LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA
PENGEMBANGAN MODEL BELAJAR SISWA AKTIF DENGAN PENDEKATAN ALQUR’AN, SAINS, DAN KARAKTER (ALSAK) DI
SEKOLAH DASAR
Oleh :
UMI CHABIBATUS ZAHRO, M.Pd.I(0609019001) AQIB ARDIANSYAH, M.Si (0607108002)
WINARTO, M.Pd (0612118801)
UNIVERSITAS PERADABAN 2017
Kode/Nama Rumpun Ilmu : 793/PGSD 77793PGSD…….………
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
DAFTAR ISI... iii
RINGKASAN ... 1
BAB I PENDAHULUAN ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
BAB III METODE PENELITIAN ... 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13
BAB V RENCANA TAHAP SELANJUTNYA ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 14
Lampiran 1. Perangkat Pembelajaran Model Belajar Siswa Aktif dengan Pendekatan ALSAK ... 16
Lampiran 2. Naskah Makalah Seminar Hasil ... 19
Lampiran 3. Naskah Jurnal Hasil Penelitian ... 19
Lampiran 4. Draf Bahan Ajar Hasil Penelitian ... 19
Lampiran 5. Penilaian Validasi Produk ... 19
Lampiran 6. Surat Ijin Penelitian ... 19
RINGKASAN
Tujuan penelitian jangka panjang menghasilkan produk di bidang pendidikan berupa suatu model belajar siswa aktif dengan pendekatan Alqur‟an, Sains. dan Karakter (ALSAK) yang dihasilkan dari tahapan-tahapan mengembangkan dan melakukan validasi sehingga menghasilkan suatu produk yang baik. Tujuan khusus penelitian ini yaitu mengetahui efektivitas model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK terhadap sikap dan hasil belajar siswa Sekolah Dasar (SD). Upaya yang dilakukan agar memperoleh suatu model belajar yang baik, diperlukan penelitian dan pengembangan untuk mendapatkan data yang empiris. Metode penelitian dan pengembangan Research& Development (R&D) dipilih untuk mengembangkan dan memvalidasi model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK. Target penelitian dibagi menjadi beberapa tahap.
Target penelitian tahun pertama melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) Tahun 2017, dihasilkan draf model belajar aktif pendekatan ALSAK yang baik menurut validator. Target penelitian tahun kedua menghasilkan model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK yang sudah melalui tahap pengujian produk pendahuluan, dan uji coba produk terbatas dan uji coba secara luas, dan mendesiminasikan hasil penelitian melalui seminar, workshop, jurnal lokal dan nasional, atau melalui buku ajar.
Hasil penelitian diperoleh langkah mengembangkan model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK yaitu (1) melakukan analisis kurikulum, (2) analisis materi dan pemilihan tema, dan (3) menyusun perangkat pembelajaran. Pengembangan model tersebut diperoleh dari kegiatan studi pendahuluan, perancangan model, dan melakukan validasi model. Hasil langkah studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa model pembelajaran yang mengkaitkan alqur‟an dengan pembelajaran dibutuhkan oleh guru untuk mendukung tujuan kurikulum 2013. Hasil tahap analisis kurikulum ditemukan integrasi ayat alqur‟an Qs Al-Anbiya:33, Qs Yunus:5-6, Q.S Al-Anbiya:33, Qs An-Nur: 45, Qs Al-A‟raf : 57, Qs An-Nur: 45, Qs Al-An „am: 38, Q.S Al-An
„am: 38, Qs Arrum: 41, Qs Al-A‟raf : 56 berkaitan dengan materi tata surya, jenis hewan, siklus air, dan keseimbangan lingkungan yang tertuang dalam kompetensi dasar kurikulum 2013.
Ketepaduan yang digunakan dalam mengemas pembelajaran yaitu model connected. Hasil tahap penyusunan draf produk yang dihasilkan adalah silabus, RPP, dan LKS untuk kelas V dan VI berdasarkan prinsip belajar siswa aktif. Penilaian validator terhadap perangkat pembelajaran menggunakan model tersebut sangat baik digunakan untuk proses pembelajaran IPA di sekolah dasar.
Kata Kunci: Model, Belajar Siswa Aktif, Pendeaktan ALSAK, SD
BAB 1. PENDAHULUAN
Kampanye bonus demografi sudah disebarluaskan oleh pakar kependudukan di Indonesia. Sejalan dengan pendapat Win Konadi dan Zainuddin Iba (2011), mengatakan bahwa transisi demografi pada beberapa dekade terakhir membuka peluang bagi Indonesia untuk menikmati bonus demografi, antara tahun 2020 sampai 2039 saat penduduk usia produktif berjumlah dua kali lipat dari penduduk non-produktif. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik- baiknya karena hanya akan terjadi satu kali dan itu dapat terjadi apabila penduduk usia produktif benar-benar bisa berkarya dan berkiprah secara produktif.
Momentum bonus demografi tentunya sudah dipersiapkan oleh pemerintah sebagai upaya muwujudkan negara yang berkembang menjadi negara maju. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dengan memberikan kualitas pendidikan dan kesehatan pada rakyat Indonesia. Instansi pendidikan sebagai tangan kanan pemerintah harus bersiap untuk berpartisipasi dalam melaksanakan pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia sampai tahun 2040. Oleh karena itu, Bonus demografi harus dipersiapkan oleh praktisi pendidikan dengan melaksanakan dan meningkatkan kualitas pendidikan yang baik sejak dini.
Pendidikan yang berkualitas memiliki cita-cita yang jelas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3, disebutkan tujuan pendidikan nasional yaitu sarana berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003). Namun, pelaksanaan pendidikan selama ini cenderung berorientasi pada pengetahuan saja, belum memprioritaskan iman, takwa, berakhlak mulia sebagai pondasi utama peserta didik. Salah satu indikator proses pendidikan yang belum berorientasi karakter yaitu meningkatnya tindak kriminal oleh pelajar. Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait (2010) mengatakan, angka kriminalitas yang dilakukan anak usia sekolah cenderung meningkat setiap tahunnya. Data tahun 2010 terjadi 2.413 kasus kriminal anak usia sekolah. Jumlah itu kemudian meningkat di tahun 2011, yakni sebanyak 2.508 kasus.
Banyaknya tindak kriminal yang dilakukan pelajar merupakan salah satu indikator proses belajar
hanya berorientasi pada pengetahuan saja. Paradigma guru perlu di ubah sehingga tidak hanya mengajarkan pengetahuan saja tetapi memberikan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kegiatan belajar. Pendidikan karakter diajurkan oleh pemerintah untuk dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan. Pemerintah menyusun rencana jangka panjang tentang pendidikan karakter. Dalam buku rencana strategis nasional tahun 2010-2025 dituliskan bahwa pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti:
disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Balitbang, 2011:5). Pendidikan karakter sudah seharusnya diajarkan kepada siwa, tidak terkecuali pada jenjang pendidikan sekolah dasar.
Pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam pembelajaran, tentunya memerlukan suatu model yang tepat agar tujuan dapat tercapai. Model belajar merupakan pengelolaan kegiatan belajar yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan. Model belajar disesuaikan dengan dengan kakteristik dan kebutuhan siswa. Pendekatan diperlukan untuk melengkapi model belajar.
Pendekatan merupakan Titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran/cara yang dapat didekati untuk keberhasilan tujuan pembelajaran (Arends, 2007).
Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan karakter memerlukan suatu model belajar yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengembangkan karakater melalui kegiatan belajar. Bagaimanakah langkah-langkah untuk menghasilkan model belajar yang dapat memfasilitasi pendidikan karakter yang valid, diperlukan penelitian yang dapat menjawab permasalahan. Berdasarkan uraian permasalah, penelitian dan pengembangan model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK (alqur‟an, sains dan karakter) sangat penting untuk dilakukan penelitian sehingga permasalahan banyaknya kasus kriminal oleh pelajar dapat dipecahkan.
Model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK merupakan suatu gagasan model belajar yang berpusat pada partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar dengan cara menjadikan alqur‟an sebagai sumber belajar tentang sains (IPA), dan karakter. Model ini relevan
dengan penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli. Harlen (Cipta, 2012:31) mengatakan memperkenalkan sains sejak dini kepada anak dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam memecahkan masalah. Para ahli tafsir alqur‟an mengatakan fenomena alam sudah dituliskan dalam alqur‟an sehingga sangat tepat dijadikan sumber belajar untuk melaksanakan pendidikan karakter. Oleh karena itu, dengan adanya model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK diharapkan mampu menghasilkan generasi muda yang nantinya menjadi sumber daya manusia Indonesia yang mengusai sains dengan landasasan karakter yang positif. Target penelitian ini yaitu mengembangkan model belajar yang efektif dalam melaksanakan pendidikan karakter di SD. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan pengetahuan baru tentang pendidikan karakter di sekolah dasar bagi guru yang mengalami kesulitan melaksanakanya. Rencana target luaran penelitian disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Target Luaran Penelitian
No Jenis Luaran Indikator Capaian
1 Publikasi ilmiah di jurnal nasional (ber ISSN) accepted/published 2 Pemakalah dalar pertemuan
ilmiah
Nasional Terdaftar Lokal Terdaftar
3 Buku ajar Draf
4 Luaran lainnya (model) Draf
5 Tingkat Kesiapan Teknologi 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskipsi Teoritis dan Penelitian Relevan
1. Model Belajar Siswa Aktif
Model belajar siswa aktif melibatkan siswa dalam kegiatan belajar sepenuhnya.
Menurut Bonwell dan Eison (Princes, 2004:1) menyatakan pada umumnya model belajar siswa aktif merupakan salah satu rancangan kegiatan belajar yang melibatkan siswa dalam proses belajar. Belajar aktif memerlukan kesadaran dari siswa untuk melakukan kegiatan belajar dan berpikir mengapa mempelajarinya. Model belajar siswa aktif dilaksanakan untuk mengoptimalkan semua potensi siswa sehingga mencapai hasil belajar yang maksimal (Tusholiha, 2010:18).
Dalyono (Tusholiha, 2010:22) berpendapat prinsip-prinsip belajar siswa aktif yaitu memberikan stimulus belajar, perhatian dan motivasi, respon yang dipelajari, penguatan serta pemakaian dan pemindahan. Syarat seorang guru dapat melaksanakan model belajar siswa aktif menurut Ruhimat (2011:2) sebagai berikut: 1) mendesain pembelajaran yang berkarakteristik pada pengembangan belajar siswa aktif; 2) memotivasi siswa dalam belajar;
3) mengelola kelas sehingga menghasilkan aktivitas yang total; 4) memberikan latihan, praktek atau tugas esensial di sekolah maupun di rumah yang tepat sehingga dapat mendorong siswa aktif; 5) memilih dan mengunakan strategi belajar yang memiliki karakteristik aktivitas siswa yang tinggi; 6) mampu memilih dan menerapkan pemberdayaan media dan sumber belajar dalam mendukung aktivitas siswa dalam belajar, dan ; 7) mampu melakukan penilaian secara komprehensif maupun spesifik sesuai kebutuhan sistem penilaian. Hasil penelitian yang dilakukan Tusholiha (2010) menyimpulkan bahwa model belajar siswa aktif akan meningkatkan sikap asersif siswa.
Penelitian yang dilakukan Choiriasari, Suharno, dan Sukarno (2014) menyimpulkan ada pengaruh positif penerapan model pembelajaran siswa aktif engan permainan tradisional terhadap hasil belajar.
2. Pendekatan ALSAK
Pendekatan dalam pembelajaran merupakan istilah yang mencakup seluruh proses pembelajaran. Pendekatan dan strategi pembelajaran mempunyai makna yang sama untuk menjelaskan bagaimana proses seorang guru mengajar dan peserta didik belajar dalam mencapai tujuan. Penggunaan kedua istilah ini sering dipertukarkan (Mulyatiningsih, 2010:2). Dalam melaksanakan pembelajaran, tidak dibatasi hanya satu saja pendekatan yang digunakan oleh guru.
Pendekatan ALSAK mendukung pendidikan karakter karena didalamnya memuat pendekatan indoktrinasi, pendekatan klasifikasi nilai dengan cara penalaran dan keterampilan, pendekatan keteladanan, dan pendekatan pembiasaan yang sudah digunakan oleh praktisi pendidikan karakter. Ambarwati (Sudaryanti, 2010:5) menjelaskan pendekatan indoktrinasi dengan cara memberikan hukuman, hadiah, dan pengendalian fisik. Pendekatan klasifikasi nilai dengan cara penalaran dan keterampilan. Pendekatan keteladanan dilakukan dengan cara mengajarkan untuk disiplin, tanggung jawab, empati, dan lainnya. Pendekatan pembiasaaan dengan cara berperilaku seperti berdoa, membaca kitab suci, berpuasa, dan aktivitas lainnya yang membiasakan keteladanan.
Pendekatan Alqur‟an sangat tepat dijadikan sumber belajar sains dan karakter.
Djudin (2011:1) mengatakan banyak ayat-ayat alqur‟an yang memerintahkan agar kita memikirkan sebagian tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya melalui penciptaan langit dan bumi, juga berbagai fenomena dan peristiwa alam. Kasin dan Rahman (2014:256 ) mengatakan perhatian al-Qur‟an terhadap pendidikan karakter dapat dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat yang berkaitan dengan akhlak meskipun kata- kata akhlak itu sendiri jumlahnya sedikit, tetapi substansi dari ayat-ayat tersebut berkaitan dengan akhlak. Misalnya, ketika al-Qur‟an berbicara tentang keimanan, maka selalu digandengkan dengan amal shaleh (perbuatan baik/akhlak).
Ayat-ayat banyak menjelaskan konsep sains. Surat An-Nahl menjelaskan hewan lebah dan kandungan didalamnya, dan surat Fusshilat menjelaskan pembentukan jagad
raya. Penelitan yang dilakukan Khusniati (2012) tentang imlementasi pendidikan karakter melalui pembelajar IPA pendidikan karakter yang sangat diperlukan oleh peserta didik dapat ditanamkan melalui pembelajaran IPA, salah satunya yaitu menggunakan pendekatan kontekstual. Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Wibawa (2013) bahan ajar IPA terpadu berbasis pendidikan karakter pada tema Dampak Bahan Kimia Rumah Tangga terhadap Lingkungan dapat memunculkan karakter peserta didik khususnya karakter toleransi, demokratis, disiplin, mandiri, jujur, tanggung jawab, dan peduli lingkungan.
3. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Rentang usia siswa SD, yaitu antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia siswa pada kelompok kelas rendah, yaitu 6 atau 7 sampai 8 atau 9 tahun. Siswa yang berada pada kelompok ini termasuk dalam rentangan anak usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal (Sekar, 2010:1). Makmun (Sekar, 2010:1 ), beberapa tugas perkembangan siswa sekolah diantaranya: (a) mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari, (b) mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai, (c) mencapai kebebasan pribadi, (d) mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial. Penelitian yang dilakukan Zuchdi, Zuhdan, dan Muhsinatun (2010) menerapkan pendidikan karakter melalui mata pelajaran IPA, IPS, dan Bahasa Indonesia di jenjang sekolah dasar bahwa ketaatan beribadah, nilai- nilai kejujuran, kesabaran, kerja sama, ketertiban dan kedisiplinan, serta nilai-nilai lain siswa sangat baik.
4. Pengembangan Model Belajar Siswa Aktif Pendekatan ALSAK
Model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK memerlukan tahapan pengembangan dan validasi. Metode yang dilakukan untuk menghasilkan model yang valid yaitu penelitian dan pengembangan. Model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK merupakan pembelajaraan yang melibatkan siswa secara aktif dalam
menemukan konsep yang dipelajari. Konsep-konsep yang dipelajari diintegrasikan dengan sebuah tema. Tema yang dipilih berdasarkan hasil analisis keterkatian alqur‟an, sains (materi yang diajarkan dalam kurikulum), dan karakter dalam pembelajaran SD.
Konsep model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK disajikan pada gambar 1.
Gambar 1. Gagasan Pengembangan Model Belajar Siswa Aktif Pendekatan ALSAK Alqur'an
Karakter Sains
Analisis Tema Penentuan Tujuan Pendekatan ALSAK
Model Belajar Siswa Aktif
Prinsip-Prinsip Belajar Siswa Aktif
1. Stimulus belajar.
2. Perhatian dan motivasi.
3. Respon yang dipelajari.
4. Penguatan
5. Pemakaian dan pemindahan
Perangkat Pembelajaran Analisis Materi
Silabus RPP
Sumber Belajar Penilaian
BAB 3. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif.
Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian pengembangan atau dikenal dengan R&D (research and development). R&D merupakan penelitian yang dilakukan melalui tahapan-tahapan untuk mengembangkan dan melakukan validasi sehingga menghasilkan suatu produk yang baik. Produk yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu model belajar yang berorientasi pendidikan karakter dan perangkat pembelajarannya.
B. Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama mengembangkan model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK. Tahap kedua melakukan pengujian secara empiris terhadap model. Tahapan penelitian dan pengembangan yang akan dilakukan mengacu pada langkah R&D menurut Borg & Gall (1983: 775). Penjelasan dan target tahap-tahap penelitian yang telah dilakukan peneliti mencakup tahapan pengembangan yang telah direncanakan.
Penjelasan tahapan-tahapan penelitian sebagai berikut:
1. Tahap studi pendahuluan
Tahap ini merupakan kegiatan mempersiapkan produk yang akan dikembangankan dengan melakukan studi pendahuluan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Tahap ini meliputi studi pustaka dan observasi sebelum penelitian. Kegiatan observasi meliputi pengamatan aktivitas belajar siswa di SD yang berada wilayah Brebes selatan dan melakukan wawancara tidak terstruktur kepada kepala sekolah, guru, dan siswa.
2. Tahap perencanaan
Tahap perencanaan yang dilakukan yaitu perancangan penelitian. Perancangan penelitian yang terdiri dari rencana waktu dan pembiayaan penelitian dalam kurun waktu satu tahun.
3. Tahap Penyusunan Draf Produk Perangkat Pembelajaran
Tahap ini dilakukan analisis tugas. Analisis tugas merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukkan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK. Penyusunan draf produk berdasarkan informasi yang diperoleh pada tahap studi pendahuluan.
4. Tahap Validasi Produk
Draf model belajar siswa aktif pendekatan ALSAK dilakukan penilaian oleh ahli materi dan teknologi pembelajaran, serta teman sejawat dan guru SD. Hasil penilaian berupa kelayakan perangkat dan saran serta masukan dijadikan informasi untuk revisi I pada tahap pengembangan selanjutnya.
5. Tahap Uji Coba Pendahuluan dan Revisi II
Tahap uji coba pendahuluan dan revisi II produk dilakukan setelah diberikan penilaian kelayakan oleh validator. Uji coba produk dilakukan pada satu SD yang berada di wilayah Brebes Selatan. Hasil uji coba pendahuluan digunakan sebagai informasi untuk melakukan revisi.
6. Tahap Uji Coba Terbatas dan Revisi III
Tahap uji coba terbatas dan revisi III produk dilakukan setelah produk tersebut direvisi II. Uji coba produk dilakukan pada lima SD yang berada di wilayah Brebes Selatan.
7. Tahap Uji Coba Lebih Luas dan Revisi IV
Tahap uji coba lebih luas dan revisi IV produk dilakukan setelah produk tersebut direvisi III. Uji coba produk dilakukan pada lima SD yang berada di wilayah Brebes Selatan.
8. Tahap Kajian Produk Akhir
Tahap ini menetapkan kelayakan dan kevalidan produk yang dikembangkan. Tahap kajian akhir merupakan kegiatan konfirmasi dari hasil kajian teori, kajian penelitian yang relevan dan hasil-hasil penelitian yang diperoleh.
9. Tahap Diseminasi
Tahap diseminasi merupakan kegiatan penyebarluasan produk yang telah dihasilkan agar dimanfaatkan oleh pihak-pihak terkait. Diseminasi dapat dilakukan melalui seminar ilmiah, jurnal, buku ajar, dan workshop.
Gambar 2. Rancangan Penelitian Desain Penelitian Pengembangan Adaptasi dari Borg&Gall (1983).
C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di kabupaten Brebes Jawa Tengah. Sekolah dasar yang berada di wilayah Brebes selatan dijadikan sampel penelitian.
D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini yaitu tingkat kelayakan model dan kevalidan dalam meningkatkan sains dan karakter siswa. Variabel pada tahap pengembangan produk berupa tingkat kelayakan produk yang dikembangkan. Variabel pada tahap pengujian produk terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas pada tahap pengujian produk yaitu
Studi Pendahuluan Perencanaan
Survei lapangan
Penyusunan draf perangkat
Uji coba pendahuluan dan Revisi II
Uji coba terbatas dan revisi III
Uji coba lebih luas dan revisi IV Quasi eksperiment
design
Diseminasi produk Validasi Ahli
dan Revisi I
Pengkajian dan penyempurnaan produk Validasi
model pendekatan siswa aktif pendekatan ALSAK. Variabel bebasnya adalah peningkatan sains dan karakter siswa SD.
E. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi, dan angket.Telnik observasi digunakan untuk memperoleh data keterlaksanaan model dan aktualisasi karakter siswa. Teknik angket digunakan untuk memperoleh data kelayakan produk dan respon siswa terhadap model. Untuk memperoleh data penelitian digunakan instrumen penilaian kelayakan produk, lembar keterlaksanaan RPP, lembar observasi karakter, dan angket respon pembelajaran.
Cara menganalisis data kelayakan produk dengan mencari rata-rata jumlah data penilaian produk, observasi karakter, dan respon angket tentang pembelajaran menggunakan model yang dikembangkan. Data rerata kelayakan produk, observasi karakter, dan respon angket tersebut dikonversi menggunakan skala 5 menurut Azwar (2010). Keterlaksanaan RPP dicari dari besarnya persentase ketercapaiannya. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan deskripsikan untuk menggambarkan keadaan subyek penelitian. Peningkatan karakter siswa menjadi indikator keberhasilan model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK. Langkah-langkah analisis data validasi produk oleh validator sebagai berikut.
a. Setiap butir penilaian yang tersedia dalam instrumen penilaian dari aspek dan indikator yang diperoleh dari validator dikumpulkan.
b. Penghitungan skor total rata-rata dari setiap aspek dan indikator yang dihitung dengan menggunakan rumus:
Me =
Keterangan : Me = mean (rata-rata)
∑ = epsilon (baca jumlah) Xi = nilai x ke-i sampai ke-n N = jumlah individu
n
x
ic. Mengubah skor rata-rata menjadi nilai dengan kriteria skala lima dengan kategori pilihan tanggapan yaitu sangat baik untuk 5, baik untuk 4, cukup baik untuk 3, kurang untuk 2, dan tidak baik untuk 1 dengan konversi nilai sebagai berikut. Skor yang diperoleh kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima, dengan acuan rumus yang diadaptasi dari (Azwar, 2011:163). Konversi kelayakan produk oleh validator, disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Konversi Kelayakan Produk
No Interval Skor Nilai
1 X > Xi + 1,5 Sbi A
Sangat Baik 2 Xi + Sbi < X < Xi + 1,5 Sbi B
Baik 3 Xi – 0,5 Sbi < X < Xi + 1,5
Sbi
C Cukup Baik 4 Xi – 1,5 Sbi < X < Xi - 0,5 Sbi D
Kurang Baik 5 X < Xi - 1,5 Sbi E Sangat Kurang baik
Keterangan:
X = Skor empiris (skor aktual)
Xi = rerata ideal = 1/2 (skor maksimal + skor minimal)
Sbi = simpangan baku ideal = 1/6 (skor maksimal - skor minimal).
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data
Data penelitian diperoleh dari tahap pengembangan satu sampai empat. Data penelitian sebagai berikut.
1. Studi Pendahuluan
Tahap pendahuluan dilakukan dengan kegiatan observasi pembelajaran di SD yang ada di Brebes. Selain itu, kegiatan wawancara dengan guru dan siswa tentang pembelajaran yang biasa dilakukan agar diperoleh informasi untuk menyusun produk. Hasil yang diperoleh pada tahap studi pendahuluan sebagai berikut.
a. Kegiatan membaca alqur‟an sudah pernah dilakukan, tetapi belum dihubungkan dengan pelajaran sekolah.
b. Pembelajaran yang dilakukan cenderung terpusat pada guru, adanya tugas mengerjakan LKS yang berisi latihan soal-soal sehingga diduga kurang mengembangkan kompentensi sikap, dan keterampilan.
c. Motivasi belajar siswa masih rendah, berdasarkan indikasi yang diperoleh bahwa selama proses belajar,siswa kurang memperhatikan penjelasan guru.
d. Hasil belajar siswa sub tema mata pelajaran IPA di kelas tinggi, rata-rata belum mencapai Kriteria Kentuntasan Minimal (KKM) sebesar 75.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tahap studi pendahuluan, bahwa pengembangan model belajar yang berpusat pada siswa perlu dilakukan. Selain itu, model belajar yang berpusat pada siswa diperlukan pendekatan belajar yang dapat memotivasi siswa dalam belajar. Pendekatan Alqur‟an sebagai sumber belajar IPA dan karakter dipilih untuk mendukung pengembangan model belajar ini. Penggunaan alqur‟an sebagai sumber belajar IPA belum dilaksankan oleh guru. Oleh karena itu, model ini perlu dikembangkan dan divalidasi sehingga diperoleh model yang baik.
2. Perancangan Model Belajar Siswa Aktif Dengan Pendekatan ALSAK
Perancangan model berdasarkan informasi yang diperoleh dari tahap studi pendahuluan. Hasil analisis tujuan sebagai berikut.
a. Analisis Tujuan
Analisis tujuan memperhatikan kompetensi/bidang yang dikembangkan dari potensi siswa SD. Contoh hasil langkah 1 disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Analisis Tujuan
o Ayat Alqur’an Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Kelas Model
Terpadu
1
Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing- masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya (Q.S Al-Anbiya:33). Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (Kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahuinya. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (Kebesaran-Nya)
1. Menerima, Menjalankan, dan Menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya.
3.2 Mendeskripsikan sistem tata surya, matahari sebagai pusat tata surya, serta posisi dan karakteristik anggota lain.
VI Connected
2
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah- celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung- gunung maka ditimpakan-Nya (butiran- butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” [ Q.S An-Nur: 43]. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.
Seperti itulah Kami membangkitkan orang- orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran [Qs Al-A‟raf : 57]
1. Menerima, Menjalankan, dan Menghargai ajaran agama yang dianutnya
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannyam dan benda benda yang dijumpainya dirumah, sekolah, dan tempat bermain
3.5 Mendeskripsikan siklus air dan dampaknya pada peristiwa di bumi serta kelangsungan makhluk hidup
V Connected
3
Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka ada sebagian yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Sungguh Allah maha kuasa atas segala sesuatu. [Surat An-Nur: 45], Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan [ Q.S Al-An „am: 38]
1. Menerima, Menjalankan, dan Menghargai ajaran agama yang dianutnya
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannyam dan benda benda yang dijumpainya dirumah, sekolah, dan tempat bermain
3.6 Mengenal jenis hewan dari makanannya dan mendeskripsikan rantai makanan pada ekosistem di lingkungan sekitar
V Connected
4
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)[Qs Arrum: 41]. .
1. Menerima, Menjalankan, dan
Menghargai ajaran agama yang dianutnya 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati, dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannyam dan benda benda yang dijumpainya dirumah, sekolah, dan tempat bermain
3.3 Mengindentifikasi perubahan yang terjadi di alam, hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam, dan pengaruh kegiatan manusia
V Connected
b. Analisis materi dan tema.
Analisis materi dan tema dengan menemukan keterkaitan qur‟an dengan sains, sosial dan karakter untuk menghasilkan suatu peta konsep. Konsep-konsep keterpaduan dijadikan dasar untuk menentukkan tema. Pemilihan tema haruslah yang menarik minat siswa, kontekstual, dan menumbuhkan rasa ingin tahu. Hasil langkah 2 disajikan pada gambar 3.
Gambar 3. Contoh Hasil Analisis Langkah 2
alqur'an
sains
1. Qs Al-Anbiya:33
(tata surya, revolusi, gerhana matahari) 2. Qs Nur: 43, Qs Ar-Rad:17-18 (siklus air)
3. Surat An-Nur: 45, Surat Al-An ‘am: 38 (jenis hewan dan ciri-cirinya)
4. Qs Arrum: 41-41/Qs Al-A’raf : 56-58, Qs Ash- Shad: 27
(sumber daya alam dan kerusakan lingkungan) Kompetensi inti dan
kompetensi dasar kurikulum 2013 di Sekolah Dasar
nilai karakter
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkanperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air.
3. Sikap Ilmiah ( rasa ingin tahu, jujur, teliti, peduli lingkungan)
Tema mengenal hewan, tumbuhan dan
menjaga lingkungan
c. Menyusun perangkat pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang disusun berupa silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Penyusunan perangkat pembelajaran memperhatikan prinsip-prinsip belajar siswa aktif. Pendekatan ALSAK digunakan untuk mengarahkan siswa dalam kegiatan belajar. Siswa mendominasi kegiatan belajar sepenuhnya, merupakan karakteristik dari model ini. Perangkat yang disusun mengacu pada standar proses Peraturan Pemerintah No 65 Tahun 2013 jenjang pendidikan sekolah dasar. Penjelasan penyusunan perangkat sebagai berikut.
1) Silabus
Penyusunan silabus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a) Mengutamakan kegiatan belajar berpusat pada siswa.
b) Mengutamakan pendekatan saintifik dalam kegiatan belajar.
c) Menggunakan model belajar yang berorientasi siswa terlibat aktif dalam kegiatan penyeledikan, pemecahan masalah, dan menghasilkan produk.
d) Menggunakan alqur‟an sebagai salah satu sumber belajar.
e) Kegiatan belajar berorientasi pada pengetahuan, sikap spiritual,sosial, dan sikap ilmiah serta keterampilan proses IPA.
f) Pemilihan Tema yang menarik.
g) Efektivitas Waktu.
Silabus disusun berdasarkan hasil analisis peta capaian pembelajaran pada tabel 2.
Silabus disusun untuk kegiatan pembelajaran di kelas V dan VI . Silabus disusun untuk topik benda-benda langit, dunia binatang, dan lingkungan. Penyusunan silabus mengacu pada format silabus kurikulum 2013. Model integrasi pembelajaran yang digunakan menurut Fogarty (1991) dengan desain model integrasi. Kegiatan pembelajaran yang disusun dalam silabus berprinsip pada model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK. Rancangan pembelajaran yang direncanakan dalam silabus yaitu dalam kegiatan pembelajaran, guru mengkondisikan siswa mengkaji alqur‟an sebagai sumber belajar.
Ayat-ayat alqur‟an yang berkaitan dengan kompetensi IPA dan karakter menjadi capaian pembelajaran.
Tabel 3. Silabus Model Belajar Siswa Aktif Pendekatan ALSAK
Kelas Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Materi
VI 3.1 Mendeskripsikan sistem tata surya, matahari sebagai pusat tata surya, serta posisi dan karakteristik anggota lain
3.2 Mendekripsikan peristiwa rotasi bumi, revolusi bumi, revolusi bulan, dan peristiwa terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari
Membaca dan mengkaji ayat alqur‟an, melakukan penyelidikan konsep IPA, menyusun laporan pengamatan
menyimpulkan dan mengkomunikasikan.
Bintang, Planet, dan Benda langit lainnya sebagai kesatuan tata surya, rotasi, revolusi, gerhana bulan dan matahari.
V 3.6 Mengenal jenis hewan dari makanannya dan mendeskripsikan rantai makanan pada ekosistem di lingkungan sekitar 4.6 Menyajikan hasil pengamatan untuk membentuk rantai makanan dan jejaring makanan dari makhluk hidup dilingkungan sekitar yang terdiri dari karnivora, herbivore, dan omnivore.
Membaca dan mengkaji ayat alqur‟an, melakukan penyelidikan konsep IPA, menyusun laporan pengmatan
menyimpulkan dan mengkomunikasikan
Karnivora, Omnivora, dan Herbivora, rantai makanan (produsen, konsumen, pengurai), dan jaring makanan.
V 3.5 Mendeskripsikan siklus air dan dampaknya pada peristiwa di bumi serta kelangsungan makhluk hidup
Membaca dan mengkaji ayat alqur‟an, melakukan penyelidikan konsep IPA, menyimpulkan dan mengkomunikasikan
Proses terjadinya hujan dan manfaat air untuk kehidupan.
V 3.3 Mengindentifikasi perubahan yang terjadi di alam, hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam, dan pengaruh kegiatan manusia terhadap keseimbangan lingkungan sekitar
4.5 Menyajikan hasil laporan tentang permasalahan akibat terganggunya keseimbangan alam akibat ulah manusia serta memprediksi apa yang akan terjadi jika permasalahan tersebut tidak diatasi
Membaca dan mengkaji ayat alqur‟an, melakukan penyelidikan konsep IPA, menyusun laporan pengmatan
menyimpulkan dan mengkomunikasikan
Jenis sumber daya alam dan kerusakan lingkungan.
2) RPP
RPP mengacu pada hasil analisis peta capaian pembelajaran pada tabel 2. RPP disusun untuk topik benda-benda langit, dunia binatang, dan lingkungan. RPP disusun untuk 4 kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran mengacu pada prinsip belajar siswa siswa aktif dan menggunakan pendekatan ALSAK. Alqur‟an dijadikan sumber belajar bagi siswa dalam kegiatan belajar siswa melalui penyeledikan untuk menemukan konsep IPA yang dijelaskan dalam alqur‟an. RPP disusun untuk pembelajaran di kelas V dan VI. Awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi kaitannya subtema IPA dengan ayat alqur‟an. Kemudian siswa membaca dan mengkaji ayat alqur‟an dan guru menyampiakan tujuan pembelajar. Kegiatan inti, siswa melakukan kegiatan penyelidikan untuk
menemukan konsep IPA yang dipelajari yang kaitannya dengan penjelasan di alqur‟an. Penyusunan RPP memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a) Mengacu pada standar proses kurikulum 2013.
b) Menggunakan model belajar yang berorientasi siswa terlibat aktif dalam kegiatan penyeledikan, pemecahan masalah, dan menghasilkan produk.
c) Menggunakan alqur‟an sebagai salah satu sumber belajar.
d) Kegiatan belajar berorientasi pada pengetahuan, sikap spiritual, sosial, dan sikap ilmiah serta keterampilan proses IPA.
e) Kegiatan pendahuluan sudah mengkaitkan alqur‟an dengan materi IPA.
f) Kegiatan inti mengarahkan siswa melakukan penyelidikan untuk menemukan konsep IPA, qur‟an, dan mengembangkan sikap spiritual dan sikap ilmiah.
g) Kegiatan penutup memberikan konfirmasi dan penguatan materi yang dipelajari.
3) LKS
LKS disusun berdasarkan RPP. LKS disusun untuk 4 kegiatan pembelajaran.
LKS disusun untuk topik benda-benda langit, dunia binatang, dan lingkungan. LKS disusun berdasarkan tujuan dan indikator pembelajarn. LKS disusun berdasarkan prinsip belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK, dan mendukung kegiatan penyelidikan.
LKS ini disusun dengan memperhatikan aspek kemudahan dalam menggunakan, pemilihan warna yang menarik, dan adanya umpan balik. Selain itu, ada penugasan berupa latihan soal untuk menguatkan konsep yang dipelajari. Penyusunan LKS memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a) Mengacu pada Silabus dan RPP yang disusun.
b) Petunjuk langkah kerja dalam LKS mudah dipahami siswa.
c) Memiliki konten materi IPA dan alqur‟an.
d) Pemilihan frame, warna, dan huruf dan angka memperhatikan aspek ketertarikan siswa.
e) LKS berisi evaluasi kegiatan belajar.
3. Validasi Model
Hasil validasi yang diberikan oleh validator diperoleh informasi bahwa model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK layak digunakan. Penilian validator terhadap model yang dikembangkan rata-rata “A” dengan predikat sangat baik. Penilaian validator disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Konversi Penilaian Validator No Validator Rerata
Penilaian Produk
Interval Skor Nilai
1. Dosen Ahli Teknologi Pembelajaran
3,8 X > Xi + 1,5 Sbi A
2. Dosen Agama dan Tafsir Qur‟an
4,3 Xi + Sbi < X < Xi + 1,5 Sbi A 3. Guru SD 1 3,9 Xi – 0,5 Sbi < X < Xi + 1,5 Sbi A 4. Guru SD 2 4,2 Xi – 1,5 Sbi < X < Xi - 0,5 Sbi A
5. Teman Sejawat 4,4 X < Xi - 1,5 Sbi A
Selain penilaian oleh validator berupa angka, validator memberikan penilaian berupa saran perbaikan terhadap produk. Saran yang diberikan oleh validator sebagai berikut:
a. Alokasi waktu pembelajaran kurang ditambahkan pada kegiatan pembelajaran.
b. Perlu ditambahkan model keterpaduan yang digunakan mengemas pembelajaran.
c. Kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan pendekatan saintifik.
d. Kata terjemahan dalam ayat alqur‟an perlu dituliskan.
B. Pembahasan
Data yang diperoleh berdasarkan kegiatan penelitian langkah satu sampai empat. Studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa penting dikembangkan model pembelajaran yang berorientasi pendidikan karakter. Selain itu, penggunaan alqur‟an sebagai sumber belajar siswa sangat mendukung pembelajaran berorientasi pendidikan karakter. Menurut Rahman dan Kasin (2014, p.256 ) mengatakan perhatian al-Qur‟an terhadap pendidikan karakter dapat dibuktikan dengan banyaknya ayat dalam Al-Qur‟an yang berkaitan dengan akhlak meskipun kata-kata akhlak itu sendiri jumlahnya sedikit, tetapi substansi dari ayat-ayat tersebut berkaitan dengan akhlak. Misalnya, ketika al-Qur‟an berbicara tentang keimanan, maka selalu digandengkan dengan amal shaleh (perbuatan baik/akhlak). Data analisis materi dan tujuan diperoleh tema pembelajaran tentang tata surya, siklus air, dunia hewan dan lingkungan. Model integrasi yang digunakan yaitu connected. Menurut Djudin (2011, p.1) mengatakan banyak ayat-ayat alqur‟an yang memerintahkan agar kita memikirkan sebagian tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya melalui penciptaan langit dan bumi, juga berbagai fenomena dan peristiwa alam. Contohnya Q.S Ali Imran, 3: 190-191; Nuh, 71:13-20; An-Naml, 27:70. Tentunya konsep sains yang diajarkan kepada siswa PAUD disesuaikan dengan perkembangan mental dan fisiknya. Misalkan siswa belajar macam-macam hewan seperti sapi, laba-laba, lebah, gajah, dan hewan lainnya yang disebutkan dalam ayat alqur‟an. Siswa mempelajari tentang benda-benda alam semesta seperti bumi, langit, matahari, dan bintang yang disebutkan dalam ayat-ayat alqur‟an. Belajar sains dengan sumber belajar alqur‟an diharapkan akan menumbuhkan penalaran iman kepada Allah sehingga terbentuk dalam pemikiran siswa SD tentang percaya adanya Allah SWT.
Data penilian validator terhadap model disimpulkan sangat baik digunakan dalam pembelajaran IPA SD. Menurutnya, model yang dikembangkan memenuhi aspek pembelajaran aktif, pendekatan saintifik, dan penggunaan ayat alqur‟an yang tepat untuk mempelajari materi IPA.Hasil penilaian validator sebagai berikut.
Gambar. 4. Penilaiain Validator Terhadap Model
0 1 2 3 4
5 3.8 4.3 3.9 4.2 4.4
Penilaian Validator
Dosen Ahli Teknologi Pembelajaran
Dosen Agama dan Tafsir Qur’an
Guru SD 1
Guru SD 2
Teman Sejawat
Menurut Bonwell dan Eison (Michel Princes, 2004:1), pada umumnya model belajar siswa aktif merupakan salah satu rancangan kegiatan belajar yang melibatkan siswa dalam proses belajar. Belajar aktif memerlukan kesadaran dari siswa untuk melakukan kegiatan belajar dan berpikir mengapa mempelajarinya. Model belajar siswa aktif dilaksanakan untuk mengoptimalkan semua potensi siswa sehingga mencapai hasil belajar yang maksimal (Tusholiha, 2010:18). Berdasarkan penilaian validator, model yang dikembangkan dalam penelitian ini sudah memuat prinsip belajar siswa aktif. Model yang dikembangkan ini mewadai partisipasi aktif dari siswa dengan cara penyelidikan untuk menemukan konsep IPA dan mengkajinya serta yang ada alqur‟an. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Tusholiha (2010) menyimpulkan bahwa model belajar siswa aktif akan meningkatkan sikap asersif siswa. Penelitian yang dilakukan Choiriasari, Suharno, dan Sukarno (2014) menyimpulkan ada pengaruh positif penerapan model pembelajaran siswa aktif engan permainan tradisional terhadap hasil belajar.
Model Belajar Siswa Aktif pendekatan ALSAK mendukung pendidikan karakter karena didalamnya memuat pendekatan indoktrinasi, pendekatan klasifikasi nilai dengan cara penalaran dan keterampilan, pendekatan keteladanan, dan pendekatan pembiasaan yang sudah digunakan oleh praktisi pendidikan karakter. Ambarwati (Sudaryanti, 2010:5) menjelaskan pendekatan indoktrinasi dengan cara memberikan hukuman, hadiah, dan pengendalian fisik. Pendekatan klasifikasi nilai dengan cara penalaran dan keterampilan. Pendekatan keteladanan dilakukan dengan cara mengajarkan untuk disiplin, tanggung jawab, empati, dan lainnya. Pendekatan pembiasaan dengan cara berperilaku seperti berdoa, membaca kitab suci, berpuasa, dan aktivitas lainnya yang membiasakan keteladanan.
Al Qur‟an sangat tepat dijadikan sumber belajar untuk melaksanakan pendidikan karakter. Djudin (2011:1) mengatakan, banyak ayat-ayat Al Qur‟an yang memerintahkan agar kita memikirkan sebagian tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya melalui penciptaan langit dan bumi, juga berbagai fenomena dan peristiwa alam. Contohnya Q.S Ali Imran, 3: 190-191;
Nuh, 71:13-20; An-Naml, 27:70. Tentunya konsep sains yang diajarkan kepada siswa sekolah dasar disesuaikan dengan perkembangan mental dan fisiknya. Misalkan siswa belajar macam- macam hewan seperti sapi, laba-laba, lebah, gajah, dan hewan lainnya yang disebutkan dalam ayat Al Qur‟an. Siswa mempelajari tentang benda-benda alam semesta seperti bumi, langit, matahari, dan bintang yang disebutkan dalam ayat-ayat AlQur‟an. Belajar sains dengan sumber belajar Al Qur‟an diharapkan akan menumbuhkan penalaran iman kepada Allah sehingga terbentuk dalam pemikiran siswa SD tentang percaya adanya Allah SWT. Pengembangan model ini menggunakan pendekatan laqur‟an yang dijadikan sumber belajar. Ayat-ayat alqur‟an tentang tata surya, dunia hewan, dan menjaga lingkungan dijadikan konsep IPA yang dipelajari siswa di kelas V dan VI. Tujuannya adalah dari alqurlan siswa dapat mengembangkan sikap religious, sikap ilmiah, dan pengembangan keterampilan proses. Berdasarkan penilaian validator, ayat
alqur‟an yang digunakan sebagai sumber belajar sudah tepat dan berpotensi mengembangkan karakter siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian Khusniati (2012) tentang imlementasi pendidikan karakter melalui pembelajar IPA pendidikan karakter yang sangat diperlukan oleh peserta didik dapat ditanamkan melalui pembelajaran IPA, salah satunya yaitu menggunakan pendekatan kontekstual. Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Wibawa (2013) bahan ajar IPA terpadu berbasis pendidikan karakter pada tema Dampak Bahan Kimia Rumah Tangga terhadap Lingkungan dapat memunculkan karakter peserta didik khususnya karakter toleransi, demokratis, disiplin, mandiri, jujur, tanggung jawab, dan peduli lingkungan.
BAB V SIMPULAN
Model belajar siswa aktif dengan pendekatan ALSAK layak diujicobakan di sekolah dasar berdasarkan penilaian validator dengan predikat “A” sangat baik. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengembangkan model ini yaitu melakukan analisis kompetensi, analisis materi dan tema, dan penyusunan perangkat.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, I. Richard. (2007). Learning To Teach Seven Edition. (Alih bahasa: Drs. Helly Prajitno, M.A dan Dra. Sri Mulyantini ).Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud. (2011). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Borg, W.R. & Gall, M.D (1983). Educational Research: Longman, New York London
Choiriasari, A.M. , Suharno, dan Sukarno. (2014). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Siswa Aktif dengan Permainan Tradisional Terhadap Hasil Belajar PKN, jurnal pendidikan dasar UNS Surakarta, hal. 5
Cipta, Oliviani. N.T. (2012). Implementasi Metode Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Anak Usia Dini, Jurnal Kependidikan Universitas Sintuwu Maroso, 5 (1): 31
Departemen Pendidikan Nasional, (2003). Undang Undang Pemerintah Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNASI)
Djudin, Tomo. (2010). Menyisipkan Nilai-Nilai Agama Dalam Pembelajaran Sains: Suatu Alternatif Memagari Keimanan Siswa. Jurnal Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura
Hake, R. Richard. Design-Based Research In Physics Education. Diambil Pada Tanggal pada tanggal 02 Januari 2012, dari http://www.physics.indiana.edu/~hake/DBR-Physics3.pdf Kasim, Dulsukmi dan Rahman, Amir . (2014). Pendidikan Karakter Berbasis Al-qur‟an: Upaya
Menciptakan Bangsa yang Berkarakter, jurnal Al-Ulum 14 (1): 256
Khusniati, M. (2012). Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran IPA [Versi elektronik], JPII 1 206 (2) (2012) 204-210
Mardapi, D. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: MITRA CENDIKIA Press
Metro News Viva. (2012). Kasus Kriminal Dilakukan Anak-Anak. Diakses dari http://metro.news.viva.co.id/news/read/312779-2-008-kasus-kriminal-dilakukan-anak- anak pada tanggal 7 Agustus 2015
Mulyatiningsih, Endang. (2010). Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan. Dirjen Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud
Prince, Michael. (2004). Does Active Learning Work? A Review of the Research, J. Engr.
Education, 93 (3): 1
Sekar, P.W. (2010). Karaktersitik Siswa SD Kelas Rendah dan Pembelajarannya. Diakses dari http: staf.uny.ac.id pada tanggal 18 Agustus 2015.
Sudaryanti. (2010). Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Dalam Mewujudkan Warga Negara yang Baik. Makalah Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari http: staf.uny.ac.id pada tanggal 8 Agustus 2015.
Tusholiha, Hadijah. (2010). Pengaruh Penggunaan Pendekatan Active Learning dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Sikap Asersif Siswa. Skripsi. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Wibawa. A. S, Saptorini, Iswari S. R. (2013). Pengembangan Perangkat Bahan Ajar IPA Terpadu Berbasis Pendidikan Karakter Pada Tema Dampak Bahan Kimia Rumah Tangga terhadap Lingkungan [Versi elektronik], Unnes Science Education Journal 2 (1) (2013).
Win Konadi dan Zainuddin Iba. (2011). Bonus Demografi Modal Mebangun Bangsa yang Sehat dan Bermartabat [Versi elektronik], Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Semarang 2 (6): 18
Zuchdi, D. Zuhdan, K.P, dan Muhsinatum, S.M. (2010). Pengembangan Model Pendidikan Karakter Terintegrasi Dalam Pembelajaran Bidang Studi di Sekolah Dasar, Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian
Lampiran 2. Rekap Penilaian Validator
No Validator
Indikator Penilaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Total Rata-rata skor
1 BU 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 89 3.96
2 UK 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 4 5 4 5 4 4 4 5 4 4 4 5 5 100 4.35
3 LA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 91 3.96
4 MS 3 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 4 5 5 5 4 4 102 4.43 5 SW 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 4 4 4 104 4.52 6 IG 5 5 4 4 4 4 5 3 3 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 101 4.39
Lampiran 3. Pernyataan Validator