Sanitasi Sekolah
Karya :
Afia Fitriani | Ahmad Junaidi | Ainul Mardiyah | Amira Akmalia | Aryanti Mulya Nurcahya | Aulia Nurul Fajariyah |Azaria Fidela |Baistsyekhul Ulya |Barro Dea Ramadani | Diah Adha Nurhasanah | Dinda Aprilia | Eka Heryani | Farhatu Sholihah | Fathia Izzati | Firda Nurul Syifa | Hade Imam Khairul | Harum Setia Rizki | Ilham Mufid |Ira Safitri | Lita Kusuma Astusi | Lydia Eliza | Mulia Putri Mutmainah | Muhammad Fadlan | Musyaffa Luthfi |Muthia Addini | Mutiara Nurul | Nabila Wahono Putri | Nadia Erina | Nafisah Munjidah | Nazda Alqia luthfiyyah | Nisya Fahira | Raihan Nur Rabbani | Raihan Saputra | Rakasia Budi Buwana | Rani Eka Saputri | Salsabila |
Salsabila Putri Ardiyansyah | Sarah Putri Zuhri | Siti Masitoh | Supriani | Tasya Afra Maulina | Yosa Adzkia | Zahra Naddya Alfiyyah |Zharfa Rizqi | Apri Utami Parta Santi | Azmi Al-Bahij Design Cover dan Layout :
Yusuf Muhammad Iqbal
Penerbit :
SIP Publishing (Anggota IKAPI) Jl. Curug Cipendok Km.1
Kalisari, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh buku tanpa izin penerbit dan penulis ISBN :
Cetakan Pertama, Juli 2021 Ukuran Buku: 17.5 x 25 cm Halaman: vi + 110
Isi di luar tanggung jawab percetakan
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala Rah- mat dan Karunia-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis tentang “San- itasi Lingkungan Sekolah”. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang Insya Allah akan memberi- kan syafa’at kepada kita semua di hari akhir kiamat nanti. Aamiin…
Upaya mewujudkan sekolah yang bersih dan sehat telah ditetapkan sebagai gerakan nasional di lingkungan Departemen Kesehatan. Untuk itu perlu optimalisasi sarana yang tersedia. Salah satu diantaranya adalah dit- erbitkannya Buku Sanitasi Lingkungan Sekolah.
Buku ini menguraikan tentang pengertian sanitasi, manfaat, tujuan, ru- ang lingkup sanitasi, komponen sanitasi, fasilitas sanitasi, standar sanitasi, promosi hidup bersih di sekolah, pemeliharaan sanitasi, dan profil sanitasi sekolah. Terima kasih kepada tim penyusun dan teman-teman DSD-4 yang telah ikut berkontribusi dalam proses penyelesaian buku ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan buku ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifa- tnya membangun kepada kami untuk perbaikan di masa depan. Dan semo- ga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, 15 Juli 2021 Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... iii
Daftar Isi ... v
BAB 1 ... 1
Mengenal Sanitasi ... 1
BAB 2 ... 13
Pengertian Sanitasi ... 13
BAB 3 ...23
Ruang Lingkup Sanitasi ... 23
BAB 4 ... 31
Komponen sanitasi sekolah ... 31
BAB 5 ... 41
komponen fasilitas sanitasi sekolah ... 41
BAB 6 ... 53
Standar Sanitasi ... 53
BAB 7 ... 63
Promosi hidup bersih di sekolah ... 63
BAB 8 ... 83
Pemeliharaan Sanitasi ... 83
BAB 9 ... 97
Profil Sanitasi Sekolah ... 97
BAB 1 MENGENAL SANITASI
Ainul Mardhiyah, Amira Akmalia, Firda Sabilla, Firda Nurul Syifa, Salsabila Putri Ardiansyah
A. Latar Belakang
Untuk menanamkan budaya hidup bersih dan sehat, kita bisa memulai dari langkah kecil dan dimulai dari tempat yang sering kita singgahi, con- tohnya sekolah. Penerapan perilaku hidup sehat disekolah ini dapat dijalani seiring dengan adanya program sanitasi sekolah. Keberadaan Program Sa- nitasi Sekolah merupakan prasyarat terciptanya lingkungan sekolah yang aman, bersih dan sehat. Sanitasi sekolah merupakan langkah awal mewu- judkan lingkungan belajar yang sehat. Sanitasi sekolah adalah syarat kes- ehatan lingkungan minimal yang harus dipunyai oleh setiap sekolah untuk memenuhi kebutuhan siswa dan siswi. Ruang lingkup sanitasi dasar yakni sarana penyediaan air bersih, sarana jamban, sarana pembuangan sampah, dan sarana pembuangan air limbah.
Sanitasi sekolah merupakan salah satu elemen penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Meningkatnya akses sanitasi di sekolah dapat berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan kenyamanan peserta didik di sekolah dan secara tidak langsung berkontri- busi pada peningkatan angka partisipasi sekolah.
Sebuah sekolah dapat dikatakan menerapkan Sanitasi Sekolah yang baik apabila sekolah tersebut dapat memenuhi tiga aspek yang saling ber-
kaitan satu dengan lainnya yaitu:
1. Sekolah harus memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana sani- tasi, terutama akses pada sarana air bersih yang aman dari pence- maran. Sumber air yang layak adalah ledeng/PAM, sumur pompa, air hujan, mata air terlindungi, sumur terlindungi, dan air kemasan. Selain itu, akses dasar juga mensyaratkan bahwa sumber air layak tersedia disekitar lingkungan sekolah dan cukup atau tersedia sepanjang wak- tu. Sedangkan akses air terbatas adalah sekolah yang memiliki akses pada sumber air yang layak dan masih terdapat di lingkungan sekolah, namun air tidak terlalu tersedia sepanjang waktu.
2. Sarana sanitasi (jamban) yang berfungsi dan terpisah antara siswa la- ki-laki dan perempuan, dan serta fasilitas cuci tangan pakai sabun.
3. Sekolah melaksanakan kegiatan pembiasaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekolah, seperti kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) secara rutin dan memastikan pelaksanaan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) secara konsisten. Kedua hal ini yaitu Cuci Tan- gan Pakai Sabun dan penyediaan air minum di sekolah, secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar di sekolah.
Pada tingkat global, sanitasi sekolah juga merupakan salah satu pri- oritas pembangunan yang termasuk ke dalam SDGS (Sustainable Devel- opment Goals) Tujuan 4a. Tujuan 4a adalah “Membangun dan meningkat- kan fasilitas pendidikan yang ramah anak, penyandang cacat, dan gender, serta memberikan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif, dan efektif bagi semua”. Lebih rinci lagi pada tujuan 4a dinyatakan “Proporsi sekolah dengan akses ke:
(a) listrik,
(b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran,
(d) infrastruktur dan materi memadai bagi siswa difabel, (e) air minum layak,
(f) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin
(g) fasilitas cuci tangan”. Sejalan dengan tujuan SDGS, maka sanitasi se- kolah terdiri dari akses air, sanitasi, dan fasilitas cuci tangan (Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, 2017).
Sejalan dengan tujuan SDGS tersebut, ketersediaan dari akses air bersih layak. akses jamban yang terpisah menurut jenis kelamin dan yang layak, serta akses fasilitas cuci tangan pakai sabun menjadi prasyaral da- lam pelaksanaan sanitasi sekolah. Oleh sebab itu, program santasi sekolan berpotensi membantu percepatan pemenuhan akses santasi di dalam mas- yarakat, sesuai dengan target universal akses air minum dan santasi dalam RPJMN 2015-2019 (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018).
Seperti digambarkan pada diagram di bawah ini, indikator Tujuan Pem- bangunan Berkelanjutan dapat digabungkan dengan indikator yang ada di tingkat nasional. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan No.24/2007 tentang Standar Sarana Prasarana SD/MI, SMP/ MTs, SMA/MA dan Peraturan Men- teri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2008 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB),
Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMSLB), Dan Sekolah Me- nengah Atas Luar Biasa (SMALB) tertulis secara jelas mengenai rasio min- imal jamban untuk siswa dan siswi pada setiap jenjang sekolah (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2017).
