TOKSISITAS DETERJEN TERHADAP BENIH IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer, Bloch)

Teks penuh

(1)

TOKSISITAS DETERJEN TERHADAP BENIH IKAN

KAKAP PUTIH (

Lates calcarifer

, Bloch)

Syahril Nedi 1), Thamrin 2) and Huria Marnis 3)

Diterima tanggal : 7 Februari 2006/Disetujui : 28 Februari 2006

ABSTRACT

The research of the toxicity of detergent on Barramundi (Lates calcalifer, Bloch) has been done in at Laboratory Loka Budidaya Laut Batam on Maret 2005. The aim of this research was to test the toxicity of detergent on Barramundi based on the result from LC50 and to take the point of safety concentration on

Barramundi life. The pre test was get the result from upper treshold (N) = 83 ppm and lower treshold (n) = 81

ppm. Persistant test showed the result that media test must be changed abaut 6 hours at toxicity test. The result of LC50 24, 48, 72 and 96 hours about 121,35 ppm; 100, 35 ppm; 91,95 ppm; 84,35 ppm. The safety

concentration from detergent was about 8,435 ppm.

Key words : toxicity, detergent, barramundi, LC50

PENDAHULUAN

Polusi perairan oleh polutan organik merupakan penyebab utama rusaknya ekosistem laut. Polutan yang masuk ke perairan mengakibatkan gangguan terhadap produktifitas perairan. Salah satu polutan organik yang dapat merusak ekosistem laut adalah limbah deterjen.

Deterjen merupakan bahan pembersih sintetis yang penggunaannya saat ini terus meningkat baik di sektor industri maupun rumahtangga. Hal ini akan menyebabkan terganggunya fungsi fisiologis organisme perairan yang sensitif karena bersifat toksik. Limbah deterjen dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, karena terjadinya penurunan kandungan oksigen terlarut yang dapat mematikan biota perairan termasuk ikan.

Untuk mendeteksi dan mengevaluasi toksisitas deterjen terhadap biota perairan maka perlu dilakukan uji toksisitas. Biota uji berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur toksisitas dari suatu zat pencemar (Panggabean, 1994). Salah satu biota uji yang akan digunakan untuk uji toksisitas adalah ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch).

Pemilihan biota ini didasarkan karena ikan kakap putih bernilai ekonomis tinggi dan

banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber protein, penyebarannya luas, pemeliharaannya mudah pada kondisi laboratorium, sensitif dan peka terhadap perubahan kualitas air. Berdasarkan hal itu penulis tertarik untuk melakukan studi pada skala laboratorium untuk mengetahui sejauh mana benih Ikan Kakap Putih sebagai bioindikator dapat mentolerir deterjen dan menentukan besar konsentrasi yang aman (safety concentration) bagi deterjen di perairan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50 (Lethal Concentration) dari deterjen khususnya LAS (Linier Alkil Sulfonat) terhadap benih ikan kakap putih (L. calcarifer, Bloch) pada waktu uji 24, 48, 72 dan 96 jam. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi LAS yang aman dan dapat ditolerir (safety concentration) oleh benih ikan kakap putih, serta bermanfaat untuk tujuan budidaya.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2005 di Laboratorium Parasit dan Penyakit Ikan Loka Budidaya Laut Batam. Bahan dan Alat

(2)

kakap putih (Lates calcarifer, Bloch) yang berukuran 3-4 cm (umur 40 hari) sebanyak 370 ekor dari Loka Budidaya Laut Batam dan deterjen LAS jenis Rinso anti noda bubuk produk Unilever.

Alat-alat yang digunakan adalah toples plastik bervolume 10 liter sebanyak 16 buah, pH meter, DO meter, termometer, Handrefraktometer, batu aerasi, selang plastik, neraca analitik ketelitian 0,0001 gram, tabung ukur, pipet ukur, alat tulis dan kamera.

Metode dan Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri atas tiga tahap uji yaitu uji pendahuluan, uji persistensi dan uji toksisitas. Sebelum uji dilakukan, biota diaklimasi terlebih dahulu selama empat hari agar dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan media uji. Selama aklimasi ikan diberi makan dua kali sehari dengan pakan berupa pelet.

1. Uji Pendahuluan

Bertujuan untuk mengetahui nilai konsentrasi ambang atas (N) dan konsentrasi ambang bawah (n) dari deterjen yang akan digunakan. Kedalam wadah uji dimasukkan 10 liter air laut dengan konsentrasi deterjen 0, 81, 82, 83 dan 84 ppm, kemudian ke dalam wadah uji dimasukkan 10 ekor ikan uji dan diaerasi. Pengamatan kematian ikan uji dilakukan pada 6, 12, 24, dan 48 jam. Ikan uji yang mati dikeluarkan untuk mencegah pengotoran media uji. Setiap perlakuan mempunyai tiga kali ulangan.

2.Uji Persistensi

Bertujuan untuk melihat penurunan daya racun bahan uji terhadap waktu uji. Pada masing-masing wadah uji diisi air laut 10 liter yang mengandung deterjen. Pada setiap wadah uji dimasukkan 10 ekor ikan dan media uji diaerasi selama penelitian. Pengamatan terhadap kematian ikan uji dilakukan pada 6, 12, 24, dan 48 jam. Untuk melihat kapan media uji diganti dibuat grafik tingkat kematian dalam persen terhadap waktu saat pemasukaan ikan uji. Dari grafik

tersebut dapat dilihat kecendrungan toksisitas itu menaik, menurun atau mendatar yang menunjukkan persistensinya.

3. Uji Toksisitas

Pada uji toksisitas masing-masing media uji diisi air dan konsentrasi bahan uji sesuai hasil yang diperoleh dari perhitungan nilai ambang atas dan ambang bawah menurut petunjuk Wardoyo (1977). Ke dalam setiap wadah uji dimasukkan ikan 10 ekor dalam waktu relative bersamaan. Pengamatan terhadap ikan uji dilakukan setelah 24, 48, 72 dan 96 jam. Ikan uji yang mati segera dibuang untuk mencegah terjadinya pengotoran media uji.

Pengukuran parameter kualitas air (suhu, pH, oksigen terlarut dan salinitas) bertujuan agar selama penelitian kematian ikan bukan disebabkan oleh faktor kualitas air dan melihat pengaruh bahan uji terhadap parameter kualitas air.

Analisis Data

Dalam perhitungan nilai LC50 pada 24, 48, 72 dan 96 jam dipakai metode analisis regresi dengan pembobotan menurut (Busvine dalam Siagian, 2004). Untuk menentukan nilai konsentrasi aman (safety concentration) dipakai faktor aplikasi menurut (Wibisono, 1989) yakni 10% dari nilai LC50-96 jam. Sedangkan untuk melihat pengaruh pemberian deterjen pada konsentrasi yang berbeda terhadap tingkat mortalitas benih ikan kakap putih, data dianalisis secara statistik dengan ANAVA dan dengan Uji F.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Pendahuluan

Hasil uji pendahuluan terhadap benih ikan kakap putih dalam waktu pemaparan selama 48 jam dengan menggunakan konsentrasi deterjen sebesar 81, 82, 83 dan 84 ppm dapat dilihat pada Gambar 1.

(3)

1 2 3 4

Gambar 1. Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Terhadap Deterjen Pada Uji Pendahuluan.

Uji Persistensi

Berdasarkan gambar 1, mortalitas ikan uji 100% pada waktu uji 24 jam terjadi pada konsentrasi 83 dan 84 ppm, jadi konsentrasi yang digunakan untuk nilai ambang atas (N) adalah 83 ppm karena konsentrasi ini merupakan konsentrasi terkecil dimana ikan uji telah mati pada waktu uji 24 jam . Pada konsentrasi deterjen 81 ppm dengan waktu uji 48 jam menunjukkan tidak adanya kematian biota uji dan ini merupakan nilai ambang bawah (n). Berdasarkan nilai konsentrasi ambang atas dan ambang bawah dibuatlah

empat deret konsentrasi deterjen yang berbeda yang diuraikan secara logaritmik.

Tahap uji persistensi bertujuan untuk melihat penurunan daya racun deterjen terhadap benih ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch). Uji persistensi dilaksanakan selama 48 jam dengan konsentrasi perlakuan yang digunakan pada uji ini adalah nilai konsentrasi ambang (N) sebesar 83 ppm yang diperoleh dari uji pendahuluan. Hasil dari uji persistensi ini berguna untuk mengetahui kapan media uji harus diganti pada saat uji toksisitas. Hasil dari uji peristensi ini dapat dilihat pada Gambar 2 berikut: 88 90 92 94 96 98 100 102 6 12 24 48

Waktu Uji (jam)

Ti n g k a t M o rt a li ta s (% )

Gambar 2. Grafik Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Pada Uji persistensi Hasil uji persistensi selama 6 jam

tingkat mortalitas benih ikan kakap putih

deterjen pada 6 jam pertama konsentrasinya masih stabil dan setelah 6 jam kedua

(4)

mempertahankan tingkat daya racun bahan uji selama uji toksisitas berlangsung. Wardoyo (1977) menyatakan bahwa bila

grafik persistensi mempunyai

kecenderungan mendatar atau hampir mendatar, maka pergantian media air perlu dilakukan.

Uji Toksisitas

Konsentrasi deterjen yang digunakan pada uji toksisitas ini antara lain: kontrol (0ppm), 22,52 ppm, 63,39 ppm, 178,43 ppm dan 502,24 ppm. Persentase tingkat mortalitas deterjen terhadap benih ikan kakap putih pada uji toksisitas selama 96 jam disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Histogram Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Terhadap Deterjen PadaUji Toksisitas

Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa pada konsentrasi 22,52 ppm belum terjadi kematian hingga waktu 96 jam, sedangkan tingkat mortalitas ikan kakap putih pada konsentrasi 63,39 ppm deterjen telah memberikan pengaruh kematian terhadap benih ikan kakap putih, kenaikan tingkat kematian terjadi pada kurun waktu 96 jam yaitu dari 6,67% menjadi 26,67%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan biota uji untuk mentolerir bahan toksikan juga dipengaruhi oleh lamanya waktu pemaparan. Selama penelitian berlangsung didapatkan bahwa persentase kematian benih ikan kakap putih pada kontrol adalah 0%, ini sesuai dengan syarat yang dikemukakan oleh Rand dan Petrocelly (1985), bahwa selama penelitian toksisitas kematian pada wadah kontrol harus 0%.

Pengaruh pemberian deterjen dengan konsentrasi yang berbeda terhadap tingkat mortalitas benih ikan kakap putih diolah dengan analisis varian. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa nilai Fhitung (923,039) > Ftabel (0,01) (7,59). Hal ini berarti daya toksik deterjen sangat berpengaruh nyata terhadap mortalitas benih ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch).

Perhitungan nilai LC50 dianalisis dengan mentrasformasikan persentase kematian ke dalam nilai-nilai probit, probit harapan dari grafik mortality, nilai probit kerja dan probit harapan dari tabel faktor-faktor untuk menghitung koefisien pembobotan. Perhitungan nilai LC50 untuk waktu uji 24, 48, 72 dan 96 jam dapat dilihat dari lampiran 11, 12, 13, dan 14. Hasil perhitungan nilai LC50 pada setiap waktu uji dapat dilihat pada Gambar 4.

(5)

0 20 40 60 80 100 120 140 24 48 72 96

Waktu Uji (jam)

N il a i L C 5 0 (p pm )

Gambar 4. Grafik Nilai LC50 Deterjen Pada Masing-masing Waktu Uji Terhadap Benih

IkanKakapPutih.

Nilai LC50 deterjen terhadap benih ikan kakap putih semakin menurun dengan semakin lama waktu uji. Rendahnya nilai LC50 menunjukkan terjadinya peningkatan toksisitas deterjen. Meningkatnya toksisitas ini ditandai dengan meningkatnya jumlah kematian ikan uji yang disebabkan oleh naiknya kadar deterjen yang terakumulasi di dalam tubuh ikan. Keadaan ini menyebabkan daya tahan tubuh ikan semakin melemah dan keseimbangan tubuhnya mulai terganggu.

Nilai LC50 96 jam adalah sebesar 84,35 ppm yang berarti bahwa 50% benih ikan kakap putih akan mati bila dipaparkan selama 96 jam pada konsentrasi deterjen 84,35 ppm. Nilai LC50 96 jam dalam penelitian ini adalah 3,3 kali dari nilai LC50 96 jam penelitian deterjen terhadap benih ikan mas yaitu sebesar 25,23 ppm (Islamias, et al, 2000). Perbedaan ini diduga disebabkan oleh perbedaan salinitas, jenis, umur, ukuran ikan yang digunakan dan metode yang

digunakan. Perbedaan nilai LC50 pada setiap spesies menunjukkan bahwa setiap organisme mempunyai tingkat toleransi yang berbeda terhadap toksisitas deterjen.

Wibisono (1989) menyatakan bahwa nilai yang aman (safety concentration) bagi organisme dari daya racun toksisitas adalah 10% dari nilai LC50 96 jam. Oleh karena itu, untuk menjamin kelangsungan hidup benih ikan kakap putih di perairan dari deterjen maka konsentrasi yang diperbolehkan tidak lebih dari 8,435 ppm.

Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian, adalah suhu, pH, salinitas dan oksigen terlarut. Kualitas air bagi perikanan didefinisikan sebagai kualitas air yang sesuai untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan ikan yang dipengaruhi oleh parameter suhu, oksigen terlarut, pH, dan salinitas (Boyd, 1982). Parameter kualitas air hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Kualitas Air Pada Uji Toksisitas

Konsentrasi (ppm) Parameter Kualitas Air

Suhu (0C) PH Salinitas (‰) DO (ppm) Kontrol 28-30 7,8-7,9 29-30 5,4-5,6 22,52 28-30 7,8-7,9 29-30 5,4-5,6 63,39 28-30 7,8-7,9 29-30 5,3-5,6 178,43 28-30 7,8-7,9 29-30 5,2-5,5 502,24 28-30 7,8-7,9 29-30 5,2-5,5

(6)

laku yang berbeda bila dibandingkan dengan kontrol. Secara jelas perbandingan tingkah

laku benih ikan Kakap Putih dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tingkah Laku Benih Ikan Kakap Putih Selama Penelitian

Kriteria Respon Tingkah Laku Benih Ikan Kakap Putih

Normal

- Benih selalu bergerak di dekat dasar perairan - Bergerak aktif dan lincah

- Kontraksi gerakan operculum normal - Posisi tubuh dalam keadaan tetap tidak oleng - Responsif terhadap rangsangan dari luar - Mata normal dan tajam

Sublethal

- Benih sering turun naik, bergerak dekat permukaan - Bergerak gelisah dan lincah tidak menentu

- Posisi tubuh sering oleng

- Kurang responsif terhadap rangsangan dari luar - Gerakan mulut dan operculum cepat

- Selera makan benih hilang

- Benih sering membenturkan tubuhnya ke dinding wadah

Lethal

- Benih tergeletak didasar media uji dan tidak bergerak - Di permukaan sisik banyak terdapat lendir

- Insang bewarna pucat - Kondisi Mulut Terbuka Lebar Respon tingkah laku benih ikan kakap

putih beraneka ragam, karena pengaruh deterjen yang diberikan. Menurut Pulla Rao U. D. U. P. dan K. D. Misha (1998), ikan major carp (Labeo rohita) yang diberi perlakuan deterjen memberikan respon perubahan tingkah laku sebelum kematian dengan memperlihatkan ciri-ciri hilangnya keseimbangan, berenang tidak teratur dan pernafasan terganggu.

Menurut Jones dalam Connel D. W. dan G. J. Miller (1995), oksigen terlarut dari air akan digunakan biota dengan menggunakan insang sebagai alat pernafasannya kemudian diserap oleh cairan pembuluh darahnya. Oksigen menempel pada haemoglobin yang kemudian dialirkan oleh jantung ke otot dimana oksigen digunakan bersama-sama dengan glukosa untuk menghasilkan karbondioksida di dalam proses respirasi aerob. Pengambilan oksigen yang rendah oleh makhluk hidup meyebabkan otot-otot kekurangan oksigen sehingga sulit untuk melanjutkan respirasi optimal.

Kematian ikan akibat deterjen disebabkan karena rusaknya dinding sel-sel darah putih, ikan yang kekurangan darah terutama darah putih akan menurunkan daya tahan ikan terhadap racun. Sehingga ikan yang keracunan deterjen akan cepat

mengalami kematian. Di samping itu deterjen juga dapat mengganggu pertumbuhan ikan dan menyebabkan kerusakan organ reproduksinya (Mitrovic, 1973). Deterjen yang mengandung surfaktan LAS (Linier Alkil Sulfonat) sangat beracun bagi biota perairan, hal ini terlihat melalui gangguan pada insang yang mengalami luka dan mengalami perubahan warna menjadi pucat (Islamias et al, 2002).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Nilai LC50 96 deterjen terhadap benih ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch) pada waktu 96 jam adalah 84,35 ppm. Konsentrasi aman (Safety concentration) terhadap benih ikan kakap putih diperoleh dari nilai LC50 96 jam yaitu 10% dari 84,35 ppm = 8,435 ppm. Kualitas air selama penelitian berlangsung masih mendukung kehidupan ikan kakap putih.

Saran

Perlu dilakukan penelitian toksisitas lanjutan untuk uji histologi dari beberapa organ tubuh ikan kakap putih seperti hati, jantung, otak dan insang. Selain itu perlu dipelajari perubahan struktur jaringan dari

(7)

beberapa organ tersebut akibat terkena bahan toksikan deterjen.

DAFTAR PUSTAKA

Boyd, C. E. 1982. Water Quality Management For Pond Fish Culture. Eisevier Scientific Publising Company. Amsterdam. Oxford. New York. 318 p.

Connel, D. W. dan G. J. Miller. 1995. Chemistry and Ecotoxycology of Pollution. Willey-Inter Science Publication. 83 p.

Islamias, I. Arnentis dan Sumaini. 2000. Pengujian Toksisitas Deterjen Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Jurnal Natur Indonesia III (1), 47-53.

Mitrovic, V. V. 1979. Sublethal Effects of Pollutants on Fish. FAO Technical Conference on Marine Pollution and It’s Effects on Living Resources and Fisging. Rome. Italy, 9-16 Dec. !978. Panggabean, I. M. G. 1994. Peranan Uji

Toksisitas Dalam Penentuan Baku Mutu Air Laut. Proseding Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI, Jakarta, Hal. 92-98.

Pulla Rao, U. D. U. P. and K. D. Misha. 1998. Acute Toxicity of LABS Containing Deterjent “Shudi” to Juvenile (Fingerling) Stage of Indian Major Carp. Labio Rohita. Indian Journal of Environment Sciences 2(2), 119-124.

Rand, G. M. and Petrocelli. 1985. Fundamental of Aquatic Toxicology : Methods and Aplcation. MC Graw Hill. London. 666 p.

Siagian, M., 2004. Toksikologi Lingkungan dan Uji Biologis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. 26 hal (tidak diterbitkan).

Wardoyo, S. T. H. 1977. Panduan Uji Biologis Untuk Evaluasi Minyak dan Dispersant. Proyek Lingkungan Hidup Studi Grup Pencemaran. Fakultas Perikanan IPB. Bogor. 23 hal.

Wibisono, M. S. 1989. Tingkat Toksisitas Minyak Bumi Napthenik Intermediat Terhadap Fingerling Bandeng. Majalah Lembaran Publikasi. LEMIGAS. 23 (2) : 162-172 hal.

Figur

Gambar 1. Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Terhadap Deterjen Pada Uji Pendahuluan

Gambar 1.

Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Terhadap Deterjen Pada Uji Pendahuluan p.3
Gambar 2. Grafik Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Pada Uji persistensi

Gambar 2.

Grafik Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Pada Uji persistensi p.3
grafik  persistensi  mempunyai

grafik persistensi

mempunyai p.4
Gambar  4.  Grafik  Nilai  LC 50   Deterjen  Pada  Masing-masing  Waktu  Uji  Terhadap  Benih  IkanKakapPutih

Gambar 4.

Grafik Nilai LC 50 Deterjen Pada Masing-masing Waktu Uji Terhadap Benih IkanKakapPutih p.5
Tabel 1. Data Kualitas Air Pada Uji Toksisitas

Tabel 1.

Data Kualitas Air Pada Uji Toksisitas p.5
Tabel 2. Tingkah Laku Benih Ikan Kakap Putih Selama Penelitian

Tabel 2.

Tingkah Laku Benih Ikan Kakap Putih Selama Penelitian p.6

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :