1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Dalam perkembangan perbankan di Indonesia ini mengenal adanya dua bank atau dual banking system yaitu bank konvensional dengan bank syariah.
Dalam memperoleh pendapatan kedua bank tersebut memiliki perbedaan. Pada bank konvensional memperoleh pendapatan dari provisi, biaya administrasi, bunga dan fee, denda keterlambatan serta penalti pelunasan. Sedangkan bank syariah memperoleh pendapatan dari biaya administrasi, bagi hasil, margin sewa dan fee, serta denda keterlambatan dimasukkan ke dana sosial tanpa adanya biaya penalti (Alimusa, 2020:67). Bank pada umumnya merupakan suatu entitas yang memiliki tugas utama untuk menjalankan transaksi keuangan, menghimpun dana dan sebagai perantara dalam menyalurkan penawaran dan permintaan kredit kepada pihak ketiga pada waktu tertentu. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Bank disebutkan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat (Otoritas Jasa Keuangan, 2017). Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Bank Syariah yaitu bank yang menjalankan suatu kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah atau hukum Islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) seperti keadilan dan keseimbangan, kemaslahatan, universalisme, serta tidak mengandung ketidakpastian (gharar), masyrir, riba’, dzhalim, dan objek haram (Otoritas Jasa Keuangan, 2017).
Ditinjau dari sisi sistem operasionalnya, terdapat perbedaan diantara perbankan konvensional dengan syariah. Pada bank konvensional memberikan sistem keuntungan dananya berupa bunga bagi nasabah sedangkan bank syariah tidak mengenal adanya sistem bunga-berbunga karena itu dianggap sebagai riba’.
Bank Syariah menerapkan dengan sistem bagi hasil bagi nasabah. Sistem
2
operasional ini diterapkan sebagai balas jasa yang diberikan kepada nasabah oleh pihak bank atas penempatan dana dari nasabah. Dengan begitu, masyarakat Indonesia yang beragama Islam dapat bertransaksi keuangan sesuai dengan prinsip syariah (Andrianto & Firmansyah, 2019).
Perkembangan perbankan syariah saat ini dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan meskipun masih tertinggal jauh dengan bank konvensional. Meskipun begitu, Bank syariah memiliki keunggulan ketimbang bank umum. Semua transaksi yang dilakukan lembaga keuangan dapat menggunakan akad syariah. Dalam sistem perbankan konvensional tidak adanya transaksi gadai sebab hal itu merupakan domain dari jasa pegadaian. Namun, ini tidak berlaku dengan bank syariah sebab terdapat akad yang digunakan dalam proses gadai barang (rahn). Dan dari sinilah, yang menjadi keunggulan bank syariah yaitu berupa akad sewa yaitu ijarah yang tidak ada dalam produk bank konvensional (Mingka, 2018).
Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang ini maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi (Otoritas Jasa Keuangan, 2017). Perkembangan syariah di Indonesia yang terdiri atas Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) terus menunjukkan pertumbuhan positif sehingga pada tahun 2019 kondisi ketahanan pada perbankan syariah semakin solid. Menurut data dari Perbankan Syariah di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019 saat ini terdapat 14 Bank Umum Syariah (BUS) yang beroperasi di Indonesia. Berikut data mengenai Jumlah Kantor Bank Umum Syariah di Indonesia:
3 Gambar 1.1 Perkembangan Bank Umum Syariah
Sumber: Data yang telah diolah (Statistik Perbankan Syariah 2010-2019 Berdasarkan pada Gambar 1.1 menunjukkan data tentang perkembangan jumlah bank syariah yang beroperasi di Indonesia selama tahun 2010 hingga 2019.
Jumlah Bank Umum Syariah (BUS) setiap tahunnya mengalami peningkatan perkembangan setiap tahunnya. Walaupun jumlah bank memiliki peningkatan, namun deposito mudharabah cenderung lebih menurun dibandingkan produk pelayanan dengan akad di perbankan syariah lainnya. Berikut komposisi ekuivalen tingkat bagi hasil investasi IB Mudharabah:
0 2 4 6 8 10 12 14
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
4
Gambar 1.2 Komposisi Ekuivalen Tingkat Bagi Hasil Investasi IB Mudharabah
Sumber: Data yang diolah (Statistika perbankan syariah, OJK, 2018 dan 2019) Berdasarkan gambar 1.2 dapat dilihat bahwa ekuivalen bagi hasil baik dari giro, tabungan serta deposito mudharabah setiap tahunnya berfluktuasi dan yang paling menonjol yaitu bagi hasil deposito mudharabah. Dari ketiga produk penghimpunan dana yang paling tinggi diminati adalah deposito mudharabah meskipun selama lima tahun mengalami tren penurunan. Penurunan terjadi dikarenakan pada kinerja manajemen maupun tingkat kesehatan bank syariah yang bergantung pada pendapatan bank serta tergantung pada situasi makro ekonomi.
Tren penurunan paling besar terjadi pada tahun 2015 – 2016 dari 7,32% menjadi 6,10% dengan selisih penurunan sekitar 1,22%.
Pada tahun 2010-2013 terdapat 11 bank, tahun 2014-2015 menjadi 12, tahun 2017-2018 menjadi 13 serta pada tahun 2019 menjadi 14 Bank Umum Syariah yang telah beroperasi di Indonesia. Pada ke-14 Bank Umum Syariah saat ini terdapat tiga bank yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau go public yaitu PT Bank Panin Syariah Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Syariah (persero) Tbk, dan PT Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk. Dengan telah go public-nya bank syariah harus mampu memberikan manfaat bagi investor dan dapat meyakinkan calon investor bahwa prospek industri bank syariah akan cerah di masa mendatang, seiring dengan berkembangnya sektor bisnis halal (Permatasari, 2018).
0 1 2 3 4 5 6 7 8
2015 2016 2017 2018 2019
Dalam Persen (%)
Giro Mudharabah Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah
5 1.2 Latar Belakang
Tingkat bagi hasil deposito mudharabah berkaitan dengan kegiatan usaha atau produk dengan sistem operasional dalam Perbankan Syariah agar dapat bersaing dan berkembang dengan bank konvensional. Pengembangan produk Bank Syari’ah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu Pertama, penghimpunan dana terdiri dari giro syariah, tabungan syariah serta deposito syariah dengan menggunakan akad wadiah dan/atau mudharabah. Kedua, Penyaluran Dana/Pembiayaan terdiri dari transaksi bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), sewa menyewa (ijarah atau ijarah muntahiya bittamlik), jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’, pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh, serta transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa. Dan yang ketiga, produk jasa yang terdiri dari Letter of Credit (L/C) impor syariah (Akad wakalah bil ujroh dan kafalah), bank garansi syariah (Akad kafalah), serta penukaran valuta asing (Akad Sharf) (Muhamad, 2018).
Deposito Mudharabah termasuk dalam produk penghimpunan dana.
Deposito merupakan simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu dan sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan bank. Dengan menggunakan akad mudharabah. Akad Mudharabah merupakan transaksi penanaman modal dari pemilik modal (shahibul maal) menyerahkan kepada pihak bank sebagai pengelola modal (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha sesuai syariah dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak dengan nisbah yang telah disepakati. Sehingga deposito mudharabah dapat diartikan simpanan dana dengan skema pemilik dana (shahibul maal) mempercayakan dananya oleh pihak bank sebagai pengelola (mudharib) dengan pembagian hasil usaha yang telah diperoleh antar kedua belah pihak sesuai dengan nisbah yang disepakati di awal.
Deposito mudharabah juga terbagi atas dua sisi neraca yaitu pada aktiva dan pasiva. Dalam aktiva sendiri terbagi lagi menjadi dua bagian utama yaitu aktiva yang tidak menghasilkan (non-earning assets) seperti kas, saldo giro di Bank Indonesia, dan aktiva tetap serta aktiva yang menghasilkan produktif (earning assets) seperti sekuritas, pembiayaan dan investasi dana jangka panjang. Dalam
6
aktiva deposito (berjangka) merupakan simpanan antar bank syariah dengan satu bank syariah lainnya dengan tujuannya untuk memperoleh keuntungan. Kemudian pada sisi neraca pasiva dana bank yang digunakan untuk modal operasional dalam kegiatan usaha yang bersumber dari modal sendiri atau dana pihak pertama, dana simpanan bank lain (dana pihak kedua), dan dana dari masyarakat (dana pihak ketiga yaitu giro, tabungan dan deposito). Pada sisi pasiva deposito bank syariah merupakan simpanan dana pada pihak ketiga yang pencairannya akan dapat dilakukan jika telah melewati jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan antar kedua belah pihak yaitu nasabah dan bank syariah yang bersangkutan. Pada kedua sisi neraca tersebut, masing-masing sisi pada penerbitan deposito memiliki jangka waktu yang sama yaitu satu bulan, tiga bulan, enam bulan, 12 bulan, dan 14 bulan (Muhamad, 2013).
Salah satu produk investasi yang paling banyak diminati dikalangan masyarakat dan paling banyak ditawarkan oleh bank adalah deposito mudharabah.
Adanya karakteristik nasabah yang mempertimbangkan tingkat imbalan yang diperoleh dalam melakukan investasi deposito mudharabah, maka membuat tingkat bagi hasil deposito mudharabah menjadi faktor penentu dalam kesuksesan bank syariah untuk menghimpun dana pihak ketiga (Cahya, et.al, 2020).
Dengan bank sebagai mudharib, memiliki kebebasan mutlak dalam pengelolaan investasi baik jangka waktu maupun bagi hasil yang telah disepakati.
Hal ini dapat menjadi penting bagi bank dalam menjaga kualitas tingkat bagi hasil deposito mudharabah yang diberikan kepada nasabahnya. Dengan begitu, dapat dihubungkannya dengan teori signal sebab bank dapat memberikan signal kepada pemakai laporan keuangan terutama pada pihak eksternal berupa seberapa tingginya keuntungan yang telah dicapai perusahaan maupun informasi yang terkait dalam kinerja keuangan bank agar dapat menilai kesehatan serta kinerja manajemen suatu bank baik atau buruk. Sehingga para pihak eksternal akan dapat menentukan untuk menginvestasikan atau mendepositokan dananya di bank tersebut (Cahya, Zakiyyah, Rukmini, & Kusuma, 2020).
Penelitian mengenai tingkat bagi hasil deposito dengan akad mudharabah ini telah banyak dilakukan baik nasional maupun internasional. Penentuan tingkat
7 bagi hasil deposito mudharabah ini dapat dilihat dari variabel apa saja yang dapat mempengaruhinya, baik dari variabel makro maupun variabel mikro. Variabel makro ekonomi merupakan variabel yang akan mempengaruhi operasi perusahaan sehari-hari (Tandelilin, 2010). Variabel mikro dapat dilihat dari rasio kinerja perbankan.
Terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi baik variabel makro dan mikro dalam tingkat bagi hasil ini telah banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Cahya, et.al, (2020), Fadilawati
& Fitri (2019), Mahaaba (2020), Muliawati & Maryati (2015), Tho'in & Prastiwi (2019), Harfiah, Purwati, & Ulfah (2016), Hilman (2016), Bramandita & Harun (2020), Sudarsono & Saputri (2018), Rahmawaty & Yudina (2015) dan Rudiansyah (2014) ditemukan variabel yang diduga mempengaruhi tingkat bagi hasil deposito mudharabah yaitu dari sisi makro ekonomi terdiri dari kurs, inflasi, suku bunga, tingkat bagi hasil, tingkat pertumbuhan Jakarta Islamic Index (JII) dan Produk Domestik Bruto (PDB) dan sisi mikro terdiri dari Return on Asset (ROA), Financing to Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional dari Pendapatan Operasional (BOPO), dan Capital Adequacy Ratio (CAR). Namun, terdapat perbedaan hasil penelitian tentang variabel yang diduga mempengaruhi tingkat bagi hasil, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), kurs atau nilai tukar, Return on Asset (ROA) dan Financing to Deposit Ratio (FDR).
Variabel pertama, menurut Tandelilin, (2010:342), Produk Domestik Bruto merupakan jumlah keseluruhan dari ukuran produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara pada periode tertentu. Jika PDB dan konsumsi masyarakat mengalami peningkatan maka pendapatan suatu bank akan menurun karena investasi yang dikelola oleh perbankan berkurang, dengan begitu distribusi bagi hasil deposito mudharabah juga akan mengalami penurunan. Diduga PDB berpengaruh negatif pada tingkat bagi hasil deposito mudharabah Bank Umum Syariah. Hal ini sejalan dengan penelitian Mahaaba (2020) yang menyatakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap deposito mudharabah, berbeda dengan Hilman (2016) menyatakan bahwa PDB berpengaruh positif terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.
8
Perkembangan produk domestik bruto pada periode 2015 – 2019 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.1
Perkembangan Produk Domestik Bruto 2015 - 2019
Tahun Produk Domestik Bruto (PDB) (dalam milyar)
Ekuivalen Bagi Hasil iB Deposito Mudharabah
(dalam persen)
2015 Rp 11.526.332,80 7,32
2016 Rp 12.401.728,50 6,1
2017 Rp 13.589.825,70 6,04
2018 Rp 14.838.311,50 5,98
2019 Rp 15.833.943,40 5,73
Sumber: Data yang diolah, Ekonomi dan Perdagangan Badan Pusat Statistik Berdasarkan tabel 1.1, diketahui bahwa perkembangan produk domestik bruto mengalami peningkatan setiap tahunnya. Puncak dari perkembangan ini berada pada tahun 2019 sebesar Rp 15.833.943,40 Miliar yang disebabkan tingginya pada nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga. Produk domestik bruto (PDB) mencerminkan pendapatan yang meningkat dengan ekuivalen bagi hasil iB mudharabah yang menurun sehingga hubungan yang terjadi antara PDB dengan bagi hasil berpengaruh negatif. Menurut Kontan.co.id (2020) pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2019 mencapai 5,02% year-on- year (yoy). Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku sepanjang tahun 2019 tercatat sebesar Rp 4.018,8 triliun. Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2018 yang mencapai 5,17%.
Variabel kedua, menurut Natsir (2014:302) Nilai tukar merupakan nilai atau harga suatu negara tertentu yang dibandingkan dengan mata uang negara lain dan kurs mata uang terdiri dari kurs beli dan jual. Salah satu layanan di perbankan syariah yaitu deposito mudharabah dalam bentuk valuta asing. Nilai mata uang yang paling dijadikan dasar dalam penentuan nilai tukar di Indonesia adalah mata uang negara Amerika Serikat (US Dolar). Hal ini yang menjadikan nilai tukar mata uang Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang Amerika Serikat.
9 Semakin meningkatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar maka akan semakin meningkat aktivitas masyarakat untuk menginvestasikan dananya di bank syariah sehingga pendapatan bank akan meningkatkan bagi hasil deposito mudharabah sehingga diduga nilai tukar berpengaruh positif terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah. Hal ini dapat sejalan dengan penelitian Tho'in & Prastiwi (2019) yang menyatakan bahwa nilai tukar berpengaruh positif, berbeda dengan Muliawati &
Maryati (2015) bahwa nilai tukar berpengaruh negatif dan Rudiansyah (2014) tidak berpengaruh terhadap deposito mudharabah. Perkembangan nilai tukar pada periode 2015 – 2019 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.2
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah periode 2015 – 2019
Tahun Nilai Tukar Rupiah (Rp) terhadap Dolar ($)
Ekuivalen Bagi Hasil iB Deposito Mudharabah
(dalam persen)
2015 Rp 13.795 7,32
2016 Rp 13.436 6,1
2017 Rp 13.548 6,04
2018 Rp 14.481 5,98
2019 Rp 13.901 5,73
Sumber: Badan Pusat Statistik
Berdasarkan tabel 1.2, menunjukkan bahwa nilai tukar periode 2015 – 2019 mengalami perkembangan yang beragam. Penurunan paling menonjol terdapat pada tahun 2019 namun pada tahun tersebut mencerminkan bahwa nilai tukar rupiah menguat sebesar Rp 13.901 dengan ekuivalen bagi hasil iB deposito mudharabah yang menurun. Menguatnya nilai tukar rupiah disebabkan aliran dana modal asing yang masuk semakin tinggi serta adanya persepsi risiko yang membaik terhadap perekonomian indonesia. Berdasarkan data BI dalam liputan6.com, (2019), bahwa aliran modal asing yang masuk mencapai Rp 130,24 triliun yang terdiri dari saham dan surat berharga negara. Pada tahun 2018, nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp 14.481 karena meningkatnya perekonomian pada Amerika Serikat sehingga dollar AS menguat yang akan menyebabkan pada kenaikan harga komoditas. Pelemahan ini sejalan dengan menurunnya ekuivalen bagi hasil iB
10
deposito mudharabah. Sehingga hubungan antara nilai tukar dengan bagi hasil berpengaruh positif. Hal tersebut didukung oleh Sri Mulyani dalam Liputan6.com, (2018) bahwa perkembangan perekenomian yang terjadi di Amerika Serikat sangat kuat sehingga menimbulkan sentimen terhadap USD dan beberapa risiko yang berasal dari negara – negara berkembang.
Variabel ketiga, menurut Muhamad, (2013), Return on Assets (ROA) termasuk dalam ukuran kinerja keuangan bank yaitu rasio profitabilitas. ROA merupakan rasio yang memaparkan mengenai kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. Proksi yang digunakan dalam Return on Asset adalah laba sebelum pajak dibagi dengan rata – rata total aktiva. Jika, nilai ROA tinggi maka pendapatan bank akan meningkat sehingga bagi hasil yang diterima oleh nasabah pun akan semakin besar. Sehingga diduga berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah. Hal ini sejalan dengan penelitian Cahya, et.al (2020), Harfiah, Purwati, & Ulfah (2016) dan Bramandita & Harun (2020), yang diduga bahwa rasio ROA berpengaruh positif, berbeda dengan penelitian Fadilawati & Fitri (2019) dan Rahmawaty & Yudina (2015), menyatakan bahwa rasio ROA tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah sehingga ditemukannya ketidakkonsistensinan. Pada tahun 2015-2019 rasio Return on Asset mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berikut perkembangan rasio Return on Asset periode 2015 – 2019:
Tabel 1.3
Perkembangan Rasio Return on Asset Periode 2015 – 2019
Tahun Return on Assets (dalam persen)
Ekuivalen Bagi Hasil iB Deposito Mudharabah
(dalam persen)
2015 0,49 7,32
2016 0,63 6,1
2017 0.63 6,04
2018 1.28 5,98
2019 1,73 5,73
Sumber: Laporan Perkembangan Syariah, OJK (2019)
11 Berdasarkan tabel 1.3, dapat dilihat bahwa Return on Asset Bank Umum Syariah mengalami peningkatan setiap tahunnya. Puncak dari peningkatan ini terjadi pada tahun 2019 sebesar 1,73%. Meskipun pada tahun 2016 hingga 2017 memiliki nilai yang stabil sebesar 0,63%. Return on Assets (ROA) mencerminkan pendapatan yang meningkat dengan ekuivalen bagi hasil iB Mudharabah yang menurun. Sehingga hubungan yang terjadi antara ROA dengan bagi hasil berpengaruh negatif. Hal ini didukung dalam Republika.co.id (2019), bahwa Return on Asset (ROA) atau rasio kemampuan perbankan yang digunakan dalam menghasilkan profit untuk melihat keefektivitasan perbankan dalam menghasilkan pendapatan di tahun 2018 juga nyaris menjadi dua kali lipat dari tahun yang sebelumnya, yaitu 0,73 menjadi 1,26 persen.
Variabel keempat, rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) termasuk dalam pengukuran tingkat likuiditas. FDR merupakan rasio pembiayaan yang telah dilakukan oleh bank dengan pihak ketiga. Proksi yang digunakan dalam Financing to Deposit Ratio adalah perbandingan antara pembiayaan dengan total dana pihak ketiga dan modal inti (Muhamad, 2005). Semakin tingginya rasio FDR, semakin besar dana yang digunakan untuk menghimpun dana dan peningkatan pendapatan.
Ketika pendapatan meningkat maka keuntungan juga meningkat yang akan berdampak pada jumlah bagi hasil yang dialokasikan kepada nasabah meningkat sehingga diduga FDR memiliki pengaruh positif terhadap bagi hasil deposito mudharabah. Hal ini sejalan dengan penelitian Fadilawati & Fitri (2019), Harfiah, Purwati, & Ulfah (2016) dan Bramandita & Harun (2020) menyatakan bahwa rasio FDR memiliki pengaruh positif yang signifikan, berbeda dengan penelitian Cahya, et.al, (2020) dan Rahmawaty & Yudina (2015), bahwa rasio FDR tidak berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah sehingga ditemukannya ketidakkonsistensian. Pada tahun 2015-2019 perkembangan rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) mengalami penurunan, dapat terlihat pada tabel berikut:
12
Tabel 1.4
Perkembangan Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) 2015 - 2019
Tahun Financing to Deposit Ratio (dalam persen)
Ekuivalen Bagi Hasil iB Deposito Mudharabah
(dalam persen)
2015 88,03 7,32
2016 85.99 6,1
2017 79,61 6,04
2018 78,53 5,98
2019 77,91 5,73
Sumber: Data yang diolah (Statistika Perbankan Syariah, OJK 2019) Berdasarkan pada tabel 1.4, menunjukkan bahwa rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) memiliki kecenderungan penurunan. Puncak dari penurunan rasio tersebut yaitu pada tahun 2016 hingga 2017 dari 85,99% menjadi 79,61 dengan selisih penurunan sebesar 6,38%. Dan tidak adanya peningkatan satupun setiap tahunnya. Financing to Deposit Ratio (FDR) ini mencerminkan pembiayaan yang rendah dengan ekuivalen bagi hasil iB Mudharabah rendah pula. Sehingga hubungan antara FDR dengan bagi hasil berpengaruh positif. Fenomena ini dapat didukung pada pernyataan Kontan.co.id (2018), bahwa masih longgarnya FDR Bank Umum Syariah (BUS) untuk menjaga kualitas pembiayaan atau Non Performing Financing (NPF), menurut Otoritas jasa keuangan dalam Kontan.co.id pada per Agustus 2018 Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Umum Syariah hanya 80,45% turun dari agustus 2017 sebesar 81,78%. Sementara LDR pada Bank Konvensional ada di kisaran 92% hingga 93%.
Berdasarkan uraian latar belakang dan beberapa hasil penelitian terdahulu dijumpai adanya inkonsistensi hasil penelitian. Oleh karena itu, masih relevan dilakukan penelitian tentang “Dampak Variabel Makro dan Mikro Ekonomi Terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah (Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada Tahun 2015-2019)”.
13 1.3 Perumusan Masalah
Tingkat bagi hasil deposito mudharabah ini berkaitan dengan kegiatan usaha dengan sistem operasional yang berbeda agar dapat bersaing dan berkembang dengan bank konvensional. Dalam perbankan syariah terdapat tiga produk pengembangan yaitu Pertama, penghimpunan dana; kedua, penyaluran; dan ketiga, produk jasa. Deposito mudharabah merupakan bagian dari kegiatan usaha penghimpunan dana. Deposito mudharabah merupakan simpanan dana dengan skema pemilik dana (shahibul maal) mempercayakan dananya oleh pihak bank sebagai pengelola (mudharib) dengan pembagian hasil usaha yang telah diperoleh antar kedua belah pihak sesuai dengan nisbah yang disepakati di awal.
Selama periode penelitian tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah mengalami penurunan meski begitu jika dibandingkan bunga yang ada pada bank konvensional jelas berbeda. Namun, pada ekuivalen bagi hasil iB Mudharabah bagi hasil deposito mudharabah lah yang paling meningkat berkisar 5,73% - 7,32% daripada giro mudharabah yang berkisar antara 3,56% - 2,02% dan tabungan mudharabah berkisar 1,70% - 2,26% (Otoritas Jasa Keuangan, 2019). Oleh sebab itu, perlu dilakukannya penelitian tentang tingkat bagi hasil deposito mudharabah dan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya.
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan maka dapat disusun pertanyaan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana produk domestik bruto (PDB), nilai tukar, return on assets (ROA), financing to deposit ratio (FDR) dan tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015-2019?
2. Apakah terdapat pengaruh variabel makro dan mikro terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada periode 2015-2019 secara parsial?
a. Apakah variabel makro yang diproksikan dengan produk domestik bruto berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019?
14
b. Apakah variabel makro yang diproksikan dengan nilai tukar berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019?
c. Apakah variabel mikro yang diproksikan dengan Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa keuangan pada tahun 2015 – 2019?
d. Apakah variabel mikro yang diproksikan dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa keuangan pada tahun 2015 – 2019?
3. Apakah terdapat pengaruh variabel makro dan mikro terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015-2019 secara simultan?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui produk domestik bruto (PDB), nilai tukar, return on assets (ROA), financing to deposit ratio (FDR) dan tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan tahun 2015 – 2019.
2. Untuk mengetahui variabel makro dan mikro terhadap tingkat bagi hasil Bank Umum Syariah di Indonesia secara parsial:
a. Variabel makro yang diproksikan dengan produk domestik bruto berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019.
15 b. Variabel makro yang diproksikan dengan nilai tukar berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019.
c. Variabel mikro yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA) berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019.
d. Variabel mikro yang diproksikan dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019.
3. Untuk mengetahui pengaruh variabel makro dan mikro terhadap tingkat bagi hasil pada Bank Umum Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2015 – 2019 secara simultan.
1.5 Manfaat Penelitian
Pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam aspek teoritis maupun praktis, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
a. Berdasarkan teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan akuntansi maupun manajemen keuangan terutama dalam peningkatan tingkat bagi hasil deposito mudharabah perbankan syariah.
b. Bagi Peneliti, bermanfaat agar mendapatkan pemahaman lebih jelas mengenai teori terkait tingkat bagi hasil deposito mudharabah perbankan syariah dan faktor yang mempengaruhinya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi perbankan syariah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor makro maupun mikro yang mempengaruhi tingkat bagi hasil deposito mudharabah.
16
b. Bagi nasabah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aspek yang berkaitan langsung dengan kegiatan nasabah dan faktor bagi hasil.
1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Berisi tentang sistematika dan penjelasan ringkas laporan penelitian yang terdiri dari Bab I sampai Bab V dalam laporan penelitian.
a. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan penjelasan secara umum, ringkas dan padat yang menggambarkan dengan tepat isi penelitian. Isi bab ini meliputi: Gambaran Umum Objek Penelitian, Latar Belakang Penelitian, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian dan Sistematika Penulisan Tugas Akhir.
b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisisi teori tentang perbankan syariah, tingkat bagi hasil, deposito mudharabah, Produk Domestik Bruto (PDB), nilai tukar, Return on Assets (ROA).
dan Financing to Deposit Ratio (FDR), disertai penelitian terdahulu dan dilanjutkan dengan kerangka pemikiran penelitian yang di akhiri dengan hipotesis jika diperlukan.
c. BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menegaskan pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis temuan yang dapat menjawab masalah penelitian.
Bab ini meliputi uraian tentang: Jenis Penelitian, Operasional Variabel, Populasi dan Sampel, Pengumpulan Data, serta Teknik Analisis Data.
d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan diuraikan secara sistematis sesuai dengan perumusan masalah serta tujuan penelitian dan disajikan dalam sub judul tersendiri.
Bab ini berisi dua bagian: bagian pertama menyajikan hasil penelitian dan bagian kedua menyajikan pembahasan atau analisis dari hasil penelitian. Setiap aspek pembahasan hendaknya dimulai dari hasil analisis data, kemudian diinterpretasikan dan selanjutnya diikuti oleh penarikan kesimpulan. Dalam pembahasan sebaiknya
17 dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya atau landasan teoritis yang relevan.
e. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian, kemudian menjadi saran yang berkaitan dengan manfaat penelitian.
18
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN