SUHARTONO: Malaikat Penjaga yang Tak Kenal Lelah. Saya kumpulkan mereka semua itu, saya berikan gambaran. Jadi saya membentuk pagar hidup.

Download (0)

Full text

(1)

SUHARTONO:

Malaikat Penjaga yang Tak Kenal Lelah

“Saya kumpulkan mereka semua itu, saya berikan gambaran. Jadi saya membentuk pagar hidup.” Sebagai seorang tentara, pribadi Suhartono telah terlatih untuk bertanggung-jawab atas tugas dan perannya, baik di dalam kesatuan maupun keluarga. “Saya seorang pemimpin, saya punya keluarga. Jadi tanggung jawab tidak hanya 30 orang ini,” begitulah salah satu karakteristik kepemimpinan Suhartono. Selain itu, figur yang satu ini juga merupakan sosok pemimpin yang begitu memperhatikan bawahannya. “Saya yah, saya ikuti semoga anak buah saya aman, anak buah saya ga terjadi apa-apa,” ungkapan itulah yang terlontar ketika ia menceritakan pengalamannya di lapangan.

Pribadi Suhartono yang begitu perhatian terhadap orang lain, terutama orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, telah menjadi karakter figur ayah tiga anak ini dalam setiap tugasnya. Dalam kepemimpinannya, Suhartono tidak pernah melepaskan satu detik pun perhatian atas orang-orang yang dipimpinnya. Sebagai sang penjaga, Suhartono mampu membagi tanggung-jawabnya antara tugas dan relasi personal. Ia mengetahui apa yang dibutuhkan oleh orang di sekitarnya dan pada akhirnya, ia akan berupaya memenuhi kebutuhan tersebut.

Sikap tersebut tercermin dalam pernyataan Suhartono sebagai berikut, ”Nah, jadi Komandan harus seperti itu. Walaupun kita ngasih berapa aja yang penting ada atensinya. Bukan jumlahnya. Tapi atensinya perhatian kita.” Perpaduan antara tanggung jawab dan perhatian tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang solid.

Kesolidan yang terbentuk pada kepemimpinan Suhartono juga dipengaruhi oleh ketekunannya dalam menjalankan tugas. Oleh karenanya, ia juga menerapkan standar-standar keteraturan bagi orang-orang di sekitarnya. Di dalam keluarga, misalnya, Suhartono akan menerapkannya aturan-aturan sebagai berikut, “Kan jadi istrinya tentara itu kan harus kuat mental, mampu berdiri sendiri. Karena sewaktu-waktu suaminya itu pergi. Mungkin anak sakit, mau sekolah segala macam ibu itu harus bisa jadi kepala rumah tangga juga ibu rumah tangga. Gak boleh main-main. Jadi kita di tentara itu kita nikah itu satu kali.”

(2)

Pembentukan standar nilai tersebut juga tampak dalam kepemimpinan Suhartono. “Artinya pada diri seorang pemimpin memang prinsip, adat, kepemimpinan itu memang harus dilaksanakan. Pemimpin itu harus takwa, sampe legowo, jadi banyak itu syarat-syarat seorang pemimpin.” Oleh karenanya, setiap keputusan yang dibuatnya selalu mengacu pada nilai-nilai tersebut.

Selain didasari oleh nilai pribadinya, keputusan yang diambil oleh Suhartono kerapkali menghindari konflik personal. Pada penerapannya dalam tugas-tugas kemiliteran, Suhartono tidak segan-segan untuk mengambil keputusan yang berdampak sosial. Keputusan ini tampak ketika ia ditugaskan di Aceh, “Sholat Jum’at saja saya ambili itu naik truk. Saya jemput di desa-desa, antar jemput itu. Di situlah jadi pagak hidup dek, jangan sampe tentara itu jadi momok ditakuti.”

Dengan karakter kepemimpinan seperti ini, Suhartono lebih mendambakan kerjasama yang dilandasi oleh rasa tulus dan ikhlas dari rekan kerjanya. Dengan begitu keputusan apapun yang dibuatnya haruslah mendapat dukungan yang penuh dari orang-orang di sekelilingnya. Sekali waktu kepercayaan terhadapnya runtuh, maka dukungan terhadapnya juga akan menurun. Pada titik tersebut, Suhartono meninggalkan perannya sebagai penjaga dan menjadi sang pengendali.

Peran sang pengendali terlihat ketika Suhartono harus menegakkan disiplin kepada anak-anaknya. “Ya mungkin mangkel, namanya anak muda. Maunya kan enak. Tapi yang penting dia saya ajak bicara. Kalo ada keperluan, beritahu. Entah itu kegiatan kampus. Nggak papa yang penting kamu beri tahu, saya pulang jam sekian ada acara apa.”

Orientasi pada Nilai Kekeluargaan

Sebagai figur penjaga, perannya sebagai ayah begitu kentara dalam kehidupan anak melalui nilai-nilainya. “Saya nggak tahu pacarannya gimana, yang penting itu pilihanmu, kalau jodoh, kalau pilihanmu karena saya kan nggak tahu. Karena saya berikan gambaran dek, untuk jadi istri itu tidak gampang. Saya nggak ingin kamu menikah dua kali, tapi seumur hidup. Makanya itu kamu milih itu harus betul-betul. Paling nggak seimanlah sama kamu.”

Penerapan nilai-nilai tersebut sangatlah penting bagi Suhartono yang menganggap keluarga sebagai tempat bernaung. Oleh karenanya, Suhartono bertekad menjadi suri tauladan yang baik bagi setiap anggota keluarganya. Bagi sosok

(3)

pemimpin yang selalu merindui ketenangan ini, keluarganya sangat membantu dirinya untuk menemukan semangat dan kekuatan dirinya.

Iklim kekeluargaan membantu Suhartono meraih capaian-capaian tugas-tugasnya. Tidak jarang juga penyelesaian dalam pekerjaan selalu mengacu pada pola-pola kekeluargaan. Suhartono begitu tertarik untuk membentuk kelompok-kelompok atau paguyuban-paguyuban sebagai media untuk membantu pekerjaannya. Pendekatan kekeluargaan yang ia terapkan dalam mengatasi kasus perselisihan antar kelompok di Madiun dapat menjadi contoh.

“Di Madiun itu ada tukang becak dek, ada 2500 tukang becak. Dan orang-orang yang mampu, juga saya kumpulkan saya bentuk paguyuban. Alhamdulillah orang-orang yang mampu ini bisa membantu tukang-tukang becak dengan tulus ikhlas. Saya hanya sarana dan mengadakan upacara, dan mereka yang menyerahkan itu sendiri.”

Dengan cara ini, Suhartono berhasil mempertemukan kedua belah pihak dan mengatasi perselisihan secara damai. “Iya saya mengatasinya melalui paguyuban itu. Dan mereka itu setiap bulan saya ajak makan bersama dek. Ya dari tadi itu, pokoknya saya dan perwira saya bisa makan di situ.”

Orientasi Suhartono terhadap keteraturan dan ketentraman tidak dapat dipungkiri lagi menegaskan karakternya sebagai seorang malaikat penjaga (guardian angel) yang hangat. Suhartono akan berada di mana saja untuk mencari persoalan-persoalan yang harus diselesaikannya. Tentunya hal ini terkait dengan tugas dan perannya di dalam pekerjaan.

Dalam menghadapi perbedaan pendapat, seorang penjaga tidak langsung memberikan sanggahan ataupun tanggapan. Suhartono cenderung mendekati secara personal untuk mencari jalan tengah yang terbaik. Umpan balik akan diluncurkan seiring dengan kedekatan yang telah dibina sebelumnya. Pada saat bertugas di Aceh nampak jelas peran yang ia mainkan, “Saya lihat data tadi, istrinya itu tamatan guru agama, tamatan IAIN. Itu saya suruh beri ceramah. Itu ada yang tidak datang, ya saya tanya mungkin ada masalah dengan istri. Saya ndak marahi itu. Saya tanya kan bagaimana permasalahannya. Dengan begitu mereka justru segan.”

Sikap tersebut juga diterapkan Suhartono kepada anak buahnya, “Nah kita pemimpin harus bisa perhatian sama anak buah dalam hal itu. Ada anak buah yang sakit. Kita harus datangi, jenguk, sakit apa? Udah seneng anak buah itu.” Pernyataan

(4)

dalam menjalin keharmonisan hubungan untuk menjaga agar anak buahnya tetap sejalan dengannya. Dengan modal tersebut Suhartono dapat menciptakan suatu relasi yang efektif dengan rekan kerja ataupun bawahannya. Dengan kata lain, Suhartono mampu mengelola sumber daya manusianya melalui pendekatan personal yang efektif.

Kecenderungan untuk menarik diri dari perselisihan membawa Suhartono menjadi antisipatif terhadap segala ancaman yang mengganggu keteraturan. Dengan begitu, ia kerapkali sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan. Terlebih pada tindakan yang berdampak pada orang banyak. “TNI waktu itu masih angkatan darat dan udara. Tugas yang berat di situ, mengatur personil. Menempatkan jabatan seseorang yang kaitannya dengan masalah hajat hidup orang banyak, kan harus hati-hati itu.”

Di samping itu, upaya figur ini dalam membangun komunikasi dua arah begitu terasa ketika berinteraksi dengan orang lain. Tentunya sudah menjadi kewenangan seorang komandan ketika harus memberikan instruksi kepada anak buahnya. Namun, Suhartono lebih menyukai komunikasi yang seimbang, “Sedangkan kita ada saatnya memadukan antara otoriter dan demokratis.”

Keseimbangan komunikasi yang ia terapkan senyatanya menciptakan komposisi yang indah ketika berpadu dengan perannya sebagai guardian angel. Dapat dibayangkan kerjasama yang dibangun oleh Suhartono akan bersifat pelayanan. Alih-alih menjadi seorang abdi dalem, ia cenderung merupakan seorang supporter yang begitu disiplin dalam mendukung setiap orang di sekelilingnya.

Kekuatan Kelompok

Komposisinya sebagai sang penjaga akan semakin solid dengan kemampuan Suhartono untuk melindungi bawahannya dari segala bentuk gangguan, baik dari dalam maupun dari luar. Peran ini hanya efektif dijalankan oleh pribadi yang memiliki tanggung jawab yang penuh terhadap kelangsungan suatu tugas.

Di dalam menjalankan tugasnya, Suhartono menganggap kelompok kerja sangat penting. Hal ini jugalah yang membuat pria kelahiran Kertosono, 58 tahun yang lalu ini, begitu mempertahankan suasana harmonis diantara anggotanya. Relasi yang dekat dan hangat di dalam kelompok kerja merupakan bangunan yang sangat kuat guna menyelesaikan pekerjaan.

(5)

Sang penjaga juga memiliki kecenderungan untuk memberikan masukan kepada anggota kelompok kerja. Akan tetapi, masukan-masukan tersebut tidaklah bersifat determinan. Suhartono cenderung meminta pendapat orang lain terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan. “Kalo libur mesti keluar. Keluarpun ndak saya tentukan sendiri sama istri, tapi saya mesti ngajak anak-anak.”

Di dalam ranah pekerjaan, masukan-masukan tersebut muncul dengan sendirinya dikarenakan Suhartono akan terlibat langsung di dalam penyelesaian setiap pekerjaan. Di samping menjalankan peran sebagai guardian angel, Suhartono juga mengumpulkan dan meramu pengalaman-pengalaman di lapangan untuk dijadikan panduan bagi pelaksanaan tugas di masa mendatang.

“Ini yang merubah kita ini adalah, di samping kita belajar dari pengalaman, nggak bisa teoritis saja. Kadang teori itu kita baca dari literature, ada yang nggak cocok juga. Jadi kita belajar dari pengalaman orang itu juga ada manfaatnya.”

Melalui pengalaman-pengalamannya di lapangan, Suhartono mengikatkan diri pada suatu posisi yang cukup penting ketika menjadi penasehat bagi kinerja kelompok. Walaupun sebenarnya posisi penasehat disandangnya sebagai suatu kewajiban dalam pekerjaan, akan tetapi kejeliannya dalam membaca fakta-fakta yang mendetail membuat setiap saran yang dikeluarkannya bernas dan bermanfaat. Seperti yang pernah dikatakannya, “Saya ingin keberadaan saya bermanfaat.”

Kegunaan dari ramuan pengalaman tersebut terlihat ketika ia menjadi komandan yang memimpin pasukan dalam suatu operasi di Timor Timur. “Karena di sana walaupun begitu masih ada istilahnya percaya atau tidak di situ pada main-main dukunnya. Jadi supaya nggak bisa dilihat juga begitu. Anggota jalan ke sana, lha ini Fretelinnya di sini.”

Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya atas situasi tersebut, Suhartono mengambil keputusan yang efektif guna menyelamatkan para anggotanya. “Saya tunjukkan ke sana, kalau saya teriak-teriak kan jadi didengar kemudian, gitu. Lha khawatirnya nanti jalan ke sana, ini yang sini nembak, kan dihadang mesti ada korban tho. Saya yang tahu saya tunjukkan begitu.”

Tampak bahwa melalui pengalamannya, Suhartono berupaya untuk menegakkan tradisi-tradisi ke dalam sebuah ritus pekerjaan. Dengan begitu keharmonisan di lingkungan kerja dapat terbangun. Pada saat itu, peran sang penjaga akan kembali dominan. Guardian angel akan menjaga tradisi yang telah terbentuk

(6)

Untuk menjaga tradisi tersebut terkadang sang penjaga melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan tugasnya. Sebagai seorang komandan militer, tidak pada fungsinya jika Suhartono menerapkan kebijakan tentang pengelolaan keuangan pribadi anak buahnya. Namun, ini semua bukanlah masalah baginya selama tidak merusak tradisi-tradisi yang sedang dijaganya. Dengan semangat untuk membantu orang lain, ia juga menerapkan kewajiban menabung bagi seluruh anggota tentaranya. Menurut pengalaman Suhartono, setiap prajurit harus menabungkan uangnya agar setelah kembali dari tugas mereka dapat membeli sekedar oleh-oleh bagi sanak famili.

Fakta-fakta itu menunjukkan bagaimana sang penjaga tampil sebagai ayah bagi anak buahnya. Kerapkali Suhartono mengingatkan kepada anak buahnya bahwa hidup itu harus penuh persiapan. “Jadi hidup ini tidak hanya makan, tidur, berak, makan, tidur, berak. Sewaktu-waktu kamu akan berkeluarga, suatu waktu kamu kan butuh untuk membantu keluargamu, bantu anak, jangkanya panjang saya beri tahu.”

Kebijakan yang berfokus pada detail-detail kebutuhan orang lain begitu nampak pada kepemimpinan Suhartono. Hal ini juga terlihat ketika pasukannya mengalami krisis perbekalan. Sang penjaga dengan sigap memenuhi kebutuhan tersebut. “Akhirnya saya mikir, saya manggil keluarga saya. Mulai besok, ibu ngajari ibu-ibu untuk masak. Cuman beli berasnya dari kita saja. Akhirnya saya beli padi. Padi ini saya giling. Besoknya sudah mulai diajari masak. Tanpa mengambil uang dari Komando. Makan apa adanya. Yang penting saya dengan perwira saya dengan anggota makan.”

Peran guardian angel yang hangat tampil kembali sebagai karakter kepemimpinan Suhartono ketika ia berhasil menenangkan masyarakat yang membantu memasakkan makanan tentara. “Ya awalnya ibu-ibu itu ngomel. Tapi setelah saya beritahu, ngomel tapi juga sambil belajar.”

Memang kadangkala orang di sekelilingnya merasa terganggu dengan keteguhan hati Suhartono dalam menerapkan nilai-nilainya. Penekanannya terhadap relasi personal terkadang melenakan sehingga ia dapat mengambil keputusan terlalu cepat. Konsekuensinya adalah orang-orang yang bekerjasama dengannya harus mengimbanginya dengan cara memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan logis seputar keputusan yang diambilnya.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in