Untuk mengetahui bagaimana proses alat dawai dapat meng-hasilkan bunyi, kita perlu memahami prinsip-prinsip dasar akustika. Ilmu Akustika adalah ilmu yang mempelajari bunyi: bagaimana bu-nyi diproduksi, dikontrol, dirambatkan, sampai diterima pen-dengaran. Dalam bidang musik, akustik menyangkut struktur atau desain alat musik, cara memainkan atau memanipulasinya sehingga alat tersebut menghasilkan
bunyi yang khusus, dan ba-gaimana ia sampai pada pendengarnya.
Apa yang dimaksud de-ngan bunyi? Bagaimana bunyi dapat sampai pada
Akustika Bunyi Dawai
Bunyi/sumber suara Jembatan suara/kuda-kuda
Timbre/warna suara Resonator
▸ Baca selengkapnya: apa saja bunyi alam
(2)pendengaran? Elemen-elemen apa yang menyebabkan terjadinya bunyi pada sebuah alat dawai? Apa yang menyebabkan bunyi dari sebuah alat dawai berbeda dengan alat dawai lainnya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan mengawali bahasan dalam Bab 2.
2.1 BUNYI
Dari sudut pandang ilmu fisika, bunyi merupakan sebuah peristiwa getaran. Bunyi terjadi disebabkan oleh adanya benda yang bergetar. Benda yang bergetar tersebut dinamakan sumber bunyi. Bagaimana cara kita untuk memahami sebuah peristiwa getar? Tentu saja sulit, karena mata kita memiliki keterbatasan untuk mengamati peristiwa getar suatu benda yang terjadi dengan cepat. Namun, be-berapa cara dapat dilakukan untuk membantu kita memahaminya, salah satu di antaranya adalah dengan melakukan kegiatan sebagai berikut.
Sediakan sebuah dawai dengan panjang tertentu dan kemudian ikatkan kedua ujungnya pada dua titik pe-nyanggah permanen sehingga dawai tersebut memiliki ke-tegangan (Lihat Gambar 2.1). Sesudah itu, tariklah dawai tersebut ke arah atas dan ke-mudian lepaskan. Amati apa yang terjadi. (Lihat Gambar 2.2 dan 2.3.)
Gambar 2.1 memperlihat-kan posisi dawai dalam keada-an diam. Pada kondisi ini tidak terdapat getaran, yang berarti juga tidak timbul bunyi. Gam-bar 2.2 memperlihatkan dawai ditarik ke atas (posisi A).
Gambar 2.1: Dawai pada posisi diam.
Gambar 2.2: Dawai ditarik ke atas.
Gambar 2.3 memperlihatkan dawai telah dilepas, yang meng-akibatkan dawai bergetar, yaitu bergerak dengan cepat secara berulang-ulang antara posisi A dan posisi B.
Dengan kata lain, getaran dawai itu pada dasarnya merupakan gerakan cepat sekali, di mana posisi dawai berpindah-pindah dari posisi A ke O ke B ke O dan seterusnya, makin lama jarak A dan B makin sempit sampai akhirnya dawai berhenti bergetar. Jumlah ge-taran, atau durasi dan kecepatan getarannya, akan tergantung pada panjang-pendeknya, besar kecil diameternya, bahannya (baja, kuningan, nilon, dan lain-lain), serta ketegangan rentangan dawainya.
Perpindahan gerak dawai dari posisi A ke O ke B ke O dan kem-bali ke A disebut dengan satu getaran. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu getaran dinamakan periode. Besar kecilnya simpangan atau jarak antara A dan B dinamakan amplitud (simpang getar). Amplitud menunjukkan kuat-lemahnya bunyi. Makin besar simpang getarnya, makin keras suaranya. Sedangkan kecepatan getar, menen-tukan tinggi-rendahnya bunyi. Banyaknya jumlah getar diukur dalam satuan detik, disebut dengan frekuensi bunyi. Jika dikatakan “fre-kuensinya 440,” artinya dawai tersebut bergetar sebanyak 440 kali dalam satu detik. Nama yang dipakai untuk menyebut satuan getaran perdetik adalah hertz (Hz).
Dalam fisika rumusan gelombang biasanya digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.4: Diagram gelombang bunyi.
a = bukit gelombang b = lembah gelombang c = amplitud
Namun demikian, dengan konsep yang sama, selanjutnya kita akan memakai model diagram seperti dalam Gambar 2.1 - 2.3 di atas. Hal itu untuk mempermudah gambarannya, terutama menyangkut gambaran dawai dan anak-nada atau harmonik yang akan dibica-rakan di bawah.
Setiap benda yang bergetar dengan frekuensi yang sama akan menghasilkan bunyi yang sama ketinggiannya. Bunyi yang dihasilkan oleh getaran dengan frekuensi teratur disebut nada. Namun de-mikian, banyak benda yang dapat menghasilkan nada tertentu, tetapi tidak dimaksudkan untuk menjadi alat musik. Sebagai contoh, jika kita pukul tiang listrik, ia dapat menghasilkan bunyi dengan frekuensi teratur, yakni suatu nada. Tetapi, bunyi tiang listrik tersebut tidak dapat disebut sebagai bunyi musik. Sebuah nada akan disebut mu-sikal apabila frekuensi bunyi tersebut memang diatur sedemikian rupa, atau sengaja dipakai dalam hubungannya dengan nada-nada lainnya. (Hal ini akan dibicarakan lebih jauh dalam Bab 5, pada ba-gian yang membahas nada dan tangga nada.)
Selanjutnya, perlu dipahami bahwa bunyi tidak dapat didengar jika tidak ada alat untuk mendengarnya. Manusia (juga binatang) memiliki alat pendengar, yaitu telinga yang dilengkapi dengan suatu perangkat biologis yang peka terhadap getaran. Akan tetapi, telinga tidak akan dapat menangkap bunyi tanpa adanya media penghantar bunyi. Media penghantar bunyi bisa berupa udara, benda padat, atau juga benda cair. Umumnya bunyi yang kita dengar sehari-hari adalah yang merambat melalui udara. Bunyi, yang disebabkan oleh getaran dari sebuah benda, merambat melalui udara sampai ke telinga manu-sia, menggetarkan selaput gendang telinga, merangsang saraf pen-dengaran, dan kemudian mengirimnya ke otak. Otaklah yang menaf-sirkan rangsangan tersebut sehingga akhirnya seseorang akan mem-peroleh pengalaman dari bunyi yang didengarnya.
2.2 PANJANG DAWAI DAN NADA
Seperti telah disinggung sebelumnya, tinggi rendahnya frekuensi bunyi dari sebuah dawai yang bergetar tergantung pada bahan,
dia-meter, tegangan, dan panjangnya. Mengapa? Mari kita kembali melakukan kegiatan, serupa dengan yang dilakukan sebelumnya.
Ambil sebilah bambu yang panjangnya 80 atau 100 cm, lebar 3 cm, dan tebalnya sekitar 1 cm. Kemudian ambil seutas kawat baja kecil, misalnya tali gitar atau dawai sejenisnya. Setelah itu ikatkan kawat pada kedua ujung bambu yang ditekuk, sehingga menyerupai busur. Jika dawai cukup panjang, buat menjadi 2 bentangan, seperti gambar di bawah ini. Jika dawai tidak cukup panjang, cukup seutas saja. Yang penting adalah pastikan lilitan pada kedua ujung bambu cukup ketat, agar dawai tidak lepas atau merosot. Supaya daya ren-tangnya kuat, pilihlah bagian kulit luar bambu menjadi sisi dalam busur. Jika bambu terlalu kaku, ketebalannya dapat ditipiskan.
Gambar 2.5: Busur bambu dengan rentangan dua dawai.
Gambar 2.6: Busur diletakkan di atas papan atau meja kayu.
Cobalah petik satu persatu bentangan dawai dan dengarkan. Jika terlalu lirih, dekatkan pada telinga. Hampir dapat dipastikan, kedua dawai akan memiliki nada yang berbeda, kecuali jika dengan tidak sengaja ketegangan dua dawai tersebut sama.
Sekarang, letakkan busur tersebut di atas papan atau meja kayu. Tekan sedikit bagian atasnya agar bambu benar-benar menempel pada kayu.
Petik kembali kawatnya. Sekarang, suaranya akan kedengaran lebih keras daripada sebelumnya. Mengapa? Karena kayu berfungsi sebagai resonator (diskusi mengenai resonator akan dibicarakan se-lanjutnya.) Kemudian, coba tekan sedikit lebih keras ke arah meja, sehingga ketegangan kawat makin bertambah, dan petik lagi kawat-nya. Sekarang nadanya terdengar lebih tinggi. Jadi, makin tinggi tegangan kawatnya, makin tinggi pula nadanya.
Selanjutnya, ukurlah panjang dawai yang ada, dan bagi jaraknya seperti dalam pembagian dalam gambar di bawah ini:
Jika misalnya dari A ke E 60 cm, setengahnya tentu 30 cm. Ambillah batangan segitiga dari bambu atau kayu, atau bisa juga dengan menggunakan pensil sebagai “kuda-kuda” atau “jembatan. Kemudian letakkan melintang. Jika kuda-kuda belum menempel ke kawat, tekan dengan ibu jari persis di bagian tengahnya, dan petik kawatnya dengan kelingking, seperti dalam gambar. Bunyi yang terdengar sekarang, adalah bunyi dengan frekuensi dua kali lipat daripada yang sebelumnya, yakni berbanding terbalik dengan panjang kawat. Seandainya nada yang terdengar tadi adalah “do”, maka yang terdengar kini adalah “do” yang satu oktaf lebih tinggi. Pindahkan kuda-kuda itu ke posisi C, sehingga jarak AC dua-pertiga dari AE. Jika posisinya tepat, kita akan mendengar nada “sol.” Jika posisi kuda-kuda pada titik D, sehingga panjangnya 4/5 dari AE, Anda akan mendapatkan nada “mi.” (Dengan kuda-kuda yang tingginya 2 atau 3 mm lebih dari jarak kawat dengan daun meja,
akan lebih mudah memindah-mindahkannya, memetik, dan mendengarkannya tanpa harus menekan dengan jari. Jika terlalu tinggi, bunyinya akan tetap terdengar baik, hanya pengukuran jaraknya akan terlalu jauh menyimpang dari pembagian tersebut, karena akan terjadi perubahan tegangan dawai yang terlalu besar.
Bagaimana cara menghitung nada-nada tersebut? Mungkin Anda masih ingat pelajaran fisika bunyi di SMP, hukum Phytagoras, atau bagi yang memiliki gitar bisa mencoba mengukur perbandingan hitungan antara panjang kawat dan fret-nya. Dari kegiatan ini dapat disimpulkan semakin panjang dawai yang bergetar semakin lambat proses pembentukan satuan getaran, dan semakin rendah pula frekuensi bunyinya, yang berarti semakin rendah pula nadanya. Sebaliknya, semakin pendek dawai yang bergetar, semakin cepat proses pembentukan satuan getaran, semakin tinggi frekuensinya atau semakin tinggi pula nadanya.
Gambar 2.8: Alat dawai bambu bersenar tunggal, dari Jawa Barat. Alat itu dibentuk dengan meniru alat musik dari India, kamak. Nadanya ditentukan oleh ketegangan kawat, yang diatur
dengan memijit kedua batang atau tiangnya.
Gambar 2.9: Sitar India, dengan fret yang melengkung, tinggi dan lebar, kawatnya bisa ditarik-tarik atau ditekan sehingga
bisa menimbulkan nada yang turun naik.
Gambar 2.10: Kayagum dari Korea. Dawai yang dipetik tangan kanan, ditekan oleh tangan kiri di seberang jembatannya,
2.3 JEMBATAN SUARA
Jembatan, dalam hal ini, merupakan terjemahan dari istilah
organologis bahasa Inggris, bridge. Istilah lain yang biasa dipakai di Indonesia adalah kuda-kuda. Keduanya mempunyai alasan logis. Di-sebut jembatan, karena ia menghubungkan dawai sebagai sumber bunyi kepada resonatornya. Disebut kuda-kuda, karena ia menompang dawai agar bisa “berdiri” pada “badan” atau kotak suaranya. Dalam terminologi musik setempat, ditemukan macam-macam nama, seperti tumpang sari dan inang di Sunda, dan srenten di Jawa. Dalam percobaan sebelumnya, benda yang dipindah-pindahkan untuk menempati panjang kawat setengah, sepertiga, dan seperlimanya, itu adalah jembatan. Fungsi jembatan merambatkan suara dari suara dawai ke daun meja dan letaknya menentukan panjang dawai yang dipetik.
Dalam khazanah musik dawai, jenis jembatan sangat beragam, baik bahan, bentuk, maupun ukurannya. Ada yang terbuat dari bambu, kayu, tempurung kelapa, tulang, dan sebagainya. Ada yang setengah lingkaran pipih, ada yang dibundarkan seperti bentuk prajurit dalam catur, ada yang berbentuk limas, dan sebagainya. Ada terpasang mati pada kotak suaranya (di antaranya ada yang terbuat dari kayu yang sama, ditoreh atau diukir), ada juga yang bisa di-pindah-pindah. Ada yang dengan kaki-kaki kecil sehingga sedikit saja bagian yang menempel pada kotak suaranya, dan ada pula yang menempel seluruh bidang bawahnya. Ada yang dibuat satu jembatan untuk satu dawai, ada pula yang dibuat panjang untuk dudukan puluhan dawai.
Fungsi jembatan tidak hanya sekedar membuat suara musik menjadi nyaring. Dalam rebab Sunda, misalnya, pemain biasa menempelkan saputangan untuk meredam suara resonator (kulit, selaput babat kerbau), agar tidak terlalu menggema. Dengan kata lain, kerasnya suara bukan satu-satunya yang penting, melainkan kualitasnya yang lebih diutamakan. Demikian pula bentuknya, ada yang direka, diukir dengan hiasan yang rumit.
Pada umumnya, jembatan dibuat dengan bidang yang tipis dan kadangkala runcing pada bagian atas di mana dawai menempel. Tujuannya agar bunyi terdengar lebih mulus, tidak terjadi gesekan antara dawai dan bidang jembatan. Akan tetapi, di India, banyak jenis instrumen yang memiliki bidang jembatan yang lebar dengan permukaan yang pipih dan cembung. Hal ini sengaja dibuat untuk menimbulkan gesekan (friksi) antara dawai dan jembatan, sehingga memunculkan nada harmonik (yang akan dibicarakan selanjutnya). Untuk mengatur gesekan atau benturan yang maksimal, dawai diatur dengan ganjal benang yang bisa digeser maju-mundur hingga mencapai posisi atau kerenggangan yang tepat. Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana dan di sisi mana gesekan itu terjadi.
Gambar 2.11: Jembatan sitar.
Gambar 2.13: Jembatan untuk biola (violin).
Gambar 2.14:
Jembatan siter Iran (santur) satu untuk masing-masing kawat kuadrupel (4 kawat satu nada).
Gambar 2.12: Jembatan kutiyapi (lut) yang terbuat dari satu kayu dengan kotak suaranya.
Gambar 2.16: Jembatan untuk celo.
Gambar 2.17: Jembatan rebab Sunda yang dudukannya sangat panjang dibanding puncaknya.
Gambar 2.18: Jembatan gitar Bolivia (hatun charango, bawah) yang terjepit kawat, dan jembatan gitar Brazil (viola de cocho) langsung menjadi ikatan kawatnya.
Gambar 2.15: Jembatan siter (celempung) Jawa
yang panjang untuk dudukan semua kawat.
2.4 Timbre (Warna Suara)
Jika suatu nada dapat dimainkan oleh suatu alat dawai, nada yang sama dapat pula dibunyikan oleh alat musik lainnya, seperti piano, suling, trompet, dan sebagainya, dan juga oleh suara manusia. Kita tentu bisa membedakan antara suara suling, terompet, dan piano, walau ketiganya memainkan nada yang sama. Suara yang berbeda-beda itu disebut warna suara atau timbre.
Dengan demikian, perbedaan bunyi itu tidak hanya ditentukan oleh nadanya saja, melainkan juga oleh karakter atau kualitas suaranya. Untuk contoh yang lebih jelas, petiklah kembali dawai busur-bambu tadi (jika ada, dapat pula memakai salah satu dawai gitar atau biola.) Kemudian geseklah kawat yang sama dengan penggesek biola, dan setelah itu pukullah dengan tongkat kecil atau pensil. Nada yang sama, dari dawai yang sama akan kedengaran berbeda-beda, tergantung dari cara memainkannya. Perbedaan cara memainkan alat-alat dawai adalah untuk menghasilkan karakter atau warna suara yang khusus, sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemainnya.
2.5 HARMONIK (ANAK SUARA)
Di atas telah kita bicarakan bahwa tiap suara itu memiliki nada tertentu, misalnya “do.” Akan tetapi, suara yang timbul pada dasarnya terdiri dari banyak nada. Satu nada yang umumnya terdengar adalah nada yang paling kuat bunyinya, yang disebut nada fundamental. Tetapi di dalam kenyataannya, tidak satu pun benda yang bergetar hanya menghasilkan satu nada fundamental saja, melainkan selalu disertai bunyi nada-nada yang lain. Nada-nada di luar nada funda-mental tersebut lazim disebut anak suara atau dalam istilah musik dikenal sebagai nada harmonik. Fenomena ini adalah sifat alamiah bunyi, yang juga dibahas dalam ilmu fisika. Untuk alat dawai, timbul-nya nada-nada tambahan atau gelombang-gelombang dengan fre-kuensi yang berbeda itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.19:
Proses terjadinya nada harmonik dari suatu dawai, diikuti oleh timbulnya anak-nada: setengah, sepertiga,
Dalam dunia musik, harmonik ini sangat dipentingkan, baik dalam pembuatan alat-alat, pelarasan (tuning), maupun dalam cara memainkannya. Ada yang sengaja dibuat agar tidak terlalu banyak anak suaranya (yang terdengar seolah-olah hanya nada fundamental-nya), ada yang malah memperbesar atau memanipulasi timbulnya anak suara, dan ada pula yang menggunakan kombinasi dari kedua-nya.
Apakah Anda pernah bernyanyi dalam grup paduan suara? Atau memainkan gitar pengiring (accompaniment), di mana beberapa dawai dimainkan secara bersamaan? Pengaturan nada-nada untuk dimainkan secara bersamaan itu mengikuti sebagian dari hukum harmonik. Karena itu semua nada yang berbeda itu menjadi serasi, sehingga kedengaran seperti satu kesatuan nada. Mungkin dari situ pula istilah “harmoni” dalam bahasa sehari-hari yang berarti “serasi.” Perbedaan warna suara yang terjadi pada berbagai alat dawai, tidaklah semata-mata diakibatkan oleh adanya nada-nada harmonik dan cara memainkannya saja, melainkan juga oleh faktor-faktor lain, termasuk oleh resonatornya yang akan dibicarakan di bawah.
2.6 RESONANSI
Resonansi merupakan fenomena lain yang dapat dipelajari dari sebuah peristiwa getaran. Resonansi merupakan perambatan (transmisi, pemindahan) getaran dari satu benda (sumber getar) kepada benda lain. Karena, getaran dari sebuah benda dapat mempengaruhi benda lainnya untuk turut bergetar. Misalnya, ge-taran yang ditimbulkan oleh bunyi pesawat udara yang melintas di atas rumah, dapat menyebabkan kaca jendela rumah tersebut turut bergetar.
Ada dua macam resonansi. Pertama, perambatan getaran yang tidak berdasarkan pada frekuensi, melainkan karena hubungan mekanis atau motoris. Kedua, yang disebabkan oleh adanya respons terhadap frekuensi atau nadanya: baik nada fundamental maupun nada-nada harmonik. Dalam kasus kita sekarang ini, yang pertama disebut resonator, dan yang kedua disebut simpatetis.
2.6.1 Resonator
Kita kembali kepada alat dawai busur. Ketika ditempelkan di meja, suaranya kedengaran lebih nyaring. Itu terjadi karena getaran dawai diteruskan atau dirambatkan ke meja kayu yang juga dapat bergetar, sehingga timbullah resonansi. Daun meja tidak harus me-miliki nada yang sama dengan dawai, untuk dapat menerima ram-batan getarnya. Di situ, meja kayu menjadi resonator dawai, karena kayu memiliki kemampuan bergetar yang baik, sehingga terjadi amplifikasi suara. Kemudian tempelkan alat itu ke lantai atau ke tem-bok beton. Resonansi itu tak akan terdengar, karena temtem-bok tidak memiliki kemampuan getar sebaik papan kayu.
Sekarang, ubah cara menempelkan busur itu: tidak telungkup, melainkan terlentang. Ketika dawai dipetik, meja akan tetap menjadi resonator seperti pada kasus sebelumnya. Namun, kualitas suaranya akan terdengar berbeda dengan cara telungkup. Coba pula tempelkan busur itu pada benda lain, seperti daun pintu, kaleng, kaca, atau apa saja, dan Anda pun akan mendapat suara yang berbeda-beda pula. Hal ini menunjukkan bahwa perambatan suara tergantung pada ba-han yang merambatkan dan yang dirambatinya, serta pada jarak, posisi, atau struktur dari kedua unsurnya (sumber bunyi dan reso-nator). Oleh karena itu, jenis kawat, jenis kayu, dan ukuran (besar-kecil dan tipis-tebalnya) sangat diperhitungkan oleh para pembuat alat musik, untuk mendapatkan suara yang dikehendakinya.
Percobaan di atas menunjukkan bahwa sesuatu yang dapat men-jadi resonator itu tidak harus memiliki rongga udara seperti kotak suara. Suatu lempengan papan pun bisa menimbulkan resonansi. Namun demikian, dalam alat-alat musik, kita temukan banyak macam resonator yang mementingkan pengaturan ruang udaranya. Dalam buku ini, Anda akan menyaksikan berbagai bentuk dan ukuran resonator. Salah satu bagian yang penting, sehubungan dengan ruang udara ini, adalah pembentukan lubang suara dari resonator itu.
Kini lanjutkan percobaan tadi. Dekatkan kawat dari salah satu ujung busur itu ke rongga mulut. Sebagai bandingan, lihatlah gambar seorang musisi dari Afrika yang memainkan musik dawai busur
Gambar 2.20: Seorang musisi dari Afrika sedang memainkan alat dawai busur, dengan manipulasi mulut sebagai resonator.
dengan manipulasi rongga mulutnya. Petiklah kawat berulang-ulang sambil mencari-cari posisi yang tepat hingga muncul efek suara dari rongga mulut. Kemudian atur pula besar kecilnya rongga mulut dengan membuka-menutup bibir dan dengan pangkal lidah atau ke-rongkongan. Jika tepat posisinya, perubahan rongga mulut akan me-nimbulkan efek bunyi yang berbeda pula. Hal ini menunjukkan bahwa kotak suara atau rongga udara berpengaruh pada bunyi (keras-lemah, dan warna suaranya), walaupun baik dawai maupun bambunya tidak menempel langsung pada mulut.
Percobaan serupa bisa juga dilakukan dengan menempelkan tempurung, kaleng, atau tabung plastik pada batang busur. Sambil dawai dipetik, atau dipukul, tutup-bukalah tempurung tersebut de-ngan dijauhdekatkan dari perut, kaki, atau benda lain. Kita akan men-dengar berbagai perubahan efek bunyi yang terjadi.
Alat-alat seperti ini banyak ditemukan di beberapa tempat. Memainkan musik dengan memanipulasikan ruang udara yang ada pada resonator juga bisa dilihat contohnya pada permainan kulcapi Karo atau hasapi Toba.
2.6.2 Dawai Simpatetis
Jika di sekolah Anda ada garputala, ambillah tiga buah: dua buah nada /A/ dan sebuah nada /C/. Pukullah garpu tala /A/ dan dekatkan garpu tala /C/ sekitar 2 cm ke garpu tala /A/ yang sedang bergetar. Garpu tala /C/ tidak turut bergetar—jika ditempelkan ke telinga, tidak akan kedengaran. Sekarang pukul kembali garpu tala /A/ seperti sebelumnya dan kemudian dekatkan garpu tala /A/ yang satu-nya. Kini, garpu tala /A/ yang didekatkan itu akan ikut bergetar.
Gambar 2.22: Kulcapi Karo. Gambar 2.23: Hasapi Toba. Gambar 2.21: Alat dawai busur dari Brazil.
Coba tempelkan ke telinga, benda itu akan terdengar berbunyi. Mengapa? Karena garpu tala terakhir yang didekatkan tersebut me-miliki frekuensi yang sama, sehingga ia responsif pada getaran yang ditimbulkan oleh garpu tala yang dipukul. Hanya saja, turut getarnya lirih, sehingga jika tidak ditempelkan ke telinga, benda itu tidak akan terdengar.
Percobaan lain bisa Anda lakukan juga dengan sebuah gitar. Stemlah kawat pertama (terkecil) pada nada C, sementara kawat ke-dua dan ketiga pada nada A. Petiklah kawat ketiga, ke arah yang tidak mengganggu kawat kedua. Kedua kawat lainnya akan juga ber-getar, tapi kawat kedua akan jauh lebih kelihatan getarannya. Hal itu bukan karena lebih dekat posisinya, melainkan karena persamaan frekuensinya. Anda bisa mencobanya lagi dengan menyetem kawat pertama ke nada A dan kawat kedua ke nada F (jika ke nada C mungkin terlalu tinggi). Kalau kawat ketiga dipetik, kawat pertama akan bergetar lebih besar daripada kawat kedua.
Alat (dawai, garpu tala, dan lain-lain) yang dapat turut bergetar bukan hanya yang memiliki frekuensi sama dengan yang digetarkan, melainkan juga terhadap yang memiliki frekuensi harmoniknya. Jika dianalogikan dengan panjang dawai, deretannya itu adalah yang me-miliki panjang 1/2, 1/3, 1/4, 1/5, dan seterusnya, dari panjang dawai utama, seperti telah digambarkan pada bagian harmonik di atas. Karena itu pula, deretan harmonik bergerak naik (makin tinggi nada-nya). Jika Anda memiliki piano, coba tekan salah satu nada rendah dengan cukup kuat sambil menginjak pedalnya (agar semua kawat terbuka, tidak tertekan). Anda akan mendengar beberapa dawai lain yang lebih tinggi yang turut bergetar. Sebaliknya, jika yang ditekan nada tinggi, nada-nada lain yang di bawahnya tidak turut bergetar.
Dengan adanya fenomena ini, ada kemungkinan lain untuk menambah elemen suara pada alat dawai. Selain melalui kotak re-sonator, penambahan elemen suara itu bisa juga dengan memasang dawai-dawai lain, yang bukan untuk dimainkan melainkan hanya untuk turut bergetar ketika nada-nada yang sama dari petikan dawai utama dibunyikan. Dawai-dawai “tambahan” seperti ini disebut da-wai simpatetis. Alat musik yang memiliki dada-wai simpatetis, walau
tidak terlalu umum di Nusantara, cukup banyak terdapat di beberapa wilayah, seperti di India dan di Cina, dan sudah dimulai sejak bebe-rapa abad yang lalu. Diskusi lebih jauh beserta contoh-contoh musik dari alat dawai seperti ini akan dibicarakan dalam bab-bab berikutnya.