PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
Dalam essay ilmiah ini, saya akan membahas mengenai sistem perpolitikan yang ada di kawasan Asia Timur, khususnya adalah mengenai keterkaitan dan perbedaan politik oleh negara China dan Jepang. Alasan utama saya dalam membahas sistem perpolitikan Antara China dengan Jepang adalah: China mengalami masa politik serta sejarah yang paling lama dibandingkan dengan barat, islam ataupun yunani. Kemudian Jepang mengulang kembali masa politik dan sejarah yang pernah dialami oleh China. Yang dalam hal ini terkait dalam teori cyclical atau lingkaran. Maksud dari teori tersebut adalah sejarah selalu berputar atau mengulang kembali layaknya sebuah lingkaran atau roda (O).
Contohnya seperti China dan Jepang sama-sama mengalami masa pergantian dinasti atau restorasi serta pergantian pemerintahan yang awalnya dipimpin oleh sistem kekaisaran dan berganti menjadi sistem pemerintahan yang demokratis. Dan politik merupakan tulang punggung dari sejarah itu sendiri (Politics is a backbone of the history).1
Dan dari hal-hal yang sudah saya jelaskan inilah yang membuat saya tertarik untuk membahas keterkaitan serta perbedaan antara politik China dengan Jepang.
Meskipun keduanya sama-sama berada di wilayah Asia Timur, namun masing-masing sistem politik mereka memiliki warisan sejarah dari leluhur yang berharga dan memiliki struktur sistem politik yang disesuaikan dengan kultur budaya yang berkembang di negara mereka. Diawali oleh bentuk pemerintahan di China yang dahulu mengadopsi sistem dinasti (dynastic system) dan pemujaan terhadap kekaisaran (emperor cult). Berbeda dengan China, Jepang memiliki sistem politik tersendiri yang dahulu awalnya mengadopsi feodalism.2
Secara historikal perpolitikan China tidak terlepas dari kepercayaan mitogi kekaisaran dinasti China yang mengangap bahwa seorang kaisar adalah “Son of Heaven“ yang memiliki “Mandate of heaven“ untuk menciptakan keharmonisan masyarakat china. Perpolitikan China juga tidak terlepas dari paham konfusianisme yang menekankan pada !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
1!
Catatan pribadi penulis dalam matakuliah “Dinamika Kawasan Asia Pasifik dan Australia, Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Tiongkok, dan Sejarah Diplomasi dan Tatanan Internasional”.
2!
moral, kepemimpinan otoriter dan hubungan yang baik antara masyrakat dan pemerintah. Namun perpolitikan China mengalami pengaruh dari pedagang dan missioner Barat yang melakukan perdagangan dan hubungan diplomatik dengan China. Selanjutnya perpolitikan China juga dipengaruhi oleh revolusi nasional dan adanya modernisasi yang akhirnya memberi kemenangan pada kaum komunis dibawah pimpinan Mao Zedong yang bersifat radikal. Setelah berakhirnya kepemimpinan Mao Zedong arah politik China kemudian bergeser menjadi politik yang bersifast pragmatis.
Kemudian, karakteristik perpolitikan di jepang Juga dipengaruhi oleh ide konfusianisme yang diadopsi dari China. Pada awalnya politik Jepang didominasi oleh
keluarga Kekaisaran yang berkembang menjadi system feodalistik. Dalam pembentukan
politik Jepang tidak terlepas dari nilai social masyarakat jepang. Diantaranya; Ie
(didasarkan pada corporate entity bukan berdasarkan hubungan darah seperti di China),
Ko ( Kepatuhan), dan Wa (konsep kehidupan harmonis). Seperti halnya dengan China,
perpolitikan Jepang juga dipengaruhi oleh tekanan Bangsa Barat melalui perdagangan.3
Dalam essai yang berjudul: Keterkaitan Serta Perbedaan Antara Politik China Dengan
Politik Jepang Dilihat Dalam Metode Dan Pendekatan Sejarah Komparatif. Saya akan
mencoba untuk membahas keterkaitan serta perbedaan antara politik negara China dengan
politik negara Jepang dilihat dalam sejarah komparatif.
Rumusan Masalah
Sebagaimana yang telah penulis paparkan pada latar belakang penulisan, adapun problematika dalam penulisan essay ilmiah ini adalah : Apakah politik China dengan politik Jepang memiliki keterkaitan satu sama lain? Dan dimanakah letak perbedaan antara politik China dengan politik Jepang jika dilihat dalam Sejarah Komparatif?
Tujuan Pembahasan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengantarkan pemahaman lebih lanjut
mengenai keterkaitan serta perbedaan antara politik China dengan politik Jepang dilihat
dalam Sejarah Komparatif.
Metode Pendekatan Sejarah dan Relevansi Terhadap Rumusan Masalah
Dalam melihat proses bagaimana perbedaan serta keterkaitan antara politik China
dengan politik Jepang ini saya akan menggunakan metode pendekatan sejarah komparatif.
Sejarah Komparatif merupakan pendekatan untuk membandingkan faktor-faktor dari
fenomena-fenomena sejenis pada suatu periode masa lampau atau mengenai kajian
perbandingan (historical comparative)tentang kehidupan politik suatu masyarakat. Dalam
hal ini China dan Jepang memiliki keterkaitan serta perbedaan dalam hal politik. Pertama
saya akan membahas tentang keterkaitan antara politik China dengan Jepang. Keterkaitan antara politik China dengan politik Jepangadalah: Kedua negara ini sama-sama memiliki system kekaisaran dan kaisar hanya dijadikan sebagai simbol negara. Dalam sistem pemerintahannya sendiri kedua negara juga menggunakan lembaga yang sama, yakni terdapat lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Kepala pemerintahan dari Jepang dan China juga dipegang oleh Perdana Menteri. Namun, dalam prakteknya terdapat beberapa perbedaan dari politik China dan Jepang. Lalu mengenai perbedaan antara politik China dengan politik Jepang paling mencolok terlihat dari partisipasi masyarakatnya. Meskipun masyarkat kedua negara aktif dalam perpolitikan, namun ada alasan yang berbeda. Di China, masyarakat berpartisipasi dalam politik akibat sistem komunis yang mengaturnya. Pemilu yang berlangsung di China juga sudah diatur sedemikian rupa, sehingga Chinese Communist Party tetap dapat berkuasa. Berbeda halnya dengan Jepang. Masyarakat Jepang lebih sadar untuk berpolitik terbukti dengan banyaknya partai yang bersaing dalam pemilu. Sehingga dapat dikatakan bahwa perpolitikan Jepang lebih demokratis jika dibandingkan dengan China.4
PEMBAHASAN
Keterkaitan Serta Perbedaan Antara Politik China dengan Politik Jepang
Meskipun sistem politik di China awalnya adalah authoritarianism tetapi ideologi resmi yang disetujui di China adalah Confucianism di mana ideologi inilah yang mengondisikan dan mengontrol pemikiran orang-orang yang memerintah China dan menjadi “orthodox doctrine of the imperial state” yang tidak perlu dipersoalkan atau diuji
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 4!
lagi keabsahannya. Sifat ortodoks (konvensional) dari ideologi Confusianism ini menjadi political beliefs di China selama lebih dari 2000 tahun sejak sebelum revolusi tahun 1911.
Ideologi Confusianism ini telah menjadi subjek pokok dari studi yang dipelajari oleh para sarjana dan staf pegawai. Meskipun China dikenal berada di bawah paham komunisme yang telah berhasil mempengaruhi perubahan fundamental tetapi banyak ide-ide Confucian dari pemerintah yang masih memberikan pengaruh esensial pula pada komunitas masyarakat China. Beberapa orang berpendapat bahwa sebenarnya karakteristik untuk memuja atau bahkan menyembah Mao, tata perilaku untuk kader partai, dan sifat dari institusi untuk melakukan kritik terhadap diri sendiri, seluruhnya berdasarkan pada ideologi Confusian.
Tradisi Confusian pun banyak mempengaruhi budaya politik di China karena beberapa faktor di antaranya adalah pertama, Confusianism menekankan pada penanaman moral atau sikap berbudi luhur yang tinggi pada diri tiap-tiap individu, kedua adalah Confusianism berbasis pada authoritarian. Faktor ketiga, Confucianism menyatakan bahwa “government of goodness” dapat terjadi jika seluruh penduduk mengetahui peran mereka dan memahami tentang bagaimana mereka memimpin diri mereka sendiri. Faktor
terakhir adalah sebagai ideologi, Confusianism bersifat elitis di mana menurut ideologi ini, “government by goodness” atau “government by moral prestige” hanya dapat disebarkan melalui proses studi dan pembelajaran oleh orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual superior dan sumberdaya finansial serta oleh mereka yang memegang posisi penting dalam suatu komunitas tertentu dan di pemerintahan.5 Tetapi kemudian terjadi suatu perubahan selama dekade di mana Nasionalis berkuasa dari tahun 1927 hingga tahun 1937 berupa kemajuan di banyak area vital modernisasi yang diprakarsai oleh seorang nasionalis (Guomindang) di bawah kepemimpinan Chiang Kai-shek dan penasihat serta administrator dari Barat yang telah terlatih. China pun sempat mengalami perubahan politik dari radicalism ke pragmatic reform. Jika ditarik kesimpulan secara umum, sistem politik di China mengalami transformasi dari authoritarianism menuju ke anarchy kemudian berubah lagi menjadi totalitarianism.6
Berbeda dengan China, Jepang memiliki warisan sejarah sistem politik tersendiri !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
5!
Ibid. hal 22.! 6!
yang dahulu awalnya mengadopsi feodalism. Namun keduanya ternyata memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan dibuktikan oleh frekuensi kontak budaya di antara kedua negara tersebut ketika awal-awal pemerintahan Jepang karena adanya jalan yang menghubungkan keduanya dengan melalui Semenanjung Korea. Jepang berada di bawah sistem pemerintahan feodalisme di mana terdapat dominasi pemerintahan dari keluarga kerajaan yakni klan Fujiwara yang merupakan pemilik dari tanah bidang luas sebagai perkebunan pribadi mereka dan melakukan monopoli terhadap birokrasi negara. Sistem feodalisme di Jepang ini nantinya mengalami transformasi seperti halnya China dengan berubah menjadi military dominance dan kemudian berubah kembali menjadi constitutional democracy dengan tetap mempertahankan eksistensi kekaisaran sebagai
simbol khas dari negara Jepang.7
Berbicara mengenai budaya politik di Jepang yang banyak diklaim memiliki konsep yang ideal, prinsip loyalitas (kesetiaan) dan kinerja kerja sama dalam kelompok menjadi asas budaya politiknya. Nilai sosial yang gigih menjadi karakteristik budaya jepang adalah hasrat yang tinggi untuk bersikap patuh atau tunduk yang dikenal sebagai Ko, kesetiaan atau ketaatan. Selain itu, nilai sosial Jepang lainnya yang membantu dalam
membentuk budaya politik di Jepang adalah konsep mengenai keselarasan atau yang biasa disebut Wa. Wa merupakan suatu konsep yang menekankan pada kualitas untuk membantu, menjalin hubungan baik, membina kecocokan, tenggang rasa satu sama lain, menciptakan ketenteraman, dan menghimpun persatuan (accommodation, amity, conformity, compromise, order, dan unity). Jepang pun memiliki aspek penting lainnya
sebagai budaya politik mereka yakni menekankan perlunya menempatkan masyarakat pada tujuan kelompok mereka.8
Kerangka Teori dan Relevansinya Terhadap Pembahasan
Menurut Thomas P. Jenkin dalam The Study of Political Theory, Teori-teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma-norma atau nilai disebut dengan teori non-valutional (value free).
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 7!
Karl W. Deutsch, et.al., Comparative Government: Politics of Industrialized and Developing Nations,
Boston: Houghton Mifflin, 1981. dalam Mohtar Mas’oed dan Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006.!
8!
Biasanya teori ini bersifat deskriptif (menggambarkan) dan komparatif (membandingkan). Teori ini berusaha untuk membahas fakta-fakta kehidupan politik sedemikian rupa sehingga dapat disistematisir dan disimpulkan dalam generalisasi-generalisasi.9
Relevansi antara teori yang dikemukakan dengan Thomas P. Jenkin dengan pembahasan yang sudah dijelaskan sebelumnya ialah membahas antara perbandingan (komparatif) serta keterkaitan antara politik China dengan politik Jepang. China dengan Jepang sama-sama memiliki keterkaitan politik dalam hal pemerintahan. Pemerintahan politik pada dinasti Qin hingga dinasti Qing dalam China diatur oleh system kekaisaran. Begitupula dengan Jepang, Kekaisaran memegang peranan penting pada zaman Meiji hingga Shōwa.
Dalam struktur wewenang tradisional politik China, China memberikan sistem politik kepada suatu kekuasaan tertinggi, yakni kaisar. Karena kaisar dan birokrasinya menempati posisi tertinggi dalam hirarki. Secara teoritis, system kekaisaran itu mempunyai suatu hubungan organik dengan masyarakat China.
Sementara dalam struktur wewenang tradisional politik Jepang, Kaisar merupakan kelompok pemegang wewenang kekuasaan dalam struktur tradisional. Kekaisaran adalah entitas politik pemerintahan jepang di bawah Konstitusi Kekaisaran Jepang dan daerah-daerah yang di bawah perintahnya sejak zaman Restorasi Meiji hingga diberlakukannya Konstitusi 1947. Dan Kaisar-kaisar tersebut berkuasa sepanjang zaman Meiji, Taisho dan Shōwa.10
Sementara perbandingan politik antara China dengan Jepang dimulai setelah zaman kekaisaran runtuh. Setelah zaman kekasiaran runtuh, sistem politik di China lebih banyak terinspirasi oleh paham Marxist-Leninist (komunisme), sementara sistem politik di Jepang lebih didominasi oleh pemikiran dari sistem demokrasi Barat.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 9!
Thomas P. Jenkin, The Study of Political Theory, New York: Random House Inc, 1967, hlm 1-5. 10!
Mohtar Mas’oed dan Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006.!
KESIMPULAN
Kesimpulan dari pembahasan essay ilmiah ini adalah sistem pemerintahan politik kedua negara yang digunakan saat ini merupakan hasil dari perjalanan panjang kedua negara ini. Secara umum persamaan sistem politik kedua negara ini berada pada konfusianisme sebagai falsafah yang telah mempengaruhi kedua negara ini, namun komunisme hanya dapat mempengaruhi konfusianisme di China Saja, sedangkan di sistem politik Jepang lebih banyak dipengaruhi oleh bentuk pemerintahan yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. Menurut pendapat penulis, revolusi dan evolusi yang terjadi di kedua negara ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh kedua negara ini, penggunaan sistem politik yang saat ini tengah dilaksanakan merupakan bentuk penyesuaian yang tepat bagi rakyat dan pemerintahan dari kedua negara tersebut, yaitu China dan Jepang. Dan menurut pendapat penulis, walaupun China adalah negara komunis, namun China tidak sepenuhnya sebagai negara yang murni komunis, karena China masih memberikan ruang gerak bagi rakyatnya untuk berbicara dan mengutarakan pendapatnya, walaupun ruang gerak ini tidak seleluasa dalam pemerintahan demokratis.
DAFTAR PUSTAKA !
BUKU :
Catatan pribadi penulis dalam matakuliah “Dinamika Kawasan Asia Pasifik dan Australia, Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Tiongkok, dan Sejarah Diplomasi dan Tatanan Internasional”.
Deutsch, Karl W., et.al., Comparative Government: Politics of Industrialized and Developing Nations, Boston: Houghton Mifflin, 1981. dalam Mohtar Mas’oed dan Colin MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006.
Jenkin, Thomas P., The Study of Political Theory, New York: Random House Inc, 1967.
Mas’oed, Mohtar dan MacAndrews, Colin, Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006.
Townsend, James R., Politics in China, dalam Gabriel A. Almond, Comparative Politics Today, Boston: Little, Brown and Company, 1974.
Wang, James C. F., Comparative Asian Politics: Power, Policy, and Change. New Jersey: Prentice Hall International Inc. 1997.