MEKANISME PERTAHANAN DIRI WANITA DARI ORANGTUA YANG BERCERAI DALAM MENJALIN KEINTIMAN DENGAN PRIA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

241 

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh Celeste Urmeneta

NIM : 009114101

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

Perceraian orangtua memberikan trauma dan pengaruh jangka panjang pada perkembangan peran jender anak perempuan. Anak perempuan memiliki kesulitan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya karena adanya pandangan negatif terhadap pria sebagai akibat dari perceraian orangtuanya. Pada saatnya anak perempuan tersebut akan mencapai usia dewasa awal dimana dirinya dituntut untuk menjalani tugas-tugas perkembangan pada fase usia tersebut. Salah satu tugas perkembangan terpenting di usia dewasa awal adalah menjalin keintiman dengan lawan jenis agar kelak mampu memilih pasangan hidup dan membangun rumah tangga. Tugas perkembangan ini mengangkat kembali trauma akan perceraian orangtuanya dan akan memberikan kecemasan. Salah satu cara untuk meredakan kecemasan tersebut adalah dengan melalukan mekanisme pertahanan diri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh wanita dengan latar belakang orangtua yang bercerai ketika menjalin keintiman dengan pria.

Subyek dalam penelitian ini adalah 2 wanita berusia 23 tahun dan 25 tahun yang memiliki pengalaman perceraian orangtua sebelum keduanya memasuki masa remaja. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan 2 alat tes proyektif, yaitu TAT dan tes Grafis. Metode ini dipilih untuk dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang bersifat subconscious (tidak disadari), terutama mekanisme pertahanan diri dari subyek.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subyek melakukan mekanisme pertahanan diri ketika menjalin hubungan dengan keintiman dengan pria. Mekanisme pertahanan diri yang dilakukan merupakan respon dari agresi emosi atas kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, dimana kebutuhan-kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tertentu dari orangtua terutama ayah, dan akibat dari perceraian orangtua.

Kata kunci: Mekanisme Pertahanan Diri, perceraian orangtua, masa dewasa awal, tugas perkembangan.

(5)

Parental divorced gives trauma and long term effect on gender development to children especially girls. These girls will undergo difficulty to relate with boys because of the negative point of view on men as a result from the separation of their parents. In time, these girls will reach the beginning of their adulthood where they have to face the developmental tasks on that specific fase. One of the important tasks that they have to undergo is to build intimacy with men so that they could choose potential partner in preparation to married life. This task would bring back the traumatic experience of their parents’ separation and will give them anxiety. One of the ways to overcome this anxiety is doing self defense mechanisms. Therefore, the objective of this research is to give broad picture of the defense mechanisms which is done by women who experienced parental divorced in relating intimacy to men.

The participants in this research are 2 women aged 23 and 25 years old who experienced parental divorced before they reach their teenage life. This research is a descriptive qualitative research, and the methods used to gather the data needed are interviews and 2 projective tests, TAT and Grafis. These methods were chosen to reveal subconscious experiences, especially the defense mechanisms of the participants.

The result of this research shows that both participants did defense mechanisms in their intimate relationship with men. The defense mechanisms done by both participants were as a result of their responses to unfulfilled needs, where these needs were the result of the unfulfilled needs from their parents, especially from father, and also as the effect from their parents’ separation.

Key words: defense mechanisms, parental divorced, adulthood, and developmental tasks.

(6)
(7)

Terima kasih untuk Papa dan Mama, yang terus memberikan kasih dan sayang, dan dukungan yang tak pernah usai. Untuk abangku Phidias, kakak iparku Shinta, dan keponakanku Dennis, serta dua adikku Fernando dan Emelyn, terima kasih atas segala makna yang kalian berikan.

For Lola in heaven, I’m so sorry that I failed to give you the chance to witness that I finally made it.

My beloved, Didik Dwi Budi Saputro, thank you so much for everything. Terima kasih untuk ibu Ari atas kesabarannya dalam membimbing, untuk ibu Agnes dan mbak Tia atas bantuannya dalam proses pengerjaan karya ini. Terima kasih untuk bapak Minto yang tidak pernah lupa untuk memberikan “teguran”. Terima kasih juga untuk Mas Gandung, mbak Nanik, pak Giek, mas Doni dan mas Muji atas semua bantuan yang telah diberikan. Tidak lupa terima kasih saya untuk ibu Sylvi atas pengertian yang luar biasa.

Terima kasih sebesar-besarnya pada kedua subyek penelitian dalam karya ini, YD dan GDA, tanpa kesediaan kalian untuk berpartisipasi karya ini akan terlalu sulit untuk terelialisasikan.

Tidak terlupakan terima kasih untuk Pipit dan mas Bagus, Semedi crew and partners (yang sekarang dan yang telah tergantikan), Seruni crew, dan keluarga besar Wisma Bahasa khususnya Wisma Bahasa English Division. Terima kasih kalian telah menjadi teman, adik, kakak, dan yang terpenting telah menjadi sahabat disaat susah dan senang.

Penulis

(8)
(9)

HALAMAN PENGESAHAN ……….. iii

ABSTRAK ……… iv

ABSTRACT ………... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ………. vi

KATA PENGANTAR ………..……….……….. vii

PENYATAAN KEASLIAN KARYA ………..………. viii

DAFTAR ISI ………... ix

DAFTAR SKEMA ………..………... xii

DAFTAR TABEL ………... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ………...……….... xiv

BAB I : PENDAHULUAN ……… 1

A. Latar Belakang Masalah ………... 1

B. Batasan Masalah ………... 6

C. Tujuan Penelitian ………. 7

D. Manfaat Penelitian ………... 7

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ………..………... 8

A. Wanita ……….. 8

1. Batasan Wanita ………. 8

2. Pengertian Usia Dewasa Awal ………. 8

3. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal ……….…………... 9

B. Keintiman ………... 11

1. Pengertian Keintiman ………. 11

2. Nilai Penting Keintiman ………. 12

3. Keintiman Dengan Lawan Jenis ………. 12

C. Perceraian Orangtua ………... 13

1. Pengertian Perceraian Orangtua ………. 13

(10)

2. Jenis-jenis Mekanisme Pertahanan Diri ………. 18

E. Pengukuran Mekanisme Pertahanan Diri ………... 23

1. Wawancara ………. 23

2. TAT (Thematic Apperception Test) ………... 25

3. Tes Grafis ………... 30

F. Mekanisme Pertahanan Diri Wanita dari Orangtua yang Bercerai dalam Menjalin Keintiman dengan Pria .……….. 33

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ……….. 38

A. Jenis Penelitian ………... 38

B. Batasan Istilah ……… 38

C. Subyek ……… 41

D. Metode Pengumpulan Data ……… 42

E. Analisis Data ……….. 45

F. Keabsahan Data Penelitian ………. 49

BAB IV : PELAKSANAAN PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN ..….. 53

A. Pelaksanaan Penelitian ………... 53

B. Hasil Penelitian ……….. 55

1. Subyek 1 ………. 55

a. Penyajian Data Subyek 1 ……… 55

b. Analisis Data Subyek 1 ……….. 67

2. Subyek 2 ………. 72

a. Penyajian Data Subyek 2 ……… 72

b. Analisis Data Subyek 2 ……….. 79

C. Pembahasan ……… 85

BAB V : KESIMPULAN & SARAN ……… 107

A. Kesimpulan ……….. 107

B. Saran ………. 108

(11)
(12)

Skema 2 : Dinamika Mekanisme Pertahanan YD ……...………. 95

Skema 3 : Dinamika Mekanisme Pertahanan GDA ………...…..… 101

Skema 4 : Hasil Penelitian ... 106

(13)

Tabel 2 : Ringkasan Hasil Interpretasi Grafis YD ...………....64

Tabel 3 : Mekanisme Pertahanan Diri YD Berdasar Hasil T.A.T ...………… 67

Tabel 4 : Uraian Mekanisme Pertahanan Diri YD ...……… 68

Tabel 5 : Mekanisme Pertahanan Diri GDA Berdasar Hasil Wawancara ... 76

Tabel 6 : Ringkasan Hasil Interpretasi Grafis GDA ... 77

Tabel 7 : Mekanisme Pertahanan Diri GDA Berdasar Hasil T.A.T ... 79

Tabel 8 : Uraian Mekanisme Pertahanan Diri GDA ... 79

Tabel 9 : Rekapitulasi Hasil Penelitian YD dan GDA ... 82

(14)

Lampiran 2 : Tabel Panduan Pertanyaan Wawancara ... 116

Lampiran 3 : Tabel Transkrip Verbatim Wawancara Subyek ... 118

Lampiran 4 : Gambar tes Grafis Subyek 1: BAUM, DAP, dan HTP ... 161

Lampiran 5 : Hasil TAT Subyek 1 ... 164

Lampiran 6 : Tabel Transkrip Verbatim Wawancara Subyek 2 ... 180

Lampiran 7 : Gambar tes Grafis Subyek 2: BAUM, DAP, dan HTP ... 215

Lampiran 8 : Hasil TAT GDA Subyek 2 ………... 218

(15)

A. Latar Belakang Masalah

Ketika seorang wanita memasuki usia dewasa awal, seperti pada

tahap-tahap kehidupan sebelumnya, dia akan dihadapkan pada sekumpulan tugas

perkembangan. Tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau

sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan

menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam

melaksanakan tugas-tugas berikutnya, namun bila gagal, menimbulkan rasa tidak

bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya (Havighurst

dalam Hurlock, 1980).

Menurut Hurlock (1980), tugas-tugas perkembangan di usia dewasa awal

dititikberatkan pada aspek karier dan membina sebuah hubungan sosial yang lebih

berarti. Pada aspek karier individu (wanita maupun pria) diharapkan dapat meniti

sebuah pekerjaan yang dapat mendukung gaya hidup mereka kelak. Sedangkan

pada aspek hubungan sosial individu diharapkan mampu membangun sebuah

keintiman (intimacy) dengan lawan jenis, agar kelak dapat memilih pasangan hidup dan membangun rumah tangga. Yang dimaksud dengan keintiman adalah

kemampuan untuk membangun sebuah kedekatan dan hubungan cinta (Erikson

dalam Halonen dan Santrock, 1996).

Walaupun tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan tugas yang sama

pentingnya, tugas-tugas tersebut belum tentu dapat berjalan beriringan dengan

(16)

seimbang. Hurlock (1980) menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai terjun

dalam dunia karier orang dewasa, hubungan dengan teman-teman kelompok

sebaya masa remaja menjadi renggang. Persaingan dan keinginan untuk maju

dalam karier membuat individu mencurahkan sebagian besar tenaga dalam hal ini,

yang menyebabkan sangat berkurangnya waktu untuk sosialisasi yang dibutuhkan

dalam membina keintiman.

Bagi seorang wanita, berkurangnya intensitas dalam menjalin keintiman

dapat merupakan masalah yang lebih besar dibandingkan dengan seorang pria.

Hal tersebut dikarenakan hubungan-hubungan yang terjalin di kalangan wanita

lebih menunjukkan keintiman daripada hubungan-hubungan yang terjalin di

kalangan pria (Antonucci dalam Hayer dan Roodin, 2003).

Penjelasan di atas menyatakan bahwa karier memberikan pengaruh dalam

perkembangan keintiman, terutama dengan lawan jenis. Namun karier bukanlah

satu-satunya hal yang memberikan pengaruh demikian. Santrock (2003)

menuturkan bahwa hubungan pernikahan orangtua mempengaruhi pandangan

remaja putri dalam membentuk hubungan kencan dengan lawan jenis.

Olmstead beserta beberapa peneliti lainnya berpendapat bahwa anak-anak

dari orangtua yang bercerai beresiko lebih besar untuk memiliki perasaan

kesepian (loneliness) ketika dewasa dibandingkan dengan anak-anak dari orangtua yang tidak bercerai (Taylor, Peplay, Sears, 2000). Perasaan kesepian (loneliness) ini menurut Santrock (2003) dapat mempengaruhi ketrampilan sosial seseorang. Ia

menjelaskan bahwa individu yang kesepian cenderung tidak memiliki kemampuan

(17)

Agus (dalam Anggraini, Alia: Pesona Muslimah, Desember 2004)

mengemukakan bahwa perceraian orangtua mengakibatkan kecemasan pada anak.

Hal ini dapat menjadi trauma akan pernikahan, pertengkaran, dan merasa takut

gagal dan takut berhubungan dengan lawan jenis ketika anak dewasa.

Kartono (1992) menjabarkan bahwa perceraian orangtua dan

dipisahkannya anak dari ayah merupakan pengalaman traumatis masa

kanak-kanak yang menyebabkan gangguan-gangguan neurotis pada masa pra-pubertas

anak perempuan. Gangguan-gangguan neurotis yang dimaksud adalah

kecemasan-kecemasan, rasa rendah diri, dan rasa tidak mampu melaksanakan tugas-tugas

hidup.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Udry dan Wallerstein

mengungkapkan bahwa remaja putri yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat

perceraian memiliki kesulitan untuk berinteraksi dengan teman lawan jenis seusia

mereka. Sementara itu menurut sebuah observasi yang dilakukan oleh Stevenson

dan Black anak perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat perceraian

mempunyai masalah jangka panjang, terutama dalam perkembangan peran gender

(Vasta, Haith, Miller, 1995).

Seperti yang telah dijelaskan diatas, perceraian orang tua diikuti dengan

ketidakhadiran ayah yang terjadi di masa kanak-kanak ternyata memberikan

dampak yang sedemikian besar dalam perkembangan keintiman dengan lawan

jenis dalam kehidupan seorang wanita, bahkan sejak usia remaja. Namun

demikian tugas-tugas perkembangan yang merupakan sekelompok harapan dari

(18)

Teori psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud mengatakan

bahwa pengalaman traumatis di dalam keluarga yang terjadi di masa kanak-kanak

dapat menimbulkan konflik psikologis dan kecemasan-kecemasan dalam

kehidupan individu (Pervin dan John, 1997; Taylor, Peplay, Sears, 2000).

Kecemasan merupakan pengalaman emosional menyakitkan yang menyebabkan

munculnya perasaan terancam atau tidak aman bagi seseorang (Pervin dan John,

1997), karenanya individu secara tidak sadar (unconscious) akan melakukan mekanisme pertahanan diri (defense mechanisms) untuk melindungi dirinya dari kecemasan tersebut (Pervin dan John, 1997; Santrock, 2003).

Freud mengemukakan 3 sistem pokok yang membentuk kepribadian dalam

teori psikoanalisis, yaitu id, ego, dan superego. Ketiga sistem kepribadian tersebut memiliki fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamisme, dan mekanisme

masing-masing, namun ketiganya berinteraksi dengan erat satu sama lain (Hall

dan Lindzey, 1993).

Freud menjelaskan bahwa id merupakan sistem kepribadian yang bersifat tidak sadar dan tidak memiliki kontak dengan kenyataan. Id bekerja menggunakan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu bahwa id selalu mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Sama seperti id, superego juga bersifat tidak sadar dan tidak memiliki kontak dengan kenyataan. Superego bertanggung jawab untuk membangun sistem moral dalam kepribadian, dan selalu

(19)

berusaha untuk menyelaraskan pemenuhan kenikmatan bagi individu dengan

nilai-nilai dalam masyarakat (Halonen dan Santrock, 1996).

Freud menjelaskan lebih lanjut bahwa kecemasan, yang telah disebutkan

sebelumnya, terbentuk karena adanya konflik antara id dan superego. Kecemasan ini kemudian berperan sebagai sinyal bahaya bagi ego agar dapat bertindak (Pervin dan John, 1997). Apabila ego tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional, maka ego akan menggunakan cara-cara yang tidak realistis yang disebut mekanisme pertahanan diri (Hall dan Lindzey, 1993).

Mekanisme pertahanan diri ini dikatakan tidak realistis karena ego akan menyangkal, memalsukan, atau mendistorsi/merusak realitas/kenyataan (Hall dan

Lindzey, 1993; Santrock, 2003).

Seperti yang telah dikemukakan oleh Agus (dalam Aggraini, Alia: Pesona

Muslimah, Desember 2004), perceraian orangtua mengakibatkan kecemasan pada

anak yang dapat menjadi trauma akan pernikahan dan memberikan perasaan takut

gagal dan takut berhubungan dengan lawan jenis ketika anak dewasa. Ketika anak

perempuan tumbuh menjadi remaja, perasaan takut gagal dan takut berhubungan

dengan lawan jenis tersebut ditunjukkan dengan kesulitannya berinteraksi dengan

teman lawan jenis seusianya (Udry dan Wallerstein dalam Vasta, Haith, Miller,

1995).

Pada saatnya remaja perempuan ini akan memasuki usia dewasa awal

dimana ia akan dituntut untuk membangun sebuah keintiman dengan lawan jenis,

yang merupakan salah satu tugas perkembangan terpenting di fase ini (Hurlock,

(20)

(Hurlock, 1980), sehingga sudah selayaknya bila individu memenuhi tugas-tugas

perkembangan yang ada karena itu yang dinilai benar. Konsep ini sejalan dengan

konsep yang digunakan oleh superego yang selalu mempertimbangkan sesuatu dengan penilaian baik atau buruk dan selaras dengan nilai-nilai dalam masyarakat

(Halonen dan Santrock, 1996).

Perasaan takut gagal dan takut berhubungan dengan lawan jenis (pria)

sebagai dampak dari kecemasan atas perceraian orangtuabertemu denganharapan

masyarakat untuk membangun keintiman sebagai pemenuhan tugas

perkembangan akan membentuk konflik yang menimbulkan kecemasan bagi ego. Ego menemui kesulitan dalam menyelaraskan 2 hal tersebut secara bersamaan, dan untuk menanggulanggi hal ini ego akan melakukan mekanisme pertahanan diri.

Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti bermaksud untuk menggambarkan

mekanisme pertahanan diri yang digunakan oleh wanita dari orangtua yang

bercerai dalam menjalani tugas perkembangannya menjalin keintiman dengan

pria.

B. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah pada penggambaran

mekanisme pertahanan diri wanita dari orangtua yang bercerai dalam menjalin

(21)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mekanisme

pertahanan diri yang dilakukan oleh wanita dari orangtua yang bercerai dalam

menjalin keintiman dengan pria.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Sebagai informasi yang dapat memperkaya wawasan dan pemahaman

tentang mekanisme pertahanan diri serta penyajian fakta dan pengetahuan

di bidang psikodinamika bagi para peneliti maupun civitas akademika

pada umumnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi para orangtua, penelitian ini diharapkan mampu menjelaskan

dampak dari perceraian bagi kehidupan anak perempuan pada

perkembangan hubungan interpersonal, terutama dalam membina

keintiman dengan pria pada saat anak dewasa.

b. Hasil dari penelitian ini juga dapat memberikan masukan bagi

anak-anak perempuan dan wanita-wanita dari orangtua yang bercerai agar

memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme

pertahanan diri yang muncul ketika mereka menjalin keintiman dengan

(22)

A. Wanita

1. Batasan Wanita

Wanita adalah sebutan untuk perempuan dewasa (Salim dan Salim, 1991).

Masa dewasa menurut Hurlock (1980) dibagi menjadi 3, yaitu: masa dewasa

dini/awal, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut/usia lanjut. Ketiga

rentang usia tersebut memiliki ciri-ciri dan tugas perkembangannya

masing-masing.

Penelitian ini membatasi istilah wanita pada wanita usia dewasa awal.

Pengertian dan tugas perkembangan dewasa awal tidak membedakan antara

wanita dan pria, karenanya penjelasan mengenai pengertian dan tugas

perkembangan dewasa awal dalam penelitian ini menggunakan teori yang

berlaku bagi kedua jenis kelamin.

2. Pengertian Usia Dewasa Awal

Mappiare (1983) memberikan pengertian masa dewasa dipandang dari 3

sudut pandang: sudut pandang hukum, pendidikan, dan biologis.

a. Secara hukum masa dewasa dimulai sejak seseorang menginjak usia 21

tahun (meskipun belum menikah) atau sejak seseorang menikah (meskipun

belum berusia 21 tahun), dan telah dapat dituntut tanggung jawab atas

perbuatan-perbuatannya.

(23)

b. Pada sudut pandang pendidikan, masa dewasa merupakan masa dicapainya

keemasan kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil ajar latih yang

ditunjang kesiapan.

c. Secara biologis masa dewasa adalah suatu keadaan tumbuhnya

ukuran-ukuran tubuh dan mencapai kekuatan maksimal serta siap “berproduksi”.

Ketiga pandangan atas pengertian masa dewasa diatas menekankan pada

titik bermulanya masa dewasa, karenanya dapat pula dikatakan bahwa

ketiganya menjelaskan pengertian dari usia dewasa awal. Selain ketiga

pengertian yang telah dijelaskan ada pula pengertian yang hanya membatasi

rentang usia dari usia dewasa awal. Levinson menjelaskan bahwa yang

dimaksud dengan usia dewasa awal adalah rentang usia antara 22 hingga 40

tahun (Hayer dan Roodin, 2003).

Untuk kepentingan penelitian ini, yang dimaksud dengan wanita usia

dewasa awal adalah wanita yang berusia antara 21 hingga 30 tahun, belum

menikah, sedang menjalani/telah menyelesaikan pendidikan S1, atau sudah

bekerja.

3. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal

Becker menyatakan bahwa masa dewasa awal merupakan masa

penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru, dan harapan-harapan

sosial yang baru. Individu diharapkan memainkan peran-peran baru dalam

berbagai hal, seperti sebagai suami/istri, orang tua dan sebagai pemimpin

(24)

dalam memelihara peranan-peranannya yang baru tersebut (Mappiare, 1983).

Harapan-harapan tersebut oleh Hurlock disebut sebagai tugas perkembangan

(1980). Tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar

suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan

menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam

melaksanakan tugas-tugas berikutnya, namun bila gagal, menimbulkan rasa

tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya

(Havighurst dalam Hurlock, 1980). Berdasarkan pengertiannya, keberhasilan

individu dalam menjalani tugas perkembangan dalam periode tertentu

dipengaruhi oleh berhasil atau tidaknya individu tersebut menjalani tugas

perkembangan di periode sebelumnya. Dengan demikian, dapat dikatakan

bahwa keberhasilan individu dalam menjalani tugas perkembangan dewasa

awal dipengaruhi oleh keberhasilannya melewati tugas perkembangan pada

masa remaja. Berikut adalah 8 tugas perkembangan untuk usia dewasa awal

menurut Hurlock: a. Mulai bekerja

b. Memilih pasangan

c. Belajar hidup dengan tunangan

d. Mulai membina rumah tangga

e. Mengasuh anak

f. Mengelola rumah tangga

g. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara

(25)

Dari kedelapan tugas perkembangan diatas, penelitian ini hanya akan

menyoroti tugas-tugas pada aspek hubungan sosial. Menurut Hurlock (1980)

tugas-tugas perkembangan dewasa awal yang berhubungan dengan aspek

hubungan sosial ditekankan pada kemampuan individu untuk membangun

sebuah keintiman (intimacy) dengan lawan jenis agar kelak dapat memilih pasangan hidup dan membangun rumah tangga.

B. Keintiman

1. Pengertian Keintiman

Keintiman, yang juga dikenal dengan istilah intimasi (intimacy), adalah keadaan atau perasaan dimana setiap orang dalam sebuah hubungan memiliki

keinginan untuk membuka diri (self-disclose) dan mengekspresikan perasaan-perasaan dan informasi penting pada orang yang lain (Lefton, 2000). Erikson

menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keintiman adalah kemampuan untuk

membangun sebuah kedekatan dan hubungan cinta (Halonen dan Santrock,

1996).

Sternberg mengemukakan bahwa keintiman, yang diartikan sebagai

perasaan akan kedekatan emosional, merupakan salah satu komponen dari

cinta, selain komitmen, dan gairah (passion) (Lefton, 2000). Namun keintiman muncul tidak hanya dalam hubungan percintaan, tapi juga dalam hubungan

pertemanan (Gerrig & Zimbardo, 2002). Untuk kepentingan penelitian ini yang

(26)

sebuah kedekatan emosional, membuka diri dan mengekspresikan

perasaan-perasaan dan informasi penting pada pria, dan hubungan cinta dengan pria.

2. Nilai Penting Keintiman

Keintiman memiliki nilai penting dalam pertumbuhan setiap individu.

Erikson menyatakan bahwa keintiman menjadi salah satu tugas dalam masa

dewasa (Gerrig & Zimbardo, 2002), yang bahkan merupakan sebuah syarat

untuk kesehatan psikologis di periode hidup tersebut (Ishii-Kuntz dalam Gerrig

& Zimbardo, 2002). Menurut Erikson keintiman adalah krisis hidup pada masa

dewasa awal yang jika tidak berkembang akan menyebabkan individu

mengalami isolasi (Santrock, 1995). Yang dimaksud dengan isolasi adalah

keadaan dimana individu cenderung menghindari hubungan karena ia tidak mau

melibatkan diri dalam keintiman (Hall dan Lindzey, 1993). Kesuksesan atau

kegagalan dalam menjalin keintiman bergantung pada pengalaman-pengalaman

di fase-fase yang lebih awal selain situasi saat ini (Lemme, 1995).

3. Keintiman dengan Lawan Jenis

Menurut Dindia dan Allen, keintiman merupakan hal yang membedakan

hubungan-hubungan yang dibangun oleh pria dan wanita (Gazzaniga dan

Heatherton, 2003). Namun hanya ada sedikit penelitian mengenai hubungan

intim diluar pernikahan (Lefton, 2000).

Pria dan wanita memiliki standart yang berbeda dalam menilai hubungan

yang intim. Pria mendefinisikan aktifitas mereka dengan teman pria lainnya

sebagai sesuatu yang intim, sedangkan wanita mendefinisikan intimasi sebagai

(27)

Ada stereotip yang mengemukakan bahwa pria memiliki kesulitan dalam

membentuk hubungan intim, dimana sebaliknya wanita dinilai lebih mampu

dalam bidang ini (Brannon, 1996). Hal tersebut dikarenakan wanita cenderung

untuk mengungkapkan informasi personal pada teman sesama jenis dan teman

lawan jenis mereka dibandingkan pria (Dindia & Allen dalam Gazzaniga dan

Heatherton, 2003).

Donald O’Meara mengungkapkan adanya kesulitan-kesulitan yang

mendasari hubungan dari jenis kelamin yang berbeda. Salah satunya adalah

bagaimana pria dan wanita memaknai keterikatan emosi. Hadirnya intimasi

dalam sebuah hubungan merupakan nilai yang dianggap penting oleh wanita.

Sedangkan pria sebisa mungkin menghindari intimasi, namun menganggap

penting berbagi aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain (Gazzaniga

dan Heatherton, 2003).

Walau demikian Monsour menjelaskan bahwa hubungan beda jenis

kelamin memberikan beberapa aspek positif bagi ke dua belah pihak.

Pertemanan lawan jenis mengakomodasi pengekspresian diri, kebersamaan,

dan keintiman, dan bahwa pertemanan lawan jenis memberikan validasi

keatraktifan dari lawan jenisnya (Monsour dalam Gazzaniga dan Heatherton,

2003).

C. Perceraian Orangtua

1. Pengertian Perceraian Orangtua

(28)

perceraian orangtua dapat diartikan sebagai perpisahan antara ayah dan ibu atau

berakhinya pernikahan orangtua yang disahkan secara hukum. Dalam penelitian

ini perceraian orangtua adalah retaknya hubungan pernikahan orangtua yang

diikuti dengan perpisahan ibu dan ayah.

2. Dampak Perceraian Orangtua terhadap Perkembangan Keintiman dengan Pria dalam Pertumbuhan Anak Perempuan

Perceraian orangtua memberikan pengaruh jangka panjang bagi

pertumbuhan anak. Tekanan emosi yang berkelanjutan dan penurunan prestasi

sekolah yang diakibatkan oleh perceraian tersebut akan memberikan kesulitan

penyesuaian ketika anak memasuki masa dewasa awal (Chase-Lansdale,

Cherlin, & Kiernan dalam Berk, 2000). Bagi anak perempuan, pengaruh jangka

panjang yang paling kuat berhubungan dengan perilaku heterosexual. Mereka

meningkat dalam aktivitas seksual semasa remaja, mengalami kehamilan pada

masa remaja, dan resiko akan perceraian di masa dewasa (Chase-Lansdale,

Cherlin, & Kiernan; Hetherington dalam Berk, 2000).

Santrock (2003) menjelaskan bahwa remaja perempuan yang berasal dari

keluarga yang bercerai dan tumbuh dalam situasi dimana ia harus menyaksikan

pertengkaran setiap saat memiliki kemungkinan untuk mengalami

kejadian-kejadian yang tak jauh berbeda dalam hubungan kencannya dengan pria. Ia

akan menghadapi situasi dimana ia akan sangat ‘tenggelam’ dalam hubungan

tersebut sebagai salah satu usaha untuk menjauhkan diri dari stress yang harus

dihadapinya, atau menjadi seseorang yang penyendiri, tidak dapat mempercayai

(29)

hubungan kencan. Bahkan pada saat ia benar-benar memiliki pasangan kencan,

ia akan menemui kesulitan dalam membangun hubungan yang saling percaya

dengan seorang pria, karena ia telah melihat janji-janji yang telah diingkari oleh

kedua orang tuanya. Selain itu, menurut Hetherington, anak perempuan dari

orang tua yang bercerai memiliki pendapat yang lebih negatif tentang pria dari

pada anak perempuan yang berasal dari struktur keluarga lainnya

(Santrock,2003).

D. Mekanisme Pertahanan Diri

1. Pengertian Mekanisme Pertahanan Diri

Mekanisme pertahanan dapat didefinisikan sebagai metode yang

digunakan individu untuk menangani perasaan-perasaan takut, kecemasan, dan

rasa tidak aman (Bellak dan Abrams, 1997). Mekanisme pertahanan diri

mempunyai dua ciri umum, yaitu (1) menyangkal, memalsukan atau

mendistorsi kenyataan, dan (2) bekerja secara tak sadar sehingga individu yang

melakukan mekanisme pertahanan tidak tahu apa yang sedang terjadi (Hall dan

Lindzey, 1993).

Proses terjadinya mekanisme pertahanan diri tidak terlepas dari dinamika

antara id, ego, dan superego. Freud menjelaskan bahwa id adalah struktur kepribadian yang berisi insting-insting. Id yang merupakan tempat penyimpanan/gudang energi fisik individu, sumber dari segala dorongan energi

untuk keberfungsian manusia (Halonen dan Santrock, 1996; Pervin dan John,

(30)

kontak dengan kenyataan. Id bekerja menurut prinsip kenikmatan, dimana id selalu mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit (Halonen dan Santrock,

1996). Dengan beroperasi dengan cara ini id mencari pelepasan total yang cepat. Id tidak dapat toleran pada frustrasi dan bebas dari hambatan. Id mencari kepuasan melalui aksi atau melalui imajinasi bahwa ia sudah mendapatkan apa

yang diinginkannya; fantasi dari pemuasan sama baiknya dengan pemuasaan

yang sesungguhnya. Id tidak memiliki akal sehat, logika, nilai-nilai, moral, atau etika. Pendeknya, id bersifat menuntut, impulsive, buta, irasional, asosial, ingin menang sendiri, dan mencintai kenikmatan (Pervin dan John, 1997).

Superego adalah struktur kepribadian yang merupakan cabang moral dari kepribadian (Halonen dan Santrock, 1996). Superego mempertimbangkan betul atau salah, baik atau buruk, bermoral atau biadab, dsb, dan memperhatikan

bagaimana menjadi manusia yang baik dan bermoral, karenanya prinsip kerja

dari superego adalah prinsip moralitas (morality priciple) (Prihanto, 1993). Superego biasa disebut sebagai hati nurani (Halonen dan Santrock, 1996), dan berfungsi untuk mengontrol perilaku agar sejalan dengan aturan dari

masyarakat, menawarkan rewards (hadiah) seperti rasa bangga dan cinta diri untuk perilaku baik dan hukuman (rasa bersalah, perasaan inferior) untuk

perilaku buruk (Pervin dan John, 1997). Seperti id, superego tidak peduli akan kenyataan, superego tidak berhubungan dengan apa yang terjadi dalam kenyataan, hanya memastikan bahwa impuls-impuls sexual dan agresif dari id dapat dipuaskan dalam segi-segi moral (Halonen dan Santrock, 1996). Berdasar

(31)

impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif, karena inilah

impuls-impuls yang pernyataannya sangat dikutuk oleh masyarakat; (2)

mendorong ego untuk menggantikan tujuan realistis dengan

tujuan-tujuan moralistis; (3) superego mengejar kesempurnaan, karena itu cenderung

untuk menentang id maupun ego, dan membuat dunia menurut gambarannya

sendiri (Hall dan Lindzey, 1993).

Ego adalah kepribadian yang berhubungan dengan tuntutan dari kenyataan. Ego disebut sebagai cabang eksekutif dari kepribadian karena ego melakukan keputusan-keputusan rasional dan melakukan fungsi mental yang

lebih tinggi seperti penalaran, penyelesaian masalah (problem solving), dan pembuatan keputusan (Halonen dan Santrock, 1996). Ego berfungsi untuk mengekspresikan dan memuaskan keinginan-keinginan id agar sejalan dengan

kenyataan dan tuntutan dari superego (Pervin dan John, 1997). Ego bersifat setengah sadar dan tunduk pada prinsip kenyataan (reality priciple) (Halonen dan Santrock, 1996), yaitu bahwa pemuasan insting ditunda sampai ketika

kenikmatan paling tinggi dapat diraih dengan rasa sakit atau konsekuensi yang

paling sedikit.

Berdasarkan prinsip kenyataan, energi dari id dapat di tahan, dialihkan, atau dilepaskan secara bertahap, semua agar sejalan dengan tuntutan kenyataan

dan hati nurani (Pervin dan John, 1997). Walau demikian dorongan id seringkali mengancam ego karena apa yang dibutuhkan id, mungkin tidak

tersedia pada kenyataan, misalnya: anak menangis karena lapar, tetapi tidak ada

(32)

kenyataan, misalnya: muncul dorongan seks, tetapi belum mempunyai suami

atau istri. Ketika hal tersebut terjadi ego akan mengalami kecemasan (Prihanto, 1993). Kecemasan dapat menyebabkan pengalaman emosional yang sangat

menyakitkan karena kecemasan merepresentasikan ancaman atau bahaya yang

akan segera terjadi pada ego, dengan demikian kecemasan menjadi fungsi ego untuk memperingatkan akan hadirnya bahaya agar ego dapat bertindak (Pervin dan John, 1997), dan untuk mengurangi kecemasan tersebut ego menggunakan mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanism) (Prihanto, 1993).

Ego melakukan beberapa strategi untuk menyelesaikan konflik diantara tuntutan-tuntutannya akan kenyataan, keinginan-keinginan id, dan tekanan dari superego. Melalui mekanisme pertahanan ego melakukan serangkaian reaksi

tidak disadari, tidak rasional, dan merusak kenyataan, untuk dengan cepat

mereduksi/mengurangi dan melindungi dirinya dari kecemasan (Halonen dan

Santrock, 1996; Carducci, 1998). Psikoanalis umumnya berasumsi bahwa

walaupun mekanisme pertahanan dapat bermanfaat dalam mereduksi

kecemasan, mekanisme pertahanan juga maladaptif karena membelokan orang

dari kenyataan (Pervin dan John, 1997).

Pengertian mekanisme pertahanan diri yang digunakan dalam penelitian

ini adalah sebuah proses yang terjadi secara tidak sadar yang dilakukan oleh

subyek, bertujuan untuk menghilangkan kecemasan yang muncul akibat adanya

konflik antara tuntutan untuk membina sebuah keintiman dengan pria dan

trauma masa kecil atas perceraian orangtua.

(33)

Menurut Fenichel, pertahanan ego dapat dibagi menjadi pertahanan yang berhasil dan yang tidak berhasil. Pertahanan ego dikatakan berhasil bila memberikan penangguhan atas sesuatu yang tidak diinginkan, dan dikatakan

tidak berhasil bila pertahanan yang digunakan merupakan sebuah pengulangan

atau kesinambungan proses dari sesuatu yang tidak diinginkan untuk

mempertahankan ledakan impuls-impuls dari yang tidak diinginkan (Bellak dan

Abrams, 1997).

Ada beberapa jenis mekanisme pertahanan diri yang umum digunakan:

a. Represi. Mekanisme pertahanan yang paling penting adalah represi. Dalam represi, pikiran, ide, atau keinginan ditiadakan dari kesadaran

(Pervin dan John, 1997). Represi adalah mekanisme pertahanan yang

paling kuat, umum dan meresap, menurut Freud. Represi terjadi untuk

mendorong impuls-impuls id yang tidak dapat diterima dan kenangan-kenangan traumatik keluar dari kesadaran dan kembali ke ketidaksadaran.

Represi adalah pondasi dari segala mekanisme pertahahan. Tujuan dari

semua pertahanan psikologis adalah untuk menekan impuls-impuls yang

mengancam, atau mendorongnya keluar dari kesadaran (Halonen dan

Santrock, 1996; Santrock, 2003). Freud mengatakan bahwa pengalaman

masa kecil kita, banyak diantaranya bersifat seksual, terlalu mengancam

dan menimbulkan stress jika dihadapi secara sadar, dan kita mengurangi

rasa cemas dari konflik ini melalui represi (Santrock, 2003).

(34)

individu dan menggantinya dengan motif terselubung (Halonen dan

Santrock, 1996). Mekanisme ini banyak digunakan oleh para pelajar. Di

sini sebuah aksi dipersepsikan, tapi motif yang menyebabkannya tidak.

Perilaku diinterpretasi ulang sehingga perilaku tersebut terlihat masuk akal

dan dapat diterima (Pervin dan John, 1997).

c. Displacement. Displacement adalah mekanisme pertahanan yang muncul

ketika individu mengubah perasaan-perasaan yang tidak dapat diterima

dari satu obyek ke obyek yang lain yang lebih dapat diterima (Halonen dan

Santrock, 1996). Pemuasan dilakukan dengan obyek pengganti karena

pemuasan dengan obyek yang asli dihambat atau dicegah oleh

kekuatan-kekuatan eksternal (Prihanto, 1993).

d. Sublimasi. Sublimasi dianggap sebagai mekanisme pertahanan yang penting secara sosial. (Pervin dan John, 1997). Sublimasi muncul ketika

ego menggantikan impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan perilaku yang lebih diterima oleh masyarakat (Halonen dan Santrock,

1996). Sublimasi adalah jenis pertahanan yang berhasil, dan karena tidak

memiliki karakter mekanisme yang spesifik sublimasi tidak mudah untuk

dideteksi (Bellak dan Abrams, 1997).

e. Proyeksi. Proyeksi adalah mekanisme pertahanan yang muncul ketika kita melimpahkan kelemahan, masalah, dan kesalahan kita pada orang lain

(Halonen dan Santrock, 1996). Mekanisme pertahanan ini dianggap

mekanisme pertahanan yang paling primitif. Dalam proyeksi, yang berada

(35)

eksternal. Contohnya, ketika individu tidak dapat menerima sifat

permusuhan dalam diri, individu melihat orang-orang lain menunjukkan

permusuhan tersebut (Pervin dan John, 1997). Proyeksi terjadi dalam

upaya melindungi ego dari rasa bersalah atau rasa takut/kawatir (Prihanto, 1993).

f. Reaksi formasi. Reaksi formasi adalah mekanisme pertahanan yang muncul ketika individu mengekspresikan impuls yang tidak dapat diterima

dengan menunjukkan atau mengekspresikan yang sebaliknya (Halonen dan

Santrock, 1996; Pervin dan John, 1997). Contoh: perasaan benci terhadap

seseorang diganti dengan cinta kepada orang tersebut. Untuk membedakan

cinta yang sesungguhnya dengan yang palsu, Hall dan Lindzey

menjelaskan bahwa yang palsu akan menunjukan sifat yang

berlebih-lebihan atau dilakukan secara demonstratif (Prihanto, 1993).

g. Regresi. Regresi adalah mekanisme pertahanan yang muncul ketika perilaku individu menunjukkan karakteristik dari level perkembangan

yang sebelumnya (Halonen dan Santrock, 1996). Regresi yang paling

sering terjadi adalah “infantilisme” atau kembali ke pola perilaku masa kanak-kanak (Prihanto, 1993).

h. Fiksasi. Fiksasi adalah mekanisme pertahanan yang muncul ketika individu tetap berada pada tahap perkembangan sebelumnya karena

kebutuhan-kebutuhannya tidak tercukupi atau terlalu tercukupi (Halonen

(36)

i. Denial. Denial adalah jenis pertahanan yang sering digunakan (Bellak dan Abrams, 1997). Denial dapat terjadi dengan meyangkal kenyataan atau meyangkal impuls-impuls. Penyangkalan akan kenyataan biasa terlihat

dimana orang berusaha untuk menghindari ancaman yang dikenal (Pervin

dan John, 1997).

j. Isolasi. Mekanisme pertahanan ini bekerja dengan cara mengisolasi kejadian-kejadian dalam ingatan atau mengisolasi emosi dari isi memori

atau impuls. Dalam isolasi, impuls, pikiran, atau aksi tidak memungkiri

kenyataan, tapi memungkiri emosi yang menyertainya (Pervin dan John,

1997). Contohnya, individu tetap tenang sementara membicarakan

kejadian yang paling menegangkan. Kata-kata “saya betul-betul tidak

peduli” merupakan ciri dari individu yang melakukan isolasi. Dengan

mekanisme pertahanan ini, individu mampu untuk melepas dirinya dari

segala perasaannya (Bellak dan Abrams, 1997).

k. Withdrawal atau avoidance. Withdrawal atau avoidance merupakan

mekanisme pertahanan dimana individu menarik diri atau menghindari

obyek yang telah atau pernah memberikan trauma. Contohnya, jika

seorang anak digigit oleh seekor anjing, anak tersebut kemudian

memutuskan untuk menghindari berada dekat-dekat anjing manapun untuk

jangka waktu tertentu (Bellak dan Abrams, 1997).

l. Undoing. Undoing berhubungan dengan reaksi formasi. Proses yang

terjadi dalam reaksi formasi adalah tindakan yang dilakukan

(37)

satu langkah lagi yang dilakukan. Ketika sesuatu yang positif dilakukan

(secara nyata atau tidak) merupakan lawan dari sesuatu yang (secara nyata

atau dalam imajinasi) telah dilakukan sebelumnya (Bellak dan Abrams,

1997).

m. Fantasi. Merupakan usaha individu untuk mengurangi ketegangan dengan cara berangan-angan tentang keinginannya dan kepuasan diri dengan

menciptakan kehidupan khayalan dalam pikiran mereka sendiri (Kaplan

dan Sadock’s, 1997).

E. Pengukuran Mekanisme Pertahanan Diri

Mekanisme pertahanan diri merupakan suatu proses yang terjadi tanpa

disadari ketika individu mengalami kecemasan (anxiety) (Halonen dan Santrock, 1996; Carducci, 1998). Pengukuran yang dibutuhkan untuk mengungkap

mekanisme pertahanan diri ini pun selayaknya menggunakan alat-alat ukur yang

dapat memunculkan pengalaman-pengalaman yang tidak disadari tersebut.

Wawancara, TAT (Thematic Apperception Test), dan tes Grafis adalah tiga alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini guna mencoba mengungkap

mekanisme pertahanan diri yang muncul dalam keintiman dengan lawan jenis.

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk

mencapai tujuan tertentu, yaitu untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal

yang bersifat subjektif yang dipahami responden berkenaan dengan tema yang

(38)

yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan,

motivasi, serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya. Interview juga mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menggali masa lalu serta

rahasia seseorang. Selain itu interview juga dapat digunakan untuk menangkap aksi-reaksi orang dalam bentuk ekspresi dalam pembicaraan-pembicaraan

sewaktu tanya-jawab sedang berlangsung.

Penelitian ini akan menggunakan panduan pertanyaan pada saat interview berlangsung. Panduan pertanyaan (interview guide) dianggap penting oleh peneliti karena keberadaannya akan memberikan bimbingan secara memokok

apa-apa yang akan ditanyakan, menghindarkan kemungkinan untuk lupa atas

beberapa persoalan yang relevan terhadap pokok-pokok penelitian, dan

meningkatkan interview sebagai suatu metode yang hasilnya memenuhi prinsip komparabilitas (Hadi, 2004).

Panduan pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara mencakup

beberapa topik:

a. Latar belakang subjek, termasuk sejarah perpisahan orangtua subyek,

hubungan subjek dengan kedua orangtuanya sekarang, pandangan

subyek terhadap figur orangtua, dan pandangan subyek terhadap figur

pria dan wanita.

b. Hubungan subyek dengan pria, terutama dengan pasangannya saat ini.

(39)

d. Masalah-masalah yang timbul dalam hubungan subyek dengan

pasangannya, dan bagaimana subyek menanggapi masalah-masalah

tersebut.

2. T.A.T. (Thematic Apperception Test)

T.A.T. (Thematic Apperception Test) pertama kali dikembangkan oleh Henry Murray dan Christina Morgan di Klinik Psikologi Harvard (Harvard Psychological Clinic), dan kemudian menjadi tes proyektif yang paling luas digunakan (Aronow, Weiss, Reznikoff, 2001; Pervin dan John, 1997). Asumsi

dasar dari semua metode-metode proyektif adalah bahwa stimulus dari

lingkungan dipersepsi dan diorganisasikan oleh kebutuhan khusus, motif-motif

khusus, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan struktur kognitif, dan bahwa

sebagian besar proses ini terjadi secara otomatis dan di luar kesadaran (Frank

dalam Teglasi, 2001).

T.A.T. terdiri dari kartu-kartu dengan gambar yang hampir seluruhnya

melukiskan satu atau dua orang dalam situasi kehidupan yang penting, beberapa

kartu lainnya memiliki gambar yang lebih abstrak (Pervin dan John, 1997).

Kartu-kartu tersebut kemudian diperlihatkan pada subyek, dan mendorongnya

untuk bercerita berdasarkan gambar pada kartu, termasuk apa yang terjadi,

pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan dari subyek, apa yang terjadi

sebelumnya, dan akhir dari cerita tersebut yang diungkapkan ketika itu juga

(Murray, 1971; Pervin dan John, 1997).

Alasan prosedur tes T.A.T. dilakukan dengan cara demikian adalah adanya

(40)

kepribadian yang bergantung pada dua tendensi psikologis umum, yaitu adanya

tendensi bahwa orang akan menginterpretasi sebuah situasi ambigu dengan

konformitas dari pengalaman masa lalu mereka dan keinginan-keinginan saat

ini, dan tendensi dari mereka yang membuat cerita akan berbuat demikian pula

dengan menggambarkan pengalaman-pengalaman mereka dan

mengekspresikan sentimen-sentimen dan kebutuhan-kebutuhan mereka, baik

secara sadar maupun tidak sadar (Murray, 1971).

a. Alasan Penggunaan T.A.T.

Penelitian ini menggunakan T.A.T. sebagai salah satu alat dalam

pengumpulan data berdasar pada beberapa alasan. Menurut Murray (1971)

T.A.T. adalah sebuah metode untuk mengungkap beberapa dorongan-dorongan,

emosi-emosi, sentimen-sentimen, kompleks-kompleks dan konflik-konflik

dominan dari kepribadian. Nilai kekuatan T.A.T. adalah untuk membuka

tendensi-tendensi terhambat, dimana subyek, atau pasien, tidak berkeinginan

untuk mengakui, atau tidak dapat mengakui karena ia tidak menyadarinya.

T.A.T. memiliki asumsi bahwa subyek tidak menyadari mereka membicarakan

diri mereka sendiri dan karenanya mencakup pertahanan mereka (Pervin dan

John, 1997).

T.A.T. memahami kepribadian individu secara dinamis, yaitu bahwa

didalam T.A.T. kepribadian dipahami saat berfungsi dalam situasi sosial.

Menurut Murray, setiap kartu T.A.T. dapat dianggap sebagai simulasi situasi

sosial, sehingga perilaku apapun yang muncul akan mencerminkan kepribadian

(41)

mengungkap pandangan subyek akan hubungan-hubungannya dengan

figur-figur otoritas, subordinat, dan pertemanan sejenis atau lawan jenis. Selain itu

T.A.T. juga sangat efektif untuk menginformasikan bagaimana subyek

memandang dirinya dan dunia dengan caranya yang unik (Aronow, Weiss,

Reznikoff 2001).

b. Pemilihan kartu T.A.T.

T.A.T. terdiri 30 kartu bergambar dan 1 kartu kosong (Teglasi, 2001).

Setiap kartu memiliki angka sebagai urutan kartu, dan huruf (B, G, M, dan F)

yang digunakan untuk menunjukan tingkat usia dan jenis kelamin subyek kartu

tersebut diperuntukan. B untuk anak laki-laki, G untuk anak perempuan, M

untuk laki-laki diatas 14 tahun, F untuk wanita diatas 14 tahun. Angka-angka

yang tidak diikuti dengan huruf (B,G,M, atau F) menandakan kartu tersebut

sesuai untuk kedua jenis kelamin dan semua usia (No.

1,2,4,5,10,11,14,15,16,19,20). BM berarti gambar tersebut sesuai untuk anak

laki-laki dan laki-laki dewasa; GF berarti gambar tersebut sesuai untuk anak

perempuan dan wanita dewasa. B hanya untuk anak laki-laki, G hanya untuk

anak perempuan; BG untuk anak laki dan anak perempuan; MF untuk

laki-laki dan wanita diatas 14 tahun (Murray, 1971).

Instruksi dalam buku pedoman/manual T.A.T. menuliskan 20 kartu

digunakan dalam pelaksanaan tes. Sebelas kartu diperuntukan bagi semua

responden, dan sembilan dipilih menurut usia dan jenis kelamin (Murray,

1971). Teglasi (2001) memberikan penjelasan yang berbeda dalam hal ini. Dia

(42)

Kartu-kartu tersebut tidak harus dipilih menurut peruntukan asalnya yaitu menurut

usia dan jenis kelamin, namun menurut penilaian penguji berdasar kegunaan

kartu-kartu tersebut untuk mengadakan materi psikologis yang berarti.

Hartman menyatakan bahwa kartu 16 atau yang dikenal dengan kartu

kosong merupakan kartu yang tidak sering digunakan, namun Kahn

menyarankan bahwa kartu ini adalah kartu yang sangat berguna karena kartu ini

betul-betul netral, simpel, dan bebas budaya. Kurangnya stimulus eksternal

pada kartu kosong ini mengasumsikan respon betul-betul didasarkan pada

faktor-faktor internal, dan karenanya memungkinkan untuk memiliki arti

penting (Aronow, Weiss, Reznikoff, 2001).

Berdasarkan penjelasan dan pendapat-pendapat di atas, kartu-kartu yang

akan digunakan dalam penelitian ini dipilih menurut 2 kriteria, yaitu:

1) Sesuai dengan usia dan jenis kelamin subyek, yaitu kartu-kartu yang

diperuntuk bagi wanita dewasa, yaitu kartu-kartu yang disertai huruf F

atau yang tidak disertai huruf sama sekali.

2) Tema atau karakter stimulus kartu (Tabel tema/karakter stimulus

kartu-kartu T.A.T. terlampir) sejalan dengan topik penelitian, yaitu tema-tema

atau stimulus-stimulus yang dapat mengungkapkan mekanisme pertahanan

dalam hubungan subyek dengan figur orangtua yang ditekankan pada figur

ayah, hubungan interpersonal subyek terutama dengan lawan jenis, dan

(43)

Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, kartu-kartu 3BM, 6BM, 7BM,

8BM, 9BM, 12BM, 12BG, 13B, 13G, 17BM, dan 18BM tidak digunakan

karena tidak sesuai dengan usia dan jenis kelamin subyek penelitian.

Kartu-kartu 5, 9GF, 11, 12F, 14, 15, 17GF, 18GF, 19, dan 20 tidak digunakan karena

tema kartu atau karakter stimulus dalam kartu-kartu tersebut tidak sesuai

dengan tujuan penelitian.

Kartu-kartu yang memenuhi kriteria pemilihan kartu berjumlah 10 buah.

Berikut adalah deskripsi ke-10 kartu berdasarkan buku pedoman TAT (Murray,

1971):

1) Kartu 1 memiliki gambar seorang anak laki-laki sedang merenungkan sebuah biola yang tergeletak diatas sebuah meja di depannya.

2) Kartu 2 memiliki gambar pemandangan di pedesaan: di latar depan seorang wanita muda dengan buku-buku ditangannya; di latar belakang

seorang laki-laki sedang bekerja di ladang dan seorang wanita yang

lebih tua memandang kearah wanita muda tadi.

3) Kartu 3GF memiliki gambar seorang wanita muda berdiri dengan

kepala yang menunduk, wajahnya ditutupi tangan kanannya. Lengan

kirinya menopang pada sebuah pintu kayu.

4) Kartu 4 memiliki gambar seorang wanita mencengkram bahu seorang

laki-laki dimana wajah dan badan sang laki-laki dipalingkan seolah dia

berusaha untuk meninggalkan sang wanita.

(44)

seorang laki-laki yang lebih tua dengan pipa di mulutnya yang terlihat

seolah sedang menyapa wanita tadi.

6) Kartu 7GF memiliki gambar seorang wanita lebih tua duduk di sebuah sofa disebelah seorang anak perempuan, berbicara atau

membacakan buku untuknya. Anak perempuan tersebut memegang

sebuah boneka di pangkuannya, melihat kearah lain.

7) Kartu 8GF memiliki gambar seorang wanita muda duduk dengan berpangku tangan dan menatap dengan hampa ruang kosong.

8) Kartu 10 memiliki gambar kepala seorang wanita muda bersandar pada bahu seorang laki-laki.

9) Kartu 13MF memiliki gambar seorang laki-laki muda sedang berdiri

dengan kepala menunduk tersembunyi dengan lengannya. Di

belakangnya figur seorang wanita berbaring di tempat tidur. 10) Kartu 16 merupakan kartu kosong.

3. Tes Grafis

Test grafis dikembangkan untuk keperluan-keperluan klinis, dan bertujuan

untuk menggambarkan proyeksi diri dari orang yang dites (Kumpulan diktat).

Pengkonstruksian gambar dalam tes grafis dipercaya merefleksikan

konflik-konlik emosi dan kebutuhan-kebutuhan (Friedenberg, 1995), serta struktur

kelemahan-kelemahan, dan konflik-konflik motivasi yang menjadi dasar

kesulitan-kesulitan didalam penyesuaian diri (Kumpulan diktat). Penelitian ini

(45)

DAP (Draw a Person)/DAM (Draw a Man) atau tes gambar orang, dan HTP (House-Tree-Person) atau tes gambar rumah, pohon, dan orang.

a. Tes Baum

John Buck (di U.S) dan Emil Jucker (di Switzerland)

masing-masing menemukan bahwa gambar pohon dapat memproyeksikan

kepribadian (Newmark, 1996). Jucker menganggap gambar pohon yang

dibuat seseorang sebagai pernyataan dari “the being of the person” (Kumpulan diktat). Gambar pohon ini kemudian dikembangkan oleh

Charles Koch, seorang murid Jucker, sebagai tes proyektif yang sekarang

dikenal sebagai tes Pohon (Baum Test) (Newmark, 1996; Kumpulan diktat).

b. Draw a Man / Draw a Person

Draw a Man (DAM) atau Draw a Person (DAP) pertama kali dikembangkan oleh Florence Goodenough, bertujuan untuk meneliti taraf

perkembangan intelektual pada anak. Para praktisi klinis kemudian

menyadari bahwa selain sebagai tes inteligensi, DAP juga mengungkap

berbagai variabel kepribadian (Newmark, 1996). Levy berpendapat bahwa

dari tes DAP/DAM dimungkinkan beberapa hal (Kumpulan diktat): 1) Gambar orang tersebut merupakan proyeksi daripada self concept. 2) Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan.

3) Proyeksi daripada ideal self imagenya.

4) DAM sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap

(46)

5) Sebagai ekspresi pada kebiasaan dalam hidupnya.

6) Ekspresi keadaan emosinya.

7) Sebagai proyeksi sikap subyek terhadap tester dan situasi tes

tersebut.

8) Sebagai ekspresi sikap subyek terhadap kehidupan/masyarakat

pada umumnya.

9) Ekspresi sadar dan ketidaksadarannya.

c. House, Tree, Person

Buck menambahkan gambar rumah dan pohon pada gambar orang

yang dikembangkannya untuk membentuk teknik HTP. Buck memutuskan

untuk menggunakan gambar rumah dan pohon karena keduanya

merupakan hal yang sangat dikenal, bahkan bagi anak kecil, dan hampir

semua orang tidak berkeberatan untuk menggambarkannya (Newmark,

1996) .

Rumah, Pohon, dan Manusia (HTP: House, Tree, Person) merupakan salah satu tes Grafis yang berguna melengkapi tes grafis yang

lain, yaitu untuk mengetahui hubungan keluarga. Rumah merupakan

cerminan dari tokoh ibu, pohon mencerminkan tokoh ayah, dan manusia

mencerminkan tingkat perkembangan individu (Kumpulan diktat).

Beberapa praktisi klinis mengidentifikasi gambar rumah sebagai simbol

perwakilan dari diri dan masa kecil, dan pengalaman-pengalaman masa

dewasa (Hammer dalam Newmark, 1996).

(47)

1) HTP merefleksikan perasaan-perasaan individu tentang situasi di

rumahnya, biasannya diwakili oleh gambar rumah.

2) HTP merupakan tes yang kabur, membuat individu lebih sedikit

melakukan pertahanan, khususnya ketika diminta untuk

menggambarkan pohon dan rumah, karenanya mereka dapat

merepresentasikan masalah-masalah diri dan interpersonal secara lebih

langsung dan dengan lebih sedikit pertahanan diri.

3) Gambar pohon seringkali mampu merefleksikan sejarah emosi

individu dan dampak dari sejarah tersebut pada individu.

4) Gambar rumah dan pohon merupakan hal dasar yang menyenangkan

untuk digambar oleh anak-anak maupun orang dewasa.

5) Gambar pohon, dipercaya sebagai perwakilan dari diri, mampu

mengungkap lapisan lebih dalam dari diri dibandingkan DAP,

karenanya tes ini lebih dapat mengungkapkan masalah-masalah

dinamika yang terpendam.

F. Mekanisme Pertahanan Diri Wanita dari Orangtua yang Bercerai dalam Menjalin Keintiman Dengan Pria

Perceraian orangtua yang disusul dengan ketidakhadiran ayah merupakan

pengalaman traumatis yang mengakibatkan kecemasan pada anak (Agus dalam

Anggraini, 2004; Kartono, 1992). Kehadiran kedua orangtua adalah hal yang

dibutuhkan oleh anak dalam hidupnya, karena kehadiran kedua orangtua

(48)

Keadaan tersebut sesuai dengan prinsip kerja id yang selalu mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit (Halonen dan Santrock, 1996). Ketidakhadiran ayah

meniadakan rasa aman dari kehidupan anak, yang artinya meniadakan

kenikmatan. Kenikmatan yang hilang ini menyakiti perasaan anak. Anak yang

tersakiti karena merasa ditinggalkan/ditelantarkan akan menilai figur ayah sebagai

sesuatu yang tidak menyenangkan atau jahat dan memberikan rasa sakit. Ego menjadi cemas saat hal ini terjadi, dan untuk meredakan kecemasan, ego akan merepresi segala yang tidak menyenangkan agar anak tidak lagi merasa cemas.

Pada waktunya, anak akan beranjak remaja. Saat ini ia akan dituntut untuk

mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman sebayanya,

baik dengan teman-teman sejenis maupun dengan lawan jenis sebagai salah satu

tugas perkembangan di masa remaja (Havighurst dalam Rifai, 1984). Tugas

perkembangan merupakan sekelompok harapan dari masyarakat (Hurlock, 1980).

Superego yang beroperasi dengan prinsip moralitas (Prihanto, 1993), dimana perilaku individu diharapkan sejalan dengan aturan masyarakat (Pervin dan John,

1997), akan mendukung ego untuk melaksanakan tugas perkembangan tersebut dengan baik.

Menjalin hubungan sosial yang lebih matang dengan teman sebaya lawan

jenis dapat menjadi hal yang sulit bagi remaja perempuan dari orangtua yang

bercerai dan tumbuh tanpa kehadiran ayah (Udry; Walerstein dalam Vasta, Haith,

Miller, 1995). Hal ini disebabkan pandangan yang negatif tentang pria akibat

perceraian orangtuanya (Hetherington dalam Santrock, 2003), juga dikarenakan

(49)

Anggraini, Alia: Pesona Muslimah, Desember 2004). Situasi ini akan mengangkat

pengalaman masa kecil atas perceraian orangtuanya dan memposisikan ego dalam kecemasan. Kecemasan yang merupakan representasi ancaman atau bahaya yang

akan segera terjadi menjadi peringatan agar ego bertindak (Pervin dan John, 1997). Ego kemudian menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk mengurangi kecemasan tersebut (Prihanto, 1993).

Udry dan Walerstein menyatakan bahwa remaja perempuan yang tumbuh

tanpa kehadiran ayah akibat perceraian menunjukan sikap pemalu dan menarik

diri, atau memperlihatkan perilaku yang terlalu ramah dan mencari-cari perhatian

terhadap teman sebaya lawan jenisnya (Vasta, Haith, Miller, 1995). Sikap dan

perilaku ini bisa saja merupakan bentuk-bentuk dari mekanisme pertahanan diri

yang dilakukan oleh ego. Sikap pemalu dan menarik diri ditunjukan sebagai bentuk dari withdrawal/avoidance dimana remaja perempuan berusaha untuk menarik diri atau menghindari figur laki-laki yang mengingatkannya akan figur

ayah yang juga seorang laki-laki, sedangkan perilaku terlalu ramah dan

mencari-cari perhatian merupakan bentuk dari reaksi formasi dimana perasaan benci

terhadap figur laki-laki yang mengingatkan akan figur ayah digantikan dengan

perasaan senang atau tertarik.

Ketika remaja perempuan ini memasuki masa dewasa awal, ia akan

dihadapkan pada tugas perkembangan berikutnya yang merupakan kelanjutan dari

tugas perkembangan di masa remaja. Sebagai seorang wanita yang memasuki

masa dewasa ia diharapkan untuk membangun keintiman dengan lawan jenisnya,

(50)

Selain itu ia juga mau tidak mau mengadopsi nilai-nilai yang dianut oleh orang

dewasa. Sejalan dengan tugas perkembangan diatas, nilai keintiman dalam sebuah

hubungan merupakan sesuatu yang dianggap penting bagi wanita dewasa

(O’Meara dalam Gazzaniga dan Heatherton, 2003), juga bahwa wanita dinilai

lebih mampu dalam membentuk keintiman dibandingkan pria (Brannon, 1996).

Kedua nilai tersebut memberi tekanan lebih pada pelaksanaan tugas

perkembangan yang harus diembannya.

Hal tersebut tentu berbenturan dengan pandangan negatif tentang pria,

bahwa mereka sama dengan figur ayah yang menyakitkan, dimana sang pria

kemudian akan meninggalkan dirinya seperti ayah meninggalkan ibunya. Seperti

yang telah terjadi sebelumnya, Ego mengalami ancaman yang menimbulkan kecemasan pada wanita, dan ego kembali menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk menghilangkan kecemasan ini. Wanita ini bisa tetap menggunakan jenis

mekanisme pertahanan yang pernah dilakukannya semasa remaja, seperti

withdrawal/avoidance atau reaksi formasi, atau menggunakan mekanisme pertahanan diri yang lainnya. Ia mungkin akan melakukan proyeksi bila ia

kemudian mengatakan bahwa teman prianya membenci dirinya untuk menutupi

perasaan bencinya, atau melakukan displacement ketika ia menunjukan agresi pada obyek-obyek yang berhubungan dengan pria atau menunjukan sikap mencari

perhatian pada pria untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang yang tidak

(51)

Ego mengalami kecemasan

Mekanisme Pertahanan Diri: Represi/Rasionalisasi/ Displacement/Sublimasi/ Proyeksi/Reaksi Formasi/ Regresi/Fiksasi/Denial/Isolasi/

Withdrawal/Undoing/Fantasi Tugas Perkembangan

Masa Dewasa Awal: Menjalin keintiman dengan pria agar kelak

dapat memilih pasangan hidup dan

membangun rumah tangga (sejalan dengan prinsip moralitas dari

superego)

Perceraian orang tua

Pandangan negatif pada pria, perasaan

takut gagal dan takut berhubungan

dengan pria anak memasuki

masa dewasa awal Anak kehilangan

kenikmatan (melanggar prinsip kenikmatan dari id)

Anak mengalami kecemasan (ego)

(52)

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mekanisme pertahanan diri

yang dilakukan oleh wanita dari orangtua yang bercerai dalam menjalin keintiman

dengan pria. Berdasarkan tujuan tersebut maka jenis penelitian yang paling tepat

untuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dimana peneliti berusaha untuk

memahami dan menjelaskan makna sebuah situasi menurut sudut pandang subyek

yang mengalami dan menghayati kejadian tersebut (Moleong dalam Alsa, 2004;

Alsa, 2004). Menurut pendekatan kualitatif, penelitian ini tidak bertujuan untuk

menemukan hukum-hukum ataupun membuat sebuah generalisasi (Brannen,

Suryabrata, Mulyana dalam Alsa, 2004).

B. Batasan Istilah

1. Wanita. Batasan wanita yang digunakan dalam penelitian adalah

perempuan dewasa dalam rentang usia dewasa awal (21 hingga 30 tahun),

belum menikah, sedang menjalani/telah menyelesaikan pendidikan S1,

atau sudah bekerja.

2. Perceraian orangtua. Istilah perceraian orangtua yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah retaknya hubungan pernikahan orangtua yang

diikuti dengan perpisahan ibu dan ayah.

(53)

3. Keintiman. Keintiman yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada

kemampuan subyek untuk membangun sebuah kedekatan emosional,

membuka diri dan mengekspresikan perasaan-perasaan dan informasi

penting pada orang lain, dan hubungan cinta dengan lawan jenis dalam

rangka menjalani tugas perkembangannya.

4. Mekanisme Pertahanan. Konsep mekanisme pertahanan yang digunakan

dalam penelitian ini adalah perilaku, pikiran, ide, keinginan yang

dilakukan oleh subyek, bertujuan untuk menghilangkan kecemasan ketika

subyek dihadapkan pada hubungan yang menuntut terbinanya keintiman

dengan pria. Berikut ini adalah 13 jenis mekanisme pertahanan yang

diajukan, beserta definisi teoritis dan pembatasan penggunaan istilah dari

masing-masing jenis mekanisme pertahanan yang dipakai sebagai acuan

dalam penelitian ini:

a. Represi: pikiran, ide, atau keinginan ditiadakan dari kesadaran (Pervin

dan John, 1997).

b. Rasionalisasi: Perilaku diinterpretasi ulang sehingga perilaku tersebut

terlihat masuk akal dan dapat diterima (Pervin dan John, 1997).

c. Displacement: individu mengubah perasaan-perasaan yang tidak dapat

diterima dari satu obyek ke obyek yang lain yang lebih dapat diterima

(Halonen dan Santrock, 1996).

d. Sublimasi: Sublimasi muncul ketika ego menggantikan impuls-impuls

yang tidak dapat diterima dengan perilaku yang lebih diterima oleh

(54)

e. Proyeksi: kita melimpahkan kelemahan, masalah, dan kesalahan kita

pada orang lain (Halonen dan Santrock, 1996).

f. Reaksi formasi: individu mengekspresikan impuls yang tidak dapat

diterima dengan menunjukkan atau mengekspresikan yang sebaliknya

(Halonen dan Santrock, 1996; Pervin dan John, 1997).

g. Regresi: perilaku individu menunjukkan karakteristik dari level

perkembangan yang sebelumnya (Halonen dan Santrock, 1996).

h. Fiksasi: individu tetap berada pada tahap perkembangan sebelumnya

karena kebutuhan-kebutuhannya tidak tercukupi atau terlalu tercukupi

(Halonen dan Santrock, 1996).

Peneliti membedakan antara regresi dan fiksasi dengan cara mengenali

kepribadian subyek berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil

wawancara, TAT, tes Grafis dan observasi dari peneliti. Kepribadian

subyek ini kemudian menjadi pembanding dari respon-respon yang

diberikan oleh subyek untuk menunjukan terjadinya regresi atau

fiksasi.

i. Denial: Denial dapat terjadi dengan meyangkal kenyataan atau

meyangkal impuls-impuls (Pervin dan John, 1997).

j. Isolasi: mengisolasi kejadian-kejadian dalam ingatan atau mengisolasi

emosi dari isi memori atau impuls (Pervin dan John, 1997).

k. Withdrawal/Avoidance: individu menarik diri atau menghindari obyek

yang telah atau pernah memberikan trauma (Bellak dan Abrams,

(55)

l. Undoing: Ketika sesuatu yang positif dilakukan (secara nyata atau

tidak) merupakan lawan dari sesuatu yang (secara nyata atau dalam

imajinasi) telah dilakukan sebelumnya (Bellak dan Abrams, 1997).

m. Fantasi: Merupakan usaha individu untuk mengurangi ketegangan

dengan cara berangan-angan tentang keinginannya dan kepuasan diri

dengan menciptakan kehidupan khayalan dalam pikiran mereka sendiri

(Kaplan dan Sadock’s, 1997).

C. Subyek

Untuk mendapatkan subyek dengan kriteria yang sesuai dalam penelitian

ini, peneliti mencari sendiri dan menghubungi beberapa orang teman yang dapat

menghubungkan peneliti dengan calon-calon subyek. Pada awalnya terkumpul 4

orang calon subyek dengan kriteria yang sesuai, namun dengan pertimbangan

jarak, biaya, dan waktu, juga kesediaan dari para calon subyek, pada akhirnya

hanya 2 orang yang berpartisipasi dalam penelitian ini.

Deskripsi dari kedua subyek tersebut adalah sebagai berikut:

1. Subyek pertama berusia 25 tahun. Subyek bekerja di salah satu perusahaan

telekomunikasi di Jogja. Orangtua subyek berpisah ketika subyek

menjalani pendidikannya di SMP. Sejak itu subyek tinggal bersama ibu

dan seorang adiknya hingga subyek lulus SMA dan pindah ke Jogja untuk

melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi.

2. Subyek kedua berusia 23 tahun. Subyek bekerja paruh waktu di salah satu

(56)

Sekolah Dasar. Subyek kemudian hidup bersama ibunya hingga lulus

SMP. Ketika SMA subyek tinggal dengan tantenya di Balikpapan hingga

akhirnya subyek melanjutkan Perguruan Tingginya di Jogja.

D. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan 3 metode dalam pengambilan data, yaitu

metode wawancara dan 2 metode proyektif: T.A.T (Thematic Apperception Test) dan tes Grafis.

1. Wawancara

Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan wawancara

terstruktur dimana peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah

dipersiapkan secara cermat untuk memperoleh informasi yang relevan dengan

masalah penelitian (Kerlinger, 2003). Pertanyaan-pertanyaan tersebut

dipersiapkan berdasarkan topik-topik yang ditentukan sebelumnya (Tabel

Panduan Pertanyaan Wawancara terlampir).

Pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis pertanyaan

terbuka. Jenis pertanyaan terbuka dipilih karena pertanyaan terbuka memberikan

kerangka-acuan bagi jawaban subyek, namun sesedikit mungkin mengekang

jawaban subyek beserta cara pengungkapannya. Selain itu pertanyaan terbuka

memungkinkan peneliti untuk menjernihkan salah paham, memastikan

ketidaktahuan subyek tentang masalah yang ditanyakan, melacak ambiguitas,

Figur

gambar diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat (di bawah 5 menit).
gambar diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat (di bawah 5 menit). . View in document p.78
Tabel 2: Ringkasan Hasil Interpretasi Grafis YD
Tabel 2 Ringkasan Hasil Interpretasi Grafis YD . View in document p.78
Tabel 3: Mekanisme Pertahanan Diri YD Berdasar Hasil T.A.T
Tabel 3 Mekanisme Pertahanan Diri YD Berdasar Hasil T A T . View in document p.81
Tabel 4: Uraian Mekanisme Pertahanan Diri YD
Tabel 4 Uraian Mekanisme Pertahanan Diri YD . View in document p.82
Tabel 5: Mekanisme Pertahanan Diri GDA   Berdasar Hasil Wawancara
Tabel 5 Mekanisme Pertahanan Diri GDA Berdasar Hasil Wawancara . View in document p.90
Tabel 6: Ringkasan Hasil Interpretasi Grafis GDA
Tabel 6 Ringkasan Hasil Interpretasi Grafis GDA . View in document p.91
Tabel 7: Mekanisme Pertahanan Diri GDA  Berdasar Hasil T.A.T
Tabel 7 Mekanisme Pertahanan Diri GDA Berdasar Hasil T A T . View in document p.93
Tabel 8: Uraian Mekanisme Pertahanan Diri GDA
Tabel 8 Uraian Mekanisme Pertahanan Diri GDA . View in document p.93
Tabel 9: Rekapitulasi Hasil Penelitian Subyek 1 (YD) dan Subyek 2 (GDA)
Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Penelitian Subyek 1 YD dan Subyek 2 GDA . View in document p.96
figur di latar belakang. Hubungan antara
Hubungan antara . View in document p.126
Tabel Panduan Pertanyaan Wawancara
Tabel Panduan Pertanyaan Wawancara . View in document p.130
Gambaran ibu sebagai
Gambaran ibu sebagai . View in document p.179
Gambaran laki-laki (pacar
Gambaran laki laki pacar . View in document p.191

Referensi

Memperbarui...