PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
Aspek Teknis
Aspek teknis yang dilakukan penulis adalah sebagai karyawan harian lepas (KHL), yaitu penulis bekerja aktif dalam kegiatan teknis harian di lapangan yang sama seperti karyawan kebun biasa yang bekerja dalam tiap bagiannya yang menuntut aktivitas fisik. Kegiatan ini dimulai pukul 05.25-06.30 WITA yaitu lingkaran pagi atau lebih dikenal apel pagi. Kegiatan ini dilakukan selama penulis magang, dilaksanakan di salah satu kantor divisi yaitu di depan kantor divisi II.
Apel pagi dipimpin oleh setiap asisten divisi yang diikuti mandor I, mandor panen, mandor perawatan, krani panen dan krani transport.
Asisten divisi akan memberi evaluasi hasil dari tiap pekerjaan hari sebelumnya, memberi solusi atas permasalahan yang terjadi baik dalam kegiatan dilapangan maupun di kantor divisi, memberi arahan kepada tiap kemandoran mengenai pekerjaan hari ini, mengecek kelengkapan dari tiap kegiatan berupa alat yang digunakan, kelengkapan alat pelindung diri karyawan (APD) dan transportasi karyawan ke lahan serta transportasi pengangkut buah/TBS. Selama penulis magang apel pagi juga terkadang dipimpin oleh Estate Manager dengan memberi evaluasi dari semua kegiatan dan produksi perbulannya, memberitahukan target produksi bulan depannya dan memastikan penerapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) terlaksana dengan baik. Selama menjadi sebagai KHL, penulis mengikuti beberapa kegiatan yang sudah ditetapkan pihak kebun antara lain aspek perawatan jalan meliputi perawatan jalan dan tunas pasar, pemupukan organik yaitu aplikasi janjang kosong (JJK) dan palm oil mill effluent (POME), leaf sampling unit (LSU) atau pengambilan sampel daun, pengendalian gulma, penunasan, pemanenan, pengendalian hama dan penyakit, pembuatan penanda buffer zone dan aplikasi pupuk anorganik.
Perawatan jalan. Perawatan jalan merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan terkait dengan peranan dan fungsi jalan yang sangat vital di dalam perkebunan kelapa sawit. Selain itu, perawatan jalan yang rutin dapat menekan biaya pemeliharaan itu sendiri dan biaya transport.
Kegiatan rawat jalan di Gunung Sari Estate dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dan mekanis. Rawat jalan secara manual menggunakan alat seperti cangkul, angkong, dan hammer. Sedangkan rawat jalan yang secara mekanis yaitu menggunakan alat berat berupa gleder dan bomek. Pada saat magang, penulis hanya melakukan rawat jalan secara manual saja. Prestasi kerja penulis adalah 60 m/HK. Kegiatan meliputi membuang genangan air hujan dari badan jalan baik di Access Road (AR), Main Road (MR), dan Collection Road (CR), menyusun material atau batu pondasi di spot-spot jalan yang rusak. Hal ini dilakukan untuk mempermudah unit (truk pengangkut buah) dalam pengakutan tandan buah segar (TBS) dari TPH tiap blok ke pabrik kelapa sawit (PKS), mempercepat dalam pelangsiran pupuk ke lahan dan mempermudah dalam pengawasan kegiatan panen dan pemupukan.
Gambar 1. Kegiatan Perawatan Jalan
Tunas Jalan. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk menjaga badan jalan (AR, MR, dan CR) tetap dalam keadaaan baik tidak tergenang air hujan sehingga tidak cepat rusak. Memotong pelepah pada tanaman pinggir di tiap badan jalan yang menutupi badan jalan dari sinar matahari dengan menyisihkan anak daun ± 60 cm. Hal ini dilakukan agar sisa pelepah yang terpotong masih tetap bisa melakukan proses fotosintesis sehingga tanaman tidak mengalami stres akibat dari berkurangnya jumlah pelepah, badan jalan tetap keras, tidak lembab walaupun hujan sehingga tidak mengganggu unit dalam pengangkutan buah. Prestasi kerja penulis pada saat kegiatan tunas jalan adalah 300 m/HK.
Gambar 2. Kegiatan Tunas Jalan
Pemupukan Organik
Di dalam pengolahan tandan buah segar (TBS) di PKS, selain CPO dan PKO juga dihasilkan bahan sampingan berupa limbah dalam bentuk padatan yaitu janjang kosong (JJK) dan solid basah/wet decanter solid (WDS) serta limbah dalam bentuk cair yaitu palm oil mill effluent (POME). Ketiga jenis limbah ini diproduksi setiap hari di PKS dalam jumlah yang cukup besar (JJK 23% TBS, WDS 4% TBS dan POME 50% TBS).
Aplikasi janjang kosong (JJK). Gunung Sari Estate melakukan pemupukan organik yaitu menggunakan janjang kosong kelapa sawit. Janjang kosong (JJK) merupakan limbah organik padat/sisa dari proses pengolahan tandan buah kelapa sawit oleh pabrik kelapa sawit (PKS). Produksi JJK adalah sekitar 23% dari TBS.
Janjang kosong (JJK) yang diaplikasi adalah JJK segar yang langsung diangkut dari PKS dan segera diaplikasikan. JJK yang sudah lama menumpuk dilahan aplikasi (>1 minggu) akan kehilangan banyak hara terutama unsur hara kalium karena sifatnya mudah tercuci akibat terkena air hujan sehingga manfaatnya sebagai bahan pupuk akan menjadi berkurang. Namun manfaat lainnya masih tetap bisa sebagai mulching. Pahan (2010) menyatakan 1 ton JJK sebanding dengan 8 kg Urea, 2.90 kg RP, 18.30 kg MOP dan 5 kg Kieserit.
Aplikasi JJK dapat meningkatkan proses dekomposisi sehingga kandungan fisik,
biologi dan kimia pada tanah meningkat. JJK juga meningkatkan peremajaan tanah yang penting untuk jangka waktu lama dalam rangka mempertahankan produksi TBS agar tetap tinggi.
Metode pengaplikasian JJK di Gunung Sari Estate yaitu secara manual dengan menggunakan angkong dan ganju. Distribusi JJK dari PKS ke lahan menggunakan unit kontraktor berkapasitas ± 6-7 dan unit kebun berkapasitas ± 4- 5 ton kemudian ditumpuk di collection road yang telah diberi pancang oleh mandor dengan menggunakan pelepah kering. Masing-masing pancang digunakan untuk satu tumpuk JJK yang telah dibawa oleh truk. Menurut Manual Referensi Agronomi (2008) aplikasi JJK dilakukan satu kali pertahun, untuk tanaman belum menghasilkan (TBM) diaplikasi dipiringan sedangkan untuk tanaman menghasilkan (TM) diaplikasikan di titik-titik pada gawangan mati (antara pokok). Tanaman kelapa sawit di Gunung Sari Estate adalah tanaman menghasilkan (TM) sehingga JJK diaplikasikan di gawangan mati (antara pokok).
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Pengaplikasian Janjang Kosong
Rekomendasi dosis JJK/pokok dari Minamas Research Center (MRC) adalah 75 ton/ha/tahun atau 550 kg/pokok aplikasi yang setara dengan 10 kali angkong. Penyusunan JJK dilakukan satu lapis saja. Hal ini dilakukan untuk mencegah perkembangan hama Oryctes rhinoceros (kumbang tanduk) dan mempercepat pelapukan JJK itu sendiri. Standar prestasi kerja di Gunung Sari Estate untuk aplikasi JJK adalah 5 ton/HK atau ± 9 titik/HK. Dalam pengaplikasiannya Gunung Sari Estate menggunakan tenaga karyawan borongan.
Pada saat magang penulis hanya dapat mengaplikasikan 3 titik JJK karena keterbatasan alat angkut yaitu angkong dan ganju, kemudian penulis membantu karyawan dalam penyusunan JJK di dalam blok. Harga borong untuk aplikasi JJK adalah Rp 7 000/ton.
Aplikasi palm oil mill effluent (POME). Gunung Sari Estate juga memanfaatkan POME sebagai salah satu pupuk organik untuk membantu memberi tambahan unsur hara bagi tanaman, memperbaiki sifat-sifat tanah, dan menyediakan tambahan air. POME yang diaplikasikan di Gunung Sari Estate mempunyai BOD 288 ppm apabila BOD ≥ 3 000 ppm belum bisa untuk diaplikasi. Kadar ini sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh komisi penilai AMDAL dari Banjarmasin. BOD (Biological Oxygen Demand) adalah kebutuhan oksigen hayati yang diperlukan untuk merombak bahan organik.
Semakin tinggi nilai BOD air limbah, maka daya saingnya dengan mikroorganisme atau biota yang terdapat pada kolam penampung limbah akan semakin tinggi. Pengujian terhadap BOD di Gunung Sari Estate tergantung dari curah hujan dan volume limbah yang ada di pabrik biasanya pihak AMDAL akan melakukan pengujian BOD setiap 1-2 kali dalam sebulan. Hal ini dilakukan agar effluent yang diaplikasi tidak menjadi limbah yang sangat berbahaya bagi lingkungan.
Sistem aplikasi POME di lahan dengan membuat flatbed pada gawangan mati berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 3.2 m, lebar 2.4 m, dan kedalaman 0.4 m, dan volume per flatbed adalah 3.072 m3, setara dengan 3 072 ton effluent/flatbed. Julmah flatbed sesuai rekomendasi Departemen Riset adalah
± 150-160 flatbed/ha dan dosis effluent adalah 750 ton/ha/tahun dengan tiga kali rotasi setahun. Jumlah total flatbed di Gunung Sari Estate adalah 9 265 flatbed dengan rata-rata jumlah flatbed 103 flatbed/ha dan volume effluent aktual per flatbed 3 072 ton.
Pengaplikasian POME dari kolam limbah pabrik ke flatbed dalam blok aplikasi dilakukan selama 10 jam. Standar prestasi kerja karyawan POME adalah 7 jam/HK, sedangkan pengawasan yang dilakukan di luar jam kerja dihitung sebagai lembur dengan upah Rp 7 116/jam. Pada saat magang, prestasi penulis adalah 7 jam/HK. Aplikasi POME dikerjakan oleh satu orang karyawan SKU dan
dibantu oleh karyawan dari pabrik. Tugasnya adalah untuk mengontrol pipa aliran POME (membuka dan menutup) yang ada di lahan aplikasi, membersihkan flatbed dari tumpukan pelepah yang masuk ke dalam flatbed, membersihkan gulma, pendalaman akibat pendangkalan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelancaran aliran effluent antar kolam. Untuk lebih jelas pengaplikasian POME di Gunung Sari Estate dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Pengaplikasian Palm Oil Mill Effluent
Dalam pengamplikasian POME, Gunung Sari Estate juga menerapkan sistem RSPO dengan membuat tiga sumur pantau sebagai pemantauan terhadap pencemaran air dari limbah cair yang diaplikasi di lahan percontohan. Sumur pantau pertama berada di lahan aplikasi, kedua berada di sumber-sumber mata air seperti sungai sekitar kebun aplikasi, dan ketiga di pemukiman masyarakat pada radius 1 km dari lahan aplikasi. Selain sumur pantau, dalam pengaplikasian POME petugas juga harus mengontrol pipa limbah dengan mengosongkan 3 kolam flatbed paling ujung agar effluent tidak sampai keluar dari kolam aplikasi.
Leaf Sampling Unit (LSU)
Leaf Sampling Unit (LSU) atau pengambilan contoh daun adalah salah satu komponen penting dalam menentukan rekomendasi pemupukan.
Pengambilan contoh daun tahun 2011 ini bertujuan untuk menentukan rekomendasi pemupukan tahun 2011-2012. Rekomendasi pemupukan dengan analisis daun yaitu pengambilan contoh daun ke-17 pada tanaman kelapa sawit karena daun ke-17 merupakan pelepah daun yang paling peka terhadap unsur
hara, pelepah dalam keadaan fisiologis paling optimal (kondisi hara optimum), dan mewakili daun muda dan tua. Hasil daun merupakan faktor kunci dalam penentuan rekomendasi dosis dan jenis pupuk untuk suatu kebun.
Pengambilan contoh daun dilakukan pertama kali pada tanaman umur 3 tahun dan selanjutnya dilakukan sekali setahun untuk LSU. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan LSU adalah kantong plastik hitam dan putih, gunting, cat, kuas, pensil, kertas/form LSU, pisau, egrek, meteran serta gambar visual defisiensi unsur hara. Pengambilan contoh daun di Gunung Sari Estate tahun 2011 dilakukan pada tanggal 15-20 April 2011. Tiap divisi memiliki dua tim LSU yang terdiri dari 3 orang di masing-masing tim. Pengambilan contoh daun dilakukan pada pagi hari mulai pukul 07.00-12.00 dalam kondisi cuaca cerah, bila terjadi hujan pengambilan daun harus dihentikan serta interval pemupukan (Urea, TSP, MOP, Kieserit dan abu janjang) dengan pengambilan contoh daun sekurang-kurangnya 2-3 bulan.
Penentuan blok LSU, semakin kecil luas LSU maka semakin teliti hasil yang diperoleh, tetapi bila kebun dibagi dalam luasan yang terlalu kecil akan menyulitkan pelaksanaan pemupukan setelah rekomendasi. Dalam penentuan pohon contoh dimulai dari pohon yang terletak pada baris ke tiga dan pohon ke tiga dalam barisan tersebut dari batas blok dimulai dari selatan ke utara. Pada salah satu sisi batas blok pohon diberi tanda berupa No. LSU nya. Di barisan ke tiga dari pohon tersebut, pada pohon tepi jalan diberi tanda anak panah ke atas (masuk) yang berarti dari pohon tersebut, pohon ke tiga dalam barisan merupakan pohon contoh pertama.
Pada pohon terakhir dari barisan ke tiga tersebut diberi tanda anak panah ke samping kiri yang berarti pindah baris yang sesuai dengan sistem pengambilan sampel daun yang ditentukan. Tanda anak panah dapat di lihat pada Gambar 5.
Pohon pertama diberi tulisan nomor 1 di sisi pohon dan tanda dua garis biru dibawah nomor, begitu juga pada pohon terakhir. Pohon contoh selanjutnya diberi tulisan nomor 2 dan tanda satu garis dibawah nomor sampai seterusnya hingga pohon terakhir. Apabila barisan tanaman dimana terdapat pohon contoh tepat jatuh di pinggir jalan atau di tepi rendahan maka pohon contohnya dipindahkan
sedangkan tanda tetap pada barisan pohon yang terpilih dengan memberi tanda panah pengganti.
(a) Tanda Masuk dalam Barisan (b) Tanda Pindah Baris Gambar 5. Tanda Arah dalam Pengambilan Leaf Sampling Unit
Pohon mati atau kosong tetap dihitung. Apabila pohon contoh digeser tidak memenuhi syarat, maka perhitungan tetap dimulai dari hitungan semula. Pohon- pohon yang merupakan pohon yang tidak boleh dipakai sebagai contoh adalah:
a. Pohon yang terletak di pinggir jalan, sungai, parit, dekat dengan lubang galian.
b. Pohon yang bersebelahan dengan pohon mati/kosong.
c. Pohon steril atau pohon yang terserang penyakit.
d. Pohon yang tumbuh abnormal.
Apabila dalam hitungan pohon contoh jatuh pada pohon di atas maka harus digeser ke depan atau ke belakang, kecuali kalau hitungan tepat pada pohon mati maka harus digeser dua pohon.
Daun contoh yang diambil adalah daun pelepah daun ke-17. Pelepah daun ke-17 ditentukan dengan cara:
a. Pelepah daun ke-17 adalah yang terletak di bawah pelepah daun ke-9 b. Pelepah daun ke-9 adalah pelepah daun yang terletak di bawah peleapah
daun ke-1
c. Pelepah daun ke-1 adalah pelepah daun pertama setelah pucuk dalam kondisi membuka penuh ± 90 % .
Pelepah daun ke-17 di egrek dan diturunkan, kemudian 3-4 helai anak daun sebelah kanan dan kiri pada peralihan anak daun muda dan tua dalam satu pelepah dipotong daunnya sepanjang 20 cm. Anak daun sebelah kanan diletakkan pada plastik putih sedangkan anak daun sebelah kiri diletakkan pada plastik hitam, kemudian daun dipotong kecil-kecil dengan ukuran 2-3 cm. Setelah itu, daun diserahkan ke kantor divisi kemudian pihak Departemen Riset akan mengambilnya untuk dioven selama 24 jam dengan suhu 80-100 0C. Daun yang telah dioven kemudian dikirim ke Minamas Research Center (MRC) untuk dianalisis sebagai bahan penentuan rekomendasi pemupukan.
Pengambilan contoh daun diikuti dengan pengamatan vegetatif mengenai tinggi tanaman, panjang pelepah, lebar pelepah dan tebal pelepah. Selain itu juga dilakukan pengamatan visual terhadap defisiensi hara. Tiap tim diberi gambar tentang defisiensi hara untuk mempermudah pengamatan. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengambilan contoh daun adalah belum terampilnya tim sensus dalam menentukan pelepah ke-17, faktor ketelitian dalam pengukuran dan pengamatan tanaman yang tinggi sesuai dengan umur tanaman sehingga menyulitkan pengambilan pelepah dan kurang teliti dalam pengamatan secara visual.
Pengendalian Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia. Gulma biasa tumbuh di sekitar tanaman yang sedang dibudidayakan dan berasosiasi dengan tanaman budidaya tersebut secara khas. Gulma bukan hanya tumbuh pada tempat yang kaya akan unsur hara tetapi juga dapat di tempat miskin hara. Dalam pertumbuhannya gulma akan berkompetisi dengan tanaman budidaya dalam memperebutkan sarana tumbuh yaitu ruang, air, cahaya, dan unsur hara.
Pengendalian gulma antara lain bertujuan untuk meminimalkan persaingan antara tanaman dengan gulma, sanitasi, memudahkan pemeliharaan (pemupukan) dan menghilangkan pengaruh buruk bagi tanaman. Kerugian akibat keberadaan gulma di perkebunan kelapa sawit yaitu: (a) menurunkan produksi karena persaingan sarana tumbuh, (b) menurunkan mutu produksi karena terkontaminasi
oleh bagian-bagian gulma, (c) mengeluarkan senyawa alelopati yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, (d) menjadi inang bagi hama, (e) mengganggu tata guna air, (f) meningkatkan biaya usaha perkebunan karena ada kegiatan pengendalian gulma (Pahan, 2010). Oleh karena itu, keberadaan gulma yang berlebihan harus dikendalikan.
Jenis gulma dominan yang ditemukan di Gunung Sari Estate adalah Melastoma malabatricum, Ageratum conyzoides, Mikania micrantha, Borreria alata dan Ottochloa nodosa. Namun, tidak semua gulma yang harus dibarantas seperti pakis (Nephrolepis bisserata), Casssia cobanensis, Euphorbia sp., Tunera subulata. Gulma-gulma tersebut dapat berfungsi sebagai inang musuh alami hama-hama kelapa sawit (beneficial plant). Selain itu, gulma tersebut berfungsi menjaga kelembaban tanah dan dapat mengurangi erosi tanah pada lahan-lahan yang gundul (bebas dari vegetasi) yang sangat merugikan pertumbuhan tanaman kelapa sawit (Manual Referensi Agronomi, 2008).
Kegiatan pengendalian gulma merupakan kegiatan rutin dilakukan sehingga membutuhkan sistem rotasi dalam pelaksanaanya. Penetapan rotasi diarahkan pada pendekatan konsep ambang ekonomis, artinya selama kerugian yang ditimbulkan oleh kehadiran gulma tersebut masih lebih kecil dari biaya yang harus dikeluarkan untuk pengendaliannya, maka pengendalian tidak perlu dilakukan. Rotasi yang teratur bertujuan untuk menjaga pertumbuhan atau penyebaran gulma agar tetap pada ambang ekonomis. Menurut Manual Referensi Agronomi (2008), jumlah rotasi semprot per tahun dipengaruhi oleh umur tanaman, jenis gulma yang dominan, jenis dan herbisida yang digunakan, jenis tanah dan kerapatan gulma serta keadaan iklim.
Teknik pengendalian gulma yang dilaksanakan bergantung pada jenis dan kerapatan gulma, cuaca, topografi lahan, ketersediaan tenaga kerja serta alat dan bahan. Kegiatan pengendalian gulma di Gunung Sari Estate dilakukan secara manual dan kimia dengan sasaran gulma di piringan, tempat pengumpulan hasil (TPH), pasar rintis dan di gawangan mati. Metode yang dilakukan adalah dengan sistem BBS (Block Spraying Sistem), yaitu penyemprotan dilakukan secara blok per blok. Block Spraying Sistem adalah suatu sistem pengendalian gulma secara terencana dan terorganisir dengan maksud semua kegiatan penyemprotan dapat
terlaksana dengan baik sehingga diperoleh penyemprotan yang efektif, efisien, aman dan dapat dikontrol mudah sesuai dengan prinsip 6T (tepat dosis, jenis, sasaran, waktu, alat dan keamanan), supervisi lebih fokus dan produktivitas yang lebih tinggi.
Tim semprot dalam sistem BSS di Gunung Sari Estate dibagi menjadi 2, yaitu tim semprot BSS-1 (piringan) dan tim semprot BSS-2 (gawangan). Tugas tim semprot BSS-1 yaitu semprot priringan, pasar rintis, TPH dan dongkel anak kayu (DAK), sedangkan tim semprot BSS-2 adalah semprot gawangan dan dongkel anak kayu (DAK).
Penyemprotan gulma piringan, pasar rintis, kaki lima dan TPH
Piringan adalah daerah sekitar tanaman kelapa sawit yang berguna untuk tempat penyebaran pupuk, tempat jatuhnya brondolan dan tandan buah segar (TBS). Pasar rintis adalah jalan di antara dua jalur kelapa sawit yang berfungsi sebagai jalan untuk mengangkut buah ke TPH dan sebagai jalan operasional lainnya. Kaki lima blok adalah jalan operasional untuk menghubungkan antar pasar rintis ke satu TPH. Tempat pengumpulan hasil (TPH) adalah tempat pengumpulan hasil panen sebelum buah dikirim ke PKS. Ketiga sarana tersebut merupakan sarana yang paling penting dalam kegiatan perawatan dan produksi.
Piringan, pasar rintis dan TPH harus bebas dari gulma. Jenis gulma yang dominan di piringan, pasar rintis, kaki lima dan TPH adalah Ageratum conyzoides, Axonopus compressus, Borreria latifolia, Cyrtococcum acrescens, Paspalum conjugatum, dan Eleusine indica.
Tim semprot BSS-1 yaitu semprot piringan, pasar rintis, kaki lima dan TPH menggunakan alat semprot CDA (Controlled droplet application). Di pasaran dikenal dengan Micron Herby Spray (MHS). Alat semprot ini mempunyai kapasitas 10 liter/knapsack dan 5 liter/knapsack. Alat ini digunakan untuk sistem aplikasi dengan gaya gravitasi dan memiliki nozel warna kuning, biru, orange dan merah. Namun, di Gunung Sari Estate menggunakan nozel warna kuning. Bahan kimia (herbisida) yang digunakan adalah campuran Prima Up dan Starane dengan perbandingan konsentrasi 2.5 % : 0.625 %. Konsentrasi campuran yang digunakan adalah 31.25 cc/ltr artinya ada 31.25 ml herbisida dalam 1 l air. Sistem kerja tim
semprot BSS-1 adalah menyemprot piringan pada setiap pokok dalam baris sebelah kiri dan kanan pasar secara simpul tali. Dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Cara Kerja Tim Semprot Piringan dengan Alat Micron Herby Spray Tim semprot BSS-1 terdiri dari sembilan orang karyawan perempuan.
Dalam pelaksanaannya, penyemprotan herbisida pada awalnya menggunakan air hujan yang tertampung di pari-parit dalam blok (road site pit) dan side drain sebagai pelarutnya. Namun, pada bulan Mei 2011 tim semprot MHS sudah mendapat satu unit semprot (truk) yang berfungsi mempermudah tim semprot MHS dalam pencampuran racun dan menyediakan kualitas air yang lebih baik dari pada air yang di road site pit dan side drain.
Penyemprotan piringan, pasar rintis, kaki lima dan TPH dilakukan secara selektif, artinya bila saat penyemprotan dijumpai piringan, pasar rintis dan TPH dalam kondisi bersih sesuai standar maka piringan, pasar rintis, kaki lima dan TPH dapat ditinggalkan (tidak perlu di semprot). Standar prestasi karyawan MHS adalah 5 ha/HK. Pada saat magang prestasi penulis adalah 1 ha/HK karena keterbatasan alat. Kendala-kendala yang sering dihadapi oleh tim semprot MHS adalah kerusakan alat semprot, kesulitan dalam menyediakan air, kualitas larutan herbisida karena menggunakan air yang keruh dan kondisi cuaca yang tidak menentu yang dapat mengurangi efektivitas penyemprotan.
Blok
Pasar tengah
Pasar Tengah Blok Penyemprotan gulma gawangan
Gawangan adalah areal yang berada di luar piringan tanaman dan pasar rintis. Areal ini harus bebas dari gulma karena akan menjadi tempat inang hama, menghambat pertumbuhan tanaman, serta dapat memberi peluang cahaya matahari sampai ke permukaan tanah. Gawangan harus bersih dari gulma anak kayu, kentosan, keladi liar dan kerisan. Jenis gulma yang sering dijumpai di gawangan adalah Melastoma malabatricum, Chromolaena odorata, Mikania micrantha dan gulma berkayu lainnya.
Penyemprotan gulma gawangan menggunakan alat semprot punggung semi-otomatis RB-18 dengan kapasitas 15 liter/knapsack, dengan tipe nozel cons (warna putih). Herbisida yang digunakan adalah Kenlon dan Meta Prima dengan perbandingan konsentrasi 0.33 % : 0.02 %. Sistem kerja semprot gawangan (BSS- 2) hampir sama dengan semprot MHS (BSS-1). Hanya saja setiap penyemprotan, menyemprotnya sampai pasar tengah saja. Agar lebih jelas dapat dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Cara Kerja Tim Semprot Gawangan dengan Alat Semprot Punggung Semi-Otomatis RB-18
Tim semprot gawangan (BSS-2) di Gunung Sari Estate dikenal dengan TSK (tim semprot kebun). Tim semprot gawangan memiliki 12 orang karyawan perempuan. Pada awalnya, dalam pelaksanaan penyemprotan herbisida. Air yang
digunakan adalah air hujan yang tertampung di road site pit yang ada pada blok.
Hal ini dikarenakan unit (truk) angkut air tidak berfungsi dengan baik, bak penampung airnya bocor. Namun pada awal bulan Mei, kebun menyediakan unit (truk) yang baru untuk tim semprot gawangan. Unit lama diperbaiki dan sekarang digunakan oleh tim semprot MHS. Dengan adanya pembeliaan dan perbaikan unit ini diharapkan tim semprot MHS dan TSK mampu memberi output berupa peningkatan prestasi kerja dan kualitas semprot yang lebih baik lagi.
Prestasi kerja tim semprot gawangan adalah 3 ha/HK, pada saat magang prestasi kerja penulis 1 ha/HK. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan alat semprot. Hal-hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan penyemprotan adalah kualitas air yang digunakan sehingga akan mempengaruhi kualitas dari herbisida, keterbatasan stok alat, dan kerusakan alat.
Penunasan (Pruning)
Penunasan pelepah merupakan upaya untuk menjamin jumlah pelepah yang optimum di pohon dan membuang pelepah/daun-daun yang sudah tua (tidak produktif). Dalam Manual Referensi Agronomi (2008) penunasan ini dikenal dengan Canopy Management (manajemen kanopi) yaitu mempertahankan jumlah pelepah sawit produktif yang maksimal untuk menghasilkan produksi yang optimal. Idealnya pembuangan pelepah sawit harus dilakukan secara minimal sepanjang masa produktif kelapa sawit untuk memaksimalkan proses fotosintesis dan nilai indeks luas daun (leaf area index).
