BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bola basket merupakan cabang olahraga yang mulai dikenal di Indonesia

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bola basket merupakan cabang olahraga yang mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1920-an dan semakin dikenal luas setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Cabang olahraga bola basket mulai dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 1948. Bola basket merupakan olahraga yang dimainkan oleh lima orang dalam satu tim dan terdapat teknik-teknik dasar dalam permainan bola basket. Teknik-teknik-teknik tersebut antara lain melempar, menangkap, menggiring (drive), menembak (shooting), gerakan berporos (pivot), lay up, dan rebound. Pertandingan bola basket berlangsung selama 4 kuarter (Winahyu, 2016).

Performa atlet bola basket Indonesia masih belum cukup optimal, hal ini terlihat dari performa tim bola basket Indonesia dalam beberapa kejuaraan internasional yang pernah diikuti oleh tim bola basket Indonesia. Indonesia pertama kali mengikuti pertandingan bola basket internasional tahun 1960 pada ajang Asian Basketball Championship yang dilaksanakan di Manila, Filipina. Kejuaraan ini diikuti oleh 7 negara yaitu Filipina, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Indonesia dan Malaysia. Pada pertandingan melawan Filipina, Indonesia takluk dengan skor 92-46. Kekalahan tersebut pun berlanjut pada pertandingan Indonesia melawan Jepang dimana Indonesia kembali mengalami kekalahan dengan skor 74-67. Indonesia mengalami 5 kali kekalahan dari 6 kali

(2)

pertandingan pada fase penyisihan grup. Indonesia hanya berhasil menang melawan Malaysia dengan skor 98-76 sehingga Indonesia tidak lolos ke fase selanjutnya dan berada pada peringkat 5 grup disusul oleh Malaysia yang berada pada peringkat terakhir. Beberapa tahun kemudian pun ketika Indonesia mengikuti kejuaraan Asian Basketball Championship, Indonesia selalu gagal untuk menjadi juara diantaranya pada tahun 1967, 1977, 1987, 1997, 2005 ketika namanya sudah berubah menjadi FIBA Asia Championship dan pada tahun 2011 Indonesia juga tidak bisa menjadi juara (FIBA, 2017).

Pada kejuaraan Southeast Asia Basketball Association, Indonesia dapat menjadi juara hanya pada tahun 1996. Kejuaraan tersebut dilaksanakan di kota Surabaya dan pada pertandingan final Indonesia berhasil mengalahkan Filipina dengan skor tipis yaitu, 88 – 81. Untuk beberapa tahun berikutnya, Indonesia mengalami penurunan performa sehingga tidak bisa kembali menjadi juara. Hal ini berbanding terbalik dengan performa Filipina yang pada 3 tahun berikutnya setelah Indonesia menjadi juara, Filipina berhasil menjadi juara dalam kejuaraan tersebut. Dalam 11 kali pelaksanaan kejuaraan Southeast Asia Basketball Championship, Filipina mampu menjadi juara sebanyak 7 kali dan selalu berhasil mengalahkan Indonesia. Pada pelaksaanan kejuaraan tahun 2015 pun Filipina tetap berhasil mengalahkan Indonesia dan menjadi juaranya. Terakhir, pada kejuaraan SEABA Men Championship 2017 Indonesia tetap mengalami kekalahan saat melawan Filipina yang keluar sebagai juara pada turnamen ini (FIBA, 2017).

Permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah penggunaan sport science yang masih termasuk kurang sebagai salah satu hal yang menentukan performa

(3)

olahraga, bahkan tim bola basket Psikologi Universitas Gadjah Mada yang anggotanya telah mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya aspek psikologis dalam kehidupan sehari-hari tidak menggunakan metode-metode intervensi psikologi untuk meningkatkan performanya dilapangan. Hal tersebut berdampak pada belum tercapainya performa yang optimal dari atlet-atlet olahraga yang bertanding pada tingkat internasional, nasional, maupun lokal. Kurangnya penggunaan sport science tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya implementasi dari pengetahuan yang telah didapatkan para pelatih maupun atlet tentang pentingnya peranan aspek kognitif, afektif dan psikomotor dalam menunjang performa olahraga. Hal ini didukung oleh pernyataan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Joko Pekik Irianto (Situmorang, 2017):

Tanpa memanfaatkan sport science, prestasi olahraga atlet Indonesia akan terus tertinggal dari negara lain. Hingga kini masih ada pelatih yang menganggap iptek hanya sebagai bumbu olahraga. Padahal, iptek harus dijadikan sebagai bahan baku untuk pencapaian prestasi olahraga.

Hal diatas didukung juga oleh pernyataan dari salah satu anggota Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas, Suryo Agung (Situmorang, 2017):

“Kurangnya pengetahuan sports science membuat fisik atlet Indonesia masih jauh dari harapan. Tapi, bukan berarti tak ada cabor (cabang olahraga) yang sudah bagus performa fisik atletnya, harus diakui saat ini prestasi atlet Indonesia terus mengalami penurunan. Makanya kita harus segera bangkit termasuk menerapkan sports science. Tujuannya, untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia pada SEA Games Malaysia 2017 dan Asian Games Jakarta-Palembang 2018.”

Psikologi olahraga adalah ilmu pengetahuan yang menerapkan prinsip– prinsip psikologi di dalam bidang olahraga dan kepelatihan. Prinsip–prinsip ini sering digunakan untuk meningkatkan performa atlet. Walaupun demikian,

(4)

psikolog olahraga bukan hanya meneliti tentang peningkatan performa saja tetapi psikolog olahraga melihat olahraga sebagai wadah untuk memperkaya manusia. Psikolog olahraga juga membantu setiap peserta olahraga untuk mencapai potensi maksimal dari dirinya sebagai atlet (Cox, 2012).

Psikologi olahraga mempelajari efek dari faktor psikologis dan emosional terhadap olahraga dan efek dari olahraga serta latihan terhadap kondisi psikologis dan emosional seorang manusia. Performa seorang atlet dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis dan emosional yang mampu dipelajari serta dikendalikan. Secara keseluruhan, psikologi olahraga adalah sebuah ilmu pengetahuan yang berdedikasi pada peningkatan performa atlet olahraga dan pengembangan aspek sosial-psikologis manusia (Cox, 2012).

Martens (2004) menyatakan bahwa atlet yang berhasil tidak hanya kuat fisik dan tekniknya saja, tetapi harus memiliki mental yang kuat juga. Apabila atlet memiliki mental yang kuat atlet akan mudah berkonsentrasi, percaya diri dan memiliki motivasi lebih. Beberapa hal ini merupakan faktor penting dalam kesuksesan atlet untuk meraih tujuan mereka.

Menurut Burke dan Brown (2003) terdapat berbagai strategi koping kognitif untuk peningkatan performa seorang atlet, namun ada tiga strategi yang paling diterima oleh atlet khususnya atlet basket. Ketiga strategi tersebut adalah, imagery, concentration dan self-talk. Self-talk juga merupakan strategi kognitif dan kemampuan psikologi yang penting untuk memperkuat performa seseorang (Boroujeni & Shahbazi, 2011; Goudas, Hatzidimitrious, & Kikidi, 2006). Self-talk telah dikenalkan kepada pelatih dan atlet sebagai salah satu strategi yang

(5)

efektif untuk meningkatkan performa dalam olahraga (Shannon, Gentner, Patel & Muccio, 2012; Thelwell, Weston, Greenlees, & Hutchlings, 2008; Vargas-Tonsing, Myers, & Feltz, 2004).

Hardy (2006) mendefinisikan self-talk sebagai sesuatu yang dikatakan dengan lantang di dalam diri seseorang kepada diri mereka sendiri. Menurut William dan Leffingwell (2002), self-talk terjadi ketika seorang individu berpikir dan membuat pernyataan didalam dirinya. Selain itu menurut Hackfort dan Schwenkmezger (1993), self-talk adalah dialog internal yang terjadi di dalam individu dimana individu tersebut memahami perasaan dan persepsinya, meregulasi, mengevaluasi dan mengambil keputusan, serta memberikan individu tersebut instruksi dan dorongan.

Self-talk adalah strategi kognitif yang didalamnya melibatkan penggunaan kata–kata tertentu yang digunakan untuk mengontrol pikiran seorang atlet dan memberikan instruksi serta motivasi kepada atlet tersebut (Williams, Zinsser, & Bunker, 2010). Hardy, Oliver dan Tod (2009) menyatakan bahwa self-talk adalah sesuatu yang merujuk pada pernyataan–pernyataan reflektif yang digunakan oleh seorang atlet di dalam kegiatan ataupun pemikiran yang berkaitan dengan olahraga. Self-talk berfungsi secara instructional dan motivational terhadap perilaku (Zinsser, Bunker, & Williams, 1998).

Gigi Fernandez yang merupakan seorang atlet tenis internasional pernah menjadi juara 17 kali Grand Slam, 2 medali emas olimpiade, dan menjadi peringkat nomor 1 dunia sebelum ia memutuskan untuk pensiun. Meskipun demikian Gigi Fernandez juga pernah mengalami penurunan akurasi dalam

(6)

pukulan–pukulannya. Menurut pelatih Gigi, ia merancang desain self-talk yang memungkinkan Gigi untuk menjadi lebih tenang dan rileks di dalam lapangan sehingga dapat membuat performa Gigi meningkat kembali (Connors, 2006).

Dwyane Wade merupakan seorang pemain basket profesional NBA, ia beberapa kali menjadi pemain All-Star dan pernah menjadi Pemain Terbaik NBA. Dwyane Wade juga menggunakan self-talk sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalahnya di lapangan dan juga sebagai cara untuk mengingatkan dirinya tentang tujuan ia berada dilapangan melalui sebuah gelang yang dipakainya (NBA, 2017). Dwyane Wade berkata:

Terkadang kamu harus menemukan jalan untuk masalahmu. Hari ini adalah salah satunya. Hal terbesar adalah bagaimana caramu mencarinya. Aku hanya berbicara kepada diriku sendiri dan itulah caraku menemukannya.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa self-talk merupakan salah satu strategi yang digunakan di kalangan atlet professional. Self-talk adalah adalah strategi kognitif yang melibatkan penggunaan kata-kata tertentu untuk membantu atlet mengontrol pikirannya, memberikan instruksi serta memotivasi atlet tersebut (Kremer, Moran, Walker & Craig, 2012). Menurut Williams, Zinsser, dan Bunker (2010), self-talk mampu mempengaruhi aspek-aspek psikologis dalam performa olahraga seperti self-efficacy, afek dan mood, serta atensi dan konsentrasi. Dengan melakukan peningkatan self-efficacy, afek dan mood, serta atensi dan konsentrasi pada atlet melalui self-talk maka performa atlet juga diharapkan akan meningkat sehingga mampu mencapai kemenangan pada pertandingan.

Melihat beberapa fakta–fakta di atas maka peranan psikologi olahraga sangat penting bagi perkembangan atlet Indonesia demi mencapai potensi

(7)

maksimal dan juga sebagai sarana pengembangan aspek–aspek psikologis dan emosional dalam dirinya. Self-talk dipilih sebagai salah satu metode intervensi yang efektif oleh peneliti untuk meningkatkan performa atlet yang masih belum optimal karena self-talk sangat baik diimplementasikan dalam aktivitas atau performa individu seperti free throw shooting dalam olahraga bola basket (Peluso, Ross, Gfeller, & LaVoie, 2005) selain itu Zinsser, Bunker & Williams (2001) percaya bahwa atlet menggunakan teknik self-talk untuk memusatkan atensi (focus), mengontrol kecemasan (relaxation), dan juga membantu performa mereka. Self-talk atlet juga memungkinkan seorang atlet untuk mengekspresikan perasaan, memverbalisasikan persepsi mereka, mengatur dan mengubah pola pikir mereka dalam rangka memfasilitasi dan meningkatkan kemampuan belajar serta performa mereka. Peneliti juga melihat self-talk sebagai strategi kognitif yang penggunaannya dapat diimplementasikan lebih cepat, efektif dan tidak memerlukan usaha yang banyak dibandingkan dengan strategi kognitif imagery dan concentration.

Maka, peneliti ingin melihat seberapa besar pengaruh strategi kognitif self-talk khususnya instructional self-talk pada peningkatan performa atlet-atlet yang berada di Indonesia khususnya atlet muda Indonesia yang merupakan bibit-bibit masa depan olahraga Indonesia khususnya pada cabang olahraga bola basket. Menurut Theodorkis, Weinberg, Natsis, Douma, dan Kazakas (2000) Instructional Self-talk lebih efektif dalam tugas yang memerlukan kordinasi dan ketepatan, Cues pada instructional self-talk cukup untuk meningkatkan performa pada latihan pembelajaran keahlian baru (Cutton dan Landin, 2007).

(8)

B. Tujuan Penelitian

Peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh instructional self-talk terhadap peningkatan performa pada atlet di cabang olah raga bola basket.

C. Manfaat Peneltian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Bagi pengembangan ilmu psikologi, diharapkan mampu mendukung hasil dari literatur–literatur yang telah ada sebelumnya, terutama dalam bidang psikologi olah raga.

2. Bagi penelitian selanjutnya, diharapkan dapat menjadi salah satu acuan untuk penelitian dengan bidang psikologi olah raga. Penelitian ini dapat menjadi salah satu penyedia informasi bagi pengembangan penelitian selanjutnya.

3. Bagi atlet, diharapkan mampu memberikan pengetahuan mengenai self-talk dan mendorong penggunaannya sebagai strategi kognitif untuk meningkatkan performa olahraga.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. (Situmorang,
Related subjects :