• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja (Studi Kasus pada SKPD Pemerintah Kabupaten Deli Serdang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja (Studi Kasus pada SKPD Pemerintah Kabupaten Deli Serdang)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Konsep Anggaran

Anggaran adalah rencana terperinci tentang pemerolehan dan

penggunaan sumber daya keuangan dan sumber daya lainnya selama suatu

periode tertentu yang di ukur dalam ukuran finansial. Konsep anggaran

terbagi dua yaitu pendekatan anggaran tradisional dan pendekatan New Public

Management (NPM). Anggaran tradisional lebih menekankan pengawasan dan

pertanggungjawaban yang terpusat, sedangkan NPM lebih menekankan pada

kinerja organisasi bukan sekedar kebijakan yang terkesan kaku, birokratis dan

hirarkis.

Anggaran memiliki beberapa fungsi – fungsi yang sangat penting

dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Anggaran sektor publik

mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain sebagai berikut :

a. Alat perencanaan, anggaran digunakan untuk merencanakan

tindakan yang akan dilakukan, baik terkait tujuan atau sasaran

kebijakan, program dan kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut,

serta dana yang dibutuhkan untuk menjalankannya.

b. Alat pengendalian, anggaran yang dipertanggungjawabkan kepada

publik akan mengendalikan alokasi sumber daya dan membatasi

kekuasaan eksekutif sehingga anggaran tidak salah sasaran

(2)

c. Alat kebijakan fiskal, anggaran dapat digunakan terkait kebijakan

fiskal, yakni dalam rangka menstabilkan dan mendorong

pertumbuhan ekonomi.

d. Alat politik, anggaran merupakan bentuk komitmen eksekutif dan

kesepakatan legislatif terhadap pengguna dana publik. Anggaran

digunakan untuk memutuskan prioritas dan kebutuhan keuangan atas

prioritas.

e. Alat koordinasi dan komunikasi, proses penyusunan anggaran

memerlukan mekanisme koordinasi dan komunikasi dari setiap pihak

yang terlibat di dalamnya. Anggaran perlu dikomunikasikan ke

setiap satuan kerja untuk dapat dilaksanakan secara menyeluruh.

f. Alat penilai kinerja, anggaran merupakan alat yang efektif dalam

pengendalian dan penilaian kinerja. Kinerja manajer publik akan

dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi

pelaksanaan anggaran.

g. Alat motivasi, anggaran dapat mendorong manajer maupun stafnya

melakukan tindakan yang ekonomis, efektif dan efisien dalam

pencapaian tujuan organisasi.

h. Alat untuk menciptakan ruang publik, proses penganggaran harus

melibatkan publik sebagai salah satu komponen penting. Publik

dapat menyampaikan aspirasi dan pendapatnya untuk menciptakan

suatu mekanisme pertanggungjawaban keuangan terhadap publik

(3)

2.1.2 Anggaran Berbasis Kinerja

Bastian (2006) mendefenisikan “anggaran berbasis kinerja sebagai

sistem penganggaran yang berorientasi pada output suatu organisasi dan erat

kaitannya dengan adanya visi, misi, dan rencana strategis organisasi”.

Menurut Robinson dan Brumby (2005) “anggaran berbasis kinerja

merupakan prosedur atau mekanisme yang dimaksud untuk memperkuat

hubungan antara dana yang diberikan pada suatu entitas sector publik

dengan outcome dan/atau outcome melalui penggunaan informasi kinerja

formal dalam pengambilan keputusan alokasi sumber daya.” Dari kutipan

diatas dapat disimpulkan bahwa dalam anggaran berbasis kinerja yang

sangat penting ialah output yang dicapai pemerintah dalam menjalankan

pemerintahannya pada periode waktu tertentu.

Tabel 2.1 Perbedaan Anggaran Tradisionaldengan Anggaran Berbasis Kinerja

Anggaran Tradisional Anggaran Berbasis Kinerja

Sentralistis Desentralisasi & devolved management

Berorientasi pada input Berorientasi pada input, output, dan outcome (value for money)

Tidak terkait dengan

perencanaan jangka panjang

Utuh dan komprehensif dengan perencanaan jangka panjang

Line-item dan incrementalism

Berdasarkan sasaran dan target kinerja

Batasan departemen yang kaku (rigid department)

Lintas departemen (cross department)

Menggunakan aturan klasik:

Vote accounting

Zero-Base Budgeting, Planning, Programming, and Budgeting System

Prinsip anggaran bruto Sistematik dan rasional Bersifat tahunan Bottom-up budgeting

(4)

Adapun ciri-ciri dari sistem anggaran tradisional:

1. Cara penyusunan anggaran berdasarkan pendekatan

incrementalism, yakni:

Bersifat incrementalism, yaitu hanya menambah atau mengurangi

jumlah rupiah pada item-item anggaran yang sudah ada sebelumnya

dengan data tahun sebelumnya sebagai dasar menyesuaikan besarnya

penambahan/pengurangan tanpa kajian yg mendalam/kebutuhan yg

wajar.

2. Struktur dan susunan anggaran yg bersifat line-item,yakni:

a) Struktur anggaran bersifat line-item didasarkan atas sifat (nature)

dari penerimaan dan pengeluaran.

b) Tak memungkinkan untuk menghilangkan item-item penerimaan

atau pengeluaran yg sebenarnya sudah tidak relevan lagi

c) Penilaian kinerja tidak akurat, karena tolok ukur yg digunakan hanya

pada ketaatan dalam menggunakan dana yg diusulkan.

3. Cenderung sentralistis.

4. Bersifat spesifikasi.

5. Tahunan.

6. Menggunakan prinsip anggaran bruto.

Adapun Ciri-ciri Anggaran Berbasis Kinerja adalah :

1. Desentralisasi dan devolved management.

2. Berorientasi pada input, output dan income (value for money).

(5)

4. Berdasarkan sasaran dan target kinerja.

5. Lintas departemen.

6. ZERO-BASE BUDGETTING (ZBB) adalah sistem anggaran yang

mengasumsikan bahwa kegiatan pada tahun anggaran yang

bersangkutan dianggap berdiri sendiri, tidak ada kaitannya dengan

anggaran yang lalu.Dasar pemikirannya adalah anggaran tidak selalu

didasarkan pada kegiatan di masa yang lalu tetapi anggaran harus

diciptakan dari sesuatu yang sedang atau akan dilakukan. Setiap

kegiatan harus dapat diformulasikan ke dalam paket keputusan. ZBB

lebih memusatkan perhatian pada sasaran untuk memperbaiki

manajemen melalui perbaikan pelayanan manajerial dengan

menekankan penilaian atas permintaan pendanaan unit-unit

pelaksanaan.

PLANNING, PROGRAMMING, AND BUDGETING SYSTEM (PPBS)

PPBS merupakan proses perencanaan, penyusunan program, dan

penganggaran suatu organisasi yang diikat dalam satu sistem sebagai

satu kesatuan yang terpadu, bulat, dan tidak terpisahkan. Dasar

pemikirannya adalah anggaran merupakan hasil kerja dari suatu proses

kegiatan-kegiatan perencanaan yang dituangkan dalam program.

7. Sistematik dan Rasional.

(6)

Sebelum berlakunya sistem Anggaran Berbasis Kinerja, metode

penganggaran yang digunakan adalah metoda tradisional atau item line

budget. Cara penyusunan anggaran ini tidak didasarkan pada analisa

rangkaian kegiatan yang harus dihubungkan dengan tujuan yang telah

ditentukan, namun lebih dititikberatkan pada kebutuhan untuk

belanja/pengeluaran dan sistem pertanggung jawabannya tidak diperiksa dan

diteliti apakah dana tersebut telah digunakan secara efektif dan efisien atau

tidak. Tolok ukur keberhasilan hanya ditunjukkan dengan adanya

keseimbangan anggaran antara pendapatan dan belanja namun jika anggaran

tersebut defisit atau surplus berarti pelaksanaan anggaran tersebut gagal.

