yang mungkin selama ini belum banyak yang membaca pertarungan wacana semacam ini sebagai sebuah fenomena politis. Kontribusi Teoritik

Teks penuh

(1)

BAB 5

Kesimpulan

Nahdlatul Ulama sebuah organisasi keagamaan yang selama ini kental dengan kesan tradisional dan konservatif dengan atsmosfer keagamaan yang cenderung tenang dan statis ternyata memiliki wajah lain di era globalisasi ini. Organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1926 dengan basis kultural pesantren – pesantren yang telah ada bahkan sebelum masa kolonialisme ini telah menjadi sebuah kekuatan baru yang dinamis dan modernis dalam menjawab tantangan global. Begitupun dalam warna internalnya, telah terjadi dinamisasi pemikiran yang luar biasa hingga membentuk NU sebagai Jam‟iyah yang menarik untuk dikaji, terutama ketika melihat pergulatan pemikiran yang terjadi didalamnya sebagai sebuah konsekuensi logis perjalanan NU di masa kini.

Pada penelitian ini, ada beberapa temuan penting yang mewarnai dinamika perjalanan pemikiran NU. Pertama adalah bahwa dinamisasi NU ini terlihat pada sebuah fakta pergulatan pemikiran didalamnya yang mempertemukan pertarungan antara wacana keberislaman baru yang belum dikenal oleh NU sebelumnya dengan wacana yang mencoba untuk mempertahankan cara keberislaman yang lama, yang kemudian fenomena tersebut dikonsepsikan dalam pertarungan antara wacana Liberal dengan Anti – Liberal. Dan sebagaimana layaknya pertarungan wacana dalam studi politik, pasti ada tujuan politis yang hendak dicapai oleh wacana tersebut, yakni sebuah hegemoni wacana. Maka, kajian tentang pertarungan wacana dalam NU ini akan sangat diwarnai dengan saling perebutan dominasi pemikiran mulai dari ranah grasrootNU sampai struktural pusat di PBNU.

Kedua, dari sisi historisnya, gejala pertarungan wacana ini mulai muncul

ketika mulai berkembangnya wacana liberalisme itu sendiri. Yakni pada era – era 70 – an dan 80 – an awal ketika banyak dari para anak – anak muda NU yang bersentuhan dengan dunia pendidikan modern di kampus – kampus Islam negeri macam IAIN. Dimana IAIN kala itu adalah pintu gerbang sekaligus akses bagi

(2)

mereka untuk mengenal pemikiran – pemikiran tokoh – tokoh Islam Liberal dari dunia Islam. Namun resistensi kala itu masih belum terlalu masif, disamping karena gerakan mereka masih terkesan malu – malu, kekuatan yang menjaga tradisi konservatisme dalam NU juga masih cukup kuat. Hanya segelintir tokoh saja yang berani melakukan gebrakan diawal ini, seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Masdar Farid Mas‟udi.

Gerakan progresivitas anak muda NU ini kemudian semakin diperkuat oleh sokongan dana dari para founding dan NGO – NGO yang memang punya kepentingan dalam hal ini. Founding – founding asing yang bergerak lewat NGO – NGO satelit mereka mengkaji beragam isu seputar pengembangan masyarakat terutama kalangan nahdliyin dan pesantren, namun arah geraknya tentu tidak bebas nilai akan tetapi disesuaikan dengan kepentingan kapitalis mereka. Dari sinilah rancangan itu dibuat dengan bentuk beragam problem solving yang sarat dengan nilai – nilai liberalisme, seperti toleransi agama yang berpayung pluralisme, pemberdayaan perempuan yang berbasis genderisme dan feminisme, hingga wacana – wacana kemajuan masyarakat yang berlandaskan sekulerisme (pemisahan agama – negara) dan pendistorsian terhadap syariat Islam.

Ketiga, dari sisi metodologi berfikir, para penggerak wacana liberalisme

juga mulai mendobrak tatanan metodologi berfikir yang sudah mapan dan dikenal dalam tradisi keilmuan NU. Hermeneutika adalah pangkalnya, yang dari sini menjadikan mereka tidak mau lagi mengakui otoritas ulama – ulama klasik dalam menafsirkan teks – teks agama. Kitab – kitab kuning klasik yang menjadi rujukan warga NU di pesantren – pesantren pun dirasa perlu untuk dirombak ulang. Belum lagi cara berfikir relativisme yang akhirnya meniadakan kebenaran absolut dalam ajaran agama. Dan yang semacamnya telah menjadikan gaya baru bagi sebagian kalangan NU ini dalam melihat Islam.

Nilai – nilai yang dikembangkan oleh sebagian kalangan NU dengan gaya liberal tersebut semakin lama semakin mendapat respon negatif dari kalangan konservatis. Alhasil, kalangan konservatis dalam NU yang mencoba membendung

(3)

gerakan progesive anak – anak muda NU menjadikan mereka bersikap anti – liberal. Sikap ini diambil dan menghasilkan wacana tanding terhadap wacana liberalisme. Mulailah pertarungan wacana antara liberal – anti liberal terdengar gaungnya dalam NU.

Dan yang terakhir adalah dilihat dari dominasi wacananya dalam NU, terutama pengaruh struktural kepemimpinanya, pertarungan wacana ini bisa dibagi kedalam beberapa fase. Pertama adalah fase era kepemimpinan Gusdur (1984 – 1994), dimana Gus Dur sebagai patron utama kalangan progesif memegang puncuk pimpinan Tanfidziyah NU selama tiga periode kepemipinan. Sehingga wajar ketika itu pembibitan nilai – nilai liberalisme berkembang cukup subur. Mereka cukup leluasa dalam mewacanakan gagasan – gagasanya. Kalangan konservatis selama periode ini juga tidak bisa terlalu banyak memberikan wacana tanding. Fase selanjutnya adalah era kepemimpinan Hasyim Muzadi (1999 – 2009) selama dua periode kepemimpinan. Pada periode pertama, (1999 – 2004) ada semacam pembersihan kalangan internal NU dari pengaruh Gusdur oleh Kyai Hasyim yang menolak gagasan liberalisme. Alhasil, sayap progesif dalam NU yang tadinya memiliki banyak ruang gerak, pada era ini menjadi semakin dipersempit. Namun, kekuatan kalangan ini yang telah terbangun cukup lama sepanjang era Gus Dur tidaklah berdiam diri, namun justru mengambil jalan kultural untuk memperjuangkan gagasanya. Munculah gerakan lepas oleh anak muda NU seperti yang paling sering didengar adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) di tahun 2000 – an awal. Gerakan –gerakan kulturan ini cukup masif dalam mengembangkan wacana liberalismenya, hingga membuat banyak kalangan konservatis gerah. Resistensi pada periode ini semakin terasa hingga puncaknya adalah pada apa yang terjadi dalam Muktamar NU 2004 di Boyolali, Jawa Tengah. Pada muktamar inilah banyak muncul sikap dan pernyataan resmi dari para ulama – ulama NU untuk membersihkan jajaran kepengurusan NU dari orang – orang yang dianggap liberal. Hasyim Muzadi pun terpilih kembali dalam muktamar kali ini. Selanjutnya, pada periode kedua kepemimpinan beliau ini sedikit berbeda dengan periode pertama, jika pada periode pertama terkesan

(4)

membuat sekat yang sangat tegas antara liberal dan anti – liberal, namun pada periode kedua ini lebih ada beberapa ruang dialog antara kedua kubu tersebut, terbukti dengan mulai diselenggarakanya berbagai diskusi yang mempertemukan tokoh dari kedua kubu, maupun muncul pandangan – pandangan moderat dari para ulama yang mencoba mengetengahi resistensi ini. Hingga pada muktamar 2010 meskipun tidak bisa dibilang hilang total, resistensi antara gagasan progesif yang liberal dengan gagasan konservatif yang anti – liberal mulai berkurang jauh, bahkan hingga muncul nama – nama dengan gaya pemikiran liberal yang masuk dalam bursa pencalonan ketua umum PBNU, termasuk hingga terpilihnya Kyai Said Aqil Siradj yang mewakili kelompok progesif sebagai ketua umum PBNU.

