• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Prog

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Prog"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Program Full Day School Ignatius Dharta Ranu Wijaya

Asal Kata Full Day School

Full day school mulai marak pada tahun 1980-an di Amerika Serikat di jenjang sekolah Taman Kanak-kanak (TK) atau sering dikenal sebagai layanan pendidikan pra sekolah sehari penuh (day care) bagi anak-anak usia pra sekolah yang diberikan pada orang tua atau keluarga muda yang sibuk bekerja. Layanan pendidikan ini kemudian meluas pada jenjang yang lebih tinggi sampai dengan sekolah menengah atas. Latar belakang munculnya Full Day School ini dipicu oleh semakin banyaknya kaum ibu yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun dan mereka juga bekerja di luar rumah serta berkembangnya kemajuan di segala aspek kehidupan. Banyak orang tua kemudian berharap bahwa di sela-sela kesibukan bekerja di luar rumah tetap pendidikan anak menjadi prioritas. Para orang tua berharap agar prestasi akademis anak-anak mereka meningkat sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dan sekaligus juga mampu mengatasi persoalan kompleksitas hidup anak yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan zaman.

Dengan memasukkan anak-anak ke full day school, orang tua berharap anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu belajar di lingkungan sekolah dari pada di rumah dan anak-anak dapat pulang ke rumah menjelang sore untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Pengertian layanan pendidikan ini kemudian dapat dipahami sebagai program sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh.

(2)

Full Day Schooldi Indonesia

Model pendidikan sehari penuh sesungguhnya tidak terlepas dari sejarah pendidikan yang ada di Indonesia. Secara umum, pendidikan telah dimulai sejak masa kerajaan-kerajaan tumbuh di nusantara, masa penjajahan barat, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan hingga masa modern yang dimulai sejak abad 19 hingga saat ini (2016). Sejarah pendidikan di Indonesia telah membuktikan keberadaan model pendidikan sehari penuh, model-modelnya telah diwakili baik oleh padepokan (± abad 7), pesantren (± abad 14) dan asrama (± abad 16).

Menurut catatan I-Tsing" seorang peziarah dari China ketika melewati Sumatera pada abad 7 ia mendapati banyak sekali kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan beragam ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan tetapi juga seni dan ilmu pengetahuan. Sementara para peserta didik di pesantren akan belajar sehari penuh bahkan sampai larut malam untuk mempelajari agama selain pengetahuan umum lainnya. Era masa penjajahan, para misionaris juga menggunakan modelfull day school secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan para peserta didik. Pada pelaksanaannya, modelfull day schoolsemakin berkembang setelah masa kemerdekaan sampai sekarang. Penyelenggara pendidikan swasta kemudian menjadi pelopor pelaksanaan program belajar di sekolah selama satu hari penuh. Program full day schoolmasih terus berevolusi dalam implementasinya di Indonesia hingga dewasa ini.

Bagian selanjutnya dari tulisan ini kemudian akan menggunakan istilah pendidikan sehari di sekolah sebagai ganti istilah full day school.

Rasionalitas Pendidikan Sehari di Sekolah

(3)

Beberapa alasan yang dapat disebutkan mengapa mengapa pendidikan sehari di sekolah perlu dilaksanakan adalah karena:

 tidak selamanya globalisasi dan era kemajuan teknologi-informasi-komunikasi (TIK) membawa pengaruh yang baik, sangat terbuka adanya berbagai dampak negatif terhadap perkembangan kepribadian para peserta didik

 pendidikan sehari di sekolah dapat memberikan solusi terbaik untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif dari kemajuan dan kompleksitas hidup dewasa ini

 pendidikan sehari di sekolah memberikan keleluasan bagi seluruh penyelenggara pendidikan untuk menyeimbangkan konten akademis dengan non akademis seperti menanamkan budi pekerti, pendidikan agama, kecakapan hidup, dan kewirausahaan bagi seluruh peserta didik yang ada di sekolah

 waktu-waktu kegiatan belajar mengajar yang ramah dan menyenangkan selama satu hari di sekolah dapat berperan ‘filter’ bagi para peserta didik untuk tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan dan kebiasan yang negatif

 waktu-waktu yang bermakna di sekolah diisi dengan berbagai pembelajaran, pembiasaan yang baik dan pendidikan serta pelatihan yang cukup serta memadai bagi para peserta didik

 pelaksanaan pendidikan sehari di sekolah juga membuka peluang bagi seluruh penyelenggara pendidikan dalam mencapai dan memenuhi program jaminan mutu sekolah

 pelaksanaan pendidikan sehari juga mensyaratkan kecakapan guru dalam mengoptimalkan tugas-tugasnya di sekolah baik dalam mendidik, mengajar, melatih, membimbing, mengasihi, mengasah dan mengasuh para peserta didik

 pendidikan sehari di sekolah juga akan mengembalikan peran sekolah dalam proses pendidikan, yaitu sebagai sentra pembelajaran dan pengkaderan siswa.

(4)

Landasan Hukum Pelaksanaan Pendidikan Sehari di Sekolah

Hingga saat ini belum ada landasan yuridis yang mengatur secara formal mengenai pelaksanaan sistem pendidikan sehari di sekolah. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga mengakui bahwa konsep pelaksanaan pendidikan sehari di sekolah masih terus dikaji secara mendalam. Namun demikian, upaya konkret dari Menter Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah dilakukan di bulan September 2016 ini dengan menunjuk 500 sekolah di Jakarta untuk melaksanakan pendidikan sehari di sekolah. Nantinya diharapkan adanya berbagai informasi mengenai apa yang positif dan apa yang menjadi persolan ketika menerapkan sistem pendidikan sehari di sekolah. Hasil-hasil yang positif tentunya juga akan disosialisasikan oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia sehingga seluruh pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan dapat membangun sinergi yang baik dalam melaksanakan sistem pendidikan sehari di sekolah.

Kebijakan pendidikan yang telah diambil oleh pemerintah, sesungguhnya tidak terlepas dari reformasi kerangka hukum bidang pendidikan yang diawali dengan amandemen UUD RI 1945 sejak tahun 1999 hingga 2002. Melalui amandemen kemudian ditetapkan bahwa pendidikan tidak lagi sekedar menjadi hak seluruh warga negara tetapi juga merupakan hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah berkewajiban membiayainya. Hingga saat ini, UUD 1945 telah mengalami 4 kali amandemen dan hanya bidang pendidikan saja yang ditetapkan alokasi anggarannya sebesar 20% dari anggaran dalam APBN dan APBD. Ini menunjukkan tekad Bangsa Indonesia untuk memajukan dunia pendidikan, terutama pendidikan dasar.

(5)

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah mendorong perubahan besar pada sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia. Di dalamnya menyebutkan berbagai sektor yang diserahkan pengelolaannya ke pemerintah daerah, salah satu sektor yang diserahkan ke pemerintah daerah adalah sektor pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang akan menyelenggarakan uji coba pelaksanaan pendidikan sehari di 500 sekolah yang ada di Jakarta, harus dimaknai sebagai suatu upaya mengembangkan sistem pendidikan di abad 21 yang memiliki daya jangkau luas, lintas ruang, waktu dan sosio-ekonomi serta berpusat pada peserta didik. Upaya ini juga bertujuan mencari solusi terhadap berbagai masalah pendidikan, terutama yang berkaitan dengan akses terhadap pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Oleh karenanya penerapan sistem pendidikan sehari di sekolah harus memiliki karakteristik yang terbuka sehingga seluruh peserta didik dapat memperoleh akses pendidikan berkualitas di daerah mereka masing-masing. Selain memperluas akses, sistem pendidikan sehari di sekolah juga wajib menyesuaikan waktu, tempat, sarana dan prasarana pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, bentuk, program dan/atau sumber daya pembelajaran lainnya dengan kondisi kebutuhan belajar dan perkembangan peserta didik di wilayah mereka masing-masing. Pemerintah berkewajiban memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar; SD/MI dan SMP/MTs serta satuan pendidikan yang sederajat.

Membangun Kesadaran Masyarakat Terhadap Pendidikan Sehari di Sekolah

Ada beberapa faktor yang kemudian dapat disinyalir berperan terhadap respon masyarakat yang kurang mendukung terhadap rencana pelaksanaan pendidikan sehari di sekolah yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada bulan Agustus 2016 lalu. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah :

a. Faktor Sosial Budaya

(6)

orang tua terhadap pendidikan dan tradisi serta kebiasaan tertentu dalam masyarakat dapat menghambat partisipasi anak mengikuti pendidikan sehari di sekolah.

b. Faktor Ekonomi

Kemiskinan berpengaruh pula pada aspek pendidikan. Jumlah penduduk miskin; penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia masih terus naik turun hingga saat ini. Angka kemiskinan selalu dianggap berbanding lurus dengan angka usia putus sekolah. Kekuatiran orang tua terhadap biaya pendidikan yang harus dikeluarkan bila diterapkan sistem pendidikan sehari di sekolah perlu diakomodasikan dengan informasi yang jelas bagi seluruh lapisan masyarakat. Informasi mungkin dapat meliputi dukungan pembiayaan dari pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan sehari di sekolah.

d. Faktor Politik

Kebijakan untuk melaksanakan pendidikan sehari di sekolah pada umumnya masih dihantui dengan sulitnya pemenuhan anggaran dibidang pendidikan akibat kondisi dan situasi ekonomi global saaat ini. Kondisi ini dengan sendirinya berpengaruh pula terhadap kapasitas fiskal pemerintah pusat dan daerah.

Pelaksanaan pendidikan sehari di sekolah harus berjalan paralel dengan perluasan dan pemerataan akses pendidikan yang seiring dengan keberhasilan meningkatkan mutu pendidikan. Pertimbangan penting yang perlu disampaikan diantaranya adalah kurikulum dan materi pelajaran yang diberikan di tiap jenjang pendidikan, harus mampu membuat peserta didik mengalami ‘joy of discovery’ dalam proses pembelajarannya. Organisasi kurikulum harus mengarah pada proses pembelajaran yang membuat peserta didik menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya dan berkesempatan berinteraksi secara aktif dengan sesama peserta didik sehingga dapat menemukan dirinya.

(7)

yang baik, cenderung mendapatkan nilai UN tinggi. Pada provinsi yang relatif miskin, hasil UN relatif rendah. Ini disebakan oleh adanya faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pendidikan di daerah masing-masing, misalnya: tingkat sosial ekonomi masyarakat, kondisi geografis, kesadaran masyarakat terhadap pendidikan dan pengelolaan pendidikan yang sangat bervariasi. Memberikan pemahaman dan kesadaran pada seluruh pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia akan melibatkan pengelolaan semua isu di atas.

Komponen Penting Pelaksanaan Pendidikan Sehari di Sekolah

Dalam pelaksanaan sistem pendidikan sehari di sekolah ada beberapa komponen penting yang tidak boleh terlepas. Komponen-komponen tersebut adalah:

1. Isi kurikulum baik menggunakan kurikulum nasional yang berlaku saat ini maupun integrasi muatan lokal dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

2. Proses pembelajaran dan penilaian dalam sistem pendidikan sehari di sekolah tidak terbatas pada fungsi kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik di keluarga dan masyarakat.

3. Materi pembelajaran yang bersifat non akademis yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.

4. Manajemen sekolah, system pendidikan sehari di sekolah terkait juga dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Manajemen ini meliputi, budi pekerti yang perlu ditumbuhkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Manajemen sekolah menjadi salah satu media yang efektif dalam sistem pendidikan sehari di sekolah.

(8)

6. Pemberdayaan sarana prasarana, bangunan fisik, ruang kelas, ruang terbuka hijau, air besih dan semua sarana-prasarana yang ada harus dioptimalkan bagi kebaikan semua. 7. Pembiayaan, akuntabilitas dan transparansi semua hal yang tekait dengan pembiayaan

memberikan makna keterbukaan dan kejujuran pengelola sekolah.

8. Kualitas hubungan, hubungan positif antar peserta didik dengan guru, peserta didik dengan peserta didik lainnya, guru dengan keluarga dan masyarakat selalu ditandai dengan rasa saling menghormati, melindungi, tolong-menolong, dan kerjasama.

9. Etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah, pembinaan etos kerja dibentuk dengan pembiasaan disiplin kerja. Sistem pendidikan sehari di sekolah pada tingkatan institusional mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat.

Sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui sistem pendidikan sehari di sekolah, perlu dipersiapkan adanya disain pendidikan sehari di sekolah untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Disain tersebut akan menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.

Konfigurasi kegiatan belajar mengajar dalam konteks pendidikan sehari di sekolah kemudian dapat dikelompokan dalam:

1. Olah Hati (Spiritual and Emotional Development) 2. Olah Pikir (Intellectual Development)

3. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and Kinestetic Development) 4. Olah Rasa dan Karsa ( Affective and Creativity Development)

(9)

mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam mewujudkan seluruh peserta didik menjadi insan paripurna.

Bahan Bacaan

1. Ardia nsah."Sejara h Pendidika n di Indone sia ”.

http://www.ardiansah.wordpress.pendidikan-sejarah-pendidikan-di-indonesia diakses pada tanggal 28 September 2016.

2. Full Day School.http://www.kanalinfo.web.id/2016/08/pengertian-full-day-school.html

diakses pada tanggal 28 September 2016.

3. Inilah konsep full day school ala mendikbud. http://pedidikanindonesia.com/inilah-konsep-full-day-school-ala-mendikbud/diakses pada tanggal 28 September 2016.

Referensi

Dokumen terkait

PENDIDIKAN BERMUTU ADALAH PENDIDIKAN YANG MAMPU MELAMPAUI STANDAR NASIONAL Pendidikan dan Kebudayaan dan MEMENUHI KEPUASAN PELANGGAN1.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Biro KLM Kemdikbud)

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara

Kebijakan pemerintah ini perlu dicermati dan diperhatikan oleh semua satuan Pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, mengingat

SALINAN LAMPIRAN KEPUTUSAN PENDIDIKAN TINGGI, RISET, DAN TEKNOLOGI KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 225/E/KPT/2022

Dalam rangka mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah yang bertujuan

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104/MPK.A4/KP/ 2014 Tentang Pengangkatan Rektor Universitas Negeri Jakarta; KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor