SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
FAKHRIYAH ZULFADLIYANI
10540 2969 09
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
Namun,,,,,,
Jangan pernah menyerah dengan apa yang kamu inpikan Teruslah berjuang untuk menggapai bintang dilangit
Hiduplah dalam sebuah impian dan harapan karena dengan itulah awal dari sebuah perjuangan menuju kesuksesan. Hadapilah dengan ikhtiar, tawakkal dan do’a lalu
terimalah apa yang ada ,,, Apapun masalahmu jangan pernah
MENYERAH ……
Apapun rintangan Tetap BERTAHAN …. . Badai kan berlalu mentari kan
BERSINAR ……
Masih ada Tuhan ,,,,,,,,,,,,,
Kupersembahkan karya sederhana ini Sebagai tanda baktiku kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, Persaksianku untuk saudara-saudaraku dan orang-orang yang menyayangiku Segenap harapan terbaik dan doa restu mereka untukku, Semuanya untuk selamanya, Insya Allah.
vii
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Syarifuddin Kune, dan Pembimbing II Irmawanty.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep Daur Air pada murid kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa ? ” Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi daur air dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat siswa kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom actiont research) yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan tiga kali pertemuan.
Prosedur penelitian meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar murid sebesar 60 berada dalam kategori cukup, kemudian meningkat menjadi 85,14 berada dalam kategori sangat baik pada siklus II. Jika ditinjau dari ketuntasan secara klasikal maka telah mencapai indikator keberhasilan. dari siklus I tergolong yang rendah sekitar 26 murid atau 74,29% murid yang tidak tuntas.
yang tuntas 9 murid atau 25,71%. meningkat pada siklus II menjadi 32 murid atau 91,43% yang tuntas hasil belajarnya dan yang tidak tuntas menurun menjadi 3 atau 8,57% dari 35 orang murid. Dari hasil observasi,evaluasi, dan refleksi pada setiap tindakan siklus maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan STM dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep daur air pada murid kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa
Kata kunci = Sains Teknologi Masyarakat (STM), hasil belajar
vii
Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. sehingga skripsi yang berjudul
“Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Daur Air pada Murid Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa” ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, Nabi yang bertindak sebagai rahmatan lilalamin. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.
Segala daya dan upaya telah Penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Selama penulisan skripsi ini, segala hambatan dan kekurangan Penulis telah mendapat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Segala hormat Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua ayahanda Abdullah.S.Pd dan Ibunda Fatimah yang telah berjuang, mendoa’akan, mengasuh, mendidik, dorongan, kasih sayang dan perhatiannya selama ini. Demikian pula kepada sahabat- sahabatku tercinta Muhammad, Suljuaita, Yustari, Rahmaniar, Nurilmi, Tutiani, dan Eka Safitri Saleh (Almarhuma), serta keluarga dan teman- temanku yang lain yang telah mendoakan serta memberi bantuan dan keceriaan dalam hari-hariku.
viii
waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, motivasi, serta saran- saran yang berharga kepada Penulis selama penyusunan skripsi berlangsung. Pada kesempatan ini juga Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: (1) Ayahanda Dr. Irwan Akib, M.Pd.,selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, (2) Ayahanda Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan (3) Ibunda Sulfasyah M.A. Ph.D., selaku Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Ibunda Sitti Fithriani Saleh, S.Pd., M.Pd Sekertaris Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) serta seluruh dosen dan staf pegawai prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, yang telah mnembekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, Ibu St. Nurhayati S.Pd.,dan Ibu St. Norma. selaku guru kelas V serta staf guru-guru SD Inpres Mangasa 1, yang telah memberikan izin dan bantuan selama pelaksanaan penelitian ini.
Teristimewa Penulis haturkan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tuaku yang telah setia menemani baik suka maupun duka, kepada seluruh teman-teman PGSD ’09’ Nanny, Kadir, Ahmad Gazali, Allink, Udal, Nanank, Marlin, Akmal, kanda Azhar, kanda Syafi’i, saharia, asrianti dan tanpa terkecuali, terima kasih atas segala kenangan yang tidak terlupakan,
ix
kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin, yarrobal ’alamin.
Billahi fisabilil haq fastabiqul khaerat.
Makassar, Juni 2014
Penulis
x
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I. PENDAHULUAN A. Latar BelakangMasalah ... 1
B. Permasalahan ... 7
1. Identifikasi Masalah……….. 7
2. Pemecahan Masalah……… .. 8
3. Rumusan Masalah………... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka ... 10
1. Pendekatan STM ... 10
a. Karakteristik Pendekatan STM ... 12
b. Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan STM ... 15
c. Penerapan Pendekatan STM dalam Pembelajaran IPA…. 19 d. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan STM ... 22
2. Belajar dan Hasil belajar………. 26
a. Pengertian Belajar……….. 26
xi
iv
b. Pengertian Hasil Belajar………. 28
3. Hakikat IPA……… 30
4. Daur Air ... . 31
B. Kerangka Pikir ... 40
C. Hipotesis Tindakan ... 42
BAB III METODE PENELITIAN A. JenisPenelitian ... 43
B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 44
C. Fokus Penelitian ... 44
D. Pengecekan Keabsahan Data ... 45
E. Rencana Penelitian Tindak Kelas ... 46
F. Prosedur Penelitian ... 47
G. Data dan Sumber Data ……… 53
H. Teknik Pengumpulan Data……… .. 53
I. Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan……… 54
1. Teknik Analisis Data……… 54
2. Indikator Keberhasilan……… .. . 56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian………..……… 57
1. Siklus I……… ... 58
a. Hasil observasi aktifitas belajar ... 58
b. Hasil belajar ... 61
1) Nilai statistik ... 61
2) Kategori hasil belajar ... 62
3) Penentuan tingkat ketuntasan hasil belajar ... 63
c. Tahap refleksi ... 64
2. Siklus II……… ... 66
a. Hasil observasi aktifitas belajar ... 66
b. Hasil belajar ... 69
1) Nilai statistik ... 69
2) Kategori hasil belajar ... 70
xii
v
3) Penentuan tingkatketuntasan hasil belajar ... 71
c. Tahap refleksi ... 72
B. Pembahasan ……… ... 74
1. Perbandingan aktifitas belajar murid pada siklus I dan Siklus II……… ... 74
2. Hasil Belajar Murid……… ... . 77
a. Perbandingan nilai statistic kedua siklus... 77
b. Perbandingan kategori hasil belajar kedua siklus ... 78
c. Perbandingan tingkat ketuntasan hasil belajar kedua siklus ... 80
C. Verifikasi Hipotesa………... 81
D. Indikator Keberhasilan……… ... 81
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… ... 82
B. Saran ……… ... 83 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN- LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP
xiii
vi
DAFTAR TABEL
Tabel instrument Penilaian Portopolio Kegiatan dengan Model STM ... 18 Tabel 2.1 : Kriteria Penghargaan Terhadap Kelompok ... 19 Tabel 3.1 : indikator Keberhasilan………. 55 Tabel 4.1 : Distribusi Frekwensi Obserfasi Aktifitas Murid pada
siklus I………... 59 Tabel 4.2 : Nilai Statistik Hasil Belajar IPA Siklus 1……… 62 Tabel 4.3 : Distribusi Frekwensi dan Persentase Kategori Hasil Belajar IPA
pada Siklus 1……… 62
Tabel 4.4 : Deskripsi Ketuntasan Belajar Siklus 1……… 63 Tabel 4.5 : Distribusi Frekuensi Observasi Aktivitas murid pada siklus II….. 67 Tabel 4.6 : Nilai Statistik Hasil Belajar IPA Siklus II……….. 69 Tabel 4.7 : Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Belajar IPA
Murid Kelas V SDI Mangasa 1 Pada Siklus II……….. 70 Tabel 4.8 : Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus II……… 71 Tabel 4.9 : Peningkatan Hasil Belajar Murid Pada Setiap Siklus……….. 72 Tabel 4.10 : Perbandingan Persentase Hasil Observasi Aktivitas Belajar Murid
pada Siklus I dan II……….. 74
Tabel 4.11 : Perbandingan nilai Statistik Siklus I dan Siklus II……….. 77 Tabel 4.12 : Perbandingan Kategori Hasil Belajar IPA Konsep Daur Air Murid
Kelas V SDI Mangasa 1 Kabupaten Gowa Siklus I dan Siklus II… 78 Tabel 4.13 : Perbandingan Ketuntasan Hasil BelajarMurid Siklus 1 dan
siklus 2 ... 80
xiv
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Daur Air Siklus Pendek ... 37
Gambar Daur Air Siklus Sedang ... 37
Gambar Daur Air Siklus Panjang ... 38
Gambar 1 : Kerangka Pikir ... 41
Gambar 3.1 : Adaptasi Siklus Tindak Kelas ... 46
Gambar 4.1 : Grafik Persentase Hasil Observasi Aktivitas Belajar Murid Siklus 1… ... 60
Grafik 4.2 : Grafik Batang Kategori Hasil Belajar Murid Siklus1 ... 63
Grafik 4.3 : Graik Persentase Ketuntasan Belajar ... 64
Grafik 4.4 : Grafik Persentase Hasil Observasi Aktifitas Belajar Murid Siklus II……… ... 68
Grafik 4.5 : Grafik Batang Kategori Hasil Belajar Murid Siklus II….. ... 70
Grafik 4.6 : Grafik Persentase Ketuntasan Belajar……….. .... 71
Grafik 4.7 : Grafik Perbandingan Aktifitas Belajar Siklus 1 dan Siklus 2……….. ... 76
Grafik 4.8 : Grafik Perbandingan Nilai Statistik Siklus 1 dan Siklus 2……… ... 77
Grafik 4.9 : Grafik Perbandingan Kategori Hasil Belajar IPA pada Siklus 1 dan Siklus 2……….. ... 79
Grafik 4.10:Grafik Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus 1 dan Siklus 2……….. ... 80
xv
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran1 : Soal Tes Awal Tindakan ...
Lampiran 2 : RPP ...
Lampiran 3 : media Pembelajaran...
Lampiran 4 : Kuesioner Tanggapan Siswa ...
Lampiran 5 : Lembar Kerja Siswa ...
Lampiran 6 : Evaluasi Tes Hasil Belajar...
Lampiran 7 : Absensi Kelas ...
Lampiran 8 : Tabulasi Nilai ...
Lampiran 9 : rekapitulasi Kategori Tes Hasil Belajar ...
Lampiran 10 : Daftar Nilai Ketuntasan Tes Hasil Belajar ...
LAMPIRAN PERSURATAN
xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia untuk mencapai kompetensi. Menurut undang – undang tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai – nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sedangkan, sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Menurut undang-undang tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 mengatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab
Undang – undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa yang dimaksud „guru‟ adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Seorang guru dapat dikatakan sebagai guru yang profesional jika mereka mampu menghasilkan anak didik yang berbeda dari yang lainnya. Maksudnya, seorang guru yang profesional harus bisa menjadikan anak didiknya memiliki pengetahuan yang luas serta mampu menguasai pelajaraan yang diberikan dengan sebaik – baiknya. Seorang guru yang profesional dituntut untuk mampu membuat terobosan baru tentang sistem pembelajaran. Tentang bagaimana cara membuat suatu metodologi pembelajaran yang efektif untuk diterapkan kepada anak didiknya.
Metodologi pembelajaran yang unik dan menarik akan sangat membantu anak didik dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Mata pelajaran sains di sekolah dasar merupakan salah satu program pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat serta dapat memecahkan masalah dan membuat keputusan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Sains merupakan ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasari oleh fakta yang empiral pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Adapun Wahyana (1986) mengatakan bahwa sains adalah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.
Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Sains ini diperoleh dengan cara yang terkontrol dan berlaku umum yang berupa kumpulan eksperimen serta data yang lebih nyata. Oleh karena itu, mata pelajaran sains di sekolah dasar merupakan suatu bentuk ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala alam dan kebendaan yang diperoleh lewat hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia yang tersusun secara sistematis yang membutuhkan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Sementara itu, menurut Laksmi Prihantoro dkk (1986) mengatakan bahwa sains sebagai suatu produk, proses, dan aplikasi.
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran sains di sekolah dasar dapat mengembangkan kognitif, afektif, psikomotorik, kreativitas serta melatih siswa dalam berpikir kritis dalam memahami fenomena-fenomena yang terjadi di alam atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar. Jadi penekanan dalam pembelajaran sains adalah bagaimana seorang guru dapat mengembangkan pemahaman siswa dalam mengelola pemikirannya untuk menghubungkan satu fenomena dengan fenomena yang lain di lingkungan sekitarnya sehingga memperoleh suatu ide atau gagasan yang baru tentang suatu objek yang diamati dan memikirkan cara pemecahan masalahnya.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sains sekolah dasar ada beberapa kajian materi yang harus dikuasai oleh siswa. Salah satu kajian materi tersebut adalah daur air. Konsep daur air harus dikuasai oleh siswa sekolah dasar,
dimana daur air sangat berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu guru sebagai pengajar perlu menanamkan konsep daur air dengan baik agar dapat dipahaminya sehingga siswa mengerti dan paham tentang konsep tersebut. Namun kenyataan yang ditemukan di lapangan dalam pembelajaran sains kelas V sekolah dasar khususnya daur air tidak sesuai yang diharapkan. Masih banyak siswa yang belum paham tentang proses terjadinya air.
Hal ini sesuai dengan hasil pra penelitian pada tanggal 8 Januari 2014, melalui observasi dan wawancara terhadap guru dan siswa, dimana peneliti melakukan observasi langsung dengan guru sains kelas V SD Inpres Mangasa I Kabupaten Gowa. Adapun hasil observasi tersebut terungkap: 1) guru dalam proses pembelajarannya masih bersifat tekstual atau cenderung hafalan, dimana siswa tidak dilibatkan secara langsung untuk mengamati obyek tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Siswa hanya sebagai pendengar dan pencatat apa yang disampaikan oleh guru sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan, khususnya dalam memahami materi daur air, 2) guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengelola pemikirannya sendiri dalam mengkaji fenomena-fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi karena guru kurang menciptakan kondisi serta menyediakan sarana agar siswa dapat mengamati dan menemukan konsep dan membangunnya dalam struktur kognitifnya, 3) guru kurang bervariasi dalam
menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran, guru hanya menggunakan metode ceramah dan pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan konsep sehingga membawa situasi kelas menjadi tegang karena menuntut siswa konsentrasi penuh secara terus menerus dari awal sampai akhir pembelajaran, akibatnya dapat melelahkan siswa sehingga sering terlontar komentar siswa bahwa pembelajaran sains itu sangat membosankan 4) guru tidak menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat dalam proses belajar mengajar.
Dalam proses pembelajaran, guru belum memberdayakan seluruh potensi yang ada pada siswa. Dalam proses pembelajaran siswa hanya sebagai pendengar dan mencatat apa yang disampaikan atau didiktekan oleh guru di kelas. Akibatnya hasil belajar IPA siswa kelas V rendah karena belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini sesuai dengan dokumen yang ada disekolah untuk mata pelajaran IPA terbukti dari 35 siswa kelas V ada 27 murid yang memperoleh nilai antara 0-69, di bawah standar nilai KKM yang di tentukan sekolah yaitu 70. Jadi diketahui murid yang tidak tuntas sebanyak 27 orang atau 77,14 % dari 35 orang murid dengan nilai rata-rata 59.
Selain dari data hasil observasi yang dilakukan, peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara langsung dengan guru dan siswa yang dilakukan untuk memperjelas permasalahan yang dihadapi guru dan siswa tersebut dalam pembelajaran sains khususnya materi daur air. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh data bahwa 1) guru beranggapan bahwa dengan menggunakan metode
eksperimen, pendekatan proses dan kooperatif memerlukan banyak waktu, 2) guru dalam proses pembelajaran merasa kurang waktu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau memberikan tanggapan terhadap materi yang diajarkan, 3) guru kurang mampu merancang dan menggunakan pendekatan yang sesuai yang dapat menarik minat siswa sehingga siswa merasa bosan dalam belajar sains.
Sedangkan hasil wawancara langsung kepada siswa kelas V yang menyatakan bahwa pembelajaran sains kurang menarik sehingga mereka bosan dalam belajar sains yang tidak dilibatkan secara aktif. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya pemahaman siswa dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru. Jika masalah ini tidak dapat diatasi akan berdampak negatif bagi siswa khususnya pada peningkatan pemahaman siswa dan kemampuan kognitif siswa dan terlebih lagi akan berdampak buruk bagi kemajuan hasil belajar. Oleh karena itu, peneliti bersama guru melakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM).
Pendekatan sains teknologi masyarakat merupakan pendekatan pembelajaran yang pada dasarnya membahas penerapan sains dan teknologi dalam konteks kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu pendekatan sains teknologi masyarakat disebut sebagai pendekatan terpadu antara sains dan isu-isu teknologi yang ada dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini siswa dikondisikan diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi sederhana atau solusi pemikiran untuk mengatur dampak negatif yang mungkin
timbul akibat munculnya produk teknologi. Dengan demikian guru sains dapat menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat untuk menanamkan pemahaman konsep dan pengembangannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM memungkinkan anak dapat menghubungkan hal-hal yang telah di pahami dengan fenomena-fenomena yang ada di lingkungannya sehingga dapat menguatkan pemahaman terhadap suatu permasalahan atau memperoleh pemahaman yang baru yang berkaitan dengan kehidupan keseharian siswa tersebut. Sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang fenomena atau objek yang diamati.
Oleh karena itu, berdasarkan temuan masalah di atas, peneliti tertarik untuk mencoba melakukan tidakan perbaikan dalam pembelajaran daur air melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Daur Air pada Murid Kelas V SD Inpres Mangasa I Kabupaten Gowa”.
Dengan penerapan pendekatan sains teknologi masyarakat diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami konsep sehingga hasil belajar akan lebih baik terhadap pembelajaran daur air.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :
a. Pembelajaran yang di gunakan guru dalam mengajarkan IPA masih bersifat tekstua atau cenderung hafalan, siswa hanya bertindak sebagai pendengar dan pencatat apa yang disampaikan oleh guru.
b. Guru tidak melibatkan siswa dalam mengamati objek yang terjadi.
c. Minat dan motivasi belajar siswa rendah.
d. Rendahnya hasil belajar IPA murid kelas V SDI Mangasa 1 Kec. Somba Opu Kab. Gowa
2. Pemecahan Masalah
Setelah Setelah mengidentifikasi masalah diatas maka maslah tentang rendahnya hasil belajar IPA konsep daur air pada murid kelas V SDI Mangasa 1 Kab. Gowa akan diperbaiki/dipecahkan melalui penerapan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM).
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah dengan pendekatan sains teknologi masyarakat dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep daur air pada murid kelas V SD Inpres Mangasa I Kabupaten Gowa?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi daur air dengan menggunakan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat siswa kelas V SD Inpres Mangasa I Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Bagi murid: dapat meningkatkan gairah belajar murid dan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajarnya dapat meningkat, terutama pada mata pelajaran IPA. Serta melatih murid untuk berfikir kritis, kreatif dan inofatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
2. Bagi guru: Dapat membantu dalam meningkatkan pembelajaran IPA utamanya materi daur air dimasa yang akan datang, dapat membantu guru untuk menentukan suatu teknik mengajar yang kreatif dan efektif yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran, serta mampu menarik perhatian dan minat belajar siswa.
3. Bagi sekolah: Sekolah dapat memberikan sumbangan yang baik dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah khususnya dalam belajar IPA.
Diharapkan dapat memberi kontribusi dalam meningkatkan kualitas sekolah, serta diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA yang membutuhkan penggunaan pendekatan STM
4. Bagi peneliti : agar peneliti mmemiliki pengetahuan yang luas tentang penerapan pendekatan STM dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya, khususnya dalam pembelajaran IPA. Serta memberikan gambaran kepada peneliti tentang keadaan pembelajaran siswa di sekolah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka 1. Pendekatan STM
Pembelajaran menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat yang sekarang sudah merupakan model pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, yang secara utuh dibentuk dalam diri individu sebagai peserta didik, dengan harapan agar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut sejumlah tokoh, pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran kontekstual yang dapat membantu siswa untuk membuat pembelajaran menjadi lebih berarti. Sebab, pendekatan STM berkaitan dengan kehidupan nyata.
Definisi STM menurut The National Science Teachers Association (NSTA) adalah belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Sedangkan menurut Poedjiadi mengatakan bahwa pembelajaran STM berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan STM merupakan suatu strategi pembelajaran yang memadukan pemahaman dan pemanfaatan sains, teknologi dan masyarakat, dengan tujuan agar konsep sains dapat diaplikasikan melalui keterampilan yang bermanfaat bagi siswa dan masyarakat.
Selain itu, Pendekatan STM merupakan pendekatan pembelajaran yang pada dasarnya membahas penerapan sains dalam konteks kehidupan manusia sehari hari.
Oleh karena itu, pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) disebut sebagai pendekatan terpadu antara sains dan isue teknologi yang ada di masyarakat. Dengan pendekatan ini siswa dikondisikan agar mau dan mampu menerapkan prinsip-prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi sederhana atau solusi pemikiran untuk mengatur dampak negatif yang mungkin timbul akibat munculnya produk teknologi.
Seperti yang kita ketahui bahwa hakikat sains adalah sebagai produk dan proses, maka dalam pembelajarannya diharapkan tidak hanya menyampaikan pengetahuan berupa fakta, konsep atau prinsip saja melainkan juga tentang proses bagaimana produk sains ditemukan. Disamping itu, dilihat dari salah satu fungsi mata pelajaran sains adalah mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan/keterkaitan yang sangat mempengaruhi STM dan masyarakat maka dalam pembelajarannya dibutuhkan wahana yang dapat memfasilitasi tumbuhnya kesadaran tersebut. Untuk itu dalam pembelajaran sains perlu dikaitkan dengan teknologi karena pada dasarnya antara sains dan teknologi memiliki hubungan timbal balik artinya pengembangan sains akan menghasilkan pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi sementara pengembangan teknologi dapat menghasilkan cara atau sarana bagaimana memecahkan masalah sains yang ada.
Pentingnya untuk mengembangkan pembelajaran sains lewat STM tertuang kembali dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam kurikulum
tersebut secara eksplisif ditegaskan bahwa Salingtemas (Sains Lingkungan Teknologi dan Masyarakat ) merupakan aspek yang harus dipelajari siswa dalam pembelajaran sains. Apa bila ditinjau dari tuntutan kurikulum 2004, penerapan STM dalam pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor.
a.. Karakteristik Pendekatan STM
Pendekatan STM merupakan inovasi pembelajaran sains yang berorientasi bahwa sains sebagai bidang ilmu tidak terpisahkan dari realitas kehidupan masyarakat sehari hari dan melibatkan siswa secara aktif dalam mempelajari konsep-konsep sains yang terkait. Disamping itu dalam melangsungkan kehidupannya manusia akan memanfaatkan/mendayagunakan alam. Untuk dapat memanfaatkan alam tersebut manusia perlu menciptakan teknologi. Teknologi diciptakan pada dasarnya untuk membantu/memudahkan manusia dalam pencapaian tujuan hidupnya.
Pemaknaan seperti tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa penerapan pendekatan STM merupakan usaha untuk menjembatani atau memadukan antara sains dan ilmu pengtahuan sosial. Oleh karena itu pendekatan STM dapat digunakan untuk membangun kesadaran siswa bahwa antara sains dengan pengetahuan sosial memiliki peranan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Titik tolak seperti tersebut maka untuk pembelajaran sains lewat pendekatan STM harus berorientasi pada siswa (student centered). Menurut Fajar (2003), pada umumnya, STM memiliki karakteristik/ciri – ciri sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah – masalah setempat yang memiliki kepentingan dan dampak.
2. Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, dan lingkungan) untuk mrncari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah
3. Keikut sertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang bisa diterapkan untuk memecahkan masala dalam kehidupan sehari – hari.
4. Perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah
5. Fokus pada dampak sains dan teknologi terhadap siswa
6. Suatu pandaangaan bahwa isi sains bukan hanya konsep yang harus dikuasai siswa dalam tes.
7. Penekanan pada keterampilan proses, sehingga siswa dapat menggunakannya untuk memecahkan masalah
8. Penekanan pada kesadaran karier yang berkaitan dengan sains dan teknologi
9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara, sehingga ia dapat mencoba untuk memecahkan isu–isu yang telah diidentifikasikan 10. Identifikasi sejauh mana sains dan teknologi berdampak di masa depan 11. Kebebasan dalam proses belajar.
Berdasarkan karakteristik STM yang telah dikemukakan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan STM diawali dengan isu,
dan isu itulah yang merupakan ciri utamanya. Sebab, dengan mengemukakan isu, siswa terdorong untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah yang diakibatkan oleh isu tersebut.
Dengan mencermati karakteristik program STM seperti tersebut di atas nampak bahwa program STM dimaksudkan untuk menyiapkan/menghasilkan warga negara yang mampu melaksanakan atau mengambil keputusan tentang masalah-masalah aktual. Disamping itu STM dapat juga digunakan sebagai sarana untuk pembentukan literasi/tidak buta tentang sains dan teknologi karena selain siswa memperoleh pengetahuan juga diharapkan dapat timbul kesadaran tentang pelestarian lingkungan dan dampak negatif teknologi serta tanggung jawab untuk mencari penyelesaiannya.
Mengingat bervariasinya aspek yang perlu diukur keberhasilannya maka bentuk dan cara evaluasinya juga bervariasi. Seyogyanya evaluasi dilakukan secara berkelanjutan sehingga penggunaan portofolio atau data perkembangan pencapaian hasil setiap siswa sangat dianjurkan. Menurut Yager dan Tamir (Asyari 2006: 66) yang menyatakan bahwa” untuk ranah konsep pencapaian hasil belajarnya dapat digunakan tes tertulis. Bahkan untuk konsep-konsep sederhana dapat digunakan bentuk pilihan ganda”.
Oleh karena sains meliputi juga aspek proses maka untuk mengetahui pencapaian kemampuannya harus dilakukan dengan mengamati apa yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Sebagai contoh untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengobservasi dapat dilakukan dengan melihat bagaimana
siswa mengamati obyek dan bagaimana hasil/data yang diperolehnya sedangkan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengklasifikasi dapat dilakukan dengan melihat bagaimana siswa menyusun informasi yang digali atau data yang diperoleh menjadi suatu matriks yang mudah dipahami. Untuk ranah kretivitas dapat dievaluasi dari aspek :
Kelancaran : yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide secara cepat dalam dalam menyelesaikan masalah.
Keluwesan : kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide dalam menyelesaikan masalah yang baru.
Keaslian : kemampuan untuk menghasilkan respon/jawaban yang unik atau lain daripada yang lain
Elaborasi : kemampuan untuk menghasilkan banyak alternatif/kemungkinan untuk menerjemahkan ide kedalam tindakan
Kepekaan : peka terhadap munculnya masalah atau situsi tertentu.
b..Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan STM
Pendekatan Sains Teknologi Masyrakat (STM) berorientasi pada peningkatan kemampuan berpikir siswa maka proses dalam memperoleh pengetahuan lebih diutamakan. Dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) siswa diharapkan dapat membangun atau mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Oleh karena itu Yager (Asyari 2006: 66) mengatakan bahwa ”Pendekatan STM sejalan dengan prinsip pembelajaran yang konstruktivistik”.
Secara operasional “National Science Teachers Association” menyusun langkah pembelajaran sains dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam tahap tahap sebagai berikut :
a. Tahap invitasi : Pada tahap ini dapat dipilih salah satu dari alternatif:
Guru mengemukakan masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar yang dapat diamati/dipahami oleh peserta didik serta dapat merangsang siswa untuk bisa ikut mengatasinya.
b. Tahap eksplorasi: Pada tahap ini siswa melalui aksi dan reaksinya sendiri berusaha memahami/mempelajari situasi baru atau yang merupakan masalah baginya. Dapat ditempuh dengan cara membaca buku, majalah, koran mendengarkan berita di radio, melihat TV, diskusi dengan sesama teman atau wawancara dengan masyarakat maupun melalui observasi langsung di lapangan.
c. Tahap solusi: Pada tahap ini berdasarkan hasil eksplorasinya siswa menganalisis terjadinya fenomena dan mendiskusikan bagaimana cara pemecahan masalahnya. Dengan kata lain siswa mengenal dan membangun konsep baru yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Untuk memantapkan konsep yang diperoleh siswa tersebut guru perlu memberikan umpan balik/peneguhan.
d. Tahap aplikasi: Pada tahap ini siswa mendapat kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dala mengatasi masalah lingkungan yang dimunculkan pada tahap invitasi.
Efektivitas atau keberhasilan penerapan pendekatan sains teknologi masyarakat tergantung beberapa faktor. Yager (Asyari 2006: 69) mengidentifikasi hal-hal yang perlu dipenuhi guru untuk dapat menerapkan pendekatan STM dengan baik antara lain :
a) Dapat menciptakan iklim atau lingkungan belajar dengan menggunakan sarana pembelajaran yang mendukung
b) Memiliki harapan yang tinggi terhadap dirinya sendiri maupun siswanya, artinya guru mengharapkan pada siswanya dapat terjadi perubahan baik pengetahuannya, sikap maupun prilakunya. Pada dirinya sendiri berharap bahwa dengan STM ia akan banyak melakukan sesuatu, lebih melibatkan diri dan mencari terus pemecahan suatu masalahnya disekitarnya.
c) Menekankan pada “science literacy” atau “melek sains” dan penerapan pengetahuan sehingga dalam pembelajaran sains tidak hanya untuk memahami istilah atau keterampilan saja melainkan menuntut siswa untuk dapat menerapkan istilah tesebut atau mengklarifikasi penggunaannya dalam konsep yang lebih luas.
d) Memiliki keluwesan dalam pengaturan jadwal, penggunaan waktu dan pengoperasionalan kurikulum. Dalam pendekatan STM memungkinkan munculnya ide siswa yang baru dan beragam sehingga perlu diapresiasi agar kreatifitas siswa dapat berkembang.
Adapun istrumen penilaian portofolio kegiatan siswa dengan model pembelajaran STM ialah sebagai berikut :
No Aspek yang diamati Deskriptor Kurang Cukup Baik
Catatan pengamatan 1 Keaktifan siswa dalam
menjawab pertanyaan guru
Kecepatan dalam
menjawab pertanyaan guru
Siswa menjawab
dengan penuh antusias 2 Keaktifan siswa
dalam mengajukan pertanyaan
Pertanyaan yang
diajukan sesuai dengan cakupan materi
Pertanyaan yang
diajukan dengan penuh antusias
Pertanyaan yang
diajukan brtsifat problematik 3 Keaktifan siswa
dalam kegiatan pembelajaran
Siswa terlibat aktif dalam setiap tahap kegiatan
pembelajaran
Siswa terlibat dalam
keterampilan berfikir
Siswa terlibat dala
keterampilan motorik
Menampilkan
hubungan kerja
Tabel instrumen penilaian portofolio dengan menggunakan model pembelajaran STM
Adapun kriteria penghargaan kelompok seperti dibawah ini : Tabel 2.1 Kriteria penghargaan terhadap kelompok Skor rata-rata kelompok
Penghargaan Keterangan
15 – 19 Good Team Tim Baik
20 – 24 Great Team Tim Sangat Baik
25 – 30 Super Team Tim Sempurna
c. Penerapan Pendekatan STM dalam Pembelajaran IPA
Banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui pendekatan STM, baik menurut pandangan siswa maupun guru. Pendekatan STM efektif untuk penguasaan konsep dalam diri siswa. Dalam rangka penerapan/aplikasi, siswa yang diberikan pendekatan
STM menunjukkan kemampuan yang maksimal dalam menerapkan konsep – konsep sains (IPA) dalam kehidupan sehari – hari. Pengajaran IPA dengan pendekatan STM hendaknya mengandung komponen – komponen berikut :
1.. Strategi yang ada digunakan untuk memberikan pemahaman yang nyata mengenai pola – pola penalaran dan berfikir dari teman sebaya siswa, orang dewasa dan para ahli.
2. Memotivasi siswa untuk mengeksplorasi emosi dan nilai – nilai dalam hubungan data dengan bukti – bukti khusus.
3. Penggunaan studi lapangan, mmedia informasi, kegiatan – kegiatan siswa, film, debat, bermain peran, dan simulasi.
Beberapa alasan pentingnya pendekatan STM digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pengajaran IPA di SD adalah sebagai berikut :
1. Supaya dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, sehingga ia akan terlihat secara aktif dalam mengidentifikasi isu – isu social dan teknologi yang terdapat dalam masyarakat.
2. Untuk membuat sains dapat dipahami oleh semua siswa.
3. Pengajaran sains dengan pendekatan STM akan mendekatkan siswa kepada objek yang dibahas.
4. Bias memberikan pengetahuan dan pengertian kepada generasi muda dalam memahami masalah – masalah social yang muncul sebagai akibat sains dan teknologi.
5. Pengajaran sains dengan pendekatan STM merupakan suatu konteks pengembangan pribadi dan sosial.
6. Mampu memberikan kepercayaan diri kepada generasi muda agar turut berperan serta dalam teknologi.
Dalam pembelajaran IPA utamanya pada pembelajaran daur air ini, guru menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat untuk menanamkan pemahaman konsep pada siswa agar pembelajaran lebih bermakna dan siswa tidak merasa bosan dan menyenangi pelajaran tersebut. Dimana siswa dapat menghubungkan hal-hal yang telah dipahami dengan fenomena-fenomena yang ada di lingkungannya sehingga siswa dapat membangun struktur kognitifnya dalam pembelajaran daur air tersebut. Siswa dapat berinteraksi dengan teman atau guru untuk mengetahui proses daur air itu terjadi sehingga tidak pernah habis walaupun digunakan secara terus menerus. Untuk mempelajari materi sains yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar sains tersebut. Apalagi diajarkan dengan cara yang tepat seperti diajarkan dengan menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat.
Pendekatan STM ini memberikan pengetahuan kepada siswa bagaimana mengatasi masalah atau isue-isue sosial yang ada di sekitarnya seperti pencemaran, bencana alam, kekeringan dan lain-lain. Dalam pembelajarannya daur air ini, guru dalam pembelajarannya, guru mengemukakan masalah actual yang sering terjadi dalam kehidupan sehari hari. Kemudian mengungkap pemahaman awal siswa dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan. Setelah itu guru menyuruh siswa mendiskusikan yang berkaitan dengan pemahaman yang dimilikinya dan menggunakan konsep yang telah mereka peroleh serta merancang tehnik pemecahan masalah yang dikaji. Dan melakukan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang dimunculkan.
d. Kelebihan dan Kekurangan pendekatan STM
Secara konseptual pendekatan STM memiliki beberapa nilai tambah baik yang merupakan sasaran utama maupun yang berbentuk dampak pengiring. Nilai tambah yang merupakan sasaran utama antara lain adalah :
a. Melalui pendekatan STM membuat pengajaran sains lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari- hari dan membuka wawasan siswa tentang peranan sains dalam kehidupan nyata b. STM dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep,
keterampilan proses, kreativitas dan sikap menghargai produk teknologi serta tanggung jawab atas masalah yang timbul di lingkungan
c. Pendekatan STM yang berorientasi pada “hand on activities” membuat siswa dapat menikmati kegiatan-kegiatan sains dengan perolehan pengetahuan yang tidak mudah terlupakan dengan demikian dapat juga digunakan untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran sains
d. STM dapat memperluas wawasan siswa tentang keterkaitan sains dengan bidang studi lain. Hal ini dapat terwujud karena dalam memecahkan permasalahan alam di lingkungan, siswa tidak hanya mempelajari bidang sains saja melainkan perlu
berbagai bidang studi yang lain misalnya IPS, matematika dan lain lain. Dengan demikian mereka akan menyadari perlunya pemahaman ilmu secara holistik/menyeluruh sehingga terhindar dari sikap skeptis atau pandangan yang sempit
e. Lewat pendekatan STM dapat pula dikembangkan pembelajaran terpadu atau
”integrated learning, across curiculum” atau lintas bidang studi. Hal ini sejalan dengan pendapat Yager dan Lutz (Asyari 2006: 64) mengatakan ”bahwa pendekatan STM dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas (total curiculum) atau pembelajaran secara menyeluruh”.
Adapun dampak pengiring dari penerapan STM adalah akibat dari beragamnya kegiatan yang dilakukan dan penggunaan dari berbagai macam cara penilaian pencapaian keberhasilan belajar siswa misalnnya adanya :
Kegiatan kerja kelompok dapat memupuk kebiasaan saling kerja sama antar siswa
Kegiatan diskusi dapat memacu siswa untuk berani mengungkapkan pendapat sekaligus dapat melatih keterampilan siswa untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Disamping itu dengan diskusi akan terbentuk sikap terbuka atau menghargai pendapat orang lain
Pencapaian suatu karya atau pengaplikasian suatu gagasan dapat menimbulkan rasa bangga pada diri siswa bahwa dirinya dapat berperan/bermanfaat bagi masyarakat maupun bagi perkembangan sains dan teknologi
Penggunaan cara evaluasi yang kontinyu dan beragam dapat mendorong siswa untuk serius atau perhatian dalam mengikuti pembelajaran karena penilaian tidak hanya menyangkut kemampuan kognitif saja melainkan juga partisipasi dan kreativitasnya juga. Disamping itu siswa akan merasa bahwa semua aktivitas/gagasan yang dilontarkan akan mendapat apresiasi sehingga tidak ada keterlibatan yang mubadzir.
Secara umum, Sebagai sebuah pendekatan pembelajaran, pendekatan STM memiliki kelebihan dan kekurangan sebagaimana model – model pembelajaran lain.
Adapun beberapa kelebihan pendekatan STM ialah sebagai berikut :
1. Menekankan cara belajar yang baik, yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2. Menekankan keberhasilan siswa
3. Menyadarkan guru bahwa kadang dirinya tidak selalu berfungsi sebagai sumber informasi.
4. Diketahui adanya hubungan antara tujuan, proses dan hasil belajar.
5. Meningkatkan keterampilan inkuiri dan pemecahan masalah, selain keterampilan proses
Selain kelebihan tersebut, pendekatan pembelajaran STM juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut terletak pada beberapa hambatan pembelajaran dengan pendekatan STM.
Sehubungan dengan itu, Aisyah (2007) mengemukakan empat hambatan pembelajaran dengan pendekatan STM yaitu ; waktu, biaya, kompetensi guru serta komunikasi dengan orang tua, masyarakat dan birokrat.
1. Waktu ; Pada pendekatan STM, siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan informasi yang mendetail.
2. Biaya ; Biaya juga merupakan salah satu faktor pendukung dalam inplementasi STM. Biaya dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan STM
3. Kompetensi guru ; pada umumnya, guru belum memiliki pengetahuan yang baik tentang pendekatan STM, sehingga penerapan pendekatan ini masih sangat jarang ditemukan.
4. Komunikasi atau kerjasama ; komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan lembaga – lembaga terkait juga diperlukan saat siswa merencanakan untuk mengunjungi atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Sehingga seluruh aktivitas siswa menyita waktu yang cukup lama.
Menurut Aisyah (2007), hambatan lain dalam penerapan pendekatan ini adalah siswa belum terbiasa berfikir kritis dan belajar mengambil pengalaman di lapangan, sehingga dibutuhkan kesabaran dan ketekunan guru untuk mengarahkan dan membimbing siswa dalam pembelajaran.
2. Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar
Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Belajar yang lebih modern diungkapkan Morgan dkk (1986) sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman.devinisi ini memuat dua unsure penting dalam belajar yaitu, yang pertama belajar adalah perubahan tingkah laku, dan kedua perubahan yang terjadi karena latihan dan pengalaman
Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya.
Belajar adalah aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan – perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap (Winkel, 1999 ; 53).
Proses belajar merupakan proses yang unik dan kompleks, hal itu disebabkan karena hasil belajar hanya terjadi pada individu yang belajar, tidak pada orang lain, dan setiap individu menampilkan perilaku yang berbeda. Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Menurut Slameto (2003 ; 2) “belajar ialah suatu proses usaha perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses untuk membuat perubahan dalam diri individu dengan cara berinteraksi dengan lingkungan untuk mendaapatkan perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan dalam arti luas, belajar adalah semua persentuhan pribadi dengan lingkungan yang menimbulkan perubahan perilaku.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Namun demikian kita akan sulit melihat bagaimana proses perubahan tingkah laku tersebut dalam diri seseorang. Walaupun kita tidak dapat melihat proses terjadinya perubahan tingkah laku pada diri setiap orang, tetapi sebenarnya kita bias menentukan apakah seseorang telah belajar atau belum, yaitu dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
Seorang guru perlu memahami berbagai hal yang tidak bisa digolongkan ke dalam penyebab terjadinya suatu perubahan yang disebut kegiatan belajar. misalnya perubahan yang terjadi karena unsure kedewasaan tidak menunjukkan kegiatan belajar. Gagne (1985) menerangkan lebih lanjut, belajar bukan terjadi karena adanya warisan genetika, atau respon secara ilmiaah, kedewasaan, atau keadaan organisme yang bersifat temporer seperti misalnya kelelahan, pengaruh obat-obatan, rasa takut atau gabungan dari kesemuanya
b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan hasil belajar. Hasil belajar sering kali digunakan sebagai ukuranuntuk mengetahui seberapa jauh seorangmenguasai bahan yang sudah diajarkan.
Untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syaarat.
Pengukuran demikian dimungkinkan karena pengukuran merupakan kegiatan ilmiah yang dapat diterapkan pada berbagai bidang termasuk pendidikan. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. pengertian hasil merujuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu proses yang mengakibatkan suatu perubahan secara fungsional. Sedangkan hasil yaitu perolehan yang didapatkan karena adanya kegiatan. Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan menusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya (Winkel, 1996 ; 51). Aspek perubahan itu mengacu kepada tujuan pengajaran yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik (Winkel, 1996 ; 244).
Tujuan pendidikan direncanakan untuk dapat dicapai dalam proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar – mengajar. Tujuan pendidikan bersifat ideal, sedangkan hasil belajar bersifat actual. Hasil belajar
merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga hasil belajar yang diukur sangat tergantung kepada tujuan pendidikannya. Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi yang dimaksudkan sebagai cerminan untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar – mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar.
Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Faktor intern, Slameto (2003: 75) menarik kesimpulan sebagai berikut : Kegiatan belajar, motivasi, merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar. Salah satu faktor dari dalam diri siswa yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar adalah motivasi belajar. Dalam belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Seorang siswa yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya motivasi dalam belajarnya. Faktor intern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:
a. Faktor jasmaniah/kondisi fisik siswa saat mengikuti Pelajaran.
b. Faktor Psikologis siswa c. Faktor kelelahan.
2. Faktor ekstern. Slameto (2003: 96) menarik kesimpulan sebagai berikut Faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi belajar adalah faktor metode pembelajaran. Selain siswa, unsur terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru. Guru sebagai pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, moral maupun sosial dan untuk menjalankan peran tersebut seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. Seorang guru dalam menyampaikan materi perlu memilih metode mana yangsesuai dengan keadaan kelas atau siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Dengan variasi metode dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar antara lain :
a) Metode dan gaya mengajar guru.
b) Tersedianya fasilitas dan alat penunjang pelajaran.
c) Situasi dan kondisi keluarga dan lingkungan sekitaranya.
3. Hakikat IPA
Ilmu pengetahuan alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta – fakta, konsep – konsep, atau prinsip – prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam penerapannya di dalam kehidupan sehari – hari.
Adapun Carin dan Sund (1993) dalam Puskur (2007: 3), mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.
Merujuk pada pengertian IPA, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu : sikap, proses, produk dan aplikasi. Dalam pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh.
4. Daur Air
Ketika ahli astronomi mempelajari planet-planet yang baru ditemukan di sekitar galaksi kita, mereka berharap dapat menemukan bukti keberadaan air di dunia yang jauh tersebut, karena air adalah subtansi yang memungkinkan terjadinya kehidupan yang terjadi di bumi. Seluruh organisme yang yang kita kenal di sekeliling kita sebagian besar tersusun dari air dan hidup dalam lingkungan yang didominasi oleh air. Hampir seluruh bumi ini terdapat air, hanya sebagian saja daratan.
Kelimpahruahan air adalah alasan utama mengapa bumi dapat dihuni. Hal ini sesuai dengan pendapat Lawrence Henderson (Campbell dkk.1987: 40) yang mengatakan
bahwa “air sangat penting bagi kehidupan dengan memahami bahwa kehidupan beradaptasi dengan lingkungannya melalui seleksi alam”. Dengan demikian karena air sangat penting untuk kehidupan maka harus dijaga agar tetap lestari sepanjang masa. Air ini mempunyai siklus sehingga tidak pernah habis.
Daur air adalah perubahan yang terjadi pada air secara berulang ulang pada pola tertentu. Seperti udara, air juga tidak akan habis dan selalu ada di bumi karena air mengalami daur (siklus). Air ada di permukan bumi mengalami penguapan berubah menjadi uap air. Penguapan air terjadi karena air terkena panas matahari, uap air akan naik ke tempat tinggi dan dingin akibatnya uap air akan mengembun hingga membentuk awan. Di tempat yang amat tinggi dan dingin, butiran air akan membeku jika butiran air atau es di awan cukup besar, butiran dapat jatuh ke tanah sebagai hujan. Biasanya butiran es sudah berubah menjadi air saat bersentuhan dengan udara lebih panas di bawahnya.
Air hujan kembali mengisi permukaan bumi sebagai air sungai, laut dan lain- lainnya. Dari sini daur air mengulangi lagi tahap yang dijalaninya demikian seterusnya sehingga bumi tidak pernah kering. Air yang ada di permukaan bumi ini sangat berguna sekali bagi kehidupan. Tanpa adanya air maka semua mahluk hidup yang ada dipermukaan bumi ini akan mati. Apalagi dalam kehidupan keseharian kita sangat membutuhkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Jadi agar air yang ada di sekitar kita tidak pernah habis maka harus dijaga kelestariannya dengan tidak
membuang sampah di sungai atau menebang pohon yang ada di sekitar sungai karena akan mengakibatkan air akan tercemar.
Siklus hidrologi adalah perputaran air dengan perubahan berbagai bentuk dan kembali pada bentuk awal. Hal ini menunjukkan bahwa volume air di permukaan bumi sifatnya tetap. Meskipun tetap dengan perubahan iklim dan cuaca, letak mengakibatkan volume dalam bentuk tertentu berubah, tetapi secara keseluruhan air tetap. Siklus air secara alami berlangsung cukup panjang dan cukup lama. Sulit untuk menghitung secara tepat berapa lama air menjalani siklusnya, karena sangat tergantung pada kondisi geografis, pemanfaatan oleh manusia dan sejumlah faktor lain.
Daur air ialah sirkulasi yang tidak pernah berhenti dari air yang di bumi dimana air mampu berpindah-pindah dari daratan, lalu ke udara lalu kedaratan lagi, dan air pun mampu tersimpan didasar permukan dengan 3 fase yaitu cair yang berbentuk air, padat yang berbentuk es, dan gas yang berbentuk udara.
Uap air terdapat di atmosfir, uap air berasal dari air laut dan air daratan yang menguap karena akibat terkenanya panas yang berasal dari matahari. Namun pada umumnya uap air yang ada di atmosfir hanya terdapat di uapan air laut, sebab luas laut mencapai ¾ luas permukaan bumi. Terkondensasinya uap air di atmosfir akan mengubah menjadi awan, yang akhirnya awan-awan tersebut akan berubah menjadi hujan, air hujan yang telah turun dimuka bumi akan masuk kedalam tanah, dan pada akhirnya air tanah ini akan terbentuk menjadi air tanah air tanah permukaan.
Air yang ada di dalam tanah akan diserap oleh tumbuhan memalui pembuluh yang ada dalam tubuh, lalu transpirasi uap air akan dilepaskan oleh tanaman atau tumbuhan ke atas atmosfir. Transpirasi penguapan dalam ekosistem darat bisa mencapai 90 % yang dilakukan oleh tumbuhan.
Air tanah yang ada dipermukaan bumi mengalir ke arah sungai, lalu bermuara ke laut dan ke danau. Daur ulang yang terjadi ini disebet dengan siklus panjang namun siklus ini berawal dari terjadinya proses evapotranspirasi dan transpirasi pada air yang dikuti oleh presipitasi atau proses terjadinya air yang turun ke muka bumi disebut sikus pendek.
Sama seperti proses fotosintesis pada siklus karbon, matahari juga berperan penting dalam siklus hidrologi. Matahari merupakan sumber energi yang mendorong siklus air, memanaskan air dalam samudera dan laut. Akibat pemanasan ini, air menguap sebagai uap air ke udara. 90 % air yang menguap berasal dari lautan. Es dan salju juga dapat menyublim dan langsung menjadi uap air. Selain itu semua, juga terjadi evapotranspirasi air terjadi dari tanaman dan menguap dari tanah yang menambah jumlah air yang memasuki atmosfer.
Setelah air tadi menjadi uap air, Arus udara naik mengambil uap air agar bergerak naik sampai ke atmosfir. Semakin tinggi suatu tempat, suhu udaranya akan semakin rendah. Nantinya suhu dingin di atmosfer menyebabkan uap air mengembun menjadi awan. Untuk kasus tertentu, uap air berkondensasi di permukaan bumi dan membentuk kabut.
Arus udara (angin) membawa uap air bergerak di seluruh dunia. Banyak proses meteorologi terjadi pada bagian ini. Partikel awan bertabrakan, tumbuh, dan air jatuh dari langit sebagai presipitasi. Beberapa presipitasi jatuh sebagai salju atau hail, sleet, dan dapat terakumulasi sebagai es dan gletser, yang dapat menyimpan air beku untuk ribuan tahun. Snowpack (salju padat) dapat mencair dan meleleh, dan air mencair mengalir di atas tanah sebagai snowmelt (salju yang mencair). Sebagian besar air jatuh ke permukaan dan kembali ke laut atau ke tanah sebagai hujan, dimana air mengalir di atas tanah sebagai limpasan permukaan.
Daur hidrologi sering juga dipakai istilah water cycle atau siklus air. Suatu sirkulasi air yang meliputi gerakan mulai dari laut ke atmosfer, dari atmosfer ke tanah, dan kembali ke laut lagi atau dengan arti lain siklus hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan bumi dari suatu tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya.
Air naik ke udara dari permukaan laut atau dari daratan melalui evaporasi. Air di atmosfer dalam bentuk uap air atau awan bergerak dalam massa yang besar di atas benua dan dipanaskan oleh radiasi tanah. Panas membuat uap air lebih naik lagi sehingga cukup tinggi/dingin untuk terjadi kondensasi.
Uap air berubah jadi embun dan seterusnya jadi hujan atau salju. Curahan (precipitation) turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut.
Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut melengkapi siklus air.
Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi.
Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
Sebagian dari air tanah dihisap oleh tumbuh-tumbuhan melalui daun-daunan lalu menguapkan airnya ke udara (transpiration). Air yang mengalir di atas permukaan menuju sungai kemungkinan tertahan di kolam, selokan, dan sebagainya (surface detention), ada juga yang sementara tersimpan di danau, tetapi kemudian menguap atau sebaliknya, sebagian air mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut ( surface run off ), sebagian lagi infiltrasi ke dasar danau-danau dan bergabung di dalam tanah sebagai air tanah yang pada akhirnya ke luar sebagai mata air.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu :
1. Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.
Gambar “Siklus Pendek”
2. Siklus Sedang : Air laut menguap lalu dibawa oleh angin menuju daratan dan melalui proses kondensasi berubah menjadi awan lalu jatuh sebagai hujan di daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah lalu kembali ke laut melalui sungai-sungai atau saluran-saluran air.
Gambar “Siklus Sedang”
Sumber : Macam-macam-dan-tahapan-siklus-air.html
Sumber : Macam-macam-dan-tahapan-siklus-air.html
3. Siklus Panjang : Air laut menguap, setelah menjadi awan melalui proses kondensasi, lalu terbawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di daratan dan terjadilah hujan salju atau es di pegunungan-pegunungan yang tinggi. Bongkah- bongkah es mengendap di puncak gunung dan karena gaya beratnya meluncur ke tempat yang lebih rendah, mencair terbentuk gletser lalu mengalir melalui sungai- sungai kembali ke laut.
Gambar “Siklus Panjang”
Unsur-unsur utama dalam siklus hidrologi :
Evaporasi : penguapan dari badan air secara langsung
Transpirasi : penguapan air yang terkandung dalam tumbuhan
Respirasi : penguapan air dari tubuh hewan dan manusia
Evapotranspirasi : perpaduan evaporasi dan transpirasi
Sumber : Macam-macam-dan-tahapan-siklus-air.html
Kondensasi : proses perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air sebagai hasil pendinginan
Presipitasi : segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan air, hujan es, hujan salju
Infiltrasi : air yang jatuh ke permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah
Perkolasi : air yang meresap terus sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah atau groundwater
Run off : air yang mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut.
Pada proses dau air, keberadaan hutan sangat penting dalam penyimpanan air sebab air cadangan akan selalu ada apabila daerah peresapan air selalu tersedia.
Daerah peresapan air biasa terdapat di hutan-hutan. Tumbuhan hutan mampu memperkokoh struktur tanah. Saat hujan turun, air tidak langsung hanyut tetapi akan meresap dan tersimpan di dalam tanah.air yang meresap ke dalam tanah akan menjadi air tanah.adanya air dan akar tumbuhan akan menyebabkan tanah menjadi kokoh dan tidak mudah longsor. Saat ini telah banyak hutan yang menjadi gundulakibat penebangan liar. Selain penebangan, hutan dapat rusak akibat pembakaran, pembakaran hutan biasanya dilakukan dengan alasan tertentu seperti untuk membuka lahan industri, perumahan atau lahan pertanian. Kegiatan ini dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyimpan air. Akibatnya, banyak daerah yang mengalami kekeringan. Selain itu kini marak penggunaan jalan yang menggunakan beton atau