Dalam perkembangannya, muncullah sistematika anggaran kinerja

yang diartikan sebagai suatu bentuk anggaran yang sumber-sumbernya

dihubungkan dengan hasil dari pelayanan. Proses penyusunan dan sasaran

yang ingin dicapai dari sistem anggaran berbasis kinerja menggambarkan

adanya peluang bagi daerah untuk mengembangkan visi dan misi serta

mewujudkan keinginan dan harapan masyarakat sesuai dengan potensi yang

dimiliki daerah yang bersangkutan.

Tolak ukur anggaran berbasis kinerja dinilai dari indikasi adanya

peningkatan input, output, outcome serta kinerja dan perbaikan kinerja yang

signifikan dalam pelaksanaannya dan berdasarkan data laporan keuangan

(7)

Mardiasmo, (2002) menjelaskan bahwa “Tujuan utama anggaran

berbasis kinerja ini adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas belanja

publik”.

Secara umum prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja didasarkan

pada konsep value for money yang mencakup prinsip ekonomis, efisiensi,

dan efektivitas.

Andayani (2007) mendefinisikan “ekonomis sebagai upaya untuk

memperoleh input dengan kualitas dan kuantitas dengan harga

terendah”.Anggaran berbasis kinerja juga erat kaitannya dengan prinsip

good corporate governance, termasuk adanya pertanggungjawaban para

pengambil keputusan atas pengguna uang yang dianggarkan untuk mencapai

tujuan, sasaran, dan indikator yang telah ditetapkan. Hal ini didukung

dengan berlakunya Undang-Undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan

negara, Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan

negara, dan Undang-Undang nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan

pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

penerapan anggaran berbasis kinerja dapat memberikan manfaat

sebagai berikut :

1. Anggaran yang terbatas kinerja memungkinkan pengalokasian sumber

daya yang terbatas untuk membiayai kegiatan prioritas sehingga tujuan

dapat tercapai dengan efisien dan efektif

2. Penerapan anggaran berbasis kinerja digunakan untuk pelaksanaan

(8)

dan juga output yang jelas, serta adanya hubungan yang jelas antara

pengeluaran dan output yang hendak dicapai maka akan tercipta

transparansi

3. Organisasi pembuat kebijakan akan berada pada posisi yang lebih baik

untuk menentukan prioritas kegiatan pemerintah yang rasional.

Anggaran berbasis kinerja dapat memberikan manfaat bagi berbagai

pihak, baik pemerintah maupun masyarakat terutama dalam mendorong tata

kelola pemerintahan yang lebih baik lagi. Pengimplementasian tersebut

diharapkan akan meningkatkan proses pembangunan menjadi lebih efisien

dan partisipatif, karena melibatkan masyarakat sebagai penerima manfaat

dari kegiatan pelayanan publik. Meninjau tujuan dan manfaat anggaran

berbasis kinerja penting untuk dilaksanakan terutama dengan berpedoman

pada peraturan-peraturan terkait yang mewajibkan pelaksanaan anggaran

berbasis kinerja.

2.1.3. PenerapanAnggaranBerbasisKinerja

PenganggaranBerbasis Kinerja mengalokasikan sumber daya

didasarkan

padapencapaianoutcomeyangdapatdiukursecaraspesifik.Outcome

didefinisikan melaluiprosesperencanaanstrategisyang mempertimbangkan

isu kritis yang

(9)

Terdapatbeberapakarakteristikpenyusunan

anggaranyangdidasarkanpada kinerja.Asmoko(2006)

menjelaskanbeberapakarakteristikkunci dalamPBKdiantaranya:

1. Pengeluarananggarandidasarkan padaoutcomeyang ingindicapai,dimana

outcomemerupakandampaksuatuprogramataukegiatanterhadapmasya rakat. Misalnya,untukorganisasisepertiUniversitas Diponegoro, outcomeyang ingindicapaiadalahmeningkatnyaperanserta Undipdalampembangunan masyarakatkhususnya dibidangilmupengetahuan.Maka,atasdasaroutcomeitulahpengeluaran anggarandilaksanakan.

2. Adanyahubunganantaramasukan(input)dengankeluaran(output) danoutcomeyangdiinginkan.Inputatau masukanmerupakan sumber

daya yang digunakan untuk

pelaksanaansuatukebijakan,program,danaktivitas. Outputataukeluaran merupakanhasilataunilaitambahyang

dicapaiolehkebijakan,programdan

aktivitas.Sementaraoutcomemerupakandampakyang

ditimbulkandarisuatu aktivitastertentu.Konsepvalueformoney dalamkerangkaanggaranberbasis Pengertian efisiensi berhubungan erat dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisiensidilakukandenganmenggunakanperbandingan antara outputyangdihasilkanterhadapinputyangdigunakan (costofoutput). Proses kegiatanoperasional dikatakan efisienapabila suatuproduk atauhasilkerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya dan dana yang serendah-rendahnya (spendingwell).Dalamkonsepanggaranberbasiskinerja,

pemerintahharus bertindak

(10)

dimaksudkanuntukmembantupemerintahberfokus

padatujuandansasaran program unitkerja.Halinipadaakhirnyaakan meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi sektor publik dalam pemberianpelayananpublik. Kedua,ukurankinerjadigunakan untuk pengalokasian sumberdayadanpembuatankeputusan.Ketiga,ukurankinerja

dimaksudkanuntukmewujudkanpertanggungjawabanpublikdanmemp erbaiki komunikasikelembagaan.

PBK adalah anggaran kinerja menghubungkan pengeluaran

dengan hasil. PBKdapatdikatakan berupahalbarukarenapusatperhatian

diarahkan padaoutcomedanmencobauntukmenghubungkan

alokasisumberdayasecara eksplisitdenganoutcomeyangingindicapai.

2.2. Penelitian Terdahulu

Cahya (2009) melakukan penelitian studi kasus mengenai efektivitas

implementasi anggaran berbasis kinerja di Pemerintah Kota Surakarta. Dari

analisis regresi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa variabel sumber daya

dan pengembangan sistem pengukuran kinerja, terbukti mempengaruhi secara

positif efektivitas implementasi anggaran berbasis kinerja pada pemerintah kota

Surakarta.

Izzaty (2011) melakukan penelitian studi kasus mengenai penerapan

anggaran berbasis kinerja Badan Layanan Umum Universitas Diponegoro

Semarang. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa gayakepemimpinan

berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerapan

anggaranberbasiskinerja.KualitasSDMjugamemilikipengaruh positifdan

signifikan terhadappenerapananggaranberbasiskinerja.Secarasimultan,gaya

(11)

dansignifikan terhadappenerapananggaranberbasiskinerja badanlayananumum

(BLU).

Kusuma (2013) melakukan penelitian studi kasus mengenai ketetapan

anggaran pada SKPD di pemerintah Provinsi Bali. Berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan bahwa Kejelasan Sasaran Anggaran dan Komitmen Organisasi

berpengaruh positif pada Ketepatan Anggaran Pendapatan dan Belanja, sedangkan

Ketidakpastian Lingkungan berpengaruh negatif pada Ketepatan Anggaran

Pendapatandan Belanja.

Nugraeni (2013) melakukan penelitian studi kasus mengenai efektivitas

implementasi anggaran berbasis kinerja di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa faktor rasional yaitu sumber daya,

informasi, orientasi tujuan, dan pengukuran kinerja berpengaruh positif tidak

signifikan terhadap implementasi anggaran berbasis kinerja. Sedangkan faktor

politik yang diukur oleh kelompok internal berpengaruh positif signifikan. Faktor

budaya yang diukur oleh sikap memiliki pengaruh positif tidak signifikan.

Nawastri (2015) melakukan penelitian studi kasus mengenai penerapan

anggaran berbasis kinerja di Pemerintah Kabupaten Grobogan. Berdasarkan hasil

penelitian, kompetensi sumber daya manusia, Informasi, penggunaan anggaran,

dan gaya kepemimpinan berpengaruh positif terhadap efektivitas anggaran

berbasis kinerja sedangkan orientasi tujuan dan komitmen tidak berpengaruh

terhadap efektivitas anggaran berbasis kinerja.

Berdasarkan kebaikan model, model regresi dapat dipergunakan untuk

(12)

anggaran berbasis kinerja mampu dijelaskan oleh keenam variabel yaitu

kompetensi sumber daya manusia, informasi, orientasi tujuan, penggunaan

anggaran, gaya kepemimpinan dan komitmen sebesar 89,6%.

Adiwirya dan Sudana (2015) melakukan penelitian mengenai anggaran

berbasis kinerja pada SKPD Kota Denpasar. Berdasarkan hasil penelitian ini

menyimpulkan bahwaakuntabilitas dantransparansiberpengaruh

positifsecarasimultan padaanggaranberbasiskinerja.Secaraparsial,transparansi

berpengaruh positifpada anggaranberbasis

kinerja.Penelitianini,menunjukkanbahwaresponden memiliki persepsi

yanglebihcondongpadatransparansidibandingkandenganakuntabilitas.

Bakri (2015) melakukan penelitain mengenai pelaksanaan anggaran berbasis

kinerja pada Dinas Pendidikan Kabupaten Boalemo. Berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan bahwa Efektifitas Pengendalian Anggaran berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Pelaksanaan Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 98,28%. Dan

secara parsial menunjukkan bahwa Perencanaan berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 44%, Umpan Balik secara

parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Anggaran Berbasis Kinerja

sebesar 24,9%, Interaksi Pengendalian secara parsial berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 35,5%. Adapun variabel

lain yang tidak diteliti dan ikut mempengaruhi variabel Y adalah sebesar 27,7%.

Penelitian yang berhubungan dengan efektivitas implementasi anggaran

berbasis kinerja pernah dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain disajikan

(13)

Tabel 2.2

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tahun Peneliti Variabel Hasil penelitian

2009 Cahya Variabel bebas:

Sumber daya,

Dari analisis regresi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa variabel sumber daya dan pengembangan sistem pengukuran kinerja, terbukti mempengaruhi secara positif efektivitas

implementasi anggaran berbasis kinerja pada pemerintah kota Surakarta. Kata kunci: Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja, Sumber Daya, Informasi, Orientasi Tujuan, Pengukuran Kinerja

2011 Izzaty

Variabel Bebas : Gaya Kepemimpinan, dan Kualitas SDM

Variabel Terikat : Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja

Hasil dari pengujian hipotesis di dalam penelitian ini menunjukkan bahwa

gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerapan

anggaran berbasis kinerja. Kualitas SDM juga memiliki pengaruh positif dan

signifikan terhadap penerapan anggaran berbasis kinerja.

2013

Kusuma Variabel Bebas : Kejelasan Sasaran Anggaran, Komitmen Organisasi, dan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kejelasan Sasaran

Anggaran dan

(14)

Ketidakpastian Lingkungan.

Variabel Terikat : Ketetapan Anggaran Pendapatan,

Ketetapan Anggaran Belanja

berpengaruh positif pada

Ketepatan Anggaran Pendapatan dan Belanja, sedangkan

Ketidakpastian Lingkungan berpengaruh pada

Ketepatan Anggaran Pendapatan dan Belanja.

2013 Nugraeni Variabel bebas

Faktor Rasional, Faktor Politik dan Faktor Budaya

Hasil penelitian ini menemukan bahwa faktor rasional yaitu sumber daya, informasi, orientasi tujuan, dan pengukuran kinerja berpengaruh positif tidak

signifikan terhadap implementasi anggaran berbasis kinerja.

Sedangkan faktor politik yang diukur oleh kelompok internal berpengaruh positif signifikan. Faktor budaya yang diukur oleh sikap memiliki pengaruh positif tidak signifikan

2015 Nawastri Variabel Bebas Kompetensi SDM,

Berdasarkan hasil penelitian, kompetensi sumber daya manusia, Informasi,

penggunaan anggaran, dan gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas anggaran berbasis kinerja sedangkan orientasi tujuan dan komitmen tidak berpengaruh terhadap efektivitas anggaran berbasis kinerja.

(15)

2015 Adiwirya,

akuntabilitas dan transparansi berpengaruh positif secara simultan

pada anggaran berbasis kinerja. Secara parsial, transparansi

berpengaruh positif pada anggaran berbasis kinerja

2015 Bakrie Variabel Bebas :

Perencanaan, Umpan Balik, dan Interaksi Pengendalian.

Variabel Terikat :

Anggaran Berbasis Kinerja

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa Efektifitas Pengendalian Anggaran (X) berpengaruh positif

dan signifikan terhadap

Pelaksanaan Anggaran Berbasis Kinerja (Y) sebesar

98,28%. Dan secara parsial menunjukkan bahwa Perencanaan (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 44%, Umpan Balik (X2) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Anggaran Berbasis Kinerja (Y) sebesar 24,9%, Interaksi Pengendalian

(X3) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Anggaran

Berbasis Kinerja (Y) sebesar 35,5%. Adapun variabel lain yang tidak diteliti dan

ikut mempengaruhi variabel Y adalah sebesar 27,7%

Sumber: diolah sendiri (2016)

Lanjutan Tabel 2.2

(16)

��

��

��

2.3 Kerangka Konseptual

Gambar 2.1. Kerangka Konseptual 2.3.1. Efektivitas implementasi anggaran berbasis kinerja

“Efektivitasimplementasianggaranberbasiskinerjaadalahtahappenggun

aan kinerja dalam proses

penganggaranuntukmemberikandampakpadatingkat hasil

programyangditetapkan”Asmadewa, ( 2006). “ Sistem

anggaranberbasiskinerjapada

dasarnyamerupakansistemyangmencakupkegiatanpenyusunanprogramdantol

ak ukur kinerja sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dan sasaran

program” Mardiasmo, (2002).

Sumber Daya Manusia ()

Efektivitas Implementasi

Anggaran Berbasis Kinerja

(Y) Penerapan

Teknologi ()

Ketidakpastian Lingkungan ()

��

(17)

Implementasi menurut Julnes dan Holzer (2001) “merupakan

penggunaan pengukuran kinerja untuk perencanaan strategis, alokasi

sumber daya, manajemen program, pengawasan, pengevaluasian, dan

pelaporan kepada manajemen internal, kantor terkait, masyarakat, dan

media massa”.

2.3.2. Sumber Daya Manusia

Nogi, (2006) berpendapat bahwa “kualitas

SDMadalahunsuryangsangatpenting dalammeningkatkan pelayanan

organisasi terhadapkebutuhan

publik”.Olehkarenaitu,terdapatduaelemenmendasaryang

berkaitandenganpengembangan

SDMyaitutingkatpendidikandanketerampilan

yangdimilikikaryawan/pekerja.

SedangkanNotoadmodjo (2006) menyatakanbahwa

“kualitasSDMmenyangkut duaaspek,yaituaspekkualitasfisik

danaspekkualitasnonfisik,yang menyangkut

kemampuanbekerja,berpikir,dan keterampilan-keterampilanlain”.

Sumberdayamanusia(SDM) berkualitastinggiadalahSDMyang mampu menciptakanbukansaja nilaikomparatif,tetapi juganilaikompetitif-generatif- inovatifdenganmenggunakan energitertinggisepertiintelligence,creativity,dan imagination;

tidaklagisemata-matamenggunakanenergykasarsepertibahan mentah,lahan,air,tenagaotot,dansebagainya (Ndraha 1997).

(18)

Penguasaan informasi atau pengetahuan teknis untuk melaksanakan

reformasi anggaran sangat penting bagi keberhasilan implementasi anggaran

berbasis kinerja. “Informasi dan pengetahuan tersebut dapat diperoleh

melalui pelatihan atau akses terhadap informasi terkait anggaran berbasis

kinerja yang memadai” Julnes dan Holzer, (2001).

Literatur manajemen kinerja menjelaskan bahwa pelatihan adalah

faktor kunci dalam memperbaiki kapabilitas pegawai, dan pemberdayaan

pegawai harus dilibatkan untuk mencapai perbaikan kinerja organisasi.

Survei GPRA tahun 2003 menemukan bahwa “terdapat hubungan positif

antar lembaga yang memberikan pelatihan dan pengembangan penyusunan

target kinerja program dengan penggunaan informasi kinerja ketika

menyusun atau merevisi target kinerja” GAO, (2005).

2.3.4. Ketidakpastian Lingkungan

Miliken (1987) menjelaskan bahwa ketidakpastian lingkunganterdiri

dari:

Tiga tipe (effect uncertainty, response uncertainty, danstateduncertainty). Effect uncertainty adalah ketidakmampuan memprediksipengaruh lingkungan di masa akan datang terhadap organisasi. Responseuncertainty adalah ketidakmampuan memprediksi konsekuensi daripilihan-pilihan keputusan untuk merespon lingkungan. Stated uncertaintymerupakan suatu hal selalu dihubungkan dengan ketidakpastianlingkungan (preceived environmental uncertainty).

“Bagi suatu organisasi, sumber utama ketidakpastian berasal

darilingkungan, yang meliputi pesaing, konsumen, pemasok, regulator,

danteknologi yang dibutuhkan” Govindarajan, (1986).

(19)

untukmemprediksi situasi disekitarnya sehingga mencoba untuk

melakukansesuatu untuk menghadapi ketidakpastian tersebut” Luthans,

(2006).

“Ketidakpastian lingkungan merupakan situasi dimana seseorang

terkendala untuk memprediksi situasi disekitarnya sehingga mencoba untuk

melakukan sesuatu untuk menghadapi ketidakpastian tersebut” Minanda,

(2009).

Ketidakpastian lingkungan dalam suatu organisasi khususnya

organisasi sektor publik disebabkan karena lingkungan umum dan khusus

yang mempengaruhi perkembangan organisasi. Tetapi dalam hal ini

lingkungan khususlah yang lebih berpengaruh. Tidak dapat dipungkiri

bahwa aturan atau regulasi yang berkembang juga dapat mempengaruhi

kondisi lingkungan organisasi. Karyawan atau pegawai merupakan bagian

dari lingkungan khusus dalam organisasi untuk membantu mencapai tujuan

yang diinginkan.

2.4. Hipotesis

Hipotesis adalah kesimpulan sementara atau proposisi tentatif tentang

hubungan dari beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai tuntunan

sementara dalam penelitian untuk menguji kebenarannya.

2.4.1. Sumber Daya Manusia Berpengaruh Terhadap Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja.

Keberhasilan implementasi anggaran berbasis kinerja sangat

(20)

memadai, pegawai dengan kemampuan analisis kerja program, alokasi dana

untuk mengumpulkan dana, atau dana untuk pengembangan implementasi

anggaran berbasis kinerja, dan waktu yang cukup untuk menilai keandalan

data kinerja penting bagi keberhasilan implementasi. Wang (2000)

berpendapat bahwa penggunaan anggaran memerlukan pembangunan

kapasitas dalam standar akuntansi, sistem informasi, personil, dan dana.

Organisasi-organisasi publik yang memiliki pengalaman dengan

penggunaan anggaran memberikan perhatian besar atas kebutuhan staf

untuk kinerja, dan mengumpulkan data.

Hal ini sesuai dengan penelitian Nawastri (2015), Achyani dan Cahya

(2011), Cholifah (2013), Fitri (2013), dan Nalarreason (2014) yang

menyatakan bahwa kompetensi sumber daya manusia berpengaruh positif

dan signifikan terhadap anggaran berbasis kinerja. Dengan demikian

hipotesis yang diajukan:

�� : Sumber Daya Manusia BerpengaruhTerhadap Efektivitas

Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja.

2.4.2. Penerapan Teknologi Berpengaruh Terhadap Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja

Penguasaan informasi atau pengetahuan teknis untuk melaksanakan

reformasi anggaran sangat penting bagi keberhasilan implementasi anggaran

berbasis kinerja. Informasi dan pengetahuan tersebut dapat diperoleh

(21)

kinerja yang memadai (Julnes dan Holzer, 2001). Literatur manajemen

kinerja menjelaskan bahwa pelatihan adalah faktor kunci dalam

memperbaiki kapabilitas pegawai, dan pemberdayaan pegawai harus

dilibatkan untuk mencapai perbaikan kinerja organisasi. Survei GPRA tahun

2003 menemukan bahwa terdapat hubungan positif antar lembaga yang

memberikan pelatihan dan pengembangan penyusunan target kinerja

program dengan penggunaan informasi kinerja ketika menyusun atau

merevisi target kinerja (GAO, 2005).

Dengan demikian hipotesis yang diajukan:

�� : Penerapan Teknologi Berpengaruh Terhadap Efektivitas

Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja

2.4.3. Ketidakpastian Lingkungan Berpengaruh Terhadap Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja

"Ketidakpastian lingkungan merupakan situasi dimana seseorang

terkendala untuk memprediksi situasi disekitarnya sehingga mencoba untuk

melakukan sesuatu untuk menghadapi ketidakpastian tersebut”Minanda,

2009. Ketidakpastian lingkungan dalam suatu organisasi khususnya

organisasi sektor publik disebabkan karena lingkungan umum dan khusus

yang mempengaruhi perkembangan organisasi.

Tetapi dalam hal ini lingkungan khususlah yang lebih berpengaruh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aturan atau regulasi yang berkembang juga

(22)

pegawai merupakan bagian dari lingkungan khusus dalam organisasi untuk

membantu mencapai tujuan yang diinginkan.

Dari penjelasan di atas maka dapat dikembangkan hipotesis penelitian

sebagai berikut:

�� : Ketidakpastian Lingkungan Berpengaruh Terhadap Efektivitas

Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja

2.4.4. Sumber Daya Manusia, Penerapan Teknologi, dan Ketidakpastian Lingkungan Berpengaruh Terhadap Efektivitas Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja Secara Simultan.

Setelah mengetahui penjelasan dari variabel sumber daya manusia,

penerapan teknologi dan ketidakpastian lingkungan terhadap efektivitas

implementasi anggaran berbasis kinerja, peneliti ingin mengembangkan

hipotesis penelitian untuk mengetahui pengaruh sumber daya manusia,

penerapan teknologi dan ketidakpastian lingkungan secara simultan sebagai

berikut.

�� Sumber Daya Manusia, Penerapan Teknologi, dan

Gambar

Tabel 2.1 Perbedaan Anggaran Tradisionaldengan
Tabel 2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1. Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan surat Panitia Pengadaan Barang/ Jasa pada Kementerian Agama Kabupaten Melawi Nomor : 01/ 2.013/ PPBJPL-KEMENAG-MELAWI / VI I I / 2012, Tanggal 06 Agustus 2012 perihal

Pada tahun 2014 Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi membuka program Unggulan Berpotensi HKI (UBER-HKI)

RAYA MASJID NURUL HUDA NO.02 DESA NGIMBANG PALANG KAB.. RAYA REMBES-PAKAH KM.03 DESA CENDORO

Penyaluran dana tahap kedua (30%) dilakukan setelah kegiatan konferensi internasional selesai dilaksanakan yang dibuktikan dengan telah diterimanya 10 artikel untuk

Berdasarkan surat Panitia Pengadaan Barang/ Jasa pada Kementerian Agama Kabupaten Melawi Nomor : 01/ 1.013/ PPBJPL-KEMENAG-MELAWI / VI I I / 2012, Tanggal 06 Agustus 2012 perihal

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Bupati Bantul tentang Pemberian Izin Kepada Palang Merah Indonesia

Atas partisipasinya dalam penyelenggaraan Ujian Tulis Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Regional II Lokal Yogyakarta Divisi IPS bagi calon mahasiswa baru tahun

KESATU : Menghapus dari daftar inventaris Barang Milik Daerah Berupa Bangunan/Gedung Rumah Dinas Kepala Sekolah SD Klagaran yang telah dilakukan pemusnahan karena