Penunasan bertujuan menjaga kebersihan tanaman, memperbaiki peredaran udara, mengurangi kelembaban, memperlancar penyerbukan secara alamiah, untuk pengendalian hama dan penyakit, memperlancar proses fotosintesis, dan pada prakteknya untuk mempermudah pekerjaan potong buah, menghindari tersangkutnya brondolan di pelepah dan mempermudah pengamatan buah pada saat sensus produksi.
Gunung Sari Estate menggunakan sistem penunasan progresif yaitu melakukan penunasan secara bertahap dan terus-menerus dilakukan sepanjang tahun dimana pelepah atau daun yang tua dibuang kecuali dua pelepah yang menyangga tandan buah (songgo dua). Dengan mempertahankan jumlah pelepah
berkisar 48-56 (6-7 lingkar) tiap pokoknya. Pelepah dipotong mepet ke batang dengan bekas potongan miring ke luar (ke bawah) berbentuk tapak kuda yang membentuk sudut 300 dengan garis horizontal dan merupakan jarak bidang tebas dengan pangkal harus lebih kecil dari 5 cm.
Penunasan di Gunung Sari Estate dilakukan bersamaan pada saat panen, tetapi pada kondisi tertentu dapat diadakan waktu penunasan khusus yang tidak bersamaan dengan kegiatan panen. Manual Referensi Agronomi (2008), penunasan pelepah tidak seharusnya dilakukan semasa panen karena sering terjadi penunasan pelepah yang berlebihan. Tunasan yang berlebihan (over pruning) akan mengakibatkan terjadinya peningkatan bunga jantan dan diikuti dengan penurunan produksi, jumlah janjang dan BJR (berat janjang rata-rata).
Rotasi pembayaran tunasan adalah setahun sekali. Namun, di Gunung Sari Estate dilakukan 6 bulan sekali dengan pembayaran per seksinya, dimana upah tunasan sebesar Rp. 225/pokok untuk pemanen, 7 % untuk supervisi dan 3 % untuk mandor I. Pada prakteknya, pemanen hanya akan menunas pokok yang ada buahnya ketika memanen buah, sedangkan pokok yang tidak dipanen tidak akan ditunas. Ketetapan harga tunas progressive dapat dilihat pada Tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5. Perubahan Ketetapan Harga Tunas Progressive di Gunung Sari Estate
Divisi/Tahun Tanam Rotasi/Tahun Lama Baru
Harga/Pokok Harga/Pokok
Divisi I/1996 2 Rp 200 Rp 225
Divisi I/1998 2 Rp 178 Rp 200
Divisi II/1995 2 Rp 200 Rp 225
Divisi II/1996 2 Rp 200 Rp 225
Divisi III/1996 2 Rp 200 Rp 225
Divisi III/1998 2 Rp 178 Rp 200
Sumber Data: Kantor Besar Gunung Sari Estate (Mei, 2011) Panen
Panen adalah salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan kelapa sawit. Panen merupakan kegiatan memotong tandan buah yang sudah matang dari pokok, mengutip brondolan, mengumpulkan dan mengangkut buah ke TPH hingga pengangkutan ke PKS. Kegiatan panen merupakan kegiatan inti dari operasional suatu kebun. Manual Referensi Agronomi (2008) mengatakan tujuan
utama panen adalah memotong semua janjang yang matang panen dengan mutu panen sesuai standar umtuk memaksimalkan perolehan minyak kelapa sawit dengan kualitas tinggi. Selain itu, tujuan lainnya adalah meminimalkan losses serta memelihara kondisi tanaman. Keberhasilan panen didukung oleh pengetahuan pemanen tentang persiapan panen, kriteria matang panen, rotasi panen, sistem panen dan sarana panen.
Kebutuhan tenaga panen. Kebutuhan tenaga kerja pemanen ditentukan berdasarkan luas seksi panen untuk setiap hari panen. Standar norma yang di pakai di Gunung Sari Estate adalah 4 ha/HK. Tim panen divisi II GSE berjumlah 77 orang, terdiri dari 41 orang laki-laki (pemanen/cutter) 42 orang perempuan (kutip brondolan/ picker) yang terbagi dalam 14 KKP dimana tiap 1 KKP terdiri dari 3 orang pemanen.
Alat panen. Dalam melaksanakan pemanenan TBS kelapa sawit dibutuhkan alat-alat khusus seperti dodos, kampak, ganco, egrek, angkong, tojok, jibek dan juga karung. Alat-alat panen memiliki ukuran dan jenis yang berbeda tergantung dari umur tanaman sebagai berikut:
1) Dodos dengan ukuran 8-10 cm (lebar mata), untuk memotong tandan pada ketinggian tanaman sampai 3 m (umur < 4 tahun). Dodos ukuran 12-14 cm, untuk memotong tandan pada ketinggian 4-6 m (umur 4-8 tahun).
2) Kampak digunakan untuk memotong tangkai tandan buah dan pelepah yang jatuh setelah penunasan.
3) Egrek digunakan untuk memotong tandan buah yang memiliki ketinggian lebih dari 9 m (umur >8 tahun).
4) Ganjo dan tojong digunakan untuk menarik/mengangkat tandan buah ke angkong, menyusun tandan buah di TPH dan mengatur tandan buah di dalam truk pengangkutan.
5) Angkong digunakan untuk mengangkut TBS dari dalam blok ke TPH.
6) Jibek dan Karung digunakan sebagai tempat pengumpulan brondolan ke TPH dan sebagai alas brondolan di TPH.
Di Gunung Sari Estate hanya menggunakan alat panen seperti egrek, ganjo, angkong, tojong, ember, jibek dan karung.
Sarana jalan. Jalan merupakan sarana paling utama dalam panen.
Peningkatan kualitas jalan dilakukan secara bertahap, dimana tanaman memasuki masa TM maka kondisi jalan harus diperkeras dengan batu atau kerikil sehingga mampu mendukung dalam pengangkutan TBS dari dalam blok ke TPH, TPH ke PKS. Pembuatan sarana jalan meliputi:
a) Pembuatan pasar rintis/jalan pikul dengan interval 2 baris tanaman dan lebar 1.2-1.5 m dengan cara kimia dan manual dimana harus bersih mulai dari piringan sampai ke TPH.
b) Titi panen adalah jembatan kecil di dalam blok untuk menghubungkan areal yang satu dengan areal lain dalam satu blok yang berfungsi untuk mempermudah pemanen dalam proses pengangkutan TBS dari piringan ke TPH.
c) Pada daerah yang berlereng/miring dibuat jalan secara zig-zag untuk mengurangi erosi dan mempermudah pemanen dalam pengangkutan buah.
d) Membuat tempat pengumpulan hasil (TPH). TPH resmi harus ada dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Di Gunung Sari Estate, satu TPH mewakili 6 baris pokok atau 3 pasar rintis dengan ukuran 4 m x 7 m.
Permukaan TPH harus rata dan bersih dari gulma, janjang busuk, tangkai tandan buah serta diberi tanda (no TPH dan blok)
e) Memperbaiki main road dan collection road. Jalan utama (main road) adalah jalan penghubung antar collection road dengan jalan akses, biasanya arah Timur-Barat. Jalan pengumpul (collection road) adalah jalan pengumpul hasil, pengangkutan dan pengawasan, biasanya arah Utara-Selatan.
Kriteria matang panen. Minimum Ripeness Standard (MRS) atau Kriteria matang panen berdasarkan atas jumlah brondolan yang lepas secara alami dari tandan buah yang matang yaitu sekurang-kurangnya terdapat 5 brondolan per janjang di piringan sebelum panen. Selain itu, dapat ditentukan pada saat kandungan minyak dalam daging buah maksimal dan kandungan asam lemak bebas terendah. Parameter yang digunakan dalam menentukan kriteria matang panen adalah perubahan warna dan membrondolnya buah dari tandan. Proses
perubahan warna yang terjadi pada tandan adalah warna hijau berubah menjadi kehitaman kemudian berubah menjadi merah mengkilat/orange.
Kadar minyak tertinggi terdapat pada saat buah membrondol. Namun jika pemanenan ditunggu hingga semua atau hampir semua membrondol, pembusukan buah yang lebih dulu masak akan mulai terjadi yang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas minyak. Untuk itu sangat diperlukan standar mengenai derajat kematangan buah agar dapat menentukan waktu panen yang tepat. Derajat kematangan buah dapat ditentukan berdasarkan warna buah dan buah yang membrondol. Secara visual di lapangan, kriteria matang panen yang diterapkan oleh Gunung Sari Estate adalah 5 brondolan/TBS.
Untuk tujuan menjaga kualitas buah, minimum 5 brondolan per janjang dapat diterima di PKS. TBS yang dipanen akan dikelompokkan seperti berikut:
Batas toleransi
Unripe (mentah) 0 %
(0-4 brondolan yang lepas per janjang)
Under ripe (kurang matang) < 5 % (5-9 brondolan yang lepas per janjang)
Ripe (matang) < 95 %
(10 atau lebih brondolan yang lepas per janjang)
Empty bunch (janjang kosong) 0 %
(brondolan yang lepas per janjang > 95 %)
Longstalk (gagang panjang) 0 %
(panjang gagang lebih dari 5 cm)
Old bunch (buah restan) 0 %
(lebih dari 48 jam)
Rotasi panen atau pusingan potong buah. Rotasi panen atau pusingan adalah interval waktu antara satu perlakuan panen dengan perlakuan panen berikutnya. Rotasi panen atau pusingan potong buah yang digunakan di Gunung Sari Estate adalah 6/7, artinya areal di tiap-tiap divisi dibagi menjadi 6 seksi dan dipanen selama 6 hari dalam 7 hari. Rotasi panen yang normal adalah ± 7 hari.
Namun, dalam kenyataannya pusingan buah sering mengalami perubahan karena tergantung dari banyaknya karyawan yang absen, kerapatan buah yang tinggi,
cuaca, dan adanya hari libur nasional sehingga menyebabkan rotasi buah lebih dari normal.
Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena pusingan buah yang kurang tepat, maka rotasi panen harus dijaga agar tetap normal yaitu dengan memantau terus melalui daftar rotasi panen yang ada di tiap kantor divisi.
Pemantuan rotasi panen juga dapat dipermudah dengan adanya laporan dari tiap divisi mengenai kerapatan buah matang dan persentase panen di blok, tenaga potong buah, umur tanaman, basis borong, curah hujan dan lain-lain.
Untuk menjaga rotasi panen tetap normal maka sebelum kegiatan panen dilakukan taksasi produksi harian yang dilakukan sehari sebelumnya. Taksasi dilakukan oleh mandor panen untuk mengetahui kerapatan buah, kebutuhan tenaga kerja (cutter dan picker), dan kebutuhan unit untuk pengangkutan buah ke PKS. Taksasi produksi ini dilakukan dengan menghitung jumlah janjang/TBS matang yang akan dipanen besok dibagi dengan jumlah tanaman contoh selanjutnya dikali 100 %. Jumlah tanaman contoh adalah 10 % dari total populasi tanaman yang ada di tiap blok.
Sistem hancak panen. Gunung Sari Estate menggunakan sistem hancak giring tetap. Sistem hancak giring tetap adalah pemanen mendapat hancak tetap, jika hancaknya selesai maka pemanen pindah ke hancak blok yang berikutnya sesuai dengan nomor hancak yang telah ditentukan.
Kelebihan dari sistem hancak giring tetap yaitu: (a) manajemen pelaksanaan panen berdasarkan sasaran/persentase kerapatan panen dapat dilaksanakan secara sempurna, (b) jumlah tenaga kerja dapat diatur sesuai dengan kebutuhan/kerapatan panen, (c) distribusi buah mudah karena biasanya panen dimulai dari CR yang sama, (d) mandor lebih mudah melakukan pengawasan, (e) output dari tiap mandoran dan karyawan bisa dipacu dengan pengacakan karyawan yang memperhatikan kekuatan masing-masing karyawan, (f) dapat menghindari kecemburuan di antara karyawan karena hancak dapat ditukar/digilir dari pusingan yang satu ke selanjutnya. Sementara kesulitan dalam sistem ini adalah tanggung jawab karyawan terhadap hancaknya masih relatif kecil dan pengawasan dari supervisi yang kurang ketat.
Organisasi panen. Organisasi panen di Gunung Sari Estate terdiri dari pemanen, mandor panen, krani panen, krani transport dan mandor I. Umumnya masing-masing divisi memiliki tiga orang mandor panen dengan jumlah krani panen mengikuti jumlah mandor panen. Tiap mandor panen membawahi ± 14 pemanen. Tiap divisi memiliki krani transport satu orang. Krani panen bertugas mencatat jumlah janjang TBS dan brondolan yang telah dipanen di buku penerimaan buah (BPB) dan pengisian chec kroll. Mandor panen, krani panen dan krani transport bertanggungjawab kepada mandor I, seterusnya mandor I bertanggungjawab kepada asisiten divisi.
Sistem organisasi panen yang digunakan di Gunung Sari Estate adalah Block Harvesting Sistem by Division of Labour-2 (BHS by DOL-2). Sistem BHS by DOL-2 adalah sistem panen dimana penyelesaian kegiatan panennya setiap hari kerja dan terkonsentrasi pada satu seksi tetap per kebun atau per divisi berdasarkan interval yang telah ditentukan. Sistem panen BHS by DOL-2 ini menjelaskan bahwa potong buah dikerjakan oleh seorang pemanen (cutter) sedangkan pengutipan brondolan dilakukan oleh seorang pembrondol (picker).
Penggunaan cutter dan picker adalah 1:1, ini dilakukan agar pasangan cutter dan picker dapat lebih sinkron dan fokus dalam penyelesaian hancak panennya.
Adapun tujuan utama dari sistem BHS by DOL-2 adalah meningkatkan spesialisasi pekerjaan panen, menunjukkan tanggungjawab serta wewenang dengan jelas, meningkatkan sistem pembayaran untuk kegiatan panen, dan memungkinkan terbukanya introduksi mekanisasi pengangkutan TBS ke TPH.
Pelaksaan panen. Setelah mandor selesai melakukan apel pagi dengan asisten dan mandor I, selanjutnya tiap mandor panen melakukan antrian pagi dengan pemanen masing-masing mandoran, pemanen memasuki hancak masing- masing. Kegiatan panen dilakukan dari arah yang sama untuk memudahkan pengawasan dan pengangkutan buah. Memotong pelepah yang menyangga buah, kemudian pelepah disusun pada gawangan mati. Penyusunan pelepah berbentuk huruf “U” atau dikenal dengan U shape frontstacking. Hal ini bermanfaat untuk menghindari kecelakaan terhadap pemanen, mencegah ban angkong bocor, menjaga kelembaban tanah, mencegah erosi tanah dan sebagai tempat aplikasi pupuk.
Buah yang matang dipotong dan gagang panjang dipotong minimal 3 cm dari permukaan buah, potongan gagang dilakukan di piringan dan gagang dibuang pada gawangan mati dengan cakkam kodok. Setelah pemotongan buah sampai di pasar tengah buah harus sudah di angkut ke TPH, agar buah segera diangkut ke PKS. Namun, pada prateknya pemanen menyelesaikan sampai pasar rintis terakhir baru mengangkut buah ke TPH. Pemanen menyusun buah secara teratur di TPH dengan 5 buah/janjang tiap baris dan menulis nomor pemanen agar memudahkan krani panen dalam pencatatan dan pengecekan buah di TPH. Pembrondol mengikuti pemanen dari belakang dengan jarak 2 pokok. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan potong buah dan semua brondolan terkutip bersih.
Setelah itu, brondolan dimasukkan ke dalam jibek, ember atau angkong dan meletakkannya di TPH disamping buah yang dipanen dengan menggunakan alas karung dibawahnya. Sebelumnya jibek sudah dikalibrasi dengan 1 karung jibek setara dengan ± 20 kg brondolan. Setelah itu, pembrondol menulis nomor pembrondolnya agar memudahkan krani panen dalam pencatatan jumlah brondol yang terkutip.
Krani panen melakukan kegiatan grading yaitu memeriksa kualitas buah yang dipanen di TPH yaitu tandan buah segar, buah mentah, buah busuk dan gagang panjang. Selain grading dilakukan di TPH, buah juga di grading di pabrik.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui persentase buah matang yang dipanen, buah mentah, buah busuk dan gagang panjang. Hasil grading dari pabrik akan dicocokkan dengan grading yang dilakukan krani panen, hasilnya akan dilaporkan kepada asisten divisi dan diteruskan kepada Estate Manager.
Sistem upah dan premi. Sistem upah yang berlaku di Gunung Sari Estate adalah basis borong yaitu batas minimum jumlah TBS yang harus dipanen oleh pemanen agar memperoleh premi. Premi panen akan diperoleh pemanen apabila telah mendapatkan basis borong disebut premi lebih borong. Premi lebih borong akan diberikan jika jumlah janjang yang telah diperoleh pemanen melebihi jumlah janjang basis borong. Premi lebih borong dihitung dengan perhitungan tertentu yang nilainya berbeda untuk setiap tahun tanamnya dan berat janjang rata- rata yang telah ditentukan.
Pengawasan panen. Supervisi atau pengawasan yang telah ditetapkan oleh kebun bertujuan untuk menjaga kegiatan panen agar dapat berlangsung dengan baik dan terarah sesuai dengan ketetapan kebun. Pengawasan yang dilakukan lebih mengutamakan kualitas hasil penen. Pengawasan atau pemeriksaan kegiatan panen biasanya dilakukan oleh mandor dan asisten divisi meliputi pemeriksaan buah matang yang tidak dipanen (buah tinggal), buah mentah yang dipanen, pelepah sengkleh yang tidak dipotong, penyusunan pelepah yang tidak pada tempatnya, brondolan yang tidak terkutip dan gagang yang tidak dipotong.
Pengendalian hama dan penyakit.
Hama adalah pengganggu pada tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh serangga atau mamalia yang dapat menurunkan hasil secara ekonomis merugikan manusia. Penyakit adalah faktor pengganggu tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, atau virus yang secara ekonomis dapat menurunkan hasil. Hama dan penyakit menyerang tanaman kelapa sawit dapat menimbulkan kerusakan berat hingga kematian pada tanaman sehingga perlu dilakukan pemberantasan dan pengendalian hama dan penyakit tersebut.
Pemberantasan adalah pemusnahan semua populasi hama dan penyakit yang ada di areal tanaman, sedangkan pengendalian adalah mengurangi, menekan hama dan penyakit sampai ambang batas ekonomi yang tidak merungikan.
Gunung Sari Estate hanya melakukan pengendalian hama saja karena penyakit yang menyerang kelapa sawit berada jauh dibawah ambang batas ekonomi. Pegendalian hama tanaman di Gunung Sari Estate dilakukan dengan menggunakan pendekatan konsep pengendalian hama terpadu yaitu penggunaan beneficial plants dan burung hantu (Tyto alba).
Beneficial plants. Manual Referensi Agronomi (2008) menyatakan tanaman berguna (beneficial plants) adalah tanaman yang mempunyai unsur peransang alamiah untuk menarik populasi musuh-musuh alami dari ulat api dan ulat kantong pada tanaman kelapa sawit. Tanaman ini dapat menyediakan madu/makanan bagi beberapa parasitoid dan predator dari hama yang merupakan makanan tambahan penting untuk bertahan hidup dan berkembangbiak. Selain itu,
mampu menyediakan tempat berteduh yang mampu meningkatkan masa hidup predator ini lebih lama selama kondisi lingkungan yang buruk, yang memastikan kehadirannya sepanjang waktu pada areal tanaman kelapa sawit.
Penggunaan beneficial plants ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan bahan kimia sebagai pengendalian hama. Terdapat empat spesies tanaman yang efektif dalam menekan serangan hama perusak daun pada tanaman kelapa sawit secara alami. Tanaman tersebut adalah Euphorbia heterophylla, Cassia cobanensis, Antigonon leptopus dan Turnera subulata.
Euphorbia heterophylla adalah jenis tanaman yang paling efektif dalam mengendalikan serangan hama dibandingkan dengan ketiga jenis tanaman lainnya. Namun jenis tanaman ini sulit dikembangbiakkan karena sulit untuk mendapatkan bibit yang cukup. Jenis tanaman yang banyak dikembangbiakkan di Gunung Sari Estate adalah Cassia cobanensis, Antigonon leptopus dan Turnera subulata.
Gambar 8. Jenis-Jenis Beneficial Plants yang dikembangbiakkan di Gunung Sari Estate
Pengendalian hama tikus dengan burung hantu (Tyto alba). Ada tiga jenis tikus yang biasanya menyerang perkebunan kelapa sawit, yaitu Rattus tiomanicus, Rattus rattus diardii dan Rattus argentiventer (Manual Referensi Agronomi, 2008). Salah satu tindakan pengendalian hama tikus secara biologis adalah dengan penggunaan burung hantu (Tyto alba). Burung hantu (Tyto alba) merupakan hewan karnivora yang memakan mangsanya dalam kondisi hidup.
Aktivitas berburunya dimulai dari lepas senja hingga fajar pagi hari. Tingkat predasi burung hantu (Tyto alba) terhadap tikus mencapai 99.4% yaitu terhadap Rattus tiomanicus mencapai 88%, sedangkan sisanya 6% adalah Rattus rattus diardii dan 6% Rattus argentiventer. Hasil pengamatan Departemen Riset bahwa burung hantu (Tyto alba) mampu mengkonsumsi jenis tikus Rattus tiomanicus rata-rata 3 000-3 650 ekor tikus per tahun.
Upaya pemeliharaan burung hantu (Tyto alba) sebagai predator alami tikus di Gunung Sari Estate dimulai dengan pembuatan kandang di dalam blok.
Kandang (nest box) dipasang pada radius 500-2 000 m dari kandang pemikat. Hal ini dilakukan untuk memikat burung hantu yang ada disekitar kebun. Tiap nest box yang dipasang di blok dapat mewakili luasan ± 10 hektar. Saat ini Gunung Sari Estate memiliki 40 nest box yang tersebar divisi II saja. Burung hantu (Tyto alba) berkembangbiak setelah berumur 8 bulan dengan menghasilkan telur sebanyak 6-10 butir/tahun yang menetas setelah ± 28 hari dengan tingkat penetasan telur hingga 90 %. Anak burung hantu akan menjadi dewasa dan bisa terbang saat berusia 2-2.5 bulan. Masa hidup burung hantu (Tyto alba) di lapangan dapat mencapai ± 4.5 tahun.
Gambar 9. Burung Hantu (Tyto alba) dan Kandang (Nest Box)
Selain pengendalian tikus Gunung Sari Estate juga mengendalikan hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) dengan menggunakan bahan kimia yaitu pheromone. Salah satu formulasi agregasi pheromone adalah dalam kemasan
saket slow release dengan merek dagang SIME RB PHEROMONE. Bahan ini mengeluarkan aroma yang sangat disukai oleh hama kumbang tanduk sehingga memudahkan kumbang tanduk masuk dalam perangkap. Perangkap yang digunakan adalah kayu sebagai tiang penyangga dengan ukuran ± 2-3 m, seng/palang air berbentuk baling-baling sebagai alat untuk memantulkan cahaya yang berfungsi untuk menarik perhatian hama, dan sebagai wadah penampungnya menggunakan jirengen bekas dari wadah herbisida Prima Up yang telah dilubangi agar air hujan tidak tergenang. Satu saket pheromone dikait/digantung dibawah penutup pada persimpangan baling-baling dan perangkap itu kemudian digantung pada tiang kayu.
Gambar 10. Pengendalian Hama Oryctes rhinoceros dengan Perangkap Pheromone
Penggunaan perangkap dengan pheromone di Gunung Sari Estate hanya dibeberapa blok saja. Pada saat magang penulis memasang di blok E20 sebanyak 3 buah perangkap yaitu pada baris pokok 103, 109 dan 117, di blok E21 sebanyak 2 buah perangkap yaitu di baris pokok 108 dan 112, di blok F20 sebanyak 3 buah saja yaitu di baris pokok 71, 76, dan 82, serta di blok G20 sebanyak 2 buah perangkap yaitu di baris pokok 53 dan 58. Blok-blok tersebut merupakan blok yang serangan hama Oryctes dengan tingkat kerusakan tinggi sehingga penggunaan pheromonenya lebih banyak.
Pemupukan Anorganik
Pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang cukup secara berkala dan berimbang baik secara langsung pada tanaman maupun tidak langsung ke dalam tanah. Pemupukan pada tanaman kelapa sawit bertujuan mendorong pertumbuhan vegetatif dan generatif yang normal sehingga dapat memberikan produksi tandan buah segar (TBS) yang optimal serta menghasilkan minyak sawit mentah (CPO) yang tinggi baik kuantitas maupun kualitasnya.
Manajemen pemupukan. Dalam pelaksanaan program pemupukan di Gunung Sari Estate melibatkan banyak pihak di dalam struktur pengelolaan kebun. Departemen riset sebagai pembuat rekomendasi pemupukan. Hasil rekomendasi akan diserahkan ke pihak kantor perwakilan perusahaan yang kemudian dilanjutkan ke pihak pembeliaan. Dalam pengadaan pupuk, bagian pembelian akan melakukan kontrak atau perjanjian terhadap sejumlah pupuk yang diminta dalam bentuk surat permintaan barang (purchasing order) kepada supplier barang dengan sistem tender.
Gambar 11. Diagram Proses Permintaan Pupuk di Gunung Sari Estate (Fertilizer Order Process Flow)
Dalam manajemen pemupukan juga ada kegiatan perencanaan pemupukan. Perencanaan pemupukan harus dilakukan dengan sebaik mungkin karena berhubungan dengan penyediaan biaya, material pupuk dan tenaga kerja
Rekomendasi
Pemupukan Kebutuhan Pupuk Persiapan dan
Pelaksanaan Tender
Ketetapan Pemenang Tender Pengiriman Pupuk
Pembayaran
Pelaksanaan Pemupukan
yang digunakan. Perencanaan pupuk tersebut meliputi jenis dan dosis pupuk yang akan diaplikasi, waktu pelaksanaan pemupukan, peralatan dan perlengkapan kerja yang digunakan, tenaga kerja yang dibutuhkan, kesiapan blok-blok yang akan dipupuk dan hal-hal administrasi dalam pemupukan. Seksi pemupukan dibuat terlebih dahulu oleh mandor pupuk sebagai rencana pergiliran waktu pelaksanaan pemupukan pada tiap blok untuk setiap jenis pupuk berdasarkan interval waktu aplikasi masing-masing pupuk.
Perencanaan pemupukan yang telah dijelaskan diatas dibagi kedalam 3 tahap perencanaan yaitu rencana kegiatan tahunan (RKT) meliputi besarnya biaya operasional yaitu jenis dan dosis pupuk yang digunakan, jumlah tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan serta ekstra fooding. Rencana kegiatan bulanan (RKB) digunakan untuk menentukan jenis dan dosis pupuk yang diaplikasi, persiapan lapangan, peralatan dan perlengkapan alat pemupukan serta ekstra fooding pada bulan tersebut. Rencana kerja harian (RKH) digunakan dalam menentukan kesiapan jumlah tenaga kerja, kesiapan unit transport untuk karyawan dan pengeceran pupuk dan pembuatan bon permintaan pupuk untuk blok yang akan diaplikasi.
Penyimpanan pupuk. Sejumlah pupuk yang telah disepakati akan dikirim ke kebun dan akan disimpang di gudang sentral. Sebelum masuk ke gudang, pupuk terlebih dahulu ditimbang di jembatan timbang sehingga dapat diketahui berapa jumlah pupuk yang masuk ke gudang dan akan disesuaikan dengan jumlah permintaan. Jembatan timbang yang digunakan adalah jembatan timbang yang ada di PKS kebun. Hitungan hasil timbang berat pupuk akan disesuaikan dengan jumlah pupuk yang diminta kebun kepada supplier. Pupuk secara terpusat disimpan di gudang kantor besar kebun.
Penempatan pupuk juga diatur sehingga pada saat pengeluaran pupuk dapat dilakukan secara first in first out (FIFO) setiap jenis pupuk. Selain itu, penempatan tiap jenis pupuk juga harus dipisah misalnya pupuk NK Blend dengan RP karena bersifat antagonis. Di dalam gudang pupuk juga diatur sedemikian teratur agar perhitungan jumlah pupuk teliti. Selain itu, pada saat pengeluaran pupuk dari gudang, kepala gudang mudah mengaturnya sehingga permintaan bon sesuai dengan pupuk yang keluar.
Gambar 12. Susunan Pupuk NK Blend di Gudang Sentral
Organisasi pemupukan. Untuk melaksanakan pemupukan diperlukan koordinasi yang baik sehingga prinsip manajemen dapat diterapkan. Pemupukan di Gunung Sari Estate melibatkan Estate Manager, senior asisten, asisten divisi, kepala gudang, mandor pupuk, mandor traksi, tenaga kerja bongkar muat (TKBM), pengecer dan tenaga kerja penabur serta supir sebagai operator pengangkutan. Koordinasi diantara pihak-pihak yang terlibat diatas sangat dibutuhkan agar kegiatan pemupukan dapat berjalan dengan lancar.
Sistem yang digunakan dalam penorganisasian pemupukan di Gunung Sari Estate adalah Block Manuring Sistem (BMS) yaitu sistem pemupukan yang terkonsentrasi dalam hancak pemupukan per kebun, dikerjakan blok per blok dengan sasaran mutu pemupukan yang lebih baik, monitoring yang lebih fokus.
Mekanisme pelaksanaan BMS ini adalah hancak pemupuk tetap tiap blok dan setiap tanaman diketahui pemupuknya dan pergeseran ancak diatur sedemikian rupa sehingga berlangsung dengan cepat dan efisien.
Teknis pemupukan dengan BMS diharapkan terlaksana prinsip 6T yaitu tepat waktu, dosis, jenis, cara, tempat, alat, dan aman. Hal ini bertujuan agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemupukan, pupuk dapat diserap tanaman semaksimal mungkin sehingga didapat pertumbuhan vegetatif dan generatif yang optimal, prestasi kerja pemupukan maksimal dan produksi TBS yang tinggi.
Kegiatan pemupukan dimulai dengan persiapan blok yang akan dipupuk.
Persiapan tersebut meliputi persiapan piringan yang harus dalam keadaan bersih dan persiapan sarana lain seperti jalan dan jembatan pada main road dan collection road, pasar rintis dan titi panen untuk menunjang kelancaran
transportasi dan pelaksanaan aplikasi pupuk di lapangan. Blok-blok yang akan dipupuk diusahakan berada dalam satu hamparan sehingga mempermudah pelaksanaan pengawasan, mobilisasi pengecer dan penabur.
Pengeceran pupuk. Kendaraan pengangkut/unit pupuk dari gudang sentral ke lapangan sehari sebelum pemupukan harus sudah dipastikan kesiapannya. Pada pukul 06.30 WITA mandor pupuk melakukan lingkaran pagi dengan pemuat/pengecer mengenai jenis pupuk, kebutuhan jumlah pupuk (tonase) dan blok-blok yang akan diaplikasi. Setelah selesai antrian pemuat/pengecer mulai memuat pupuk kedalam truk. Pada saat magang pengangkutan pupuk dibantu oleh alat berat TLB. Hal ini digunakan karena pupuk yang akan diaplikasi pada semester ini dalam jumlah yang besar dan waktu aplikasi sudah terbatas.
Penggunaan TLB hanya bersifat sementara mengingat jumlah pupuk dan waktu yang tersedia terbatas. Namun, sebaiknya penggunaan TLB dapat dihindari. Pada pukul 07.00-07.30 WITA truk pupuk pertama sudah berangkat dan sudah mulai mengecerkan pupuk pada tempat pengeceran yang sudah ditetapkan selanjutnya akan diikuti oleh truk kedua. Pelangsiran pupuk harus diletakkan di tempat pengumpulan pupuk (TPP) yang terdapat pada collection road yaitu pada sisi Timur dan Barat blok.
Tiap TPP mewakili enam baris tanaman atau tiga pasar rintis, jumlah pupuk tiap TPP ditentukan berdasarkan dosis/pokok. Tenaga yang digunakan sebagai pemuat pupuk dari gudang ke unit pupuk adalah karyawan SKU dari perawatan divisi II sebanyak empat orang laki-laki. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses pengeceran pupuk di lahan dan untuk mencapai target 100 % realisasi pemupukan semester II di Gunung Sari Estate. Standar kerja pemuat 3 ton/HK, apabila dibantu dengan alat berat TLB adalah 7 ton/HK dengan premi Rp 1 500/ton dan untuk pengecer dilahan dihitung sebagai lebih borong dengan upah Rp 3 500/ton.
Menurut Pahan (2010) pupuk yang diecer di lapangan harus terjamin dari pencucian, pembuangan atau disembunyikan di gawangan/parit. Oleh karena itu, ada seorang centeng yang bertanggungjawab terhadap keamanan pupuk ini, sekaligus merangkap sebagai tenaga pengumpul karung. Pupuk yang telah diecer di lapangan harus diusahakan selesai ditabur seluruhnya pada hari tersebut.
Apabila tidak selesai ditabur karena hujan atau keadaan lainnya, maka sisa pupuk dibawa kembali ke gudang sentral.
Gambar 13. Proses Pengangkutan dan Pelangsiran Pupuk
Penabur pupuk. Setelah menempati hancak pemupukan, masing-masing penabur di tiap kelompok kecil pemupukan (KKP) mulai membuka karung pupuk kemudian memasukkan pupuk ke dalam bin pupuk. Tiap penabur biasanya memupuk dua baris tanaman ( satu pasar rintis) yaitu mulai dari pokok pertama sampai pokok terakhir. Umumnya dalam satu baris tanaman terdapat 32-34 tanaman. Penaburan pupuk pada tanaman menghasilkan dilakukan pada bibir piringan atau di atas rumpukan pelepah, berbentuk “U”. Penaburan harus dilakukan secara merata, apabila ditemukan pupuk yang menggumpal maka pupuk harus dihancurkan.
Gambar 14. Penaburan Pupuk Dolomit
Dalam mengejar realisasi pemupukan tahun 2011 Estate Manager Gunung Sari Estate mengeluarkan memorandum penetapan premi aplikasi pemupukan.
Penetapan premi tersebut berdasarkan jenis pupuk dan diharapkan dapat meningkatkan output setiap karyawan dan tetap memperhatikan kualitas.
Tabel 6. Standar dan Premi Aplikasi Pupuk di Gunung Sari Estate No Jenis Pupuk Kg Basis (kg) Premi Basis
Borong (Rp)
Premi Lebih Borong (Rp/kg)
1 Dolomite 650 2 500 60
2 Kieserite 650 2 500 60
3 Rock Phosfat (RP) 650 2 500 60
4 NK Bland 750 2 500 60
5 HGFB 7 Ha 2 500 7000/Ha
Sumber Data: Kantor Besar Gunung Sari Estate (Mei, 2011)
Sistem penaburan pemupukan di Gunung Sari Estate dengan sistem BMS adalah sistem pemupukan yang terkonsentrasi dalam hancak pemupukan per kebun, dikerjakan blok per blok dengan sasaran mutu pemupukan yang lebih baik, monitoring yang lebih fokus. Untuk lebih jelas lagi dapat dilihat pada Gambar 15.
Pasar tengah Pasar tengah
Gambar 15. Cara Kerja Penaburan Pupuk dengan Block Manuring Sistem (BMS)
Alat pemupukan. Alat-alat yang digunakan dalam pemupukan adalah bin pupuk dan takaran pupuk. Bin pupuk digunakan sebagai tempat pupuk yang akan ditabur, sedangkan takaran pupuk alat untuk menabur pupuk. Takaran
Blok Blok
CR CR
tersebut berupa mangkok yang telah dikalibrasi, satu mangkok pupuk setara dengan 500 gram. Selain alat, Gunung Sari Estate juga melengkapi alat pelindung diri (APD) berupa baju lengan panjang, apron, sarung tangan, sepatu boot, topi dan masker serta mendapat ekstra fooding.
Pengumpulan karung bekas pupuk. Karung bekas pupuk dikumpulkan oleh penabur pupuk di collection road kemudian petugas pengumpul karung akan menggulung setiap 10 lembar karung. Hal ini dilakukan agar memudahkan pengawasan kembali jumlah pupuk yang dibawa ke lapangan, selain itu juga untuk memeriksa apakah seluruh pupuk tersebut sudah ditabur dan tidak ada pupuk yang hilang. Gulungan karung dikumpulkan ke sudut blok untuk memudahkan dalam pengambilan/pengangkutan karung ke unit pupuk. Kemudian dibawa kembali ke gudang dan ditata rapi. Karung bekas pupuk ini dapat digunakan kembali untuk membuat tapak kuda pada areal-areal miring dan dapat digunakan sebagai alas brondolan. Selain itu, potongan jerigen dan sapu lidi digunakan untuk membersihkan pupuk yang tercecer di TPP sehingga kehilangan pupuk dapat diminimalisir dan pupuk tersebut segera di tabur ke tanaman terdekat dari TPP.
Gambar 16. Kegiatan Pengumpulan Karung Bekas Pupuk
Pada saat magang, Gunung Sari Estate sudah menerapkan sistem Rountable and Sustainable of Palm Oil (RSPO) yaitu suatu pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan berdasarkan kelayakan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan operasionalnya Gunung Sari Estate sangat memperhatikan kelestarian dan keramahan lingkungan
serta kesehatan dan keselamatan kerja (K3) karyawan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya peraturan bahwa aplikasi pupuk anorganik dan kegiatan pengendalian gulma secara kimia tidak boleh melewati area buffer zone, yaitu meliputi area rawa, sungai dan parit yang terdapat dipinggir blok. Batas area buffer zone ini adalah 50 m dari samping kanan dan kiri rawa, sungai dan parit.
Hal ini bertujuan untuk menghindari tercemarnya sumber air akibat larutnya pupuk anorganik dan larutan herbisida. Area buffer zone di divisi II ada di blok E23,E24 dan E25 dan dapat dilihat pada Gambar 17.
Gambar 17. Penanda Daerah Penerapan Buffer Zone
Aspek Manajerial Manajemen Kebun Tingkat Non Staf
Kegiatan non staf meliputi kegiatan teknis di lapangan dan administrasi kebun. Kegiatan teknis di lapangan dilakukan oleh mandor dan krani divisi bertugas mengurus administrasi kebun di tiap divisi. Dalam mempelajari aspek manajerial tingkat non staf, penulis bertugas sebagai pendamping mandor dan pendamping krani divisi di bawah bimbingan senior asisten.
(a) Pendamping Mandor
Pada saat magang, penulis berstatus sebagai pendamping mandor mulai dari mandor I, mandor panen, mandor perawatan, mandor Micron Herby Spray (MHS), mandor Tim Semprot Kebun (TSK), dan mandor pupuk. Selama pendamping mandor, penulis bekerja membantu mandor dalam pengawasan dan menjadi supervisi dari setiap kemandoran.
(1) Pendamping Mandor I
Pada dasarnya mandor I adalah mandor yang membawahi seluruh mandor.
Di Gunung Sari Estate mandor I memiliki tugas utama dan sekunder yaitu menjaga rotasi potong buah normal, menjaga mutu hancak, buah dan tunasan, memonitor absensi mandor dan karyawan, memonitor pusingan perawatan tanaman, menjaga lingkungan sosial pondok, mengikuti check roll pagi tiap harinya, melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan buah restan, melakukan evaluasi atas laporan harian mandor panen dan perawatan, serta membuat rencana kerja harian untuk esok harinya didampingi oleh asisten divisi.
(2) Pendamping Mandor Panen
Panen merupakan kegiatan yang penting dalam perkebunan. Peran aktif mandor panen sangat diperlukan untuk mendapatkan produksi maksimal. Mandor panen dan mandor I memiliki tugas dan tanggungjawab yang hampir sama yaitu harus mengetahui rotasi panen, angka kerapatan panen, blok yang akan dipanen, membagi hancak sekaligus mengabsen karyawan, melakukan cek hancak, menghitung tenaga pemanen, mengisi buku kerja mandor (BKM), dan mendenda karyawan apabila melakukan kesalahan. Pada saat magang, penulis ikut mengawasi proses panen mulai dari pemotongan buah, pengutipan brondolan, dan
penyusunan pelepah. Selain itu, penulis juga ikut dalam pengecekan hancak dan mutu buah.
(3) Pendamping Mandor Perawatan
Selama menjadi pendamping mandor perawatan, penulis ikut mengawasi kegiatan perawatan jalan. Kegiatan rawat jalan merupakan hal yang paling penting karena segala kegiatan di lapangan memerlukan trasportasi sehingga tidak menghambat proses pengangkutan TBS ke PKS. Pengawasan kegiatan rawat jalan yang dilakukan penulis di divisi II Gunung Sari Estate yaitu tunas jalan/penunasan pelepah pada tanaman pinggir di setiap CR, MR dan AR serta pemasangan material/batu pondasi pada jalan yang rusak. Selain itu, penulis juga ikut dalam pengawasan pemindahan dan pemasangan tanda buffer zone.
(4) Pendamping Mandor Semprot
Mandor semprot memiliki tugas bertangungjawab pada kegiatan pemeliharaan tanaman. Kondisi kebun bersih dari gulma baik di TPH, piringan, pasar rintis, gawangan mati dan kaki lima merupakan tugas utama dari mandor semprot. Oleh karena itu, mandor semprot harus mengetahui dosis dan konsentrasi herbisida, menghitung luasan aplikasi per hari sehingga kuantitas dan kualitas penyemprotan baik. Selama menjadi pendamping mandor semprot, penulis ikut dalam pengawasan pencampuran herbisida, pengamplikasian herbisida, dan mengisi buku kerja mandor.
(5) Pendamping Mandor Pupuk
Mandor pupuk dan mandor semprot adalah bagian dari mandor perawatan dimana tugas dan tanggungjawabnya pada kegiatan pemeliharaan tanaman. Tugas mandor pupuk adalah membuat rencana pemupukan dengan asisten, mengawasi jalannya pemupukan mulai dari membuat bon pengambilan pupuk dan pengeceren pupuk di lahan. Mandor pupuk juga harus mengetahui konsep 6T yaitu tepat dosis, jenis, tempat, cara, waktu dan alat. Menghitung kebutuhan tenaga kerja dan menghitung luasan yang akan diaplikasi per hari, sehingga realisasi pemupukan dapat tercapai. Selama penulis pendamping mandor pupuk, penulis ikut menghitung kebutuhan pupuk yang akan diaplikasi dan mengawasi penabur pupuk pada saat aplikasi.
(6) Pendamping Krani Panen dan Krani Transport
Dalam struktur organisasi di divisi II GSE krani panen di bawah oleh krani divisi tetapi dalam tugasnya krani panen membantu mandor panen dalam mencatat jumlah tandan buah dan brondolan yang telah terkumpul di tempat pengumpulan hasil (TPH) dari masing-masing blok, mengisi buku penerimaan buah dan menghitung premi dan basis borong dari tiap pemanen, melakukan pengecekan buah di TPH dari buah mentah, buah busuk, dan gagang panjang.
Sehingga buah mentah, buah busuk dan gagang panjang tidak diangkut dan masuk ke PKS. Krani transport memiliki tugas membuat surat pengantar buah (SPB) kemudian diserahkan kepada supir truk pengangkut buah. Surat ini sangat penting, karena jika tidak ada SPB pihak pabrik tidak akan menerima buah untuk di olah.
Pada saat magang penulis membantu krani panen dalam pengecekan mutu buah, pelaporan basis borong dan menghitung premi dari pemanen. Sedangkan pada saat menjadi pendamping krani transport, penulis menggantikan krani transport menulis SPB.
(7) Pendamping Krani Divisi dan Krani Produksi
Krani divisi memiliki tugas mengerjakan administrasi divisi, membuat surat bon pengambilan barang ke gudang, merekap absensi karyawan dari semua kemandoran, membuat rencana kegiatan bulanan (RKB) dengan asisten dan mandor I, mengisi administrasi dinding meliputi kinerja potong buah, produksi bulanan, rekapitulasi pusingan potong buah, melayani karyawan dalam pengambilan gaji dan beras, merekap data divisi ke kantor. Krani produksi memiliki tugas membantu krani divisi dalam pembuatan laporan produksi harian, monitoring administrasi data produksi dan perawatan, membuat kelengkapan peta dan pendukung. Selama penulis menjadi pendamping krani divisi, penulis membantu dalam pengerekapan data ke kantor besar, mengisi buku prestasi kerja karyawan dari tiap kemandoran, membantu krani produksi dalam pelaporan hasil panen.
Manajemen Kebun Tingkat Staf
Kegiatan staf meliputi Estate Manager, senior asisten, asisten divisi dan kepala administrasi dimana melakukan kegitan pengelolaan kebun. Estate Manager bertanggungjawab baik secara teknis dan administrasi. Estate Manager juga mengkoordinasi manajemen tenaga kerja dan mengevaluasi seluruh kegiatan kebun. Dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan Estate Manager dibantu oleh asisten divisi yang bertanggungjawab mengelola divisi masing-masing. Namun selama magang, penulis hanya menjadi pendamping asisten selama dua bulan.
Setiap harinya penulis mengikuti lingkaran pagi pukul 05.30 WITA yang dipimpin oleh senior asisten.
Asisten divisi memiliki tugas dan tanggungjawab mengelola kegiatan di divisi dengan baik mulai dari perencanaan kegiatan harian, perencanaan kegiatan bulanan, mengawasi dan bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan struktural dan fungsional. Pada saat penulis menjadi pendamping asisten, penulis membantu senior asisten dalam hal pengawasan pemupukan, pengecekan data jembatan, pemasangan hancak panen dari tiap kemandoran, penulisan batas-batas dari tiap blok. Selain itu, membantu asisten dalam dokumentasi kegiatan percobaan pengendalian gulma kentosan.