53 BAB III GAMBARAN UMUM
3.1. Gambaran Umum Kota Bandarlampung
Kota Bandarlampung merupakan Ibu Kota di Provinsi Lampung. Pada bagian ini akan dibahas mengenai karakteristik fisik dan alam, masyarakat, dan pariwisata Kota Bandarlampung.
3.1.1. Karakteristik Geografis
Berdasarkan dokumen Kota Bandarlampung Dalam Angka 2018, secara geografis Kota Bandarlampung terletak pada 5o 20’sampai dengan 5o 30’lintang selatan dan 105o 28’ sampai dengan 105o 37’ bujur timur. Ibukota propinsi Lampung ini berada di Teluk Lampung yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera. Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah 197,22 Km2 yang terdiri dari 20 kecamatan dan 126 kelurahan. Secara administratif Kota Bandarlampung dibatasi oleh:
• Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Natar (Kabupaten Lampung Selatan).
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Cermin (Kabupaten Pesawaran) dan Katibung (Kabupaten Lampung Selatan) serta Teluk Lampung.
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin (Kabupaten Pesawaran).
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Bintang (Kabupaten Lampung Selatan).
Secara geografi, Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah 197,22 km2 yang terdiri dari 20 kecamatan , yaitu:
Tabel III. 1 Luas Wilayah Kecamatan di Kota Bandarlampung
No.
Kecamatan Luas Wilayah
Jumlah Desa/Kelurahan Km2
1. Teluk Betung Barat 11,02 5
2. Teluk Betung Timur 14,83 6
3. Teluk Betung Selatan 3,79 6
4. Bumi Waras 3,75 5
5. Panjang 15,75 8
6. Tanjung Karang Timur 2,03 5
7. Kedamaian 8,21 7
8. Teluk Betung Utara 4,33 6
9. Tanjung Karang Pusat 4,05 7
10. Enggal 3,49 6
11. Tanjung Karang Barat 14,99 7
12. Kemiling 24,24 9
13. Langkapura 6,12 5
14. Kedaton 4,79 7
15. Rajabasa 13,53 7
16. Tanjung Senang 10,63 5
17. Labuhan Ratu 7,97 6
18. Sukarame 14,75 6
19. Sukabumi 23,60 7
20. Way Halim 5,35 6
Jumlah 197,22 126
Sumber: (Kota Bandarlampung Dalam Angka, 2018)
Dari tabel diatas padat kita ketetahui luas Kecamatan Rajabasa 13,53 Km2 dengan jumlah kelurahan 7 kelurahan. Dibawah ini merupakan peta administrasi Kota Bandarlampung.
Sumber: Pengolohan Data ArcGis, 2020
Gambar 3. 2 Peta Administrasi Kota Bandarlampung
3.1.2. Karakteristik Topografi
Dalam dokumen Kota Bandarlampung Dalam Angka 2018, Kota Bandarlampung terletak pada ketinggian 0 sampai 700 meter diatas permukaan laut dengan topografi yang terdiri dari:
1. Daerah pantai yaitu sekitar Teluk Betung bagian selatan dan Panjang.
2. Daerah perbukitan yaitu sekitar Teluk Betung bagian utara.
3. Daerah dataran tinggi serta sedikit bergelombang terdapat di sekitar Tanjung Karang bagian Barat yang dipengaruhi oleh gunung Balau serta perbukitan Batu Serampok dibagian Timur Selatan.
4. Teluk Lampung dan pulau-pulau kecil bagian Selatan.
Ditengah-tengah kota mengalir beberapa sungai seperti sungai Way Halim, Way Balau, Way Awi, Way Simpur diwilayah Tanjung Karang, dan Way Kuripan, Way Balau, Way Kupang, Way Garuntang, Way Kuwala mengalir di wilayah Teluk betung. Daerah hulu sungai berada dibagian barat, daerah hilir sungai berada di sebelah selatan yaitu di wilayah pantai. Luas wilayah yang datar hingga landai meliputi 60 persen total wilayah, landai hingga miring meliputi 35 persen total wilayah, dan sangat miring hingga curam meliputi 4 persen total wilayah.
