BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Anggrek adalah tanaman hias yang banyak diminati oleh para kolektor

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anggrek adalah tanaman hias yang banyak diminati oleh para kolektor anggrek maupun masyarakat pada umumnya. Anggrek menjadi daya tarik tersendiri karena bunganya yang memiliki variasi warna dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Dendrobium merupakan salah satu genus anggrek yang paling banyak disukai konsumen, karena bunganya tahan lama dan tidak mudah rontok, dengan bentuk dan warna yang sangat bervariasi, serta mudah dalam pengepakan (Widiastoety, D., 2003).

Seiring berjalannya waktu, tingkat permintaan anggrek baik dari para kolektor, pebisnis tanaman hias dan konsumen semakin meningkat. Permintaan anggrek yang terus meningkat belum mampu dipenuhi oleh produsen anggrek Produksi tanaman anggrek di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2012-2014. Pada tahun 2012 jumlah produksi anggrek 20.727.891 tangkai, tahun 2013 sebanyak 20.277.672 tangkai dan pada tahun 2014 sebanyak 19.739.627 (Badan Pusat Statistik, 2016).

Permintaan tanaman anggrek khususnya dendrobium umumnya berupa bibit botolan, bentuk seedling, kompot, tanaman pot dan bunga potong. Untuk memenuhi permintaan tersebut diperlukan tanaman anggek dalam jumlah besar. Akan tetapi, kendala dalam budidaya anggrek adalah pertumbuhan planlet (bibit) anggrek yang cenderung lama. Selain itu, penyediaan bibit anggrek di Indonesia masih terbatas, dan belum dilakukan dengan baik (Yanti, 2013).

(2)

Perbanyakan anggrek dapat dilakukan dengan secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan generatif dilakukan dengan menyebarkan biji ke media tanam. Sementara perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu split (pemisahan rumpun) dan kultur jaringan (Parnata, 2007). Umumnya, perbanyakan anggrek secara generatif lebih banyak dilakukan dalam laboratorium secara in vitro yaitu dengan menyebar dan mengecambahkan biji anggrek yang sudah matang dalam media agar yang steril (Hendaryono, 2002).

Perbanyakan bibit anggrek yang dilakukan dengan kultur in vitro, melalui beberapa tahapan kegiatan. Tahap awal ialah tahap perkecambahan biji menjadi plb (protocorm like bodies). Perkembangan berikutnya tahap perkembangan plb membentuk daun, akar, tunas, dalam bentuk mini yang disebut planlet. Setelah tahap ini planlet dapat di sub kultur untuk membuatnya menjadi banyak tunas atau langsung dipersiapkan untuk tahap aklimatisasi (Simatupang, 2012).

Keberhasilan perbanyakan kultur in vitro sangat ditentukan oleh media yang digunakan. Media dasar yang digunakan seperti VW (Vacin dan Went), MS (Murashige Skoog), dan KC (Knudson C) memiliki komposisi yang berbeda (Zulkarnain, 2009). Media dasar yang paling banyak digunakan untuk perbanyakan anggrek secara in vitro adalah media VW. Komposisi unsur kimia dalam media Vacin dan Went dianggap sangat baik untuk media tumbuh anggrek, tetapi tidak cocok media tumbuhan tanaman lain secara in vitro (Hendaryono, 2002).

Anggrek yang diperbanyak secara in vitro membutuhkan nutrisi yang penting bagi pertumbuhan planlet. Sumber nutrisi yang dapat menggantikan peran ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) yang mahal. Dewasa ini, penambahan bahan organik

(3)

ke dalam media banyak dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman yang dikultur. Ditinjau dari sudut pandang ilmiah, penggunaan ekstrak-ekstrak alami masih dianjurkan dan kehadiran senyawa-senyawa tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Jus buah pun merupakan suplemen organik yang penting (Zulkarnain, 2009). Hasil penelitian Murhayati, dkk. (2015) menunjukkan bahwa penambahan jus tomat 100 gr/l pada media Murashige and Skoog (MS) mampu meningkatkan pertumbuhan anggrek Vanda helvola. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Dwiyani, dkk (2012), pemberian ekstrak tomat dalam media NP (New Phalaenopsis) dengan hasil terbaik dalam perkecambahan anggrek Vanda tricolor Lindl. var suavis adalah 150 gr/l.

Tomat memiliki komposisi zat yang cukup lengkap dan baik. Hasil analisis kandungan buah tomat (per 100 gr) yang didapatkan dari Data Nutrisi USDA adalah energi (74 kJ), karbohidrat (3,9 g), lemak (0,2 g), protein (0,9 g), kadar air (94,5 g), vitamin A (42 μg), vitamin B1 (0,037 mg), vitamin B3 (0,594 mg),

vitamin B6 (0,08 mg), vitamin C (14 mg), vitamin E (0,53 mg), vitamin K (7,9

μg), magnesium (11 mg), mangan (0,114 mg), fosfor (24 mg), kalium (273 mg), dan likopen (2573 μg). Komponen-komponen yang terkandung dalam buah tomat dapat dimanfaatkan sebagai zat organik tambahan pada media kultur in vitro. Kelebihan lain dari buah tomat adalah harganya lebih murah, mudah didapat, dan mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan planlet (bibit) anggrek.

Buah tomat mengandung vitamin C yang tinggi. Menurut Hendaryono (2002) vitamin C bertujuan untuk mencegah terjadinya pencoklatan pada permukaan irisan jaringan. Selain vitamin C, juga terdapat thiamin (B1) yang

(4)

koenzim dalam metabolisme karbohidrat serta meningkatkan aktivitas hormon yang terdapat dalam jaringan tanaman (Amalia, 2013).

Kandungan unsur dalam buah tomat juga dapat mempengaruhi pertumbuhan. Adapun kandungan unsur yang banyak adalah kalium dan fosfor. Unsur kalium berperan dalam memperkuat tubuh tanaman, memperlancar metabolisme dan mempengaruhi penyerapan makanan. Sementara unsur fosfor berperan dalam pembentukan karbohidrat yang dibutuhkan pada saat pertumbuhan benih (Hendaryono, 2002). Selain mengandung vitamin dan unsur, di dalam buah tomat yang masak terdapat hormon sitokinin. Sitokinin adalah senyawa yang dapat meningkatkan pembelahan sel pada jaringan tanaman serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Zulkarnain, 2009).

Informasi terkait tentang budidaya in vitro ini dapat digunakan sebagai sumber belajar biologi SMA kelas XII semester 1 pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dengan Kompetensi Dasar (KD) 4.1 yakni merencanakan dan melaksanakan percobaan tentang faktor luar yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dan melaporkan secara tertulis dengan tatacara penulisan ilmiah. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Konsentrasi Jus Tomat pada Media Vacin & Went (VW) terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium conanthum Secara In vitro Sebagai Sumber Belajar Biologi”.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.2.1 Adakah pengaruh penambahan konsentrasi jus tomat pada media Vacin & Went (VW) terhadap pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium conanthum?

1.2.2 Berapakah konsentrasi jus tomat yang optimal untuk pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium conanthum secara in vitro?

1.2.3 Bagaimana hasil penelitian tentang pengaruh penambahan jus tomat pada media Vacin & Went (VW) terhadap pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium conanthum secara in vitro dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1.3.1 Mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi jus tomat pada media Vacin

& Went (VW) terhadap pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium conanthum.

1.3.2 Mengetahui konsentrasi jus tomat yang optimum untuk pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium conanthum secara in vitro.

1.3.3 Mengetahui hasil penelitian tentang pengaruh penambahan jus tomat pada media Vacin & Went (VW) terhadap pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium conanthum secara in vitro dapat dikembangkan sebagai sumber belajar biologi.

(6)

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1.4.1 Manfaat Praktisi

Bagi petani anggrek, penelitian ini dapat membantu mengatasi masalah pertumbuhan planlet anggrek yang cenderung lama dan meningkatkan produksi planlet anggrek. Bagi siswa dapat menambah pengetahuan dalam materi pertumbuhan dan perkembangan.

1.4.2 Manfaat Keilmuan

Hasil penelitian ini dapat memperluas khazanah pengetahuan pada mata kuliah fisiologi tumbuhan, bioteknologi dan metode penelitian. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi SMA kelas XII semester 1 pada materi pertumbuhan dan perkembangan.

1.5 Batasan Penelitian

Agar penelitian tidak menyimpang dari fokus permasalahan, perlu adanya batasan penelitian sebagai berikut.

1.5.1 Jenis media kultur yang digunakan adalah media Vacin and Went (VW). 1.5.2 Bahan yang digunakan sebagai tambahan pada media kultur Vacin & Went

(VW) dalam penelitian ini adalah buah tomat (Lycopersicum commune) yang sudah matang berwarna merah.

1.5.3 Anggrek yang digunakan adalah Dendrobium conanthum dengan kode D-525 yang didapatkan dari biakan in vitro yang diperoleh dari Laboratorium Dd’Orchid Nursery.

1.5.4 Anggrek indukkan Dendrobium conanthum dengan kode D-525 yang telah berusia ± 6 bulan atau masih dalam masa sub kultur tahap satu.

(7)

1.5.5 Parameter yang dipakai dalam penelitian ini adalah persentase hidup planlet, tinggi planlet, jumlah daun, jumlah akar dan jumlah tunas.

1.6 Definisi Istilah

Definisi istilah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1.6.1 Jus tomat adalah proses penghancuran buah dengan cara diblender (Murhayati, dkk., 2015).

1.6.2 Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, berat, atau jumlah sel. Indikator pertumbuhan dapat dilihat dengan mengukur tinggi tanaman, mengukur luas permukaan daun, atau mengukur volume akar. Pertumbuhan merupakan salah satu ciri yang terjadi pada makhluk hidup. Pertumbuhan adalah pertambahan massa dengan volume yang bersifat irreversiabel (tidak dapat kembali ke asal) (Pramono, 2009).

1.6.3 Planlet anggrek adalah tanaman berkalus yang dipindahkan ke dalam medium differensiasi yang cocok, dan akan menjadi tanaman kecil yang lengkap (Panjaitan, E., 2005).

1.6.4 Sumber belajar adalah segala sesuatu yang mendatangkan manfaat dan memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dapat memudahkan pencapaian tujuan belajar (Badriyah, 2010).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :