PERGESERAN NILAI ULOS BATAK TOBA
PADA PERIODE 1990-2016
STUDI KASUS PERNIKAHAN DI YOGYAKARTA
SKRIPSI
Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sejarah
Oleh:
Herpan Rico Sigalingging NIM : 114314009
PROGRAM STUDI SEJARAH
JURUSAN SEJARAH FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017
MOTTO
Tiada doa yang lebih indah selain doa agar skripsi ini cepat
selesai
Orang yang tidak pernah membuat kekeliuan adalah orang
yang tidak pernah melakukan apapun
HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan skripsi ini untuk:
1. Tuhan yang Maha Esa yang senantiasa memberi berkat-Nya.
2. Bapak B. Sigalingging dan Ibu S. Situngkir yang tak pernah lelah berjuang dan memberi dorongan moral maupun materiil sampai saat ini dengan penuh cinta kasih.
3. Abangku Hendra Sigalingging, S, S. M. Hum, Sri Murtini, S.pd, Kopderani Situngkir, dan kakakku Hasferika Sigalingging, S. Kep. yang selalu memberi semangat dan doa.
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul Pergeseran Nilai Ulos Batak Toba Pada Periode 1990-2016 Studi Kasus Pernikahan DI Yogyakarta ini bertujuan untuk menjawab tiga permasalahan. Pertama, sejarah perpindahan masyarakat Batak Toba di Yogyakarta. Kedua, peran Ulos dalam upacara adat masyarakat Batak Toba. Ketiga, bagaimana pergeseran nilai Ulos dalam pernikahan adat masyarakat Batak Toba di Yogyakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dan studi lapangan. Studi ini menggunakan pendekatan antropologi untuk memahami bagaimana pergeseran nilai Ulos masyarakat Batak Toba di Yogyakarta studi kasus pernikahan. Konsep teori yang digunakan modernisasi dan migrasi untuk menggambarkan proses masuknya masyarakat Batak Toba di Yogyakarta dan perubahan fungsi Ulos dalam acara adat Batak Toba di perantauan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Ulos terjadi akibat dan modernisasi lingkungan yaitu secara pemakaian, waktu, tempat, dan banyak yang tidak memahami arti dan fungsi Ulos dalam acara adat pernikahan Batak Toba yang dilakukan di Yogyakarta.
Abstract
Thesis that titled Displacement Value Of Ulos Batak Toba In The Period
1990-2016 case study of marriage in yogyakarta aims to answer three problems.
First, the history of displacement the Toba community was in Yogyakarta. Second ,the role of ulos in traditional ceremonies on the toba community. Third, the displacement of ulos value in marriage the community adat Batak Toba in Yogyakarta.
This research is literature’s research and field studies. Literature research to know the history of Ulos and history of Batak Toba in Yogyakarta. Field research was carried out with using interviews to related of displacemnet value Ulos Batak Toba. This study used anthropology approach to understand how far displacement the value of Ulos in Yogyakarta the study cases of marriages. The concept of the theory used of modernization and migration to illustrate how the process of the entry of the Batak Toba community in Yogyakarta and alteration of the function Ulos in a proper ceremony Batak Toba in foreign area.
The results of this research show that Displacement Ulos were caused by modernization, including, discharging, time, place, while others are no understand the meaning of Ulos function in a proper ceremony the one of them a marriage performed in Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga dengan berkat dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pergeseran Nilai Ulos Batak Toba Pada Periode 1990-2016 Studi
Kasus Pernikahan Di Yogyakarta ini dengan baik. Sebagaimana disyaratkan
dalam Kurikulum Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, penyelesaian skirpsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Sejarah.
Kelancaran dan keberhasilan proses pelaksanaan dan penyusunan skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang telah memberikan berkatnya kepada saya selama masa perkuliahan sampai penulisan skripsi.
2. Ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya Amang dohot Inang yang selalu mendukung dan mendoakan, serta perjuangan dan dorongan dari mereka yang tidak kenal lelah. Tanpa mereka skripsi ini akan menjadi lebih berat.
3. Untuk abang saya Hendra Sigalinging dan kakak Hasferika Sigalingging terima kasih atas dukungan dan celotehannya “Cepat Selesai, Dek”.
4. Untuk Kopderani Situngkir dan Sri Murtini Situngkir yang selalu tidak bosan untuk mengingatkan mengerjakan skripsi.
5. Dr. Hieronymus Purwanta, M.A, sebagai dosen pembimbing, terima kasih atas segala bimbingan dan masukkan kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Untuk para dosen jurusan Ilmu Sejarah Pak Rio, Pak Heri, Bu Ning, Pak Sandiwan, Pak Yerry, dan Mas Hery yang senantiasa memberikan pelajaran dan ilmu-ilmu Humaniora selama masa perkuliahan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERSETUJUAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Identifikasi Masalah ... 10 C. Rumusan Masalah ... 12 D. Tujuan Penulisan ... 13 E. Manfaat Penulisan ... 13 F. Tinjaun Pustaka ... 13 G. Landasan Teori ... 15 H. Metode Penelitian ... 24 I. Sistematika Penulisan ... 26
BAB II SEJARAH BATAK DI YOGYAKARTA A. Migrasi Batak Toba Di Yogyakarta ... 25
B. Perkembangan Batak Di Yogyakarta ... 29
B.1 Jejak Batak Di Yogyakarta ... 32
BAB III ULOS BATAK
A. Ulos Sebagai Identitas Budaya Batak ... 41
B. Ragam Ulos Pernikahan Batak ... 45
B.1 Ulos Pansamot ... 45
B.2 Ulos Hela ... 46
B.3 Ulos Pamarai (Sijalo Bara) ... 46
B.4 Ulos Todoan ... 47
B.5 Ulos Sihunti Ampang ... 48
BAB IV PERGESERAN ULOS DI YOGYAKARTA A. Pergeseran Konsep Pernikahan Batak Toba... 50
B. Perubahan Ulos Dalam Penikahan Batak Toba di Yogyakarta ... 53
B.1. Perubahan Konteks Pemakaian Ulos ... 53
B.2. Perubahan Fungsi Ulos ... 58
B.3. Pergeseran Nilai Ulos ... 60
BAB V PENUTUP Kesimpulan ... 64
Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangSumatera Utara adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang perjalanan sejarahnya terentang jauh sebelum terbentuknya provinsi ini. Sumatera Utara pun dikenal dengan Suku Batak. Suku Batak di Sumatera Utara terbagi menjadi enam suku Batak yaitu suku Batak Toba, suku Batak Angkola, suku Batak Karo, suku Batak Mandailing, suku Batak Pakpak, dan suku Batak Simalungun.
Setiap sub-suku mempunyai dialek sendiri. Seluruh dialek itu dapat dibagi atas dua dialek: Toba (termasuk dalamnya Angkola, Mandailing), dan Dairi atau Pakpak (termasuk dalam Karo). Dialek Simalungun berdiri antara Toba dan Karo, tapi lebih dekat pada Toba. Suku Batak di Sumatera adalah satu golongan etnis. Suku Batak adalah bagian dari satu golongan ras yang besar.
Dalam kehidupan masyarakat Batak ada beberapa hal yang dianggap sakral dalam ritual. Hal pertama berkaitan dengan kelahiran, hal kedua berkaitan dengan pernikahan, dan hal terakhir adalah kematian. Ketiga hal ini dipakai dalam upacara adat yang tidak bisa dilupakan atau diremehkan. Oleh karenanya, ketiga upacara ini termasuk paling penting. Salah satu hal yang paling penting adalah pernikahan.
Pernikahan pada masyarakat Batak bermakna sebagai penyatuan dua marga (klan) yang terlibat melalui pelaksanaan upacara adat. Masyarakat Batak percaya upacara adat dapat mempererat hubungan antarkeluarga yang bersangkutan sampai ke generasi selanjutnya. Pada suku Batak Toba, jika seorang laki-laki akan
menikah, dianjurkan agar calon istrinya berasal dari marga yang sama dengan sang Ibu (dikenal dengan istilah pariban) agar semakin mendukung hubungan kekerabatan dengan keluarga sang Ibu (Hula-hula).1
Upacara pernikahan masyarakat Batak: 1. Acara sebelum pernikahan
a. Marhusip
Marhusip maksudnya masing-masing utusan dari kedua belah pihak, yakni
pihak parboru (pihak si perempuan) dan pihak paranak (pihak si laki-laki) bertemu untuk merundingkan ancar-ancar (kesepakatan) jumlah mas kawin yang diserahkan pihak paranak kepada pihak parboru, dan sebaliknya berupa Ulos yang akan diserahkan kepada pihak paranak. Hasil mufakat sewaktu marhusip ini dicatat oleh masing-masing utusan yang tidak menjadi bahan penting untuk pelaksanaan pada acara marhata sinamot (membicarakan mas kawin dan Ulos). Tempat marhusip dilaksanakan di rumah pihak parboru dan biasanya dilaksanakan pada malam hari.
b. Marhata Sinamot/ Martupol
Pada acara marhata sinamot/ martupol, pihak paranak (pihak laki-laki) beserta
dongan sabutuha (teman sekampung) dan anak borunya datang ke rumah parboru
(pihak perempuan). Pihak paranak menyediakan lauk anak lomok-lomok (babi) dan tuak na tonggi (nira), sedang pihak parboru menyediakan nasi dan dekke
sitio-tio (Ikan mas).
1
Dalam Yuli Vonny Sinaga. 2012. Ruang Dan Ritual Adat pernikahan Suku
Hal-hal yang dibicarakan pada acara marhata sinamot ini ialah sesuai dengan yang di musyawarahkan pada acara marhusip yaitu: pesta pernikahan sudah ditentukan kepada siapa yang membuat acara, kepastian jumlah mas kawin, panjar mas kawin, lauk pesta, jumlah Ulos yang diserahkan pihak parboru kepada pihak
paranak, waktu dan tanggal pesta pernikahan, dan seterusnya. Pada akhirnya
acara ini kedua belah pihak menyerahkan uang ingot-ingot (uang ingat-ingat) dengan ketentuan dari pihak paranak dua dan dari pihak parboru satu yang akan diserahkan kepada dongan sabutuha.
2. Acara Pelaksanaan Pernikahan Batak
Pada umumnya upacara pelaksanaan pernikahan pada masyarakat Batak dilaksanakan di tempat orang tua perempuan, tapi tergantung keputusan musyawarah kedua belah pihak pesta pernikahan. Urutan acara pada upacara pelaksanaan pernikahan yaitu:
a. Makanan Pendahuluan (Mambahen Sibuha-buha I)
Pada pesta pernikahan yang telah ditentukan ketika marhata sinamot, pagi-pagi pihak paranak beserta rombongan keluarga datang ke rumah parboru sambil membawa makanan sibuha-buha i (biasanya isi dalam makanan tersebut daging babi dan nasi) dan pihak parboru menyediakan ikan mas. Biaya pesta pernikahan ini ditanggung oleh pihak parboru dan paranak dengan ketentuannya: suhut
parboru menanggung beras (nasi) dan dekke (ikan) dan suhut paranak
b. Saling Memberi Bunga (Masilehon Bunga)
Setelah selesai makan sibuha-buhai, pengantin laki-laki dan perempuan dipertemukan dan saling memberi bunga yang didampingi oleh pandongani (yang menemani) dari pengantin laki-laki dan perempuan.
c. Acara Pemberkatan di Gereja (Pemasu-masuan)
Setelah selesai acara masilehonan bunga, penganti bersama rombongan pihak
parboru dan paranak berangkat ke Gereja untuk acara pamasu-masuon
(pemberkatan) oleh pendeta. Setelah pemberkatan, maka rombongan yang mengikuti acara pemberkatan dipersilahkan menyalami pengantin dan orang tua masing-masing dan seterusnya kembali ke halaman rumah parboru untuk acara makan.
d. Makan Dihalaman (Acara Mangan di Alaman)
Setelah dari Gereja, diadakanlah makan bersama di halaman rumah parboru setelah terlebih dahulu parhobas (pekerja) membagikan nasi dan daging serta teh. Dalam acara makan bersama pihak parboru dan paranak tidak duduk bersama dan mempunyai tempat tersendiri.
e. Menyampaikan ikan pihak perempuan (Pasahathon Dekke Parboru)
Setelah acara makan dimulai, maka pihak orang tua pengantin perempuan beserta famili terdekat menyampaikan dekke (ikan) kepada pihak paranak. Dekke (ikan) ini sebagian diberikan kepada pengantin dan famili terdekat dari pihak
Selesai pihak parboru memberikan dekke kepada pengantin dan famili segera pihak paranak menyampaikan tudu-tuduan ni sipanganon/namar goar (pembagian makanan) kepada pihak parboru. Tetapi pembagian Jambar (daging) atau namar goar ini dilaksanakan setelah habis acara makan bersama. Hanya pembagian leher dan hati (bila dipotong adalah babi) dapat dibagikan kepada keluarga parboru yang terdekat, pada saat makan.
f. Menerima Sumbangan Laki-laki (Manjalo Tumpak Paranak).
Sehabis makan bersama protokol dari pihak paranak memanggil semua undangan paranak, karena pihak paranak segera akan mengadakan acara papungu
tumpak (mengumpul sumbangan). Semua undangan yang menyampaikan tumpak
(sumbangan) meletakkan sumbangannya pada sebuah baskom besar yang terletak di muka pengantin dan pihak paranak. Setelah meletakkan tumpaknya, pihak pengantin dan paranak disalami dan pada saat itulah pihak paranak mengenal para penyumbang sambil menyampaikan ucapan terima kasih yang penuh kasing sayang.
g. Membagi Perjambaran (Membagi Parjabaran).
Setelah pihak paranak dan parboru duduk berhadap-hadapan di halaman rumah parboru, diangkatlah namar goar ke tengah-tengah mereka masing-masing diadakanlah musyawarah bagaimana jambar itu untuk pihak parboru dan
paranak. Sesudah musyawarah selesai dibagikanlah namar goar itu kepada
orang-orang yang berhak menerimanya.2
2
Pembagian jambar ini adalah didasarkan pada tempat dan siapa yang berpesta, sebab pada beberapa tempat terdapat parjambaran-parjambaran yang umum, antara lain:
1. Kepala bagian atas sebelah kiri (namarngingi parhambirang) diserahkan kepada boru pihak parboru.
2. Kepala bagian atas sebelah kanan (namarngingi parsiamun) diserahkan kepada
boru pihak paranak.
3. Dagu (osang) kepada tulang (paman) dari pengantin perempuan.
4. Terdiri dari rusuk (somba-somba) disampaikan kepada bona-niari yaitu hula-hula pertama dari pihak parboru.
5. Ekor (ihur-ihur) untuk suhut parboru dan dongan tubuinya(keluarga).
6. Bagian atas antara leher dengan punggung (panamboli) untuk dongan tubu pihak paranak.
7. Tulang Paha (soit) untuk unsur dalihan na tolu, dongan sahuta (tetangga),
pangula ni huria (utusan Gereja), ale-ale (teman akrab) dan untuk utusan
pemerintah setempat.
8. Membicarakan mas kawin yang tinggal (Masisisean di Alaman).
Selesai membagi namar goar atau tudu-tudu nisipanganon (inti makan), masuk lah ke acara masisisean (bertanya-jawab) atau mengkatai (membicarakan mas kawin yang tinggal). Dalam pembicaraan ini pihak parboru dan paranak masing-masing mempunyai raja parhata (protokol). Protokol inilah yang langsung bertanya-jawab, tetapi bila ada hal-hal yang sulit baru ditanyakan kepada pihak
parboru dan paranak. Inti dari acara ini pihak paranak menyampaikan jambar hepeng (uang) kepada pihak parboru.3
9. Memberikan Ulos Parboru (Mangalehon Ulos Parboru).
Selesai paranak memberikan jambar hepeng kepada pihak parboru, maka pihak parboru mempunyai kewajiban memberikan Ulos dan Ulos-ulos (berupa uang) kepada pihak paranak. Setelah Ulos disediakan parbou, maka protokol pihak paranak menyebut satu per satu siapa yang di Ulosi, yang telah tertentu urutannya. Untuk pihak parboru langsung berdiri mangulosi (menguloskan) dengan cara dari kiri ke kanan pangulosi (yang memberikan Ulos).
Urutan Ulos yang wajib diberikan sesuai ada ruhut ni adat (menurut adat): a. Ulos hela untuk pengantin.
b. Ulos pargonggom untuk ibu pengantin laki-laki. c. Ulos pansamot untuk ayah pengantin laki-laki.
d. Ulos paramanan untuk seorang saudara ayah pengantin laki-laki.
e. Ulos tutup ni ampang, untuk salah seorang boru (perempuan) paranak yang menjinjing ampang (bakul) tempat nasi atau sibuha-buha i.
Selain Ulos hela yang diterima pengantin, maka famili terdekat dari pihak
parboru juga menyampaikan Ulos kepada pengantin sehingga kadang-kadang
pengantin menerima Ulos sampai lima puluh lembar Ulos Batak atau lebih.
Sesudah penyerahan Ulos tersebut pihak parboru memberikan Ulos lagi kepada sanak famili paranak. Ulos ini adalah berupa uang dan biasanya disebut Ulos tinotun sadari (ditenun sehari). Adapun yang berhak menerima ialah:
3
1. Ompu martinodohon (nenek bersaudara). 2. Ama martinodohon (bapak saudara).
3. Namboru (anak perempuan dari nenek bersaudara). 4. Pariban (bersaudara karena istri).
5. Pariban ni suhut (bersaudara karena istri suhut). 6. Mar ompu-ompu (semarga).
7. Hula-hula pihak paranak. 8. Ale-ale pihak paranak.
9. Si ungkap Hombung (bona ni ari ni paranak).
10. Olop-olop, yang diterima oleh pengetua dari kampung parboru.
Kemudian paranak meminta lagi Ulos naso ra buruk (Ulos yang tidak rusak) sering disebut pauseang yakni sawah atau ladang. Ulos naso ra buruk ini bisa saja tidak dikabulkan, sebab hal itu bergantung kepada besarnya mas kawin dan keadaan parboru.
11. Menjemput Ketua Adat (Mangolophon Raja Huta) dan acara penutupan dari utusan Gereja.
Selesai mangulosi, parboru dan paranak memberi upah domu-domu (uang jasa perantara) kepada orang yang berjasa mempertemukan kedua pengantin. Sebagai penutup, para tamu mrngucapkan HORAS tiga kali, maka selesailah pesta unjuk (pesta peresmian perkawinan) itu, akhirnya acara ditutup dengan nyanyian dan doa berkat Gereja.4
4
Dalam kehidupan berbudaya, masyarakat Batak mengenal pakaian adat dan segala ornamennya. Salah satu elemen penting dalam dalam pakaian adat Batak adalah Ulos. Ulos merupakan sebuah selendang yang terbuat dari kain tenun. Ulos ini digunakan dalam acara adat istiadat suku Batak. Setiap acara adat yang dilakukan oleh masyarakat Batak selalu menggunakan ulos, secara khusus dalam adat pernikahan. Ulos juga memiliki sifat sakral dalam suku Batak karena ulos tersebut sudah digunakan dari jaman nenek moyang suku Batak.
Ulos merupakan salah satu benda simbolik yang melambangkan kekuatan dan lambang perdamaian. Dalam adat suku Batak khususnya upacara pernikahan terdapat dua pemberian ulos kepada pihak yang menikah yaitu Ulos na so buruh (sawah atau lading) kepada ayahnya, Ulos ragi iduplah yang diberikan kepada pihak yang menikah. Maksud dari pemberian ini yaitu agar pihak yang menikah hidup bahagia dan memperoleh anak laki-laki dan perempuan, Ulos inilah sebagai selimutnya.
Ulos juga menjadi simbol pasu-pasu atau pemberkatan sewaktu acara adat. Dalam hidup seorang laki-laki warga Batak, dia akan menerima paling sedikit tiga buah ulos adat, yaitu diwaktu lahir berupa Ulos Parompa (penggendong), pada saat perkawinan menerima Ulos Hela (Ulos Menantu), dan pada saat dia meninggal dunia yang disebut Ulos Saput (pembalut). Bagi wanita akan menerima satu ulos yang dinamai Ulos tondi pada waktu hendak melahirkan Buha Bajunya (anak sulung). Semua ulos yang difungsikan sebagai “Ulos adat” disebut Ulos
marhadohoan, yang bermakna spiritual menjadi barang pusaka, barang homitan
Dalam tata cara adat Batak, pernikahan tidak dapat dipisahkan dengan sistem kekerabatannya. Pertalian antar kerabat dengan berlandaskan Dalihan Na Tolu telah mengikat satu pihak dengan pihak lainnya dalam hubungan saling hormat menghormati. Hubungan periparan menjadi suatu hubungan saling sungkan serta satu sama lain mempunyai fungsinya masing-masing.
Dalam keluarga terikat dalam prinsip Dalihan Na Tolu, sehingga di satu pihak ia menjadi boru, di pihak lain ia menjadi hula-hula. Ini dapat diartikan bahwa satu pihak ia lebih rendah derajatnya dan oleh karenanya harus bekerja dalam setiap pesta adat. Akan tetapi di lain pihak ia lebih tinggi derajatnya oleh karena itu dilayani dalam pesta adat.
B. Identifikasi Masalah
Perubahan Modernisasi mempengaruhi kehidupan masyarakat Toba di perantauan salah satunya masyarakat Batak yang berada di Yogyakarta. Perubahan ini secara tidak langsung tanpa disadari masyarakat Batak itu sendiri. Perubahan ini meliputi: perilaku kehidupan orang Batak di Yogyakarta, adat istiadat Batak yang berada di Yogyakarta, minatnya mengenal budaya Batak di Yogyakarta, budaya yang keras mempengaruhi kehidupan Batak dan pernikahan adat yang dilaksanakan di Yogyakarta misalkan pemberian Ulos dalam pernikahan adat Batak.
Masyarakat Batak mengenal pakaian adat dan segala ornamennya. Salah satu elemen penting dalam pakaian adat Batak adalah Ulos. Ulos merupakan sebuah selendang yang terbuat dari kain tenun. Ulos ini digunakan dalam acara adat istiadat suku Batak. Setiap acara adat yang dilakukan oleh masyarakat Batak, selalu menggunakan Ulos, secara khusus dalam adat pernikahan. Ulos juga memiliki sifat sakral dalam suku Batak karena Ulos tersebut sudah digunakan dari jaman nenek moyang suku Batak.
Dalam pernikahan adat Batak yang dilaksanakan di Yogyakarta ini juga mengalami perubahan secara tidak langsung, hal ini disebabkan dari modernisasi yang dialami masyarakat Batak di Yogyakarta. Misalkan biasanya kalau acara adat pernikahan Batak di Bona Pasogit (kampung halaman) seminggu dilaksanakan sedangkan kalau di Yogyakarta hanya sehari melaksanakan dan cara pemakaian Ulos juga mengalami perubahan.
Banyaknya tata cara adat yang dihilangkan ketika Masyarakat Batak mengadakan acara adat tersebut dengan beralasan untuk mempersingkat waktu dalam pelaksanaan tersebut. Kemudian pemberian dan pemakaian Ulos juga mengalami perubahan. Banyaknya perubahan ini juga memiliki beberapa faktor salah satunya tempat yang dihuni atau tinggal karena masyarakat Batak harus mengikuti tatacara dan budaya adat yang ada di Yogyakarta.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan dalam upaya memudahkan peneliti membatasi masalah. Dalam penelitian ini membatasi masalah Pergeseran Nilai kain Ulos Batak Toba Pada Periode 1990-2016 Di Yogyakarta studi kasusnya dalam pernikahan adat Batak Toba diperantauan.
Pembatasan masalah ini dimaksud sebagai upaya pembatasan data penelitian. Pembatasan inilah yang difokuskan dengan menggunakan periodeisasi sehingga peneliti dapat mengetahui secara terperinci masalah yang akan diteliti, dan tidak akan menjadi sedemikian luas, tapi menjadi lebih jelas dan spesifik dan akan membantu mengarahkan sasaran diteliti.
Pembatasan masalah mutlak dilakukan dalam setiap penelitian, agar terarah dan juga terlalu luas. Dengan demikian, pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah tentang “Pergeseran Nilai Kain Ulos Batak Toba Pada Periode 1990-2016 Di Yogyakarta”.
C. Rumusan Masalah
Dari data yang dikumpulkan, dan kemudian dilakukan pembacaan satu persatu, maka muncul beberapa rumusan masalah, yaitu;
1. Bagaimana perpindahan Batak Toba di Yogyakarta? 2. Bagaimana fungsi Ulos dalam masyarakat Batak Toba?
3. Bagaimana pergeseran nilai Ulos dalam adat pernikahan Batak Toba di Yogyakarta ?
D. Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian ini yaitu:
1. Mendeskripsikan perpindahan masyarakat Batak Toba di Yogyakarta. 2. Mendeskripsikan fungsi Ulos dalam masyarakat Batak Toba.
3. Mendeskripsikan pergeseran nilai Ulos dalam pernikahan Batak Toba di Yogyakarta.
E. Manfaat Penulisan
Melalui skripsi ini diharapkan dapat memperkaya ataupun menambah referensi tentang Sejarah Ulos Batak. Selain itu melalui skripsi ini juga, dapat menambah jumlah dari karya tulis sejarah yang menerapkan pendekatan teori-teori Antropologi Budaya.
F. Tinjauan Pustaka
Dalam buku, 1978. Adat dan Upacara Perkawinan daerah Sumatera Utara yang dituliskan oleh Departemen pendidikan dan kebudayaan. Dalam karyanya buku ini menjelaskan secara keseluruhan masyarakat Sumatera Utara lebih khususnya adat dan upacara perkawinan masyarakat Sumatera Utara mulai dari adat sebelum perkawinan, upacara perkawinan dan sesudah perkawinan. Buku tersebut dapat membantu penelitian untuk mengetahui pernikahan adat mulai dari awal hingga akhir.
Dalam karya Tito Adonis dkk 1993 Perkawinan Adat Batak DI Kota Besar. Sistem perkawinan adat Batak Toba di Jakarta mengalami perubahan secara budaya adat istiadat masyarakat Batak, dapat dilihat dalam karya tersebut ada dua pandangan antara hak, kewajiban atau mempertahankan identitas. Hak dan
kewajiban disini menyebutkan penggunaan busana adat, kesenian, dan peralatannya memang mengalami perubahan secara adat, namun mempertahakan identitas orang Jakarta.
Dengan demikian luntur atau tidaknya adat Batak di Kota, melalui kasus perkawinan adat Batak dapat disimpulkan juga tergantung bagaimana membatasi pengertian adat tersebut. Pembatasan pengertian itu amat penting untuk mengklasifikasikan apa yang berubah dan tidak berubah pada masyarakat adat Batak di Jakarta. Dalam karya tersebut membantu penelitian dan menunjukkan bukti bahwa perubahan terjadi di Jakarta oleh karena itu bisa dijadikan pembanding untuk penelitian ini.
Untuk melengkapi penelitian ini buku yang berjudul, 2013. Ulos Batak ;
Tempo Dulu – Masa Kini yang ditulis oleh St.R.H.P. Sitompul,B.Sc.
Pembahasannya lebih memusatkan penjelasan Ulos yang dari tempo dulu hingga sekarang. Dalam penulisan buku tersebut menjelaskan secara terperinci tentang pengertian Ulos Batak dan berbagai macam jenis Ulos. Buku tersebut ingin menjelaskan bahwa pentingnya Ulos Batak untuk masa sekarang agar generasi muda bisa mengerti pentingnya Ulos dalam adat Batak.
Dalam buku tersebut dapat membantu melengkapi penulisan yang diteliti bisa dilihat dari proses, pelaksanaan, pemantapan suatu perkawinan baik dalam bentuk aturan-aturan maupun upacara-upacara yang dilaksanakan. Oleh karena itu dalam buku ini ingin melihat baik yang bersifat nilai-nilai, norma-norma, ataupun kebudayaan material yang sehubungan dengan perkawinan di Sumatera Utara.
G. Landasan Teori 1. Unsur-Unsur Budaya
Dalam rangka penelitian ini, digunakan teori yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian. Teori yang digunakan ada empat. Keempatnya dipakai untuk melengkapi analisis data yang ada, yaitu konsep 7 Unsur budaya, Migrasi, Perubahan Budaya, dan Modernitas.
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Demikian kebudayaan itu dapat diartikan, hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Ada lain-lain sarjana yang mengupas kata budaya itu sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi. Karena itu mereka membedakan budaya dari kebudayaan. Budaya itu adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa itu. Dalam kata antropologi budaya tak diadakan perbedaan arti antara budaya dengan kebudayaan. Disini kata budaya hanya dipakai untuk singkatannya saja, untuk menyingkat kata panjang antropologi kebudayaan.5
Unsur budaya terbagi atas 7 (tujuh) yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia misalkan pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata, alat produksi, transport.(Teknologi)
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi yaitu pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi. (Ekonomi)
3. Sistem kemasyarakatan yaitu sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan. (Organisasi)
5
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi, Cetakan ke Lima. 1974. Aksara Baru: Jakarta. hlm. 80
4. Bahasa (lisan maupun tulisan).
5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak). 6. Sistem pengetahuan.
7. Religi.6
Dalam 7 (tujuh) unsur di atas dapat digunakan teori peralatan dan perlengkapan hidup manusia karena bisa membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang diteliti dan juga bisa memakai teori ini.
2. Konsep Perubahan Budaya
Menurut Nurhalimah salah satu sifat kebudayaan adalah dinamis yang selalu mengalami perubahan yang berkelanjutan. Setiap kebudayaan mengalami perubahan atau perkembangan. Dengan demikian dalam mempelajari kebudayaan selalu harus diperhatikan hubungan antar unsur yang stabil dengan unsur yang mengalami perubahan.7
Masyarakat dan kebudayaan manusia adalah salah satu hal dalam alam besar ini, dan masyarakat dan kebudayaan manusia itupun selalu berubah tak putus-putusnya. Orang-orang bukan ahli sering mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan lokal, atau masyarakat dan kebudayaan yang hidup di desa-desa di luar gerak-gerik kesibukan kota dan di luar gerak-gerik lalu lintas internasional, tak berubah, atau statis. Pandangan ini pernah dianut oleh ahli-ahli dalam antropologi dan dalam ilmu-ilmu sosial lain yang amat menekan kepada paham
6
Ibid., h.82
7
Nurhalimah. 2015. Upaya Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan
Olahraga Dalam Menyelenggarakan Kegiatan Bidang Kebudayaan Di Kabupaten Nunukan. Universitas Mulawarman. Kalimantan Timur. hlm. 6
statis ini, dengan memberi kepada masyarakat-masyarakat semacam itu etika, terbelakang, atau primitif, atau purba, atau sederhana.
Pandangan yang tak sesuai dengan kenyataan ini bisa masuk ke dalam kalangan ilmiah, karena dalam pandangan yang kuno, ilmu antropologi ingin mencari bentuk-bentuk masyarakat manusia dari zaman dahulu, dan dengan demikian mencoba melihat masyarakat-masyarakat kecil dan lokal di luar kota-kota besar itu sebagai sisa-sisa dari masyarakat zaman dahulu itu, dan sebagai masyarakat-masyarakat yang belum pernah berubah sejak zaman itu. Sekarang para ahli antropologi telah mencapai pengertian baru, bahwa masyarakat dan kebudayaan manusia itu selalu berubah tiap detik dalam hidupnya, dan bahwa masyarakat dan kebudayaan yang statis tak berubah itu tidak ada.
Sudah tentu proses-proses perubahan masyarakat dan kebudayaan atau culture
change itu, bisa berlaku amat lambat sehingga hanya dapat dilihat dengan mata
orang-orang ahli, tetapi bisa juga berlaku amat cepat sehingga dapat pula dilihat dengan mata orang-orang bukan ahli. Hal itu serupa dengan proses-proses perubahan gunung, ada yang lambat, seperti erosi yang hanya dapat dilihat dengan mata para ahli geologi, tetapi ada pula yang cepat seperti tanah gugur, yang bisa dilihat dengan mata siapapun juga. Proses culture change yang hanya dapat tampak dalam jangka waktu panjang, ialah beribu-ribu tahun lamanya, biasanya terjadi oleh sebab-sebab yang asal dari dalam masyarakat dan kebudayaan-kebudayaan yang bersangkutan.
Proses-proses perubahan ini adalah perubahan-perubahan yang oleh banyak pengarang lazim disebut cultural evolution. Proses-proses culture change yang
dapat tampak dalam jangka waktu pendek ialah hanya beberapa puluh tahun saja, bisa juga terjadi oleh sebab-sebab yang asal dari dalam masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan, seperti misalnya penemuan-penemuan baru, atau
innovation, tetapi sebagian besar dari proses-proses culture change serupa itu
terjadi oleh sebab-sebab yang asal dari luar, ialah biasanya pengaruh dari lain kebudayaan. Nama umum untuk proses-proses semacam ini tidak ada dalam ilmu antropologi, yang ada hanya istilah-istilah khusus untuk tiap-tiap proses yang khusus, ialah misalnya innovation dari itu, kemudian juga istilah-istilah seperti
assimilation, acculturation, dsb.8
Dalam konsep perubahan budaya ini pula akan berhubungan dengan konsep difusi di dalamnya. Konsep ini setidaknya bisa menjawab perubahan yang ada berlangsung dalam daerah apa. Difusi adalah proses persebaran dari unsur-unsur kebudayaan dari satu individu ke individu yang lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Proses yang tersebut pertama ialah persebaran dari individu ke individu di dalam batas satu masyarakat, disebut difusi intra-masyarakat atau
inter-society diffusion, dan proses yang kedua ialah persebaran dari masyarakat ke
masyarakat, disebut difusi inter-masyarakat, atau inter-society.
Difusi Intra-Masyarakat. Proses difusi ini biasanya dimulai pada waktu ada
suatu penemuan baru itu akan merupakan suatu unsur kebudayaan baru yang sebelum dipakai oleh semua orang dalam masyarakat, tentu harus diperkenalkan dan disebarkan dahulu dalam masyarakat dari individu ke individu. Suatu pengertian yang mendalam tentang jalannya proses-proses difusi intra-masyarakat
8
itu, penting antara lain untuk ahli-ahli propaganda yang bertugas menyiarkan penemuan-penemuan baru, konsepsi-konsepsi baru, atau barang-barang dagangan yang baru, konsepsi-konsepsi baru, atau barang-barang dagangan yang baru, seluas-luasnya dalam suatu masyarakat, dan tidak usah kita perhatikan lebih lanjut dalam buku antropologi ini. Di sini kalau dibicarakan tentang hal difusi, maka selalu dimaksud difusi intra-masyarakat.
Bentuk-bentuk difusi. Salah satu bentuk difusi adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ketempat lain dimuka bumi, yang dibawa oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi. Terutama dalam zaman prehistori, puluhan ribu tahun yang lalu, waktu kelompok-kelompok manusia yang hidup dari berburu berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain sampai jauh sekali, maka unsur-unsur kebudayaan yang dibawa oleh kelompok-kelompok itu juga didifusikan sampai jauh sekali bekas-bekas dari difusi-difusi itu sekarang menjadi salah satu obyek penelitian dari ilmu prehistori.
Bentuk difusi yang lain lagi, dan yang terutama mendapat perhatian dari ilmu antropologi adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara individu-individu kelompok-kelompok tetangga. Pertemuan-pertemuan antara kelompok-kelompok semacam itu bisa berlangsung dengan berbagai cara.
Cara yang pertama adalah hubungan di mana bentuk dari masing-masing kebudayaan itu hampir tidak berubah. Hubungan ini yang disebut hubungan simbiotik, dapat kita lihat contohnya di daerah pedalaman negara-negara Kongo, Togo dan Kamerun di Afrika Tengah dan Barat. Di daerah pedalaman
negara-negara tersebut berbagai suku bangsa Afrika hidup dari bercocok tanam diladang. Mereka seringkali mempunyai tetangga kelompok-kelompok kecil dari suku-suku bangsa Negrito yang hidup dari berburu dan pengumpulan hasil-hasil hutan. Hasil-hasil berburu dan hasil-hasil hutan tersebut dibarterkan kepada suku-suku bangsa Afrika petani tadi untuk ditukarkan dengan hasil-hasil pertanian. Hubungan semacam ini telah berlangsung sejak lama sekali, mungkin sudah sejak berabad-abad lamanya, kedua pihak sudah saling butuh-membutuhkan, tetapi hubungan hanya berhenti pada barter barang-barang itu saja. Proses pengaruh-mempengaruhi lebih jauh dari itu tidak ada. Kebudayaan suku-suku bangsa Afrika tidak berubah dan kebudayaan kelompok-kelompok Negrito juga tidak pada hubungan symbiotic itu.
Cara yang lain adalah bentuk hubungan yang salah satunya karena perdagangan, tetapi dengan akibat yang lebih jauh daripada pada hubungan
symbiotic. Unsur-unsur dari kebudayaan penerima dengan tidak disengaja dan
dipaksa. Hubungan ini dengan mengambil istilah dari ilmu sejarah, sering disebut
penetration pacifique, artinya pemasukan secara damai.9 3. Nilai Budaya
Penelitian ini, memfokuskan kajian ada pegesean nilai. Oleh karenanya dibutuhkan konsep nilai budaya untuk mengkaji pergeseran nilai Ulos Batak Toba di Yogyakarta. Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup, karena itu suatu sistem nilai
9
budaya biasanya befungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai budaya itu (Koentjaraningrat, 1994: 25)
Sebagai bagian dari adat istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai budaya tadi sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat. 10
Karena merupakan bagian dari adat, suatu sistem nilai budaya biasanya dianut oleh suatu persentase yang besar dari warga suatu masyaakat. Sebaliknya, karena berada dalam jiwa indivindu suatu sikap sering hanya ada pada individu-individu tertentu dalam masyarakat. sungguhpun demikian, toh ada juga sikap-sikap tertentu yang karena terpengaruh oleh sistem nilai budaya, bisa didapatkan secara lebih meluas pada banyak individu dalam masyarakat.
Contoh-contoh dari sistem nilai budaya yaitu contoh dari suatu sikap yang biasanya hanya ada pada individu-individu tertentu saja, misalnya sikap congkak dalam hal menghadapi orang lain yang berkedudukan sebagai bawahan, atau orang yang bersifat lebih kurang dan lemah secara fisik, mental, dan material.
10
Contoh dari suatu sikap yang bisa didapatkan secara lebih meluas pada banyak individu dalam masyarakat karena terpengaruh oleh sistem nilai budaya adalah sikap segan terhadap pekerjaan yang bersifat memberi pelayanan pada orang lain. dasarnya adalah mungkin sikap congkak seperti diatas, tetapi sikap ini kemudian terpengaruh oleh nilai budaya yang menganggap bahwa mencapai kedudukan tinggi di mana orang dapat dilayani orang lain, tetapi tidak usah melayani orang lain, menjadi tujuan utama yang memberi arti kepada segala usaha dari karya manusia dalam hidupnya (Koentjaraningrat. 1994: 26).
H. Metode Penelitian
Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah bahwa penelitian sejarah mempunyai lima tahapan. Dalam tahapan tersebut yaitu (1) pemilihan toopik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sumber), (4) interprestasi (analisis dan sintesis), dan (5) penulisan.11
Sesuai dengan tahapan sejarah yang dimaksud oleh Kuntowijoyo, maka hal yang pertama yang dilakukan adalah penentuan topik. Topik dalam penelitian ini adalah Pergeseran Nilai Ulos Batak Toba pada periode 1990-2016, Studi Kasus Pernikahan Batak di Yogyakarta. Setelah melewati tahap ini, selanjutnya dilakukan pengumpulan sumber data. Sumber data primer penelitian ini adalah data-data yang diperoleh dari studi pustaka. Lalu, sumber ini ditambahkan dengan data sekunder yang diperoleh melalui metode wawancara kepada naasumber.
Tahapan sejarah yang ketiga yaitu Verifikasi data (kritik sumber) dilakukan
11 Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah Edisi Baru Cetakan Ke-I.
dengan cara pembacaan menyeluruh terhadap sumber-sumber yang berhasil dikumpulkan. Hasil dari sumber yang dikumpulkan akan diperbandingkan satu sama lain. dari perbandingan tersebut akan didapatkan data yang valid dan saling mendukung.
Setelah verifikasi dilakukan maka tahapan selanjutnya yaitu interprestasi. Tahapan interprestasi terbagi dua yaitu analisis dan sintesis.12 Dalam fase analisis, data hasil verifikasi sumber diuraikan satu per satu. Dari uraian yang dilakukan akan didapatkan fakta. Data dan fakta yang terkumpul kemudian dipersatukan dalam fase sintesis. Rangkaian interprestasi (analisis dan sintesis) tersebut dilakukan untuk mendapatkan konsep umum dari data dan fakta yanng terkumpul.
Tahapan penelitian sejarah yang kelima yaitu penulisan sejarah. Dalam penulisan sejarah, aspek kronologis menjadi konten yang sangat penting. Hal ini guna memperlihatkan perbedaan dari penjelasan sejarah yang diakronis (menekankan proses) dengan penjelasan ilmu sosial yang sinkronis (menekankan struktur). 13
12Ibid., h. 78-80
13
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah edisi Ke-2. Tiara Wacana: Yogyakarta. Hlm. 174
I. Sistematika Penulisan
Penelitian mengenai Pergeseran Nilai Ulos ini akan disusun dalam lima bab, dengan urutan sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan. Bab ini terdiri dari; Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Landasan Teori, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Bab II perpindahan masyarakat Batak Toba di Yogyakarta. Dalam bab ini akan mendeskripsikan bagaimana masyarakat Batak Toba datang ke Yogyakarta.
Bab III Ulos dalam masyarakat Batak Toba. Dalam bab ini mendeskripsikan Ulos dalam masyarakat Batak Toba.
Bab IV mendeskripsikan Ulos yang berada di Yogyakarta.
Bab V Dalam bab terakhir ini akan dipapar mengenai kesimpulan dari penelitian yang dilakukan atas topik Perubahan Nilai Kain Ulos Pada Masyarakat Batak Toba di Yogyakarta.
BAB II
SEJARAH BATAK DI YOGYAKARTA
A. Migrasi Batak Toba Di Yogyakarta
Sebelum penjelasan terkait migrasi Batak, maka akan dijelaskan terlebih dahulu secara umum tentang Etnis Batak Toba. Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan suku. Salah satu dari suku yang banyak itu ialah suku Batak yang menurut sejarah pada mulanya berdiam di pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara, Indonesia. Suku Batak dalam konteks Indonesia Raya adalah sebagian dari bangsa Indonesia. Suku ini dikenal memiliki sejumlah kebudayaan yang sejajar dengan kebudayaan suku bangsa yang lain.
Marsden (1811: 301) mengakui bahwa orang Batak sesungguhnya telah memiliki peradaban yang telah berkembang tinggi dengan itu disebutkan bahwa meskipun secara relatif terpisah dari kebudayaan dan agama yang berpengaruh di Asia Tenggara, namun orang Batak telah memperkembangkan sistem-sistem yang kompleks di bidang sosial, hukum, dan agama (Perdesen, 1975: 15).
Dari semua unsur kebudayaan yang memiliki suku bangsa Batak, menampakkan ciri kebudayaan yang khas jika dibandingkan dengan kebudayaan suku bangsa lain di Indonesia. Ia memiliki sistem kekerabatan, adat, hukum, kesenian, dan sistem kepercayaan keagamaan yang berbeda dengan suku bangsa lain. Kebudayaan Batak dalam proses awal perkembangannya telah banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya asing. Menurut Perdesen (1975: 17) pada suatu
ketika dahulu tepatnya sesudah 2000 tahun sebelum Masehi dan sebelum tahun 1500 sesudah Masehi, kebudayaan Batak di pengaruhi oleh suatu peradaban Hindu-Buddha di daerah-daerah sebelah selatan dan pesisir Sumatera Utara. Kolonisasi asing mungkin secara langsung datang dari India atau mungkin dari Jawa, tetapi yang paling besar kemungkinannya ialah dari orang Melayu-Minangkabau di Sumatera Barat. Berkaitan dengan hal ini, Loeb (1972: 21) juga mengatakan bahwa sifat dan ciri-ciri budaya Hindu yang terpenting masuk ke dalam budaya Batak adalah tentang budaya mengolah padi basah, kuda, bajak, bentuk rumah yang khas, catur, kapas, mesin pemintal, daftar kosakata Hindu, cara menulis, dan idea keagamaan (Gultom, 2010: 2).
Suku Batak merupakan suku yang identik dengan budaya merantau karena ingin mempunyai kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya. Banyak yang berpendapat bahwa suku Batak memiliki jiwa merantau. Salah satunya, menurut ahli budaya Batak, Bungaran Antonius Simanjuntak menyebutkan migrasi suku Batak keluar dari bona pasogit (kampung halaman) didorong oleh padangan
Hagabeon (sukses berketurunan), Hasangapon (kehormatan), dan Hamoraon
(kekayaan)14. Ketiga konsep tersebut menjadi konsep dasar secara budaya ketika suku Batak merantau. Keadaan daerah perantauan yang dianggap dapat mewujudkan ketiga konsep di atas menjadi motivasi tersendiri bagi suku Batak untuk merantau ke daerah lain.
14
Bungaran, A, Simanjutak, Struktur Sosial dan Politik Batak Toba hingga
1946: Suatu pendekatan Atropologi Budaya dan Politik, Jakarta: Yayasan Obor
Hagabeon menuntut orang Batak untuk bergenerasi. Karena corak budaya yang
patrilineal, kehadiran anak, terlebih anak Pria menjadi vital. Berbeda dengan konsep keturunan, konsep hamoraon menuntut adanya upaya keras atau kerja keras manusia Batak untuk mencapai suatu kesuksesan. Kesuksesan ini bisa dilihat dalam bidang materi ataupun jabatan. Terakhir adalah salah satu tujuan hidup akhir manusia Batak, yaitu hasangapon. Pencapaian hagabeon dan
hamoraoni akan menghasilkan apa yang disebut hasangapon (kehormatan). Hal
ini bisa berupa derajat ataupun kemuliaan yang diterima oleh seorang masyarakat Batak.
Hal ini juga diperkuat menurut yulia vonny sinaga dalam skripsinya menyatakan konsep orang Batak toba mengenal 3 H yaitu yang pertama,
Hamoraon (nilai kekayaaan) yang bertujuan mencari banyak rezeki untuk hidup
dengan bekerja keras, kekayaan yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk materi tetapi juga jumlah anak atau keturunan. Kedua Hagabeon (nilai keturunan) bertujuan untuk meneruskan garis keturunan dalam silsilah keluarga, biasanya anak laki-laki diutamakan karena mereka akan meneruskan marga sampai keturunan berikutnya. Ketiga Hasangapon (nilai kedudukan atau jabatan) bertujuan apabila mereka memiliki kedudukan atau jabatan pada setiap pekerjaan, bila tercapai oleh yang bersangkutan, kesuksesan sang anak juga dapat menjadi pertimbangan15.
Dengan kata lain, filosofi merantau masyarakat Batak identik dengan konsep 3 H yang dijujung tinggi. Ketiga konsep ini terus dipegang dan dihidupi oleh
15
Skripsi. Yulia Vonny Sinaga. Ruang dan Ritual Adat Pernikahan Suku
masyarakat Batak dimana pun mereka berada. Ketiga konsep inilah yang menjadi awal dan tujuan akhir hidup masyarakat Batak. Banyak upaya yang dilakukan untuk mendapatkannya. Salah satunya adalah dengan perpindahan atau migrasi.
Menurut Togarma Naibaho, pada umumnya suku Batak melakukan aktivitas merantau untuk bersekolah dan bekerja. Bagi orangtua masyarakat Batak, pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan. Untuk meraih pendidikan anaknya, orangtua dalam masyarakat Batak rela menjual harta benda miliknya. Hal inilah yang membuat masyarakat Batak sebagai salah satu suku yang mempunyai tingkat pendidikan yang cukup tinggi.16
Bisa disimpulkan bahwa rasa ketertarikan suku Batak Toba terhadap pendidikan menjadi salah satu faktor pendorong aktivitas merantau anak muda suku Batak ke daerah yang jauh sekalipun. Setelah menempuh pendidikan di daerah perantau suku Batak Toba biasanya tidak langsung pulang ke kampung halaman atau tanah Batak tetapi tetap merantau dan mencari pekerjaan di daerah yang membutuhkan banyak tenaga kerja seperti daerah perkotaan. Hal ini juga menyebabkan tingginya tingkat persebaran suku Batak di Indonesia. Faktor geografis di daerah asal suku Batak yang kurang subur di sekitaran pulau Samosir membuat masyarakat Batak Toba lebih memilih merantau meninggalkan kampung halaman.
16
Togarma Naibaho, “Ada Budaya Batak Dalam Lapo. Hasil wawancara saudara Arby Sumandoyo yang dimuat pada tirto.id, diakses dari
Selain kondisi alam aktivitas merantau suku Batak juga didorong oleh adanya motif ekonomi untuk mencari penghidupan lebih baik di tempat lain. Apalagi di tengah masyarakat berkembang berbagai cerita tentang keberhasilan sejumlah perantau. Faktor lain yang cukup penting adalah pendidikan.17 Masyarakat Batak memiliki tingkat kepedulian yang tinggi, sehingga mereka rela meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang cukup lama.
Batak dikenal sebagai etnis yang dapat beradaptasi dengan budaya-budaya lain. Di setiap tempat mereka tinggal suku Batak mudan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Akibatnya, suku ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Di hampir setiap daerah terdapat suku Batak yang tinggal sebagai penduduk tetap.
Salah satu kota yang menjadi tujuan migrasi masyarakat Batak adalah Yogyakarta. Pertimbangan utama adalah karena Yogyakarta merupakan kota pendidikan. Daerah Istimewa Yogyakarta sudah lama dikenal memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas, sehingga menarik bagi masyarakat Batak yang peduli pendidikan sebagai tempat ideal untuk menempuh pendidikan. Selain untuk menempuh pendidikan, para perantau suku Batak juga datang untuk sebagai pekerja maupun buka usaha di kota rantau.
B. Perkembangan Batak di Yogyakarta
Pembahasan tentang migrasi masyarakat Batak tidak dapat terlepas dari sejarah keberadaan orang Batak di Yogyakarta. Siapa orang Batak pertama di Yogyakarta, kapan pertama kali mendatangi yogyakarta dan apa motivasi migrasi, menjadi sejumlah pertanyaan yang terkait sejarah Batak di Yogyakarta.
17
Sulistyowati Irianto, Perempuan DI Antara Berbagai Pilihan Hukum, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. Hlm. 91-92.
Menurut Bungaran, pada tahun 1915 awal orang Batak merantau salah satu tujuannya daerah Jakarta. orang Batak merantau disebabkan oleh program yang dibuat orang Belanda untuk memperbaiki pendidikan yang dikenal dengan pendidikan zending. Awal pendidikan sending hanyalah sebatas anak-anak pengereja (anak pendeta) gereja. Tetapi lama kelamaan siapa saja boleh ikut, dan bahkan semuanya menjadi antusias mengikuti pendidikan. Hasil pendidikan tahap pertama yaitu mereka yang menjadi perantau orang Batak Kristiani yang merintis “perantau adalah warga orang Batak yang berhasil”.18
Mayoritas perantau yaitu anak-anak majelis gereja sebagai hasil dari pendidikan sekolah zending.
Orang Batak memanfaatkan kesempatan memasuki jalur pendidikan, yang semula sekolah zending, kemudian dilanjutkan dengan dibukanya sekolah negeri dan disemarakkan oleh sekolah swasta. Melihat pola perpindahan atau gelombang perantau dari Tapanuli ke Jakarta dikenal dengan lima gelombang yang memiliki landasan yaitu:
Periode Alasan ke Jakarta Keterangan 1915-1950 Telah terbuka kesempatan untuk
meningkatkan kedudukan sosial dengan menyelesaikan pendidikan zending, memiliki ilmu seadanya dan dianggap bisa duduk sama tinggi dengan penyelenggara pendidikan zending, yaitu bangsa Belanda
Masih sangat terbatas jumlahnya karena yang berpendidikan belum merata.
18
Bungaran, A, Simajuntak, Karakter Batak: Masa Lalu, Kini, dan Masa
1951-1965 Dorongan untuk melanjutkan pendidikan, terutama Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, juga sudah memulai ada mutasi penugasan, dorongan untuk meningkatkan kehidupan dengan mencari pekerjaan di Pulau Jawa, terutama Jakarta.
Sudah semakin banyak jumlahnya, karena di Jakarta sudah ada saudara dan pendidikan negeri sudah merata
1966-1980 Keadaan kawasan Tapanuli yang berkekurangan untuk menopang kehidupan, mendorong orang Batak Kristiani untuk mencari pekerjaan di Jakarta, sejalan dengan lahirnya Order Baru yang memberikan kesempatan bagi orang yang berpendidikan dan berkemauan.
Pendidikan sekolah menengah atas (SMA) sudah menembus desa-desa, disana tidak ada lowongan, maka harus ke kota terutama ke Jakarta
1981-1995 Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mencari lowongan kerja melalui kenalan atau saudara, mencoba peruntungan karena di Jakarta tersedia berbagai bidang pekerjaan yang halal, asal rajin, tekun, jujur dan loyal, mereka yakin akan memperoleh uang demi penghidupan yang lebih baik dan kalau bisa yang meningkatkan gengsi, kekayaan dan
Jumlah lulusan sekolah menengah atas sudah semakin meningkat, dorongan melanjut keperguruan tinggi sudah merata, kalau tidak beruntung melanjutkan pendidikan, dapat mencari kerja.
kehormatan (Hagabeon, Hamoraon, dan Hasangapon)
1996-sekarang
Demi pendidikan, pekerjaan, usaha, organisasi, dan mutasi pekerjaan serta tahap lanjutan dari semuanya yang telah disebut diatas.
Beragam dan bervariasi antara kebutuhan dan peningkatan level kehidupan.
Pada tabel diatas19 menunjukkan orang Batak yang merantau ke Yogyakarta antara tahun 1951-1965 yang berawal menjalankan misi untuk menyebar kasih dan sekarang menjadi tempat untuk pendidikan dana lapangan kerja hingga menjadi tempat menghabiskan masa pensiunan. Tabel ini juga membuktikan bahwa awal terbentuknya pendidikan zending yang dibuat oleh Belanda tersebut sehingga orang Batak memiliki ciri merantau hingga sekarang.
1. Jejak Batak Di Yogyakarta
Salah satu jejak penting sejarah migrasi suku Batak di Yogyakarta adalah gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Gereja itu menandakan bahwa masyarakat Batak di Yogyakarta sudah banyak, sehingga membutuhkan bangunan suci untuk melaksanakan peribadatan sesuai agama Kristen Batak. Gereja HKBP diresmikan pada tanggal 6 April 1946 di daerah yang sekarang terkenal sebagai Jl. I Dewa Nyoman Oka No.20, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
19
Meskipun menggunakan nama Batak, pada praktiknya tidak semua etnis Batak bergabung di dalam gereja HKBP. Mayoritas jemaat HKBP didominasi oleh Batak Toba karena HKBP selalu identik dengan Batak Toba saja.
Selain Gereja HKBP, keberadaan masyarakat Batak ditinjau dari sejarah _ias dilihat atau diketahui dari persatuan atau komunitas Batak Toba. Pada awal 1970’an terbentuk lah organisasi PARBOPAS (Parsadaan Bona Pasogit). Organisasi ini merupakan Punguan (paguyuban) marga yang bertujuan sebagai tempat mengumpulkan orang Batak di Yogyakarta baik yang menempuh pendidikan, kerja dan sudah berkeluarga. PARBOPAS memiliki event tahunan yaitu pertandingan Sepak Bola dan Voli yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menjalin silahturahmi antara sesama marga (klan) maupun beda marga. Komunitas ini dapat dikatakan sebagai tempat untuk mempererat tali persaudaraan sesama orang Batak rantau.
PARBOPAS menjadi perkembangan jumlah orang Batak, hal ini dikarenakan PARBOPAS memfasilitasi marga (klan) di Yogyakarta. Selain komunitas ini,
perkembangan kumpulan orang Batak mulai berkembang yaitu terbentuknya
Punguan (Paguyuban) marga, Parsahutaon (perkumpulan teman sekampung) dan
komunitas Batak yang beredar di kalangan perguruan tinggi.
a. Punguan Marga (Panguyuban atau Perkumpulan Klan)
Punguan (paguyuban) marga atau sering disebut dengan Parsadaan marga
adalah perkumpulan orang Batak yang didasarkan atas kesamaan marga. Tujuan dibentuknya perkumpulan marga di kota yaitu agar dapat saling membantu
sesama orang Batak dalam berbagai masalah, terutama masalah ekonomi. Selain itu, upacara-upacara adat dan keagamaan yang berkaitan dengan kelahiran, perkawinan, dan kematian seseorang juga diselenggarakan dengan melibatkan orang-orang dalam lingkungan perkumpulan marga. Di Yogyakarta, setiap marga suku Batak di Yogyakarta memiliki punguan (panguyuban) marga sendiri. Setiap
punguan memiliki acara sendiri seperti arisan yang dilaksanakan setiap sebulan
sekali, acara natal, dan acara perayaan Tahun Baru.
Pada dasarnya fungsi punguan yang paling penting adalah sebagai pengganti orang tua di daerah perantauan. Punguan marga berperan dalam membantu anggota menyelesaikan berbagai masalah. Dalam punguan dibuat aturan dan cara-cara untuk dapat saling membantu satu sama lain, misalnya dalam hal menanggulangi kemalangan, pengadaan upacara-upacara adat dan acara ke agamaan. Dalam punguan marga dibentuk struktur pengurus yang terdiri dari ketua dan bendahara dan struktur lain-lainnya.
b. PARBOPAS ( Parsadaan Bona Pasogit)
PARBOPAS merupakan singkatan dari Parsadaan Bona Pasogit atau dalam
bahasa Indonesianya adalah persatuan satu kampung. PARBOPAS bertujuan sebagai tempat berkumpulnya orang Batak dalam berbagai acara dan kegiatan. Acara yang sering dilakukan dan menjadi even tahunan adalah kompetisi olahraga seperti sepak bola dan voli yang diperlombakan antar induk marga dan marga dari semua marga Batak Toba di Yogyakarta. PARBOPAS juga dikatakan sebagai tempat untuk mempererat tali persaudaraan sesama orang Batak rantau hingga sekarang acara PARBOPAS ini masih diselenggarakan. Dalam wawancara,
Damanik mengatakan bahwa kedatangannya di awal tahun 1987 telah mendapati
punguan marga Batak di Yogyakarta. Oleh karena itu, ia menafsirkan jika
keberadaan punguan Batak ini telah dimulai awal tahun 1970’an. Setidaknya ada 4 ( empat) punguan yang beliau ikuti, yaitu Punguan Parna, Toga Semarga,
Purba, dan Parhusataon
c. PARSAHUTAON (perkumpulan teman sekampung)
Parsahutaon pada dasarnya hampir sama dengan punguan marga, begitu juga
dengan kegiatannya. Parsahutaon merupak perkumpulan orang Batak yang berasal dari daerah yang sama di kampung halaman dan daerah tempat tinggal orang Batak lainnya. Kegiatan Parsahutaon pada dasarnya hampir sama dengan
punguan marga seperti arisan dan kegiatan pertemuan rutin lainnya, yang
membedakan punguan dan parsahutaon marga adalah terbentuknya rasa persaudaraab yang tidak didasarkan atas hubungan gen (keturunan) akan tetapi atas rasa kepemilikan akan kampung halaman.
Hal lain juga memperkuat orang Batak mengalami peningkatan sebagai bukti yaitu warung Lapo Tuak Bang Jimmy Silalahi yang berada di desa Wedomartani kecamatan Ngemplak Maguwoharjo. Warung ini selalu didatangi oleh orang Batak baik mahasiswa, pekerja, sudah berkeluarga, bahkan kakek-kakek pun juga ada disana. Bang Jimy juga mengatakan warung ini salah satu tempat berkumpulnya orang Batak yang berada di Yogyakarta. Warung ini menyediakan makanan dan minuman khas Batak yaitu, Saksang, Babi panggang, ikan mas nai
niura, Tuak, dan lain-lain. Pemilik warung mengatakan tidak tahu persis berapa
hari banyak yang _ias_l membeli kesana serta mengalami kenaikan dalam jumlah orang dan diperkuat juga ada beberapa warung Lapok Tuak buka di daerah sekitar.
Tidak hanya Lapo Tuak, masakan khas kuliner Batak juga sudah mulai berkembang yang tersebar diberbagai daerah Yogyakarta misalkan BPK denokan, warung Bang Ucok condong Catur, warung Binsar di maguwo, dan lain-lain. Walaupun tidak semua orang Batak yang kuliner disana Orang Batak, namun tempat kuliner juga merupakan salah satu tempat berkumpulnya masyarakat orang Batak.
Dari beberapa bukti diatas menjadi indikasi bahwa masyarakat secara jumlah menunjukkan peningkatan populasi orang Batak di Yogyakarta. Baik dari paguyuban juga kuliner memperkuat bahwa setiap tahun orang Batak di Yogyakarta mengalami peningkatan populasi penduduk. Salah satu kesejarahan Batak ditandai dengan berdirinya Gereja Kristen Batak Protestan. Dengan kata lain, berbicara soal sejarah masyarakat Batak di DIY, akan menyentuh aspek bergereja jemaat Batak di HKBP Yogyakarta.
Jumlah Masyarakat Batak Toba di Yogyakarta pada tahun 2016 berkisar 1.275 jiwa. Sampai saat ini tidak terdapat data yang pasti. Data sensus penduduk di Yogyakarta tidak mencantumkan jumlah penduduk berdasar etnik. Satu-satunya sumber yang berhasil diperoleh adalah dari hasil pencatatan pengurus Gereja HKBP. Pada tahun 2016 jumlah anggota jemaat HKBP di Yogyakarta dikelompokkan menjadi 6 sektor. Sektor timur berjumlah 370 jiwa, sektor tengah berjumlah 111 jiwa, sektor selatan berjumlah 313 jiwa, sektor barat 220 jiwa,
sektor utara berjumlah 161 jiwa, dan sektor parserahan berjumlah 100 jiwa. Jika ditotalkan secara menyeluruh masyarakat Batak di Yogyakarta berjumlah 1.275 jiwa.
2. Adaptasi Batak Di Yogyakarta
Jonson Sigalingging menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat Batak di Yogyakarta masih relatif kuat dalam menjaga nilai-nilai adat Batak. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa terjadi pergeseran yang cukup berarti akibat dari perkembangan zama dan pergantian generasi. Dalam pandangan Jonson Sigalingging generasi baru suku Batak yang tinggal di Yogyakarta memiliki perbedaan yang lebar dengan generasinya. Generasi baru kurang mengenal adat istiadat Batak, sehingga tidak kuat dalam mengimplementasi tata nilai Batak pada kehidupan sehari-hari.20
Salah satu dampak perkembangan zaman yang paling tampak mengubah generasi baru Batak adalah perubahan pola pikir. K. Kudadiri menjelaskan bahwa pendidikan mengakibatkan semakin mendalamnya pengaruh rasionalisme sehingga generasi baru Batak mulai meninggalkan berbagai aspek dari adat istiadat yang tidak sesuai21.
Perubahan sikap generasi baru Batak di Yogyakarta terhadap tradisi dan adat istiadat terlihat jelas apabila dibandingkan dengan generasi lama. Generasi lama menurut Jonson Sigalingging memiliki sikap yang peduli pada adat Batak misalkan prosesi adat pernikahan Batak Toba dilaksanakan secara terperinci yang
20
Wawancara dengan Jhonson Sigalingging pada tanggal 14 september 2016. di Jl. Karanglo RT 02 RW 02 Nomor 20 Purwomartani Kabupaten Sleman.
21
Wawancara dengan K.kudadiri (Naibaho) pada tanggal 28 september 2016 di Jl. Dusun duwet rt 5 rw 33 sendangadi Mlati Kabupaten Sleman. 106B.
memakan waktu selama seminggu dalam acara tersebut, acara pernikahan masih menggunakan halaman rumah, musiknya masih menggunakan alat musik tradisional dan peduli akan adat masyarakat Batak Toba masih dimiliki.
Menurut K.Kudadiri (Naibaho) mengatakan bahwa generasi lama memiliki perbedaan pola pikir yang mengakibatkan acara adat memakan waktu sangat lama walaupun budayanya masih kental dimiliki masyarakat Batak Toba generasi lama. Beliau juga mengatakan bahwa ada perbedaan antara orang Batak Yogyakarta dan orang Batak Tobasa yaitu Orang Batak di Yogyakarta lebih maju dibandingkan dengan orang Batak Tobasa (orang Batak kampung) karena rasa ingin tahu orang Batak di Yogyakarta lebih maju sedangkan orang Batak Tobasa berkurang rasa ingin tahu akibat dari perkembangan zaman dan tempat tinggal, banyak yang mengalami perubahan ini dalam konteks mengenal adat istiadat Batak. Dalam hal ini, masyarakat Batak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dibandingkan Tobasa itu sendiri.22
Untuk menanggulangi kemerosotan perhatian generasi baru terhadap istiadat, dicoba mengaktifkan berbagai komunitas Batak yang ada di Yogyakata yaitu pembentukan komunitas kampus salah satunya komunitas Sada Pardomuan (SP) yang berada di Universitas Sanata Dharma.
Menurut Dandi Kristian Tarigan selaku ketua SP mengatakan bahwa komunitas ini dibentuk bertujuan untuk menjalin silahturahmi sesama suku Batak dan mengumpulkan mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di Universitas Sanata Dharma agar mempererat kekeluargaan Batak di Yogyakarta. SP terbentuk pada
22
tahun 1997 hingga sekarang anggota panitia intinya 8 orang dan jumlah total keseluruhan 100 yang terdata. Dihitung sejak tahun 2013 berjumlah 20 orang, tahun 2014 berjumlah 35 orang, tahun 2015 berjumlah 60 orang dan terakhir 2016 berjumlah 100 orang yang terdata dalam komunitas tersebut. Komunitas SP memiliki beberapa aktivitas tahunan di antaranya mengadakan bakti sosial setiap dua bulan sekali, usaha dagang yang bertujuan untuk pengumpulan dana untuk menyelenggarakan seminar budaya, mempromosikan komunitas SP kepada mahasiswa baru, mengadakan acara makrab dalam tahun ini.23
Selanjutnya komunitas Batak yang berada di Universitas Atma Jaya Yogyakarta yaitu Persatuan Mahasiswa Batak (PERMABA). Menurut Daniel Rimbang Simbolon selaku Ketua pada periode 2017/2018 PERMABA berdiri sejak tahun 1997 yang bertujuan untuk wadah atau ajang buat mahasiswa Batak dalam mengembangkan kreatifitas mahasiswa Batak dan mempererat kekeluargaan dan kekebatan mahasiswa Batak di Atma Jaya Yogyakarta.
PERMABA memiliki kegiatan rutin tahunan yaitu mengadakan rapat atau
pertemuan, menyambut hari perayaan misalkan Paskah, Natal, Tahun Baru, mengadakan BAKSOS (bakti sosial) setiap setahun sekali dan menggalang dana misalkan berjualan makanan khas Batak, mengadakan kompetisi futsal dan sebagainya.
Komunitas PERMABA terdiri dari 20 orang pengurus inti dan berjumlah 80 orang anggota yang terdata dalam komunitas ini. Daniel juga mengatakan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa Batak di Universitas Atma Jaya Yogyakarta
23
Wawancara dengan Dandi Kristian Tarigan pada tanggal 18 Juli 2017 di Amunasa Regency II blok C.6 wedomartani Ngemplak Yogyakarta.
mengalami peningkatan tapi tidak signifikan hal ini dibuktikan melalui data yang dimiliki komunitas PERMABA yaitu dihitung sejak tahun 2013 berjumlah 25 orang, 2014 berjumlah 30 orang, 2015 berjumlah 35 orang dan terakhir 2016 berjumlah 80 orang yang terdata.24
Dari kedua data yang dimiliki komunitas Batak di Yogyakarta khususnya dalam Universitas memberikan salah satu bukti bahwa masyarakat Batak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Peningkatan ini berdasarkan dari bukti wawancara yang telah disebutkan diatas.
Komunitas Batak yang ada di Yogyakarta sudah mulai dikembangkan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, maupun dunia kerja. Komunitas PARBOSA (Parsadaon Bona Pasogit) merupakan salah satu komunitas yang diduga pertama di Yogyakarta.
Komunitas PARBOSA memiliki tujuan untuk mengumpulkan orang Batak di Yogyakarta mulai dari yang satu marga maupun beda marga untuk menjalin hubungan bersilahturahmmi antar sesama Batak yang ada di Yogyakarta. Berawal dari komunitas ini berkembang kemudian di berbagai kalangan mulai dari sekolah, perguruan tinggi, maupun dunia kerja sehingga terbentuknya komunitas-komunitas lainnya salah satunya di perguruan Tinggi.
24
Wawancara dengan Daniel Rimbang Simbolon pada tanggal 20 juli 2017 di Universitas Atma Jaya gedung hukum Yogyakarta.