Collaborative Governance dalam Rangka Optimalisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT (Sistem Administrasi Manunggal Satu
Atap) Kota Cirebon
Nanang Sulaeman1, Ipik Permana1, Moh. Taufik Hidayat1
1Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon Email Korespondensi: [email protected]
Abstract
This study aims to analyze collaborative governance in the context of optimizing Motor Vehicle Tax receipts at SAMSAT Cirebon City, supporting and inhibiting factors in collaborative governance in order to optimize Motor Vehicle Tax receipts at SAMSAT Cirebon City, and the efforts made to improve collaborative governance. in the context of optimizing the receipt of Motor Vehicle Taxes at the Cirebon City SAMSAT. The research was conducted using qualitative methods. Data was collected by using literature study techniques, documentation studies, interviews and observations. Data analysis was carried out by reducing data, displaying data, as well as verifying and drawing conclusions, while testing the validity of the data was carried out using triangulation techniques. Of the 28 collaborative governance indicators, 21 (75%) indicators are in an effective condition and 7 (25%) indicators are in an ineffective condition. Therefore, overall collaborative governance has not been effective in optimizing the receipt of Motor Vehicle Taxes at SAMSAT Cirebon City.
Keywords: Collaboration, Collaborative Governance, Motor Vehicle Tax.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon, faktor- faktor pendukung dan penghambat dalam collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon, dan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi literatur, studi dokumentasi, wawancara dan observasi.
Analisis data dilakukan dengan cara melakukan reduksi data, display data, serta verifikasi dan penarikan kesimpulan, sedangkan pengujian keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi. Dari 28 indikator collaborative governance, sebanyak 21 (75%) indikator dalam kondisi efektif dan 7 (25%) indikator dalam kondisi tidak efektif. Oleh karenanya, secara keseluruhan collaborative governance belum efektif dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon.
Kata Kunci: Kolaborasi, Collaborative Governance, Pajak Kendaraan Bermotor.
Pendahuluan
Pajak daerah merupakan salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam APBD.
Salah satu pajak daerah adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang dipungut oleh SAMSAT Kota Cirebon. PKB merupakan salah satu pajak daerah yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dari penerimaan PKB tersebut dilakukan bagi hasil yaitu 70 % untuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan 30 % untuk Pemerintah Kota Cirebon.
PKB merupakan salah satu pajak daerah yang potensial yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Di samping PKB, terdapat empat jenis pajak daerah lainnya yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu Pajak bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, Pajak Rokok, dan Pajak Bahan bakar Kendaraan Bermotor. Dari kelima jenis pajak daerah tersebut, potensi dan realisasi penerimaan PKB selalu paling besar.
PKB dipungut dan dikelola oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Barat yang memiliki Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di setiap kota/kabupaten yang ada di Provinsi Provinsi Jawa Barat. UPTD tersebut berkantor di kantor bersama di Kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT).
Dengan adanya Kantor SAMSAT di setiap kota/kabupaten di wilayah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, maka secara langsung Pemerintah Provinsi Jawa Barat sangat perlu melakukan kerjasama dengan masing-masing pemerintah daerah dalam rangka membangun sinergitas dan kolaborasi yang kuat antar entitas pemerintahan.
Karena PKB merupakan Dana Bagi Hasil (DBH), maka telah dilakukan collaborative governance antara Bapenda Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon. Collaborative governance ini ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara kedua belah pihak pada tanggal 19 Februari 2020. Tujuan collaborative governance adalah untuk mengoptimalkan penerimaan PKB di Kota Cirebon.
Adapun target dan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon tahun 2016-2021 terlihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon Tahun 2016-2021
No. Tahun Target
(Rp) Realisasi
Rp %
1. 2016 89.944.000.000 94.028.425.750 104,54 2. 2017 91.819.000.000 97.216.890.000 105,89 3. 2018 106.829.000.000 109.239.586.700 102,26 4. 2019 110.514.000.000 115.932.154.400 104,90 5. 2020 135.296.200.500 107.208.702.100 79,24 6. 2021 108.663.045.000 112.356.254.900 103,40
Sumber: SAMSAT Kota Cirebon, 2021
Dari tabel di atas terlihat bahwa pencapaian target penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon selama selama 4 tahun berturut-turut melampaui target yaitu tahun 2016 sebesar 104,54 %, tahun 2017 sebesar 105,89 %, tahun 2018 sebesar 102,26 %, dan tahun 2019 sebesar 104,90 %. Namun, pada tahun 2020 (setelah dilakukan collaborative governance) justru mengalami penurunan yaitu hanya mencapai 79,24 %. Sedangkan pada tahun 2021, penerimaan PKB kembali melebihi target yaitu 103,40 %. Meskipun demikian, jumlah KTMDU (Kendaraan Tidak Melakukan Daftar Ulang) meningkat dari 33.134 (17,49 %) di tahun 2020 menjadi 39.163 (22,67 %) di tahun 2021. Masih banyaknya kendaraan bermotor yang berstatus KTMDU ini menyebabkan banyak potensi PKB yang belum tergali.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon, faktor- faktor pendukung dan penghambat dalam collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon, dan
upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon.
Collaborative governance adalah proses fasilitasi dan operasi dalam penyusunan secara multi organisasional untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan mudah hanya oleh sebuah organisasi (Agranoff & McGuire, 2003;
Liyana, 2019). Collaborative governance menekankan pada proses yang melibatkan berbagai aktor sosial dalam tindakan kolektif/bersama. Collaborative Governance merupakan sebuah proses yang di dalamnya melibatkan berbagai stakeholder yang terkait untuk mengusung kepentingan masing-masing instansi dalam mencapai tujuan bersama (Hartman, et al., 2002; Emerson, 2018)).
Collaborative Governance terjadi jika dua atau lebih organisasi bekerja bersama- sama untuk mencapai tujuan yang lebih kreatif dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan jika organisasi itu bekerja sendiri (Alter & Hage, 1993). Menurut keuntungan dari collaborative governance yaitu dapat membantu para pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi dan menargetkan masalah serta mencapai kesepakatan atau penerimaan stakeholders mengenai arah atau keputusan (Wanna, 2008).
Collaborative governance sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana badan- badan publik berpartner atau bermitra dengan stakeholders non pemerintah dalam proses menyelesaikan masalah-masalah publik atau menciptakan nilai-nilai publik (Morse & Stephens, 2012; Huang, 2020; Ansell et al.,2020). Collaborative governance adalah sebuah pengaturan yang mengatur satu atau lebih lembaga publik secara langsung terlibat dengan pemangku kepentingan non publik dalam proses pengambilan keputusan kolektif bersifat formal, berorientasi konsensus, dan musyawarah yang bertujuan untuk membuat atau mengimplementasikan kebijakan publik atau mengelola program atau aset public (Ansell & Gash, 2007; Firdaus, 2020;
Akbar, 2020).
Collaborative governance merupakan sebuah prosess dan struktur dalam manejemen dan perumusan keputusan kebijakan publik yang melibatkan aktor-aktor yang secara konstruktif berasal dari berbagai level, baik dalam tataran pemerintah maupun tataran swasta. Collaborative governance Kolaborasi dipahami sebagai kerjasama antar aktor, antar organisasi atau antar institusi dalam rangka pencapain tujuan yang tidak bisa dicapai atau dilakukan secara independent (Emerson, Nabatchi & Balogh, 2011; Ma et al.,2018).
Dewasa ini urusan publik makin luas dan kompleks sejalan dengan tuntutan masyarakat yang terus berkembang. Urusan publik dalam bidang yang sama tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi melibatkan juga para para pemangku kepentingan (stakeholders) di luar pemerintah (Nugroho & Hilman, 2020; Saifuddin, 2020). Hal itu telah mendorong pemerintah untuk berkolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat dalam sistem collaborative governance. Meskipun demikian, menurut Donahue & Zeckhauser (2011), tidak semua masalah dan urusan publik itu dapat dilakukan atau diselesaikan melalui collaborative governance. Menurut Donahue &
Zeckhauser (2011), keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan collaborative governance didasarkan pada pertanyaan yaitu “Apakah akan dapat mewujudkan outcomes yang lebih baik jika dilakukan kolaborasi?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka harus dilakukan kolaborasi dengan melibatkan para kolaborator swasta (involve private collaborators). Tetapi jika jawabannya adalah “tidak”, maka pemerintah melakukan sendiri secara langsung (direct government production).