Gambar 1.1 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Dalam kurun waktu 2015-2019, Pemerintah Indonesia telah menegas- kan komitmennya dalam pembangunan sanitasi dengan mencanangkan beberapa target penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 Bidang Permukiman dan Perumahan. Pada dokumen Buku 1 RPJMN tentang Agenda Pembangunan Nasional, hala- man 6-102 disebutkan salah satu strategi dalam peningkatan efektivitas dan efisiensi pendanaan infrastruktur air minum dan sanitasi adalah sinergi dan koordinasi sebagaimana berikut:
Dengan demikian, jelas bahwa pengembangan Sanitasi Sekolah mer- upakan bagian dari agenda nasional untuk pembangunan kawasan per- mukiman. Hal ini juga dipertegas dengan tercantumnya target persentase sekolah yang memiliki sarana dan prasarana sesuai Standar Nasinonal Pen- didikan (SNP) (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2017).
Perhatian pada kesehatan lingkungan sekolah, termasuk di dalamnya Sanitasi Sekolah merupakan amanat undang-undang, khususnya UU Kes- ehatan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 79 menegaskan bahwa “Kesehatan Sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemam- puan hidup peserta didik dalam lingkungan sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan setinggi-ting- ginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas (Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, 2017).
Undang-Undang No. 23 tahun 2014, pasal 12 ayat 1 mengamanatkan bahwa pendidikan merupakan salah satu urusan wajib pemerintahan daerah terkait dengan pelayanan dasar adalah kewajiban pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana bagi pemenuhan kebutuhan atas sarana sanitasi di sekolah dasar. Sementara pada saat yang sama, untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi sekolah dasar yang layak Kemendikbud telah melakukan berbagai upaya melalui pemberian prestasi belajar di sekolah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018:6).
Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1429 tahun 2006, menyebutkan persyaratan kesehatan lingkungan meliputi beberapa aspek diantaranya aspek bangunan kantin sekolah dan fasilitas sanitasi sekolah.
Kantin sekolah harus memiliki sistem sanitasi yang baik karena kantin mer- upakan pusat tempat dijualnya makanan yang dikonsumsi oleh siswa.
Kantin sekolah merupakan tempat utama yang dikunjungi siswa sis- wi ketika waktu istirahat. Sehingga penting rasanya untuk memperhatikan hygiene dan sanitasi kantin sekolah agar sehat. Karena kesehatan siswa salah satunya sangat dipengaruhi oleh kebersihan sanitasi kantin sekolah
sebagaimana pengaruh makanan terhadap tubuh kita. Apabila sistem sa- nitasi kantinnya buruk, maka kantin sekolah akan menjadi sumber muncul- nya permasalahan kesehatan yang diakibatkan oleh makanan dan tempat makan yang kurang bersih. Fasilitas sanitasi sekolah ini harus memenuhi syarat kesehatan yang telah ditentukan agar dapat mendukung penyeleng- garaan kesehatan lingkungan di sekolah dan mencegah penularan penyakit di lingkungan sekolah.
Didalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 menjelaskan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkat- kan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara har- monis dan setinggi-tingginya menjadi sumber daya manusia yang berkuali- tas (Depkes, 2009).
Sejalan dengan hal itu Kesehatan lingkungan sekolah sendiri bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan pengembangan siswa secara optimal.
Apabila kondisi lingkungan sekolah tidak sehat maka akan mengganggu proses belajar siswa, namun apabila lingkungan bersih dan nyaman, tentu akan menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Hal ini tentu perlu ditunjang oleh sarana dan prasarana yang baik sesuai dengan ketentuan sanitasi sekolah. Sanitasi sekolah di- harapkan menjadi langkah awal mewujudkan lingkungan belajar yang sehat.
Namun tidak semua sekolah di Indonesia sudah memperhatikan kesehatan lingkungan sekolah.
Buruknya fasilitas sanitasi di sekolah dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, seperti hilangnya waktu belajar dan menurunkan produktifitas siswa. Rendahnya kesadaran untuk menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah seperti tidak mengalokasikan dana untuk sarana dan prasarana operasional dan perawatan menjadi alasan terjadinya sistem sanitasi yang buruk. Kondisi jamban yang tidak terurus sehingga dapat men- jadi sumber penyebaran penyakit diare dan demam berdarah, kondisi kantin yang tidak bersih, dan tidak tersedianya wastafel untuk cuci tangan merupa-
kan contoh sistem sanitasi yang buruk. Dengan adanya tempat berkemban- gnya vektor penyakit seperti itu di sekolah, maka siswa menjadi rentan untuk terkena penyakit dan hal ini merugikan bagi siswa yang terpaksa absen dari sekolah akibat sakit.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan di tingkat glob- al, ketersediaan sanitasi sekolah yang memadai akan memberikan dampak yang besar pada beberapa indikator utama dalam pembangunan sektor kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, ekonomi, serta air dan sanitasi.
Pada sektor kesehatan, kegiatan sederhana, seperti mencuci tangan den- gan sabun dapat menurunkan risiko terkena penyakit diare hingga 47%.
Penyakit diare dapat terjadi karena keberadaan bakteri yang merugikan dalam makanan seperti bakteri Escherichia Coli. Keberadaan bakteri E.coli dalam makanan menunjukkan tingkat sanitasi makanan yang buruk. Faktor sanitasi makanan dapat meliputi bangunan, konstruksi dan lokasi tempat pengolahan makanan, bahan makanan, peralatan, tempat penyimpanan, penjamah makanan serta proses pengolahan sampai penyajian makanan.
Selain itu, penyakit diare juga dapat disebabkan karena faktor sanitasi dasar seperti sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat, tempat pembuangan tinja (toilet) yang tidak saniter, tempat pembuangan sampah yang buruk dan lain-lain.
Pembiasaan CTPS secara rutin dapat menurunkan angka ketidakhad- iran secara signifikan hingga 50%. Selain itu penyediaan air minum yang aman di sekolah dapat meningkatkan konsentrasi siswa dalam menangkap pelajaran dan secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas akademik mereka (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2017).
Sanitasi sekolah juga mendorong kesetaraan gender. Studi UNESCO menemukan bahwa secara global, 1 dari 5 anak perempuan yang berusia di atas sekolah dasar tidak melanjutkan sekolah ke jengjang pendidikan me- nengah, salah satunya akibat fasilitas sanitasi yang tidak layak disekolah.
Hal yang sama pula, 1 dari 6 siswa perempuan yang sedang menstruasi terpaksa tidak sekolah (membolos) karena sarana sanitasi di sekolah yang
Terdapat banyaknya Sekolah Dasar yang masih rendah indeks sanita- sinya di bandingkan jenjang pendidikan diatasnya. Selain itu jumlah siswa SD yang jumlahnya lebih banyak dari siswa sekolah menengah atas dan menengah pertama dapat menjadi tolak ukur betapa pentingnya memperha- tikan sanitasi SD. Selain itu usia siswa SD merupakan termasuk kelompok umur yang rentan terhadap gangguan kesehatan karena beberapa penyakit ditularkan melalui air, pembuangan tinja dan dapat dicegah dengan mencuci tangan pakai sabun.
Program sanitasi sekolah harus masuk ke dalam RKAS (Rencana Ke- giatan dan Anggaran Sekolah) antara lain dengan mengalokasikan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun alternatif sumber pendanaan lain untuk memastikan terselenggaranya sanitasi sekolah secara berkelan- jutan. Selain itu Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) termasuk kom- ponen penting terkait dengan rendahnya sarana sanitasi yang layak diseko- lah. Minimnya informasi mengenai cara mengelola kebersihan menstruasi secara baik dan benar, dan terbatasnya pengetahuan guru tentang MKM.
Perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian penting dalam mendukung Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
PPK adalah gerakan pendidikan dibawah tanggung jawab satuan pen- didikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi oleh hati , olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan perlibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari gerakan Nasional Revolusi Mental. Pelibatan peserta didik secara aktif akan mendorong peserta didik menjadi agen perubahan lingkungan sekolah.
Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat merupakan salah satu langkah strat- egis yang penting untuk mendukung ketercapaian akses sanitasi sekolah yang dapat dinikmati oleh semua peserta didik.
Sekolah yang melaksanakan program Trias UKS (Pendidikan Kese- hatan, Pelayanan Kesehatan, dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat), memiliki peran yang strategis untuk mengembangkan budaya perilaku hidup bersih dan sehat kepada peserta didik. Melalui Program Trias UKS, seti-
ap sekolah didorong untuk melaksanakan pemenuhan 3 komponen sanita- si, yaitu prasarana sanitasi, managemen berbasis sanitasi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan managemen sanitasi, sehingga sekolah dapat mengelola sarana prasarana sanitasi dan mengembangkan budaya PHBS sebagai bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter.
B. Infografis Sanitasi Sekolah
C. Infografis Sanitasi Sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Departemen kesehatan RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. http://
www.depkes.go.id.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2017. Peta Jalan Sa- nitasi Sekolah Dalam Kerangka UKS 2017. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebu- dayaan Tahun 2017.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, UNICEF Indo- nesia, GIZ Fit for School, SNV Indonesia. 2020. Profil Sanitasi Madra- sah 2020. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Profil sanitasi sekolah.
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2018. Pedoman Pengembangan Sanitasi Sekolah Dasar. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebu- dayaan Jakarta.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1429 tahun 2006.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009.
BAB 2 PENGERTIAN SANITASI
Azaria Fidela, Eka Heryani, Fathiah Izzati, Nabila Wahono Putri, Nazda Alqia Luthfiyyah
A. Pengertian Sanitasi
Sanitasi adalah penciptaan atau peliharaan kondisi yang mampu mencegahterjadinya kon- taminasi makana atau terjadinya penyakit yang disebabkan oleh makanan (Atmoko, 2017).
Sanitasi Lingkungan adalah status seha- tan suatu lingkungan yang mencakperumah- an, pembuangan kotoran, penyedian air bersih dan sebagainya (Sidhi, dkk, 2016).
Sanitasi adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masyarakat untuk mengontrol dan mengenda- likan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia (Chandra, 2005).
Hygiene dan sanitasi adalah pengawasan lingkungan fisik, biologi, so- sial, dan ekonomi yang memengaruhi kesehatan manusia, di mana lingkun- gan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Menurut Entjang, 2000).
Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang dapat mem- pengaruhi derajat kesehatan manusia (Mubarok, 2013).
Menurut DEPKES tahun 2004, sanitasi adalah suatu bentuk upaya kes- ehatan dengan cara memelihara serta melindungi kebersihan lingkungan dari subjeknya.
Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/
MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi.
Total Berbasis Masyarakat menjelaskan bahwa sanitasi total adalah kondisi ketika suatu komunitas tidak membuang air besar (BAB) sembaran- gan, mencuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dengan benar, dan mengelola limbah dengan aman.
Sanitasi adalah cara pega- wasan yang dilakukan oleh mas- yarakat khusus dalam bidang pen- gawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang berkemungkinan memiliki pengaruh dengan derajat kesehatan manusia (Dr.Azrul Azwar, MPH, 2000).
Sanitasi sering disebut dengan sanitasi lingkungan dan kesehatan lingkungan, sebagai suatu usaha pengendalian semua faktor yang ada pada lingkungan fisik manusia yang diperkirakan dapat menimbulkan hal yang menganggu perkembangan fisik, kesehatan ataupun kelangsungan hidup manusia (Adisasmoto, 2007).
Sanitasi lingkungan menurut WHO sanitasi lingkungan didefinisikan sebagai usaha mengendalikan dari semua faktor – faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin atau dapat menimbulkan hal – hal yang merugikan
bagi perkembangan fisik kesehatan dan daya tahan hidup manusia ( Daud, 2000).
Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan se- bagainya (Notoadmodjo, 2007).
“Kerapihan dan kebersihan bukanlah fungsi dari seberapa kaya atau miskinmu, tetapi mentalitas dan prinsip.” – Ikechukwu Izuakor
B. Manfaat Sanitasi Sekolah
1. Kesehatan
Sanitasi sekolah adalah langkah awal mewujudkan lingkungan belajar yang sehat. Pelaksanaan program sanitasi sekolah yang berkualitas mampu mencegah penyebaran penyakit. Cuci tangan pakai sabun dapat menurunk- an resiko terkena penyakit diare sebesar 30% pada murid sekolah yang mempraktekan mencuci tangan pakai sabun.
2. Pendidikan
Air, sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun dapat menurunkan angka ketidakhadiran secara sig- nifikan hingga 21-54%. Mengkonsumsi air minum di sekolah juga dapat meningkatkan konsentrasi dalam menyerap pelajaran disekolah. Kedua hal ini, cuci tangan pakai sabun dan penyediaan air minum disekolah secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar disekolah.
3. Kesetaraan Gender
Sanitasi sekolah yang layak mendorong kesetaraan jender. Anak per- empuan sangat rentan untuk tidak melanjutkan sekolah (putus sekolah), ter- utama mereka enggan bersekolah ketika tidak tersedian saran jamban dan
bahwa secara global, 1 dari 5 anak perempuan yang berusia diatas sekolah dasar putus sekolah, salah satunya akibat fasilitas sanitasi sekolah yang tidak layak disekolah.
4. Agen Perubahan
Sanitasi sekolah adalah salah satu jalur terbaik untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Keterlibatan komponen sekolah dengan mas- yarakat akan berdampak pada perubahan perilaku hidup bersih dan sehat oleh anggota masyarakat. Dengan kata lain, anak usia sekolah dasar dapat menjadi agen perubahan hidup bersih dan sehat di lingkungannya.
5. Hak Asasi Anak
Sanitasi sekolah adalah salah bagian dari pemenuhan hak anak di se- kolah. Pada 28 Juli 2010, melalui Resolusi 64/292, Sidang Umum Perser- ikatan Bangsa-Bangsa mengakui hak asasi manusia atas air dan sanitasi, termasuk di sekolah dan madrasah.
6. Kebersihan lingkungan menjadi keunggulan sekolah
Kita tahu, bahwa kebersihan lingkungan sekolah juga berdampak dan berpengaruh besar bagi siswa terlebih lagi bagi sekolah itu sendiri. Karena semua orang pasti menyelidiki situasi maupun keadaan sekolah sebelum menjadi siswa di sekolah tersebut. Jadi untuk menjaga nama baik sekolah serta keamanan di sekolah.
7. Kebersihan lingkungan mendorong semangat belajar siswa
Dalam setiap aspek dan perilaku siswa tentunya tampak dari ke- biasaannya setiap hari. Demikianlah dengan lingkungan kelas bahkan lingkungan sekolah sekalipun. Bila lingkungan sekolah maupun lingkungan kelas termasuk ruangan kelas bersih dan ditata sebaik-baiknya, maka mo- tivasi belajar yang ditimbulkan akan mengajak siswa-siswa untuk semangat
dalam mengikuti pembelajaran.
C. Tujuan Sanitasi Sekolah
Tujuan sanitasi sekolah yaitu untuk menjamin kebersihan lingkungan sekolah sehingga terwujud suatu kondisi yang sesuai dengan persyarakat kesehatan serta untuk mengembalikan, memperbaiki, dan mempertahankan siswa.
Dengan terwujudnya kondisi lingkungan sekolah yang memenuhi syarat kesehatan maka proses produksi akan semakin baik dan menghasil- kan produk yang sehat dan aman bagi siswa.
“Hijau dan bersih bukan hanya sebuah aspirasi tetapi sebuah tinda- kan.” – Christine Pelosi
“Kebersihan dan kerapihan bukanlah masalah naluri; itu adalah mas- alah pendidikan, dan seperti hal-hal besar lainnya, kamu harus menanam- kan rasa padanya.” – Benjamin Disraeti
D. Infografis Sanitasi Sekolah
E. Infografis Sanitasi
DAFTAR PUSTAKA
Atmoko Prasetyo Hadi, 2017. Jurnal Khasanah Ilmu. Peningkatan Higiene Sanitasi Sebagai Upaya Menjaga Kualitas Makanan Dan Kepuasan Pelanggan Di Rumah Makan Dhamar Palembang. AKPAR Yogyakarta.
Sidhi Alifia Nugrahani, Raharjo Mursid, dkk, 2016. Jurnal Kesehatan Mas- yarakat. Hubungan Kualitas Sanitasi Lingkungan Dan Bakteriologis Air Bersih Terhadap Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskes- mas Adiwerna Kabupaten Tegal.
Chandra, Budiman. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Entjang, Indan. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Mubarok, 2013. Potensi Limbah Tahu Sebagai Biogas. Jakarta : Sains.De- partemen Kesehatan RI. 2004. Sistem Kesehatan Nasional 2004. Ja- karta : Dirjen P2PL Kemenkes RI.
Kemenkes RI. 2008. Kepmenkes RI Nomor 852 Tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Lingkungan. Jakarta : Menteri Kesehatan RI.
Adisasmito, Wiku 2007, Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit. Ja- karta : PT. Raja Grafindo Persada.
Azwar, Azrul, 2000. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Muti- ara Sumber.
Daud K. Rustan, 2000. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan, Pendapatan dan Perilaku Masyarakat dan Kualitas Sanitasi Lingkungan Dipesisir Pantai Di Desa Khuwangnobotu Kecamatan Kabila Kabupaten Goron- talo. Progrma Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Skripsi. Yogjakarta:
Universitas Gajah Mada.
Notoadmojo, 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta.
BAB 3 RUANG LINGKUP SANITASI
Apri Utami Parta Santi, Lita Kusuma Astuti, Lydia Eliza, Mulia Putri Mutmainah, Muthia Addini R.W.M, Supriani, Yosa Adzkiya
A. Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan
Kesehatan lingkungan merupakan ilmu kesehatan masyarakat yang menitik beratkan usaha preventif dengan usaha perbaikan semua fak- tor lingkungan agar manusia terhindar dari penyakit dan gangguan kes- ehatan. Kesehatan lingkungan adalah karakteristik dari kondisi lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan. Untuk itu kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari enam usaha dasar kesehatan masyarakat. Istilah kesehatan lingkungan seringkali dikaitkan dengan istilah sanitasi/sanitasi lingkungan yang oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), menyebut- kan pengertian sanitasi lingkungan/kesehatan lingkungan adalah suatu us- aha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia, terutama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia (Kusnopu- tranto, 1986).
Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemeli- hara kesehatan. Menurut WHO, sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia, yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan, bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia.
Sedangkan menurut Chandra (2007), sanitasi adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau mas- yarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsun- gan hidup manusia.
Secara umum, sanitasi memiliki ruang lingkup yang meliputi beberapa hal, seperti menjamin lingkungan dan tempat kerja yang baik dan bersih, melindungi setiap individu dari berbagai faktor yang dapat mengganggu kes- ehatan fisik maupun mental, mencegah kecelakaan, mencegah timbulnya penyakit menular dan menjamin keselamatan kerja.
Ruang lingkup sanitasi dan kesehatan lingkungan meliputi:
a. Air Bersih
Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manu- sia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, men- cuci, dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO di negara- negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari.
b. Pengaruh Air Terhadap Kesehatan
Air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan merupakan media penularan penyakit karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan, terutama penyakit perut. Sementara itu, penyakit-pen- yakit yang berhubungan dengan air dapat dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan cara penularannya.
c. Pengertian Jamban
Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, sehingga ko- toran tersebut tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman.
d. Pemilahan Sampah
Pemilahan yaitu memisahkan menjadi kelompok sampah organik dan non organik dan ditempatkan dalam wadah yang berbeda. Pemilahan sampah menjadi sangat penting untuk mengetahui sampah yang dapat di- gunakan dan dimanfaatkan. Pemilahan sampah sebaiknya dilakukan sejak dari sumbernya, termasuk sampah rumah tangga.
e. Pengelolaan Sampah
Pengelolaan dengan menerapkan konsep 3 R yaitu :
1. Reuse (Penggunaan Kembali) yaitu menggunakan sampah- sampah tertentu yang masih memungkinakan utnuk dipakai (penggunaan kembali botol bekas).
2. Reduce (Pengurangan) yaitu berusaha mengurangi segala ses- uatu yang dapat meimbulkan sampah serta mengurangi sampah- sampah yang sudah ada.
3. Recycle (Daur Ulang) yaitu menggunakan sampah-sampah ter- tentu untuk diolah menjadi barang yang lebih berguna (Mendaur ulang sampah organic menadi kompos atau sampah anorganik menjadi aneka kerajinan).
f. Nilai Ekonomi Sampah
Pada dasarnya, sampah meerupakan sumber daya yang dapat diman- faatkan untuk berbagai keperluan. Artinya, sampah memiliki nilai ekonomi jika manusia dapat mengelolanya dengan cara atau metode yang tepat.
g. Higiene Sanitasi Makanan
Hygiene dan sanitasi makanan adalah suatu upaya untuk mengenda- likan faktor makanan, orang, tempat, dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin akan menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan (Depkes RI, 2003).
h. Pencemaran Udara
Pengendalian pencemaran udara dari sumber bergerak merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas udara baik kualitas Road Side maupuan kualitas Ambient. Gubernur KDKI Jakarta, No. 1222 men- genai Baku Mutu Emisi Kendaraan Bermotor di Wilayah DKI Jakarta dan baku tersebut telah disesuaikan melalui Surat Kepurutan Gubernur KDKI Jakarta No. 041/2000 sebagai dasar dalam pelaksanaan emisi dari sumber bergerak.
1. Uji Emisi bagi kendaraan umum/barang.
Dengan diterbitkannya UU No. 4 Tahum 1992 Tentang Lalu Lintas Angakutan Darat, dimana salah satu bagian kelaikan darat termasuk juga kelaikan emisi, maka prioritas pertama bagi seluruh kendaraan umum dan barang diwajibkan untuk melaksanakan uji emisi.
2. Uji Petik Kendaraan Bermotor
Sesuai dengan UU No. 14 Tahun 1992, kelaikan emisi tidak hanya untuk kendaraan umum/barang tetapi juga bagi kendaraan pribadi. Dalam upaya permayarakatan kewajiban tersebut, Pemda beberapa kota telah melakukan sosialisasi baku mutu emisi kendaraan bermotor melalui uji petik kendaraan bermotor. Tujuan utama dari kegiatan tersebut untuk menumbuhkan peng- etahuan masyarakat akan pentingnya emisi buang yang memenuhi syarat dari ekndaraan bermotor yang beroperasi.
Selain pengujian emisi untuk kendaraan pribadi, uji petik ini juga dilaku- kan untuk kendaraan umum dan barang. Uji petik pada periode 1999 dilak- sanakan pada 10.880 kendaraan terdiri dari kendaraan bahan bakar bensin 59,97%, bahan bakar solar 41,58%, dan gas 0.29%. Hasil pengukuran emisi terlihat bahwa berdasarkan jumlah kendaraan yang diuji 45,70% tidak me- menuhi Baku Mutu Emisi, dan 54,40% memenuhi BME.
i. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja adalah kondisi kesehatan bertujuan pekerja dapat memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial melalui pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit yang disebabkan pekerjaan dan lingkungan kerja. Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, Bab 1 pasal 2, keadaan sehat diar- tikan sebagai kesempurnaan keadaan jasmani, rohani dan kemasyarakatan.
j. Pengendalian Kebisingan
Sasaran pengendalian kebisingan adalah menyediakan lingkungan akustik yang dapat diterima di dalam maupun di luar bangunan, sehingga intensitas dan sifat semua bunyi di dalam atau sekitar suatu
bangunan tertentu akan cocok dengan keinginan penggunaan ruang tersebut. Bebass bising merupakan salah satu dari kualitas lingkungan yang paling berharga yang dapat dimiliki suatu gedung atau ruang eksterior de- wasa ini.
Pengendalian kebisingan yang efektif dalam bangunan sangat diper- lukan karena kebisingan dapat menyebebkan kerusakan telinga sementara maupun permanen, mengganggu dalam mendengarkan pembicaraan atau musik, menyebabkan kemunduran dalam penampilan kerja, menurunkan konsentrasi belajar, mengalihkan perhatian atau mengganggu.
Pengendalian kebisingan pada bbangunan fasilitas pendidikan mem- pertimbangkan :
1. Pemilihan tempat dan perencaraan tempat. Sebelum menentukan tem- pat atau lokasi bangunan akan didirikan harus dipertimbangkan bah- wa gedung-gedung yang membutuhkan lingkungan bunyi yang tenang (Sekolah, Rumah Sakit, Lembaga Penelitian) diletakkan pada tempat yang tenang, jauh dari jalan raya. Gedung yang tidak mudah dapat menerima bising dapat digunakan sebagai penahan bising dan dapat diletakkan diantara sumber bising dan daerah yang membutuhkan
ketenangan.
2. Perancangan akustik ruang dari ruang-ruang kelas, ruang kuliah, audi- torium, ruang olahraga, ruang musik, ruang pandangan dengar. Ran- cangan arsitektur yang baik dengan memperatikan kebutuhan akan pengendalian bunyi adalah pendekatan yang paling ekonomis da- lam mengendalikan bising yang efektif dalam bangunan. Ruang yang diperkirakan akan menghasilkan bising harus diisolasi secara horizon- tal dan vertical dair bagian tenang dari sisi bangunan. Sebagai cotoh auditorium jangan ditempatkan berdampigan dengan ruang peralatan mekanik.
Ruang- ruang yang tidak berlampau dapat menerima bising harus di- tempatkan sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai penghalan antara daerah yang bising dan daerah yang tenang, kepatuhan pada prinsip untuk memisahkan ruang yang bising dari ruang yang tenang pada tahap perencanaan akan mereduksi kebuthan bahan banfunan atau sistem penginsulasi bungi sampai suatu minimum, sehingga men- gurangi biaya bangunan.
3. Pengendalian bising eksterior dan interior dalam seluruh bangunan.
Pengendalian ini dapat dilakukan terhadap salah satu cara diantara sumber lebbisingan, media pengantar, dan manusia yang terkena dampak, atau pada ketiga hal tersebut.
B. Infografis Sanitasi Lingkungan
C. Infografis Sanitasi
DAFTAR PUSTAKA
Sujarwo, Widyaningsih, Tristanti(2014).Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik. Universitas Negeri Jogjakarta
Sakula, Avisena, Marsanti;Retno, Widiarini(2018). Prinsip Higiene Sanita- si Makanan.Sidoharjo;Uwais Inspirasi Indonesia
Ermavianti, Dwi ; Ani, Susilowati(2018). Sanitasi Hygiene Kecantikan.Yo- gyakarta : Andi
Roni, Pinontoan: Oksfriani, Jufri, Sumampouw (2019), Ngaglik: Deep- ublish
BAB 4
KOMPONEN SANITASI SEKOLAH
Azmi Al-Bahij, Aulia Nurul Fajariyah, Rani Eka Saputri Sarah Putri Zuhri, Tasya Afra Maulina , Zahra Nadyya Alfiyyah
Sekolah memiliki komoponen sanitasi yang lengkap, termasuk jam- ban terpisah antara laki-laki dan perempuan dengan air bersih yang terse- dia sepanjang waktu, fasilitas cuci tangan dengan air mengalir dan tersedia sabun, tempat sampah dan saluran pembuangan air kotor.
1. Air bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air bersih untuk Keperluan Higienitaas Sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian.
2. Jamban Sekolah
Jamban layak adalah jamban yang memenuhi standar kesehatan, ber- jenis kloset duduk/jongkok dengan saluran berbentuk leher angsa. Fasili- tas jamban yang layak adalah jamban yang terpisah menurut jenis kelamin, dapat diakses setiap waktu oleh peserta didik dan warga sekolah lainnya serta mudah dibersihkan. Penyediaan jamban mengacu pada Permendi- knas Nomor 24 Tahun 2007 dengan rasio jamban peserta didik laki-laki mini- mal 1:60 sementara rasio jamban peserta didik perempuan adalah 1:50. Jika
sekolah memiliki sumber daya untuk menyediakan jamban dapat mengacu pada Permenkes No. 1429 Tahun 2006 dengan rasio 1:40 untuk peserta didik laki-laki dan 1:25 untuk peserta didik perempuan. Jamban yang diba- ngun idealnya bersifat ramah anak dan mempertimbangkan warga sekolah terutama penyandang disabilitas.
3. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
Sarana cuci tangan merupakan kelengkapan untuk menjaga kebersi- han diri dan melatih kebiasaan cuci tangan pakai sabun dan air yang men- galir. Keberadaan sarana CPTS akan mempermudh pembiasaan CTPS di kalangan peserta didik demi mencegah kejadian diare, infeksi pernafasan, penyakit mata, dan infeksi kulit. Sarana yang perlu disiapkan sekolah ada- lah air bersih yang mengalir, sabun dan penampung atau saluran air limbah yang aman. Sarana CTPS yang disediakan idealnya berbanding dengan jumlah ruangan yang ada sesuai jumlah kelas. Khususnya di dekat kantin dan jamban, perlu disediakan saran CTPS.
Dengan adanya sarana CTPS dan pembiasaan cuci tangan peserta didik dapat terhindar dari berbagai penyakit seperti diare dan cacingan. Pe- serta didik perlu dibiasakan untuk menggunakan air sehemat mungkin untuk mematikan kran/aliran air saat sedang menyabuni tangan.
A. Sasarannya : Seluruh warga sekolah yaitu peserta didik, guru, staf sekolah, kepala sekolah, komite dan orangtua peserta didik mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir pada saat-saat penting.
B. Manfaatnya :
a. Mencegah penyakit diare sebesar 40%, dan infeksi saluran per- nafasan akut (ISPA) 30%.
b. Menurunkan angka ketidakhadiran secara signifikan 21-54%11 karena menurunnya angka kesakitan pada peseta didik.
c. Mendorong warga sekolah sebagai agen perubahan, melak-
sanakan CTPS baik disekolah maupun di rumah.
d. Membiasakan kegiatan CTPS secara berkelompok selaras den- gan PPK yang ingin ditanamkan oleh pihak sekolah yaitu budaya antri, mandiri, disiplin dan menanamkan jiwa kepemimpin pada peserta didik.
4. Pengolahan Limbah Cair
Aktivitas sanitasi warga sekolah akan menghasilkan buangan limbah cair yang pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahaya- kan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Untuk men- gurangi risiko kesehatan pada peserta didik sebaiknya sekolah memban- gun pengolahan limbah cair yang berfungsi mengurangi kandungan bahan pencemar di dalam cairan limbah.
Limbah cair terdiri dari black water dan gray water.
tinja dan urine. Sedangkan gray water adalah air buangan yang dihasil- kan dari limpasan air hujan, sisa CTPS, dan air cuci dari kantin. Sarana pen- golahan air perlu memenuhi sarana kesehatan agar tidak menimbulkan bau, menggganggu estetika, dan menjadi tempat bersarangnya vektor penyakit seperti nyamuk dan tikus. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan kebersi- han rutin pada saluran limbah maupun drainase.
5. Pengelohan Sampah
Menurut UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan manusia dan/atau proses alam yang ber- bentuk padat. Karena sifat, onsentrasi dan volumenya, diperlukan pengelo- laan khusus. Penanganan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, ti- kus, kecoak. Selain itu, dapat juga menyebabkan pencemaran tanah dan menimbulkan ganggun kenyamanan dan estetika. Kegiatan warga sekolah baik dari kelas, kantin, halaman sekolah serta kamar mandi atau toilet tentu akan menghasilkan sampah. Sampah yang dihasilkan oleh warga sekolah
terdiri dari:
a. Sampah Organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup sepert tumbuhan dan hewan dan berbagai macam olahan yang kemu- dian dibuang yang dapat mengalami pelapukan dan dapat terurai. Con- tohnya, sampah dedaunan/ranting pohon, sisa makanan, dan lain-lain.
b. Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari berbagai ma- cam proses yang tidak dapat terurai secara alami oleh bakteri, dan membutuhkan waktu yang lama dalam penguraiannya. Contohnya sampah plastic, kaca, kaleng bekas, dan lain-lain.
6. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
PHBS merupakan implementasi pendidikan karakter yang terait den- gan nilai karakter peduli lingkungan. PHBS akan berhasil dicapai melalui pendidikan berkelanjutan dan keteladanan dari kepala sekolah dan guru-gu- ru bagi warga sekolah untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong diri sendiri (mandi- ri) dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Dalam perilaku ini, mereka secara sadar berupaya mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya secara aktif menjaga kesehatan se- kolah. Sasaran seluruh warga sekolah yaitu peserta didik, guru, staf sekolah, kepala sekolah, komite dan orang tua peserta didik terbiasa menggunakan jamban untuk keperluan BAB dan BAK.
7. Makanan dan jajanan sehat, bergizi dan higienis
Asupan makanan yang seimbang dan cukup akan menjamin tubuh menjadi sehat, sehingga dapat menunjang aktivitas di sekolah. Warga se- kolah biasanya membeli atau mengkonsumsi makanan yang bersih, higienis dan tertutup dikantin sekolah. Makanan yang ada di kantin sekolah haruslah
makanan yang bergizi, bersih, tidak mengandung bahan berbahaya serta penggunaan air yang telah dimasak untuk kebutuhan minum.
A. Sasarannya: Seluruh warga sekolah yaitu peserta didik, guru, staf se- kolah, kepala sekolah, komite dan orangtua peserta didik serta peda- gang makanan dan minuman sekitar sekolah.
B. Manfaatnya:
a) Peserta didik memiliki pengetahuan dan memilih makanan dan minuman yang sehat dan higienis.
b) Guru memiliki pengetahuan dan memilih makanan dan minuman yang sehat dan higienis, menginformasikan aturan sekolah ke- pada pedagang di sekitar sekolah terkait makanan dan minuman yang sehat dan higienis.
c) Kesadaran orangtua agar membawakan anak suatu bekal atau cemilan sehat ke sekolah baik sehingga peserta didik tidak jajan sembarangan.
d) Penjual makanan di kantin serta di sekitar sekolah megolah, menyediakan, menyimpan makanan dan minuman yang sehat dan higienis.
8. Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM)
ManajemEn Kebersihan Menstruasi (MKM) adalah pengelolaan ke- bersihan dan kesehatan pada saat anak perempuan mengalami menstruasi.
Peserta didik perempuan harus dapat menggunakan pembalut yang bersih, dapat diganti sering mungkin selama periode menstruasi dan memiliki akses untuk pembuangannya serta dapat mengakses jamban, Sabun dan air un- tuk membersihkan diri dari kondisi nyaman dan privasi yang terjaga. Dalam lingkungan sekolah, para peserta didik perempuan seharusnya dapat men- gakses fasilitas sanitasi di waktu-waktu tertentu dengan seijin guru kelas.
Sasarannya : Seluruh warga sekolah yaitu peserta didik, guru, staf se- kolah, kepala sekolah, komite dan orangtua peserta didik serta tim pelaksa-
na Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
9. Manajemen sanitasi di sekolah
Menejemen sanitasi sekolah merupakan upaya seluruh sekolah dalam memenuhi tiga aspek penting dalam sanitasi sekolah, yaitu ketersediaan sa- rana dan prasarana sanitasi, pembiasaan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan dukungan alokasi dana untuk upaya sanitasi sekolah. Manaje- men sanitasi sekolah memastikan sekolah mengalokasikan anggaran BOS untuk biaya perwatan, pemeliharaan
serta kegiatan sanitasi sekolah. Keberhasilan program sanitasi sekolah memerlukan dukungan seluruh komponen warga sekolah dan peran serta masyarakat dalam mengidentifikasi kebutuhan dan cara memenuhi kebutu- han tersebut. Untuk mencapai hal ini, program sanitasi sekolah dimasukan dalam dokumen RKAS yang berisi rencana program pengembangan seko- lah satu tahun ke depan yang disusun berdasarkan Rencana Kerja Sekolah (RKS).
Sumber pendanaan yang diperlukan dalam mengelola sanitasi sekolah dapat berasal dari Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) pusat, BOS daerah, dan sumber peranaan lainnya seperti kontribusi Alumni,Corporate Social Responsibility (CSR), dan peran serta masyarakat (PSM). Menurut permen- dikbud no.1/2018, terdapat 10 komponen pembiayaan BOS pada SD. Apa- bila 10 komponen tersebut sudah terpenuhi pembiayaan dan masih terdapat kelebihan BOS,BOS dapatd gunakan untuk keperluan lain seperti pemban- guan jamban/ WC beserta sanitasinya, dan atau kantin sehat, hanya bagi sekolah yang belum memiliki prasarana tersebut. Keputusan penggunaan dana ini harus di putuskan melalui rapat bersama dewan guru dan komite sekolah sesuai dengan peraturan yang berlaku di daerah masing-masing.
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menejemen Sanitasi Se- kolah :
a) Peran dan Tanggung Jawab
Pembagian peran dan tanggung jawab dari para pemangku kepentin- gan sanitasi sekolah perlu dilakukan untuk memastikan implementasi sani- tasi sekolah berjalan dengan lancar. Berikut peran dan tanggung jawab yang perlu diperhatikan :
b) Komunikasi dan koordinasi
Keberhasilan program sanitasi sekolah juga bergantung kepada komu- nikasi dan koordinasi dengan pihak terkait, diantaranya dinas pendidikan, kantor kementrian agama, sekertaritan daerah,bappeda, dinas kesehatan, BPOM, Dinas cipta karya, dinas lingkungan hidup,serta mitra potensial lain- nya.
c) Patisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat
Pentingnya memastikan seluruh warga sekolah untuk terlibat aktif da- lam identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, dan mentoring pro- gram sanitasi sekolah.peserta didik dilibatkan untuk merawat fasilitas sani- tasi sekolah sebagai tanggung jawab bersama. Permendikbud No.75 Tahun 2016 mengatur tentang tugas pokok dan fungsi komite sekolah yang menja- di dasar partisipasi komite sekolah dalam pengembangan program sanitasi.
10. Infograsis komponen sanitasi sekolah
11. Infografis Sanitasi Lingkungan Sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Kepmenkes RI. 2006. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429.MENKES/SK/XII/2006 Tentang Pedoman Peyelengga- raan Kesehatan Lingkungan Sekolah. Jakarta.
Permendiknas No. 24 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Permendikbud No. 1 Tahun 2018 Tentang Petun- juk Teknis Bantuan Operasional Sekolah.
Permendikbud No. 75 Tahun 2016 Tentang Komite Sekolah.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Penge- lolaan Sampah.
BAB 5 KOMPONEN FASILITAS
SANITASI SEKOLAH
Hade Imam Khairul Anam, Raihan Nur Rabbani, Musyaffa Luthfi
A. Sarana Sanitasi Air
Sarana sanitasi air adalah bangunan beserta peralatan dan perlengka- pannya yang menghasilkan, menyediakan dan membagi-bagikan air bersih untuk masyarakat.
1. Pengertian Air Bersih
Air merupakan salah satu bahan pokok yang mutlak dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Air mempunyai hubungan yang erat dengan kes- ehatan. Apabila tidak diperhatikan maka air yang dipergunakan masyarakat dapat mengganggu kesehatan manusia. untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegia- tan manusia, baik limbah dari kegiatan industri dan kegiatan lainnya (Ward- hana, 2004).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/MenKes/Per/
IX/1990, yang di maksud air bersih adalah air bersih yang digunakan un- tuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah di masak.
Jenis sarana air bersih ada beberapa macam yaitu PAM, sumur gali, sumur pompa tangan dangkal dan sumur pompa tangan dalam , tempat penampungan air hujan, penampungan mata air, dan perpipaan. Sirkulasi air, pemanfaatan air, serta sifat-sifat air memungkinkan terjadinya pengaruh air terhadap kesehatan. Secara khusus, pengaruh air terhadap kesehatan dapat bersifat langsung maupun tidak langsung (Slamet, 2002).
2. Syarat Air Bersih
Pemenuhan kebutuhan akan air bersih haruslah memenuhi dua syarat yaitu kuantitas dan kualitas.
a. Syarat Kuantitatif
Syarat kuantitatif adalah jumlah air yang dibutuhkan setiap hari tergantung kepada aktifitas dan tingkat kebutuhan. Makin ban- yak aktifitas yang dilakukan maka kebutuhan air akan semakin besar. Secara kuantitas di Indonesia diperkirakan dibutuhkan air sebanyak 138,5 liter/orang/hari dengan perincian yaitu untuk mandi, cuci kakus 12 liter, minum 2 liter, cuci pakaian 10,7 li- ter, kebersihan rumah 31,4 liter, taman 11,8 liter, cuci kendaraan 21,8 liter, wudhu 16,2 liter, lainlain 33,3 liter (Slamet, 2007).
b. Syarat Kualitatif
Syarat kualitas meliputi parameter fisik, kimia, radioaktivitas, dan mikrobiologis yang memenuhi syarat kesehatan menurut Pera- turan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air (Slamet, 2007).
3. Fasilitas Air Bersih dan Pemanfaatannya
Fasilitas air bersih adalah penyediaan yang menghasilkan air bersih untuk menunjang kesehatan manusia agar terhindar dari kuman dan penya- kit, contohnya :
Gambar 1 Tempat cuci tangan di lingkungan SDN Lebak Bulus 07 Pagi (sumber: dokumentasi pribadi)
Tempat cuci tangan
Sarana tempat cuci tangan adalah sarana yang menyediakan air untuk kegiatan mencuci tangan. Adapun syarat – syarat yang harus dipenuhi pada sarana tempat cuci tangan :
a) Menggunakan sistim air mengalir, artinya air bekas tidak terpakai lagi.
b) Air bekas dibuang ke saluran pembuangan air limbah c) Dilengkapi dengan sabun
d) Dilengkapi dengan kain lap
e) Mudah digunakan dan dalam keadan bersih.
Untuk sekolah kuantitas tempat cuci tangan adalah sebuah tempat cuci tan- gan untuk 50 murid.
B. Pembuangan Air Limbah
Air limbah atau air kotoran adalah air yang tidak bersih dan mengand- ung berbagai zat yang bersifat membahayakan kehidupan manusia atau hewan dan lazimnya muncul karena hasil perbuatan manusia termasuk in- dustrialisasi (Azwar,1995).
Persyaratan kesehatan sarana pembuangan air limbah (SPAL) adalah sebagai berikut (Irdianty, 2011: 20):
1) Tidak mencemari air tanah.
2) Tidak menimbulkan sarang nyamuk dan jalan tikus.
3) Tidak menimbulkan kecelakaan.
4) Tidak menimbulkan bau dan gangguan
Sarana pembuangan air limbah yang sehat harus memenuhi pers- yaratan teknis sebagai berikut (DepKes RI, 1993) :
1) Tidak mencemari sumber air bersih
2) Tidak menimbulkan genangan air yang menjadi sarang serangga/
nyamuk
3) Tidak menimbulkan bau
4) Tidak menimbulkan becek, kelembaban dan pandangan yang tidak menyenangkan.
C. Pembuangan Kotoran Manusia (Jamban)
Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja (faces), air seni (urine) dan CO2 sebagai hasil dari proses pernafasan.
Pembuangan Kotoran manusia dalam ilmu kesehatan lingkungan di- maksudkan hanya tempat pembuangan tinja dan urine, pada umumnya disebut latrine, jamban atau kakus (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Permen 24 (2007: 14) tentang SNP Sarana Prasarana men- jelaskan: “Standar jamban SD/MI sebagai berikut:
1) Jamban berfungsi sebagai tempat buang air besar dan kecil.
2) Minimum terdapat 1 unit jamban untuk setiap 60 peserta didik pria, 1 unit jamban untuk setiap 50 peserta didik wanita, dan 1 unit jamban untuk guru. Jumlah minimum jamban setiap sekolah/madrasah 3 unit.
3) Luas minimum 1 unit jamban 2 meter persegi.
4) Jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersih- kan.
5) Tersedia air bersih di setiap unit jamban.
Dalam KEPMENKES RI No.1429 tahun 2006, tentang pedoman penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah, toilet/urinoir sangat pent- ing diperhatikan, dan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1) Letak toilet harus terpisah dari ruang kelas,ruang UKS,ruang guru,per- pustakaan
2) Tersedia toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan
3) Proporsi jumlah wc/urinoir adalah 1 wc/urinoir untuk 40 siswa dan 1 wc/
urinoir untuk 25 siswi
4) Toilet harus dalam keadaan bersih 5) Lantai toilet tidak ada genangan air
6) Tersedia lubang penghawaan yang langsung berhubungan dengan udara luar.
7) Bak penampung air harus tidak menjadi perindukan nyamuk.
D. Pengelolaan Sampah
Para ahli kesehatan masyarakat menyebutkan sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi ataupun sesuatu yang
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendi- rinya (Notoatmodjo, 2003).
Sarana Pembuangan Sampah Berdasarkan Keputusan Menteri Kes- ehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah menjelaskan:
“Standar sarana pembuangan adalah sebagai berikut:
1) Di setiap ruangan harus tersedia tempat sampah yang dilengkapi den- gan tutup.
2) Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara (TPS) dari seluruh ruangan untuk memudahkan pengangkutan atau pemusnahan.
3) Peletakkan tempat pembuangan/ pengumpulan sampah sementara dengan ruang kelas berjarak minimal 10 m.”
1. Penyimpanan Sampah
Penyimpanan sampah adalah tempat sampah sementara sebelum sampah tersebut dikumpulkan, untuk kemudian diangkut serta dibuang (di- musnakan) dan untuk itu perlu disediakan tempat yang berbeda untuk ma- cam dan jenis sampah tertentu. Maksud dari pemisahan dan penyimpanan disini ialah untuk memudahkan pemusnahannya.
Pengelolaan sampah adalah meliputi penyimpanan, pengumpulan dan pemusnahan sampah yang dilakukan
sedemikian rupa sehingga sampah tidak mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup (Notoat-
modjo, 2003).
Gambar 2 Beberapa tempat sampah dengan kategori dan warna di SDN Lebak Bulus 07 Pagi (sumber: dokumentasi pribadi)
Pada gambar 2 di atas dapat diketahui bahwa penerapan warna pada penutup tempat sampah menunjukkan kategori jenis sampah, yakni: war- na merah untuk sampah kertas, warna kuning untuk sampah botol, plastik, cup, dan warna hijau untuk sampah organik. Pemberian warna pada tempat sampah dilakukan bukan tanpa alasan atau sekedar sebagai elemen estetis semata, melainkan sebagai bahasa visual untuk memperkuat makna pada objek (tempat sampah).
2. Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah menjadi tanggung jawab dari masing-masing institusi yang menghasilkan sampah. oleh sebab itu setiap institusi harus mengadakan tempat khusus untuk mengumpulkan sampah, kemudian dari masing-masing tempat pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan selanjutnya ke Tempat Penam- pungan Akhir (TPA).
3. Pemusnahan Sampah
Pemusnahan atau pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui berb- agai cara, antara lain :
a. Ditanam (landfill) yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang diatas tanah kemudian sampah dimasukan dan ditimbun dengan sampah.
b. Dibakar (incenarator) yaitu memusnahkan sampah dengan jalan mem- bakar di dalam tengku pembakaran.
c. Dijadikan pupuk (composting) yaitu pengelolaan sampah menjadikan pupuk, khususnya untuk sampah organik daundaunan, sisa makanan dan sampah lain yang dapat membusuk.
E. DATA PENELITIAN
Berikut persentase per indikator dari sub variabel kondisi sanitasi di tiga SD Negeri di daerah Tangerang Selatan. Pengambilan data dilakukan di tiga Sekolah Dasar Negeri di daerah Tangerang
Selatan yaitu SDN Ciputat 04, SDN Pondok Betung 1 dan SDN Perigi 01. Penelitian dilakukan bulan Juli-Agustus 2017.
Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari ke- tiga sekolah 93,3 % sumber air bersih sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kondisi jamban 83,3 % telah memenuhi standar. Dari kondisi
SPAL, 92,9 % sesuai standar, cuci tangan 80% sudah memenuhi standar dan dari sarana pembuangan sampah 88,9 %. Dari hasil observasi setiap sekolah memiliki kriteria yang harus diperbaiki, dipelihara dan dimanfaatkan secara maksimal (Santi, A. U. P., & al Bahiij, A, 2018).
F. Infografis Sanitasi Sekolah
G. Infografis Sanitasi Sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Azwar. (1995). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pus- taka Pelajar Offset.
Depkes RI. 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 15/
Menkes/ SK/V/2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Jasaboga.
(http://dinkes.sulsel.go.id/new/images/pdf/Peraturan/kmk%20pers- yaratan%20hygiene%20 jasaboga%20715-2003.pdf).Diakses 15 April 2012.
Irdianty,E. (2011). Studi Deskriptif Sanitasi Dasar di Tempat Pelelangan Ikan Lempasing Teluk Betung Bandar Lampung. Skripsi. Universitas Indo- nesia.
_______. (2006). Keputusan Menteri Kesehatan RI No 1429/MENKES/SK/
XII/2006: Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah. Jakarta: Departemen Kesehatan
Menteri Pendidikan Nasional. (2007). Permendiknas No 24 tentang Standar Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah Pendidikan Umum. Jakarta:
Depdiknas
Notoatmodjo, S., 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Cetakan Pertama, Ja- karta: Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/ IX/1990
tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
Santi, A. U. P., & al Bahiij, A. (2018). Kondisi Sanitasi di Tiga Sekolah Dasar Negeri di Daerah Tangerang Selatan. Jurnal Holistika, 2(1).
Slamet, 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Slamet. 2007. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajahmada University Press
Wardhana, A. W. (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan Ce-
takan Keempat. Yogyakarta: Andi.
BAB 6 STANDAR SANITASI
Afia Fitriani, Diah Adha.N, Nafisah Munjidah, Nisya Fakhira, Zarfa Rizqi.R
Pengertian umum lingkungan sekolah adalah salah satu kesatuan da- lam lingkungan fisik, mental dan sosial dari sekolah yang memenuhi syarat- syarat kesehatan sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar den- gan baik dan menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan murid secara optimal. Faktor lingkungan sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mengajar, juga kesehatan warga sekolah. sesuai dengan SDGS, in- dikator dalam sarana dan prasarana meliputi : akses pada sumber air bersih yang layak dan tersedia sepanjang waktu, akses pada fasilitas sanitasi dasar yang layak dan terpisah dan, akses terhadap fasilitas CTPS dengan air mengalir.
Adapun komponen sarana dan prasarana sanitasi sekolah yang diba- hasa dalam pedoman: air bersih, jamban sekolah, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan limbah cair, pengelolaan sampah. Mengenai standar dari san- itasi, Adapun standar sanitasi menurut komponen yang disebutkan diatas :
1. Standar Air Bersih
a. Sekolah memiliki jumlah ketersediaan air yang cukup di setiap unit jamban dan sarana cuci tangan. Idealnya ketersediaan air adalah 10 liter/orang/hari.
b. Tersedia tempat air dalam jamban untuk menampung air bersih dan mudah dibersihkan supaya tidak menjadi tempat berkem-
bang-biaknya jentik nyamuk atau hewan pembawa penyakit lain- nya.
c. Secara kualitas dan fisik air tidak berwarna, tidak berbau, dan ti- dak berasa serta tidak mengandung racun dan logam berat. Jika air tidak memenuhi syarat tersebut, gunakan alat ilustrasi atau penyaringan untuk menyaring air.
d. Air mudah untuk dijangkau dan didapatkan oleh semua warga sekolah pada saat kegiatan sekolah berlangsung.
e. Jarak sumber air dan instalasi pembuangan air limbah ( PAL ) atau tangka seplik minimal 10 meter.
2. Standar Jamban Sekolah
a. Luas minimum satu unit jamban disarankan sebesar 2 meter persegi.
b. Jamban peserta didik antara perempuan dan laki-laki harus terp- isah.
c. Aktivitas penggunaan jamban tidak mudah terlihat dan terdengar dari luar.
d. Jamban dilengkapi dengan pintu bermutu baik yang dapat di- kunci dan dibuka untuk keamanan dan keselamatan pengguna jamban.
e. Lokasi jamban tidak jauh dan dapat dipantau dengan mudah.
f. Jamban harus dalam keadaan bersih sebelum dan setelah digu- nakan.
g. Menjaga kebersihan jamban dengan mengatur jadwal piket, baik peserta didik maupun guru, dan staf sekolah lainnya.
h. Ruangan jamban mempunyai pencahayaan yang memadai dan ventilasi untuk pertukaran udara. Apabila tidak ada listrik, Seba- gian atap jamban dapat menggunakan fiber glass atau plastic kaca di atap sehingga jamban tidak gelap.
i. Tersedianya air bersih, sabun, tempat sampah tertutup, cermin, gantungan baju, tempat cuci tangan, wadah penampungan air dan gayung di setiap unit jamban, terutama di jamban untuk pe- serta didik.
j. Sekolah memastikan jamban dapat diakses pesrta didik berke- butuhan khusus, apabila sekolah menerima peserta didik pen- yandang disabilitas. Sebagaimana yang diatur dalam PERMEN- DIKNAS No.70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan potensi kecerdasan dan atu akut istimewa.
k. Limbah cair dari jamban tidak langsung dibuang ke lingkungan sekolah, namun diolah terlebih dahulu melalui instalasi pem- buangan air limbah ( PAL ) atau tangki septic.
l. Jarak sumber air dan instalasi pembuangan air limbah ( PAL ) atau tangka seplik minimal 10 meter.
m. Kontruksi bangunan sesuai dengan ukuran kemiringan untuk menghindari genangan dan material konstruksi dipilih yang berkualitas.
3. Standar pengelolaan sampah
a. Tersedia tempat sampah terpilah dan tertutup di setiap ruangan dan tempat umum lainnya (halaman sekolah,kantin,dll).
b. Tempat sampah tertutup di jamban khusus perempuan untuk membuang pembalut bekas pakai.
c. Sampah harus dipalah sebelum diangkut: sampah dipilah keda- lam sampah organic atau anorganik. Sampah organic dapat di- jadikan komposter sementara sampah anorganik diolah secara komperhensif.
d. Di setiap ruang kelas harus terdapat tempat sampah.
e. Di sekolah tersedia tempat pmbuangan sampah sementara (TPS).
f. Sekolah perlu berkerjasama dengan dinas atau mitra terkait un- tuk pengangkutan dan pengelolaan sampah.
Kondisi dari komponen lingkungan sekolah tertentu dapat menye- babkan timbulnya masalah kesehatan. Faktor resiko lingkungan sekolah tersebut antara lain kondisi atap, dinding, lantai, dan as- pek lainnya sebagai berikut :
1. Kondisi Atap dan Talang
Atap dan talang yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan tikus. Kondisi ini men- dukung terjadinya penyebaran dan penularan penyakit demam berdarah dan leptospirosis.
2. Kondisi Dinding
Dinding yang tidak bersih dan berdebu selain mengurangi esteti- ka juga berpotensi merangsang timbulnya gangguan pernafasan seperti asthma atau penyakit saluran pernafasan.
3. Kondisi Lantai
Dinding yang tidak rata, licin dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, sedangkan lantai yang kotor dapat mengurangi kenyamanan dan estetika. Lantai yang tidak kedap air dapat menyebabkankelembaban. Kondisi ini mengakibatkan dapat berkembang biaknya bakteri dan jamur yang dapat meningkat- kan resiko penularan penyakit seperti TBC, ISPA dan lainnya.
4. Kondisi Tangga
Tangga yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti kemir- ingan, lebar anak tangga, pegangan tangga berpotensi menim- bulkan kecelakaan bagi peserta didik. Tangga yang memenuhi syarat adalah lebar injakan > 30 cm, tinggi anak tangga maksi- mal 20 cm, lebar tangga > 150 cm serta mempunyai pegangan tangan.
5. Pencahayaan
Pencahayaan alami di ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan mendukung berkembang biaknya organisme seper- ti bakteri dan jamur. Kondisi ini berpotensi menimbulkan gang- guan terhadap kesehatan. Selain itu pencahayaan yang kurang menyebabkan ruang menjadi gelap sehingga disenangi oleh nyamuk untuk beristirahat (rasting habit).
6. Ventilasi
Ventilasi di ruangan yang tidak memenuhi persyaratan keseha- tan menyebabkan proses pertukaran udara tidak lancar, seh- ingga menjadi pengap dan lembab, Kondisi ini mengakibatkan berkembang biaknya bakteri, virus dan jamur yang berpotensi menimbulkan gangguan penyakit seperti TBC, ISPA, cacar dan lainnya.
7. Kepadatan Kelas
Perbandingan jumlah peserta didik dengan luas ruang kelas yang tidak memenuhi syarat kesehatan menyebabkan menurun- nya prosentase ketersediaan oksigen yang dibutuhkan oleh pe- serta didik. Hal ini akan menimbulkan rasa kantuk, menurunkan konsentrasi belajar dan resiko penularan penyakit. Perbandin- gan ideal adalah 1 orang menempati luas ruangan 1,75 M2.
A. Jarak Papan Tulis
Jarak papan tulis dengan murid terdepan 9 meter akan menyebabkan gangguan konsentrasi belajar.
B. Ketersediaan Tempat Cuci Tangan
Tangan yang kotor berpotensi menularkan penyakit. Kebiasaan cuci tangan dengan sabun mampu menurunkan kejadian penyakit diare 30%.
Tersedianya tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun bertujuan untuk menjaga diri dan melatih kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebe- lum makan atau sesudah buang air besar merupakan salah satu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berdasarkan ketentuan Departemen Kes- ehatan maka setiap 2 (dua) ruang kelas harus terdapat satu wastafel yang terletak di luar ruangan.
C. Kebisingan
Kebisingan adalah suara yang tidak disukai, bisa berasal dari luar se- kolah maupun dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri, suara bising dapat menimbulkan gangguan komunikasi sehingga mengurangi konsentrasi bela- jar dan dapat menimbulkan stress.
D. Air Bersih
Ketersediaan air bersih baik secara kualitas maupun kuantitas muklak diperlukan untuk menjaga hygiene dan sanitasi perorangan maupun lingkun- gan. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara lain diare, kholera, hepatitis, penyakit kulit, mata dan lainnya. Idealnya ketersediaan air adalah 15 liter/orang/hari.
E. Toilet ( Kamar Mandi, WC dan Urinoir)
Bak penampungan air dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, demikian juga kamar mandi yang pencahayaannya kurang me- menuhi syarat kesehatan akan menjadi tempat bersarang dan beristirahat- nya nyamuk.WC dan urinoir : Tinja dan urine merupakan sumber penularan penyakit perut (diare, cacingan, hepatitis ). Penyakit ini ditularkan melalui air, tangan, makanan dan lalat. Untuk perlu diperhatikan ketersediaan WC dalam hal jumlahnya. Perbandingannya adalah : 1 WC untuk 25 siswi dan 1 WC untuk 40 siswa.
F. Pengelolaan Sampah
Penanganan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, tikus, ke- coak. Selain itu dapat juga menyebabkanpencemaran tanah dan menimbul- kan gangguan kenyamanan dan estetika. Untuk itu disetiap ruang kelas ha- rus terdapat 1 buah tempat sampah dan di sekolah tersebut harus tersedia