• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Determinan-determinan Terhadap Intention Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Sedang Menjalankan Program Diet di Klinik "X" Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontribusi Determinan-determinan Terhadap Intention Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Sedang Menjalankan Program Diet di Klinik "X" Bandung."

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya kontribusi setiap determinan terhadap intention untuk menjalankan program diet pada penderita gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung. Rancangan penelitian ini menggunakan metode kontribusi. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah pasien penderita gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 pasien.

Adapun teori yang digunakan adalah teori planned behavior dan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner intention dan determinan-determinannya yang disusun oleh Icek Ajzen (2005) dan telah dimodifikasi oleh peneliti. Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas yang telah dilakukan, diperoleh validitas berkisar antara 0,586 - 0,920 dan reliabilitas sebesar 0,880.

Hasil penelitian diolah dengan teknik analisis regresi. Hasil ini memperlihatkan bahwa determinan perceived behavioral control memberikan kontribusi terbesar terhadap intention dalam menjalankan program diet pada penderita gagal ginjal kronis (rs=0,642), determinan attitude toward the behavior berkontribusi terbesar kedua terhadap intention (rs=0,550), determinan subjective norms memberikan kontribusi paling kecill terhadap intention (rs=0,075). Korelasi antara determinan attitude toward the behavior dan determinan perceived behavioral control merupakan korelasi terbesar antar determinan-determinan intention (rs=0,805).

(2)

Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

This research is conducted to reveal the significance of each determinants against the respondents’ intention in joining a diet program. The research design is the contribution method. The target population in this research are patients with chronic kidney failure at “X” Clinic located in Bandung. There are 40 patients treated as a sample in this research.

The planned behavior theory and the intention questionnaire is used in this research as both the underlying theory as well as the measurement tool along with its determinants respectively which composed by Icek Ajzen (2005) and had been modification by researcher. As for the validity and the reliability for the measurement tool which was tested revealed the value of 0,586 - 0,920 and 0,880 for validity and reliability respectively.

The survey results are then processed by using the regression analysis. These results depicted that the perceived behavioral control determinant has the highest contribution for the patients with chronic kidney failure toward the intention in joining the diet program (rs=0,642), the attitude toward the behavior determinant has the medium contribution toward the intention (rs=0,550), the subjective norms determinant has the least contribution toward the intention (0,075). The correlation between the attitude toward the behavior determinant and perceived behavior control determinant is the most significant correlation within the intention determinants (rs=0,805).

(3)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 6

1.3 Maksud Dan Tujuan Penelitian ... 7

1.3.1 Maksud Penelitian ... 7

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Kegunaan Penelitian ... 7

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 7

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 8

1.5 Kerangka Pemikiran ... 8

1.6 Asumsi ... 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 17

2.1 Teori Planned Behavior ... 17

2.1.1 Pengertian Planned Behavior ... 17

2.1.2 Intention ... 18

2.1.3 Attitude Toward The Behavior ... 19

(4)

Universitas Kristen Maranatha

2.1.5 Perceived Behavior Control ... 21

2.1.6 Pengaruh Determinan-Determinan Terhadap Intention ... 22

2.1.7 Hubungan Antar Determinan-Determinan Intention ... 23

2.1.8 Ketidaksesuaian Antara Intention dengan Perilaku ... 24

2.1.9 Target, Action, Context, and Time ... 26

2.1.10 Control Factors ... 27

2.2 Gagal ginjal kronis... 28

2.2.1 Pengertian Gagal Ginjal Kronis... 28

2.2.2 Diet Pada Penderita Ginajl Kronis... 29

2.3 Teori Perkembangan Masa Dewasa... 32

2.3.1 Pengertian Masa Dewasa... 32

2.3.2 Ciri-ciri Masa Dewasa... 32

2.3.3 Tugas Perkembangan Masa Dewasa... 34

2.3.4 Perkembangan Kognitif Masa Dewasa ... 34

2.3.5 Perkembangan Karir Pada Masa Dewasa ... 36

2.3.6 Perubahan Fisik Masa Dewasa ... 37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 38

3.1 Rancangan Penelitian... 38

3.2 Bagan Rancangan Penelitian... 38

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 39

3.3.1 Variabel Penelitian... 39

3.3.2 Definisi Operasional... 39

3.4 Alat Ukur... 40

3.4.1 Alat Ukur Intention dan Determinan-Determinannya... 40

3.4.2 Data Pribadi dan Data Penunjang... 41

(5)

Universitas Kristen Maranatha

3.4.3.1 Validitas Alat Ukur... 42

3.4.3.2 Reliabilitas Alat Ukur... 43

3.5 Populasi Penelitian dan Teknik Penarikan Sampel... 44

3.5.1 Populasi Sasaran ... 44

3.5.2 Karakteristik Populasi ... 44

3.5.3 Teknik Penarikan Sampel ... 45

3.6 Teknik Analisis Data ... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 47

4.1 Hasil Penelitian... 47

4.2 Pembahasan... 48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 55

5.1 Kesimpulan ... 55

5.2 Saran ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 58

DAFTAR RUJUKAN ... 60

(6)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Pembagian Item-item Alat Ukur Planned Behavior...41

Tabel 4.1 Kontribusi Determinan-Determinan Intention Terhadap intention Untuk Menjalankan Program Diet………..47

Tabel 8.2 Gambaran determinan perceived behavioral control………...79

Tabel 8.5 Tabulasi silang antara intention dan attitude toward the behavior………..80

Tabel 8.6 Tabulasi silang antara intention dan subjective norms...80

Tabel 8.7 Tabulasi silang antara intention dan Perceived behavioral control……… 81

Tabel 10.1 Ada Tidaknya Kesulitan Dalam Menjalankan Diet...83

Tabel 10.2 Jenis Kesulitan Dalam Menjalankan Diet...83

Tabel 10.3 Usaha Mengatasi Kesulitan Dalam Menjalankan Program Diet...84

Tabel 11.1 Fasilitas (Sumber Makanan)...85

Tabel 11.3 Dana Untuk Menjalankan Diet...85

Tabel 12.1 Informasi Mengenai Manfaat Menjalankan Diet………....86

Tabel 12.2 Banyaknya Informasi Yang Dimiliki Mengenai Manfaat Menjalankan Diet……….86

(7)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

Skema 1.5 Kerangka Pemikiran... 15 Bagan 2.1 Teori Planned Behavior... 17

Bagan 3.2 Rancangan Penelitian……… 37

Skema 4.1 Nilai Kontribusi Determinan-Determinan Intention Terhadap

(8)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alat Ukur Planned Behavior ...61

Lampiran 2 Data Penunjang ...66

Lampiran 3 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ...70

Lampiran 4 Karakteristik Rersponden ...71

Lampiran 5 Data Mentah ...75

Lampiran 6 Skor Hasil Data mentah...77

Lampiran 7 Gambaran Umum Subjek Penelitian………...…………....78

Lampiran 8 Gambaran Hasil Penelitian Intention ...79

Lampiran9 Korelasi Determinan-Determinan………82

Lampiran 10 Data Penunjang Mengenai Kemampuan Pasien Dalam Menjalankan Program Diet………83

Lampiran 11 Kesempatan Yang Dimiliki Pasien Dalam Menjalankan Program Diet………...85

Lampiran 12 Data Penunjang Mengenai Informasi Diet………..86

Lampiran 13 Data Penunjang Mengenai Suasana Hati………88

Lampiran 14 Data Penunjang Mengenai Dukungan Sosial………..89

(9)

Lampiran 1. Alat Ukur Planned Behavior

KATA PENGANTAR

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk dapat lulus sebagai Sarjana Psikologi adalah dengan menyusun skripsi. Adapun judul skripsi ini adalah “Kontribusi Determinan-determinan Terhadap Intention Pada Penderita Gagal Ginjal Kronis Yang Sedang Menjalankan Program Diet di Klinik “X” Bandung”.

Dalam lampiran berikut, terdapat kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan penelitian yang saya lakukan, yaitu menjalankan program diet pada penderita gagal ginjal kronis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka Saudara dimohon kesediaannya untuk meluangkan waktu mengisi kuesioner ini. Data yang akan diperoleh nantinya akan dipergunakan untuk penelitian.

Informasi yang Saudara berikan akan bermanfaat bagi penelitian ini. Oleh karena itu, Saudara diharapkan untuk mengisi dengan sungguh-sungguh dan sejujur-jujurnya sesuai dengan pribadi Saudara sendiri mengenai hal-hal tersebut. Identitas dan jawaban Saudara akan saya rahasiakan dalam pengisian kuesioner ini.

Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi informasi tambahan bagi mereka yang membutuhkan.

Terima kasih atas perhatian dan waktu yang telah Saudara sediakan.

(10)

Data Pribadi

Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner ini memiliki pilihan jawaban yang diakhiri dengan 2 kata yang berlawanan. Diantara 2 kata yang berlawanan tersebut terdapat 7 kemungkinan jawaban. Saudara diminta untuk memilih nomor yang menggambarkan pilihan jawaban Saudara.

1 = sangat : jika Saudara merasa kata di sebelah kiri tersebut sangat sesuai

6 = cukup : jika Saudara merasa kata di sebelah kanan tersebut cukup sesuai dengan diri Saudara

7 = sangat : jika Saudara merasa kata di sebelah kanan tersebut sangat sesuai dengan diri Saudara

(11)

Menurut saya, pengaturan lalu lintas di Kota Bandung: baik :__1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika menurut Saudara pengaturan lalu lintas di Kota Bandung sangat baik, maka lingkarilah nomor 1, seperti ini:

baik :__1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika menurut Saudara pengaturan lalu lintas di Kota Bandung agak buruk, maka lingkarilah nomor 6, seperti ini:

baik :__1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika menurut Saudara pengaturan lalu lintas di Kota Bandung agak baik, maka lingkarilah nomor 3, seperti ini:

baik :__1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Jika menurut Saudara pengaturan lalu lintas di Kota Bandung tidak baik dan tidak buruk, maka lingkarilah nomor 4, seperti ini:

baik :__1__:__2__:__3__:__4__:__5__:__6__:__7__: buruk

Dalam memberikan jawaban, pastikan jangan ada satu nomor yang terlewat, dan Saudara tidak dapat melingkari lebih dari 1 jawaban.

(12)

1. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang…. Mudah : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Sulit

2. Sebagian besar keluarga saya berpikir bahwa....

Saya harus : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Saya tidak harus melakukan diet

3. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang….

Baik : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Buruk

4. Saya berencana untuk melakukan diet....

Sesuai dengan : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak sesuai dengan diri saya diri saya

5. Saya sendiri yang memutuskan untuk melakukan/tidak melakukan diet…. Setuju : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak setuju

6. Sebagian besar teman saya berpikir bahwa….

Saya harus : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Saya tidak harus melakukan diet

7. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang.... Penting : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak penting

8. Saya….

(13)

9. Saya yakin bahwa jika saya mau, saya dapat melakukan diet…. Benar : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Salah

10. Dokter saya berpikir bahwa….

Saya harus : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Saya tidak harus melakukan diet

11. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang.…

Menyenangkan: 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak menyenangkan

12. Saya….

Akan : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak akan berusaha melakukan diet

13. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang….

Mungkin: 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Tidak mungkin

14. Ahli gizi saya berpikir bahwa ....

Saya harus : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Saya tidak harus melakukan diet

15. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang….

Menarik: 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : Membosankan

16. Saya berniat untuk melakukan diet….

(14)

Lampiran 2. Data Penunjang

DATA PENUNJANG

Bacalah dengan seksama setiap pertanyaan di bawah ini kemudian jawablah pertanyaan tersebut dengan cara memberi tanda silang pada pilihan jawaban yang menurut Saudara paling menggambarkan diri Saudara. Pada beberapa pertanyaan, Saudara diminta untuk menuliskan jawaban Saudara pada tempat yang telah tersedia. Isilah pertanyaan tersebut dengan lengkap dan jelas.

1. Apakah Saudara mengetahui kegunaan melakukan diet? a. ya

b. tidak

Jika ya, sebutkan kegunaan tersebut

... ... ...

2. Menurut Saudara, informasi yang Saudara ketahui tentang diet……….

(15)

3. Menurut Saudara apakah informasi yang Saudara miliki mengenai diet dapat membantu Saudara dalam menjaga kondisi ginjal?

a. sangat membantu b. cukup membantu c. kurang membantu d. tidak membantu

4. Apakah Saudara mengalami kesulitan dalam menjalankan diet? a. ya

b. tidak

Jika ya, kesulitan apa saja yang Saudara alami?

………

………

………

5. Apa yang Saudara lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?

………

………

6. Apakah suasana hati mempengaruhi Saudara dalam melakukan diet? a. Ya

(16)

7. Suasana hati apa saja yang mendukung Saudara dalam melakukan diet? ………

………

………

8. Suasana hati apa saja yang menghambat Saudara dalam melakukan diet? ………

………

………

9. Apakah Saudara mengalami kesulitan untuk mendapatkan sumber makanan yang Saudara perlukan untuk diet?

a. ya b. tidak

Jika ya, kesulitan apa saja yang Saudara alami?

………

………

………

10.Apakah Saudara mempunyai waktu untuk mengatur menu diet setiap harinya? a. ya

(17)

11.Apakah Saudara mempunyai cukup dana untuk melakukan program diet sesuai anjuran ahli gizi?

a. Ya b. Tidak

12.Apakah dalam melakukan diet Saudara bergantung pada dukungan dari orang lain?

a. Ya b. Tidak

Jika ya, siapa saja yang dapat memotivasi Saudara dalam melakukan diet? ………

………

………

13.Bagaimana penghayatan Saudara dengan adanya dukungan tersebut?

………

(18)

Lampiran 3. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

A. Validitas Attitude Toward The Behavior

No.Item Koefisien Keterangan

3 0,695 Diterima

7 0,586 Diterima

11 0,624 Diterima

15 0,726 Diterima

B. Validitas Subjective Norms

No.Item Koefisien Keterangan

2 0,808 Diterima

6 0,664 Diterima

10 0,720 Diterima

14 0,757 Diterima

C. Validitas Perceived Behavioral Control

No.Item Koefisien Keterangan

1 0,778 Diterima

5 0,855 Diterima

9 0,723 Diterima

13 0,764 Diterima

D. Validitas Intention

No.Item Koefisien Keterangan

(19)

Lampiran 4. Karakteristik Responden

Subjek Usia Jenis Kelamin

(20)
(21)
(22)

33 7 6 5 6 6 5 4 6 5 5 6 6 4 5 6 4

34 7 7 6 6 3 6 6 4 2 7 7 7 5 6 7 6

35 5 5 5 5 3 5 6 6 3 6 7 6 4 7 6 6

36 7 7 7 7 6 6 6 7 7 7 7 5 5 7 7 7

37 7 7 5 5 2 6 5 6 5 7 7 7 7 7 6 7

38 6 6 6 6 4 4 5 4 5 6 6 6 5 5 6 5

39 6 5 6 5 6 6 6 2 3 6 5 6 6 6 5 6

(23)
(24)

Tabel 7.1 Gambaran Subjek berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Laki-laki 27 67,5 %

Perempuan 13 32,5 %

Total 40 100%

Tabel 7.2 Gambaran Subjek berdasarkan usia

Jumlah Persentase

Dewasa awal (21-35 tahun) 14 35 %

Dewasa madya (35-50 tahun) 15 37,5 %

Dewasa akhir (>50) 11 27,5 %

Total 40 100%

Tabel 7.3 Gambaran Subjek berdasarkan lamanya menjalani program diet

Jumlah Persentase

<6 bulan 9 22,5%

6 bulan – 1 tahun 11 27,5%

1 – 2 tahun 11 27,5%

>2 tahun 9 22,5%

Total 40 100%

(25)

Tabel 8.1 Gambaran intention pasien gagal ginjal kronis

Intention

Frekuensi

%

Kuat 23 57,5%

Lemah 17 42,5%

Total 40 100%

Tabel 8.2 Gambaran determinan perceived behavioral control

Perceived behavioral control

Frekuensi

Σ %

Positif 22 55 %

Negatif 18 45 %

Total 40 100%

Tabel 8.3 Gambaran determinan attitude toward the behavior

Attitude toward the behavior

Frekuensi

Σ %

Positif 23 57,5 %

Negatif 17 42,5 %

(26)

Subjective norms

Tabel 8.5 Tabulasi silang antara intention dan attitude toward the behavior

Tabel 8.6 Tabulasi silang antara intention dan subjective norms

(27)

Intention

PBC

Tinggi Rendah Total

Positif 17 (73,9 %)

5 (29,4 %)

22 (100%)

Negatif 6

(26,1 %)

12 (70,6 %)

18 (100%)

Total 23

(57,5 %)

17 (42,5%)

(28)

Tabel 9.1 Korelasi Determinan-Determinan

Determinan Korelasi

ATB – PBC 0,805

PBC – SN 0,171

(29)

Program Diet

Tabel 10.1 Ada Tidaknya Kesulitan Dalam Menjalankan Diet

Ada Tidaknya Kesulitan Total

Ya 24 (60%)

Tidak 16 (40%)

Total 40 (100%)

Tabel 10.2 Jenis Kesulitan Dalam Menjalankan Diet

Jenis Kesulitan Dalam Menjalankan Diet Total

Menyusun menu 8 (20%)

Mengontrol nafsu makan 7 (17,5%)

Lingkungan 5 (12,5%)

Tidak bisa memasak 4 (10%)

Tidak mengalami kesulitan 16 (40%)

(30)

Usaha Mengatasi Kesulitan Dalam Menjalankan Diet Total

Mengontrol diri 12 (30%)

Menghindari lingkungan yang dianggap menggoda diet 7 (17,5%) Konsultasi dengan ahli gizi 3 (7,5%)

Catering 2 (5%)

Tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan diet 16 (40%)

(31)

Tabel 11.1 Fasilitas (Sumber Makanan)

Kesulitan Dalam Mendapatkan Sumber Makanan Total

Ya 18 (45%)

Tidak 21 (52,5%)

Tidak diisi 1 (2,5%)

Total 40 (100%)

Tabel 11.2 Waktu Untuk Mengatur Menu

Waktu Untuk Mengatur Menu Total

Ya 11 (27,5%)

Tidak 29 (72,5%)

Total 40 (100%)

Tabel 11.3 Dana Untuk Menjalankan Diet

Dana Untuk Menjalankan Program Diet Total

Ya 32 (80%)

Tidak 8 (20%)

(32)

Tabel 12.1 Informasi Mengenai Manfaat Menjalankan Diet

Informasi Mengenai Manfaat Menjalankan Diet Total

Badan terasa lebih sehat 17 (42,5%)

Menghindari cuci darah 12 (30%)

Creatinin menurun 11 (27,5%)

Total 40 (100%)

Tabel 12.2 Banyaknya Informasi Yang Dimiliki Mengenai Manfaat Menjalankan

Diet

Banyaknya Informasi Yang Dimiliki Total

Sedikit 4 (10%)

Cukup banyak 19 (47,5%)

Banyak 11 (42,5%)

(33)

Penghayatan Terhadap Informasi Yang Dimiliki Total

Kurang membantu 1 (2,5%)

Cukup membantu 17 (42,5%)

Sangat membantu 22 (55%)

(34)

Tabel 13.1 Seberapa Pengaruh Suasana Hati Yang Mendukung Untuk

Menjalankan Diet

Pengaruh Suasana Hati Total

Ya 19 (47,5%)

Tidak 21 (52,5%)

Total 40 (100%)

Tabel 13.2 Suasana Hati Yang Mendukung Untuk Menjalankan Diet

Suasana Hati Yang Mendukung Total

Senang 19 (47,5%)

Tidak ada 21 (52,5%)

Total 40 (100%)

Tabel 13.3 Suasana Hati Yang Menghambat Menjalankan Diet

Suasana Hati Yang Menghambat Total

Sedih 4 (10%)

Bosan 15 (37,5%)

Tidak ada 21 (52,5%)

(35)

Tabel 14.1 Perlu Tidaknya Dukungan dari Orang Lain

Dukungan Dari Orang Lain Total

Ya 34 (85%)

Tidak 6 (15%)

Total 40 (100%)

Tabel 14.2 Orang yang Paling Memotivasi

Suasana Hati Yang Menghambat Total

Keluarga 24 (60%)

Teman 3 (7,5%)

Pacar 7 (17,5%)

Tidak ada 6 (15%)

(36)

Penghayatan Terhadap Dukungan Sosial Total

Tidak sendiri 4 (10%)

Terhibur 6 (15%)

Member semangat 25 (62,5%)

Tidak ada 5 (12,5%)

(37)

Lampiran 15. Kisi-Kisi Alat Ukur

Item

Attitude Toward The Behavior

3. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang (Baik – Buruk)

7. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang.... (Penting – Tidak penting)

11. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang.…

(Menyenangkan – Tidak menyenangkan)

15. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang….

(Membosankan – Menarik)

Subjective Norms 2. Sebagian besar keluarga saya berpikir bahwa (Saya harus - Saya tidak harus) melakukan diet 6. Sebagian besar teman saya berpikir bahwa

(38)

10.Dokter saya berpikir bahwa

(Saya harus – Saya tidak harus ) melakukan diet 14.Ahli gizi saya berpikir bahwa

(Saya harus – Saya tidak harus) melakukan diet

Perceived Behavioral Control

1. Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang (Mudah - Sulit)

5. Saya sendiri yang memutuskan untuk melakukan / tidak melakukan diet (Setuju – Tidak Setuju)

9. Saya yakin bahwa jika saya mau, saya dapat melakukan diet (Benar – Salah)

13.Bagi saya melakukan diet merupakan hal yang (Mungkin – Tidak Mungkin)

(39)

8. Saya (Akan – Tidak akan) mencoba untuk melakukan diet 12. Saya (Akan - Tidak akan) berusaha untuk melakukan diet 16. Saya berniat untuk melakukan diet

(40)

1 Universitas Kristen Maranatha

1.1Latar Belakang Masalah

Mempertahankan volume, komposisi dan distribusi cairan tubuh merupakan fungsi esensial untuk kesejahteraan, yang berarti keselamatan dari seluruh makhluk hidup. Pada manusia, fungsi ini sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner, 1999). Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh, mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam-basa darah, serta ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam (Pearce, 1995). Apabila ginjal gagal menjalankan fungsinya maka pasien memerlukan tindakan untuk mengobatinya.

Keadaan dimana ginjal tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik disebut juga dengan gagal ginjal kronis. Gagal ginjal kronis makin banyak menarik perhatian dan makin banyak dipelajari karena walaupun sudah mencapai tahap gagal ginjal terminal akan tetapi pasien masih dapat hidup panjang dengan kualitas hidup yang cukup baik (Sidabutar, 2004).

(41)

Universitas Kristen Maranatha mempertahankan keseimbangan cairan dan zat-zat kimia di dalam tubuh, sehingga zat buangan bisa masuk kembali ke dalam darah.

Gejala-gejala gagal ginjal kronis antara lain terjadinya perubahan frekuensi kencing (sering berkemih pada malam hari), pembengkakan pada bagian pergelangan kaki, kram otot pada malam hari, lemah dan lesu terus-menerus, nafsu makan turun disertai mual dan muntah, sulit tidur, bengkak seputar mata waktu bangun pagi hari, kulit gatal dan kering, sakit ketika buang air kecil disertai adanya darah di urin dan sakit serta panas di bagian pinggang kanan (Panduan Lengkap Gagal Ginjal, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008). Faktor-faktor pemicu terjadinya gagal ginjal kronis antara lain radang ginjal menahun, batu ginjal, batu saluran kemih yang kurang mendapat perhatian, obat-obatan modern ataupun tradisional yang dikonsumsi dalam jangka panjang, komplikasi dari hipertensi dan diabetes, narkoba, atau penyakit ginjal genetik (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV, 2000).

(42)

Universitas Kristen Maranatha Pada pasien gagal ginjal kronis apabila kondisi ginjal tidak dijaga dengan baik, maka akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang akan memperparah kondisi pasien. Komplikasi yang seringkali ditemukan pada pasien gagal ginjal kronis antara lain anemia, kelainan tulang, gagal jantung, dan disfungsi ereksi (impotensi) (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV, 2006).

Gagal ginjal kronis merupakan salah satu gangguan kesehatan yang dapat melemahkan aspek kehidupan pasien secara keseluruhan, baik fisik maupun psikologis. Menurut Meninger dilihat dari aspek psikologis, terdapat tiga simptom yang ditemukan pada pengidap GGK yaitu depresi, anxiety dan kelelahan. Dari ketiga simptom ini depresi merupakan simptom yang paling sering ditemukan pada pengidap gagal ginjal kronis (Majalah Kedokteran Atmajaya.Vol2,No.1,Januari 2005).

(43)

Universitas Kristen Maranatha oleh tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Jika pengaturan makan rendah protein dapat dilakukan maka akan mencegah terjadinya komplikasi, menghambat berlanjutnya penurunan fungsi ginjal, dan mengurangi frekuensi proses cuci darah yang biasanya seminggu tiga kali bisa menjadi sebulan dua kali dan bahkan berhenti melakukan cuci darah (Diet Bagi Penderita Penyakit Ginjal, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008).

Diet rendah protein merupakan suatu keharusan bagi pasien gagal ginjal kronis. Konsumsi protein yang terlalu banyak akan mengikat zat ureum didalam ginjal sehingga cairan sisa metabolisme tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal. Diet rendah protein ini harus dijalankan seumur hidup oleh pasien. Untuk dapat menjalankan program diet rendah protein tersebut diperlukan niat yang kuat, atau dalam teori Planned Behavior disebut intention. Tinggi rendahnya intention (niat) untuk menjalankan program diet dipengaruhi oleh kekuatan pengaruh tiga determinan dari intention. Determinan pertama adalah attitude toward the behavior, yaitu sikap favourable atau unfavourable terhadap evaluasi positif atau negatif individu dalam

menampilkan perilaku. Determinan kedua adalah subjective norms, yaitu persepsi mengenai ada tidaknya tuntutan dari orang-orang signifikan dan kesediaan untuk mematuhi orang-orang tersebut. Determinan ketiga adalah perceived behavioral control, yaitu persepsi mengenai kemampuan untuk menampilkan perilaku (Icek

Ajzen, 2005).

(44)

Universitas Kristen Maranatha merupakan sesuatu yang menguntungkan mereka karena mereka akan terhindar dari kerusakan ginja yang lebih parah (attitude toward the behavior). Pasien meyakini bahwa dengan menjalankan program diet akan membantu menjaga kadar kreatinin dan terhindar dari cuci darah (favorable). Sehingga niat mereka untuk menjalankan program diet semakin tinggi (intention). Selain itu terdapat 2 pasien yang memiliki sikap bahwa menjalankan diet merupakan sesuatu yang merugikan, karena pasien merasa dengan menjalankan program diet hanya akan membuat pasien tidak bebas untuk makan (attitude toward the behavior). Pasien cenderung meyakini bahwa menjalankan program diet belum tentu sepenuhnya menjaga kondisi ginjal (unfavorable), sehingga niat untuk menjalankan program diet akan semakin lemah.

Sebanyak 6 pasien menyatakan bahwa terdapat orang-orang yang signifikan bagi diri mereka yang menuntutnya untuk selalu menjalankan program diet (subjective norm). Selebihnya 4 pasien menyatakan bahwa orang-orang yang

signifikan bagi diri mereka tidak menuntutnya untuk selalu menjalankan program diet (subjective norm). Dari survey awal di dapat bahwa orang-orang yang signifikan bagi

pasien berkaitan dengan tuntutan untuk menjalankan program diet umumnya adalah keluarga, teman, dan dokter.

Dari survey awal diperoleh data bahwa 7 pasien memiliki keyakinan bahwa mengontrol program diet merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan (perceived behavioral control). Sedangkan 3 pasien memiliki keyakinan bahwa mengontrol

(45)

Universitas Kristen Maranatha perilaku menjalankan program diet berupa ketersediaan sumber makanan dan pasien memang tidak menyukai makanan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara berlabih.

Berdasarkan survey awal kepada 10 pasien gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung, didapatkan data sebanyak 7 pasien selalu menjalankan program diet, hal tersebut memungkinkan terdapat kecenderungan para pasien memiliki intention yang tinggi dalam menjalankan program diet. Di lain pihak terdapat 3 pasien yang tidak selalu menjalankan program diet, yang mengindikasikan kecenderungan intention yang rendah untuk menjalankan program diet.

Dari pemaparan di atas peneliti menemukan terdapat variasi antara determinan yang berkontribusi terhadap intention pasien gagal ginjal kronis untuk menjalankan program diet. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai kontribusi determinan-determinan terhadap intention untuk menjalani program diet pada pasien gagal ginjal kronis di Klinik ‟X‟ Bandung ditinjau dari teori Planned Behaviour.

1.2 Identifikasi Masalah

Bagaimana gambaran mengenai kontribusi determinan-determinan terhadap intention untuk menjalani program diet pada pasien gagal ginjal kronis di Klinik ‟X‟

(46)

Universitas Kristen Maranatha

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kontribusi determinan-determinan untuk menjalankan program diet pada pasien gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kontribusi determinan attitude toward the behavior, subjective norms dan perceived behavioral control terhadap intention untuk menjalankan program diet.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

1. Memberikan sumbangan informasi mengenai gambaran intention dan determinan-determinannya ke dalam bidang ilmu psikologi, khususnya psikologi kesehatan.

(47)

Universitas Kristen Maranatha

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Memberikan informasi kepada pasien gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung mengenai determinan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap intention untuk menjalankan program diet, sehingga pasien dapat

mempertahankan intention untuk menjalankan program diet.

2. Memberikan informasi kepada orang-orang signifikan pasien gagal ginjal kronis yaitu keluarga, teman, pacar/suami dan dokter/ahli gizi mengenai gambaran intention dan determinan-determinan yang dimiliki pasien gagal ginjal kronis sehingga mereka dapat memotivasi pasien agar memiliki intention yang kuat dalam menjalankan program diet.

1.5 Kerangka Pemikiran

(48)

Universitas Kristen Maranatha Penyakit gagal ginjal kronis adalah suatu penyakit yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif. Pada pasien gagal ginjal kronis, ukuran ginjal menciut sehingga kemampuan ginjal untuk menyaring sisa metabolisme tubuh dan memecah protein juga garam menurun sekitar 75% dari normal. Berkurangnya fungsi ginjal menyebabkan terjadinya penumpukan hasil pemecahan protein yang tidak bisa diserap ginjal di dalam darah yang sangat beracun bagi tubuh, yaitu ureum dan nitrogen yang akan menimbulkan berbagai macam penyakit (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV, 2006).

Salah satu bentuk pengelolaan gagal ginjal kronis adalah dengan terapi nutrisi yaitu diet rendah protein yang disertai dengan pembatasan asupan garam (Patrick Davey, 2002). Diet ini sangat berguna karena dapat mencegah terjadinya atau berkelanjutannya kerusakan ginjal. Selain itu diet ini juga dapat mengatasi racun tubuh, mencegah terjadinya infeksi dan peradangan, mengatur keseimbangan cairan-elektrolit, dan memperbaiki jaringan ginjal yang rusak (Panduan Lengkap Gagal Ginjal, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008).

(49)

Universitas Kristen Maranatha yaitu attitude toward the behavior, subjective norms, dan perceived behavioral control.

Determinan yang pertama adalah attitude toward the behavior yaitu sikap favorable atau unfavorable untuk menampilkan suatu perilaku yang dihasilkan dari

evaluasi positif atau negatif terhadap suatu perilaku. Jika pasien gagal ginjal kronis mengevaluasi bahwa dengan menjalankan program diet memberikan akibat yang positif, seperti dapat terhindar dari cuci darah, mencegah terjadinya kerusakan ginjal yang lebih parah, menurunkan kadar kreatinin, dan badan menjadi lebih sehat maka pasien akan memiliki sikap favorable terhadap program diet dan sikap tersebut akan mempengaruhi intention untuk menjalankan program diet menjadi tinggi. Sebaliknya, bila pasien memiliki keyakinan bahwa menjalankan diet akan menghasilkan konsekuensi yang sebagian besar negatif, seperti mereka tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mereka sukai, maka pasien akan memiliki sikap yang unfavorable terhadap upaya menjalankan program diet. Hal ini membuat intention mereka akan semakin rendah dalam menjalankan program diet.

(50)

Universitas Kristen Maranatha untuk menjalankan program diet. Hal ini membuat intention pasien menjadi tinggi. Sebaliknya, jika pasien memiliki keyakinan bahwa keluarga, teman, pacar maupun dokter/ahli gizi tidak menuntut mereka untuk menjalankan program diet, maka pasien akan memiliki persepsi bahwa orang-orang tersebut tidak menuntutnya untuk menjalankan diet sehingga intention mereka untuk menjalankan diet menjadi lemah.

Determinan ketiga yaitu perceived behavioral control adalah persepsi individu mengenai kemampuan mereka untuk menampilkan perilaku. Kemunculannya dilatar belakangi oleh keyakinan mengenai ada atau tidaknya barrier atau rintangan yang dapat menghambat munculnya perilaku. Persepsi tersebut akan mempengaruhi tinggi rendahnya intention seseorang. Apabila pasien gagal ginjal kronis mengetahui bahwa tidak terdapat barrier yang dapat menghambat mereka untuk menjalankan diet seperti tidak menyukai makanan yang memang tidak dianjurkan, maka mereka akan memiliki persepsi bahwa keyakinan untuk mengontrol diri dalam menjalankan diet mudah untuk dilakukan (perceived behavior control), sehingga intention mereka untuk menjalankan diet menjadi tinggi. Tetapi bila pasien merasa bahwa terlalu banyak barrier yang menghambat mereka untuk menjalankan diet seperti misalnya merasa bahwa makanan yang dianjurkan dalam diet kurang enak, berada jauh dari rumah atau sedang bersama teman, dan ketersediaan sumber makanan untuk diet susah didapat, maka mereka akan memiliki persepsi bahwa keyakinan untuk mengontrol diri dalam menjalankan diet sulit untuk dilakukan (perceived behavior control), sehingga intention mereka untuk menjalankan diet

(51)

Universitas Kristen Maranatha Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung terhadap determinan-determinan intention yang dipegang oleh pasien gagal ginjal kronis. Faktor tersebut bisa berupa faktor internal dan eksternal. Faktor internal dapat berupa informasi mengenai program diet yang sedang dijalankan, kemampuan dalam menjalankan diet, dan stabilitas emosi. Sedangkan faktor eksternal antara lain kesempatan yang dapat menunjang pasien untuk menjalankan program diet (waktu, uang, dan kemudahan untuk mendapatkan sumber makanan), dan dukungan dari pihak luar. Faktor internal dan eksternal tersebut kemudian akan mempengaruhi secara tidak langsung pada ketiga determinan yang berkontribusi terhadap intention untuk menjalankan program diet. Misalnya pasien yang memiliki keyakinan bahwa sumber makanan untuk diet susah untuk dapatkan akan memiliki keyakinan bahwa menjalankan diet adalah hal yang susah untuk dilakukan, sehingga hal tersebut akan mempengaruhi secara tidak langsung terhadap intention pasien untuk menjalankan program diet.

Hubungan antara attitude toward behavior, subjective norm, dan perceived behavioral control sifatnya saling berkaitan dan berpengaruh terhadap kualitas bobot

tiap determinan tersebut dan pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas intention yang merupakan indikasi keputusan secara sadar seseorang untuk berusaha menampilkan suatu perilaku. Interaksi antara ketiga determinan tersebut akan mempengaruhi tinggi atau rendahnya intention seseorang.

(52)

Universitas Kristen Maranatha dari orang-orang yang signifikan (misalnya: keluarga, teman dan dokter) untuk menjalankan program diet dan pasien bersedia menjalankan tuntutan tersebut, serta mempersepsi bahwa pasien yakin untuk menjalankan program diet, maka keputusan pasien untuk menjalankan program diet akan semakin tinggi. Jika sebaliknya maka keputusan pasien dalam menjalankan program diet akan semakin rendah.

Berbeda halnya bila terdapat variasi bobot pada determinan attitude toward behavior, subjective norm, perceived behavioral control (dimana bobot tidak

(53)

Universitas Kristen Maranatha tersebut berpengaruh terhadap intention pasien, maka terdapat kemungkinan keputusan pasien untuk menjalankan program diet yang terbentuk dalam dirinya tinggi.

(54)

Universitas Kristen Maranatha

1.5 Skema Kerangka Pemikiran

Pasien gagal ginjal kronis di klinik „x‟

Bandung

Attitude Toward Behavior

Subjective Norms intention Menjalankan program diet

Perceived Behavioral Control

Faktor internal: Faktor eksternal:

- Informasi - Kesempatan (waktu, uang, fasilitas:sumber makanan) - Kemampuan - Ketergantungan terhadap pihak lain

(55)

Universitas Kristen Maranatha

1.6 Asumsi

1. Pasien gagal ginjal kronis di Klinik „X‟ Bandung memiliki intention yang berbeda-beda untuk menjalani diet.

2. Intention untuk menjalani diet pada pasien gagal ginjal kronis di Klinik „X‟ Bandung dibentuk oleh determinan-determinan, antara lain attitude toward the behavior, subjective norm dan perceived behavioral control.

(56)

55 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai kontribusi determinan-determinan terhadap intention untuk menjalankan program diet pada 40 pasien gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Determinan perceived behavioral control memberikan kontribusi terbesar terhadap intention pasien untuk menjalankan program diet. Hal ini berarti niat pasien untuk menjalankan program diet sangat dipengaruhi oleh persepsi pasien mengenai kemampuan mereka untuk menjalankan program diet. 2. Determinan yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap intention

pasien untuk menjalankan program diet adalah attitude toward the behavior. Hal ini berarti niat pasien untuk menjalankan diet dipengaruhi oleh penilaian mengenai konsekuensi positif dari perilaku menjalankan program diet sehingga mereka akan memiliki Attitude toward the behavior yang favourable.

(57)

Universitas Kristen Maranatha 4. Lebih banyak pasien gagal ginjal kronis di Klinik “X” Bandung memiliki

intention yang tinggi daripada yang rendah dalam menjalankan program diet.

5. Determinan attitude toward the behavior dan determinan perceived behavioral control memiliki hubungan timbal balik yang kuat (rs = 0,805).

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diajukan beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Saran teoretis

Bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai gambaran intention, disarankan untuk menggali lebih dalam determinan subjective norms.

Saran praktis

1. Bagi pasien gagal ginjal kronis disarankan untuk dapat mempertahankan intentionnya dalam menjalankan program diet dengan cara mengikuti program

(58)

Universitas Kristen Maranatha 2. Bagi keluarga pasien gagal ginjal kronis disarankan untuk ikut menjaga pola

makan dan menyediakan sumber makanan yang bervariasi agar pasien gagal ginjal kronis menjalankan diet dengan senang hati.

(59)

58 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, Icek. 2005. Attitudes, Personality and Behavior. England: Open University

Press, McGraw-Hill Education.

.2006. Constructing a TpB Questionnaire: Conceptual and Methodological Considerations.

Davey, Patrick. 2002. At a Glance Medicine. Blackwell Science. Ltd.

Denscombe, Martin. 2003. The good research guide (second edition). Glasgow:

Open University Press.

Filla, Stefanie A. 2006. Applying the theory of planned behavior to healthy

eating behaviors in urban native American youth. International journal of behavioral nutrition and physical activity. 1-10. America Biomedical Central. Ltd.

Guilford, J. P. 1956. Fundamental Statistics in Psychology and Education. (3rd Ed). Tokyo : Mc. Graw-Hill Company. Ltd.

Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana

Indonesia.

Hurlock, Ellizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan

Michie, S. 2004. Using the theory of planned behavior to predict screening uptake in

two context. Journal of Psychology and Health. 705-718. Birmingham: Taylor & Francis. Ltd.

Pearce, E. C. 1995. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka Utama.

Rahardjo, J. P. 2001. Nutrisi pada Gagal ginjal Kronis. Jakarta: Perhimpunan

Nefrologi Indonesia.

Rahardjo, J. P. 2001. Strategi Terapi Gagal Ginjal Kronis. Jakarta: Fakultas

(60)

Universitas Kristen Maranatha

Santrock, John W. 2004. Life Span Development. Dubuqu, Iowa: Wm.C. Brown

Publisher. Ninth Edition.

Sidabutar, R. P. 2004. Gagal ginjal Kronis. Jakarta: Perhimpunan Nefrologi

Indonesia.

Siegel, Sidney, N. John Castellan Jr. 1988. Nonparametric Statistic for Behavioral

(61)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Anne, Fallahita W. 2008. Studi Deskriptif Mengenai Intention dan Determinan-determinannya Untuk Diet Pada Penderita Hiperkolesterolemia Di Laboratorium Klinik “X” Bandung. Skripsi sarjana. Bandung: Program Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Ariestya, Yovanny. 2007. Studi Deskriptif mengenai Intention dan Determinan-Determinannya Dalam Pengelolaan Diabetes Dengan Diet Pada Pengidap Diabetes Melitus Di Rumah Sakit “X” Bandung. Skripsi sarjana. Bandung: Program Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung. Fahmi, Muhamad. 2007. Studi Deskriptif mengenai Intention dan

Determinan-Determinannya Dalam Kegiatan Melayani Nasabah Pada Teller Bank „X“ Karawang. Skripsi sarjana. Bandung: Program Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Health+Man&y=cyberm

ed%7C0%7C0%7C13%7C557, diakses tanggal 16 Agustus 2007

http://budiboga.blogspot.com/, diakses tanggal 21 Oktober 2007

Gambar

Tabel 7.1 Gambaran Subjek berdasarkan jenis kelamin
Tabel 8.1 Gambaran intention pasien gagal ginjal kronis
Tabel 8.6 Tabulasi silang antara intention dan subjective norms
Tabel 8.7 Tabulasi silang antara intention dan Perceived behavioral control
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

In the present study, the effect of corticosterone (CORT) on the generation of long-term potentiation (LTP) and its underlying mechanism involving neurotrophin gene expression in

[r]

Follow-up comparisons revealed that the pose of this study, a GnRH-immunoreactive neuron was percentage of unipolar neurons was greater for the CON defined as having a GABA

Pemasaran langsung adalah bentuk promosi dengan cara memasarkan barang/jasa secara langsung agar mendapat tanggapan secara langsung juga dari para konsumen.. Pemasaran

The combined administration of IBMX and eticlopride induced gene expression that was only partially attenuated (c-fos) or unaffected (zif268 ) by NMDA receptor blockade. These

b. usaha-usaha sosial dan usaha – usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Tanggung

pemberian kredit yang terjadi di Surakarta oleh pihak Mitra Mayapada Usaha tidak selalu dapat berjalan lancar dan baik, suatu saat jika pemberi pinjaman kredit atau kreditur