Meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan Sleman Yogyakarta pada materi ``Sistem Pencernaan Manusia`` melalui metode PQ4R.

181  Download (0)

Teks penuh

(1)

KRITIS SISWA KELAS VIII B SMP KANISIUS KALASAN SLEMAN

YOGYAKARTA PADA MATERI “SISTEM PENCERNAAN MANUSIA”

MELALUI METODE PQ4R

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Biologi

Oleh: Yani NIM : 091434013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

KRITIS SISWA KELAS VIII B SMP KANISIUS KALASAN SLEMAN

YOGYAKARTA PADA MATERI “SISTEM PENCERNAAN MANUSIA”

MELALUI METODE PQ4R

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Biologi

Oleh: Yani NIM : 091434013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk :

Pencipta Pengetahuan dan Hikmat

Adik-adik angkatanku tercinta

Prodiku tercinta

Pembaca skripsi ini

Keluargaku tercinta

(6)

v

M OTTO

Diri kita yang menjadikan kita lemah

ataukah kuat

(7)
(8)
(9)

viii

ABSTRAK

Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIIIB SMP Kanisius Kalasan Sleman Yogyakarta Pada Materi “Sistem

Pencernaan Manusia” Melalui Metode PQ4R

Yani, 2013, Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana metode PQ4R dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan pada materi sistem pencernaan manusia.

Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIII B, SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta Tahun Ajaran 2012-2013. Komponen pengumpulan data yang digunakan berasal dari hasil penilaian pre-test, post-test, lembar observasi, dan LKS.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas model Sanford dan Kemmis yang terdiri atas tindakan berulang dimulai dengan perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai mencapai kualitas pembelajaran yang diinginkan.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, disimpulkan metode PQ4R dapat meningkatkan hasil belajar dan kekritisan siswa. Hal ini ditunjukkan dari hasil belajar siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan yang telah memenuhi batas indikator penelitian, dimana 60% siswa dapat tuntas dengan KKM 70. Hasil belajar pada aspek kognitif menunjukkan peningkatan persentase kelulusan siswa dimana pada siklus II 67,57% siswa berhasil mencapai nilai KKM 70, nilai ini lebih tinggi dari dari nilai pre-test (29,72%) dan post-test I (5,41%). Hasil belajar pada aspek afektif secara klasikal pada siklus II mencapai 76,67%, naik 15% dari penilaian afektif pada siklus I. Pada aspek psikomotorik siklus II menunjukkan perkembangan dimana sebanyak 73% siswa telah aktif dikelas. Pembelajaran dengan metode PQ4R juga menunjukkan perkembangan kekritisan siswa dimana ketuntasan belajar mencapai 67,57% pada siklus II meningkat 32,43% dari nilai kekritisan pada pre-test.

(10)

ix ABSTRACT

Increasing the Learning Performance and the Ability to Think Critically of the Kanisius Kalasan Yogyakarta Junior High School Students Grade VIII B

through PQ4R Method in the Chapter “Human Digestion Systems”

Yani, 2013, Sanata Dharma University

The purpose of this research is to know how far the PQ4R method, increases the student’s learning performance and their ability to think critically on human digestion systems subject.

The research chooses as its target group the student of Kanisius Kalasan Yogyakarta Junior High School grade VIII B, 2012-2013 periods. The data were collected from the evaluation of pre-test, post-test, observation sheet, and student worksheet.

This research used Sanford and Kemmis method consisting of stages: planning, action, observation, evaluation, and reflection that was applied repeatedly until reaching the desired result and quality.

Based on the result of this research, it can be concluded that PQ4R method could increase the student’s learning performance and the ability to think critically. The student’s learning performance of the Kanisius Kalasan Yogyakarta Junior High School student grade VIII B has reached the research indicator. It showed that 60% of the student got score over 70, the standard score. The learning performance of the cognitive aspect showed the percentage increase of students who performed over the passing grade. In the second cycle (cycle two), 67,57% of the students reached the standard score. This percentage is higher than pre-test (29,72 %) and post-test (5,41 %) percentage. Affective aspect of learning performance in the second cycle classically has reached 76,67 %, which is higher 15% than the first cycle. In the second cycle, the psycomototric aspect of learning performance showed the improvement which is show by 73% of the students who had been actively participating in the class. Method PQ4R also showed improvement of student’s criticism since the student learning performance reached 67,57% in the second cycle which means 32, 43% increase from the pre-test.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan kasih-Nya

yang limpah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR

KRITIS SISWA KELAS VIII B SMP KANISIUS KALASAN SLEMAN

YOGYAKARTA PADA MATERI “SISTEM PENCERNAAN MANUSIA”

MELALUI METODE PQ4R”.

Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Biologi. Penulis

menyadari bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh

karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak A. Tri Priantoro, M.For.Sc., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Biologi yang telah memberikan ijin dalam melaksanakan penelitian dan yang

telah membari saran dalam penulisan skripsi ini.

2. Ibu Luisa Diana Handoyo, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah

berkenan memberikan waktu untuk memberikan pengarahan dan dengan

sabar membimbing penulisan skripsi.

3. Segenap dosen Pendidikan Biologi dan staf Sekretariat Jurusan Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sanata Dharma yang

telah mendukung penulis secara tidak langsung.

4. Bapak Yusup Indrianto P., S.Pd., selaku Kepala Sekolah SMP Kanisius

Kalasan Yogyakarta yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk

mengadakan penelitian di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

5. Ibu Ch. Heffi Widyaningrum, S.Pd. Si., selaku guru IPA yang telah

membantu dan memberikan pengarahan kepada penulis dalam melaksanakan

penelitian di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

6. Siswa-siswi kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta tahun ajaran

2012-2013 yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian.

7. Seluruh keluargaku yang selalu mengingatkan dan memberi dorongan pada

penulis untuk segera menyelesaikan studi.

8. Kakak-kakak angkatan Pendidikan Biologi 2008 yang selalu mendukung

(12)

9. Teman-teman yang telah membantu dalam observasi dan membantu dalam

menyemangati penulis Ina, Yuni, Vero, Cici, Eti, Lana, dan Kintan.

10. Teman-teman angkatan 2009 tercinta yang memberikan pengalaman luar

biasa bagi penulis sehingga ini menjadi kenangan pembelajaran yang

istimewa.

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu dan mendukung penulis selama penyusunan skripsi.

Manusia jauh dari kesempurnaan, demikian pula dalam penulisan skripsi.

Oleh karena itu, penulis senantiasa menerima kritik dan saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap skripsi ini

dapat menjadi inspirasi dan alat bantu bagi pendidik yang membacanya dan

menerapkannya.

Penulis

(13)

xii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...vii

ABSTRAK...viii

F. Hasil Penelitian dengan Metode PQ4R yang Relavan...25

G.Materi Sistem Pencernaan...28

H.Kerangka Berpikir………...35

I. Hipotesis………...36

BAB III METODOLOGI...37

A.Jenis Penelitian...37

B.Setting Penelitian...37

1. Sampel penelitian...37

(14)

C.Desain Penelitian...38

D.Teknik Pengumpulan Data...43

E.Instrumen Penelitian...49

F. Indikator Pencapaian...49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pratindakan...50

B. Hasil Penelitian...52

1. Siklus I...53

2. Siklus II...58

C. Hasil dan Pembahasan Penelitian...62

1. Penilaian Kognitif Siswa-siswi...62

2. Penilaian Afektif-Psikomotorik Siswa-siswi Secara Klasikal...67

3. Penilaian Tingkat Kekritisan Siswa-siswi...70

4. Penilaian Lembar Angket………...72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...74

A. Kesimpulan...74

B. Saran...75

DAFTAR PUSTAKA...76

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Kata Kerja Operasional Domain Psikomotorik...12

Tabel 2.2 Langkah-langkah Pemodelan Pembelajaran dengan Penerapan Metode PQ4R (Trianto, 2009)...23

Tabel 4.1 Pencapaian Nilai Kognitif dan Kekritisan Pre-test...51

Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Tindakan dengan Metode PQ4R...52

Tabel 4.3 Tingkat Pencapaian Kognitif Siswa-siswi...63

Tabel 4.4 Pencapaian Tingkat Afektif dan Psikomotorik Siswa Kelas VIII B...67

Tabel 4.5 Tingkat Pencapaian Kekritisan Siswa...70

Tabel 4.6 Persentase Perkembangan Penyusunan Tipe Soal Pada Pengerjaan LKS...72

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Bangan Hubungan Strategi/Metode dengan

Kompetesi/Hasil Belajar, Materi/Bahan dan Interaksi...19

Gambar 3.1 Model Gabungan Sanford dan Kemmis Adaptasi Depdiknas, 1999...39

Gambar 4.1 Grafik Nilai Pre-test dan Post-test Siklus I...63

Gambar 4.2 Grafik Nilai Pre-test dan Post-test Siklus II...66

Gambar 4.3 Diagram Hasil Sintesis Lembar Observasi untuk Tingkat Afektif...68

(17)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Silabus………...79

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)………...82

3. Lembar Kerja Siswa (LKS)………..93

4. Kisi-kisi………...102

5. Soal Pre-Test dan Post-test………..………...105

6. Rubrik Penilaian LKS………...………..111

7. Lembar Observasi Kelas……….112

8. Lembar Angket Penilaian Metode PQ4R Terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis………...113

9. Angket Observasi………115

10. Surat Ijin Penelitian………118

a. Surat Ijin Observasi………118

b. Surat Ijin Penelitian Kepada Bappeda…...………119

c. Surat Ijin Penelitian dari Bappeda……….………...…….120

11. Dokumen Proses Pembelajaran………...122

a. Foto Kegiatan Pembelajaran………...122

b. Nilai………125

12. Data Kegiatan Belajar Siswa………..132

a. Pre-test terendah……….132

b. Pre-test tertinggi……….134

c. Post-test I terendah……….136

d. Post-test I tertinggi……….137

e. Post-test II terendah………..……….138

f. Post-test II tertinggi………...……….139

g. LKS I………..………...……….140

h. LKS II……..……..………...……….143

i. LKS III….………..………...……….146

j. Lembar Observasi………...………..……….154

k. Angket….………..………...……….…….158

l. Latihan Membuat Pertanyaan Mandiri………..159

m.Review….………..………...……….160

n. Refleksi….………..………...………161

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia

yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau

perkembangan pendidikan adalah hal yang seharusnya terjadi sejalan dengan

perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan

pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi

kepentingan masa depan. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan

ialah pendidikan yang dapat mengembangkan potensi peserta didik. Untuk

mengembangkan potensi peserta didik maka diperlukan usaha-usaha dari

komponen pendidikan terutama dalam hal ini pendidik sebagai motor pemaju

pendidikan bangsa. Salah satu usaha yang sangat penting ialah perbaikan

strategi dan metode mengajar yang efektif dalam proses pembelajaran

(Trianto, 2009).

Penerapan strategi dan metode pembelajaran yang efektif tentu akan

menghasilkan pembelajar yang tidak hanya tahu tapi juga memahami. Salah

satu petunjuk kesuksesan belajar ialah adanya perkembangan hasil belajar

yang menuju ke-angka yang lebih baik dan adanya proses perkembangan

pemikiran siswa yang kritis terhadap ilmu pengetahuan yang diterima. Dalam

meningkatkan hasil belajar dan juga tingkat kemampuan berpikir kritis siswa,

diperlukan adanya pengetahuan dasar yang dibangun. Pengetahuan dasar

(19)

diperoleh dari guru dan terutama sumber-sumber informasi tertulis. Untuk itu

diperlukan alat bantu seperti strategi belajar dan metode belajar. Salah satu

strategi belajar yang dikembangkan ialah strategi elaborasi melalui metode

PQ4R.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ross dan Divesta

(1976) serta Dansereau (1985), diketahui bahwa pembelajaran dengan strategi

elaborasi melalui metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review), memperlihatkan pembelajaran sebagai proses penambahan rincian pada skema yang telah ada di otak untuk membuat informasi baru

agar mudah diingat atau dipelajari, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih

bermakna. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan Hanclosky dalam

Sulhan (2006) menyimpulkan bahwa penggunaan metode PQ4R secara

sistematis dapat membantu siswa mengetahui, memahami, menerapkan,

menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi apa yang mereka baca. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Reder dan Anderson (1980: 3), juga

memberikan dukungan terhadap besarnya manfaat dari strategi elaborasi

melalui metode PQ4R dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil observasi kelas dan observasi tertulis yang dilakukan

peneliti di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta kelas VII-VIII, siswa-siswi

SMP Kanisius Kalasan memiliki kemampuan kognitif yang baik. Hal ini

ditunjukkan saat siswa diberikan pertanyaan siswa mampu menjawab

pertanyaan dari guru. Kemampuan psikomorik setiap siswa sangat beragam,

seperti kelas VII B ada beberapa siswa yang aktif bertanya, namun di kelas

(20)

tertulis kegiatan membaca siswa dan bertanya siswa kelas VII, peneliti

memperoleh tingkat ketertarikan siswa-siswi terhadap kegiatan membaca dan

bertanya mengenai materi IPA-Biologi termasuk dalam kategori rendah

karena “alasan kesenangan siswa-siswi terhadap Biologi karena bacaan

Biologi menarik”, mencapai 9 %. Tingkat intensitas bertanya mencapai 73%

untuk kategori siswa-siswi yang sangat sering mengajukan pertanyaan dari

keseluruhan enam kelas yang diberi angket (3 kelas VIII dan 3 kelas VII).

Dari jumlah ini sebesar 3% berasal dari siswa-siswi kelas VII B. Berdasarkan

hasil ini dapat disimpulkan siswa-siswi masih kurang aktif dalam

mengajukan pertanyaan atas apa yang mereka baca.

Melihat tingkat jarangnya siswa membaca dan mengajukan pertanyaan

ini peneliti tertarik untuk menerapkan strategi eraborasi melalui metode

PQ4R, dalam membantu siswa memiliki hasil belajar lebih dan belajar lebih

mendalam sehingga dapat berpikir kritis, dan strategi ini diterapkan di kelas

VIII B (dari kelas VII B) karena kelas ini memiliki tingkat membaca dan

bertanya terendah. Melalui strategi PQ4R diharapkan siswa-siswi dapat

meningkatkan minat dan intensitas membaca siswa yang akan berefek pada

hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa yang ditunjukkan tingginya

tingkat dalam mengajukan pertanyaan dalam suatu bacaan.

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah bab sistem

pencernaan manusia kelas VIII semester I. Materi ini dipilih berdasarkan data

observasi kelas VIII sebanyak 70 siswa-siswi yang telah menempuh pelajaran

ini. Berdasarkan data disimpulkan materi yang sulit bagi siswa-siswi SMP

kelas VIII ialah materi sistem pencernaan sebanyak 21% dari kelima materi

(21)

2,071 dari nilai KKM (73) dan nilai terendah diperoleh dari kelas VIII B,

yaitu 68,167 (kelas VIII A: 74,12 dan VIII C: 70,51). Berdasarkan latar

belakang yang telah dipaparkan di atas maka peneliti tertarik untuk

mengangkat penelitian berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar dan

Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan

Sleman Yogyakarta Pada Materi “Sistem Pencernaan Manusia” Melalui

Metode PQ4R.

B. Perumusan Masalah

1. Apakah metode PQ4R dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan pada materi sistem pencernaan manusia?

2. Apakah metode PQ4R dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan pada materi sistem pencernaan

manusia?

C. Batasan Masalah

1. Hasil Belajar

Hasil belajar yang dimaksud meliputi:

a. Domain kognitif terkait enam jenjang kemampuan yaitu pengetahuan,

pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

b. Domain afektif terkait reciving/attending (siswa bersifat terbuka terhadap ilmu pengetahuan yang diterima), organisasi (siswa mampu

bekerja sama satu dengan lainnya), dan karakteristik (siswa menghargai

setiap pendapat yang diajukan dalam proses pembelajaran).

(22)

telah dibuat, complex overt response (siswa memperbaiki pertanyaan-jawaban yang dibuat), dan origination (siswa menyusun kesimpulan-refleksi pembelajaran).

2. Kemampuan berpikir kritis terkait dengan tingginya kuantitas pertanyaan

atau pernyataan dari suatu bahan bacaan dan juga kualitas pertanyaan atau

pernyataan yang lebih bersifat pemahaman, analisis, sintesis, aplikasi dan

evaluasi.

3. Objek : Hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis.

4. Subjek : Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

5. Standar Kompetensi : 1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan

manusia.

6. Kompetensi Dasar : 1.4 Mendeskripsikan sistem pencernaan pada

manusia danhubungannya dengan kesehatan.

D. Tujuan

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejauh mana metode PQ4R dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan pada materi sistem

pencernaan manusia.

2. Untuk mengetahui sejauh mana metode PQ4R dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan pada

materi sistem pencernaan manusia.

E. Manfaat Penelitian

1. Siswa

a. Siswa dapat memahami materi sistem pencernaan manusia lebih

(23)

b. Siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar-mengajar dan

mengembangkan kemampuan berkomunikasi (bertanya) lebih baik

dalam proses belajar-mengajar.

c. Siswa dapat menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berpikir

kritis.

2. Guru

Guru dapat memperoleh variasi strategi dan metode pengajaran yang

efektif dalam mengajar sistem pencernaan manusia.

3. Sekolah

Hasil penelitian diharapkan mampu menambah informasi strategi dan

motode pengajaran yang cocok sesuai materi pembelajaran yang diberikan

khususnya dalam pembelajaran Biologi.

4. Peneliti

a. Peneliti dapat mengetahui tingkat keefektifan metode PQ4R dalam

membantu proses belajar-mengajar.

b. Peneliti dapat menggunakan variasi metode mengajar yang tepat dalam

(24)

7

BAB II

DASAR TEORI

A. Hasil Belajar

Hasil belajar siswa pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku

setelah melalui proses belajar mengajar. Tingkah laku sebagai hasil belajar

dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Penilaian dan pengukuran hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes

hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan

bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Walaupun

demikian, tes dapat digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar di

bidang afektif dan psikomotorik (Sudjana, 2009).

Tujuan penilaian hasil belajar adalah (Arifin, 2009);

1. untuk mengetahui tingkatan penguasaan peserta didik terhadap materi

yang telah diberikan;

2. mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik

terhadap program pembelajaran;

3. untuk mengetahui tingkatan kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta

didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah

ditetapkan;

4. mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti

kegiatan pembelajaran. Keunggulan peserta didik dapat dijadikan acuan

untuk memberikan bantuan dan bimbingan;

5. untuk seleksi, yaitu memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai

(25)

6. menentukan kenaikan kelas;

7. menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Menurut Shabri (2005), hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi

oleh dua faktor utama yaitu faktor dari lingkungan dan faktor yang datang

dari diri siswa. Faktor yang datang dari diri siswa seperti kemampuan belajar

(intelegensi), motivasi belajar, perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,

ketekunan, faktor fisik dan psikis. Aini (2001) berpendapat bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa diklasifikasikan menjadi dua,

yaitu faktor di luar diri siswa dan faktor pada diri siswa. Faktor pada diri

siswa ini diantaranya faktor emosi dan mood. Siswa yang mengalami hambatan pemenuhan kebutuhan emosi, maka ia dapat mengalami

“kecemasan“ sebagai gejala utama yang dirasakan (Ardiyati, 2011).

Clark mengemukakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70%

dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.

Artinya, selain faktor dari diri siswa sendiri, masih ada faktor-faktor di luar

dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang

dicapai. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi

hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran juga

dipengaruhi oleh karakteristik kelas. Variabel karakteristik kelas antara lain

(Ardiyati, 2011);

1. ukuran kelas (class size). Artinya, banyak sedikitnya jumlah siswa yang belajar. Ukuran yang biasanya digunakan adalah 1:40, artinya, seorang

guru melayani 40 orang siswa. Diduga makin besar jumlah siswa yang

harus dilayani guru dalam satu kelas maka makin rendah kualitas

(26)

2. suasana belajar. Suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang

mencapai hasil belajar yang optimal, dibandingkan dengan suasana yang

kaku, disiplin yang ketat dengan otoritas yang ada pada guru. Dalam

suasana belajar demokratis ada kebebasan siswa belajar, mengajukan

pendapat, berdialog dengan teman sekelas dan lain-lain;

3. fasilitas dan sumber belajar yang tersedia. Kelas harus diusahakan sebagai

laboratorium belajar bagi siswa. Artinya, kelas harus menyediakan

sumber-sumber belajar seperti buku pelajaran, alat peraga, dan lain-lain.

Dari informasi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu;

1. faktor pada diri siswa diantaranya intelegensi, kecemasan (emosi),

motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,

ketekunan, dan faktor fisik dan psikis;

2. faktor di luar diri siswa, seperti ukuran kelas, suasana belajar (termasuk di

dalamnya guru), fasilitas dan sumber belajar yang tersedia.

Menurut Benyamin S. Bloom, dkk (1956) hasil belajar dapat

dikelompokkan ke dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

Setiap domain disusun menjadi beberapa jenjang kemampuan, mulai dari hal

yang mudah sampai dengan hal yang kompleks, ketiga domain tersebut ialah

(Arifin, 2009):

1. Domain kognitif. Memiliki enam jenjang kemampuan yaitu;

a. pengetahuan, yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik

untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, prinsip, fakta

atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Kata

(27)

memberikan, mengidentifikasikan, memberi nama, menyusun daftar,

mencocokkan, menyebutkan, membuat garis besar, menyatakan

kembali, memilih, dan menyatakan;

b. pemahaman, yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik

untuk memahami atau mengerti tentang materi pelajaran yang

disampaikan guru dan dapat memanfaatkan tanpa harus

menghubungkan dengan hal-hal lain. Kemampuan ini dijabarkan lagi

menjadi tiga, yakni menerjemahkan, menafsirkan, dan mengekspolasi.

Kata operasional yang digunakan ialah mengubah, mempertahankan,

membedakan, memprakirakan, menyimpulkan, memberi contoh,

meramalkan, menulis kembali, dan meningkatkan;

c. aplikasi, yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk

mengunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode, prinsip, dan

teori-teori dalam situasi baru dan konkret. Kata kerja operasional yang

digunakan ialah mengubah, menghitung, mengerjakan teliti,

menghubungkan, mendemonstrasikan, memecahkan, dan memanipulasi;

d. analisis, jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk

menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur

pembentuknya. Kemampuan analisis dikelompokkan menjadi tiga yaitu

analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis prinsip-prinsip yang

terorganisasi. Kata kerja operasionalnya adalah menguraikan, membuat

diagram, memisah-misahkan, menggambarkan kesimpulan, membuat

garis besar, menghubungkan, dan merincikan;

e. sintesis, yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk

(28)

faktor. Hasil yang diperoleh dapat berupa tulisan, rencana atau

mekanisme. Kata kerja operasional sintesis meliputi menggolongkan,

menghimpun, membangkitkan, memodifikasi, menciptakan,

merencanakan, merevisi, menyimpulkan, dan menceritakan;

f. evaluasi, merupakan jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik

untuk mengevaluasi suatu situasi, keadaan, pernyataan atau konsep

berdasarkan kriteria tertentu. Kata kerja operasional meliputi menilai,

membandingkan, mempertentangkan, mengkritik, membeda-bedakan,

mempertimbangkan kebenaran, dan menafsirkan.

2. Domain afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli

mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila

seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Domain

afektif dikelompokkan menjadi lima jenis dari tingkat yang sederhana

sampai tingkat kompoleks, yaitu sebagai berikut (Sudjana, 2010);

a. receiving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah

situasi, dan gejala;

b. responding, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi,

perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar;

c. valuing, berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk kesediaan dalam menerima

(29)

d. organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem

organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan

dan prioritas nilai yang dimiliki;

e. karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua

sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola

kepribadian dan tingkah lakunya.

3. Domain psikomotorik, berorientasi pada keterampilan motorik fisik yaitu

keterampilan yang berhubungan dengan anggota badan yang memerlukan

koordinasi syaraf dan otot yang didukung oleh perasaan dan mental. Kata

kerja operasional untuk domain psikomotorik adalah (Munthe, 2009):

Tabel 2.1 Kata Kerja Operasional Domain Psikomotorik

Perubahan Kemampuan internal Kata kerja operasional

Perception

(30)

Perubahan Kemampuan internal Kata kerja operasional

Guided response

(Gerakan

terbimbing)

- Meniru contoh - Mempraktekkan

- Memainkan

- Berpegang pada pola

- Mengoperasikan

(31)
(32)

B. Berpikir Kritis

Berpikir melibatkan kegiatan memanipulasi dan mentransformasi

informasi dalam memori. Berpikir membantu dalam membentuk konsep,

menalar, berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan

memecahkan masalah. Konsepsi berpikir kritis berasal dari dua kata dasar

dalam bahasa Latin yakni “kriticos” yang berarti penilaian yang cerdas (discerning judgment) dan “criterion” yang berarti standar. Kata kritis juga ditandai dengan analisis cermat untuk mencapai penilaian yang objektif

terhadap sesuatu. Jadi, berpikir kritis berarti berpikir untuk menghasilkan

penilaian, pendapat atau evaluasi yang objektif dengan menggunakan standar

evaluasi yang tepat untuk menentukan kebaikan, dan manfaat serta nilai

sesuatu (Emelia, 2007).

Berpikir kritis merupakan kemampuan mengambil keputusan rasional

tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang diyakini. Kemampuan

berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau modal intelektual yang

sangat penting bagi setiap orang, selain itu menurut Penner kemampuan ini

merupakan bagian yang fundamental dalam kematangan manusia. Menurut

Hassoubah (2002) berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif

dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai

dan dilakukan. Berpikir kritis merupakan kegiatan menganalisis ide atau

gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakan secara tajam, memilih,

mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang lebih

sempurna. Proses mental menganalisis ide dan informasi yang diperoleh dari

hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi (Dwijananti,

(33)

Konsepsi berpikir kritis dapat dipandang dari dua cara, yakni konsepsi

umum dan konsepsi subjek-spesifik. Konsepsi umum memandang sebagai

satu set kemampuan dan disposisi yang bisa digeneralisasi dan dapat

diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi dan berbagai domain

pengetahuan. Sementara itu, konsepsi subjek-spesifik menganggap kekritisan

sebagai satu bentuk berpikir yang spesifik dalam kerangka kognitif tertentu,

tergantung pada dan ditentukan oleh pengetahuan yang luas mengenai

masalah yang dipikirkannya (Emelia, 2007).

Tujuan mengajarkan pemikiran kritis ialah menciptakan semangat kritis,

yang mendorong siswa dalam mempertanyakan apa yang mereka dengar dan

memeriksa pemikiran mereka sendiri untuk menemukan ketidakkonsistenan

atau kekeliruan logika (Slavin, 2009). Berpikir kritis meliputi berpikir secara

reflektif dan produktif serta mengevaluasi bukti. Satu cara untuk mendorong

murid agar berpikir secara kritis adalah memberikan mereka topik atau artikel

kontroversial yang menghadirkan dua sisi permasalahan untuk didiskusikan.

Sebuah pemikiran kritis dapat ditingkatkan ketika murid menemui argumen

dan perdebatan yang berada dalam konflik, yang dapat memotivasi mereka

untuk menyelidiki sebuah masalah. Guru dapat merangsang kemampuan

murid untuk berpikir kritis dengan menggunakan lebih banyak tugas yang

membutuhkan kemampuan murid untuk terfokus pada sebuah masalah dan

sebuah pertanyaan daripada mengulangi fakta-fakta (Santrock, 2009).

Beyer (1988) dalam Slavin (2009) mengidentifikasi 10 kemampuan

berpikir kritis yang dapat digunakan siswa dalam menilai keabsahan atau

argumen, kesepuluh kemampuan itu yaitu;

(34)

2. membedakan informasi, pernyataan, atau alasan yang releven dari yang

tidak relavan;

3. menentukan ketepatan fakta pernyataan;

4. menentukan kredibilitas sumber;

5. mengidentifikasi pernyataan atau argumen yang ambigu;

6. mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakan;

7. mendeteksi prasangka;

8. mengidentifikasi kekeliruan logika;

9. mengenali ketidakkonsistenan logika garis pemikiran;

10. menentukan kekuatan argumen atau pernyataan.

Beyer mencatat bahwa hal-hal ini bukanlah urutan tahap-tahap melainkan

daftar kemungkinan cara yang dapat digunakan siswa untuk mendekati

informasi guna mengevaluasi apakah hal itu benar atau masuk akal atau tidak

(Slavin, 2009).

Rath et al. (1966) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis adalah interaksi

antara pengajar dan siswa. Peserta didik memerlukan suasana akademik yang

memberikan kebebasan dan rasa aman untuk mengekspresikan pendapat dan

keputusannya selama berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu

komponen berpikir kritis yang perlu dikembangkan adalah ketrampilan

intelektual. Ketrampilan intelektual merupakan seperangkat ketrampilan yang

mengatur proses yang terjadi dalam benak seseorang. Berbagai jenis

ketrampilan dapat dimasukkan sebagai ketrampilan intelektual yang menjadi

kompetensi yang akan dicapai pada pogram pengajaran. Ketrampilan tersebut

(35)

dicapai maupun menjadi pertimbangan dalam menentukan proses pengajaran

(Sudaryanto, 2010).

C. Konstruktivisme

Metode PQ4R merupakan rangkaian inovasi dari pendekatan

konstruktivisme dalam belajar. Siswa diminta untuk mengeksplorasi

kemampuannya membuat struktur berpikir sebelum membaca dengan

menyusun pertanyaan-pertanyaan yang menjadi acuan bagi siswa untuk

menggali informasi yang dibutuhkan dari teks bacaan. Kemudian siswa

secara mandiri membaca teks dan mencari jawaban dari pertanyaan yang

telah dibuatnya.

Kontruktivisme merupakan landasan berpikir pembelajaran kontekstual

yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi

sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks terbatas (sempit). Teori

konstruktivisme adalah ide dimana siswa harus menemukan dan

menstransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan apabila

dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka (Kunandar, 2007).

Implikasi dari teori konstruktivisme terhadap proses pembelajaran

adalah sebagai berikut (Hanafiah, 2009);

1. pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, jika peserta didik tidak

diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan tingkat

pengetahuan yang dimilikinya;

2. pada akhir proses pembelajaran, peserta didik memiliki tingkat

pengetahuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya;

3. untuk mengambil keputusan (menilai), peserta didik harus bekerja sama

(36)

4. guru harus mengakui bahwa peserta didik membentuk dan menstruktur

pengetahuannya berdasarkan modalitas belajar yang dimilikinya, seperti

bahasa, matematika, musik dan lain-lain.

D. Strategi Elaborasi

Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya untuk

mencapai tujuan tertentu. Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran

sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat

mencapai hasil yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran

tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit

tercapai secara optimal, dengan kata lain pembelajaran tidak berlangsung

efektif dan efisien. Maka dari itu dalam dunia pendidikan terdapat strategi

pembelajaran yang berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber

belajar dalam upaya membelajarkan siswa (Wena, 2009).

(37)

Salah satu strategi pembelajaran yang membantu dalam menata dan

mengorganisasikan isi pembelajaran yaitu strategi eraborasi. Strategi

elaborasi dikategorikan sebagai strategi pengorganisasian isi pembelajaran

tingkat makro. Teori elaborasi mendeskripsikan cara-cara pengorganisasian

isi pembelajaran dengan mengikuti urutan umum ke rinci. Pengurutan isi

pembelajaran dari yang bersifat umum kerinci dilakukan dengan;

1. menampilkan epitome (studi yang dipelajari);

2. mengelaborasi bagian-bagian yang ada dalam epitome secara lebih rinci. Secara umum prinsip-prinsip yang mendasari model elaborasi adalah

sebagai berikut (Degeng, 1989 dalam Wena, 2009);

1. prinsip pertama adalah penyajian kerangka isi. Dalam teori elaborasi,

penyajian kerangka isi ditempatkan pada fase yang paling awal dari

keseluruhan proses pembelajaran;

2. prinsip kedua berkaitan dengan tahapan dalam melakukan elaborasi isi

pembelajaran. Elaborasi tahap pertama akan mengelaborasi bagian-bagian

yang tercakup dalam elaborasi tahap pertama dan begitu seterusnya;

3. prinsip ketiga berkaitan dengan penekanan bahwa bagian yang

terpentinglah yang harus disajikan pertama kali. Guna menentukan penting

atau tidaknya suatu bagian ditentukan oleh sumbangannya untuk

memahami keseluruhan isi bidang studi;

4. prinsip keempat berkaitan dengan tingkat kedalaman dan keluasan

elaborasi. Setiap elaborasi hendaknya dilakukan cukup singkat agar

konstruk (fakta, konsep, prinsip, atau prosedur) dapat diterima dengan baik

oleh siswa. Namun demikian, elaborasi juga perlu dilakukan dengan cukup

(38)

5. prinsip kelima berhubungan dengan penyajian pensintesis. Penyajian

pensintesis dilakukan secara bertahap, yaitu setelah setiap kali melakukan

elaborasi, secara khusus dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan

diantara konstruk-konstruk yang lebih rinci yang baru diajarkan, dan untuk

menunjukkan konteks elaborasi dalam epitome;

6. prinsip keenam berhubungan dengan penyajian jenis pensintesis.

Pensintesis yang fungsinya sebagai pengait satuan-satuan konsep, prosedur,

atau prinsip hendaknya disesuaikan dengan tipe isi bidang studi;

7. prinsip ketujuh, pemberian rangkuman. Rangkuman yang dimaksudkan

untuk mengadakan tinjauan ulang mengenai isi bidang studi yang sudah

dipelajari, dan hendaknya diberikan sebelum penyajian pensintesis.

E. Metode PQ4R

Metode PQ4R merupakan rangkaian inovasi dari pendekatan

konstruktivisme dalam belajar. Siswa diminta untuk mengeksplorasi

kemampuannya membuat struktur berpikir sebelum membaca dengan

menyusun pertanyaan-pertanyaan yang menjadi acuan bagi siswa untuk

menggali informasi yang dibutuhkan dari teks bacaan. Kemudian siswa

secara mandiri membaca teks sambil mencari jawaban dari pertanyaan yang

telah dibuatnya (Novriansyah, 2009).

Metode PQ4R digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang

mereka baca. P merupakan singkatan dari preview (membaca selintas dengan cepat), Q merupakan singkatan dari questioning (bertanya), 4R singkatan dari

read, reflecty, recite, dan review. Melakukan preview dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum membaca mengaktifkan pengetahuan awal

(39)

yang telah diketahui. Mempelajari judul-judul atau topik-topik utama

membantu pembaca sadar akan organisasi bahan-bahan baru tersebut dengan

apa yang diketahui. Mempelajari judul-judul atau topik-topik utama

membantu pembaca sadar akan organisasi bahan-bahan baru tersebut,

sehingga memudahkan perpindahannya dari memori jangka pendek ke

memori jangka panjang. Resitasi informasi dasar, khususnya bila disertai

dengan beberapa bentuk elaborasi, kemungkinan sekali akan memperkaya

pengkodean (Trianto, 2009).

Preview adalah mensurvei materi pelajaran secara cepat untuk mendapatkan suatu ide tentang pengorganisasian umum dan topik-topik dan

sub topik utama. Question adalah pengajuan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang dipelajari pada saat membaca. Pertanyaan-pertanyaan yang

diawali dengan kata “apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan dimana.” Read

adalah membaca materi sambil menjawab pertanyaan yang diajukan. Reflect

adalah refleksi materi, mencoba memahami informasi dengan cara;

1. menghubungkan informasi itu dengan hal-hal yang telah diketahui;

2. mengaitkan sub topik-sub topik di dalam teks dengan konsep-konsep atau

prinsip-prinsip utama;

3. mencoba untuk memecahkan kontradiksi di dalam informasi yang

disajikan;

4. mencoba untuk menggunakan materi itu untuk memecahkan

masalah-masalah yang disimulasikan dari materi tersebut.

Recite adalah latihan mengingat-ingat informasi dengan menyatakan butir-butir penting dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditimbulkan.

(40)

pada pertanyaan-pertanyaan dan membaca ulang materi dengan berbagai

sumber yang relevan (Hamzah, 2011).

Tabel 2.2 Langkah-langkah Pemodelan Pembelajaran dengan Penerapan Metode PQ4R (Trianto, 2009)

Langkah-langkah

Tingkah Laku Guru Aktivitas Siswa

Langkah-1

preview

a. Memberikan bahan bacaan

kepada siswa untuk dibaca.

b. Menginformasikan kepada

siswa bagaimana menemukan

ide pokok/tujuan pembelajaran

yang hendak dicapai.

Membaca selintas dengan

cepat untuk menemukan

ide pokok dan tujuan

pembelajaran yang hendak

dicapai.

Langkah ke-2

question

a. Menginformasikan kepada

siswa agar memerhatikan makna

dari bacaan.

b. Memberikan tugas kepada siswa

untuk membuat pertanyaan dari

ide pokok yang ditemukan

dengan menggunakan kata-kata

apa, mengapa, siapa, dan

bagaimana.

a. Memperhatikan

penjelasan guru.

b. Membuat pertanyaan

yang dari bacaan.

Langkah ke-3

read

Memberikan tugas kepada siswa

untuk membaca dan

menanggapi/menjawab pertanyaan

yang telah disusun sebelumnya.

Membaca secara aktif

sambil memberikan

tanggapan terhadap apa

(41)

Langkah-langkah

Tingkah Laku Guru Aktivitas Siswa

menjawab pertanyaan

dari seluruh pembahasan pelajaran

yang dipelajari hari ini.

a. Melihat catatan-catatan

yang telah dibuat

sebelumnya.

b. Membuat inti sari dari

seluruh pembahasan.

Langkah ke-6

review

a. Menugaskan siswa membaca

inti sari yang dibuatnya dari

b. Membaca kembali

bahan bacaan jika

masih belum yakin

akan jawaban yang

(42)

Berdasarkan kajian di atas model pembelajaran dengan metode PQ4R

memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yaitu sebagai berikut (Ali,

2009) :

1. Kelebihan

a. Sangat tepat untuk pengajaran pengetahuan yang bersifat deklaratif

berupa konsep-konsep, definisi, kaidah-kaidah, dan pengetahuan

penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Dapat membantu siswa yang daya ingatannya lemah untuk

menghafal konsep-konsep pelajaran.

c. Mudah diterapkan pada semua jenjang pendidikan.

d. Mampu membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan proses

bertanya dan mengkomunikasikan pengetahuannya.

e. Dapat menjangkau materi pelajaran dalam cakupan yang luas.

2. Kelemahan

a. Tidak tepat diterapkan pada pengajaran pengetahuan yang bersifat

prosedural seperti pengetahuan keterampilan.

b. Sangat sulit dilaksanakan jika sarana seperti buku siswa (buku paket)

tidak tersedia di sekolah.

c. Tidak efektif dilaksanakan pada kelas dengan jumlah yang terlalu

besar karena bimbingan guru tidak maksimal terutama dalam

merumuskan pertanyaan.

F. Hasil Penelitian dengan Metode PQ4R yang Relevan

Metode PQ4R merupakan metode belajar yang telah lama

dikembangkan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan beberapa penelitian

(43)

Divesta (1976) serta Dansereau (1985) diketahui bahwa pembelajaran dengan

penggunaan strategi elaborasi melalui metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review), memperlihatkan pembelajaran sebagai proses penambahan rincian pada skema yang telah ada di otak untuk

membuat informasi baru agar mudah diingat atau dipelajari, sehingga

pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.

Selain hasil penelitian di atas Ahmad Sulhan salah satu dosen tetap

Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, melakukan

penelitian tindakan kelas dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar

Siswa dengan Menggunakan Strategi Elaborasi Melalui Metode PQ4R Dalam

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas VII SMP Negeri 15

Mataram”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Strategi Elaborasi

melalui Metode PQ4R, untuk mengetahui apakah subyek mengalami

peningkatan prestasi belajar terutama peningkatan pada fokus yang harus

dicapai. Penelitian ini dilakukan sebanyak tiga siklus dimana hasilnya ialah

sebagai berikut (Sulhan, 2006):

1. Siklus I

Hasil tes tindakan 1 menunjukkan: (1) delapan subyek

berkemampuan tinggi mengalami peningkatan dengan kisaran 86-95; (2)

delapan subyek berkemampuan sedang mengalami peningkatan dengan

kisaran 75-85; dan (3) empat subyek berkemampuan rendah mengalami

peningkatan dengan kisaran 54-68. Berdasarkan hasil tes tindakan 1 di

atas, dapat diidentifikasi peningkatan prestasi belajar subyek terutama

pada fokus peningkatan yang harus dicapai subyek sebagaimana yang

(44)

terdapat peningkatan skor rata-rata subyek dari 71,75 pada tes prasyarat,

meningkat menjadi 79,99 pada tes tindakan 1. Semua subyek mengalami

peningkatan pada tindakan 1 dari kisaran peningkatan 2 hingga 20 poin,

kecuali hanya 1 subyek (DACN) yang tidak mengalami peningkatan sama

sekali.

2. Siklus II

Berdasarkan hasil tes tindakan 2 di atas, dapat diidentifikasi bahwa

peningkatan prestasi belajar subyek terutama pada fokus peningkatan yang

harus dicapai subyek sebagaimana yang telah ditetapkan. Bahwa skor

rata-rata subyek dari 79,99 pada tes tindakan1, meningkat menjadi 83,15 pada

tes tindakan 2. Semua subyek mengalami peningkatan pada tindakan 2 dari

kisaran peningkatan 1 hingga 11 poin, kecuali 1 subyek (DW) yang tidak

mengalami peningkatan.

3. Siklus III

Setelah pemberian tindakan 3, maka diberikan tes tindakan 3 untuk

mengetahui subyek mencapai peningkatan prestasi belajar terutama pada

fokus peningkatan yang telah ditetapkan, yaitu: (1) lima belas subyek

berkemampuan tinggi mengalami peningkatan dengan kisaran 86-97; (2)

lima subyek berkemampuan sedang mengalami peningkatan dengan

kisaran 72-82 ; dan (3) tidak terdapat subyek yang berkemampuan rendah.

Berdasarkan hasil tes tindakan 3 di atas, dapat diidentifikasi bahwa

peningkatan prestasi belajar subyek terutama pada fokus peningkatan yang

harus dicapai subyek sebagaimana yang telah ditetapkan. Bahwa skor

rata-rata subyek dari 83,15 pada tes tindakan 2, meningkat menjadi 87,2 pada

(45)

kisaran peningkatan 1 hingga 9 poin. Semua subyek mengalami

peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dengan

menggunakan Strategi Elaborasi melalui Metode PQ4R pada siklus ini

dengan skor rata-rata 87,2 (berkemampuan tinggi). Maka diputuskan

pemberian tindakan tidak dilanjutkan ke tindakan berikutnya.

Berdasarkan analisis dan refleksi terhadap hasil tes prasyarat,

tindakan 1, tindakan 2, dan tindakan 3, dapat disimpulkan bahwa: skor

rata-rata subyek mengalami peningkatan yang berarti, mulai dari 71,75

(kategori kemampuan sedang) pada kemampuan prasyarat, meningkat

menjadi 79,99 (berprestasi sedang) pada tindakan 1, meningkat lagi

menjadi 83,15 (berprestasi sedang) pada tindakan 2, dan meningkat lagi

menjadi 87,2 (berprestasi tinggi) pada tindakan 3. Hal ini berarti bahwa

setelah tindakan 3, semua subyek (tanpa terkecuali) mengalami

peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dengan

menggunakan Strategi Elaborasi melalui Metode PQ4R dengan skor

rata-rata 87,2 (berkemampuan tinggi).

G. Materi Sistem Pencernaan Manusia

Karakteristik dari materi sistem pencernaan manusia ialah sebagai

berikut:

1. Standar Kompetensi : 1. Memahami berbagai sistem dalam

kehidupan manusia.

2. Kompetensi Dasar : 1.4 Mendeskripsikan sistem pencernaan pada

manusia dan hubungannya dengan

(46)

3. Indikator :

a. Kognitif :

1) Kognitif Produk

a) Mengklasifikasikan dan menjelaskan makanan berdasarkan

fungsinya.

b) Mendeskripsikan proses pencernaan dalam tubuh manusia.

c) Menjelaskan kaitan hubungan antara kerusakan organ pencernaan

dengan penyakit yang diakibatkan.

2) Kognitif Proses

a) Mendiskusikan penyusunan pertanyaan terkait sistem pencernaan.

b) Mengidentifikasi jawaban yang tepat atas pertanyaan yang telah

disusun.

c) Mengkomunikasikan informasi yang dicari terkait sistem

pencernaan.

b. Afektif :

1) Afektif Karakter

a) Keseriusan dalam berdiskusi, menyusun, dan menjawab

pertanyaan.

b) Kemandirian dalam menyusun pertanyaan dan mencari informasi

belajar terkait sistem pencernaan.

2) Afektif Sosial

a) Menghargai dalam memberikan pendapat, pertanyaan, dan

berdiskusi.

(47)

c) Terbuka pada satu dengan lainnya dalam memberikan pertanyaan

dan jawaban.

c. Psikomotorik

1) Aktif dalam mengajukan pertanyaan tertulis dan lisan.

2) Aktif dalam mengobservasi bacaan terkait sistem pencernaan.

3) Aktif dalam menjawab pertanyaan yang telah disusun.

4) Aktif dalam melakukan refleksi mandiri dan terbimbing.

5) Aktif dalam menyusun kesimpulan belajar.

6) Aktif dalam diskusi kelompok.

4. Tujuan :

a. Kognitif :

1) Kognitif Produk

a) Siswa mampu mengklasifikasikan dan menjelaskan makanan

berdasarkan fungsinya.

b) Siswa mampu mendeskripsikan proses pencernaan dalam tubuh

manusia.

c) Siswa mampu menjelaskan kaitan hubungan antara kerusakan

organ pencernaan dengan penyakit yang diakibatkan.

2) Kognitif Proses

a) Melalui diskusi yang dirancang guru siswa mampu menyusun

pertanyaan terkait sistem pencernaan.

b) Melalui sumber belajar seperti buku dan LKS siswa mampu

mengidentifikasi jawaban yang tepat atas pertanyaan yang telah

(48)

c) Melalui kelompok siswa mampu mencari sumber informasi

tertulis terkait sistem pencernaan dan mengkomunikasikannya.

b. Afektif :

1) Afektif Karakter

a) Siswa mampu serius dalam berdiskusi, menyusun, dan menjawab

pertanyaan.

b) Siswa mampu mandiri dalam menyusun pertanyaan dan mencari

informasi belajar terkait sistem pencernaan Siswa mampu bekerja

sama dalam berdiskusi dan mengerjakan tugas.

2) Afektif Sosial

a) Siswa mampu menghargai dalam memberikan pendapat,

pertanyaan, dan berdiskusi.

b) Siswa mampu bekerja sama dalam berdiskusi dan mengerjakan

tugas.

c) Siswa mampu terbuka pada satu dengan lainnya dalam

memberikan pertanyaan dan jawaban.

c. Psikomotorik

1) Siswa mampu aktif dalam mengajukan pertanyaan tertulis dan lisan.

2) Siswa mampu aktif dalam mengobservasi bacaan terkait sistem

pencernaan.

3) Siswa mampu aktif dalam menjawab pertanyaan yang telah disusun.

4) Siswa mampu aktif dalam melakukan refleksi mandiri dan

terbimbing.

5) Siswa mampu aktif dalam menyusun kesimpulan belajar.

(49)

5. Materi sistem pencernaan

Materi sistem pencernaan manusia dikelompokkan dalam tiga

subbab yaitu:

a. Makanan dan fungsinya

b. Organ-organ pencernaan

c. Gangguan pada sistem pencernaan

Pada dasarnya sistem pencernaan merupakan proses yang melibatkan

perubahan struktur makanan dari yang berukuran besar dan kompleks

menjadi suatu unsur yang lebih sederhana dan berukuran kecil sehingga

dapat difungsikan oleh sel dalam tubuh untuk melakukan metabolisme

tubuh. Berdasarkan proses ini maka seperti subbab di atas dapat dikatakan

bahwa pencernaan melibatkan suatu komponen besar yang dikenal sebagai

makanan. Berdasarkan fungsinya makanan dapat dibagi menjadi makanan

yang berkarbohidrat, berlemak, berprotein, dan bervitamin-bermineral.

Makanan yang berkarbohidrat memiliki fungsi utama sebagai sumber

energi utama, makanan yang berlemak berfungsi sebagai sumber energi

sampai penyusun membran sel, protein berperan dalam membangun sel

dalam tubuh, vitamin berperan dalam membantu kelancaran proses-proses

di dalam tubuh, dan mineral berperan dalam pembentukan struktur tubuh

(Karim, 2008).

Makanan yang telah diketahui fungsinya ini kemudian dicerna dalam

sistem organ tubuh manusia yang dikenal dengan sistem pencernaan.

Sistem pencernaan meliputi beberapa organ pencernaan seperti (Campbell,

(50)

a. mulut, yang berperan sebagai organ pertama pencernaan dalam

membantu proses pencernaan secara kimiawi dan mekanik;

b. kerongkongan, berfungsi sebagai saluran pencernaan yang

menghubungkan mulut dan lambung. Organ ini mengalami gerakkan

peristaltik untuk mendorong makanan (bolus) ke lambung;

c. lambung, bolus atau makanan yang telah halus ini kemudian mengalami

pencernaan secara mekanik dan kimiawi yang melibatkan berbagai

enzim dalam mengubah makanan yang mengandung protein dan lemak

menjadi bagian yang lebih sederhana;

d. usus halus, merupakan tempat dimana sari-sari makanan mulai diserap

tubuh untuk memperoleh manfaat dari makanan tersebut;

e. usus besar, merupakan organ yang berperan dalam mengatur

penyerapan air pada feses (hasil akhir pencernaan) disini juga terdapat

bakteri E.coli yang berperan dalam membusukan feses sehingga feses yang dihasilkan lebih mudah dikeluarkan;

f. rektum, merupakan organ pembuangan terakhir;

g. kelenjar pencernaan lain meliputi pankreas yang berperan dalam

menghasilkan enzim pencernaan dan hati berperan dalam menghasilkan

cairan empedu yang mengandung garam empedu (berperan sebagai

deterjen dalam membantu pencernaan dan penyerapan lemak) dan

pigmen (bilirubin dan biliverdin) yang dikeluarkan bersama feses.

Melalui organ-organ tersebut di atas makanan dicerna, diserap tubuh

dan menghasilkan energi. Dalam menjalankan tugasnya sistem organ

pencernaan dapat mengalami kerusakan yang mengakibatkan timbulnya

(51)

manusia dalam menjaga kesehatan organ pencernaan maupun karena

ketidaksengajaan seperti keracunan. Penyakit-penyakit dalam sistem

pencernaan ialah sebagai berikut (Krisno, 2008);

a. maag merupakan penyakit yang menyerang organ pencernaan, yaitu

lambung. Produksi asam lambung berlebih disertai keluarnya gas pada

reaksi pencernaan menyebabkan rasa mual, perih, dan kembung. Maag

dipicu oleh pola makan yang kurang teratur, faktor keturunan, dan

faktor psikologis;

b. diare disebabkan oleh bakteri yang menyerang saluran cerna. Bakteri

tersebut menyebabkan perdarahan pada saluran cerna disertai feses

yang cair;

c. muntaber disebabkan oleh kuman patogen, misalnya Vibrio cholerae. Kuman tersebut menimbulkan muntah serta berak yang berlebih dan

tidak teratur. Feses yang cair disebabkan oleh sistem penyerapan air

pada usus besar kurang sempurna akibat infeksi, sehingga air ikut

keluar bersama feses;

d. kholik usus, pada kondisi tertentu usus dapat mengalami kejang,

akibatnya perut terasa mulas sekali dan kejang. Sering pula terjadi pada

bayi. Penyebabnya beragam, ada yang disebabkan karena menangis

tiada henti, faktor keturunan, dan hawa dingin yang menyengat;

e. konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem

pencernaan di mana seorang manusia mengalami pengerasan tinja yang

berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat

(52)

cukup hebat disebut juga dengan obstipasi yang cukup parah dapat menyebabkan kanker usus yang berakibat fatal bagi penderitanya.

Adapun penyakit yang terkait dengan pola makan antara lain sebagai

berikut (Krisno, 2008);

a. asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya

tidak boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh,

karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat.

Sedangkan pemicunya adalah makanan dan senyawa lain yang banyak

mengandung purin. Tubuh menyediakan 85% senyawa purin untuk

kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari makanan

hanya sekitar 15%. Asam urat merupakan hasil metabolisme makanan

yang mengandung purin, contohnya emping, kacang-kacangan, jeroan,

ikan, kopi, dan cokelat. Pencegahannya adalah dengan diet rendah purin;

b. hiperkolesterolemia berarti kadar kolesterol terlalu tinggi dalam darah. Hiperkolesterolemia dapat diatasi dengan diet rendah kolesterol.

Kolesterol banyak terdapat pada daging, ikan, telur, dan jeroan.

H. Kerangka Berpikir

Hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII B SMP

Kanisius Kalasan pada materi sistem pencernaan dapat ditingkatkan dengan

bantuan strategi elaborasi melalui metode PQ4R. Penerapan strategi elaborasi

melalui metode PQ4R sesuai pada materi sistem pencernaan dikarenakan

standar kompetensi yang ingin dicapai pada pembahasan materi ini adalah

“Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia” sedangkan,

kompetensi dasar yang diharapkan dari pengajaran materi ini ialah

(53)

kesehatan”. Berdasarkan SK dan KD yang dituntut pada materi ini dapat

disimpulkan materi sistem pencernaan merupakan materi yang bersifat

deklaratif yang berupa konsep-konsep, definisi, dan pengetahuan yang dapat

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk melengkapi dan meningkatkan pemahaman dari materi sistem

pencernaan dibutuhkan peningkatan kemampuan daya ingat siswa kelas VIII

B SMP Kanisius Kalasan yang jarang membaca dan bertanya. Berdasarkan

kesamaan antara tuntutan yang diharapkan dalam pembelajaran pada materi

sistem pencernaan untuk kelas VIII dengan kelebihan dari penerapan metode

PQ4R dapat maka metode PQ4R cocok untuk diterapkan dalam membantu

siswa-siswi kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan untuk belajar.

I. Hipotesis

Metode PQ4R dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas VIII B SMP Kanisius Kalasan pada materi sistem

(54)

37

BAB III

METODOLOGI

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian berdasarkan fungsinya yang digunakan dalam

penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Partisipan, dimana peneliti akan

terlibat dalam penelitian sejak awal. Peneliti mendiagnosis keadaan dan

melihat kesenjangan antara keadaan nyata dengan keadaan yang diinginkan, kemudian peneliti akan merumuskan rencana tindakan dan melibatkan diri

secara penuh dalam melaksanakan rencana tersebut. Peneliti juga akan

memantau dan melaporkan hasil penelitiannya.

B. Setting Penelitian

1. Sampel penelitian

Sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII B yang

mempunyai jumlah siswa 37 anak yang terdiri dari 24 siswa putra dan 13

siswa putri. Dimana kelas VIII B ini memiliki karakteristik;

a. siswa yang memiliki nilai keaktifan rata-rata cukup baik;

b. memiliki tingkat ketertarikan terhadap kegiatan untuk membaca

mengenai materi IPA-Biologi yang rendah berdasarkan hasil analisis

angket observasi yang menunjukkan alasan “kesenangan siswa-siswi

terhadap Biologi karena bacaan Biologi menarik” hanya mencapai 9 %

dan ini merupakan data yang berasal dari kelas VII B (sebanyak 6

(55)

c. berdasarkan taraf intensitas membaca materi biologi siswa-siswi Kelas

VII SMP Kanisius Kalasan memiliki keaktifan membaca yang baik

karena tingkat sering membaca mencapai 53%, walaupun tingkat sangat

sering hanya 0%. Tingkat membaca terendah (Pernah tapi jarang)

terdapat pada kelas VII B dengan total 17 orang dan “sering” 9 orang;

d. memiliki tingkat intensitas bertanya yang kurang, hal ini tampak dari

tingkat intensitas sering bertanya mencapai 73% dan 3% dari data ini

berasal dari siswa-siswi kelas VII B.

2. Tempat dan waktu penelitian

a. Tempat Penelitian

SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Yogyakarta

b. Waktu Penelitian

Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan dengan rincian

sebagai berikut;

- terdiri dari satu bulan (1 April 2012-30 April 2012) untuk penentuan

tempat observasi, komunikasi dengan guru pengampu pelajaran

Biologi, dan pengiriman surat observasi;

- dua minggu untuk observasi kelas dan observasi tertulis (tanggal 21

Mei 2012- 4 Juni 2012);

- dua minggu untuk penelitian tindakan kelas (17 September 2012-1

Oktober 2012).

C. Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Penelitian Tindakan

Kelas gabungan Sanford dan Kemmis yang dikembangkan oleh Direktorat

(56)

sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang siklis dan bersifat reflektif

mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap sistem,

cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi Depdiknas (Taniredja, 2010).

Berdasarkan siklus di bawah ini dapat dikatakan bahwa model Sanford

dan Kemmis terdiri atas tindakan berulang yang dimulai dari perencanaan

tindakan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai mencapai kualitas pembelajaran yang diinginkan.

Gambar 3.1 Model Gabungan Sanford dan Kemmis Adaptasi Depdiknas, 1999

Pada penelitian ini pelaksanaan model Sanford dan Kemmis

dilaksanakan dengan cara:

1. Siklus I:

a. Perencanaan tindakan

Pada awal penelitian ini dilakukan observasi secara tertulis,

(57)

memperoleh informasi rinci mengenai permasalahan pada pelajaran

Biologi (IPA) pada SMP Kanisius Kalasan. Setelah menemukan

permasalahan pada pembelajaran Biologi (IPA), maka disusun sebuah

pemecahan masalah yang memanfaatkan suatu metode dalam mengajar,

dalam hal ini metode PQ4R. Setelah itu tahap perencanaan akhir

meliputi menyusun silabus, RPP, materi terkait, rancangan kegiatan

pembelajaran, instrument pembelajaran, instrument penilaian, soal, dan

rubrik penilaian.

b. Penerapan tindakan

Proses penerapan tindakan meliputi;

- penjelasan guru mengenai metode PQ4R dan bagaimana pelaksanaan

metode PQ4R;

- pemberian pre-test;

- pemaparan materi pencernaan secara umum dan materi makanan dan

fungsinya (tahap preview);

- pengelompokkan siswa yang terdiri atas 5 sampai 6 siswa dan siswa

diminta untuk membaca dan membuat pertanyaan (tahap reading

dan tahap questioning); - pembagian LKS 1;

- pengarahan mengambil kesimpulan dan refleksi I(tahap recite dan

reflect);

- diskusi pertanyaan-jawaban pada pertemuan I (LKS I) (tahap review);

- pengarahan mengambil kesimpulan dan refleksi II;

Figur

Tabel 2.1  Kata Kerja Operasional Domain Psikomotorik...................................12

Tabel 2.1

Kata Kerja Operasional Domain Psikomotorik...................................12 p.15
Gambar 2.1  Bangan Hubungan Strategi/Metode dengan

Gambar 2.1

Bangan Hubungan Strategi/Metode dengan p.16
Tabel 2.1 Kata Kerja Operasional Domain Psikomotorik

Tabel 2.1

Kata Kerja Operasional Domain Psikomotorik p.29
Gambar 2.1 Bangan Hubungan Strategi/Metode dengan Kompetesi/Hasil

Gambar 2.1

Bangan Hubungan Strategi/Metode dengan Kompetesi/Hasil p.36
Tabel 2.2 Langkah-langkah Pemodelan Pembelajaran dengan Penerapan Metode PQ4R (Trianto, 2009)

Tabel 2.2

Langkah-langkah Pemodelan Pembelajaran dengan Penerapan Metode PQ4R (Trianto, 2009) p.40
Gambar 3.1 Model Gabungan Sanford dan Kemmis

Gambar 3.1

Model Gabungan Sanford dan Kemmis p.56
Tabel 4.1 Pencapaian Nilai Kognitif dan Kekritisan Pre-test

Tabel 4.1

Pencapaian Nilai Kognitif dan Kekritisan Pre-test p.68
Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Tindakan dengan Metode PQ4R

Tabel 4.2

Jadwal Pelaksanaan Tindakan dengan Metode PQ4R p.69
gambar organ pencernaan yang diedarkan pada setiap siswa. Untuk

gambar organ

pencernaan yang diedarkan pada setiap siswa. Untuk p.76
Tabel 4.3 Tingkat Pencapaian Kognitif Siswa-siswi

Tabel 4.3

Tingkat Pencapaian Kognitif Siswa-siswi p.80
Gambar 4.2 Grafik Nilai Pre-test dan Post-test Siklus II

Gambar 4.2

Grafik Nilai Pre-test dan Post-test Siklus II p.83
Tabel 4.4 Pencapaian Tingkat Afektif dan Psikomotorik Siswa Kelas VIII B

Tabel 4.4

Pencapaian Tingkat Afektif dan Psikomotorik Siswa Kelas VIII B p.84
Gambar 4.3 Diagram Hasil Sintesis Lembar Observasi untuk Tingkat Afektif

Gambar 4.3

Diagram Hasil Sintesis Lembar Observasi untuk Tingkat Afektif p.85
Gambar 4.4 Diagram Lingkaran Sintesis Lembar Observasi Untuk Aspek

Gambar 4.4

Diagram Lingkaran Sintesis Lembar Observasi Untuk Aspek p.86
Tabel 4.5 Tingkat Pencapaian Kekritisan Siswa

Tabel 4.5

Tingkat Pencapaian Kekritisan Siswa p.87
Tabel 4.6 Persentase Perkembangan Penyusunan Tipe Soal Pada                   Pengerjaan LKS

Tabel 4.6

Persentase Perkembangan Penyusunan Tipe Soal Pada Pengerjaan LKS p.89
Tabel 4.7 Perkembangan Hasil Belajar dan Kekritisan Berpikir Berdasarkan Hasil Angket yang di berikan

Tabel 4.7

Perkembangan Hasil Belajar dan Kekritisan Berpikir Berdasarkan Hasil Angket yang di berikan p.90
Gambar L.1 Suasana pre-test

Gambar L.1

Suasana pre-test p.139
Gambar L.6 Siswa-i mempresentasikan

Gambar L.6

Siswa-i mempresentasikan p.140
Gambar L.17 Tahap recite secara tertulis Gambar L.18 Post-test II

Gambar L.17

Tahap recite secara tertulis Gambar L.18 Post-test II p.141

Referensi

Memperbarui...