• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggung Jawab atas Damage yang Disebabkan Oleh Tabrakan yang Terjadi di Ruang Angkasa: Studi Kasus Cosmos Iridium 33

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tanggung Jawab atas Damage yang Disebabkan Oleh Tabrakan yang Terjadi di Ruang Angkasa: Studi Kasus Cosmos Iridium 33"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Tanggung Jawab atas

Damage

yang Disebabkan Oleh Tabrakan yang

Terjadi di Ruang Angkasa: Studi Kasus Cosmos 2251 - Iridium 33

 

Azizah Mutia Karim, Hikmahanto Juwana, Hadi Rahmat Purnama Hukum Transnasional, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Depok

E-mail: karim.mutia@gmail.com

Abstrak

Jurnal ini membahas mengenai konsep tanggung jawab dalam rezim hukum angkasa. Secara spesifik membahas konsep fault liability yang diatur dalam Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972, dan penunjukan tanggung jawab negara dalam hal sebuah benda angkasa diluncurkan oleh badan hukum privatnya sesuai dengan Outer Space Treaty 1967. Analisis dilakukan dengan menggunakan studi kasus tabrakan antara Cosmos 2251 dengan Iridium 33, sebagai kasus tabrakan besar pertama yang terjadi di ruang angkasa. Meskipun klaim atas kasus ini tidak pernah diajukan, namun para ahli hukum ruang angkasa banyak yang mengemukakan pendapat dan berdiskusi mengenai penerapan Liability Convention 1972 dan Outer Space Treaty 1967 terhadap kasus ini. Karenanya, analisis akan didasarkan pada konvensi dan pendapat para ahli atas kasus ini. Metode pendekatan kualitatif digunakan untuk mengumpulkan bahan-bahan dalam penulisan skripsi ini. Pada akhirnya, skripsi ini berusaha menjabarkan unsur kesalahan dari kedua belah pihak dan kontribusinya terhadap terjadinya tabrakan, seolah-olah setiap pihak merupakan negara penggugat dalam kasus ini.

Liability on Damage Caused by Collision in Outer Space: Case Study Cosmos 2251 – Iridium 33

Abstract

This journal studies the concept of liability under the regime of space law, specifically the concept of fault liability under Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972, and the attribulity of a State in the event where a space object is launched by its private entity under Outer Space Treaty 1967. The analysis will be conducted with regard to the case of Cosmos 2251 - Iridium 33, as it was the first major collision occurred in the outer space. Despite the fact that there is no claim arises in this case, many scholars have discussed about the applicability of Liability Convention 1972 and Outer Space Treaty 1967 in this case. Hence, the analysis is based on the Conventions and scholars’ opinion regarding the mentioned case. Qualitative approach is used to gather recourses in writing this thesis. In conclusion, this thesis attempts to elaborate the faults of both States and their contribution to the collision, as if each State would be the Claimant State in this case.

Keywords: collision; damage; fault liability; Liability Convention; Outer Space Treaty

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ruang angkasa telah membuktikan semakin pesatnya kemampuan manusia untuk menjadikan ruang angkasa sebagai sarana eksplorasi dan pemanfaatan dimensi baru. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ruang angkasa yang dahulu hanya merupakan impian atau cerita-cerita fiksi belaka, kini sudah menjadi realita

(2)

yang pemanfaatannya tanpa kita sadari dekat dengan kehidupan kita. Di penghujung abad 20, berbagai eksperimen dan peluncuran benda-benda angkasa terus menunjukkan peningkatan yang drastis, baik dari jumlah maupun perluasan misi-misi peluncurannya. Menurut laporan UNCOPUOS (United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space) pada tahun 2013, terdapat lebih dari 5,000 benda angkasa yang diluncurkan dari bumi hingga akhir tahun 2012. Dari jumlah tersebut, kurang lebih hanya 1,000 diantaranya yang masih aktif dan berfungsi secara normal. Sementara itu sisanya sudah tidak berfungsi secara normal dan terdapat malfungsi atau bahkan diabaikan oleh pemilik benda angkasa tersebut.1

Peningkatan ini tidak hanya terjadi dari jumlah peluncurannya saja, melainkan dari pemanfaatan benda angkasa dan lingkungannya, serta pemeran atau subjek dari teknologi ruang angkasa. Pada awalnya subjek dari perkembangan teknologi ruang angkasa hanya terbatas pada negara saja. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di masyarakat, pemeran aktivitas ruang angkasa kini telah meluas, khususnya pada sektor badan hukum privat. Dalam sebuah majalah dikatakan bahwa sejauh ini dilihat dari perkembangannya, tahun 2012 merupakan “the year of private space”.2

Peningkatan yang signifikan terhadap jumlah benda angkasa ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagaimana benda-benda angkasa yang jumlahnya mencapai ribuan tersebut dapat tetap berputar sesuai orbitnya tanpa menabrak benda angkasa lainnya. Seperti yang kita ketahui, ruang angkasa merupakan ruang hampa udara dengan gravitasi nol dimana sulit melakukan kontrol secara fisik terhadap segala benda yang ada di sana. Dilihat dari faktanya, benda angkasa yang diluncurkan dari bumi seringkali terjadi malfungsi setelah peluncuran, atau bahkan diabaikan oleh pemiliknya. Dengan kata lain, banyak benda angkasa yang secara fisik sudah berada di ruang angkasa, namun benda angkasa tersebut tidak berputar sesuai dengan orbitnya dan bergerak tanpa arah. Benda-benda angkasa yang mengalami malfungsi dan bergerak tanpa arah ini tentu saja menimbulkan ancaman dalam terjadinya kerusakan. Dilihat dari faktanya, ancaman ini terbagi menjadi dua macam, yaitu: a) ancaman terhadap wilayah bumi, atau b) ancaman terhadap benda angkasa lainnya dalam lingkungan ruang angkasa.

Pada tahun 2009 untuk pertamakalinya dalam sejarah, terjadi tabrakan besar antara satelit Cosmos 2251 dengan satelit Iridium 33. Satelit Cosmos 2251 merupakan satelit milik Rusia, sedangkan Iridium 33 merupakan sebuah satelit milik sebuah badan privat Amerika Serikat.

(3)

Disinilah timbul permasalahan mengenai tanggung jawab atas damage yang disebabkan oleh tabrakan tersebut.

Dalam rezim hukum angkasa, terdapat ketentuan-ketentuan umum yang telah diatur dalam

Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, Including the Moon and Other Celestial Bodies 1967 (Outer Space Treaty), yang merupakan Magna Charta dalam hukum angkasa.3 Selanjutnya ketentuan lebih rinci mengenai tanggung jawab dalam hal terjadinya damage diatur lebih lanjut dalam Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972 (Liability Convention), yang merupakan perjanjian internasional yang lebih khusus dan merupakan pengaturan secara lanjut terhadap Pasal VI dan VII Outer Space Treaty.4

Pada kasus ini, kedua negara yang terlibat, yaitu Amerika Serikat dan Rusia, merupakan negara anggota dari Outer Space Treaty 1967 dan Liability Convention 1972. Oleh karena itu, segala ketentuan yang terdapat dalam kedua perjanjian internasional tersebut tentu saja menimbulkan hak dan kewajiban terhadap kedua negara tersebut sebagai negara anggota. Namun demikian, pada prakteknya kasus tersebut tidak diselesaikan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Liability Convention maupun Outer Space Treaty. Dari sinilah banyak ahli hukum yang mengemukakan pendapatnya terhadap kasus ini dikaitkan dengan dua perjanjian internasional tersebut. Maka dari itu, jurnal ini akan membahas pokok-pokok permasalahan sebagai berikut: 1) pengaturan hukum atas damage yang disebabkan oleh tabrakan di ruang angkasa menurut hukum angkasa, 2) kasus posisi yang terjadi pada tabrakan yang terjadi antara Cosmos 2251 dengan Iridium 33, serta 3) analisis para ahli terhadap kasus tersebut ditinjau dari pengaturan dalam Liability Convention 1972 dan Outer Space Treaty

1967.

Metode Penelitian

Penelitian ini berbentuk Yuridis-Normatif,5 artinya penelitian ini mengacu pada norma hukum

yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan keputusan pengadilan, serta norma-norma yang berlaku dan mengikat masyarakat. Penelitian ini mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam perjanjian internasional dan keputusan badan penyelesaian sengketa internasional serta sumber-sumber hukum internasional lainnya.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian

(4)

ini.6 Sedangkan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu

data yang diperoleh dari kepustakaan.7

Metode analisis data dalam karya tulis ini menggunakan metode kualitatif yang memahami perilaku manusia dari sudut pandangnya sendiri, pengumpulan data menggunakan pengamatan, studi dokumen, dan studi kasus, menghasilkan data deskriptif dari apa yang diperoleh dari data tertulis, penyajian data biasanya berbentuk kalimat dan bukan berbentuk angka-angka.

Pembahasan

Outer Space Treaty dan Liability Convention merupakan dua perjanjian internasional dalam rezim hukum angkasa yang mengatur mengenai tanggung jawab dalam hal terjadi damage. Di dalam Outer Space Treaty, terdapat aturan-aturan dasar yang harus dipatuhi dalam menjalankan kegiatan ruang angkasa. Sementara Liability Convention yang merupakan penjelasan dari Pasal VI dan VII dari Outer Space Treaty,yang secara lebih khusus mengatur mengenai konsep liability dalam hal terjadi damage. Dengan demikian, ketentuan-ketentuan dalam kedua perjanjian tersebut saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, khususnya ketika membahas mengenai damage yang terjadi di ruang angkasa. Dalam hal damage terjadi di wilayah ruang angkasa, Liability Convention memberlakukan konsep fault liability yang terdapat pada Pasal III. Pasal tersebut membebankan tanggung jawab bagi negara peluncur untuk membayar kompensasi terhadap damage yang disebabkan oleh benda angkasanya, apabila damage tersebut merupakan hasil dari kesalahan negara tersebut atau orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Konsep ini belum pernah digunakan, mengingat belum terjadinya peristiwa yang mengindikasikan terjadinya damage di wilayah ruang angkasa. Pada tahun 2009, untuk pertamakalinya dalam sejarah terjadi tabrakan besar pertama di wilayah ruang angkasa. Tabrakan tersebut terjadi antara Cosmos 2251 dengan Iridium 33, menyebabkan kedua satelit tersebut hancur berkeping-keping dan menghasilkan lebih dari 37,000 space debris. Cosmos 2251 merupakan sebuah satelit komunikasi militer milik Rusia yang diluncurkan pada tahun 1993 dari wilayah Plesetsk Cosmondrome, Rusia. Satelit ini mengalami malfungsi dan tidak dapat dikendalikan lagi tepat dua tahun setelah peluncurannya, yaitu pada tahun 1995. Sejak terjadinya malfungsi tersebut, Rusia tidak melakukan upaya apapun untuk membetulkan atau mengambil kembali satelit tersebut dari orbitnya. Satelit Cosmos 2251 yang bergerak tanpa arah ini pun pada akhirnya menabrak

(5)

satelit Iridium 33. Iridium 33 merupakan satelit komunikasi milik sebuah badan hukum privat Amerika Serikat, yang bernama Iridium LLC. Satelit ini diluncurkan pada tahun 1997 dari wilayah Baikonur di Kazakhstan, melalui roket peluncur Proton-K milik Rusia. Dalam peluncuran satelit ini, pemerintah Amerika Serikat telah memberikan lisensi kepada perusahaan Iridium LLC terkait experimental dan operational atas satelit ini. Iridium 33 juga telah didaftarkan secara domestik sesuai dengan peraturan nasional Amerika Serikat.

Pada saat terjadinya tabrakan, Cosmos 2251 dalam keadaan tidak berfungsi dan tidak dapat dikendalikan lagi. Sementara Iridium 33 masih berfungsi secara normal dan memiliki kapabilitas untuk melakukan manuver untuk menghindari terjadinya tabrakan. Pada saat itu pihak Iridium dapat melakukan prediksi dan pengawasan terhadap satelit dan benda lain di sekitar satelitnya, namun demikian pihak Iridium tidak melakukan manuver untuk menghindari terjadinya tabrakan. Hal ini disebabkan karena tedapat sangat banyak prediksi tabrakan di angkasa yang mungkin terjadi per harinya. Pada faktanya, dalam satu hari terdapat lebih dari 150 kemungkinan tabrakan yang terjadi di ruang angkasa.8 Namun hingga

terjadinya insiden ini pada tahun 2009, belum ada satupun dari prediksi tabrakan tersebut yang benar-benar terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa prediksi terhadap kemungkinan terjadinya tabrakan bukan merupakan parameter yang akurat. Selain itu, manuver yang diperlukan untuk menghindari tabrakan dapat menghabiskan bahan bakar dari satelit tersebut dalam jumlah yang banyak, sehingga manuver terhadap satelit biasanya hanya dilakukan oleh pemilik satelit dalam kondisi yang sangat dibutuhkan.9 Direktur Regional dari Iridium Satellite LLC, Jeffrey White, menyatakan:

the Iridium 33/Cosmos 2251 conjunction was not even in the top 150 most probable predicted conjunctions for that particular day. In fact, 16 other Iridium satellites had higher probability conjunctions that day than did Iridium 33”.10

Menurut pihak Iridium, terjadinya tabrakan ini bukan semata-mata disebabkan oleh tidak dilakukannya manuver terhadap Iridium 33, namun juga karena tidak adanya peringatan terlebih dahulu dari lembaga militer Rusia terhadap adanya kemungkinan tabrakan yang terjadi.11 Akan sulit bagi pihak Iridium untuk melakukan manuver terhadap satelitnya apabila tidak terdapat peringatan dan informasi yang dibutuhkan dari pihak Rusia.12 Selain itu, pihak Iridium berpendapat bahwa Rusia memberikan kontribusi kesalahan terbesar pada tabrakan ini, mengingat bahwa pihak Rusia sudah mengetahui bahwa satelitnya sudah lama mengalami

(6)

malfungsi dimana satelit tersebut dapat menjadi ancaman besar terhadap benda angkasa lainnya apabila tidak segera dilakukan perbaikan atau mitigasi terhadapnya.

Melihat dari fakta-fakta di atas, kasus ini sangat berpotensi untuk diterapkannya pengaturan dalam Liability Convention 1972 untuk pertamakali. Terjadinya damage di wilayah ruang angkasa pada kasus ini merupakan indikasi diterapkannya konsep fault liability yang diatur di dalam Pasal III Liability Convention. Namun demikian, hingga saat ini belum ada upaya hukum maupun klaim yang diajukan untuk pembayaran kompensasi atas hancurnya kedua satelit tersebut.13 Hal ini menimbulkan banyak interpretasi para ahli terhadap kasus ini dikaitkan dengan pengaturan-pengaturan hukum angkasa yang berkaitan, seperti Outer Space Treaty dan Liability Convention.

Para ahli sepakat bahwa terhadap kasus ini, berlakulah Pasal III Liability Convention, yang berbunyi sebagai berikut:

“In the event of damage being caused elsewhere than on the surface of the earth to a space object of one launching State or to persons or property on board such a space object by a space object of another launching State, the latter shall be liable only if the damage is due to its fault ir the fault of persons for whom it is responsible.”14

Dari ketentuan di atas, terdapat dua elemen terpenting yang harus dibuktikan agar sebuah negara dapat dikatakan bertanggung jawab atau liable terhadap damage yang terjadi. Kedua elemen tersebut adalah: a) penentuan launching state atau negara peluncur dari Iridium 33 dan Cosmos 2251, b) penentuan kesalahan atau fault yang dilakukan dalam kasus ini.

a) Penentuan status launching state

Hal yang paling krusial dari pengajuan klaim atas kasus ini adalah penentuan status launching State dari kedua satelit tersebut. Mengacu pada Pasal 1(c) Liability Convention, yang dimaksud dengan launching State adalah:

“(i) A State which launches or procures the launching of a space object; (ii) A State from whose territory or facility a space object is launched.”

Apabila dikaitkan pada kasus ini, para ahli sepakat bahwa pada peluncuran Iridium 33, setidaknya terdapat tiga negara yang terlibat. Negara pertama adalah Kazakhstan, yang wilayahnya, tepatnya Baikonur, digunakan untuk peluncuran Iridium 33.15 Negara kedua adalah Rusia, yang fasilitasnya, yaitu roket peluncur Proton-K, digunakan untuk peluncuran Iridium 33.16 Negara ketiga adalah Amerika Serikat, yaitu sebagai negara nasionalitas dari Iridium LLC.17 Meskipun kualifikasi nasionalitas tidak terdapat secara eksplisit dalam Pasal

(7)

1(c) Liability Convention, namun Kayser, dan Van Traa-Engelman menyatakan bahwa hal ini merupakan interpretasi dari sistem launching state. Kayser berpendapat bahwa dalam hal ini, pemilik satelit merupakan pihak yang “procuring the launching” dari satelit tersebut. Karenanya, negara nasionalitas dari pemilik satelit tersebut dapat dikatakan sebagai launching State.18 Sistem ini merupakan konsekuensi logis atas adanya sistem joint liability, yang terdapat beberapa negara yang dapat dikualifikasikan sebagai launching States.19 Sementara Van Traa-Engelman mengemukakan bahwa hubungan nasionalitas dapat menjadi pemenuhan praktis sekaligus merupakan cara penentuan terbaik dalam penunjukan negara peluncur.20 Merujuk pada pendapat-pendapat tersebut, maka Amerika Serikat dapat dikatakan sebagai

launching state dari Iridium 33, karena Amerika Serikat merupakan negara nasionalitas dari pemilik satelit tersebut, yaitu Iridium LLC.

b) Penentuan fault

Elemen terpenting selanjutnya yang diperlukan untuk menerapkan Pasal III Liability Convention adalah pembuktian unsur fault yang terjadi dalam kasus ini. Secara sekilas, konsep fault liability merupakan konsep yang logis dan masuk akal, yaitu apabila terjadi tabrakan, maka yang harus bertanggung jawab terhadap kerusakan yang terjadi adalah negara yang melakukan kesalahan.21 Namun demikian, di dalam Liability Convention maupun Outer Space Treaty tidak terdapat ketentuan maupun penjelasan lebih lanjut mengenai unsur fault.22

Hal ini menimbulkan beragam interpretasi terhadap fault itu sendiri, yaitu definisi mengenai apa yang dimaksud dengan fault serta unsur-unsur yang terkandung dalam fault. Dari berbagai pendapat yang dikemukakan para ahli mengenai definisi fault, secara garis besar,

fault didefinisikan sebagai:

1. tindakan yang dilakukan baik secara aktif maupun pasif yang didasarkan oleh unsur

negligent (kelalaian);23

2. tindakan yang dilakukan baik secara aktif maupun pasif yang didasarkan oleh

intention (niat), atau negligent (kelalaian) dalam melakukan suatu standar pelaksanaan;24

3. kegagalan untuk memenuhi kewajiban hukum, dan kegagalan tersebut mengakibatkan terjadinya damage terhadap benda angkasa milik negara lain.25 Untuk menentukan negara mana yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini, maka perlu dikaitkan aktivitas kedua belah pihak dengan unsur-unsur di atas dalam kontribusi terjadinya tabrakan ini. Ram Jakhu menyatakan bahwa pembuktian terhadap negara yang melakukan

(8)

kesalahan di wilayah ruang angkasa tidaklah mudah.26 Oleh karena itu, beban pembuktian

dibebankan kepada negara penggugat (claimant state).27 Dalam kasus ini, tidak terdapat negara yang mengajukan gugatan atas damage yang terjadi. Maka dari itu, perlu untuk memaparkan kemungkinan-kemungkinan fault yang dilakukan oleh kedua belah pihak sesuai dengan aktivitas maupun kelalaian yang dilakukannya.

a) Fault yang dilakukan oleh Rusia

Apabila Amerika Serikat menjadi negara penggugat dalam kasus ini, maka Amerika Serikat harus dapat membuktikan bahwa tabrakan ini terjadi karena adanya kesalahan (fault) dari pihak Rusia, dan Rusia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Berikut ini adalah tindakan-tindakan Rusia yang dapat dikatakan sebagai fault, dan fault tersebut berakibat akan terjadinya tabrakan.

i. Pelanggaran terhadap kewajiban untuk mempertahankan jurisdiksi serta melakukan kontrolterhadap Cosmos 2251

Pasal VIII Outer Space Treaty memberikan obligasi kepada State of Registry untuk mempertahankan jurisdiksi dan kontrol terhadap satelitnya.28 Terminologi “kontrol” dalam Outer Space Treaty memberikan kewajiban kepada negara,29 khususnya untuk memastikan bahwa benda angkasanya tidak melanggar hak-hak negara lain.30 Sebuah negara harus bertanggung jawab apabila negara tersebut kehilangan kontrol atas benda angkasanya, dan benda angkasa tersebut menyebabkan damage kepada benda angkasa lain.31

Dalam kasus ini, Rusia telah melanggar kewajiban Pasal VIII dengan tidak lagi melakukan kontrol terhadap Cosmos 2251 sejak tahun 1995.32 Meskipun Rusia memiliki

waktu lebih dari satu dekade untuk membetulkan atau mengambil kembali satelitnya, namun sejak Cosmos 2251 mengalami malfungsi pada tahun 1995 hingga terjadinya tabrakan ini pada tahun 2009, Rusia tidak melakukan tindakan apapun untuk membetulkan ataupun mengambil kembali satelit tersebut dari orbitnya.33 Tindakan tersebut dapat dianggap sebagai suatu kelalaian sekaligus pelanggaran terhadap kewajiban internasional, khususnya Pasal VIII

Outer Space Treaty.34 Beberapa ahli ruang angkasa menyatakan bahwa tabrakan ini tidak akan terjadi apabila Rusia tidak kehilangan kontrol atas Cosmos 2251.35 Dengan demikian, kegagalan Rusia dalam melakukan kontrol terhadap Cosmos 2251 dapat dikatakan sebagai penyebab utama terjadinya tabrakan ini.

(9)

Pasal 11 Outer Space Treaty memberikan obligasi terhadap setiap negara anggota untuk memberikan informasi semaksimal mungkin dan “as soon as practicable” kepada Sekretariat Jenderal PBB, juga kepada komunitas ilmuwan internasional (international scientific community) terkait sifat, pelaksanaan, lokasi, dan hasil dari aktivitas ruang angkasanya.36 Pada kasus ini, Rusia tidak memberikan informasi kepada Sekjen PBB dan komunitas ilmuwan internasional terkait isu malfungsi Cosmos 2251, juga terkait fungsi utama Cosmos 2251. Pemberian informasi ini merupakan hal yang practicable untuk dilakukan oleh Rusia, mengingat jangka waktu pemberitahuan informasi ini dapat dilakukan dalam jangka waktu 14 tahun, yaitu sejak tahun 1995 hingga tahun 2009. Apabila informasi ini diberikan, Sekjen PBB dapat menyebarluaskan informasi mengenai hal ini kepada negara-negara lainnya. Dengan demikian, maka Amerika Serikat dan Iridium 33 dapat mengetahui mengenai adanya malfungsi yang dialami oleh Cosmos 2251, sehingga Iridium LLC dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas ruang angkasanya dan menghindari kemungkinan terjadinya tabrakan dengan satelit tersebut.

iii. Pelanggaran terhadap kewajiban untuk melakukan cooperation dan due regard

terhadap aktivitas ruang angkasa negara lain

Pasal IX Outer Space Treaty memberikan obligasi kepada negara untuk melakukan

cooperation dan due regard terhadap kepentingan negara lain.37 Prinsip cooperation

diinterpretasikan sebagai kewajiban untuk melakukan kerjasama dengan negara lain dan membina kedamaian dan keamanan internasional.38 Dalam analisis Friendly Declaration 1970, cooperation didefinisikan sebagai tindakan koordinasi secara sukarela yang dilakukan oleh dua negara atau lebih.39 Dalam interpretasi naskah Outer Space Treaty, tindakan

cooperation dapat dilakukan dengan cara konsultasi kepada negara lain.40 Konsultasi ini harus dilakukan apabila sebuah negara memprediksikan bahwa benda angkasanya dapat berpotensi untuk menyebabkan bahaya kepada negara lainnya, atau dapat menganggu peaceful uses of outer space.41

Pada kasus ini, Rusia tidak melakukan konsultasi maupun bekerjasama melalui cara apapun dengan pihak Iridium untuk menghindari terjadinya tabrakan.42 Rusia yang telah kehilangan kontrol atas satelit Cosmos 2251, menimbulkan potensi besar akan terjadinya bahaya dan ancaman terhadap benda angkasa lainnya. Setelah mengetahui bahwa satelitnya dalam keadaan tidak dapat dikendalikan, Rusia seharusnya melakukan kewajiban ini untuk menghindari terjadinya tabrakan dengan benda angkasa lainnya. Terlebih lagi, hampir seluruh

(10)

operator benda angkasa memiliki teknologi untuk melacak benda angkasanya dan benda-benda yang berada di sekitarnya.43 Sebelum terjadinya tabrakan dengan Iridium 33, Rusia seharusnya memprediksi bahwa satelit besarnya tersebut berpotensi menabrak Iridium 33. Apabila hal ini dilakukan, maka pada keadaan tersebut, Rusia wajib untuk melakukan konsultasi dengan operator dari Iridium 33 sebagai bentuk dari cooperation dan due regard

terhadap aktivitas ruang angkasa dari pemilik satelit Iridium 33.

Bentuk kewajiban cooperate dan due regard terhadap aktivitas ruang angkasa negara lainnya, diterapkan dengan baik pada insiden Galaxy-15. Pada insiden tersebut, pemilik Galaxy-15 yaitu INTELSAT, kehilangan kendali terhadap satelitnya.44 Segera setelah terjadinya malfungsi tersebut, INTELSAT langsung melakukan konsultasi kepada tiap-tiap negara peluncur dari benda angkasa yang diprediksikan akan terjadi benturan dengan satelitnya.45 Dalam konsultasi tersebut, INTELSAT meminta negara-negara peluncur tersebut untuk melakukan manuver terhadap satelitnya untuk menghindari terjadinya tabrakan dengan Galaxy-15. Karenanya, pada insiden ini tidak terjadi tabrakan maupun kerugian. Hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh Rusia untuk menghindari terjadinya tabrakan dengan Iridium 33 maupun satelit lainnya. Namun fakta yang terjadi pada kasus ini adalah Rusia tidak melakukan cooperation dan due regard dalam bentuk apapun. Dengan demikain, Rusia dapat dikatakan at fault karena telah gagal dalam memenuhi kewajiban Pasal IX Outer Space Treaty.

b) Fault yang dilakukan oleh Iridium LLC dan Amerika Serikat sebagai perwakilan dari Iridium LLC

Apabila Rusia menjadi negara penggugat dalam kasus ini, maka Rusia harus dapat membuktikan bahwa tabrakan ini terjadi karena adanya kesalahan (fault) dari pihak Amerika Serikat, atau Iridium LLC, yang Amerika Serikat bertanggung jawab terhadapnya. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai kemungkinan argumen yang diberikan oleh Rusia dalam membuktikan Amerika Serikat merupakan pihak yang bersalah dalam terjadinya tabrakan ini.

i. Dengan tidak melakukan manuver terhadap Iridium 33

Pada saat terjadinya tabrakan, Cosmos 2251 berada dalam keadaan tidak dapat dikendalikan, sementara Iridium 33 masih berfungsi secara normal dan memiliki kapabilitas untuk melakukan manuver untuk menghindari terjadinya tabrakan. Kemungkinan besar Rusia akan berargumen bahwa tabrakan antara Iridium-Cosmos terjadi semata-mata karena kesalahan Iridium LLC yang tidak melakukan manuver terhadap Iridium 33.46

(11)

Kewajiban untuk melakukan manuver tidak secara eksplisit diwajibkan dalam Space Treaties.

Kewajiban ini timbul dari adanya kewajiban due regard to the corresponding interests of all other State Parties.47 Secara teknis, satu-satunya standar yang dapat dilakukan oleh pemilik satelit apabila terdapat prediksi akan terjadinya tabrakan, adalah dengan melakukan manuver terhadap satelitnya. Ram Jakhu menyatakan bahwa untuk menghindarkan terjadinya tabrakan, sebuah satelit yang masih aktif harus melakukan manuver dengan mengubah jalur orbitnya.48 Proses manuver ini menggunakan bahan bakar yang masih tersedia pada satelit tersebut. Hal ini mengakibatkan berkurangnya jumlah bahan bakar yang diperlukan satelit tersebut selama masa operasionalnya, sehingga proses manuver akan mengurangi masa operasional sebuah satelit.49 Misalnya, Satelit-A diluncurkan dengan masa operasional 30 tahun dan disiapkan bahan bakar untuk jangka waktu tersebut, dengan catatan bahwa satelit tersebut terus berputar sesuai dengan orbitnya. Apabila pada suatu waktu satelit tersebut harus melakukan manuver, maka satelit tersebut harus berpindah jalur orbitnya untuk sementara, dan perpindahan jalur tersebut mengkonsumsi bahan bakar yang lebih besar daripada yang seharusnya. Dengan demikian, cadangan bahan bakar yang dimiliki oleh satelit tersebut semakin berkurang, dari yang awalnya dapat beroperasi hingga 30 tahun, menjadi berkurang. Pada saat bahan bakar satelit itu habis, disitulah satelit akan berhenti beroperasi.

Pada kasus ini, Iridium LLC memiliki kemampuan SSA untuk melakukan prediksi terhadap tabrakan yang mungkin terjadi.50 Dengan adanya kemampuan untuk memprediksi tersebut, Iridium LLC seharusnya melakukan manuver terhadap satelitnya. Namun seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pihak Iridium menyatakan bahwa tabrakan ini bahkan tidak masuk ke dalam 150 kemungkinan tabrakan terbesar pada hari itu.51 Faktanya adalah terdapat 16 satelit Iridium lainnya yang mempunyai potensi tabrakan jauh lebih besar daripada Iridium 33.52 Juru bicara dari Iridium LLC, Elizabeth Mailander, memberikan respon atas dipersalahkannya pihak Iridium LLC dalam kasus ini:

The Company indeed could have moved the satellite out of the way if given a precise warning.”53

Selanjutnya Ram Jakhu menyatakan argumennya dalam sebuah jurnal bahwa Amerika Serikat sebagai appropriate State dari Iridium LLC, yang seharusnya bertanggung jawab atas tabrakan ini.54 Amerika Serikat seharusnya melakukan tindakan pengawasan terhadap badan hukum privat tersebut agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar kewajiban hukum internasional.55

(12)

Bagaimanapun juga, terdapat banyak sanggahan terhadap argumen Ram Jakhu atas kasus ini. Von der Dunk menyatakan bahwa pilihan untuk melakukan manuver bukanlah merupakan hal yang mudah.56 Karenanya, tindakan manuver tidak hanya didasarkan dari kapabilitas sebuah benda angkasa untuk melakukan manuver, tapi juga didasarkan pada pengetahuan dari operatornya akan perlunya dilaksanakan prosedur manuver.57 Dengan adanya lebih dari 150 kemungkinan tabrakan setiap harinya, mustahil bagi Iridium LLC untuk melakukan manuver terhadap semua satelitnya. Maka dari itu, tindakan konsultasi oleh Rusia sangat dibutuhkan dalam melakukan manuver.58 Dengan kata lain, meskipun Rusia tidak memiliki kapabilitas untuk melakukan manuver terhadap satelitnya, namun Rusia mempunyai kapabilitas dan berkewajiban untuk memberikan informasi ataupun tindakan konsultasi kepada Iridium LLC bahwa pada situasi tersebut diperlukan pelaksanaan manuver terhadap satelitnya untuk menghindari terjadinya tabrakan.59

Kesimpulan

Berdasarkan penjabaran yang telah dikemukakan di atas, dan berhubungan dengan rumusan masalah, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, pengaturan hukum atas damage yang terjadi di ruang angkasa diatur pada Pasal VII

Outer Space Treaty, yang dijabarkan secara lebih lanjut pada Pasal III Liability Convention.

Pasal III Liability Convention mengatur mengenai konsep fault liability, yaitu tanggung jawab negara untuk membayar kompensasi atas damage yang terjadi di ruang angkasa dilihat dari kesalahan (fault) yang dilakukan oleh negara tersebut, atau orang yang berada di bawah tanggung jawab negara tersebut.

Kedua, tabrakan antara Cosmos 2251 dengan Iridium 33 terjadi pada tahun 2009. Pada saat

tabrakan terjadi, Cosmos 2251, satelit komunikasi militer Rusia yang mengalami malfungsi, menabrak satelit Iridium 33, sebuah satelit komunikasi milik badan hukum privat Amerika Serikat, yaitu Iridium LLC. Tabrakan yang terjadi untuk pertamakalinya di ruang angkasa ini mengakibatkan kedua satelit tersebut hancur berkeping-keping. Meskipun tabrakan ini menimbulkan damage yang besar dan membawa ancaman lingkungan di ruang angkasa, namun hingga saat ini belum ada pengajuan gugatan oleh kedua belah pihak.

Ketiga, beberapa ahli hukum ruang angkasa memberikan analisis terhadap kasus tabrakan Cosmos 2251 dengan Iridium 33, sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Liability Convention dan Outer Space Treaty. Analisis pertama adalah mengenai negara peluncur dari

(13)

Iridium 33. Para ahli sepakat bahwa terdapat tiga negara peluncur dari Iridium 33, yaitu: 1) Kazakhstan; 2) Rusia; dan 3) Amerika Serikat. Sementara negara peluncur dari Cosmos 2251 adalah Rusia. Melihat Rusia merupakan negara peluncur dari Iridium 33 dan juga Cosmos 2251, maka pengajuan gugatan atas kasus ini akan menimbulkan kejanggalan karena akan terjadi gugatan antara negara peluncur sebuah benda angkasa. Analisis kedua adalah mengenai fault yang terdapat dalam kasus ini. Apabila gugatan diajukan atas kasus ini, maka unsur fault yang harus dibuktikan berbeda-beda tergantung dari negara mana yang menjadi penggugat. Apabila Amerika Serikat yang menjadi penggugat dalam kasus ini, maka kemungkinan fault yang dilakukan oleh Rusia adalah: 1) pelanggaran terhadap kewajiban untuk mempertahankan jurusdiksi serta melakukan kontrol terhadap Cosmos 2251; 2) pelanggaran terhadap kewajiban untuk memberikan informasi kepada PBB mengenai terjadinya malfungsi atas Cosmos 2251; 3) pelanggaran terhadap kewajiban untuk melakukan

cooperation dengan melakukan konsultasi terhadap Iridium LLC atas prediksi tabrakan yang terjadi. Di sisi lain, apabila Rusia yang menjadi negara penggugat dalam kasus ini, maka harus dibuktikan bahwa Amerika melakukan fault dengan tidak melakukan manuver terhadap Iridium 33.

                                                                                                                          Daftar Referensi

1 Zizheng Gong, CASC Efforts on Dealing with Space Debris toward Space Long Term Sustainability,

dipresentasikan pada COPUOS Scientific and Technical Subcommittee, the fifty season (Februari 2013).

2 Adam Mann, “The Year’s Most Audacious Private Space Exploration Plans”,

http://www.wired.com/wiredscience/2012/12/audacious-space-companies-2012, diunduh pada 20 Januari 2013.

3 Nicolas M. Matte, Aerospace Law, (Canada: Carswell Co. Ltd., 1969), hal. 282.

4 Bess C M Reijnen, The United Nations Space Treaties Analyzed, (Editions Frontieres, 1992), hal.

175.

5 Sri Mamudji et.al., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum (Jakarta : Badan Penerbit Fakultas

Hukum Universitas Indonesia, 2005), hlm. 9-10.

6 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI-Press, 2005), hal. 250. 7Ibid, hal. 28.

8 Jeffrey White, “Iridium Satellite: Aviation – We Are Everywhere You Want To Fly”, (5 November

2009), http://freepdfdb.com/pdf/iridium-satellite-eurocontrol-eurocontrol-5371386.html, diunduh pada 27 Mei 2013.

(14)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            9 Erdal, Tekinalp, dan Tulunay, “Minimum Fuel Station Keeping Maneuver Strategy for Turkstat

Geostationary Satellites”, http://link.springer.com/content/pdf/10.1007/978-94-015-9395-3_5.pdf#page-2, diunduh pada 9 Juni 2013.

10 Jeffrey White, “Iridium Satellite: Aviation – We Are Everywhere You Want To Fly”. 11 Brian Weeden, “Billiards in Space”, The Space Review,

http://www.thespacereview.com/article/1314/1, diunduh pada 27 Mei 2013.

12 Respon dari juru bicara Iridium LLC, Elizabeth Mailander, dalam Associated Press Report

(Borenstein, Birch), 13 Februari 2009.

13 Michael Listner, “Iridium Satellite Collision: Are Legal Consequences Forthcoming?”,

http://www.examiner.com/article/iridium-satellite-collision-are-legal-consequences-forthcoming, diunduh pada 22 Mei 2013.

14 United Nations, Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects

[Liability Convention], entered into force Sept. 1, 1972, Ps. III.

15 Brian Weeden, “Dealing with Galaxy 15: Zombiesats and On-orbit Servicing”(2010),

http://thespacereview.com/article/1634/1, diunduh pada 12 Mei 2013.

16Ibid.

17 Iridium Communications Inc., Company Profile,

http://www.iridium.com/About/CompanyProfile.aspx, diunduh pada 29 Juni 2013. Lihat juga Judgement on Iridium India Telecom Ltd. v. Motorola Incorporated, Supreme Court of India, Crl.A.No.688 of 2005.

18 Valerie Kayser, Launching Space Objects: Issues of Liability and Future Prospects, hal. 301.

19Ibid.

20 H.L. van Traa-Engelman, Commercial Utilization of Outer Space, (Dordecht: Martinus Nijhoff

Publishers, 1993).

21 Liability Convention, Ps. III.

22 Elise Epperson Crow, “Waste and Management in Space Addressing the Challenge of Orbital

Debris”, 18 Southwestern Journal of International Law 707, (2012), hal.8.

23Ibid.

24 Frans G. von der Dunk, “Too-Close Encounters of Third-Party Kind: Will The Liability Convention

Stand the Test of The Cosmos 2251 – Iridium 33 Collision?, hal. 5. Lihat juga Varlin J. Vissepo,

Legal Aspects of Reusable Launch Vehicles, hal. 196. Lihat juga Von der Dunk, “Liability versus

Responsibility in Space Law: Misconception or Misconstruction?”, hal. 366.

25 Bin Cheng, General Principles of Law as Applied by International Courts and Tribunal, 1987, hal.

226. Lihat juga Reis, “Some Reflection on the Liability Convention for Outer Space”, Journal of

(15)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

Resolution Of Disputes Concerning Damage Caused in Outer Space”, Tulane Law Review, (January 1985) hal.6.

26 Ram Jakhu, “Iridium-Cosmos Collision and Its Implications for Space Operations”, hal. 255.

27Ibid.

28 United Nations, Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use

of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies [Outer Space Treaty], entered into

force Oct. 10, 1967, Ps. VIII.

29 Manfred Lachs, The Law of Outer Space: An Experience in Contemporary Law-Making, (1972),

hal. 70.

30Ibid.

31 Armel Kerrest, “National Space Legislation-Crafting Legal Engines for the Growth of Space

Activities”, 53 IISL Proceeding, (2010), hal.7.

32 “Russian and US Satellites Collide”, http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/7885051.stm,

diunduh pada 25 Mei 2013.

33 Ram Jakhu, “Iridium-Cosmos Collision and Its Implications for Space Operations”, hal. 256.

34Ibid. Lihat juga Pasal 1(2) Outer Space Treaty yang mengatur bahwa “Outer Space […] shall be

free for exploration and use by all States without discrimination of any kind, on a basis of equality and

in accordance with international law.” Pasal ini diinterpretasikan bahwa negara-negara dilarang untuk

menyebabkan damage terhadap negara lain.

35 Frans G. von der Dunk, Too-Close Encounters of Third-Party Kind: Will The Liability Convention

Stand the Test of The Cosmos 2251 – Iridium 33 Collision?.

36 Outer Space Treaty, Ps. XI. 37 Outer Space Treaty, Ps. IX.

38 Michael C. Mineiro, “Principles of Peaceful Purposes and the Obligation to Undertake Appropriate

International Consultations in Accordance with Article IX of the Outer Space Treaty”, hal.6.

39 Rudiger Wolfrum, International Law of Development, in ENCYCLOPEDIA OF PUBLIC

INTERNATIONAL LAW VOL. II, (Rudolph Bernhardt Ed., 1992). Lihat jugaUnited Nations,

Declaration on Principles of International Law Concerning Friendly Relations and Co-operation

among States in Accordance with the Charter of the United Nations, U.N.G.A.R 2625 (XXV), U.N.

GAOR, 25th Sess., Supp. No.28, UN Doc. A/8028 (24 October 1970).

40 Pasal IX, Outer Space Treaty. Lihat juga Territorial Dispute (Libya v. Chad) 1994 I.C.J. 6 (Feb.3),

yang menyatakan bahwa “A treaty shall be interpreted in good faith in the light of its object and purpose.”

(16)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            42 Frans G. von der Dunk, Too-Close Encounters of Third-Party Kind: Will The Liability Convention

Stand the Test of The Cosmos 2251 – Iridium 33 Collision?.

43 Elise Epperson Crow, “Waste Management in Space: Addressing the Challenge of Orbital Debris”,

hal.2.

44 Warren Ferster, “Intelsat Loses Contact with Galaxy 15 Satellite”,

http://www.spacenews.com/satellite_telecom/100408-intelsat-loses-contact-galaxy-satellite.html, diunduh pada 12 Juni 2013.

45 Brian Weeden, Dealing with Galaxy 15: Zombiesats and On-orbit Servicing (2010),

http://thespacereview.com/article/1634/1, diunduh pada 12 Juni 2013.

46 Ram Jakhu, “Iridium-Cosmos Collision and Its Implications for Space Operations”, hal. 257. 47 Outer Space Treaty, Ps. IX.

48 Ram Jakhu, “Iridium-Cosmos Collision and Its Implications for Space Operations”, hal. 261.

49Ibid.

50Space Situational Awareness (SSA) didefinisikan sebagai kemampuan untuk melihat, memahami,

serta memprediksi lokasi fisik dari benda angkasa, baik benda angkasa alami seperti meteor maupun benda angkasa buatan manusia yang terdapat pada orbit bumi. SSA ditujukan untuk menghindari terjadinya tabrakan serta untuk menjaga stabilitas lingkungan ruang angkasa.

51 Jeffrey White, “Iridium Satellite: Aviation – We Are Everywhere You Want To Fly”, (5 November

2009), http://freepdfdb.com/pdf/iridium-satellite-eurocontrol-eurocontrol-5371386.html, diunduh pada 27 Mei 2013.

52Ibid.

53 Associated Press Report (Borenstein, Birch), 13 Februari 2009.

54 Ram Jakhu, “Iridium-Cosmos Collision and Its Implications for Space Operations”, hal. 257-258.

55Ibid.

56 Frans G. von der Dunk, Too-Close Encounters of Third-Party Kind: Will The Liability Convention

Stand the Test of The Cosmos 2251 – Iridium 33 Collision?.

57Ibid.

58Ibid.

Referensi

Dokumen terkait

Prosječne vrijednosti ukupne količine oborina na području grada Varaždina u periodu od 10 godina ( 2007. godine), da linearni trend koji pokazuje porast količina oborina

Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu, tetapi materialisme mengatakan bahwa pada akhirnya/pada

Pengertian teori pendidikan personal ditandai dengan pandangan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, sama seperti konsep

Klor memiliki 7 elektron valensi ([Ne]3s 2 3p 5 ) sehingga apabila menerima satu elektron lagi maka jumlah elektron valensinya menjadi 8 yaitu sama dengan Ar (gas mulia).. Oksigen

Sedangkan manfaat pemberian tunjangan kesejahteraan karyawan menurut Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan (2009:269) antara lain: 1) Penarikan tenaga kerja yang lebih efektif,

a) Wawancara, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Pengumpulan data melalui berupa tanya jawab dengan

Pada “Perancangan Buku Pop-Up Sebagai Media Promosi Taman Wisata Alam Angke Kapuk” tipografi memiliki peran penting dalam perancangan buku pop-up Taman Wisata Alam Angke

"ibrasi molekul adalah yaitu keadaan dimana ikatan antar atom-atom dalam molekul merenggang dan merapat.Ada beberapa  enis vibrasi yang berlangsung pada atom-atom