ADVEN Tema: BERSAMA KAUM MUDA TERLIBAT DALAM PENGEMBANGAN UMAT PENGANTAR

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ADVEN 2008

Tema:

BERSAMA KAUM MUDA

TERLIBAT DALAM PENGEMBANGAN UMAT

PENGANTAR

Tema Adven 2008 adalah BERSAMA KAUM MUDA TERLIBAT DALAM PENGEMBANGAN UMAT, yang diolah dalam empat sub tema yaitu: a) Jati Diri Kaum Muda, b) Katolisitas Kaum Muda c) Pemberdayaan Kaum Muda d) Perutusan dan Panggilan Orangtua.

Tema Adven 2008 ini diangkat berdasarkan: Pertama, Agenda Kerja Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sebagai wujud pelaksanaan ARDAS KAS 2006-2010 (lih. Nota Pastostoral Tentang ARDAS KAS hal. 56) menetapkan fokus Pastoral tahun 2009 adalah kaum muda (”dalam diri kaum muda dengan melibatkan mereka untuk pengembangan umat”). Kedua, melalui Bahan Adven 2008 ini orangtua semakin menyadari perannya dalam mendampingi iman kaum muda dan upayanya untuk melibatkan mereka dalam hidup menggereja.

Bahan Adven 2008 ini berbentuk BUKU PEMBELAJARAN sederhana bagi umat, yang dipergunakan untuk mendukung seruan Arah Dasar KAS 2006-2010 alinea ketiga, "..umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman...". Buku ini dapat diolah melalui pertemuan lingkungan setingkat dasa wisma atau blok atau rukun umat. Hal ini dimaksudkan untuk menambah atau mengingatkan kembali pemahaman iman Katolik mengenai peran dan panggilan orangtua dalam pendidikan nilai dan iman bagi anak-anak mudanya. Melalui cara ini, orangtua diharapkan mampu meningkatkan perannya dalam mendampingi iman kaum muda, melibatkan mereka dalam hidup menggereja, berusaha memberikan dukungan moril dan aneka upaya pemberdayaan bagi mereka secara serius agar tumbuh dan berkembang dalam iman dan kedewasaan pribadi.

Akhir kata, semoga buku pembelajaran sederhana ini berguna untuk memberikan penyadaran bagi umat agar kaum muda mau dan aktif terlibat dalam hidup menggereja. Selamat berefleksi dan belajar.

(2)

Pertemuan Pertama

JATI DIRI KAUM MUDA

Tujuan

Orangtua semakin menyadari jati diri kaum muda

1. Lagu Pembuka:dipilih sesuai dengan tema

2. Doa Pembuka:dibuat sendiri yang berisi:

a. Ungkapan syukur atas pertemuan Adven pertama

b. Mohon terang Roh Kudus agar orangtua mampu menyadari jati diri kaum muda

3. Pengantar

Bapa Suci Benedictus XVI, di dalam pesannya menyongsong Hari Orang Muda se Dunia ke XXIII di Sydney, tanggal 14-20 Juli 2008, mengatakan "Banyak orang muda memandang hidup dengan gelisah dan mengajukan banyak pertanyaan mengenai masa depan mereka. Dengan cemas mereka bertanya: Bagaimana kita bisa hidup dalam dunia yang ditandai dengan begitu banyak ketidakadilan yang parah dan begitu banyak penderitaan ini? Bagaimana seharusnya kita bersikap atas egoisme dan kekerasan yang kadang-kadang tampak kuat? Bagaimana kita memberi makna sepenuhnya dalam hidup? Bagaimana kita bisa menolong untuk menunjukkan bahwa buah-buah Roh “kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kedewasaan, dan pengendalian diri” bisa mengisi dunia yang cemas dan rapuh ini, dunia yang sebagian besar darinya adalah orang muda ini?"

(lih. http://youthcenterkas.net/cms/content/view/37/1/)

Melalui pernyataan di atas, tampaklah bahwa kaum muda selalu menarik dan tak ada putusnya untuk dibicarakan, dengan segala suka dan dukanya, dengan jati diri dan dinamikannya yang khas. Mereka diharapkan mampu menatap masa depannya bersama dengan kekhasan dan dunianya, termasuk predikat yang disandangnya yaitu menjadi pelaku perubahan dan pembaruan dalam masyarakat, misalnya peristiwa Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Reformasi tahun 1997.

Kaum muda seperti inilah yang akan kita perdalam dan pahami bersama dalam pertemuan Adven pertama ini.

4. Sharing Pengalaman

Sejauh yang Anda alami di saat muda, tunjukkan kesamaan dan perbedaan antara kaum muda zaman dahulu dengan zaman sekarang!

5. Materi

Hidup Manusia merupakan sebuah proses menuju ke kedewasaan dan pemenuhan diri. Proses ini dimulai sejak dari kandungan, anak-anak (0-12 th), masa remaja (13-16 th), masa muda (17 th ke atas atau sejauh belum menikah) dan akhirnya sampai pada masa tua. Berdasarkan proses pertumbuhan manusia seperti itu, Dr. Jan Riberu memberikan batasan usia kaum muda 13 sampai 24 tahun, bahkan sampai 30 tahun sejauh belum menikah (lih. Drs. Philips Tangdilintin, MM., Pembinaan Generasi Muda:

dengan proses majerial VOSRAM, Kanisius, 2008); juga Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda (PKPKM):

Komisi Kepemudaan KWI, memberi batasan usia 13 sampai 35 tahun dan belum menikah.

Kalau dilihat dari batasan usia seperti di atas, maka boleh dikatakan bahwa kaum muda sedang mengalami proses mencari identitas diri: menentukan siapa dan bagaimana dia saat ini dan apa yang diinginkan di masa depan. Pencarian identitas ini tidak lepas dari penyadaran akan kelemahan dan kelebihannya, kesukaan dan ketidaksukaannya, keinginan dan tujuan masa depannya, serta perasaan

(3)

untuk mengatur hidupnya sendiri. Itulah sebabnya mereka rindu untuk diakui, dihargai, diterima, dilibatkan, dan dicintai.

Dalam pencarian identitas diri ini, kaum muda dapat menampakkan aneka sifat yang indah dan mempesona, sekaligus kemampuan yang mengagumkan, antara lain (lih. Drs. Philips Tangdilintin, MM.,

Pembinaan Generasi Muda: dengan proses majerial VOSRAM, Kanisius, 2008):

a. Dinamis - Kreatif:

Kaum muda selalu melakukan petualangan untuk mencari sesuatu yang baru dan berbeda, ingin mengadakan perubahan, penuh semangat dan gairah, fisik yang kuat. Mereka juga penuh harapan, dan mudah diajak bekerja sama. Tidak jarang, apa yang mereka perjuangkan sering ditanggapi oleh generasi tua sebagai yang nyleneh.

Daya dinamis – kreatif mereka sering terungkap dalam perilaku yang kurang sabar, cenderung kasar, terlalu cepat ingin menyelesaikan masalah, kurang percaya pada pengalaman orang yang lebih tua, terlalu cepat membuat generalisasi (gebyah uyah). Mereka cepat bereaksi dan cenderung emosional (mudah berkobar perasaannya).

b. Berorientasi masa Depan.

Kaum muda adalah pemilik masa depan sehingga apa yang dilakukan dan dipikirkan cenderung berorientasi ke masa depan, mempunyai keinginan besar untuk maju, dan tidak suka dibandingkan dengan zaman lalu, yang merupakan “dunia” generasi tua. Orientasi ke depan merupakan sesuatu yang sangat positif jika didasarkan pada pijakan yang benar dan kuat, agar mereka tidak terjerumus pada hal-hal yang dapat menghentikan langkah ke depan.

c. Terbuka.

Kaum muda lebih terbuka dibandingkan generasi tua, yang menjadikan mereka mempunyai rasa keingintahuan yang sangat besar, diikuti dengan upaya pencarian hal-hal baru yang baik dan yang buruk. Segala informasi yang didengar dan ditemukan sangat mudah diterima dan diserap tanpa

“saringan”.

d. Kesetiakawanan.

Kesetiakawanan antar kaum muda sering ditempatkan dan dipahami sebagai “kompak” dalam kelompok tertentu atau geng, yang cenderung ekslusif (tertutup). Kelompok ini dapat terjadi di sekolah, dalam kegiatan atau minat tertentu, dan sebagainya. Mereka lebih taat pada kelompoknya daripada orangtuanya. Kesetiakawanan jarang dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, yang ada justru kegiatan-kegiatan yang bersifat negatif, misalnya tawuran antar sekolah atau antar geng.

Kecuali bersifat indah dan mempesona, mereka juga harus berhadapan dengan aneka tantangan dunia yang dapat mempengaruhi perilaku dan jati dirinya sebagai kaum muda, misalnya hedonisme adalah gaya hidup yang mengejar kenikmatan, materialisme adalah gaya hidup yang mendewakan materi, konsumerisme adalah gaya hidup yang konsumtif (mengumbar keinginan untuk berbelanja karena gengsi dan bukan karena kebutuhan), free sex adalah gaya hidup yang menghalalkan pergaulan bebas. Mereka tidak lagi memikirkan hal-hal yang bersifat rohani, misalnya membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti perayaan Ekaristi dengan serius. Mereka juga tidak berminat untuk menambah pengetahuan yang berkaitan dengan agama dan imannya.

Inilah dunia kaum muda, dengan segala keindahan dan keprihatinan yang ada dalam diri mereka, termasuk kaum muda Katolik. Kaum muda katolik juga tidak dapat terlepas dengan situasi tersebut.

(4)

6. Pertanyaan Pendalaman

a. Menurut Anda siapakah kaum muda?

b. Bagaimana pendapat Anda terhadap pernyataan Paus Benedictus XVI tentang kaum muda saat ini:

1) Apa yang dicemaskan kaum muda?

2) Apa yang sebaiknya ditumbuhkan dalam diri kaum muda?

7. Peneguhan

Pemandu membuat rangkuman atas pendapat umat atau materi pembelajaran yang dipandang penting sebagai peneguhan bagi umat.

8. Penyalaan Lilin Korona dan Doa untuk Kaum Muda (Rumusan ada di lampiran)

9. Doa Umat: didoakan secara spontan 10. Doa Penutup

a. Terimaksih atas pernyertaan Allah selama pertemuan. b. Mohon rahmat untuk pertemuan yang akan datang. 11. Lagu Penutup: dipilih sesuai dengan situasi pertemuan

(5)

Pertemuan Kedua

KATOLISITAS KAUM MUDA

Tujuan

Orangtua semakin memiliki kesadaran pentingnya membangun kekatolikan pada diri kaum muda.

1. Lagu Pembuka: dipilih sesuai dengan tema 2. Doa Pembuka: dibuat sendiri yang berisi

a. Ungkapan syukur atas pertemuan Adven kedua

b. Mohon terang Roh Kudus bagi kaum muda agar setia, militan, dan terlibat dalam hidup menggereja dan memasyarakat

3. Pengantar

Dalam pertemuan pertama kita sudah mendalami jati diri kaum muda, dengan segala keindahan dan aneka tantangan yang dihadapinya, yaitu:

a. Tantangan dunia seperti hedonisme, materialisme, konsumerisme, free sex, dan sebagainya. b. Tantangan yang bersifat rohani seperti membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti

perayaan Ekaristi tidak serius, minimnya pengetahuan agama dan iman, dan sebagainya.

Pada pertemuan kedua kita akan belajar mengenai katolisitas yang hendaknya berkembang dalam diri kaum muda saat ini.

4. Pertanyaan Awal

Menurut Anda seperti apakah kaum muda Katolik kita? 5. Materi

Ketika berbicara mengenai katolisitas kaum muda, pertama-tama kita harus memahami apa itu katolisitas, kemudian dasar katolisitas, harapan atas katolisitas, dan upaya membangun katolisitas.

a. Pengertian Katolisitas

Katolisitasberasal dari kata katolik, yang menekankan sifat kekatolikan, yang meliputi pengetahuan dan penghayatan hidup beriman katolik berdasarkan nilai-nilai kesetiaan, militansi, dan keterlibatan. Katolisitas ini nampak dalam diri orang Katolik yang memiliki pengetahuan agama dan iman yang mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan, semangat melakukan tradisi dan ajaran Gereja dengan setia dan benar, serta mau terlibat dalam pelayanan Gereja demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia. Katolisitas ini hendaknya juga nampak dalam diri kaum muda. Hal ini berarti bahwa kaum muda diajak untuk mengembangkan pengalaman dan penghayatan hidup berimannya sebagai anggota Gereja Katolik,yang berpusat pada Ekaristi, dalam kehidupannya sehari-hari.

b. Dasar Katolisitas Kaum Muda

Katolisitas ini hendaknya menjadi sesuatu yang penting dan mendesak diwujudkan dalam pendidikan kristiani bagi kaum muda, yang bertujuan untuk 1) mendalami misteri keselamatan dan kurnia iman yang telah diterima, 2) bersujud kepada Allah dalam perayaan liturgi, 3) menghayati hidup sebagai manusia baru, serta 4) menyadari panggilan, memberikan kesaksian dan mendukung perubahan dunia, seperti yang dinyatakan dalam Gravissimum Educationis, art. 2 ”Berkat kelahiran kembali dari air dan Roh Kudus umat kristen telah menjadi ciptaan baru, serta disebut dan memang menjadi putera-puteri Allah. Maka semua orang kristen berhak menerima pendidikan kristen. Pendidikan itu tidak hanya bertujuan pendewasaan pribadi manusia seperti telah diuraikan,

(6)

melainkan terutama hendak mencapai, supaya mereka yang telah dibaptis langkah demi langkah makin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari kurnia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar bersujud kepada Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran, terutama dalam perayaan liturgi; supaya mereka dibina untuk menghayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati; supaya dengan demikian mereka mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik. Kecuali itu, hendaklah umat beriman menyadari panggilan mereka, dan melatih diri untuk memberi kesaksian tentang harapan yang ada dalam diri mereka serta mendukung perubahan dunia menurut tata nilai kristen... Oleh karena itu Konsili ini mengingatkan para Gembala jiwa-jiwa akan kewajiban mereka yang amat berat untuk mengusahakan segala sesuatu, supaya seluruh umat beriman menerima pendidikan kristen, terutama angkatan muda yang merupakan harapan Gereja”.

c. Harapan atas Katolisitas Kaum Muda

Katolisitas yang hendaknya dikembangkan dalam diri kaum muda meliputi kesetiaan, militansi, dan keterlibatan.

1) Kesetiaan

Kesetiaan yang diharapkan berkembang dalam diri dan hidup kaum muda adalah keberanian untuk menghadapi penderitaan, bahkan kalau perlu sampai pada kematian, sebagai wujud konsekuensi atas iman yang diyakininya. Ada beberapa tokoh yang dapat dijadikan teladan kesetiaan, yaitu tujuh orang muda Yahudi dan ibunya berani mengalami penderitaan dan kematian karena iman (2 Mak 7:1-41), Stefanus martir yang pertama (Kis 7:1-60), pemuda Tarsisius, dan sebagainya.

Makna kesetiaan seperti di atas tentu tidak mudah untuk dilakukan. Saat ini kesetiaan kaum muda akan ditempatkan dalam keyakinannya sebagai orang Katolik, yaitu 1) menerima dan melaksanakan dengan setia tradisi dan ajaran Gereja, misalnya hadir dalam perayaan Ekaristi dengan setia dan kesungguhan hati, menerima sakramen Pengampunan Dosa secara rutin, meyakini keluhuran sakramen Perkawinan dengan menjaga kesucian badan atau keperawanan; 2) menghidupi dan memperdalam kehidupan rohani agar tidak mudah jatuh dalam pengaruh arus zaman yang semakin marak dan menguasai banyak kaum muda.

2) Militansi

Militansi yang dimaksudkan bagi kaum muda adalah ketika mereka harus mengungkapkan, menghayati dan mewujudkan iman kekatolikannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tokoh yang dapat dijadikan contoh adalah Paulus. Ia lahir di Tarsus, wilayah Kilikia. Awalnya ia memusuhi para pengikut Yesus, tetapi setelah bertobat ia justru menjadi rasul Yesus Kristus yang memiliki semangat dan daya juang yang luar biasa untuk mewartakan Yesus Kristus dalam situasi apa pun dan tanpa kenal lelah. Dalam mewartakan Yesus Kritus itulah ia mengadakan 3 perjalanan misi. Perjalanan misi yang diwarnai dengan perjuangan keras, penderitaan, dan mara bahaya yang mengancam jiwanya, bahkan ia harus mati demi imannya akan Yesus Kristus. Akhirnya, ia diberi gelar sebagai ”Rasul Segala Bangsa”. Inilah militansi Paulus yang patut dibanggakan.

Bersama dengan Paulus, kaum muda diajak untuk memiliki dan mengembangkan militansi sebagai orang Katolik yang bangga akan imannya kepada Yesus Kristus, mempunyai daya juang untuk mempertahankan iman dan mewartakan imannya kepada siapa pun yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

3) Keterlibatan

Kaum muda yang setia dan mempunyai militansi atas imannya diharapkan dapat mewujudkan imannya dengan terlibat dalam kehidupan Gereja dan demi perkembangan Gereja. Keterlibatan

(7)

mereka nampak dalam 4 pilar kegiatan Gereja, yaitu bidang perayaan iman (leiturgia), pewartaan (Kerygma), persekutuan (koinonia), pelayanan (diakonia). Semuanya itu merupakan wujud kesaksian hidup (martyria) mereka sebagai anggota Gereja.

Keterlibatan mereka jangan dilihat sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai bentuk partisipasi yang nyata dan aktif, inisiatif dan kesadaran pribadi kaum muda. Keterlibatan mereka dapat ditunjukkan dengan cara:

• Mengambil bagian dalam kegiatan liturgi, misalnya menjadi anggota koor, lektor, pemazmur.

• Mempunyai keinginan besar untuk meningkatkan pengetahuan agama dan iman, misalnya membaca buku yang berkaitan dengan teologi, Kitab Suci, rohani, dan sebagainya, terlibat dalam kegiatan pendalaman iman dan Kitab Suci.

• Menyadari pentingnya persekutuan dan persaudaraan iman dengan sesama anggota Gereja, misalnya mengikuti kegiatan Legio Mariae, Antiokhia, Choice, CLC atau Komunitas Hidup Kristiani, Persekutuan Doa Kharismatik.

• Menyapa dan memperhatikan orang-orang yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkirkan dalam masyarakat.

d. Upaya Membangun Katolisitas Kaum Muda

Katolisitas yang ada dan berkembang dalam diri kaum muda harus dibangun melalui berbagai cara dan dilakukan secara menyeluruh, baik pengetahuan, ungkapan, maupun perwujudan iman. Upaya ini dapat dilakukan dengan melibatkan orangtuanya sendiri dan campur tangan Gereja.

6. Pertanyaan Pendalaman

a. Silahkan dirumuskan kembali artinya katolisitas!

b. Sebutkan harapan katolisitas kaum muda! Berilah contohnya.

c. Upaya apa saja yang perlu ditanamkan dalam diri kaum muda agar militan, setia, dan terlibat?

7. Peneguhan

Pemandu membuat rangkuman atas pendapat umat atau materi pembelajaran yang dipandang penting sebagai peneguhan bagi umat.

8. Penyalaan Lilin Korona dan Doa untuk Kaum Muda (Rumusan ada di lampiran)

9. Doa Umat: didoakan secara spontan 10. Doa Penutup

a. Terimakasih atas pernyertaan Allah selama Pertemuan.

b. Orangtua semakin menyadari pentingnya membangun kekatolikan dalam diri kaum muda. c. Mohon rahmat untuk pertemuan yang akan datang

(8)

Pertemuan Ketiga

PEMBERDAYAAN KAUM MUDA

Tujuan

Orangtua semakin menyadari pentingnya pemberdayaan bagi kaum muda agar mampu terlibat dalam pengembangan iman umat.

1. Lagu Pembuka:dipilih sesuai dengan tema 2. Doa Pembukaan:dibuat sendiri yang berisi

a. Ungkapan Syukur atas pertemuan Adven ketiga

b. Mohon terang Roh Kudus agar kaum muda mampu terlibat dalam pengembangan iman umat.

3. Pengantar

Masa muda adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, yang dialami sekali saja selama hidup dan tak pernah terulang lagi. Masa pengembangan diri dalam segala segi, sehingga perlu diupayakan pembangunan katolisitas yang memadai karena mereka sering menghadapi aneka tantangan dalam kehidupannya sehari-hari. Tantangan yang tidak mudah diatasi.

Tidak hanya soal tantangan hidup, kaum muda juga sering mengalami ketegangan dengan generasi tua. Di satu pihak, kaum muda memiliki gejolak, idealisme, dan cara hidup yang khas, misalnya: kreatif, mencari yang baru dan mengadakan perubahan, selalu berpikir ke depan. Di lain pihak, orangtua yang cenderung merasa mapan tidak mau berubah dan berkreasi, dengan ucapan ”tidak usah neka-neka”, sehingga menutup diri terhadap idealisme kaum muda.

Hal-hal seperti itulah yang senantiasa dihadapi oleh kaum muda sekarang ini. Apa yang dapat kita upayakan agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang dewasa iman dan pribadinya? Apa yang dapat kita upayakan untuk memberdayakan mereka sehingga mereka mampu terlibat dalam mengembangkan iman umat?

4. Pertanyaan awal

Bagaimana situasi konkrit kaum muda di lingkungan Anda? Silahkan mengisi tabel di bawah ini.

No Keadaan Situasi Konkrit Kaum Muda Jumlah 01. Berapa jumlah kaum muda di lingkungan Anda?

02. Berapa jumlah kaum muda laki-laki di lingkungan Anda? 03. Berapa jumlah kaum muda perempuan di lingkungan Anda? 04. Berapa jumlah kaum muda yang berpendidikan:

1. SMP

2. SMA / SMK / Sederajat 3. Perguruan Tinggi

05. Berapa jumlah kaum muda yang sudah bekerja? 06. Berapa jumlah kaum muda yang belum bekerja?

07. Berapa jumlah kaum muda yang tinggal di tempat lain? 08. Berapa jumlah kaum muda yang aktif di lingkungan?

09. Berapa jumlah kaum muda yang terlibat di kepengurusan lingkungan, wilayah dan paroki?

5. Materi

Situasi nyata keadaan kaum muda di lingkungan kita dapat menimbulkan kegembiraan dan kebanggaan tersendiri bagi orangtua, tetapi juga keprihatinan yang mengajak kita untuk memikirkan

(9)

upaya pemberdayaan bagi mereka. Pemberdayaan yang berguna, baik bagi diri mereka sendiri maupun keterlibatannya untuk mengembangkan iman umat.

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 menempatkan kaum muda sebagai kelompok yang berperan strategis dalam upaya Gereja membentuk keadaban publik baru bangsa:

“Komunitas Basis dengan kaum muda sebagai gerakan utama perlu berperan aktif di dalam pembentukan keadaban publik baru tersebut. Inilah kontribusi sekaligus peran utama yang dapat dilaksanakan oleh Gereja Katolik Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa di tengah-tengah kecemasan dan harapan masa kini dan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik”.

Kaum muda yang diharapkan mampu berperan dalam membentuk keadaban publik baru bangsa harus didukung dengan aneka keutamaan hidup, sebagaimana dirumuskan oleh Drs. Philips Tangdilintin, MM: “OMK (Orang Muda Katolik) yang mengenal diri dan percaya diri sebagai Citra Allah, berwatak jujur, adil, bertanggungjawab, terbuka, disiplin, solider, beriman kokoh-kritis dengan spiritualitas martyria, mau dan mampu berperan aktif dalam hidup menggereja, serta mengemban misi sosial membangun keadaban publik” (Drs. Philips Tangdilintin, MM., Pembinaan Generasi Muda:

dengan proses majerial VOSRAM, Kanisius, 2008).

Berdasarkan rumusan tersebut, kita dapat melakukan pembinaan, sebagai upaya pemberdayaan kaum muda, dengan memperhatikan 4 aspek yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:

a. Kepribadian

b. Iman dan spiritualitas c. Menggereja

d. Memasyarakat dan Bernegara

Upaya pemberdayaan ini diharapkan menghasilkan buah yang berkelimpahan, yaitu mereka mampu menjadi rasul bagi kaum muda itu sendiri “Bertambah pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut dari mereka kegiatan merasul yang sepadan. Sifat-sifat alamiah mereka pun memang sesuai untuk menjalankan kegiatan itu. Sementara kesadaran akan kepribadian mereka bertambah masak, terdorong oleh gairah hidup dan semangat kerja yang meluap, mereka sanggup memikul tanggungjawab sendiri, dan ingin memainkan peran mereka dalam kehidupan sosial dan budaya. Bila gairah itu diresapi oleh semangat Kristus dan dijiwai sikap patuh dan cinta kasih terhadap para gembala Gereja, maka boleh diharapkan akan memperbuahkan hasil yang melimpah. Mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka.” (AA 12).

6. Pertanyaan Pendalaman

Berdasarkan situasi dan kondisi kaum muda diatas, upaya pemberdayaan apa yang mungkin dilakukan? 7. Peneguhan

Pemandu membuat rangkuman atas pendapat umat atau materi pembelajaran yang dipandang penting sebagai peneguhan bagi umat.

8. Penyalaan Lilin Korona dan Doa untuk Kaum Muda (Rumusan ada di lampiran)

9. Doa Umat: didoakan secara spontan 10. Doa Penutup

a. Terimakasih atas pernyertaan Allah selama Pertemuan.

b. Orang tua mampu mendampingi Kaum Muda untuk terlibat dalam pengembangan iman umat. c. Mohon rahmat untuk pertemuan yang akan datang

(10)

Pertemuan Keempat

PANGGILAN DAN PERUTUSAN

ORANG TUA

Tujuan:

Orangtua semakin menghayati panggilan dan perutusannya dalam mengembangkan iman kaum muda

1. Lagu Pembuka: dipilih sesuai dengan tema 2. Doa Pembuka:dibuat sendiri yang berisi

Ungkapan syukur atas pertemuan Adven keempat

Mohon terang Roh Kudus bagi orangtua agar dimampukan dalam mendidik dan mendampingi kaum muda.

3. Pengantar

Kaum muda adalah anggota Gereja yang berjuang untuk mencari dan menemukan jati dirinya yang sejati. Dalam proses pencarian dan penemuan ini, mereka berhadapan dengan aneka tantangan dan berjuang untuk menemukan inti katolisitas sebagai dasar hidupnya untuk mengambil bagian dalam pengembangan iman umat.

Dalam rangka membantu mereka menjadi orang Katolik yang berkepribadian utuh dan dapat menghayati kekatolikannya, dibutuhkan ruang dan dukungan bagi mereka. Salah satu pendukungnya adalah orang tua.

4. Pengalaman

Adalah seorang ibu bernama Veronika Mujinah Ngalimin. Ia tinggal di Deliksari, Sampangan, Semarang. Sudah 31 tahun, ia menekuni pekerjaan sebagai pemulung. Pagi-pagi sebelum pergi bekerja, ia bersama suaminya berdoa dan membaca Kitab Suci selama satu jam. Tahun 2000 suaminya meninggal. Meski begitu, ia tetap melakukan kebiasaan doa dan membaca Kitab Suci.

Ia juga aktif dalam Legio Mariae, mengurus jenasah dan membantu orang-orang yang minta didoakan. Ia tidak mau menikah lagi karena ingin memusatkan diri pada pendidikan anak-anaknya. Ia tidak ingin anaknya mengalami kesulitan hidup seperti yang dialaminya. Dalam mendidik anak-anaknya, ia mewariskan nilai-nilai kesucian kepada keempat anaknya.

Ia selalu berpesan agar mereka, baik laki-laki maupun perempuan, tidak mudah menyerahkan “miliknya” yang paling berharga (keperawanan). Mereka tidak pernah merasa malu, bahkan bangga. Mereka juga tekun belajar meskipun sering mengalami kesulitan dalam hal keuangan.

(disarikan dari Kesaksian Ibu Veronika Mujinah dalam Majalah Utusan no 12, ke-57, Desember 2007).

5. Pertanyaan atas pengalaman:

a. Bagaimana rasanya jika Anda mempunyai anak muda?

b. Apa yang sudah Anda lakukan bagi kaum muda agar menjadi pribadi dewasa dan beriman? 6. Materi

a. Panggilan orangtua

Gambaran Gereja sebagai paguyuban tampak nyata dalam keluarga. Keluarga Katolik adalah komunitas hidup orang beriman akan Allah, yang rukun, bersatu, akrab, dan mengasihi Allah. Keberadaan keluarga ini tidak dapat dilepaskan dari peranan dan tanggungjawab orangtua sebagai pewarta dan pendidik iman ”Para suami-isteri kristiani bekerja sama dengan rahmat dan menjadi saksi iman satu bagi orang lain, bagi anak-anak mereka dan bagi kaum kerabat lainnya. Bagi anak-anak

(11)

mereka, mereka itulah pewarta iman dan pendidik yang pertama” (AA 11) dan ”Orangtua, karena telah memberi hidup kepada anak-anaknya, terikat kewajiban yang sangat berat dan mempunyai hak untuk mendidik mereka; maka dari itu adalah pertama-tama tugas orangtua kristiani untuk mengusahakan pendidikan kristiani anak-anak menurut ajaran yang diwariskan Gereja” (KHK Kan. 226 § 2).

b. Tanggungjawab orangtua

Suami-isteri – sebagai orangtua – mempunyai hak dan kewajiban untuk mengusahakan pendidikan bagi anak-anaknya secara utuh, menyeluruh, dan penuh tanggung jawab, baik fisik, moral, sosial, kultural, keagamaan, bahkan sampai pada pilihan hidup “Para suami-isteri kristiani bekerja sama dengan rahmat dan menjadi saksi iman satu bagi yang lain, bagi anak-anak mereka dan bagi kaum kerabat lainnya. Bagi anak-anak mereka, mereka itulah pewarta iman dan pendidik yang pertama. Dengan kata-kata maupun teladan suami-isteri membina anak-anak untuk menghayati hidup kristiani dan kerasulan. Dengan bijaksana suami-isteri membantu mereka dalam memilih panggilan mereka, dan – sekiranya barangkali terdapat panggilan suci pada mereka – memupuk itu dengan perhatian sepenuhnya” (AA 11) dan “Karena orangtua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Maka orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dapat dilengkapi. Sebab merupakan kewajiban orangtua: menciptakan lingkup keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka. Maka keluarga itulah lingkungan pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat. Adapun terutama dalam keluarga kristen, yang diperkaya dengan rahmat serta kewajiban sakramen Perkawinan, anak-anak sudah sejak dini harus diajar mengenal Allah serta berbakti kepada-Nya dan mengasihi sesama, seturut iman yang telah mereka terima dalam Baptis. Di situlah anak-anak menemukan pengalaman pertama masyarakat manusia yang sehat serta Gereja. Melalui keluargalah akhirnya mereka lambat-laun diajak berintegrasi dalam masyarakat manusia dan umat Allah.” (GE 3)

Dalam rangka pendidikan anak, orangtua diharapkan menyadari sepenuhnya bahwa proses pendidikan ini berlangsung terus sampai mereka menginjak umur dewasa dan dapat menentukan jalan hidupnya sendiri, baik hidup membiara maupun hidup berkeluarga, secara bertanggungjawab “Melalui pendidikan hendaknya anak-anak dibina sedemikian rupa, sehingga bila nanti sudah dewasa mereka mampu penuh tanggungjawab mengikuti panggilan mereka, juga panggilan religius, serta memilih status hidup mereka. Maksudnya juga, supaya bila kemudian mereka mengikat diri dalam pernikahan, mereka mampu membangun keluarga sendiri dalam kondisi-kondisi moril, sosial dan ekonomi yang menguntungkan.” (GS 52)

Pendidikan ini dapat terwujud kalau didukung oleh suasana yang menunjang, yaitu kebiasaan doa bersama, berpikir kreatif dan alternatif, dibangunnya semangat solidaritas terhadap sesama, dan sebagainya sebagai upaya untuk mengembangkan iman, harapan dan kasih. Selain suasana, perlu ditumbuhkan sikap-sikap dasar sebagai manusia, yaitu kejujuran, keadilan, kerja sama, dan sebagainya.

c. Dukungan orangtua

Dalam upaya untuk mewujudkan pendidikan bagi anak-anaknya, orangtua diharapkan memperhatikan beberapa hal penting, yaitu mengadakan dialog yang bersahabat, memberikan nasehat yang bijaksana, menjadi teladan yang baik, serta memberikan perhatian, kesempatan, dan dana yang diperlukan, sehingga mereka sungguh dapat mengembangkan jati dirinya sebagai kaum muda. Mereka dapat tumbuh dan berkembang secara utuh dan menyeluruh dalam segala bidang kehidupan, terutama dalam hal iman, demi memperjuangkan masa depan yang lebih baik dan bertanggungjawab.

(12)

7. Pertanyaan Pendalaman

a. Apakah Anda sudah menyadari dan menghayati panggilan dan perutusan sebagai orangtua dalam mengembangkan iman kaum muda?

b. Apa yang dapat Anda lakukan di tingkat RT, lingkungan, stasi dan paroki? 8. Peneguhan

Pemandu membuat rangkuman atas pendapat umat atau materi pembelajaran yang dipandang penting sebagai peneguhan bagi umat.

9. Penyalaan Lilin Korona dan Doa untuk Kaum Muda (Rumusan ada di lampiran).

10. Doa Umat: didoakan secara spontan 11. Doa Penutup

a. Terimakasih atas penyertaan Allah selama Pertemuan.

b. Orangtua mampu menghayati panggilan dan perutusannya dalam mengembangkan iman umat.

12. Lagu Penutup: dipilih sesuai dengan situasi pertemuan.

Daftar Singkatan Dokumen Gereja:

AA: Apostolicam Actuositatem, Dekrit konsili Vatikan II tentang Kerasulan Kaum Awam (18 Nopember 1965) GE : Gravissimum Educationis, Pernyataan Konsili Vatikan II tentang pendidikan Kristiani (28 Oktober 1965) GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam dunia modern (7 Desember 1965)

(13)

LAMPIRAN

Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

Refren : Datanglah Tuhan Allahku, selamatkanlah umat-Mu. P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami,

Hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini, nyalakanlah harapan kami (Lilin adven dinyalakan). Bagaikan nyala lilin yang semakin terang,

Sampai kami berjumpa dengan Juru Selamat kami, Yang terbaring di palungan suci.

Angkatlah tanganMu yang mungil, Putra Allah yang Agung, Berkatilah semua kaum muda di muka bumi ini,

Mereka menjadi sumber harapan berkembangnya GerejaMu di masa depan. Semoga kaum muda semakin terlibat

Dalam pengembangan umat-Mu.

Terangilah, lindungilah, bimbinglah dan hantarkanlah kaum muda Selalu pada Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.

U: Amin.

Refren : Datanglah Tuhan Allahku, selamatkanlah umat-Mu.

Doa untuk Kaum Muda (disarikan dan dikembangkan dari Pesan Paus Benediktus XVI menyongsong Hari Orang Muda se Dunia ke XXIII di Sydney, tanggal 14-20 Juli 2008)

Ya Bapa berikanlah terang Roh Kudus-Mu kepada kaum muda kami, agar semakin mencintai dan mengikuti Gereja, supaya mereka menyadari dan menerima buah dari para perintis dan pendiri misi yang menunjukkan orang jalan menuju kebahagiaan sejati, karena tidaklah mudah mengenali dan menemukan kebahagiaan sejati di dunia di mana kita hidup, di mana kaum muda seringkali terperangkap dan cemas oleh cara-cara berpikir yang ada saat ini. Banyak orang muda memandang hidup dengan gelisah dan mengajukan banyak pertanyaan mengenai masa depan mereka. Dengan cemas mereka bertanya: Bagaimana kita bisa hidup dalam dunia yang ditandai dengan begitu banyak ketidakadilan yang parah dan begitu banyak penderitaan ini? Bagaimana seharusnya kita bersikap atas egoisme dan kekerasan yang kadang-kadang tampak kuat? Bagaimana kita memberi makna sepenuhnya dalam hidup?. Ya Bapa berkatilah kami agar dapat menolong kaum muda untuk menunjukkan bahwa buah-buah Roh “kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kedewasaan, dan pengendalian diri” bisa mengisi dunia yang cemas dan rapuh ini.

Ya Bapa berikanlah terang Roh Kudus-Mu kepada kaum muda kami agar selalu menyakini bahwa Roh Yesus pada masa ini, sedang mengundang mereka, untuk menjadi pembawa kabar gembira Yesus untuk zaman ini. Kesulitan yang sering ditemui kaum tua dalam mendekati lingkungan orang muda secara menyeluruh dan meyakinkan, bisa jadi merupakan tanda bahwa Roh Kudus sedang mendesak mereka, untuk mengambil tugas perutusan ini. Mereka mengenal cita-cita, bahasa, dan juga luka-luka, harapan, serta serentak dengan itu hasrat akan kebaikan yang dirasakan oleh teman sebaya mereka. Hal ini membuka dunia yang luas dari emosi, pekerjaan, pendidikan, harapan, dan penderitaan mereka. Berkatilah Ya Bapa, masing-masing dari mereka, supaya berani berjanji kepada Roh Kudus bahwa mereka akan membawa seorang muda kepada Yesus Kristus dengan cara yang menurut mereka terbaik.

Ya Bapa berikanlah rahmat penyertaan-Mu untuk kaum muda kami dan para sahabat muda yang mendukung mereka dalam milenium ketiga ini, agar ada kebutuhan dan kerinduan yang mendesak

(14)

untuk berupaya memunculkan sebuah generasi baru dari para rasul yang berjangkar kuat dalam firman Kristus, mampu menjawab tantangan-tantangan zaman dan siap untuk menyebarkan Injil jauh dan meluas.

Ya Bapa semoga atas penyertaan-Mu dalam terang Roh Kudus-Mu, kaum muda mampu menjawab tugas panggilannya untuk menjadi kudus dan menjadi utusan, karena tak pernah bisa dipisahkan antara kekudusan dari perutusan. Semoga kaum muda semakin bersiap menempatkan dirinya untuk menerangi dunia dengan kebenaran Kristus; untuk menanggapi dengan cinta kasih kebencian dan ketidakpedulian akan kehidupan; untuk mewartakan harapan karena Kristus yang bangkit, di setiap sudut dunia.

Semoga Bunda Maria, yang bersatu dalam doa bersama para Rasul menemani kaum muda dan memperolehkan bagi semua orang muda Kristen, pencurahan baru Roh Kudus untuk menyemangati hati mereka untuk mengasihi dan membimbing orang lain semakin mengasihi Yesus dan mengikuti Dia dengan setia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :