RINGKASAN
Oleh:
MOHAMMAD SHOIMUS SHOLEH
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN SOSIAL EKONOMI PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
MIN
Diajukan Ge
Oleh:
MOHAMMAD SHOIMUS SHOLEH 0810440241
INAT SOSIAL EKONOMI PERTANIAN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
SKRIPSI
an sebagai salah satu syarat untuk mempero Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1)
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN SOSIAL EKONOMI
MALANG 2012
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Malang, Juli 2012
Judul Skripsi : Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor
Produksi Usahatani Wortel (Daucus carota L) di Kecamatan
Bumiaji Kota Batu
Nama Mahasiswa : Mohammad Shoimus Sholeh
NIM : 0810440241
Program Studi : Agribisnis
Jurusan : Sosial Ekonomi Pertanian
Menyetujui : Dosen Pembimbing
Pembimbing Utama,
Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, MS NIP. 19581128 198303 1 005
Pembimbing Pendamping,
Rosihan Asmara, SE. MP NIP. 19710216 200212 1 001
Mengetahui,
Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
Dr. Ir. Syafrial, MS
NIP. 19580529 198303 1 001
Mengesahkan
MAJELIS PENGUJI
Penguji I
Dr. Ir. Syafrial, MS
NIP. 19580529 198303 1 001
Penguji II
Nur Baladina, SP, MP
NIP. 19820214 200801 2 012
Penguji III
Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, MS NIP. 19581128 198303 1 005
Penguji IV
Rosihan Asmara, SE. MP NIP. 19710216 200212 1 001
RINGKASAN
Mohammad Shoimus Sholeh. 0810440241. ANALISIS EFISIENSI
ALOKATIF PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI
USAHATANI WORTEL (Daucus carota L) DI KECAMATAN BUMIAJI, KOTA BATU. Di bawah bimbingan, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS. dan Rosihan Asmara, SE. MP.
Wortel merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Wortel banyak diminati petani karena mudah perawatannya dan biaya yang dibutuhkan untuk memulai usahatani terjangkau dari kalangan bawah ke atas. Kota Batu merupakan salah satu daerah di Jawa Timur dan memiliki potensi di bidang pertanian khususnya tanaman wortel. Pada tahun 2007, Kota Batu menduduki peringkat ketiga produksi wortel terbesar setelah Pasuruan dan Malang dengan produksi sebesar 6900 ton.
Wortel sangat cocok dibudidayakan pada dataran tinggi atau perbukitan dengan kondisi tanah yang gembur dan subur, yang mana sesuai dengan keadaan lahan pertanian di Kecamatan Bumiaji yang berada pada dataran tinggi dan subur yaitu 1.000 - 1.700 m dpl dan sesuai dengan karakteristik tempat untuk budidaya tanaman sayur terutama wortel yaitu 1.200 - 1.500 m dpl. Kecamatan Bumiaji merupakan sentra penghasil wortel di Kota Batu karena memiliki produksi dan luas lahan terbesar dibandingkan dengan kecamatan lainnya dengan luas lahan 444,8 ha, produksi mencapai 6.733,5 ton dan produktivitas sebesar 15 ton/ha. Tanaman wortel yang baik dan dipelihara secara intensif dapat menghasilkan umbi antara 20 - 30 ton/ha (Hanum,2008). Maka dari itu petani masih dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman wortel dengan penggunaan segala faktor produksi yang efisien, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
Permasalahan petani dalam usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji yaitu tidak efisiennya dalam penggunaan faktor-faktor produksi pada proses pembudidayaan wortel mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen. Penggunaan faktor-faktor produksi antar petani berbeda. Petani yang memiliki modal akan berusaha mendapatkan produksi wortel yang besar dengan pengalokasian faktor produksi yang besar pula, sedangkan petani yang keterbatasan modal akan cenderung meminimalkan penggunaan faktor produksi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi tidak efisien. Menurut Soekartawi (2002), ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengalokasikan sumberdaya secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.
wortel secara parsial dilihat dari nilai thitung atau besaran signifikansinya dengan uji t. Untuk mengetahui efisiensi alokatif dengan melihat nilai produk marginal (NPM). Sedangkan untuk mengetahui pendapatan petani menggunakan analisis pendapatan. Hasil yang diperoleh yaitu:
1. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani wortel adalah benih, pestisida dan tenaga kerja dimana nilai thitung benih 1,72, pestisida 2,514 dan tenaga kerja 5,353 > ttabel 1,67. Sementara itu, faktor penggunaan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi wortel karena nilai thitung 0,746 < ttabel 1,67.
2. Dari hasil analisis diketahui bahwa NPMx/Px untuk penggunaan benih > 1 yaitu 3,94, sehingga alokasi penggunaan benih di daerah penelitian belum efisien. NPMx/Px untuk alokasi penggunaan pestisida < 1 yaitu sebesar 0,94, sehingga penggunaan pestisida di daerah penelitian tidak efisien. NPMx/Px untuk penggunaan tenaga kerja > 1 yaitu 2,17, sehingga alokasi penggunaan tenaga kerja di daerah penelitian belum efisien.
3. Rata-rata total penerimaan petani wortel di daerah penelitian sebesar Rp. 58.197.350,- dan rata-rata total biaya sebesar Rp. 25.434.007,-, sehingga diperoleh pendapatan usahatani wortel sebesar Rp. 32.763.343,- per hektar dalam satu musim tanam. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu menguntungkan.
Saran yang bisa diberikan dari hasil penelitian adalah (1) untuk mengatasi belum optimalnya penggunaan benih dan tenaga kerja, maka petani dapat menambah penggunaannya. Dengan menghitung NPMx/Px, penggunaan benih dalam luasan 1 hektar sebesar 35 kg dan tenaga kerja sebesar 607,19 HOK. Penggunaan faktor produksi di atas akan efisien secara alokatif dengan syarat produksi dan harga wortel, serta harga faktor-faktor produksi tidak berubah. (2) Dengan menggunakan pestisida nabati maka dapat mengurangi biaya produksi, tidak membasmi predator dan tidak merusak lingkungan, sehingga dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Tanaman sebagai pestisida nabati yang bisa dimanfaatkan antara lain Tembakau, sirsak, bawang putih, cabai merah, kemangi, nimba, cengkeh, biji srikaya dan sebagainya.
SUMMARY
Mohammad Shoimus Sholeh. 0810440241. ANALYSIS ALLOCATIVE EFFICIENCY OF PRODUCTION FACTORS USAGE IN CARROT FARMING (Daucus carota L) AT BUMIAJI SUB DISTRICT, BATU CITY. Supervised by Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS and Rosihan Asmara, SE. MP
Carrots are vegetables that have high economic value. Carrot much interested by the farmers because of its easy maintenance and cost needed to start farming affordable from the bottom to the top. Batu is one of the areas in East Java and has the potential of agricultural crops, especially carrots. In 2007, Batu was ranked the third largest carrot production after Pasuruan and Malang with production of 6900 tons.
Carrots are very suitable cultivated in the highlands or hills with loose soil conditions and fertile, which is appropriate with the state of agricultural land in the District of Bumiaji located on the fertile plateau and 1000-1700 m above sea level and in accordance with the characteristics of a place for the cultivation of vegetable crops, especially carrot is 1200-1500 m above sea level. District of Bumiaji is producer of carrots in the center Batu because it has the largest area of production and compared to other districts with total area of 444.8 ha, production reached 6733.5 tons and productivity as much as 15 tons / ha. A good crop of carrots and maintained intensively can produce bulbs between 20-30 tones / ha (Hanum, 2008). Thus the farmers are still able to increase production and productivity of carrot plants with the use of all factors of production efficiently, so it can increase farmers' income.
The problem of farmers in carrot farming in the District of Bumiaji is the inefficient in the use of production factors in the cultivation of carrots ranging from land preparation, planting, and maintenance until harvest. The use of factors of production between farmers is different. Farmers who have capital will try to get a big carrot production with a large allocation of production factors as well; while farmers are limited capital will tend to minimize the use of factors of production to reduce costs. This indicates that the use of production factors is inefficient. According to Soekartawi (2002), the science of farming is defined as the science of allocating resources effectively and efficiently for the purpose of obtaining high profits at a particular time.
1. Production factors that significantly influenced the production of carrot farming are seed, pesticide and labor in which the value t count seed is 1.72, pesticide is 2.514 and labor is 5.353> 1.67 T Table. Meanwhile, the factors do not significantly affect the use of fertilizers on the production of carrot because t count value 0.746 <1.67 T Table.
2. From the analysis is known that NPMx / Px for the use of seed is> 1 is 3.94, so the allocation of seeds in the study area has not been efficient. NPMx / Px for the allocation of the use of pesticide is <1 is equal to 0.94, so the use of pesticides in the study area is inefficient. NPMx / Px for the use of labor> 1 is 2.17, so the allocation of labor in the study area has not been efficient.
3. The average total revenue carrot farmers in the study area is Rp. 58,197,350, - and the average total cost amounted to Rp. 25,434,007, -, in order to obtain a carrot farm income amounted to Rp. 32,763,343, - per hectare in one cropping season. This indicates that average of carrot farming in the District of Bumiaji Batu is profitable.
Advice that can be given from the results of the study were (1) to overcome the non optimal use of seeds and labor, the farmers can increase their use. By calculating NPMx / Px, the use of seeds in an area of 1 hectare is 35 kg and 607.19 HOK of employment. The use of production factors above will be locative efficiency in terms of production and the price of carrots, as well as the price of factors of production unchanged. (2) By using a pesticide plant then it can reduce production costs, not eradicate predators and do not damage the environment, thus increasing production and incomes of farmers. Vegetable crops as a pesticide that can be used include Tobacco, soursop, garlic, red pepper, basil, neem, clove, Sugar-apple seeds and so on.
Keywords: Carrot, Farming, Factor of Production, Efficiency, Value of Marginal
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah, puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan skripsi yang berjudul ”Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan
Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel (Daucus carota L) Studi Kasus di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu”. laporan skripsi ini disusun sebagai
persyaratan menyelesaikan jenjang S-1 di Program Studi Agribisnis Pertanian,
Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.
Terima kasih kepada semua pihak atas segala bantuan baik berupa pendapat,
saran, dukungan moril dan do’a, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
skripsi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS selaku dosen pembimbing I yang
telah memberikan arahan dan saran kepada penulis dalam menyusun skripsi.
2. Bapak Rosihan, SP. MP selaku dosen pembimbing ke-II yang telah memberi
masukan dan arahan kepada penulis untuk penyususnan hasil skripsi dan
memberi bimbingan selama kegiatan proses pembuatan skripsi.
3. Seluruh karyawan dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang telah
mendidik dan memberikan ilmu untuk keberlangsungan pencapaian yang baik.
4. Kedua orang tua tercinta yang selalu memberi dukungan baik melalui do’a,
materi dan semangat atas kelancaran selama proses perkuliahaan mulai dari
awal kuliah sampai dalam proses penyususnan skripsi.
5. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan
skrispi.
Menyadari adanya keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan informasi,
penulis sangat mengharapkan saran dan masukan agar laporan skripsi ini menjadi
lebih baik. Semoga apa yang tertulis dalam laporan skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis dan pembaca.
Malang, Juli 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis di lahirkan di Desa Tambung Kecamatan Pademawu Kabupaten
Pamekasan. Sebagai anak ke dua dari empat bersaudara dan anak dari Bapak
Mohammad Amin dan Ibu Syahriyah. Penulis mempunyai hobi membuat cerpen,
kata-kata humoris, puisi dan catatan-catatan motivasi, serta membuat video.
Sekolah di SDN Tambung pada tahun 1996 - 2002, kemudian melanjutkan
ke SMPN 5 Pamekasan pada tahun 2002 - 2005. Selanjutnya meneruskan di
SMAN 2 Pamekasan pada tahun 2005 - 2008.
Penulis menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya Fakultas Pertanian
Program Studi Agribisnis, pada tahun 2008. Selama menjadi mahasiswa
Universitas Brawijaya, penulis sering aktif di organisasi dan kegiatan-kegiatan
kampus. Organisasi yang di ikuti yaitu Forum Studi Islam Insan Kamil
(FORSIKA) tahun 2008 - 2009 dan pada tahun 2009 – 2010, menjadi ketua
Kesektariatan di FORSIKA.
Kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang pernah diikuti yaitu Program
Mahasiswa Wirausaha (PMW) Universitas Brawijaya (2010-2011) sebagai
penerima dana usaha. Lomba catur di Universitas Brawijaya sebagai perwakilan
DAFTAR ISI
2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 12
III. METODE PENELITIAN ... 15
3.4.2 Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas ... 18
3.4.3 Uji Asumsi Klasik ... 18
3.4.4 Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Wortel ... 20
3.4.5 Analisi Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani Wortel ... 21
4.2 Karakteristik Petani Responden ... 28
4.2.1 Usia Petani Responden ... 28
4.2.2 Tingkat Pendidikan Petani Responden ... 28
4.2.3 Luas Lahan Petani Responden ... 29
4.2.5 Jumlah Tanggungan Keluarga ... 30
4.2.6 Pekerjaan Sampingan... 31
4.3 Analisis Fungsi Produksi Usahatani Wortel ... 31
4.3.1 Uji Normalitas ... 32
4.3.2 Uji Heteroskedasitas ... 32
4.3.3 Uji Multikolinearitas ... 33
4.3.4 Uji Autokorelasi ... 33
4.3.5 Pengujian Terhadap Model Regresi... 34
4.4 Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel ... 38
4.5 Analisis Pendapatan Usahatani Wortel ... 40
4.5.1 Biaya Usahatani Wortel ... 40
4.5.2 Penerimaan Usahatani Wortel ... 46
4.5.3 Pendapatan Usahatani Wortel ... 46
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 48
5.1 Kesimpulan ... 48
5.2 Saran ... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 50
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman Teks
1. Luas Area Tanam, Panen, Produksi dan Produktivitas Wortel di Jawa
Timur Tahun 2000-2010 ... 2
2. Luas Area Tanam, Panen, Produksi dan Produktivitas di Kota Batu Tahun 2010 ... 3
3. Jumlah Petani Wortel di Dusun Jurangkwali, Desa Sumber Brantas dan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 16
4. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 24
5. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 25
6. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011... 25
7. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 26
8. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011... 27
9. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Matapencaharian di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 27
10. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Golongan Usia di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 28
11. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 28
12. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Luas Lahan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 29
13. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 30
14. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 30
15. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Pekerjaan Sampingan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 31
16. Hasil Uji Heteroskedasitas ... 32
17. Hasil Uji Multikolinearitas ... 33
18. Hasil Uji Regresi ... 34
19. Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-faktor Produksi Usahatani Wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu ... 38
20. Rata-Rata Biaya Tetap Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 40
21. Rata-Rata Biaya Variabel Untuk Sarana Produksi Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 41
23. Rata-Rata Biaya Variabel Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 45 24. Rata-Rata Total Biaya Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim
Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 46 25. Rata-Rata Total Biaya Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim
Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 47
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman Teks
1. Kerangka Pemikiran Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman Teks
1. Peta Kecamatan Bumiaji ... 53
2. Quisioner Untuk Responden ... 54
3. Karakteristik Responden ... 58
4. Peralatan Usahatani ... 59
5. Sarana Produksi Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 60
6. Penggunaan Tenaga Kerja Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 62
7. Produksi Usahatani dalam Satu Musim Tanam ... 65
8. Biaya Tetap Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 66
9. Biaya Variabel Untuk Sarana Produksi Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 68
10. Biaya Variabel Untuk Tenaga Kerja Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 71
11. Total Biaya Variabel Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 74
12. Total Biaya, Penerimaan dan Pendapatan Petani Wortel Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 76
13. Analisis Usahatani Wortel Per Hektar Dalam Satu Musim Tanam Di Kecamatan Bumiaji Kota Batu... 78
13. Uji Asumsi Klasik ... 79
14. Uji Regresi ... 80
15. Hasil Perhitungan Efisiensi Alokatif ... 81
I. PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Pertanian merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan. Sektor pertanian
sangat berpengaruh terhadap berkembangnya sektor lain (non-pertanian),
sehingga memiliki peranan penting bagi perkembangan perekonomian khususnya
di Indonesia. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi
yang nyata melalui pembentukan capital, penyediaan bahan pangan, bahan baku
industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara,
sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang
ramah lingkungan (Kementrian Pertanian, 2009). Di samping penyedia lapangan
kerja, sektor pertanian juga penghasil non migas dan bahan baku bagi industri.
Peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian sangat diperlukan untuk
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani.
Wortel merupakan salah satu sayuran yang banyak di budidaya di
Indonesia. Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer
sebagai sumber vitamin A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). Selain
itu, wortel juga mengandung vitamin B, C, sedikit vitamin G, serta zat-zat lain
yang bermanfaat bagi kesehatan manusia (Hanum, 2008). Tanaman wortel
membentuk daun roset dan akar tunggang lumbung besar berdaging. Daun yang
muncul dari batang memiliki tangkai daun panjang yang membesar. Lembar
daunnya terbagi secara berulang dengan segmen lembar daun kecil, sempit dan
sangat terbelah. Akar tunggang, awalnya panjang, ramping, tumbuh vertikal,
mulai memanjang dengan cepat dan mencapai panjang potensialnya dalam 12-24
hari setelah berkecambah.
Produksi dan produktivitas wortel di Jawa Timur fluktuatif. Produksi dan
produktivitas terendah pada tahun 2002 dengan luas panen 2.119 ha menghasilkan
produksi sebesar 18.020 ton dengan produktivitas 85,04 ku/ha. Pertumbuhan
produksi dan produktivitas terbesar pada tahun 2010 yaitu dengan luas panen
3.597 ha menghasilkan produksi 53.798 ton dengan produktivitas 149,6 ku/ha, hal
tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tanaman wortel semakin meningkat.
Luas area tanam panen, produksi dan produktivitas wortel di Jawa Timur pada
Tabel 1. Luas Area Tanam, Panen, Produksi Dan Produktivitas Wortel di Jawa
Sumber : Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2011)
Kota Batu merupakan salah satu daerah yang berada di Jawa Timur dan
memiliki potensi di bidang pertanian khususnya tanaman wortel. Berdasarkan data
Dinas Pertanian Jawa Timur (2011), pada tahun 2007, Kota Batu menduduki
peringkat ketiga luas panen dan produksi terbesar setelah Pasuruan dan Malang
dengan luas panen 452 ha dan produksi sebesar 6.900 ton, serta memliki
produktivitas terbesar ketiga yaitu sebesar 15,26 ton/ha setelah Mojokerto dengan
produkstivitas sebesar 22,18 ton/ha dan ponorogo dengan produkstivitas 18,13
ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Batu memiliki potensi dalam usahatani
wortel dan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman wortel
dengan penggunaan faktor produksi yang efisien.
Kecamatan Bumiaji merupakan sentra penghasil wortel di Kota Batu
karena memiliki produksi dan luas lahan terbesar dibandingkan dengan kecamatan
lainnya di Kota Batu dengan luas lahan 444,8 ha, produksi mencapai 6.733,5 ton
dan produktivitas sebesar 15 ton/ha. Luas tanam di Kecamatan Batu hanya 13,05
ha dengan produksi 138,591 ton dan produktivitas sebesar 10,62 ton/ha,
sedangkan di Kecamatan Junrejo tidak membudidayakan wortel. Hal ini
mencerminkan bahwa usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji memiliki potensi
yang bagus dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Batu. Luas area
tanam, panen, produksi dan produktivitas di tiap-tiap kecamatan di Kota Batu
Tabel 2. Luas Area Tanam, Panen, Produksi Dan Produktivitas di Kota Batu
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu (2011)
Pada Tabel 2, produktivitas wortel di Kecamatan Bumiaji paling tinggi di
bandingkan dengan kecamatan. Tanaman wortel yang baik dan dipelihara secara
intensif dapat menghasilkan umbi antara 20 - 30 ton/ha (Hanum,2008). Makadari
itu petani masih dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman wortel
dengan penggunaan segala faktor produksi yang efisien, sehingga dapat
meningkatkan pendapatan petani.
Penduduk di Kecamatan Bumiaji rata-rata bermata pencaharian sebagai
petani dan salah satu tanaman yang banyak di budidaya yaitu tanaman sayur.
Wortel sangat cocok dibudidayakan pada dataran tinggi atau perbukitan dengan
kondisi tanah yang gembur dan subur, yang mana sesuai dengan keadaan lahan
pertanian Kecamatan Bumiaji yang berada pada dataran tinggi dan subur. Wortel
merupakan salah satu tanaman sayuran yang diminati oleh petani. Wortel
merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Tanaman wortel tergolong tanaman yang perawatannya cukup mudah. Resiko
kegagalan bertanam wortel umumnya sangat kecil bila dibandingkan dengan
tanaman sayuran lainnya. Skala usahatani wortel sangat bervariasi, mulai dari luas
lahan yang digunakan, pengolahan dan perlakuan lahan, perawatan sampai dengan
obat-obatan yang digunakan. Wortel banyak diminati petani karena mudah
perawatannya dan biaya yang dibutuhkan untuk memulai usahatani terjangkau
dari kalangan bawah ke atas. Panen wortel biasanya umur 3,5 – 4 bulan, akan
tetapi di daerah penelitian umur panen bisa mencapai umur 5 bulan, hal ini terjadi
karena petani ingin mencapai harga yang tinggi. Jika pada saat umur 3,5 – 4 bulan
harga wortel rendah, maka petani tidak memanen wortel. Petani membiarkan
wortel sampai umur 5 bulan untuk mendapatkan harga yang maksimal.
Upaya peningkatan produksi wortel bertujuan untuk meningkatkan
efisiennya dalam penggunaan segala faktor produksi pada proses pembudidayaan
wortel mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen.
Perlakuan dalam penggunaan segala faktor produksi antar petani berbeda. Petani
yang memiliki modal akan berusaha mendapatkan produksi wortel yang banyak
dengan penggunaan faktor produksi yang besar, sedangkan petani yang
mempunyai keterbatasan modal cenderung meminimalkan penggunaan faktor
produksi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa
penggunaan faktor-faktor produksi tidak efisien, sehingga berdampak
menurunnya output dan pendapatan yang diperoleh petani.
Oleh karena itu, diambil judul penelitian “Analisis Efisiensi Alokatif
Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel Di Kecamatan Bumiaji
Batu”, agar diketahui faktor-faktor produksi yang sangat berpengaruh terhadap
produksi wortel, serta berapa penggunaan faktor produksi yang optimal untuk
mencapai tefisiensi alokatif, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan
pendapatan petani wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
1.2 Rumusan Masalah
Potensi pertanian terutama sayuran di Kecamatan Bumiaji Kota Batu
sangat bagus sesuai tempatnya yang berada di dataran tinggi yaitu 1.000 - 1.700 m
dpl dan sesuai dengan karakteristik tempat untuk budidaya tanaman sayur
terutama wortel yaitu 1.200 – 1.500 m dpl. Penggunaan faktor produksi yang tepat
akan menghasilkan produksi dari usahatani yang maksimal, sehingga akan
berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diterima petani. Produksi tanaman
wortel tergolong bagus, akan tetapi hal tersebut di dorong dengan penggunaan
faktor produksi yang banyak, sehingga mempengaruhi hasil pendapatan yang
diterima petani. Begitu juga sebaliknya, penggunaan faktor produksi yang kecil
mengakibatkan hasil produksi wortel yang sedikit atau kurang maksimal.
Pendapatan petani didasarkan pada biaya yang dikeluarkan dan produksi
usahatani yang dihasilkan dalam satu musim tanam. Untuk meningkatkan
produksi dan pendapatan, penggunaan faktor-faktor produksi harus efisien dan
efektif. Efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki
sebaik-baiknya dan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan
Akan tetapi dalam fenomena yang ada, petani tidak efisien dalam
penggunaan segala faktor produksi. Salah satu contoh penggunaan bahan pestisida
yang intensif dan tidak sesuai dosis mengakibatkan menambahnya biaya sarana
produksi dan secara berkelanjutan mengakibatkan menurunnya hasil produksi
karena akan rentan terhadap hama dan penyakit. Pestisida digunakan untuk
membasmi hama dan penyakit, sehingga produksi wortel yang dihasilkan bagus.
Makadari itu petani intensif melakukan penyemprotan agar tanaman wortel tidak
rusak. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan dan pemanfaatan faktor
produksi tidak maksimal. Petani melakukan penyemprotan secara intensif agar
menghasilkan produksi wortel yang bagus, sehingga menambah biaya yang
dikeluarkan untuk penyemprotan dan biaya tenaga kerja. Hal ini menggambarkan
bahwa penggunaan pestisida tidak efisien dan pendapatan petani dari usahatani
wortel semakin berkurang.
Pupuk sebagai penunjang dalam pertumbuhan tanaman. Penggunaan
pupuk akan mempengaruhi hasil usahatani. Pupuk yang digunakan oleh petani
yaitu pupuk kandang, urea SP36 atau TSP, KCL, NPK dan ZA. Dalam
penerapannya, jenis dan dosis penggunaan pupuk antar petani berbeda-beda
meskipun dalam luasan yang sama, tergantung pengalaman dan ekonomi petani.
Selisih penggunaan benih cukup besar antar petani meskipun dalam luasan lahan
yang sama. Petani yang memiliki modal dalam pengunaan pupuk cenderung lebih
besar dan sebaliknya, bagi petani yang memiliki modal sedikit cenderung
menimimalkan penggunaan pupuk untuk mengurangi biaya variabel yang
dikeluarkan.
Benih yang digunakan merupakan hasil dari budidaya petani setempat atau
lokal. Dalam penanaman, benih di sebar di lahan yang telah di olah. Rata-rata
penggunaan benih di Kecamatan Bumiaji dalam luasan satu hektar menggunakan
55,6 kobok atau 8,9 kg/ha. Menurut Hanum (2008), kebutuhan benih wortel
adalah 15-20 g/10 m2 atau 15-20 kg/ha.Petani meminimalkan penggunaan benih
karena nantinya pada proses produksi dilakukan penjarangan dimana sebagian
tanaman wortel akan dicabut. Pada proses penjarangan dimana wortel yang
pertumbuhannya tidak bagus akan dicabut dan agar tidak terjadi persaingan antar
penyakit atau pertumbuhannya tidak maksimal, maka tanaman wortel yang tersisa
di lahan semakin sedikit dan berdampak pada menurunnya produksi dan
pendapatan yang diteima oleh petani wortel. Hal ini menggambarkan bahwa
penggunaan benih belum efisien.
Selain itu, faktor pengalaman petani atau tenaga kerja dalam mengelola
usahatani mulai dari pengolahan lahan sampai panen juga menjadi permasalahan
bagi petani. Faktor produksi tidak hanya dilihat dari segi jumlah atau ketesediaan
dalam waktu yang tepat. Akan tetapi juga dilihat dari segi efisiensi
penggunaannya. Faktor penting dalam pengolahan usahatani yaitu tanah atau
lahan, tenaga kerja dan modal (Mubyarto, 1989). Ketiga faktor tersebut saling
membutuhkan dan berkaitan dalam menunjang hasil dari usahatani.
Menurut Soekardono (2005), dilihat dari konsep efisiensi ekonomis,
pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila ia dapat menghasilkan
keuntungan maksimum. Rendahnya produksi usahatani salah satunya disebabkan
tidak efisiensinya penggunaan faktor produksi. Hal itu akan berpengaruh pada
produksi dan pendapatan yang diperoleh petani. Pentingnya konsep efisiensi yaitu
untuk mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor produksi agar mendapatkan
produksi wortel yang maksimal dan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan
pendapatan petani wortel.
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, timbul beberapa pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
1. Faktor-faktor produksi apa yang berpengaruh terhadap produksi wortel di
Kecamatan Bumiaji Kota Batu?
2. Bagaimana tingkat efisiensi faktor-faktor produksi terhadap produksi wortel di
Kecamatan Bumiaji Kota Batu?
3. Berapa pendapatan yang diterima petani dari hasil usahatani di Kecamatan
Bumiaji Kota Batu?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Menganalisis faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi
wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
2. Menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani
3. Menganalisis pendapatan usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
1.4 Kegunaan Penelitian
1. Sebagai bahan informasi bagi para instansi yang terkait untukmeningkatkan
produksi dan produktivitas wortel di Kecamatan Bumiaji Batu.
2. Sebagai informasi dan bahan pertimbangan yang berguna bagi para petani
dalam peningkatkan efisiensi yang dapat meningkatkan produktivitas dan
pendapatan dari usahatani wortel.
3. Sebagai bahan referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya dan bagi
II. KERANGKA TEORITIS 2.1 Kerangka Pemikiran
Kecamatan Bumiaji merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Batu
yang mempunyai potensi dalam bidang hasil pertanian terutama tanaman sayuran
wortel. Luas lahan dan produktivitasnya lebih besar di bandingkan kecamatan
lainnya Tanahnya sangat cocok untuk tanaman wortel dan tempatnya yang berada
di dataran tinggi 1.000 - 1.700 m dpl sesuai dengan karakteristik tempat untuk
budidaya tanaman sayur terutama wortel yaitu 1.200 – 1.500 m dpl.
Produktivitas dipengaruhi oleh besar kecilnya input yang digunakan dalam
usahatani. Penggunaan faktor produksi yang minimal akan menyebabkan
menurunnya jumlah produksi begitu juga sebaliknya, penggunaan faktor produksi
yang berlebih menyebabkan penggunaannya menjadi tidak efisien. Penggunaan
faktor produksi diperlukan untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal
yang berpengaruh terhadap pendapatan petani wortel. Permasalahan petani dalam
usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji yaitu tidak efisiennya dalam penggunaan
faktor-faktor produksi pada proses pembudidayaan wortel mulai dari pengolahan
lahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen. Penggunaan faktor-faktor
produksi antar petani berbeda. Petani yang memiliki modal akan berusaha
mendapatkan produksi wortel yang besar dengan pengalokasian faktor produksi
yang besar pula, sedangkan petani yang keterbatasan modal akan cenderung
meminimalkan penggunaan faktor produksi untuk mengurangi biaya yang
dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi tidak
efisien. Menurut Soekartawi (2002), ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari mengalokasikan sumberdaya secara efektif dan efisien untuk tujuan
memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.
