Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tempe Di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat

19 

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Strategi

Menurut Jauch dan Glueck dalam buku Jatmiko (2003:5) mendefenisikan

strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan

keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan yang dirancang

untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui

pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan.

Strategi adalah serangkaian komitmen dan tindakan yang terintegrasi dan

terkoordinasi yang dirancang untuk mengeksploitasi kompetensi ini (core competence) dan mendapatkan keunggulan kompetitif (Jatmiko 2003:134).

Strategi didefinisikan sebagai berbagai cara untuk mencapai tujuan. Selain

dengan perkembangan konsep manajemen strategik, strategi tidak didefinisikan

hanya semata-mata sebagai cara untuk mencapai tujuan karena strategi dalam

(2)

2.2 Pengertian Industri

Industri adalah salah satu sub sistem ( salah satu unsur) daripada bisnis,

dengan kata lain, bisnis terdiri dari sejumlah Industri. Industri adalah kumpulan

perusahaan yang memproduksi barang yang sama atau hampir sama. Jadi,

masing-masing jenis industri memproduksi barang yang sama, misalnya ada Industri

Kimia, Industri Logam, Industri Meubel, Industri Rokok, Industri Makanan, dan

lain sebagainnya ( Manullang dkk, 2008:4).

Menurut Hasibuan dan Sudarman dalam Kuncoro (2007:135) pengertian

industri dalam arti sempit adalah kumpulan perusahaan yang menghasilkan

produk sejenis di mana terdapat kesamaan dalam bahan baku yang digunakan,

proses, bentuk produk akhir, dan konsumen akhir. Dalam arti luas, industri dapat

didefinisikan sebagai kumpulan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa

dengan elastisitas silang (cross elasticities of demand) yang positif dan tinggi. Secara garis besar industri dapat didefinisikan sebagai kelompok perusahaan yang

memproduksi barang atau jasa yang sama atau bersifat subsitusi.

Menurut UU No. 5 Tahun 1984, tentang Perindustrian, industri adalah

suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang

setengah jadi atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi

penggunaannya, tidak termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan

industri.

Industri Pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan

kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan

(3)

menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada

pemakai akhir ( Badan Pusat Statistik, 2015).

2.3 Jenis-Jenis Industri

Menurut Badan Pusat Statistik (2015) pengelompokan industri menjadi

empat berdasarkan jumlah tenaga kerja yaitu:

a. Industri rumah tangga, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja kurang

dari empat orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas,

tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola

industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya.

Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe/ tahu, dan

industri makanan ringan.

b. Industri kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai

19 orang, Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relative kecil,

tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada hubungan

saudara. Misalnya: industri genteng, industri batubata, dan industri

pengolahan rotan.

c. Industri sedang, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20

sampai 99 orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup

besar, tenaga kerja memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan

memiliki kemapuan manajerial tertentu. Misalnya: industri konveksi, industri

bordir, dan industri keramik.

d. Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang.

(4)

kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki

keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji

kemampuan dan kelayakan (fit and profer test). Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.

2.4 Produksi

2.4.1 Pengertian Produksi

Menurut (Fahmi, 2014:2) Produksi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh

suatu perusahaan baik berbentuk barang (goods) maupun jasa (services) dalam suatu periode tertentu yang selanjutnya dihitung sebagai nilai tambah bagi

perusahaan. Bentuk hasil produksi dengan kategori barang (goods) dan jasa (services) sangat tergantung pada kategori aktivitas bisnis yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan. Jika perusahaan manufacture (pabrik) sudah jelas produksi yang dihasilkan dalam bentuk barang sedangkan untuk bisnis perhotelan,

travel, pendidikan adalah berbentuk jasa barang bersifat tangible asset dan jasa bersifat intangible asset .

Menurut Amirullah dan Imam ( 2005:13) Produksi didefinisikan sebagai

setiap kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa. Dalam pengertian sehari-hari,

aktivitas produksi ini sering dianggap sinonim dengan pembuatan barang-barang.

Hal ini berati bahwa sebuah bisnis dijalankan untuk membuat barang dan jasa

yang dibutuhkan oleh manusia atau konsumen.

Manurut Putong (2005: 203) produksi atau memproduksi adalah suatu

(5)

Kegunaan suatu barang akan bertambah bila memberikan manfaat baru atau lebih

dari bentuk semula.

Menurut Minto Purwo (2000: 43) produksi adalah usaha atau kegiatan

manusia untuk menciptakan atau menimbulkan kegunaan suatu benda agar

menjadi lebih berguna bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Dari definisi ini jelas

bahwa untuk memenuhi kebutuhan haruslah lebih dahulu melakukan berbagai

kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk menghasilkan, menciptakan,

dan mengolah barang atau jasa, atau meningkatkan atau menciptakan kegunaan

suatu benda agar memiliki nilai guna lebih tinggi bagi pemenuhan kebutuhan.

Menurut Manullang dkk (2008:188) Produksi adalah proses kordinasi

berbagai faktor produksi atau sumber daya untuk mentrasformasi bahan menjadi

produk (barang) atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Produk (barang)

adalah output atau hasil proses produksi dengan penggunaan berbagai sumber

daya untuk menciptakan penambahan faedah, baik faedah bentuk, faedah waktu,

faedah tempat atau faedah kepemilikan.

Bagi suatu perusahaan faedah (kegunaan) suatu produk melalui proses

produksi mempunyai sesuatu tujuan yakni maximizing profit atau memaksimumkan keuntungan. Proses produksi yang menghasilkan barang dan

jasa hanya akan memberi keuntungan kepada perusahaan bilamana barang atau

jasa tersebut memenuhi tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu dan tepat harga. Jadi

produk atau barang sebagai hasil proses produksi suatu perusahaan harus

(6)

a. Jumlah tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit namun selalu tersedia

pada saat dibutuhkan oleh konsumen..

b. Mutu harus bagus, tahan lama dan memenuhi keinginan konsumen.

c. Barang dapat diperoleh tepat waktu sehingga tidak mengecewakan konsumen.

d. Harga barang diusahakan serendah mungkin sehingga konsumen bersedia

membelinya.

2.4.2 Proses Produksi

Menurut Assauri (2008:105) proses produksi dapat diartikan sebagai cara,

metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang

atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan

dan dana) yang ada. Dalam industri modern saat ini yang berada dalam persaingan

global yang amat kompetitif, aktivitas bukan hanya sekedar dipandang sebagai

kegiatan mentransformasikan input menjadi output, tetapi dipandang sebagai

penciptaan nilai tambah, dimana setiap aktivitas dalam proses produksi harus

memberikan nilai tambah. Pemahaman terhadap nilai tambah ini penting agar

setiap aktivitas produksi dapat menghindari pemborosan.

Proses produksi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:

1. Proses Produksi yang Kontiniu (continuous process of production).

Perusahaan yang proses produksinya barang yang sama secara terus menerus,

jadi apa yang diproduksinya atau dikerjakan pada hari ini, itu pula yang akan

diproduksikan besok dan lusa. Perusahaan yang menghasilkan produksinya

kontiniu. Pabrik mobil atau sepeda motor juga mempergunakan proses

(7)

2. Proses Produksi yang tidak Kontiniu ( intermitten process of production). Perusahaan yang proses produksinya tidak kontiniu adalah perusahaan yang

memproduksikan barang-barang yang dipesan orang, disebut juga produksi

potongan. Contoh dari perusahaan yang proses produksinya tidak kontiniu

adalah pabrik mesin umum. Pada perusahaan seperti ini barang yang di

produksikan berbeda satu sama lain sesuai dengan kehendak pemesan, jadi

misalnya pabrik gula yang dipesan di Indonesia dari luar negeri berbeda

dengan pabrik gula yang dipesan oleh pabrik gula dari negeri yang beriklim

dingin.

2.4.3 Fungsi Produksi

Menurut Putong ( 2005: 228) Pada umumnya setiap proses produksi harus

menggunakan fungsi produksi. Fungsi produksi yaitu suatu fungsi yang

menunjukkan hubungan antara tingkat output dengan input yang digunakan.

Menurut Reksoprayitno (2000:228) Fungsi Produksi adalah Hubungan

fisik antara masukan/input dan keluaran/ output untuk suatu macam produk dapat

diungkapkan dengan menggunakan konsepsi fungsi produksi. Fungsi produksi

menunjukkan output atau jumlah-jumlah hasil produksi maksimum yang dapat

dihasilkan persatuan waktu dengan menggunakan berbagai kombinasi sumber

daya manusia dipakai dalam berproduksi.

Fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara

berbagai kombinasi input yang digunakan untuk menghasilkan output. Fungsi

(8)

dua atau lebih variabel, dimana variabel satu disebut variabel dependen (Y) dan

yang lain disebut variabel indepenedent (X). Secara matematis , fungsi

Cobb-Douglas Dapat ditulis sebagai berikut:

Y = a X1 b1 X2 b2 X3 b3,...Xi bi,.... Xn bn eµ Soekartawi (1994:160) (1)

Bila fungsi produksi Cobb-Douglas tersebut dinyatakan oleh hubungan Y

dan X, maka:

Y = f (X1, X2, X3,....Xi,....Xn) Soekartawi (1994:160) (2)

Dimana :

Y = Variabel yang dijelaskan

X = Variabel yang Menjelaskan

a, b = Besaran yang akan diduga

µ = Kesalahan (disterbance term) e = Logaritma natural, e=2,718

Jika memasukkan variabel dalam penelitian maka diperoleh model

persamaan sebagai berikut:

Y = f (X1, X2, X3) (3)

Maka model Cobb-Douglas dalam penelitian ini adalah:

(9)

2.4.4 Faktor-Faktor Produksi

Untuk menghasilkan barang diperlukan modal berupa uang, peralatan

produksi dan tenaga kerja yang mengoperasikan alat-alat produksi tersebut. Di

samping itu diperlukan pengusaha. Peranan pengusaha dalam kegiatan sesuatu

perusahaan adalah mengorganisasikan penggunaan mesin, dan tenaga kerja buruh

agar operasi memproduksi dan menyalurkan barang ke berbagai pasar dapat

dilaksanakan dengan efisien. Dengan demikian, dalam menghasilkan dan

memasarkan barang-barang kaitan yang erat di antara mesin, manusia dan

pengusaha. Berbagai unsur yang digunakan untuk memproduksi, menyalurkan

dan memasarkan barang dinamakan faktor produksi. Dalam perekonomian

faktor-faktor produksi dapat dibedakan kepada empat jenis yaitu:

1. Modal, faktor produksi ini merupakan benda yang diciptakan oleh manusia

dan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan.

2. Tenaga Kerja, faktor produksi ini meliputi keahlian dan keterampilan yang

dimiliki, yang dibedakan menjadi tenaga kerja kasar, tenaga kerja terampil,

dan tenaga kerja terdidik.

3. Tanah dan sumber alam, faktor tersebut disediakan oleh alam meliputi tanah,

beberapa jenis tambang, hasil hutan dan sumber alam yang dapat dijadikan

modal, seperti air yang dibendung untuk irigasi dan pembangkit listrik.

4. Keahlian kewirausahawan, faktor produksi ini berbentuk keahlian dan

kemampuan pengusaha untuk mendirikan dan mengembangkan berbagai

(10)

2.5 Modal

Modal adalah salah satu faktor produksi yang digunakan dalam melakukan

proses produksi. Produksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat-alat atau

mesin produksi yang efisien. Dalam proses produksi tidak tidak ada perbedaan

antara modal sendiri dengan modal pinjaman, yang masing-masing berperan

langsung dalam proses produksi.

Menurut Sayuti ( 2015:70) Modal sebagai alat untuk mendapatkan barang

lain: membeli bahan baku, membeli peralatan, menyewa gedung, dan lain-lainnya.

Bila modal tidak diatur sedemikian rupa atau tidak digunakan dengan tepat, maka

akan menjadi hambatan bagi kelangsungan hidup perusahaan. Pemilik perusahaan

dapat membuat keputusan yang tepat untuk menggunakan modal dalam rangka

menjaga kelangsungan hidup perusahaan.

Menurut Schwiedland dalam Riyanto (2001:18) modal dalam artian yang

lebih luas, dimana modal itu meliputi baik modal dalam bentuk uang

(geldcapital), maupun dalam bentuk barang (sachcapital), barang-barang dagang dan lain sebagainya. Beberapa pengertian modal oleh berbagai ahli yang dikutip

oleh Bambang Riyanto:

1. Menurut Meij “ Modal adalah sebagai kolektivitas dari barang-barang

modal yang terdapat dalam neraca sebelah debet, yang dimaksudkan

dengan barang-barang modal adalah semua barang yang ada dalam rumah

tangga perusahaan dalam fungsi produktivitasnya untuk membentuk

(11)

2. Menurut Bakker “ Modal ialah baik yang berupa barang-barang kongkrit

yang masih ada dalam rumah tangga perusahaan yang terdapat di neraca

sebelah debet, maupun berupa daya beli atau nilai tukar dari barang-barang

yang tercatat di sebelah kredit”.

Modal merupakan sejumlah uang yang digunakan dalam menjalankan

kegiatan-kegiatan bisnis. Modal dalam dunia bisnis sangat diperlukan untuk

memperoleh faktor-faktor produksi seperti bahan baku dan upah tenaga kerja.

Modal dalam bisnis dapat diperoleh dari berbagai sumber, yaitu modal sendiri,

modal pinjaman melalui perbankan, dan modal patungan (kerja sama).

Masing-masing sumber modal tersebut memiliki keterbatasan dalam penggunaan dan

risiko tanggungan. Perusahaan yang memiliki modal yang besar tidak serta merta

merupakan bisnis yang sukses atau sebaliknya, perusahaan dengan modal kecil

tidak berati peluangnya untuk sukses sangat kecil. yang terpenting dalam hal ini

adalah bagaimana mengelola (manage) sumber daya capital sebagai elemen yang produktif untuk pengembangan bisnis (Amirullah dkk , 2005:7).

2.6 Bahan Baku

Menurut Jayaatmaja (2010:9) Bahan baku adalah bahan yang

dipergunakan dalam proses produksi pada periode yang bersangkutan. Sedangkan

menurut Kholmi dan Yuningsih (2009: 26) Bahan baku adalah bahan yang

sebagian besar membentuk produk setengah jadi (barang jadi) atau menjadi wujud

(12)

Menurut Sayuti (2015:72) Bahan baku dalam pengertian lingkungan

perusahaan adalah input yang dijadikan dasar untuk menjalankan kegiatan

perusahaan, baik berupa bahan mentah untuk membuat barang baru, maupun

barang jadi (untuk perusahaan dagang) yang menjadi bahan yang digunakan untuk

menjalankan kegiatan bisnis.

Bahan baku merupakan semua sumber alam, termasuk tanah, kayu,

mineral dan minyak. Sumber alam tersebut juga sebagai faktor produksi yang

diperlukan dalam melaksanakan aktivitas bisnis untuk diolah dan menghasilkan

barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat ( Amirullah dkk 2005:7).

Jenis bahan baku yang diperlukan dalam operasi bisnis dapat

dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu bahan baku utama (especial raw material) dan bahan baku tambahan (additional raw material). Bahan baku utama adalah bahan baku yang pokok atau harus tersedia untuk digunakan dalam menciptakan

barang dan jasa. seperti proses pembutan tempe, industri tempe membutuhkan

bahan baku kacang kedelai sedangkan bahan tambahan adalah bahan baku yang

digunakan untuk mendukung proses penciptaan barang dan jasa. Dalam contoh ini

industri tempe membutuhkan plastik pembungkus atau ragi untuk melengkapi

keberadaan dari produk utama.

2.7 Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah orang yang melaksanakan dan menggerakan segala

kegiatan menggunakan peralatan dengan teknologi dalam menghasilkan barang

(13)

Tenaga kerja merupakan bahagian integral dari sistem produksi, apakah

transformasi secara manual atau dengan mesin sangat otomatis. Keberhasilan

suatu perusahaan bukanlah semata-mata tergantung kepada efisiensi mesin-mesin

dan peralatan, tetapi tergantung pada efisiensi tenaga kerja bekerja, kemampuan

fisiknya, lingkungan pekerjaannya dan pola-pola tingkah lakunya (Manullang,

2008:197).

Di dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud tenaga kerja manusia (labor)

bukanlah semata-mata kekuatan manusia yang mencagkul, menggergaji,

bertukang, dan segala labor atau tenaga kerja saja, tetapi lebih luas lagi yaitu

human resources (sumber daya manusia). Didalam istilah human resources atau sumber daya manusia itu, tercakuplah tidak saja tenaga fisik atau tenaga jasmani

manusia tetapi juga kemampuan mental atau kemampuan nonfisiknya, tidak saja

tenaga terdidik tetapi juga tenaga yang tidak terdidik tidak saja tenaga yang

terampil tetapi juga yang tidak terampil (Rosyidi, 2014:56).

Menurut Sukirno ( 2004:7) Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani

yang secara langsung maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi.

Faktor produksi tenaga kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli.

Dalam faktor produksi tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta

kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat

dikelompokan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan

sifat kerjanya. Berdasarkan kualitasnya tenaga kerja dibedakan menjadi :

1. Tenaga Kerja Terdidik, adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan

(14)

2. Tenaga Kerja Terampil, adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau

latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya.

3. Tenaga Kerja Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih (tenaga kerja kasar) adalah

tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian dan pendidikan dalam suatu bidang

pekerjaan.

Menurut Kardiman (2003: 73) Faktor produksi tenaga kerja adalah segala

kegiatan jasmani maupun rohani atau pikiran manusia yang ditujukan untuk

kegiatan produksi. Pemanfaatan tenaga kerja dalam proses produksi haruslah

dilakukan secara manusiawi, artinya perusahaan pada saat memanfaatkan tenaga

kerja dalam proses produksinya harus menyadari bahwa kemampuan mereka ada

batasnya, baik tenaga maupun keahliannya. Selain itu juga perusahaan harus

mengikuti peraturan yang dikeluarkan pemerintah dalam menetapkan besaran gaji

tenaga kerja.

2.8 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan penjelasan ilmiah mengenai proposisi

antarkonsep/ antarkonstruk atau pertautan/hubungan antarvariabel penelitian

(Juliandi, 2013:119). Untuk memudahkan pemahaman mengenai keseluruhan

rangkaian dari penelitian ini, maka disusunlah kerangka konseptual sebagai

(15)

Sumber: Penulis

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Produksi Tempe di Kecamatan Binjai

(16)

2.9 Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini, peneliti mencari beberapa referensi dari beberapa

penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya:

1. Muhammad Nasrun Safitra (Universitas Hasanuddin Makassar, 2013)

dalam skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Produksi Industri Tahu dan Tempe di Kota Makassar”. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa pengaruh variabel modal terhadap produksi industri

tahu dan tempe di kota Makassar yaitu tidak signifikan. Dengan demikian

variabel modal (mesin) tidak mempengaruhi besarnya produksi tahu dan

tempe yang ada di kota Makassar. Hal ini disebabkan karena seberapa

besar pun modal yang digunakan atau dikeluarkan tidak berpengaruh

terhadap hasil produksi tidak di dukung oleh besarnya bahan baku yang

digunakan. Dari hasil uji regresi yang dilakukan bahwa variabel bahan

baku berpengaruh signifikan terhadap produksi industri tahu dan tempe di

kota Makassar. Hal ini dikarenakan bahan baku merupakan variabel utama

dalam melakukan produksi dalam sebuah industri dengan kata lain

kegiatan produksi akan berhenti jika bahan baku tidak tersedia. Variabel

tenaga kerja terhadap produksi industri tahu dan tempe di Kota Makassar

yaitu tidak signifikan. Hal ini di karenakan pada industri tahu dan tempe di

Kota Makassar masih pada taraf home industri yaitu tenaga kerja yang

paling banyak sebesar 4 orang dan masih dibatasi pada jumlah permintaan

kepada konsumen sehingga bahan baku yang juga di gunakan akan

(17)

2. Ayu Mutiara (Universitas Diponegoro, 2010) dalam skripsi yang berjudul

“Analisis Pengaruh Bahan Baku, Bahan Bakar,Tenaga Kerja Terhadap

Produksi Tempe di Kota Semarang (Studi Kasus Di Kelurahan Krobokan).

Hasil penelitian ini menunjukkan Variabel bahan baku berpengaruh

signifikan terhadap produksi tempe, Dengan demikian hipotesis yang

menyatakan bahan baku berpengaruh terhadap produksi tempe diterima.

Variabel bahan bakar berpengaruh signifikan terhadap produksi tempe.

Hipotesis yang menyatakan bahan bakar berpengaruh terhadap produksi

tempe diterima. Variabel tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap

produksi tempe. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan tenaga kerja

berpengaruh terhadap produksi tempe tidak diterima.

3. Ardyarta David Pradana (Universitas Negeri Semarang, 2013) dalam

skripsi yang berjudul “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efisiensi

Industri Rumah Tangga Keripik Tempe Di Kabupaten Blora. Hasil

penelitian menunjukkan terdapat pengaruh besarnya modal yang belum

efisien yang digunakan untuk pembelian bahan baku, tenaga kerja, dan

teknologi yang digunakan dalam industri rumah tangga keripik tempe di

Kabupaten Blora terhadap efisiensi harga, efisiensi teknik, dan efisiensi

ekonomi sehingga perlu adanya penambahan modal produksi.

Pemanfaatan faktor input industri rumah tangga keripik tempe yaitu bahan baku, tenaga kerja dan modal di Kabupaten Blora belum efisien, masih

diperlukan peningkatan efisiensi terutama pada bahan baku. Kendala yang

timbul dalam usaha peningkatan efisiensi produksi keripik tempe di

(18)

sehingga banyaknya produksi yang dihasilkan kurang optimal secara

kuantitas.

4. Karjadi Mintaroem (Universitas Airlangga, 2003) telah melakukan

penelitian dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Pertumbuhan Industri Kecil Di Wilayah Segitiga Industri Di Jawa Timur

(Surabaya, Sidoarjo Dan Gresik)”. Penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui sejauh mana kemampuan industri dalam menyerap tenaga

kerja serta untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

pertumbuhan industri. Sampel yang digunakan adalah berbagai kelompok

industri yang berada di daerah jawa timur, alat analisis yang digunakan

dalam penelitian tersebut adalah regresi. Adapun hasilnya adalah adanya

industri tersebut dapat menyerap tenaga kerja sebesar 46,28 % dari tenaga

kerja, dengan menggunakan variabel-variabel input bahan baku, bahan

bakar dan tenaga kerja. Ternyata faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

industri adalah kelancaran persediaan bahan, jumlah pekerja,

keterampilan, modal.

5. Mega Indah Mujiningsih (Universitas Negeri Semarang, 2013) telah

melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kelayakan Usaha dan

Strategi Pengembangan Industri Kecil tempe di Kecamatan Matesih

Kabupaten Karanganyar”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Industri

Kecil Tempe di Kecamatan Matesih layak dilakukan. Analisis SWOT

yang dipakai adalah SO ( Strength Opportunities) yaitu mengatasi

kelemahan-kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang yang

(19)

6. Wahyuniarso Tri DS (Universitas Negeri Semarang, 2013) telah

melakukan penelitian dengan judul “ Strategi Pengembangan Industri

Kecil Keripik Tempe di Dusun Karangbolo Desa Lerep Kabupaten

Semarang”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi SDM pada

industri kecil keripik di dusun Karangbolo desa Lerep Kabupaten

Semarang dalam kondisi buruk. Analisis SWOT yang dipakai untuk

mengatasi masalah ini berdasarkan analisis matriks SWOT, strategi yang

dapat dilakukan untuk memberdayakan industri kecik keripik di dusun

Karangbolo desa Lerep Kabupaten Semarang adalah dengan strategi

konsentrasi melalui integrasi horizontal yaitu menghindari kehilangan

Figur

Gambar 2.1  Kerangka Konseptual
Gambar 2 1 Kerangka Konseptual . View in document p.15

Referensi

Memperbarui...