Emerson & Nabatchi (2015) dan Saptono & Khozen (2021) mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor atau variabel dalam collaborative governance yaitu:
1. System context (konteks sistem), terdiri dari :
a. Public service and resources condition (kondisi pelayanan publik dan sumber- sumber)
b. Policy and legal framework (kerangka kerja kebijakan dan hukum)
c. Socioeconomic and cultural characteristic (karakteristik sosio-ekonomi dan budaya)
d. Network characteristics (kerakteristik jaringan kerja)
e. Political dynamic and power relations (dinamika politik dan hubungan kekuasaan)
f. History of conflict (sejarah konflik) 2. Drivers (penggerak), terdiri dari :
a. Uncertainty (ketidakpastian)
b. Interdependence (saling ketergantungan)
c. Consequential incentive (konsekuensi dari insentif)
d. Initiating leadership (kepemimpinan yang memprakarsai) 3. Collaborative Dynamic (dinamika kolaborasi), terdiri dari :
a. Principled engagement (keterlibatan secara prinsipil), terdiri dari : 1) Discovery (penemuan)
2) Definition (penentuan) 3) Deliberation (musyawarah) 4) Determination (penetapan)
b. Shared motivation (motivasi bersama), terdiri dari : 1) Trust (kepercayaan)
2) Mutual understanding (salaing memahami) 3) Internal legitimacy (legitimasi internal) 4) Commitment (komitmen)
c. Capacity for joint action (kapasitas untuk melakukan tindakan bersama), terdiri dari:
1) Procedural and institutional arrangements (penyusunan prosedur dan kelembagaan)
2) Leadership (kepemimpinan) 3) Knowledge (pengetahuan)
4) Resources (sumber-sumber daya)
4. Collaborative Actions (tindakan-tindakan kolaborasi), terdiri dari : a. Securing endorsement (mengamankan dukungan)
b. Enancting new policy measure, laws and regulation (memberlakukan kebijakan, hukum dan regulasi baru)
c. Marshalling external resources (menyusun sumber-sumber daya eksternal) d. Deploying staff (mengerahkan staf)
e. Sitting and permiting facilities (menempatkan dan mengijinkan fasilitas) f. Building or clean up sites (membangun atau membersihkan situs)
g. Carrying out new management practice (melaksanakan praktik manajemen baru) h. Monitoring implementation (monitoring implementasi)
i. Enforcing complience (menegakkan kepatuhan)
5. Outcomes of collaborative action (hasil-hasil tindakan kolaboratif), meliputi : a. Changes in system context (perubahan-perubahan dalam konteks sistem)
b. Changes in Collaborative Governance Regime/CGR (perubahan-perubahan pada rejim Collaborative Governance)
c. Improvement in quality or quantity of public goods (perbaikan dalam kualitas dan kuantitas barang publik)
d. Physical or nonphysical changes (perubahan-perubahan fisik atau nonfisik) 6. Adaptation (penyesuaian), terdiri dari :
a. Adaptation in system contect (penyesuaian dalam konteks sistem)
b. Adaptation in Collaborative Governance Regime/CGR (penyesuaian dalam rejim Collaborative Governance)
c. Adaptation in dynamics collaborative (penyesuaian dalam dinamika kolaboratif) Catatan: Collaborative Dynamic dan Collaborative Action merupakan bagian dari Collaborative Governance Regimes (CGR).
Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme yang memiliki kegunaan untuk melakukan penelitian pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah penelitian ekksperimen) di mana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data yang dilaksankan secara trigulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2018).
Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara kepada informan kunci dan informan pendukung, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap-tahap yaitu reduksi data, display data, verifikasi dan penarikan kesimpulan.
Sedangkan pengujian keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi.
Hasil dan Pembahasan
Collaborative Governance Dalam Rangka Optimalisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Kota Cirebon.
Pada era administrasi publik kontemporer dewasa ini, kolaborasi dan collaborative governance merupakan aktivitas yang harus dilakukan oleh organisasi/instansi pemerintah. Ini karena organisasi/instansi pemerintah tersebut tentunya tidak dapat melaksanakan tupoksinya secara optimal tanpa dukungan dan kerja sama dengan pihak-pihak lain. Ini sama seperti halnya di SAMSAT Kota Cirebon di mana dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bapenda Provinsi Jawa Barat selaku Pembina SAMSAT melakukan collaborative governance dengan pihak lain yaitu Pemerintah Kota Cirebon. Collaborative governance ini dilakukan karena dalam PKB diberlakukan bagi hasil antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon dengan pembagian 70 % untuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan 30 % untuk Pemerintah Kota Cirebon. Oleh karenanya, meskipun PKB merupakan pajak provinsi tetapi karena Kota Cirebon juga mendapat dana bagi hasil dari PKB tersebut, maka Pemerintah Kota Cirebon harus berpartisipasi dalam mengoptimalkan penerimaan PKB dengan cara melakukan collaborative governance dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat c.q. Bapenda Provinsi Jawa Barat c.q. SAMSAT Kota Cirebon.
Wujud collaborative governance itu adalah ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Bapenda Provinsi Jawa Barat (Dr. Hening Widiatmoko, MA.) sebagai Pihak Kesatu dengan Walikota Cirebon (Drs. H. Nashrudin Azis, SH.) sebagai
Pihak Kedua pada tanggal 19 Februari 2020. PKS itu bernama Sinergitas Program Intensifikasi Pajak Daerah, Pengembangan Layanan Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Kota Cirebon. Dari nama PKS tersebut terlihat bahwa pengembangan layanan pembayaran PKB di SAMSAT Cirebon merupakan salah satu program yang dilakukan secara collaborative governance antara Bapenda Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon.
Maksud PKS adalah kesepakatan untuk menempuh prosedur sesuai peraturan perundang-undangan dalam rangka menciptakan sinergitas program intensifikasi pajak daerah antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon.
Tujuan PKS yang terkait dengan tupoksi SAMSAT Kota Cirebon adalah optimalisasi pendapatan pajak daerah Provinsi Jawa Barat dan Kota Cirebon, meningkatkan layanan pembayaran PKB, dan updating data PKB. Sedangkan objek PKS yang terkait dengan tupoksi SAMSAT Kota Cirebon adalah sinergitas program intensifikasi pajak daerah dan pengembangan layanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor di Wilayah Kota Cirebon.
Ruang lingkup PKS yaitu:
1. Peningkatan layanan pembayaran PKB (Pajak Kendaraan Bermotor).
2. Penyediaan data KTMDU (Kendaraan yang Tidak Melakukan Daftar Ulang), KBMDU (Kendaraan Bermotor yang Belum Melakukan Daftar Ulang).
3. Penelusuran KTMDU.
4. Pelaksanaan operasi gabungan.
5. Pelaksanaan GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai).
6. Integrasi data PKB dengan Layanan Perijinan, Sistem Administrasi Kepegawaian (SAMPEAN), dan Administrasi Kelurahan (SEDULUR).
7. Penerapan Zona Integritas Aparatur Sipil Negara (ASN/Non ASN Pembayar Pajak Kendaraan Bermotor (ZONITA PAMOR) di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
8. Peningkatan partisipasi aktif Perangkat Daerah Kota Cirebon dalam optimalisasi pendapatan daerah.
9. Pemberdayaan masyarakat, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan, Koperasi dan/atau bentuk lembaga usaha lainnya berbasis kemasyarakatan.
10. Sosialisasi dan edukasi peningkatan kepatuhan wajib pajak dalam melakukan pembayaran PKB, kegiatan penelusuran KTMDU, penggalian potensi PKB, transaksi non tunai dan/atan intensifikasi/ekstensifikasi pajak.
11. Penyelenggaraan rapat koordinasi.
12. Pembinaan, pendampingan, dan pengawasan.
13. Peningkatan kerja sama dalam bidang lain yang disepakati bersama.
Kemudian untuk menindaklanjuti PKS itu juga dibentuk Tim Koordinasi Pelaksanaan Kerja Sama (TKPKS) dengan tujuan untuk meningkatkan sinergitas program intensifikasi pajak daerah, pengembangan layanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Kota Cirebon.
Adapun collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu:
1. System context (konteks sistem):
a. Public service and resources condition (kondisi pelayanan publik dan sumber- sumber): Public service condition (kondisi pelayanan publik) yaitu pelayanan pembayaran PKB di SAMSAT Kota Cirebon optimal karena pelayanan dapat
dilakukan secara offline maupun online dengan pelayanan yang mudah dan cepat. Resources condition (kondisi sumber-sumber) belum optimal yaitu banyak kendaraan bermotor yang tidak atau belum melakukan daftar ulang serta jumlah pegawai SAMSAT Kota Cirebon yang kurang memadai.
b. Policy and legal framework (kerangka kerja kebijakan dan hukum) optimal karena pemungutan PKB memiliki dasar hukum yang jelas yang berupa Undang-Undang, Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat, dan Peraturan Gubernur Jawa Barat.
c. Socioeconomic and cultural characteristic (karakteristik sosio-ekonomi dan budaya) belum optimal karena kurangnya kemampuan/daya beli masyarakat sebagai dampak pandemi Covid-19, termasuk dalam membayar PKB tepat waktu. Di samping itu, masih cukup banyak masyarakat (wajib pajak) yang tidak taat dalam membayar PKB.
d. Network characteristics (kerakteristik jaringan kerja) belum optimal karena belum benar-benar terwujud integrasi data PKB di SAMSAT Kota Cirebon dengan Layanan Perijinan, Sistem Administrasi Kepegawaian (SAMPEAN), dan Administrasi Kelurahan (SEDULUR) di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
e. Political dynamic and power relations (dinamika politik dan hubungan kekuasaan). Political dynamic (dinamika politik) optimal karena kondisi politik di Kota Cirebon kondusif. Power relations (hubungan kekuasaan) juga optimal karena antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon terjalin hubungan hirarkhis dalam kedudukan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat.
f. History of conflict (sejarah konflik) optimal karena selama ini belum pernah terjadi konflik antara Bapenda Provinsi Jawa Barat c.q. SAMSAT Kota Cirebon dengan Pemerintah Kota Cirebon, sehingga memungkinkan collaborative governance antara kedua pihak dapat berjalan dengan efektif.
2. Drivers (penggerak) :
a. Uncertainty (ketidakpastian) belum optimal karena dalam collaborative governance dalam rangka optimalisasi pemungutan PKB menghadapi banyak ketidakpastian yaitu ketidakpastian dalam kondisi ekonomi, kemungkinan pergantian kepemimpinan, dan perubahan kebijakan di kemudian hari.
b. Interdependence (saling ketergantungan) optimal karena antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat c.q. Bapenda Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon mempunyai hubungan saling ketergantungan yang bersifat simbiosis mutalisme (saling menguntungkan) dalam konteks pembagian dana bagi hasil dari PKB.
c. Consequential incentive (konsekuensi dari insentif) optimal karena ada berbagai insentif positif (rewards) dalam program Triple Untung dan Triple Untung Plus sertaan insentif negatif (punishment) berupa denda dalam pembayaran PKB dan pemberlakuan tilang bagi pemilik kendaraan bermotor yang belum membayar PKB.
d. Initiating leadership (kepemimpinan yang memprakarsai) optimal karena kepemimpinan yang terkait mempunyai gagasan atau ide-ide untuk berkolaborasi dalam pemngutan PKB.
3. Collaborative Dynamic (dinamika kolaborasi) :
a. Principled engagement (keterlibatan secara prinsipil) optimal karena dalam collaborative governance dalam rangka optimalisasi PKB di SAMSAT Kota Cirebon sudah dilakukan discovery (penemuan) yaitu penemuan masalah yang dihadapi, definition (penentuan) yaitu penentuan masalah yang dihadapi, deliberation (musyawarah) untuk mengatasi masalah, dan determination (penetapan) berupa komitmen dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bapenda Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon.
b. Shared motivation (motivasi bersama) belum optimal karena meskipun sudah terwujud trust (kepercayaan), mutual understanding (saling memahami), dan internal legitimacy (legitimasi internal) antara pihak-pihak yang berkolaborasi tetapi belum benar-benar terwujud commitment (komitmen) terutama di kalangan pejabat Pemerintah Kota Cirebon di tingkat bawah yaitu para camat dan lurah.
c. Capacity for joint action (kapasitas untuk melakukan tindakan bersama) :
1). Procedural and institutional arrangements (penyusunan prosedur dan kelembagaan) optimal karena sudah ada prosedur untuk berkolaborasi berupa naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS).
2). Leadership (kepemimpinan) di tingkat atas optimal tetapi di tingkat bawah yaitu kepemimpinan camat dan lurah belum optimal dalam menggerakkan partisipasi masyarakat (wajib pajak) untuk membayar PKB.
3). Knowledge (pengetahuan) dalam arti pemahaman sudah optimal karena aparat terkait mengetahui bidang tugasnya dalam berkolaborasi. Namun demikian, knowledge (pengetahuan) dalam arti informasi belum benar-benar terwujud integrasi data PKB di SAMSAT Kota Cirebon dengan Layanan Perijinan, Sistem Administrasi Kepegawaian (SAMPEAN), dan Administrasi Kelurahan (SEDULUR) di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
4). Resources (sumber-sumber daya) jumlah pegawai SAMSAT Kota Cirebon belum optimal karena jumlahnya kurang.
4. Collaborative Actions (tindakan-tindakan kolaborasi) :
a. Securing endorsement (mengamankan dukungan) optimal karena telah dilakukan berbagai upaya untuk menjaga komitmen dan dukungan dari pihak- pihak yang berkolaborasi.
b. Enancting new policy measure, laws and regulation (memberlakukan kebijakan, hukum dan regulasi baru) optimal karena sudah ada naskah PKS sebagai kebijakan, hukum dan regulasi baru dalam pemungutan PKB di SAMSAT Kota Cirebon.
c. Marshalling external resources (menyusun sumber-sumber daya eksternal) optimal karena telah dilakukan penyusunan anggaran dan sumber daya manusia untuk mendukung collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon.
d. Deploying staff (mengerahkan staf) optimal karena telah dilakukan pengerahan staf/personil untuk melaksanakan tupoksinya di instansinya masing-masing dan pengerahan staf dari pihak-pihak yang berkolaborasi dalam Tim Koordinasi Pelaksanaan Kerja Sama (TKPKS).
e. Sitting and permiting facilities (menempatkan dan mengijinkan fasilitas) optimal karena pihak-pihak yang berkolaborasi telah menyediakan fasilitas (sarana dan
prasarana) dan mengijinkan fasilitas itu untuk digunakan dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon.
f. Building or clean up sites (membangun atau membersihkan situs/ bangunan) ; dalam collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon tidak ada bangunan baru yang dibangun.
g. Carrying out new management practice (melaksanakan praktik manajemen baru) secara tertulis sudah optimal karena sudah ditetapkan dalam naskah PKS tetapi pada praktiknya manajemen baru itu belum berjalan dengan optimal.
h. Monitoring implementation (monitoring implementasi) optimal karena dalam penerimaan PKB telah dilakukan monitoring dan juga evaluasi secara rutin.
i. Enforcing complience (menegakkan kepatuhan) optimal karena telah dilakukan berbagai upaya untuk menegakkan kepatuhan masyarakat (wajib pajak), khususnya oleh aparat Polresta Kota Cirebon melalui razia kendaraan bermotor.
5. Outcomes of collaborative action (hasil-hasil tindakan kolaboratif) : pada tahun 2020 (setelah dilakukan collaborative governance) realisasi penerimaan PKB tidak optimal karena tidak mencapai target yaitu hanya 79,24 %. Kemudian pada tahun 2021 melampaui target (103,40 %). Meskipun demikian, jumlah Kendaraan Tidak Melakukan Daftar Ulang (KTMDU) meningkat dari 33.134 (17,49 %) di tahun 2020 menjadi 39.163 (22,67 %) di tahun 2021. Masih banyaknya kendaraan bermotor yang berstatus KTMDU ini menyebabkan banyak potensi PKB yang belum tergali.
6. Adaptation (penyesuaian) optimal karena telah dilakukan berbagai penyesuaian dalam collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon.
Faktor Pendukung dan Penghambat Collaborative Governance dalam Optimalisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di SAMSAT Kota Cirebon
Faktor-faktor pendukung collaborative governance dalam optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di SAMSAT Kota Cirebon yaitu:
1. Kondisi dan dinamika politik di Kota Cirebon yang stabil.
2. Adanya kesadaran Pemerintah Kota Cirebon bahwa PKB merupakan salah satu pendapatan daerah yang potensial dan diandakan dalam APBD Kota Cirebon.
3. Telah dilakukan PKS (Perjanjian Kerja Sama) antara Bapenda Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Cirebon.
4. Pelayanan pembayaran PKB dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, baik pelayanan yang dilakukan secara offline maupun online.
5. Adanya komitmen dan dukungan kepemimpinan yang kuat dari Kepala Bapenda Provinsi Jawa Barat, Walikota Cirebon, dan Kepala SAMSAT Kota Cirebon.
6. Kepala dan pegawai SAMSAT Kota Cirebon mempunyai komitmen dan motivasi yang tinggi untuk mengoptimalkan penerimaan PKB karena menjadi tupoksinya.
7. Sarana dan prasarana yang dipunyai SAMSAT Kota Cirebon relatif lengkap dan memadai.
8. Adanya insentif berupa tunjangan kinerja yang nominalnya besar bagi ASN/PNS di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, termasuk bagi ASN/PNS di SAMSAT Kota Cirebon, sehingga mereka akan termotivasi dalam bekerja.
9. Dana operasional SAMSAT Kota Cirebon memadai untuk melakukan pelayanan pembayaran PKB secara offline maupun online.
10. Adanya insentif bagi masyarakat (wajib pajak) dalam pembayaran PKB melalui Program Triple Untung dan Triple Untung Plus.
11. Adanya razia yang dilakukan secara rutin oleh Polresta Cirebon.
Faktor-faktor penghambat collaborative governance dalam optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di SAMSAT Kota Cirebon yaitu:
1. Pandemi Covid-19 yang menyebabkan menurunnya kemampuan masyarakat (wajib pajak) yang tidak mempunyai penghasilan tetap dalam membayar PKB secara tepat waktu.
2. Kurangnya kesadaran dan partisipasi masarakat (wajib pajak) dalam membayar PKB tepat waktu meskipun mereka berasal dari kalangan ekonomi yang mampu.
3. Jumlah pegawai SAMSAT Kota Cirebon kurang memadai yaitu hanya 13 orang termasuk Kepala SAMSAT.
4. Kurangnya komitmen dan motivasi dari pejabat Pemerintah Kota Cirebon di tingkat bawah yaitu camat dan lurah dalam menggerakkan partisipasi masyarakat secara optimal dalam membayar PKB.
5. Data PKB di SAMSAT Kota Cirebon belum benar-benar terintegrasi dengan Layanan Perijinan, Sistem Administrasi Kepegawaian (SAMPEAN), dan Administrasi Kelurahan (SEDULUR) yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
Upaya-upaya yang dilakukan yang dilakukan untuk meningkatkan collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon yaitu:
1. Membentuk Tim Koordinasi Pelaksanaan Kerja Sama (TKPKS).
2. Melakukan rapat-rapat koordinasi secara rutin, baik koordinasi internal maupun eksternal.
3. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat (wajib pajak) tentang PKB.
4. Meningkatkan network data dengan cara mengintegrasikan data PKB di SAMSAT Kota Cirebon dengan Layanan Perijinan, Sistem Administrasi Kepegawaian (SAMPEAN), dan Administrasi Kelurahan (SEDULUR) di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
5. Memberikan insentif bagi masyarakat (wajib pajak) dalam pembayaran PKB melalui Program Triple Untung dan Triple Untung Plus.
6. Melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin mengenai progress penerimaan PKB.
Kesimpulan
Collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di SAMSAT Kota Cirebon belum optimal karena dari 28 indikator collaborative governance, sebanyak 21 (75%) indikator dalam kondisi optimal dan 7 (25%) indikator dalam kondisi tidak optimal. Hasil collaborative governance yaitu penerimaan PKB tahun 2020 tidak mencapai target (79,24%). Kemudian pada tahun 2021 melampaui target (103,40%). Meskipun demikian, jumlah Kendaraan Tidak Melakukan Daftar Ulang (KTMDU) meningkat dari 33.134 (17,49 %) di tahun 2020 menjadi 39.163 (22,67 %) di tahun 2021. Masih banyaknya kendaraan bermotor yang berstatus KTMDU ini menyebabkan banyak potensi PKB yang belum tergali.
Faktor-faktor pendukung dalam collaborative governance yaitu kondisi politik yang stabil; kesadaran tentang pentingnya Pajak Kendaraan Bermotor dalam APBD; sudah ada Perjanjian Kerja Sama; pelayanan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dilakukan dengan cepat dan mudah secara offline dan online; adanya komitmen,
kepemimpinan, dan motivasi; dana operasional yang memadai; insentif dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor; dan razia kendaraan bermotor oleh aparat kepolisian. Adapun faktor-faktor penghambat yaitu penurunan kemampuan ekonomi masyarakat akibat pandemi Covid-19; kurangnya keasadaran dan partisipasi masyarakat dalam membayar PKB; kurangnya komitmen dan motivasi camat dan lurah; serta data Pajak Kendaraan Bermotor yang belum benar-benar terintegrasi.
Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan collaborative governance dalam rangka optimalisasi penerimaan PKB di SAMSAT Kota Cirebon yaitu membentuk Tim Koordinasi Pelaksanaan Kerja Sama; melakukan rapat-rapat koordinasi; melakukan soosialisasi, meningkatkan network data agar benar-benar terintegrasi, pemberian insentif bagi masyarakat (wajib pajak) berupa program Triple Untung dan Triple Untung Plus; serta melakukan monitoring dan evaluasi.
References
Agranoff, Robert & McGuire, Michael. 2003. Collaborative Public Management: New Strategies for Local Government. Washington, DC: Georgetown University Press Akbar, L. R. (2020). Analisis Kinerja Direktorat Jendral Pajak dalam Optimalisasi
Penerimaan Pajak di Era-Pandemi Covid 19. JABE (Journal of Applied Business and Economics), 7(1), 98-110.
Alter, Catherine & Hage, Jerald. 1993. Organizations Working Together. Newbury Park, CA: Sage Publications
Ansell dan Gash. 2007. Collaborative Governance in Theory and Practice. Journal of Public Administration Research and Theory. Volume; 543 571, 2007
Ansell, C., Doberstein, C., Henderson, H., Siddiki, S., & ‘t Hart, P. (2020).
Understanding Inclusion in Collaborative Governance: A Mixed Methods Approach. Policy and society, 39(4), 570-591.
Donahue, John. & Zeckhauser, Richard. 2011. Collaborative Governance: Private Roles For Public Goals in Turbulent Times. New Jersey: Princeton University Press
Emerson, K. (2018). Collaborative Governance of Public Health in Low-and Middle- Income Countries: Lessons from Research in Public Administration. BMJ Global Health, 3(Suppl 4), e000381.
Emerson, Kirk & Nabatchi, Tina. 2015. Collaborative Governance Regimes. Washington, DC: Georgetown University Press
Emerson, Kirk; Nabtachi, Tina; & Balogh, Stephen. 2011. An Integrative Framework for Collaborative Governance. Journal of Public Administration Research and Theory
Firdaus, F. (2020). Inovasi Administrasi Perpajakan dalam Optimalisasi Penerimaan Pajak Daerah (Studi Pemasangan Tapping Box pada Pajak Hotel, Restoran dan Hiburan di Kota Kendari). Jurnal Ilmiah Administrasi Bisnis dan Inovasi, 4(2), 143- 161.
Hartman, Cordery, et al. 2002. Environmental Collaboration: Potential and Limits. In T.
deBruijn & A. Tukker (Eds.), Partnership and Leadership: Building Alliances for a Sustainable Future
Huang, I. Y. F. (2020). Fighting COVID‐19 through Government Initiatives and Collaborative Governance: The Taiwan Experience. Public Administration Review, 80(4), 665-670.
Liyana, N. F. (2019). Menakar Masalah dan Tantangan Administrasi Pajak: Kepatuhan Pajak di Era Self-Assessment System. Jurnal Pajak dan Keuangan Negara (PKN), 1(1), 6-6.
Ma, Y., Lan, J., Thornton, T., Mangalagiu, D., & Zhu, D. (2018). Challenges of Collaborative Governance in the Sharing Economy: The Case of Free-Floating Bike Sharing in Shanghai. Journal of Cleaner Production, 197, 356-365.
Morse, Ricardo S. & John B. Stephen. 2012. Teaching Collaborative Governance: Phases, Competency, and Case-Based Learning. Public Affair Education. 18(3), 565-584
Nugroho, I., & Hilman, Y. A. (2020). Sinergitas Program Fantastic! Ponorogo dalam Rangka Pembangunan Pariwisata. Jurnal Ilmiah Wahana Bhakti Praja, 10(1), 220-229.
Saifuddin, R. (2020). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Inovasi Pembangunan: Jurnal Kelitbangan, 8(02), 183-183.
Saptono, P. B., & Khozen, I. (2021). Rekonstruksi Pendekatan Compliance Risk Management di Masa Pandemi dalam Upaya Penguatan Penerimaan Pajak. Scientax, 3(1), 105-129.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Syamsuddin, S. (2021). Dampak Covid 19 terhadap Target dan Realisasi Penerimaan
Pajak Hotel dan Restoran di Kota Makassar. Journal of Business Administration (JBA), 1(1), 5-14.
Wanna, John. 2008. Colllaborative Government: Meaning, Dimension, Drivers and Outcome.
Dalam “Collaborative Governance. A New Era of Public Policy in Australia?”. Editor Janine O’Flynn dan John Wanna. Canberra: ANU E-Press.