• Tidak ada hasil yang ditemukan

PE NGE MB ANGAN MATE RI AL BI O PL ASTI K DARI BLENDI NG TE PUNG K ONJAC GLUKO MANNAN (KGM) DAN KIT OSAN ME NGGUNAKAN SI NGLE SCRE W EX TR UDER SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PE NGE MB ANGAN MATE RI AL BI O PL ASTI K DARI BLENDI NG TE PUNG K ONJAC GLUKO MANNAN (KGM) DAN KIT OSAN ME NGGUNAKAN SI NGLE SCRE W EX TR UDER SKRIPSI"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

PE NGE MB ANGAN MATE RI AL BI O PL ASTI K DARI BLENDI NG TE PUNG K ONJAC GLUKO MANNAN (KGM) DAN KIT OSAN ME NGGUNAKAN SI NGLE SCRE W EX TR UDER

S K R I P S I

H U M A I R A

D E P A R T E M E N K I M I A

F A K U L T A S S A I N S D A N T E K N O L O G I U N I V E R S I T A S A I R L A N G G A

(2)

PE NGE MB ANGAN MATE RI AL BI O PL ASTI K DARI BLENDI NG TE PUNG K ONJAC GLUKO MANNAN (KGM) DAN KIT OSAN ME NGGUNAKAN SI NGLE SCRE W EX TR UDER

S K R I P S I

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Bidang Kimia pada Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Airlangga

Disetujui oleh:

Pembimbing I,

Dr. Suyanto, M.Si. NIP. 19520217 198203 1 001

Pembimbing II,

(3)

LEMBAR PENGESAHAN NASKAH SKRIPSI

Judul : Pengembangan Material Bioplastik dari Blending Tepung

KonjacGlukomannan (KGM) dan Kitosan Menggunakan

Single Screw Extruder

Penyusun : Humaira Nomor Induk : 080710031 Tanggal Ujian : 17 Juli 2012

Disetujui oleh:

Pembimbing I,

Dr. Suyanto, M.Si. NIP. 19520217 198203 1 001

Pembimbing II,

Drs. Handoko Darmokoesoemo, DEA. NIP. 19621102 198810 1 001

Mengetahui: Ketua Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi

(4)

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI

Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di Perpustakaan dalam

lingkungan Universitas Airlangga, diperkenankan untuk dipakai sebagai referensi

kepustakaan, tetapi pengutipan harus seijin penulis dan harus menyebutkan

sumbernya sesuai kebiasaan ilmiah. Dokumen skripsi ini merupakan hak milik

(5)

KATA PENGANTAR

Dengan memohon ridla Allah SWT dan do’a restu kedua orang tua,

Penulis tiada henti mengucapkan syukur atas segala ni’mat dan karunia serta

senantiasa memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa yang

telah dilakukan Penulis khususnya selama pengerjaan dan penyelesaian skripsi

berlangsung.

Subhanallah wa Alhamdulillah wa Laahaula wa Laaquwwata Illa Billah.

Dengan penuh semangat Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Pengembangan Material Bioplastik dari Blending Tepung Konjac

Glukomannan (KGM) dan Kitosan Menggunakan Single Screw Extruder”

yang masih jauh dari kesempurnaan.

Selama mengerjakan skripsi, Penulis sangat terbantu oleh semua pihak

yang turut mendukung sehingga kemudahan dan kelancaran selalu menyertai

dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyampaikan terima kasih yang

mendalam kepada:

1. Bapak Dr. Suyanto, M.Si. (Dosen Kimia Organik Dept. Kimia Fak.

Saintek Universitas Airlangga) dan Drs. Handoko Darmokoesoemo,

DEA. (Dosen Kimia Fisik Dept. Kimia Fak. Saintek Universitas

Airlangga) selaku Pembimbing skripsi; serta Bapak Drs. Yusuf Syah,

M.S. (Dosen Kimia Analitik Dept. Kimia Fak. Saintek Universitas

Airlangga) dan Ibu Dr. Sri Sumarsih, M.Si. (Dosen Biokimia Dept.

(6)

2. Drs. Hasjim Abbas, M.Hi dan Kamilah (Orang Tua Penulis) yang telah

meridlai perjuangan untuk menyelesaikan jenjang studi S-1 selama

lima tahun,

3. Bapak H.M. Aksa Mahmud (Founder Bosowa Foundation) atas dukungan finansial penuh dalam skripsi,

4. Aqib Maimun, S.ST. (kakak kandung ke-empat) yang telah

mendukung baik moral dan materiil,

5. Bapak Helmilus Moesa (General Manager); Bapak Drs. Wildan Alhadi

(Section Manager); Ibu Ani Oktavia Lestari, S.Si. (Superintendent

Laboratorium Polimer – Pembimbing); Bapak Syamsul Rijal, S.Si.

(Staf Laboratorium Polimer – Pembimbing Lapangan) di Laboratorium

Polimer Technical Departement (TCD) PT. Chandra Asri Petrochemical, Tbk. yang telah mendukung penuh penggunaan instrumen polimer,

6. Aris Rahman, S.Si. dan Bapak Arif Luqman, S.Si. dari PT. Envilab Indonesiaatas segala bentuk dukungan moral, materiil, dan pustaka, 7. Dini Iflakhah, S.Si.; Rastra Bayu Kotama, S.Si.; Irahayu Sudarwati,

S.Si.; dan Muhammad Suhar, S.Si. yang turut menyumbangkan pikiran

atas permasalahan yang terjadi selama skripsi,

8. Bapak Sukamto (Laboran Laboratorium Kimia Fisik Dept. Kimia Fak.

Saintek Universitas Airlangga); Bapak Giman dan Bapak Rochadi

(Laboran Laboratorium Kimia Analitik Dept. Kimia Fak.Saintek

(7)

Kimia Organik Dept. Kimia Fak. Sains dan Teknologi Universitas

Airlangga) yang turut membantu selama pengerjaan skripsi,

9. Ibu Anik (Laboran instrumen Autograph Laboratorium Dasar Bersama

– LDB Fak. Farmasi Universitas Airlangga); Bapak Muhammad

Aqidah (Operator instrumen XRD Research Centre Institut Teknologi

Sepuluh November); Bapak Hosta (Dosen Teknik Material dan

Metalurgi sekaligus operator instrumen FTIR-ATR Institut Teknologi

Sepuluh November); Ibu Siti Asfiyah (Laboran instrumen FTIR Kimia

Organik Fak. MIPA Universitas Gadjah Mada); Bapak Wikanda dan

Bapak Wawan (Operator instrumen SEM Laboratorium Geologi

Kuarter – PPPGL Bandung); dan seluruh operator instrumen

Laboratorium Polimer Technical Departement (TCD) di PT. Chandra

Asri Petrochemical, Tbk.,

10. Semua pihak yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna

kesempurnaan untuk pengembangan penelitian ini. Semoga skripsi ini bermanfaat

bagi masyarakat untuk perkembangan teknologi material berbasis biopolimer.

Surabaya, 17 Juli 2012

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENYATAAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

GLOSARI BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Material Plastik ... 6

2.2 TepungKonjacGlukomannan (KGM) ... 8

2.3 Kitosan ... 9

2.4 Proses Ekstraksi Kitosan dari Limbah Cangkang Udang ... 11

2.5 Kemampuan Pembentukan Film dari Kitosan ... 11

2.6 Teknologi Ekstrusi ... 13

2.7 Plasticizer... 15

2.8 Stabilizer ... 16

2.9 Derajat Deasetilasi (DD) ... 16

2.10 X-Ray Diffraction(XRD) ... 17

2.11 Fourier Transform Infrared(FTIR) ... 18

2.12 Scanning Electron Microscopy(SEM) ...19

2.13 Differential Scanning Calorimetry(DSC) ... 19

2.14 Karakterisasi Sifat Mekanika Film Plastik ... 19

BAB III METODE PENELITIAN ... 23

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 23

3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian ... 23

3.2.1 Bahan penelitian ... 23

3.2.2 Peralatan penelitian ... 23

3.3. Tahapan Kerja ... 24

(9)

3.3.1.1 Pengamatan intensitas warna tepung ... 25

3.3.1.2 Analisis kandungan glukomannan ... 25

3.3.1.3 Analisis termal menggunakan DSC ... 26

3.3.1.4 Analisis spektra FTIR ... 27

3.3.1.5 Morfologi mikrostruktur SEM ... 27

3.3.2 Karakterisasi sifat fisikokimia kitosan ... 28

3.3.2.1 Uji kelarutan kitosan ... 28

3.3.2.2 Analisis difraksi Sinar-X ... 29

3.3.2.3 Penentuan derajat deasetilasi (DD) ... 29

3.3.3 Preparasi material dan larutan kerja ... 30

3.3.4 Proses ekstrusi material blending ... 31

3.3.5 Karakterisasi fisikokimia material ekstrudat dan film bioplastik ... 33

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35

4.1 Karakterisasi TepungKonjacGlukomannan (KGM) ... 35

4.1.1 Analisis kandungan glukomannan tepung KGM...35

4.1.2 Karakterisasi sifat fisikokimia tepung KGM ... 36

4.2 Karakterisasi Kitosan ... 39

4.2.1 Tahapan umum proses produksi kitosan ... 39

4.2.2 Karakterisasi sifat fisikokimia kitosan ... 40

4.3 Perlakuan Bahan sebelum Proses Ekstrusi ... 45

4.3.1 Perlakuan terhadap tepung KGM ... 47

4.3.2 Perlakuan terhadap kitosan ... 47

4.3.3 Blending tepung KGM dan kitosan ... 48

4.4 Pengkondisian Mesin Ekstruder ... 48

4.5 Ekstrudat Bioplastik dari Proses Ekstrusi ... 50

4.6 Identifikasi Jenis Material Bioplastik ... 51

4.7 Karakterisasi Sifat Fisikokimia Ekstrudat Bioplastik... 52

4.7.1 Termogram material bioplastik ... 53

4.7.2 Difraktogram material bioplastik... 55

4.7.3 Morfologi film bioplastik ... 56

4.7.4 Uji tarik film bioplastik ... 58

4.8 Spektra FTIR Material Bioplastik ... 61

4.9 PengujianWater Uptake(WA) dari Film Bioplastik ... 63

4.10Reologi Material Bioplastik ... 64

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran ... 67

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Struktur kimia glukomannan ... 8

