• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENAL PENGGEREK CABANG HITAM (Xylosandrus compactus)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENGENAL PENGGEREK CABANG HITAM (Xylosandrus compactus)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MENGENAL PENGGEREK CABANG HITAM

(Xylosandrus compactus)

Oleh

Nuryanti, SP.1 dan Embriani, SP.2 BBPPTP Surabaya

1. Latar Belakang

Kopi merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang pemanfaatannya sebagai minuman non-alkohol yang tersebar luas. Dalam usaha budidaya tanaman kopi tidak lepas dari permasalahan, diantaranya produktivitas dan mutu. Produktivitas dipengaruhi antara lain oleh tingkat kesesuaian lingkungan tumbuh, teknik budidaya,varietas dan adanya gangguan hama dan maupun penyakit (OPT) yang ada di lapangan, mulai dari pembibitan sampai dengan tanaman dewasa. Secara ekonomis pertumbuhan dan produksi tanaman kopi sangat tergantung pada atau dipengaruhi oleh keadaan iklim dan tanah.

Kebutuhan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah mencari bibit unggul yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit (OPT). Setelah persyaratan tersebut dapat dipenuhi hal yang juga penting adalah pemeliharaan, seperti pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh (naungan), dan pemberantasan hama dan penyakit.

Alih guna lahan dari hutan menjadi kebun kopi maupun sistem pertanian lainnya akan menyebabkan perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya terutama fungsi hidrologi, kesuburan tanah, cadangan karbon dan keragaman hayati. Pengelolaan lahan dengan menanam berbagai jenis pohon sebagai penaung tanaman kopi (agroforestri berbasis kopi) telah banyak dilaporkan dapat membantu mempertahankan fungsi lingkungan. Guna memperoleh produksi pertanian yang berkelanjutan, beberapa faktor eksternal yang harus diperhatikan adalah mempertahankan ketersediaan cahaya, air dan hara yang cukup dan mencegah serangan hama dan penyakit. Agroforestri berbasis kopi dengan pohon penaung yang lebih beragam hingga menyerupai hutan, mempunyai stabilitas ekosistem yang lebih tinggi sehingga potensi terjadinya ledakan hama berkurang (Schroth et al, 2000).

2. Penyebaran Pengerek Cabang Hitam

Serangga penggerek cabang hitam merupakan hama utama kopi, hama utama merupakan hama yang memiliki potensi biotik (daya reproduksi, daya makan

(2)

atau daya rusak, dan daya adaptasi) yang tinggi. Hama tersebut selalu mengakibatkan kehilangan hasil panen yang relatif tinggi sepanjang tahun, bahkan sering dilaporkan mengalami eksplosi, apabila kondisi lingkungan mendukung.

Kematian cabang akibat serangan serangan penggerek cabang hitam dapat menurunkan hasil panen yang cukup berarti. Lavabre (1958) mengatakan bahwa pada kopi robusta serangan Xylosandrus compactus dapat menurunkan hasil sekitar 20%. Penyebaran penggerek cabang hitam kopi terjadi melalui perpindahan hama dari satu pohon ke pohon lainnya. Semakin rapat jarak antar pohon, kemungkinan terjadinya perpindahan (penularan) hama ke pohon lainnya semakin besar (Hindayana et al., 2002) Perpindahan tersebut biasanya dilakukan oleh serangga betina dewasa yang sudah kawin dan keluar dari lubang gerek untuk mencari inang yang baru . X. compactus lebih suka menyerang cabang bagian atas. Lubang gerek pada cabang bagian atas diduga dipengaruhi oleh:

a. Fase pertumbuhan pohon kopi

Pada sistem kopi naungan sederhana, pohon penaung Gliricidia umumnya menggugurkan daun pada musim kemarau sehingga cahaya matahari yang masuk ke tanaman kopi lebih banyak, sehingga meningkatkan aktivitas fotositesis dan pertumbuhan cabang. Cabang-cabang kopi muda umumnya tumbuh pada bagian atas tanaman dan mempunyai struktur yang lunak sehingga menarik bagi X. compactus (Najiyati, 2004).

b. Tingkat kemudahan ditemukan

X. compactus lebih sering menyerang tanaman secara vertikal dari pada secara horisontal (Dridz. 2003). X. compactus betina dewasa setelah kawin akan keluar dari lubang gerek untuk mencari inang yang baru. Karena lubang gerek lama yang ditinggalkan umumnya berada pada bagian atas tanaman, maka penggerek tersebut lebih mudah menemukan inang baru yang ada di bagian atas pula.

Penggerek cabang hitam kopi (X. compactus) ) merupakan hama utama yang menyerang tanaman kopi dan menyebabkan penurunan hasil kopi secara nyata. Proses pembuatan lubang yang dilakukan oleh X. compactus menyebabkan ujung ranting layu, menguning dan mati.

(3)

3. Daur Hidup X. compactus

Gambar 1. Imago dan Telur Xylosandrus compactus (Sumber : exento.Hawaii.edo) Klasifikasi Xyleborus dan Xylosandrus menurut Kalshoven (1981) adalah sebagai berikut: golongan Animalia, filum Arthropoda, kelas Insecta, ordo Coleoptera, family Curculionidae, genus Xyleborus dan Xylosandrus, spesies Xyleborus fornicatus Eichh., Xylosandrus morigerus (Bldf.), dan Xylosandrus compactus Eichh. Sinonim X. morigerus adalah Xyleborus coffeae Wurth., sedangkan sinonim X. compactus adalah Xyleborus morstatti Hag.

Jumlah telur X. compactus sekitar 30 – 50 butir, diletakkan dalam kelompok kecil terdiri dari 8 – 15 butir. Sesudah lima hari, telur menetas. Sepuluh hari kemudian menjadi larva, setelah itu menjadi pupa. Stadia pupa selama tujuh hari, kemudian ia keluar sebagai dewasa. Hama X. compactus menyelesaikan siklus hidupnya yang mengalami metamorphosis sempurna, dari telur, larva, pupa dan serangga dewasa di dalam lubang gerek. Munurut (Kalshoven, 1981) pada ranting yang diserang oleh X. compactus juga dapat ditemukan X. morigerus. Imago betina berukuran panjang 0,16-0,18 cm, mula-mula berwarna cokelat cerah tetapi dalam 3-4 hari berubah warna menjadi hitam mengkilap. Imago jantan berukuran panjang kira-kira setengah panjang imago betina, tidak dapat terbang, mula-mula berwarna cokelat cerah tetapi dalam 3-4 hari menjadi cokelat kemerah-merahan. Kumbang betina meletakkan telur di dalam lubang gerekan.Telur berukuran sangat kecil, kurang dari 0,1 cm, halus, dan berbentuk oval. Larva tidak berkaki, berwarna putih, terdiri atas 2 instar, memakan jamur ambrosia sebagai makanannya. Pupa mula-mula berwarna putih, tetapi kemudian menjadi cokelat cerah dengan sayap hitam (betina) (Hara & Beardsley 1979).

4. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Populasi

Faktor penting yang berpengaruh terhadap perkembangan populasi dan serangan penggerek cabang hitam adalah kelembaban udara. Kelembaban udara yang selalu tinggi

(4)

terjadi pada musim hujan di daerah dengan curah hujan tinggi. Kelembaban udara yang tinggi diperlukan bukan untuk perkembangan kumbang, melainkan untuk petumbuhan jamur ambrosia di dalam lubang gerekan yang selanjutnya menentukan pertumbuhan larva dan keperidian kumbang betina dewasa.

5. Gejala Serangan

Menurut Drizd (2003) aktivitas larva ketika makan jamur tersebut menyebabkan rusaknya jaringan tanaman pada lubang, sehingga mengakibatkan semakin lebar dan panjangnya lubang gerek. Serangan X. compactus ditandai oleh adanya lubang gerek berdiameter sekitar 1-2 mm pada permukaan cabang tanaman kopi. Lubang gerek ini menuju ke bagian dalam ranting hingga mencapai panjang 20-50 mm. Lubang gerek dibuat oleh X. compactus betina dewasa sebagai tempat tinggalnya. Setelah menggerek, serangga betina meletakkan telur dalam lubang tersebut hingga menetas dan sampai tumbuh dewasa. Larva yang berada di dalam lubang gerek tidak memakan jaringan tanaman tetapi memakan jamur ambrosia. Jamur ambrosia tersebut kemudian tumbuh di dalam lubang gerekan untuk menjadi satu-satunya bahan makanan kumbang dan larvanya. Jamur ambrosia (Ambrosiella spp. dan Raffaelea spp.) merupakan jamur non-patogenik, tetapi bersama dengan jamur ambrosia kumbang juga dapat membawa jamur Fusarium dan Ceratocystis yang patogenik terhadap tanaman. Daun cabang atau ranting yang digerek layu, menguning, dan mengering yang kemudian diikuti dengan mengeringnya ranting dibagian atas lubang gerekan. Kehadiran jamur patogenik membantu mempercepat kematian cabang dan ranting.

Serangga betina dewasa yang telah kawin akan keluar dari lubang gerek untuk mencari inang baru. Akibat adanya lubang gerek di dalam ranting menyebabkan terganggunya transportasi nutrisi sehingga ujung ranting layu, daun menguning, ranting hitam dan dapat menyebabkan kematian ranting. Apabila serangan berat terjadi pada sebagian besar ranting, maka dapat mengakibatkan kematian tanaman. Serangan X. compactus pada tanaman muda menyebabkan daun-daunnya gugur sehingga pertumbuhan dan pembuahannya terhambat, sedangkan serangan pada tanaman yang telah tua menyebabkan ranting-rantingnya mengering sehingga hasil kopi menurun.

(5)

6. Teknik Pengendalian

Menurut Untung (1993) pengendalian dilakukan dengan mematikan hama yang menyerang dengan tangan atau dengan bantuan peralatan. Teknik

Pengendalian yang dapat dilakukan:

1. Fisik, Cabang dan ranting terserang dipangkas dan kemudian dibakar. 2. Pemanfaatan musuh alami atau hayati.

Adapun pengendalian hayati yaitu pengendalian dengan pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang dilandasi oleh pengetahuan ekologi terutama teori pengaturan populasi oleh pengendalian alami dan keseimbangan dinamis ekosistem. Mengembangkan musuh alami Tetrastichus xylebororum Dom. yang merupakan endoparasit pada larva kumbang bubuk (Pracaya, 2008).

3. Budidaya, Pengendalian secara budidaya dilakukan dengan pemangkasan tanaman pelindung dan cabang untuk mengurangi kelembaban di sekitar tanaman kopi.

Upaya pencegahan serangan dilakukan dengan tujuan :

1. Mengurangi serangan terhadap tanaman kopi, dengan jalan memberikan peluang bagi hama untuk menyerang pohon penaungnya,

2. Dapat mempertahankan intensitas cahaya dan suhu yang optimal bagi tanaman kopi untuk tumbuh sehat,

3. Memperbanyak jumlah predator, dengan menggunakan strategi pengendalian biologi, diharapkan penggunaan insektisida kimia dapat ditekan serendah mungkin.

7. Kesimpulan

Penggerek cabang hitam kopi (X. compactus.) merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman kopi, kelembaban udara merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap perkembangan populasi dan serangan penggerek cabang hitam sehingga teknik pengendalian perlu dilakukan secara optimal.

8. Daftar Pustaka

Dewi, W. S., Yanuwiyadi, B., Suprayogo, D. dan Hairiah, K. 2006. Alih guna hutan menjadi lahan pertanian : Dapatkah sistem agroforestri berbasis kopi mempertahankan diversitas cacing tanah. Agrivita 28 (3): 198-220.

Dridz, Lara. 200. The Black Twig Borer : A study of the black Twig Borer : ATwig study of Damage Done to unprotected Hawaian Coffe. http : //www.11 of.edu/mccord/The %20 Black %20 Twig % 20 Borer pdf. 6 April 2015.

(6)

Hara, A. H., & J. W. Beardsley, Jr. 1979. The biology of the black twig borer,

Xylosandrus compactus (Eichhoff), in Hawaii. Proc. Hawaiian Entomol Soc.

18 (1):55-70

Hindayana, D., Judawi, D., Priharyanto, D., Luther, G.C., Purnayara, G.N.R., Mangan, J., Untung, K., Sianturi, M., Mundy, R. dan Riyanto. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kopi. Proyek Pengendalian Hama Terpadu. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Bina Produksi Perkebunan. Departemen Pertanian. Jakarta. 52pp.

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. Revised and translated by P.A.Van Der Laan with the assistant of G.H.L. Rothschild, CSIRO, Canberra. PT Ichtiar Baru-van Hoeve,Jakarta.

Kasumbogo Untung. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Lavabre, E.M. 1959. Le scolyte des branchettes du cafeier robusta, Xyloborus

morstatti Hage. The Cafe, Caco 3 : 21-33

Mangold, J. R., R. C. Wilkinson, & D. E. Short 1977. Chlorpyrifos sprays for control of

Xylosandrus compactus in flowering dogwood. J Econ. Ent. Soc. 70:789-790.

Najiyati, S.D. 2004. Kopi Budidaya dan Penanganan PascaPanen. Penebar Swadaya. Bogor.

Pracaya. 2008. Hama dan penyakit tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Schroth, G., Krauss, U, Gasparotto, L., Duarte, J.A. 2000. Pest and diseases in agroforestry systems of the humid tropics. Agroforestry systems 50: 199-241.

(7)

Gambar

Gambar 1. Imago dan Telur Xylosandrus compactus (Sumber : exento.Hawaii.edo)  Klasifikasi  Xyleborus  dan  Xylosandrus  menurut  Kalshoven  (1981)  adalah  sebagai  berikut:  golongan  Animalia,  filum  Arthropoda,  kelas  Insecta,  ordo  Coleoptera,  fami

Referensi

Dokumen terkait

Tindakan pemangkasan pada tanaman kopi ditujukan untuk menghindari kelembaban yang tinggi, memperlancar aliran udara sehingga proses penyerbukan dapat berlangsung secara

Selain itu, setek cabang tidak merusak rumpun bambu induknya, dan pembentukan rumpun lebih cepat (Rao dkk., 1992). Pada setek cabang tanaman bambu hitam perlu

Dari hasil pengamatan di lapangan ditemukan beberapa OPT utama yang menyerang tanaman jeruk RGL, yaitu hama tungau merah, ulat peliang daun, penggerek buah dan lalat buah..

Dari hasil pengamatan di lapangan ditemukan beberapa OPT utama yang menyerang tanaman jeruk RGL, yaitu hama tungau merah, ulat peliang daun, penggerek buah dan lalat buah..

serangga-serangga yang baru kali ini menyerang tanaman hutan sengon dan jabon yaitu hama trips yang menyerang bibit sengon di persemaian dan hama penggerek

Dari enam spesies tersebut hanya empat spesies yang banyak ditemukan sebagai hama utama padi yaitu penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek batang

PEMETAAN SEBARAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI Hypothenemus hampei Ferrari DAN UPAYA MENGATASINYA MELALUI APLIKASI JAMUR ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana Balsamo DI LABORATORIUM Studi

Serangan hama penggerek cabang minggu ketiga Pada data grafik serangan hama penggerek cabang kopi Xylosandrus sp minggu ketiga dapat di ketahui bahwa penurunan serangan hama yang