1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kajian terhadap al-Qur’an telah melahirkan banyak cabang ilmu yang disebut dengan ilmu-ilmu al-Qur’an (Ulūm al-Qur’ān). Mengingat banyaknya ilmu yang berkaitan dengan pembahasan al-Qur’an, ruang lingkup pembahasan Ulūm al-Qur’ān itu sangatlah banyak (Anwar, 2015, p. 59). Salah satu dari sekian banyak ilmu-ilmu al-Qur’an adalah asbāb al-nuzūl. M. Hasbi Ash-Shiddieqy memasukkan asbāb al-nuzūl (sebab-sebab turunnya al-Qur’an) pada bagian pertama dari enam hal pokok terkait ruang lingkup pembahasan Ulūm al-Qur’ān.
Kajian asbāb al-nuzūl memiliki hubungan erat dengan ilmu sejarah, seolah-olah kita diajak untuk berdialog dengan situasi dan kondisi ketika wahyu tersebut diturunkan. Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk kepada Nabi Muhammad SAW. lebih dari empat belas abad silam. Hal ini adalah kenyataan sejarah yang tak terbantahkan (Baidan N. , 2016, p. 13). Sebagaimana yang diyakini saat ini, tidak mungkin pewahyuan al-Qur’an dilakukan secara keseluruhan dalam satu waktu sekaligus, karena pada kenyataannya al-Qur’an sebagai pedoman diturunkan secara berangsur-angsur (munajjaman) sesuai kebutuhan yang muncul (Anwar, 2015, p. 59). Al-Qur’an ialah sebagai barometer moral yang menyeluruh bagi umat manusia sebagai jalan keluar dari berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan, sehingga diturunkannya al-Qur’an dengan cara munajjaman ini diselaraskan dengan kemampuan akal manusia dan kompleksitas masalah yang dihadapinya (Hafizi, 2020, p. 57).
Pada kenyataannya masih banyak yang keliru memahami ayat al-Qur’an, terutama dalam pengambilan hukum-hukum Islam. Misalnya, dalam memaknai Surah Al-Bāqarah : 115, “Dan milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah, sungguh, Allah Mahaluas Maha Mengetahui.” Dalam kasus shalat, dengan melihat teks ayat tersebut bisa dimaknai bahwa seseorang boleh menghadap kemanapun sesuai keinginannya,
2 seolah-olah tidak ada kewajiban untuk menghadap kiblat pada saat shalat. Tetapi, ketika melihat asbāb al-nuzūlnya, pemaknaan seperti itu justru keliru, sebab ayat tersebut ternyata berkaitan dengan seseorang yang sedang berada dalam perjalanan dan melakukan shalat di atas kendaraan, dalam riwayat lain berkaitan dengan orang yang berjihad menentukan arah kiblat (Anwar, 2015, p. 63).
Oleh karena itu, supaya tidak keliru dalam memahami ayat al-Qur’an, fenomena pada saat al-Qur’an diturunkan dipandang sangat penting oleh ilmu tafsir (Anshori, 2018, p. 30). Tanpa memahami konteks latar belakang turunnya al-Qur’an, pesan yang terdapat di dalam ayat al-Qur’an tidak akan dapat dipahami secara utuh. Jika hanya dipahami secara bahasa, tanpa pemahaman konteks historisnya, bisa jadi pembaca akan keliru menangkap pesan-pesan dari al-Qur’an (Anwar, 2015, p. 59)
Para ulama dan al-Qur’an sendiri memberikan penjelasan bahwa diturunkannya al-Qur’an di tengah bangsa Arab dengan bahasa Arab tidak lantas menjadikan kandungannya khusus ditujukan bagi bangsa Arab, tetapi ditujukan kepada seluruh makhluk di permukaan alam ini (Hanafi M. , 2015, p. 57). Oleh sebab itu, diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia agar selamat dunia dan akhirat serta berlaku di semua tempat dan zaman.
Maka, inilah salah satu tugas kita untuk mempelajari konteks latar belakang turunnya setiap ayat al-Qur’an agar pesan yang terkandung dalam al- Qur’an bisa dipahami sebagai suatu kesatuan. Asbāb al-nuzūl dapat menjadi rujukan untuk memberikan informasi tentang kandungan al-Qur’an agar lebih mudah memahami perintah-perintahnya pada masa al-Qur’an diturunkan (Siti Muslimah, 2017, p. 3). Muchlis Hanafi mengatakan bahwa pengetahuan tentang asbāb al-nuzūl sangat diperlukan agar kita dapat memperoleh makna selaras dengan konteks dan maksud dari sebuah ayat al-Qur’an. Bahkan mengetahui ilmu tentang asbāb al-nuzūl menjadi salah satu syarat bagi orang saja yang ingin menafsirkan al-Qur’an (Hanafi M. , 2015, p. 3).
Namun, terkait persoalan urgensi asbāb al-nuzūl ini masih menjadi perdebatan. Ternyata ada kalangan yang berpendapat bahwa mengetahui asbāb al- nuzūl merupakan hal yang tidak penting, bahkan disebut hal yang sia-sia dalam
3 memahami al-Qur’an, hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Zarqani dan al- Suyuthi. Kalangan tersebut beranggapan bahwa memahami al-Qur’an dengan meletakkannya ke dalam sejarah berarti membatasi pesan-pesannya pada ruang dan waktu tertentu (Anwar, 2015, p. 62)
Adapun sebagian ulama lainnya sepakat menyatakan bahwa pengetahuan asbāb al-nuzūl sangat diperlukan dalam menangkap dan memahami pesan-pesan al-Qur’an, meskipun sebagian ulama ini secara garis besar berbeda pendapatnya.
Menurut pendapat Syahrur, perdebatan tersebut dapat dikategorikan ke dalam 3 pendapat: 1) Menurut al-Wahidi, tidak mungkin dapat diketahui tafsir ayat al- Qur’an tanpa terlebih dahulu diketahui kisahnya dan asbāb al-nuzūlnya; 2) menurut Ibnu Taimiyah, pengetahuan terkait asbāb al-nuzūl membantu pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an; dan 3) menurut al-Zarkasyi, asbāb al- nuzūl bukanlah sebab dalam hal turunnya ayat, tetapi hanyalah bentuk pengambilan hukum berdasarkan ayat yang dimaksud (Munir, 2018, p. 3).
Persoalan-persoalan asbāb al-nuzūl ini memicu perkembangan karya- karya di bidang tafsir. Salah satu kecenderungan yang timbul dalam upaya update tafsir dikala ini merupakan proyek untuk melakukan rekonstruksi besar-besaran terhadap khazanah masa lalu. Sebagian sarjana cenderung memutus mata rantai dengan tradisi klasik karena dianggap sudah tidak lagi solutif menjawab isu-isu kekinian (Baihaki, 2016, p. 127).
Perihal ini jadi salah satu latar belakang kemunculan Tafsir al-Munīr.
Tafsir al-Munīr merupakan sebuah tafsir yang ditulis oleh seorang ulama terkenal bernama Wahbah az-Zuhaili yang berasal dari Syiria. Beliau merupakan perwakilan tokoh kontemporer yang masih memegang etos tradisionalis dan masih menjaga tradisi klasik. Wahbah az-Zuhaili dalam karya tafsirnya tersebut dapat dikatakan sebagai seorang mufassir, ahli fiqh, ahli aqidah, pakar hadis, dan pakar bahasa. Hal ini karena dalam tafsir tersebut beliau menyusun ayat-ayat dalam satu tema dengan judul yang jelas, kemudian diikuti dengan berbagai aspek, salah satunya adalah aspek asbāb al-nuzūl (Hariyono, 2018, p. 25).
Dalam tafsir ini banyak ditemukan riwayat asbāb al-nuzūl sebagaimana disebutkan Wahbah dalam tafsirnya:
4
“Mengetahui sebab-sebab turunnya ayat sesuai dengan peristiwa dan momentum mengandung banyak faedah dan urgensi yang sangat besar dalam menafsirkan al-Qur’an dan memahaminya secara benar” (Az-Zuhaili, 2013, p.
6).
Beliau menyatakan alasannya karena asbāb al-nuzūl mengandung penjelasan dari tujuan hukum, menerangkan sebab diperintahkannya suatu syariat, mengungkap rahasia-rahasia tersimpan di dalamnya, juga membantu dalam memahami al-Qur’an dengan lebih baik (Az-Zuhaili, 2013, p. 6). Selain itu, dalam tafsirnya, Wahbah az-Zuhaili menjelaskan hukum-hukum yang tersurat maupun tersirat di dalam pemahaman ayat yang bersifat kekinian yang menyertakan penafsiran dalam bagian yang diberi nama “Fiqh Kehidupan atau Hukum- Hukum” (fiqh al-hayāh aw al-ahkām).
Dalam penelitian ini, tidak memungkinkan mengkaji keseluruhan ayat, sehingga untuk pemfokuskan kajian ini, penulis membatasi kajian pada Surah An- Nūr. Hal ini didasari oleh banyaknya pedoman syariat pada Surah An-Nūr sebagaimana disebutkan pada ayat pertamanya:
“(Inilah) suatu surah yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukumnya) dan Kami turunkan di dalamnya tanda-tanda (kebesaran Allah) yang jelas, agar kamu ingat.” (QS. An-Nūr : 1)
Ayat ini berisi peringatan agar surat ini diperhatikan dengan benar tanpa menafikan surat lainnya. Mujahid bin Jabar dan Qatadah, salah satu ahli tafsir dari kalangan tabiʻin, yakni menjelaskan bahwa makna dari lafaz wa faraḍnāhā dalam surat itu bahwa yang Allah jelaskan adalah perkara yang halal dan haram, perintah dan larangan, serta batasan-batasan bagi manusia (Al-Syeikh, 2004, p. 2).
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian sejauh mana penggunaan asbāb al-nuzūl dalam pengambilan hukum khususnya pada ayat-ayat hukum yang terdapat pada Surah An-Nūr. Selain itu, penulis berasumsi bahwa terdapat upaya kontektualisasi dalam penafsiran Wahbah az-Zuhaili menggunakan asbāb al-nuzūl pada ayat sesuai dengan kondisi saat ini, terutama terkait permasalahan hukum yang terjadi. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Urgensi Asbāb al-Nuzūl dalam Tafsir al- Munīr (Studi Analisis Surah An-Nūr )”.
5 B. Rumusan Masalah
Penulis merumuskan masalah pokok yang akan dianalisis dalam skripsi ini, diantaranya:
1. Bagaimana penggunaan asbāb al-nuzūl dalam Tafsir al-Munīr karya Wahbah az-Zuhaili khususnya pada surah An-Nūr?
2. Adakah pengaruh penggunaan asbāb al-nuzūl dalam penafsirannya terhadap upaya menyelesaikan problematika hukum di era kekinian?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui sejauh mana penggunaan asbāb al-nuzūl dalam penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya terkait dengan pengambilan hukum dari suatu ayat dalam surah An-Nūr.
2. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan asbāb al-nuzūl dalam penafsirannya terhadap upaya menyelesaikan problematika hukum di era kekinian.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat hasil penelitian ini adalah:
1. Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir umumnya di Indonesia dan khususnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
2. Manfaat akademis, diharapkan kajian ini memberikan gambaran penggunaan dan pengaruh asbāb al-nuzūl dalam kitab tafsir yang diteliti dalam skripsi ini, yaitu Tafsir al-Munīr karya Wahbah Az- Zuhaili.
6 E. Kerangka Berpikir
Ungkapan asbāb al-nuzūl merupakan wujud iḍafah dari kata “asbab” dan
“nuzul”. Secara etimologi, asbāb al-nuzūl merupakan sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Sebutan “sebab” disini, berbeda pengertiannya dengan sebutan sebab yang terdapat dalam hukum sebab-akibat.
Sebutan sebab di dalam hukum kausalitas, ialah sebuah keharusan wujudnya untuk munculnya sesuatu akibat. Al-Zarqani menyusun definisi asbāb al-nuzūl sebagai berikut:
“Sabab an-nuzūl adalah sesuatu yang (karenanya) turun satu ayat atau beberapa ayat berbicara tentangnya (sesuatu itu) atau menjelaskan ketentuan- ketentuan hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut.”
Mengenai urgensi pengetahuan asbāb al-nuzūl, Abu Hasan ‘Alī al-Wahidi al-Naisaburi menyatakan, “Asbāb al-nuzūl adalah bidang ‘Ulum Qur’ān yang paling penting untuk dicermati dan diperhatikan, sebab penafsiran dan pengungkapan maksud dari suatu ayat tidak akan dapat dilakukan tanpa mengetahui kronologi yang menjadi penyebab diturunkannya ayat tersebut”
(Hanafi M. , 2015, p. 3).
Oleh karena itu, langkah pertama yang akan penulis lakukan adalah mengumpulkan ayat-ayat hukum pada Surah An-Nūr yang disertai dengan asbāb al-nuzūl. Sejauh ini, penulis menemukan 34 ayat hukum ber-asbāb al-nuzūl dari total 64 ayat dalam surah An-Nūr. Sebagaimana dikemukakan pada latar belakang, pemilihan surah An-Nūr sebagai objek penelitian dikarenakan pada surah ini terdapat ayat-ayat hukum yang tentu berkaitan dengan asbāb al-nuzūl.
Di antara tema-tema hukum yang terdapat dalam surat An-Nūr adalah terkait hukum hadd atas zina, hukuman hadd untuk tindak pidana qażf, serta hukum li’ān, kisah hadiṡul ifk, balasan pelaku qażf dalam kisah hadiṡ ifk, etika ketika masuk rumah seseorang, hukum pandangan dan hijab, hukum tentang melaksanakan akad kitabah dengan budak-budak, larangan atas pemaksaan perzinaan, hukum pernikahan, serta hukum-hukum penting yang berkaitan dengan rumah tangga dan penjagaan kesucian.
7 Selanjutnya, untuk mengetahui penerapan asbāb al-nuzūl dalam penafsiran ayat hukum pada Tafsir al-Munīr, penulis menggunakan kaidah-kaidah asbāb al- nuzūl dalam kitab Manāhil ‘Urfan Fī Ulūm al-Qur’ān karya Syeikh Muhammad Abdul Adzim al-Zarqani. Dalam hal ini, penulis akan mengkaji urgensi asbāb al- nuzūl dalam Tafsir al-Munīr khususnya pada Surah An-Nūr dengan fungsi asbāb al-nuzūl yang dikemukakan oleh Syeikh al-Zarqani, di antaranya:
1. Mengetahui Maha Bijaksananya Allah SWT. secara lebih rinci mengenai syariat yang diturunkan oleh Allah.
2. Membantu dalam memahami ayat yang berkaitan dan menyelesaikan masalah terkait pemahaman ayat tersebut..
3. Menolak dugaan berlakunya haṣr (pembatasan) dari ungkapan yang secara literal menampilkan adanya haṣr itu.
4. Mentakhsish hukum dengan asbāb al-nuzūl, bagi yang berpendapat bahwa syarat (al-ʻibrah) berlaku untuk kekhususan sebab, bukan keumuman lafaznya.
5. Mengetahui asbāb al-nuzūl tidak keluar dari hukum yang tercantum dalam ayat yang bersangkutan apabila terdapat ayat yang mentakhsisnya.
6. Mengetahui pelaku yang secara khusus ayat itu diturunkan berkenaan dengan orang tersebut.
7. Mempermudah hafalan, pemahaman, serta peneguhan wahyu dalam hati orang yang mendengarnya apabila dia mengetahui asbāb al- nuzūlnya. (Al-Zarqani, 2001, pp. 115-121)
Berikutnya, penting mengetahui cara Wahbah Az-Zuhaili mengambil riwayat yang shahih yang digunakan dalam tafsirnya. Mengutip perkataan Al- Wahidi, untuk mengetahui asbāb al-nuzūl harus melalui riwayat yang shahīh, yaitu yang meriwayatkan dan mendengar dari mereka yang melihat turunnya ayat al-Qur’an, mengetahui sebab-sebabnya dan menelitinya. Pada Bab II, penulis akan memaparkan terlebih dahulu keseluruhan kaidah asbāb al-nuzūl Syeikh al-Zarqani sebagai acuan dalam menganalisis asbāb al-nuzūl surah An-Nūr dalam Tafsir Al- Munīr.
8 Selanjutnya, perlu menganalisis penggunaan asbāb al-nuzūl dalam surah An-Nūr terhadap penafsiran Wahbah az-Zuhaili. Penulis akan menganalisis pengaruh asbāb al-nuzūl dalam penafsirannya terhadap upaya menyelesaikan problematika kekinian yang berhubungan dengan hukum-hukum islam dalam surah An-Nūr. Sehingga diharapkan hasilnya akan memperoleh pemahaman terkait pentingnya pengetahuan asbāb al-nuzūl dalam mengambil hukum di dalam al-Qur’an agar terhindar dari kesalahan pemahaman dan pengamalan al-Qur’an dalam kehidupan.
F. Hasil Penelitian Terdahulu
Berdasarkan tinjauan pustaka yang penulis lakukan, kajian asbāb al-nuzūl bukanlah suatu hal yang baru, begitupun penerapannya dalam proses penafsiran.
Tinjauan ini dilakukan supaya terhindar dari terjadinya peniruan, pengulangan, atau plagiasi. Data yang berhasil ditemukan penulis baik itu terkait secara eksplisit atau implisit dikelompokkan ke dalam 4 kelompok:
1. Asbāb al-Nuzūl secara Umum
Secara umum, banyak para ulama yang menulis kitab atau buku terkait dengan asbāb al-nuzūl, diantaranya al-Itqān fi Ulūm al-Qurān karya al-Suyuti, al-Burhān fī Ulūm al-Qurān karya al-Zarkasyi, Manāhil al-‘Irfān fī ulūm al-Qurān karya Az-Zarqani, Mabāhit fī Ulūm al-Qurān karya Subhi Salih, dan kitab-kitab lainnya yang akan ditemukan pada pembahasan asbāb al-nuzūl.
Adapun penelitian terkait asbāb al-nuzūl yang penulis temukan di antaranya:
Pertama, jurnal berjudul Rekonstruksi Asbāb al-Nuzūl Sebagai Metodologi Interpretasi Teks al-Qur’an ditulis oleh Wely Dozan.
Jurnal ini berkesimpulan bahwa asbāb al-nuzūl bukanlah sebatas historis turunnya ayat melainkan teori ini perlu direalisasikan dalam konteks kekinian (Dozan, 2020).
Sama halnya dengan jurnal yang ditulis oleh Dr. Syamsul Bakri Dosen IAIN Surakarta, yang berjudul Asbāb al-Nuzūl: Dialog Antara
9 Teks dan Realitas Kesejarahan. Artikel ini berkesimpulan bahwa teori klasik membatasi asbāb al-nuzūl hanya sebatas peristiwa sejarah dan pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat. Mengenai asbāb al-nuzūl sebagai sebuah dialog antara teks dan realitas, ini menunjukkan besarnya urgensi asbāb al-nuzūl dalam memahami makna ayat yang terkandung di dalam al-Qur’an (Bakri, 2016).
Artikel jurnal lainnya yang membahas hal serupa, berjudul Asbāb Al-Nuzūl : Antara Histori dan Historisitas al-Qur’an, ditulis oleh Midih Saputra, Mahasiswa Program Magister Kajian Islam Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Midih Saputra menganalisis pentingnya asbāb al-nuzūl sebagai salah satu instrumen dalam memahami al-Qur’an serta memfokuskan pada khilafiyah antara keumuman teks dan kekhususan sebab atau sebaliknya. Dua kaidah itu sangat penting dalam proses menggali dan membangun argumen kritis yang berdampak pada penetapan suatu hukum (Saputra M. , 2018).
Artikel jurnal lainnya berjudul Reinterpretasi Asbāb al-Nuzūl bagi Penafsiran al-Qur’an, ditulis oleh Irma Riyani dan Yeni Nuriani, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djari Bandung dan diterbitkan dalam Wawasan : Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 2. Penelitian dalam jurnal ini berkesimpulan bahwa urgensi asbāb al- nuzūl dalam penafsiran al-Qur’an ini penting sebagai alat untuk memahami makna al-Qur’an, tidak hanya fokus pada peristiwa- peristiwa khusus yang melatarbelakangi turunnya ayat, tetapi juga pada kondisi masyarakat secara umum dimana peristiwa tersebut terjadi, lalu dikaitkan dengan kondisi masyarakat saat ini. Selain itu, perlunya mengambil titik temu antara kedua kaidah ‘umum al-lafẓ dan khusus al-sabāb, dengan cara mengambil ʻibrah dari keumuman lafal dengan memperhatikan kekhususan sebabnya, serta melihat pesan moral di balik peristiwa yang terjadi sehingga hal ini dengan mudah dapat direalisasikan pada situasi yang berbeda (Huriani, 2017).
10 2. Asbāb al-nuzūl menurut mufasir atau para pemikir
Terdapat beberapa jurnal yang membahas asbāb al-nuzūl menurut mufasir dan para pemikir. Di antaranya jurnal berjudul Wawasan Baru Kajian Asbāb al-Nuzūl (Analisis Terhadap Pemikiran M. Amin Abdullah) ditulis oleh Muhammad Anshori yang membahas pemikiran M. Amin Abdullah terkait asbāb al-nuzūl. Beliau memandang asbāb al-nuzūl sebagai dialog antara teks dan realita. Amin memperkenalkan dua istilah asbāb al-nuzūl, yaitu asbāb al-nuzūl al-qadīm dan asbāb al-nuzūl al-jadīd.
Ada pula jurnal berjudul Urgensi Asbāb Al-Nuzūl Menurut Al- Wahidi yang ditulis oleh Siti Muslimah, Yayan Mulyana, dan Medina Chodijah (Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
Artikel ini berkesimpulan bahwa menurut beliau, asbāb al-nuzūl begitu diperlukan untuk menemukan hakikat turunnya ayat serta bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan saat ini. Selain itu, al-Wahidi juga sangat berhati-hati mencantumkan rujukan ke dalam kitabnya (Siti Muslimah, 2017).
Berikutnya, jurnal berjudul Konsep Asbāb al-Nuzūl dalam Menafsirkan al-Qur’an (Atas Konsep Al-Ibrāh Bi ʻUmūmi Lafżi Lā Bi Khususi Sabāb dalam Kitab al-Itqān ditulis oleh Usep Dedi Rostandi (Pengajar di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung) menghasilkan dua kesimpulan perspektif al-Suyuthi mengenai asbāb al-nuzūl. Pertama, asbāb al-nuzūl yang valid dapat dijadikan landasan dalam menafsirkan al-Qur’an, dan kedua, penafsiran yang dihasilkan oleh asbāb al-nuzūl yakni al-ʻibrah bi umūmi lafẓi lā bi khusūsi sabāb (Rostandi, 2011).
Selanjutnya dalam skripsi berjudul Asbab An-Nuzul Menurut Nasr Hamid Abu Zayd ditulis oleh Ahmad Tajudin dari Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang tahun 2015. Penelitian ini berfokus pada pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd yang berupaya merekontruksi konsep asbāb al-nuzūl yang pernah
11 dibangun para ulama ‘ulūm al-Qurān dengan menggunakan pendekatan hermeneutis. Nasr Hamid berpendapat bahwa asbāb al- nuzūl adalah persoalan ijtihad. Nasr Hamid menentukan asbāb al- nuzūl melalui proses analisis struktur teks dan realitas yang membentuk teks tersebut (Tajudin, 2015).
3. Asbāb al-nuzūl dalam beberapa kitab tafsir
Pada kelompok ketiga ini ditemukan skripsi berjudul Asbāb Al- Nuzūl dalam Tafsir Marah Labid (Studi Terhadap Surah al-Baqarah) ditulis oleh Muhammad Misbahul Munir. Adapun hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa di dalam Tafsir Marah Labid, asbāb al-nuzūl amat penting. Hal ini dipandang dari banyaknya penggunaan asbāb al-nuzūl dalam mengambil makna suatu ayat. Selain itu, ada satu penjelasan asbāb al-nuzūl makro pada Surah Al-Bāqarah : 228 dan ditemukan juga upaya kontekstualisasi dengan kondisi masyarakat saat itu (Munir, 2018).
Ditemukan juga sebuah tesis berjudul Asbāb al-Nuzūl dalam Tafsir Ibnu Katsir (Seputar Ayat Khamar dan Ayat Bencana Alam) ditulis oleh M. Rifai Aly Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung tahun 2019. Pada tesis ini, menghasilkan kesimpulan bahwa haramnya khamar dilihat dari proses turunnya ayat al-Qur’an, terdiri dari beberapa tahap. Pada tahap awal khamar dibolehkan, kemudian khamar diharamkan setelah terjadi beberapa peristiwa yang melatarbelakanginya. Terkait bencana alam dalam al- Qur’an, dapat disimpulkan bahwa kerusakan alam terjadi karena perbuatan tangan manusia sendiri padahal manusia sudah diberi peringatan untuk selalu ingat Allah swt. dan tidak syirik (Aly, 2019).
Ada pula skripsi yang ditulis oleh Kurniawan Abdul Somat berjudul Asbāb al-Nuzūl dalam Tafsir Al-Misbah (Studi terhadap Surah al-Māidah) pada tahun 2008. Skripsi ini menghasilkan beberapa kesimpulan, diantaranya menurut M. Quraish Shihab, asbāb al-nuzūl
12 merupakan segala hal yang jadi sebab diturunkannya suatu ayat, baik untuk menanggapi, sebagai jawaban, ataupun menjelaskan hukum pada saat terjadinya suatu peristiwa. Kedua, dalam surat al-Māidah tidak semua ayat memiliki asbāb al-nuzūl. Dari 120 ayat hanya ada 25 ayat yang ber-asbāb al-nuzūl (Somat, 2008).
4. Tafsir Al-Munīr dan Wahbah Az-Zuhaili
Adapun pada kelompok keempat, terdapat beberapa penelitian yang memfokuskan pada Tafsir al-Munīr ataupun pada mufassirnya, Wahbah Az-Zuhaili. Pertama, Analisis Metode Tafsir Wahbah Az- Zuhaili dalam Tafsir al-Munīr ditulis oleh Andy Hariyono. Jurnal ini membahas metode Wahbah az-Zuhaili yang digunakan dalam penulisan kitab tafsirnya yang menyusun ayat-ayat dalam satu topik dengan judul yang jelas, lalu diikuti dengan kajian lainnya. Wahbah juga mengombinasikan antara metode ma’tsur dan ra’yu serta menukil riwayat dari Nabi saw. yang dikuti dengan penelaahan mendalam sebagai petunjuk dalam memahami al-Qur’an (Hariyono, 2018).
Kedua, Studi Kitab Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili dan Contoh Penafsirannya Tentang Pernikahan Beda Agama ditulis oleh Baihaki. Dalam artikel ini, Baihaki memfokuskan penelitian pada kasus pernikahan beda agama dalam penafsiran Wahbah az-Zuhaili.
Kesimpulan dari penelitian ini, bisa dikatakan Wahbah az-Zuhaili mengambil pendapat yang tengah-tengah, yakni dibolehkan pria muslim menikahi wanita non-muslim ahli kitab walaupun dengan kriteria ketat. Artinya jika memang sudah tak ada lagi wanita muslimah yang lebih baik, bukan dikarenakan terdorong oleh hawa nafsu semata (Baihaki, 2016).
Dari telaah pustaka yang penulis lakukan di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada penelitian yang membahas asbāb al-nuzūl dalam Tafsir al-Munīr karya Wahbah Az-Zuhaili. Penelitian yang akan penulis lakukan berbeda dengan penelitian pada kelompok pertama, yaitu pada objek kajiannya. Kelompok pertama terfokus pada kajian asbāb al-nuzūl secara umum. Pada penelitian
13 kelompok kedua, menitikberatkan pada pemikiran beberapa ulama, di antaranya M. Amin Abdullah, al-Wahidi, al-Suyuthi dan Nasr Hamid Abu Zayd. Sejauh pencarian penulis, belum ada yang meneliti asbāb al-nuzūl dalam pandangan Wahbah az-Zuhaili secara khusus.
Pada kelompok ketiga, fokus penelitiannya pada beberapa kitab tafsir, diantaranya Tafsir Marah Labid, Ibnu Katsīr, dan al-Misbāh. Belum terdapat penelitian terkait asbāb al-nuzūl dalam Tafsir al-Munīr. Sedangkan pada kelompok empat, penelitian berfokus pada Tafsir al-Munīr karya Wahbah az- Zuhaili namun dengan analisis ayat yang berbeda dengan penelitian yang akan penulis lakukan.
Oleh karena itu, penelitian ini akan melengkapi penelitian dengan model kelompok ketiga. Penelitian ini berbeda dari analisis ayat dan kitab tafsir yang digunakan, yaitu surah An-Nūr pada Tafsir al-Munīr.
G. Metodologi Penelitian
Dalam metode penelitian, dijelaskan rancangan penelitian yang meliputi langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, dan cara menganalisis data tersebut (Rusmana, 2015, p. 33). Adapun metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research), yaitu penulis mengumpulkan data dan informasi dari bermacam referensi di perpustakaaan, seperti buku, jurnal, tesis, disertasi, dan sebagainya.
Jenis penelitian ini akan menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa bertujuan untuk mencari esensi makna tertentu yang terkandung dalam sebuah teks, termasuk dalam hal ini adalah teks tafsir (Rusmana, 2015, p. 24).
Adapun sumber informasi dalam riset skripsi ini terdapat dua sumber, diantaranya sumber data primer (sumber pokok) dan sumber data sekunder.
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Tafsir al-Munīr karya Wahbah Az-Zuhaili terutama tafsirnya surah An-Nūr. Sedangkan sumber data sekunder yang digunakan yaitu diperoleh dari buku, kitab, jurnal, skripsi, dan literatur
14 lainnya sebagai menunjang atau pelengkap data penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang diangkat.
H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan akan dibagi menjadi lima bab yang disusun secara sistematis, di antaranya:
Bab I berisi pendahuluan. Pendahuluan meliputi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka berpikir, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan arah supaya penelitan ini tetap berada pada jalurnya sesuai dengan rencana.
Bab II menjelaskan landasan teori yang digunakan, meliputi pengertian asbāb al-nuzūl, sejarah asbāb al-nuzūl, redaksi asbāb al-nuzūl, cara-cara mengetahui asbāb al-nuzūl, pandangan para ulama terkait asbāb al-nuzūl, serta urgensi asbāb al-nuzūl.
Bab III berisi biografi Wahbah az-Zuhaili dan Tafsir al-Munīr.
Pembahasan mengenai Wahbah Az-Zuhaili meliputi kelahiran dan wafatnya, riwayat pendidikan dan pengajarannya, serta karya-karyanya. Sedangkan terkait Tafsir al-Munīr meliputi latar belakang penafsiran, sumber penafsiran, metode penafsiran, dan sistematika penafsiran.
Bab IV berisi hasil analisis penggunaan asbāb al-nuzūl dan urgensinya terhadap penafsiran di dalam Tafsir al-Munīr. Kemudian akan dianalisis pengaruh penggunaan asbāb al-nuzūl dalam penafsirannya.
Bab V berisi simpulan penelitian dan saran yang ditujukan kepada pembaca untuk menjadi referensi penelitian selanjutnya.