Dalam produksi pertanian, produksi fisik dihasilkan oleh bekerjanya
beberapa faktor produksi yaitu tanah atau lahan, modal dan tenaga kerja
(Mubyarto, 1989). Faktor modal bisa meliputi uang atau barang seperti benih,
pupuk dan pestisida yang digunakan. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan
menunjang dalam proses produksi usahatani, serta mempengaruhi produktivitas
sesuai dengan penggunaan dan pemanfaatannya. Produktivitas tanaman
digunakan dalam usahatani (input). Produktivitas tersebut akan mempengaruhi
pendapatan yang akan diterima oleh petani.
Faktor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi wortel di
daerah penelitian yaitu tenaga kerja dan modal yang meliputi biaya untuk
pembelian benih, pupuk, pestisida dan upah tenaga kerja. Ketersediaan tenaga
kerja sebagai penunjang dalam pelaksanaan usahatani. Kebutuhan jumlah tenaga
kerja tergantung dengan luasan lahan yang dikelola dan berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaiakan proses produksi usahatani. Tenaga kerja yang
berasal dari keluarga lebih cenderung produktif dalam mengelola usahataninya
dibandingkan dengan tenaga kerja luar karena hasil produksi sepenuhnya di
rasakan oleh petani yang mengelola dan memiliki usahataninya, sedangkan tenaga
kerja luar hanya berorientasi terhadap upah.
Benih merupakan sarana produksi yang digunakan oleh petani, rata-rata
benih berasal dari petani di daerah tersebut. Mayoritas petani mengetahui cara
membudidayakan wortel yang digunakan untuk memproduksi benih wortel. Lahan
yang digunakan untuk budidaya benih wortel merupakan lahan pertanian yang
sudah digunakan budidaya sayuran, sedangkan kandungan residunya sangat
tinggi, sehingga kualitas benih yang dihasilkan rendah. Kualitas dan kapasitas
benih yang digunakan akan mempengaruhi produksi wortel.
Pupuk digunakan untuk penunjang pertumbuhan tanaman. Volume dan
jenis penggunaan pupuk akan mempengaruhi produktivitas tanaman wortel.
Produksi wortel akan meningkat apabila penggunaan pupuk tepat dan sesuai
dengan dosis. Pupuk yang digunakan dalam usahatani wortel yaitu urea, KCL,
NPK, ZA, TSP atau SP36 dan pupuk kandang
Pestisida digunakan untuk mengendalikan atau membasmi hama penyakit.
Hama dan penyakit dapat merusak tanaman yang akan menurunkan produksi
wortel. Penggunaan pestisida bertujuan untuk mencegah atau membasmi hama
dan penyakit, sehingga hasil produksi wortel bagus, akan tetapi penggunaan yang
berlebih akan merusak atau mencemari lingkungan sekitar, dan dalam jangka
panjang dapat menurunkan produksi wortel.
Metode yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor produksi yang
produksi Cobb-Douglas. Alat yang digunakan adalah analisis Regresi Linier
Berganda dengan melihat nilai thitung dapat diketahui faktor yang berpengaruh
nyata terhadap produksi wortel.
Penelitian terdahulu tentang analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor
produksi dalam usahatani padi sawah di Desa Bulu, Kecamatan Berbek,
Kabupaten Nganjuk yang dilakukan oleh Romauli (2008) dengan menggunakan
metode analisis fungsi produksi Cobb-Douglas diperoleh hasil bahwa benih, urea,
ponska dan tenaga kerja berpengaru nyata terhadap produksi padi sawah.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis efisiensi ekonomi penggunaan
faktor-faktor produksi pada usahatani kedelai di Kabupaten Sukoharjo yang
dilakukan oleh Wiwit (2010) dengan menggunakan fungsi produksi
Cobb-Douglass diperoleh hasil bahwa variabel yang secara signifikan mempengaruhi
produksi kedelai yaitu variabel luas lahan, pupuk kandang, pestisida padat.
Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi
yang berpengaruh terhadap produksi wortel untuk mengetahui apakah usahatani
tersebut sudah efisien. Dengan melihat nilai produk marginal (NPM) dapat
diketahui sudah efisien atau tidak penggunaan faktor-faktor produksinya. Apabila
NPMx sama dengan Px, maka penggunaan faktor produksi tersebut efisien.
Menurut Soekardono (2005), untuk menentukan tingkat produksi optimum
menurut konsep efisiensi ekonomis, tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi
produksi, tetapi ada syarat lagi yang harus diketahui, yaitu rasio harga
input-output. Agar keuntungan mencapai maksimum maka turunan pertama fungsi
tersebut harus sama dengan nol, sehingga diperoleh nilai produk marginal (NPM)
dari faktor produksi yang digunakan harus sama dengan harga satuan faktor
produksi itu (Px).
Kemudian dilakukan analisis pendapatan usahatani wortel untuk
mengetahui berapa pendapatan yang diterima oleh petani dengan menghitung
selisish antara penerimaan atau output yang di peroleh petani dengan semua biaya
yang dikeluarkan atau input yang digunakan dalam satu kali musim tanam.
Dengan penggunaan faktor produksi yang efisien, maka akan meningkatkan
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel di Kecamatan Bumiaji
Input berdampak pada produksi wortel dan
pendapatan petani
2.2 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan, maka dalam penelitian ini
dapat ditarik hipotesis yaitu:
1. Diduga faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi pada
usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Batu adalah benih, pupuk, pestisida
dan tenaga kerja.
2. Diduga penggunaan faktor produksi usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji
Batu tidak efisien.
3. Diduga usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Batu menguntungkan.
2.3 Batasan Masalah
1. Yang dimasukkan dalam variabel bebas yaitu sarana produksi dan tenaga
kerja, sedangkan lahan tidak dimasukkan dalam variabel karena sifatnya tetap
atau termasuk biaya tetap.
2. Tempat penelitian di Kecamatan Bumaji Batu, khususnya Desa Sumber
Brantas dan Desa Tulungrejo.
3. Responden adalah petani yang menanam tanaman wortel pada tahun
2011-2012.
4. Yang diteliti adalah tentang pengaruh faktor produksi (tenaga kerja, benih,
pupuk dan pestisida) terhadap produksi wortel, tingkat pendapatan atau
keuntungan dan tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani wortel.
2.4Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel yang diamati yaitu informasi mengenai usahatani wortel yang
diusahakan oleh petani. Variabel tersebut didefinisikan terlebih dahulu untuk
memudahkan pengumpulan data yaitu:
1. Efisisensi alokatif adalah efisiensi yang dicapai apabila nilai produk marginal
(NPM) dari faktor produksi yang digunakan harus sama dengan harga satuan
faktor produksi itu (Px).
2. Luas lahan adalah sebidang tanah yang digunakan untuk usahatani wortel
dalam satu kali musim tanam dan dalam satuan hektar (ha).
3. Tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam proses usahatani
pemupukan, pemeliharaan sampai dengan panen baik berasal dari dalam
keluarga maupun dari luar keluarga petani yang dihitung dalam HOK (Hari
Orang Kerja).
4. Benih adalah total benih wortel yang digunakan petani dalam usahatani setiap
satu kali musim tanam dalam luasan lahan tertentu yang dinyatakan dalam
satuan kilogram per hetar dalam satu musim tanam (kg/ha/musim tanam).
5. Pupuk adalah penggunaan pupuk sebagai penunjang dalam usahatani wortel
setiap satu kali musim tanam yaitu pupuk kandang, urea, TSP atau SP36,
KCL, NPK, ZA yang diukur dalam kilogram per hektar dalam satu musim
tanam (kg/ha/musim tanam).
6. Pestisida adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan atau
membasmi hama atau penyakit yang diukur dalam satuan kilogram per hektar
dalam satu musim tanam (kg/ha/musim tanam).
7. Produksi adalah hasil tanaman wortel yang dihasilkan dalam satu musim
tanam dengan satuan kilogram per hektar dalam satu musim tanam
(kg/ha/musim tanam).
8. Harga jual adalah harga jual wortel yang diterima petani yang diukur dengan
satuan rupiah per kilogram (Rp/kg).
9. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani wortel
yang besar kecilnya tidak dipengaruhi dengan besar kecilnya output yang
diperoleh yang meliputi biaya pajak lahan dan penyusutan peralatan yang
dikeluarkan oleh petani dalam satu musim tanam yang diukur dengan satuan
rupiah per hektar dalam satu musim tanam (Rp/ha/musim tanam).
10.Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani wortel
yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan yang
meliputi biaya pembelian benih, pupuk kandang, pupuk kimia, pestisida, serta
upah tenaga kerja dalam satu kali musim tanam yang diukur dengan satuan
rupiah per hektar dalam satu musim tanam (Rp/ha/musim tanam).
11.Total biaya adalah semua pengeluaran yang meliputi biaya tetap dan variabel
dalam usahatani wortel tiap satu musim tanam yang diukur dengan satuan
12.Total penerimaan adalah hasil perkalian antara jumlah produksi wortel dengan
harga jual dengan satuan rupiah per hektar dalam satu musim tanam
(Rp/ha/musim tanam).
13.Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dan total biaya
yang dikeluarkan dalam usahatani wortel per satu kali musim tanam dengan
III. METODE PENELITIAN 3.1Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) di
Kecamatan Bumiaji Batu Propinsi Jawa Timur. Teknik purposive dilakukan
dengan dasar pertimbangan yakni Kecamatan Bumiaji merupakan Kecamatan di
Kota Batu yang wilayahnya berada pada hulu DAS Brantas yang memiliki banyak
sumbermata air dan berpotensi sebagai lahan pertanian khususnya tanaman
sayuran wortel, dimana luas lahan, produksi dan produktivitasnya paling besar
dibandingkan kecamatan lainnya di Kota Batu (lihat Tabel 2).
3.2 Teknik Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah petani wortel di Kecamatan Bumiaji,
Kota Batu. Penentuan sampel menggunakan metode sampel gugus bertahap.
Metode sampel gugus bertahap merupakan metode dimana pengambilan sampel
yang dilakukan secara bertahap berdasarkan wilayah-wilayah yang ada
(Singarimbun dan Effendi, 2008). Populasi dapat dibagi-bagi dalam gugus tingkat
pertama, kemudian gugus tingkat pertama dapat pula dibagi dalam gugus tingkat
kedua, dan seterusnya. Demikian juga sampel satu dari populasi sampling pertama
dijadikan populasi sampling kedua untuk menentukan sampel dua dan begitu
seterusnya sampai ditentukan sampel sesuai dengan penelitian yang dilakukan.
Tahap pertama yaitu menetapkan desa sampel yaitu dari 9 desa wilayah di
Kecamatan Bumiaji dipilih 2 desa sebagai sampel. Pemilihan dilakukan secara
sengaja atau purposive dipilih dua desa yaitu Desa Sumber Brantas dan Desa
Tulungrejo dengan pertimbangan kedua desa tersebut memiliki potensi untuk
usahatani wortel dan petani yang banyak membudidayakan wortel.
Tahap Kedua, dengan terpilihnya 2 desa sampel tersebut, selanjutnya tiap
desa dipilih satu dusun sebagai sampel. Pemilihan dusun berdasarkan jumlah
petani yang banyak membudidayakan wortel. Desa Sumber Brantas memiliki 3
Tabel 3. Jumlah Petani Wortel di Dusun Jurangkwali, Desa Sumber Brantas dan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011
No Desa Dusun Petani Wortel (Orang)
1 Sumber Brantas Jurangkwali 249
2 Tulungrejo Junggo 379
Sumber : Data primer (2012)
Dari Tabel 3 diketahui jumlah petani wortel di Dusun Jurangkwali Desa
Sumber Brantas sebanyak 249 petani dan di Dusun Junggo Desa Tulungrejo
sebanyak 379 petani. Tidak semua petani tersebut akan dijadikan responden,
tetapi akan ditarik lagi sampel tahap ketiga secara random dan berimbang.
Menurut Arikunto (1998), apabila jumlah populasi lebih dari 100, maka
dapat diambilantara 10% – 15% atau 20% – 25% atau lebih dari jumlah populasi.
Pada tahap ketiga peneliti mengambil sampel 10% dari jumlah petani wortel di
lokasi penelitian dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga. Jumlah petani dari
masing-masing dusun yaitu:
Dusun Jurangkwali Desa Sumber Brantas : 25 petani sayur
Dusun Junggo Desa Tulungrejo : 38 petani sayur
Berdasarkan perhitungan di atas, jumlah petani yang dijadikan sampel
dalam penelitian ini sebanyak 63 petani. Untuk mendapatkan sampel yang
menggambarkan populasi, dapat dilihat pada Gambar 2.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari dua macam, yaitu data primer dan
data sekunder.
1. Data Primer
Metode pengambilan data primer ini dilakukan dengan cara:
a. Wawancara adalah suatu cara mengumpulkan data dengan tanya jawab
langsung kepada petani wortel. Wawancara dilaksanakan dengan dilengkapi
kuisioner, yaitu suatu daftar pertanyaan yang berhubungan dengan judul
penelitian untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Data yang diambil yaitu
mengenai karakteristik responden, luas lahan, faktor-faktor produksi yang
digunakan serta biayanya dan produksi yang dihasilkan dalam satu musim
tanam.
b. Observasi merupakan kegiatan pengamatan secara langsung di lapangan
mengenai fenomena yang ada baik merupakan aktivitas sehari-hari maupun
kegiatan yang berhubungan penelitian. Dalam kegiatan penelitian data yang
diambil yaitu mengenai faktor-faktor produksi dan kuantitasnya yang
digunakan dalam usahatani wortel.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pustaka, peneliti terdahulu
dan lembaga atau instansi terkait yang yang digunakan sebagai data pelengkap
dan pendukung dari hasil lapang yang diperoleh atau data primer. Data sekunder
diperoleh dengan bertanya dan mengambil langsung dari kantor Desa Sumber
Brantas, Desa Tulungrejo dan Dinas Pertanian. Data yang digunakan yaitu luas
lahan, produksi wortel dan jumlah penduduk.
3.4Teknik Analisis Data 3.4.1 Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan keadaan yang
berhubungan dengan masalah penelitian yang tidak bisa dijelaskan secara
kuantitatif serta untuk mempermudah peneliti dalam menggambarkan atau
di lokasi penelitian, karakteristik petani, keadaan penduduk dan letak geografis
daerah penelitian.
3.4.2 Analisis Fungsi Produksi Cobb_Douglas
Model fungsi produksi Cobb-Douglas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
Y= b0 X1b1 X2b2 X3b3 X4b4 eu
Keterangan :
b0 = intersep/konstanta
b1..,b4 = elastisitas produksi dari X1,...,X4 Y = produksi (kg)
Untuk mempermudah pendugaan hasil fungsi, fungsi Cobb-Douglas
diturunkan menjadi bentuk linier sebagai berikut :
LnY = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + β4LnX4 + u
Pertimbangan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi
Cobb-Douglas yaitu umum digunakan dalam penelitian empiris di bidang pertanian,
memiliki penyelesaian relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi produksi
lain dan dapat ditransfer ke dalam bentuk linier.
3.4.3 Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi yang dihasilkan melalui proses perhitungan tidak selalu
merupakan model yang baik untuk melakukan estimasi terhadap variabel
independennya. Model regresi yang baik harus bebas dari penyimpangan asumsi
klasik, yang terdiri dari asumsi kenormalan, multikolinearitas, heteroskedasitas,
dan autokorelasi.
1. Uji Normalitas
Gujarati (2010) mengemukakan bahwa regresi linear membutuhkan
asumsi kenormalan data dengan beberapa alasan sebagai berikut :
a. Data berdistribusi normal akan menghasilkan model prediksi yang tidak bias
b. Data berdistribusi normal akan menghasilkan model yang konsisten yaitu
dengan meningkatnya jumlah sampel ke jumlah yang tidak terbatas, maka
penaksir mengarah ke nilai populasi yang sebenarnya.
Salah satu pengujian normalitas dengan menggunakan teknik Kolmogorov
Smirnov. Uji Kolmogorov Smirnov adalah uji beda antara data yang diuji
normalitasnya dengan data normal baku. Penerapan pada Uji Kolmogorov
Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji
mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data
tersebut tidak normal. Jika signifikansi di atas 0,05, maka berarti tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara data yang akan diuji dengan data normal baku,
artinya data yang uji normal.
2. Heteroskedastisitas
Hetersoskedasitas terjadi apabila variasi ut tidak konstan atau berubah
ubah secara sistematik seiring dengan berubahnya nilai variabel independen
(Gujarati, 2010). Uji statistik yang digunakan yaitu Uji Glejser. Uji Glejser
dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai absolut
residualnya. Apabila menghasilkan signifikansi >0,05, maka variabel pada model
regresi yang digunakan tidak terjadi gejala heteroskedasitas.
3. Multikolinearitas
Masalah multikolinearitas muncul jika terdapat hubungan yang sempurna
atau pasti di antara satu atau lebih variabel independen dalam model.Dalam kasus
terdapat multikolinearitas yang serius, koefisien regresi tidak lagi menunjukkan
pengaruh murni dari variabel independen dalam model.Untuk mendeteksi apakah
terjadi masalah multikol maka dapat melihat nila VIF (variance inflation factor).
Jika nilai VIF di atas 10, maka terjadi masalah multikolinieritas, sebaliknya nilai
VIF di bawah 10, berarti variabel tidak mengalami masalah multikolinieritas.
4. Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linier ada
korelasi atau kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu
pada periode sebelumnya (t-1). Uji autokorelasi menggunakan Uji Durbin
Waston. Jika du < d < 4–du, maka Ho ditolak yang berarti tidak ada autokorelasi
Jika syarat asumsi telah terpenuhi terhadap persamaan regresi, maka
melihat nilai koefisien determinasi (R2), nilai statistik F, dan uji T untuk menguji
ketepatan regresi.
a. Koefisien determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) merupakan besaran yang digunakan untuk
menunjukkan seberapa besar keseluruhan model dalam menerangkan nilai
variabel terikat. Dalam penelitian ini, ingin diketahui seberapa besar persentase
faktor-faktor produksi (X) dalam mempengaruhi hasil produksi (Y).
b. Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (X) secara
keseluruhan terhadap variabel terikat (Y). Jadi, digunakan untuk melihat apakah
semua faktor produksi (benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja) berpengaruh
terhadap produksi wortel.
Jika Fhitung>Ftabel , maka tolah Ho terima Ha, artinya semua variabel bebas (X)
berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y)
Jika Fhitung<Ftabel , maka terima Ho tolak Ha, artinya semua variabel bebas (X)
tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y)
c. Uji T
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh secara parsial masing-masing
variabel bebas (Xi) terhadap variabel terikat (Y). Jadi, setiap faktor-faktor
produksi diuji t untuk mengetahui apakah variabel tersebut berpengaruh terhadap
produksi wortel.
Jika thitung>ttabel , maka tolah Ho terima Ha, artinya variabel bebas berpengaruh
nyata terhadap variabel terikat.
Jika thitung<ttabel , maka terima Ho tolak Ha, artinya variabel bebas tidak
berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.
3.4.4 Analisis Efisiensi Penggunan Faktor Produksi Usahatani Wortel
Usahatani wortel dapat dikatakan efisien apabila nilai produk marginal
(NPM) suatu faktor produksi sama dengan harganya. Untuk mengetahui tingkat
efisiensi alokatif dari usahatani ditunjukkan dengan nilai rasio NPMxi dengan Pxi
Ep = / Py = harga produk persatuan (Rp) Epi = elastisitas produk ke-i
Y = produksi (kg)
Xi = faktor produksi ke i
3.4.5 Analisis Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani Wortel
1. Analisis Biaya Usahatani Wortel
Biaya usahatani merupakan total biaya tetap yang meliputi penyusutan
peralatan dan sewa lahan, serta biaya variabel seperti biaya benih, pupuk,
pestisida dan tenaga kerja per hektar dalam satu kali musim tanam yang
digunakan dalam usahatani wortel. Besarnya biaya produksi dapat dihitung
sebagai berikut :
2. Analisis Penerimaan Usahatani Wortel
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara jumlah produksi wortel yang
dihasilkan per hektar dalam satu kali musim tanam dengan harga jualnya per
usahatani serta harga jual per produk. Penerimaan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
TR = Y.Py
Keterangan :
TR = Total Penerimaan (Rp)
Py = Harga per satuan produksi (Rp) Y = Jumlah produksi (Rp)
3. Analisis Pendapatan Usahatani Wortel
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan yang di dapat
dengan total biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani berlangsung dalam
satu musim tanam. Besarnya pendapatan usahatani dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
π = TR – TC Keterangan :
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Letak Geografis
Kecamatan Bumiaji secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kota
Batu, Jawa Timur dan merupakan wilayah terluas di Kota Batu yaitu 12,797,89
Ha atau ± 64,28 % dari seluruh wilayah Kota Batu. Kecamatan Bumiaji memiliki
9 desa yaitu Desa Sumberbrantas, Tulungrejo, Sumbergondo, Punten, Bulukerto,
Gunungsari, Bumiaji, Pandanrejo dan Giripurno.
Adapun batas-batas administratif Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah
sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Malang dan Mojokerto
Sebelah Selatan : Kecamatan Batu
Sebelah Barat : Kabupaten Malang
Sebelah Timur : Kabupaten Malang
Gambar peta Kecamatan Bumiaji dapat dilihat pada Lampiran 1.
Dalam penelitian ini diambil dua sebagai lokasi penelitian, yaitu Desa
Tulungrejo dan Desa Sumber Brantas. Berikut kondisi geografis Desa Tulungrejo
dan Desa Sumber Brantas.
a. Desa Tulungrejo
Desa Tulungrejo merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan
Bumiaji. Luas Wilayah Desa Tulungrejo yaitu 80,701Km2. Jarak antara Desa
Tulungrejo dengan Kecamatan Bumiaji yaitu 1,5 Km, dengan Pemerintahan Kota
6 km dan dengan Pemerintahan Provensi 133 km. Desa Tulungrejo memiliki lima
dusun yaitu Dusun Gondang, Dusun Kekep, Dusun Gerdu, Dusun junggo dan
Dusun Wonorejo.
Adapun batas-batas Desa Tulungrejo adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Sumberbrantas.
Sebelah Selatan : Desa Punten.
Sebelah Barat : Kehutanan.
b. Desa Sumber Brantas
Desa Sumber Brantas sebelumnya secara administratif ikut pemerintahan
Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Akan tetapi, mulai tahun 2005
dipisah dari Desa Tulungrejo yang sebelumnya bernama Dusun Sumber Brantas
menjadi Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Desa Sumber
Brantas memiliki luas 541,1364 Ha. Jarak antara pusat pemerintahan Kota Batu
dengan Desa Sumber Brantas yaitu 18 km. Suhu rata-rata 12˚c - 22 ˚c dengan
curah hujan yang tinggi dan ketinggian dari permukaan laut 400 - 1.700 dpa. Desa
Sumber Brantas terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Krajan, Dusun Lemah Putih
dan Dusun Jurang Kuali.
Adapun batas-batas Desa Sumber Brantas adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Hutan dan Kabupaten Mojokerto
Sebelah Selatan : Dusun Wonorejo dan Desa Tulungrejo
Sebelah Barat : Hutan dan Gunung Anjasmoro
Sebelah Timur : Hutan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang
4.1.2 Penggunaan Lahan
Sebagian besar wilayah Kecamatan Bumiaji berupa hutan dengan luas
3.262 ha atau 23,59%, sedangkan sisanya digunakan untuk ladang, sawah dan
lainnya. Mengenai jenis lahan yang ada di Kecamatan Bumiaji Kota Batu, dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Penggunaan Tanah di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011
No Penggunaan Luas (ha) Persentase (%)
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, 2011.
Berdasarkan Tabel 4 penggunaan tanah di Desa Sukolilo mayoritas adalah
diketahui bahwa ketergantungan penduduk pada pertanian cukup besar, sehingga
tidak sedikit penduduk yang terjun di bidang pertanian khususnya dalam usahatani
sayuran, salah satunya yaitu budidaya wortel.
a. Desa Tulungrejo
Sebagian besar penggunaan lahan di Desa Tulungrejo adalah untuk lahan
pertanian. Hal ini karena lahannya cukup subur sehingga berpotensi untuk
dijadikan lahan pertanian. Berikut di bawah persentase luas lahan berdasarkan
jenis penggunaan lahan di Desa Tulungrejo yang disajikan ada Tabel 5.
Tabel 5. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011
No. Jenis Penggunaan Lahan Luas lahan (Ha) Persentase (%)
1. Sawah 40.255 4,99
2. Ladang/Tegalan 559.227 69,34
3. Pemukiman 102.257 12,68
4. Lain – lain 104.740 12,99
J u m l a h 806.479 100,00
Sumber: Kantor Desa Tulungrejo, 2011.
Dari Tabel 5, jenis penggunaan tanah di Desa Tulungrejo 69,34%. adalah
ladang . Dari data dapat diketahui bahwa penduduk Desa Tulungrejo tidak sedikit
yang terjun di dunia pertanian. Tanahnya cocok untuk tanaman sayur khususnya
budidaya tanaman wortel dan kentang serta tanaman tahunan yaitu apel.
b. Desa Sumber Brantas
Desa Sumber Brantas berdasarkan penggunaan atas lahan memiliki luas
sebesar 541,1364 Ha. Berikut penggunaan lahan di Desa Sumber Brantas yang
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011
No. Jenis Penggunaan Lahan Luas lahan (Ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 94,5710 17,48
2 Pekarangan 51,6320 9,54
3 Pertanian 358,3234 66,22
4 Lain-lain 36,6100 6,76
Jumlah 541,1364 100,00
Dari Tabel 6, penggunaan lahan di Desa Sumber Brantas terbesar adalah
lahan pertanian dengan luas 358,3234 Ha atau 66,22 %. Sebagian besar lahan
pertanian ditanami tanaman sayuran seperti kentang, wortel, kubis dan sawi.
Karena tanaman sayuran tersebut cocok dibudidayakan di Desa Sumber Brantas.
4.1.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Pada umumnya sumber mata pencaharian penduduk di Kecamatan
Bumiaji Kota Batu adalah petani. Komposisi penduduk Kecamatan Bumiaji
berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat di Tabel 7.
Tabel 7. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011
No Keterangan Jumlah (Orang) Persentase(%)
1 Petani 12828 43.21
2 Pekerja Disektor Jasa/Perdagangan 2151 7.24
3 Pekerja Disektor Industri 749 2.52
4 Mengurus Rumah Tangga 1062 3.57
5 Pelajar / Mahasiswa 2298 7.74
6 Lain-lain 10602 35.72
Jumlah 29690 100,00
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, 2011.
Berdasarkan Tabel 7, mayoritas penduduk di Kecamatan Bumiaji bermata
pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 12.828 penduduk atau 43,21% dari
total penduduk berdasarkan mata pencaharian, sisanya sebagai pekerja disektor
jasa, industri, buruh tani dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas
perekonomian di dominasi oleh sektor pertanian, sehingga tidak sedikit penduduk
yang berusahatani wortel khususnya tanaman wortel.
a. Desa Tulungrejo
Mayoritas mata pencaharian penduduk di Desa Tulungrejo adalah sebagai
petani. Hal ini dikarenakan lahan yang subur sehingga sangat cocok untuk
dijadikan lahan pertanian. Persentase jumlah penduduk Desa Tulungrejo
Tabel 8. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011
No Keterangan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Petani 1663 77,7
2. Pekerja disektor jasa/perdagangan 185 8,7
3. Pekerja disektor industry 292 13,6
Jumlah 2140 100,0
Sumber: Kantor Desa Tulungrejo, 2011.
Dari data pada Tabel 8 di atas, mayoritas penduduk Desa Tulungrejo
bermata pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 1.663 penduduk atau 77,7%
dari total penduduk berdasarkan mata pencaharian. Hal ini menunjukkan bahwa
aktivitas perekonomian di dominasi oleh sektor pertanian, sehingga penduduk
mengandalkan kegiatan usahatani dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
b. Desa Sumber Brantas
Mayoritas mata pencaharian penduduk di Desa Tulungrejo adalah sebagai
petani. Hal ini dikarenakan lahan yang subur sehingga sangat cocok untuk
dijadikan lahan pertanian. Persentase jumlah penduduk Desa Tulungrejo
berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011
No Keterangan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Petani 1.481 58,4
2. Pekerja disektor jasa/perdagangan 318 12,6
3. Buruh 737 29,0
Jumlah 2536 100,0
Sumber: Kantor Desa Sumber Brantas, 2011.
Berdasarkan pada Tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa persentase
jumlah penduduk Desa Sumber Brantas yang paling besar bermatapencaharian
sebagai petani yaitu 58,74%. Sisanya bermatapencaharian sebagai buruh 29% dan
pekerja disektor jasa/perdagangan 12,6%. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian
merupakan sektor penting dalam perekonomian di Desa Sumber Brantas, sehingga
4.2 Karakteristik Petani Responden 4.2.1 Usia Petani Responden
Faktor usia berkaitan dengan mudahnya atau cepatnya petani dalam
menerima informasi atau mengadopsi inovasi, serta dalam melakukan proses
produksi usahatani wortel. Distribusi petani responden berdasarkan kelompok usia
dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Golongan Usia di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011
No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
Sumber : Data primer yang diolah, 2012.
Persentase terbesar usia petani responden berada pada kisaran umur 41 -
50 tahun yaitu 34,92% dan terendah pada kisaran umur 21 - 30 tahun yaitu 7,94%.
Umur petani responden mulai dari umur 21 - 70 tahun. Hal tersebut menunjukkan
bahwa pada umur tersebut petani masih produktif dalam berusahatani wortel.
4.2.2 Tingkat Pendidikan Petani Responden
Sumber daya manusia yang diukur dari tingkat pendidikan merupakan
faktor penting dalam mengakomodasi teknologi maupun ketrampilan dalam
usahatani wortel. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka pengetahuan atau
informasi tentang usahatani wortel semakin besar, sehingga akan berpengaruh
terhadap manajemen usahataninya. Berikut ini merupakan Tabel karakteristik
petani responden berdasarkan tingkat pendidikan.
Tabel 11. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011
No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Tidak tamat SD 5 7,94