsi Riau dan di Kota Pekanbaru serta di Batam dan Tanjung Pinang maupun di kota-kota lainnya di Indonesia) sementara di lain pihak banyak juga masyarakat dari daerah lain yang datang ke daerah ini untuk mencari kerja karena mnurut pengakuan mereka, di daerah ini “lapangan kerja masih banyak terbuka” terutama sebagai PNS di Pemerintah daerah Kabupaten Natuna dan Anambas.
Laporan Akhir 4- 28
B. Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Perkotaan
Sarana dan prasarana infrastruktur yang lebih memadai di wilayah perkotaan dan semakin mudahnya penduduk dalam mengakses pelayanan pendidikan, kesehatan dan kegiatan ekonomi menjadikan kehidupan penduduk perkotaan relatif lebih baik dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan. Penduduk perkotaan di Provinsi Kepulauan Riau dalam mengakses pelayanan kesehatan relatif lebih baik, kondisi ini tercermin dari angka harapan hidup penduduk perkotaan pada Kota Batam mencapai 70,81 tahun dan Kota Tanjung Pinang mencapai 69,62 tahun.
Tabel 4.14 : Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Perkotaan di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010
Kabupaten/Kota Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Melek Huruf (%) Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) Pengeluaran Perkapita Disesuaikan IPM Kota Batam 70,81 98,94 10,77 650,60 77,8 Kota Tanjung Pinang 69,62 97,31 9,42 635,26 74,59
Sumber : Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2011
Dari aspek pendidikan rata-rata penduduk perkotaan di Provinsi Kepulauan Riau telah menyelesaikan program wajib belajar sembilan tahun. Hal ini tercermin dari rata-rata lama sekolah di Kota Batam 10,77 tahun dan Kota Tanjung Pinang 9,42 tahun. Selain itu, angka buta huruf relatif rendah yaitu pada Kota Batam 1,06 persen dan Kota Tanjung Pinang 2,69 persen. Tingkat kesejahteraan penduduk perkotaan yang tercermin dari pengeluaran perkapita yang disesuaikan relatif lebih baik. Pada tahun 2010, tingkat daya beli penduduk Kota Batam sebesar Rp. 650.600 dan Kota Tanjung Pinang Rp. 635.260.
Laporan Akhir 4- 29
1. Kondisi Umum
a. Kota Batam
Geografis
Kota Batam dan daerah lainnya yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau merupakan bagian dari paparan kontinental yang merupakan penyusutan dari daratan pra tersier yang membentang dari semenanjung Malaysia/Pulau Singapura di bagian utara sampai dengan pulau Moro, Kundur dan Karimun di bagian selatan. Adapun luas Kota Batam adalah ± 3.990 km2
Secara geografis Kota Batam mempunyai posisi yang unik yang membedakannya dengan daerah lain di Indonesia yaitu posisi yang berada pada lintas perdagangan internasional Singapura dan Malaysia. Letak yang sangat strategis ini merupakan kekuatan penarik bagi Singapura untuk merelokasikan aktivitas industri di Kota Batam. Kondisi tersebut menyebabkan arus masuk penduduk ke Kota Batam tidak dapat dihindarkan. Akibatnya adalah Kota Batam menjadi salah satu daerah tujuan utama bagi tenaga kerja untuk dari kabupaten/ kota lain di Provinsi Kepri maupun dari Provinsi lainnya di Indonesia.
(Disdukcapil, 2012
Dengan letak yang sangat strategis, pada satu sisi memberikan dampak yang sangat berarti terhadap perekonomin kota Batam, akan tetapi pada sisi lain berbagai masalah mulai bermunculan terutama persoalan kependudukan. Salah satu pemicu munculnya masalah-masalah kependudukan di Kota Batam disebabkan sangat dinamisnya gerakan penduduk masuk dan keluar kota Batam sebagai akibat dari perkembangan industri. Beberapa permasalahan kependudukan yang dihadapi Kota Batam adalah seperti pemukiman kumuh, penduduk miskin dan pencatatan penduduk yang lemah.
Laporan Akhir 4- 30
Demografi
Sebagai kota industry, sangatlah wajar jika penduduk kota Batam sangat heterogen. Berbagai etnis terdapat di Kota Batam, seperti etnis Melayu sebagai etnis tempatan, etnis Minang, Jawa, Batak, Bugis, Sunda, dan lain-lain. Keragaman etnis yang terjadi pada suatu daerah, pada satu sisi merupakan daya penggerak perekonomian yang timbul karena adanya persaingan, namun pada sisi lain akan sangat mudah terjadi gesekan-gesekan yang dapat memicu konflik yang disebabkan perbedaan adat dan kebiasaan.
Tingginya pertumbuhan penduduk di Kota Batam, tidak diiringi dengan sebaran penduduk yang merata. Hingga saat ini penduduk di Kota Batam terpusat di pulau Batam yang berpotensi menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota tidak terkendali. Pada tahun 2010 jumlah penduduk Kota Batam sebesar 1.056.701 jiwa, dengan nilai sex ratio sebesar 107, dengan kepadatan penduduk 641 jiwa per km,
Tabel dibawah ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk Kota Batam sangat berfluktuasi, dan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2008. Tinggi pertumbuhan penduduk pada tahun 2008 disebabkan perkembangan industry galangan kapal sehingga arus migrasi masuk semakin tinggi terutama pada tenaga kerja laki-laki. Pertambahan penduduk yang sangat berfluktuasi ini juga dapat dijadikan sebagai gambaran sangat dinamisnya mobilitas penduduk di Kota Batam.
sedangkan pada tahun 2011 penduduk Kota Batam menjadi 1.137.894 jiwa yang berarti terjadi peningkatan sebesar 7.68 % dari tahun 2010. Berikut akan disajikan tabel pertumbuhan penduduk Kota Batam tahun 2000 – 2010.
Laporan Akhir 4- 31
Tabel 4.15 : Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Batam 2000 – 2010
No Tahun Laki-Laki Perempuan Pertumbuhan
1 2000 223.762 241.537 - 2 2001 244.184 282.967 13.29 3 2002 257.272 292.679 4,33 4 2003 268.431 294.230 2.31 5 2004 281.807 309.446 5.08 6 2005 332.720 353.067 15.99 7 2006 347.575 366.385 4.11 8 2007 355.692 368.623 1.45 9 2008 455.071 444.873 24.25 10 2009 506.758 481.797 9.85 11 2010 545.189 511.512 6.89 12 2011 588.556 549.338 7,68
Sumber : RPJMD kota Batam, 2012 Disduk Capil Kota Batam, 2012
Pada tahun 2000 – 2007, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki, namun pada tahun 2008 – 2010 jumlah penduduk laki-laki lebih besar. Keadaan ini disebabkan karena pada awalnya industry yang berkembang di Kota Batam adalah industri elektronika yang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja perempuan, sementara pada tahun-tahun terakhir industri galangan kapal lah yang semakin berkembang sehingga yang lebih dibutuhkan adalah tenaga kerja laki-laki..
Laporan Akhir 4- 32
Keragaman etnis yang terdapat di Kota Batam pada satu sisi merupakan sumber kekuatan dalam pembangunan ekonomi, namun pada sisi lain keragaman etnis menimbulkan berbagai masalah. Gesekan-gesekan yang terjadi antar etnis, baik antar etnis pendatang maupun antara etnis tempatan dengan etnis pendatang kerap memicu persoalan di bidang ketenagakerjaan maupun kehidupan masyarakat. Sering sekali permasalah antar penduduk muncul disebabkan berbedanya budaya dan perilaku antara etnis. Keadaan ini tentu sebaiknya menjadi fokus perhatian Pemerintah Daerah agar tidak menggangu aktifitas ekonomi daerah.
Daya tarik Kota Batam yang sangat besar menjadikan kota Batam menjadi kota yang terbuka, sehingga arus masuk dan keluar penduduk baik menjadi sangat tinggi. Ada kalanya Kota Batam di jadikan kota tujuan akhir bagi pencari kerja, namun tidak sedikit pencari kerja menjadikan Kota Batam sebagai kota persinggahan (transit) untuk selanjutnya menuju kota lain yang ada di Kepulauan Riau seperti Kota Bintan yang memang pada tahun-tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat berarti serta menuju negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Akibat dari keadaan ini adalah sering sekali pencatatan peristiwa gerakan penduduk dari dan ke Kota Batam menjadi bias yang mengakibatkan data dan informasi kependudukan tidak akurat.
Pada umumnya pendatang yang masuk Kota Batam adalah yang berusia produktif, karena tujuan adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Lebih jelasnya penduduk Kota batam menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Laporan Akhir 4- 33
Tabel 4.16 : Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur di Kota Batam tahun 2010-2011
Kelompok umur
Desember 2010 Desember 2011
Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah 0 – 4 43.570 40.497 84.067 37.935 35.269 74.838 5 – 9 55.956 51.966 107.942 61.439 56.974 117.854 10 – 14 35.664 33.311 68.975 40.206 37.603 77.154 15 – 19 27.893 27.239 55.132 31.300 30.144 61.711 20 – 24 62.697 72.425 135.122 64.003 69.495 134.819 25 – 29 82.807 91.627 174.434 89.450 100.178 189.447 30 – 34 79.359 76.286 155.645 86.022 83.640 169.491 35 – 39 59.752 49.940 109.682 67.237 57.728 124.126 40 – 44 42.041 28.474 70.515 47.349 32.944 79.747 45 – 49 23.250 15.714 38.964 27.063 18.054 44.687 50 – 54 14.165 10.291 24.456 15.624 11.240 26.689 55 – 59 8.469 6.124 14.593 9.911 7.217 16.801 60 – 64 4.782 3.558 8.340 5.514 4.148 9.484 65 – 69 2.511 1.983 4.494 2.884 2.320 5.097 70 – 74 1.361 1.117 2.478 1.544 1.264 2.721 ≥ 75 912 940 1.852 1.075 1.120 2.126 Jumlah 545.189 511.512 1.056.701 588.556 549.338 1.137.894
Laporan Akhir 4- 34
Tabel diatas memperlihatkan bahwa terjadi pertambahan penduduk yang cukup signifikan pada usia produktif. Pada umumnya pada suatu daerah dimana penduduk pada usia produktif cukup besar, memberikan beberapa konsekuensi antara lain adalah pertama, menyangkut lapangan kerja yang harus tersedia. Hal ini berkaitan dengan tingkat pengangguran yang akan muncul. Kedua, sebagai tenaga pendorong kegiatan ekonomi pada suatu daerah yang disebabkan tersedianya tenaga kerja.
Aspek Sosial Ekonomi
Perkembangan suatu daerah sangat di dukung oleh kondisi kualitas sumberdaya manusianya. Tingkat pendidikan merupakan indicator yang dapat menentukan kualitas penduduk pada suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata tingkat pendidikan penduduk pada suatu daerah maka akan semakin berkulaitaslah penduduk di daerah tersebut, dan semakin maju tingkat perekonomian pada daerah tersebut. Berikut akan di sajikan tingkat pendidikan penduduk Kota Batam.
Tabel 4.17 : Jumlah Penduduk Kota Batam Menurut Tingkat Pendidikan yang di tamatkan tahun 2011
Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk Persentase
Tidak/ Belum Sekolah 293.785 25,82
Belum tamat SD/Sederajat 86.302 7,56
Tamat SD/sederajat 83.808 7,37
Tamat SLTP/sederajat 98.686 8,67
Tamat SLTA/sederajat 508.365 44,68
Tamat diploma I/II 6.251 0,55
Tamat Diploma III 21.853 1,92
Tamat Diploma IV/Strata I, II, III 39.114 3,44
Jumlah 1.137.894 100,00
Laporan Akhir 4- 35
Memperhatikan tabel diatas, dapat dikatakan bahwa sebagian besar penduduk Kota Batam berpendidikan menengah ke bawah (94,1%)3) , dan hanya sebesar 5,9% penduduk dengan pendidikan diploma tiga (D3) ke atas. Hal ini sesungguhnya bertolak belakang dengan keadaan yang seharusnya terjadi pada kota industry. Dengan kualifikasi penduduk seperti ini , sudah barang tentu akan menjadi problema bagi pengembangan kota Batam sebagai kota yang berbasis pada industry. Selain dari pada itu, dari informasi Disduk Capil Kota Batam diketahui semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah tingkat partisipasi sekolah. Pada jenjang pendidikan SLTP / sederajat tingkat partisipasi sekolah hanya 68,33% sedangkan SLTA / sederajat 69,63%. Keadaan ini menjelaskan bahwa kualitas sebagian penduduk Kota Batam masih rendah. Masih rendahnya kualitas penduduk Kota Batam inilah yang menjadi salah satu sebab masih rendahnya catatan peristiwa kependudukan di Kota Batam. Padahal salah satu hal yang menjadikan pencatatan penduduk yang sifatnyab dinamis menjadi baik sangat tergantung dari kualitas penduduknya.
Selain dari pada itu, sebagian besar penduduk yang berusia produktif bekerja pada industry tidak mempunyai waktu luang iuntuk mencatatkan even kependudukan disebabkan jam kerja yang sangat ketat.
Masih relative rendahnya tingkat pendidikan penduduk di Kota Batam dapat terjadi dikarenakan pada umumnya tenaga kerja yang dibutuhkan pada industry sebagian besar hanya sebagai buruh. Dengan posisi sebagai buruh maka pendidikan tidak menjadi hal yang penting. Sebagai kota industry, Batam membutuhkan banyak tenaga kerja. Kondisi ini dapat di lihat dari tabel berikut yang menjelaskan sebagian besar tenaga kerja (penduduk usia kerja) bekerja pada sektor industri.
Laporan Akhir 4- 36
Tabel 4.18 Jumlah tenaga kerja WNI dan WNA di Kota Batam menurut sektor ekonomi tahun 2010
Sektor perusahaan Jumlah WNI WNA Jumlah Persentase
Pria Wanita Pria Wanita
Pertanian 41 1.314 201 1.108 - 2.623 0.89
Pertambangan 24 375 37 25 1 438 0.15
Industry 1.689 73.282 94.164 2.508 164 170.118 57.98
Listrik, gas dan air 14 623 107 5 - 735 0.25
Bangunan 745 23.701 6.088 195 3 29.987 10.22
Perdagangan dan hotel 930 17.930 8.488 755 28 27.201 9.27 Pengangkutan dan komunikasi 155 2.597 637 11 1 3.246 1.11
Keuangan 321 10.102 9.712 103 3 19.920 6.79
Jasa-jasa 432 16.784 22.176 125 73 39.158 13.35
Jumlah/Total 4.351 146.708 141.610 4.835 273 293.416 100.00
Laporan Akhir 4- 37
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (57.98%) tenaga kerja bekerja pada sektor industry, dan pada umumnya adalah sebagai tenaga kasar dengan kualifikasi pendidikan menengah ke bawah.
Dari catatan Kantor Dinas Kependudukan dan catatan sipil Kota Batam, diketahui bahwa rata-rata migran masuk kekota Batam pada tahun 2011 adal 874 orang per bulan. Angka ini turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 2.176 orang perbulan. Tingginya angka migran masuk ke Kota Batam merupakan salah satu penyebab sulitnya dilakukan pendataan penduduk secara tepat, cepat dan akurat. Terlebih lagi entri
point ke kota Batam cukup banyak. Keadaan ini semakin mempersulit
pendataan penduduk. b. Kota Tanjung Pinang
Geografis
Kota Tanjungpinang berada di Pulau Bintan dengan letak geografis berada pada 00 51’ sampai dengan 0059’ Lintang Utara dan 104023’ sampai dengan 104034’ Bujur Timur. Batas-batas wilayah administrasi Kota Tanjungpinang adalah sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bintan dan Kota Batam - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bintan
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Batam
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bintan
Wilayah Kota Tanjungpinang mencapai 239,50 km2 dengan keadaan geologis sebagian berbukit-bukit dan lembah yang landai sampai ke tepi laut. Pada umumnya daerah Kota Tanjungpinang beriklim tropis dengan rata-rata temperatur udara sekitar 26,7 derajat celsius dan kelembaban udara sekitar 85 persen dengan rata-rata curah hujan 13,2 mm per hari
Laporan Akhir 4- 38
Demografi
Jumlah penduduk Kota Tanjungpinang pada tahun 2010 sebanyak 220.376 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk setiap tahun antara tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 sebesar 6,68 persen. Dilihat menurut wilayah kecamatan menunjukkan bahwa kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kecamatan Tanjungpinang Barat yaitu 1.743 jiwa/Km2.
Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Tanjungpinang Kota dengan kepadatan penduduk 443 jiwa/Km2
.
Tabel 4.19 : Luas Wilayah, Penduduk, dan Kepadatan Penduduk di Kota Tanjungpinang menurut Kecamatan, 2010
Kecamatan Luas Penduduk Kepadatan
1. Bukit Bestari 69 61.873 897 2. Tanjungpinang Timur 83,5 75.419 903 3. Tanjungpinang Kota 52,5 23.253 443 4. Tanjungpinang Barat 34,5 60.137 1.743 2010 239,5 220.682 921 2009 239,5 220.376 920 2008 239,5 208.258 870 2007 239,5 187.678 784 2006 239,5 170.412 712
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
Struktur umur penduduk Kota Tanjungpinang sebagian bersar merupakan masuk dalam struktur umur usia muda. Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel dibawah ini.
Laporan Akhir 4- 39
Tabel 4.20 : Jumlah Penduduk Kota Tanjungpinang menurut Umur dan Jenis Kelamin, 2010
Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah
0 – 4 7.856 7.317 15.173 5 – 9 11.515 10.615 22.130 10 – 14 9.676 9.067 18.743 15 – 19 8.729 8.303 17.032 20 – 24 8.464 8.366 16.830 25 – 29 11.275 11.760 23.035 30 – 34 12.411 12.634 25.045 35 – 39 10.917 10.582 21.499 40 – 44 8.795 7.774 16.569 45 – 49 6.896 6.412 13.308 50 – 54 5.366 4.896 10.262 55 – 59 3.907 3.708 7.615 60 – 64 2.486 2.551 5.037 65 – 69 1.829 1.799 3.628 70 – 74 1.272 1.292 2.564 75 ++ 936 1.276 2.212 Jumlah 112.330 108.352 220.682
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
Penduduk Kota Tanjungpinang usia 10 tahun ke atas sebagian besar (60,17 persen) dengan tingkat pendidikan tertinggi yaitu SLTP ke bawah. Sedangkan penduduk dengan pendidikan tertinggi SMA/MA/SMK/ Sederajat sebanyak 31,79 persen. Akses penduduk terhadap pendidikan tinggi semakin terbatas, hal ini tercermin dari penduduk Kota Tanjungpinang dengan pendidikan tertinggi Diploma I/II keatas sebesar 8,04 persen.
Laporan Akhir 4- 40
Tabel 4.21 : Persentase Penduduk 10 Tahun ke atas di Kota Tanjungpinang menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2010
Uraian Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Tidak/Belum Pernah Sekolah 0,9 1,88 2,78 2. Tidak/Belum Tamat SD 6,02 5,84 11,86 3. SD / MI / Sederajat 11,25 12,47 23,72 4. SLTP / MTs / Sederajat 12,01 9,8 21,81 5. SMU / MA / Sederajat 11,89 10,15 22,04 6. SMK 4,93 4,82 9,75 7. Diploma I/II 0,35 0,35 0,7
8. Diploma III / Sarjana Muda 1,08 1,71 2,79
9. Diploma IV / S1 2,16 2,17 4,33
10. S2 / S3 0,12 0,1 0,22
Jumlah 50,71 49,29 100
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
Penduduk usia 15 tahun ke atas merupakan penduduk usia kerja, namun demikian pada kelompok umur ini tidak semua penduduk memutuskan untuk bekerja. Jika penduduk tersebut ada keinginan untuk bekerja maka dapat dikategorikan sebagai angkatan kerja. Namun, jika penduduk tersebut tidak memiliki keinginan untuk bekerja maka ia masuk dalam kategori bukan angkatan kerja. Penduduk usia kerja dengan status bekerja sebanyak 55,7 persen dan mencari pekerjaan sebanyak 4,94 persen. Penduduk Kota Tanjung pinang yang termasuk dalam bukan angkatan kerja aktivitasnya antara lain yang bersekolah sebanyak 11,52 persen, mengurus rumah tangga sebanyak 23,69 persen, dan lainnya sebanyak 4,11 persen.
Laporan Akhir 4- 41
Tabel 4.22 : Persentase Penduduk 15 Tahun ke atas di Kota Tanjungpinang Menurut Jenis Kelamin dan Kegiatan Utama Seminggu yang Lalu, 2010
Keterangan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Angkatan Kerja
- Bekerja 37,89 17,81 55,7
-Mencari Pekerjaan 2,73 2,25 4,98
2. Bukan Angkatan Kerja
-Sekolah 5,93 5,59 11,52
-Mengurus Rumah Tangga 0,76 22,93 23,69
-Lainnya 3,15 0,96 4,11
Jumlah 50,46 49,54 100
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
Sektor ekonomi yang banyak menyerap kesempatan kerja di Kota Tanjungpinang adalah sektor perdagangan, rumah makan dan hotel yaitu 39,62 persen. Tumbuhnya perekonomian Kota Tanjungpinang telah mendorong berkembangnya aktivitas jasa kemasyarakatan, sosial dan perseorangan. Pada tahun 2010 sektor ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 26,73 persen. Sebagai wilayah kota, maka kegiatan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, perumahan, dan perkantoran terus mengalami peningkatan. Penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur perkotaan telah membuka kesempatan kerja pada sektor bangunan yang mampu menyerap kesempatan kerja sebesar 12,66 persen. Sektor transportasi juga mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10,14 persen.
Laporan Akhir 4- 42
Tabel 4.23 : Persentase Penduduk 15 Tahun ke atas di Kota Tanjungpinang yang Bekerja Seminggu yang Lalu menurut Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin, 2010
Lapangan Usaha Persentase 1. Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Perikanan 1,91
2. Pertambangan dan Penggalian 0,37
3. Industri Pengolahan 6,17
4. Listrik dan Air 0,47
5. Bangunan 12,66
6. Perdagangan, Rumah Makan, dan Hotel 39,62 7. Angkutan, Pergudangan, dan Komunikasi 10,14 8. Keuangan, Asuransi, dan Usaha Persewaan 1,93 9. Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perseorangan 26,73
Jumlah 100
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
Perekonomian Daerah
Struktur ekonomi Kota Tanjungpinang dipegang oleh empat sektor kunci yaitu sektor perdagangan, bangunan, pengangkutan dan industri pengolahan. Peranan masing-masing sektor tersebut adalah perdagangan sebesar 29,24 persen, bangunan sebesar 18,99 persen, pengangkutan sebesar 16,69 persen, dan industri pengolahan sebesar 15, 63 persen. Meningkatnya kegiatan perdagangan juga diimbangi dengan meningkatnya peran sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahan yaitu sebesar 7,73 persen. Namun demikian, perkembangan Kota Tanjungpinang belum diimbangi dengan penyediaan kebutuhan listrik yang cukup, dimana peranannya baru sebesar 0,79 persen.
Laporan Akhir 4- 43
Tabel 4.24 : Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tanjungpinang Menurut Lapangan Usaha, 2010
Lapangan Usaha Persentase 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 1,83 2. Pertambangan dan Penggalian 0,06
3. Industri Pengolahan 15,63
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,79
5. Bangunan 18,99
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 29,24 7. Pengangkutan & Komunikasi 16,69 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 7,73
9. Jasa - Jasa 9,04
Jumlah 100,00
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
Laju pertumbuhan ekonomi Kota Tanjungpinang pada tahun 2010 sebesar 7,08 persen. Sektor listrik, gas dan air bersih merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi yaitu 20,88 persen. Tingginya pertumbuhan listrik gas dan air bersih bertujuan untuk mengimbangi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya yang sangat tergantung pada tersedianya pasokan listrik yang cukup. Sebagaimana daerah kota pada umumnya peranan sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan relatif rendah, demikian juga di Kota Tanjungpinang sektor pertanian tumbuh sebesar 2,78 persen. Sektor industri merupakan sektor yang dapat meningkatkan nilai tambah lebih besar dibandingkan dengan sektor yang lainnya. Pada tahun 2010 sektor industri pengolahan mampu tumbuh sebesar 5,94 persen.
Laporan Akhir 4- 44
Tabel 4.25 : Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kota Tanjungpinang Menurut Lapangan Usaha, 2010
Lapangan Usaha Persentase 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 2,78 2. Pertambangan dan Penggalian 3,41
3. Industri Pengolahan 5,94
4. Listrik, Gas & Air Bersih 20,88
5. Bangunan 9,69
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 6,90 7. Pengangkutan & Komunikasi 6,80 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 7,98
9. Jasa - Jasa 6,07
Jumlah 7,08
Sumber : BPS, Tanjungpinang Dalam Angka 2011
2. Isu dan Permasalahan Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Perkotaan
Isu-Isu pembangunan kependudukan pada wilayah perkotaan di Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut :
a. Laju pertumbuhan penduduk pada wilayah perkotaan cukup tinggi Misalnya pada Kota Tanjungpinang laju pertumbuhan penduduk setiap tahun mencapai 6,68 persen dan Kota Batam sebesar 7,68 persen. Jika pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan dikhawatirkan pada masa yang akan mendatang dapat menimbulkan permasalahan perkotaan seperti pemukiman kumuh, dan pengangguran.
b. Sebaran penduduk yang tidak merata.
Sebaran penduduk yang tidak merata bukan hanya persoalan Kota Batam, akan tetapi juga terjadi dihampir seluruh wilayah di Indonesia.
Laporan Akhir 4- 45
Hal ini menjadikan sulitnya pencatatan penduduk.serta akan semakin sulit mengingat geografi dan topografis Kota Batam.
c. Sebagian besar penduduk masih berpendidikan menengah ke bawah. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk perkotaan tercermin dari penduduk berusia 10 tahun ke atas di Kota Tanjungpinang dengan pendidikan tertinggi SLTP ke bawah sebanyak 60,17 persen.
d. Dari pengamatan dilapangan, diketahui bahwa rendahnya pencatatan penduduk di kota Batam (contah pencatatan E-KTP) disebabkan oleh beberapa hal : (1) Sebagian besar penduduk bekerja di sektor industri. Pada sektor industry jam kerja sangat ketat sehingga tidak ada waktu bagi pekerja untuk mencatatkan dirinya ke petugas pencatatan (instansi), (2) Sangat beragamnya etnis yang terdapat di Kota Batam serta sebagian besar masih dengan pendidikan menengah ke bawah, sehingga masih kurangnya kesadaran mengenai pentingnya arti data kependudukan. (3) Tingginya arus masuk dan keluar penduduk ke dan dari kota Batam yang didukung banyaknya pintu masuk sehingga perkembangan penduduk di Kota Batam sangat dinamis (3) Persoalan masih lemahnya pendataan penduduk di Kota Batam, salah satunya disebabkan olek masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya data kependudukan untuk berbagai perencanaan pembangunan sebagai akibat masih rendahnya kualitas penduduk. e. Sektor kunci yang banyak menyerap kesempatan kerja di wilayah
perkotaan adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor industri. Namun demikian, perkembangan sektor ini masih diwarnai dengan pasokan energi listrik, gas dan air bersih pada umumnya masih belum optimal.
Laporan Akhir 4- 46
C. Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Pengembangan Pusat-Pusat Pertumbuhan Melalui Pengembangan Kawasan Strategis.
Berdasarkan strategi pengembangan kewilayahan di dalam RPJMN 2010-2014 yang terkait dengan Provinsi Kepulauan Riau, Bintan dan Karimun merupakan salah satu lokasi Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas (KPBPB) dari 4 lokasi di pulau Sumatera yang dilalui jalur perdagangan internasional dan menjadi buffer Negara maju di sekitarnya.
Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan melalui pengembangan kawasan strategis diarahkan untuk mencapai suatu pengelompokan kawasan fungsional yang memberikan backward dan forward linkages serta
multiplier effects bagi daerah di sekitar kawasan tersebut secara regional,
nasional, dan internasional untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi daerah sehingga dapat meminimalisasi ketimpangan pembangunan antardaerah.
Dalam pembangunan dan pengembangan kawasan strategis sebagai pusat pertumbuhan, dibutuhkan sinergisme dan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta badan pengelola kawasan dalam lingkup perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan. Dalam rangka optimalisasi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan
multiplier effects bagi daerah sekitar baik dalam skala regional, nasional,
maupun internasional, dibutuhkan dukungan dan intervensi kegiatan pembangunan yang multisektor dalam mewujudkan pengembangan kawasan strategis dan dukungan terhadap pengembangan kawasan ekonomi khusus sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.
Laporan Akhir 4- 47
Dalam mendukung Kabupaten Bintan dan Karimun sebagai pengembangan pusat pertumbuhan melalui pengembangan kawasan strategis, maka perlu didukung dengan faktor produksi yang berkualitas. Diantara faktor produksi yang dibutuhkan bagi pengembangan pusat pertumbuhan tersebut adalah penduduk. Kinerja pembangunan sumberdaya manusia penduduk suatu wilayah dapat tercemin dari indeks pembangunan manusianya.
Wilayah Kabupaten Bintan dan Karimun yang berada disekitar Kota Batam dan Kota Tanjung pinang menjadikan penduduk diwilayah ini relatif lebih mudah untuk mengakses pelayanan pendidikan, kesehatan dan peningkatan daya belinya. Pada tahun 2010, Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bintan mencapi 74,44 poin dan Kabupaten Karimun mencapai 73,64 poin. Tingkat pendidikan penduduknya yang relatif baik diharapkan akan mempermudah proses tranformasi daerah Kabupaten Bintan dan Karimun sebagai pengembangan pusat pertumbuhan melalui pengembangan kawasan strategis. Daya beli penduduk Kabupaten Bintan sebesar Rp. 646.570 dan Kabupaten Karimun Rp. 637.790 diharapkan mampu meningkatkan permintaan agregat wilayah yang akan mendorong penawaran agregat.
Tabel 4.26 : Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Pengembangan Pusat-pusat pertumbuhan melalui Pengembangan Kawasan Strategis di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010
Kabupaten/Kota Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Melek Huruf (%) Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) Pengeluaran Perkapita Disesuaikan IPM Bintan 69,71 95,09 8,63 646,57 74,44 Karimun 69,91 95,82 8,09 637,79 73,64
Laporan Akhir 4- 48
1. Kondisi Umum
a. Kabupaten Bintan
Geografis
Kabupaten Bintan sebelumnya merupakan Kabupaten Kepulauan Riau, yang mempunyai ciri khas terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar di Lautan Cina Selatan dengan julukan kepulauan “Segantang Lada”. Berdasarkan UU No. 53 tahun 1999 dan UU No. 13 tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3 kabupaten yang terdiri dari, Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna. Berdasarkan PP No. 5 Tahun 2006, tanggal 23 Februari 2006 nama Kabupaten Kepulauan Riau berubah nama menjadi Kabupaten Bintan dengan ibukotanya Kijang, Kecamatan Bintan Timur.
Daerah Kabupaten Bintan merupakan bagian dari paparan continental yang terkenal dengan “Paparan Sunda” yang membentang dari Semenanjung Malaysia dibagian Utara sampai pulau Bangka dan Belitung dibagian Selatan. Berdasarkan PP No. 11 tahun 2007 dan Perda No. 12 tahun 2007 berisi tentang pembentukan kecamatan, desa/kelurahan baru di Kabupaten Bintan, hingga saat ini masih memiliki 10 wilayah kecamatan dengan 36 desa dan 15 kelurahan yang tersebar di Pulau Bintan dan pulau-pulau sekitarnya, serta terdiri dari 196 RW dan 592 RT.
Luas wilayah Kabupaten Bintan 88.038,54 km2, dan hanya 2,21% (1.946,13 km2) daratan dan luas lautan 86.092,41 km2. Kecamatan Gunung Kijang adalah daerah yang terluas 344,28 km dan yang terkecil adalah Kecamatan Tambelan 90,96 km. Kabupaten Bintan terdiri dari 240 pulau besar dan kecil daan hanya 39 pulau yang baru berpenghuni, namun pulau lainnya ada yang dimanfaatkan untuk pertanian khususnya untuk usaha perkebunan
Laporan Akhir 4- 49
Demografi
Distribusi penduduk Kabupaten Bintan Menurut wilayah terkonsentrasi di Kecamatan Bintan Timur sebanyak 39.006 jiwa atau 27,4 persen dan Bintan Utara sebanyak 21.193 jiwa. Sedangkan wilayah kecamatan dengan jumlah penduduk terendah terdapat di Kecamatan Mantang sebanyak 3.896 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 2.128 jiwa dan perempuan sebanyak 1.768 jiwa. Konsentrasi penduduk pada wilayah tertentu menyebabkan tingkat kepadatan penduduk pada wilayah tersebut meningkat. Tingkat kepadatan penduduk Kecamatan Bintan Utara pada tahun 2010 yaitu 97 jiwa/km, kepadatan tersebut lebih tinggi dari tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Bintan Timur yaitu 85 jiwa per Km2.
Tabel 4.27 : Jumlah Penduduk Kabupaten Bintan Menurut Luas, Jenis Kelamin, Kepadatan dan Kecamatan Tahun 2010
N0. Kecamatan Wilayah Luas
Penduduk
Total Jenkel Rasio Kepa-datan
Laki-laki Perem-puan
1 Teluk Bintam 185,00 4.755 4.179 8.934 114 48
2 Seri Kuala Lobam ..¹) 8.029 9.603 17.632 84 .. ¹)
3 Bintan Utara 219,25 10.643 10.550 21.193 101 97 4 Teluk Sebong 408,34 8.527 7.492 16.019 114 39 5 Bintan Timur 461,00 20.319 18.687 39.006 109 85 6 Bintan Pesisir .. ¹) 4.390 3.615 8.005 121 .. ¹) 7 Mantang .. ¹) 2.128 1.768 3.896 121 .. ¹) 8 Gunung Kijang 503,12 6.575 5.432 12.007 121 24 9 Toapaya .. ¹) 5.731 4.902 10.633 117 .. ¹) 10 Tambelan 169,42 2.568 2.407 4.975 107 29 Jumlah 1.946,13 73.665 68.635 142.300 107 73
¹) Bergabung dengan kecamatan induk Sumber : BPS, Bintan Dalam Angka 2011