BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Agresi. pemuasan atau tujuan yang dapat ditujukan kepada orang lain atau benda.

26  10  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Agresi

1. Pengertian Perilaku Agresi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresi adalah perbuatan bermusuhan yang bersifat menyerang secara fisik maupun psikis kepada pihak lain, agresi merupakan tindakan kasar akibat kekecewaan dalam mencapai pemuasan atau tujuan yang dapat ditujukan kepada orang lain atau benda.

Buss dan Perry (1992) menyatakan perilaku agresi sebagai perilaku yang niatnya untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun secara psikologis. Perilaku agresi sepertinya telah menjadi sesuatu hal yang sangat biasa terjadi pada kehidupan sosial individu saat ini. Perilaku agresi adalah setiap bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau merugikan seseorang yang bertentangan dengan kemauan orang itu (Breakwell, 1998). Perilaku agresi dapat dimunculkan secara fisik maupun verbal. Perilaku agresi fisik yaitu perilaku agresi yang dilakukan dengan cara melakukan kekerasan secara fisik, seperti menampar, memukul, melempar dengan benda terhadap orang lain di sekitarnya. Perilaku agresi verbal yaitu perilaku agresi yang dilakukan dengan cara mengeluarkan kata-kata untuk menyerang orang lain, dapat berupa ejekan, hinaan, maupun caci maki.

Selanjutnya menurut Kartono (2003) agresi merupakan suatu ledakan emosi dan kemarahan-kemarahan hebat, perbuatan-perbuatan yang

(2)

menimbulkan permusuhan yang ditujukan kepada seseorang atau suatu benda. Atkinson (2000) menjelaskan agresi adalah perilaku yang secara sengaja bermaksud melukai orang lain (secara fisik atau verbal) atau menghancurkan harta benda.Agresi sendiri menurut Berkowitz (2003) selalu mengacu pada beberapa jenis perilaku, baik secara fisik maupun simbolis yang dilakukan dengan tujuan menyakiti.

Murray (dalam Chaplin, 2004) mengatakan bahwa perilaku agresi adalah kebutuhan untuk menyerang, memperkosa atau melukai orang lain untuk meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, menjahati, mengejek, mencemoohkan atau menuduh secara sehat, menghukum berat atau melakukan tindakan sadis lainnya. Dayakisni dan Hudaniah (2006) mengartikan agresi sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap organisme lain, objek lain dan bahkan dirinya sendiri. Chaplin (2004) mengatakan bahwa perilaku agresi adalah satu serangan atau serbuan tindakan permusuhan yang ditujukan pada seseorang atau benda.

Myers (2002) menjelaskan bahwa agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang disengaja dan memiliki maksud untuk menyakiti, menghancurkan atau merugikan orang lain untuk melukai objek yang menjadi sasaran agresi. Menurut Baron dan Richardson (dalam Krahe, 2005) mendefinisikan agresi sebagai suatu perilaku yang diwujudkan dalam berbagai bentuk yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari perlakuan tersebut. Agresi merupakan tindakan melukai yang disengaja oleh seseorang atau institusi terhadap orang atau institusi yang

(3)

sejatinya disengaja (Sarwono, 2009). Agresi merupakan setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai orang lain (Taylor, Peplau, & Sears, 2009).

Agresi lebih difokuskan pada pengertian dari perilaku agresi itu sendiri yang menurut pendapat para ahli seperti Baron (2005) yang mendefinisikan perilaku agresi merupakan tingkah laku yang diarahkan untuk tujuan menyakiti makhluk hidup lain yang ingin menghindari perlakuan semacam menyakiti. Agresi dapat diartikan sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh organisme terhadap organisme lain, obyek lain atau bahkan pada dirinya sendiri (Dayakisni dan Hudaniah, 2009). Lebih lanjut Mahmudah (2010) menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain.

Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku agresi adalah perbuatan bermusuhan yang bersifat menyerang secara fisik maupun psikis kepada pihak lain, agresi merupakan tindakan kasar akibat kekecewaan dalam mencapai pemuasan atau tujuan yang dapat ditujukan kepada orang lain atau benda.

2. Aspek-aspek Perilaku Agresi

Menurut Buss dan Perry (1992), terdapat empat aspek perilaku agresi yang didasari dari tiga dimensi dasar yaitu motorik, afektif, dan kognitif. Empat aspek perilaku agresi menurut Buss dan Perry yaitu sebagai berikut:

(4)

Physical aggression yaitu tindakan agresi yang bertujuan untuk menyakiti, mengganggu, atau membahayakan orang lain melalui respon motorik dalam bentuk fisik, seperti memukul, menendang, dan lain-lain.

b. Verbal aggression

Verbal aggression yaitu tindakan agresi yang bertujuan untuk menyakiti, mengganggu atau membahayakan orang lain dalam bentuk penolakan dan ancaman melalui respon vokal dalam bentuk verbal.

c. Anger

Anger merupakan emosi negatif yang disebabkan oleh harapan yang tidak terpenuhi dan bentuk ekspresinya dapat menyakiti orang lain serta dirinya sendiri. Beberapa bentuk anger adalah perasaan marah, kesal, sebal, dan bagaimana mengontrol hal tersebut. Termasuk di dalamnya adalah irritability, yaitu mengenai temperamental, kecenderungan untuk cepat marah, dan kesulitan mengendalikan amarah.

d. Hostility

Hostility yaitu tindakan yang mengekspresikan kebencian, permusuhan, antagonisme, ataupun kemarahan yang sangat kepada pihak lain. Hostility adalah suatu bentuk agresi yang tergolong covert (tidak kelihatan). Hostility mewakili komponen kognitif yang terdiri dari kebencian seperti cemburu dan iri terhadap orang lain dan kecurigaan seperti adanya ketidak percayaan serta kekhawatiran.

(5)

Menurut Sadli (dalam Adji, 2002) aspek-aspek perilaku agresif yaitu sebagai berikut:

a. Pertahanan diri

Pertahanan diri yaitu individu mempertahankan dirinya dengan cara menunjukkan permusuhan, pemberontakan, dan pengrusakan.

b. Perlawanan disiplin

Perlawanan disiplin yaitu individu melakukan hal-hal yang menyenangkan tetapi melanggar aturan.

c. Egosentris

Egosentris yaitu individu mengutamakan kepentingan pribadi seperti yang ditunjukkan dengan kekuasaan dan kepemilikan. Individu ingin menguasai suatu daerah atau memiliki suatu benda sehingga menyerang orang lain untuk mencapai tujuannya tersebut, misalnya bergabung dalam kelompok tertentu.

d. Superioritas

Superioritas yaitu individu merasa lebih baik daripada yang lainnya sehingga individu tidak mau diremehkan, dianggap rendah oleh orang dan merasa dirinya selalu benar sehingga akan melakukan apa saja walaupun dengan menyerang atau menyakiti orang lain.

e. Prasangka

Prasangka yaitu memandang orang lain dengan tidak rasional. f. Otoriter

(6)

Otoriter yaitu seseorang yang cenderung kaku dalam memegang keyakinan, cenderung memegang nilai-nilai konvensional, tidak bisa toleran terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya sendiri atau orang lain dan selalu curiga.

Menurut Schneiders (dalam Aman, 2004) aspek-aspek perilaku agresif yaitu sebagai berikut:

a. Otoriter

Otoriter yaitu orang memiliki ciri kepribadian kaku dalam memegang nilai-nilai konvensional dan tidak bisa toleransi terhadap kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri sendiri maupun orang lain.

b. Superior

Superior yaitu individu merasa yang paling baik dibanding dengan individu lain.

c. Egosentris

Egosentris yaitu individu mengutamakan keperluan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan diri sendiri seperti yang ditunjukan dengan kekuasaan dan kepemilikan.

d. Keinginan untuk menyerang baik terhadap benda maupun manusia

Hal ini yang dimaksudkan yaitu mempunyai kecenderungan untuk melampiaskan keinginannnya dan perasaannya yang tidak nyaman ataupun tidak puas pada lingkungan di sekitarnya dengan melakukan penyerangan terhadap individu ataupun benda lain di sekitarnya.

(7)

Berdasarkan aspek-aspek perilaku agresi yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek dari perilaku agresi menurut Buss dan Perry (1992) yaitu physical aggression, verbal aggression, anger dan Hostility. Selanjutnya aspek-aspek dari perilaku agresi menurut Sadli (dalam Adji, 2002) yaitu pertahanan diri, perlawanan disiplin, egosentris, superioritas, prasangka dan otoriter, serta aspek-aspek perilaku agresi menurut Schneiders (dalam Aman, 2004) yaitu otoriter, superior, egosentris dan keinginan untuk menyerang baik terhadap benda maupun manusia.

Dari aspek-aspek perilaku agresi yang telah dipaparkan diatas, maka peneliti akan mengacu pada aspek-aspek perilaku agresi menurut Buss dan Perry (1992), hal ini dikarenakan definisi di setiap ciri-cirinya lebih operasional sehingga lebih mudah dipahami dan lebih jelas untuk dijabarkan atau diamati dalam mengungkapkan adanya indikator-indikator perilaku agresi pada remaja dibandingkan dengan teori dari Sadli (dalam Adji, 2002) dan Schneiders (dalam Aman, 2004).

3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Perilaku Agresi

Menurut Sears, Freedman, dan Peplau (2009), menyatakan perilaku agresi disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu sebagai berikut:

a. Serangan

Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab perilaku agresi dan muncul dalam bentuk serangan verbal atau serangan

(8)

fisik. Serangan adalah gangguan yang dilakukan oleh orang lain. Pada umumnya orang akan memunculkan perilaku agresi terhadap sumber serangan. Berbagai rangsang yang tidak disukai juga akan menimbukan agresi.

b. Frustrasi

Frustrasi adalah gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan, frustrasi (keadaan tidak tercapainya tujuan perilaku) menciptakan suatu menciptakan suatu motif untuk agresi. Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan tertentu. Menurut Dollard, dkk (dalam Baron dan Byrne, 2005) mengemukakan hipotesis bahwa frustrasi menyebabkan agresi, hipotesis tersebut kemudian dijadikan postulat “agresi selalu frustrasi”.

Menurut Berkowitz (2003), terdapat sembilan faktor penyebab atau stimulus munculnya perilaku agresi, adalah sebagai berikut:

a. Frustasi

Frustrasi bisa mempengaruhi kemungkinan untuk melakukan serangan terbuka, mereka bisa menjadi agresi meskipun hanya menemui rintangan yang sifatnya legal atau tak sengaja. Dorongan agresi mungkin tidak selalu tampak mata, akan tetapi bisa juga rintangan yang tidak bertentangan dengan kaidah sosial menyebabkan kecenderungan agresi.

(9)

Perasaan negatif merupakan akar dari agresi emosional. Salah satu bentuk dari perasaan negatif adalah inferiority feeling. Inferiority feeling adalah suatu bentuk perasaan negatif terhadap dirinya sendiri (Jalaludin, 1977). Berkowitz (1995) yang mengatakan bahwa individu mengamuk baik secara verbal maupun secara fisik karena merasa terhina atau merasa harga dirinya tersinggung.

c. Pikiran atau kognitif

Penilaian mungkin tidak begitu penting, tetapi jelas bisa mempunyai pengaruh besar. Interpretasi untuk bisa menentukan apakah kejadian emosional menyenangkan atau tidak menyenangkan, seberapa kuat perasaan yang ditimbulkan dan apakah faktor penahan memainkan peranan. Dengan demikian, pikiran dapat mempengaruhi agresi seseorang dengan menentukan kejadian emosionalnya terlebih dahulu. Berkowitz (1995) menyatakan bahwa seseorang menjadi marah hanya ketika mereka berkeyakinan bahwa ada yang berbuat salah pada diri mereka atau sengaja mengancam diri mereka, dan kemudian mereka ingin menyakiti orang itu karena kemarahan yang dimiliki.

d. Pengalaman masa kecil

Pengalaman pada waktu masih kecil memiliki kemungkinan untuk menjadikan anak bertindak agresi emosional, sehingga waktu dewasa menjadi agresif dan anti sosial.

(10)

Teman merupakan salah satu agen sosialisasi yang dijumpai anak-anak dalam kehidupan dari waktu kecil hingga dewasa. Teman ini mengajari cara bertindak dalam situasi tertentu, dengan berperan sebagai model dan dengan memberi suatu penerimaan atau dukungan apabila mereka bertindak dengan cara yang dianggap pas.

f. Pengaruh kelompok (geng)

Dalam kelompok atau geng, anak-anak merasa dapat penerimaan dan status, mereka merasa penting dalam geng, sementara di tempat lain tidak berharga. Mereka juga mendapatkan dukungan bahwa pandangan dan sikap mereka bersama itu benar, bahkan bahaya yang mereka takuti dapat diatasi. Dukungan ini memainkan peran penting pada perilaku agresi anak. Seorang anak yang mengalami penyimpangan sosial mungkin tidak berani melanggar hukum, tetapi jika bersama teman-teman anggota geng, ia merasa berani dan aman.

g. Kondisi tidak menyenangkan yang diciptakan orangtua

Kondisi tidak menyenangkan ini dapat berupa memberikan sikap dingin, acuh, tidak konsisten terhadap apa yang diinginkan dari si anak, serta memberikan hukuman yang kejam jika si anak tidak mematuhi perintah. Dari kondisi tidak menyenangkan tersebut, dapat dipastikan bahwa anak akan menjadi relatif agresif apabila berada di luar lingkungan keluarga. h. Konflik keluarga

Banyak yang beranggapan bahwa banyak anak nakal merupakan korban penyimpangan sosial dari kondisi keluarga abnormal. Hal tersebut

(11)

dikarenakan mereka tidak hanya tumbuh dalam kemiskinan tetapi juga hanya mempunyai satu orang tua dan bukan dua sehingga mereka belajar untuk tidak menerima norma dan nilai-nilai tradisional masyarakat.

i. Pengaruh model

Pengaruh model terhadap anak juga bisa mempengaruhi kecenderungan agresi anak, tidak peduli apakah orang lain itu ingin ditiru atau tidak. Dalam psikologi, fenomena ini disebut dengan modelling dan mendefinisikannya sebagai pengaruh yang timbul ketika orang lain melihat orang lain (model) bertindak dengan cara tertentu dan kemudian meniru perilaku model.

Berdasarkan faktor-faktor yang telah dikemukakan oleh Sears, Freedman, dan Peplau (2009) dan Berkowitz (2003), maka variabel yang akan digunakan sebagai variabel independen adalah inferiority feeling hal ini dikarenakan perilaku agresi dipengaruhi oleh beberapa faktor dan salah satunya adalah inferiority feeling, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Smith, dkk (1995) yang mendukung teori perilaku agresi Adler. Perilaku agresi ini terjadi pada seseorang yang memiliki inferiority feeling karena tindak agresi ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk mencapai tujuan hidup mereka yaitu menuju superioritas. Hal ini juga dikemukakan oleh Adler (dalam Hall Hall & Lindzey, 1993) yang menyatakan bahwa orang yang mengalami perasaan negatif (inferiority feeling) akan mengkompensasikan perasaannya. Orang tersebut akan berusaha menutupi kelemahannya dengan berbagai cara

(12)

termasuk dengan cara yang negatif atau buruk seperti dengan melakukan perilaku agresi baik verbal maupun non-verbal.

B. Inferiority Feeling

1. Pengertian Inferiority Feeling

Menurut Adler (dalam Hall & Lindzey, 1993) inferiority feeling adalah perasaan-perasaan yang muncul sebagai akibat dari hambatan psikis dan sosial yang dirasakan secara subjektif dan perasaan-perasaan yang muncul dari kelemahan diri. Inferiority feeling merupakan suatu perasaan bahwa diri individu kurang atau rendah diri yang ada pada setiap diri individu karena pada dasarnya manusia diciptakan atau dilahirkan dengan keadaan lemah tak berdaya.

Menurut Suadirman (1986), inferioritas adalah keadaan seseorang yang merasakan dirinya dalam keadaan serba kurang, serba ketinggalan dan serba dibawah jika membandingkan dirinya dengan orang lain. Suryabrata (1990), inferiority feeling adalah adanya rasa diri yang kurang berharga atau kurang mampu dalam berbagai bidang kehidupan. Seseorang yang cacat seringkali berusaha mengkompensasikan kelemahan tersebut dengan cara memperkuatnya melalui latihan intensif. Perasaan-perasaan tersebut bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap bidang kehidupan.

Inferiority feeling adalah kondisi umum yang dimiliki oleh setiap orang bukan sebagai tanda dari kelemahan ataupun suatu tanda abnormal (dalam

(13)

Schultz, 1986). Jadi, inferiority feeling bukanlah tanda ketidakmampuan seseorang namun ini hanya suatu bentuk perasaan kekurangmampuan pada dirinya, dilanjutkan lagi oleh Adler (dalam Schultz, 1986) bahwa inferiority feeling adalah sumber dari semua kekuatan manusia. Adler (dalam Suryabrata, 2007) menyatakan bahwa inferiority feeling adalah rasa rendah diri yang timbul karena perasaan kurang berharga atau kurang mampu dalam penghidupan apa saja.

Inferiority feeling adalah bentuk perasaan negatif terhadap dirinya sendiri (Jalaludin, 1977). Konsep populer dari Adler dan menjadi dasar dalam psikologi individu, Inferiority feeling ada pada diri setiap individu tanpa terkecuali karena setiap manusia terlahir dengan inferiority feeling (merasa kurang mampu dan kurang kompeten) jika dibandingkan dengan orang dewasa Adler (Boeree, 2010) yang menyatakan bahwa setiap orang menderita inferioritas dalam bentuk yang berbeda-beda. Inferiority feeling ditandai dengan adanya perasaan tidak kompeten atau ketidakmampuan diri. Faktor-faktor yang menyebabkan Inferiority feeling menurut Paponoe (Lin, 1997) ialah: sikap orangtua (parental attitude), kekurangan fisik (physical defects), keterbatasan mental (mental limitations), dan kekurangan secara sosial (social disadvantage).

Kartono (2010) mengatakan bahwa inferiority feeling muncul sejak usia kanak-kanak yang umumnya perasaan ini tidak bisa diterima individu yang bersangkutan karena dirasakan sangat menghimpit dirinya dan menyiksa

(14)

batinnya, sehingga muncul dorongan-dorongan untuk menyelesaikan atau mengkompensasikan perasaan tersebut.

Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa inferiority feeling adalah perasaan-perasaan yang muncul sebagai akibat dari hambatan psikis dan sosial yang dirasakan secara subjektif dan perasaan-perasaan yang muncul dari kelemahan diri.

2. Aspek-aspek Inferiority Feeling

Lauster (1978) menyebutkan karakteristik remaja yang memiliki inferiority feeling adalah sebagai berikut:

a. Individu merasa bahwa tindakan yang dilakukan tidak adekuat. Individu tersebut cenderung merasa tidak aman dan tidak bebas bertindak, cenderung ragu-ragu dan membuang waktu dalam pengambilan keputusan, memiliki perasaan rendah diri dan pengecut, kurang bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan pihak lain sebagai penyebab masalahnya, serta pesimis dalam menghadapi rintangan.

b. Individu merasa tidak diterima oleh kelompoknya atau orang lain. Individu ini cenderung menghindari situasi komunikasi karena merasa takut disalahkan atau direndahkan, merasa malu jika tampil di hadapan orang. c. Individu tidak percaya terhadap dirinya dan mudah gugup. Individu ini

merasa cemas dalam mengemukakan gagasannya dan selalu membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain.

(15)

Fleming dan Courtney (dalam Robinson, Shaver, dan Wrightman, 1991) menjabarkan inferiority feeling yang mengindikasikan perasaan tidak mampu dalam lima aspek sebagai berikut:

a. Social confidence

Social confidence merupakan perasaan kurang pasti, merasa kurang bisa diandalkan, dan kurangnya rasa percaya pada kemampuan seseorang dalam situasi yang melibatkan orang lain. Faktor social confidence lebih mendekati pada umur dan pengalaman.

b. School Abilities

School Abilities merupakan perasaan tidak mampu atau tidak berdaya terhadap kualitas, kekuatan, daya kompetensi, kecakapan, keahlian, keterampilan, kesanggupan dalam melakukan tugas akademik.

c. Self Regard

Self Regard yaitu penghormatan terhadap dirinya sendiri yang rendah atau kurangnya perhatian dan pertimbangan terhadap kepentingan dan minatnya sendiri atau dengan pengertian lain self regard adalah persepsi individu terhadap dirinya.

d. Physical appearance

Individu dengan inferiority feeling sangat memperhatikan penampilannya, ia akan berusaha memperhatikan penampilan tubuhnya, ini merupakan salah satu bentuk untuk mengkompensasikan inferiority feeling miliknya.

(16)

Perasaan diri lebih lemah dalam hal kemampuan tubuh yang dimiliki serta potensi individu untuk melakukan performasi yang berkaitan dengan fisiknya dibandingkan teman atau kelompok sebayanya.

Berdasarkan aspek-aspek inferiority feeling yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek dari inferiority feeling menurut Lauster (1978) yaitu individu merasa bahwa tindakan yang dilakukan tidak adekuat, individu merasa tidak terima oleh kelompoknya atau orang lain dan individu tidak percaya terhadap dirinya dan mudah gugup. Selanjutnya aspek-aspek inferiority feeling menurut Fleming dan Courtney (dalam Robinson, Shaver dan Wrightman, 1991) yaitu social confidence, school abilities, self regard, physical appearance dan physical abilities.

Dari aspek-aspek inferiority feeling yang telah dipaparkan diatas, maka peneliti akan mengacu pada aspek-aspek inferiority feeling menurut Fleming dan Courtney (dalam Robinson, Shaver dan Wrightman, 1991), hal ini dikarenakan definisi di setiap ciri-cirinya lebih operasional dan aspek-aspek tersebut menjelaskan unsur-unsur psikologis yang terkandung dalam inferiority feeling sehingga lebih mudah dipahami dan lebih jelas untuk dijabarkan atau diamati dalam mengungkapkan adanya indikator-indikator

(17)

C. Hubungan antara Inferiority Feeling dengan Perilaku Agresi pada Remaja

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku agresi adalah perasaan negatif pada diri individu. Perilaku agresi akan muncul ketika seseorang mempunyai pikiran yang negatif mengenai orang lain. Perasaan negatif tersebut disebut sebagai Inferiority Feeling. Inferiority feeling adalah rasa rendah diri yang timbul karena perasaan kurang berharga atau kurang mampu dalam penghidupan apa saja Adler (dalam Schultz, 1986). Menurut Adler (dalam Boeree, 2010) menyatakan bahwa setiap orang menderita inferioritas dalam bentuk yang berbeda-beda. Inferiority feeling ditandai dengan adanya perasaan tidak kompeten atau kekurang mampuan diri.

Kartono (2010) mengatakan bahwa inferiority feeling muncul sejak kanak-kanak yang umumnya perasaan ini tidak bisa diterima individu yang bersangkutan karena dirasakan sangat menghimpit dirinya, menyiksa batin dan juga menyiksa batinnya sehingga memunculkan dorongan-dorongan untuk menyelesaikan atau mengkompensasikannya perasaan tersebut. Inferiority feeling merupakan salah satu komponen perasaan negatif yang sering terjadi pada setiap diri remaja, dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari remaja akan membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga hal tersebut akan menimbulkan pikiran yang negatif, serta remaja akan mengkompensasikan perasaannya tersebut menjadi perilaku agresi. Pada dasarnya seorang remaja memiliki tugas-tugas perkembangan antara lain untuk mencapai kemandirian emosional dan mampu meningkatkan kemampuan mengendalikan dirinya.

(18)

Inferiority feeling yang dimiliki remaja akan dikompensasikan melalui bentuk withdrawal atau menarik diri dan perilaku agresi seperti yang telah dikemukakan oleh Lin (1997), bahwa pengkompensasian inferiority feeling dalam diri seseorang yaitu dalam bentuk-bentuk dengan strategi menarik diri dan strategi perilaku agresi, pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Alwisol (2008) yang menyatakan bahwa pengkompensasian inferiority feeling dapat digolongkan dalam tiga cara yaitu dengan penyesalan, perilaku agresi dan menarik diri. Menurut Alwisol (2008) penggunaan perilaku agresi untuk pengkompensasian pada inferiority feeling ditujukan untuk melindungi harga dirinya yang rentan.

Apabila remaja mampu mengendalikan perasaan negatifnya inferiority feeling maka dirinya akan terhindar dari perilaku agresi yang dapat merugikan orang lain. Hal tersebut tentu tidak mudah bagi remaja, karena perasaan negatif tersebut muncul karena adanya stimulus-stimulus yang dimunculkan dari berbagai faktor. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa inferiority feeling mempunyai pengaruh yang besar dalam menimbulkan perilaku agresi. Menurut Fleming dan Courtney (dalam Robinson, Shaver, dan Wrightman, 1991) menjabarkan inferiority feeling yang mengindikasikan perasaan tidak mampu dalam lima aspek yaitu Social confidence, school abilities, self regard, physical appearance dan physical abilities.

Aspek yang pertama dari inferiority feeling yaitu Social confidence. Social confidence merupakan perasaan kurang pasti, merasa kurang bisa diandalkan, dan kurangnya rasa percaya pada kemampuan seseorang dalam situasi yang

(19)

melibatkan orang lain. Idealnya pada remaja mempunyai pemikiran yang positif terhadap dirinya dan percaya pada kemampuan diri sendiri, karena pada masa remaja akan lebih sering untuk bersosialisasi pada lingkungan sekitar. Sebagai contoh, seorang remaja yang mempunyai social confidence yang rendah maka remaja tersebut akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi terhadap kemampuan-kemampuan diri yang dimilikinya, remaja tersebut juga merasa bahwa dirinya adalah orang yang dapat diandalkan, dengan begitu remaja akan mempunyai pemikiran yang positif dan akan berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan tidak menyakiti orang lain. Hal ini juga diperkuat dengan adanya pernyataan yang menyatakan bahwa percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan dalam aktualisasi diri (eksplorasi segala kemampuan dalam diri), dengan percaya diri seseorang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri (Maslow dalam Iswidharmanjaya & Agung, 2004). Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang mampu untuk dilakukan, sehingga apa yang direncanakan akan dilakukan dengan keyakinan akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkannya.

Sedangkan seorang remaja yang memiliki social confidence yang tinggi maka remaja akan merasa tidak percaya diri, merasa bahwa individu tersebut tidak memiliki kemampuan dan juga tidak dapat diandalkan, sehingga hal tersebut akan membuat remaja mengkompensasikan perasaannya untuk mendapatkan perasaan yang baik dengan berbagai cara, salah satunya yaitu

(20)

dengan menyakiti orang lain untuk menuju diri yang superior. Terbentuknya rasa tidak percaya diri berawal dari kelemahan individu pada berbagai aspek kepribadiannya terutama yang berasal dari keluarga. Pemahaman negatif yang akan muncul pada diri seseorang maupun lingkungan sehingga individu meyakini bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan. Akibatnya perilaku dalam kehidupan pribadi dan sosialnya kurang baik. Hal ini juga dijelaskan oleh Hakim (2005), bahwa proses terbentuknya rasa tidak percaya diri adalah sebagai berikut:

a. Terbentuknya berbagai kekurangan atau kelemahan dalam berbagai aspek kepribadian seseorang yang dimulai dari kehidupan keluarga dan meliputi berbagai aspek seperti aspek mental, fisik, sosial atau ekonomi.

b. Pemahaman negatif seseorang terhadap dirinya sendiri yang cenderung selalu memikirkan kekurangan tanpa pernah meyakini bahwa dirinya juga memiliki kelebihan

c. Kehidupan sosial yang dijalani dengan sikap negatif, seperti rendah diri, suka menyendiri, lari dari tanggung jawab, mengisolasi dari kelompok dan reaksi negatif lainnya.

Aspek kedua yaitu School abilities. School abilities merupakan perasaan tidak mampu atau tidak berdaya terhadap kualitas, kekuatan, daya kompetensi, kecakapan, keahlian, keterampilan dan kesanggupan dalam melakukan tugas akademik. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki school abilities yang rendah dia akan merasa bahwa dia memiliki kemampuan tersendiri di dalam dirinya, dia akan menganggap bahwa dia seseorang yang cukup mampu untuk

(21)

menyelesaikan tugas akademiknya serta dia juga merasa bahwa dia memiliki daya kompetensi dan keterampilan yang perlu dikembangkan serta kecakapan yang cukup baik sehingga dia tidak akan melakukan persaingan sengit yang dapat menimbulkan pikiran negatif untuk menyakiti orang lain karena dia sudah cukup bangga akan dirinya dan kemampuannya. Berdasarkan hasil penelitian Fink dan Walsh (Dra. Desmita, M.Si : 2009) dapat disimpulkan bahwa konsep diri dan prestasi belajar siswa di sekolah mempunyai hubungan yang erat. Siswa yang memiliki konsep diri yang positif akan memperlihatkan prestasi yang baik di sekolah atau siswa yang berprestasi tinggi di sekolah memiliki penilaian diri yang tinggi, serta menunjukkan hubungan antar pribadi yang positif pula. Mereka juga akan memperlihatkan kemandirian dalam belajar sehingga tidak tergantung pada guru semata.

Sedangkan, pada remaja yang memiliki school abilities yang tinggi di dalam dirinya akan merasa bahwa dia tidak mampu bersaing dengan teman sebayanya, merasa tidak memiliki kekuatan, daya kompetensi, keterampilan dan kesanggupan dalam melakukan tugas akademik. Hal tersebut akan memunculkan pemikiran yang negatif pada remaja untuk dapat melakukan berbagai hal agar dia dapat mencapai pribadi yang lebih baik dibandingkan dengan teman sebayanya, karena pada usia remaja mereka akan melakukan persaingan kompetensi di lingkungan sekolahnya. Pada hal ini remaja dapat melakukan berbagai hal yang dapat menyakiti temannya dalam bentuk verbal maupun non-verbal untuk mendapatkan pemuasan batin dalam dirinya. Menurut Iswidharmanjaya dan Agung (2004), mengungkapkan bahwa seseorang yang

(22)

mempunyai rasa minder dalam kompetensi akademiknya maka dia akan melakukan berbagai hal sebagai berikut : a) tidak dapat menunjukkan kemampuan diri, b) kurang berprestasi dalam studi, c) malu-malu dan canggung, d) tidak berani mengungkapkan ide-ide, e) cenderung hanya melihat dan menunggu kesempatan, f) membuang-buang waktu dalam membuat keputusan, g) rendah diri bahkan takut dan merasa tidak aman, h) apabila gagal maka individu akan cenderung menyalahkan orang lain, i) suka mencari pengakuan dari orang lain.

Aspek yang ketiga adalah Self regard. Self regard yaitu penghormatan terhadap dirinya sendiri yang rendah atau kurangnya perhatian dan pertimbangan terhadap kepentingan dan minatnya sendiri. Menurut Jorfi, dkk (2010) self regard adalah persepsi individu terhadap dirinya. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki self regard yang rendah dia akan sangat memperhatikan dirinya, dia tidak akan memandang dirinya rendah, dan dia juga akan memperhatikan kepentingan dan minatnya. Hal tersebut tentu akan berdampak positif bagi diri individu tersebut karena dia mampu memberikan penghormatan kepada dirinya sendiri, sehingga hal tersebut akan menghindarkan diri individu dari perasaan yang negatif terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Menurut Branden (2007) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara harga diri yang sehat dengan karakter orang lain yang secara langsung mendukung pencapaian dan kebahagiaan seseorang. Harga diri yang sehat juga berhubungan dengan rasionalitas, realistis,

(23)

intuitif, kreatif, mandiri, fleksibel, kemampuan untuk mengelola perubahan, keinginan untuk mengakui kesalahan, kebaikan dan sikap kooperatif.

Sedangkan pada remaja yang memiliki self regard yang tinggi, dia akan memandang dirinya rendah, tidak mempunyai penghargaan tehadap dirinya sendiri dan tidak memberikan perhatian terhadap kepentingan dan minatnya sendiri. Hal tersebut akan memberikan dampak yang negatif bagi individu, karena hal ini akan membuat individu memiliki pemikiran yang negatif terhadap dirinya sehingga dia akan mencoba untuk melampiaskan perasaan negatifnya pada orang lain dengan berbagai macam cara. Hal ini juga diungkapkan oleh Branden (2007) bahwa seseorang yang memiliki harga diri yang tidak sehat maka individu tersebut akan berhubungan dengan ketidakrasionalan, tidak realistis, keras kepala, takut terhadap sesuatu yang baru, memberontak, mengeluh, bersikap berlebihan atau memusuhi orang lain.

Aspek yang keempat adalah Physical appearance. Individu dengan inferiority feeling sangat memperhatikan penampilannya, ia akan berusaha memperhatikan penampilan tubuhnya, hal ini merupakan salah satu bentuk untuk mengkompensasikan inferiority feeling miliknya. Sebagai contoh individu yang memiliki physical appearance yang rendah maka ia akan memperhatikan penampilannya namun tidak berlebihan, karena ia mempunyai cara pandang yang positif mengenai dirinya sendiri, penampilan maupun situasi lingkungan sekitar. Dengan begitu hal tersebut akan membawa dampak yang positif bagi diri individu tersebut dan juga orang lain. Menurut Willis (2005), penerimaan diri yang baik adalah kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar

(24)

terhadap lingkungannya, sehingga remaja merasa puas terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Sedangkan seseorang yang memiliki physical appearance yang tinggi ia akan sangat memperhatikan penampilannya, ia akan berusaha memperhatikan penampilan tubuhnya, hal ini merupakan salah satu bentuk untuk mengkompensasikan inferiority feeling miliknya. Individu tersebut akan cenderung merasa tidak percaya diri pada setiap saat karena penampilan fisiknya. Hal ini tentu menjadi salah satu aspek yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berperilaku agresi baik secara verbal maupun non-verbal.

Aspek yang kelima adalah Physical abilities. Physical abilities merupakan perasaan diri lebih lemah dalam hal kemampuan tubuh yang dimiliki serta potensi individu untuk melakukan performasi yang berkaitan dengan fisiknya dibandingkan dengan teman atau kelompok sebayanya. Sebagai contoh seseorang yang memiliki physical abilities yang rendah dalam dirinya tidak akan berpikir bahwa dirinya lemah dan tidak memiliki potensi, ia justru akan berpikir bahwa ia memiliki potensi yang harus dikembangkan sehingga ia akan mengambil setiap kesempatan yang ada untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan seseorang yang memiliki physical abilities yang tinggi di dalam dirinya dia tidak akan merasa percaya diri akan kemampuan tubuh serta potensi yang dimilikinya, individu tersebut akan membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa bahwa ia tidak mampu melakukan berbagai hal yang membutuhkan kemampuan fisiknya. Hal tersebut akan menjadi aspek yang berpengaruh bagi seseorang untuk melakukan perilaku

(25)

agresi baik verbal maupun non-verbal pada teman sebayanya karena ia merasa tidak berharga dan harus menuju superior.

Beberapa aspek di atas akan saling berinteraksi, sehingga inferiority feeling atau perasaan negatif pada remaja akan muncul. Dampak dari inferiority feeling dalam diri individu yaitu memunculkan adanya perilaku agresi pada remaja. Sehingga apabila inferiority feeling pada diri remaja rendah maka tidak akan menimbulkan perilaku agresi, namun apabila inferiority feeling pada remaja maka akan menimbulkan perilaku agresi yang dapat menyebabkan kerugian bagi berbagai pihak.

Hasil penelitian Hardianto (2009) mengatakan bahwa salah satu faktor seseorang melakukan kekerasan dalam berpacaran adalah inferiority feeling. Inferiority feeling yang dirasa semakin kuat pada saat orang tersebut sudah merasa tidak mampu menghadapi tekanan, maka inferiority feeling tersebut dikompensasi menjadi perilaku agresi. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Ulfah (2010) didapati bahwa anak jalanan perempuan yang terlibat pelacuran juga mengkompensasikan inferiority feeling yang dimiliknya menuju superioritas dengan perilaku agresi yaitu dengan cara mengadu domba orang-orang yang menyukai dirinya.

(26)

D. Hipotesis

Berdasarkan uraian-uraian yang terdapat dalam landasan teori di atas, maka perumusan hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara inferiority feeling dengan perilaku agresi pada remaja. Hal ini dikarenakan semakin tinggi inferiority feeling pada remaja maka cenderung tinggi pula perilaku agresi yang dihasilkan, sebaliknya jika semakin rendah inferiority feeling pada remaja maka cenderung rendah perilaku agresi yang dimunculkan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :