SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

237  Download (1)

Teks penuh

(1)

RANCANGAN DAN PENGEMBANGAN

MODUL ELEKTRONIK MATERI TURUNAN FUNGSI

DENGAN PROGRAM

GEOGEBRA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun oleh :

Andreas Ricky Proklamanto

NIM : 0914141047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

RANCANGAN DAN PENGEMBANGAN

MODUL ELEKTRONIK MATERI TURUNAN FUNGSI

DENGAN PROGRAM

GEOGEBRA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun oleh :

Andreas Ricky Proklamanto

NIM : 091414047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan Gembira Penuh Syukur Skripsi Ini

Kuupersembahkan untuk :

Tuhanku Tercinta Yesus Kristus dan Bundaku Tersayang

Bunda Maria

Bapak dan Ibuk yang Selalu Mendukung Sepenuh Jiwa

dan Raga

Kakekku yang juga selalu Mendukungku

Adikku yang Aneh

Saudara-saudaraku yang Terkasih

(6)
(7)

vi

Abstraks

Andreas Ricky Proklamanto. 2013. Rancangan dan Pengembangan Modul Elektronik Materi Turunan Fungsi dengan Program Geogebra. Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengeatahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan elektronik modul matematika dengan pendekatan konstruktivisme sebagai perangkat pembelajaran siswa kelas XI IPA 5 SMA Kolese de Britto tahun ajaran 2012/2013 pada materi Tafsiran Geometris Turunan Fungsi. Elektronik modul ini menggunakan software Geogebra dandikemas secara website offline.

Langkah-langkah penelitian pengembangan ini menggunakan model ADDIE, Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Analysis (analisis) adalah analisis awal sebelum dilakukan pengembangan, mulai dari analisis awal, analisis kurikulum, dan analisis situasi, dilanjutkan dengan design (perancangan), adalah menyusun dan mengumpulkan materi, membuat desain. Kemudian development (pengembangan) melakukan pengembangan produk dari desain yang sudah dibuat, dan validasi ahli dengan menggunakan instrumen penelitian oleh ahli media dan ahli materi. Setelah divalidasi ahli dilanjutkan dengan pengemasan untuk selanjutnya dilakukan implementasi. Tahap berikutnya implementasi yang diikuti oleh 30 siswa sebagai kelas uji coba lapangan dan pengisian angket kualitas teknis. Ada pula lembar observasi yang diisi oleh 2 guru matematika dan 1 dosen pengamat sebagai penilaian kepraktisan pengguna guru saat pembelajaran. Tahap terakhir adalah evaluasi, dari semua tahapan dan masukan pada saat implementasi dievaluasi dan direvisi kembali, agar mendapat produk akhir.

Penilaian kualitas elektronik modul matematika berdasarkan aspek kevalidan, menunjukkan skor ideal 60,33 untuk aspek pendidikan dan skor ideal 38,50 untuk aspek tampilan, dengan persentase keidealan 80,84% untuk aspek pendidikan menunjukkan nilai sangat baik, sedangkan pada aspek tampilan dengan persentase keidealan 77,00% menunjukkan penilaian baik. Aspek kualitas teknis dengan pengguna guru matematika memperoleh skor ideal 40 dengan persentase keidealan 88,89% yang menunjukkan penilaian sangat baik. Aspek kualitas teknis dengan pengguna siswa memperoleh skor ideal 13,34 dengan persentase keidealan 77,11% yang menunjukkan penilaian baik. Pada aspek keefektifan ditunjukkan berdasarkan ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 73,34%, berdasarkan pedoman ketuntasan maka dapat disimpulkan tingkat ketuntasannya tinggi, sehingga dapat dikatakan efektif. Berdasarkan tiga kriteria penilaian kualitas produk menurut Nieveen:(1999), yakni kevalidan, kepraktisan dan keefektifan, maka dapat disimpulkan bahwa elektronik modul yang dikembangkan berhasil dengan memperoleh penilaian baik.

(8)

vii

Abstract

Andreas Ricky Proklamanto. 2013. Designing And Developing Of Electronic Module In Derivatif Function Material Using Geogebra Program. Mathematics Education Studies Program, Department of Mathematics and Natural Science, Faculty of Teacher of Training and Education, Sanata Dharma University.

This research aimed to create an electronic mathematics module using constructivism approach as a students’ learning device in class XI IPA 5 SMA Kolese de Britto academic year 2012/2013 in subject geometric interpretation derivative function. This electronic module used GeoGebra software and offline website.

The development research step used ADDIE model, Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Analysis was a preliminary analysis which was done before doing development, started from the initial analysis, curriculum analysis, and situation analysis, followed by design which prepared and gathered materials, making design. Then, development was developing products which had been created and validating the product using research instruments from media specialists and experts. After validation, the step was continued with packaging and implementation. The implementation was done in 30 students as the field trial and filling up technical quality of the questionnaire. There was also observation sheets, which were filled in by two mathematics teachers and a lecturer as an observer, as teacher’s practical rating during learning process. The last step was evaluation of all steps and comments during the implementation which were evaluated and revised in order to get the final product. Electronic quality assessment module, which was based on aspects of mathematical validity, showed ideal score was 60.33 for the educational aspect and 38.50 for the ideal score of display aspect, with ideal percentage 80.84% for the education aspect, it showed an excellent score, while the display aspect with an ideal percentage of 77.00% showed a good score. Technical quality in which mathematics teacher as a user got an ideal score 40 with an ideal percentage 88.89%, it showed anexcellent score. Technical quality in which the students as the users got an ideal score ideal score of 13.34 with an ideal percentage 77.11% indicated a good score. In effectiveness aspect which was showed during student learning outcomes was 73.34%,it was based on the standard score guidelines, it can be concluded that the level of thoroughness was high in other words it was

effective. According to the three criteria of product quality assessment by Nieveen : (1999), namely validity, practicality and effectiveness, it can be concluded that the electronics module which had been developed could successfully got a good score.

(9)
(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan pada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Tujuan skripsi ini dibuat yaitu untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Seiring dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat bantuan, dukungan, bimbingan, nasehat, motivasi, dan masukan-masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Rohandi, Phd. selaku Dekan FKIP yang telah menyediakan sarana dan prasarana pada penulis selama menempuh studi.

2. Drs. A. Atmadi. M.Si. selaku Ketua Jurusan PMIPA yang telah memberikan dukungannya dalam perijinan ini sehingga penelitian dapat berjalan lancar. 3. Bapak Dr. M. Andy Rudhito, S.Pd. selaku Kaprodi Pendidikan Matematika

sekaligus dosen pembimbing yang telah sabar membimbing, meluangkan waktu, tenaga, pikiran, serta memberi nasehat dan masukan yang bermanfaat kepada penulis dalam penyusunan skripsi dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.

4. Bapak Dominikus Arif Budi Prasetyo, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah mendukung dan membimbing selama penulis menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.

5. Bapak Dr. M. Andy Rudhito, S.Pd., Bapak Dominikus Arif B . P, S.Si., M.Si, dan Ibu Elisabet Ayunika Permata Sari, S.Pd., M.Sc selaku penguji yang telah memberikan masukan yang bermanfaat demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini.

(11)

x

7. Bapak HJ Sriyanto S.Pd. selaku guru kelas XI IPA 5 SMA Kolese de Britto yang telah membimbing dan memberikan masukan kepada penulis demi kelancaran penelitian.

8. Segenap dosen dan karyawan Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sanata Dharma yang telah membimbing, mendidik, serta memberikan ilmunya yang berharga selama menempuh studi di Universtas Sanata Dharma.

9. Bapak, Ibu, dan adikku tercinta yang selalu mendukung siang dan malam terutama pada masa-masa kritis dalam penyusunan skripsi ini.

10.Pak Catur, Nono, Mbak Wiwik, Merry, Kribo, Blur, Awang, Yulius, Helen,dan Kokoh yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian.

11.Semua pihak yang yang telah mendukung dari penyusunan hingga terselesaikannya skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

.

Yogyakarta, 2 4 Juli 2013 Penulis,

(12)

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

(13)

xii

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Sistematika Penyajian ... 9

F. Ruang Lingkup ... 10

G. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II LANDASAN TEORI 12 A. Kajian Teori ... 12

1. Pembelajaran Matematika ... 12

2. Pendekatan Konstruktivisme ... 17

3. Pembelajaran Berbantukan Komputer ... 19

4. Modul ... 21

5. Modul Elektronik ... 26

6. Kualitas Perangkat Pembelajaran ... 27

7. Materi Ajar ... 29

8. GeoGebra ... 33

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 36

C. Kerangka Berpikir ... 38

BAB III METODE PENELITIAN 41 A. Jenis Penelitian ... 41

B. Subjek Penelitian ... 47

C. Objek Penelitian ... 47

D. Waktu Peneltian ... 47

E. Instrumen Penelitian ... 48

(14)

xiii

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59

A. Hasil Rancangan dan Penelitian Program ... 59

1. Analisis ... 59

2. Design ... 61

3. Development ... 68

4. Implementasi ... 79

5. Evaluasi ... 91

B. Kualitas Modul Matematika ... 100

1. Kevalidan ... 101

2. Kepraktisan ... 103

3. Keefektifan ... 104

C. Pembahasan ... 107

D. Keterbatasan Penelitian ... 114

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 115

A. Kesimpulan ... 115

B. Saran ... 116

DAFTAR PUSTAKA ... 118

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Lembar Penilaian Modul Kriteria Kevalidan ... 50

Tabel 3.2 Kisi-kisi Angket untuk Observer ... 51

Tabel 3.3 Kisi – kisi Angket untuk Siswa ... 52

Tabel 3.4.1 Aturan Pemberian Skala pada Angket Kevalidan dan Observasi ... 55

Tabel 3.4.2 Aturan Pemberian Skala pada angket siswa ... 55

Tabel 3.5 Kriteria Penilaian ... 56

Tabel 3.6 Kategori Presentasi Penilaian Ideal ... 57

Tabel 3.7 Kriteria Efektivitas Hasil Belajar Secara Kuantitatif ... 58

Tabel 4.1 Masukkan dan Saran dan Tindak Lanjut Aspek Pendidikan ( Ahli Materi ) ... 72

Tabel 4.2 Masukkan dan Saran dan Tindak Lanjut Aspek Tampilan ( Ahli Media ) ... 75

Tabel 4.3 Masukkan dan Saran dan Tindak Lanjut Aspek Kepraktisan ( Pengguna Siswa ) ... 95

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Pendidikan ... 100

Tabel 4.5 Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek Pendidikan ... 100

Tabel 4.6 Kategori Presentase Penilaian Ideal ... 101

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Tampilan ... 101

(16)

xv

Tabel 4.9 Kategori Presentase Penilaian Ideal ... 102

Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Kepraktisan (Pengguna Siswa) ... 106

Tabel 4.11 Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek Kepraktisan ... 106

Tabel 4. 12 Kategori Presentase Penilaian Ideal ... 104

Tabel 4.13 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Keefektifan (Pengamatan Observer) ... 104

Tabel 4.14 Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek Keefetifan (Pengamatan Observer) ... 105

Tabel 4.15 Kategori Presentase Penilaian Ideal ... 105

Table 4.16 Perhitungan Kualitas Modul dengan Pengguna Guru ... 107

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1Bagan Hubungan Komponen Pembelajaran ... 35

Gambar 3.1 Model Pengembangan ADDIE ... 42

Gambar 3.2 Desain Penelitian Modul ... 49

Gambar 4.1 Kerangka Modul Matematika ... 62

Gambar 4.2 GeoGebra Gradien Garis Singgung ... 64

Gambar 4.3 GeoGebra Komonotonan Fungsi... 64

Gambar 4.4 GeoGebra Kecekungan Fungsi ... 65

Gambar 4.5 GeoGebra Titik-titik Stasioner ... 66

Gambar 4.6 GeoGebra Sketsa Grafik ... 67

Gambar 4.7 GeoGebra Aplikasi Turunan ... 67

Gambar 4.8 Tampilan Layout E-modul ... 70

Gambar 4.9 StoryBoard Modul Matematika ... 78

Gambar 4.10.1 LKS 1 ... 81

Gambar 4.10.2. LKS 1 ... 82

Gambar 4.11.1 LKS 2 ... 84

Gambar 4.11.2 LKS 2 ... 85

Gambar 4.12 LKS 3 ... 87

Gambar 4.13.1 LKS 4 ... 89

(18)

xvii

LAMPIRAN

Lampiran 1: Pra Penelitian

1.1Kisi-kisi wawancara ... 121

1.2Pedoman Wawancara ... 122

1.3Hasil Wawancara ... 123

1.4Lembar Kerja Siswa ... 126

1.5Kisi-kisi Angket Penilaian (untuk ahli materi, ahli media, dan kualitas teknis) ... 134

1.6Instrumen Penelitian ... 135

1.7Kisi-kisi soal tes pengukuran (ulangan harian) ... 152

1.8Soal soal tes pengukuran (ulangan harian) 153 1.9Kunci jawaban dan pedoman penskoran pre-tes dan post-tes ... 155

1.10. Kunci jawaban dan pedoman penskoran pre-tes dan post-tes ... 155

1.11Hasil validasi (materi dan media) ... 182

1.12 Surat ijin penelitian ... 197

Lampiran 2: Pasca Penelitian 2.1. Hasil Pengisian Instrumen Penelitian obesrvasi ... 198

2.2. Hasil Pengisian Instrumen Penelitian untuk angket Siswa ... 204

2.3. Rekapitulasi Hasil Ulangan Siswa ... 206

2.4. Daftar validator (ahli materi, media, observer dan siswa pada uji coba lapangan) ... 207

2.5. Dokumentasi Pelaksanaan Uji Coba ... 209

2.6. Surat Sudah Melakukan Penelitian dari sekolah... 210

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan memegang peran penting dalam menciptakan dan

membentuk generasi muda yang maju, tangguh, terampil, dan terpelajar.

Pendidikan adalah suatu proses transformasi anak didik agar mencapai

hal-hal tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya. Seiring

perkembangan sains dan teknologi di era globalisasi, pendidikan di

Indonesia perlu berinovasi termasuk dalam strategi pelaksanaan

pembelajaran yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai

untuk melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah.

Pendidikan Indonesia telah mengalami perbaikan secara kontinu,

mulai dari kurikulum yang terus diperbaiki tiap periode hingga metode

pembelajaran yang di-update dengan pengadaan seminar bagi guru-guru

sekolah. Selain itu pengadaan fasilitas, sarana, dan prasarana sekolah juga

semakin diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini tidak akan memberikan efek

yang signifikan jika tidak didukung oleh unit program pengajaran yang

sesuai dengan perkembangan pendidikan dan psikologi perkembangan

siswa, khususnya pada pelajaran matematika.

Revolusi menuju pendidikan matematika yang lebih bermakna saat ini

menjadi arah baru pendidikan matematika di Indonesia. Semakin disadari

(20)

pendidikan lanjut tidak lepas dari pemahaman bahwa matematika memiliki

potensi besar mendukung pengembangan pribadi anak. Arti penting di atas

telah diterima secara nyata hampir semua pihak, bahkan matematika

menempati posisi vital dalam sistem pendidikan. Secara kuantitas, alokasi

waktu pelajaran matematika setiap jenjang pendidikan selalu besar. Ruang

yang tersedia ini diharapkan dapat lebih dimanfaatkan untuk menggali

dan memberdayakan potensi pelajaran matematika.(Sumaryanta, 2010 :74)

Pembelajaran matematika selama ini kurang memberikan perhatian

terhadap pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti

kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah secara sistematis dan

bernalar. Padahal kemampuan ini sangat penting, karena dalam kehidupan

sehari-hari setiap orang selalu dihadapkan pada berbagai masalah yang

harus dipecahkan dan menuntut pemikiran kreatif untuk menemukan solusi

dari permasalahan yang dihadapi. Saat ini berbagai macam inovasi baru

di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah

satunya pembelajaran konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih

membuat siswa antusias terhadap persoalan dalam berpikir secara

nalar, kreatif, dan sistematis sehingga mereka mau mencoba

memecahkan masalah dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Menurut Sutrisno (1998), permasalahan yang timbul dalam proses

belajar mengajar matematika antara lain: pertama, pembelajaran konsep dan

prosedur dalam matematika yang dipraktekkan di sekolah pada umumnya

(21)

menemukan strategi pemecahan masalah sehingga siswa hanya menghafal

rumus atau konsep tanpa memahami maknanya tidak mampu menerapkan

dalam masalah problem solving.

Kedua selama ini guru dipandang sebagai pusat pembelajaran artinya

guru dipandang sebgai satu-satunya sumber pembelajaran. Hal ini membuat

situasi belajar sangat membosankan. Siswa hanya diperlakukan sebagai

obyek sehingga kreatifitas siswa menjadi tidak maksimal.

Ketiga adanya tuntutan masa depan dimana dimana diperlukan

pendekatan dalam pembelajaran yang menghasilkan output pendidikan yang

berkualitas sehingga mampu berkompetisi positif dalam menghadapi

tuntutan masa depan.(Siti Juraidah,2012 )

Pada sisi lain tersedianya unit program pengajaran yang berkualitas

masih sangat kurang. Buku pegangan yang notabene sebagai unit program

pengajaran paling familiar masih dinilai kurang memotivasi siswa karena

sebagian para pengarang buku pegangan kurang memikirkan bagaimana

buku tersebut agar mudah dipahami oleh siswa. Kaidah-kaidah psikologi

pembelajaran dan teori-teori desain suatu buku teks kurang diaplikasikan

dalam penyusunan buku teks secara optimal. Akibatnya, siswa sulit

memahami buku yang dibacanya dan sering buku- buku teks tersebut

membosankan. Gejala tidak efisien, tidak efektif dan kurang relevan tampak

dari beberapa indikator seperti, kurangnya motivasi belajar siswa,

penyelesaian tugas siswa tidak sesuai waktu yang ditentukan, dan hasil tes

(22)

demikian maka sulit diharapkan pencapaian tujuan pembelajaran secara

optimal.(Made Wina, 2009:229)

Melihat kondisi tersebut, pengembangan unit program pengajaran

matematika dengan pendekatan konstrutivisme merupakan suatu solusi

untuk membantu siswa dan guru dalam pembelajaran matematika yang

bertujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi

tertentu. Tanpa adanya unit program pengajaran siswa akan mengalami

kesulitan dalam belajarnya, apalagi jika guru menjelaskan materi

pembelajaran kurang jelas dan tidak sesuai dengan kecepatan pemahaman

siswa.

Pengalaman belajar siswa dapat diperoleh tidak hanya dari kelas,

siswa dapat belajar dari lingkungan sekitar kapanpun dan dimanapun ia

berada, tetapi belajar dengan fokus materi tertentu biasa didapatkan siswa

dari buku pelajaran dengan fasilitas seorang guru. Untuk membawa dua

hal tersebut kapanpun dan dimanapun tidaklah mungkin, karena itu perlu

dibuat unit program pengajaran yang dapat menggabungkan materi dan

pengajaran komunikatif untuk memberikan pengalaman belajar pada

masing-masing siswa.

Unit program pengajaran diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

belajar siswa dan dapat menyesuaikan dengan kecepatan pemahaman

masing-masing siswa. Unit program pengajaran tersebut paling tidak

memuat materi matematika tertentu, memuat kegiatan pembelajaran, lembar

(23)

pengajaran tersebut dalam pembelajaran.

Modul merupakan suatu unit program pengajaran yang disusun

dalam bentuk tertentu untuk keperluan belajar. Menurut makna istilah

asalnya modul adalah alat ukur yang lengkap, merupakan unit yang dapat

berfungsi secara mandiri, terpisah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai

kesatuan dari seluruh unit lainnya. Pada kenyataannya modul merupakan

jenis kesatuan kegiatan belajar yang terencana, dirancang untuk membantu

para siswa secara individual dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya.(Nana

Sudjana dan ahmad Rivai, 1989:132)

Penyajian modul secara menarik dengan konsep konstruktivisme, dan

bersumber oleh buku-buku konstekstual membuat modul bisa membawa

siswa pada kondisi yang sebenarnya dan membuat matematika menjadi

menarik. Dengan menggunakan media elektronik, permasalahan yang rumit

dan abstrak dapat tervisualisasi secara konkrit sehingga modul lebih

menarik. Hal ini didukung berdasarkan pengamatan peneliti semasa PPL

adanya kecenderungan siswa lebih tertarik pada hal yang baru serta

didukung oleh visualisasi.

Matematika yang mempunyai banyak cabang yaitu aljabar, aritmatika,

geometri, teori bilangan, trigonometri, kalkulus, statistika, dan lain-lain.

Terlebih materi kalkulus sangatlah abstrak untuk dipahami. Padahal

kalkulus adalah salah satu cabang dari matematika yang terpenting dan

banyak diterapkan secara luas pada cabang-cabang ilmu pengetahuan yang

(24)

perekonomian, dan sebagainya. Secara garis besar, kalkulus dapat kita

kelompokkan menjadi dua cabang besar, yakni kalkulus diferensial dan

kalkulus integral.

Di jenjang pendidikan SMA materi kalkulus dibagi menjadi 3

bagian yaitu limit fungsi, turunan fungsi ,dan integral fungsi. Ketiga materi

ini sangatlah penting bagi siswa SMA karena merupakan materi-materi

matematika tersebut akan terus diterapkan pada jenjang perguruan tinggi

bahkan dunia kerja. Sehingga materi tersebut sangat dibutuhkan pemahaman

lebih. Namun siswa hanya mengetahui rumus operasi limit, kalkulus

diferensial dan kalkulus integral secara langsung. Mereka tidak mengetahui

dari mana asal rumus operasi limit, kalkulus diferensial dan kalkulus

integral. Kedua menurut pengalaman peneliti, peneliti mengalami kesulitan

dalam memahami konsep dasar pada materi ajar limit yang akan berdampak

pada materi selanjutnya yaitu kalkulus diferensial dan kalkulus integral.

Salah satu media elektronik yang dapat digunakan dalam proses

pembelajaran adalah GeoGebra. Dengan menggunakan software GeoGebra

ini siswa diharapakan mampu untuk memahami materi secara geometri

khususnya materi kalkulus difrensial dengan baik. Hal ini karena dalam

software GeoGebra, bangun dimensi dua maupun tiga dikemas dalam

bantuk yang lebih menarik dan bangun dapat terlihat lebih nyata. Sehingga

proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan efektif dan

mempercepat proses pembelajaran sehingga semua materi pelajaran dapat

(25)

melalui suatu media yang interaktif yang berbasis multimedia khususnya

e-modul.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, peneliti termotivasi

untuk mengembangkan unit program pengajaran yang dapat meminimalkan

suasana kurang kondusif dalam pembelajaran. Unit program pengajaran

yang dapat melibatkan semua siswa secara aktif mengikuti kegiatan

pembelajaran matematika. Unit program pengajaran tersebut memberikan

penjelasan bertahap secara konstruktif yang akan dilakukan selama

pembelajaran. Pengembangan modul matematika merupakan salah satu

langkah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang

sangat penting untuk membangun fondasi bagi keilmuan matematika dan

keilmuan lain yang dipelajari siswa pada tahap lebih lanjut.

Bertolak dari latar belakang tersebut diatas dapat dirumuskan dalam

bentuk penelitian skripsi dengan judul“Rancangan dan Pengembangan

Modul Elektronik Materi Turunan Fungsi dengan Program Geogebra”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diidentifikasi beberapa masalah,

antara lain:

1. Kurangnya perhatian terhadap pengembangan kemampuan berpikir

kreatif, nalar ,dan sistematis dalam pembelajaran matematika.

2. Kurangnya pengembangan unit program pengajaran dalam mengatasi

variasi pembelajaran matematika.

(26)

pegangan siswa dalam penerapannya di berbagai bidang.

4. Kurangnya pengembangam modul sebagai unit program pengajaran

matematika dalam upaya melatih siswa dalam berpikir secara

konstruktif.

C. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah, antara lain:

1. Bagaimana rancangan dan pengembangan Elektronik Modul Materi

Turunan dengan penggunaan program GeoGebra ?

2. Bagaimanakah keefektifan penggunaan elektronik modul GeoGebra

untuk memfasilitasi pembelajaran matematika pokok bahasan Turunan

Fungsi di sekolah menengah ditinjau dari hasil ulangan siswa?

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Rancangan dan pengembangan Elektronik Modul Materi Turunan

dengan penggunaan program GeoGebra .

2. Analisa keefektifan penggunaan elektronik modul GeoGebra untuk

memfasilitasi pembelajaran matematika pokok bahasan Turunan Fungsi

di sekolah menengah ditinjau dari hasil ulangan siswa.

E. SISTEMATIKA PENYAJIAN

Untuk memudahkan dan memberikan gambaran yang lebih jelas secara

menyeluruh mengenai penelitian isi penelitian ini, maka dibuat website

(27)

Bab I Pendahuluan

Mencakup Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Rumusan

Masalah, Tujuan Penelitian, Sistematika Penyajian, Ruang Lingkup, dan

Manfaat Penelitian.

Bab II Landasan Teori

Berisikan beberapa teori- teori yang mencakup tentang pembelajaran

matematika, pendekatan konstruktivisme, pembelajaran berbantukan

computer, modul, e-modul, kualitas perangkat pembelajaran, materi ajar,

geogebra, tinjauan pustaka, dan kerangka berpikir .

Bab III Metode Penelitian

Berisikan metode- metode yang digunakan dalam penelitian yang

mencakup: jenis penelitian, subjek penelitian, objek penelitian, waktu

penelitian, instrument penelitian, teknik dan analisis data.

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berisikan tentang analisis data yang telah diolah untuk menjawab

pertanyaan dalam rumusan masalah dalam penelitian, serta berisikan

pembahasan dan keterbatasan dari penelitian ini.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Berisikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian secara menyeluruh yang

(28)

F. RUANG LINGKUP

Permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini adalah:

1. Materi matematika dalam media pembelajaran yang akan dikembangkan

hanya menyangkut mata bab turunan fungsi dengan subbab tafsiran

geometris turunan fungsi.

2. Mengingat keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki peneliti, maka

penelitian difokuskan pada pengembangan modul pembelajaran

matematika dengan pendekatan kostruktivisme dalam pembelajaran

Tafsiran Geometris Turunan Fungsi SMA kelas XI. Pengujian kualitas

modul berdasarkan kriteria kevalidan, kepraktisan, dan kefektifan.

3. Modul Elektronik yang dibuat, hanya untuk pengujian kualitas modul

saja bukan untuk pengujian teori.

G. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi peneliti

Sebagai calon guru peneliti dapat mengetahui bahwa pembelajaran

menggunakan media yang interaktif dapat membuat pembelajaran lebih

menyenangkan dan dapat meningkatkan prestasi siswa.

2. Bagi guru

a. Memberi variasi cara mengajar guru, agar pembelajaran dapat

berlangsung secara efektif, dan dapat mencapai tujuan pembelajaran

yang optimal.

b. Mampu memvisualisasikan hal-hal yang masih abstrak dalam

(29)

c. Sebagai pelengkap media pembelajaran dalam materi Turunan

Fungsi.

d. Menjadi perangkat bantu dan alternative dalam pembelajaran materi

Turunan Fungsi.

e. Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan pengembangan

media pembelajaran interaktif guna meminimalisasi kejenuhan dan

kebosanan dalam pembelajaran konvensional di kelas yang

mengakibatkan motivasi belajar siswa menjadi berkurang untuk

memahami materi yang diberikan guru.

3. Bagi siswa

(30)

12

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KAJIAN TEORI

1. Pembelajaran Matematika

Belajar merupakan aktivitas yang disengaja dan dilakukan oleh

individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang

tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan

sesuatu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil.

1 Menurut Hilgard dan Bower, belajar (to learn) memiliki arti : 1) to

gain knowledge, comprehenson, or mastery of trough experience or study;

2) to fix in the mind or memory; memorize; 3) to acquire trough

experience; 4) to become in forme of to find out. Menurut definisi tersebut,

belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai

pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai

pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan

demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan

penguasaan tentang sesuatu.2

Antony Robbins, mendefinisikan belajar sebagai proses menciptakan

hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu

(pengetahuan) yang baru. Dari definisi ini dimensi belajar memuat

1

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran, (Cet.1; Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), hlm. 124.

(31)

beberapa unsur, yaitu : (1) penciptaan hubungan, (2) sesuatu hal

(pengetahuan) yang sudah dipahami, dan (3) sesuatu (pengetahuan) yang

baru. Pandangan Antony Robbins senada dengan apa yang dikemukakan

oleh Jerome Brunner, bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana

siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada

pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya.3 Berdasarkan

pengertian belajar maka belajar merupakan proses aktif individu dalam

membangun pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan

yang sudah dimilikinya agar terjadi perubahan kemampuannya.

Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun

tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu

perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud adalah

perubahan perilaku berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan

kebiasaan yang baru diperoleh individu. Terkait dengan proses belajar

sangat lekat dengan istilah mengajar.

Unsur terpenting dalam mengajar ialah merangsang serta mengarahkan

siswa belajar. Mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar

menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, sikap,

serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan

pertumbuhan siswa (Subiyanto, 1988:30). Cara mengajar yang baik

merupakan kunci dan prasyarat bagi siswa untuk dapat belajar dengan

baik. Salah satu tolak ukur bahwa siswa telah belajar dengan baik adalah

(32)

jika siswa itu dapat mempelajari apa yang yang harus dipelajari, sehingga

indikator hasil belajar yang diinginkan siswa dapat tercapai.4 Terkait

dengan cara mengajar hal ini sangatlah erat dengan istilah pembelajaran.

Menurut Suparni pembelajaran sebagai suatu proses kerjasama, tidak

hanya menitik beratkan pada kegiatan guru atau kegiatan siswa saja, akan

tetapi guru dan siswa secara bersama-sama berusaha mencapai tujuan

pembelajaran yang telah ditentukan.5 Pembelajaran dapat diartikan

sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan

segala potensi dan sumber yang ada baik potensi, bakat, minat, dan

kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi

yang ada di luar diri siswa, termasuk lingkungan, sarana, dan sumber

belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan tertentu.6

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur

manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling

mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat

dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya

tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur,

fotografi, slide dan film, audio, dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan,

terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur,

4 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Cet.2; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hlm.17.

5 Suparni, Perencanaan Pembelajaran Matematika (Handout),(Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009), hlm. 4.

(33)

meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan

sebagainya.7

Matematika berasal dari bahasa Latin manthanein atau mathema yang

berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda

disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan

penalaran. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu

kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperbolehkan sebagai akibat

logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan konsep atau pernyataan

dalam matematika bersifat konsisten.8

Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan

menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika

dalam pemecahan masalah pada kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan

tujuan pembelajaran matematika:9

1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,

misalkan melalui kegiatan penyelidikan eksplorasi, eksperimen,

menunjukkan persamaan dan perbedaan.

2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi,

dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil,

rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

3. Mengembangkan pemecahan masalah.

7 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Cet 6; Jakarta : Bumi Aksara, 2007),hlm. 57.

8 Depdiknas, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (Jakarta:Depdiknas, 2003), hlm. 1.

(34)

4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau

mengkomunikasikan gagasan seperti melalui pembicaraan lisan,

catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

Berdasarkan uraian di atas maka pembelajaran Matematika adalah

proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala

potensi dan sumber yang ada baik potensi, bakat, minat, dan kemampuan

dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada di

luar diri siswa, termasuk lingkungan, sarana, dan sumber belajar

sebagai upaya untuk mencapai tujuan melatih cara berfikir dan

bernalar dalam menarik kesimpulan, misalkan melalui kegiatan

penyelidikan eksplorasi, eksperimen, menunjukkan persamaan dan

perbedaan. Mengembangan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi,

intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,

orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta

mencoba-coba, sehingga dapat menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan

gagasan seperti melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram,

dalam menjelaskan gagasan dalam kemampuannya dalam menghitung,

mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika. Dengan

menitik beratkan pada proses belatih penalaran dalam hal pembelajaran

matematika maka hal ini terkait dengan metode pendekatan

(35)

2. Pendekatan Konstruktivisme

Bagi konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif,

yang memungkinkan pelajar membangun sendiri pengetahuannya. Pelajar

mencari arti sendiri hal-hal yang mereka pelajari. Ini adalah suatu proses

menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir

yang telah ada dalam pikiran mereka (Bettemcourt, 1989;

Shymansky,1992; Watts dan Pope, 1989). Menurut konstruktivisme,

pelajar sendirilah yang bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.

Mereka membawa pengertiannya yang semula dalam situasi belajar yang

baru. Mereka sendiri yang membuat penalaran terhadap hal-hal yang

dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan dengan

yang telah diketahui dengan pengalaman baru, dan menyelesaikan

ketegangan antara yang telah ia ketahui dengan yang ia perlukan

dalam pengalaman yang baru.

Menurut kaum konstruktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk

menemukan sesuatu, lebih daripada suatu proses mekanik untuk

mengumpulkan sesuatu. Belajar bukanlah suatu kegiatan mengumpulkan

fakta-fakta, tetapi suatu perkembangan pemikiran yang berkembang

dengan membuat kerangka pengertian yang berbeda. Pelajar harus punya

pengalaman dengan membuat hipotesa, prediksi mengetes hipotesa,

memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mencari jawaban,

menggambarkan, meneliti, berdialog, mengadakan refleksi,

(36)

membentuk konstruksi yang baru. Belajar yang berarti terjadi melalui

suatu refleksi, pemecahan konflik pengertian, dan dalam proses selalu

memperbaharui tingkat pemikiran yang tidak lengkap (Fosnot, 1989).

Setiap pelajar mempunyai cara untuk mengerti sendiri. Maka,

penting bahwa setiap pelajar mengerti kekhasannya dan juga keunggulan

dan kelemahannya dalam mengerti sesuatu. Mereka perlu menemukan cara

belajar yang tepat bagi mereka sendiri. Setiap pelajar mempunyai cara

yang cocok untuk mengkonstruksikan pengetahuannya yang kadang

sangat berbeda dengan teman-teman yang lain.10

Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru

tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa .

Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang

guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat

informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan

memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau

menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari

dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru

dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya

dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang

lebih tinggi , tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang

memenemukan kebenarannya.

(37)

Sehingga pembelajan matematika dengan pendekatan konstrutivisme

ialah proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala

potensi dan sumber yang ada sebagai upaya untuk mencapai tujuan

melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, dengan

cara membantu dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk

menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide serta mengajak siswa agar

menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk

belajar. Sehingga nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka

mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi.

3. Pembelajaran Berbantukan Komputer

Pembelajaran Komputer-Assisted Instruction atau Pembelajaran

Berbantuan Komputer atau (PBK) sebagai proses mengajar yang

dilakukan secara langsung yang melibatkan komputer untuk

mempresentasikan bahan ajar dalam suatu model pembelajaran yang

interaktif untuk memberikan dan mengendalikan lingkungan belajar

secara individual pada masing-masing peserta didik (Splittgerber dan

Stirzaker,1984). Definisi ini selaras dengan Steinberg yang menyatakan

bahwa PBK merupakan semua penerapan komputer untuk pembelajaran

yang memiliki aspek individual, interaktif, dan arahan (Steinberg,1991).

Makna PBK sebagai pembelajaran individual, karena komputer

memberikan layanan sebagai seorang tutor bagi seorang peserta didik

daripada sebagai seorang instruktor untuk suatu kelompok peserta

(38)

arah secara intensif antara siswa dengan sistem komputer. Ini dimaknai

sebagai PBK interaktif. Selain ini, dengan PBK memungkinkan

peserta didik dapat mengajukan pertanyaan, memberi respon dan sistem

komputer menyajikan umpan balik secepat mungkin setelah peserta

didik memberi respon. Umpan balik yang diberikan komputer

diharapkan agar mahasiswa selalu dapat mendorong dan meningkatkan

kemampuan. Prosedur stimuli yang disajikan melalui layar monitor,

respon mahasiswa melalui papan ketik dan umpan balik yang berbentuk

teks, suara atau gambar diarahkan berdasarkan struktur program yang

dirancang oleh pengembang PBKI. Ditinjau dari peran apa yang

diperankan program komputer, Merrill (1996) secara spesifik

menyatakan bahwa PBKI merupakan penggunaan komputer untuk

membantu dalam aktivitas pembelajaran. Pada umumnya digunakan

dengan mengacu penerapan tutor, seperti misalnya memberi drill and

practice, tutorials, simulation, and games. Definisi ini selaras dengan

Tailor dalam Merrill (1996), yang menyatakan bahwa semua aplikasi

komputer dalam pendidikan dapat diklasifikasi sebagai tutor, tool atau

tutee.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran

berbantukan Komputer secara sederhana yaitu penggunaan Komputer

sebagai alat bantu dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Penggunaan

Komputer secara langsung denga peserta didik untuk menyampaikan isi

(39)

peserta didik. Materi pembelajaran dibuat dalam bentuk powerpoint atau

CD pembelajaran interaktif.

4. Modul

Modul merupakan unit pengajaran yang terkecil dan lengkap, yang

memuat rangkaian kegiatan belajar yang direncanakan secara sistematis,

memuat tujuan belajar yang dirumuskan secara eksplisit dan spesifik,

merupakan realisasi pengakuan individual yang memungkinkan

untuk siswa belajar secara mandiri. Rumusan tujuan pengajaran yang

spesifik dalam modul dapat diubah menjadi item-item tes untuk

mengevaluasi hasil belajar siswa. Dengan mengubah tujuan pengajaran

menjadi item-item tes itu dapat ditentukan dengan pasti apakah yang

seharusnya dikuasai oleh siswa apabila mereka telah menyelesaiakan

modul yang bersangkutan. 11

Di Indonesia, istilah modul untuk pertama kali dikumandangkan

dalam suatu forum rapat antara 8 Proyek Perintis Sekolah

Pembangunan di Cibulan, Bogor pada bulan Februari 1974.12 Modul

yang dikembangkan pada saat itu berbentuk buku kecil.

Penggunaan modul untuk keperluan belajar pada dasarnya untuk

membantu siswa secara mandiri untuk mencapai tujuan belajarnya. Hal

ini sesuai dengan pendapat Nana Sudjana dan Ahmad Rivai dalam Departeman Pendidikan Nasional “modul merupakan jenis kesatuan

11 St.Vembriarto, PengantarPengajaran Modul, (Yogyakarta:Yayasan Pendidikan Paramita, 1985), hlm. 12.

(40)

kegiatan belajar yang terencana, dirancang untuk membantu siswa secara mandiri dalam mencapai tujuan belajarnya”. Modul mempunyai

beberapa karakteristik tertentu, misalnya :13

a. Berbentuk unit pengajaran terkecil dan lengkap

b. Berisi rangkaian kegiatan belajar yang dirancang secara sistematis

c. Berisi tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan khusus

d. Memungkinkan siswa belajar mandiri

Modul bisa dipandang sebagai paket program pengajaran yang

terdiri dari komponen-komponen yang berisi tujuan belajar, bahan

pelajaran, metode belajar, alat atau media, serta sumber belajar dan

sistem evaluasinya.

Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai modul didefinisikan

sebagai satu unit program belajar mengajar terkecil yang secara rinci

menggariskan :14

a. Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang inigin dicapai

b. Pokok-pokok materi yang dipelajari

c. Kedudukan dan fungsi modul dalam kesatuan program yang

lebih luas

d. Peran guru dalam proses belajar mengajar

e. Alat-alat dan sumber yang akan digunakan

13Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan menengah Umum, Pedoman Khusus Penyusunan Modul Sekolah Menengah Atas, 2004, hlm. 28-29.

(41)

f. Kegiatan-kegiatan belajar yang harus dilakukan dan harus

dihayati siswa secara berurutan

g. Lembaran kerja yang harus diisi siswa

h. Program evaluasi yang akan dilaksanakan

Sebuah modul bisa dikatakan baik dan menarik apabila terdapat

karakteristik sebagai berikut. 15

a. Self Instructional, yaitu melalui modul tersebut seseorang atau

peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak

tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self

instructional, maka dalam modul harus; 1) berisi tujuan yang

dirumuskan dengan jelas; 2) berisi materi pembelajaran yang

dikemas ke dalam unit-unit kecil atau spesifik sehingga

memudahkan belajar secara tuntas; 3) menyediakan contoh dan

ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi

pembelajaran; 4) menampilkan soal-soal latihan, tugas dan

sejenisnya yang memungkinkan pengguna memberikan respon

dan mengukur tingkat penguasaannya; 5) kontekstual yaitu

materi-materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks

tugas dan lingkungan penggunanya; 6) menggunakan bahasa

yang sederhana dan komunikatif; 7) terdapat rangkuman materi

pembelajaran; 8) terdapat instrumen penilaian, yang

(42)

memungkinkan penggunaan melakukan ‘self assessment’; 9)

terdapat instrumen yang dapat digunakan penggunanya

mengukur atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi; 10)

terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya

mengetahui tingkat penguasaan materi; dan 11) tersedia

informasi tentang rujukan referensi yang mendukung materi

pembelajaran dimaksud.

b. Self Contained, yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit

kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di

dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah

memberikan kesempatan pembelajar mempelajari materi

pembelajaran yang tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu

kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau

pemisahan materi dari satu unit kompetensi harus dilakukan

dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan kompetensi yang

harus dikuasai.

c. Stand Alone (berdiri sendiri), yaitu modul yang dikembangkan

tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan

bersama-sama dengan media pembelajaran lain. Dengan

menggunakan modul, pebelajar tidak tergantung dan harus

menggunakan media yang lain untuk mempelajari dan atau

mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika masih

(43)

yang digunakan, maka media tersebut tidak dikategorikan

sebagai media yang berdiri sendiri.

d. Adaptive, modul hendaknya memiliki daya adaptif yang

tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan

adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel digunakan. Dengan

memperhatikan percepatan perkembangan ilmu dan teknologi pengembangan modul multimedia hendaknya tetap “up to date”.

Modul yang adaptif adalah jika isi materi pembelajaran dapat

digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.

e. User Friendly, modul hendaknya bersahabat dengan

pemakainya.

Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat

membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan

pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan.

Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta

menggunakan istilah yang umum digunakan.

Sebuah modul dapat bermakna kalau peserta didik dapat dengan

mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan

seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan

lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih kompetensi dasar

dibandingkan dengan peserta didik lainnya.16

(44)

Modul matematika yang disusun dapat mendekatkan materi yang

diajarkan dengan kehidupan sehari-hari siswa yang sebenarnya, seperti

memberikan contoh peristiwa sehari-hari yang ada kaitannya dengan

materi pembelajaran, misalnya simulasi melukis sketsa grafik fungsi

aljabar. Dengan demikian modul yang dikembangkan dapat digunakan

oleh guru sebagai bahan ajar ataupun siswa sebagai sumber belajar.

Agar pembelajaran matematika berbantukan komputer dapat

mencapai tujuan yang diiinginkan, maka diperlukan perangkat

pembelajaran yang berkaitan dengan perangkat komputer pula. Maka

perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa e-modul.

5. Modul Elektronik

Menurut Nurma (2010) dalam (http://nurma.staff.uns.ac.id)

mengatakan: Modul Elektronik (E-Modul) merupakan alat atau sarana

pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara

mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk

mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat

kompleksitasnya secara elektronik (bagian dari e-learning).

E-modul dalam penelitian ini digunakan sebagai bahan ajar pada

mata pelajaran Matematika bab Turunan Fungsi dengan pokok bahasan

Tafsiran Geometris Turunan sebagai Gradien garis Singgung dengan

program aplikasi Geogebra jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)

kelas XI (sebelas) semester II (dua). Penggunaan e-modul sebagai

(45)

digunakan juga sebagai bahan ajar. Pengembangan e-modul sebagai

bahan ajar elektronik itu sendiri tidak jauh berbeda dengan modul,

hanya saja e-modul dirancang menggunakan sebuah software dan

dioperasikan menggunakan sebuah personal komputer. Sehingga pada

e-modul ini secara karakteristik memeliki karakteristik yang sama

dengan modul yaitu self instruksional, self contained, stand alone,

adaptive, dan user friendly.

6. Kualitas Perangkat Pembelajaran

Untuk memperoleh hasil pengembangan yang berkualitas

diperlukan penilaian. Untuk menentukan kualitas hasil pengembangan

model dan perangkat pembelajaran diperlukan tiga kriteria:

kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Ketiga kriteria ini mengacu

pada kriteria kualitas hasil penelitian pengembangan yang dikemukakan

oleh Van den Akker dalam Rochmad (2011) dan kriteria kualitas produk

yang dikemukakan oleh Nieveen dalam Rochmad (2011). Van den

Akker dalam Rochmad (2011) dan Nieveen dalam Rochmad (2011)

menyatakan, bahwa dalam penelitian pengembangan model

pembelajaran perlu kriteria kualitas yaitu kevalidan (validity),

kepraktisan (practically), dan keefektifan (effectiveness).

Dalam penelitian ini, kualitas perangkat e-modul dinilai dari:

a. Aspek Kevalidan

E-modul pembelajaran Turunan Fungsi dikatakan valid jika

(46)

bahwa media pembelajaran Turunan Fungsi dikatakan valid dengan

revisi atau tanpa revisi, didasarkan pada landasan teoritik yang

kuat. Pengembangan sumber belajar Turunan Fungsi berbasis

e-modul memenuhi kriteria atau aspek yang terkandung dalam

media pembelajaran Turunan Fungsi. Aspek yang harus dipenuhi

dalam media ini adalah (1) Kualitas materi ( isi dan tujuan,) (2)

Kualitas tampilan (instruksional dan teknik).

b. Aspek Kepraktisan

E-modul Turunan Fungsi dikatakan praktis jika memenuhi

kriteria yaitu:

1) Para responden menyatakan bahwa media pembelajaran

Turunan Fungsi dapat diterapkan di kelas dan bermanfaat.

2) Tingkat keterlaksanaan penggunaan media pembelajaran

Turunan Fungsi termasuk tinggi dengan meninjau aktivitas

siswa dan guru.

c. Aspek Keefektifan

Aspek keefektifan biasanya berkaitan erat dengan

perbandingan antara tingkat pencapaian tujuan dengan rencana

yang telah disusun sebelumnya, atau perbandingan antara hasil

nyata dengan hasil yang direncanakan (Mulyasa, 2003: 82). Uno

(2008: 138) menyatakan bahwa keefektifan pengajaran biasanya

diukur dengan tingkat pencapaian siswa pada tujuan pembelajaran

(47)

menyatakan bahwa keterlaksanaan model dikatakan efektif dilihat dari

komponen- komponen: (1) hasil belajar siswa, (2) aktivitas siswa dan

(3) respon siswa. Hal ini berdasarkan pada tingkatan pengalaman dan

hasil intervensi konsisten dengan tujuan yang dimaksud. Tingkatan

pengalaman ini dengan adanya respon positif dari siswa yang

ditunjukkan melalui angket yang diberikan sedangkan intervensi

konsisten dengan tujuan yang dimaksud ditunjukkan dengan tes hasil

belajar. Sehingga pada e-modul pembelajaran Turunan Fungsi ini

dikatakan efektif jika memberikan hasil yang sesuai harapan dengan

ditunjukkan oleh tes hasil belajar.

7. Materi Ajar

Dalam subbab sebelumnya telah diketahui bahwa turunan sebuah

fungsi merupakan bentuk secara umum dari laju perubahan jarak

terhadap waktu. Dinyatakan dalam 𝑓(𝑥) dalam bentuk

, lalu apakah arti turunan fungsi 𝑓(𝑥) pada 𝑥 = 𝑎 secara geometris?

Secara geometris turunan fungsi dapat ditafsirkan sebagai gradient

garis singgung kurva di titik 𝑃(𝑥1, 𝑦1) terletak pada kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥) maka persamaan garis singgung kurva yang melalui titik 𝑃(𝑥1, 𝑦1) adalah :

Dengan gradient 𝑚 = 𝑓’(𝑥1).

(48)

Tafsiran turunan turunan Fungsi secara geometris tidak

berhenti pada gradient garis singgung saja melainkan berlanjut pada

kemonotonan dan kecekungan kurva, nilai ekstrim, hingga menggambar

grafik fungsi aljabar. Berikut ini akan diuraikan secara singkat keempat

pokok bahasan tersebut.

a. Kemonotonan dan Kecekungan Kurva

Fungsi naik atau fungsi turun disebut sebagai Fungsi monoton

sedangkan fungsi naik atau turun didefinisikan sebagai berikut:

1) Fungsi dikatakan naik pada interval 𝐼 jika

𝑓(𝑥1) < 𝑓(𝑥2) bilamana 𝑥1< 𝑥2 pada interval 𝐼 dan secara

penerapan turunan dikatakan jika 𝑓(𝑥) naik jika 𝑓’(𝑥) > 0. 2) Fungsi dikatakan turun pada interval I jika

𝑓(𝑥1) > 𝑓(𝑥2) bilamana 𝑥1< 𝑥2 pada interval 𝐼 dan secara

penerapan turunan dikatakan jika 𝑓(𝑥) naik jika 𝑓’(𝑥) < 0. Maka kecekungan fungsi dapat dinyatakan sebagai berikut. Jika 𝑓(𝑥) terdifrensial pada selamg terbuka 𝐼

1) 𝑓’(𝑥) naik pada interval 𝐼, 𝑥 ∈ 𝐼, maka 𝑓(𝑥) cekung ke atas pada interval 𝐼, atau secara penerapan turunan dapat diuji dengan turunan kedua 𝑓(𝑥) yaitu 𝑓’’(𝑥) > 0 .

2) 𝑓’(𝑥) turun pada interval 𝐼, 𝑥 ∈ 𝐼, maka 𝑓(𝑥) cekung ke atas pada interval 𝐼, atau secara penerapan turunan dapat diuji

(49)

3) Hal yang terkait pada kecekungan adalah titik belok Titik 𝑃 pada kurva disebut titik belok jika kurva berubah dari cekung

ka atas menjadi cekung ke bawah atau dari cekung ke bawah

menjadi cekung ke atas pada 𝑃 sehingga secara penerapan turunan dapat diuji menggunakan turunan kedua

yaitu 𝑓’’(𝑥) = 0 .

b. Nilai Ekstrim

Misal diketahui kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥) dengan titik (𝑎, 𝑏) merupakan titik puncak (titik maksimum atau titik minimum). Garis singgung

kurva di titik (𝑎, 𝑏) akan sejajar sumbu x atau mempunyai gradient 0

(𝑚 = 𝑓’(𝑎) = 0). Titik(𝑎, 𝑏) disebut titik ekstrim, nilai 𝑥 = 𝑎

disebut titik stasioner, sedangkan nilai 𝑦 = 𝑏 disebut nilai ekstrim.

Definisi:

Nilai 𝑓(𝑎) disebut nilai maksimum pada interval 𝐼 jika 𝑓(𝑎) >

𝑓(𝑥) untuk setiap 𝑥 ∈ 𝐼, sedangkan nilai 𝑓(𝑎) disebut nilai

minimum pada interval 𝐼 jika 𝑓(𝑎) < 𝑓(𝑥) untuk setiap 𝑥 ∈ 𝐼. Untuk menentukan jenis nilai ekstrim (maksimum atau

minimum) fungsi 𝑓(𝑥) dapat dilakukan dengan uji turunan kedua sebagai berikut.

1) Tentukan turunan pertama dan kedua fungsi 𝑓(𝑥), yaitu 𝑓’(𝑥) dan 𝑓’’(𝑥)

2) Tentukan titk stasioner, yaitu pembuat nol dari turunan pertama

(50)

3) Nilai 𝑓(𝑎) adalah nilai maksimum jika pada uji turunan kedua

nilai 𝑓’’(𝑎) < 0 sedangkan nilai 𝑓(𝑎) adalah nilai minimum jika pada uji turunan kedua nilai 𝑓’’(𝑎) > 0.17

c. Menggambar grafik Fungsi Aljabar

Dengan mempelajari turunan fungsi, menentukan, fungsi naik

dan fungsi turun, kemonotonan dan keckungan kurva, nilai ekstrim

maka kita dapat menggambar grafik fungsi fungsi aljabar secara

mudah. Berikut adalah langkah-langkah menggambar grafik fungsi

aljabar.

1) Tentukan titik-titik potong kurva dengan subu koordinat (jika ada

dan mudah ditentukan)

a. Titik potong kurva dengan 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑌, syarat 𝑥 = 0

b. Titik potong kurva dengan 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑋, 𝑠𝑦𝑎𝑟𝑎𝑡 𝑦 = 0 2) Tentukan nilai-nilai ekstrim

3) Tentukan interval dimana fungsi naik dan interval dimana fungsi

turun

4) Tentukan interval dimana fungsi cekung ke atas dan interval

dimana fungsi cekung ke bawah.

5) Tentukan nilai fungsi 𝑓(𝑥) untuk 𝑥 positif besar dan 𝑥 negative besar.

6) Tentukan titik bantu sejauh dibutuhkan.18

17 Sriyanto, Catur Supatmono, Matematika Kontektual Untuk SMA/MA Kelas XI Program Studi IPA (Intan Pariwara: Klaten:2011)hlm 306.

(51)

d. Aplikasi Turunan Fungsi

Aplikasi turunan fungsi yang sederhana ada pada model

matematika yang berkaitan dengan nilai ekstrim, fungsi dapat ditentukan

dengan berbagai persoalan kontekstual. Langkah-langkah umum

penyelesaiannya sebagai berikut.

1) Tentukan variabel yang terlibat dalam soal. Jika soal berbentuk soal

cerita, terlebih dahulu lakukan pemisalan.

2) Tentukan mana yang akan dicari nilai ekstrim maximum dan

minimumnya. Umumnya hal ini dilakukan membuat persamaan agar

fungsi yang dicari minimum atau maximumnya menjadi satu

variabel. Jika diperlukan pada proses ini menggunakan cara subtitusi

atau elimanasi.

3) Tentukan nilai stationer untuk menentukan nilai minimum atau nilai

maximum fungsi.

4) Jika soal berbentuk cerita, tafsiran jawaban yang diperoleh sehingga

sungguh-sungguh menjawab persoalan yang terkandung dari soal

cerita tersebut.

8. GeoGebra

GeoGebra adalah salah satu program komputer yang dapat

dimanfaatkan sebagai media pembelajaran matematika adalah

program GeoGebra. GeoGebra dikembangkan oleh Markus

(52)

GeoGebra adalah prgram komputer untuk membelajarkan matematika

khususnya geometri dan aljabar. Program ini dapat dimanfaatkan

secara bebas yang dapat diunduh dari www.geogebra.com. Website

ini rata-rata dikunjungi sekira 300.000 orang tiap bulan. Hingga saat

ini, program ini telah digunakan oleh ribuan siswa maupun guru dari

sekira 192 negara.

Program GeoGebra melengkapi berbagai program komputer untuk

pembelajaran aljabar yang sudah ada, seperti Derive, Maple, MuPad,

maupun program komputer untuk pembelajaran geometri, seperti Geometry’s Sketchpad atau CABRI. Menurut Hohenwarter (2008),

bila program-program komputer tersebut digunakan secara spesifik

untuk membelajarkan aljabar atau geometri secara terpisah, maka

GeoGebra dirancang untuk membelajarkan geometri sekaligus aljabar

secara simultan.

Berdasarkan penjelasan di atas modul elektronik dengan materi

tafsiran geometris turunan fungsi akan dikembangkan menggunakan

program GeoGebra versi 4.2 yang telah diperkenalkan oleh

Hohenwarter sejak November 2012.

a. Area Kerja

1) Tampilan Aljabar (Algebra View) - deskripsi objek pada tampilan

grafik yang ditampilkan.

2) Tampilan Grafik (Graphics View)- tempat untuk kontruksi,

(53)

3) CAS (Komputer Algebra System) merupakan fasilitas yang mulai

dimasukkan pada GeoGebra Versi 4.2 Beta. Fitur ini digunakan

untuk melakukan perhitungan aljabar.

4) Graphics 2D – mirip tampilan Graphics View, bedanya untuk

tampilan Graphics 2D ini apabila diaktifkan akan memunculkan

jendela baru. Setiap kali kita memasukkan persamaan atau perintah

pada Inbut Bar maka hasil grafiknya akan muncul pada jendela ini.

b. Menu, Toolbar Dan Tool

Gambar 1 Jendela Kerja GeoGebra

Seperti pada aplikasi lain, menu bar GeoGebra berada pada bagian

atas terdiri atas menu File, Edit Options, Tools, Window dan Help.

Di bawahnya terdapat Toolbar yang berisi menu untuk membangun,

menggambar, mengukur dan memanipulasi objek. Pada setiap

kategori yang ada di Toolbar terdapat beberapa Tool lain yang

tersembunyi, untuk menampilkannya kita dapat mengklik tanda

panah kecil di bagian kanan bawah setiap kotak Tool yang ada di

(54)

1) Menu Bar - digunakan untuk mengelola file, edit file dan pengaturan modifikasi.

2) Toolbar – alat-alat yang digunakan untuk menggambar, membangun, mengukur dan memanipulasi objek.

Tool yang sedang aktif ditandai dengan adanya kotak biru pada Tool

tersebut. Selama Tool itu sedang aktif kita bisa menggunakannya untuk

melakukan tugasnya dan tidak perlu mengklik lagi untuk membuat

objek yang sama. Setiap Tool yang ada dan sedang aktif akan

dijelaskan nama Tool disamping kanan dari Toolbar itu sendiri.

B. HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN

1. Penelitian yang dilakukan oleh Ratini (2006) yang berjudul

"Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Berbasis

Edutainment untuk Siswa SMP Kelas VIII pada Pokok Bahasan

Persamaan Garis Lurus". Beberapa hasil penelitian tersebut antara

lain bahwa penyusunan CD media pembelajaran matematika

mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) pembuatan

konsep, 2) desain, 3) pengumpulan materi, 4) assembly, 5) uji coba.

Selain itu pada penilitian tersebut juga disimpulkan bahwa media

pembelajaran yang dihasilkan mampu menumbuhkan motivasi

75% dari 36 siswa yang mengikuti uji coba media pertama.

Jadi, media pembelajaran matematika berbasis edutainment

yang dikembangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa

Figur

Tabel 4.11 Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek Kepraktisan .......  106

Tabel 4.11

Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek Kepraktisan ....... 106 p.16
grafik fungsi aljabar. Berikut ini akan diuraikan secara singkat keempat

grafik fungsi

aljabar. Berikut ini akan diuraikan secara singkat keempat p.48
grafik yang ditampilkan.

grafik yang

ditampilkan. p.52
Gambar 3.1 Model pengembangan ADDIE21

Gambar 3.1

Model pengembangan ADDIE21 p.60
Gambar 3.2 Desain Penelitian Modul

Gambar 3.2

Desain Penelitian Modul p.67
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Angket Observer

Tabel 3.2

Kisi-Kisi Angket Observer p.69
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Angket Siswa

Tabel 3.3

Kisi-Kisi Angket Siswa p.70
Tabel 3.4.1 Aturan pemberian skala pada angket kevalidan dan observasi

Tabel 3.4.1

Aturan pemberian skala pada angket kevalidan dan observasi p.73
Tabel 3.5  Kriteria Penilaian

Tabel 3.5

Kriteria Penilaian p.74
Tabel 3.6 Kategori Presentase Penilaian Ideal

Tabel 3.6

Kategori Presentase Penilaian Ideal p.75
Gambar 4.1 Kerangka Modul

Gambar 4.1

Kerangka Modul p.80
Gambar 4.8 Tampilan Layout Modul

Gambar 4.8

Tampilan Layout Modul p.88
Tabel 4.1 Masukan/Saran dan  Tindak Lanjut untuk Aspek

Tabel 4.1

Masukan/Saran dan Tindak Lanjut untuk Aspek p.91
Tabel 4.2 Masukan/Saran dan Tindak Lanjut untuk Aspek Tampilan (Ahli Media)

Tabel 4.2

Masukan/Saran dan Tindak Lanjut untuk Aspek Tampilan (Ahli Media) p.93
Gambar 4.10.1 LKS I

Gambar 4.10.1

LKS I p.99
Gambar 4.10.2 LKS II

Gambar 4.10.2

LKS II p.100
gambar 4.11.1 LKS 2

gambar 4.11.1

LKS 2 p.102
Gambar 4.11.2 LKS 2

Gambar 4.11.2

LKS 2 p.103
Gambar 4.12 LKS 3

Gambar 4.12

LKS 3 p.105
Gambar 4.13.1 LKS 4

Gambar 4.13.1

LKS 4 p.107
Gambar 4.13.2 LKS 4

Gambar 4.13.2

LKS 4 p.108
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Pendidikan

Tabel 4.4

Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Pendidikan p.118
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Tampilan

Tabel 4.7

Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Tampilan p.119
Tabel 4.8 Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk

Tabel 4.8

Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk p.120
Tabel 4.13 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Kepratisan (Observer)

Tabel 4.13

Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Kepratisan (Observer) p.122
Tabel 4.14 Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek

Tabel 4.14

Kriteria Kategori Penilaian Ideal untuk Aspek p.123
Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Kualitas Teknis

Tabel 4.10

Hasil Perhitungan Penilaian Aspek Kualitas Teknis p.124
Tabel 4.16 Perhitungan Kualitas Modul dengan Pengguna Guru

Tabel 4.16

Perhitungan Kualitas Modul dengan Pengguna Guru p.125
Grafik memotong sumbu x, bila y = 0.

Grafik memotong

sumbu x, bila y = 0. p.185
Gambar 1 Gambar 2

Gambar 1

Gambar 2 p.229

Referensi

Memperbarui...