• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ringkasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ringkasan"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN

Oleh:

MOHAMMAD SHOIMUS SHOLEH

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN SOSIAL EKONOMI PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

(2)

MIN

Diajukan Ge

Oleh:

MOHAMMAD SHOIMUS SHOLEH 0810440241

INAT SOSIAL EKONOMI PERTANIAN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

SKRIPSI

an sebagai salah satu syarat untuk mempero Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN SOSIAL EKONOMI

MALANG 2012

(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang, Juli 2012

(4)

Judul Skripsi : Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor

Produksi Usahatani Wortel (Daucus carota L) di Kecamatan

Bumiaji Kota Batu

Nama Mahasiswa : Mohammad Shoimus Sholeh

NIM : 0810440241

Program Studi : Agribisnis

Jurusan : Sosial Ekonomi Pertanian

Menyetujui : Dosen Pembimbing

Pembimbing Utama,

Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, MS NIP. 19581128 198303 1 005

Pembimbing Pendamping,

Rosihan Asmara, SE. MP NIP. 19710216 200212 1 001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian

Dr. Ir. Syafrial, MS

NIP. 19580529 198303 1 001

(5)

Mengesahkan

MAJELIS PENGUJI

Penguji I

Dr. Ir. Syafrial, MS

NIP. 19580529 198303 1 001

Penguji II

Nur Baladina, SP, MP

NIP. 19820214 200801 2 012

Penguji III

Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, MS NIP. 19581128 198303 1 005

Penguji IV

Rosihan Asmara, SE. MP NIP. 19710216 200212 1 001

(6)
(7)

RINGKASAN

Mohammad Shoimus Sholeh. 0810440241. ANALISIS EFISIENSI

ALOKATIF PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI

USAHATANI WORTEL (Daucus carota L) DI KECAMATAN BUMIAJI, KOTA BATU. Di bawah bimbingan, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS. dan Rosihan Asmara, SE. MP.

Wortel merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Wortel banyak diminati petani karena mudah perawatannya dan biaya yang dibutuhkan untuk memulai usahatani terjangkau dari kalangan bawah ke atas. Kota Batu merupakan salah satu daerah di Jawa Timur dan memiliki potensi di bidang pertanian khususnya tanaman wortel. Pada tahun 2007, Kota Batu menduduki peringkat ketiga produksi wortel terbesar setelah Pasuruan dan Malang dengan produksi sebesar 6900 ton.

Wortel sangat cocok dibudidayakan pada dataran tinggi atau perbukitan dengan kondisi tanah yang gembur dan subur, yang mana sesuai dengan keadaan lahan pertanian di Kecamatan Bumiaji yang berada pada dataran tinggi dan subur yaitu 1.000 - 1.700 m dpl dan sesuai dengan karakteristik tempat untuk budidaya tanaman sayur terutama wortel yaitu 1.200 - 1.500 m dpl. Kecamatan Bumiaji merupakan sentra penghasil wortel di Kota Batu karena memiliki produksi dan luas lahan terbesar dibandingkan dengan kecamatan lainnya dengan luas lahan 444,8 ha, produksi mencapai 6.733,5 ton dan produktivitas sebesar 15 ton/ha. Tanaman wortel yang baik dan dipelihara secara intensif dapat menghasilkan umbi antara 20 - 30 ton/ha (Hanum,2008). Maka dari itu petani masih dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman wortel dengan penggunaan segala faktor produksi yang efisien, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.

Permasalahan petani dalam usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji yaitu tidak efisiennya dalam penggunaan faktor-faktor produksi pada proses pembudidayaan wortel mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen. Penggunaan faktor-faktor produksi antar petani berbeda. Petani yang memiliki modal akan berusaha mendapatkan produksi wortel yang besar dengan pengalokasian faktor produksi yang besar pula, sedangkan petani yang keterbatasan modal akan cenderung meminimalkan penggunaan faktor produksi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi tidak efisien. Menurut Soekartawi (2002), ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengalokasikan sumberdaya secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

(8)

wortel secara parsial dilihat dari nilai thitung atau besaran signifikansinya dengan uji t. Untuk mengetahui efisiensi alokatif dengan melihat nilai produk marginal (NPM). Sedangkan untuk mengetahui pendapatan petani menggunakan analisis pendapatan. Hasil yang diperoleh yaitu:

1. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani wortel adalah benih, pestisida dan tenaga kerja dimana nilai thitung benih 1,72, pestisida 2,514 dan tenaga kerja 5,353 > ttabel 1,67. Sementara itu, faktor penggunaan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi wortel karena nilai thitung 0,746 < ttabel 1,67.

2. Dari hasil analisis diketahui bahwa NPMx/Px untuk penggunaan benih > 1 yaitu 3,94, sehingga alokasi penggunaan benih di daerah penelitian belum efisien. NPMx/Px untuk alokasi penggunaan pestisida < 1 yaitu sebesar 0,94, sehingga penggunaan pestisida di daerah penelitian tidak efisien. NPMx/Px untuk penggunaan tenaga kerja > 1 yaitu 2,17, sehingga alokasi penggunaan tenaga kerja di daerah penelitian belum efisien.

3. Rata-rata total penerimaan petani wortel di daerah penelitian sebesar Rp. 58.197.350,- dan rata-rata total biaya sebesar Rp. 25.434.007,-, sehingga diperoleh pendapatan usahatani wortel sebesar Rp. 32.763.343,- per hektar dalam satu musim tanam. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu menguntungkan.

Saran yang bisa diberikan dari hasil penelitian adalah (1) untuk mengatasi belum optimalnya penggunaan benih dan tenaga kerja, maka petani dapat menambah penggunaannya. Dengan menghitung NPMx/Px, penggunaan benih dalam luasan 1 hektar sebesar 35 kg dan tenaga kerja sebesar 607,19 HOK. Penggunaan faktor produksi di atas akan efisien secara alokatif dengan syarat produksi dan harga wortel, serta harga faktor-faktor produksi tidak berubah. (2) Dengan menggunakan pestisida nabati maka dapat mengurangi biaya produksi, tidak membasmi predator dan tidak merusak lingkungan, sehingga dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Tanaman sebagai pestisida nabati yang bisa dimanfaatkan antara lain Tembakau, sirsak, bawang putih, cabai merah, kemangi, nimba, cengkeh, biji srikaya dan sebagainya.

(9)

SUMMARY

Mohammad Shoimus Sholeh. 0810440241. ANALYSIS ALLOCATIVE EFFICIENCY OF PRODUCTION FACTORS USAGE IN CARROT FARMING (Daucus carota L) AT BUMIAJI SUB DISTRICT, BATU CITY. Supervised by Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS and Rosihan Asmara, SE. MP

Carrots are vegetables that have high economic value. Carrot much interested by the farmers because of its easy maintenance and cost needed to start farming affordable from the bottom to the top. Batu is one of the areas in East Java and has the potential of agricultural crops, especially carrots. In 2007, Batu was ranked the third largest carrot production after Pasuruan and Malang with production of 6900 tons.

Carrots are very suitable cultivated in the highlands or hills with loose soil conditions and fertile, which is appropriate with the state of agricultural land in the District of Bumiaji located on the fertile plateau and 1000-1700 m above sea level and in accordance with the characteristics of a place for the cultivation of vegetable crops, especially carrot is 1200-1500 m above sea level. District of Bumiaji is producer of carrots in the center Batu because it has the largest area of production and compared to other districts with total area of 444.8 ha, production reached 6733.5 tons and productivity as much as 15 tons / ha. A good crop of carrots and maintained intensively can produce bulbs between 20-30 tones / ha (Hanum, 2008). Thus the farmers are still able to increase production and productivity of carrot plants with the use of all factors of production efficiently, so it can increase farmers' income.

The problem of farmers in carrot farming in the District of Bumiaji is the inefficient in the use of production factors in the cultivation of carrots ranging from land preparation, planting, and maintenance until harvest. The use of factors of production between farmers is different. Farmers who have capital will try to get a big carrot production with a large allocation of production factors as well; while farmers are limited capital will tend to minimize the use of factors of production to reduce costs. This indicates that the use of production factors is inefficient. According to Soekartawi (2002), the science of farming is defined as the science of allocating resources effectively and efficiently for the purpose of obtaining high profits at a particular time.

(10)

1. Production factors that significantly influenced the production of carrot farming are seed, pesticide and labor in which the value t count seed is 1.72, pesticide is 2.514 and labor is 5.353> 1.67 T Table. Meanwhile, the factors do not significantly affect the use of fertilizers on the production of carrot because t count value 0.746 <1.67 T Table.

2. From the analysis is known that NPMx / Px for the use of seed is> 1 is 3.94, so the allocation of seeds in the study area has not been efficient. NPMx / Px for the allocation of the use of pesticide is <1 is equal to 0.94, so the use of pesticides in the study area is inefficient. NPMx / Px for the use of labor> 1 is 2.17, so the allocation of labor in the study area has not been efficient.

3. The average total revenue carrot farmers in the study area is Rp. 58,197,350, - and the average total cost amounted to Rp. 25,434,007, -, in order to obtain a carrot farm income amounted to Rp. 32,763,343, - per hectare in one cropping season. This indicates that average of carrot farming in the District of Bumiaji Batu is profitable.

Advice that can be given from the results of the study were (1) to overcome the non optimal use of seeds and labor, the farmers can increase their use. By calculating NPMx / Px, the use of seeds in an area of 1 hectare is 35 kg and 607.19 HOK of employment. The use of production factors above will be locative efficiency in terms of production and the price of carrots, as well as the price of factors of production unchanged. (2) By using a pesticide plant then it can reduce production costs, not eradicate predators and do not damage the environment, thus increasing production and incomes of farmers. Vegetable crops as a pesticide that can be used include Tobacco, soursop, garlic, red pepper, basil, neem, clove, Sugar-apple seeds and so on.

Keywords: Carrot, Farming, Factor of Production, Efficiency, Value of Marginal

(11)

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

laporan skripsi yang berjudul ”Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan

Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel (Daucus carota L) Studi Kasus di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu”. laporan skripsi ini disusun sebagai

persyaratan menyelesaikan jenjang S-1 di Program Studi Agribisnis Pertanian,

Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.

Terima kasih kepada semua pihak atas segala bantuan baik berupa pendapat,

saran, dukungan moril dan do’a, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan

skripsi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS selaku dosen pembimbing I yang

telah memberikan arahan dan saran kepada penulis dalam menyusun skripsi.

2. Bapak Rosihan, SP. MP selaku dosen pembimbing ke-II yang telah memberi

masukan dan arahan kepada penulis untuk penyususnan hasil skripsi dan

memberi bimbingan selama kegiatan proses pembuatan skripsi.

3. Seluruh karyawan dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang telah

mendidik dan memberikan ilmu untuk keberlangsungan pencapaian yang baik.

4. Kedua orang tua tercinta yang selalu memberi dukungan baik melalui do’a,

materi dan semangat atas kelancaran selama proses perkuliahaan mulai dari

awal kuliah sampai dalam proses penyususnan skripsi.

5. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan

skrispi.

Menyadari adanya keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan informasi,

penulis sangat mengharapkan saran dan masukan agar laporan skripsi ini menjadi

lebih baik. Semoga apa yang tertulis dalam laporan skripsi ini dapat memberikan

manfaat bagi penulis dan pembaca.

Malang, Juli 2012

(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis di lahirkan di Desa Tambung Kecamatan Pademawu Kabupaten

Pamekasan. Sebagai anak ke dua dari empat bersaudara dan anak dari Bapak

Mohammad Amin dan Ibu Syahriyah. Penulis mempunyai hobi membuat cerpen,

kata-kata humoris, puisi dan catatan-catatan motivasi, serta membuat video.

Sekolah di SDN Tambung pada tahun 1996 - 2002, kemudian melanjutkan

ke SMPN 5 Pamekasan pada tahun 2002 - 2005. Selanjutnya meneruskan di

SMAN 2 Pamekasan pada tahun 2005 - 2008.

Penulis menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya Fakultas Pertanian

Program Studi Agribisnis, pada tahun 2008. Selama menjadi mahasiswa

Universitas Brawijaya, penulis sering aktif di organisasi dan kegiatan-kegiatan

kampus. Organisasi yang di ikuti yaitu Forum Studi Islam Insan Kamil

(FORSIKA) tahun 2008 - 2009 dan pada tahun 2009 – 2010, menjadi ketua

Kesektariatan di FORSIKA.

Kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang pernah diikuti yaitu Program

Mahasiswa Wirausaha (PMW) Universitas Brawijaya (2010-2011) sebagai

penerima dana usaha. Lomba catur di Universitas Brawijaya sebagai perwakilan

(13)

DAFTAR ISI

2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 12

III. METODE PENELITIAN ... 15

3.4.2 Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas ... 18

3.4.3 Uji Asumsi Klasik ... 18

3.4.4 Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Wortel ... 20

3.4.5 Analisi Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani Wortel ... 21

4.2 Karakteristik Petani Responden ... 28

4.2.1 Usia Petani Responden ... 28

4.2.2 Tingkat Pendidikan Petani Responden ... 28

4.2.3 Luas Lahan Petani Responden ... 29

(14)

4.2.5 Jumlah Tanggungan Keluarga ... 30

4.2.6 Pekerjaan Sampingan... 31

4.3 Analisis Fungsi Produksi Usahatani Wortel ... 31

4.3.1 Uji Normalitas ... 32

4.3.2 Uji Heteroskedasitas ... 32

4.3.3 Uji Multikolinearitas ... 33

4.3.4 Uji Autokorelasi ... 33

4.3.5 Pengujian Terhadap Model Regresi... 34

4.4 Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel ... 38

4.5 Analisis Pendapatan Usahatani Wortel ... 40

4.5.1 Biaya Usahatani Wortel ... 40

4.5.2 Penerimaan Usahatani Wortel ... 46

4.5.3 Pendapatan Usahatani Wortel ... 46

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 48

5.1 Kesimpulan ... 48

5.2 Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman Teks

1. Luas Area Tanam, Panen, Produksi dan Produktivitas Wortel di Jawa

Timur Tahun 2000-2010 ... 2

2. Luas Area Tanam, Panen, Produksi dan Produktivitas di Kota Batu Tahun 2010 ... 3

3. Jumlah Petani Wortel di Dusun Jurangkwali, Desa Sumber Brantas dan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 16

4. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 24

5. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 25

6. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011... 25

7. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 26

8. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011... 27

9. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Matapencaharian di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 27

10. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Golongan Usia di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 28

11. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 28

12. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Luas Lahan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 29

13. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 30

14. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 30

15. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Pekerjaan Sampingan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011 ... 31

16. Hasil Uji Heteroskedasitas ... 32

17. Hasil Uji Multikolinearitas ... 33

18. Hasil Uji Regresi ... 34

19. Analisis Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-faktor Produksi Usahatani Wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu ... 38

20. Rata-Rata Biaya Tetap Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 40

21. Rata-Rata Biaya Variabel Untuk Sarana Produksi Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 41

(16)

23. Rata-Rata Biaya Variabel Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 45 24. Rata-Rata Total Biaya Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim

Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 46 25. Rata-Rata Total Biaya Usahatani Wortel Per Hektar dalam 1 Musim

Tanam di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ... 47

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman Teks

1. Kerangka Pemikiran Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman Teks

1. Peta Kecamatan Bumiaji ... 53

2. Quisioner Untuk Responden ... 54

3. Karakteristik Responden ... 58

4. Peralatan Usahatani ... 59

5. Sarana Produksi Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 60

6. Penggunaan Tenaga Kerja Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 62

7. Produksi Usahatani dalam Satu Musim Tanam ... 65

8. Biaya Tetap Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 66

9. Biaya Variabel Untuk Sarana Produksi Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 68

10. Biaya Variabel Untuk Tenaga Kerja Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 71

11. Total Biaya Variabel Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 74

12. Total Biaya, Penerimaan dan Pendapatan Petani Wortel Per Hektar dalam Satu Musim Tanam ... 76

13. Analisis Usahatani Wortel Per Hektar Dalam Satu Musim Tanam Di Kecamatan Bumiaji Kota Batu... 78

13. Uji Asumsi Klasik ... 79

14. Uji Regresi ... 80

15. Hasil Perhitungan Efisiensi Alokatif ... 81

(19)

I. PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Pertanian merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan. Sektor pertanian

sangat berpengaruh terhadap berkembangnya sektor lain (non-pertanian),

sehingga memiliki peranan penting bagi perkembangan perekonomian khususnya

di Indonesia. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi

yang nyata melalui pembentukan capital, penyediaan bahan pangan, bahan baku

industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara,

sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang

ramah lingkungan (Kementrian Pertanian, 2009). Di samping penyedia lapangan

kerja, sektor pertanian juga penghasil non migas dan bahan baku bagi industri.

Peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian sangat diperlukan untuk

meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani.

Wortel merupakan salah satu sayuran yang banyak di budidaya di

Indonesia. Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer

sebagai sumber vitamin A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). Selain

itu, wortel juga mengandung vitamin B, C, sedikit vitamin G, serta zat-zat lain

yang bermanfaat bagi kesehatan manusia (Hanum, 2008). Tanaman wortel

membentuk daun roset dan akar tunggang lumbung besar berdaging. Daun yang

muncul dari batang memiliki tangkai daun panjang yang membesar. Lembar

daunnya terbagi secara berulang dengan segmen lembar daun kecil, sempit dan

sangat terbelah. Akar tunggang, awalnya panjang, ramping, tumbuh vertikal,

mulai memanjang dengan cepat dan mencapai panjang potensialnya dalam 12-24

hari setelah berkecambah.

Produksi dan produktivitas wortel di Jawa Timur fluktuatif. Produksi dan

produktivitas terendah pada tahun 2002 dengan luas panen 2.119 ha menghasilkan

produksi sebesar 18.020 ton dengan produktivitas 85,04 ku/ha. Pertumbuhan

produksi dan produktivitas terbesar pada tahun 2010 yaitu dengan luas panen

3.597 ha menghasilkan produksi 53.798 ton dengan produktivitas 149,6 ku/ha, hal

tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tanaman wortel semakin meningkat.

Luas area tanam panen, produksi dan produktivitas wortel di Jawa Timur pada

(20)

Tabel 1. Luas Area Tanam, Panen, Produksi Dan Produktivitas Wortel di Jawa

Sumber : Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2011)

Kota Batu merupakan salah satu daerah yang berada di Jawa Timur dan

memiliki potensi di bidang pertanian khususnya tanaman wortel. Berdasarkan data

Dinas Pertanian Jawa Timur (2011), pada tahun 2007, Kota Batu menduduki

peringkat ketiga luas panen dan produksi terbesar setelah Pasuruan dan Malang

dengan luas panen 452 ha dan produksi sebesar 6.900 ton, serta memliki

produktivitas terbesar ketiga yaitu sebesar 15,26 ton/ha setelah Mojokerto dengan

produkstivitas sebesar 22,18 ton/ha dan ponorogo dengan produkstivitas 18,13

ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Batu memiliki potensi dalam usahatani

wortel dan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman wortel

dengan penggunaan faktor produksi yang efisien.

Kecamatan Bumiaji merupakan sentra penghasil wortel di Kota Batu

karena memiliki produksi dan luas lahan terbesar dibandingkan dengan kecamatan

lainnya di Kota Batu dengan luas lahan 444,8 ha, produksi mencapai 6.733,5 ton

dan produktivitas sebesar 15 ton/ha. Luas tanam di Kecamatan Batu hanya 13,05

ha dengan produksi 138,591 ton dan produktivitas sebesar 10,62 ton/ha,

sedangkan di Kecamatan Junrejo tidak membudidayakan wortel. Hal ini

mencerminkan bahwa usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji memiliki potensi

yang bagus dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Batu. Luas area

tanam, panen, produksi dan produktivitas di tiap-tiap kecamatan di Kota Batu

(21)

Tabel 2. Luas Area Tanam, Panen, Produksi Dan Produktivitas di Kota Batu

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu (2011)

Pada Tabel 2, produktivitas wortel di Kecamatan Bumiaji paling tinggi di

bandingkan dengan kecamatan. Tanaman wortel yang baik dan dipelihara secara

intensif dapat menghasilkan umbi antara 20 - 30 ton/ha (Hanum,2008). Makadari

itu petani masih dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman wortel

dengan penggunaan segala faktor produksi yang efisien, sehingga dapat

meningkatkan pendapatan petani.

Penduduk di Kecamatan Bumiaji rata-rata bermata pencaharian sebagai

petani dan salah satu tanaman yang banyak di budidaya yaitu tanaman sayur.

Wortel sangat cocok dibudidayakan pada dataran tinggi atau perbukitan dengan

kondisi tanah yang gembur dan subur, yang mana sesuai dengan keadaan lahan

pertanian Kecamatan Bumiaji yang berada pada dataran tinggi dan subur. Wortel

merupakan salah satu tanaman sayuran yang diminati oleh petani. Wortel

merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Tanaman wortel tergolong tanaman yang perawatannya cukup mudah. Resiko

kegagalan bertanam wortel umumnya sangat kecil bila dibandingkan dengan

tanaman sayuran lainnya. Skala usahatani wortel sangat bervariasi, mulai dari luas

lahan yang digunakan, pengolahan dan perlakuan lahan, perawatan sampai dengan

obat-obatan yang digunakan. Wortel banyak diminati petani karena mudah

perawatannya dan biaya yang dibutuhkan untuk memulai usahatani terjangkau

dari kalangan bawah ke atas. Panen wortel biasanya umur 3,5 – 4 bulan, akan

tetapi di daerah penelitian umur panen bisa mencapai umur 5 bulan, hal ini terjadi

karena petani ingin mencapai harga yang tinggi. Jika pada saat umur 3,5 – 4 bulan

harga wortel rendah, maka petani tidak memanen wortel. Petani membiarkan

wortel sampai umur 5 bulan untuk mendapatkan harga yang maksimal.

Upaya peningkatan produksi wortel bertujuan untuk meningkatkan

(22)

efisiennya dalam penggunaan segala faktor produksi pada proses pembudidayaan

wortel mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen.

Perlakuan dalam penggunaan segala faktor produksi antar petani berbeda. Petani

yang memiliki modal akan berusaha mendapatkan produksi wortel yang banyak

dengan penggunaan faktor produksi yang besar, sedangkan petani yang

mempunyai keterbatasan modal cenderung meminimalkan penggunaan faktor

produksi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa

penggunaan faktor-faktor produksi tidak efisien, sehingga berdampak

menurunnya output dan pendapatan yang diperoleh petani.

Oleh karena itu, diambil judul penelitian “Analisis Efisiensi Alokatif

Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel Di Kecamatan Bumiaji

Batu”, agar diketahui faktor-faktor produksi yang sangat berpengaruh terhadap

produksi wortel, serta berapa penggunaan faktor produksi yang optimal untuk

mencapai tefisiensi alokatif, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan

pendapatan petani wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

1.2 Rumusan Masalah

Potensi pertanian terutama sayuran di Kecamatan Bumiaji Kota Batu

sangat bagus sesuai tempatnya yang berada di dataran tinggi yaitu 1.000 - 1.700 m

dpl dan sesuai dengan karakteristik tempat untuk budidaya tanaman sayur

terutama wortel yaitu 1.200 – 1.500 m dpl. Penggunaan faktor produksi yang tepat

akan menghasilkan produksi dari usahatani yang maksimal, sehingga akan

berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diterima petani. Produksi tanaman

wortel tergolong bagus, akan tetapi hal tersebut di dorong dengan penggunaan

faktor produksi yang banyak, sehingga mempengaruhi hasil pendapatan yang

diterima petani. Begitu juga sebaliknya, penggunaan faktor produksi yang kecil

mengakibatkan hasil produksi wortel yang sedikit atau kurang maksimal.

Pendapatan petani didasarkan pada biaya yang dikeluarkan dan produksi

usahatani yang dihasilkan dalam satu musim tanam. Untuk meningkatkan

produksi dan pendapatan, penggunaan faktor-faktor produksi harus efisien dan

efektif. Efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki

sebaik-baiknya dan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan

(23)

Akan tetapi dalam fenomena yang ada, petani tidak efisien dalam

penggunaan segala faktor produksi. Salah satu contoh penggunaan bahan pestisida

yang intensif dan tidak sesuai dosis mengakibatkan menambahnya biaya sarana

produksi dan secara berkelanjutan mengakibatkan menurunnya hasil produksi

karena akan rentan terhadap hama dan penyakit. Pestisida digunakan untuk

membasmi hama dan penyakit, sehingga produksi wortel yang dihasilkan bagus.

Makadari itu petani intensif melakukan penyemprotan agar tanaman wortel tidak

rusak. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan dan pemanfaatan faktor

produksi tidak maksimal. Petani melakukan penyemprotan secara intensif agar

menghasilkan produksi wortel yang bagus, sehingga menambah biaya yang

dikeluarkan untuk penyemprotan dan biaya tenaga kerja. Hal ini menggambarkan

bahwa penggunaan pestisida tidak efisien dan pendapatan petani dari usahatani

wortel semakin berkurang.

Pupuk sebagai penunjang dalam pertumbuhan tanaman. Penggunaan

pupuk akan mempengaruhi hasil usahatani. Pupuk yang digunakan oleh petani

yaitu pupuk kandang, urea SP36 atau TSP, KCL, NPK dan ZA. Dalam

penerapannya, jenis dan dosis penggunaan pupuk antar petani berbeda-beda

meskipun dalam luasan yang sama, tergantung pengalaman dan ekonomi petani.

Selisih penggunaan benih cukup besar antar petani meskipun dalam luasan lahan

yang sama. Petani yang memiliki modal dalam pengunaan pupuk cenderung lebih

besar dan sebaliknya, bagi petani yang memiliki modal sedikit cenderung

menimimalkan penggunaan pupuk untuk mengurangi biaya variabel yang

dikeluarkan.

Benih yang digunakan merupakan hasil dari budidaya petani setempat atau

lokal. Dalam penanaman, benih di sebar di lahan yang telah di olah. Rata-rata

penggunaan benih di Kecamatan Bumiaji dalam luasan satu hektar menggunakan

55,6 kobok atau 8,9 kg/ha. Menurut Hanum (2008), kebutuhan benih wortel

adalah 15-20 g/10 m2 atau 15-20 kg/ha.Petani meminimalkan penggunaan benih

karena nantinya pada proses produksi dilakukan penjarangan dimana sebagian

tanaman wortel akan dicabut. Pada proses penjarangan dimana wortel yang

pertumbuhannya tidak bagus akan dicabut dan agar tidak terjadi persaingan antar

(24)

penyakit atau pertumbuhannya tidak maksimal, maka tanaman wortel yang tersisa

di lahan semakin sedikit dan berdampak pada menurunnya produksi dan

pendapatan yang diteima oleh petani wortel. Hal ini menggambarkan bahwa

penggunaan benih belum efisien.

Selain itu, faktor pengalaman petani atau tenaga kerja dalam mengelola

usahatani mulai dari pengolahan lahan sampai panen juga menjadi permasalahan

bagi petani. Faktor produksi tidak hanya dilihat dari segi jumlah atau ketesediaan

dalam waktu yang tepat. Akan tetapi juga dilihat dari segi efisiensi

penggunaannya. Faktor penting dalam pengolahan usahatani yaitu tanah atau

lahan, tenaga kerja dan modal (Mubyarto, 1989). Ketiga faktor tersebut saling

membutuhkan dan berkaitan dalam menunjang hasil dari usahatani.

Menurut Soekardono (2005), dilihat dari konsep efisiensi ekonomis,

pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila ia dapat menghasilkan

keuntungan maksimum. Rendahnya produksi usahatani salah satunya disebabkan

tidak efisiensinya penggunaan faktor produksi. Hal itu akan berpengaruh pada

produksi dan pendapatan yang diperoleh petani. Pentingnya konsep efisiensi yaitu

untuk mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor produksi agar mendapatkan

produksi wortel yang maksimal dan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan

pendapatan petani wortel.

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, timbul beberapa pertanyaan

penelitian sebagai berikut:

1. Faktor-faktor produksi apa yang berpengaruh terhadap produksi wortel di

Kecamatan Bumiaji Kota Batu?

2. Bagaimana tingkat efisiensi faktor-faktor produksi terhadap produksi wortel di

Kecamatan Bumiaji Kota Batu?

3. Berapa pendapatan yang diterima petani dari hasil usahatani di Kecamatan

Bumiaji Kota Batu?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menganalisis faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi

wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

2. Menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani

(25)

3. Menganalisis pendapatan usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan informasi bagi para instansi yang terkait untukmeningkatkan

produksi dan produktivitas wortel di Kecamatan Bumiaji Batu.

2. Sebagai informasi dan bahan pertimbangan yang berguna bagi para petani

dalam peningkatkan efisiensi yang dapat meningkatkan produktivitas dan

pendapatan dari usahatani wortel.

3. Sebagai bahan referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya dan bagi

(26)

II. KERANGKA TEORITIS 2.1 Kerangka Pemikiran

Kecamatan Bumiaji merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Batu

yang mempunyai potensi dalam bidang hasil pertanian terutama tanaman sayuran

wortel. Luas lahan dan produktivitasnya lebih besar di bandingkan kecamatan

lainnya Tanahnya sangat cocok untuk tanaman wortel dan tempatnya yang berada

di dataran tinggi 1.000 - 1.700 m dpl sesuai dengan karakteristik tempat untuk

budidaya tanaman sayur terutama wortel yaitu 1.200 – 1.500 m dpl.

Produktivitas dipengaruhi oleh besar kecilnya input yang digunakan dalam

usahatani. Penggunaan faktor produksi yang minimal akan menyebabkan

menurunnya jumlah produksi begitu juga sebaliknya, penggunaan faktor produksi

yang berlebih menyebabkan penggunaannya menjadi tidak efisien. Penggunaan

faktor produksi diperlukan untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal

yang berpengaruh terhadap pendapatan petani wortel. Permasalahan petani dalam

usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji yaitu tidak efisiennya dalam penggunaan

faktor-faktor produksi pada proses pembudidayaan wortel mulai dari pengolahan

lahan, penanaman, pemeliharaan sampai panen. Penggunaan faktor-faktor

produksi antar petani berbeda. Petani yang memiliki modal akan berusaha

mendapatkan produksi wortel yang besar dengan pengalokasian faktor produksi

yang besar pula, sedangkan petani yang keterbatasan modal akan cenderung

meminimalkan penggunaan faktor produksi untuk mengurangi biaya yang

dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi tidak

efisien. Menurut Soekartawi (2002), ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang

mempelajari mengalokasikan sumberdaya secara efektif dan efisien untuk tujuan

memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

Dalam produksi pertanian, produksi fisik dihasilkan oleh bekerjanya

beberapa faktor produksi yaitu tanah atau lahan, modal dan tenaga kerja

(Mubyarto, 1989). Faktor modal bisa meliputi uang atau barang seperti benih,

pupuk dan pestisida yang digunakan. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan

menunjang dalam proses produksi usahatani, serta mempengaruhi produktivitas

sesuai dengan penggunaan dan pemanfaatannya. Produktivitas tanaman

(27)

digunakan dalam usahatani (input). Produktivitas tersebut akan mempengaruhi

pendapatan yang akan diterima oleh petani.

Faktor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi wortel di

daerah penelitian yaitu tenaga kerja dan modal yang meliputi biaya untuk

pembelian benih, pupuk, pestisida dan upah tenaga kerja. Ketersediaan tenaga

kerja sebagai penunjang dalam pelaksanaan usahatani. Kebutuhan jumlah tenaga

kerja tergantung dengan luasan lahan yang dikelola dan berapa lama waktu yang

dibutuhkan untuk menyelesaiakan proses produksi usahatani. Tenaga kerja yang

berasal dari keluarga lebih cenderung produktif dalam mengelola usahataninya

dibandingkan dengan tenaga kerja luar karena hasil produksi sepenuhnya di

rasakan oleh petani yang mengelola dan memiliki usahataninya, sedangkan tenaga

kerja luar hanya berorientasi terhadap upah.

Benih merupakan sarana produksi yang digunakan oleh petani, rata-rata

benih berasal dari petani di daerah tersebut. Mayoritas petani mengetahui cara

membudidayakan wortel yang digunakan untuk memproduksi benih wortel. Lahan

yang digunakan untuk budidaya benih wortel merupakan lahan pertanian yang

sudah digunakan budidaya sayuran, sedangkan kandungan residunya sangat

tinggi, sehingga kualitas benih yang dihasilkan rendah. Kualitas dan kapasitas

benih yang digunakan akan mempengaruhi produksi wortel.

Pupuk digunakan untuk penunjang pertumbuhan tanaman. Volume dan

jenis penggunaan pupuk akan mempengaruhi produktivitas tanaman wortel.

Produksi wortel akan meningkat apabila penggunaan pupuk tepat dan sesuai

dengan dosis. Pupuk yang digunakan dalam usahatani wortel yaitu urea, KCL,

NPK, ZA, TSP atau SP36 dan pupuk kandang

Pestisida digunakan untuk mengendalikan atau membasmi hama penyakit.

Hama dan penyakit dapat merusak tanaman yang akan menurunkan produksi

wortel. Penggunaan pestisida bertujuan untuk mencegah atau membasmi hama

dan penyakit, sehingga hasil produksi wortel bagus, akan tetapi penggunaan yang

berlebih akan merusak atau mencemari lingkungan sekitar, dan dalam jangka

panjang dapat menurunkan produksi wortel.

Metode yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor produksi yang

(28)

produksi Cobb-Douglas. Alat yang digunakan adalah analisis Regresi Linier

Berganda dengan melihat nilai thitung dapat diketahui faktor yang berpengaruh

nyata terhadap produksi wortel.

Penelitian terdahulu tentang analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor

produksi dalam usahatani padi sawah di Desa Bulu, Kecamatan Berbek,

Kabupaten Nganjuk yang dilakukan oleh Romauli (2008) dengan menggunakan

metode analisis fungsi produksi Cobb-Douglas diperoleh hasil bahwa benih, urea,

ponska dan tenaga kerja berpengaru nyata terhadap produksi padi sawah.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis efisiensi ekonomi penggunaan

faktor-faktor produksi pada usahatani kedelai di Kabupaten Sukoharjo yang

dilakukan oleh Wiwit (2010) dengan menggunakan fungsi produksi

Cobb-Douglass diperoleh hasil bahwa variabel yang secara signifikan mempengaruhi

produksi kedelai yaitu variabel luas lahan, pupuk kandang, pestisida padat.

Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi

yang berpengaruh terhadap produksi wortel untuk mengetahui apakah usahatani

tersebut sudah efisien. Dengan melihat nilai produk marginal (NPM) dapat

diketahui sudah efisien atau tidak penggunaan faktor-faktor produksinya. Apabila

NPMx sama dengan Px, maka penggunaan faktor produksi tersebut efisien.

Menurut Soekardono (2005), untuk menentukan tingkat produksi optimum

menurut konsep efisiensi ekonomis, tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi

produksi, tetapi ada syarat lagi yang harus diketahui, yaitu rasio harga

input-output. Agar keuntungan mencapai maksimum maka turunan pertama fungsi

tersebut harus sama dengan nol, sehingga diperoleh nilai produk marginal (NPM)

dari faktor produksi yang digunakan harus sama dengan harga satuan faktor

produksi itu (Px).

Kemudian dilakukan analisis pendapatan usahatani wortel untuk

mengetahui berapa pendapatan yang diterima oleh petani dengan menghitung

selisish antara penerimaan atau output yang di peroleh petani dengan semua biaya

yang dikeluarkan atau input yang digunakan dalam satu kali musim tanam.

Dengan penggunaan faktor produksi yang efisien, maka akan meningkatkan

(29)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel di Kecamatan Bumiaji

Input berdampak pada produksi wortel dan

pendapatan petani

(30)

2.2 Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan, maka dalam penelitian ini

dapat ditarik hipotesis yaitu:

1. Diduga faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi pada

usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Batu adalah benih, pupuk, pestisida

dan tenaga kerja.

2. Diduga penggunaan faktor produksi usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji

Batu tidak efisien.

3. Diduga usahatani wortel di Kecamatan Bumiaji Batu menguntungkan.

2.3 Batasan Masalah

1. Yang dimasukkan dalam variabel bebas yaitu sarana produksi dan tenaga

kerja, sedangkan lahan tidak dimasukkan dalam variabel karena sifatnya tetap

atau termasuk biaya tetap.

2. Tempat penelitian di Kecamatan Bumaji Batu, khususnya Desa Sumber

Brantas dan Desa Tulungrejo.

3. Responden adalah petani yang menanam tanaman wortel pada tahun

2011-2012.

4. Yang diteliti adalah tentang pengaruh faktor produksi (tenaga kerja, benih,

pupuk dan pestisida) terhadap produksi wortel, tingkat pendapatan atau

keuntungan dan tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani wortel.

2.4Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel yang diamati yaitu informasi mengenai usahatani wortel yang

diusahakan oleh petani. Variabel tersebut didefinisikan terlebih dahulu untuk

memudahkan pengumpulan data yaitu:

1. Efisisensi alokatif adalah efisiensi yang dicapai apabila nilai produk marginal

(NPM) dari faktor produksi yang digunakan harus sama dengan harga satuan

faktor produksi itu (Px).

2. Luas lahan adalah sebidang tanah yang digunakan untuk usahatani wortel

dalam satu kali musim tanam dan dalam satuan hektar (ha).

3. Tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam proses usahatani

(31)

pemupukan, pemeliharaan sampai dengan panen baik berasal dari dalam

keluarga maupun dari luar keluarga petani yang dihitung dalam HOK (Hari

Orang Kerja).

4. Benih adalah total benih wortel yang digunakan petani dalam usahatani setiap

satu kali musim tanam dalam luasan lahan tertentu yang dinyatakan dalam

satuan kilogram per hetar dalam satu musim tanam (kg/ha/musim tanam).

5. Pupuk adalah penggunaan pupuk sebagai penunjang dalam usahatani wortel

setiap satu kali musim tanam yaitu pupuk kandang, urea, TSP atau SP36,

KCL, NPK, ZA yang diukur dalam kilogram per hektar dalam satu musim

tanam (kg/ha/musim tanam).

6. Pestisida adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan atau

membasmi hama atau penyakit yang diukur dalam satuan kilogram per hektar

dalam satu musim tanam (kg/ha/musim tanam).

7. Produksi adalah hasil tanaman wortel yang dihasilkan dalam satu musim

tanam dengan satuan kilogram per hektar dalam satu musim tanam

(kg/ha/musim tanam).

8. Harga jual adalah harga jual wortel yang diterima petani yang diukur dengan

satuan rupiah per kilogram (Rp/kg).

9. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani wortel

yang besar kecilnya tidak dipengaruhi dengan besar kecilnya output yang

diperoleh yang meliputi biaya pajak lahan dan penyusutan peralatan yang

dikeluarkan oleh petani dalam satu musim tanam yang diukur dengan satuan

rupiah per hektar dalam satu musim tanam (Rp/ha/musim tanam).

10.Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani wortel

yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan yang

meliputi biaya pembelian benih, pupuk kandang, pupuk kimia, pestisida, serta

upah tenaga kerja dalam satu kali musim tanam yang diukur dengan satuan

rupiah per hektar dalam satu musim tanam (Rp/ha/musim tanam).

11.Total biaya adalah semua pengeluaran yang meliputi biaya tetap dan variabel

dalam usahatani wortel tiap satu musim tanam yang diukur dengan satuan

(32)

12.Total penerimaan adalah hasil perkalian antara jumlah produksi wortel dengan

harga jual dengan satuan rupiah per hektar dalam satu musim tanam

(Rp/ha/musim tanam).

13.Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dan total biaya

yang dikeluarkan dalam usahatani wortel per satu kali musim tanam dengan

(33)

III. METODE PENELITIAN 3.1Lokasi Penelitian

Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) di

Kecamatan Bumiaji Batu Propinsi Jawa Timur. Teknik purposive dilakukan

dengan dasar pertimbangan yakni Kecamatan Bumiaji merupakan Kecamatan di

Kota Batu yang wilayahnya berada pada hulu DAS Brantas yang memiliki banyak

sumbermata air dan berpotensi sebagai lahan pertanian khususnya tanaman

sayuran wortel, dimana luas lahan, produksi dan produktivitasnya paling besar

dibandingkan kecamatan lainnya di Kota Batu (lihat Tabel 2).

3.2 Teknik Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah petani wortel di Kecamatan Bumiaji,

Kota Batu. Penentuan sampel menggunakan metode sampel gugus bertahap.

Metode sampel gugus bertahap merupakan metode dimana pengambilan sampel

yang dilakukan secara bertahap berdasarkan wilayah-wilayah yang ada

(Singarimbun dan Effendi, 2008). Populasi dapat dibagi-bagi dalam gugus tingkat

pertama, kemudian gugus tingkat pertama dapat pula dibagi dalam gugus tingkat

kedua, dan seterusnya. Demikian juga sampel satu dari populasi sampling pertama

dijadikan populasi sampling kedua untuk menentukan sampel dua dan begitu

seterusnya sampai ditentukan sampel sesuai dengan penelitian yang dilakukan.

Tahap pertama yaitu menetapkan desa sampel yaitu dari 9 desa wilayah di

Kecamatan Bumiaji dipilih 2 desa sebagai sampel. Pemilihan dilakukan secara

sengaja atau purposive dipilih dua desa yaitu Desa Sumber Brantas dan Desa

Tulungrejo dengan pertimbangan kedua desa tersebut memiliki potensi untuk

usahatani wortel dan petani yang banyak membudidayakan wortel.

Tahap Kedua, dengan terpilihnya 2 desa sampel tersebut, selanjutnya tiap

desa dipilih satu dusun sebagai sampel. Pemilihan dusun berdasarkan jumlah

petani yang banyak membudidayakan wortel. Desa Sumber Brantas memiliki 3

(34)

Tabel 3. Jumlah Petani Wortel di Dusun Jurangkwali, Desa Sumber Brantas dan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011

No Desa Dusun Petani Wortel (Orang)

1 Sumber Brantas Jurangkwali 249

2 Tulungrejo Junggo 379

Sumber : Data primer (2012)

Dari Tabel 3 diketahui jumlah petani wortel di Dusun Jurangkwali Desa

Sumber Brantas sebanyak 249 petani dan di Dusun Junggo Desa Tulungrejo

sebanyak 379 petani. Tidak semua petani tersebut akan dijadikan responden,

tetapi akan ditarik lagi sampel tahap ketiga secara random dan berimbang.

Menurut Arikunto (1998), apabila jumlah populasi lebih dari 100, maka

dapat diambilantara 10% – 15% atau 20% – 25% atau lebih dari jumlah populasi.

Pada tahap ketiga peneliti mengambil sampel 10% dari jumlah petani wortel di

lokasi penelitian dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga. Jumlah petani dari

masing-masing dusun yaitu:

Dusun Jurangkwali Desa Sumber Brantas : 25 petani sayur

Dusun Junggo Desa Tulungrejo : 38 petani sayur

Berdasarkan perhitungan di atas, jumlah petani yang dijadikan sampel

dalam penelitian ini sebanyak 63 petani. Untuk mendapatkan sampel yang

menggambarkan populasi, dapat dilihat pada Gambar 2.

(35)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari dua macam, yaitu data primer dan

data sekunder.

1. Data Primer

Metode pengambilan data primer ini dilakukan dengan cara:

a. Wawancara adalah suatu cara mengumpulkan data dengan tanya jawab

langsung kepada petani wortel. Wawancara dilaksanakan dengan dilengkapi

kuisioner, yaitu suatu daftar pertanyaan yang berhubungan dengan judul

penelitian untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Data yang diambil yaitu

mengenai karakteristik responden, luas lahan, faktor-faktor produksi yang

digunakan serta biayanya dan produksi yang dihasilkan dalam satu musim

tanam.

b. Observasi merupakan kegiatan pengamatan secara langsung di lapangan

mengenai fenomena yang ada baik merupakan aktivitas sehari-hari maupun

kegiatan yang berhubungan penelitian. Dalam kegiatan penelitian data yang

diambil yaitu mengenai faktor-faktor produksi dan kuantitasnya yang

digunakan dalam usahatani wortel.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pustaka, peneliti terdahulu

dan lembaga atau instansi terkait yang yang digunakan sebagai data pelengkap

dan pendukung dari hasil lapang yang diperoleh atau data primer. Data sekunder

diperoleh dengan bertanya dan mengambil langsung dari kantor Desa Sumber

Brantas, Desa Tulungrejo dan Dinas Pertanian. Data yang digunakan yaitu luas

lahan, produksi wortel dan jumlah penduduk.

3.4Teknik Analisis Data 3.4.1 Analisis Deskriptif

Metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan keadaan yang

berhubungan dengan masalah penelitian yang tidak bisa dijelaskan secara

kuantitatif serta untuk mempermudah peneliti dalam menggambarkan atau

(36)

di lokasi penelitian, karakteristik petani, keadaan penduduk dan letak geografis

daerah penelitian.

3.4.2 Analisis Fungsi Produksi Cobb_Douglas

Model fungsi produksi Cobb-Douglas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

Y= b0 X1b1 X2b2 X3b3 X4b4 eu

Keterangan :

b0 = intersep/konstanta

b1..,b4 = elastisitas produksi dari X1,...,X4 Y = produksi (kg)

Untuk mempermudah pendugaan hasil fungsi, fungsi Cobb-Douglas

diturunkan menjadi bentuk linier sebagai berikut :

LnY = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + β4LnX4 + u

Pertimbangan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi

Cobb-Douglas yaitu umum digunakan dalam penelitian empiris di bidang pertanian,

memiliki penyelesaian relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi produksi

lain dan dapat ditransfer ke dalam bentuk linier.

3.4.3 Uji Asumsi Klasik

Persamaan regresi yang dihasilkan melalui proses perhitungan tidak selalu

merupakan model yang baik untuk melakukan estimasi terhadap variabel

independennya. Model regresi yang baik harus bebas dari penyimpangan asumsi

klasik, yang terdiri dari asumsi kenormalan, multikolinearitas, heteroskedasitas,

dan autokorelasi.

1. Uji Normalitas

Gujarati (2010) mengemukakan bahwa regresi linear membutuhkan

asumsi kenormalan data dengan beberapa alasan sebagai berikut :

a. Data berdistribusi normal akan menghasilkan model prediksi yang tidak bias

(37)

b. Data berdistribusi normal akan menghasilkan model yang konsisten yaitu

dengan meningkatnya jumlah sampel ke jumlah yang tidak terbatas, maka

penaksir mengarah ke nilai populasi yang sebenarnya.

Salah satu pengujian normalitas dengan menggunakan teknik Kolmogorov

Smirnov. Uji Kolmogorov Smirnov adalah uji beda antara data yang diuji

normalitasnya dengan data normal baku. Penerapan pada Uji Kolmogorov

Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji

mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data

tersebut tidak normal. Jika signifikansi di atas 0,05, maka berarti tidak terdapat

perbedaan yang signifikan antara data yang akan diuji dengan data normal baku,

artinya data yang uji normal.

2. Heteroskedastisitas

Hetersoskedasitas terjadi apabila variasi ut tidak konstan atau berubah

ubah secara sistematik seiring dengan berubahnya nilai variabel independen

(Gujarati, 2010). Uji statistik yang digunakan yaitu Uji Glejser. Uji Glejser

dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai absolut

residualnya. Apabila menghasilkan signifikansi >0,05, maka variabel pada model

regresi yang digunakan tidak terjadi gejala heteroskedasitas.

3. Multikolinearitas

Masalah multikolinearitas muncul jika terdapat hubungan yang sempurna

atau pasti di antara satu atau lebih variabel independen dalam model.Dalam kasus

terdapat multikolinearitas yang serius, koefisien regresi tidak lagi menunjukkan

pengaruh murni dari variabel independen dalam model.Untuk mendeteksi apakah

terjadi masalah multikol maka dapat melihat nila VIF (variance inflation factor).

Jika nilai VIF di atas 10, maka terjadi masalah multikolinieritas, sebaliknya nilai

VIF di bawah 10, berarti variabel tidak mengalami masalah multikolinieritas.

4. Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linier ada

korelasi atau kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu

pada periode sebelumnya (t-1). Uji autokorelasi menggunakan Uji Durbin

Waston. Jika du < d < 4–du, maka Ho ditolak yang berarti tidak ada autokorelasi

(38)

Jika syarat asumsi telah terpenuhi terhadap persamaan regresi, maka

melihat nilai koefisien determinasi (R2), nilai statistik F, dan uji T untuk menguji

ketepatan regresi.

a. Koefisien determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) merupakan besaran yang digunakan untuk

menunjukkan seberapa besar keseluruhan model dalam menerangkan nilai

variabel terikat. Dalam penelitian ini, ingin diketahui seberapa besar persentase

faktor-faktor produksi (X) dalam mempengaruhi hasil produksi (Y).

b. Uji F

Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (X) secara

keseluruhan terhadap variabel terikat (Y). Jadi, digunakan untuk melihat apakah

semua faktor produksi (benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja) berpengaruh

terhadap produksi wortel.

Jika Fhitung>Ftabel , maka tolah Ho terima Ha, artinya semua variabel bebas (X)

berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y)

Jika Fhitung<Ftabel , maka terima Ho tolak Ha, artinya semua variabel bebas (X)

tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y)

c. Uji T

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh secara parsial masing-masing

variabel bebas (Xi) terhadap variabel terikat (Y). Jadi, setiap faktor-faktor

produksi diuji t untuk mengetahui apakah variabel tersebut berpengaruh terhadap

produksi wortel.

Jika thitung>ttabel , maka tolah Ho terima Ha, artinya variabel bebas berpengaruh

nyata terhadap variabel terikat.

Jika thitung<ttabel , maka terima Ho tolak Ha, artinya variabel bebas tidak

berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

3.4.4 Analisis Efisiensi Penggunan Faktor Produksi Usahatani Wortel

Usahatani wortel dapat dikatakan efisien apabila nilai produk marginal

(NPM) suatu faktor produksi sama dengan harganya. Untuk mengetahui tingkat

efisiensi alokatif dari usahatani ditunjukkan dengan nilai rasio NPMxi dengan Pxi

(39)

Ep = / Py = harga produk persatuan (Rp) Epi = elastisitas produk ke-i

Y = produksi (kg)

Xi = faktor produksi ke i

3.4.5 Analisis Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani Wortel

1. Analisis Biaya Usahatani Wortel

Biaya usahatani merupakan total biaya tetap yang meliputi penyusutan

peralatan dan sewa lahan, serta biaya variabel seperti biaya benih, pupuk,

pestisida dan tenaga kerja per hektar dalam satu kali musim tanam yang

digunakan dalam usahatani wortel. Besarnya biaya produksi dapat dihitung

sebagai berikut :

2. Analisis Penerimaan Usahatani Wortel

Penerimaan usahatani adalah perkalian antara jumlah produksi wortel yang

dihasilkan per hektar dalam satu kali musim tanam dengan harga jualnya per

(40)

usahatani serta harga jual per produk. Penerimaan dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

TR = Y.Py

Keterangan :

TR = Total Penerimaan (Rp)

Py = Harga per satuan produksi (Rp) Y = Jumlah produksi (Rp)

3. Analisis Pendapatan Usahatani Wortel

Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan yang di dapat

dengan total biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani berlangsung dalam

satu musim tanam. Besarnya pendapatan usahatani dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :

π = TR – TC Keterangan :

(41)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Letak Geografis

Kecamatan Bumiaji secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kota

Batu, Jawa Timur dan merupakan wilayah terluas di Kota Batu yaitu 12,797,89

Ha atau ± 64,28 % dari seluruh wilayah Kota Batu. Kecamatan Bumiaji memiliki

9 desa yaitu Desa Sumberbrantas, Tulungrejo, Sumbergondo, Punten, Bulukerto,

Gunungsari, Bumiaji, Pandanrejo dan Giripurno.

Adapun batas-batas administratif Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah

sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kabupaten Malang dan Mojokerto

Sebelah Selatan : Kecamatan Batu

Sebelah Barat : Kabupaten Malang

Sebelah Timur : Kabupaten Malang

Gambar peta Kecamatan Bumiaji dapat dilihat pada Lampiran 1.

Dalam penelitian ini diambil dua sebagai lokasi penelitian, yaitu Desa

Tulungrejo dan Desa Sumber Brantas. Berikut kondisi geografis Desa Tulungrejo

dan Desa Sumber Brantas.

a. Desa Tulungrejo

Desa Tulungrejo merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan

Bumiaji. Luas Wilayah Desa Tulungrejo yaitu 80,701Km2. Jarak antara Desa

Tulungrejo dengan Kecamatan Bumiaji yaitu 1,5 Km, dengan Pemerintahan Kota

6 km dan dengan Pemerintahan Provensi 133 km. Desa Tulungrejo memiliki lima

dusun yaitu Dusun Gondang, Dusun Kekep, Dusun Gerdu, Dusun junggo dan

Dusun Wonorejo.

Adapun batas-batas Desa Tulungrejo adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Desa Sumberbrantas.

Sebelah Selatan : Desa Punten.

Sebelah Barat : Kehutanan.

(42)

b. Desa Sumber Brantas

Desa Sumber Brantas sebelumnya secara administratif ikut pemerintahan

Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Akan tetapi, mulai tahun 2005

dipisah dari Desa Tulungrejo yang sebelumnya bernama Dusun Sumber Brantas

menjadi Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Desa Sumber

Brantas memiliki luas 541,1364 Ha. Jarak antara pusat pemerintahan Kota Batu

dengan Desa Sumber Brantas yaitu 18 km. Suhu rata-rata 12˚c - 22 ˚c dengan

curah hujan yang tinggi dan ketinggian dari permukaan laut 400 - 1.700 dpa. Desa

Sumber Brantas terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Krajan, Dusun Lemah Putih

dan Dusun Jurang Kuali.

Adapun batas-batas Desa Sumber Brantas adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Hutan dan Kabupaten Mojokerto

Sebelah Selatan : Dusun Wonorejo dan Desa Tulungrejo

Sebelah Barat : Hutan dan Gunung Anjasmoro

Sebelah Timur : Hutan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang

4.1.2 Penggunaan Lahan

Sebagian besar wilayah Kecamatan Bumiaji berupa hutan dengan luas

3.262 ha atau 23,59%, sedangkan sisanya digunakan untuk ladang, sawah dan

lainnya. Mengenai jenis lahan yang ada di Kecamatan Bumiaji Kota Batu, dapat

dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Penggunaan Tanah di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011

No Penggunaan Luas (ha) Persentase (%)

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, 2011.

Berdasarkan Tabel 4 penggunaan tanah di Desa Sukolilo mayoritas adalah

(43)

diketahui bahwa ketergantungan penduduk pada pertanian cukup besar, sehingga

tidak sedikit penduduk yang terjun di bidang pertanian khususnya dalam usahatani

sayuran, salah satunya yaitu budidaya wortel.

a. Desa Tulungrejo

Sebagian besar penggunaan lahan di Desa Tulungrejo adalah untuk lahan

pertanian. Hal ini karena lahannya cukup subur sehingga berpotensi untuk

dijadikan lahan pertanian. Berikut di bawah persentase luas lahan berdasarkan

jenis penggunaan lahan di Desa Tulungrejo yang disajikan ada Tabel 5.

Tabel 5. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011

No. Jenis Penggunaan Lahan Luas lahan (Ha) Persentase (%)

1. Sawah 40.255 4,99

2. Ladang/Tegalan 559.227 69,34

3. Pemukiman 102.257 12,68

4. Lain – lain 104.740 12,99

J u m l a h 806.479 100,00

Sumber: Kantor Desa Tulungrejo, 2011.

Dari Tabel 5, jenis penggunaan tanah di Desa Tulungrejo 69,34%. adalah

ladang . Dari data dapat diketahui bahwa penduduk Desa Tulungrejo tidak sedikit

yang terjun di dunia pertanian. Tanahnya cocok untuk tanaman sayur khususnya

budidaya tanaman wortel dan kentang serta tanaman tahunan yaitu apel.

b. Desa Sumber Brantas

Desa Sumber Brantas berdasarkan penggunaan atas lahan memiliki luas

sebesar 541,1364 Ha. Berikut penggunaan lahan di Desa Sumber Brantas yang

dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Persentase Luas Lahan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011

No. Jenis Penggunaan Lahan Luas lahan (Ha) Persentase (%)

1 Pemukiman 94,5710 17,48

2 Pekarangan 51,6320 9,54

3 Pertanian 358,3234 66,22

4 Lain-lain 36,6100 6,76

Jumlah 541,1364 100,00

(44)

Dari Tabel 6, penggunaan lahan di Desa Sumber Brantas terbesar adalah

lahan pertanian dengan luas 358,3234 Ha atau 66,22 %. Sebagian besar lahan

pertanian ditanami tanaman sayuran seperti kentang, wortel, kubis dan sawi.

Karena tanaman sayuran tersebut cocok dibudidayakan di Desa Sumber Brantas.

4.1.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Pada umumnya sumber mata pencaharian penduduk di Kecamatan

Bumiaji Kota Batu adalah petani. Komposisi penduduk Kecamatan Bumiaji

berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat di Tabel 7.

Tabel 7. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011

No Keterangan Jumlah (Orang) Persentase(%)

1 Petani 12828 43.21

2 Pekerja Disektor Jasa/Perdagangan 2151 7.24

3 Pekerja Disektor Industri 749 2.52

4 Mengurus Rumah Tangga 1062 3.57

5 Pelajar / Mahasiswa 2298 7.74

6 Lain-lain 10602 35.72

Jumlah 29690 100,00

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, 2011.

Berdasarkan Tabel 7, mayoritas penduduk di Kecamatan Bumiaji bermata

pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 12.828 penduduk atau 43,21% dari

total penduduk berdasarkan mata pencaharian, sisanya sebagai pekerja disektor

jasa, industri, buruh tani dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas

perekonomian di dominasi oleh sektor pertanian, sehingga tidak sedikit penduduk

yang berusahatani wortel khususnya tanaman wortel.

a. Desa Tulungrejo

Mayoritas mata pencaharian penduduk di Desa Tulungrejo adalah sebagai

petani. Hal ini dikarenakan lahan yang subur sehingga sangat cocok untuk

dijadikan lahan pertanian. Persentase jumlah penduduk Desa Tulungrejo

(45)

Tabel 8. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011

No Keterangan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1. Petani 1663 77,7

2. Pekerja disektor jasa/perdagangan 185 8,7

3. Pekerja disektor industry 292 13,6

Jumlah 2140 100,0

Sumber: Kantor Desa Tulungrejo, 2011.

Dari data pada Tabel 8 di atas, mayoritas penduduk Desa Tulungrejo

bermata pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 1.663 penduduk atau 77,7%

dari total penduduk berdasarkan mata pencaharian. Hal ini menunjukkan bahwa

aktivitas perekonomian di dominasi oleh sektor pertanian, sehingga penduduk

mengandalkan kegiatan usahatani dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

b. Desa Sumber Brantas

Mayoritas mata pencaharian penduduk di Desa Tulungrejo adalah sebagai

petani. Hal ini dikarenakan lahan yang subur sehingga sangat cocok untuk

dijadikan lahan pertanian. Persentase jumlah penduduk Desa Tulungrejo

berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun 2011

No Keterangan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1. Petani 1.481 58,4

2. Pekerja disektor jasa/perdagangan 318 12,6

3. Buruh 737 29,0

Jumlah 2536 100,0

Sumber: Kantor Desa Sumber Brantas, 2011.

Berdasarkan pada Tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa persentase

jumlah penduduk Desa Sumber Brantas yang paling besar bermatapencaharian

sebagai petani yaitu 58,74%. Sisanya bermatapencaharian sebagai buruh 29% dan

pekerja disektor jasa/perdagangan 12,6%. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian

merupakan sektor penting dalam perekonomian di Desa Sumber Brantas, sehingga

(46)

4.2 Karakteristik Petani Responden 4.2.1 Usia Petani Responden

Faktor usia berkaitan dengan mudahnya atau cepatnya petani dalam

menerima informasi atau mengadopsi inovasi, serta dalam melakukan proses

produksi usahatani wortel. Distribusi petani responden berdasarkan kelompok usia

dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Golongan Usia di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011

No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

Sumber : Data primer yang diolah, 2012.

Persentase terbesar usia petani responden berada pada kisaran umur 41 -

50 tahun yaitu 34,92% dan terendah pada kisaran umur 21 - 30 tahun yaitu 7,94%.

Umur petani responden mulai dari umur 21 - 70 tahun. Hal tersebut menunjukkan

bahwa pada umur tersebut petani masih produktif dalam berusahatani wortel.

4.2.2 Tingkat Pendidikan Petani Responden

Sumber daya manusia yang diukur dari tingkat pendidikan merupakan

faktor penting dalam mengakomodasi teknologi maupun ketrampilan dalam

usahatani wortel. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka pengetahuan atau

informasi tentang usahatani wortel semakin besar, sehingga akan berpengaruh

terhadap manajemen usahataninya. Berikut ini merupakan Tabel karakteristik

petani responden berdasarkan tingkat pendidikan.

Tabel 11. Persentase Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun 2011

No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Tidak tamat SD 5 7,94

Gambar

Tabel 1.  Luas Area Tanam, Panen, Produksi Dan Produktivitas Wortel di Jawa Timur Tahun 2001-2010
Tabel 2. Luas Area Tanam, Panen, Produksi Dan Produktivitas di Kota Batu Tahun 2010
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Efisiensi Alokatif Penggunaan Faktor-Faktor  Produksi Usahatani Wortel di Kecamatan Bumiaji
Tabel 3.  Jumlah Petani Wortel di Dusun Jurangkwali, Desa Sumber Brantas dan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Tahun
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini, antara lain (1) menganalisis tingkat pendapatan cabang usahatani cabai merah ; (2) menganalisis faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap tingkat produksi pembenihan ikan nila, menganalisis alokasi penggunaan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat produksi dan pendapatan usahatani tebu serta menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani tebu di Desa

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis efisiensi penggunaan faktor- faktor produksi dalam usahatani gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota, dan (2) menganalisis

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat produksi dan pendapatan usahatani tebu serta menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani tebu di Desa

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usaha ternak di Kabupaten Magelang yang terdiri dari efisiensi

Berdasarkan uraian-uraian di atas maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis penggunaan faktor-faktor produksi usahatani

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada usaha pembenihan ikan gurami di Nagari Mungo, menganalisis pendapatan pembenih