BAB I PENDAHULUAN. yang satu dengan individu yang lain. Karena-nya budaya merupakan kenyataan

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Budaya dalam kehidupan sosial merupakan alat pemersatu antara individu yang satu dengan individu yang lain. Karena-nya budaya merupakan kenyataan sosial yang tidak terlepas dari kehidupan bermasyarakat, baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Budaya merupakan hasil interaksi antar individu yang kemudian hasil dari interaksi itu melahirkan berbagai macam kebudayaan yang melekat pada diri manusia. Budaya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang berinteraksi. Oleh karenanya, budaya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia yang berinteraksi tersebut. Salah satu perwujudan dari budaya yang merupakan hasil dari interaksi itu adalah agama. Sebagai unsur yang merupakan hasil konstruksi budaya, maka agama pun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Agama muncul sebagai alat ‘pengikat’ agar setiap individu tidak melakukan kehendak bebasnya dalam kehidupan bersama. Oleh karena-nya Max Weber mengatakan bahwa agama merupakan aspek kehidupan manusia yang melekat (inheren) dalam sistem kekerabatan manusia itu sendiri.1

Lahirnya agama pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai oleh para penganut agama tersebut. Untuk mencapai tujuan itu, tentu setiap agama memiliki berbagai macam ritus yang hendak dipraktekkan. Ritus-ritus itu pasti berbeda-beda dalam setiap agama. Salah satu hal yang turut menyumbang adanya perbedaan

1 Max Weber, Sosiologi Agama, diterjemahkan oleh Yudi Santoso (Jogjakarta:IRCiSoD, 2012), 30.

(2)

2 adalah perbedaan konteks di mana manusia penganut agama itu hidup dan berinteraksi. Perbedaan konteks ini-lah yang kemudian melahirkan berbagai macam sistem kepercayaan (agama) yang berbeda. Selanjutnya cara seseorang merumuskan tujuan agama dari keberadaan agama turut menyumbang munculnya agama yang berbeda-beda. Substansi dari keberadaaan agama-agama itu adalah untuk mewujudkan hubungan manusia dengan yang kudus. Tujuannya tentu untuk mendapatkan keselamatan. Konsep semacam ini dapat kita jumpai di negara kita dalam agama-agama (agama Abrahamik) yang dibawa oleh orang Eropa pada masa penjajahan dan agama-agama tersebut tentu saja memiliki konsep keselamatan yang berbeda-beda. Adanya perbedaan semacam ini-lah yang kemudian muncul sebuah konsep agama yang benar (tidak kafir) dan agama yang tidak benar (kafir). Mungkin hal ini-lah yang dimaksudkan oleh John Titaley2 bahwa keberadaan agama-agama dunia di bumi Nusantara berimplikasi pada tersingkirnya kepercayaan masyarakat Nusantara terhadap Yang Maha Kuasa. Kemudian hal tersebut diperkuat dengan lahirnya konsep ‘agama resmi’ (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu) dan ‘agama tidak resmi’ (agama asli masyarakat Indonesia) yang mana hal ini merupakan wujud dari politisasi agama oleh negara yang menganut paham demokrasi.

Dalam konteks masyarakat Sumba (pra-agama resmi) tentu tidak mengenal perbedaan-perbedaan dalam hal keyakinan. Sebelum mengenal agama resmi, mereka telah hidup bersosial dengan agama asli yang merupakan warisan leluhur masyarakat Sumba. Agama tersebut adalah agama Marapu. Marapu merupakan

2 Lih. David Samiyono, Sedulur Sikep (Struktur Sosial dan Agama Masyarakat Samin di

Sukalila), (Salatiga: Program Pasca Sarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana,

(3)

3 sistem kepercayaan asli masyarakat Sumba yang sampai pada saat ini agama tersebut masih bertahan. Untuk memiliki sedikit gambaran tentang Marapu, penulis mencoba memaparkan pandangan beberapa tokoh3 yang pernah menulis tentang

Marapu.

L. Onvlee berpendapat bahwa Marapu berasal dari dua suku kata yaitu: Ma yang berarti ‘Yang’ dan Rapu yang berarti ‘dihormati’,’disembah’, dan ‘didewakan’. Andreas A. Yewangoe menduga bahwa kata Marapu berasal dari kata ‘Ma’ yang berarti ‘Yang’ dan ‘Rappu’ yang berarti ‘Tersembunyi’. Dengan demikian kata Marapu berarti Yang Tersembunyi atau yang tidak dapat dilihat. Kemudian penjelasan yang dikemukakan oleh F.D. Wellem bahwa Marapu adalah kepercayaan terhadap Dewa atau Ilah tertinggi, arwah nenek moyang, makhluk-makhluk halus (roh-roh), dan kekuatan-kekuatan sakti. Penganut Marapu percaya bahwa dewa-dewa tersebut dapat memberi pertolongan dan perlindungan jika disembah dan jika tidak maka ‘mereka’ akan memberikan malapetaka bagi manusia.

Kemudian sekitar akhir abad 19, agama yang resmi itu diperkenalkan pada masyarakat Sumba oleh misionaris Eropa. Masuknya agama resmi dalam hal ini agama Kristen berawal pada tahun 1881-18834, ketika Johan Jacon van Alphen sebagai utusan perintis pertama berkebangsaan Belanda yang melakukan pekabaran Injil pada masyarakat Sumba. Ia disponsori oleh lembaga-lembaga Belanda untuk menunjang pekabaran injil di Sumba. Dalam pekabaran tersebut, ada tiga situasi yang terjadi pada masyarakat Sumba dan kemudian situasi itu ditangani oleh

3 F.D. Wellem, Injil dan Marapu, Suatu Studi-Historis Teologis Tentang Perjumpaan Injil

Dengan Masyarakat Sumba Pada Periode 1876-1990 (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2004), 41-42.

(4)

4 misionaris tersebut.5 Pertama, penganut Marapu ingin memperoleh kehidupan yang kekal. Alasan ini sulit untuk dibuktikan karena motif ini hanya berupa pengajaran yang terus-menerus disampaikan dalam proses katekesasi; kedua masyarakat Sumba membutuhkan pendidikan dan kesehatan yang mana para misionaris juga menyediakan fasilitas pendidikan maupun kesehatan; dan ketiga untuk mendapatkan kehidupan yang penuh dengan kedamaian secara iman dan perlindungan secara politis. Kedamaian karena masyarakat Sumba pada zaman ini berada dalam situasi dengan penuh penderitaan karena penjajahan6. Masyarakat

Sumba mendambakan campur tangan Tuhan dalam kehidupan mereka. Oleh karena-nya pengikut Marapu di Sumba menganggap bahwa Marapu (Yang Sakral) tidak lagi campur tangan dalam kehidupan mereka dan berharap bahwa Tuhan dalam agama Kristen akan memberikan perubahan dalam kenyataan hidup yang mereka (pengikut Marapu) alami. Kemudian perlindungan secara politis karena tidak lama setelah Indonesia merdeka muncul peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S PKI7. Peristiwa tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan bagi masyarakat Sumba, dalam arti bahwa supaya tidak dianggap sebagai se-orang komunis dan ateis maka jalan satu-satunya adalah dengan memeluk agama Kristen.

Melihat ketiga alasan tersebut, penulis berasumsi bahwa berkembangnya agama Kristen di Sumba adalah representasi dari ke-tidak-berdayaan masyarakat

5 Ibid. 351-356.

6 Jauh sebelum bangsa asing masuk ke Indonesia, masyarakat Sumba dijajah oleh kerajan Majapahit. Tetapi menurut De Roo van Anderwerelt, Sumba tidak pernah merasakan pengaruh dari kerajaan Majapahit. Namun indikasi bahwa Sumba pernah dijajah oleh Majapahit terlihat dalam sebutan raja sebagai hundarangga. Sebutan ini timbul karena raja-raja Sumba memiliki kain sutra dan patola yang merupakan pemberian kerajaan Majapahit. Ibid. 16-17.

7 Gerakan ini dianggap oleh masyarakat Sumba pada masa tersebut sebagai gerakan yang tidak ber-Tuhan. Pemahaman tersebut merupakan implikasi dari situasi politik yang sedang bergejolak pada masa tersebut.

(5)

5 Sumba dalam menanggapi situasi atau persoalan-persoalan kemanusiaan yang terjadi ketika masyarakat Sumba berada dalam situasi penjajahan dan pergolakan politik sesudah kemerdekaan. Mungkin ini-lah yang dimaksudkan oleh Thomas F. O’Dea8 bahwa ketika manusia hidup dalam kondisi ketidakpastian yang mana

keamanan dan kesejahteraannya berada di luar jangkauan manusia tersebut, maka pada saat itu-lah manusia keluar dari situasi perilaku sosial dan batasan kultural dan norma sehari-hari. Dengan kata lain dalam konteks masyarakat Sumba, mereka berada dalam sebuah kekosongan atas sesuatu yang transenden dalam arti bahwa Tuhan dalam agama Marapu tidak lagi campur tangan dalam situasi kehidupan yang mereka alami. Konteks semacam itu-lah yang kemudian para misionaris mengabarkan ajaran keselamatan yang ada dalam ajaran agama Kristen. Untuk memperoleh keselamatan itu, maka konsekuensinya adalah masyarakat Sumba harus meninggalkan agama Marapu yang dianggap sebagai agama ‘kafir’. Hal tersebut di-karena-kan bahwa, ketika masih hidup dalam kekafiran, maka pengikut Marapu tidak akan mendapatkan keselamatan pada hari penghakiman itu datang.

Secara kasat mata, kepercayaan Marapu bisa dikatakan setara dengan agama-agama ‘resmi’ yang berkembang di Sumba. Setara dalam arti bahwa sifat manusia yang ‘dihasilkan’ oleh agama-agama tersebut tidak berbeda. Masing-masing mengajarkan tentang bagaimana menciptakan suasana kekeluargaan dan kekerabatan dalam sebuah komunitas. Dalam konteks agama Marapu untuk menjaga situasi kekerabatan semacam itu, terwujud dalam berbagai ritual keagamaan yang dikenal dengan istilah pamangu atau hamayang (perjamuan/ritual). Sedangkan tata-cara dalam pelaksanaan pamangu atau

(6)

6 hamayang di sebut kalarat (dapat diterjemahkan sebagai ritual). Pamangu atau hanamayang ini bermacam-macam dan pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi yang sedang berlangsung, seperti ritual kelahiran, ritual kematian, ritual tanam, dsb. Agama Marapu tidak berkembang sebagaimana agama ‘resmi’ yang semakin hari semakin berkembang dalam arti bahwa pengikutnya semakin banyak dan juga keberadaan politisnya semakin kuat. Agama Marapu semakin hari semakin ‘pudar’ dan keberadaan politisnya juga semakin lemah. Pudarnya agama Marapu merupakan implikasi dari apresiasi yang ‘baik’ dari masyarakat Sumba dan sikap itu terwujud dalam perubahan identitas keagamaan dari pengikut Marapu menjadi pengikut Kristen, atau dengan kata lain pengikut agama Marapu bersedia untuk meninggalkan agama Marapu dan menerima agama Kristen. Alasannya jelas yaitu untuk mendapatkan keselamatan. Jika tujuannya untuk mendapatkan keselamatan, bukan-kah setiap agama itu mempunyai ajaran tentang keselamatan?

Pada dasarnya, setiap agama tentu memiliki ajaran tentang keselamatan, namun konsep tentang ajaran tersebut pasti berbeda-beda. Pertanyaannya adalah apakah dengan konsep yang berbeda itu sebagai alasan untuk melihat agama lain itu ‘tidak benar’, sehingga agama yang ‘benar’ merasa perlu untuk membenarkan (baca: menyelamatkan) mereka yang ‘tidak benar’? Untuk mendapatkan keselamatan, apakah harus meninggalkan agama asli yang merupakan warisan nenek moyang (leluhur) masyarakat setempat dan berpindah ke agama yang baru? Kemudian dalam konteks pengikut Marapu di desa Wahang yang sekali pun pada saat ini menjadi pengikut yang minoritas, pertanyaannya adalah apa yang menjadi

(7)

7 dasar sehingga pengikut Marapu di desa Wahang masih tetap bertahan9 sampai pada masa kini? Bukankah kehidupan yang telah mereka lewati tidak pernah merasakan kedamaian?

Dalam penelitian ini tentu saja persoalannya tidak terletak pada perpindahan agama (dari Marapu ke agama Kristen) namun penelitian ini lebih cenderung pada akar persoalan dari masalah tersebut yang mana menurut penulis terletak pada pemahaman akan ajaran tentang keselamatan. Ajaran tersebut tentu saja bertolak dari pemahaman tentang ajaran keselamatan yang seringkali memiliki pemahaman yang sangat beragam dan pada akhirnya pemahaman yang beragam itu bisa ‘disalah-gunakan’ oleh mereka, baik yang beragama ‘tidak resmi’ (Marapu) maupun beragama ‘resmi’ (Kristen) sebagai agama yang hidup berdampingan di desa Wahang. Bertolak dari latar-belakang persoalan tersebut, maka penulis termotivasi untuk melanjutkan tulisan ini dengan judul: KONSEP KESELAMATAN MENURUT PENGIKUT AGAMA MARAPU (Studi Sosio-Teologis Terhadap Konsep Keselamatan Menurut Pengikut Agama Marapu di Desa Wahang, Kabupaten Sumba Timur).

1.2 Rumusan Masalah

9 Bertahan yang penulis maksudkan adalah bertahan dalam menjalani dan memaknai ajaran-ajaran Marapu sekali pun pengikut Marapu yang sudah menjadi minoritas itu telah dianggap sebagai agama kafir atau agama yang menyembah berhala. Hal ini terlihat dalam sikap Gereja Kristen Sumba (GKS) yang menerjemahkan perintah ke-dua salah satu dari sepuluh perintah Tuhan yang berbunyi ‘Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku’ yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Sumba menjadi ambu marubukkunya na Marapu hawiangu, marubukku ngga Nyungga a9

(yang artinya: jangan menyembah Marapu lain, hanya Aku yang disembah). Alkitab bahasa Sumba,

(8)

8 Berdasarkan latar-belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dari tulisan ini adalah: Bagaimana pandangan masyarakat pengikut agama Marapu di desa Wahang tentang keselamatan dalam agama yang mereka yakini?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam tulisan ini adalah: Mendeskripsikan konsep keselamatan menurut pengikut agama Marapu di desa Wahang.

1.4 Manfaat Penelitian

Melalui hasil kajian tesis ini, diharapkan dapat memberi kontribusi pemikiran terhadap dua hal, yakni:

1. Dalam bidang akademik, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan teoritis tentang konsep keselamatan dalam masyarakat yang masih menganut agama suku khususnya dalam masyarakat Sumba di Desa Wahang, kabupaten Sumba Timur.

2. Secara praksis, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pemikiran dan sikap ke-beragama-an yang inklusif sehingga dalam konteks masyarakat yang plural mampu menunjukkan hidup yang ber-sinergi dan tidak ada saling klaim tentang kebenaran ajaran agama yang satu dengan agama yang lain. Selain itu, hasil penelitian ini berharap agar mempunyai kontribusi terhadap pengakuan akan keberadaan agama asli masyarakat Sumba paling tidak pengakuan dari masyarakat setempat.

(9)

9

1.5.1 Pendekatan

Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konstruktivisme. Menurut Agus Salim, konstruktivisme merupakan paham yang digunakan untuk menggambarkan realitas, karena setiap realitas adalah unik, maka untuk mendapatkan validitasnya lebih banyak tergantung pada kemampuan peneliti dalam mengkonstruk realitas tersebut. Dengan pendekatan seperti ini, maka hasil penelitian (dengan disiplin ilmu apapun) yang dirumuskan mungkin akan bersifat subjektif.10 Pendekatan ini

berkonsekwensi logis terhadap metode penelitiannya, karena itu metode yang digunakan adalah kualitatif. Kualitatif merupakan metode alamiah yang menghendaki gambaran ”apa adanya” terhadap sebuah fonomena yang khusus (spesifik) dan mendeskripsikan secara mendalam kenyataan yang sesungguhnya.11

1.5.2 Teknik pengambilan data

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (wawancara dan observasi) sebagai data primer, selebihnya adalah data tambahan atau data sekunder, seperti dokumen-dokumen yang berkaitan dengan persoalan penelitian.12 Untuk itu teknik pengambilan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Observasi akan dilakukan terhadap bentuk-bentuk interaksi, prosesi ritual (jika dilakukan

10 Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006), 88-91

11 Ibid, 8.

12 Bandingkan Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), 157.

(10)

10 bertepatan dengan waktu penelitian) dan tempat-tempat yang dianggap bersejarah yang mana pada tempat tersebut sering dilakukan proses ritual.13 Dengan demikian, maka proses penggalian data yakni melalui tiga model/metode dengan saling membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.

1.5.3 Teknik analisa data

Teknik analisa data dalam penelitian kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola serta menemukan apa yang penting sebagai data yang dapat dianalisis dalam pencapaian tujuan penelitian. Dalam proses analisis ini, penulis akan membandingkan serta mempelajari data-data yang diperoleh lewat data hasil wawancara, observasi dan dokumen-dokumen pendukung. Dengan membandingkan hasil wawancara, observasi dengan isi suatu dokumen-dokumen pendukung, maka proses analisa dilakukan berdasarkan alur penelitian kualitatif dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:14

Langkah pertama, reduksi data. Mereduksi data dengan jalan melakukan abstraksi. Abstraksi merupakan usaha untuk membuat rangkuman yang inti serta mengklasifikasikan data yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Data yang telah direduksi tersebut akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

13 Sanapiah Faisal. Format-Format Penelitian Sosial (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999), 25.

(11)

11 selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Kedua, display data/penyajian data, dalam menyajikan data dalam penelitian kualitatif terdapat bermacam-macam bentuk penyajian data (seperti data matriks, grafik, naratif, dsb). Dalam penulisan ini, penulis menyajikan data dalam bentuk naratif. Kemudian data tersebut dianalisis secara mendalam untuk menjawab atau mencapai tujuan penelitian; dan ketiga, interpretasi sekaligus kesimpulan terhadap unit analisis. Tahap-tahap tersebut akan dilakukan oleh penulis secara bersamaan ketika melakukan penelitian di lapangan.

1.5.4 Unit Analisis, Unit Amatan dan Sumber Informasi

Unit analisis adalah suatu unit yang tentangnya peneliti menghimpun atau mencari informasi dan membuat kesimpulan terhadapnya. Sedangkan unit amatan adalah suatu unit yang darinya informasi diperoleh guna menggambarkan atau menjelaskan tentang satuan analisis.15 Berdasarkan

penjelasan ini, maka unit analisa dalam penelitian ini adalah konsep keselamatan dalam kehidupan pengikut agama Marapu di desa Wahang. Sedangkan unit amatannya adalah masyarakat pengikut agama Marapu di desa Wahang, kabupaten Sumba Timur.

Sumber informasi dalam penelitian ini adalah pemimpin agama Marapu

(Ma Uratung16) serta tokoh-tokoh yang di-tua-kan dalam agama Marapu.

Selain sumber informasi tersebut, penulis juga menggali informasi dari tokoh-tokoh yang pernah menjadi tua-tua adat (baca:di-tua-kan) dalam agama

15 John J.O.I Ihallauw, Bangunan Teori (Salatiga : Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, 2003), 174-178; lihat juga Jacob Vredenbregt, Metode Penelitian dan

Tehnik Penelitian Masyarakat (Jakarta: PT Gramedia, 1981), 31; dan Soehartono, Metode Penilitian Sosial (Yogyakarta: Gadjah Mada, University Press, 1999), 29.

16 Ma Uratung merupakan pemimpin ritual yang sekaligus sebagai pemimpin dalam komunitas/agama Marapu.

(12)

12 Marapu yang pada saat ini telah menjadi Kristen. Untuk melengkapi data-data tersebut, penulis juga menggunakan literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian yang hendak penulis analisis.

1.5.5 Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dari tulisan ini, penulis memilih Desa Wahang, kabupaten SumbaTimur sebagai lokasi penelitian karena beberapa alasan sebagai berikut:

a. Wahang merupakan tempat bersandarnya perahu (tena)17 para leluhur suku happa nunnu (suku asli Wahang) yang menguasai wilayah Wahang. Leluhur itu-lah yang kemudian sampai saat ini oleh pengikut Marapu di desa Wahang diperlakukan secara ‘khusus’ lewat ritus-ritus.

b. Dari segi kepercayaan sampai saat ini, desa Wahang adalah desa yang memiliki dua komponen masyarakat yaitu masyarakat pengikut agama Marapu dan masyarakat pengikut agama Kristen. Selanjutnya, pengikut Marapu di desa Wahang merupakan pengikut minoritas (dari kuantitas) yang mempertahankan kepercayaan Marapu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

c. Marapu dalam perjumpaannya dengan agama Kristen di desa Wahang terdapat fenomena-fenomena budaya yang berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa mengancam makna kehidupan bersama dalam

17 Suku happa nunnu meyakini bahwa watu Kabobu (batu Kabobu) merupakan perahu

(tena) dari leluhur yang kemudian menjelma menjadi batu karang. Batu tersebut oleh

masyarakat Wahang menyebutnya sebagai watu Kabobu. Nama watu Kabobu merupakan nama yang secara turun-temurun digunakan oleh masyarakat setempat. Penulis tidak mendapat informasi yang jelas tentang arti dan alasan pemberian nama tersebut.

(13)

13 masyarakat yang pada prinsipnya, masyarakat desa Wahang adalah masyarakat beragama. Salah satu dari fenomena-fenomena itu adalah munculnya istilah ‘kafir’ dalam kehidupan bermasyarakat.

1.6 Urgensi Penelitian

Masyarakat Sumba dalam konteks penjajahan adalah masyarakat yang sangat mendambakan kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan keselamatan. Oleh karena-nya, masyarakat menjadikan Kristen sebagai sebuah ‘tempat’ untuk memperoleh kedamaian dan keselamatan. Masyarakat yang hidup pada masa kini tentu berbeda dengan masyarakat yang hidup pada masa penjajahan. Berbeda dalam hal pemikiran maupun dalam hal perbuatan. Penelitian ini dilakukan untuk membuka pemahaman masyarakat setempat (penganut Marapu dan Kristen) tentang makna hidup bersama dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam setiap ajaran agama baik dalam Marapu maupun Kristen. Penelitian ini juga mengharapkan kepada masyarakat (Marapu maupun Kristen) agar mempunyai pemahaman yang kontekstual dalam memahami ajaran dalam agama (secara khusus agama Kristen) agar penganut-nya tidak hidup dalam sikap yang eksklusif terhadap budaya/agama lain.

1.7 Book Review

Dalam buku Injil dan Marapu yang ditulis oleh Wellem, dapat ditemukan tentang perkembangan budaya Sumba, sistem kepercayaan asli masyarakat Sumba (Marapu) dan sejarah masuknya agama Kristen di daratan Sumba. Yang menjadi perhatian khusus dari buku ini adalah perjumpaan agama Kristen dengan Marapu.

(14)

14 Dalam hal ini penulis buku ini (Wellem) berangkat dari tujuan bahwa masyarakat Sumba yang menganut sistem kepercayaan Marapu harus ‘diselamatkan’. Ini berarti bahwa Wellem setuju dengan pandangan bahwa Marapu merupakan agama kafir dan para penganutnya tidak mendapatkan keselamatan. Tujuan tersebut tidak salah sejauh masyarakat Sumba pra-Kristen manganut agama Kristen dengan berangkat dari keinginan mereka untuk meninggalkan kepercayaan asli mereka, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ber-pindahnya mereka dari kepercayaan Marapu ke agama Kristen tidak bisa terlepas dari kenyataan sosial, ekonomi dan politik pada zaman tersebut, singkatnya kenyataan bahwa mereka berada dalam situasi penjajahan. Pertanyaanya adalah bagaimana dengan masyarakat yang tidak lagi hidup dalam situasi penjajahan? Apakah penganut Marapu beralih ke agama Kristen merupakan representasi dari ‘kafir-nya’ agama Marapu atau-kah hal tersebut merupakan representasi dari ‘ketidak-berdayaan’ pengikut Marapu dalam menanggapi konteks atau situasi yang terjadi! Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan penulis termotivasi untuk melanjutkan tulisan ini.

1.8 Sistematika Penulisan

Dalam melanjutkan tulisan ini, penulis akan membagi tulisan ini dalam lima (5) bab yang penjelasan sebagai berikut:

Bab I, Penulis akan menguraikan tentang latar-belakang masalah dari konsep keselamatan, perumusan masalah, tujuan, signifikansi, batasan masalah, metode penelitian, urgensi penelitian, book review dan sistematika penulisan.

(15)

15 Bab II, Penulis akan membahas tentang pengertian agama secara sosiologis, ajaran tentang keselamatan dari sudut pandang teoritis dan tidak lupa penulis memaparkan konsep keselamatan dalam beberapa agama suku yang ada di Indonesia.

Bab III, Pada bab ini, penulis akan membahas tentang agama Marapu serta ajaran-ajaran-nya yang mengarah pada konsep keselamatan yang diyakini oleh pengikut Marapu.

Bab IV, Pembahasan Konsep, pada bagian ini penulis akan akan membahasa beberapa tema yang menurut penulis menarik untuk dikaji lebih dalam. Dari hasil analisis tema-tema tersebut akan mendeskripsikan konsep keselamatan menurut pengikut Marapu. Kemudian penulis akan menggambarkan sikap pengikut Marapu maupun pengikut Kristen untuk tetap menjaga kehidupan bermasyarakat sebagai perwujudan dari keselamatan itu sendiri. Bab V, Merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan rekomendasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :