PENGARUH OVER STRESS TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN PERBEDAAN GENDER SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI
Oleh :
Suci Amika Ukkas *)
ABSTRAK
Stres dalam pekerjaan didefinisikan sebagai reaksi fisik dan emosional yang berbahaya yang terjadi ketika persyaratan kerja tidak sesuai kemampuan pekerja, sumber daya, dan kebutuhan. Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh over stress terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role antara perempuan dan laki-laki. Responden dalam penelitian ini adalah perawat, sales, dan staf karyawan dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan untuk penelitian ini adalah simple regression analysis dan model diuji dengan metode subgroup. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh over stress terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.
Kata kunci: overstress, gender, kinerja in-role, kinerja extra-role.
PENDAHULUAN Latar Belakang
Stres sebagai sebuah atau beberapa rangsangan pada tekanan yang dialami dan tidak dapat diakomodasikan atau ditahan yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan maupun tingkah laku orang tersebut. Stres merupakan respon fisik dan emosional berbahaya yang terjadi saat persyaratan pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan, sumber daya, atau kebutuhan pekerja (Pilla, 2007).
Menurut Narayanan (1999) perbedaan gender dapat mempengaruhi stres. Laki-laki cenderung menggunakan rasio atau logika yang terkadang kurang emosional, sedangkan perempuan lebih cenderung menggunakan perasaan yang akibatnya lebih mudah mengalami stres karena emosi tersebut. Hamilton dan Fagot (1988) seperti yang dikutip dalam Lestarianita dan
Fakhrurrozi (2007) menjelaskan bahwa laki-laki cenderung menggunakan problem-focused coping. Laki-laki lebih memilih untuk langsung menyelesaikan masalah yang dihadapi atau langsung menghadapi sumber stres. Sedangkan perempuan lebih cenderung menggunakan emotion-focused
*) Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Alkhairaat
coping. Perempuan lebih menggunakan perasaan atau lebih emosional, sehingga jarang menggunakan logika atau rasio yang membuat perempuan cenderung untuk mengatur emosi dalam menghadapi sumber stres (Lestarianita & Fakhrurrozi, 2007).
Stres dalam pekerjaan didefinisikan sebagai reaksi fisik dan emosional yang berbahaya yang terjadi ketika persyaratan kerja tidak sesuai kemampuan pekerja, sumber daya, dan kebutuhan. Hal ini diakui di seluruh dunia sebagai tantangan besar bagi kesehatan mental, fisik, dan kesehatan organisasi. Pekerja yang mengalami stres lebih merasa tidak sehat, kurang termotivasi, kurang produktif, dan kurang aman. Dan organisasi mereka tidak mungkin berhasil dalam pasar yang kompetitif. Williams et al. (2001) seperti yang dikutip dalam Indriyani (2009) berpendapat bahwa over stress yang terjadi, baik fisik maupun perilaku adalah hasil jangka pendek dari stres dalam pekerjaan yang dapat berpengaruh pada kinerja extra-role dan kinerja in-role yang menjadi rendah.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti memilih untuk mengambil judul “Pengaruh Over Stress terhadap Kinerja Karyawan dengan Perbedaan Gender Sebagai Variabel Pemoderasi”. Jurnal KIATUniversitas Alkhairaat 8 (1) Juni 2016 e-ISSN : 2527-7367
Rumusan Masalah
Penelitian ini berfokus pada over stress
yang berdampak pada kinerja karyawan yang dipengaruhi oleh perbedaan gender. Dalam hal ini dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Apakah pengaruh over stress terhadap
kinerja in-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki?
2. Apakah pengaruh over stress terhadap kinerja extra-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh over stress terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role antara perempuan dan laki-laki.
METODE PENELITIAN
Pemilihan Sampel dan Metode
Pengumpulan Data
Populasi dari penelitian ini adalah perawat yang berada di Yogyakarta, sales
di Kalbe Farma Yogyakarta, dan karyawan di STIE YKPN. Metode pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling,
Metode non-probality sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode convenience dengan memilih anggota populasi yang paling mudah ditemui sebagai responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan kriteria tertentu agar sampel yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh langsung dari responden dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dipandang memiliki relevansi dengan topik yang akan diteliti. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei, yaitu dengan menggunakan pertanyaan atau kuesioner yang dibagikan secara langsung kepada responden.
Dalam penelitian ini, skala yang digunakan dalam menyusun daftar pertanyaan adalah skala likert. Responden diminta untuk memilih salah satu jawaban, setiap pertanyaan disediakan lima alternatif jawaban, yaitu: SS (sangat setuju), S (setuju), N (netral), TS (tidak setuju), dan STS (sangat tidak setuju).
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan untuk penelitian ini adalah simple regression analysis. Dalam penelitian ini, model diuji dengan metode subgroup. Sampel perbedaan jenis kelamin akan diuji terpisah dengan melihat perbedaan koefisien antara dua subgroup. Berikut ini merupakan rincian analisis data yang diolah satu persatu menggunakan simple regression.
Tabel 1. Rincian Pengukuran Hipote-sis Pengukur-an Data Var. Indepen-den Var. Dependen Sampel H1 Regresi 1 Over stress Kinerja In-role Laki-laki Regresi 2 Over stress Kinerja In-role Perem-puan H2 Regresi 3 Over stress Kinerja Extra-role Laki-laki Regresi 4 Over stress Kinerja Extra-role Perem-puan
Metode Pengumpulan Data
Responden dalam penelitian ini adalah perawat di Yogyakarta, sales Kalbe farma, dan karyawan STIE YKPN. Seluruh kuesioner yang diedarkan, peneliti mendapatkan jumlah pengembalian kuesioner sebanyak 103 responden. Dengan demikian, jumlah respon rate
dalam penelitian ini adalah 100%. Data Demografi Responden
Tabel 2. Demografi Responden Berdasarkan Gender
No. Gender Jumlah
Responden Presentase 1. Laki-laki 59 orang 57,28% 2. Perempuan 44 orang 42,72%
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Hasil pengujian hipotesis 1 menunjukkan bahwa pengaruh over stress
terhadap terhadap kinerja in-role pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini dibuktikan pada beta faktor tugas dan
peran (β = -0,373) pada laki-laki lebih besar daripada beta faktor tugas dan peran (β = -0,185) pada perempuan. Penelitian ini tidak mendukung H1 yang menyatakan bahwa pengaruh over stress terhadap kinerja in-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Tabel 3. Hasil Pengujian Hipotesis 1
HIPOTESIS Standar-dized Estimate Standard Error Critical Ratio Proba-bility Keterangan
H1: Pengaruh over stress terhadap kinerja in-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Laki-laki
(KIR) Faktor Tugas dan Peran -0.373 0.197 -0.356 0.063 (KIR) Faktor Lingkungan Sosial 0.658 0.197 0.569 0.002 (KIR) Faktor Iklim Organisasi 0.144 0.193 0.134 0.458 (KIR)Faktor Lingkungan Fisik 0.054 0.194 0.043 0.781 Perempuan
(KIR) Faktor Tugas dan Peran -0.185 0.113 -0.304 0.111 (KIR) Faktor Lingkungan Sosial -0.059 0.120 -0.078 0.627 (KIR) Faktor Iklim Organisasi 0.327 0.112 0.477 0.006 (KIR)Faktor Lingkungan Fisik 0.129 0.160 0.140 0.427
Hasil pengujian hipotesis 2 menunjukkan bahwa pengaruh over stress
terhadap terhadap kinerja extra-role pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini dibuktikan pada beta faktor tugas dan peran (β = -0,449) pada laki-laki lebih
besar daripada beta faktor tugas dan peran (β = -0,013) pada perempuan. Penelitian ini tidak mendukung H2 yang menyatakan bahwa pengaruh over stress terhadap kinerja extra-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Tabel 4. Hasil Pengujian Hipotesis 2
HIPOTESIS Standar-dized Estimate Standard Error Critical Ratio Proba-bility Keterangan
H2: Pengaruh over stress terhadap kinerja extra-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Laki-laki
(KER) Faktor Tugas dan Peran -0.449 0.223 -0.407 0.049 (KER) Faktor Lingkungan Sosial 0.158 0.223 0.130 0.482 (KER) Faktor Iklim Organisasi 0.158 0.219 0.140 0.473 (KER)Faktor Lingkungan Fisik 0.462 0.219 0.351 0.040 Perempuan
(KER) Faktor Tugas dan Peran -0.013 0.151 -0.017 0.932 (KER) Faktor Lingkungan Sosial 0.163 0.161 0.174 0.318 (KER) Faktor Iklim Organisasi 0.175 0.150 0.207 0.248 (KER)Faktor Lingkungan Fisik 0.115 0.214 0.101 0.596
Pembahasan
Pengaruh Over Stress terhadap Kinerja In-Role dan Kinerja Extra-Role dengan Perbedaan Gender Sebagai Variabel Pemoderasi
Perempuan lebih memungkinkan menderita stres dalam pekerjaan daripada laki-laki karena mereka memiliki stressor
khusus yang dihadapi perempuan termasuk diskriminasi, stereotip, dan peran gandanya dalam berumah tangga, sehingga akan mempengaruhi kinerja in-role dan kinerja
extra-role ditempat kerjanya, sedangkan laki-laki lebih fokus mengurus pekerjaannya dikantor.
Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan seharusnya dapat mendukung bahwa pengaruh over stress terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Akan tetapi, penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh over stress terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini kemungkinan disebabkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan berperan utama dalam pencari nafkah akan menanggung beban hidup dan bertanggung jawab atas keluarganya.
KESIMPULAN
Hasil pengujian hipotesis 1 dan hipotesis 2 tidak mendukung bahwa pengaruh over stress terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh over stress
terhadap kinerja in-role dan kinerja extra-role pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini kemungkinan disebabkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan berperan utama dalam mencari nafkah akan menanggung beban hidup dan bertanggung jawab atas keluarganya.
DAFTAR PUSTAKA
Andraeni, Ni Nyoman Novitasari. 2003.
PT H.M. SAMPOERNA Tbk, Surabaya. Tesis Universitas Airlangga yang tidak dipublikasikan.
Gyllensten, Kristina and Palmer, Stephen.2005.The Role of Gender in Workplace Stress: A Critical Literature Review. City university. London.
Indriyani, Azazah. 2009. Pengaruh Konflik Peran Ganda dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Perawat. Tesis Universitas Diponegoro yang tidak dipublikasikan. Lestarianita, Prety dan Fakhrurrozi, M. 2007.
Pengatasan Stres pada Perawat Pria dan Wanita. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.
Narayanan, Laksmi; Menon, Shanker; and E. Spector, Paul. 1999. Stress in the Workplace: A Comparison of Gender and Occupations. Department of Psychology, University of South Florida, U.S.A.
Novliadi, Ferry. 2007. Organizational Citizenship Behavior Karyawan Ditinjau dari Persepsi Terhadap Kualitas Interaksi Atasan-Bawahan dan Persepsi Terhadap Dukungan Organisasi. Universitas Sumatera Utara.
Nurhendar, Siti. 2007. Pengaruh Stres Kerja dan Semangat Kerja Terhadap Karyawan Bagian Produksi (Studi Kasus pada CV Aneka Ilmu Semarang).
Pilla, Steven D, ARM,AIC. 2007. Stress in the Workplace. Director, Research and Development.ESIS.Inc.
Rozikin, Zainur. 2006. Pengaruh konflik Peran dan Stres Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada Bank Pemerintah di Kota Malang. Universitas Merdeka Malang.
Sungkawati, Endang. 2007. Analisis Konflik dan Stres serta Pengaruhnya terhadap Kinerja Pekerja Perempuan di PR Karya Bersama Malang. Fakultas Ekonomi Universitas Wisnuwardhana. Suroso, A.I dan Siahaan, R. 2006. Pengaruh
Stres dalam Pekerjaan Terhadap Kinerja Karyawan: Studi Kasus Di Perusahaan Agribisnis PT NIC. Jurnal Manajemen