Sebagian wilayah Kota Bandarlampung merupakan perbukitan, yang diantaranya yaitu: Gunung Kunyit, Gunung Mastur, Gunung Bakung, Gunung Sulah, Gunung Celigi, Gunung Perahu, Gunung Cerepung, Gunung Sari, Gunung Palu, Gunung Depok, Gunung Kucing, Gunung Banten, Gunung Sukajawa, Bukit Serampok, Jaha dan Lereng, Bukit Asam, Bukit Pidada, Bukit Balau, gugusan Bukit Hatta, Bukit Cepagoh, Bukit Kaliawi, Bukit Palapa I, Bukit Palapa II, Bukit Pasir Gintung, Bukit Kaki Gunung Betung, Bukit Sukadana ham, Bukit Susunan Baru, Bukit Sukamenanti, Bukit Kelutum, Bukit Randu, Bukit Langgar, Bukit Camang Timur dan Bukit Camang Barat.
Sumber: BAPPEDA Kota Bandarlampung, 2015.
Gambar 3. 3 Peta Topografi Kota Bandarlampung
3.1.3. Karakteristik Demografis
Adapun karakteristik demografi menurut dokumen Kota Bandarlampung Dalam Angka 2018, penduduk Kota Bandarlampung berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2017 sebanyak 1.015.910 jiwa yang terdiri dari 511.371 jiwa penduduk laki-laki dan 504.539 jiwa penduduk perempuan. Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2016, penduduk Kota Bandarlampung mengalami pertumbuhan sebesar 18.182. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2017 penduduk laki-laki terhadap perempuan sebesar 101.
Tabel III. 2 Jumlah Penduduk Kota Bandarlampung
No Kecamatan Jumlah Penduduk
(jiwa)
Luas Wilayah (km2)
Kepadatan (jiwa/km2 )
1 Teluk Betung Barat 30.917 11,02 2.806
2 Teluk Betung Timur 43.212 14,83 2.914
3 Teluk Betung Selatan 40.836 3,79 10.775
4 Bumi Waras 58.875 3,75 15.700
5 Panjang 77.098 15,75 4.895
6 Tanjung Karang Timur 38.505 2,03 18.968
7 Kedamaian 54.571 8,21 6.647
8 Teluk Betung Utara 52.497 4,33 12.124
9 Tanjung Karang Pusat 53.046 4,05 13.098
10 Enggal 29.140 3,49 8.350
11 Tanjung Karang Barat 56.768 14,99 3.787
12 Kemiling 68.105 24,24 2.810
13 Langkapura 35.218 6,12 5.755
14 Kedaton 50.901 4,79 10.627
15 Rajabasa 49.835 13,53 3.683
16 Tanjung Senang 47.496 10,63 4.468
17 Labuhan Ratu 46.528 7,97 5.838
18 Sukarame 59.061 14,75 4.004
19 Sukabumi 59.496 23,60 2.521
20 Way Halim 63.805 5,35 11.926
No Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)
Luas Wilayah (km2)
Kepadatan (jiwa/km2 )
Total 1.015.910 197,22 5.151
Sumber: BPS Kota Bandarlampung, 2018
Tabel diatas menjelaskan bahwa kepadatan penduduk Kota Bandarlampung pada tahun 2017 mencapai 5.151 jiwa/km2. Kepadatan penduduk di 20 kecamatan cukup beragam dengan kepadatan tertinggi terletak di Kecamatan Tanjung Karang Timur dengan kepadatan sebesar 18.968 jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan Sukabumi sebesar 2.521 jiwa/km2. Berdasarkan data dari Kantor KB, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Seiring dengan meningkatnya PUS, jumlah pencapaian akseptor KB aktif juga mengalami peningkatan.
3.1.4. Perekonomian
Diketahui berdasarkan dokumen Kota Bandarlampung Dalam Angka 2018. Pada tahun 2017, angka PDRB yang dihasilkan Kota Bandarlampung sebesar 50,79 trilliyun rupiah. Pencapaian angka PDRB yang terus meningkat selama 5 tahun terakhir menunjukkan keadaan perekonomian yang membaik. Sektor yang memberikan kontribusi paling besar yaitu sektor Industri Pengolahan sebesar 21,29 persen. Struktur ekonomi yang dinyatakan dalam persentase menunjukkan besarnya peran masing-masing sektor dalam menciptakan nilai tambah. Apabila struktur ekonomi disajikan dari waktu ke waktu maka dapat dilihat perubahan struktur perekonomian yang terjadi. Pergeseran struktur ekonomi ini sering digunakan sebagai indikar untuk menunjukka nadanya suatu proses pembangunan.
Selama periode 2013-2017, struktur ekonomi Kota Bandarlampung didominasi oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi. Kontribusinya pun semakin meningkat. Pada tahun 2015, kontribusi dalam distribusi lapangan usaha perekonomian ini di Kota Bandarlampung mencapai 5,29 persen kemudian pada tahun 2017 menjadi 5,63 persen.
PDRB per-kapita maupun Pendapatan Regional per-kapita digunakan sebagai ukuran pemerataan ekonomi. Jika PDRB per-kapita menjelaskan tentang
rata-rata produktivitas setiap penduduk maka pendapatan regional lebih menjelaskan tentang potensial pendapatan secara orang perorang yang dapat digunakan untuk konsumsinya. Ukuran produktivitas menunjukkan seberapa besar sumbangan tiap orang (per kapita) terhadap pembentukan PDRB yang pada gilirannya akan terdistribusi menjadi sumber pendapatan masyarakat. Pada tahun 2017, PDRB per kapita Kota Lubuklinggau atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan. Nilainya naik dari 23,12 juta rupiah tahun 2016 menjadi 24,92 juta rupiah tahun 2017. PDRB per kapita atas dasar harga konstan pun meningkat sekitar4,81 persen dari tahun sebelumnya, yakni dari sebesar 16,36 juta rupiah tahun 2016 menjadi 17,15 juta rupiah tahun 2017.
3.1.5. Pariwisata
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang cukup banyak dikembangkan di Kota Bandarlampung. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang cukup memiliki potensi untuk dikembangkan di Kota Bandarlampung dan sektor ini merupakan salah satu sektor yang dapat mendukung pertumbuhan suatu wilayah.
Pengembangan sektor pariwisata dijadikan sebagai salah satu sektor andalan yang mampu memberikan kontribusi besar bagi peningkatan pendapatan asli daerah dan menggerakkan perekonomian daerah. Saat ini, sektor pariwisata belum menjadi suatu aset utama dan dikembangkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah. Hal tersebut juga terjadi di Kota Bandarlampung, pengembangan objek wisata yang ada masih kurang mendapat perhatian, sehingga tidak dapat berkembang padahal objek wisata tersebut memiliki potensi yang cukup baik. Data tersebut berdasarkan dokumen Kota Bandarlampung Dalam Angka 2018, hingga sampai saat ini terdapat 58 destinasi pariwisata yang ada di Kota Bandarlampung seperti pada tabel dibawah ini berikut:
Tabel III. 3 Data Destinasi Pariwisata Di Kota Bandarlampung
No Nama Objek Wisata Lokasi
1 Taman Bumi Kedaton Batu Putuk TBU
2 Taman Air Terjun Batu Putuk TBU
3 Pantai Puri Gading Telukbetung Selatan
No Nama Objek Wisata Lokasi 4 Pantai Duta Wisata Jl. R.A. Martadinata TBB 5 Pantai Tirtayasa Jl. R.A. Martadinata TBB
6 Taman Hutan Kota Perum Way Halim
7 Rumah Adat N.O.G Jl. Basuki Rahmad TBB
8 Bukit Randu Jl. Hayam Wuruk
9 Museum Lampung Jl. ZA. Pagar Alam
10 Pasar Seni Jl. Sriwijaya
11 Taman Dipangga Jl. WrR. Supratman
12 Pusat Manisan Jl. Ikan Kakap
13 Taman Lesehan Jl. Kartini
14 Taman Santap Malam Jl. Hasanuddin TBS 15 Taman Sumur Putri Kel. Sumur Putri
16 Taman Budaya Jl. Cuy Nyak Dien
17 Lapangan Golf Jl. Letkol Hendro Suratmin
18 Kolam Renanng Jl. Kompleks UNILA
19 Kompleks Pasar Tradisional, BK Jl. Imam Bonjol 20 Taman Lembah Hijau Kel. Sukadana Ham
21 Bukit Mas Jl. R. Imba Kusuma Ratu No. 2A
22 Wira Garden Jl. Inpres Batu Putuk
23 Wisata Alam Batu Putuk Jl. WAN. Abdurrahman
24 Taman Hutan Kota Tirtosari Jl. Kesehatan / Jl.HOS Cokroaminoto 25 Taman Kupu-kupu Jl. WAN. Abdurrahman
26 Pemandian Cibia Batu Putuk
27 Pasar Kuliner Jl. Ikan Tongkol T. Betung
28 Puncak Mas Jl. Raden Imba Kesuma Sukadana Ham Tk. Barat
29 Kolam Renang T.Betung Barat Bd.Lampung
30 Bunker Jl.K.Anwar Gototng Royong
31 Masjid Tua AL-ANWAR Jl.Laks.Malahayati Teluk Betung 32 Vihara Thai Hin Bio Jl.Laks. Malahayati Teluk Betung 33 Gereja Martunia Jl. Imam Bonjol Bandarlampung 34 Makam Tubagus Makdum Jl.Yos Sudarso Bandarlampung 35 Masjid Al-Yaqin Jl.Rd.Intan TKP. Bandarlampung 36 Makam Daeng H. Muhammad Saleh Telukbetung Bandarlampung 37 Makam Muhammad Al-Atas Kupang,Telukbetung Bandarlampung 38 Gereja Katedral Jl.Kota Raja Bandarlampung 39 Stasiun Kerta Api Jl.kota Raja TKP. Banadar Lampung
40 GOA Jajar Jl.Juanda Kesehatan Pahoman
41 Goa Cepit Jl.Gunung Betung Tanjungkarang
42 Kampung De Grow Kali Akar TBB. Bandarlampung
No Nama Objek Wisata Lokasi 43 Jembatan Beton Way Balau Teluk Betung Selatan
44 Masjid Al-Abror Tanjung Karang
45 P L TD Teluk Betung Selatan
46 Anjungan Lampung PKOR Way Halim B.Lampung 47 Pulau Pasaran T.betung Timur Bandarlampung
48 Jajar Inton Jl. Kedamaian
49 Masjid Agung Al-Furqon Jl.Diponegoro T.betung B.Lampung 50 Taman Hutan Kera Jl.Cipto Mangunkusumo
51 Wisata Air Panas Jl. Teluk Betung
52 Wisata Tahura Wan Abdurrakhman Sumber Agung, Kemiling B.Lampung
53 Teluk Lampung Pesisir Teluk Lampung
54 Camp91 Kedaung, Kemiling
55 Taman Bukit Sakura Jln. Batukalan, Langkapura
56 Kampung Agro dan Studio Foto 3D Kp. Sinar Harapan Jaya, Rajabasa Jaya 57 Edukasi Tempe Gunung Sulah, Bandarlampung 58 Kebun Strawberry dan Kelinci Kedaung (Camp 91)
Sumber: Kota Bandarlampung Dalam Angka, 2018
Berdasarkan data dari tabel di atas, dapat di ketahui bahwa Kota Bandarlampung memiliki sekitar 58 objek wisata. Dimana sekitar 28 objek wisata berupa wisata alam dan wisata pantai, kemudian objek wisata yang lainnya lebih kepada wisata budaya dan wisata sejarah. Sehingga pariwisata di Kota Bandarlampung di dominasi oleh wisata alam dan wisata pantai.
3.2. Gambaran Umum Desa Sinar Harapan
3.2.1. Karakteristik Geografis Desa Sinar Harapan
Desa Sinar Harapan merupakan salah satu Desa yang berada di Kelurahan Rajabasa Jaya, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung. Desa Sinar harapan tepatnya terletak di memiliki tiga Rukun Tangga (RT), yaitu RT 08, RT 09, dan RT 10. Adapun batas-batas wilayah Desa Sinar Harapan sebagai berikut:
Ø Sebelah Utara : Kabupaten Lampung Selatan Ø Sebelah Timur : Kabupaten Lampung Selatan Ø Sebelah Barat : RT 07
Ø Sebelah Selatan : Kelurahan Labuhan Dalam
Sumber: Pengolahan data melalui ArcGis 2020.
KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
RT 07
KELURAHAN LABUHAN DALAM
Gambar 3. 5 Peta Desa Sinar Harapan atau Agrowidya Wisata
Objek wisata unggulan pada Kawasan agrowidya wisata di Desa Sinar Harapan ini berupa edukasi pengetahuan, perjalanan, rekreasi di bidang pertanian, yaitu pemanfaatan kotoran hewan ternak sebagai bahan utama pembuatan Rumah Biogas yang digunakan pada kompor gas, kemudian terdapat bentuk penanaman sayuran yang menggunakan media air untuk menanam atau biasa dikenal dengan Hidroponik, masyarakat Desa Sinar Harapan ini juga sangat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat menanam berbagai jenis tanaman yang dibuat semenarik mungkin, yang didukung dengan adanya Wisata Foto 3D untuk menarik wisatawan.
(A) (B)
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018
(C) (D)
Gambar 3. 7 (A) Obyek Wisata Rumah Biogas, (B) Obyek Wisata Hidroponik, (C) Tanaman Pekarangan dan (D) Gambar 3D
3.2.2. Karakteristik Demografis Desa Sinar Harapan
Masyarakat Desa Sinar Harapan diposisikan sebagai tuan rumah yang melayani pengunjung. Dikatakan masyarakat loksl sebagai tuan rumah memang sesuai, sebab berdasarkan data jumlah pegawai dan pengelola di Desa Sinar Harapan ini banyak didominasi oleh masyarakat. Pegawai dan pengelola di Desa Sinar Harapan didominasi oleh masyarakat yang menjadi sumber daya manusia.
Mayoritas. Di wilayah studi Desa Sinar Harapan mayoritas warganya bekerja dalam bidang buruh dan tani.
Tabel III. 4 Penduduk Menurut Jenis Sumber Penghasilan Utama
No Sektor Jumlah
1 Petani 66
2 Pedagang/Pengusaha 29
3 Karyawan/TKI 12
4 PNS/Polisi/TNI 39
5 Buruh 107
6 Pensiunan 4
Jumlah 257
Sumber: Data diolah dari Dokumen Kelurahan Rajabasa Jaya 2019
Berdasarkan tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa jumlah jenis sumber mata pencaharian masyarakat di Desa Sinar Harapan didominasi oleh pekerjaan sebagai buruh tenaga kerja bidang agrowidya wisata sejumlah 107 jiwa. Oleh karena itu Desa Sinar Harapan memang tepat jika dikembangkan sebagai desa wisata dimana jumlah petani juga mendominasi pada urusan kedua, kemudian masyarakat juga memanfaatkan pekarangan rumah yang luas sebagai lahan pertanian yang dapat menambah pendapatan mereka.
3.2.3. Sejarah Program Bina Lingkungan Desa Sinar Harapan
Program Bina Lingkungan ini merupakan bentuk program dari PT PLN yang disebut dengan Program Lampu Kita Agrowidya Wisata. Program tersebut
dirintis sejak tahun 2016, dan 2018 telah menjadi tahun ketiga untuk pelaksanaan program tersebut.Setiap tahunnya perencanaan program memiliki pergantian tujuan sasaran supaya keberhasilan proram terlaksana dengan baik. Program tahun pertama dilakukan di dua kelurahan yakni Rajabasa Jaya dan Rajabasa Induk dengan berfokus pada pelatihan untuk meningkatkan potensi Sumber Daya Manusia. Sedangkan untuk tahun kedua, berfokus pada pemberian fasilitas sehingga masyarakat dapat memanfaatkannya sesuai dengan pelatihan yang didapatkan pada tahun pertama. Tahun kedua ini program sudah masuk dalam pembentukan ekowisata dan pada tahun ketiga ini merupakan tahun pemantapan (pemantapan ekowisata) bagi masyarakat binaan, yakni dengan melengkapi fasilitas. Sistem pengelolaan Kampung Agrowidya Wisata yang berbasis kelompok masyarakat dan terbentuk dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dengan organisasi yang terdiri dari pengurus inti (ketua, sekretaris dan bendahara) yang dilengkapi dengan seksi-seksi. Adapun struktur organisasi dari Pokdarwis tersebut diantaranya:
Sumber: Data diolah dari Dokumen Kelurahan Rajabasa Jaya 2019
3.2.4. Karakteristik Responden
Penelitian ini dilakukan di tiga rukun tangga (RT) pada Desa Sinar Harapan, yaitu RT 08, RT 09 dan RT 10 yang terlibat dalam prioritas
Gambar 3. 8 Struktur Organisasi Pokdarwis Agrowidya Wisata
pengembangan obyek wisata Desa Sinar Harapan. Adapun karakteristik responden pada penelitian ini ditetapkan atas dasar sampel yang telah ditentukan pada teknik Random Sampling. Kemudian, pada bagian karakteristik sampel akan dilakukan indentifikasi terhadap persentase masyarakat yang terlibat berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan dan mata pencaharian. Secara keseluruhan total responden pada penelitian ini berjumlah 164 responden.
Berdasarkan jenis kelamin berikut ini merupakan masyarakat yang menjadi responden pada RT 08, RT 09, dan RT 10 sebagai berikut
Sumber: Penelitian, 2020
Gambar 3. 9 Diagram Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan kategori responden pada penelitian ini, responden harus sedang tidak mengikuti pendidikan secara formal, sehingga kebanyakan responden pada penelitian ini memiliki pencaharian sebagai buruh, petani dan wiraswasta.
Berikut rincian mata pencaharian yang dimiliki oleh responden pada penelitian ini, yaitu :
80%
20%
Jenis Kelamin
Laki-Laki Perempuan
Sumber: Penelitian, 2020
Gambar 3. 10 Grafik Mata Pencaharian Responden Penelitian
Berdasarkan gambaran umum dari Desa Sinar Harapan, disimpulkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat di Desa Sinar Harapan pada RT 08, RT 09 dan RT 10 didominasi oleh masyarakat tamatan SMA. Responden pada penilitian ini secara umum memiliki tingkat pendidikan akhir yaitu SMA. Berikut rincian tingkat pendidikan responden:
Sumber: Penelitian, 2020.
27%
21%
28%
12% 10% 2%
Mata Pencaharian Responden
Petani Wiraswasta Buruh
IRT PNS Pegawai Swasta
1% 14%
32%
44%
3% 6%
Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah SD SMP SMA Diploma Sarjana
Gambar 3. 11 Grafik Tingkat Pendidikan Responden Penelitian
3.2.5. Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Objek Wisata Di Desa Desa Sinar Harapan
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya (Lestari, 2019) Desa Sinar Harapan, Kelurahan Rajabasa Jaya, Kecamatan Rajabasa, Bandarlampung, dijadikan Desa Sinar Harapan sejak tahun 2016. Program ataupun proyek ini adalah proyek bersama PT PLN (Persero) Distribusi Lampung melalui PLN Peduli Bersama dan Universitas Bandarlampung (UBL) serta Komunitas Masyarakat Kampung Sinar Harapan, Rajabasa Jaya. Desa Sinar Harapan memiliki visi, misi serta tujuan dalam pembangunannya. Visi Desa Sinar Harapan adalah terwujudnya masyarakat pertanian lebih cerdas, terampil, mandiri, produktif dapat meningkatkan kesejahteraan dan selalu mengembangkan diri secara positif sesuai dengan teknologi yang berkembang. Misi Desa Sinar Harapan adalah memfasilitasi kegiatan-kegiatan petani dan masyarakat pedesaan dalam kebutuhan informasi dan teknologi pertanian untuk kesejahteraan hidup petani dan organisasi petani.
Sedangkan tujuan dari dibentuknya desa tersebut adalah meningkatkan taraf hidup dan tingkat perekonomian masyarakat desa melalui kegiatan desa wisata yang berbasis alam, budaya, pertanian dan pendidikan. Adapun peran masyarakat dalam pengelolaan objek wisata di Desa Sinar Harapan akan dijelaskan pada tabel dibawah ini :
Tabel III. 5 Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Objek Wisata
No Objek Wisata Pengelola
1 Hidroponik dan Pekarangan
Kreasi Suyut (Ketua Pokdarwis)
2 Bioflok Air Tawar Ardi (Ketua Program CSR)
3 Biogas Suyut dan Sisyono
4 Rumah Cacing Ardi
5 Rumah Edukasi Ardi
No Objek Wisata Pengelola
6 Rumah Padi Sutris
Sumber: Lestari, 2019.
3.3. Kesiapan Sumber Daya Manusia Dalam Memenuhi Kebutuhan Tenaga Kerja Agrowidya Wisata
Pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata, merupakan kesesuaian dari pengembangan wilayah berupa agrowidya wisata yang manganut PEL dalam pengembangannya. Dimana setelah diketahui kesiapan dalam hal ini kemampuan dan kemauan SDM bekerja pada bidang agrowidya wisata, kemudian disesuaikan dengan konsep dan tujuan pengembangan wilayah dalam hal ini pengembangan ekonomi lokal yang merupakan konsep dan tujuan yang dianut pada pengembangan agrowidya wisata. Ketika kemampuan, kemauan telah terpenuhi dan sesuai dengan konsep dan tujuan PEL maka masyarakat memiliki kesiapan untuk bekerja pada bidang agrowidya wisata.
Pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata, menjadi salah satu hal penting dalam penentuan kesediaan masyarakat bekerja pada bidang agrowidya wisata. Hal ini dikarenakan, apabila masyarakat memiliki kesiapan untuk bekerja pada bidang agrowidya wisata, namun tidak mendapatkan kesejahteraan dan peningkatan ekonomi serta aspek penunjang kehidupan lainnya.
Maka tidak akan sesuai dengan fungsi dibentuknya Kampung Agrowidya Wisata yaitu untuk mensejahterakan masyarakatanya. Sehingga pada akhirnya, masyarakat atau penduduk lokal dapat memperoleh kesejahteraan dari bekerja pada bidang agrowidya wisata. Berikut ini pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata dari tiga RT yang berada pada Desa Sinar Harapan.
1. Pengembangan Ekonomi Lokal dalam Pengembangan Agrowidya Wisata pada RT 08
Pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata pada RT 08, akan ditunjukan pada tabel dibawah ini yang telah disingkronkan dengan konsep dan tujuan PEL.
Tabel III. 6 Komponen PEL pada RT 08
Komponen Masyarakat Lokal (%)
Ada Tidak Ada
1. Peningkatan standar kehidupan. 15 85
2. Keberlanjutan pekerjaan. 35 65
3. Peningkatan pendapatan. 5 95
4. Peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal 37 63
Jumlah Total (%) 92 308
Presentase Total (%) 23,0 77,0
Sumber : Hasil Analisis, 2020
Keterangan:
100% - 75% memenuhi komponen PEL
74% - 56% memenuhi komponen PEL
55% - 1% memenuhi komponen PEL
0% tidak memenuhi komponen PEL
Dari tabel diatas, terlihat bahwa dari total keempat komponen PEL, sekitar 23% masyarakat RT 08 sudah memenuhi komponen PEL, sedangkan 77% masyarakat RT 08 belum memenuhi komponen PEL tersebut. Hal ini dapat terjadi karena terdapat beberapa masyarakat yang mempunya pekerjaan utama yang lebih menjanjikan, namun menjadikan pekerjaan sebagai pemandu agrowidya wisata sebagai pekerjaan sampingan, yang berakibat pada kurang terlihatnya dampak pengembangan ekonomi lokal (PEL) dalam pengembangan agrowidya wisata pada masyarakat RT 08.
2. Pengembangan Ekonomi Lokal dalam Pengembangan Agrowidya Wisata pada RT 09
Pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata pada RT 09, akan ditunjukan pada tabel dibawah ini yang telah disingkronkan dengan konsep dan tujuan PEL.
Tabel III. 7 Komponen PEL pada RT 09
Komponen
Masyarakat Lokal (%) Ada Tidak Ada
1. Peningkatan standar kehidupan. 20 80
2. Keberlanjutan pekerjaan. 14 86
3. Peningkatan pendapatan. 5 95
4. Peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal 9 91
Jumlah Total (%) 48 352
Presentase Total (%) 12 88,0
Sumber : Hasil Analisis, 2020
Keterangan:
100% - 75% memenuhi komponen PEL
74% - 56% memenuhi komponen PEL
55% - 1% memenuhi komponen PEL
0% tidak memenuhi komponen PEL
Dari tabel diatas, terlihat bahwa dari total keempat komponen PEL, sekitar 12% masyarakat RT 09 sudah memenuhi komponen PEL, sedangkan 88% masyarakat RT 09 belum memenuhi komponen PEL tersebut. Hal ini dapat terjadi karena terdapat beberapa masyarakat yang mempunya pekerjaan utama yang lebih menjanjikan, namun menjadikan pekerjaan sebagai pemandu agrowidya wisata sebagai pekerjaan sampingan, yang berakibat pada kurang terlihatnya dampak pengembangan ekonomi lokal (PEL) dalam pengembangan agrowidya wisata pada masyarakat RT 09.
3. Pengembangan Ekonomi Lokal dalam Pengembangan Agrowidya Wisata pada RT 10
Pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata pada RT 09, akan ditunjukan pada tabel dibawah ini yang telah disingkronkan dengan konsep dan tujuan PEL.
Tabel III. 8 Komponen PEL pada RT 10
Komponen
Masyarakat Lokal (%) Ada Tidak Ada
1. Peningkatan standar kehidupan. 53 47
2. Keberlanjutan pekerjaan. 47 53
3. Peningkatan pendapatan. 36 64
4. Peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal 74 26
Jumlah Total (%) 210 190
Presentase Total (%) 53 48
Sumber : Hasil Analisis, 2020
Keterangan:
100% - 75% memenuhi komponen PEL
74% - 56% memenuhi komponen PEL
55% - 1% memenuhi komponen PEL
0% tidak memenuhi komponen PEL
Dari tabel diatas, terlihat bahwa dari total keempat komponen PEL, sekitar 53% masyarakat RT 10 sudah memenuhi komponen PEL, sedangkan 48% masyarakat RT 10 belum memenuhi komponen PEL tersebut. Hal ini dapat terjadi karena rata-rata masyarakat RT 10 pekerjaan utamanya sebagai pemandu, pengelola dan pengembang agrowidya wisata. Secara umum masyarakat RT 10 sudah terlihat dampak pengembangan agrowidya wisata dari segi pengembangan ekonomi lokal (PEL), namun perlu peningkatan yang maksimal pada komponen peningkatan pendapatan, untuk lebih menyempurnakan pengembangan ekonomi lokal dalam pengembangan agrowidya wisata pada masyarakat RT 10.
Secara umum masyarakat dari setiap RT Desa Sinar Harapan, sudah baik untuk tetap menghargai Desa Sinar Harapan sebagai destinasi Agrowidya Wisata, dengan tetap menjadikan pekerjaan pemandu agrowidya wisata sebagai pekerjaan sampingan. Jadi, untuk seluruh masyarakat dari setiap RT pada Desa Sinar Harapan perlu meningkatkan kapasitas kemampuan dan kemauan bekerja sebagai pemandu agrowidya wisata, sehingga tujuan dari pengembangan wilayah disini yaitu PEL, dapat terlihat dari peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyrakatnya.