BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai analisa produktivitas yang berlangsung di PT. Schott Igar Glass (SIG), mulai dari menganalisa perbedaan-perbedaan yang ada antara mesin Spami dan mesin Ambeg, analisa tingkat kecacatan hasil produksi vial injection 10 ml, analisa kapasitas proses produksi, analisa output proses produksi serta analisa input proses produksi.
5.1 Analisa Perbedaan Antara Mesin Spami dan Mesin Ambeg
PT. Schott Igar Glass (SIG) dalam lini produksinya terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu mesin Spami, mesin Ambeg, dan mesin AK-2000. Namun peneliti hanya akan melakukan penelitian spesifik pada mesin Spami dan mesin Ambeg saja. Dimana pada mesin Spami dan mesin Ambeg, level kualitas yang akan dihasilkan adalah standardline, sedangkan level kualitas pada mesin AK-2000 adalah topline.
Adapun perbedaan-perbedaan yang terdapat antara mesin Spami dengan
Tabel 5.1. Perbandingan Antara Mesin Spami dengan Mesin Ambeg
Faktor Spami Ambeg Unggul
Operator 1 Operator menghandle 3 mesin
1 Operator menghandle
6 mesin Spami
Input Bahan Baku
Berupa tubing yang akan dimasukkan ke dalam sleeve drum. 1
drum loader ada 5 sleeve drum. Jadi sekali input (5x24) 120 tubing
Berupa tubing yang ditata ke dalam loader.
Sekali input (3x12) 36 tubing
Spami
Buangan Produk Lebih banyak Lebih sedikit Ambeg
Kapasitas Output Lebih banyak karena jalan 2 sisi
Lebih sedikit karena
hanya jalan 1 sisi Spami
Tenaga yang Dikeluarkan Operator
Lebih berat karena harus memasukkan tubing satu per satu ke sleeve drum
dan harus naik ke tangga karena posisi
mesin lebih tinggi
Lebih ringan karena dapat langsung memasukkan tubing ke loader dan posisi mesin lebih pendek sehingga
mudah terjangkau tangan Operator
Ambeg
Tingkat Kelelahan
Lebih rendah karena tubing yang dimasukkan
ke dalam sleeve drum sekaligus banyak.
Sehingga Operator dapat menunggu tubing habis
dalam waktu yang cukup lama
Lebih tinggi karena tubing yang dimasukkan
ke dalam loader tidak dapat sekaligus banyak.
Sehingga Operator harus sering-sering memasukkan lagi tubing
dalam waktu yang singkat
Spami
Energi Yang
Dipakai 302.4 KWH 44.4 KWH Ambeg
Tingkat Resiko Kecacatan
Lebih rendah karena mesin yang di handle sedikit, Operator dapat
sering mengecek kecacatan produk dan
cenderung fokus terhadap masalah yang
ada
Lebih tinggi karena mesin yang dihandle banyak, Operator kurang
fokus terhadap kecacatan produk dan kurang fokus terhadap
masalah yang ada
Spami
5.2 Analisa Tingkat Kecacatan Hasil Produksi Vial
Untuk mengetahui berapa tingkat kecacatan yang terjadi antara mesin Spami dan mesin Ambeg, maka QC Inspector melakukan sampling terhadap produk yang kan di periksa. Pengambilan jumlah sample untuk diperiksa berdasarkan General Testing Level 3 (ISO 2859-1:2004-01). Jenis vial injection yang akan diteliti adalah vial bervolume 10 ml dengan identitas sebagai berikut:
Artikel : V.010111030B
Deskripsi : 10 ml vial clear, injection F-20
Jumlah Order : - Spami : 1.807.920 pcs (810 MB) - Ambeg : 803.520 pcs (360 MB)
Dimana dalam tiap 1 MB terdiri dari 9 trays, dan tiap trays berisi 248 pcs.
Perhitungan sampling berdasarkan General Testing Level 3:
=
=
= 2,469 pcs ≈ 3 pcs / trays
=
=
= 5,55 pcs ≈ 6 pcs / trays
Sedangkan untuk mengetahui apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas wajar yang disyaratkan oleh perusahaan, maka bersama ini dibuat peta
Tabel 5.2. Peta Pengendali Proporsi Kesalahan (p-Chart) Pada Mesin Spami
Nomor Pengamatan
(Hari)
Ukuran Sample
Banyaknya Sample
Yang Ditolak
Proporsi Kesalahan
(p)
CL UCL LCL
1 729 45 0.062 0.0584 0.0844 0.0323
2 729 43 0.059 0.0584 0.0844 0.0323
3 729 46 0.063 0.0584 0.0844 0.0323
4 729 41 0.056 0.0584 0.0844 0.0323
5 729 41 0.056 0.0584 0.0844 0.0323
6 729 55 0.075 0.0584 0.0844 0.0323
7 729 43 0.059 0.0584 0.0844 0.0323
8 729 29 0.040 0.0584 0.0844 0.0323
9 729 39 0.053 0.0584 0.0844 0.0323
10 729 39 0.053 0.0584 0.0844 0.0323
11 729 44 0.060 0.0584 0.0844 0.0323
12 729 49 0.067 0.0584 0.0844 0.0323
13 729 41 0.056 0.0584 0.0844 0.0323
14 729 53 0.073 0.0584 0.0844 0.0323
15 729 47 0.064 0.0584 0.0844 0.0323
16 729 38 0.052 0.0584 0.0844 0.0323
17 729 58 0.080 0.0584 0.0844 0.0323
18 729 46 0.063 0.0584 0.0844 0.0323
19 729 36 0.049 0.0584 0.0844 0.0323
20 729 25 0.034 0.0584 0.0844 0.0323
21 729 51 0.070 0.0584 0.0844 0.0323
22 729 30 0.041 0.0584 0.0844 0.0323
23 729 39 0.053 0.0584 0.0844 0.0323
24 729 36 0.049 0.0584 0.0844 0.0323
25 729 35 0.048 0.0584 0.0844 0.0323
26 729 40 0.055 0.0584 0.0844 0.0323
27 729 56 0.077 0.0584 0.0844 0.0323
28 729 39 0.053 0.0584 0.0844 0.0323
29 729 43 0.059 0.0584 0.0844 0.0323
30 729 51 0.070 0.0584 0.0844 0.0323
Berdasarkan uraian tabel diatas, maka didapat:
=
Dimana, p = proporsi kesalahan dalam setiap sample
x = banyaknya produk yang salah dalam setiap sample n = banyaknya sample yang diambil dalam setiap inspeksi
= = .
=∑
Dimana, p = garis pusat peta pengendalian proporsi kesalahan pi = proporsi kesalahan dalam setiap sample
n = banyaknya sample yang diambil dalam setiap observasi g = banyaknya observasi yang dilakukan
= = .
= + ṕ ( ṕ)
= . + . ( . ) = .
Gambar 5.1. Peta Pengendali Proporsi Kesalahan (p-Chart) Pada Mesin Spami
Sedangkan untuk mesin jenis Ambeg, batas pengendalian proporsi kesalahannya adalah sebagai berikut:
0.000 0.010 0.020 0.030 0.040 0.050 0.060 0.070 0.080 0.090
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
Nomor Pengamatan (Hari) 1 CL
UCL
LCL
Tabel 5.3. Tabel Peta Pengendali Proporsi Kesalahan (p-Chart) Pada Mesin Ambeg
Nomor Pengamatan
(Hari)
Ukuran Sample
Banyaknya Sample
Yang Ditolak
Proporsi Kesalahan
(p)
CL UCL LCL
1 648 21 0.032 0.0289 0.0486 0.0092
2 648 15 0.023 0.0289 0.0486 0.0092
3 648 15 0.023 0.0289 0.0486 0.0092
4 648 16 0.025 0.0289 0.0486 0.0092
5 648 20 0.031 0.0289 0.0486 0.0092
6 648 14 0.022 0.0289 0.0486 0.0092
7 648 18 0.028 0.0289 0.0486 0.0092
8 648 12 0.019 0.0289 0.0486 0.0092
9 648 21 0.032 0.0289 0.0486 0.0092
10 648 26 0.040 0.0289 0.0486 0.0092
11 648 17 0.026 0.0289 0.0486 0.0092
12 648 22 0.034 0.0289 0.0486 0.0092
13 648 22 0.034 0.0289 0.0486 0.0092
14 648 12 0.019 0.0289 0.0486 0.0092
15 648 14 0.022 0.0289 0.0486 0.0092
16 648 18 0.028 0.0289 0.0486 0.0092
17 648 21 0.032 0.0289 0.0486 0.0092
18 648 17 0.026 0.0289 0.0486 0.0092
19 648 23 0.035 0.0289 0.0486 0.0092
20 648 12 0.019 0.0289 0.0486 0.0092
21 648 26 0.040 0.0289 0.0486 0.0092
22 648 15 0.023 0.0289 0.0486 0.0092
23 648 21 0.032 0.0289 0.0486 0.0092
24 648 18 0.028 0.0289 0.0486 0.0092
25 648 28 0.043 0.0289 0.0486 0.0092
26 648 14 0.022 0.0289 0.0486 0.0092
27 648 20 0.031 0.0289 0.0486 0.0092
28 648 16 0.025 0.0289 0.0486 0.0092
29 648 18 0.028 0.0289 0.0486 0.0092
30 648 30 0.046 0.0289 0.0486 0.0092
Berdasarkan uraian tabel diatas, maka didapat:
=
Dimana, p = proporsi kesalahan dalam setiap sample
x = banyaknya produk yang salah dalam setiap sample n = banyaknya sample yang diambil dalam setiap inspeksi
= = .
=∑
Dimana, p = garis pusat peta pengendalian proporsi kesalahan pi = proporsi kesalahan dalam setiap sample
n = banyaknya sample yang diambil dalam setiap observasi g = banyaknya observasi yang dilakukan
= = .
= + ṕ ( ṕ)
= . + . ( . ) = .
= − ṕ ( ṕ)
= . − . ( . ) = .
Gambar 5.2. Peta Pengendali Proporsi Kesalahan (p-Chart) Pada Mesin Ambeg
Dari uraian kedua gambar grafik diatas, maka tampak bahwa seluruh sampel masih berada dalam batas pengendali.
5.3 Fishbone Defect Pada Vial 10 ml di Mesin Spami
Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan menganalisa 5 (defect) paling dominan yang sering muncul. Berdasarkan dari data IBT dari perusahaan, berikut merupakan presentase jumlah cacat produk vial injection pada mesin Spami dan mesin Ambeg:
0.000 0.010 0.020 0.030 0.040 0.050 0.060
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
Nomor Pengamata n (Hari) 1 CL
UCL
LCL
Gambar 5.3. Jumlah Cacat Vial Injection 10 ml Pada Mesin Spami
Gambar 5.4. Jumlah Cacat Vial Injection 10 ml Pada Mesin Ambeg
Untuk mengetahui apakah penyebab terjadinya masing-masing jenis defect, berikut akan digambarkan melalui diagram fishbone beserta tindakan perbaikan dari kelima penyebab kecacatan utama pada produk yang diteliti.
Pressure on neck, 248
Crack on body, 291
Notches on lip, 72 d4 >
max, 197 r2 < min, 173 t > max, 32
Rocky bottom, 120
Fold on neck, 145
Jumlah Cacat Vial Injection 10 ml, Pada Mesin Spami
a2 > max, 196
s2 < min, 33 Fold on
neck, 61 Pressure on
neck, 65 Contamination, 82 Notches on lip, 52
Rocky bottom, 57
Chip on lip, 20
Jumlah Cacat Vial Injection 10 ml, Pada Mesin Ambeg
1. Crack on Body
Gambar 5.5. Fishbone Defect Crack on Body Tindakan yang dapat dilakukan, antara lain:
Operator harus sering mengecek kelancaran oli plug dengan memperhatikan apakah oli plug sudah mulai berkurang, apakah tercampur air atau tidak.
Operator mengecek apakah fungsi pendingin api sudah sesuai.
Operator mengecek lengstop agar tidak kering.
Operator mengecek gauging total length, mungkin terlalu kencang pada saat menekan.
2. Pressure on Neck
Gambar 5.6. Fishbone Defect Pressure on Neck Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Operator harus sering mengecek oli plug agar tidak kurang pada saat digunakan.
Crack on Body Manusia
Mengecek oli plug Mengecek lengstop
Mengecek pendingin api Mengecek gauging
Pressure on Neck Manusia
Mengecek oli plug
Mengecek posisi api Mengecek tekanan tool
3. d4 (id lip) > max
Gambar 5.7. Fishbone Defect d4 (id lip) > max Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Pendingin yang terdiri dari air dan angin, harus selalu di cek kondisinya:
- Air, agar plug selalu dingin dengan dialiri air menggunakan selang - Angin, agar plug tetap dingin dan tidak berasap dengan ditip angin
Operator harus sering membersihkan atau mengganti plug yang kotor.
4. r2 (radius bottom) < min
Gambar 5.8. Fishbone Defect r2 (radius bottom) < min Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Dengan dibantu Operator, burner chuck bottom no.2 yang ada pada salah
satu bagian mesin, selalu dikontrol. Jika chuck bottom no.2:
- Dinaikkan, maka nilai radius bottom semakin kecil - Diturunkan, maka nilai radius bottom semakin besar
Dengan dibantu Operator, bottom pad (tool untuk setting concave) yang
ada pada salah satu bagian mesin, selalu dikontrol. Jika bottom pad:
- Dinaikkan, maka nilai radius bottom semakin kecil
R2 (Radius Bottom) < Min Mesin
Menaik/turunkan burner chuck bottom no.2
Menaik/turunkan bottom pad
D4 (Id Lip) >
Max Manusia
Mengecek
Pendingin Cleaning / Ganti plug
- Diturunkan, maka nilai radius bottom semakin besar
5. Fold on Neck
Gambar 5.9. Fishbone Defect Fold on Neck Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Operator harus sering mengecek oli plug agar tidak kurang pada saat digunakan.
Operator mengecek apakah tekanan pada tool telah sesuai.
Operator memperhatikan posisi api.
6. a2 > max (Slanty Bottom)
Gambar 5.10. Fishbone Defect a2 > max (Slanty Bottom) Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Dengan dibantu Operator, karbon tip pada chuck bottom harus selalu dikontrol, apakah sudah rusak atau patah. Sehingga pingger chuck bottom
Fold on Neck Manusia
Mengecek oli plug
Mengecek posisi api Mengecek tekanan tool
Slanty Bottom Mesin
Mengecek chuck bottom Mengecek api burner bottom
Mengecek chuck bottom dan chuck atas
Chuck bottom dan chuck atas sudah tidak center lagi, untuk itu Operator harus mengeceknya agar hasil cutting sempurna.
7. Contamination on Body
Gambar 5.11. Fishbone Defect Outside Contamination on Body Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Operator harus sering membersihkan plug yang digunakan pada mesin.
Operator mengecek oli yang digunakan, mungkin oli sudah kotor dan harus diganti dengan oli yang baru.
Operator membersihkan pick up yang digunakan.
Operator sesering mungkin membersihkan conveyor untuk mentransfer proses perpindahan vial dari production area menuju clear room area.
8. Rocky Bottom
Gambar 5.12. Fishbone Defect Rocky Bottom Tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Rocky Bottom Mesin
Menaik/turunkan bottom pad
Outside Contamination
on Body Manusia
Membersihkan plug Membersihkan pick up
Mengecek oli Membersihkan conveyor
Dengan dibantu Operator, bottom pad (tool untuk setting concave) dinaikkan, agar nilai concavity bottom semakin besar, sehingga tidak rocky.
5.4 Analisa Kapasitas Proses Produksi
Untuk mengetahui berapa produktivitas proses produksi, pertama-tama perlu diketahui kapasitas produksi yang ada. Pihak perusahaan telah menetapkan berapa besarnya target yang harus dicapai pada tiap-tiap proses produksinya. Target perusahaan per mesin tentunya berbeda-beda, tergantung dari speed mesin. Berikut adalah rumus yang telah ditetapkan oleh PT. Schott Igar Glass (SIG) untuk target produksinya:
( ) = .
( ) =
Jadi, untuk produksi mesin Spami maka target yang harus dicapai adalah sbb:
( ) = .
= 8.70 trays per jam
( ) =
= 72 trays per shift
Sedangkan untuk produksi mesin Ambeg target yang harus dicapai adalah sbb:
( ) = .
Berikut adalah data yang diperoleh penulis dari proses produksi vial 10 ml yang diproduksi dimesin Spami dan mesin Ambeg:
Tabel 5.4. Kapasitas Total Produksi Per Shift
Jumlah Spami Ambeg
Shift 1 Shift 2 Shift 3 Shift 1 Shift 2 Shift 3
Trays 72 90 81 24 45 36
Pcs 17.856 22.320 20.088 6.696 11.160 8.928
Dalam 1 (satu) hari PT. Schott Igar Glass (SIG) melakukan proses produksi selama 24 jam, yang terbagi menjadi 3 shift. Shift 1 atau shift malam dimulai dari pukul 00.00 – 07.30 (7.5 jam), shift 2 atau shift pagi dimulai dari pukul 07.30 – 16.00 (8.5 jam), dan shift 3 atau shift sore dimulai dari pukul 16.00 – 24.00 (8 jam).
Berdasarkan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan, maka pada mesin Spami target dapat terpenuhi pada di ketiga shift. Sedangkan pada mesin Ambeg target hanya terpenuhi pada shift 2 dan shift 3. Rata-rata dari tiap mesin, kapasitas produksi yang dihasilkan lebih kecil pada shift 1. Hal ini dikarenakan pada shift 1 atau shift malam, jam kerjanya hanya 7.5 jam. Dan untuk total kapasitas yang dihasilkan selama 2 (dua) bulan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.5. Kapasitas Total Produksi Selama 1 Bulan
Shift Spami Ambeg
Shift 1 17.856 6.696
Shift 2 22.32 11.16
Shift 3 20.088 8.928
Total / Hari 60.264 26.784 Total 1 Bulan 1.807.920 803.520
5.5 Analisa Output Proses Produksi
Berdasarkan data yang didapatkan dari Map Order Produksi, maka dapat diketahui berapa output produksi yang dihasilkan selama 1 (satu) bulan. Output produksi yang dimaksud adalah segala produk yang dihasilkan dari proses produksi yang ada.
Tabel 5.6. Output Produksi Selama 1 Bulan
Mesin Kapasitas (pcs) Harga Per pcs Total Output Spami 1,807,920 Rp 1,300 Rp 2,350,296,000 Ambeg 803,520 Rp 1,300 Rp 1,044,576,000
Total Rp 3,394,872,000
5.6 Analisa Input Proses Produksi
Untuk melakukan analisa produktivitas, selain output produksi perlu diketahui juga berapa input produksi yang dihabiskan selama 1 (satu) bulan. Input produksi yang dimaksud adalah segala faktor penting yang dibutuhkan untuk melakukan suatu proses produksi. Di dalam penelitian, penulis hanya menghitung 3 (tiga) macam input produksi yaitu, biaya sumber daya manusia, biaya energi dan biaya bahan baku.
5.6.1 Analisa Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Pada tabel dibawah (tabel 5.7) dapat dilihat berapa biaya gaji yang harus dibayarkan kepada pekerja masing-masing mesin untuk proses produksi selama 1 (satu) bulan. Mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan
yang didapat oleh pekerja pada mesin Ambeg. Insentif yang diterima oleh pekerja (khususnya Operator) pada mesin Ambeg jumlahnya sama dengan besarnya insentif pekerja di mesin Spami. Padahal jika dilihat dari jenis pekerjaannya, mesin Ambeg lebih berat dan memerlukan tenaga ekstra dalam proses bekerjanya. Dimana pada mesin Ambeg, seorang Operator menghandel 6 mesin, sedangkan Operator pada mesin Spami hanya menghandle 3 mesin.
Tabel 5.7. Analisa Biaya SDM
No. Uraian Mesin Spami Mesin Ambeg
1 Banyak Pekerja 3 3
2 Gaji Per Jam 9,913.29 9,913.29
3 Insentif Per Jam 3,125 3,125
3 Banyak Shift 90 90
4 Lama jam produksi 720 720
5 Biaya Total 1,629,786 1,629,786
Dari tabel dibawah (tabel 5.8) di bawah dapat dilihat bahwa untuk penggunaan sumber daya manusia, mesin Spami memiliki produktivitas parsial terbesar yaitu sebesar 1.442.09 jauh lebih besar dibandingkan mesin Ambeg yag memiliki produktivitas parsial sebesar 640.93. Hal ini wajar karena mesin Spami memiliki pendapatan yang lebih besar.
Tabel 5.8. Analisa Produktivitas Parsial SDM
No Uraian Mesin Spami Mesin Ambeg
1 Output Produksi 2,350,296,000 1,044,576,000
2 Biaya SDM 1,629,786 1,629,786
3 Produktivitas Parsial SDM 1,442.09 640.93
5.6.2 Analisa Kebutuhan Energi
Tabel 5.9. Analisa Biaya Energi
No Uraian Mesin
Spami
Mesin Ambeg
1 Daya per jam (Kwh) 12.6 1.85
2 Total jam Shift 1 (Senin - Minggu) 8.5 8.5
3 Total jam Shift 2 (Senin - Minggu) 8 8
4 Total jam Shift 3 (Senin - Minggu) 7.5 7.5
5 Total Energi 9072 1332
6 Biaya per Kwh 730 730
7 Biaya Total 6,622,560 972,360
Tabel diatas (tabel 5.9) menunjukkan besarnya biaya energi yang dibutuhkan untuk melakukan produksi selama 1 (satu) bulan. Untuk mesin Spami membutuhkan daya sebesar 12.6 kW per jam, sedangkan untuk mesin Ambeg membutuhkan daya sebesar 1.85 kW per jamnya.
Proses produksi yang berlangsung di PT. Schott Igar Glass berjalan selama 24 jam penuh. Mesin hanya dimatikan pada hari libur nasional saja.
Namun jika keadaan mesin sedang mengalami rusak berat maka mesin hanya mengalami proses perbaikan dengan menggantungkan mesin sementara.
Dalam hal ini yang dimaksud menggantungkan mesin sementara adalah hanya tidak meletakkan material (tubing) kedalam tiap chuck, baik itu di mesin Spami ataupun di mesin Ambeg. Karena jika mesin dimatikan total maka settingan mesin dapat berubah dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk
Tabel 5.10. Analisa Produktivitas Parsial Energi
No Uraian Mesin Spami Mesin Ambeg
1 Output Produksi 2,350,296,000 1,044,576,000
2 Biaya Energi 6,622,560 972,360
3 Produktivitas Parsial Energi 354.89 1074.27
Dapat dilihat pada table 5.10 bahwa produktivitas parsial energi pada mesin Ambeg lebih besar yaitu sebesar 1074.27 dibandingkan dengan produktivitas pada mesin Spami yang hanya 354.89. Hal ini disebabkan karena besarnya daya per jam yang dikeluarkan oleh mesin Spami . .
5.6.3 Analisa Kebutuhan Bahan Baku
Untuk menghitung berapa kebutuhan bahan baku proses, harus diperhitungkan juga berapa tingkat kecacatan dari tiap mesin. Sebab tingkat kecacatan mempengaruhi banyaknya bahan yang harus disiapkan, semakin banyak kecacatannya maka bahan yang harus disiapkan pun semakin banyak.
Tingkat kecacatan masing-masing telah dihitung di bagian sebelumnya dan hasilnya dapat dilihat pada bab 4.9.
Setelah diketahui berapa tingkat kecacatan dari proses tiap-tiap mesin maka dapat diketahui berapa bahan baku yang harus disiapkan pada proses awal. Tapi karena produk yang akan dihasilkan adalah produk yang sama, yaitu vial 10 ml, maka bahan baku yang dipakai juga sama yaitu tubing yang berdiameter 24.00 dan memiliki berat per piecesnya 253.49 gram.
Tabel 5.11. Analisa Biaya Bahan Baku
No Mesin Diameter Tubing
Berat Bahan per
Item (gram)
Total Berat Bahan
(kg)
Pemakaian Tubing
(pcs)
Biaya
1 Spami 24.00 253.49 16 120 1,794,000
2 Ambeg 24.00 253.49 16 36 1,076,400
Total 2,870,400
Tabel 5.12. Analisa Produktivitas Parsial Bahan Baku
No Uraian Mesin Spami Mesin Ambeg
1 Output Produksi 2,350,296,000 1,044,576,000
2 Biaya Bahan Baku 1,794,000 1,076,400
3 Produktivitas Parsial Bahan Baku 1,310.09 970.43
Dapat dilihat pada tabel 5.12 bahwa produktivitas bahan baku pada mesin Spami lebih besar bila dibandingkan dengan produktivitas parsial pada mesin Ambeg. Pada mesin Spami terlalu banyak buangan jika terdapat defect, sehingga kemungkinan besar produk akan dibuang semua.
5.7 Analisa Total Produktivitas 3 Faktro Input Produksi
Tabel 5.13. Analisa Total Produktivitas 3 (Tiga) Faktor Input Produksi
No Uraian Mesin Spami Mesin Ambeg
1 Output Produksi 2,350,296,000 1,044,576,000
2
Input Produksi 10,046,346 3,678,546
a. Biaya Bahan Baku 1,794,000 1,076,400
b. Biaya Energi 6,622,560 972,360
5.8 Waktu Baku Produksi
Setelah diketahui berapa besarnya tingkat produktivitas masing-masing mesin Spami dengan mesin Ambeg, langkah berikutnya adalah mengecek berapa lama waktu produksi masing-masing mesin untuk membandingkan apakah kapasitas hasil produksi dapat ditingkatkan lagi.
5.8.1 Perhitungan Waktu Baku Proses di Mesin Spami
Setelah dilakukan pengamatan, maka didapatkan data lama produksi vial injection 10 ml di mesin Spami. Dari data tersebut dapat dilakukan perhitungan waktu baku produksi di mesin Spami.
5.8.1.1 Perhitungan Waktu Baku Proses Setup Produksi di Mesin Spami a. Kenormalan Data
Sebelum diolah data tersebut harus diuji apakah data sudah berdistribusi normal. Data diolah menggunakan Kolmogorof Smirnov Normality Test.
Gambar 5.13.
Uji Kenormalan Data Lama Proses Setup di Mesin Spami
H0 : Data berdistribusi normal H1 : Data tidak berdistribusi normal Tolak H0jika P Value < 0.10
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa P Value < 0.10 maka H0
diterima. Sehingga data waktu dapat dikatakan berdistribusi normal.
b. Keseragaman Data
Dari grafik diatas terlihat bahwa ada 6 (enam) kali pengamatan yang datanya melewati BKA, maka ke-enam data tersebut dibuang / dihilangkan, sehingga menjadi:
05 1015 20 2530 3540 45
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
Nomor Pengamata n (Hari) 1 Mean
0 5 10 15 20 25 30 35 40
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324
Nomor Pengamata n (Hari) 1 Mean
BKA
BKB
c. Kecukupan Data
= / (∑ (∑ )) (∑ )² ²
Tingkat kepercayaan yang dipilih adalah 95% dan tingkat ketelitian 5%. Dari tabel distribusi normal didapat:
Harga k = 1.96 ≈ 2 Dimana s = 0.05
Jadi nilai k/s = 2 / 0.05 = 40
= / (∑(∑ )) (∑ )² ²
= ( . ) (. . ) ²
= ( . ) (. . ) ²
= √ .. ²
= .
Karena N’ > N, maka data yang telah dikumpulkan dinyatakan
kurang, sehingga harus dilakukan lagi pengamatan pada penelitian ini.
Peneliti melakukan pengamatan lagi, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:
= / (∑ ) − (∑ )² ² (∑ )
= ( . ) (. . ) ²
= ( . ) (. . ) ²
= √ .. ²
=
Nilai N’ < N yaitu sebesar 54, maka data bisa dikatakan cukup.
d. Waktu Siklus
= ∑
= .
= . = 1353 detik
e. Performance Rating
Skill : Excellent B1 → + 0,11
Effort : Excellent B1 → + 0,10 Condition : Average D → 0.00 Consistency : Excellent B1 → + 0,03
f. Waktu Normal
Wn = Ws x Performance Rating
= 22.33 x 1.24
= 27.68 menit = 1644 detik
g. Allowance
a. Tenaga yang dikeluarkan: Sedang → 12 b. Sikap kerja: Berdiri di atas 2 kaki → 1
berubah-ubah → 6 e. Keadaan temperatur tempat kerja:
Tinggi (28o- 38oC) → 38
f. Keadaan atmosfer: Cukup → 3
g. Keadaan lingkungan yang baik: Sangat bising → 3
h. Kelonggaran pribadi → 2 +
65 %
h. Waktu Baku
= %
% − %
= . %
% −
= 78.88 menit = 4768 detik