2.2 Struktur kimia kitosan ... 10

2.3 Kepiting, lobster, udang karang, udang kali ... 10

2.4 Skema produksi kitosan ... 12

2.5 Bagian-bagian mesinsingle screw extruder ... 14

2.6 Metodebaseline ... 16

2.7 Hamburan Compton ... 17

2.8 Kurva umum hubunganstress-strainpolimer ... 21

4.1 Tepungkonjacglukomannan (KGM) dari PT. Ambico ... 35

4.2 Spektra FTIR tepung KGM ... 36

4.3 Struktur unit monomer glukomannan ... 37

4.4 Termogram tepung KGM ... 38

4.5 Mikrograf granula tepung KGM ... 38

4.6 Mekanisme reaksi transformasi kitin menjadi kitosan ... 39

4.7 Spektra FTIR kitosan CV. Bio Chitosan Indonesia ... 41

4.8 Struktur kimia kitosan ... 42

4.9 Pola termogram kitosan ... 43

4.10 Difraktogram kitosan ... 44

4.11 Mikrograf kitosan ... 45

4.12 Ekstrudat bioplastik ... 50

4.13 Bagan identifikasi klasifikasi material bioplastik ... 52

4.14 Termogram material bioplastik ... 53

4.15 Difraktogram material bioplastik ... 55

4.16 Mikrograf film bioplastik ... 57

4.17 Model struktur 3D kitosan ... 57

4.18 Hubungan kurvastress-strainbioplastik ... 59

4.19 Gabungan spektra FTIR material bioplastik ... 61

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Hasil kuat tarik film kitosan versus HDPE dan LDPE ... 13

3.1 Pengaturan temperatur input data DSC ... 26

3.2 Kondisi mesin ekstruder ... 32

3.3 Perbandingan komposisi material blending ... 32

4.1 Spesifikasi mutu tepung KGM... 36

4.2 Analisis gugus fungsi tepung KGM ... 37

4.3 Profil temperatur DSC-50 Shimadzu ... 37

4.4 Sertifikat analisis kitosan dari CV. Bio Chitosan Indonesia ... 40

4.5 Hasil perhitungan derajat deasetilasi ... 42

4.6 Perbandingan komposisi material blending ... 48

4.7 Kondisi mesin ekstruder ... 49

4.8 Hasil perhitungan dari rekaman uji tarik film bioplastik ... 58

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul

1 Hasil Termogram dari Tepung KGM, Kitosan, dan Material Bioplastik

2 Morfologi SEM Diameter Pori dari Kitosan, Tepung KGM, Material Bioplastik

3 Morfologi SEM dari Kitosan, Tepung KGM, Material Bioplastik 4 Dokumentasi Skripsi di PT. Chandra Asri Petrochemical, Tbk. 5 Hasil Spektra FTIR-ATR Material Bioplastik dan FTIR Tepung

KGM serta Kitosan

6 Hasil Uji Tarik Film Bioplastik

7 Perhitungan Nilai Derajat Deasetilasi (DD) Kitosan dengan pendekatan Spektra FTIR

8 Prosedur Kerja Uji Tarik Film Bioplastik

9 Tahapan Eksperimen Penelitian Pengembangan Material Bioplastik 10 Hasil Analisis Difraksi Sinar-X Material Bioplastik

11 Sertifikat Analisis Kitosan dari CV. Bio Chitosan Indonesia 12 Sertifikat Analisis Tepung KGM dari PT. Ambico

13 Sertifikat Pengujian Analisis Glukomannan dari Laboratorium Pengujian Balai Besar Pascapanen Bogor

(13)

Humaira. 2012. Pengembangan Material Bioplastik dari Blending Tepung

Konjac Glukomannan (KGM) dan Kitosan menggunakan Single Screw

Extruder. Skripsi ini di bawah bimbingan Dr. Suyanto, M.Si dan Drs. Handoko Darmokoesoemo, DEA. Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.

ABSTRAK

Plastik sintetis ditinjau dari sumbernya termasuk material non-renewable dan non-biodegradable. Produksi plastik sintetis membutuhkan konsumsi energi dan menghasilkan emisi CO2 lebih besar dibandingkan plastik berbasis

biopolimer. Penelitian ini mengembangkan material bioplastik dari blending material antara tepung KGM dan kitosan menggunakan mesin single screw extruder. Penelitian bertujuan untuk identifikasi klasifikasi material bioplastik, mempelajari karakteristik sifat fisikokimia, dan reologi material bioplastik. Metode yang digunakan dalam pengembangan material yaitu melalui teknik polimer blending yang diproses menggunakan teknologi ekstrusi. Formulasi komposisi material blending antara tepung KGM dan kitosan yaitu 50:10, 40:20, dan 30:30 (% w/v) dengan plasticizer gliserol 20% dan stabilizer tris-nonylphenylphospite (TNPP) sebesar 0,315% wt. Karakterisasi sifat fisikokimia material bioplastik meliputi analisis termal menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC), analisis spektra menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), analisis kristalinitas menggunakan difraktometer sinar-X, morfologi film menggunakanScanning Electron Microsopy (SEM), uji tarik, dan penyerapan air atauwater uptake(WA) dari film bioplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material bioplastik memiliki nilai titik leleh (Tm) pada rentang 100-118°C. Produk

bioplastik termasuk dalam klasifikasi elastomer ditinjau dari kurva hubungan stress-strain dengan karakter ulet dan lunak. Karakter tersebut memiliki nilai prosentase elongation at break yang tinggi yaitu mencapai 35%. Produk bioplastik menunjukkan struktur semi kristalin yang berpola matriks. Ditinjau dari aspek reologi, aliran polimer dari blending material tepung KGM dan kitosan termasuk dalam aliran sistem non Newton (pesudoplastik) dimana dalam proses ekstrusi menunjukkan aliran yang lambat akibat viskositas material yang tinggi.

(14)

Humaira. 2012. Development of Bioplastics Material Blending Konjac Glucomannan (KGM) Flour and Chitosan used Single Screw Extruder. Thesis under guidance of Dr. Suyanto, M.Si and Drs. Handoko Darmokoesoemo, DEA. Departement of Chemistry, Faculty of Science and Technolog, Airlangga University.

ABSTRACT

Based on the source of material, synthetic plastic including non-renewable and non-biodegradable. Synthetic plastic production requires a lot of energy consumption and produce more CO2 emissions than plastic based on biopolymer.

Research developed a bioplastic material of blending polymers from konjac glucomannan flour and chitosan using single screw extruder machine. The research aims to identify classification of bioplastic, study on physicochemical properties and the rheology of bioplastic material. The method is blending polymer that is processed using extrusion technology. Composition of material blending between konjac glucomannan flour and chitosan are 50:10, 40:20, and 30:30 (% w/v) with 20% glycerol as plasticizer and stabilizer tris-nonylphenylphospite (TNPP) 0,315% wt. Physicochemical properties of bioplastic materials were analyzed using Differential Scanning Calorimetry (DSC), Fourier Transform Infrared (FTIR), Scanning Electron Microsopy (SEM), X-Ray Diffractometer (XRD), Autograph and Water Uptake (WA) testing. The results showed that the bioplastic material has a value of the melting point (Tm) in

the range 100-118°C. Bioplastic products included in the classification of elastomer based on the curve stress-strain relationship which leads to soft and tough character. Value of percent elongation at break is high, reaching 35%. Bioplastic product shows semi-crystalline structure with matrix pattern. Rheology of polymer including non Newton system based on the flow of the material from chitosan blending konjac glucomannan flour in the extrusion process which is showed a slow flow rate due to the high viscosity of the material.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Plastik sintetik ditinjau dari sumbernya termasuk dalam material yang

bersifat non-renewable dan non-biodegradable. Material plastik sintetik juga

mengandung aditif yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan jika

terpapar radiasi sinar ultraviolet. Jika sampah plastik sintetik dibakar, asap yang

ditimbulkan bersifat karsinogenik apabila terhirup oleh manusia akibat

pembakaran aditif yang terkandung dalam material plastik sintetik. Produksi

plastik sintetik juga membutuhkan konsumsi energi yang besar dan menghasilkan

emisi CO2 yang lebih besar dibandingkan dengan produksi plastik berbasis

biopolimer sepertiPoly Lactid Acid(PLA) danThermoplastic Starch(TPS) [1].

Bioplastik merupakan material yang menjanjikan untuk mensubstitusi

plastik sintetis. Sifatnya yang renewable, biodegradable, dan compostable

menjadikan tren penelitian di beberapa Negara maju seperti Eropa, Amerika,

Jepang, dan Cina. Produksi bioplastik membutuhkan energi relatif lebih kecil

dibandingkan dengan konsumsi energi pada produksi plastik sintetik dengan nilai

rata-rata konsumsi energi sebesar 25-54 MJ/Kg polimer [1]. Produk bioplastik

juga mampu bersaing secara kompetitif di pasar seperti di Negara-negara Eropa,

dan Amerika. Produk bioplastik telah diproduksi dan tersedia secara komersial

(16)

“Pland Paper” (produk kertas kemasan makanan dan minuman dari PLA),

“Cereplast”, dan “EcoPond” [2].

Thermoplastic Starch (TPS) merupakan salah satu jenis bioplastik yang

secara intensif mulai dimunculkan pada tahun 1970-an sejak kesadaran

masyarakat meningkat secara drastis terhadap lingkungan. Keunggulan TPS yang

bersifat biodegradable, renewable, dan sustainable menjadikan tren

pengembangan terhadap material TPS sangat pesat. Dua kunci penting yang

menjadi sorotan pengembangan material bioplastik jenis TPS yaitu peningkatan

sifat mekanika TPS dan pengurangan nilai penyerapan air (water uptake) [3].

Tepung konjac glukomannan (KGM) telah diteliti kemampuannya dalam

membentuk film kedap air dengan adanya penambahan gliserol atau sedikit

larutan NaOH. Selama ini tepung KGM banyak diproduksi di Indonesia untuk

kepentingan ekspor ke Negara Jepang sebagai bahan konnyaku (pengenyal) dan

berakhir kembali ke Tanah Air sebagai tepung konnyaku untuk aditif pengenyal

dalam beberapa jenis makanan seperti mie dan agar-agar [4].

Dalam dekade terakhir, perkembangan pesat terjadi pada penelitian edible

film dari kitosan. Laporan penelitian Agullo et al. (2003) menyatakan bahwa

kitosan mampu membentuk film dengan karakter sifat mekanika yang kuat, dan

memiliki nilai permeabilitas terhadap air serta oksigen yang cukup baik [5].

Karakter sifat mekanika dari kitosan tersebut sangat prospektif untuk

dikombinasikan dengan tepung KGM dalam pengembangan material bioplastik.

Blending polimer merupakan teknik pencampuran polimer yang paling

(17)

produk baru yang mempunyai sifat-sifat unggul dibandingkan dengan

masing-masing materi pembentuknya. Blending polimer menggunakan teknologi

ekstrusi dalam mesin ekstruder merupakan metode yang efektif untuk memproses

material bioplastik dari tepung KGM dan kitosan. Proses ekstrusi material TPS

tidak dapat menggunakan metode konvensional termoplastik disebabkan oleh

terjadinya dekomposisi termal dari material sebelum mencapai titik lelehnya (Tm).

Oleh karena itu, penggunaan air dan plasticizerseperti gliserol sangat diperlukan

dalam memproses material tersebut. Selain penggunaan air dan plasticizer, untuk

melindungi struktur material dari kerusakan akibat pemanasan dan gesekan pada

ekstruder diperlukan aditif berupa stabilizer tris-nonylphenylphospite (TNPP)

yang telah diaplikasikan pada material biopolastik jenis Poly Lactic Acid (PLA)

[6].

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan material bioplastik dengan

teknik blending dari tepung KGM dan kitosan melalui teknologi ekstrusi

menggunakan single screw extruder. Hasil penelitian ini diharapkan dapat

digunakan untuk mempelajari karakter material bioplastik dan ditindaklanjuti

melalui penelitian berikutnya untuk memperoleh karakter material bioplastik yang

sesuai dengan permintaan pasar. Selain itu, hasil penelitian dapat dipakai sebagai

kontribusi ilmiah untuk produsen plastik sintetik yang akan memproduksi material

(18)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka fokus penelitian dapat

dirumuskan sebagai berikut:

a. Apakah blending polimer antara tepung KGM dan kitosan dapat

menghasilkan material bioplastik yang diproses menggunakan mesin

single screw extruder?

b. Bagaimana karakteristik sifat fisikokimia material bioplastik dari

blending polimer antara tepung KGM dan kitosan yang diproses

menggunakan mesinsingle screw extruder?

c. Bagaimana reologi polimer material bioplastik dari blending polimer

antara tepung KGM dan kitosan yang diproses menggunakan

menggunakan mesinsingle screw extruder?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Mempelajari material bioplastik dari blending polimer antara tepung

KGM dan kitosan yang diproses menggunakan mesin single screw

extruderberdasarkan identifikasi awal material

b. Mempelajari karakteristik sifat fisikokimia material bioplastik dari

blending polimer antara tepung KGM dan kitosan yang diproses

menggunakan mesinsingle screw extruder

c. Mempelajari reologi polimer material bioplastik dari blending polimer

antara tepung KGM dan kitosan yang diproses menggunakan

(19)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu sebagai dasar

pengembangan penelitian lebih lanjut terkait peningkatan karakteristik material

bioplastik, dan perancangan peralatan terkait proses produksi skala industri dari

material bioplastik yang sesuai dengan karakteristiknya. Lebih lanjut, hasil

penelitian ini akan didedikasikan untuk kontribusi ilmiah dalam pengembangan

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Plastik

Sejak tahun 1960-an, penggunaan plastik mulai menggantikan material

lain seperti logam dan keramik pada berbagai aspek kehidupan karena

keunggulannya seperti ringan, murah, dapat didaur ulang, dan mudah dibentuk.

Definisi plastik menurut SNI 7188.7:2011 adalah senyawa makromolekul organik

yang diperoleh dengan cara polimerisasi, polikondensasi, poliadisi, atau proses

serupa laninnya dari monomer atau oligomer atau dengan perubahan kimiawi

makromolekul alami [7]. Dengan kata lain plastik adalah suatu material rekayasa

yang tersusun atas polimer beserta aditifnya dengan komposisi struktur molekul

yang rumit dengan sengaja diatur untuk memenuhi aplikasi spesifik yang

diinginkan.

Polimer didefinisikan sebagai suatu bahan yang terdiri dari unit molekul

(monomer) yang berulang. Sifat produk akhir polimer (sifat mekanis, optis, dan

lainnya) sangat dipengaruhi oleh perilaku molekul penyusunnya dan bergantung

pada komposisi, ukuran, susunan, morfologi, struktur molekul, dan

karakteristiknya pada level molekuler. Polimer secara molekuler merupakan suatu

rantai polimer panjang, dimana rantai ini dapat menekuk, terpilin, saling terkait,

dapat saling menempel atau berinteraksi antar rantai. Interaksi ini dapat

menghasilkan susunan molekul yang rapat dan teratur (struktur kristalin) dan/atau

(21)

diperhatikan pada interaksi rantai ini adalah perbandingan struktur kristalin dan

amorf yang terbentuk pada polimer. Semakin banyak struktur kristalin pada

polimer, maka material tersebut akan semakin kaku sehingga kekuatannya tinggi.

Sebaliknya, semakin banyak struktur amorf, keuletan dan transparasinya semakin

baik, sebab struktur amorf cenderung bersifat seperti pegas. Material berstruktur

amorf dapat ditembus cahaya karena susunannya yang renggang dan tidak teratur

[8].

Pada proses manufaktur maupun pada aplikasi, yang sebenarnya dilakukan

terhadap material plastik adalah memberikan energi (baik berupa panas maupun

mekanis) kepada rantai molekul polimer tersebut sehingga respon rantai molekul

terhadap gaya yang diberikan menjadi karakteristik dari material tersebut. Dalam

memproduksi plastik agar mempunyai sifat seperti yang dikehendaki, maka

diperlukan bahan tambahan (aditif). Aditif pada material plastik digunakan untuk

meningkatkan kinerja dari material polimer pada tahap produksi. Beberapa jenis

aditif membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan manusia, seperti phthalates

dan bisphenol-A. Phthalates yang terserap melalui kulit atau inhalasi bertindak

seperti hormon endokrin dan menjadi pengacau dalam tubuh hewan dan manusia.

Bisphenol-A mampu mengubah fungsi normal gen meniru hormon estrogen dan

mengganggu fungsi reproduksi [9].

Berdasarkan kriteria material rekayasa, polimer terbagi menjadi tiga

golongan yaitu termoplastik, termoset, dan elastomer. Termoplastik adalah

polimer yang memiliki struktur rantai lurus atau bercabang, sehingga dapat

(22)

polimer yang terikat dalam jaringan tiga dimensi (cross-link) sehingga ketika

sudah terbentuk rantai, rantai ini sulit bergerak ketika diberikan panas. Jenis

material ini memiliki kinerja mekanis dan termal tinggi namun tidak dapat

dilelehkan ulang. Elastomer adalah polimer dengan rantai molekul yang saling

terikat seperti material termoset, namun karena jumlah ikatannya lebih sedikit dan

berstruktur rantai lurus panjang, maka material tersebut bersifat sangat ulet

(memiliki elongasi atau regangan elastis yang sangat baik) [8].

2.2 TepungKonjacGlukomannan (KGM)

Tepung konjac glukomannan atau dikenal sebagai tepung KGM adalah

suatu heteropolisakarida dari jenis tanaman umbiAmorphophallus konjac (dalam

bahasa Jawa disebut iles-iles). KGM merupakan kopolimer acak linier dari rantai

β-(1,4)-D-mannosa dan β-D-glukosa, dengan rasio perbandingan mannosa dan

glukosa sebesar 1,6:1. Struktur kimia KGM menunjukkan adanya substitusi gugus

asetil pada C-6 dari unit glukosa. Material berbasis pati seperti KGM sangat

menjanjikan untuk diaplikasikan sebagai substituen plastik konvensional karena

sifatnya yang biodegradabel, mudah diperbarui (renewable), dan biokompatibel

[10]. Namun demikian, masih terdapat kelemahan pada material biopolimer

berbasisstarchyaitu sifat kerapuhan pada film. Gambar 2.1 menunjukkan struktur

kimia glukomannan.

