• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 3.1 Pola Penataan Massa Bangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 3.1 Pola Penataan Massa Bangunan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Gambar 3.1 Pola Penataan Massa Bangunan

3.3 Bentuk dan Penampilan Bangunan

3.3.1 Konsep Awal Berdasarkan Analisis

Dengan tujuan menjadikan bangunan ini menjadi landmark di kawasan ini, maka bangunan direncanakan tinggi minimal sama dengan bangunan Mal Galaxy yang ada di seberang jalan untuk membentuk skyline yang sama-sama menjulang.

Langgam massa disesuaikan dengan Mal Galaxy yang nantinya akan menjadi kesatuan yang serasi.

3.3.2 Penerapan dalam Desain

Sesuai dengan konsep fungsional ruang yang ada di dalamnya maka massa bangunan dibuat dengan sirkulasi radial pada pusat bangunan yang meninggi sebagai area kamar hunian. Bentuk massa yang seperti tabung yang didapat dari sirkulasi radial ini di'penetrasi'kan ke dalam massa bangunan area pusat perbelanjaan yang dibuat lebih masif dengan bentuk sederhana.

(2)

Bentuk tabung pada area kamar hunian dibuat transparan dengan tujuan pengoptimalan view keluar maupun view dari luar. Dibedakan dengan massa area pusat perbelanjaan yang dibuat cenderung masif untuk membedakan dengan area kamar hunian, sehingga dari luar ada beda penampilan yang kontras.

Lalu sesuai dengan aksis sisi selatan tapak yang mengarah ke tapak Mal Galaxy dibuat sebagai aksis massa bangunan yang juga di'penetrasi'kan ke massa bangunan pusat perbelanjaan. Massa ini mengarah ke Mal Galaxy yang di dalamnya terdapat area retail shop dengan ruang terbuka dan menerus di sisi barat tapak dengan massa dengan aksis sama yang merupakan area kolam berenang

dengan segala fasilitas umutn hotel.

Pola massa area kamar hunian dibuat grid radial digabungkan dengan massa area pusat perbelanjaan yang grid persegi dan massa ketiga dengan grid miring sesuai aksis mengarah Mal Galaxy.

Gambar 3.2 Bentuk dan Penampilan Bangunan

(3)

3.4 Penataan Ruang

3.4.1 Konsep Awal berdasarkan Analisis

Diperlukan sebuah atrium yang mengikat antara fasilitas pusat perbelanjaan dengan fasilitas kamar hunian. Hal ini diperlukan untuk memasukkan suasana pusat perbelanjaan ke dalam kamar hunian.

3.4.2 Penerapan dalam Desain

Ruang-ruang yang ada berpusat pada atrium besar berbentuk cincin yang berada di lantai dasar dengan fasilitas pusat perbelanjaan dan hiburan di sekeliling dan di tengah atrium tersebut. Untuk lantai satu, atrium menerus ke atas berupa void berupa cincin dengan lobby di tengah dan area perbelanjaan dan hiburan di

sekeliling void.

Sedangkan lantai dua sampai empat merupakan area kamar hunian yang menghadap ke void dengan koridor di tepi luar serta kamar hunian di tengah void manghadap ke void. Area kamar hunian ini mempunyai view ke void yang menerus ke atrium dan lobby di bawah. Hal ini untuk mengoptimalkan nuansa pusat perbelanjaan yang bisa didapat bagi pengunjung yang ada di kamar hunian.

Gambar 3.3 Penataan Ruang

(4)

3.5 Sistem Struktur

Struktur bangunan yang digunakan adalah sistem struktur grid yang bervariasi. Untuk massa di tengah menggunakan sistem grid radial dengan diameter terluar dengan jarak kolom 10 meter ke pusat radial. Sistem struktur ini mempunyai tinggi lima lantai dengan satu lantai mekanikal dan satu semi- basement. Pola struktur radial tersebut ter'delatasi' oleh void cincin I tengahnya

dan bagian tepinya ter'delatasi' menjadi empat bagian.

Untuk massa dua lantai dan semi-basement di sekelilingnya mengunakan sistem struktur kilom balok dengan grid 8 x 8 meter. Pola struktur ini ter'delatasi' dengan pola struktur radial yang berada di tengahnya.

Gambar 3.4 Potongan Struktural

3.6 Pemilihan Bahan Bangunan yang Digunakan

Untuk material struktur yang digunakan adalah sistera beton dengan komposit baja untuk kolom-balok dan baja untuk rangka skylight.. Material fmishing untuk dinding menggunakan bata dan dinding gipsum untuk partisi.

Lantai menggunakan granit untuk pusat perbelanjaan, keramik untuk area servis, dan karpet untuk area kamar hunian. Kaca yang mereduksi panas untuk koridor kamar hunian, polycarbonate untuk skylight, dan untuk atap menggunakan plat baja galvanis dan plat beton.

(5)

Gambar 3.5 Potongan Salah Satu Sisi Bangunan

3.7 Perlengkapan Pelayanan dan Utilitas Bangunan

3.7.1 Perlengkapan Pelayanan

Area servis diletakkan pada sisi selatan bangunan, sisi barat pada area kamar hunian, dan pada semi-basement. Di sisi selatan didapat area M&E, genset, mesin AC, loading dock, storage, dan area karyawan.

Di sisi barat kamar hunian terdapat ruang karyawan hotel dan servis, serta ruang AHU di sekeliling area kamar hunian. Sedangkan di semi-basement didapati tandon air, STP, loading dock, dan M&E.

3.7.2 Utilitas Bangunan

Utilitas bangunan yang direncanakan dalam bangunan ini mencakup sistem air bersih, sistem air kotor dan pembuangan, sistem penghawaan, dan sistem proteksi kebakaran.

3.7.2.1 Sistem Air Bersih

Sistem yang digunakan adalah murni sistem down feed. Menggunakan air dari saluran PDAM, dengan tempat penampungan bawah dengan kapasitas 300 m3

(6)

yang diletakkan di semi-basement. Kapasitas tersebut untuk menyuplai kebutuhan swimming pool yang dikuras berkala dan untuk menyuplai sistim down-feed supply untuk seluruh bangunan. Untuk sistim ini dibuat lima tandon air atas yang diletakkan di atas lantai empat dengan kapasitas masing-masing 5 m3 untuk kebutuhan hunian hotel, lima tandon atas yang diletakkan di atas lantai satu dengan kapasitas masing-masing untuk kebutuhan toilet umum dan banquet hall, area rekreasi, area pegawai dan administrasi, area foodcourt dan dining area dan area rekreasi.

Besaran-besaran tandon tersebut didapat dari perhitungan sebagai berikut:

• Dimensi Tandon Bawah

Room Area: kapasitas 600 orang (250 liter/orang/hari) 600 x 250 =150.000 liter/hari = 150 m3

Administration & kapasitas 300 orang (100 liter/orang/hari) Employer Area 300 x 100 = 30.000 liter/hari = 30 m3

Public Area kapasitas 1500 orang (31iter/orang/hari) 1500 x 3 = 4.500 liter/hari = 4,5 m3

Recreation Area kapasitas 250 orang (30 liter/orang/hari) 250 x 30 = 7500 Iiter/hari = 7,5 m3

Banquet Hall kapasitas 1000 orag (30 liter/orang/hari) 1000 x 30 = 30.000 liter/hari = 30 m3

Dining Area kapasitas 1500 orang (30 liter/orang/hari) 1500 x 30 = 45.000 liter/hari = 45 m3

Total kebutuhan air sehari 267 m3 ditambah cadangan 100%

Dimensi Tandon Bawah 500 m3 = 10 x 20 x 2,5 m3

• Dimensi Tandon Atas

Room Area kebutuhan air 150 m3

pemakaian 24 jam

150 / 24 x 2 (pemakaian puncak) = 12,5 m3

selang waktu pengisian 2 jam

dimensi 5 tandon air @ 5m3 = 1,25 x 1,25 x 3,2 m3

Public Area & kebutuhan air 34,5 m3

Banquet Hall pemakaian 12 jam

(7)

Recreation Area

Dining Area

Administratrion &

Employer Area

34,5 / 1 2 x 2 (pemakaian puncak) = 0,75 m3

selang waktu pengisian 2 jam

dimensi tandon air 0,75 m = 1 x 1 x 0,75 m3 _

dan 10,75 m3 = 2 x 4 x l , 5 m3

kebutuhan air 7,5 m3

pemakaian 12jam

7,5 /12 x 2 (pemakaian puncak) = 1,25 m3

selang waktu pengisian 2 jam

dimensi tandon air 2,5 m3 = 1 x 2 x 1,25 m3

kebutuhan air 45 m3

pemakaian 12jam *

45 /12 x 2 (pemakaian puncak) = 7,5 m3

selang waktu pengisian 2 jam

dimensi 2 tandon air @ 7,5 m3 = 2 x 3 x 1,25 m3

kebutuhan air 30 m3

pemakaian 12 jam

30 /12 x 2 (pemakaian puncak) = 5 m3

selang waktu pengisian 2 jam

dimensi tandon air 10 m3 = 2 x 5 x 1 m3

3.7.2.2 Sistem Air Kotbr dan Pembuangan

Pembuangan air kotor semuanya ditampung di Sewage Treatment Plant (STP) sebelum dibuang ke saluran kota. Hal ini karena jumlah air buangan yang relatif besar sehingga membutuhkan pengolahan limbah buangan yang cepat dan efisien.

Air kotor dari tiap-tiap kamar dialirkan lewat shaft-shaft kecil yang berada di lantai 2 sampai lantai 4, kemudian pada lantai mekanikal, semua shafi-shaft kecil itu dimuarakan dngan susut kemiringan 5% ke dalam shaft utama yang berada di tengah bangunan. Dari shaft utama, buangan air kotor tersebut dimasukkan ke dalam STP untuk diolah. Sedangkan buangan air kotor dari area lainnya dimasukkan ke dalam shaft yang pada lantai semi-basement dimasukkan ke dalam STP. Setelah melalui proses di STP yang berkapasitas 750 m3 (70 %

(8)

kebutuhan air total + mekanikal) buangan air kotor yang telah bersih tesebut dibuang dalam bentuk air ke saluran kota.

3.7.2.3 Sistem Penghawaan

Bangunan ini menggunakan sistem penghawaan buatan yang diatur dengan sistem pendingin niangan / Air Conditioner (AC). Menggunakan AC dengan sistim air-udara untuk area hunian hotel. Satu ruang mesin AC berisi tiga mesin AC yang digunakan masing-masing untuk satu lantai hunian, mesin AC pertama untuk kamar lantai dua dan seluruh koridor hunian, mesin AC kedua dan ketiga untuk masing-masing kamar lantai tiga dan kamar lantai empat. Tiap lantai hunian dilayani oleh lima Air Handling Unit ( A H U ) yang mendapat suplai chilled-water dari water-chiller melalui supply-pipe.

Untuk area Shopping Plaza dan lobby hotel menggunakan sistim air-udara, dua mesin AC dalam satu ruang mesin AC mendinginkan air untuk dikirim melalui supply-pipe ke AHU yang masing-masing 10 buah untuk lantai dasar dan 9 buah untuk lantai satu.

Sedangkan untuk Banquet Hall menggunakan AC dengan sistim udara penuh dengan mesin AC di dak di atas Hall.

Gambar 3.6 Sistem Air Bersih, Air Kotor, dan Penghawaan

(9)

3.7.2.4 Sistem Transportasi Vertikal

Untuk area pusat perbelanjaan yang berada di lantai dasar dan lantai satu menggunakan eskalator yang berjumlah dua pasang yang masing-masing pasang terdiri eskalator naik dan turun. Sedangkan untuk menuju ke lantai semi-basement menggunakan elevator dengan ukuran 1,8 x 1,6 m dengan kapasitas angkut 20 orang.

Untuk transportasi vertikal pada area hotel menggunakan dua buah elevator dengan kapasitas angkut masing-masingl3 orang berukuran 1,6 x 1,6 m pada lantai satu (area lobby) sampai lantai empat. Untuk transportasi vertikal yang menghubungkan semi-basement dengan lantai satu hotel menggunakan elevator yang berdaya angkut sama berjumlah dua buah.

3.7.2.5 Sistem Proteksi Kebakaran

Bangunan mempunyai jumlah lantai lebih dari tiga dan sangat kompleks, oleh karena itu sistem penanggulangan kebakaran mutlak dipersiapkan.

• Sistem Evakuasi Kebakaran

Menggunakan tangga kebakaran yang berjumlah 7 buah yang tersebar di sepanjang koridor kamar dan menerus sampai ke lantai dasar dan satu buah di tengah banguan tepat di koridor tengah area kamar menerus ke bawah melewati lobby hotel sampai ke atrium. Jarak pencapaian tangga kebakaran ini antara 40 m sampai dengan 50 m dari setiap lokasi bangunan.

• Jalur Mobil Kebakaran

Dapat melalui semua entrance ke tapak dengan entrance bangunan melalui entrance timur, entrance barat, entrance utara, dan entrance tenggara.

• Perangkat Penanggulangan Kebakaran

Peralatan yang disediakan yaitu tabung pemadam kebakaran berisi gas Halon yang ditempatkan di setiap koridor area di seluruh bangunan. Sedangkan pada setiap ruangan terdapat sebuah alarm bel, sebuah intercom ,beberapa buah smoke / heat detector. Pada tiap lantai bangunan ditempatkan hidrant dengan jarak maksimum antar hidrant 30 m. Pada area terbuka juga disediakan hidrant yang menggunakan pompa khusus. Lalu dipasang pula sprinkler yang menggunakan air tandon atas yang diperkuat tekanannya dengan booster

(10)

pump. Sprinkler ini mempunyai jarak antar sprinkler maksimum 4 m dan

jarak ke dinding maksimum 2 m. Tiap-tiap sprinider ini dilengkapi dengan detektor panas.

Gambar 3.7 Sistem Transportasi Vertikal dan Proteksi Kebakaran

Gambar

Gambar 3.1 Pola Penataan Massa Bangunan
Gambar 3.2 Bentuk dan Penampilan Bangunan
Gambar 3.3 Penataan Ruang
Gambar 3.4 Potongan Struktural
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penataan ruang parkir serta pola sirkulasi indoor dan outdoor untuk kenyamanan pengguna bangunan.. Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana

1) Mengoptimalkan perancangan ruang yang mengakomodasi kegiatan riset baik dari segi kapasitas ruang, akses, tatanan massa, dan tampilan bangunan guna mewujudkan pusat

Bangunan yang menjadi ciri khas di Pecinan merupakan gabungan bangunan dengan fungsi hunian dan perdagangan atau kemudian dikenal dengan sebutan rumah-toko (Shop house).

ruang yang disebabkan oleh bangunan sekitar sebagai suatu struktur penghalang terjadi ketika aliran udara dipercepat setelah melewati peng- halang mengarah kedalam bangunan dan pada