Jika di cermati, grafik pertarungan wacana dalam tubuh NU ini tidak bergerak secara statis, namun bergerak secara dinamis dan saling bergantian dimana pada periode tertentu wacana liberal yang mampu menghegemoni namun pada periode lainya wacana anti – liberal lah yang lebih menghegemoni dengan karakter dominasi wacananya masing – masing tentunya. Akan tetapi, sejauh ini kekuatan anti – liberal yang mencoba untuk tetap menjaga tradisi keagamaan dalam NU dengan basis Kyai – kyai sepuh dan pesantren – pesantren salafnya relatif masih cukup kuat. Disamping karena posisi kultural kyai – kyainya yang sangat dihormati dalam tradisi pesantren, juga karena regenerasi tradisi keilmuan yang cukup terjaga dalam pesantren – pesantrenya. Meskipun, gencarnya wacana liberalisme ini telah sedikit membuat kekuatan – kekuatan konservatis sedikit terkikis dan mau tidak mau untuk membuka ruang dialogis dengan kelompok progesif dalam NU ini.

Jadi, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kemunculan wacana liberalisme dalam NU hingga memunculkan resistensi dengan wacana tanding yang anti dengan liberalisme ini. Apa – apa saja isu yang diangkat dalam pertarungan wacana tersebut serta bagaimana NU kemudian dalam era ini menjawab dan merespon fenomena tersebut. Sehingga harapanya penelitian ini bisa dijadikan sebagai referensi terkait dengan kajian – kajian yang mengkaji isu pertarungan wacana dalam kerangka politik pada ranah in – formal

(5)

yang mungkin selama ini belum banyak yang membaca pertarungan wacana semacam ini sebagai sebuah fenomena politis.

Kontribusi Teoritik

Banyak sudah literatur dan referensi yang membahas tentang NU dan dinamika perjalananya telah memberikan wawasan terhadap sepak terjang organisasi keagamaan ini. Hal ini mengindikasikan bahwa penggalian sumber – sumber penelitian dari organisasi ini terus berkembang subur. Namun, belum ada yang berfokus untuk melihat adanya pertarungan wacana dalam tubuh NU dan mengkerangkainya sebagai bagian dari fenomena politik. Tulisan tentang pergulatan pemikiran sebagai sebuah fenomena pertarungan wacana dalan NU ini telah dicoba untuk dibangun diatas dasar fondasi teori yang kuat meskipun masih ada kekurangan di sana sini.

Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori analisis wacananya Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe. Mereka merumuskan teori wacana tersebut kedalam titik pangkal dari gagasan post-strukturalis yang diambil dari ide – ide gagasan wacana hegemoni milik Marx dan Gramsci. Kelebihan dari pada teori mereka terhadap substansi penelitian ini adalah kemampuanya untuk menjawab tiga pertanyaan utama yang menjadi pokok rumusan masalah. Pertama adalah ketika menjelaskan kajian hitoris pada bab dua adalah karena berangkat dari asumsi teori ini yang menyatakan bahwa sebuah wacana pada periode kesejarahan tertentu bisa dikatakan nampak alami, natural dan berdiri tunggal tanpa ada wacana lain, namun pada periode – periode waktu setelahnya bisa menjadi tidak lagi mapan sebagai akibat dari konsekuensi logis yang ada dalam perkembangan pemikiran.

Kontribusi teori pada bab tiga juga terlihat ketika teori ini mengasumsikan bahwa wacana yang berkembang dalam mencoba mengkonstruk sebuah fakta sosial yang ada acap kali tidak berdiri secara tunggal. Adakalanya justru muncul beragam wacana yang mencoba untuk mengkonstruk sebuah fakta sosial yang sama dengan cara yang berbeda, sehingga dari sini akan memunculkan fenomena

(6)

perdebatan antar wacana. Begitupula ketika mendasari bab keempat, teori ini telah mengantarkan menuju pembahasan dari tujuan pertarungan wacana yakni dominasi dan hegemoni wacana. Sehingga pada bagian ini juga telah mampu dipaparkan bagaimana pencapaian dari kedua wacana tersebut dalam konteks kekinian. Hanya saja temuan akhir dari bab keempat ini kurang mampu dijelaskan oleh teori Laclau dan Mouffe ini. Dalam pertarungan wacana, mereka hanya mengasumsikan akan muncul salah satu wacana yang menghegemoni wacana lainya, namun temuan yang ada justru memperlihatkan hasil yang berbeda. Dalam temuan di bab empat ini justru menunjukan ada sebuah tren menuju konsolidasi pemikiran, artinya ada proses yang semakin cair antara pertarungan wacana tersebut. Untuk itu, dalam penelitian ini nampaknya perlu untuk melakukan simpul wacana yang lebih dari sekedar apa yang telah dituntunkan oleh teori yang ada.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :