PEMAKNAAN MURAL GRAFITTI “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara” (Studi semiotic pemaknaan Mural Grafitti “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”).

Teks penuh

(1)

Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”

( STUDY SEMIOTIK PEMAKNAAN MURAL GRAFITTI “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara” )

S K R I P S I

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh Gelar Sarjana pada FISIP UPN : “Veteran” Jawa Timur

OLEH :

Rizky Bhaskara

0643010055

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

(2)

Oleh :

RIZKY BHASKARA

0643010055

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada Tanggal : 11 Juni 2010

Menyetujui,

Pembimbing, Tim Penguji,

1. KETUA

Drs. Kusnarto, M.Si Dra.Sumardjijati, M.S NIP.19580801 198402 1001 NIP. 19620323 199309 2001

2. SEKRETARIS

Drs. Kusnarto, M.Si NIP.19580801 198402 1001

3. ANGGOTA

Dra.Dyva Claretta NPT. 3 6601 94 0025 1

Mengetahui, DEKAN

(3)

Assalaamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat serta karuniaNya sehingga

penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.

Keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman penulis membuat

Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Berkat usaha, dorongan serta

bimbingan dari berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan Skripsi ini, maka pada akhirnya Skripsi ini dapat terselesaikan.

Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Bapak

Drs. Kusnarto, M.Si selaku Dosen Pembimbing penulis yang selama ini telah

membimbing serta memberikan pengarahan kepada penulis dengan penuh

kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.

Pada kesempatan ini pula penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih

yang sebesar-besarnya atas segala bantuan dan bimbingannya kepada :

1. Dra. Hj. Suparwati, M. Si, Dekan FISIP UPN Veteran JATIM

2. Bapak Juwito, S.Sos., M.Si, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP

UPN Veteran JATIM

3. Drs. Saiffudin Zuhri, M.Si, Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi

FISIP UPN Veteran JATIM

4. Drs. Kusnarto, M.Si, Membimbing Peneliti Sampai Selesainya Penelitian

Ini.

(4)

iv

kasih atas segala dorongan, bimbingan, nasihat-nasihat, serta doa yang terus

menerus

8. Sahabat dan teman-teman dekat penulis, Mamed, Eraz, Cris, Rizal, Echa’,

Jatmiko, Angga.

9. Stephanie Gita Pasassung, terimakasih atas dukungan, serta yang selalu

memberikan motivasi selama ini.

10. Seluruh pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu dan memberikan semangat dalam menyelesaikan Skripsi ini.

Akhir kata, penulis memohon kehadirat Tuhan Yang Maha Esa semoga

segala bantuan yang telah mereka berikan kepada penulis mendapatkan balasan

dari Tuhan YME.

Harapan penulis, semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang

menggunakannya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Surabaya, Mei 2010

(5)

Halaman

JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR GAMBAR... viii

DAFTAR LAMPIRAN... ix

ABSTRAKSI... x

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah...

1.2. Perumusan Masalah...

BAB II KAJIAN PUSTAKA

(6)

2.1.7. Grafitti Sebagai Budaya Tulisan...

2.2. Kerangka Berpikir...

18

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian...

3.2. Kerangka Konseptual...

3.2.1. Korpus Penelitian...

3.2.2. Unit Analisis...

3.3. Teknik Pengumpulan Data...

3.4. Teknik Analisis Data...

(7)

vii

4.1. Gambaran Umum Objek...

4.1.1. Lukisan Mural Grafitti... ...

4.2. Penyajian Data...

4.3. Pemaknaan Mural Grafitti “Indonesiaku kaya-raya tapi

kok sengsara” dalam Konteks Chrles Sanders Pierce...

4.4.Analisis Mural Grafitti “Indonesiaku kayaraya tap kok

sengsara”...

4.4.1. Ikon...

4.4.2. Indeks...

4.5.3. Simbol...

4.5.Pemaknaan Mural Grafitti “Indonesiaku kaya raya tapi kok

sengsara” Dalam Model Triangle Meaning...

42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan...

5.2. Saran...

60

61

(8)

Halaman

Gambar 1. Contoh Gambar “Tagging”... 4

Gambar 2. Contoh Gambar Mural... 5

Gambar 3. Segitiga Makna Pierce...………... 29

Gambar 4. Model Kategori Tanda Pierce... 30

Gambar 5. Korpus Penelitian... 38 Gambar 6. Hubungan Antara Objek, Tanda, dan Interpretant Dalam

Semiotik Pierce

(9)

Halaman Lampiran 1. Gambar Mural Grafitti “Indonesiaku kaya raya tapi kok

sengsara... 64

(10)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemaknaan mural graffiti Mural Grafitti “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”kedalam sistem komunikasi berupa tanda dan lambang.

Penelitian ini menggunakan kedekatan teori pemaknaan, penggambaran bom berwajahkan (superhero) spiderman, tulisan, warna dalam grafitti, dan komunikasi sebagai suatu proses simbolik.

Mural Grafitti tersebut akan diteliti dengan menggunakan pendekatan studi semiotik, yaitu teori semiotik menurut Charles S. Pierce. Berdasarkan teori semiotik Pierce maka gambar mural grafiiti tersebut akan diteliti berdasarkan pengelompokan tanda Pierce. Ikon (icon) yaitu suatu hubungan antara tanda dan objek yang bersifat kemiripan. Indeks (index) yaitu adanya suatu hubungan alamiah dengan antara tanda dan petanda yang terdapat hubungan sebab akibat. Simbol (symbol) yaitu merupakan tanda yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya.

Berdasarkan pengamatan penulis terhadap mural graffiti “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara” maka penulis memaknai ikon Mural Grafitti adalah gambar bom berwajahkan (superhero) spiderman. Indeks dalam Mural Grafitti tersebut adalah teks / tulisan “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”. Sedangka simbol adalah topeng berwarna hijau dan segala bentuk pewarnaan.

Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian pada mural graffiti “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”, maka dapat dimaknai bahwa graffiti bukan hanya sekedar seni corat-coret tembok yang hanya bias merusak tata kota. Namun dibalik itu semua ada sebuah pesan yang terkandung dalam graffiti tersebut. Pesan dalam mural graffiti tersebut adalah Indonesia pada saat ini sangatlah kacau. Apalagi dalam permasalahan hukum, Seseorang yang salah dapat dibenarkan, dan yang benar disalahkan.Bila keadaan seperti terus berlanjut maka akan hancurlah Indonesia. Sebab kehancuran tersebut dikarenakan banyak orang-orang yang mampu, peduli untuk dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik, namun karena banyaknya peraturan atau sistem yang mengikatnya. Hal itu yang menyebabkan orang-orang tersebut untuk terpaksa diam dan tidak jadi melakukan apa-apa. Sedangkan orang-orang yang seharusnya bertindak dan mempunyai kekuasaan (pejabat) justru diam. Menganggap tidak terjadi apa-apa namun hanya mengambil keuntungan sebesar-besarnya untuk pribadi, serta golongan diatas penderitaan orang lain.

(11)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari kaomunikator ke

komunikan dengan menggunakan media tertentu untuk mendapatkan efek

tertentu. “Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna” (Mulyana,

2001:68). Manusia berkomunikasi bukan hanya menggunakan bahasa verbal saja

melainkan menggunakan bahasa non verbal. Bahasa non verbal juga dapat

berfungsi untuk menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan

belum sempurna, peyakin apa yang telah diucapkan (repetition), menunjukan

perasaan dan emosi yang tidak bias diutarakan dengan kata-kata (substitution),

dan menunjukan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (Cangara,

2002:109).

Banyak hal yang perlu dikomunikasikan dalam dunia ini. Dan ada beberapa

media yang tersedia untuk kita sebagai alat berkomunikasi (baik media cetak dan

elektronik). Media-media tersebut berfungsi sebagai penghubung antara

komunikator dan komunikan. Bila kita lihat lagi dalam segi sejarah manusia telah

menggunakan simbol-simbol atau tanda dalam proses komunikasi mereka sejak

dahulu. Manusia prasejarah menggunakan komunikasi non verbal dengan

mencorat-coret tembok gua sebagai alat berkomunikasi. Kebiasaan melukis di

dinding ini bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan

(12)

aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan

alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.Kegiatan

grafitti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman

Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di

dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara

di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk

kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar. (Wikipedia Indonesia).

Grafitti berasal dari bahasa Yunani “graphien” yang artinya menuliskan. Grafitti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang

menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan

kalimat tertentu di atas dinding. Kata grafitti merupakan bentuk jamak dari

graffito” yang berasal dari bahasa Italia. Biasanya daerah kumuh lebih sering

menjadi suatu arena bagi kreafitas liar tersebut. Sasaran utama kaum bomber

(seniman graffiti) adalah dinding atau tembok yang tidak terawat. Tembok yang

dicat putih bersih tidak pernah menjadi sasaran empuk bomber yang mengerjakan

grafitti artistik tersebut. Bilapun ada, maka dapat dipastikan grafitti tersebut

bukanlah grafitti artistik melainkan tagging belaka.

Grafitti adalah julukan untuk corat-coret atau tulisan yang dibuat seseorang

atau komunitas sebagai label identitasnya diruang publik kota, seperti tembok

bangunan, pagar, bangku taman, dan sebagainya. Seni lukis ini pertma

dipopulerkan pada tahun 80-an oleh para pemuda hip-hop New York kemudian

merambah kedaratan Eropa dan keseluruh dunia. Grafitti (juga dieja Grafitty atau

(13)

bentuk, dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu diatas dinding. Alat yang

digunakan biasanya cat semprot kaleng (aerosol) atau pylog.

Banyak masyarakat kita yang menganggap graffiti merupakan seni

corat-coret yang merusak kebersihan tata kota, namun seni ini merupakan luapan

ekspresi seni yang dituangkan oleh para bomber (seniman grafitti) untuk kita

hargai. Dan banyak juga dari kita menganggap grafitti merupakan tindakan

vundalisme.

Di Surabaya sendiri seni grafitti mulai berkembang pada tahun 2005.

Banyak bomber (seniman grafitti) bermunculan untuk menuangkan ide-ide mereka. Namun pada tahun tersebut semua kegiatan mereka masih bersifat

non-legal. Dan pada tahun 2006 aksi seni grafitti dilakukan pada acara Festival Seni

Surabaya 2006 yang berlangsung pada 1-15 Juni 2006.

Grafitti bukan hanya sekedar gambar saja yang terlukis dalam media tembok

melainkan suatu proses interaksi dengan orang yang memilki kesamaan dalam

pengalaman, selain itu gambar tersebut memilki makna dan arti khusus. Grafitti

merupakan proses komunikasi antara komunikator sebagai seniman grafitti

dengan komunikan sebagai pihak penikmat graffiti dan menggunakan pesan yang

berupa gambar graffiti itu sendiri. Dalam dunia grafitti ada beberapa jenis antara

lain “mural” dan “tag”. “Tag” yaitu jenis grafitti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak grafitti jenis ini bertebaran,

maka makin terkenalah nama pembuatnya. Karena itu grafitti jenis ini

memerlukan tagging atau tanda tangan dari pembuat atau bomber-nya. Semacam

(14)

mereka dengan corak tersendiri. Hasil karya seni tersebut memiliki arti dan makna

yang berbeda-beda.

Gambar I

Contoh Gambar “Tagging

Sedangkan mural merupakan lukisan berukuran besar yang dibuat pada

dinding (interior ataupun eksterior), langit-langit, atau bidang datar lainnya untuk

(15)

Gambar II

Contoh Gambar “Mural”

Banyak tembok-tembok di ruang publik digunakan sebagai media aktifitas

para seniman-seniman grafitti tersebut. Jika kita berhadapan dengan gratfiti sama

halnya berhadapan dengan bentuk bahasa simbolik. Sebenarnya apa yang disebut

dengan tanda adalah interpretan itu sendiri yang akan membentuk sebuah

interpretan baru yang dapat diinterpretasikan kembali. (Zoest, 1978:28). Dalam

hal ini dapat bahwa sebuah tanda terjadi karena proses interpretasi simbol-simbol

atau tanda yang sebelumnya. Setiap orang memiliki pandangan yang

berbeda-beda. Pandangan tersebut yang dinamakan persepsi. Persepsi juga dapat diartikan

(16)

dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut

mempengaruhi pengaruh kita (Mulyana, 2001:167) Sedangkan John R. Wenburg

dan William W. Wilmot mendefinisikan persepsi sebagai cara organisme

memberi makna.

Kegiatan persepsi terdiri dari 3 aktifitas, yaitu : seleksi, organisasi, dan

interpretasi. Dengan merujuk pada inti komunikasi yaitu persepsi, memungkinkan

kita untuk memaknai objek dari sudut pandang berbeda. Meskipun terkadang kita

melakukan kekeliruan dalam mempersepsi lingkungan. Indera kita terkadang

menipu kita. Dan itulah yang disebut sebagai “ilusi”.

Peneliti tertarik terhadap fenomena grafitti dikarenakan disatu sisi grafitti

yang dianggap sebagai seni yang merugikan dan dianggap sebagai tindakan

vundalisme. Dan juga grafitti memiliki nilai yang positif yakni sebagai penghias

ruang publikl. Karena banyaknya grafitti yang ada, maka peneliti mengangkat

salah satu gambar grafitti yang berada di Jalan Achmad Yani Surabaya tepatnya

samping pertokoan Carrefour (Yang dahulunya Alfa) Achmad Yani.

Gambar ini dipilih oleh penulis karena terletak pada ruang publik yang

menarik penglihatan setiap orang yang melintas pada dareah tersebut. Selain itu

juga didasarkan pada unsur-unsur simbolik yang terdapat pada grafitti, sehingga

terdapat suatu makna pesan seni grafitti melalui interpretasi terhadap tanda-tanda

yang berada didalamnya.

Sedangkan pemilihan korpus penelitian grafitti gambar ini lebih didasarkan

(17)

didukung dengan adanya mural bumi berwajah Spiderman serta mural “topeng”

yang bersebelahan. Peneliti tertarik meneliti gambar ini karena pada saat

pembuatan grafitti ini banyak terjadi permasalahan atau kejadian di Indonesia,

antara lain : Kasus Prita Mulyasari dengan rumah sakit Omni Internasional,

RusaknyaTanggul Situ Gintung, Bom JW MAriot dan Ritz Calton, Perseteruan

KPK-POLRI, KAsus Century. Pembatan mural grafitti “indonesiaku kaya

rayatapi kok sengsara” terinspirasi darai beberapa kejadian tersebut

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah ini adalah “

Bagaimana pemaknaan seni mural grafitti versi “Indonesiaku kaya raya tapi kok

sengsara”

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui makna dari

tanda-tanda yang disampaikan dalam graffiti versi “Indonesiaku kaya raya tapi kok

(18)

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Terdapat dua manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini,

A. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini nantinya diharapkan bisa memberi masukan mengenai

studi komunikasi tentang analisa dengan pendekatan semiotik.

B. Manfaat Praktis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang

(19)

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Komunikasi

Menurut Everett M. Rogers definisi komunikasi adalah proses dimana

suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud

untuk mengubah tingkah laku mereka (Cangara, 2002:19). Dan ada juga yang

mendefinisikan komunikasi sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator

ke komunikan untuk mencapai efek tertentu. Individu berkomunikasi untuk

mendapat pemaknaan terhadap persepsi mereka. (Mulyana, 2001;167)

mengungkapkan bahwa persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita

memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan sekitar

kita, dan proses tersebut mempengaruhi kita.

Manusia dalam berkomunikasi menggunakan tanda dan simbol-simbol.

Untuk itu setiap individu harus melakukan penafsiran terhadap tanda-tanda

(decoding). Untuk itu terdapat studi untuk pemaknaan terhadap tanda-tanda pada

umumnya, serta studi tentang system bekerjanya kode-kode atau symbol dalam

suatu budaya yang diberi nama “Semiologi” atau “Semiotika”. Dalam hal ini

semiotika atau semiologi dibedakan menjadi dua jenis, yakni semiotika

komunikasi dan semiotika signifikas. Semiotika komunikasi lebih menekankan

pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan

(20)

tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan). Sedangkan

semiotika signifikasi lebih menekankan pada teori tanda dan pemahamannya

dalam suatu konteks tertentu. Semiologi adalah suatu ilmu atau metode analisis

untuk mengkaji tanda (Sobur, 2004:15). Tanda-tanda adalah perangkat yang kita

pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia

dan bersama-sama manusia. Begitu juga dengan grafitti yang merupakan sebuah

tanda atau symbol yang penuh dengan arti dan merupakan hasil dari subculture.

2.1.2 Komunikasi Non Verbal

Pengertian komunikasi nonverbal menurut Mark L Knapp, biasanya

digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap

dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak

peristiwadan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui symbol-simbol verbal.

Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh

bersifat nonverbal. (Mulyana,2001:312).

Menurut Larry A.Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal

mencakup semua rangsangan(kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting

komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan pengguna lingkungan oleh

individu, yang mempunyai nilai potensial bagi pengirim atau penerima. Definisi

ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari

peristiwa komunikasi secara keseluruhan. Seringkali kita mengirim banyak pesan

nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain

(21)

Richard E. Porter membagi pesan-pesan nonverbal manjadi dua kategori besar

yakni : pertama, perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan

postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan, dan prabahasa;

kedua, ruang, dan diam. Klasifikasi Larry danRichard ini sejajar dengan

klasifikasi John R Wenburg dan William W. Wilmot, yakni isyarat-isyarat

nonverbal bersifat publik seperti ukuran ruangan dan faktor-faktor situasional

lainnya. (Mulyana,2001:317)

2.1.3 Komunikasi Sebagai Proses Simbolik

Salah satu kebutuhan manusia adalah berkomunikasi dan komunikasi

manusia tidak terlepas dari unsur-unsur simbol dan tanda. Lambang atau simbol

adalah tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada orang

(Herusatoto, 2000:10). Secara etimologi simbol (symbol) berasal dari kata Yunani

“sym-ballein” yang berarti melemparkan bersama suatu (benda, perbuatan)

dikaitkan dengan suatu ide. (Hartoko & Rahmanto, 1998:133). Lambang atau

simbol digunakan berdasarkan pada kesepakatan bersama. Menurut Alex Sobur

lambang atau simbol melibatkan tiga unsur, yaitu simbol itu sendiri, satu rujukan

atau lebih, dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini merupakan

dasar bagi semua makna simbolik (Sobur, 2004:156). Hubungan lambang objek

dapat diinterpretasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak

memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi)

yang menyerupai apa yang direpresentasikan. Representasi ini berdasar pada

(22)

merepresentasikan objek lain. Indeks sering disebut sebagai sinyal (signal), yang

dalam bahasa sehari-hari diseburt sebagai gejala (symptom). Indeks muncul

berdasarkan hubungan sebab akibat yang mempunyai kedekatan eksistensi. Oleh

karena itu pengguanaan lambang, ikon, dan indeks dalam kehidupan manusia

merupakan hal yang lazim.

2.1.4 Culture

2.1.4.1 Pengertian Culture

Kultur merupakan sinonim dari kata kebudayaan berasal dari kata culture

dan dari bahasa latin la culture. Kultur atau budaya memilki arti yaitu hasil

kegiatan intelektual manusia, suatu konsep yang mencakup berbagai komponen

yang digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan

kehidupan sehari-hari ( Purwasito;2003,95).

“Kebudayaan adalah keseluruhan sisitem gagasan, tindakan, dan hasil

karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri

manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990:180).”

Culture memilki tujuh unsure yang universal, yaitu bahasa, system pengetahuan,

organisasi social, system peralatan hidup dan teknologi, system mata pencaharian

(23)

2.1.4.2 Subculture

Didalam sebuah culture atau kebudayaan terdapat sebuah subculture.

Dalam hal ini subculture dapat diartikan sebagai bagian mikro dari sebuah culture

yang memilki cara hidup (budaya) tertentu yang membedakan mereka dengan

lingkungan budaya yang lebih makro disekitarnya. Para seniman grafitti dapat

dikatagorikan sebagai subculture. Mereka mempunyai cara hidup (budaya)

tersendiri.

2.1.5 Street Art Grafitti Dalam Kajian Budaya

Graffiti merupakan suatu bentuk karya seni yang telah merambah ke

sejumlah kota besar di Indonesia. Karya seni publik yang lahir dari kota New

York ini telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang awalnya hanya

sekedar corat coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki nilai seni. Pada tahun

2004 graffiti artistik masuk ke kota Surabaya. Kehadiran graffiti di Surabaya

memiliki kontroversial. Masyarakat menilainya dari dua sisi, semakin

memperindah kota atau semakin memperburuk kota. Dalam perkembangannya

kini graffiti sudah mengarah pada bentuknya yang artistik (Tidak sekedar corat

coret) dan mampu memberikan keseimbangan lingkungan secara visual maupun

perannya dalam berhubungan dengan budaya maupun masyarakat sosial setempat.

Pembuat graffiti tersebut disebut graffiti writer (bomber), mereka memiliki

motivasi yang beragam ketika membuat graffiti. Ada yang melakukannya untuk

memperindah kota namun ada juga yang melakukannnya sebagai bentuk kegiatan

(24)

tembok milik seseorang tanpa meminta ijin kepada orang tersebut. Graffiti sendiri

senderung dicap oleh masyarakat sebagai karya vandalism dan kurang mendapat

tempat di hati masyarakat, meskipun dalam graffiti itu terdapat unsur seni

kaligrafi. Beberapa graffiti writer tidak suka dengan julukan sebagai bomber,

menurut mereka itu adalah istilah nama yang dilabelkan pada mereka yang suka

corat coret pada dinding publik (ngebom). Aktivitas komunitas ini selain

melakukan corat coret dalam satu kelompok sendiri, mereka juga sering

melakukan production atau berkarya bersama-sama dengan kelompok graffiti lain.

Dalam membuat karya graffiti, para bomber mencari tembok-tembok yang

tidak terawat untuk digunakan sebagai media. Tembok tak terawat yang dimaksud

adalah tembok yang dibiarkan kumuh, tembok yang dulu putih bersih sekarang

ada lumut hingga kecoklatan, dan tembok yang dibiarkan rusak, dan tembok

miliki umum yang tidak terawat oleh instansinya. Namun bagi beberapa bomber

yang memiliki jiwa pemberontakan dan akti kemapanan, tembik yang bagus juga

dapat menjadi sasaran. Mereka bosan dengan warna putih yang menyilaukan

mata. Jika di kawasan perumahan, mereka melakukannya untuk mendobrak

tatanan yang rapi dengan memberikan karya graffiti agar nampak eye catching.

Graffiti yang dibuat umumnya adalah tulisan nama-nama gank (kelompok). Di

Surabaya gank yang paling sering membuat graffiti adalah MNC (Monica Never

Comes), humble, SAS (Street Art Surabaya), Artelinie, Public Enemy dan Yuck

(25)

Graffiti yang tumbuh di Surabaya masih mengandalkan referensi dari luar

negeri, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, kondisi ini juga terjadi di

beberapa kota lainnya di Indonesia. Padahal sebagai karya seni, graffiti

seharusnya mampu mengeksplorasi gaya maupun karakter dari lingkungan

setempat, dan tidak mengacu pada karakter yang sudah ada.

Motivasi sebagian besar bomber dalam membuat graffiti adalah untuk

memperindah kota. Bagi mereka, indak tidak sama dengan bersih. Tembok yang

dicat putih bukanlah keindahan tetapi kebersihan. Bersih belum tentu indah tetapi

indah bisa dimaknai dengan bersih. Graffiti merupakan karya seni yang berpotensi

memperindah kota apabila graffiti tersebut mampu berinteraksi dengan

lingkungannya. Komunitas graffiti Surabaya membuat karya masih mengikuti

trend namun tidak diikuti dnegan kualitas visual graffiti. Sehingga, semakin

menimbulkan kesemrawutan visual kota yang sudah dikacaukan oleh bilboard

produk iklan.

Pada dasarnya aksi street art graffiti ini dibuat atas dasar anti estetik dan

chaostic (bersifat merusak, baik dari segi fisik maupun non fisik). Selain itu juga

untuk memuaskan ego pembuatnya. Namun motivasi para bober tersebut tidak

eksistensi dirinya atau komunitasnya melalui coretan graffiti. Namun graffiti

makin berkembang dan tidak sekedar menampilkan gambar unik, melalui evolusi

visual graffiti juga mampu mmbuat rangkaian-rangkaian huruf yang artistik dan

khas. Sebagai ciri pula, biasanya para bomber menyelipkan ikon khusus pada

karya mereka. Sehingga para seniman atau komunitas yang akrab dengan dunia

(26)

Indonesia perkembangannya cukup pesat terutama di kota besar seperti Jakarta.

Tida jarang di setiap tembok jalanan atau fasilitas umum ditemukan

coretan-coretan unik. Memang ada yang membuat coret-coretan-coretan hanya sekedar iseng tapi

tak jarang pula yang hasil karyanya justru memperindah penampilan kota.

Memang perkembangan graffiti di Indonesia masih berkiblat kepada

perkembangan di luar negeri yang lebih maju.. hal ini karena para graffiti writer

disana memulai karir mereka sejak usia muda, berkembang bersama lingkungan

dan bereksplorasi. Lain dengan bomber kita yang masih didominasi oleh para

seniman atau mahasiswa seniman, bahkan sebagian besar bomber jalanan di

Surabaya didonimasi adalah siswa SMP dan SMA yang notabene adalah

anak-anak muda yang masih mencari jati dirinya.

Graffiti dianggap sebagai sebuah kejahatan, karena mengotori lingkungan.

Tapi semakin lama graffiti mendapat tempat di masyarakat bahkan sudah banyak

komunitas graffiti yang menjamur dimana-mana, mereka memiliki misi dan visi

untuk memperindah kota mereka. Mereka berpendapat bahwa kebersihan tidak

relevan dengan keindahan. Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan tetapi

kebersihan. Bersih bagi mereka belum tentu indah, sedangkan indah bisa

dimaknai dengan bersih. Disisi lain mereka tida menampik pendapat bahwa ada

sisi vandalisme yang dilakukan oleh para bomber. Tetapi beberapa bomber

mengakui bahwa ada semacam gejala idoelogi yang menyebutkan bahwa

membuat graffiti memang harus bersifat vandalis. Fenomena graffiti di Surabaya

yang masih baru berkembang tersebut serta jiwa muda yang ada dalam

(27)

kemapanan dan tantangan. Ingin menunjukkan diri bahkan tidak malu-malu

menyebut dirinya sebagai seorang vandalis seakan-akan menjadi kebanggaan

tersendiri bagi seorang bomber.

2.1.6 Graffiti dalam Revolusi Budaya

Bergeraknya zaman dan peradaban manusia mempengaruhi secara

signifikan budaya manusia, dalam hal berkesenian. Di satu pihak ada yang tetap

setia bertahan pada jalur ekspresi individu yang disebut fine art (seni murni) dan

d pihak lain ada yang kemudian bergerak ke jalur praktis – fungsional yang

kemudian disebut sebagai desai. Gerakan seni rupa sendiri mengalami

metamorfosis sejak adanya revolusi industri sekitar abad ke -18 dimana telah

ditemukannya alat cetak tinggi (hand press) oleh Johannes Gutenberg. Kemudian

Perang Dunia, dimana untuk mengobarkan semangat juang bertempur melawan

musuh dilakukan dengan menyebarluaskan propaganda pemimpin dan doktrin

melalui poster-poster, memasuki tahun 2000-an berkembang berbagai isu antara

lain tentang lingkungan, konflik dan persoalan-persoalan sosial lainnya. Seni rupa

visual telah digunakan sebagai medium untuk mengungkapkan persoalan sosial

melalui berbagai bentuk seperti poster dna iklan masyarakat, baik di media cetak

maupun elektronik (Hadi Prodi Diskomvis FSR ISI, 2007 : 4-9). Tidak terlepas

adanya kebebasan dalam berekspresi yang tengah dilakukan oleh komunitas

graffiti dengan melakukan protes dan propaganda melalui coretan-coretan di

(28)

2.1.7 Graffiti sebagai Budaya Tulisan

Adanya budaya tulisan telah mempengaruhi manusia dalam berkomunikasi

dengan sesamanya. Sehingga komunikasi yang pada mulanya melalui tatap muka

beralih ke pertukaran pesan melalui transmisi simbol yang dapat diterjemahkan

oleh kelompok atau komunitas tertentu. Kini budaya tulisan menyajikan kata-kata

yang dapat dibaca dan merupakan cara yang paling baik dan esensial untuk

mewarkan nilai budaya pada generasi berikutnya (Liliweri, 2003 : 146). Sebagai

coretan pada dinding publik, graffiti telah dianalogikan sebagai budaya tulisan dan

merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.

2.1.8 Teori-Teori Makna

Ada beberapa pandangan yang menjelaskan kensep makna. Model proses

makna Wendell Johnson (1951, dalam Devito, 1997: 123-125) menawarkan

sejumlah implakasi bagi komunikasi antar manusia:

1. Makna berubah. Kata – kata relatf statis. Banyak dari kata – kata yang kita gunakan sekarang juga digunakan 200 atau 300 tahun yang lalu.

Tetapi makna dari kata – kata ini terus berubah, dan ini khususnya

terjadi pada dimensi emosional dari makna. Bandingkanlah, misalnya,

makna kata – kata berikut bertahun – tahun yang lalu dan sekarang,

hubungan diluar nikah, obat, agama, hiburan, perkawinan, (di Amerika

serikat, di terima secara berbeda pada saat ini dan masa – masa yang

(29)

2. Makna membutuhkan acuan. Walaupun tidak semua komunikasi mengacu pada dunia nyata, komunikasi hanya  masuk akal apabila ia

mempunyai kaitan dengan dunia atau lingkungan eksternal. Obsesi

seorang paranoid yang selalu merasa diawasi dan teraniaya merupakan

contoh makna yang tidak mempunyai acuan yang memadai.

3. Penyingkatan yang berlebihan akan mengubah makna. Berkaitan erat dengan gagasan bahwa embutuhkan acuan adalah masalah

komunikasi yang timbul akibat penyingkatan berlebihan tanpa

mengaitkannya dengan acuan yang kongkret dan dapat diamati. Bila

kit berbicara tentang cinta persahabatan, kebahagiaan. Kebikan,

kejahatan dan konsep – konsep lain yang serupatanpa mengaitkannya

dengan sesuatu yang spesifik, kita tidak akan bisa berbagi makna

dengan lawan bicara. Mengatakan kepada seorang anak untuk ‘manis’

dapat mempunyai banyak makna. Panyingkatan perlu dikaitkan dengan

obyek, kejadian dan perilaku nyata.

4. Makna tidak terbatas jumlahnya. Pada suatu saat tertentu, jumlah kata dalam suatu bahasa terbatas, tetapi maknanya tidak terbatas. Karena

itu kebanyakan kata memiliki banyak makna. Ini bisa menimbulkan

sebuah masalah bila sebuah komunikasi. Bila anda ragu sebaiknya

(30)

5. Makna berkomunikasi hanya sebagian. Makan yang kita peroleh dari suatu kejadian (event) multiaspek dan sangat kompleks, tetapi hanya

sebagian saja dari makna – makna itu yang dapat dijelaskan.banyak

dari makna terseut tinggal dibenak kita. Karenanya, pemahaman yang

sebenarnya pertukaran makna secara sempurna secara sempurna

barangkali merupakan tujuan ideal yang ingin dicapai tetapi tidak

pernah tercapai.

2.1.9 Bom

Bom adalah alat yang menghasilkan ledakan yang mengeluarkan energi

secara besar dan cepat. Ledakan yang dihasilkan menyebabkan kehancuran dan

kerusakan terhadap benda mati dan benda hidup disekitarnya, yang diakibatkan

oleh pergerakan tekanan udara dan pergerakan fragmen-fragmen yang terdapat di

dalam bom, maupun serpihan fragmen benda-benda disekitarnya. Selain itu, bom

juga dapat membunuh manuia dengan hanya suara yang dihasilkannya saja. Bom

telah dipakai selama berabad-abad dalam peperangan konvensional maupun

non-konvensional.

Kata bom berasal dari bahasa Yunani βόμβος (bombos), sebuah istilah

yang meniru suara ledakan 'bom' dalam bahasa tersebut. Bom adalah senjata;

istilah "bom" jarang digunakan untuk menyebut bahan peledak yang digunakan

untuk keperluan sipil, misalnya dalam pembangunan dan penambangan. Alat

peledak dalam militer juga banyak yang tidak disebut "bom". Pemakaian kata

(31)

dijatuhkan tanpa pemandu dari pesawat udara. Senjata peledak militer lainnya

misalnya granat, ranjau, peluru kendali, peluru, dan peledak kedalaman tidak

disebut "bom". (http://id.wikipedia.org/wiki/Bom)

2.1.10 Topeng

Topeng adalah benda yang dipakai di atas wajah. Biasanya topeng dipakai

untuk mengiringi musik kesenian daerah. Topeng di kesenian daerah umumnya

untuk menghormati sesembahan atau memperjelas watak dalam mengiringi

kesenian. Bentuk topeng bermacam-macam ada yang mengambarkan watak

marah, ada yang menggambarkan lembut, dan adapula yang menggambarkan

kebijaksanaan.

Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah

diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng

memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan

nilai-nilai magis dan suci. Ini karena peranan topeng yang besar sebagai simbol-simbol

khusus dalam berbagai uparaca dan kegiatan adat yang luhur.

Kehidupan masyarakat modern saat ini menempatkan topeng sebagai salah

satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang

dimilikinya, tetapi sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap

(32)

2.1.11 Indonesia

Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis

khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra

Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia

yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu Indonesia disebut juga sebagai

Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun

2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara

yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah

negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih

langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di

Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste

di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia,

dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan

Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu

ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan

Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada

awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta

berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan

rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di

(33)

Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman

dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan

periode perubahan ekonomi yang pesat.

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa

dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis

paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika"

("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara.

Selain memiliki populasi besar dan wilayah yang padat, Indonesia memiliki

wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di

dunia.

2.1.12 Super Hero

Pahlawan super (bahasa Inggris: superhero atau super hero) adalah karakter fiksi yang "memiliki kekuatan luar biasa untuk melakukan tindakan hebat

untuk kepentingan umum". Pahlawan super memiliki kemampuan atau kesaktian

di atas rata-rata manusia, memakai pakaian yang khas dan menyolok serta nama

yang khas, dan digambarkan sebagai penolong yang lemah dan pembasmi

kejahatan.

Tokoh pahlawan lain yang tidak memiliki kekuatan super juga dapat

(34)

Superhero pertama adalah Phantom yang diciptakan oleh Lee Falk, terbit di komik strip koran harian strip pada tanggal 17 February 1936, kemudian dikuti

oleh Sunday Strip pada 28 May 1939, kedua koran tersebut hingga kini tetap

berjalan.

Selain itu juga ada juga Spider-Man, Spider Man, atau Spiderman (nama asli Peter Benjamin Parker) yang artinya adalah Manusia Laba-laba, adalah pahlawan super fiktif dari Marvel Comics yang diciptakan oleh penulis

Stan Lee dan artis Steve Ditko. Ia pertama muncul dalam Amazing Fantasy #15

(Agustus 1962). Ia telah menjadi salah satu pahlawan super yang paling terkenal

di dunia. Musuhnya yang terkenal antara lain Flint Marko (Sandman), Harry

Osborn (New Goblin), Norman Osborn (Green Goblin), dan Eddie Brock

(Venom). (http://id.wikipedia.org/wiki/Spider_Man).

2.1.13 Kaya Raya

Kata kaya memiliki banyak arti, setiap orang mengartikan kata kaya

bebeda-beda, baik secara subjektif maupun objektif. Secara umum kata kaya dapat

diartikan Dalam Kamus Lengkap bahasa Indonesia kata “Kaya” memiliki

pengertian mempunyai banyak harta (uang dsb), mempunyai banyak

(mengandung banyak dsb). Sedangkan “kaya raya” memiliki pengertian kaya

(35)

2.1.14 Sengsara

Sengsara berasal dari bahasa Sansekerta : sangsāra. Ini merupakan konsep agama Hindu dan Buddha dan artinya adalah:

1. Kelahiran kembali di dunia

2. Derita

3. Siksaan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sengsara)

Sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia kata “sengsara” memiliki

pengertian kesulitan dan kesusahan hidup; penderitaan atau menderita kesusahan,

kesukaran, dsb. (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/imdex.php)

2.1.15 Pemahaman Warna

Warna merupakan ekspresi diri yang dapat mempengaruhi persepsi

seseorang. Selain itu juga warna telah menjadi bagian dari simbol dalam

komunikasi non verbal. Warna terdiri dari warna primer, yaitu warna dasar yang

terdiri dari merah, jingga, kuning, hitam, biru, nila. Dan dari warna-warna tersebut

terciptalah warna sekunder dan tersier. Merah, kuning, hijau dan biru merupakan

empat warna utama menurut pakar psikologi. Dan meskipun belum bisa dipastikan dari sudut pandang sains, tetapi pada umumnya warna akan memiliki

pengaruh atau sifat yang berbeda didalam aspek kehidupan manusia termasuk

(36)

dikomunikasikan oleh seseorang. Warna memiliki arti yang berbeda-beda, antara

lain:

Biru: Memberikan arti ketenangan yang sempurna. Memiliki kesan yang dapat menenangkan di denyut nadi, tekanan darah, pernafasan serta membantu didalam

meningkatkan kesehatan diri.

Biru tua: Memberikan arti yang melambangkan perasaan yang mendalam. Dan biasanya bersifat perasa, bijaksana, tidak mudah untuk tersinggung, bersikap

tenang dan memiliki kenalan/rekan yang luas.

Biru muda: Melambangkan sifat yang teguh dan kokoh. Tetapi biasanya sedikit keras kepala, serta sering berbangga diri dan memiliki pendirian yang tetap.

Coklat: Memiliki sifat suka merebut, pesimis terhadap kesejahteraan dan kebahagiannya di masa depan.

Hijau: Melambangkan adanya suatu ketabahan, keinginan namun keras hati. Memiliki pribadi yang keras dan dominan/berkuasa. Tetapi warna ini bisa

meningkatkan rasa bangga. Penggemar warna ini biasanya sering menjadi pilihan

untuk mendapatkan nasehat.

(37)

Kuning: Mewakili sifat kegembiraan, cukup santai, mempunyai cita-cita setinggi langit.

Kuning terang: Melambangkan sifat spontan dan toleransi yang tinggi. Begitu menonjol tetapi berubah-ubah sikap, suka berharap dan dermawan.

Abu-abu/Kelabu: Samar-samar karakternya. Kecenderungan lebih netral.

Merah: Melambangkan keadaan psikologi yang mengurangkan tenaga, mempercepatkan denyutan nadi, menaikkan tekanan darah dan mempercepat

pernafasan. Warna ini mempunyai pengaruh produktiviti, perjuangan, persaingan

dan birahi.

Merah terang: Mewakili kekuatan, kemahuan atau cita-cita. Warna ini turut melambangkan agresif, aktif, kemahuan keras, penuh ghairah dan dominasi.

Merah jambu: Romantis, feminin, selalu rapi dan penuh jenaka.

Ungu: Warna ini adalah campuran warna merah dan biru. Sifatnya sedikit kurang teliti tetapi selalu penuh harapan.

(38)

2.1.16 Keadilan dan Pemimpin Dalam Konteks Islam

Sebuah keadilan dan pemimpin memiliki pandangan sendiri dalam Islam.

Dikutip dari buku 1100 Hadist Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) :

a. Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka. (HR. Abu Na'im)

b. Rasulullah Saw berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai

Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan.

Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh

bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong

mengatasinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

c Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi

mereka. (HR. Ahmad). Hal tersebut karena dia menyalah gunakan jabatannya

dengan berbuat yang zhalim dan menipu (korupsi dll).

d. Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya

kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat. (HR.

Ath-Thabrani). Hal tersebut karena dia menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat

yang zhalim dan menipu (korupsi dll).

e. Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.

Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang

suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas

kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas

(39)

harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta

ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.1.17 Model Semiotika Charles S. Pierce

Bagi Pierce tanda “is something which stands to somebody forsomething

in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bias berfungsi,

oleh Pierce disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representation)

selalu terdapat dalam hubungan triadic, yaitu ground, object,dan interpretant.

(Sobur, 2003:41)

Teori segitiga makna (triangle meaning) Pierce terdiri atas sign (tanda),

object (objek),dan intrepretant (intrepretan). Menurut Pierce,salah satu bentuk

tanda adalah kata.Sedangkan objekadalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara

intrepretan adalah tanda yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang

dirujuk oleh sebuah tanda (sobur, 2001:115). Yang dikupas dalam teori segitiga

makna adalah persoalan bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda

itu digunakan orang pada waktu berkomunikasi. Hubungan segitiga makna Pierce

lazimnya digunakan sebagai berikut:

Sign

Intrepretant

Object

Gambar IV

(40)

Garis panah tersebut hanya bisa dimengerti dalam hubungan antara satu

elemen dengan elemen lainnya. Tanda merujuk pada sesuatu diluar tanda itu

sendiri, yaitu objek yang dipenuhi oleh seseorang. Intrepretant merupakan konsep

mental yang diproduksi oleh tanda dan pengalamanpengguna tanda sebuah objek.

Adapun ketiga kategori tanda digambarkan dalam sebuah model segitiga

sebagai berikut :

Icon

Indeks

Symbol

Gambar V

Model Kategori Tanda Pierce

Ikon adalah suatu tanda dimana hubungan antara tanda dan acuannya

berupa hubungan kemiripan. Simbol merupakan tanda yang hubungan dengan

acuannya merupakan simbol konvensi. Anggukan kepala misalnya, menandakan

persetujuan yang terbentuk secara konvensional. Tanda digunakan oleh

penggunaan tanda yang diketahui secara cultural oleh penggunanya. Pengetahuan

tentang hal tersebut didapati oleh pengguna tanda melalui berbagai jenis interaksi

social sebagai anggapan masyarakat atau budaya tertentu, berupa suatu bentuk

pengalaman dalam menghadapi peristiwa. Penggunaan tanda akan

(41)

referensi yang dimiliki. Hubungan antara pengguna tanda dan tanda adalah

hubungan makna (Fiske dalam Sobur, 2001:115).

Dengan mengacu pada model Pierce, makna dalam suatu teks tidak terjadi

dengan sendiri, melainkan diproduksi dalam hubungan antara teks dengan

penggunaan tanda. Hal ini merupakan tindakan dinamis, dimana kedua elemen

saling memberi sesuatu yang sejajar. Bila suatu teks dan pengguna tanda berasal

dari budaya yang relatif sama, interaksi keduanya lebih mudah terjadi, konotasi

mitos dalam teks telah menjadi referensi pengguna yang bersangkutan (Fiske

dalam Sobur, 2001:114).

2.1.18 Kerangka Berpikir

Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dalam

memahami suatu peristiwa objek. Hal ini dikarenakan latar belakang pengalaman

(field of experience) dan pengetahuan (frame of reference) yang berbeda-beda

pada setiap individu. Begitu juga peneliti dalam memahami tanda dan lambing

dalam objek, yang berdasarkan pengalaman dan pengetahuan peneliti.

Berdasarakan landasan teori yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat

diketahui bahwa untuk memahami dan mengerti makna pesan dari mural grafitti

versi “ Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”, mural grafitti ini kemudian oleh

peneliti dimaknai dengan menggunakan pendekatan semiotik. Pendekatan

semiotic yang digunakan adalah pendekatan semiotik dari Charles Sanders Pierce

yang mengkategorikan tanda kedalam ikon, indeks, dan simbol. Dengan Metode

(42)

berbentuk gambar, sehingga diperoleh hasil dari interpretasi data mengenai

penggambaran mural grafitti versi “ Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pemahaman terhadap tanda dan

lambang yang dalam hal ini adalah mural grafitti versi “ Indonesiaku kaya raya

tapi kok sengsara”. Tanda-tanda yang terdapat dalam setiap penggambaran mural

grafitti secara keseluruhan tersebut dikaji berdasarkan teori yang sesuai dengan

peristiwa yang melatar belakangi pembuatan mural grafitti “ Indonesiaku kaya

raya tapi kok sengsara”, yang dijabarkan secara rinci dalam pemilihan gambar,

dan kata-kata.

Peneliti menggunakan metode semiotik dari Charles S. Pierce, yaitu teori

tentang segitiga makna (triangle meaning), yang terdiri dari tanda, objek, dan

interpretan. Tanda merujuk pada sesuatu yang dirujuk tanda sementara interpretan

adalah tanda yang dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk oleh sebuah

tanda. Pierce membagi tanda kedalam tiga kategori, yaitu ikon, indeks, dan

simbol. Dengan metode tersebut, maka dapat diperoleh suatu hasil interpretasi

(43)

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kualitatif dengan menggunakan pendekatan semiotik untuk mengetahui

system tanda dan gambar yang digunakan pada pemaknaaan seni mural

grafitti versi “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara” yang berada di

dinding DLLAJ di Jl. A. Yani tepatnya samping pertokoan Carrefour (Yang

dahulunya Alfa) Achmad Yani). Alasan digunakannya metode

kualitatifberdasarkan beberapa factor, yaitu metode kualitatif akan lebih

menyesuaikan bila dalam penelitian ditemukan kenyataan ganda, kemudian

metode kualitatif menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti

dengan objek peneliti, dan metode kualitatif lebih peka serta dapat

menyesuaikan diri dengan banyak pengaruh terhadap pola nilai yang

dihadapi (Moleong, 1998:5).

Untuk menginterpretasikan objek dari mural grafitti tersebut, harus

terlebih dahulu diketahui sistem tanda yang terdapat dalam mural grafitti

yang kemudian dijadikan korpus (sampel) dalam penelitian ini. Karena

itulah, peneliti menggunakan pendekatan semiotik untuk menganalisa atau

menafsirkan makna yang terdapat dalam mural grafitti tersebut.

(44)

3.2 Kerangka Konseptual

Kerangka Konseptual merupakan suatu hubungan atau kaitan antar konsep atau antar variabel yang akan diamati (diukur) melalui suatu

penelitian. Atau konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara

konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati. Dalam penelitian

ini penulis memberikan batasan sehingga tidak menimbulkan interpretasi

yang lain dari permasalahan. Antara lain :

a. Bom

Bom adalah alat yang menghasilkan ledakan yang mengeluarkan

energi secara besar dan cepat. Ledakan yang dihasilkan menyebabkan

kehancuran dan kerusakan terhadap benda mati dan benda hidup

disekitarnya, yang diakibatkan oleh pergerakan tekanan udara dan

pergerakan fragmen-fragmen yang terdapat di dalam bom, maupun

serpihan fragmen benda-benda disekitarnya. Selain itu, bom juga dapat

membunuh manuia dengan hanya suara yang dihasilkannya saja. Bom

telah dipakai selama berabad-abad dalam peperangan konvensional

maupun non-konvensional.

Kata bom berasal dari bahasa Yunani βόμβος (bombos), sebuah

istilah yang meniru suara ledakan 'bom' dalam bahasa tersebut. Bom

adalah senjata; istilah "bom" jarang digunakan untuk menyebut bahan

peledak yang digunakan untuk keperluan sipil, misalnya dalam

(45)

yang tidak disebut "bom". Pemakaian kata "bom" dalam militer biasanya

digunakan untuk menyebut senjata peledak yang dijatuhkan tanpa

pemandu dari pesawat udara. Senjata peledak militer lainnya misalnya

granat, ranjau, peluru kendali, peluru, dan peledak kedalaman tidak disebut

"bom".

b. Topeng

Topeng adalah benda yang dipakai di atas wajah. Biasanya topeng

dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah. Topeng di kesenian

daerah umumnya untuk menghormati sesembahan atau memperjelas watak

dalam mengiringi kesenian. Bentuk topeng bermacam-macam ada yang

mengambarkan watak marah, ada yang menggambarkan lembut, dan

adapula yang menggambarkan kebijaksanaan.

Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang

pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat

dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan

yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Ini karena peranan topeng

yang besar sebagai simbol-simbol khusus dalam berbagai uparaca dan

(46)

c. Indonesia

Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis

khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara

Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan

terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu Indonesia

disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi

sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara

berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk

Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam.

Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih

langsung. Ibukota negara ialah Jakarta.

d. Superhero

Pahlawan super (bahasa Inggris: superhero atau super hero) adalah karakter fiksi yang "memiliki kekuatan luar biasa untuk melakukan

tindakan hebat untuk kepentingan umum". Pahlawan super memiliki

kemampuan atau kesaktian di atas rata-rata manusia, memakai pakaian

yang khas dan menyolok serta nama yang khas, dan digambarkan sebagai

penolong yang lemah dan pembasmi kejahatan.

(47)

pahlawan super fiktif dari Marvel Comics yang diciptakan oleh penulis

Stan Lee dan artis Steve Ditko. Ia pertama muncul dalam Amazing

Fantasy #15 (Agustus 1962). Ia telah menjadi salah satu pahlawan super

yang paling terkenal di dunia.

e. Kaya Raya

Kata kaya memiliki banyak arti, setiap orang mengartikan kata

kaya bebeda-beda, baik secara subjektif maupun objektif. Secara umum

kata kaya dapat diartikan Dalam Kamus Lengkap bahasa Indonesia kata

“Kaya” memiliki pengertian mempunyai banyak harta (uang dsb),

mempunyai banyak (mengandung banyak dsb). Sedangkan “kaya raya”

memiliki pengertian kaya sekali.

f. Sengsara

Sengsara berasal dari bahasa Sansekerta : sangsāra. Ini merupakan konsep agama Hindu dan Buddha dan artinya adalah:

1. Kelahiran kembali di dunia

2. Derita

3. Siksaan.

Sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia kata “sengsara”

memiliki pengertian kesulitan dan kesusahan hidup; penderitaan atau

(48)

3.2.1 Korpus Penelitian

Korpus ialah himpunan data-data mentah yang bakal digunakan

untuk kajian linguistik Korpus atau data yang dikumpulkan berwujud data

atau tulisan. Pada penelitian ini yang menjadi korpus adalah mural grafiiti

yang bergambarkan “bom berwajah (superhero) spiderman” beserta penanda

lainnya yang terdapat pada dinding DLLAJ di Jl. A. Yani.

(49)

3.2.2 Unit Analisis

Unit analisis dalam penelitian ini adalah seluruh tanda berupa tulisan,

warna-warna serta gambar yang ada dalam mural grafitti versi “Indonesiaku kaya

raya tapi kok sengsara” di Jl. Achmad Yani tepatnya samping pertokoan Carrefour

(Yang dahulunya Alfa) Achmad Yani, yang kemudian diintrepretasikan dengan

menggunakan acuan kategori tanda yang telah dibuat oleh Pierce, diantaranya

adalah:

a. Ikon (Icon)

Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya

bersifat bersamaan bentuk alamiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah

hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan (Sobur,

2003:41). Ikon dari mural grafitti versi “Indonesia kaya raya tapi kok

sengsara” di Jl. Achmad Yani tepatnya samping pertokoan Carrefour (Yang

dahulunya Alfa) Achmad Yani adalah : bom berwajahkan superhero

(spiderman).

b. Indeks (Index)

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah

antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat,

atau tanda yang langsung mengacu terhadap kenyataan (Sobur, 2003:41-42).

Indeks dari mural grafitti versi “Indonesia kaya raya tapi kok sengsara” di Jl.

(50)

Carrefour (Yang dahulunya Alfa) Achmad Yani adalah teks bertuliskan

Indonesia kaya raya tapi kok sengsara.

c. Simbol (Symbol)

Tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda

dengan petandanya. Hubungan diantaranya bersifat arbitrer atau semena,

hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. (Sobur, 2003:42).

Simbol dari mural grafitti versi “Indonesia kaya raya tapi kok sengsara” di Jl.

Achmad Yani tepatnya tembok DLLAJ A.Yani samping pertokoan Carrefour

(Yang dahulunya Alfa) Achmad Yani adalah topeng berwarna hijau , bom

berwajahkan superhero (spiderman), serta semua bentuk pewarnaan.

3.2.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data didalam penilitian ini berasal dari data primer dan

sekunder :

1. Data primer, Korpus atau sampel data yang dikumpulkan berwujud

gambar dan tulisan, yang didokumentasikan secara visual dengan foto.

Korpus dikumpulkan secara acak dengan pedoman pada asas kelayakan,

yakni peneliti merasa cukup terhadap data bersangkutan, yang dianggap

telah merepresentasikan tentang apa yang ingin ditemukan dalam

penelitian ini.

2. Data sekunder berasal dari bahan-bahan referensi seperti buku, dan

(51)

3.3 Teknik Analisis Data

Pertama, data telah dikumpulkan dan dideskripsikan. Kedua,

peneliti menelaah makna yang terkandung dari mural grafitti tersebut

dengan menggunakan ikon, indeks, dan symbol.

Pemaknaan tersebut akan dijelaskan lewat penafsiran tanda-tanda.

Analisis ini digunakan untuk menguak apa isi dan makna yang terkandung

dari mural dan grafitti yang terlukis ada tembok-tembok tersebut. Mural

grafitti tersebut akan ditafsirkan menggunakan model semiotika Charles

Sanders Pierce yang dikategorikan dalam tiga kategori yaitu ikon, indeks,

(52)

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 Lukisan Mural Grafitti

Grafitti berasal dari bahasa Yunani “graphien” yang artinya menuliskan.

Grafitti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang

menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan

kalimat tertentu di atas dinding. Kata grafitti merupakan bentuk jamak dari

“graffito” yang berasal dari bahasa Italia. Grafitti adalah seni corat-coret atau

tulisan yang dibuat oleh seseorang atau komunitas tertentu sebagai label identitas

diruang publik, seperti tembok bangunan, pagar, bangku, dll. Seni Grafitti

pertama kali dipopulerkan pada tahun 80-an oleh para pemuda hip-hop New York

dan kemudian merambah ke daratan Eropa dan seluruh dunia.

(http://www.arthazone.com/article_detail.php?nid=276)

Dalam pembuatan mural grafitti menggunakan cat tembok maupun cat

semprot (spray paint). Pemakaian cat semprot atau spray paint untuk graffiti mulai

dikenal di New York pada akhir tahun 60-an. Coretan pertama dengan cat semprot

dilakukan pada sebuah kereta subway. Seorang laki-laki bernama Taki yang

menetap di 183rd Street Washington Heights selalu menuliskan

namanya-tagging--di setiap tempat yang ia anggap bakal dilihat banyak orang, misalnya di dalam

(53)

yang ia buat. Lewat coretan anehnya itu, orang-orang di seluruh kota mengenal

Taki. Di tahun 1971, Taki diinterviu oleh sebuah majalah terbitan New York. Dari

situlah nama Taki populer di seluruh New York. Fenomena Taki ini akhirnya

mempengaruhi mental anak-anak di New York. Mereka menganggap kepopuleran

bisa diperoleh dengan hanya menuliskan identitas diri pada bus atau kereta yang

melewati seluruh kota. Semakin banyak namanya tercantum, sudah pasti dianggap

semakin populer. Sedangkan kata "mural" berasal dari bahasa Latin "murus"

yang berarti dinding. Mural sebenarnya ada sejak ratusan ribu tahun silam. Orang

primitif membuatnya di dinding-dinding gua sebagai sarana mistisme dan spiritual

untuk membangkitkan semangat berburu. Kegiatan membuat mural kemudian

berlanjut ke masyarakat Mesir Kuno. Kala itu, mural menjadi sarana komunikasi.

Hingga akhirnya masyarakat modern membuat mural pada dinding rumah,

gedung, gereja, serta tanah beraspal atau berbatu bata, bahkan pada makam bawah

tanah (katakomba). (http://www.pasarkreasi.com/news/pdf/graphic-design/34)

Tujuan dasar dari seni ini sangat sederhana, untuk memuaskan ego

pembuatnya. Namun grafitti makin berkembang dan tidak sekedar menampilkan

gambar unik, melalui evolusi visual grafitti juga membuat rangkaian-rangkaian

huruf yang artistik dan khas. Sebagai ciri pula, biasanya para grafitti writer

(sebutan untuk seniman grafitti) menyelipkan ikon khusus pada karya mereka.

Sehingga para seniman atau komunitas yang akrab dengan dunia grafitti dapat

(54)

Untuk saat ini, seni grafitti di Indonesia perkembangannya cukup pesat

terutama dikota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Tidak jarang disetiap tembok

jalanan atau fasilitas umum ditemukan coretan-coretan unik. Memang ada yang

membuat coret-coretan hanya sekedar iseng tapi tak jarang pula yang hasil

karyanya justru memperindah penampilan kota. Memang perkembangan grafitti di

Indonesia masih berkiblat pada perkembangan di luar negeri yang lebih maju. Hal

ini karena para grafitti writer disana memulai karir mereka sejak usia muda,

berkembang bersama lingkungan dan bereksplorasi.

Graffiti sering dianggap sebagai kejahatan, karena mengotori lingkungan.

Tetapi makin lama graffiti sudah menjamur dimana-mana, mereka memiliki misi

dn visi untuk memeperindah kota mereka

(http://www.arthazone.com/www.scbd.net.id).

Manco menuliskan bahwa seni graffiti senantiasa berkembang secara terus

menerus (Manco dalam Nirmana 2005 : 99) Setiap hari, lapisan cat dan poster –

poster yang baru saja ditempel, bermunculan hanya dalam waktu semalam di tiap

kota yang ada diseluruh dunia. Proses pembaharuan yang terjadi secara

terus-menerus terhadap tanda-tanda dan karya seni-karya seni ini dibuat diatas lapisan

karya graffiti lama yang sudah memudar dan pada permukaan – permukaan yang

rusak dari sebuah tembok kota. Graffiti memang sudah menjadi bagian yang

tidak terpisahkan dari sebuah kota. Susanto menjelaskan, bahwa graffiti berasal

dari kata Italia “graffito” yang berarti goresan atau guratan. (Susanto dalam

(55)

Mural grafitti “Indonesiaku kaya-raya tapi kok sengseara” yang berada

pada tembok DLLAJ Jl. A. Yani tersebut dibuat karena terinspirasi oleh kejadian

/ keadaan Indonesia saat itu. Pada saat akhir 2009 sampai awal 2010 di Negara

Indonesia terjadi banyak kejadian dan membuat kondisi kacau. Banyak kejadian

yang membuat kondisi menjadi seperti itu.

Dari beberapa contoh permasalahan yang terjadi di Indonesia diatas

seniman graffti (bomber) membuat mural graffiti “Indonesiaku kaya raya tapi kok

sengsara”. Seperti yang telah dijelaskan, fungsi graffiti saat ini bukan hanya

sebagai pemuas ego dari sang pembuatnya namun graffiti juga berfungsi sebagai

kritik sosial, Bahasa rahasia kelompok tertentu, Sarana ekspresi ketidak puasan

terhadap keadaan sosial, Sarana pemberontakan, Sarana ekspresi ketakutan

terhadap kondisi politik dan sosial.

(http://www.kaskus.us/showthread.php?p=72535496)

4.2

Penyajian Data

Berdasarkan pengamatan yangtelah dilakukan oleh penulis terhadap mural

grafitti “Indonesiaku kaya-raya tapi kok sengsara” yang terdapat pada dinding

DLLAJ di Jl. A. Yani , maka dapat maka dapat disajikan beberapa hasil dari

pengamatan terhadap mural grafitti tersebut. Visualisasi gambar grafitti tersebut

telah manjadi bagian seni public yang melibatkan komunikasi dua arah. Antara

(56)

masyarakat terhadap apa yang dicurahkannya melalui mural grafitti, serta

masyarakat sebagai penikmat visual tersebut dalam peratiknya mampu

berinteraksi langsung kepada seniman. Tulisan kalimat “Indonesiaku kaya-raya

tapi kok sengsara” dan disertai oleh gambar bom berwajahkan spider man dan

topeng hijau berwarna hijau adalah merupakan serangkaian tanda yang dapat

dimaknai. Karena mural grafitti tidak dapat berdiri sendiri tanpa makna.

4.3 Pemaknaan Mural Grafitti “Indonesiaku kaya-raya tapi

kok sengsara” dalam konteks Charles Sanders Pierce

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis semiotika Charles

Sanders Pierce, dalam pendekatan semiotik model Charles S. Pierce, diperlukan

adanya 3 unsur utama yang bisa digunakan sebagai model analisis, yaitu objek,

tanda, dan interpretant. Menurut Charles Sanders Pierce salah satu bentuk tanda

adalah kata, sedangkan objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara

interpretant adalah tanda yang ada dalam benak seseorang, maka muncullah

makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut.

Dalam mural graffiti “Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara”, dapat

dibagi beberapa unsur berdasarkan unit analisis dalam penelitian ini :

1. Tanda dalam mural graffiti tersebut adalah setiap bentuk makna yang bisa

ditimbulkan oleh gambar mural grafitti tersebut.

(57)

3. Interpretant adalah peneliti yang akan menganalisa mural grafitti yang akan

diambil sebagai korpus, yaitu mural graffiti “Indonesiaku kaya raya tapi kok

sengsara” secara keseluruhan dengan menggunakan acuan tanda dalam model

kategori tanda yang dimiliki oleh Pierce, yaitu ikon, indeks dan simbol.

Apabila digambarkan hubungan antara objek, tanda, dan interpretant

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

 

Gambar VI

Sign (Tanda) 

Setiap bentuk makna yang dapat 

ditimbulkan dalam mural graffiti. 

Interpretant 

Hasil Interpretant penelitian 

dalam melihat hubungan antar 

tanda dan acuan tanda (objek) 

Object (Objek) 

Keseluruhan dari mural graffiti 

“indonesiaku kaya raya tapi kok 

sengsara" 

(58)

Dalam hubungan antara tanda dan acuannya berdasarkan studi semiotik

Pierce, yang kemudian membagi tanda itu sendiri dalam 3 kategori tanda milik

Pierce, yaitu Ikon, Indeks dan simbol, maka penelitian akan memaknai segala

bentuk penggambaran yang terdapat dalam mural graffiti “Indonesiku kaya-raya

tapi kok sengsara”.

Index (Indeks)

Teks bertuliskan Indonesia kaya raya tapi kok sengsara.

 

Symbol (Simbol)

1. Topeng wajah berwarna

hijau.

2. Segala bentuk

pewarnaan

Icon (Ikon) 

Bom berwajahkan superhero (spiderman).

Gambar VII

(59)

Menurut Pierce, hubungan tanda dan acuannya memiliki 3 bentuk, adalah

ikon, indeks dan simbol. Dalam mural graffiti ini kita juga dapat membaginya

kedalam 3 bentuk, yaitu:

1. Ikon (icon)

Tanda yang menghubungkan antara penanda dan pertandanya bersifat

bersamaan bentuk alamiah atau dengan kata lain ikon adalah hubungan antara

tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan. Ikon dalam mural graffiti

“Indonesiaku kaya raya tapi kok sengsara” adalah Bom berwajahkan superhero

(Spiderman). Gambar tersebut sebagai ikon dikarenakan gambar tersebut

merupakan gambar atau bentuk yang bersifat kemiripan/penggambaran dari

tulisan (teks) yang berada tepat dibawah gambar yang ingin disampaikan oleh

pembuat seniman graffiti (bomber).

2. Indeks (Index)

Kedua adalah Indeks, Indeks merupakan hubungan alamiah antara tanda atau pertanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang

langsung mengacu pada kenyataan. Indeks dalam penelitian ini kata-kata yang

terbentuk menjadi sebuah kalimat dalam gambar mural graffiti “Indonesiaku kaya

raya tapi kok sengsara” yang menjelaskan maksud dari ikon mural graffiti tadi

Figur

Gambar I

Gambar I

p.14
Gambar II Contoh Gambar “Mural”

Gambar II

Contoh Gambar “Mural” p.15
Gambar IV   John Fiske dalam Sobur, 2001:115

Gambar IV

John Fiske dalam Sobur, 2001:115 p.39
Gambar V Model Kategori Tanda Pierce

Gambar V

Model Kategori Tanda Pierce p.40
GAMBAR VI

GAMBAR VI

p.48
Gambar VI Hubungan Antara Objek, Tanda dan Interpretant Dalam Semiotik Pierce

Gambar VI

Hubungan Antara Objek, Tanda dan Interpretant Dalam Semiotik Pierce p.57
Gambar VII

Gambar VII

p.58

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Muda dan Kaya Raya.