(23)

Tepung KGM sangat sulit untuk diproses menjadi material bioplastik

dengan metode konvensional termoplastik, disebabkan oleh kuatnya interaksi

ikatan hidrogen intermolekul. Interaksi tersebut dalam sistem polimer KGM

mengakibatkan ketidakmunculan sifat termoplastis, sehingga polimer KGM

terdekomposisi lebih dulu sebelum mencapai titik lelehnya (Tm) [11].

Termoplastisitas dari KGM dapat diperbaiki dan ditingkatkan melalui

pengurangan ikatan hidrogen intermolekul. Modifikasi fisika melalui ekstrusi

dalam sistem kontrol temperatur, tekanan, dan shearing tertentu merupakan salah

satu alternatif untuk meningkatkan sifat termoplastisitas dari KGM [12].

Penelitian terkait tepung KGM sebagai material bioplastik sangat terbatas.

Tatirat et al. telah meneliti sifat fisikokimia dari tepung KGM yang diproses

melalui modifikasi ekstrusi, namun terfokus pada pengurangan nilai penyerapan

terhadap air (water absorption index) dan kelarutannya terhadap air (water

solubility index) [12]. Peneliti lain Xiaoyan et al. dari Cina telah meneliti

kemampuan sifat termoplastis dan pelelehan yang dapat dibentuk dari tepung

KGM akibat pengaruh asetilasi pada tepung KGM, namun terfokus pada

dekomposisi termal dan temperatur transisi gelas dari tepung KGM [10].

2.3 Kitosan

Kitosan merupakan kopolimer rantai lurus dengan struktur kimia yaitu

[β-(1,4)-D-glucosamine] diproses melalui deasetilasi kitin dalam kondisi alkali

yang kuat dan temperatur ekstrim [13]. Kitin banyak ditemukan dari sumber alam,

(24)

udang), fungi, serangga, dan beberapa alga [14]. Gambar 2.2 menunjukkan

struktur kimia kitosan.

Kitosan tidak larut dalam air, namun larut dalam pelarut asam di bawah

pH 6 misalnya asam asetat, formiat, dan laktat. Larutan kitosan tidak stabil pada

kondisi pH di atas 7, dikarenakan terjadi presipitasi atau terjadi pembentukan gel

pada rentang pH alkali [13].

Kitosan secara komersial banyak diproduksi terutama dari kelompok

crustacea (kepiting; udang laut; udang karang; udang air tawar; dan udang kali)

dikarenakan ketersediaan kerangka luar (eksoskeleton) dari kelompok crustacea

dapat diperoleh dalam jumlah besar dari limbah pabrik makanan olahan yang

bersumber dari hasil perikanan dan kelautan. Kandungan senyawa kimia dari

limbah cangkang udang karang maupun udang kali pada kondisi kering yaitu

protein (30-40%), kalsium karbonat (30-50%) dan kitin (30-50%) [15]. Gambar

2.3 menunjukkancrustaceansumber penghasil kitin.

Gambar 2.2 Struktur kimia kitosan

(25)

Pembuangan limbah kulit/cangkang kelompok crustacea menjadi

tantangan bagi industri pengolah makanan olahan hasil perikanan dan kelautan.

Oleh karena itu produksi kitin, kitosan, dan turunannya sangat prospektif dan

memberikan nilai tambah kegunaan dan ekonomi dalam aplikasinya di berbagai

bidang.

2.4 Proses Ekstraksi Kitosan dari Limbah Cangkang Udang

Kitosan dapat diekstrak dari sumber kitin melalui ekstraksi konvensional

dan secara enzimatis. Metode ekstraksi kitosan konvensional dari limbah

cangkang udang meliputi empat tahapan kerja yaitu deproteinasi (DP),

demineralisasi (DM), depigmentasi (DC), dan deasetilasi (DA), selanjutnya

disingkat DPMCA (lihat Gambar 2.4).

Tahap deproteinasi bertujuan untuk menghilangkan material protein

melalui perlakuan alkali; tahap demineralisasi untuk menghilangkan kalsium

karbonat dan kalsium pospat melalui perlakuan asam; depigmentasi untuk

menghilangkan pigmen melalui ektraksi pelarut dan bleaching; serta deasetilasi

untuk transformasi kitin menjadi kitosan melalui perlakuan alkali yang kuat [15].

2.5 Kemampuan Pembentukan Film dari Kitosan

Kitosan dengan berat molekul yang tinggi memiliki kemampuan

membentuk film yang bagus karena ikatan hidrogen intramolekul (O5---H-O3)

atau (O2-H---O6) dan ikatan hidrogen intermolekul (N-H---O) [16]. Film yang

(26)

Cangkang udang basah selama 2 jam 65°C solid : solvent 1:10 (w/v)

1 N HCl selama 30 menit pada temperatur ruang solid : solvent 1:15 (w/v)

0,315% NaOCl (w/v) selama 5 menit pada temperatur ruang

solid : solvent 1:10 (w/v)

50% NaOH (w/v) selama 30 menit pada 121°C solid : solvent 1:10 (w/v)

Gambar 2.4 Skema produksi kitosan (Modifikasi dari No dan Meyers, 1995) mencapai 9000 psi dan dipreparasi melalui metode pencetakan (casting) pelarut.

Film yang terbentuk memiliki sifat mekanika dan ketahanan terhadap gas yang

baik. Namun demikian, karakteristik film kitosan bervariasi dari setiap hasil

penelitian. Hal tersebut dipengaruhi oleh sumber kitin yang digunakan, pelarut,

metode untuk preparasi film, tipe dan jumlah plasticizer yang ditambahkan

(27)

Film kitosan dengan tujuan sebagai material pengemas, harus memenuhi

syarat yaitu tahan lama, resisten terhadap tekanan, fleksibel, lentur, dan elastis.

Tabel 2.1 berikut adalah pengukuran nilai kuat tarik film kitosan dari udang

karang dengan pelarut asam asetat 1% dibandingkan dengan film dari polimer

sintetik yaitu HDPE dan LDPE [13].

Park et al. (2002) melaporkan bahwa kitosan dalam pelarut asam asetat

membentuk dimer, yang mengindikasikan bahwa interaksi intermolekuler relatif

kuat dan mengarah ke struktur yang lebih rapat daripada dipreparasi dengan

larutan asam yang lainnya [20].

Tipe Kitosan Kuat Tarik (MPa)

% Elongation Modulus (MPa) DPMCA 82,0 ± 8,7 25,0 ± 8,9 3309,5 DPMA 129,5 ± 4,2 45,0 ± 6,7 3120,6

DMCA 135,8 ± 9,8 37,1 ± 3,1 3348,8

DMA 132,9 ± 9,6 43,2 ± 3,6 4120,5

HDPE 17,3 – 34,6 300

-LDPE 8,6 – 17,3 500

-2.6 Teknologi Ekstrusi

Ekstrusi merupakan suatu proses yang mengkombinasikan beberapa

proses meliputi pencampuran (mixing), pengadukan (shearing), pemasakan

(cooking), dan pencetakan (shaping). Tujuan ekstrusi ditinjau dari ilmu polimer

yaitu untuk memodifikasi struktur material melalui proses polimerisasi atau reaksi

kimia lain sebagai akibat dari pengaruh tekanan, pemanasan, dan shearing [3].

(28)

(bergantung pada die), proses yang otomatis dan produktivitasnya tinggi

(HTST-High Temperatur Short Time).

Ekstruder merupakan alat yang digunakan untuk melakukan proses

ekstrusi. Klasifikasi ekstruder berdasarkanscrew/ulir terbagi menjadisingle screw

extruder dan double/twin screw extruder. Pada berbagai sektor industri, single

screw extruder tetap paling banyak diminati daripada double screw extruder

disebabkan oleh harganya yang terjangkau, pengoperasian lebih mudah, biaya

pemeliharaan tidak terlalu tinggi, dan kondisi pengoperasian tidak banyak variasi.

Berikut Gambar 2.5 yang menjelaskan bagian-bagian dalam mesin ekstruder.

Prinsip kerja ekstruder yaitu bahan diisikan melalui hopper ke dalam

tabung berulir secara berkesinambungan. Putaran ulir menyebabkan bahan

terdorong ke bagian die. Selama proses ini, bahan mengalami gaya tekan dan

gesekan antara ulir dengan bahan. Gesekan yang dialami oleh bahan turut serta

menimbulkan kalor yang memanaskan bahan tersebut. Bahan yang keluar daridie

ekstruder mengalami perubahan tekanan dan temperatur yang jauh lebih rendah

daripada di dalam ekstruder. Pada kondisi tersebut air di dalam bahan, dari

(29)

menguap ke udara. Hal ini menyebabkan terciptanya rongga udara dan sekaligus

pengembangan bahan [21].

2.7 Plasticizer

Plasticizer (bahan pelembut) adalah bahan organik dengan berat molekul

rendah yang ditambahkan pada suatu produk dengan tujuan untuk menurunkan

kekakuan dari polimer, sekaligus meningkatkan fleksibilitas dan ekstensibilitas

polimer. Adapun syarat-syarat plasticizer yang digunakan sebagai zat pelembut

adalah stabil (inert), yaitu tidak terdegradasi oleh panas dan cahaya, tidak

mengubah warna polimer dan tidak mengakibatkan korosi [22].

Beberapa teori telah diusulkan untuk menjelaskan mekanisme aksi

plasticization. Teori pelumasan menjelaskan bahwa plasticizer bertindak sebagai

pelumas internal dengan mengurangi gesekan kekuatan antara rantai polimer.

Teori gel merumuskan bahwa kekakuan polimer berasal dari struktur 3D polimer,

dan plasticizer memecah interaksi antar polimer misalnya interaksi ikatan

hidrogen, dan van der Waals. Teori volume bebas menyatakan plasticization

berguna dalam menjelaskan penurunan temperatur transisi gelas (Tg) [23].

Gliserol adalah salah satu jenis plasticizer dari golongan gula alkohol,

rasanya manis dan toksisitasnya rendah. Senyawa ini tidak berwarna, tidak berbau,

dan berupa cairan kental. Gliserol menjadi rujukanplasticizer oleh para ilmuwan

yang mengembangkan bioplastik TPS disebabkan harganya yang terjangkau, dan

(30)

2.8 Stabilizer

Penstabil berfungsi untuk mempertahankan produk polimer dari kerusakan

selama proses ekstrusi, dan penyimpanan. Penstabil terbagi menjadi tiga jenis

yaitu penstabil panas, penstabil sinar ultrafiolet, dan antioksidan. Penstabil panas

melindungi struktur asli polimer dari kerusakan/dekomposisi material selama

proses ekstrusi berlangsung yang diakibatkan oleh putaran dan gesekan screw,

serta temperatur pemanasan yang tinggi [21]. TNPP (tris-nonylphenilphospite)

merupakan stabilizer thermal yang sering diaplikasikan dalam pembuatan

bioplastik dari PLA (poly lactid acid) [6].

2.9 Derajat Deasetilasi (DD)

Derajat deasetilasi adalah prosentase gugus asetil yang hilang selama

proses isolasi kitin maupun selama proses deasetilasi. Derajat deasetilasi dapat

ditentukan dengan pendekatan spektra IR melalui perhitungan metode baseline

dari nilai absorbansi sampel pada bilangan gelombang 1655 cm-1 dan 3450 cm-1.

Bilangan gelombang 1655 cm-1menunjukkan absorbansi gugus amida sedangkan

bilangan gelombang 3450 cm-1 menunjukkan absorbansi gugus hidroksil [24].

Derajat deasetilasi ditentukan dengan metode baseline yang dapat ditunjukkan

pada Gambar 2.6 [25].

Bilangan gelombang cm-1

P

(31)

2.10 X-Ray Diffraction(XRD)

Sinar-X adalah gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang

antara 0,5-2,5 Å. Sinar ini bergerak menurut garis lurus, tidak terdiri dari partikel

bermuatan sehingga tidak dibelokkan oleh medan magnet. Sinar-X memiliki dua

jenis spektrum yaitu radiasi kontinyu berupa pita-pita lebar, dan radiasi

karakteristik yang dinyatakan dalam puncak-puncak khas yang banyak digunakan

untuk analisa struktur [26].

Pada metoda difraksi sinar-X diperlukan sinar monokromatik, dimana jika

sinar-X monokromatik mengenai sampel, maka ada dua proses kemungkinan yang

terjadi yaitu jika sampel memiliki struktur kristalin, maka sinar-X akan terhambur

secara koheren, peristiwa ini dikenal sebagai efek difraksi sinar-X. Jika sampel

memiliki struktur kristalin dan amorf, maka sinar-X akan terhambur secara tidak

koheren, peristiwa ini dikenal sebagai hamburan Compton. Gambar 2.7

menunjukkan pola difraksi sinar-X hamburan Compton [27].

Sudut 2θ (°) Intensitas

Hamburan

Hamburan

Hamburan amorf

Latar Belakang

Hamburan IC

IA

(32)

2.11 Fourier Transform Infrared(FTIR)

FTIR digunakan untuk mengidentifikasi material, menentukan komposisi

dari campuran, dan membantu memberikan informasi dalam menganalisis gugus

fungsi suatu material. Sampel yang digunakan biasanya berupa material dalam

keadaan padat, cair, atau gas. Analisa dengan metode ini didasarkan pada fakta

bahwa molekul memiliki frekuensi spesifik yang dihubungkan dengan vibrasi

internal dari atom gugus fungsi. Ketika sampel diletakkan dalam berkas radiasi IR,

sampel mengabsorpsi radiasi pada frekuensi yang sesuai dengan frekuensi

vibrasional molekular dan meneruskan seluruh frekuensi yang lain. Spektrometri

IR mengukur frekuensi dari radiasi yang terabsorpsi, dan plot hasil dari energi

terabsorpsi versus frekuensi dikenal sebagai spektrum IR dari material yang

dianalisis. Identifikasi senyawa dapat dilakukan karena perbedaan struktur kimia

material akan memberikan vibrasi karakteristik dan menghasilkan spektra IR yang

unik, yaitu daerah sidik jari untuk tiap-tiap material. Pengukuran FTIR standar

berlangsung pada rentang 7000-400 cm-1, tetapi dapat pula mencapai ~50 cm-1,

dengan menggunakan tambahan sumber sinar, optik, dan detektor. Keuntungan

dari metode FTIR ini yaitu radiasi sumber sinar yang lebih tinggi, perbandingan

sinyal/noiseditingkatkan, mengurangi waktu pengukuran, dan akurasi pengukuran

yang lebih tinggi dibandingkan dengan spektrometer dispersif cahaya

(33)

2.12 Scanning Electron Microscopy(SEM)

Mikrostruktur morfologi film diuji menggunakan mikroskop elektron

untuk mengetahui topografi permukaan dan penampang melintang suatu polimer.

Prinsip kerja SEM dimulai dengan berkas elektron primer dengan energi kinetik

1 – 25 kV mengenai sampel, kemudian elektron tersebut direfleksikan atau

dipancarkan. Elektron yang direfleksikan ini disebut dengan elektron sekunder

yang akan muncul dan menentukanimageyang teramati di layarmicrographpada

alat SEM [28].

2.13 Differential Scanning Calorimetry(DSC)

Metode DSC diukur menggunakan suatu instrumen analisis termal dimana

suatu sampel polimer dan referensi inert dipanaskan dalam atmosfer nitrogen.

Selanjutnya transisi termal dalam sampel dideteksi dan diukur. Pemegang sampel

yang paling umum digunakan yaitu pan alumunium yang berukuran sangat kecil,

dan referensinya yaitu pan kosong atau yang mengandung bahan inert dalam area

temperatur yang diinginkan. Ukuran sampel yang dimasukkan dalam pan sampel

bervariasi mulai dari 0,5 hingga 10 mg. Dalam teknik DSC, panas yang diserap

maupun yang dibebaskan bertujuan untuk membuat perbedaan temperatur antara

sampel dan senyawa pembanding menjadi nol [26].

2.14 Karakterisasi Sifat Mekanik Film Plastik

Uji sifat mekanik film dilakukan dengan uji tarik. Uji tarik merupakan

(34)

tekanan tertentu. Suatu bahan dengan uji tarik yang tinggi memiliki sifat mekanik

lebih kuat dibandingkan bahan dengan uji tarik rendah [28].

Beberapa besaran fisika yang digunakan untuk menentukan sifat fisik

material yaitu tegangan (stress), regangan (strain), dan modulus Young. Semua

besaran ini diperoleh dengan melakukan uji tarik terhadap material yang akan

diukur.

Tegangan (stress) adalah besarnya gaya (F) yang diberikan pada material

yang diuji per satuan luas material (A) [29]. Hubungan antara besarnya gaya yang

diberikan dengan besarnya tegangan ditunjukkan persamaan (1) :

A F

 (1)

dengan : σ= tegangan

F = gaya

A = luas penampang

Regangan (strain) adalah perbandingan mula-mula akibat suatu gaya

dengan arah sejajar perubahan panjang tersebut [29]. Hubungan antara regangan

dengan perubahan panjang ditunjukkan pada persamaan (2) :

dengan : ε = regangan

Δl = perubahan panjang

lo = panjang awal ε=

0

l l

(35)

Nilai regangan ditunjukkan oleh prosentase elongation at break seperti pada

dengan : EB = Elongation at break

Hubungan antara tegangan dan regangan dinyatakan dalam Hukum Hooke

yaitu strain berbanding lurus dengan stress yang dipenuhi pada daerah elastis.

Hubungan antara tegangan dan regangan dapat ditunjukkan pada Gambar 2.8 [28].

Pada bagian awal kurva perubahan tegangan dan regangan berbanding

lurus sampai titik a (batas berbanding lurus) tercapai dan mengacu pada Hukum

Hooke. Mulai a sampai b tegangan dan regangan tidak berbanding lurus, tetapi

bila beban ditiadakan di sebarang titik antara a dan b, kurva akan kembali

menelusuri jejaknya dan bahan yang bersangkutan akan kembali pada keadaan

awal. Dengan demikian daerah a sampai dengan b bahan tersebut dapat

dinyatakan sebagai bahan yang elastis.

(3)

(36)

Modulus Young atau Modulus Elastis (E) adalah kemiringan dari kurva

tegangan – regangan sebelum tercapai hasil tegangan [29].

Persamaannya adalah sebagai berikut :

(4)

dengan : E =Modulus Young

σ= tegangan

ε= regangan

Titik b merupakan batas sifat elastis sedangkan dari b ke d bahan akan

mengalami deformasi plastis, artinya bahan tidak akan kembali ke keadaan awal

setelah gangguan ditiadakan. Jika antara batas elastis dan titik putus terjadi

deformasi plastis yang besar, suatu bahan dikatakan kenyal (ductile) tetapi jika

pemutusan bahan segera melewati batas elastis maka suatu bahan dikatakan rapuh

(brittle) [29].

  

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik Departemen Kimia

Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Laboratorium Dasar

Bersama (LDB) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, dan Laboratorium

Polimer Technical Departement (TCD) PT. Chandra Asri Petrochemical, Tbk.

Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian ini yaitu sembilan bulan

dimulai pada bulan Oktober – Juli 2012.

3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian 3.2.1 Bahan penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu tepung konjac

glukomannan [KGM] 28% (diperoleh dari PT. Ambico), kitosan dengan derajat

deasetilasi 88% (diperoleh dari CV. Bio Chitosan Indonesia), etanol absolut p.a.

(Merck), gliserol p.a. (SAP), asam asetat glasial 99,99% p.a. (Merck), dan

tris-nonylphenylphospite [TNPP] (diperoleh dari PT. Chandra Asri Petrochemical,

Tbk.), dan akuades (diperoleh dari PT. Bratachem).

3.2.2 Peralatan penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mesin single screw

extruder (Yokohama Chemical), mixer (Ribbon), penyaring mesh 60 dan 20,

(38)

(gelas beaker ukuran 1000, 500, dan 250 mL; gelas ukur 100 dan 50 mL; labu

ukur ukuran 1000 dan 500 mL; pipet tetes; magnetic stirrer; corong ukuran

sedang dan kecil; serta pengaduk gelas).

Sedangkan untuk keperluan analisis kuantitatif maupun kualitatif

digunakan instrumen spektroskopi IR Shimadzu tipe Prestige-21 dan Nicolet tipe

iS10, Differential Scanning Calorimetry (DSC) Shimadzu tipe DSC-50 dengan

thermal analyzertipe TA-501, autograph Shimadzu tipe AG-10TE, Densimeter H,

Scanning Electron Microscopy (SEM)-EDX tipe JEOL JSM-6360 dan JED-2200,

danX-Ray Diffraction(XRD) Philips Analytical.

3.3 Tahapan Kerja Penelitian

Tahapan kerja dalam penelitian secara berurutan meliputi studi pustaka,

perancangan draft proposal skripsi, eksperimen (karakterisasi sifat fisikokimia

tepung KGM, karakterisasi sifat fisikokimia kitosan, preparasi material dan

larutan kerja, proses ekstrusi blending material, karakterisasi sifat fisikokimia

ekstrudat dan film bioplastik), analisis sementara hasil eksperimen, penulisan

naskah akhir skripsi, dan pembuatan artikel ilmiah.

3.3.1 Karakterisasi sifat fisikokimia tepung KGM

Karakterisasi sifat fisikokimia tepung KGM meliputi pengamatan visual

intensitas warna tepung, analisis kandungan glukomannan, analisis termal

menggunakan DSC, analisis gugus fungsi menggunakan FTIR, dan morfologi

(39)

3.3.1.1 Pengamatan intensitas warna tepung

Intensitas warna tepung diamati secara visual untuk identifikasi awal

prediksi kandungan glukomannan dari tepung KGM. Kandungan glukomannan

dari tinggi ke rendah dapat ditunjukkan dengan intensitas warna yaitu dari warna

putih mengkilap (tinggi) – krem (sedang) – moka krem (rendah) [4].

3.3.1.2 Analisis kandungan glukomanan

Glukomannan dalam tepung KGM adalah kandungan penting (selain

kandungan amilosa, amilopektin, dan air) yang diinginkan dalam pengembangan

material bioplastik dan harus dianalisis untuk dijadikan dasar dalam preparasi

selanjutnya sebelum diproses di mesin ekstruder. Kandungan glukomannan

dianalisis menggunakan metode gravimetri oleh Laboratorium Balai Besar

Pascapanen Bogor. Metode standar analisis kandungan glukomannan secara

gravimetri dijelaskan sebagai berikut. Sampel ditimbang sebesar 0,5-1 gram,

kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi 50 mL. Sampel dilarutkan dengan

50 mL akuades dan dikocok menggunakan ultrasonik pada temperatur 60°C

selama 60 menit, selanjutnya diinkubator ±24 jam pada temperatur 60°C. Sampel

disentrifuge, diambil cairan jernihnya, ditampung dalam labu erlenmeyer 200 mL

yang sudah terisi 50 mL etanol absolut p.a. Kocok labu secara perlahan dan akan

(40)

Saring dengan kertas saring yang sudah diketahui massanya. Cuci labu erlenmeyer

dan kertas saring dengan etanol absolut p.a., selanjutnya keringkan dalam oven

pada temperatur 100°C selama 30 menit. Kertas saring dan endapan ditimbang

[30]. Perhitungan massa glukomannan yaitu:

3.3.1.3 Analisis termal menggunakan DSC

Analisis termal terhadap tepung KGM menggunakan DSC dengan

pengaturan temperatur pada Tabel 3.1. Preparasi sampel yang akan dianalisis

yaitu dengan menimbang sejumlah 5 mg sampel dan diletakkan dalam pan

Alumunium (Al). Pan yang berisi sampel selanjutnya diberikan seal di bagian

atas, dan dipelet menggunakan alat tekan dalam kondisi vakum. Gas nitrogen (N2)

yang terhubung dengan instrumen DSC digunakan untuk memberikan aliran

atmosfer selama proses pengujian [31].

Laju rata-rata

Temperatur dalam sistem instrumen DSC diatur dari 0°C hingga 200°C

dengan laju kenaikan panas 10°C per menit dimana pada 200°C temperatur

ditahan selama 5 menit, kemudian temperatur diturunkan hingga 30°C dengan laju

penurunan panas 10°C per menit dan pada 30°C temperatur ditahan selama 3

menit, selanjutnya temperatur dinaikkan kembali hingga 200°C. Data yang keluar

yaitu berupa termogram dimana sumbu-x menyatakan waktu (menit) dan fungsi W glukomannan = W (kertas+endapan) – W kertas saring kosong

(41)

temperatur (°C), sedangkan sumbu-y menyatakan laju panas/heat flow dalam

miliwatt (mW).

3.3.1.4 Analisis spektra FTIR

Preparasi sampel untuk analisis menggunakan FTIR tipe Shimadzu

melalui teknik pelet KBr. Metode standar preparasi yaitu sejumlah 2 mg sampel

dicampur dengan 200 mg KBr hingga homogen menggunakan alat vibrating mill.

Sampel selanjutnya dicetak untuk membentuk pelet dan divakum selama proses

penekanan. Pelet selanjutnya diukur dengan IR Shimadzu tipe Prestige-21 hingga

muncul spektra FTIR [32]. Spektra FTIR menunjukkan pada sumbu-x adalah

bilangan gelombang (cm-1) dan sumbu-y menyatakan %T (transmittance).

3.3.1.5 Morfologi mikrostruktur SEM

Langkah-langkah dalam preparasi sampel untuk analisis menggunakan

instrumen SEM yaitu dimulai dengan pemotongan sampel yang terpilih hingga

berbentuk balok berukuran ± 0,3 cm x 0,3 cm x 0,2 cm. Pemotongan sampel

diusahakan untuk lebih rapih dimana bidang yang dipilih harus rata, karena akan

berpengaruh terhadap hasil uji yaitu terutama pada fokus hasil pengujian secara

analisis area. Selanjutnya yaitu menyiapkan specimen holder dengan diameter 1

cm dan tebal 0,5 cm. Mengambil pasta perak/dotitedan mengoleskan ke specimen

holder yang sudah dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan aseton.

Pemberiandotitediusahakan lebih lengket karena berhubungan dengan kestabilan

sampel pada saat pengujian. Menempelkan sampel ke atas specimen holder yang

sudah diolesidotite, setelah kokoh oleskandotitelagi mengelilingi pinggir sampel

(42)

di atas hotplate selama 10-15 menit. Setelah kering sampel disemprot dengan

menggunakan blower agar terjaga kebersihannya. Memasukkan sampel ke dalam

alat fine coat. Coating ini di maksudkan agar sampel yang akan di uji menjadi

penghantar listrik [33].

3.3.2 Karakterisasi sifat fisikokimia kitosan

Karakterisasi sifat fisikokimia kitosan meliputi uji kelarutan dalam asam

asetat glasial 1%, analisis gugus fungsi dan perhitungan pendekatan nilai derajat

deasetilasi melalui spektra FTIR, analisis termal menggunakan DSC, morfologi

mikrostruktur menggunakan SEM, dan analisis kristalinitas material

menggunakan XRD.

Metode standar untuk preparasi sampel FTIR, SEM, dan DSC serta

pengkondisian sampel sesuai dengan metode preparasi yang dijelaskan pada

karakterisasi tepung KGM.

3.3.2.1 Uji kelarutan kitosan

Kelarutan kitosan terhadap pelarut asam asetat glasial berperan penting

dalam menentukan volume pelarut asam asetat glasial untuk melarutkan kitosan

dengan sempurna dalam waktu yang cepat. Hal ini sangat erat kaitannya dengan

preparasi kitosan selanjutnya sebelum diproses di mesin ekstruder, mengingat

komposisi kitosan yang telah ditentukan dalam penelitian yaitu dalam jumlah

yang relatif besar.

Uji kelarutan kitosan diamati dengan melarutkan kitosan dalam larutan

asam asetat glasial 1% dengan rasio kitosan dan pelarut yaitu 1:10 (w/v) [13].

(43)

glasial dengan kemurnian 99,99% dipipet 1 mL, kemudian dilarutkan dalam

akuades pada labu ukur 100 mL, dan diencerkan hingga volume 100 mL serta

dikocok hingga homogen.

3.3.2.2 Analisis difraksi sinar-X

Pola difraksi sinar-X diukur menggunakan alat XRD dengan teknik

preparasi sampel sebagai berikut. Sebelum preparasi sampel, semua perangkat

untuk preparasi sampel dibersihkan dengan etanol 70%. Sampel dipadatkan di

holder (menggunakan meja preparasi sampel, pisau, brush, blok penekan) dan

permukaan sampel diatur sedemikian rupa sehingga rata dengan holdernya.

Sampel dimasukan pada alat XRD dan dipasang pada sampel stage. Sampel

diukur pada sudut panjang yaitu 2θ = 5 – 90° dengan sumber sinar jenis Cu

K-Alpha 1,54 [34].

3.3.2.3 Penentuan derajat deasetilasi (DD)

Prosentase nilai DD dapat ditentukan melalui metode titrasi menggunakan

PVSK (potassium polivinilsulfat) dan metode pendekatan melalui spektra IR.

Metode titrasi koloid menggunakan PVSK dikerjakan dengan prosedur yaitu

larutan kitosan disiapkan dengan melarutkan 0,5 g kitosan dalam asam asetat 5%

untuk mencapai volume akhir 100 g. Sebesar 1 g larutan kitosan diambil

kemudian ditambahkan 30 mL akuades. Titrasi dilakukan dengan meneteskan

1/400 N larutan PVSK dengan penambahan 2~3 tetes 0,1%toluidine blue sebagai

indikator. Titrasi dihentikan jika larutan kitosan tepat berubah menjadi warna

(44)

Untuk memastikan nilai DD hasil metode titrasi PVSK dari bahan kitosan

oleh suplier, maka dilakukan pengecekan ulang menggunakan metode pendekatan

melalui hasil spektra FTIR. Metode pendekatan nilai DD dengan spektra IR

menggunakan sotfware project Dini Iflakhah (2011) yang mengacu pada metode

base line, yaitu menggunakan spektra gugus amida sekitar 1655 cm-1 dan puncak

spektra gugus hidroksil sekitar 3450 cm-1.Softwarebekerja menggunakan metode

baseline a, baseline b dan persamaan yang digunakan dalam software untuk

menghitung nilai derajat deasetilasi yaitu persamaan Domzy dan Roberts, Baxter,

serta Sabnis [36].

3.3.3 Preparasi material dan larutan kerja

Larutan kerja yang digunakan dalam penelitian ini meliputi larutan etanol

absolut p.a. 70%, larutan asam asetat glasial 2%, larutan gliserol p.a. 20%.

Pembuatan larutan etanol absolut p.a. 70% yaitu larutan induk etanol absolut p.a.

dituang hingga volume 70 mL dalam labu ukur 100 mL, kemudian dilarutkan

dalam akuades dan diencerkan hingga volume 100 mL serta dikocok hingga

homogen.

Pembuatan larutan asam asetat glasial 2% yaitu larutan induk asam asetat

glasial dengan kemurnian 99,99% dipipet 2 mL, kemudian dilarutkan dalam

akuades pada labu ukur 100 mL, dan diencerkan hingga volume 100 mL serta

dikocok hingga homogen.

Pembuatan larutan gliserol p.a. 20% yaitu larutan induk gliserol p.a.

(45)

menggunakan akuades hingga volume 100 mL pada gelas beaker 100 mL serta

diaduk hingga homogen.

Material tepung KGM dipreparasi dengan cara ekstraksi glukomannan

dengan pelarut etanol absolut p.a. 70% selama ±36 jam dalam wadah kondisi

tertutup rapat. Selanjutnya campuran didekantasi secara perlahan, pelarut etanol

dipisahkan dan ¼ bagian tepung KGM paling atas dipisahkan sehingga diperoleh

kristal mengkilap glukomannan.

Preparasi serbuk kitosan yaitu dengan melarutkan dalam pelarut asam

asetat glasial 2% dengan rasio kitosan dan pelarut yaitu 1:10 (w/v). Konsentrasi

larutan asam asetat glasial yang semula 1% dinaikkan menjadi 2% dengan tujuan

untuk mempercepat kelarutan kitosan. Kitosan dapat larut sempurna dalam pelarut

asam asetat glasial 2% dengan dibantu pengadukan selama ± 48 jam untuk

mempercepat kelarutannya.

3.3.4 Proses ekstrusi material blending

Mesin ekstruder yang digunakan yaitu tipe mini single screw extruder

Yokohama Chemical dengan spesifikasi sebagai berikut (diameter screw 45 mm;

L/D 34; kecepatanscrew hopper 15,4-154 rpm; kecepatan screw extruder 50-500

rpm; tekanan 1000-5000 kPa; dan diameter exit hole 3,2 mm). Tabel 3.2

menunjukkan kondisi mesin ekstruder untuk proses ekstrusi material dalam

(46)

Item Kondisi Kecepatanscrew extruder(rpm) 200 Kecepatanscrew hopper(rpm) 150

Tekanan (kPa) 2000-4000

Profil temperaturbarrel(°C) - Zona 1(feed hopper) - Zona 2

Material yang akan diproses menggunakan ekstruder dicampur dalam

wadah mixer dan dilakukan pencampuran selama ±120 menit dengan kecepatan

pengadukan 30 rpm. Selanjutnya ditampung dalam wadah untuk diproses lebih

lanjut dalam mesin mini ekstruder. Tabel 3.3 menunjukkan perbandingan

komposisi material blending dalam % w/v.

Komposisi Tepung KGM Kitosan TNPP Gliserol

Blending-1 50 10 0,315 20

Blending-2 40 20 0,315 20

Blending-3 30 30 0,315 20

Material yang keluar dari proses ekstrusi disebut ekstrudat. Ekstrudat yang

keluar ditampung untuk dikeringkan pada temperatur 50°C dan dimasukkan

dalam kemasan alumunium laminated bag yang diisi dengan silika gel dan

pengatur kelembaban. Kemasan selanjutnya disimpan dalam desikator. Tabel 3.2 Kondisi mesin ekstruder

(47)

3.3.5 Karakterisasi sifat fisikokimia material ekstrudat dan film bioplastik Karakterisasi sifat fisikokimia material ekstrudat bioplastik meliputi

analisis gugus fungsi menggunakan FTIR, analisis termal DSC, analisis difraksi

sinar-X, dan morfologi SEM. Metode standar untuk preparasi sampel FTIR,

SEM, dan DSC serta pengkondisian sampel sesuai dengan metode preparasi yang

dijelaskan pada karakterisasi tepung KGM dan kitosan.

Dalam karakterisasi sifat mekanika film bioplastik, masing-masing

ekstrudat dicetak pada plat film ketebalan 1,5 cm menggunakan press molding

hidrolik. Profil temperatur press moldingdiatur pada pemanasan 120°C (mengacu

pada nilai Tm) selama ± 30-45 menit, dan pendinginan pada temperatur 50°C

selama 15 menit. Sampel film bioplastik selanjutnya dikarakterisasi sifat

mekanikanya melalui uji tarik menggunakan instrumen Autograph.

Prosedur kerja uji tarik yaitu menyiapkan sampel dengan ukuran panjang

10 cm x lebar 2 cm. Menghidupkan autograph, dan tekan tombol RETURN pada

crosshead control box. Selanjutnya letakkan sampel pada sample stage, dan atur

load (beban) dengan memutar tombol BALANCE pada kontrol load amplifier

sampai load 0,005 kN. Tekan tombol peak dan tombolUPpadacrosshead control

box. Sebelum sampel tepat putus, tekan tombol STOP. Nilai load (beban) inilah

yang dicatat dimana nilai tersebut mewakili nilai kuat tarik maksimum dari film

atau sampel yang diuji. Catat nilai LOAD (kN) dan POSITION (mm) ke dalam

buku kerja, jika sampel telah selesai dianalisis tekan tombol OFF untuk

(48)

Preparasi sampel untuk pengujian water uptakeyaitu dengan teknik press

molding hidrolik. Ekstrudat dicetak dalam plat besi berbentuk lingkaran dengan

ketebalan 2 cm dan diameter 1,5 cm pada temperatur 170°C. Sampel ditimbang,

dan selanjutnya dicelupkan dalam bejana air selama ± 30 menit, kemudian

(49)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakterisasi TepungKonjacGlukomannan (KGM) 4.1.1 Analisis kandungan glukomannan dalam tepung KGM

Tepung KGM yang bertindak sebagai filler (pengisi) dalam pembuatan

bioplastik sangat ditentukan oleh kandungan glukomannan dalam tepung.

Kandungan glukomannan dalam tepung KGM dapat diprediksi melalui

pengamatan intensitas warna tepung. Tepung KGM berwarna putih mengkilap

mengindikasikan kandungan glukomannan yang tinggi yaitu >80% [4]. Hasil

pengamatan intensitas warna terhadap tepung KGM dari PT. Ambico

menunjukkan warna moka krem yang mengindikasikan kandungan glukomannan

relatif rendah (ditunjukkan pada Gambar 4.1).

Data pendukung untuk mengetahui kadar glukomannan dalam tepung KGM

dianalisis menggunakan metode gravimetri. Berdasarkan hasil pengujian sampel

terhadap tepung KGM yang dikeluarkan oleh Laboratorium Pengujian Balai Besar Gambar 4.1 Tepung KGM dari PT. Ambico (kiri)

(50)

Pascapanen Bogor diperoleh kandungan glukomannan sebesar 27,084%

(ditunjukkan pada Tabel 4.1).

Item Spesifikasi Keterangan

Intensitas warna Moka Krem Pengamatan visual SO2 < 30 ppm Max Sertifikasi oleh PT. Ambico

pH 6,5-8 Max Sertifikasi oleh PT. Ambico Moisture 7-12% Sertifikasi oleh PT. Ambico Viskositas 17000-25000 cps Sertifikasi oleh PT. Ambico

Glukomannan 27,084% Lab.Pengujian Balai Besar

Pascapanen Bogor

4.1.2 Karakterisasi sifat fisikokimia tepung KGM

Sifat fisikokimia dari tepung KGM dikarakterisasi menggunakan peralatan

FTIR, DSC, dan SEM untuk mempelajari gugus fungsi dalam struktur polimer

glukomannan, nilai titik leleh (Tm), dan morfologi material. Spektra FTIR dari

tepung KGM ditunjukkan dalam Gambar 4.2.

Tabel 4.1 Spesifikasi mutu tepung KGM

(51)

Frekuensi Vibrasi (cm-1) Gugus Fungsi

1026 C−O−C

2931 −CH2−

3441 −OH

Berdasarkan termogram di atas menunjukkan bahwa tepung KGM

mengalami pelelehan pada temperatur 85,93°C menit keenam, namun peak

terlihat melebar, tidak tajam, dan tidak simetris. Peak tipe tersebut

menggambarkan bahwa material berstruktur amorf, sehingga jika material

mengalami pemanasan terus menerus akan mengalami retrogradasi (lingkaran

biru) dan terdekomposisi.

4.2 Karakterisasi Kitosan

4.2.1 Tahapan umum proses produksi kitosan

Secara umum kitosan hasil transformasi dari kitin diproses melalui

tahapan deproteinasi (DP), demineralisasi (DM), dan deasetilasi (DA) untuk

menghasilkan kemurnian kitosan >70%. Tahapan deproteinasi bertujuan untuk Tabel 4.2 Analisis gugus fungsi tepung KGM

Gambar 4.4 Termogram tepung KGM

85,93C E

(52)

menghilangkan material protein melalui perlakuan alkali. Tahapan selanjutnya

yaitu menghilangkan mineral yang terkandung dalam cangkang udang seperti

kalsium karbonat (CaCO3) dan kalsium pospat (Ca3(Po4)2) melalui perlakuan

asam menggunakan larutan HCl 2N. Reaksi kimia yang terjadi selama proses

demineralisasi yaitu:

Tahapan reaksi penentu dalam produksi kitosan yaitu deasetilasi, dimana terjadi

transformasi kitin menjadi kitosan sebagai akibat perlakuan alkali yang kuat

(NaOH 50%) dengan temperatur tinggi (121°C) selama ± 2 jam dibantu dengan

pengadukan. Mekanisme reaksi yang terjadi selama proses deasetilasi ditunjukkan

pada Gambar 4.6 [13].

4.2.2 Karakterisasi sifat fisikokimia kitosan

Kitosan yang digunakan dalam penelitian merupakan kitosan yang

diproduksi oleh CV. Bio Chitosan Indonesia. Berdasarkan dokumen yang

terlampir dalam produk kitosan dinyatakan bahwa kitosan tersebut diproses

melalui suatu reaktor dengan prinsip tahapan yaitu deproteinasi, demineralisasi,

depigmentasi, dan deasetilasi. Proses depigmentasi dilakukan melalui ektraksi dan

O

(53)

bleaching menggunakan aseton dan NaOCl. Spesifikasi produk kitosan dari CV.

Bio Chitosan Indonesia ditunjukkan dalam Tabel 4.4.

Item Spesifikasi Hasil Metode

Warna Putih/kuning Kuning pucat Visual

Bau Kurang bau Kurang bau Visual

Ukuran partikel Serbuk 20-30 mesh Metode mesh Kelarutan 99% min. 99% UP 6% larutan HCl 1%

pH (5%dispersion) 6,5-7,5 7,1 pH meter

Viskositas 50 cps max. 12 cps 0,5% dalam larutan asam asetat

Derajat Deasetilasi 70% min. 88,5% PVSK

Pengujian pendukung untuk sifat fisikokimia kitosan meliputi uji

kelarutan, analisis gugus fungsi melalui FTIR, penentuan derajat deasetilasi (DD)

melalui pendekatan analisis spektra FTIR (Software Project oleh Dini Iflakhah,

2011), analisis termal menggunakan DSC, kristalinitas pola difraksi sinar-X, dan

morfologi SEM.

Nilai %T dalam spektra FTIR kitosan selanjutnya digunakan sebagai input

data dalam software Dini Iflakhah (2011) untuk penentuan pendekatan nilai Tabel 4.4 Sertifikat analisis produk kitosan dari CV. Bio Chitosan Indonesia

(54)

dan persamaan yang digunakan dalam software untuk menghitung nilai derajat

deasetilasi yaitu persamaan Domzy dan Roberts, Baxter, serta Sabnis. Metode ini

merupakan metode pendekatan untuk menghitung derajat deasetilasi dimana

diperlukan metode pendukung yang lebih akurat seperti metode titrasi

menggunakan potassium polivinilsulfat (PVSK). Tabel 4.5 menunjukkan hasil

perhitungan derajat deasetilasi kitosan yang digunakan dalam penelitian.

Persamaan DD (%)

Baxter 77,78

Domzy dan Roberts 69,58

Sabnis 86,97

Metode titrasi PVSK 88,50

Hasil perhitungan menggunakan persamaan Sabnis lebih mendekati

dengan nilai DD yang diperoleh dari metode titrasi PVSK. DD Kitosan sebesar

70% diartikan bahwa prosentase pengurangan gugus asetil (COCH3) pada kitin

sebesar 70%, sehingga dalam produk kitosan masih terkandung gugus asetil

dalam jumlah relatif sedikit.

Pola termogram kitosan dipelajari untuk mengetahui karakter pelelehan

material. Berdasarkan termogram Gambar 4.9 menunjukkan bahwa kitosan

meleleh pada temperatur 81,56°C menit keenam, dengan peak eksotermik

(lingkaran biru) yang mengindikasikan material meleleh diikuti proses

dekomposisi. Peak endotermik dari termogram kitosan yang sedikit melebar dan

tidak tajam menunjukkan bahwa kitosan berstruktur semi kristalin sehingga dalam

(55)

Transisi gelas (Tg) kitosan (lingkaran hijau) dapat teramati pada

temperatur 193°C menit ke-17. Suyatmaet al.meneliti perubahan Tgpada kitosan

pada rentang nilai yaitu 190-196°C, sedangkan Cervera et al. (2004) melaporkan

bahwa Tg kitosan pada temperatur 130-139°C [38, 39]. Cervera menyatakan

bahwa variasi Tg pada kitosan berhubungan dengan perbedaan kristalinitas,

kandungan air, derajat deasetilasi, dan gugus –OH atau amina dalam rantai

makromolekul kitosan [39].

Kitosan telah dipelajari dan diaplikasikan secara luas sebagai biomaterial

dengan berbagai keunggulan yang dimiliki. Kemampuan kitosan membentuk film,

dan sifat mekanika yang kuat menjadikan kitosan dikembangkan lebih lanjut

untuk dipelajari potensi aplikasinya dalam berbagai bidang. Analisis morfologi

kitosan melalui SEM diperlukan untuk mempelajari mikrostruktur material terkait

dengan karakteristik dan aplikasinya. Gambar 4.11 menunjukkan mikrograf

kitosan dengan perbesaran 20000x.

81,56C

Gambar 4.9 Pola termogram kitosan

(56)

Berdasarkan m

dengan rata-rata ukur

adanya pori dalam ma

yaitu 0,078 µm; 0,057

4.3 Perlakuan Bah

n mikrograf SEM terlihat granula kitosan m

ukuran diameter granula yaitu 0,06-0,12 µm. Se

material serbuk kitosan dengan ukuran diamete

0,057 µm; dan 0,054 µm..

Bahan sebelum Proses Ekstrusi

rbasis pati (starch) atau yang lebih dikenal

arch” (TPS) dapat diproses menjadi materi

ode tertentu. Kelemahan termoplastik berbasis

ndah dan sensitivitas terhadap kelembaban yan

ki kelemahan pada TPS, beberapa cara dapat di

dengan material yang memiliki keunggulan

terhadap kelembaban yang tinggi. Blendin

perti polietilen (PE) banyak dikembangkan dalam ambar 4.11 Mikrograf kitosan perbesaran 20000

menyebar merata

Selain itu terlihat

eter pori bervariasi

nal dengan istilah

erial termoplastik

sis pati yaitu sifat

Gambar

Gambar 2.1 Struktur kimia glukomannan
Gambar 2.3 Kepiting, lobster, udang karang, udang kali (dari kiri ke kanan)
Gambar 2.4 Skema produksi kitosan (Modifikasi dari No dan Meyers, 1995)
Tabel 2.1 Hasil kuat tarik film kitosan vs HDPE dan LDPE13
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemilikan nilai-nilai moral secara otonom berdampak pada terealisasinya nilai-nilai moral itu secara otomatis dalam segala perilaku siswa tanpa ada komando.30 Lembaga pendidikan

Bab IV: Analisis akan terjadinya adaptasi oleh S Metron Masdison dari naskah drama Pengakuan (Tuanku Imam Bonjol) karya Wisran Hadi ke skenario film. Lelaki di Lintas

Dari beberapa pengertian mengenai keluarga dapat diambil titik tengah bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang memiliki

Agar permainan ini lebih seru, Dek Makrit membuat aturan bahwa ikan yang mengambil makanan terakhir dari kantong makanan, harus keluar dari lingkaran, mengambil sebuah kantong makanan

Dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8, terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan,

Jenis kalimat yang kedua adalah “kalimat majemuk”, yang terdiri atas dua klausa atau lebih, dan tersusun sedemikian rupa sehingga klausa-klausa itu hanya memiliki satu satuan

Kondisi ini yang membuat perlu adanya pengolahan yang lebih optimal yaitu suatu inovasi proses dalam pembuatan ramuan antidiare dari bahan baku daun randu dan daun jambu biji

Sedangkan yang menjadi faktor penghambat komunikasi dalam keluarga adalah sulitnya penyesuaian bahasa, adanya prasangka, komunikasi yang terjadi bersifat satu arah