Adapun fungsi zat gizi bagi tubuh adalah:

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gizi

Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normaldari organ serta menghasilkan energi (Supariasa, 2002). WHO mengartikan ilmu gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada organisme hidup. Proses tersebut mencakup pengambilan dan pengolahan zat padat dan cair dari makanan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan, berfungsinya organ tubuh, dan menghasilkan energi (Yuniastuti, 2008).

Zat gizi atau nutrient merupakan substansi yang diperoleh dari makanan dan digunakan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan jaringan tubuh. Berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh dapat digolongkan ke dalam enam macam yaitu (1) karbohidrat, (2) protein, (3) lemak, (4) vitamin, (5) mineral dan (6) air. Sementara itu energi dapat diperoleh dari pembakaran karbohidrat, protein dan lemak di dalam tubuh.

2.2. Fungsi Gizi

(2)

a) Energi

Zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, protein dan lemak. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan aktivitas. Ketiga zat gizi ini termasuk ikatan organik yang mengandung karbon yang dapat dibakar. Ketiga zat gizi ini terdapat dalam jumlah yang banyak dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat ini disebut dengan zat pembakar.

b) Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh

Protein, mineral dan air merupakan zat pembangun yang digunakan oleh tubuh untuk membentuk sel-sel baru, dan menggantikan sel-sel yang rusak (Almatsier, 2004).

c) Mengatur proses tubuh

Protein, mineral, vitamin dan air diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Dalam fungsinya keempat zat gizi ini disebut dengan zat pengatur (Almatiser, 2004). Protein mengatur keseimbangan air dalam sel dan membentuk antibodi. Mineral dan vitamin diperlukan sebagai pengatur proses oksidasi, fungsi normal saraf dan otot. Dan air diperlukan untuk melarutkan bahan-bahan di dalam tubuh seperti darah, pencernaan, cairan, jaringan dan lain-lain.

(3)

Di dalam kehidupan manusia, ada empat manfaat makanan yang dibutuhkan manusia yaitu (1) pemelihara proses tubuh, (2) energi, (3) mengatur metabolisme dan keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh lainnya, serta (4) berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi (Notoatmodjo, 1997).

2.3. Status Gizi

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat mengonsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Secara klasik, kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun dan memelihara jaringan tubuh serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh (Almatsier, 2004).

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian, penyerapan, dan penggunaan makanan.Pengertian lain menyebutkan bahwa status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu , atau perwujudan daristatus tubuh yang berhubungan dengangizi dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, 2002).

Status gizi baik terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan(Almatsier, 2004).

Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekedar gambaran perubahan ukuran tubuh, tetapi lebih dari itu, pertumbuhan merupakan indikator yang baik dari

(4)

perkembangan status gizi anak (Depkes RI, 2002). Status gizi merupakan indikator kesehatan yang penting karena anak usia di bawah lima tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap kesehatan dan gizi (Handayani, 2008).

2.4. Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi adalah interpretasi dari data yang didapatkan dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu yang beresiko atau dengan status gizi buruk.

2.5. Metode Penilaian Status Gizi

Pada dasarnya penilaian status gizi dapat dibagi menjadi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung.

2.5.1. Penilaian Status Gizi Secara Langsung 1) Antropometri

Antropometri Gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Penggunaan antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

Dalam program gizi masyarakat, pemantauan status anak balita menggunakan metode antropometri. Pengukuran antropometri adalah yang paling relatif sederhana dan banyak dilakukan. Di Indonesia pun yang paling umum dilakukan adalah

(5)

dengan pengukuran antropometri karena lebih praktis dan mudah dilakukan (Supariasa, 2002).

Beberapa indikator antropometri yang sering digunakan yaitu:

a) Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum, tidak spesifik namun sensitif untuk melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek, lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum, baik untuk mengatur status gizi akut dan kronis, berat badan dapat berfluktuasi serta dapat mendeteksi kegemukan.

Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Dalam keadaan normal dan keadaan kesehatan baik, keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin maka berat badan berkembang mengikuti bertambahnya umur. Dalam keadaan abnormal ada dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal.

b) Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Indikator TB/U dapat memberikan gambaran riwayat keadaan gizi masa lampau dan dapat dijadikan indicator keadaan social ekonomi penduduk. Indikator TB/U ini tidak dapat menggambarkan keadaan gizi saat ini dan sering mengalami

(6)

kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang pada kelompok usia balita di negara berkembang (Soekirman, 2000).

c) Berat Badan Menurut Tinggi badan (BB/TB)

Indikator BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini (Supariasa, 2002). Pada tahun 1978, WHO lebih menganjurkan penggunaan BB/TB karena dapat menghilangkan faktor umur yang menurut pengalaman sulit didapatkan secara benar, dan lebih menggambarkan keadaan kurang gizi akut pada waktu sekarang, walaupun tidak dapat menggambarkan keadaan gizi pada waktu lampau.

2) Klinis

Riwayat medis dan pengujian fisik merupakan metode klinis yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda (pengamatan yang dibuat oleh dokter) dan gejala-gejala (manifestasi yang dilaporkan oleh pasien) yang berhubungan dengan malnutrisi.tanda-tanda atau gejala-gejala ini sering tidak spesifik dan hanya berkembang selama tahap deplesi (pengosongan cadangan zat gizi dalam tubuh) yang sudah parah. Karena alasan tersebut, diagnose defisiensi zat gizi tidak boleh mengandalkan hanya pada metode klinis. Sebenanrnya yang diinginkan adalah upaya untuk mendeteksi defisiensi zat gizi marginal, yaitu sebelum berkembangnya sindrom klinis. Oleh

(7)

karena itu, metode laboratorium harus digunakan sebagai pelengkap metode klinis.

3) Biokimia

Cara biokimia lazim juga disebut cara laboratorium. Cara ini dapat digunakan untuk mendeteksi keadaan defisiensi subklinis yang semakin penting dalam era pengobatan preventif. Metode ini sangat bersifat objektif, bebas dari factor emosi dan subjektif lain sehingga biasanya digunakan untuk melengkapi cara penilaian status gizi lainnya.

4) Biofisik

Cara biofisik adalah dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktir jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

2.5.2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung

Penilaian status secara gizi tidak langsung dapat dibedakan menjadi tiga metode yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi (Supariasa, 2002).

1) Survei konsumsi makanan

Informasi tentang konsumsi makanan dapat dilakukan dengan cara survei dan akan menghasilkan data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif akan diketahui jumlah dan

(8)

jenis pangan yang dikonsumsi, metode pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah metode recall 24 jam, food records, dan weighing method. Secara kualitatif akan diketahui frekuensi makan maupun cara memperoleh makanan. Metode yang dapat digunakan adalah food frequency questionnaire dan dietary history.

2) Statistik vital

Penilaian status gizi dengan menggunakan statistik vital adalah dengan menganalisis data statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunannya dipertimbangkan sebagai indikator tidak langsung status gizi masyarakat.

3) Variabel ekologi

Malnutrisi merupakan masalah ekologi yang merupakan hasil akhir dari interaksi multi faktor dari faktor lingkungan fisik, biologi, sosial, ekonomi, politik dan budaya. Jumlah makanan yang tersedia juga bergantung pada keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain.

2.6. Klasifikasi Status Gizi

Berdasarkan petunjuk teknik pemantauan status gizi (PSG) anak balita tahun 1999, klasifikasi status gizi dibedakan menjadi 5 yaitu : gizi buruk, gizi kurang, gizi sedang, gizi baik dan gizi lebih. Baku WHO-NCHS (World Health

(9)

Organization-National Centre for Health Statics) digunakan sebagai baku antropometri Indonesia (Depkes RI, 2011). Dimana penilaian status gizi balita dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan.

Tabel 2.1 Penentuan Status Gizi Anak Umur 0-60 Bulan

Indeks Kategori Status Gizi Ambang Batas (Z Score) Berat Badan Menurut

Umur (BB/U)

Gizi Buruk < -3 SD

Gizi Kurang -3 sampai -2 SD

Gizi Baik -2 SD sampai 2 SD

Gizi Lebih > 2 SD

Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) Atau Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Sangat Pendek < -3 SD

Pendek -3 sampai -2 SD

Normal -2 SD sampai 2 SD

Tinggi > 2 SD

Berat Badan Menurut Panjang Badan (BB/PB)

Sangat Kurus < -3 SD

Kurus -3 sampai -2 SD

Normal -2 SD sampai 2 SD

Gemuk > 2 SD

Sumber : Standar Antropometri Dirjen Bina Gizi RI tahun 2011

Beberapa indikator status gizi sebagai hasil kesimpulan dari penilaian status gizi tersebut dikategorian sebagai berikut:

a. Jika BB/U dan TB/U rendah sedangkan BB/TB normal ; kesimpulannya keadaan gizi anak saat ini baik, tetapi anak tersebut mengalami masalah kronis, karena berat badan anak proporsional dengan tinggi badan.

b. BB/U normal ; TB/U rendah; BB/TB lebih ; kesimpulannya anak mengalami masalah gizi kronis dan pada saat ini menderita kegemukan (Overweight) karena berat badan lebih dari proporsional terhadap tinggi badan.

(10)

c. BB/U , TB/U dan BB/TB rendah ; anak mengalami kurang gizi berat dan kronis. Artinya pada saat ini keadaan gizi anak tidak baik dan riwayat masa lalunya juga tidak baik.

d. BB/U, TB/U dan BB/TB normal ; kesimpulannya keadaan gizi anak baik pada saat ini dan masa lalu.

e. BB/U rendah; TB/U normal; BB/TB rendah ; kesimpulannya anak mengalami kurang gizi yang berat (kurus), keadaan gizi anak secara umum baik tetapi berat badannya kurang proporsional terhadap tinggi badannya karena tubuh anak jangkung.

2.7. Masalah Gizi Kurang

WHO pada tahun 1963 menyatakan bahwa dari segi kesehatan masyarakat, gizi kurang merupakan masalah terbesar di dunia. Suatu masyarakat disebut tidak mempunyai masalah kesehatan masyarakat bila 95% balita berstatus gizi baik (antara -2 SD s/d +2 SD). Dan dikatakan mempunyai masalah kesehatan masyarakat bila terdapat >2% gizi kurang (< -2 SD s/d -3 SD ) atau >0,5% gizi buruk (< -3 SD).

Gizi kurang merupakan gangguan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Kurang gizi meliputi kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Secara nasional ada 4 masalah gizi kurang utama di Indonesia yaitu: kurang kalori dan protein (KKP), kekurangan vitamin A, kekurangan zat besi dan anemia gizi besi, dan gangguan akibat kurang yodum (GAKY).

Angka kematian yang tinggi pada bayi, anak balita, ibu melahirkan dan menurunnya daya kerja fisik, terganggunya perkembangan mental dan kecerdasan

(11)

jika di telusuri adalah akibat langsung maupun tidak langsung dari kekurangan asupan gizi (Supariasa, 2002).

2.8. Epidemiologi Gizi Kurang

Epidemiologi gizi merupakan penerapan teknik epidemiologi dalam upaya memahami penyebab (kausa) dalam populasi yang terpajan dengan satu atau lebih faktor gizi yang diyakini sangat penting, dan juga untuk dapat menggambarkan distribusi serta frekuensi dari permasalahan gizi.

2.8.1. Distribusi dan Frekuensi Balita Gizi Kurang a) Orang

Bagi bayi non BBLR, pada umunya mereka mempunyai status gizi saat lahir yang kurang lebih sama dengan status gizi bayi yang lahir di Amerika. Akan tetapi seiring bertambnahnya umur, disertai dengan adanya asupan zat gizi yang lebihrendah dibandingkan kebutuhan serta tingginya beban penyakit infeksi pada awal-awal kehidupan maka sebagian besar bayi Indonesia terus mengalami penurunan statu gizi, puncaknya pada umur kurang lebih 18-24 bulan. Pada kelompok ini balita kurus (wasting) dan balita pendek (stunting) mencapai tertinggi. Melewati umur 24 bulan, status gizi balita umumnya mengalami perbaikan meskipun tidak sempurna (Hadi, 2005). Di Indonesia ditribusi balita gizi kurang menurut jenis kelamin, prevalensi gizi kurang pada balita laki-laki lebih tinggi dibangingkan balita perempuan yaitu secara berturut-turut 13,9% dan 12,1%. Sedangkan menurut kelompok umur 24-35 bulan yakni sebesar 15,4% (Riskesdas, 2010).

(12)

b) Tempat dan Waktu

Pada periode tahun 1996-2005 Indonesia menduduki posisi ke-4 tertinggi angka kekurangan gizi pada balita yaitu sebesar 28% setelah Timor Leste (46%), Kamboja (45%), dan Myanmar (32%). Dibandingkan dengan negara yang rendah persentasinya yaitu Malaysia (11%) dan Thailand (18%), Indonesia masih jauh tinggi. Pada tahun 2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek masing-masing 18,4% dan 36,8% sehingga Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90% kontribusi masalah gizi dunia.

Pada tahun 2010 prevalensi gizi kurang dan pendek secara nasional menurun menjadi masing-masing 17,9% dan 35,6%, tetapi masih terjadi disparitas antar provinsi yang perlu mendapat penanganan masalah yang sifatnya spesifik di wilayah rawan (Direk Gizi RI, 2004). provinsi yang masing berada diatas prevalensi nasional adalah 1. Nusa Tenggara Barat (30,5%), 2. Nusa Tenggara Timur (29,4%), 3. Kalimantan Barat (29,2%), 4. Kalimantan Tengah (27,6%), 5. Sulawesi Tengah (26,5%), 6. Papua Barat (26,5%), 7. Gorontalo (26,5%), 8. Maluku (26,2%), 9. Sulawesi Tengah (25%), 10. Aceh (23%), 11. Maluku Utara (23,6%), 12. Kalimantan Selatan (22,8%), 13. Sulawesi Tenggara (22,8%), 14. Sumatera Utara (21,3%), 15. Sulawesi Barat (20,5%), 16. Sumatera Selatan (19,9%), 17. Jambi (19,7%) dan 18. Banten (18,5%). (Riskesdas, 2010).

2.8.2. Faktor Determinan Balita Gizi Kurang

Bagan dibawah ini menyajikan berbagai faktor penyebab kekurangan gizi yang diperkenalkan oleh UNICEF dan telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

(13)

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi

Sumber: UNICEF 1990, disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Pola Asuh Pemberian

ASI/MP-ASI

Pola Asuh Psikososial Penyediaan MP-ASI Ketersediaan

dan Pola Konsumsi Rumah tangga

Status Gizi Anak Balita

Daya Beli, Akses Pangan, Akses Informasi, Akses Pelayanan Status Infeksi Konsumsi Makanan

Kemiskinan, ketahanan Pangan dan Gizi, Pendidikan

Pembangunan Ekonomi, Politik, Sosial, dan Budaya

Pelayanan Kesehatan Dan Lingkungan Dampak Penyebab Langsung Penyebab Tidak Langsung Akar Masalah

(14)

Dari gambar diatas, terlihat bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi status gizi anak balita baik secara langsung maupun tidak langsung.

a. Faktor yang Mempengaruhi secara Langsung.

Faktor yang mempengaruhi secara langsung yaitu faktor kurang makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong (mempengaruhi). Sebagai contoh bayi dan anak yang tidak mendapatkan ASI dan makanan pendamping ASI yang tepat memiliki daya tahan tubuh yang rendah sehingga mudah terserang penyakit infeksi. Sebaliknya penyakit infeksi sepert diare dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mengakibatkan asupan zat gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik (Direk Gizi RI, 2004).

b. Faktor yang Mempengaruhi secara Tidak Langsung 1.) Tidak Mendapatkan Air Susu Ibu (ASI)

ASI merupakan sumber nutrisi yang sangat penting bagi bayi dan dalam jumlah yang cukup dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 4-6 bulan pertama. ASI mengandung berbagai komposisi zat gizi yaitu protein, karbohidrat (glukosa, galaktosa,dan glukosamin), lemak, mineral, vitamin dan air. ASI juga mengandung antibodi yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.

2.) Daya Beli dan Ketahanan Pangan Keluarga

Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Daya beli keluarga dipengaruhi oleh faktor harga dan pendapatan keluarga. Jika daya beli rendah maka akan berpengaruh pada ketahanan pangan keluarga, sehingga konsumsi pangan juga berkurang yang dampaknya bisa kepada gangguan gizi.

(15)

3.) Pola Asuh Gizi

Pola asuh gizi yang salah dapat memberikan kontribusi kejadian gizi kurang pada balita. Pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat, karena diberikan terlalu dini atau terlambat, jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi pada setiap tahapan usia dan tidak bergizi seimbang untuk memenuhi asupan kalori, protein dan gizi mikro (vitamin dan mineral). Hanya 41% keluarga yang mempunyai perilaku pemberian makanan bayi yang benar (Direk Gizi RI, 2004).

4.) Jumlah Anak dalam Keluarga

Jumlah anak akan mempengaruhi status gizi anak dalam keluarga tak terkecuali anak balita. Dengan banyaknya jumlah anak dalam keluarga maka kebutuhan makanan yang seharusnya hanya diberikan pada satu anak akan terbagi dengan anak yang lain yang sama-sama memerlukan gizi yang optimal.

Anak-anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga dan anak yang paling kecil biasanya paling terpengaruh oleh kekurangan pangan. Sebagian memang demikian, sebab seandainya keluarga bertambah maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orangtua tidak menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda memerlukan pangan relatif lebih banyak daripada anak-anak yang lebih tua.

5.) Tingkat Pendidikan Ibu

Tinggi rendahnya tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan terhadap perawatan kesehatan, higiene pemeriksaan kehamilan dan pasca persalinan, serta kesadaran terhadap kesehatan Tingkat pendidikan turut pula

(16)

menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Hal ini bisa dijadikan landasan untuk membedakan metode penyuluhan yang tepat. Dari kepentingan gizi keluarga, pendidikan diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi didalam keluarga dan bisa mengambil tindakan secepatnya.

6.) Pengetahuan Gizi Ibu

Pengetahuan gizi sangat diperlukan agar dapat mengatasi masalah yang timbul akibat konsumsi gizi. Wanita khususnya ibu sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap konsumsi makanan bagi keluarga, ibu harus memiliki pengetahuan tentang gizi baik melalui pendidikan formal maupun informal. Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang, maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi.

7.) Pekerjaan Ibu

Ibu yang sudah mempunyai pekerjaan penuh tidak lagi dapat memberikan perhatian penuh terhadap anak balitanya, apalagi untuk mengurusnya. Meskipun tidak semua ibu bekerja tidak mengurus anaknya, akan tetapi kesibukan dan beban kerja yang ditanggungnya dapat menyebabkan kurangnya perhatian ibu dalam menyiapkan hidangan yang sesuai untuk balitanya. Meningkatnya kesempatan kerja wanita dapat mengurangi waktu untuk tugas-tugas pemeliharaan anak.

8.) Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan mempunyai peran yang cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

(17)

Lingkungan yang kurang sehat dapat mengakibatkan balita mengalami penyakit diare, kecacingan, tiffus dan penyakit infeksi berbasis lingkungan lainnya yang dapat mempengaruhi kondisi gizi anak-anak.

Akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan kebersihan lingkungan besar pengaruhnya terhadap pengasuhan anak. Makin tersedia air bersih yang cukup untuk keluarga serta makin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan, semakin kecil kemungkinan resiko anak terkena penyakit dan kekurangan gizi.

9.) Pelayanan Kesehatan

Upaya pelayanan kesehatan dasar diarahkan kepada peningkatan kesehatan dan status gizi anak sehingga terhindar dari kematian dini dan mutu fisik yang rendah. Pelayanan kesehatan yang selalu siap dan dekat dengan masyarakat akan sangat membantu dalam meningkatkan derajat kesehatan.

2.9. Dampak Gizi Kurang Balita

Anak berusia satu sampai lima tahun atau yang disebut dengan balita adalah salah satu kelompok pendudukan yang rawan terhadap kekurangan gizi. Masa balita sering dinyatakan sebagai masa kritis dalam rangka mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas, terlebih pada periode 2 tahun pertama merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal.

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang begitu juga dengan balita. Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat

(18)

setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat esensial.

Pertumbuhan bayi sangat cepat terlihat dari pertambahan berat badan bayi menjadi 2 kali lipat dari berat badan waktu lahir saat berumur 4-6 bulan, dan menjadi 3 kali lipat pada saat berumur 1 tahun, serta panjang badan bertambah 50% dari panjang saat lahir pada tahun pertama, dan menjadi 2 kali lipat pada waktu berumur 4 tahun.

Kekurangan gizi adalah salah satu penyebab utama kematian bayi dan anak-anak, hal ini mengakibatkan berkurangnya kuantitas sumber daya manusia di masa depan. Secara kualitas keadaan gizi kurang juga mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan sehingga kemampuan anak-anak untuk belajar, beraktivitas dan bersikap akan lebih terbatas dibandingkan dengan anak yang normal. 2.10. Pencegahan Gizi Kurang

Tujuan dari pencegahan adalah menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Konsep pencegahan meluas, mencakup langkah-langkah untuk mengganggu atau memperlambat penyakit atau kelainan. Dari perluasan ide inilah tiga tahapan pencegahan dikembangkan (Timreck, 2004).

2.10.1.Pencegahan Primer

Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian gizi kurang sebelum hal tersebut terjadi. Tiga aspek utama dalam pencegahan primer adalah promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan kesehatan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam pencegahan primer:

(19)

a. Promosi kesehatan seperti penyuluhan tentang ASI Eksklusif, penyuluhan tentang prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pemantauan kadarzi (keluarga sadar gizi), dan penyebarluasan pedoman umum gizi seimbang (PUGS)

b. Proteksi spesifik seperti pemberian kapsul vitamin A untuh mencegah kekurangan vitamin A, pemberian tablet Fe, pemberian MP-ASI setelah umur 6 bulan, penggunan garam beriodium dan lain-lain.

2.10.2.Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada skrining kesehatan dan deteksi untuk menentukan status patogenik setiap individu di dalam populasi. Jika status patogenik ditemukan lebih dini, diagnosis dan pengobatan dini yang dilakukan dapat mencegah kondisi untuk berkembang dan dapat menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit (Timreck, 2004). Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam pencegahan sekunder:

a. Pendeteksian dini seperti pemantauan tumbuh kembang balita di Posyandu, pemantauan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), pemantauan konsumsi pangan keluarga, dan pemantauan status gizi (PSG).

b. Pengobatan dini yang tepat seperti pemberian makanan untuk pemulihan gizi kepada keluarga dengan gizi kurang.

2.10.3.Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier mencakup kepada pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera, atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Diagnosis dan pengobatan segera yang diikuti dengan rehabilitasi yang tepat dan pemulihan pasca

(20)

pengobatan, sekaligus pendidikan pasien yang sesuai, perubahan prilaku dan perubahan gaya hidup, semua diperlukan agar ketidakmampuan tidak terjadi lagi (Timreck, 2004). Adapun hal yang dapat dilakukan dalam pencegahan tersier adalah melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan lintas sektor dengan cara memberikan bantuan pangan dan pengobatan penyakit.

2.11. Kerangka Konsep Penelitian

Karakteristik Anak : Umur

Jenis Kelamin Status ASI Eksklusif Status Imunisasi

Riwayat Penyakit Infeksi Status Gizi

Anak Balita Karakteristik Ibu : Pekerjaan Pendidikan Jumlah Anak Pengetahuan Gizi

Figur

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi

Gambar 2.1

Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi p.13
Related subjects :